Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu kimia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari


segala sesuatu tentang materi, seperti hakekat, susunan, sifat-sifat,
perubahan serta energi yang menyertai perubahannya.
Di alam sendiri banyak ditemukan zat, baik berupa unsur maupun
senyawa. Keberadaan zat tersebut sangat ditentukan oleh kestabilan zat
itu sendiri. Jika suatu zat stabil maka kita akan menemukannya dalam
bentuk unsur bebas, namun jika zat itu tidak stabil maka kita akan
menemukannya dalam bentuk senyawa. Suatu atom bergabung dengan
atom lainnya melalui ikatan kimia sehingga dapat membentuk senyawa,
baik senyawa kovalen maupun senyawa ion. Senyawa ion terbentuk
melalui ikatan ion, yaitu ikatan yang terjadi antara ion positif, yaitu atom
yang melepaskan elektron dan ion negatif, yaitu atom yang menangkap
elektron. Akibatnya, senyawa ion yang terbentuk bersifat polar.
Ternyata unsur dan senyawa tersebut dapat bersatu karena gaya
tarik-menarik antara atom dan dapat disebut Ikatan Kimia. Dari
kekuatan gaya tarik-menarik inilah menentukan sifat-sifat kimia dari
suatu zat. Cara ikatan kimia berubah jika suatu zat bereaksi digunakan
untuk mengetahui jumlah energi yang diserap selama terjadinya reaksi.
Senyawa asam dan basa sering ditemukan dan berperan penting
dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bahan yang bersifat asam yaitu pada
buahan-buahan misalnya lemon dan jeruk. Sedangkan contoh bahan yang
bersifat basa yaitu sabun dan deterjen. Untuk menjelaskan mengenai
senyawa asam dan basa, terdapat beberapa teori asam basa, diantaranya
yaitu teori Arrhenius, teori Bronsted-Lowry, teori asam basa Lewis, dan
teori Lux-Flood.
1. 2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ikatan kimia ?
2. Mengapa ikatan kimia begitu penting dalam kimia ?
3. Bagaimana bentuk ikatan kimia ?
4. Apa yang di maksud dengan asam dan basa ?
5. Bagaimana sifat-sifat asam basa ?

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari lebih dalam tentang ikatan kimia
2. Untuk mengetahui berbagai teori asam basa.
3. Mengetahui dan memahami materi mengenai asam dan basa.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ikatan Kimia


2.1.1 Pengertian Ikatan Kimia
Ikatan antar atom dalam membentuk senyawa yang bertujuan
untuk mencapai kestabilan. Tetapi ada enam unsur lain yang tidak
bersifat demikian, yaitu unsur-unsur gas mulia yang terdiri dari : helium
(2He), neon (10Ne), argon (18Ar), krypton (36Kr), xenon (54Xe), dan
radon (86Rn).

Unsur-unsur gas mulia hampir tidak membentuk ikatan dengan


atom lain dan karena tidak reaktifnya maka sering disebut gas inert.
Gas mulia yang paling dikenal adalah helium, neon, dan argon dengan
struktur elektron (disebut rumus titik elektron Lewis) sebagai berikut.

Kecuali helium yang memiliki 2 elektron (duplet), semua gas mulia


memiliki 8 elektron (oktet) pada kulit terluarnya. Susunan yang
demikian menurut Kossel dan Lewis sangat stabil, sehingga atom-
atom gas mulia tidak menerima elektron ataupun melepaskan
elektron terluarnya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa gas
mulia sangat stabil.
Periode Unsur Nomor Atom K L M N O P
1 He 2 2
2 Ne 10 2 8
3 Ar 18 2 8 8
4 Kr 36 2 8 18 8
5 Xe 54 2 8 18 18 8
6 Rn 86 2 8 18 32 18 8
Atom-atom lain agar stabil berusaha memiliki konfigurasi
elektron seperti gas mulia. Kecenderungan ini bisa terjadi dengan
membentuk ikatan kimia antar atom yang satu dengan atom lainnya.
Cara atom mencapai kestabilan :
1. Dengan melepas elektron, jika elektron valensi = 1,2, dan 3
2. Dengan menangkap elektron, jika elektron valensi = 9,6, dan 7
3. Dengan pemakaian pasangan elektron secara bersam-sama.

