Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


TUBERKULOSIS PARU (TB)

A. Defenisi Penyakit
Tuberculosis (TB) merupakan salah satu penyakit mikobakterial paling
terserang selama sejarah manusia, selain lepra.Tuberculosis (TB) merupakan
penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, suatu
bakteri aerob yang tahan asam (acid fast bacillus [AFB]) (Black, 2014).
Tuberkulosis Paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis yang hamper seluruh organ tubuh dapat
terserang olehnya tapi yang paling banyak yang diserang adalah paru-paru
(NANDA,2013). Penyakit Tb paru di mulai dari tuberculosis,yang berarti
suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri batang (basil) yang
dikenal dengan nama Mycro bacterium tuberculosis (Oktafiyana, 2015).
Tuberkulosis (TB) paru adalah infeksi pada paru-paru dan kadang
pada struktur-struktur disekitarnya, yang disebabkan oleh Mycrobacterium
tuberculosis (Saputra, 2010).
Tuberkolosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacteria Tubercolosis) termasuk kedalam family
Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetales. Mycobacteria
tubercolosis ini masih berkeluarga dengan genus mycobacterium.
Berdasarkan beberapa kompleks tersebut, mycobacteria tuberkolosis
merupakan jenis yang paling sering dijumpai (Kemenkes 2011 ; Romlah,
2015).
Menurut DepKes RI 2008, TB paru adalah tuberculosis yang
menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura l (sealpu paru). Berdasarkan
hasil pemeriksaan dahak, TB paru dibagi dalam :
a. TB paru BTA positif
Yaitu sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif dan foto rontgen dada menunjukan tuberculosis aktif. Specimen

1
dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukan
gambaran tuberculosis aktif.
b. Tuberkulosis BTA Negatif
Pemeriksaa 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative dan foto
rontgen dada menunjukan gambaran Tuberkulosis aktif TB paru BTA
negative rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakit,
yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen
dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas, dan atau
keadaan penderita memburuk.

B. Etiologi
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis, suatu bakteri aerob yang tahan asam (acid fast
bacillus [AFB]). TB merupakan infeksi melalui udara dan umumnya
didapatkan dengan inhalasi partikel kecil (diameter 1 hingga 5 mm) yang
mencapai alveolus. Droplet tersebut keluar saat berbicara, batuk, tertawa,
bersin, atau menyanyi. Droplet nuclei terinfeksi kemudian dapat terhirup oleh
orang yang rentan (inang). Sebelum terjadi infeksi paru, organism yang
terhirup harus melewati mekanisme pertahanan paru dan menembus jaringan
paru (Black, 2014).

C. Manifestasi Klinis
Menurut Black (2014), manifestasi klinis dari tuberculosis paru yaitu:
1. Dispnea
2. Batuk nonproduktif atau produktif
3. Hemoptisis
4. Nyeri dada yang berupa pleuritik atau nyeri dada tumpul
5. Sesak di dada
6. Crackles dapat ditemukan pada auskultasi
7. Rasa lelah
8. Anoreksia (hilang nafsu makan)
9. Kehilangan berat badan

2
10. Demam rendah diikuti menggigil dan berkeringat (sering pada malam
hari).

