Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Luas wilayah Indonesia sebagian besar, yaitu dua per tiganya
merupakan wilayah perairan. United Nation Convention on the Law of the
Sea (UNCLOS) pada tahun 1982 melaporkan bahwa luas perairan
Indonesia adalah 5,8 juta km2 dan didalamnya terdapat 27,2% dari seluruh
spesies flora dan fauna di dunia. Rumput laut atau lebih dikenal dengan
sebutan seaweed merupakan salah satu sumber daya hayati yang sangat
melimpah di perairan Indonesia yaitu sekitar 8,6% dari total biota di laut.
Luas wilayah yang menjadi habitat rumput laut di Indonesia mencapai 1,2
juta hektar atau terbesar di dunia. Potensi rumput laut perlu terus digali,
mengingat tingginya keanekaragaman rumput laut di perairan
Indonesia.(Suparmi and Sahri, 2009)
Van Bosse (melalui ekspedisi Laut Siboga pada tahun 1899-1900)
melaporkan bahwa Indonesia memiliki kurang lebih 555 jenis dari 8.642
spesies rumput laut yang terdapat di dunia. Dengan kata lain, perairan
Indonesia sebagai wilayah tropis memiliki sumberdaya plasma nutfah
rumput laut sebesar 6,42% dari total biodiversitas rumput laut dunia.
Rumput laut dari kelas alga merah (Rhodophyceae) menempati urutan
terbanyak dari jumlah jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia yaitu
sekitar 452 jenis, setelah itu alga hijau (Chlorophyceae) sekitar 196 jenis
dan alga coklat (Phaeophyceae) sekitar 134. Dibalik peran ekologis dan
biologisnya dalam menjaga kestabilan ekosistem laut serta sebagai
tempat hidup sekaligus perlindungan bagi biota lain, golongan makroalga
ini memiliki potensi ekonomis yaitu sebagai bahan baku dalam industri
dan kesehatan.(Suparmi and Sahri, 2009)
Pemanfaatan rumput laut secara ekonomis sudah dilakukan oleh
beberapa negara. Cina dan Jepang sudah dimulai sejak tahun 1670
sebagai bahan obat-obatan, makanan tambahan, kosmetika, pakan
ternak, dan pupuk organik. Rumput laut telah dimanfaatkan sebagai
makanan sehari-hari bagi penduduk Jepang, Cina dan Korea, dan bahkan
pada tahun 2005 nilai konsumsi rumput laut mencapai 2 milyar US$.
Ironisnya, di Indonesia, rumput laut hanya dibiarkan sebagai sampah
lautan, mengapung, hanyut terbawa arus, ataupun terdampar di pinggir
pantai. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia sampai saat ini terbatas
sebagai bahan makanan bagi penduduk yang tinggal di daerah pesisir dan
belum banyak kalangan industri yang mau melirik potensi rumput laut
ini.(Suparmi and Sahri, 2009)

1
Makalah rumput laut ini bermaksud memberikan informasi mengenai
kajian pemanfaatan sumber daya rumput laut dari aspek kesehatan,
sehingga diharapkan dapat menambah khasanah keanekaragaman obat
yang bermanfaat bagi kesehatan dan memantapkan pemanfaatannya di
bidang industri di Indonesia. Optimalisai upaya penggalian potensi sumber
daya rumput laut di Indonesia perlu dipertimbangkan dalam rangka
mendukung upaya pemecahan persoalan bangsa ini khususnya
mengahadapi krisis ekonomi global dan meningkatnya kasus gizi buruk di
Indonesia.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan rumput laut?
2. Bagaimana sejarah pemanfaatan rumput laut?
3. Bagaimana prospek pengembangan rumput laut di Indonesia?
4. Sebutkan jenis-jenis rumput laut!
5. Sebutkan manfaat rumput laut!
6. Jelaskan kandungan nilai gizi dan komposisi rumput laut
7. Jelaskan rumput laut sebagai sumber biopigmen!
8. Jelaskan rumput laut sebagai obat!
9. Bagaimana potensi dan keampuhan rumput laut sebagai obat
tradisional?

I.3 Tujuan Makalah


1. Apa yang dimaksud dengan rumput laut?
2. Bagaimana sejarah pemanfaatan rumput laut?
3. Bagaimana prospek pengembangan rumput laut di Indonesia?
4. Sebutkan jenis-jenis rumput laut!
5. Sebutkan manfaat rumput laut!
6. Jelaskan kandungan nilai gizi dan komposisi rumput laut
7. Jelaskan rumput laut sebagai sumber biopigmen!
8. Jelaskan rumput laut sebagai obat!
9. Bagaimana potensi dan keampuhan rumput laut sebagai obat
tradisional?

2
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Rumput Laut
Indonesia merupakan negara yang subur dan kaya akan sumber daya
alam serta memiliki laut yang luas. Indonesia, kurang lebih dari 70%
wilayahnya terdiri dari laut, yang pantainya memiliki kekayaan akan hasil
jenis sumber hayati dan lingkungan yang potensial. Luas pantainya
mencapai kurang lebih 81.000 km. Perairan di Indonesia sangat luas,
lebih luas dibandingkan daratan. Pantainya yang subur bisa dimanfaatkan
dalam sektor kelautan. Salah satu komoditas unggulan sumberdaya laut
ialah rumput laut. Pembudidayaan komoditas rumput laut adalah yang
paling banyak. Rumput laut menduduki posisi pertama dari 10 komoditas
perikanan unggulan budidaya lainnya. Produksi rumput laut mengalami
kenaikan rata-rata 32% per tahun. Pada tahun 2009, produksi rumput laut
Indonesia mencapai 2,5 juta ton dan diproyeksikan mencapai 10 juta ton
pada tahun 2014. (Merdekawati, 2015)
Rumput laut (seaweed) adalah jenis ganggang yang berukuran besar
(macroalgae) yang termasuk tanaman tingkat rendah dan termasuk divisi
thallophyta. Rumput laut memiliki sifat morfologi yang mirip, karena rumput
laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang dan
daun walaupun sebenarnya berbeda. Bentuk-bentuk tersebut sebenarnya
hanyalah thallus. Bentukthallus rumput laut bermacam-macam antara lain,
bulat seperti tabung, pipih, gepeng, dan bulat seperti kantong dan rambut
dan sebagainya. (Merdekawati, 2015)

