Anda di halaman 1dari 14

TRANSAKSI DERIVATIF DALAM PERSPEKTIF SYARIAH

Oleh : Agustianto
Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Dosen Pascasarjana UI, Trisakti dan
Univ.Paramdina
Krisis keuangan global yang terjadi di Amerika Serikat telah menimbulkan keterpurukan ekonomi
yang sangat dalam bagi perekonomian AS. Krisis keuangan yang berawal dari krisis subprime
mortgage itu merontokkan sejumlah lembaga keuangan AS. Raksasa keuangan sebesar Lehman
Brothers pun bisa tumbang. Nyatanya dia tidak sendirian, pelaku bisnis raksasa lainnya juga
mengalami nasib tragis yang sama, seperti Washington Mutual Bank. Perusahaan asuransi terbesar
di dunia American International Group (AIG) dan perusahaan sekuritas raksasa Merrill Lynch,
Morgan Stanley dan Goldman Sachs mengalami sempoyongan yang luar biasa. Pemerintah AS
terpaksa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. Para investor mulai kehilangan
kepercayaan, sehingga harga-harga saham di bursa-bursa utama dunia pun rontok, termasuk
Indonesia.
Menyusul tumbangnya banyak perusahaan finansial, pencaplokan perusahaan pesaing makin marak.
Pengambil alihan secara paksa (hostile takeover) menjadi sesuatu yang wajar dalam dinamika
pasar. Bagi perusahaan finansial yang memiliki produk derivatif luas di pasar, keberadaan
perusahaan bisa dipermainkan para spekulan. Saat perusahaan mulai goyah pencaplokan oleh
perusahaan lain tidak terhindarkan. Pasar menjadi ganas dan liar, tidak terkendali.
Para analis menilai, bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-
bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Inikah tanda-tanda
keruntuhan sebuah imperium, negara adi daya bernama Amerika Serikat?
Sebagai negara adi daya dengan gross domestic bruto (GDP) terbesar di dunia, Amerka Serikat
seharusnya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga kestabilan dan kesehatan
sistem dan pasar keuangan di negaranya, karena akan berdampak besar bagi negara-negara lain.
Tetapi justru Amerika Serikat yang tersungkur jatuh ke jurang krisis keuangan yang sangat
dalam. Dalam sistem ekonomi konvensional kapitalisme yang anutnya, dihalalkan kegiatan bisnis
derivatif dan spekulatif di pasar uang dan pasar modal. Praktek bunga, maysir dan gharar menjadi
kebiasaan.
Ada banyak analisis terkait dengan kehancuran pasar finansial, mulai dari kebijakan defisit AS,
kebijakan suku bunga rendah di era Greenspan, keserakahan elit politik, kegiatan spekulatif para
petinggi perusahaan, seperti dilakukan Dick Fuld, CEO Lehman Brothers, tingginya biaya program
politik luar negeri, manipulasi laporan keuangan dan lain-lain. Hampir semua analisis itu tidak
menukik kepada akar masalah yang paling dalam, sehingga apapun obat dan strategi pemulihan
yang diberikan pasti tidak mujarab. Penyakit krisis pasti kembali kambuh dan terus berulang.
Paparan dalam tulisan ini akan menjelaskan akar masalah yang sesungguhnya dari krisis keuangan
yang selalu terjadi sepanjang sejarah, termasuk krisis keuangan saat ini yang bermula dari Amerika
Serikat.
Menurut perspektif ekonomi syariah, penyebab utama krisis yang terjadi saat ini adalah (satanic
trinity), yaitu trinitas setan yang terdiri dari riba, maysir dan gharar. Sistem dan pasar keuangan
dan capital market di Amerika telah didominir oleh setan tiga serangkai atau trinitas setan (satanic
trinity) yang terdiri dari (1) bunga (riba) dalam transaksi keuangan; Praktek riba terlihat jelas pada
bisnis derivatif yang sangat laris di pasar uang dan pasar modal AS. (2) Produk derivatif yang tak
jelas underline transactionnya itu disebut juga dengan gharar, karena ketidak jelasan produk
riilnya. Produk gharar ini disamarkan dengan istilah
produk hybrids dan derivatives yang dibungkus dan dikemas dengan
mekanisme securitisation insurance atau guarantee; (3) Peri laku dan praktek spekulatif atau
untung-untungan (maisir) yang juga tanpa dilandasi transaksi riil. .
Sebenarnya, krisis keuangan global dapat dibedakan kepada dua macam krisis, Pertama krisis di
pasar modal (capital market) dan kedua krisis di pasar uang (money market). Kedua
bentuk financial market itu membuka peluang kepada transaksi dengan tingkat spekulasi yang
tinggi. Keduanya menggunakan bunga sebagai instrumen. Keduanya juga memisahkan sektor
moneter dan sektor riel sebagaimana diajarkan sistem ekonomi kapitalisme.
Di capital market konvensional, sangat dimungkinkan terjadinya short selling dan margin trading .
Kegiatan bisnis tersebut sangat sarat dengan motif spekulasi. Sementara di pasar uang terdapat
dua kesalahan besar yang berakibat kepada krisis, pertama, kegiatan transaksi valas yang bermotif
spekulasi, baik spot maupun bukan, seperti forward, options dan swaps transaction. Kedua bahwa
yang menjadi standar keuangan international adalah fiat money.
Islam yang berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah dari langit tentu memiliki ajaran yang unggul,
rasional dan ilmiah dan empiris. Menurut ekonomi Islam, sektor moneter dan sektor riil tidak boleh
terpisah, sedangkan dalam sistem ekonomi kapitalisme keduanya terpisah secara diametral. Akibat
keterpisahan itu, maka arus uang (moneter) berkembang dengan cepat sekali, sementara arus
barang di sektor riil semakin jauh tertinggal. Sektor moneter dan sektor riil menjadi sangat tidak
seimbang.
Pakar manajamen tingkat dunia, Peter Drucker, menyebut gejala ketidakseimbangan antara arus
moneter dan arus barang/jasa sebagai adanya decopling, yakni fenomena keterputusan antara
maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa.
Fenomena ketidakseimbangan itu dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi pada kedua pasar keuangan
di atas, yaitu di pasar modal dan pasar valas (money market) sehingga ekonomi dunia terjangkit
penyakit yang bernama balon economy (bubble economy). Disebut ekonomi balon, karena secara
lahir tampak besar, tetapi ternyata tidak berisi apa-apa kecuali udara. Ketika ditusuk, ternyata ia
kosong. Jadi, bublle economy adalah sebuah ekonomi yang besar dalam perhitungan kuantitas
moneternya, namun tak diimbangi oleh sektor riel, bahkan sektor riel tersebut amat jauh
ketinggalan perkembangannya.
Sekedar ilustrasi dari fenomena decoupling tersebut, misalnya sebelum krisis moneter Asia, dalam
satu hari, dana yang gentayangan dalam transaksi maya di pasar modal dan pasar uang dunia,
diperkirakan rata-rata beredar sekitar 2-3 triliun dolar AS atau dalam satu tahun sekitar 700 triliun
dolar AS.
Padahal arus perdagangan barang secara international dalam satu tahunnya hanya berkisar 7 triliun
dolar AS. Jadi, arus uang 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan arus barang (Republika, 18-8-
2000).
Dalam tulisan Agustianto di sebuah seminar Nasional tahun 2007 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
disebutkan bahwa volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation and derivative
market) dunia berjumlah US$ 1,5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi pada
perdagangan dunia di sektor riil hanya US$ 6 trillion setiap tahunnya (Rasio 500 : 6 ), Jadi sekitar
1-an %. Celakanya lagi, hanya 45 persen dari transaksi di pasar, yang spot, selebihnya adalah
forward, futures,dan options. Sementara itu menurut Kompas September 2007, uang yang beredar
dalam ransaksi valas sudah mencapai 1,3 triliun dalam setahun. Data ini menunjukkan bahwa
perkembangan cepat sektor keuangan semakin melejit meningalkan sektor riel. Dengan demikian
balonnya semakin besar dan semakin rawan mengalami letupan. Ketika balon itu meletus, maka
terjadilah krisis seperti yang sering kita saksikan di muka bumi ini.
Gejala decoupling, sebagaimana digambarkan di atas, disebabkan, karena fungsi uang bukan lagi
sekedar menjadi alat tukar dan penyimpanan kekayaan, tetapi telah menjadi komoditas yang
diperjualbelikan dan sangat menguntungkan bagi mereka yang memperoleh gain. Meskipun bisa
berlaku mengalami kerugian milyaran dollar AS.
Berdasarkan realitas itulah, maka Konferensi Tahunan Association of Muslim Scientist di Chicago,
Oktober 1998 yang membahas masalah krisis ekonomi Asia dalam perspektif ekonomi Islam,
menyepakati bahwa akar persoalan krisis adalah perkembangan sektor finansial yang berjalan
sendiri, tanpa terkait dengan sektor riel.