2.1.2 Ikatan Ion


Ikatan yang terjadi akibat adanya serah terima electron dari suatu atom
ke atom lainnya.
- Atom Logam → melepas 𝑒̅ → ion positif
- Atom non logam → menangkap 𝑒̅ → ion negative
Sifat-Sifat ikatan ionik adalah:
a. Bersifat polar sehingga larut dalam pelarut polar
b. Memiliki titik leleh yang tinggi
c. Baik larutan maupun lelehannya bersifat elektrolit .
Contoh : Disini terjadi serah terima elektron, yaitu atom natrium
melepaskan sebuah elektron valensinya sehingga terjadi ion natrium,
Na+ dan elektron ini diterima oleh atom klor sehingga terjadi ion
klorida, Cl- .
Na (2. 8. 1) Na+ (2. 8) + e

Cl (2. 8. 7) + e Cl- (2. 8. 8)


Selanjutnya ion klorida dan ion natrium saling tarik menarik dengan
gaya elektrostatis sehingga terjadi ikatan ion. Terbentuklah natrium
klorida, NaCl.

Senyawa-senyawa seperti NaCl yang berupa padatan terbentuk


melalui ikatan ion disebut senyawa ionik. Ikatan ion terjadi antara
atom-atom logam dengan non-logam. Dalam ikatan ion jumlah
elektron yang dilepas logam sama dengan jumlah elektron yang
diterima oleh non-logam.

2.1.3 Ikatan Kovalen

Ikatan yang terjadi akibat pemakaian pasangan elektron secara


bersama-sama oleh kedua atom. Ikatan kovalen terbentuk diantara dua
atom yang sama-sama membutuhkan elektron (sesama atom non
logam).
Dua atom non logam tersebut saling menyumbangkan elektron
yang di jadikan milik bersama.
Ada beberapa jenis ikatan kovalen yang semuanya bergantung
pada jumlah pasangan elektron yang terlibat dalam ikatan kovalen.
 Ikatan tunggal merupakan ikatan kovalen yang terbentuk 1
pasangan elektron. Contoh dari Ikatan Kovalen Tunggal,
pembentukan molekul hidrogen :
 Ikatan rangkap 2 merupakan ikatan kovalen yang terbentuk dari
dua pasangan elektron. Contohnya pembentukan molekul O2

 Ikatan rangkap 3 yang terdiri dari 3 pasangan elektron.


Contohnya pembentukan N2 (gas nitrogen).

2.1.3 Ikatan Koordinasi


Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen dimana pasangan
electron milik bersama hanya disumbangkan oleh suatu atom,
sedangkan atom yang satu lagi tidak ikut menyumbangkan elektron
Syarat-syarat terbentuknya ikatan kovalen koordinasi :
 Salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas (PEB)
 Atom yang lainnya memiliki orbital kosong
2.1.4 Sruktur Ruang dan Bentuk Molekul
Sidgwick Powell dan Nylholm Gillespie menyatakan, bahwa:

 Pasangan-pasangan elektron tersusun mengelilingi atom


pusat sehingga tolak menolak antara pasangan-pasangan
elektron ini seminimal mungkin.
 Kedudukan baru dari pasangan elektron ini menentukan
bentuk molekul.
Pasangan elektron tersebut dapat berupa pasangan elektron
yang membentuk ikatan (PEI) dan pasangan elektron yang tidak
membentuk ikatan atau pasangan elektron bebas (PEB).