Gambar 1. Rumput laut


Rumput laut hidup menempel pada karang mati atau cangkang
moluska walaupun rumput laut juga dapat hidup menempel pada pasir
atau lumpur. Rumput laut hidup di laut dan tambak dengan kedalaman
yang masih dapat dijangkau cahaya matahari untuk proses
fotosintesisnya. Dalam dunia perdagangan rumput laut atau sea weeds
sangat populer. Rumput laut dalam dunia pengetahuan lebih dikenal
dengan sebutan algae. Rumput laut merupakan suatu komoditi laut yang

3
penting bagi manusia, walaupun rumput laut tidak dapat dikategorikan
kebutuhan utama bagi manusia, namun manfaatnya cukup baik dalam
kehidupan sehari-hari. (Merdekawati, 2015)
Rumput laut merupakan salah satu komoditas hasil laut yang
berpotensi untuk dikembangkan. Potensi rumput laut cukup besar dan
tersebar hampir diseluruh perairan nusantara. Rumput laut yang banyak
dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena
mengandung agar-agar, karaginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen
fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan
makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Rumput laut jenis lain
ada juga yang dimanfaatkan yaitu jenis ganggang coklat (Phaeophyceae).
Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta
karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa
(filakoid). Ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa
laminarin, selulose, dan algin, selain itu ganggang merah dan coklat
banyak mengandung iodium.(DWI SUNU WADYARTINI, 2004)

II.2 Sejarah Pemanfaatan Rumput Laut


Rumput laut telah dimanfaatkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam
Icelandic sagas pada abad 10 disebutkan “bangsa Celtic dan bangsa
Viking mengunyah dulse sebagai bekal perjalanan mereka”. Dulse atau
dillisk adalah istilah untuk rumput laut merah jenis Palmaria palmata.
Masyarakat Irlandia mulai memanfaatkan rumput laut pada 1200 AD.
Dulse dan nori yang dikenal dengan istilah lokal Laver (nama latin untuk
tumbuhan laut) menjadi popular di wilayah Irlandia, Wales dan Skotlandia
selama berabad-abad. Bladderwrack, Carageen, Badderlock, Sea Lettuce,
Sloke dan Tangle adalah spesies lain yang juga telah dikonsumsi oleh
bangsa Inggris. (Junge, 2014)
Di Asia, masyarakat pesisir telah memanfaatkan rumput laut sebagai
sumber pangan selama ribuan tahun lamanya. Rumput laut disinyalir telah
dikonsumsi masyarakat Cina sejak 2700 BC. Bukti mengenai konsumsi
rumput laut oleh masyarakat Cina kuno dideskripsikan dalam tulisan Sze
Teu pada 600 BC. Dalam tulisannya dikatakan "beberapa jenis rumput
laut adalah makanan lezat yang cocok untuk hidangan para tamu agung
bahkan juga untuk raja". Enam jenis rumput laut telah digunakan dalam
masakan Jepang pada 800 AD dan sampai saat ini ada sekitar 21 jenis
yang menjadi menu makanan masyarakat Jepang. Literatur juga
menyebutkan penduduk Hawai kuno telah menumbuhkan kebun kelp
(ilustrasi pada Gambar 2). Kelp adalah istilah untuk suatu jenis rumput laut
coklat dari ordo Laminariales, yang dapat tumbuh membentuk semacam

4
kebun di bawah laut. Terdapat sekitar 40-60 spesies alga laut yang
mereka gunakan untuk makanan, obat, upacara adat serta “leis”
(karangan bunga).(Suparmi and Sahri, 2009)

Gambar 2. Kebun kelp di dekat Teluk Bodega, California

Penduduk Tonga telah mengkonsumsi rumput laut coklat yang dikenal


dengan istilah "Limu Moui" selama 3000 tahun lebih, hal tersebut
dipercaya sebagai resep tradisional untuk menjaga kesehatan dan
panjang umur. Di Eropa khususnya wilayah Mediterania, rumput laut telah
digunakan sebagai pakan ternak dan obat herbal pada era bangsa Yunani
dan Romawi. Bangsa Yunani memanfaatkan rumput laut sebagai
makanan hewan pada awal 100 BC dan mulai mengkonsumsinya sebagai
makanan pada 46 BC. Dari era pre-Christian di Mediterania, beberapa
jenis rumput laut merah telah digunakan sebagai sumber pewarna alami
dan sebagai obat cacing.(Junge, 2014)
Di Indonesia, rumput laut mulai dikenal sejak ekspedisi Siboga pada
tahun 1899. Rumput laut juga telah dimanfaatkan sebagai makanan dan
obat herbal khususnya oleh masyarakat pesisir sejak jaman dahulu.
Sebagai makanan tradisional, rumput laut dikonsumsi dalam bentuk
sayuran (sup) atau lalapan, jelly, serta campuran kue tradisional.
Melengkapi khasanah kearifan lokal masyarakat pesisir, rumput laut juga
telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengatasi
penyakit yang terkait dengan masalah pencernaan (lambung), penyakit
gondok, serta sebagai obat cacingan. Beragam manfaat rumput laut tak
lepas dari berbagai substansi yang tersimpan di dalamnya.(Merdekawati,
2015)