TRANSAKSI DERIVATIF DALAM PERSPEKTIF SYARIAH


(Bagian II)

Oleh : Agustianto
Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Dosen Pascasarjana UI, Trisakti dan Univ.Paramdina

Kegiatan bisnis yang memisahkan sektor moneter dan riil, tidak lain adalah praktek riba. Istilah
kontemporer menyebutnya derivatif. Dalam transaksi derivatif saat ini, sesungguhnya telah
menyatu tiga serangkai riba, maysir dan gharar. Sistem bisnis derivatif dalam pandangan Islam,
merupakan sebuah kejahatan besar, sehinga pelakunya abadi di neraka (2:275), karena dosanya
tak termaafkan. Dampaknya bisa menghangcurkan ekonomi banyak negara sebagai mana yang kita
rasakan dan saksikan saat ini. Jika sebuah negara terjun ke jurang krisis, maka ratusan juta bisa
menderita, Bayangkan jika 10, 20 atau 30 negara diterpa krisis, berapa milyard umat manusia yang
menjadi sengsara dan makin miskin akibat sistem yang salah, sistem yang menghalalkan riba,
maysir dan gharar. Oleh karena jahatnya transaksi derivatif, maka George Soros menyebutnya
sebagai hydrogen bombs, sementara Warren Buffett menjulukinya sebagai financial weapons of
mass destruction
Transkasi derivatif telah menjelma menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan
menciptakan mega-catastrophic yang dapat meluluhlantakkan sistem finansial global. Hal ini
disebabkan ekspansi derivatif telah menciptakan bubble yang sangat besar dalam ekonomi dunia.
Para ekonom dan pakar keuangan telah mengidentifikasi dan berkonklusi bahwa transaksi derivatif
menjadi punca dan penyebab utama semua bencana ekonomi besar yang terjadi sejak tahun 1929
di Amerika Serikat. Sistem riba, maysir dan gharar (derivative) jugalah yang berada di belakang
crash pasar saham Wall Street tahun 2001 yang dikenal sebagai Black Monday, juga krisis keuangan
dan perbankan di tahun 1987
Bisnis derivative ini jugalah menjadi penyebab terjadinya krisis finansial Asia 1997/1998; penyebab
kolapsnya hedge fund raksasa Long Term Capital Management (LTCM) tahun 1998; ambruknya
bank dagang tertua Inggris, Barrings Bank; kolapsnya Enron; pemicu krisis ekonomi Argentina;
serta menjadi pemantik krisis keuangan dan ekonomi global saat ini. Hal ini terjadi karena, menurut
Kavaljit Singh (2000), transaksi derivatif yang awalnya digunakan untuk mengurangi risiko
(hedging) akibat pergerakan harga tidak lagi wujud, malahan menjadi instrumen spekulasi.
Upaya saat ini yang banyak dibahas untuk mengurangi dampak buruk derivatif adalah membuat
regulasi dan supervisi yang sophisticated (Bisnis, 20 Maret). Namun, Menurut Aziz Setiawan, pakar
ekonomi Islam Paramadina, ketika regulasi tidak menyentuh pembatasan kemampuan bermutasi
dan bermetamorfosis derivatif, ancaman krisis sistemik akan selalu ada. Metamorfosis dan mutasi
derivatif berkembang ketika terjadi pemisahan risiko dari aktivitas ekonomi riil, sehingga risiko
bertransformasi menjadi “komoditas” dan membuatnya dapat ditransaksikan secara terpisah.

Komoditisasi risiko membuat risiko menjadi semakin berbiak. Ketika risiko terpisah dari sektor riil,
tidak ada batasan jenis risiko yang bisa ditransaksikan, mulai dari saham, obligasi, komoditas,
indeks, valuta, rating perusahaan, penyelesaian takeover, cuaca serta risiko lainnya. Lebih jauh lagi
bahkan, derivatif dapat diturunkan dari derivatif lainnya, sehingga lahirlah options on futures,
futures on options, options on options, dan lain-lain.

Hal ini, membuat volume dan pertumbuhan derivatif terpisah dari sektor riil. Karena sektor riil jauh
lebih kompleks dan dihadapkan pada berbagai kendala, maka pertumbuhan pasar derivatif jauh
lebih cepat dari barang dan jasa riil. Maka tak mengherankan bila volume derivatif telah berbiak
lebih sepuluh kali lipat dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) seluruh dunia yang hanya
US$60 triliun.
Berdasarkan data Bank for International Settlements (BIS), volume transaksi derivatif dalam 6
tahun terakhir telah membengkak lebih dari enam kali lipat; dari sekitar US$100 triliun menjadi
US$683 triliun tahun 2008. Akhirnya regulasi tanpa menyentuh aspek pembatasan kemampuan
bermutasi dan bermetamorfosis derivatif, tidak akan terlalu membantu meredam daya ledak bom
waktu ini.
Dalam sebuah seminar di STAN Jakarta, di mana saya dan Aviliani ketika itu sebagai pembicara,
beliau mengatakan, bahwa perbandingan transaksi sector riil dan sector keuangan telah
membengkak secara spektakuler, yakni 1 banding 3000. Ini Artinya, jika transaksi bisnis riil hanya
1 triliun US dolar seathaun, maka transaksi derivative di sector keuangan 3000 kali lipatnya, yakni
sebanyak 3000 triliun US dollar dalam setahun. Percepatan ini terjadi dalam 6 tahun belakangan ini.