D. Deskripsi Patofisiologi
Infeksi primer adalah waktu pertama kali terinfeksi TB. Infeksi TB
primer biasanya menyerang apeks dari paru-paru atau dekt pleura dari lobus
bawah. Walaupun infeksi primer, dapat berupa mikroskopik (sihingga tidak
muncul pada rongten dada), namun kelanjutan penyakit seperti di bawah ini
sering ditemui (Black, 2014).
Muncul suatu bagian kecil yang terserang bronkopneumonia pada
jaringan paru. TB banyak menginfeksi secara fagositosis (di pencernaan) oleh
makrofag yang beredar. Namun, sebelum berkembangnya hipersensitivitas
dan imunitas, banyak basilus yang dapat bertahan hidup dalam sel-sel darah
tersebut dan terbawa ke pronkopulmonalis (hilus) kelenjar getah bening
melalui system limfatik. Basilus bahkan dapat menyebar ke seluruh tubuh.
Walaupun infeksi kecil, tapi penyebarannya sangan cepat (Black, 2014).
Lokasi infeksi primer dapat atau dapat tidak mengalami proses
degenerasi nekrotik, yang disebut kaseasi karena menghasilkan rongga yang
terisi massa seperti keju yang berisi basil tuberkel, sel darah putih mati, dan
jaringan paru nekrotik. Seiring waktum material ini mencair dan keluar ke
saluran trakeobronkial, dan dapat dibatukkan keluar. Kebanyakan TB primer
dapat sembuh dalam periode beberapa bulan dengan membentuk jaringan
parut dan kemudian lesi kalsifikasi yang disebut sebagai kompleks Ghon.
Lesi-lesi tersebut dapat mengandung basilus hidup yang dapat mengalami
reaktivitasi, terutama jika klien mengalami masalah imunitas, bahkan setelah
bertahun-tahun, dan menyebabkan infeksi sekunder (Black, 2014).
Selain penyakit primer proresif, terinfeksi ulang juga dapat menyebabkan
bentuk klinis TB aktif, atau infeksi sekunder. Lokasi infeksi primer yang
mengandung basilus TB mungkin tetap laten bertahun-tahun dan dapat
mengalami reaktivasi jika resistansi klien turun. Oleh karena dimungkinkan
terjadinya infeksi ulang dank arena lesi dorman dapat mengalami reaktivasi,

3
maka penting bagi klien dengan infeksi TB untuk dikaji secara periodic
terhadap bukti-bukti adanya penyakit aktif (Black, 2014).

E. Tahapan/Grade/ tingaktan penyakit


Komplikasi pada penderita tuberculosis (Depkes RI, 2008):
a) Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan nafas.
b) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
c) Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d) Pneumotoraks (Adanya udara didalam rongga pleura) spontan : kolaps
spontan karena kerusakan paru
e) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan
sebagainya.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis untuk menemukan kuman TB mempunyai
arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk
pemeriksaan bakteriologis ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura,
bilasan bronkus, liquor cerebrospinal, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar, urin, faeces, dan jaringan biopsi.
2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan rutin adalah foto toraks PA. Pemeriksaan atas indikasi
seperti foto apikolordotik, oblik, CT Scan. Tuberkulosis memberikan
gambaran bermacammacam pada foto toraks. Gambaran radiologis yang
ditemukan dapat berupa:
a. Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
b. Bayangan berawan atau berbercak
c. Adanya kavitas tunggal atau ganda

4
d. Bayangan bercak milier
e. Bayangan efusi pleura, umumnya unilateral
f. Destroyed lobe sampai destroyed lung
g. Kalsifikasi
h. Schwarte.
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia luasnya proses yang
tampak pada foto toraks dapat dibagi sebagai berikut:
a. Lesi minimal (Minimal Lesion):
Bila proses tuberkulosis paru mengenai sebagian kecil dari satu
atau dua paru dengan luas tidak lebih dengan volume paru yang terletak
diatas chondrosternal junction dari iga kedua dan prosesus spinosus
dari vertebra torakalis IV atau korpus vertebra torakalis V dan tidak
dijumpai kavitas.
b. Lesi luas (Far Advanced):
Kelainan lebih luas dari lesi minimal Penelitian di Bangalore, India
yang melibatkan 2229 orang dengan gejala respiratorik dan sistemik
(batuk 2 minggu atau lebih, nyeri dada, panas lebih dari minggu dan
batuk darah) yang kemudian dievaluasi secara radiologi (foto toraks)
dan bakteriologi (hapusan dahak).
3. Pemeriksaan Khusus
Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik baru yang dapat
mendeteksi kuman TB seperti :
a. BACTEC: dengan metode radiometrik , dimana CO2 yang dihasilkan
dari metabolisme asam lemak M.tuberculosis dideteksi growth
indexnya.
b. Polymerase chain reaction (PCR) dengan cara mendeteksi DNA dari
M.tuberculosis, hanya saja masalah teknik dalam pemeriksaan ini
adalah kemungkinan kontaminasi.
c. Pemeriksaan serologi : seperti ELISA, ICT dan Mycodot
4. Pemeriksaan Penunjang Lain
Seperti analisa cairan pleura dan histopatologi jaringan, pemeriksaan
darah dimana LED biasanya meningkat, tetapi tidak dapat digunakan

5
sebagai indikator yang spesifik pada TB. Di Indonesia dengan prevalensi
yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnosis penyakit kurang
berarti pada orang dewasa. Uji ini mempunyai makna bila didapatkan
konversi, bula atau kepositifan yang didapat besar sekali (Romlah, 2015).