5
II.3 Prospek Pengembangan Rumput Laut di Indonesia
Salah satu penyebab keprihatinan dalam pembangunan sektor
kelautan adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi kelautan (yang
salah satunya adalah rumput laut). Realisasi pemanfaatan rumput laut
baik yang dipanen liar maupun budidaya masih jauh dari potensi lestari
yang ada, dan masih jauh berada dibawah negara-negara tetangga yang
kondisi dan potensi rumput lautnya lebih kecil dari Indonesia. Sebagai
contoh adalah Filipina, walau hanya memiliki garis pantai sepanjang
36.289 km, terbukti Filipina mampu menjadi negara pengekspor rumput
laut terbesar di dunia. Dilaporkan dalam Manila Times, bahwa sebenarnya
Filipina memiliki kekhawatiran jika Indonesia menjadi eksportir terbesar di
dunia Hal ini sangat beralasan, karena Indonesia memiliki kekuatan dan
potensi untuk bersaing dengan Filipina. Secara de facto, Indonesia
memiliki lautan, pantai dan keanekaragaman rumput laut yang lebih besar
dari Filipina.(Junge, 2014)
Walaupun telah dikarunai lautan dengan potensi keanekaragaman
yang tinggi, tenaga kerja melimpah, namun mengapa hingga saat ini
bangsa Indonesia belum tergugah untuk menggali rumput laut, padahal
rumput laut dengan segenap produk hilirnya bila dimanfaatkan dengan
benar mampu menghasilkan 8 miliar dolar AS pertahun atau kurang lebih
2 miliar lebih besar dari keseluruhan ekspor tekstil kita per tahun. Menurut
Dahuri (2005) baik dalam program jangka pendek maupun panjang,
rumput laut khususnya bidang bioteknologi rumput laut termasuk sektor
ekonomi kelautan yang layak dikembangkan untuk memecahkan berbagai
persoalan bangsa.(Junge, 2014)

II.4 Jenis-Jenis Rumput Laut


Rumput laut atau seaweed merupakan salah satu tumbuhan laut yang
tergolong dalam makroalga benthik yang banyak hidup melekat di dasar
perairan. Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan
tergolong dalam divisi thallophyta. Klasifikasi rumput laut berdasarkan
kandungan pigmen terdiri dari 4 kelas, yaitu rumput laut hijau
(Chlorophyta), rumput laut merah (Rhodophyta), rumput laut coklat
(Phaeophyta) dan rumput laut pirang (Chrysophyta) sebagaimana
disajikan pada Tabel 1. (Junge, 2014)
Jenis-jenis rumput laut yag dibudidayakan di Indonesia, yaitu rumput
laut atau alga laut yang tergolong dalam divisi Thallophyta. Thallophyta
adalah jenis tumbuhan berthalus yang terdiri atas 4 kelas, yaitu alga hijau
(Chlorophyceae), alga cokelat (Phaeophyceae), alga merah

6
(Rhodophyceae), dan alga hijau biru (Myxophyceae). (Suparmi and Sahri,
2009)
Tabel 1. Karakteristik dari rumput laut pada masing-masing kelas.

Sumber: Kimball, 1992; Pelczar & Chan, 1986; Simpson, 2006

a. Alga Merah
Alga merah (Rhodophyceae) atau yang biasa disebut rumput laut
merah merupakan kelas dengan spesies yang bernilai ekonomis dan
paling banyak dimanfaatkan. Tumbuhan jenis ini di dalam dasar laut
sebagai fitobentos dengan menancapkan dirinya pada substrat lumpur,
pasir, karang hidup, karang mati, cangkang moluska, batu vulkanik
ataupun kayu. Habitat atau tempat hidup umum tumbuhan jenis ini adalah
terumbu karang. Tumbuhan jenis ini hidup pada kedalaman mulai dari
garis pasang surut terendah sampai sekitar 40 meter. Di Indonesia alga
merah atau rumput laut merah terdiri dari 17 marga dan 34 jenis serta 31
jenis diantaranya sudah banyak dimanfaatkan dan bernilai ekonomis.
Jenis rumput laut yang termasuk dalam kelas alga merah sebagai
pengahasil karaginan adalah Kappaphycus dan hypnea, sedangkan yang
mengandung agar- agar (agarofit) adalah Gracilaria dan Gelidium.
b. Alga Hijau
Alga hijau (Chlorophyceae) dapat ditemukan pada kedalaman hingga
10 meter atau lebih di daerah yang memiliki penyinaran yang cukup.
Rumput laut jenis ini tumbuh melekat pada substrat seperti batu, batu
karang mati, cangkang moluska, dan ada juga yang tumbuh di atas pasir.

7
Di Indonesia rumput laut jenis ini terdapat sekitar 12 marga. Terdapat
sekitar 14 jenis telah dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi dan obat.
c. Alga Cokelat
Pada peraiaran Indonesia terdapat sekitar 8 margakelas alga cokelat
atau rumput laut cokelat (Phaeophyceae). Tumbuhan jenis ini merupakan
kelompok alga laut penghasil algin (alginofit). Jenis rumput laut cokelat
yang berasal dari kelas ini yang terutama sebagai penghasil algin ialah
sargassum sp, Cystoseira sp, dan Turbinaria sp. Alga cokelat merupakan
jenis rumput laut yang memiliki ukuran besar. Alga cokelat ada yang
membentuk padang alga di laut lepas.
Rumput laut ini merupakan salah satu kelompok tumbuhan laut yang
mempunyai sifat tidak bisa dibedakan antara bagian akar, batang, dan
daun. Seluruh bagian tumbuhan disebut thallus, sehingga rumput laut
tergolong tumbuhan tingkat rendah. Bentuk thallus rumput laut bermacam-
macam, ada yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti
kantong, rambut, dan lain sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun
hanya oleh satu sel (uniseluler) atau banyak sel (multiseluler).
Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua terus
menerus), pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama),
pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama) dan ada juga
yang sederhana tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka
ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi atau
mengandung zat kapur (calcareous), lunak bagaikan tulang rawan
(cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya dengan berbagai
keanekaragaman warna. Morfologi thallus dari beberapa jenis rumput laut
dapat dilihat pada Gambar 3.(Suparmi and Sahri, 2009)

a b c
Gambar 3. Morfologi beberapa jenis rumput laut yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan
makanan a. Padina australis (Rumput Laut Coklat); b. Gracilaria verrucosa (Rumput Laut Merah);
c. Caulerpa (Rumput Laut Hijau)