TRANSAKSI DERIVATIF DALAM PERSPEKTIF SYARIAH


(Bagian III)
Alquran dan transaksi derivatif

Oleh : Agustianto
Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Dosen Pascasarjana UI, Trisakti dan Univ.Paramdina
Pelarangan riba yang secara tegas terdapat dalam Al-Qur’an (QS: 2 :275-279), pada hakikatnya
merupakan pelarangan terhadap transaksi maya atau derivatif . Firman Allah, “Allah menghalalkan
jual-beli (sektor riel) dan mengharamkan riba (tranksaksi maya)”.
Dalam transaksi maya, tidak ada sektor riel (barang dan jasa) yang diperjualbelikan. Mereka hanya
memperjualbelikan kertas berharga dan mata uang untuk tujuan spekulasi. Tambahan (gain) yang
diperoleh dari jual beli itu termasuk kepada riba, karena gain itu diperoleh bighairi wadhin, yakni
tanpa ada sektor riel yang dipertukarkan, kecuali mata uang atau kertas-kertas itu sendiri. Dalam
transaski derivatif juga tidak ada ma’kud ’alaih, berupa barang/jasa yang menjadi rukun dalam
transaksi bisnis. Transaski inilah yang dilarang Alquran dan hadits dengan istilah riba dan gharar.
Pencipta alam semesta dan pencipta manusia, Dialah Allah Rabbbul ‘Alamin, Dialah yang paling dan
Maha pintar dari siapapun. Dia sudah memberikan jawaban dalam kitabnya Alquran bahwa akar
masalah kerusakan ekonomi adalah riba (QS.30 : 39 -41) . Dalam semua Kitab suci yang
diturunkanya Taurat dan Injil, dia juga telah mengharamkan riba. Tak diragukan sedikitpun bahwa
akar masalah yang paling utama adalah sistem riba yang menjadi instrumen dan jantung kapitalisme
dalam seluruh transaksi keuangan. Walaupun harus diakui bukan riba satu-satunya yang menjadi
akar terjadinya krisis finansial tersebut.
Dalam surah Ar-Rum ayat 41 Allah berfirman, :”Telah nyata kerusakan di darat dan di laut, karena
ulah tangan manusia, supaya kami timpakan kepada mereka akibat dari sebagian
perilaku mereka.Mudah-mudahanmereka kembali ke jalan Allah”
Konteks ayat ini sebenarnya berkaitan dengan dampak sistem moneter ribawi yang dijalankan oleh
manusia, pendekarnya adalah Amerika dan Eropa dan selanjutnya diikuti oleh Indonesia dan negara
lainnya. Ayat sebelumnya yakni ayat 39 berbicara dengan jelas bahwa sistem riba tidak akan
menumbuhkan ekonomi masyarakat, tetapi malah merusak perekonomian. Firman Allah “Apa yang
kamu berikan (pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia betambah, maka hal itu tidak
bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum: 39)
Ayat Alquran tersebut berbicara dalam konteks ekonomi makro, artinya menganalisis ekonomi
secara agregat, bukan secara mikro, seperti membandingkan harga jual beli murabahah dengan
bunga bank konvesnional. Bunga bank konvensional bagi banyak orang tak begitu terasa bagi
kerusakan ekonomi, tetapi ketika bunga sudah menjadi sistem finansial global dan nasional, maka
dampaknya luar biasa jahat bagi pembangunan ekonomi. Bunga, sedikit atau banyak tetap disebut
riba, sebagaimana daging babi yang sedikit dengan yang banyak, yang sedikit tetap daging babi
juga. Hadits Nabi Saw, “Sedikit dan banyaknya hukumnya haram”. Demikian pula riba, baik
diterapkan dalam ekonomi mikro maupun makro tetap haram.
Kerusakan ekonomi dunia dan Indonesia berupa krisis saat ini adalah akibat ulah tangan manusia
yang menerapkan riba yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Pakar Ekonomi Islam asal USA, Prof.Dr.Monzer Kahf mengatakan, “Riba has a great contribution to
the current crisis but it is alone not the sole element in it, of course Riba contributed through creating
layers of financial transactions that resulted in a domino effect of institutions and the economy at
large, but there is the lust for profit that caused over stretching of finance to persons who cannot
continue paying their debts, their also the expanded consumerism in the American society that
shares in creating unbearable debt burdens, etc.”
Jadi menurutnya, riba’ telah memberikan kontribusi yang besar kepada krisis ini meskipun ia
mengakui bahwa riba’ itu sendiri bukanlah satu-satunya elemen penyebab krisis. Riba memberikan
konstribusi melalui transaksi-transaski derivative dan spekulatif pada institusi institusi keuangan.
Penyebab lainnya ialah hawa nafsu serakah mencari keuntungan dari mereka yang tidak berdaya
meneruskan pembayaran hutang. Sikap ini juga adalah gejala dari expanded consumerism dalam
masyarakat Amerika itu sendiri.
Kegagalan sistem keuangan sebagai akibat dari trinitas setan itu, dengan bahasa yang berbeda,
secara implisit diakui oleh Henry Poulson, Menteri Keuangan A.S. Dalam laporannya sebagai
Ketua President’s Working Group(PWG) on Financial Markets (April 2008), Poulson dengan tegas
menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya krisis subprime mortgagesdi A.S. adalah: (1)
merosotnya mutu/standar penjaminan bagi subprime mortgages; (2) erosi yang signifikan terhadap
disiplin pasar yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait dengan proses sekuritisasi,
termasuk originators, underwriters, credit rating agencies, dan global investors; (3) kegagalan
dalam menyediakan dan memperoleh informasi risiko (risk disclosures) yang memadai; (4)
kelemahan yang mencolok (significant flaws) pada perusahaan pemeringkat kredit, khususnya
dalam menilai: a) subprime residential mortgage backed securities (RMBS) dan b) collateralized
debt obligations (CDOs)yang dikaitkan dengan RMBS dan asset backed securities (ABS) lainnya; (5)
kelemahan manajemen risiko pada sejumlah institusi keuangan besar di A.S. dan Eropa; dan (6)
kelemahan regulasi termasuk mengenai persyaratan modal dan keterbukaan
informasi (disclosure) yang gagal dalam memitigasi kelemahan manajemen risiko.
Keenam hal tersebut di atas yang menurut Poulson marak terjadi sejak tahun 2004, bertepatan
dengan masa jabatan kedua Presiden Bush, secara sengaja atau tidak sengaja, telah ikut
menyuburkan transaksi yang bersifat gharar dan maisir sehingga transaksi keuangan yang
seharusnya didasarkan kepada underline asset, keterbukaan dan fairness berubah menjadi
transaksi keuangan yang bersifat sangat spekulatif dan juga addictive yang sangat berbahaya dan
sulit dihentikan.
Interaksi pasar modal yang penuh gharar dan maisir dengan perbankan yang ribawi, selain dengan
cepat menggoyahkan sendi-sendi sistem dan pasar keuangan–akibat asset write down yang
menggerus aset dan modal serta bad debt yang menggerus laba, juga semakin menjauhkan
kegiatan sektor keuangan dari sektor riil. Lebih buruk lagi, dampak negatif tersebut juga harus
dirasakan oleh perusahaan dan negara yang sebelumnya tak ada permasalahan serius.
Hindari Maghrib
Perlu ditegaskan kembali bahwa ekonomi kapitalisme yang rawan krisis itu, tidak melarang
praktik maghrib, sedangkan ekonomi Islam sangat keras mengecamnya. Magrib adalah akronim
dari maysir, gharar dan riba.Tiga macam praktik terlarang inilah yang menjadi faktor dan biang
utama krisis. Maysir adalah kegiatan bisnis yang berbentuk judi dan spekulasi. Spekulasi selalu
terjadi di pasar modal dalam bentuk short selling dan margin trading. Sedangkan gharar ialah
transaksi maya, drivatif dan karena itu ia menjadi bisnis resiko tinggi). Riba ialah pencarian
keuntungan tanpa dilandasi kegiatan transaksi bisnis riel. Di pasar modal seringkali para investor
meraup keuntungan tanpa adanya underlying asset, atau sektor riel yang melandasinya. Tujuan
investor bukan untuk menanam saham secara riil di sebuah emiten, tetapi semata untuk meraih
gain melalui praktik margin trading. Selain itu harus diketahui bahwa di dalam financial
market, margin trading dan fiat standart ditetapkan berdasarkan instrumen bunga.
Di pasar uang kegiatan transaksi spekulasi valas semacam transaksi swap, forward dan
options selalu terjadi. Semua transaksi tersebut bertentangan dengan syariah, karena mengandung
riba. Sementara itu, ekonomi syariah adalah ekonomi yang berusaha menempatkan keseimbangan
antara sektor keuangan dan sektor riil (atau bisa disebut economy 1 on 1). Artinya ekonomi yang
mengkaitkan secara ketat antara sektor moneter dan sektor reil. Tegasnya, one monetery unit for
one real asset. Dalam kerangka itulah Ekonomi Islam mengajarkan kegiatan bisnis riel melalui jual
beli, bagi hasil dan ijarah
Jantung dari sistem ekonomi kapitalisme adalah riba. Riba adalah punca dari segala macam krisis.
Artinya riba adalah biang utama terjadimya krisis. Kegiatan spekulasi dalam bentuk margin
trading dan short selleing di pasar modal adalah riba, karena tanpa dilandasari oleh underlying
transaction yang riel. Kegitan traksaksi derivatif di bursa berjangka dan bursa komoditi semuanya
adalah riba. Kegiatan spekuasi valas dengan motif untuk spekulasi, bukan untuk transaksi adalah
kegiatan ribawi. Sedangkan untuk jaga-jaga (preceutionary) hukumnya makruh.
Ambillah 100-an buku-buku Islam (fiqh, tafsir dan hadits), lalu lihat dan analisis-lah definisi riba.
Dari ratusan definisi riba itu disimpulkan, bahwa riba ialah az-ziyadah lam yuqabilha ‘iwadh, artinya,
riba adalah tambahan yang diperoleh tanpa didasarkan adanya ‘iwadh. Iwadh ialah transaksi bisnis
riel yang terdiri dari 3 macam, yaitu jual beli, bagi hasil dan ijarah, Jual beli contohnya ialah seperti
jual beli dengan segala macamnya (jual beli murabahah, salam, istisna), Transaksi bisnis riel juga
dapat diwujudkan dengan bagi hasil dan ijarah,. Bagi hasil diwujudkan dengan konsep mudharabah,
syirkah, mudharabah musytarakah, musyarakah mutanaqishah dan muzara’ah. Sedangkan ijarah
diwujudkan dengan ijarah biasa, ijarah muwazy (paralel), IMBT.
Transaksi mudharabah dan musyarakah serta transaksi jual beli murabahah, salam, istisna’ dan
ijarah (leasing), memastikan keterkaitan sektor moneter dan sektor riel. Oleh karena itu pula salah
satu rukun jual beli ialah ada uang ada barang (ma’kud ‘alaihi). Dengan demikian, future
trading dan margin trading yang tidak diikuti dengan pengiriman barang adalah tidak sah. Jelasnya
bahwa konsep ekonomi Islam menjaga keseimbangan sektor riel dan sektor moneter. Begitu pula
dengan perbankan Islam yang pertumbuhan pembiayaannya tidak dapat terlepas dari pertumbuhan
sektor riel yang dibiayainya.
Yang jelas tidak boleh ada tambahan (keuntungan) tanpa adanya transaksi bisnis riel. Seorang
spekulan mata uang, yang maraup keuntungan dari selisih harga beli dollar dan jualnya, adalah
pelaku riba. Dalam ekonomi Islam, uang tidak boleh dijadian sebagai komoditas sebagaimana yang
banyak dipraktikkan dewasa ini dalam kegiatan transaksi bisnis valuta asing. Menurut Ekonomi
Islam, transaksi valas hanya dibenarkan apabila digunakan untuk kebutuhan transaksi di sektor riel,
seperti membeli barang untuk kebutuhan import, berbelanja atau membayar jasa di luar negeri dan
sebagainya. Jual-beli valas untuk kepentingan spekulasi, amat dilarang dalam Islam. Jual-beli valas
untuk kepentingan spekulatif menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian.
Dampak spekulasi valas ialah nilai suatu mata uang dapat berfluktuasi secara liar. Solusinya adalah
mengatur sektor finansial agar menjauhi dari segala transaksi yang mengandung riba, seperti
transaksi-transaksi maya di pasar uang. Mengambil gain dan keuntungan tanpa didasarkan pada
kegiatan bisnis sektor riil adalah riba, baik di pasar uang maupun di pasar modal. Maka, seorang
spekulan saham di pasar modal juga telah melakukan praktik riba.bahkan lebih jauh ia telah masuk
kepada praktik gharar dan maysir. Demikian pula seorang yang ikut dalam transaksi bursa
berjangka juga telah melakukan transaksi ribawi.
Karena ekonomi Islam tidak memisahkan sektor moneter dan sektor riil, maka jumlah uang yang
beredar menurut Islam, ditentukan oleh banyaknya permintaan uang di sektor riel atau dengan kata
lain, jumlah uang yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian.
Demikian kata Ibnu Taymiyah di buku Majmu’ Fatawa pada abad pertengahan Islm
Dalam ekonomi Islam, sektor finansial mengikti pertumbuhan sektor riel, Inilah perbedaan konsep
ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, yaitu ekonomi konvensional, jelas memisahkan
antara sektor finansial dan sektor riel. Akibat pemisahan itu, ekonomi dunia rawan krisis, Sebab,
pelaku ekonomi tidak lagi menggunakan uang untuk kepentingan sektor riel, tetapi untuk
kepentingan spekulasi mata uang.
Spekulasi inilah yang dapat menggoncang ekonomi berbagai negara,apalagi negara yang kondisi
politiknya tidak stabil. Akibat spekulasi itu, jumlah uang yang beredar sangat tidak seimbang dengan
jumlah barang di sektor riel.
Spekulasi mata uang yang mengganggu ekonomi dunia, umumnya dilakukan di pasar-pasar uang.
Pasar uang di dunia ini saat ini, dikuasai oleh enam pusat keuangan dunia (London, New York,
Chicago, Tokyo, Hongkong dan Singapura). Nilai mata uang negara lain, bisa saja tiba-tiba menguat
atau sebaliknya. Lihat saja nasib rupiah semakin hari semakin merosot dan nilainya tidak menentu.
Di pasar uang tersebut, peran spekulan cukup signifikan untuk menggoncang ekonomi suatu negara.
Lihatlah Inggris, sebagai negara yang kuat ekonominya, ternyata pernah sempoyongan gara-gara
ulah spekulan di pasar uang, apalagi kondisinya seperti Indonesia, jelas menjadi bulan-bulanan para
spekulan. Demikian pula ulah George Soros di Asia Tenggara tahun 1997..
Bagi spekulan, tidak penting apakah nilai menguat atau melemah. Bagi mereka yang penting adalah
mata uang selalu berfluktuasi. Tidak jarang mereka melakukan rekayasa untuk menciptakan
fluktuasi bila ada momen yang tepat, biasanya satu peristiwa politik yang menimbulkan
ketidakpastian.
Menjelang momentum tersebut, secara perlahan-lahan mereka membeli rupiah, sehingga
permintaan akan rupiah meningkat. Ini akan mendorong nilai rupiah secara semu ini, akan menjadi
makanan empuk para spekulan. Bila momentumnya muncul dan ketidakpastian mulai merebak,
mereka akan melepas secara sekaligus dalam jumlah besar. Pasar akan kebanjiran rupiah dan
tentunya nilai rupiah akan anjlok. Para spekulan meraup keuntungan dari selisih harga beli dan
harga jual. Makin besar selisihnya, makin menarik bagi para spekulan untuk bermain.