G. Penatalaksanaan Medis
Menurut Muttaqin (2008) pentalaksanaan tuberkulosis paru menjadi tiga
bagian, yaitu pencegahan, pengobatan, dan penemuan penderita (active
case finding).
1. Pencegahan Tuberkulosis Paru
a. Pemeriksaan kontrak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul
erat dengan penderita tuberkulosis paru Basil Tahan Asam (BTA)
positif. Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin, klinis, dan radiologi. Bila
tes tuberkulin postif, maka pemeriksaan radiologis foto toraks diulang
pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan Bacillus
Calmette dan Guerin (BCG) vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi
konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan kemoprofilaksi.
b. Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap
kelompokkelompok populasi tertentu.
c. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette dan Guerin)
d. Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH (Isoniazid) 5 % mg/kgBB
selama 6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau 15 mengurangi
populasi bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer
atau utama ialah bayi menyusui pada ibu dengan BTA positif ,
sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi kelompok berikut:
1) Bayi di bawah 5 tahun dengan basil tes tuberkulin positif karena
resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB.
2) Anak remaja dibawah 20 tahun dengan hasil tuberkulin positif yang
bergaul erat dengan penderita TB yang menular
3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari
negatif menjadi positif

6
4) Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat
imunosupresif jangka panjang
5) Penderita diabetes melitus. e. Komunikasi, informasi, dan edukasi
(KIE) tentang tuberkulosis kepada masyarakat di tingkat
puskesmas maupun petugas LSM (misalnya Perkumpulan
Pemberantasan Tuberkulosis Paru Indonesia-PPTI)
2. Pengobatan Tuberkulosis Paru
Program nasional pemberatasan tuberkulosis paru, WHO menganjurkan
panduan obat sesuai dengan kategori penyakit. Kategori didasarkan pada
urutan kebutuhan pengobatan, sehingga penderita dibagi dalam empat
kategori antara lain, sebagai berikut:
a. Kategori I
Kategori I untuk kasus dengan sputum positif dan penderita dengan
sputum negatif. Dimulai dengan fase 2 HRZS(E) obat diberikan setiap
hari selama dua bulan. Bila setelah 2 bulan sputum menjadi negatif
dilanjutkan dengan fase lanjutan, bila setelah 2 bulan masih tetap positif
maka fase intensif diperpanjang 2-4 minggu, kemudian dilanjutkan tanpa
melihat sputum positif atau negtaif. Fase lanjutannya adalah 4HR 16 atau
4H3R3 diberikan selama 6-7 bulan sehingga total penyembuhan 8-9
bulan.
b. Kategori II
Kategori II untuk kasus kambuh atau gagal dengan sputum tetap
positif. Fase intensif dalam bentuk 2HRZES-1HRZE, bila setelah fase
itensif sputum negatif dilanjutkan fase lanjutan. Bila dalam 3 bulan
sputum masih positif maka fase intensif diperpanjang 1 bulan dengan
HRZE (Obat sisipan). Setelah 4 bulan sputum masih positif maka
pengobtan dihentikan 2-3 hari. Kemudian periksa biakan dan uji resisten
lalu diteruskan pengobatan fase lanjutan.
c. Kategori III
Kategori III untuk kasus dengan sputum negatif tetapi kelainan
parunya tidak luas dan kasus tuberkulosis luar paru selain yang disebut

7
dalam kategori I, pengobatan yang diberikan adalah 2HRZ/6 HE,
2HRZ/4 HR, 2HRZ/4 H3R3
d. Kategori IV
Kategori ini untuk tuberkulosis kronis. Prioritas pengobatan rendah
karena kemungkinan pengobatan kecil sekali. Negara kurang mampu dari
segi kesehatan masyarakat dapat diberikan H saja seumur hidup,
sedangkan negara maju pengobatan secara individu dapat dicoba
pemberian obat lapis 2 seperti Quinolon, Ethioamide, Sikloserin,
Amikasin, Kanamisin, dan sebagainya.

H. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton

Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,


takipnea

b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner, penyakit serebrovaskuler

Tanda : Kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan


warna kulit, suhu dingin

c. Integritas Ego
Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi,
euphoria, factor stress multipel

Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue


perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang,
pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.

d. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu

8
e. Makanan / Cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan
tinggi garam, lemak dan kolesterol

Tanda : BB normal atau obesitas, adanya edema

f. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit
kepala, berdenyut, gangguan penglihatan, episode
epistaksis

Tanda : perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman,


perubahan retinal optik

g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala
oksipital berat, nyeri abdomen

h. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea,
ortopnea, dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau
tanpa sputum, riwayat merokok

Tanda : distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan,


bunyi napas tambahan, sianosis

i. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan

Tanda : episode parestesia unilateral transien, hipotensi psotural

j. Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala : factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit

jantung, DM , penyakit ginjal

9
I. Analisa Data
Data Masalah Etiologi
Ds: Basil tuberculosis
- Klien mengatakan Ketidakefektifan memasuki saluran
saat batuk ada dahak bersihan jalan nafas pernafasan
- Klien mengatakan
dahak berwarna
kuning Menembus mekanisme
Do: pertahanan system
- Klien nampak batuk- pernafasan
batuk dan
mengeluarkan dahak
- Kahak/sputum klien Berkolonisasi di saluran
nampak berwarna nafas bawah
kuning.

Mengaktifasi respon
imun

Inflamasi

Peningkatan secret di
saluran pernafasan

Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
Ds:
- Klien mengatakan Gangguan pertukaran Basil tuberculosis
sesak nafas gas memasuki saluran

10
- Klien mengatakan pernafasan
sulit bernafas
Do:
- Klien nampak Menembus mekanisme
bernafas cepat dan pertahanan system
dangkal pernafasan
- Klien nampak sulit
bernafas
- Respirasi abdnormal Berkolonisasi di saluran
nafas bawah

Mengaktifasi respon
imun

Inflamasi

Sel T dan jaringan


fibrosa membungkus
makrofag dan basil
tuberculosis

Fibrosis

Timbul jaringan parut

Alveolus tidak kembali

11
saat ekspirasi

Gas tidak dapat terdifusi


dengan baik

Gangguan pertukaran
gas
Ds:
- Klien mengatakan Ketidakseimbangan Basil tuberculosis
nafsu makan menurun nutrisi kurang dari memasuki saluran
- Klien mengatakan kebutuhan tubuh pernafasan
kadang menghabiskan
porsi makan,
terkadang juga tidak Menembus mekanisme
dihabiskan pertahanan system
Do: pernafasan
- Klien Nampak lemah
- Klien Nampak tidak
menghabiskan porsi Berkolonisasi di saluran
makannya nafas bawah
- Terjadi penuruanan
berat badan
- IMT kurang Mengaktifasi respon
imun

Inflamasi

Memicu pembentukan

12
serotonin

Merangsang
melanocortin di
hipotalamus

Anoreksia

Asupan nutrisi kurang

BB menurun

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Ds:
- Klien mengatakan Nyeri akut Basil tuberculosis
nyeri pada bagian memasuki saluran
dada saat batuk pernafasan
Do:
- Klien Nampak
meringis Menembus mekanisme
- Klien Nampak pertahanan system
memegang dadanya pernafasan
saat batuk
P: nyeri saat batuk
Q: nyeri terasa Berkolonisasi di saluran

13
tertekan/tertindih nafas bawah
beban berat
R: kedua lapang dada
S: Skala sedang Mengaktifasi respon
sampai berat imun
T: ± 2-4 menit