8
Tabel 2.Standarisasi Mutu Beberapa Jenis Rumput Laut

Sumber : Sulistijo, 1980 dalam Aslan, 2008

II.5 Manfaat Rumput Laut


Ganggang merah memiliki kandungan agar-agar, karaginan, porpiran
maupun furcelaran. Jenis ganggang cokelat yang berpotensi untuk
dimanfaatkan, seperti Sargassum dan Turbinaria. Ganggang cokelat
memiliki kandungan pigmen klorofil a dan c, beta karotin, violasantin,
fukosantin, pirenoid dan filakoid (lembaran fotosintesis), cadangan
makanan berupa laminarin, dinding sel yang terdapat selulose dan algin.
Ganggang merah dan ganggang cokelat termasuk jenis bahan makanan
sebagai penghasil yodium. Jenis-jenis pemanfaatan dari rumput laut
menurut Kordi, (2011) adalah sebagai berikut : (Suparmi and Sahri, 2009)
1. Rumput laut sebagai bahan pangan
Rumput laut sebagai bahan pangan biasa dikonsumsi secara
langsung seperti dimasak sebagai sayuran untuk lauk.
2. Rumput laut dalam bidang farmasi
Rumput laut digunakan sebagai obat luar yaitu antiseptik dan
pemeliharaan tubuh. Rumput laut juga dimanfaatkan dalam bidang
farmasi sebagai pembungkus kapsul biotik, vitamin dan lain-lain. Selain
itu, agar-agar bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur,
pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi, tablet,
salep, kapsul, plester, dan filter
3. Rumput laut dalam kosmetik
Produk kosmetik tidak hanya untuk mempercantik diri namun untuk
kesehatan. Olahan rumput laut dalam pada bidang industri kosmetik
dipergunakan dalam produksi salep, krem, losion, lipstik dan sabun.
4. Rumput laut dalam industri
Dalam industri makanan, olahan rumput laut dipergunakan sebagai
bahan pembuatan roti, sup, eskrim, serbat, keju, puding, selai dan lain-
lain. Penggunaan olahan rumput laut juga dipergunakan dalam industri
tekstil, industri kulit dan sebagainya, seperti pelat film, semir sepatu,
kertas, serta bantalan pengalengan ikan dan daging.

9
II.6 Kandungan Nilai Gizi dan Komposisi Rumput Laut
Rumput laut memiliki nilai nutrisi yang tinggi, yaitu protein, karbohidrat,
dan serat kasar. Zat-zat tersebut sangat baik untuk dikonsumsi manusia
karena berperan penting untuk menjaga dan mengatur metabolisme
tubuh. (Merdekawati, 2015)
Kandungan lemak pada rumput laut sangat rendah, yaitu kurang dari
1%, sehingga rumput laut aman untuk dikonsumsi dalam jumlah banyak.
Kandungan lemak yang rendah ini dapat dijadikan sebagai salah satu
bahan penyusun utama pada makanan rendah lemak.(Atmadja, 1992)
Tabel 3. Hasil Uji Laboratorium Kandungan Nutrisi Rumput Laut (Kering)

Sumber: Wisnu dan Diana (2009)

Tabel 4. Kandungan Nutrisi Rumput Laut tiap 100 gram Porsi Makanan

Sumber: Sulistyowati, 2009

10
Rumput laut memiliki kandungan mineral esensial seperti besi, iodin,
aluminum, mangan, calsium, nitrogen dapat larut, phosphor, sulfur, chlor.
silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper,
kalium, trace elements, gula dan vitamin A, D, C, D, E, dan K. Berikut ini
penjelasan beberapa komposisi rumput laut.(Atmadja, 1992)
1. Polisakarida
Polisakarida merupakan komponen utama penyusun rumput laut.
Total polisakarida yang terkandung dalam rumput laut bervariasi
tergantung spesies, dengan kisaran antara 4-76% dari berat kering.
Berdasarkan jenis polisakarida, rumput laut dikelompokkan menjadi 3
yaitu agarofit, karaginofit, dan alginofit. Agarofit adalah kelompok rumput
laut penghasil agar. Secara kimia, agar terdiri dari dua komponen, yaitu
agarosa dan agaropektin. Komponen utamanya adalah agarosa yang
merupakan polimer netral dengan unit primer berupa disakarida
agarobiosa. Agaropektin merupakan campuran polisakarida yang terdiri
dari(1,3)-β-D-galaktopiranosa dan residu (1,4)-3,6-anhidro-α-L-galakto-
piranosa. Rumput laut penghasil agar diantaranya: Gracilaria, Gelidium,
Gelidiopsis, dan Hypnea yang termasuk jenis rumput laut merah (Gambar
4).(Atmadja, 1992)

Gambar 4. Contoh agarofit: Gracilaria sp. (kiri), Gelidium sp. (tengah), dan Gelidiopsis sp. (kanan)

Polisakarida lainnya yang juga dihasilkan rumput laut merah adalah


karaginan (Gambar 5). Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang
terdiri dari ester kalium, natrium, magnesium, dan kalsium sulfat dengan
galaktosa dan 3,6 anhidrogalaktosa. Chaplin (2005) menyebutkan,
terdapat tiga jenis karaginan yaitu kappa (), iota () dan lambda ()
karaginan. Kappa karaginan terdiri dari unit (1,3)--D-galaktosa-4-sulfat
dan (1,4)-3-6-anhidro--D-galaktosa, hanya mengandung satu gugus
sulfat pada struktur molekulnya. Sumber kappa karaginan ialah rumput
laut merah jenis Kappaphycus alvarezii. Iota karaginan terdiri dari unit
(1,3)--D-galaktosa-4-sulfat dan (1,4)-3-6-anhidro--D-galaktosa-2-sulfat,
mempunyai dua gugus sulfat pada struktur molekulnya. Iota karaginan

11
dapat diekstrak dari rumput laut merah jenis Eucheuma spinosum.
Lambda karaginan tersusun oleh unit yaitu (1,3)--D-galaktosa-4-sulfat
dan (1,4)-3-6-anhidro--D-galaktosa-2,6-disulfat, terdapat tiga gugus
sulfat pada struktur molekulnya. Lambda karaginan terdapat pada rumput
laut merah jenis Chondrus crispus. Semua jenis rumput laut penghasil
karaginan tersebut dikelompokkan dalam karaginofit.(Atmadja, 1992)