Sering ditemui bentuk suatu molekul tidak sesuai dengan


struktur ruangnya. Hal ini disebabkan adanya beberapa molekul
yang mempunyai pasangan-pasangan elektron yang tidak digunakan
untuk berikatan (pasangan elektron bebas). Pada Tabel 2 juga
dicontohkan beberapa molekul dengan atom pusat dilembangkan A,
atom-atom yang terikat pada atom pusat diberi lambang X, dan
pasangan elektron bebas diberi lambang E.
2.1.5 Kepolaran

Molekul kovalen diatomik yang terbentuk dari atom-atom yang


berbeda, setiap atomnya mempunyai daya tarik terhadap elektron juga
tidak sama sehinga kedudukan pasangan elektron akan bergeser ke
arah atom yang lebih elektronegatif. Misalnya, pada molekul HCl,
atom klor mempunyai kemampuan menarik elektron lebih kuat
daripada atom hidrogen. Jadi kedudukan pasangan elektron yang
digunakan berikatan lebih mendekati atom klor, sehingga terjadi
pemisahan muatan dan terbentuk dipol (dwikutub). Akibatnya, atom
Cl lebih bermuatan negatif (polar negatif, d- ) dan kelebihan muatan
positif ada pada atom H (polar positif, d+). Molekul-molekul seperti
HCl ini disebut molekul polar, sedang molekul kovalen diatomik yang
terbentuk dari atom yang sama seperti H2 merupakan molekul non-
polar.

“Semakin besar perbedaan keelektronegatifan unsur-unsur yang


berikatan, semakin polar molekul yang terbentuk”
Untuk mengetahui besarnya kepolaran suatu senyawa digunakan
momen dipol. Semakin besar harga momen dipol, semakin polar
senyawa yang bersangkutan atau mendekati ke sifat ionik. Pada
senyawa non-polar mempunyai momen dipol nol.
Momen Dipol adalah hasil kali muatan dengan jarak antara
kedua muatan tersebut

𝜇 = 𝑞. 𝑑

Dengan:
µ = momen dipol dalam satuan Debye
q = muatan dalam satuan s. e. s (satuan elektrostatis)
d = jarak dalam satuan (angstrom)
Kepolaran molekul poliatom ditentukan oleh:
a. kepolaran ikatan
b. struktur ruang molekul.
2.1.6 Ikatan Logam
Ikatan logam merupakan salah satu ciri khusus dari logam, pada
ikatan logam ini elektron tidak hanya menjadi miliki satu atau dua atom
saja, melainkan menjadi milik dari semua atom yang ada dalam ikatan
logam tersebut. Elektron- elektron dapat terdelokalisasi sehingga dapat
bergerak bebas dalam awan elektron yang mengelilingi atom-atom
logam. Akibat dari elektron yang dapat bergerak bebas ini adalah sifat
logam yang dapat menghantarkan listrik dengan mudah. Ikatan logam
ini hanya ditemui pada ikatan yang seluruhnya terdiri dari atom unsur-
unsur logam semata.
2.2 Asam Basa
2.2.1 Teori asam - basa Arrhenius
Pada tahun 1807, seorang ilmuan dari Swiss yang bernama
Svante Arrhenius mengemukakan teori asam dan basa
sebagai berikut.

 Asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air

terionisasi menghasilkan ion H+.


 Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air

menghasilkan ion OH-.