Inflamasi

Peningkatan secret di
saluran pernafasan

Batuk

Gangguan rasa nyaman

Nyeri akut
Ds:
- Klien mengatakan Hipertermi Basil tuberculosis
sering berkeringat di memasuki saluran
malam hari pernafasan
- Klien mengatakan
demam pada malam
hari Menembus mekanisme
- Klien mengatakan pertahanan system
kepala terasa pusing pernafasan
Do:
- Mukosa bibir terlihat

14
kering Berkolonisasi di saluran
- Suhu tubuh nafas bawah
meningkat
- Nadi dan RR dalam
rentang normal Mengaktifasi respon
imun

Inflamasi

Peningkatan suhu tubuh

Hipertermi
Ds ; Kurang pengetahuan Udara tercemar
- Klien mengatakan
tidak mengetahu
penyakitnya Di hirup individu rentan
- Klien mengatakan
hanya minum obat
saat sakit saja Kurang informasi
Do :
- Klien Nampak kurang
bertanya
- Klien Nampak tidak Kurang pengetahuan
menjaga kebersihan
Ds : Resiko penyebaran Penumpukan eksudat
- Klien infeksi dalam alveoli
mengatakan
batuk berdahak
yang berlebihan Produksi secret berlebih

15
- Klien
mengatakan
kadang tak
memakai Di batukkan/ bersin
masker ktika
batuk
Do :
- Nampak klien Resiko penyebaran
tak memakai infeksi
masker
- Nampak klien
batuk tak
menutup
mulutnya

J. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan mukus
berlebihan
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar-kapiler
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan
4. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan agen cedera biologis
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
6. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajannya informasi
8. Resiko penyebaran infeksi pada orang lain

16
K. Rencana Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1. Ketidakefektifan NOC: 1. Pastikan kebutuhan oral /
bersihan jalan nafas  Respiratory status : tracheal suctioning.
berhubungan dengan Ventilation 2. Berikan O2 ……l/mnt,
mukus berlebihan  Respiratory status : metode………
Ds: Airway patency 3. Anjurkan pasien untuk
- Klien mengatakan saat  Aspiration Control istirahat dan napas dalam
batuk ada dahak Setelah dilakukan tindakan 4. Posisikan pasien untuk
- Klien mengatakan Keperawatan selama … memaksimalkan ventilasi
dahak berwarna pasien menunjukkan 5. Keluarkan sekret dengan
kuning keefektifan jalan nafas batuk atau suction
Do: dibuktikan dengan kriteria 6. Auskultasi suara nafas,
- Klien nampak batuk- hasil: catat adanya suara
batuk dan 1. Mendemonstrasikan tambahan
mengeluarkan dahak batuk efektif dan suara 7. Atur intake untuk cairan
Kahak/sputum klien nafas yang bersih, tidak mengoptimalkan
nampak berwarna ada sianosis dan dyspneu keseimbangan.
kuning. (mampu mengeluarkan 8. Monitor respirasi dan
sputum, bernafas dengan status O2
mudah, tidak ada pursed 9. Pertahankan hidrasi yang
lips) adekuat untuk
2. Menunjukkan jalan nafas mengencerkan sekret
yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang
normal, tidak ada suara
nafas abnormal)
3. Mampu
mengidentifikasikan dan

17
mencegah faktor yang
penyebab.
4. Saturasi O2 dalam batas
normal
5. Foto thorak dalam batas
normal
2. Gangguan pertukaran NOC: 1. Posisikan pasien untuk
gas berhubungan - Respiratory Status : Gas memaksimalkan ventilasi
dengan perubahan exchange 2. Keluarkan sekret dengan
membran alveolar- - Respiratory Status : batuk atau suction
kapiler ventilation 3. Auskultasi suara nafas,
- Klien mengatakan - Vital Sign Status catat adanya suara
sesak nafas Setelah dilakukan tindakan tambahan
- Klien mengatakan keperawatan selama …. 4. Monitor respirasi dan
sulit bernafas Gangguan pertukaran pasien status O2
Do: teratasi dengan 5. Monitor pola nafas :
- Klien nampak kriteria hasi: bradipena, takipenia,
bernafas cepat dan - Mendemonstrasikan kussmaul, hiperventilasi,
dangkal peningkatan ventilasi dan cheyne stokes, biot
- Klien nampak sulit oksigenasi yang adekuat 6. Monitor TTV, AGD,
bernafas - Memelihara kebersihan elektrolit dan ststus
- Respirasi abdnormal paru paru dan bebas dari mental
tanda tanda distress 7. Observasi sianosis
pernafasan khususnya membran
- Mendemonstrasikan batuk mukosa
efektif dan suara nafas 8. Jelaskan pada pasien dan
yang bersih, tidak ada keluarga tentang
sianosis dan dyspneu persiapan tindakan dan
(mampu mengeluarkan tujuan penggunaan alat
sputum, mampu bernafas tambahan (O2, Suction,
dengan mudah, tidak ada Inhalasi)
pursed lips)