TRANSAKSI DERIVATIF DALAM PERSPEKTIF SYARIAH


(Bagian IV)
Oleh : Agustianto

Kesadaran ekonom dan negara maju


Sebenarnya, sebagian pakar ekonomi dunia telah menyadari kerapuhan sistem moneter kapitalisme
seperti itu. Teori Bubble growth dan random walk telah memberikan penjelasan yang meyakinkan
tentang bahaya transaksi maya (bisnis dan spekulasi mata uang dan bisnis (spekulasi) saham di
pasar modal).
Para pemimpin negara-negara G7 pun, telah menyadari bahaya dan keburukan transaksi maya
dalam perekonomian. Pada tahun 1998 mereka menyepakati bahwa perlu adanya pengaturan di
pasar uang sehingga tidak menimbulkan krisis yang berkepanjangan. Jadi, bila negara-negara G7
telah menyadari bahaya transaksi maya, mengapa Indonesia masih belum melihat dampak
negatifnya bagi perekonomian dan segera mendorong konsep dan blueprint ekonomi Islam..
Selanjutnya, untuk meminimalisir kegiatan spekulasi dan bubble economy para ekonom Barat
mengusulkan untuk mengetatkan regulasi investasi. Ben Bernake, Chairman of Federal Reserve
bahkan sampai meminta kepada konggres AS untuk menyetujui penambahan regulasi bagi bank
investasi agar tidak terjadi spekulasi yang berlebihan di pasar aset keuangan. Pendapat senada juga
diutarakan oleh Direktur IMF Strauss-Kahn mengenai perlunya penambahan aturan dan transparansi
untuk menghidari krisis yang lebih parah. Meskipun kedua pernyataan ini terdengar berlawanan
dengan semangat kapitalisme AS, namun akhirnya sebagian ekonom dan pengamat pasar keuangan
sepakat bahwa liberalisasi pasar keuangan cenderung mendorong kepada ketidakstabilan ekonomi.
Joseph Stiglitz, pemenang Hadiah Nobel 2002 dari Harvard University mengatakan, “Pada
akhirnya, Negara AS yang selama ini membangga-banggakan sistem kapitalisme yang dianutnya ke
berbagai negara di dunia, mendapat kritikan tajam setelah AS sendiri tidak mampu membuktikan
bahwa model ekonomi yang dianutnya adalah model ekonomi yang bisa mensejahterakan umat
manusia”.
Menurut Stiglitz, krisis keuangan di AS yang menjalar menjadi krisis keuangan global bahkan lebih
buruk dari Great Depression pada era 1930-an, telah membuka mata masyarakat internasional akan
rapuhnya sistem kapitalisme yang dianut Negeri Paman Sam. Sistem ini terbukti, pada akhirnya
hanya membuat mereka yang menganutnya menjadi sengsara dan menderita .(Washington Post)
Sementara itu, menurut Krugman, peraih Nobel Ekonomi 2008, ekonomi dunia akan mengalami
resesi dalam kurun waktu yang lama. Dia mengakui bahwa krisis ini memang menakutkan,
PernyAtaan senada diungkapkan Investor dunia, George Soros. Dia menilai krisis yang menerjang
pasar finansial saat ini sangat serius. Krisis ini, menurutnya, lebih hebat dibanding krisis finansial
lainnya sejak berakhirnya Perang Dunia kedua,. Soros menegaskan yang terancam resesi bukan
hanya perekonomian Amerika Serikat saja, tapi juga Eropa.
Karena kegawatan sistem moneter global tersebut, PM Inggris Gordon Brown mengatakan agar
dibentuk arsitektur keuangan dunia baru menyerupai Bretton Woods yang muncul setelah Perang
Dunia II. Bagi Eropa, krisis ini begitu dalam, AS harus siap dengan sistem baru itu, Christian de
Boissieu, ekonom dan penasihat Presiden Sarkozy. mengatakan pembentukan sistem itu kemudian
harus melibatkan pengganti Presiden Bush.
Di samping itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mendukung pertemuan G-8, yang juga dihadiri
pemimpin China, Brasil, dan India di New York. Pertemuan itu mengusulkan pembentukan Bretton
Woods II, seperti usulan Perancis.
Sementara itu, negara-negara kaya dan berkembang yang tergabung dalam Kelompok 20 (G-20)
yang menguasai 85 persen perekonomian dunia, menyatakan, bahwa mereka bertekad akan
menggunakan segala cara untuk mengatasi krisis finansial yang mengguncang pasar dunia. untuk
menjamin stabilitas dan berfungsinya dengan baik pasar financial.
Para pemimpin Asia dan Eropa yang bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ke-7 Asem di Beijing,
China, pada 25 Oktober 2008 telah mnyepakati untuk segera melakukan perombakan sistem
moneter dan finansial internasional secara menyeluruh dan efektif. Mereka juga menyerukan kepada
Dana Moneter Internasional (IMF) agar segera mengambil peran utama dalam membantu negara-
negara yang kesulitan keuangan.
Usulan perombakan sistem moneter dan finansial internasional sebelumnya keras disuarakan
Eropa. Kini suara itu makin menguat dengan dukungan dari negara-negara Asia melalui KTT Asem
yang dihadiri para pemimpin dari 43 negara itu.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyatakan, ”Eropa berusaha menawarkan untuk keluar dari
krisis keuangan yang di luar perkiraan. Ini adalah pertemuan tingkat tinggi yang sangat
bermanfaat dan menjanjikan. Eropa dan Asia memiliki banyak hal yang bisa dilakukan bersama.

Dengan menyatunya suara Eropa dan Asia itu, tinggal Amerika Serikat yang masih harus
menetapkan pendirian. AS selama ini diketahui enggan merombak sistem finansialnya yang
memiliki banyak kelemahan dalam hal kontrol. Alasannya, karena khawatir akan mengganggu
asas perdagangan bebas.
Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, pernah mengungkapkan, kapitalisme mutakhir yang
digerakkan sektor keuangan (financially-driven capitalism) tumbuh pesat luar biasa sejak awal
dasawarsa 1980-an. Transaksi di sektor keuangan meroket ratusan kali lipat dibandingkan dengan
nilai perdagangan dunia
.
Di negara-negara maju, lalu lintas modal bebas bergerak praktis tanpa pembatasan. Sementara itu,
makin banyak saja negara berkembang yang mengikuti jejak meliberalisasikan lalu lintas modal.
Jika pada tahun 1970-an hanya 20 persen emerging market countries yang tergolong liberal dalam
lalu lintas modal mereka, dewasa ini sudah meningkat dua kali lipat.
Uang dan instrumen keuangan lainnya tak lagi sekadar sebagai penopang sektor produksi riil,
melainkan telah menjelma sebagai komoditas perdagangan, diternakkan beranak pinak berlipat
ganda dalam waktu singkat. Produk-produk keuangan dengan berbagai macam turunannya
menghasilkan ekspansi kapitalisme dunia yang semu.