a. Asam
Menurut Arrhenius, asam adalah senyawa yang bila
dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+.
Contoh asam dan reaksi ionisasinya dalam air
+ -
 HCl(aq) → H (aq) + Cl (aq)
+ -
 HBr(aq) → H (aq) + Br (aq)
+ -
 HCN(aq) → H (aq) + CN (aq)
+ -
 HNO3(aq) → H (aq) + NO3 (aq)
2-
+
 H2SO4(aq) → 2H (aq) + SO4 (aq)
+ -
 CH3COOH(aq) → H (aq) + CH3COO (aq)
 H2CO3(aq) → 2H (aq) + CO3 (aq)
+ 2-


b. Basa
Basa adalah senyawa yang bila dilarutkan dalam air dapat
menghasilkan ion OH-.
Perhatikan contoh reaksi berikut dalam air
 LiOH(aq)→ Li+(aq) + OH-(aq)
 NaOH(aq) → Na+(aq) + OH-(aq)
 KOH(aq) →K+(aq) + OH-(aq)
 Mg(OH)2→Mg2+(aq) + 2OH-(aq)
 Ca(OH)2(aq) →Ca2+(aq) + 2OH-(aq)
 Al(OH)3(aq) → Al3+(aq) + 3OH-(aq)

2.2.2 Teori asam basa Bronsted – Lowry


Dalam Arrhenius tidak dapat menjelaskan suatu larutan yang
pelarutnya bukan air.

Untuk melengkapi kekurangan teori Arrhenius tersebut pada


tahun 1923, dua orang ilmuwan yang secara terpisah yaitu
Johanes Nicolas Bronsted (1879-1947) dari Denmark dan
Thomas Lowry seorang Kimiawan dari Inggris,
mengemukakan teori yang sama mengenai asam dan basa.
Menurut Bronsted Lowry

• asam adalah zat yang dalam reaksi bertindak sebagai donor

proton (memberi ion H+)


• basa adalah zat yang dalam reaksi bertindak sebagai

akseptor proton (penerima ion H+)


HCl dalam air bersifat asam, dapat dijelaskan sebagai berikut :
HCl(aq) + H2O(l) ⇌ H3O+(aq) + Cl-(aq)

Dalam reaksi tersebut:


- HCl diubah menjadi Cl-, jadi HCl sebagai donor proton
+
(mem- berikan ion H ) → HCl asam
+
- H2O diubah menjadi H3O , jadi H2O sebagai akseptor
+
proton (menerima ion H ) → H2O basa

- HCl dan Cl- → disebut pasangan asam – basa konjugasi


+
- H2O dan H3O → disebut pasangan basa – asam konjugasi

Sifat asam dan basa menurut Bronsted dan Lowry


bersifat "relatif" artinya sifat asam dan basa itu bergantung
pada pasangan reaksinya.
Jika pasangan reaksinya lebih bersifat asam maka zat itu
bersifat basa, sebaliknya bila pasangan reaksinya itu lebih
bersifat basa maka zat itu bertindak (bersifat) sebagai asam.
2.2.3 Teori Asam Basa Lewis

Pada tahun 1938, G.N. Lewis menyatakan teori asam basa


berdasarkan serah terima pasangan elektron.
Hal ini dapat disimak dari reaksi berikut :
2.2.4 Indikator asam basa
1. Indikator Lakmus
Salah satu indikator asam – basa yang sering
digunakan di laboratorium adalah kertas lakmus. Ada 2
macam kertas lakmus, yaitu kertas lakmus merah dan kertas
lakmus biru.
Perubahan warna kertas lakmus dalam beberapa larutan
senyawa.
Perubahan warna kertas lakmus
No. Larutan
Kertas Lakmus Kertas Lakmus
Merah Biru
1. HCl 0,1 M merah merah
2. CH3COOH 0,1 M merah merah
3. NH4OH 0,1 M biru biru
4. NaOH 0,1 M biru biru
5. NaCl 0,1 M merah biru
Pembahasan :

1. Pada larutan asam (data No.1 dan No.2) kertas lakmus


semuanya diubah menjadi warna merah.
2. Pada larutan basa (data No.3 dan No.4) kertas lakmus
semuanya diubah menjadi warna biru.
3. Pada larutan netral (data no.5) kertas lakmus semuanya
tetap
2) Indikator Alam