Gambar 5. Karaginofit : Kappaphycus alvarezii (kiri), Eucheuma spinosum (tengah), dan Chondrus
crispus
Polisakarida lainnya yaitu alginat yang banyak terdapat pada rumput
laut coklat. Rumput laut coklat yang potensial menghasilkan alginat
umumnya tumbuh di perairan subtropis, jenisnya antara lain: Macrocystis,
Laminaria, Aschophyllum, Nerocystis, Ecklonia, Fucus dan Sargassum.
Rumput laut coklat yang tumbuh di perairan tropis termasuk di Indonesia
adalah jenis Sargassum, Turbinaria Padina, dan Dictyota (Gambar 6).
Semua jenis rumput laut tersebut dikelompokkan dalam alginofit (rumput
laut penghasil alginat). Alginat atau algin adalah suatu senyawa yang
terkandung dalam dinding sel rumput laut coklat (Phaeophyceae) yang
merupakan komponen utama selain pektin dan selulosa.(Atmadja, 1992)

Gambar 6. Alginofit: secara berurutan dari kiri – kanan Sargassum polycystum,


Turbinaria ornata, Padina australis, dan Dictyota cervicornis
Secara kimia alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang
tersusun dalam bentuk rantai linear yang panjang. Senyawa alginat
merupakan suatu polimer organik polisakarida yang terdiri dari tiga
macam struktur α-1,4-L guluronat, β-1,4-D mannuronat dan selang-seling
keduanya. Asam alginat dapat berupa homopolimer yang terdiri dari
monomer sejenis yaitu asam D-mannuronat saja atau asam L-guluronat
saja. Homopolimer dari asam D-mannuronat (asam polimannuronat)

12
dibentuk dari pengulangan asam D-mannuronat dengan ikatan -(1,4) dan
ikatan hidrogen antara gugus hidroksil pada atom C3 dengan atom
oksigen pada cincin heksosa yang berdekatan. Bentuk homopolimer dari
asam L-guluronat lebih kaku daripada homopolimer asam D-mannuronat.
Alginat dengan proporsi poliguluronat yang tinggi cenderung membentuk
gel yang kaku, regas, sedangkan alginat dengan proporsi polimannuronat
lebih tinggi akan membentuk gel yang lebih elastis, kurang
regas.(Atmadja, 1992)
2. Vitamin dan Mineral
Rumput laut kaya akan vitamin A, B1, B2, B3, B9 dan vitamin E.
Vitamin C dan vitamin E merupakan antioksidan potensial, sedangkan
vitamin A berperan penting dalam perkembangan dan diferesiansi sel.
Rumput laut kaya akan yodium, zat besi, potasium, magnesium, kalsium,
selenium dan fosfor. Rumput laut mengandung 56 jenis mineral dan trace-
mineral penting bagi tubuh. Mineral yang merupakan komponen utama
dalam suplemen. Tumbuhan laut yang melimpah ini merupakan sumber
mineral alternatif selain dari sumber nabati (tumbuhan darat) dan sumber
hewani (daging, telur, susu) yang penting bagi tubuh. Kappaphycus
alvarezii mengandung ion magnesium dan kalsium dalam kadar tinggi,
masing-masing yaitu 581,20 mg/L dan 460,11 mg/L. Iodin berperan
penting dalam menunjang fungsi tiroid. Magnesium penting dalam
penyerapan kalsium, zat besi berperan dalam pertukaran oksigen dalam
darah. (Atmadja, 1992)
3. Protein dan Lemak
Kadar protein dalam tumbuhan laut terdapat dalam jumlah yang cukup
signifikan, hingga dapat mencapai 48% (Tabel 5). Sebaliknya, kadar
lemak dalam rumput laut hanya berkisar antara 1-5% dari berat kering.
Walaupun demikian, lemak terdapat dalam komposisi asam lemak tak
jenuh, khususnya asam lemak omega-3 dan omega-6 yang berada dalam
bentuk fraksi galaktolipid. Jenis asam lemak lainnya yaitu asam
stearidonik dan asam heksadekatetraenoik yang terdapat dalam kadar
tinggi (mencapai 40%) pada rumput laut jenis Undaria spp. dan Ulva spp.
Galaktolipid termasuk sulphoquinovosyldiacylglyceride (SQDG) ditemukan
dalam alga coklat jenis Undaria spp. dan Laminaria spp. Rumput laut hijau
mengandung asam alfa linoleat (ω-3, C18:3).(Atmadja, 1992)
Turunan teroksigenasi asam lemak (termasuk eicosanoid) juga
ditemukan dalam rumput laut merah. Eicosanoid berperan dalam
mengatur diferensiasi sel, respon imun dan mengatur
homeostatis.(Atmadja, 1992)

13
Tabel 5. Perbandingan Analisis Nutrisi Rumput Laut Edibel dengan Sumber Nutrisi Lainnya

4. Senyawa Bioaktif serta Polisakarida Lainnya


Rumput laut juga kaya akan senyawa bioaktif serta pigmen yang
sangat bermanfaat bagi kesehatan. Rumput laut mempunyai beberapa
senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan di antaranya yaitu
karotenoid (- dan β-karoten, fukoxantin), MAA (mycosporine-like amino
acids) dan taurin, katekin (epigalokatekin, epigalokatekin gallate),
phlorotannins (phloroglucinol, eckol) dan tokoferol. Senyawa fukoidan
yang terdapat pada rumput laut, mampu meningkatkan imunitas dengan
merangsang produksi sel-sel imun. Senyawa ini juga membantu melawan
virus dan bakteri, alergi, dan menghambat penggumpalan darah, sehingga
memperkecil resiko stroke dan serangan jantung. Senyawa tersebut juga
dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah tinggi,
menstabilkan kadar gula (glukosa) darah dengan memperlambat
pelepasan glukosa ke dalam darah, meredakan gangguan pencernaan
dengan mencegah masuknya bakteri Helicobacter pylori, meningkatkan
fungsi hati, menjaga kelembaban dan kekencangan kulit, serta
menghambat pertumbuhan sel abnormal. (Atmadja, 1992)
Komposisi pigmen yang khas pada rumput laut juga menambah nilai
manfaat tumbuhan ini. Penelitian di Hokkaido University menemukan
adanya potensi antiobesitas dari pigmen fukoxantin pada rumput laut
coklat. Selain itu berbagai jenis pigmen pada rumput laut juga bermanfaat
sebagai antioksidan, antikanker dan antitumor. Pigmen alami dapat
digunakan sebagai pewarna alternatif yang aman bagi
kesehatan.(Atmadja, 1992)