Reformasi Moneter Indonesia


Sudah menjadi keniscayaan bagi Indonesia untuk meredisign kebijakan ekonomi moneter Indonesia
karena sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini bila diteruskan sangat berbahaya bagi
kesejahteraan Indonesia di masa depan. Sistem kapitalisme senantiasa mengancam krisis demi
krisis. Sistem kapitalisme itu sangat rawan dan gampang menciptakan krisis. Selain itu, sistem
kapitalisme akan menciptakan kesenjangan pendapatan dan ketidak-adilan ekonomi, sistem
kapitalisme belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat banyak
Kegagalan ekonomi kapitalisme seharusnya dijadikan momentum dan pelajaran bagi bangsa
Indonesia untuk melakukan reformasi sistem moneter secara bertahap Sudah saatnya pemerintah
mengubah paradigma kebijakan pembangunan ekonomi nasional dari orientasi akumulasi kapital
kepada orientasi keadilan sesuai dengan prinsip syariah Islam dan realitas sosial masyarakat yang
bersumber dari akar sejarah bangsa.
Tidak ada satu pihak pun yang memiliki akal sehat, yang menolak urgensinya pendekatan makro
dalam pembangunan ekonomi untuk keselamatan Negara di masa depan. Pendekatan makro
diperlukan untuk menganalisis perilaku ekonomi masyarakat. Misalnya, mengapa banyak
pengangguran dan kemiskinan ? Mengapa inflasi tinggi? Mengapa nilai kurs berfluktuasi, mengapa
harga-harga saham berjatuhan, dsb.
Selanjutnya, Pemerintah diharapkan (didsak) agar lebih akomodatif terhadap sistem ekonomi
syariah yang telah terbukti selama 40 tahun berkembang dengan pesat di saat krisis global datang
mnelanda secara bertubi-tubi. Bahkan jika kita menarik sejarah ke masa yang lebih lampau,
tercatat bahwa selama 4000an tahun ekonomi dunia mengalami stabilitas, hal ini dikarenakan
ekonomi syariah memiliki konsep yang unggul dalam mewujudkan stabilitas, kesejahteraan, dan
inflasi serta keadilan / pemerataan.
Selama ini sudah memang ada perbankan dan LKS, namun dalam skala yang lebih luas dan makro,
pemerintah belum menjadikan ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi andalan. Jika Indonesia
masih berkiblat ke Barat (Amerika dan Eropa) yang memiliki sistem ekonomi yang rapuh, maka
yakinlah Indonesia pasti akan terancam krisis terus-menerus sepanjang sejarah. Kebijakan
pemerintah baru-baru ini (Kontan, 25 April 2009), yang tidak menggunakan dollar dalam transaksi
di Departemen Perhubugan patut diacungi jempol dan hendaknya regulasi ini diterapkan secara
bertahap ke berbagai macam transkasi lainnya, dunia parawisata, dan sebagainya.
Selanjutnya, pemerintah jangan setengah hati menerapkan bank-bank syariah, asuransi syariah,
surat berharga syariah negara, pasar modal syariah, leasing, pegadaian syariah dan lembaga
keuangan mikro syariah yang pro kepada sektor riil dan kemaslahatan ekonomi rakyat. Dengan
krisis ini sesungguhnya Allah hendak mengingatkan betapa sistem ribawi itu ternyata merusak dan
menghancurkan perekonomian umat manusia. Inilah makna firman Allah Luyuziiqahum ba’dhal lazi
‘amiluu la’allahum yarj’iuun. (QS.30 : 41) Maksudnya, krisis itu Kami timpakan kepada mereka
(akibat ulah tangan mereka), supaya mereka kembali kepada sistem yang benar, sebuah sistem
ilahiyah yang berasal dari Tuhan Allah. Itulah ekonomi syariah. Allahu Akbar.
Indonesia, harus dengan cepat dan cerdas mengambil langkah-langkah drastis untuk mengatasi
crisis global. Dampak ke sektor perbankan memang perlu diantisipasi secara prioritas, termasuk
dampak psikologis, mengingat peranan sektor perbankan yang lebih besar serta trauma krisis
moneter tahun 1997-1998.
Tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia juga masih cukup besar termasuk masih adanya
tekanan inflasi dan nilai tukar (Indonesia adalah satu-satunya negara menaikkan suku
bunga!!) serta masih tingginya tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan. Perlu ditambahkan
bahwa target-target ekonomi makro yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) belum ada yang tercapai sesuai yang direncanankan.
Kestabilan ekonomi termasuk kestabilan sektor keuangan merupakan prasyarat bagi pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, langkah-langkah jangka pendek di atas, perlu segera
disertai dengan langkah-langkah untuk membami dan meninggalkan sistem dan praktek trinitas
setan sebagaimana diutarakan sebelumnya, apalagi bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya
beragama Islam. Sistem keuangan dan perbankan syariah yang bebas dari riba, gharar dan maisir
sebagaimana dimaksud dalam UU Perbankan Syariah yang telah diundangkan baru-baru ini, perlu
segera dikembangkan secara serius. Namun sistem keuangan tanpa trinitas setan itu, juga belum
dan masih perlu dilengkapi dengan nilai-nilai ekonomi islami lainnya. Sistem ekonomi islami telah
secara tepat dijadikan acuan oleh para pendiri atau founding fathers kita sebagaimana tercantum
dalam Mukadimah dan sejumlah pasal UUD 1945 yang pada pokoknya mengimpikan terciptanya
masyarakat yang adil dan makmur.
Ajaran-ajaran Islam, seperti perintah untuk berlaku adil khususnya bagi para penguasa atau umara,
perintah untuk membayar zakat, infak dan sedekah bagi orang yang berada, hukum waris, anjuran
untuk hidup sederhana serta larangan hidup mewah dan berlebihan (prohibition of extravagance),
perintah untuk membantu fakir miskin, penyelenggaraan baitul maal oleh negara dan lainnya, jelas
sangat sarat dengan nilai-nilai keadilan (justice) termasuk keadilan distributif (distributive
justice) dan nilai-nilai kemakmuran bersama (social welfare

Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 ISSN : 2536-0983


_______________________________________________________________ 98
TRANSAKSI DERIVATIF DALAM PERSPEKTIF EKONOMI SYARIAH Dimyati *
Abstract A product of Islamic financial that are still debating is the products derived from
derivative transactions. It is carried out to support business investment. In Islam, money does
not as a medium of exchange (medium of exchange) and is not a traded commodity. So it
actually does not recognize the term sharia money trading. On the other hand, Islam allows the
buying and selling of commodities either in cash or tough. In this case the company shares or
bonds can be categorized as a commodity because it can not be considered as appropriate the
money that serves as a medium of exchange for all goods. Keywords: Derivative Transactions,
Salam, Istishna', Arbūn, Khiyar Shart * Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya Dpk pada Fakultas
Syari’ah Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Jombang. Transaksi Derivatif
dalam Perspektif....... (Dimyati) 99 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 A. Pendahuluan
Dalam dunia keuangan (finance), derivatif adalah sebuah kontrak bilateral atau perjanjian
penukaran pembayaran yang nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi “acuan
pokok” atau juga disebut ”produk turunan” (underlying product); daripada memper-dagangkan
atau menukarkan secara fisik suatu aset, pelaku pasar membuat suatu perjanjian untuk saling
mempertukarkan uang, aset atau suatu nilai di suatu masa yang akan datang dengan mengacu
pada aset yang menjadi acuan pokok. Derivatif digunakan oleh manajemen investasi /
manajemen portofolio, perusahaan dan lembaga keuangan serta investor perorangan untuk
mengelola posisi yang mereka miliki terhadap risiko dari pergerakan harga saham dan
komoditas, suku bunga, nilai tukar valuta asing “tanpa” memengaruhi posisi fisik produk yang
menjadi acuannya (underlying). Derivatif dapat mengacu pada pada berbagai jenis aset seperti
misalnya komoditi, saham atau obligasi, suku bunga, nilai tukar mata uang atau indeks (seperti
indeks pasar saham, indeks harga konsumen (CPIConsumer Price Index), atau bahkan indeks
kondisi cuaca ataupun derivatif lainnya). Tampilan dari aset termaksud dapat menetapkan
harga ataupun saat pembayaran. Kegunaan utama dari derivatif ini adalah untuk mengalihkan
risiko ataupun mengambil suatu risiko tergantung apakah posisinya sebagai hedger (pelaku
lindung nilai) atau spekulator. Bermacam-macam rentang nilai antara aset acuan dan alternatif
pembayaran menghasilkan beraneka kontrak derivatif Transaksi Derivatif dalam
Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 100 yang diperdagangkan
di pasaran. Jenis utama derivatif adalah kontrak berjangka (futures), kontrak serah (forward),
opsi dan swap. Transaksi derivatif merupakan transaksi finansial dan bukan transaksi yang riil
karena tidak ada hubungannya dengan barang secara fisik. Walaupun transaksi tersebut
melibatkan penyerahan barang di masa yang akan datang, seperti yang terdapat pada kontrak
“futures”, tetapi dalam prakteknya juga menjadi alat spekulatif karena kontrak derivatif yang
dibuat pada umumnya diselesaikan sebelum jatuh temponya sehingga menggugurkan
kewajiban penyerahan barang tersebut. Dalam kontrak futures tersebut, pelaku pasar hanya
memanfaatkan volatilitas harga barang selama masa kontrak untuk mendapatkan keuntungan
finansial dan tidak berniat untuk merealisasikan kontrak itu sendiri pada waktu jatuh temponya.
Hal ini terjadi terutama karena faktor resiko yang seharusnya dilindungi telah dijadikan sebagai
komoditas yang diperjualbelikan di pasar keuangan. Adanya unsur spekulsi dalam transaksi
derivatif, maka dapat dikatakan bahwa transaksi derivatif mengandung unsur gharar, dalam
perspekti etika Islam kegiatan transaksi baik yang dilakukan oleh perorangan maupun
organisasi dilarang melakukan transaksi yang mengandung unsur gharar, yaitu dalam hal yang
tidak diketahui pencapaiannya dan juga atas sesuatu yang majhu>l (tidak diketahui). B.
Pengertian Transaksi Derivatif Derivatif merupakan suatu bentuk transaksi yang disebut
dengan investasi turunan atau hybrid Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 101
Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 investement. 1 Dikatakan demikian karena pada
dasarnya transaksi ini pada mulanya dilakukan dalam rangka menghimpun dana untuk
mengelola sebuah bisnis investasi, walaupun pada akhirnya transaksi tersebut ternyata tidak
mencerminkan transaksi sektor riil terutama di pasar saham dan valuta asing. Pada dasarnya
transaksi derivatif biasa dilakukan dalam transaksi forward, future maupun dalam transaksi
option; baik itu pada transaksi barang komoditi, suratsurat berharga (securities) seperti saham
dan obligasi, maupun pada perdagangan valuta asing. Pada umumnya, transaksi derivatif ini
dilakukan dalam sebuah pasar tersendiri, dalam hal ini misalnya pada Bursa Derivatif London
(The London Derivatifs Exchange, LDE.) yang merupakan pusat transaksi berjangka di
kawasan masyarakat Eropa yang mengelola jual beli opsi.2 C. Macam-Macam Transaksi
Derivatif Sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa transaksi derivatif pada dasarnya
dilakukan dalam rangka mendukung usaha investasi, dan hal tersebut tampak ketika instrumen
derivatif dijadikan sebagai sarana standar dalam rangka menangani resiko manajemen
keuangan sebuah perusahaan yang diakibatkan baik oleh fluktuasi harga barang maupun
tingkat suku bunga di masa mendatang yang sulit 1 Virginia B. Morris & Kenneth B. Morris,
Dictionary of Financial Terms (New York: Lightbulb Press, t.t), 41. 2 Christopher Pass et.al.,
Kamus Lengkap Ekonomi. terj. Tumpal Rumapea (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1998), 257.
Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 –
115 102 diantisipasi.3 Dalam transaksi derivatif sendiri terdapat bentuk-bentuk transaksi
forward, future dan option. 1. Transaksi Future dan Forward Adapun yang dimaksud dengan
transaksi future (future contract) adalah sebuah kontrak untuk membeli suatu komoditi tertentu
(seperti jagung atau kedelai) maupun surat berharga (seperti saham dan obligasi) pada tingkat
harga tertentu pada masa yang akan datang. Transaksi ini mengharuskan pemegangnya untuk
membeli atau menjual aset, tidak peduli apa yang terjadi dengan nilainya selama selang waktu
tertentu. Pentingnya future contract adalah bahwa ia dapat digunakan oleh manajemen
keuangan untuk mengunci harga komoditi atau suku bunga dan dengan demikian
menghilangkan sumber resiko dari adanya fluktuasi harga masa depan yang belum jelas.
Dengan mengunci suku bunga dan harga-harga komoditi, maka biaya-biaya yang berkaitan
dengan setiap kemungkinan kenaikan dalam suku bunga atau atau harga-harga komoditi sama
sekali akan diimbangi oleh keuntungan yang dihasilkan dengan membuat kontrak suku bunga
future. 4 Sedangkan yang dimaksud dengan transaksi forward (forward contract) adalah
perdagangan yang dilakukan pada suatu waktu, akan tetapi barang yang dijual tersebut akan
diberikan pada masa yang akan datang. Dalam transaksi forward; harga, jumlah barang, waktu
dan tempat penyerahan barang telah ditetapkan 3 Frank E. Vogel and Samuel L. Hayes, Islamic
Law and Finance (The Netherlands: Kluwer Law International, 1998), 222. 4 John D. Martin,
Dasar-Dasar Manjemen Keuangan terj. Haris Munandar (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1994), 302. Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 103 Irtifaq, Vol. 2, No. 1,
Maret 2015 : 98 – 115 ketika penekanan kontrak namun uang maupun barang komoditas baru
diserahkan pada waktu yang disepakati tersebut. Dalam transaksi ini harga ditentukan oleh
kekuatan dan penawaran terhadap komoditas barang untuk batas waktu yang berbeda-beda.5
Future contract adalah bentuk khusus dari forward contract yang dibedakan oleh: (1)
pertukaran yang teratur, (2) kontrak standar dengan perubahan harga terbatas dan persyaratan
margin, (3) clearinghouse pada masingmasing future market, dan (4) penyelesaian kontrak
setiap hari.6 Istilah forward dalam perdagangan valuta asing adalah jual beli mata uang asing
untuk penyerahan dalam jangka waktu satu sampai enam bulan akan datang, sedangkan istilah
future digunakan untuk perdagangan valas dengan penyerahan lebih dari enam bulan masa
yang akan datang.7 2. Transaksi Option Option adalah suatu hak yang didasarkan pada suatu
perjanjian untuk membeli atau menjual suatu komoditi (karet, timah dan lain-lain), surat-surat
berharga (securities) atau mata uang asing pada suatu tingkat harga yang telah disetujui
(ditetapkan di muka) pada setiap waktu untuk masa tertentu (biasanya tiga bulan kontrak). Opsi
digunakan oleh para pembeli dan penjual untuk menyeimbangkan akibat-akibat dari 5 Sheikh
Ghazali Shaikh Abod et.al., An Introduction to Islamic Finance (Kuala Lumpur: Quill
Publishers, 1992), 318. 6 John D. Martin, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, 303. 7 Hamdi
Abdul ‘Adhim, al-Ta’a>mul fi< Aswa>q al-‘Umula>t alDawliyah (Kairo: International
Institute for Islamic Thougt, 1996), 20. Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati)
Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 104 gerakan harga ke arah yang berlawanan.