Selain yang ada di laboratorium, kita kenal juga


indikator yang berasal dari alam dan setiap siswa pasti bisa
membuatnya dan dikenal dengan indikator alam. Prinsip
kerja indikator alam adalah pada suasana yang berbeda ia
dapat berubah warna.
Jadi setiap bahan apa saja di alam ini (seperti ekstrak
kunyit, ekstrak bunga, dan lain-lain) yang bila dilarutkan
dalam larutan asam berbeda warna dengan yang bila
dilarutkan dalam larutan basa maka bahan tersebut dapat
digunakan sebagai indikator.
2.2.5 Menghitung pH Larutan Asam Basa
1. Pengertian pH
Adanya ion H+ dan ion OH- telah memberikan pengertian
asam dan basa menurut Arrhenius.

Ion H+ dan OH- selain dapat menjelaskan sifat asam dan


basa juga dapat menjelaskan derajat keasaman atau derajat
kebasaan.

Semakin besar konsentrasi ion H+ semakin besar derajat


ke asamannya dan sebaliknya, semakin besar konsentrasi ion

OH- semakin besar pula derajat kebasaannya dan sebaliknya.

• Larutan-larutan yang sangat encer nilai konsentrasi H+

dan OH- itu sangat kecil, sehingga menyulitkan dalam


penghitungan derajat keasaman.
Seorang ahli biokimia dari Denmark pada tahun 1909

mengusulkan agar perhitungan konsentrasi ion H+ dan

OH- yang sangat kecil dan tak sederhana itu digunakan


dengan istilah pH yang menyatakan de- rajat atau tingkat
ke asaman larutan tersebut.

pH diperoleh sebagai hasil negatif logaritma 10 dari

konsentrasi ion H+. Jadi, bila ditulis dengan persamaan


matematika adalah sebagai berikut:

pH = -log [H+]

Analog dengan cara perolehan pH untuk larutan asam maka


pada laru- tan basa berlaku:

pOH = -log [OH-]


Usulan Sorensen tersebut sangat menggembirakan di
kalangan ilmuwan dan cara tersebut masih relevan untuk
dipakai sampai sekarang.
Rumus tersebut dapat memberikan pengertian bahwa
semakin besar [H+] semakin kecil harga pH-nya dan
semakin kecil [H+] semakin besar harga pH-nya. Jadi
semakin besar harga pH, semakin kecil dera- jat
keasamannya, (pH berbanding terbalik dengan derajat
keasaman).
2. Kesetimbangan Air
Pada suhu 25ºC air yang netral itu memiliki pH = 7. Berarti

besarnya [H+] = 10-7 M artinya bahwa air itu walaupun

hanya sedikit juga terionisasi sebagian menghasilkan ion H+

dan tentunya juga ion OH-.


Jika ditulis persamaan reaksinya adalah:
H2O(l) ⇄ H+(aq) + OH-(aq)

Berdasarkan reaksi ionisasi tersebut banyaknya ion H+ sama


dengan banyaknya ion OH-. Jadi, banyaknya ion OH- juga
sama yaitu 10-7 M.

Reaksi ionisasi air adalah reaksi kesetimbangan, sehingga


air memiliki harga tetapan kesetimbangan yang
dirumuskan:

Besarnya [H2O] hampir tak berubah karena


tiap 1 liternya hanya ter- urai (terionisasi) sebesar 10-
7 mol pada suhu 25ºC , sehingga persamaan tetapan
kesetimbangan air tersebut dapat disederhanakan
menjadi:
K [H2O] = [H+] [OH-]

Jika K [H2O] = KW maka :

Kw = [H+] [OH-]

Kw = 10-7.10-7

Kw = 10-14

Harga Kw dipengaruhi oleh suhu, semakin besar


suhunya semakin besar pula air yang terionisasi,
dengan demikian harga Kw juga besar. Sebagai
perbandingan harga Kw pada suhu 60ºC adalah
9,55.10-14. Pada suhu 100ºC adalah 55,0 x 10-14.
Dalam perhitungan, jika besarnya suhu tidak
disebutkan berarti dianggap pada suhu 25ºC,

sehingga harga Kw= 10-14 saja.

