Anda di halaman 1dari 8

Ketupat Rindu

Hingar bingar kota yang telah menjadi asupan


vitamin bagi mataku selama beberapa tahun terakhir ini.
Seakan tak pernah luput walaupun jarum jam di
tanganku masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Inilah
tempatku, Arini Chynthia Putri gadis desa awam yang
penuh ambisi memantaskan diri untuk tinggal di kota
yang tak bisa dibilang kecil ini. Aku tinggal jauh dari
kedua orang tuaku untuk menempuh pendidikan di
perguruan tinggi. Aku punya harapan besar untuk sukses
dan membahagiakan keluargaku.

Aku memulainya dengan harapan agar semua


berjalan dengan lancar dan sesuai harapanku. Hari demi
hari telah kulalui tanpa mereka. Namun, rindu ini sudah
tak tertahan lagi. Aku ingin pulang ke rumah berkumpul
bersama keluargaku.

Saat ini, di desaku ada acara “kupatan”, itu


merupakan acara favorit yang kutunggu-tunggu. Sayang
sekali, aku tidak bisa pulang karena ada test yang harus
kuikuti. Aku bimbang akankah aku turuti hawa nafsuku
atau melanjutkan tujuanku berada di sini. Aku sangat
kesal dengan situasi seperti ini.

Sepulang dari kampus, aku ingin sekali makan


ketupat.

“Mel, aku pengen ketupat nih.” kataku, Amel adalah


sahabatku sejak aku tinggal di kota ini. Amel juga sangat
menyukai ketupat sama sepertiku.

“Aku juga” jawabnya.

“Anterin beli dong, Mel?”, pintaku

“Yaudah, ayo.” kata Amel

“Beli di mana?” tanyaku. Meskipun aku sudah tinggal


beberapa tahun di sini tetapi aku tidak pernah membeli
ketupat.

“Biasanya sih di dekat pasar ada, ayo kita kesana!”


katanya

Aku dan Amel segera kesana, menaiki motor


kesayanganku. Sesampainya aku di depan pasar, mataku
terus melihat ke sana kemari untuk mencari penjual
ketupat.

“Tumben jam segini penjualnya belum ada, padahal


biasanya udah rame aja.” katanya

“Mungkin lagi libur kali Mel, yaudah yuk cari ke tempat


lain!” kataku

Aku dan Amel berkeliling untuk membeli ketupat


di tempat lain. Alhasil, usahaku dan Amel sia-sia, aku
tidak dapat menemukan penjual ketupat. Tidak salah
memang jika di kota besar sudah jarang ditemui
makanan tradisional.

“Arini, ayo beli makanan lain aja?” tanya Amel

“Yaudah, mau beli apa?” kataku.

“Gimana kalau makan soto di depan kampus aja?”


tanyanya

“Iya, yaudah ayo kita ke sana!” jawabku.

Akhirnya, aku dan Amel memutuskan untuk


membeli soto di depan kampus. Awalnya, aku sangat
kesal karena tidak menemukan penjual ketupat tetapi aku
harus menerimanya dengan ikhlas, jika memang
makanan seperti itu sulit ditemukan.

Ketika aku hendak tidur tiba-tiba hpku berdering,


ada notif whatsapp dari ibuku. Ternyata, ibu mengirim
gambar adikku yang sibuk membantu nenek menganyam
daun kelapa untuk dibuat ketupat. Adekku sangat lucu, ia
memperhatikan nenek dengan serius. Aku jadi teringat
masa kecilku.

Sepulang sekolah, aku melihat nenek bersama


ibu-ibu sibuk membuat anyaman dari daun kelapa.
Kemudian, aku menghampirinya.

“Nek, untuk apa anyaman dari daun kelapa itu?” tanyaku

“Untuk membuat ketupat, Arini.” jawab nenek

“Ajarin dong, nek” pintaku

“Sini, mendekat” jawab nenek

Nenek mengajariku secara perlahan. Aku


memperhatikan gerakan tangan yang terampil dalam
membuatnya. Awalnya, aku sangat kesulitan tetapi
dengan sabar nenek mengajariku. Aku terus berusaha
supaya anyaman buatanku hasilnya rapi dan bagus. Aku
sangat senang untuk pertama kalinya aku bisa membantu
nenek mempersiapkan acara “kupatan”. Ini pengalaman
baruku yang akan selalu aku ingat dan akan aku
ceritakan kepada teman-temanku.

Hari telah berganti, hari yang kutunggu-tunggu


telah tiba. Acara “kupatan” di desaku sangat ramai.
Semua orang bisa memakan ketupat dan opor ayam
sepuasnya.

“ Arini, ayo kita makan!” pinta Nenek

“Iya, nek.” jawabku. Aku langsung berlari menghampiri


nenek. Nenek menyajikan untukku sepiring ketupat dan
opor ayam.

“Bagaimana rin, rasanya?” tanya nenek

“Nek, ini sangat enak aku suka sekali.”kataku. Ketupat


dan opor ayam buatan nenek memang terkenal enak.

“Alhamdulillah jika memang kamu suka.”katanya


“Iya nek.” jawabku.

“Kalau begitu, makanlah yang banyak!” pintanya

“Asik, siap nek.” jawabku

Aku sangat senang bisa menikmati ketupat dan


opor ayam yang sangat enak. Para ibu bekerja sama
untuk mempersiapkan semuanya. Kebersamaan warga di
desaku masih sangat terasa. Mereka semua kompak dan
saling membantu jika dibutuhkan. Kebahagiaan pun
tercipta dari seluruh sudut desa. Aku bangga menjadi
anak desa yang tahu akan keanekaragaman budaya yang
ada.

Amel memasuki kamar kosku dan mengagetiku.


Aku terkejut lalu terbangun dari lamunanku. Ternyata,
semua itu hanya bayangan masa kecilku. Kenangan
hanya ilusi tanpa sebuah definisi yang berarti. Hal inilah
yang kurasakan. Rindu akan buatan ketupat beserta
opornya di dalam indra pengecapku. Terkadang
pikiranku terbang memikirkan tentang orang kota yang
bahkan dari mereka tidak tahu menahu tentang ketupat
dan perayaannya.
“Arini.” panggil Amel

“Ya.” jawabku

“Cuek amat, kamu mikirin apa sih, Rin?” tanya Amel

“Enggak mikirin apa-apa kok, Mel.” jawabku

“Jangan bohong, rin. Cerita aja!” pinta Amel

“Aku rindu masa kecilku, di mana semua budaya masih


sangat kental. Namun, sekarang karena perkembangan
zaman semuanya berbeda.” kataku

“Mau bagaimana lagi rin, kan semuanya tergantung


kepada diri kita sendiri. Mau melestarikan budaya kita
atau sebaliknya.” jawabnya

“Iya bener banget kamu, Mel“ kataku

“Kita harus melestarikan budaya kita, jangan sampai kita


terpengaruh budaya lain sampai melupakan budaya
kita.” kata Amel.
“Betul sekali.” kataku, sebagai generasi muda kita harus
berfikir secara kreatif bagaimana cara kita untuk
mengembangkan budaya kita yang hampir hilang.

Aku berharap suatu saat nanti, aku bisa


melestarikan salah satu budaya Indonesia yaitu makanan
tradisional. Setelah lulus kuliah, aku ingin
mengembangkan usaha yang berkaitan dengan makanan
tradisional. Dengan membuat inovasi yang baru akan
membuat anak-anak tertarik dengan makanan tradisional.
Mereka bisa merasakan betapa enaknya makanan
tradisional dan membuktikan bahwa makanan tradisional
tidak kalah enak dengan makanan luar.