Transaksi option biasanya dilakukan pada transaksi berjangka untuk meminimkan resiko dan
ketidakpastian harga yang mungkin terjadi dalam transaksi bisnis pada waktu mendatang. Pada
dasarnya terdapat dua macam option, yaitu call option dan put option. Call Option adalah hak
yang dimiliki oleh seorang pembeli untuk melaksanakan atau membatalkan opsi jual beli
dengan pembayaran premi tertentu. Sebaliknya istilah put option adalah hak yang dimiliki oleh
seorang penjual untuk melaksanakan atau membatalkan opsi jual beli berjangka.8 Misalnya,
seorang produsen coklat dapat mengadakan kontrak untuk membeli cocoa dalam jumlah
tertentu dan dengan harga hari ini ditambah presentase premium risiko untuk penyerahan dua
bulan mendatang. Walaupun apabila harga cocoa meningkat, dengan tegas pengusaha
mengetahui bahwa ia masih dapat membeli dengan harga kontrak yang rendah. Begitu pula
dengan seorang petani, ia dapat mengadakan kontrak penjualan komoditi dengan harga yang
disepakati sekarang untuk penyerahan di masa mendatang untuk tujuan menutupi penurunan
harga.9 D. Berbagai Transaksi Derivatif dalam Ekonomi Syariah Sebagaimana disebutkan di
atas bahwa transaksi derivatif dalam ekonomi konvensional berlaku dalam transaksi berjangka
maupun transaksi option. Obyek yang ditransaksikan juga bermacam-macam, mulai dari 8
Christopher Pass, Kamus Lengkap Ekonomi, 465. 9 Ibid., 256. Transaksi Derivatif dalam
Perspektif....... (Dimyati) 105 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 barang komoditi,
surat-surat berharga (saham dan obligasi) maupun valuta asing. Untuk mengetahui lebih jauh
mengenai pandangan syariah mengenai transaksi tersebut, perlu kiranya penulis uraikan
beberapa transaksi dalam Islam yang mirip dengan transaksi derivatif sehingga kita ketahui
persamaan dan perbedaannya dan selanjutnya dianalisa dengan kacamata pandangan syariah
terhadapnya 1. Jual Beli Salam Jual beli salam adalah akad jual beli suatu barang di mana
harganya dibayar dengan tunai, sedangkan barangnya akan diserahkan kemudian dalam jangka
waktu yang disepakati. Biasanya harga barang yang dijual dengan salam lebih murah dari harga
semestinya karena pembayaran dilakukan secara kontan sebelum adanya barang.10 Adapun
syarat-syarat pokok dalam salam di antaranya: (a) Jenis, mutu dan jumlah barang harus jelas.
(b) Harga harus dibayarkan secara tunai. (c) Harga harus pasti dan tetap. (d) Adanya jangka
waktu tertentu yang disepakati untuk penyerahan waktu. Akad Salam merupakan transaksi
dalam Islam yang paling mirip dengan kontrak berjangka dalam ekonomi konvensional. Dalam
kontrak ini pembeli pembeli membayar uang kepada penjual dan dijanjikan akan dikirimi
sejumlah komoditas yang telah disepakati pada waktu tertentu yang akan datang. Kondisi ini
dapat dianggap seperti halnya dalam kontrak berjangka konvensional, karena harga salam yang
sebenarnya adalah harga tunai pada hari ini. 10 Muhammad Antonio Syafi’i, Bank Syariah dari
Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), 112. Transaksi Derivatif dalam
Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 106 Namun ada dua
faktor yang menyebabkan harga salam lebih lebih rendah dari harga tunai hari ini. Pertama,
tidak seperti kontrak berjangka konvensional yang tidak terjadi pertukaran uang hingga kontrak
berakhir, modal pembeli salam langsung dibayarkan lunas, yang menimbulka resiko bagi
pemebli jika penjual tidak menyerahkan barang pada waktu yang telah ditentukan. Diskon pada
harga tunai akan menutupi resiko pada kontrak ini. Kedua, adanya pilihan penyerahan termurah
(cheapest-to-deliver). Saat jatuh tempo, penjual pada kontrak salam biasanya dapat memilih
salah satu dari komoditas dengan rentang kualitas terbatas yang paling murah untuk diserahkan.
Selain itu pihak penjual biasanya memiliki sedikit waktu ekstra untuk mengatur waktu
pengiriman.11 Kedua faktor tersebut menimbulkan ketidakpastian tambahan bagi pembeli.
Meskipun kedua variabel itu dimasukkan ke dalam pilihan yang akan datang pada sistem
keuangan konvensional, variabel tersebut bukan merupakan bagian dari kontrak berjangka
konvensional, yang tidak memberikan fleksibilitas pelaksanaan kepada masing-masing pihak.
2. Jual Beli Istis}na>’ Jual beli Istis}na>’ yaitu suatu perjanjian jual beli antara pembeli dan
produsen di mana barang yang akan diperjualbelikan harus dipesan terlebih dahulu melalui
sebuah proses pembuatan dengan kriteria tertentu. Adapun syarat-syarat Istis}na>’ hampir
mirip dengan salam dengan sedikit perbedaan bahwa pembayaran 11 Frank E. Vogel & Samuel
Hayes, Islamic Law and Finance, 265. Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 107
Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 dalam Istis}na>’ boleh dilakukan secara tunai,
cicilan maupun di akhir penyerahan barang, di samping barang yang dipesan merupakan barang
jadi yang didahului oleh proses pembuatan. Berbeda dengan salam yang biasanya tanpa melalui
proses pembuatan terlebih dahulu. Kontrak Istis}na>’ serupa dengan kontrak berjangka yang
dimodifikasi untuk pembayaran angsuran sesuai perkembangan produksi. Untuk menjadikan
Istis}na>’ sebagai kontrak yang adil, pembayaran pasca-awal kontrak haruslah sama dengan
nol bagi kedua belah pihak, dengan mempertimbangkan kondisi hasil hari ini. Namun haruslah
berhati-hati dalam menentukan seperti apa kontrak yang adil dalam konteks Islam. Penjual
kontrak pada Istis}na>’ dalam sistem Islam biasanya tidak dapat berbuat apa-apa terhadap
pembayaran angsuran sesuai perkembangan produksi kecuali untuk memproduksi barang.
Penjual kontrak Istis}na>’ tidak dapat menggunakannya untuk mencegah resiko atau tujuan
pasar lainnya seperti berinvestasi pada barang lain. hal ini juga karena barang yang dibuat
berdasarkan pesanan, maka penjual otomatis tidak dapat mencegah resiko (mencapai kontrak
yang aman) dengan mengikuti kontrak pengganti lainnya. Kekurangan fleksibilitas juga
merupakan bagian dari biaya kesempatan penjual. Misalnya, pabrik konveksi tidak
diperbolehkan menjual sejumlah baju yang diproduksi dibawah kontrak Istis}na>’ kepada
pihak lainnya dengan harga yang lebih tinggi. Pada piha lain, pabrik ini memang menerima
keuntungan karena dapat menjual dengan harga pasti, yang tentunya memasukkan marjin laba
yang wajar, Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret
2015 : 98 – 115 108 berdasarkan informasi yang paling akurat tentang biaya taksiran harga
baju pada masa mendatang.12 3. Jual Beli ‘Arbun Jual beli ‘arbun adalah jual beli barang
dengan membayar sebagian harga kepada penjual. Apabila ia meneruskan transaksi jual beli
maka ia tinggal membayar ongkos kurangnya saja dan apabila ia batalkan maka uang tersebut
menjadi milik penjual sebagai uang panjar. Walaupun jual beli tersebut dilarang oleh jumhur
ulama, namun Majma’ al-Fiqh alIsla>my membolehkan transaksi tersebut sesuai dengan
pendapat Imam Ahmad dengan pertimbangan melindungi penjual dari kerugian akibat
pembatalan transaksi yang dilakukan oleh pembeli.13 Kontrak ‘arbun ini sangat mirip dengan
call option dalam ekonomi konvensional. Namun, penetapan harga dalam kontrak ‘arbun
dengan menerapkan teori penetapan harga opsi konvensional sulit dilakukan. Teori penetapan
harga opsi konvensional, melalui perubahan posisi yang terus menerus antara sekuritas pokok
dengan obligasi bebas-resiko, mencegah resiko kerugian tanpa memperhatikan bagaimana
status harga di kemudian hari. Dengan kata lain, bagi setiap pergerakan kecil terhadap harga,
ada cara yang tepat untuk melakukan penyesuaian dengan resiko kerugian. Kemampuan
penjual sistem opsi untuk mencegah resiko yang nyaris seketika sekaligus kontinyu, ini
melepaskannya dari 12 Vogel & Hayes, Islamic Law and Finance, 267. 13 Wahbah al-Zuhaili,
Al-Fiqh al-Isla>my wa Adillatuh, vol. 5 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1997), 3435. Transaksi
Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 109 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115
keharusan untuk memprediksi kecenderu-ngan perubahan harga pada masa datang secara
akurat. Selain itu, karena hampir semua kontrak konvensional diselesaikan pada saat jatuh
tempo secara tunai, maka penjual tidak harus menyediakan inventaris barangbarang pokok
untuk memenuhi kontraknya. Sebaliknya, penjual ‘arbun tidak dapat memperdagangkan
barang pokoknya karena ia tidak lagi memiliki hak untuk menjual barang-barang yang
disebutkan dalam kontrak sekalipun ia dapat menjualnya. Pasar skunder untuk barang-barang
yang dimaksud boleh jadi relatif tidak likuid dengan menganggap penjualannya tidak
sepenuhnya dilarang, karena penjualan tersebut diategorikan sebagai sekuritas keuangan oleh
dewan syari’ah). Selain itu, menurut hukum Islam, penyelesaian transaksinya harus melibatkan
pertukaran aktiva riil, bukan uang.14 Kesemua faktor tersebut membuat ekspektasi individual
tentang perubahan harga menjadi sangat penting dan teknik penetapan harga bukan lagi
merupakan preferensi-bebas. Oleh karena itu, dalam kajian ini teknik penetapan harga opsi
konvensional tidak dapat digunakan dan harus mencari pendekatan alternatif untuk
menentukan bentuk uang muka ‘arbun bagi penjual yang diperbolehkan oleh syari’at. 4.
Transaksi Khiyar Sharat} Transaksi khiyar sharat} kesepakatan antara kedua belah pihak untuk
membatalkan atau meneruskan kesepakatan sebelumnya untuk membeli atau menjual suatu