Karena Kw pada suhu 25ºC = 10-14 maka:


Kw = [H+] [OH-]
10-14 = [H+] [OH-]

pKw = p[H+] [OH-]


-log10-14 = -log [H+] +(-log[OH-])
14 = pH + pOH

 Suatu larutan bersifat asam bila [H+] > [OH-]

 suatu larutan bersifat basa bila [H+] < [OH-]

 suatu larutan bersifat netral bila [H+] = [OH-]

3. Menentukan pH larutan dengan Asam Kuat dan Basa Kuat

Dalam menentukan besarnya [H+] pada larutan asam dan

[OH-] pada larutan basa secara stoikiometri maka pH suatu


larutan asam dan basa dapat ditentukan atau dihitung
dengan rumus:

[H+] = n.Ma dan [OH-] = n.Mb

Keterangan:

n = banyaknya ion H+/OH-


Ma = molaritas asam

Mb = molaritas basa

4. Menentukan pH larutan Asam Lemah dan Basa Lemah

 Asam Lemah

Asam lemah adalah senyawa asam yang bila


dilarutkan dalam air terionisasi sebagian, sehingga
memiliki harga  < 1. Dalam larutan asam lemah terdapat
molekul-molekul asam yang tidak terionisasi dan ion-ion
H+ serta ion-ion sisa asam yang berada dalam
kesetimbangan. Asam lemah mempunyai harga Ka yang
kecil, makin kecil harga  asam lemah, makin kecil pula
harga Ka-nya.
Contoh asam lemah:

CH3COOH, HCOOH, H2C2O4 ,HCN, H2S, H2CO3, HNO2,


HF

 Basa Lemah

Basa lemah adalah senyawa basa yang dalam air


mengalami ionisasi sebagian ( < 1). Dalam larutan basa
lemah terdapat molekul-molekul basa yang tidak
terionisasi. Ion-ion logam dan ion-ion hidroksil [OH-]
berada dalam kesetimbangan. Basa lemah mempunyai
harga Kb yang kecil. Makin kecil harga  dari basa lemah,
makin kecil pula harga Kb-nya.
Contoh basa lemah:

NH4OH, Mg(OH)2 , Al(OH)3, Zn(OH)2

Asam kuat dan basa kuat besarnya konsentrasi ion [H+]

dan ion [OH-] berbanding lurus dengan konsentrasi asam


dan konsentrasi basanya atau besarnya dikalikan dengan
koefisien reaksinya, karena asam kuat dan basa kuat
tersebut terionisasi sempurna dalam air (α
= 1). Pada asam lemah dan basa lemah tidaklah demikian
karena pada asam lemah dan basa lemah hanya terionisasi
sebagian (α < 1), se- hingga dalam asam lemah dan basa
lemah membentuk reaksi ionisasi kesetimbangan, jika
ditulis:

HA ⇄ H+ + A- (α < 1)

LOH ⇄ L+ + OH- (α < 1)


Asam lemah monovalen memiliki harga tetapan
kesetimbangan asam (Ka)
( 𝑯+ )(𝑨− )
𝑲𝒂 =
(𝑯𝑨)

Besarnya [H+] = [A-] dan jika [HA] = Ma maka rumus


tersebut dapat ditulis:

[𝑯+ ] = √𝑲𝒂. 𝑴𝒂
Ket :

Ma = Konsentrasi molar asam lemah

Identik dengan cara perolehan asam lemah maka pada


basa lemah monovalen berlaku:
[𝑶𝑯]− = √𝑲𝒃. 𝑴𝒃
Ket :
Kb = tetapan kesetimbangan basa lemah
Mb = konsentrasi (molar) basa lemah
Hubungan derajat ionisasi (α) dengan Ka dalam
asam lemah dan basa lemah.