18
- Tanda tanda vital dalam
rentang normal
- AGD dalam batas normal
- Status neurologis dalam
batas normal
3. Ketidakseimbangan NOC: NIC :
nutrisi kurang dari a. Nutritional status: 1. Kaji adanya alergi
kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient makanan
berhubungan dengan b. Nutritional Status : food 2. Kolaborasi dengan ahli
kurang asupan makanan and Fluid Intake gizi untuk menentukan
c. Weight Control jumlah kalori dan nutrisi
Ds: Setelah dilakukan tindakan yang dibutuhkan pasien
- Klien mengatakan keperawatan 3. Yakinkan diet yang
nafsu makan menurun selama….nutrisi kurang dimakan mengandung
- Klien mengatakan dapat teratasi dengan tinggi serat untuk
kadang menghabiskan indikator: mencegah konstipasi
porsi makan, - Albumin serum 4. Ajarkan pasien
terkadang juga tidak - Pre albumin serum bagaimana membuat
dihabiskan - Hematokrit catatan makanan harian.
Do: - Hemoglobin 5. Monitor adanya
- Klien Nampak lemah - Total iron binding penurunan BB dan gula
- Klien Nampak tidak capacity darah
menghabiskan porsi - Jumlah limfosit 6. Monitor turgor kulit
makannya 7. Monitor kekeringan,
- Terjadi penuruanan rambut kusam, total
berat badan protein, Hb dan kadar Ht
IMT kurang 8. Monitor mual dan
muntah
9. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva

19
10. Monitor intake nuntrisi
11. Informasikan pada klien
dan keluarga tentang
manfaat nutrisi
12. Atur posisi semi fowler
atau fowler tinggi
selama makan
13. Anjurkan banyak
minum
14. Pertahankan terapi IV
line
4. Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan agen cedera - Pain Level, 1. Lakukan pengkajian
biologis - Pain control, nyeri secara
Ds: - Comfort level komprehensif termasuk
- Klien mengatakan Setelah dilakukan tinfakan lokasi, karakteristik,
nyeri pada bagian keperawatan selama …. durasi, frekuensi, kualitas
dada saat batuk Pasien tidak mengalami dan faktor presipitasi
Do: nyeri, dengan kriteria hasil: 2. Observasi reaksi
- Klien Nampak - Mampu mengontrol nyeri nonverbal dari
meringis (tahu penyebab nyeri, ketidaknyamanan
- Klien Nampak mampu menggunakan 3. Ajarkan tentang teknik
memegang dadanya tehnik nonfarmakologi non farmakologi: napas
saat batuk untuk mengurangi nyeri, dala, relaksasi, distraksi,
P: nyeri saat batuk mencari bantuan) kompres hangat / dingin
Q: nyeri terasa - Melaporkan bahwa nyeri 4. Berikan analgetik untuk
tertekan/tertindih berkurang dengan mengurangi nyeri :
beban berat menggunakan manajemen ……...
R: kedua lapang dada nyeri 5. Berikan informasi
S: Skala sedang - Mampu mengenali nyeri tentang nyeri seperti
sampai berat (skala, intensitas, penyebab nyeri, berapa
T: ± 2-4 menit frekuensi dan tanda nyeri) lama nyeri akan