14
II.7 Rumput Laut sebagai Sumber Biopigmen
Eksplorasi sumber alternatif biopigmen selain dari tumbuhan dan
makroorganisme lain perlu terus diupayakan, mengingat pigmen memiliki
berbagai macam bioaktifitas yang menguntungkan bagi manusia. Pigmen
karotenoid dan klorofil telah disadari sebagai senyawa bahan alam yang
dikenal sebagai pigmen kehidupan. Pigmen tersebut banyak dimanfaatkan
pada berbagai bidang, di antaranya pada industri makanan dan minuman,
obat-obatan, sensitizer sel surya, dan bioinsektisida. (Merdekawati, 2015)
Eksplorasi potensi rumput laut sebagai sumber biopigmen alternatif,
diharapkan dapat menambah khasanah keanekaragaman pigmen yang
telah ada. Warna thallus rumput laut yang berbeda-beda sebagai salah
satu ciri morfologinya, diduga merupakan manifestasi dari pigmen yang
disintesis oleh rumput laut. Agen pemberi warna rumput laut tersebut
merupakan pigmen, seperti klorofil dan karotenoid, serta beberapa pigmen
unik lainnya. (Merdekawati, 2015)
1. Klorofil
Klorofil merupakan pigmen utama yang berperan dalam proses
fotosintesis dengan menyerap dan menggunakan energi cahaya matahari
untuk mensintesis oksigen dan karbohidrat yang dibutuhkan sebagai
nutrisi alga. Klorofil merupakan pigmen pembawa warna hijau. Struktur
dasar klorofil adalah porpirin, dimana atom nitrogen pada keempat cincin
pirol dalam makrosiklik membentuk ikatan kovalen dengan ion Mg2+ yang
merupakan pusat dari molekul klorofil. (Merdekawati, 2015)
Klorofil a merupakan pigmen utama yang terdapat pada hampir
semua organisme fotosintetik oksigenik, terletak pada pusat reaksi dan
bagian tengah antena. Klorofil a merupakan pigmen utama yang
bertanggung jawab terhadap proses fotosintesis. Oleh karena itu, pigmen
ini menjadi penting bagi pertahanan hidup rumput laut atau untuk
berkompetisi dengan organisme lain dalam sebuah habitat tertentu.
Keberadaan klorofil a pada rumput laut dilengkapi dengan pigmen
pendukung (aksesori) yaitu klorofil b, c, atau d dan karotenoid yang
berfungsi melindungi klorofil a dari foto-oksidasi. Struktur kimia dari
beberapa jenis klorofil tersaji pada Gambar 7. (Merdekawati, 2015)

Gambar 7. Struktur kimia: (a) klorofil a dan d; (b) klorofil c1

15
Klorofil tidak hanya penting bagi pertumbuhan rumput laut. Klorofil
yang dihasilkan rumput laut berpotensi memiliki bioaktifitas sebagaimana
klorofil yang diperoleh dari tanaman, sebagaimana disajikan pada Tabel 6.
(Merdekawati, 2015)
Tabel 6. Potensi Bioaktifitas Pigmen Klorofil dalam Bebarapa Bidang Kajian

Sumber: (Suparmi et al., 2007)


2. Karotenoid
Selain klorofil pigmen lain yang membantu tanaman melakukan
fotosíntesis adalah karotenoid. Karotenoid merupakan pigmen asesori
yang berfungsi menangkap energi cahaya pada panjang gelombang yang
tidak dapat ditangkap klorofil untuk ditransfer ke klorofil, kemudian
digunakan dalam proses fotosintesis. Rumput laut coklat sangat potensial
mengandung karotenoid khususnya fucoxanthin, β-karoten, violaxanthin.
Sedangkan karotenoid utama yang terdapat di dalam rumput laut merah
adalah β-karoten, α-karoten, zeaxanthin, dan lutein. Karotenoid yang
terdapat dalam rumput laut hijau mirip dengan karotenoid yang terdapat
pada tumbuhan daratan, yaitu β-karoten, lutein, violaxanthin,
antheraxanthin, zeaxanthin, dan neoxanthin. Struktur kimia beberapa jenis
karotenod yang ditemukan pada rumput laut disajikan pada Gambar 8.
(Merdekawati, 2015)

Gambar 8. Struktur kimia karotenoid pada alga merah Gracilaria sp.: (a) -karoten;(b) zeaxanthin; (c) lutein;
dan (d) violaxanthin

16
Karotenoid dari rumput laut berpotensi memiliki bioaktifitas yang
bermanfaat bagi manusia, sebagaimana disajikan pad antiobesitas
(kegemukan)a Tabel 7. (Merdekawati, 2015)
Tabel 7. Potensi Bioaktifitas Beberapa Jenis Pigmen Karotenoid dalam Bebarapa Bidang Aplikasi

3. Fikobilin atau Biliprotein


Fikobiliprotein merupakan bagian dari fikobilisom yang berperan
sebagai antenna untuk menangkap cahaya dalam proses fotosintesis,
yang khusus terdapat pada rumput laut merah (Rhodophyceae).
Fikobiliprotein ini mengandung 3 komponen yaitu fikosianin, allofikosianin,
dan fikoeritrin. Fikoeritrin berperan dalam absorbsi cahaya biru/hijau dan
berperan menampakkan warna merah pada Gracilaria sp. Fikosianin
merupakan produk intraselluler berupa pigmen yang memiliki kromofor
tetrapirol terbuka (fikobilin), serta berperan penting dalam fotosintesis
sebagai pigmen penerima cahaya, terutama pada fotosistem II (PSII)
dalam fikobilisom sel rumput laut. Pigmen ini menampilkan warna hijau

17
atau biru muda pada Gracilaria sp. Struktur kimia dan spektra absorbsi
dari fikeritrin dan fikosianin disajikan pada Gambar 5. (Merdekawati, 2015)

Gambar 9. Struktur kimia dari pigmen: (a). Fikosianin, (b). Fikoeritrin.