barang. Khiyar sharat} berlaku sebelum adanya 14 Vogel & Hayes, Islamic Law and Finance,
269-270. Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015
: 98 – 115 110 serah terima harga maupun barang, sehingga dalam hal ini tidak ada khiyar
sharat} apabila sudah terjadi akad yang sudah mengikat dengan penyerahan baik itu berupa
barang atau harga saja. Dengan demikian tidak ada khiyar sharat} dalam jual beli salam dan
money exchange, karena pembayaran harga dalam transaksi tersebut harus tunai, sedangkan
khiyar syarat tidak berlaku lagi setelah terjadi penyerahan salah satu barang atau harga.15
Kontrak khiyar sharat} merupakan kontrak yang pemegang hak khiyarnya boleh membatalkan
kontrak. Pihak pemegang hak khiyar tersebut mungkin bermaksud membatalkan kontrak jika
terjadi peristiwa tertentu. Dalam kasus tersebut nilai hak khiyar merupakan sebuah fungsi harga
aktiva pokok dan problabilitas terjadinya peristiwa tertentu. Contoh yang dapat dikemukakan
untuk menentukan nilai transaksi model khiyar sharat} adalah opsi saham yang diberikan
kepada seorang karyawan selama karyawan tersebut tetap bekerja dengan perusahaan tertentu.
Biasanya opsi saham ini menjadi hak setelah karyawan tersebut bekerja di perusahaannya
selama jangka waktu tertentu. E. Transaksi Derivatif dalam Perspektif Ekonomi Syariah Dari
berbagai uraian tentang tentang jual beli salam, Istis}na>’, jual beli ‘arbun maupun khiyar
sharat}, sekilas mempunyai kemiripan dengan transaksi derivatif dalam sistem ekonomi
konvensional. Namun untuk mengatakan bahwa transaksi tersebut sesuai 15 Ibid., 4: 3110.
Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 111 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98
– 115 dengan syariat atau tidak, masih memerlukan analisa lebih mendalam. 1. Jual Beli Valuta
Asing Dalam pandangan syariah uang berfungsi tidak lebih sebagai alat tukar (medium of
exchange) dan bukan merupakan komoditi yang diperdagangkan. Sehingga sebenarnya syariah
tidak mengenal istilah perdagangan uang, akan tetapi lebih banyak menggunakannya dengan
istilah sharf (money exchange). Dalam istilah s}arf, tukar menukar uang harus dilakukan secara
tunai (spot), baik itu pada uang sejenis maupun beda jenis (valas). Pembayaran tunai tersebut
menjadi penting, karena dalam Islam pembayaran jual beli mata uang ataupun valas dengan
future dan forward dilarang.16 Hal tersebut berdasarkan hadis Nabi saw. yang melarang jual
beli emas dengan perak dengan pembayaran tangguh.17 Para ulama juga berpendapat bahwa
jual beli salam terhadap mata uang juga dilarang,18 berdasarkan hadis Abu Sa’id al-Khudri:
“Jual beli salam terhadap mata uang adalah riba”.19 16 Pelarangan penukaran (jual beli) mata
uang dengan pembayaran tangguh telah disepakati oleh ulama salaf maupun khalaf berdasarkan
hadis Nabi saw., pendapat para sahabat dan tabiin. Hal tersebut karena pembayaran tangguh
dalam uang syarat dengan riba (Hamdi Abdul ‘Adhim: 46) 17 Hadis riwayat Bukhari dalam
Fath al-Bari vol. 5:287 dan riwayat Muslim dalam shahih Muslim vol. 3:1213 18 Hamdi Abdul
‘Adhim, al-Ta’a>mul fi< Aswa>q al-‘Umula>t alDawliyah, 46. 19 Ibn Hajar al-Asqalani, Fath
al-Ba>ri fi< Sharh} S}ahi>h} al-Bukha>ry, vol. V (Kairo: Maktabah al-Halbi, t.t), 340.
Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 –
115 112 Pelarangan penukaran uang secara tangguh tidak lepas dari asumsi bahwa uang
sebagai alat ukur nilai barang tidak boleh dijadikan sebagai komoditi, melainkan harus selalu
diputar dalam sebuah usaha sektor riil sehingga penambahan jumlah uang sejalan dengan
keadaan sektor riil. Hal ini tentu berbeda keadaannya apabila ia diperdagangkan sebagaimana
komoditi yang lain. 2. Jual Beli Komoditi dan Saham Sebagaimana disebutkan di atas bahwa
Islam membolehkan jual beli komoditas baik secara tunai maupun tangguh. Dalam hal ini
saham perusahaan atau obligasi bisa dikategorikan sebagai komoditi karena tidak bisa dianggap
sebagaimana layaknya uang sebagai alat tukar atas semua barang. Namun yang perlu
diperhatikan adalah bahwa dalam Islam dilarang yang disebut dengan jual beli hutang dengan
hutang.20 Dilarangnya jual beli ini sebenarnya untuk menghindari jual beli barang yang belum
dimiliki yang dilarang dalam Islam.21 Jual beli salam diperbolehkan, karena walaupun barang
belum ada namun uang harus sudah diserahkan, begitu pula dalam jual beli mura>bah}ah
walaupun uang belum dibayarkan, namun barang sudah diserahkan. Adapun dalam Istis}na>’
walaupun harga secara tangguh, namun barang pada hakekatnnya sudah ada dan sudah dimiliki
penjual karena sedang dalam 20 Dalam fikih disebut dengan istilah bay’ al-kali’ bi al-kali’,
yaitu jual beli barang secara tangguh, baik dalam penyerahan harga maupun barangnya. 21
Sebagaimana yang disebutkan hadis terhadap larangan jual beli gharar yang di antaranya
adalah jual beli sesuatu yang tidak ada pada seseorang dan jual beli sesuatu yang belum ia
miliki. Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) 113 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret
2015 : 98 – 115 proses pembuatan sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan oleh pembeli.
Sehingga dalam jual beli harus ada yang namanya thaman (harga, uang) muthman (barang)
atau salah satu dari keduanya, dan apabila keduanya tidak ada, dalam arti belum menjadi
miliknya maka jual beli tersebut tidak sah. Hal tersebut juga berlaku dalam jual beli saham baik
secara future maupun forward, maka jual beli saham oleh para pialang tersebut juga tidak
diperbolehkan Islam apabila saham tersebut belum ia miliki sebagaimana yang banyak terjadi
dalam pasar sekunder. Jual beli saham sebelum adanya kepemilikkan tersebut pada dasarnya
dilakukan atas dasar spekulasi untuk mencari keutungan dari perbedaan harga dalam transaksi
jangka pendek. Mereka hanya mencari capital gain dari transaksi saham yang mereka lakukan
sehingga transaksi yang mereka lakukan tersebut tidak mencerminkan kehidupan ekonomi
sektor riil. Hal ini merupakan bentuk gambling (maysir, qimar) yang dilarang dalam Islam.
Belum lagi dengan adanya saham preferen yang memberikan sejumlah keistimewaan pada
pemegangnya dalam bentuk keuntungan tetap yang pada hakekatnya tidak ada bedanya dengan
bunga. Ini sama halnya dengan obligasi yang dilarang dalam Islam karena adanya imbalan yang
bersifat tetap berupa bunga. Adapun jual beli option, memang ada kemiripan dengan jual beli
dengan khiyar sharat} maupun ‘arbun, namun pada hakekatnya keduanya berbeda, baik dari
esensi maupun tujuannya. Baik dalam khiyar sharat} maupun jual beli ‘arbun obyek akadnya
adalah barang Transaksi Derivatif dalam Perspektif....... (Dimyati) Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret
2015 : 98 – 115 114 komoditi, dan barang tersebut sudah jelas, baik keberadaan maupun
kepemilikannya. Sedangkan dalam transaksi option yang diperjualbelikan adalah kontraknya
bukan barangnya,22 sedangkan barangnya masih belum jelas keberadaannya maupun
kepemilikannya. Sedangkan tujuan ‘arbun adalah sebagai ongkos panjar terhadap barang yang
dibeli sebagai ganti rugi terhadap dibatalkan kontrak jual beli.23 Namun dalam option, tujuan
awalnya adalah untuk memperjual belikan kontrak untuk mendapatkan keuntungan dari
ketidakpastian harga, maupun tingkat suka bunga, sedangkan barangnya sendiri juga belum
jelas adanya. Di sinilah praktek spekulasi tidak bisa dihindarkan terutama dalam pasar saham
yang harganya bisa berubah begitu cepatnya. F. Penutup Memang, dalam jual-beli terkadang
tidak bisa dihindarkan dari unsur spekulasi, namun spekulasi yang dilarang dalam Islam adalah
bentuk spekulasi keuntungan yang tidak disertai dengan kerja keras (game of skill) dalam
sektor riil, melainkan tidak lebih dari sekedar permainan (game of change). Di samping
keuntungan yang diperoleh dari spekulasi ini biasanya selalu dibarengi oleh kerugiaan yang
diderita oleh pihak lain. Namun demikian, apabila jual beli option tersebut dilakukan dalam
bentuk bay’ ‘arbun atau khiyar shart}, maka Islam tidak melarangnya. Begitu juga jual beli
berjangka (future dan forward) dengan model salam maupun istis}na>’. 22 Christopher Pass
et.al., Kamus Lengkap Ekonomi, 256. 23 Wahbah al-Zuhaili, 5:3435. Transaksi Derivatif
dalam Perspektif....... (Dimyati) 115 Irtifaq, Vol. 2, No. 1, Maret 2015 : 98 – 115 Daftar Pustaka
Abod, Sheikh Ghazali Shaikh et.al., An Introduction to Islamic Finance Kuala Lumpur: Quill
Publishers, 1992. ‘Adhim, Hamdi Abdul, al-Ta’a>mul fi< Aswa>q al- ‘Umula>t al-Dawliyah
Kairo: International Institute for Islamic Thougt, 1996. al-Asqalani, Ibn Hajar, Fath{} al-Ba>ri
fi< Sharh} S}ahi>h} alBukha>ry, vol. V Kairo: Maktabah al-Halbi, t.t. Martin, John D. Dasar-
Dasar Manjemen Keuangan terj. Haris Munandar Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.
Morris, Virginia B. & Kenneth B. Morris, Dictionary of Financial Terms New York: Lightbulb
Press, t.t. Pass, Christopher, et.al., Kamus Lengkap Ekonomi. terj. Tumpal Rumapea Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1998. Syafi’i, Muhammad Antonio. Bank Syariah dari Teori ke Praktek
Jakarta: Gema Insani Press, 2001. Vogel, Frank E. and Samuel L. Hayes, Islamic Law and
Finance The Netherlands: Kluwer Law International, 1998. al-Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al-
Isla>my wa Adillatuh, vol. 5 Damaskus: Dar al-Fikr, 1997.