20
- Menyatakan rasa nyaman berkurang dan antisipasi
setelah nyeri berkurang ketidaknyamanan dari
- Tanda vital dalam rentang prosedur
normal 6. Monitor vital sign
- Tidak mengalami sebelum dan sesudah
gangguan tidur pemberian analgesik
pertama kali
5. Hipertermi berhubungan NOC: NIC :
dengan inflamasi - Thermoregulasi 1. Monitor suhu sesering
Ds: Setelah dilakukan tindakan mungkin
- Klien mengatakan keperawatan 2. Monitor warna dan suhu
sering berkeringat di selama………..pasien kulit
malam hari menunjukkan : 3. Monitor tekanan darah,
- Klien mengatakan - Suhu tubuh dalam batas nadi dan RR
demam pada malam normal dengan kreiteria 4. Monitor intake dan
hari hasil: output
- Klien mengatakan 1. Suhu 36 – 37C 5. Berikan cairan intravena
kepala terasa pusing - Nadi dan RR dalam 6. Kompres pasien pada
Do: rentang normal lipat paha dan aksila
- Mukosa bibir terlihat Tidak ada perubahan warna 7. Monitor hidrasi seperti
kering kulit dan tidak ada pusing turgor kulit, kelembaban
- Nadi dan RR dalam membran mukosa)
rentang abnormal
- Suhu tubuh meningkat

6. Kurang Pengetahuan NOC: NIC :


Berhubungan dengan : - Kowlwdge :disease proces 1. Kaji tingkat pengetahuan
keterbatasan kognitif, - Kowledge:health Behavior pasien dan keluarga
interpretasi terhadap Setelah dilakukan tindakan 2. Jelaskan patofisiologi
informasi yang salah, keperawatan selama …. dari penyakit dan
kurangnya keinginan pasien menunjukkan bagaimana hal ini
untuk mencari pengetahuan tentang berhubungan dengan

21
informasi, tidak proses penyakit dengan anatomi dan fisiologi,
mengetahui sumber- kriteria hasil: dengan cara yang tepat.
sumber informasi. - Pasien dan keluarga 3. Gambarkan tanda dan
DS: menyatakan pemahaman gejala yang biasa muncul
- Menyatakan secara tentang penyakit, kondisi, pada penyakit, dengan
verbal adanya masalah prognosis dan program cara yang tepat
DO: pengobatan 4. Gambarkan proses
Ketidakakuratan - Pasien dan keluarga penyakit, dengan cara
mengikuti instruksi, mampu melaksanakan yang tepat
perilaku tidak sesuai prosedur yang dijelaskan 5. Identifikasi kemungkinan
secara benar penyebab, dengan cara
- Pasien dan keluarga yang tepat
mampu menjelaskan 6. Sediakan informasi pada
kembali apa yang pasien tentang kondisi,
dijelaskan perawat / tim dengan cara yang tepat
kesehatan lainnya. 7. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien dengan
cara yang tepat
8. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
9. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
10. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat

22
DAFTAR PUSTAKA

Black. Hawks, 2014, Keperawatan Medikal Bedah Ed 8, Vol 2, Singapore:


Elsevier

Bulechek, Gloria M, dkk, 2015, Nursing Intervention Classification, America:


Elsevier.

Depkes. 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan TB. Cetakan ke-2. Jakarta :


DEPKES RI.

Herdman, T. Heather, dkk, 2015, Nursing Diagnoses, America: Wiley Blackwell.

Moorhead, Sue, dkk, 2015, Nursing Outcomes Classification, America: Elsevier.

Muttaqin, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem


Pernafasan, Jakarta: Salemba Medika.
Oktafiyani, Fina. 2015. Hubungan lingkungan kerja pendderita TB paru terhadap
kejadian penyakit TB paru.
Romlah, Laila. 2015. Hubungan Merokok Dengan Kejadian TB Paru di Wilayah
Kerja Puskesmas SETU Kota Tangerang Selatan. Skripsi. Program Study
Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syari
Hidayatullah. Jakarta. Februari 8th 2018.

Saputra, 2010, Intisari Ilmu Penyakit Dalam, Tangerang; Binarupa.

23