Keberadaan pigmen fikroetrin dan fikosianin dalam rumput laut


menyebabkan rumput laut mampu bertahan hidup pada kondisi dengan
cahaya rendah, seperti di laut dalam (intensitas cahaya 0,1% lebih rendah
dibandingkan dipermukaan). Henrikson (2000) melaporkan bahwa
fikoerritrin merupakan prekursor dalam biosintesis klorofil pada rumput laut
merah. Selain itu, bioaktifitas kedua pigmen tersebut telah dimanfaatkan
oleh manusia baik dalam bidang kesehatan maupun industri, bahkan
harga kedua pigmen tersebut mencapai 8 ribu - 40 ribu dolar AS per
gramnya. Potensi fikoeritrin dan fikosianin dalam berbagai bidang industri
dan kesehatan disajikan pada Tabel 8. (Merdekawati, 2015)
Tabel 8. Potensi Bioaktifitas Pigmen Fikoeritrin dan Fikosianin Rumput Laut Merah dalam
Bebarapa Bidang Aplikasi

Sumber: (Romay et al. 2000; Suhartono & Angka 2000)

II.8 Rumput Laut sebagai Obat


Di perairan Indo-Malaysia, Van BOSSE (1928) telah mendapatkan
sejumlah 629 jenis rumput laut yang kebanyakan di antaranya adalah dari
kelas algae merah. Selama ekspedisi Snellius 1985/86 telah dapat

18
diidentifikasi pula tambahan jenis lainnya dari Indonesia (COPPEJANS
1987). Dibandingkan dengan jumlah jenis dari negara lain ternyata
Indonesia termasuk negara yang memiliki jumlah jenis rumput laut yang
banyak. Dari jumlah jenis tersebut baru sedikit saja yang pernah diteliti
kemungkinan potensinya untuk obat. HARLIN (1986) mengoleksikan
sejumlah tidak kurang dari sepuluh jenis rumput laut yang berasal dari
perairan Sulawesi untuk diteliti kandungan steroidnya. Ternyata
Sargassum siliquosum mengandung steroid yang tinggi dibandingkan
dengan marga lainnya yang diteliti. SOEGIARTO et al. (1978)
menyebutkan beberapa jenis rumput laut yang berkhasia sebagai obat
(Tabel 9). (Suparmi and Sahri, 2009)
Di Filipina, TRONO & GANZONFORTES (1988) mendaftar sejumlah
352 jenis rumput laut yang termasuk ke dalam 43 marga yang bernilai
ekonomis. Sebanyak 48 jenis dari 26 marga di antaranya dinyatakan
berkhasiat sebagai obat. Ternyata pula bahwa dari 20'marga yang ada
dalam daftar tersebut adalah terdapat di Indonesia. Dari sejumlah marga
sejagat yang diketahui berkhasiat sebagai obat, sekitar 75 persennya
terdapat pula di Indonesia (Tabel 9). Beberapa marga yang disebutkan
sebagai obat untuk anti kesuburan, anti tumor, penyakit jantung dan
menurunkan darah tinggi yaitu marga Acanthophora, Hypnea,
Dictyopteris, Sargassum, Stylophora dan Ulva adalah terdapat juga di
Indonesia. Khusus mengenai Acanthophora spicifera, menurut
WAHIDULA et al (1986) mengandung ekstrak "petroleum-ether" dan
khloroform. Dari kedua ekstrak tersebut dapat diisolir senyawa kimia;
sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitik, behemik (C22), asam
arakhidik (C2O) dan methyl palmitat. Disebutkan juga bahwa rumput laut
jenis ini mempunyai day a aktivitas anti rrrikroba "in vitro" terhadap S.
aureus, C. albicans dan M. smegmates, selain memiliki activitas anti
kesuburan yang telah dicoba terhadap binatang.(Suparmi and Sahri,
2009)
Sejumlah 43 jenis rumput laut dari kelas algae merah yang termasuk
ke dalam tujuh suku, terdaftar mengandung sterol dalam bentuk
ergosterol, desmosterol, cholesterol, campesterol dan enol. Rumput laut
tersebut umumnya mengandung cholesterol dengan kadar sterol yang
bervariasi. Kandungan desmosterol Rhodymenia palmata misalnya
berkisar antara 30,6 - 97,2 % dari total sterol dan ini tergantung musim.
Dari berbagai jenis rumput laut yang terdapat di seluruh dunia yang
berkhasiat sebagai obat, ternyata beberapa marga di antaranya
merupakan marga yang terdapat umum tumbuh dan tersebar luas di
perairan laut Indonesia. Marga-marga tersebut antara lain adalah

19
Acanthophora, Gracilaria, Gelidium, Hypnea, Sargassum, Codium,
Halimeda dan Ulva (Tabel 10). (DWI SUNU WADYARTINI, 2004)
Tabel 9. Daftar rumput laut (algae) dan khasiatnya sebagai obat

20
Tabel 10. Kelimpahan, sebaran dan habitat rumput laut di Indonesia, yang berpotensi untuk obat

Kelimpahan beberapa jenis rumput laut tersebut di atas menurut


kepadatan biomassanya dapat terlihat dalam Tabel 11. Biomassa pada
rumput laut berkaitan erat dengan sifat substansi thallinya. Jenisjenis yang
niempunyai substansi thallus agak padat dan keras seperti pada Halimeda
dan Gracilaria, umumnya niempunyai kepadatan biomassa yang tinggi
dibandingkan dengan jenis-jenis yang thallinya bersifat ringan dan lunak
seperti pada Hypnea, Ulva dan Dictyota yang umumnya berkepadatan
biomassa rendah walaupun kelimpahan individunya tinggi. (DWI SUNU
WADYARTINI, 2004)