𝑲𝒂
𝜶= √
𝑴𝒂

Sama halnya dengan basa lemah :

𝑲𝒃
𝜶= √
𝑴𝒃

5. Memperkirakan pH laritan dan Indikator

 Trayek indikator

Setiap indikator akan berubah warnanya pada daerah


kisaran pH yang berbeda-beda. Perubahan warna
indikator pada rentang (trayek) tertentu itu disebut
"trayek indikator." Dengan mengetahui trayek indikator,
kita dapat menentukan (memperkirakan) harga pH suatu
larutan.
Perhatikan harga trayek pH beberapa indikator pada
tabel berikut.
Indikator Trayek pH Perubahan warna
metil ungu 0,5 – 1,5 kuning – violet
metil kuning 2–3 merah – kuning
metil jingga 3,1 – 4,4 merah – kuning
metil merah 4,2 – 6,3 merah – kuning
bromtimol biru 6,0 – 7,6 kuning – biru
fenolftalein 8,0 – 9,6 tak berwarna –
merah
keny alizarin 10,1 – 12,0 tak berwarna – ungu

Penjelasan:

• Indikator metil ungu memiliki trayek pH 0,5 – 1,5


artinya bila larutan yang pH < 0,5 ditetesi dengan
indikator metil ungu akan berwarna kuning, dan
bila larutan yang pH > 1,5 akan berwarna violet.
• Begitu juga untuk indikator metil kuning:

Indikator ini bewarna merah bila dimasukkan


dalam larutan yang memiliki pH < 2, dan akan
berwarna kuning bila dimasukkan ke dalam
larutan yang memiliki pH > 3 dan seterusnya.
Pada daerah trayek pH warna indikator itu pada
umumnya merupakan kombinasi antara dua
warna dari perubahannya itu.
6. Titrasi Asam Basa

Titrasi adalah metode analisa kuantitatif untuk


menentukan kadar (konsentrasi) satu larutan yang belum
ditetapkan.
Dalam dunia medis maupun dalam dunia
penelitian pada umumnya keterampilan dan
kecermatan melakukan titrasi sangat diperlukan
untuk kepentingan diagnosis ataupun untuk
memperoleh data yang akurat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi adalah:

a. larutan baku (larutan standar = larutan penitrasi),

b. larutan yang dititrasi,

c. titik ekuivalen,

d. reaksi asam-basa!
1) Larutan baku (larutan standar)
Larutan baku (larutan standar) adalah
larutan yang secara kuntitatif (hitungan) telah
ditetapkan konsentrasinya. Dalam
laboratorium, larutan baku ini selalu diberi
label yang sudah lengkap dengan nama larutan
dan konsentrasinya (molaritasnya)
larutan baku ini biasanya ditempatkan
pada biuret atau pada pipet langsung di atas
objek.
2) Larutan yang dititrasi

Larutan yang dititrasi adalah larutan yang


akan ditentukan konsentrasinya. Larutan ini
biasanya ditempatkan pada labu erlenmeyer.
3) Titik ekuivalen
Titik ekuivalen adalah suatu keadaan di
mana banyaknya (∑ mol) objek tepat habis

bereaksi dengan banyaknya (∑ mol)


larutan standar. Keadaan ini ditandai dengan
perubahan warna indikator Praktikan harus
pandai-pandai memilih jenis indikator
dengan trayek pH yang sesuai.
4) Reaksi Asam Basa

Antara larutan asam dan basa bila


dicampurkan (direaksikan) akan terjadi
penetralan menghasilkan garam dan air,
maka reaksi asam dan basa disebut reaksi
penetralan.
𝑨𝒔𝒂𝒎 + 𝑩𝒂𝒔𝒂 ⇄ 𝑮𝒂𝒓𝒂𝒎 + 𝑨𝒊𝒓