21
Tabel 11. Kepadatan biomassa rata-rata beberapa marga rumput laut yang berpotensi sebagai
obat di
Indonesia

II.9 Potensi dan Keampuhan Rumput Laut sebagai Obat Tradisional


Laut Indonesia dengan berbagai macam keanekaragarnan organisrne
menjadi sumber penting bagi senyawa biologi aktif. Seperti tanarman
lainnya, rumput laut juga memiliki metabolisme primer dan sekunder. Hasil
metabolisme primer yang sudah dikenal dari tanaman ini adalah agalagr
dan karaginan. Sedangkan metabolisme sekunder memiliki sifat toksid
dan racun, tapi zat-zat itu bisa menjadi obat. Metabolisme yang
terkandung dalam rumput laut berpotensi sebagai antimikroba dan diolah
menjadi berbagai jenis obatan-obatan. Rumput laut tersebut antara lain
untuk antibakferi, antifungal, antiviral, antitumor, anti-inflammdtory, anti-
convulsant dan zat sedatif atau penenang/ penawar. (DWI SUNU
WADYARTINI, 2004)
Rumput laut di pantai Indonesia ternyata memiliki metabolisme
sekunder yang berperan sebagai senyawa bioaktif. Hasil ekstraksi rurnput
lautirya berpotensi sebagai pelawan bakteri. Spesies-spesies rumput laut
yang tersebar di Indonesia juga memiliki kapasitas untuk memproduksi
sendiri senyawa atau zat bioaktif yang berfungsi sebagai antibakteri.
Kentarnpuan beberapa spesies rurnput laut untuk menghasiikan senyawa
antibakteri bergantung pada lingkutrgao, musim, habitat, dan genetiknya.

22
Berdasarkan hasil penelitian, senyawa yang dirniliki berbagai spesies
rumput laut berperan besar dalam pengernbangan riset pembuatan obat-
obatan herbal berbahan dasar rumput laut. Sejumlah langkah perlu
dilakukan untuk riset tersebut, mulai dari penyaringan atau seleksi
antibakteri pada jenis-jenis rurnpr-lt laut. Kemudian menganalisis berbagai
rnacam senyawa yang telah diekstrak dari Euchetlma serrct.(DWI SUNU
WADYARTINI, 2004)
Senyawa-senyawa yang terkdndung mampu menyeleksi antibakteri
yang terkandung di dalamnya. Beberapa jenis rumput laut mengandung
bahan untuk obatobatan. Masyarakat selama ini sudah menggunakannya
sebagai obat tradisional, misalnya Eucheuma gelatina untuk obat batuk,
asma, dan gondokan. Gelidtum anursii untuk sakit perut, dan Uva lactwka
untuk mengobati rnimisan. Yong-IG liong juga menjelaskan kebiasaan
rnasyarakat Korea selatan, .Iepang, dan Cina ya&g rnenggunakan rumput
laut untuk obat tradisional dan makanan kesehatan. Karena di daerah
tropis, jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan w&rga adalah
Undaria pfurnatifida. Perempuan Korea yang setelah melahirkan sering
membuat sup rumput laut. D[Cin4 rumput laut digunakan untuk obat
antiperadangan. (DWI SUNU WADYARTINI, 2004)
Bermacam-trnaoam tumbuhan laut semakin mengayakan alarn herbal
Indonesia. Salah satu flora yang hidup di dasar laut adalah rumput laut.
Jenis rurnput laut Thalassta hempric&ri merupakan surnber penting bagi
senyawa biologi aktif. Sama halnya rumput laut lainnya, juga memiliki
metabolisme primer dan sekunder. Hasil metabolisme primer yang sudah
dikenal dari tanama ini adalah agar-agar dan karaginan. Sedangkan
metabolisme sekunder memiliki sifat toksid dan racun, tapi zat' zat itgbisa
menjadi obat. Metabolisme yang terkandung dalam rumput laut berpotensi
sebagai antimikroba dan diolah menjadi berbagai jenis obat-obatan. Obat
itu antara lain untuk antibakteri, antifungal, antiviral, antitumor, anti-
inJlammatary, anti' convulsant dan zat sedatif atau penenang/ penawar.
Rumput laut memang mengandung perlbagai iodium, protein, vitamin C
dan mineral, serta rnempunyai sifat antibakteri, antitumor,alginat, tannin,
fenol, dan auxin. Zat yang merangsang pertumbuhan dan zat yang dapat
mengontrol polusi logam beratpun terdapat pada rumput lautThalassia
hemprichii. (DWI SUNU WADYARTINI, 2004)
Rumput laut perlu diolah terlebih dahulu menjadi ekstrak, yaitu kultur
prirnel rumput laut tersebut ditanam bagian akar, batang dan daunnya
para permukaan lempeng NASW (Nutrient Agar Sea Water) yang diatur
temperatumya sebesar 20 derajat selama dua hari. Setelah itu baru
didapatkan ekstrak dari rumput laut yang kemudian diteteskan pada kertas

23
filter steril. Rumput laut yang sudah disterilkan berpotensi seratus persen
mampu membunuh infeksi bakteri. (DWI SUNU WADYARTINI, 2004)
Beberapa jenis rumput laut juga digunakan sebagai obat herbal
seperti untuk obat sakit perut, batuk, cacingan dan sembelit. Jenis rumput
laut yang dipakai antara lain: (DWI SUNU WADYARTINI, 2004)
Tabel 12. Jenis rumput laut dan obatnya

24
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa rumput laut
merupakan sumber daya yang berpotensi untuk dimanfaatkan di berbagai
aspek kehidupan, salah satunya termasuk aspek kesehatan. Tentunya
setelah mengetahui manfaat rumput laut dalam aspek kesehatan,
masyarakat akan semakin terbuka pikirannya untuk mengembangkan
potensi rumput laut ini. Oleh karena itu, perlu dimanfaatkan potensi
rumput laut tersebut.

III.2 Saran
Untuk kedepannya, masyarakat harus lebih memanfaatkan potensi
dari biota laut salah satunya rumput laut

25
DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, W. S. (1992) ‘Seaweeds As Medicine’, Oseana, XVII(1), pp. 1–8.


DWI SUNU WADYARTINI, M. (2004) ‘potensi rumput laut sebagai obat
tradisional’.
Junge, T. (2014) ‘rumput laut’, 2014, pp. 4–21.
Merdekawati, W. (2015) ‘rumput laut makanan sehat abad 21’,
321212(52), pp. 1–11. Available at: http://www.bioscentral.com/#.
Suparmi and Sahri, A. (2009) ‘Mengenal Potensi Rumput Laut : Kajian
Pemanfaatan Sumber Daya Rumput Laut Dari Aspek Industri Dan
Kesehatan’, Sultan Agung, XLIV(118), pp. 95–116.

26