Anda di halaman 1dari 4

Termometer Radiasi Benda Hitam

Termometer inframerah mempunyai kemampuan dalam menentukan temperatur objek


tanpa kontak fisik sehingga sistem pengukurannya tidak terkontaminasi, dan rusak. Banyak
penggunaan teknologi ini yang berhubungan dengan industri yakni memberikan keuntungan
pada pencatat temperatur dalam situasi dimana objek tidak bisa dicapai atau bergerak, dimana
kontak tidak mungkin dilakukan karena temperatur terlalu tinggi atau dibawah pengaruh listrik
(Fullam, 2008).

Termometer inframerah dikalibrasi dengan menggunakan sumber radiasi benda hitam.


Benda hitam memiliki nilai emisivitas mendakati angka 1, karena perbandingan antara energi
yang diradiasi oleh material terhadap energi yang diradiasi benda hitam hampir mendekati 1.
Benda hitam adalah absorber sempurna dan akan menjadi pemancar sempurna radiasi
inframerah. Objek non-benda hitam akan menyerap energi lebih sedikit dibanding benda hitam
pada kondisi yang sama. Karena itu objek non-benda hitam akan meradiasi lebih sedikit energi
inframerah meskipun pada temperatur yang sama.

Prinsip kerja termometer inframerah adalah menangkap inframerah yang diradiasikan


oleh objek, mengolahnya serta menampilkan suhu melalui serangkaian proses. Pada
kenyataannya, objek yang bersuhu di atas 0 Kelvin (-273,15 C) meradiasikan inframerah. Saat
termometer inframerah diarahkan terhadap objek, energi inframerah yang dipancarkan objek
dikumpulkan dan difokuskan ke detektor oleh lensa. Detektor akan mengubah energi inframerah
menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik yang dibangkitkan kemudian diperkuat oleh amplifier. Sinyal
listrik ini perlu dikuatkan karena sinyal listrik yang dibangkitkan sangat kecil dan berupa sinyal
analog. Jadi keluaran sinyal amplifier masih berupa sinyal analog. Untuk keperluan display,
maka sinyal analog tersebut di ubah menjadi sinyal digital oleh ADC (Analog to Digital
Converter). Kemudian processor akan mengolah sinyal digital tersebut menjadi harga keluaran
yang sesuai dengan temperatur objek. Temperatur kemudian dapat di tampilkan pada display.
Temperatur ini juga dapat dijadikan sebagai sinyal analog untuk pengolahan lain dengan
menggunakan DAC (Digital to Analog Converter)
Termometer Uap Helium

Termometer uap helium digunakan untuk mengukur suhu sampai 0,7 K. Peralatannya
terdiri dari bohlam A yang berisi cairan helium. Bohlam ini dihubungkan dengan manometer M1
dan M2 yang disambungkan dengan pipa C. Pipa C dilingkupi oleh tembaga B untuk menjamin
terjaganya suhu uap helium. R adalh reservoir ywng berisi merkuri.

Prinsip kerja dari termometer uap helium ini yaitu, mulanya, reservoir R diturunkan
sehingga merkuri berada di dalan manometer M1 dan M2 dibawah stop-cock S. Pipa terhubung
ke pipa pengosongan untuk membuang udara pada pipa C dan bohlam A. Stop-cock S ditutup
setelah pengosongan telah selesai dan bohlam A di tempatkan pada suatu wadah yang telah berisi
objek yang akan diukur. Tekanan uap jenuh helium diukur engan mengggunakan selisih
ketinggian Hg (merkuri) dalam M1 dan M2. Dengan bantuan alas atau meja yang konstan,
diberikan tekanan uap dari cairan helium pada berbagai temperatur. Suhu objek yang terukur
sesuai dengan tekanan uap helium yang telah ditentukan.
Termometer garam paramagnetik

Peralatan yang digunakan untuk membuat termometer garam paramagnetik ditunjukkan


pada gambar di bawah ini. Garam paramagnetik tergantung dalam bejana A, yang mana
dikelilingi oleh cairan helium. Cairan helium berada dalam labu Dewar D 1, yang di didihkan
dengan tekanan rendah. Labu Dewar D1 dilingkupi oleh labu Dewar D2 yang berisi cairan
hidrogen.

Prinsip kerja dari termometer garam paramagnetik yaitu saat medan magnet dinyalakan,
spesimen (garam) di magnetisasi. Panas yang disebabkan magnetisasi dilepaskan oleh gas
hidrogen yang masuk ke bejana A dan kemudian memompanya keluar dengan pimpa vakum
yang tinggi, sehingga spesimen (garam) tersebut terisolasi secara termal. Sementara itu,
spesimen (garam) tersebut mengambil suhu cairan helium. Sehingga spesimen (garam) dan
cairan helium berada pada suhu yang sama.

Sekarang medan magnetnya dilepaskan, demagnetisasi adiabatik spesimen berlangsung


dan suhunya turun. Suhu spesimen (garam) ditentukan dengan memasang kumparan selenoida
koaksial di sekeliling tabung A, dan pengukuran induktansi diri dan suseptibilitas subtansi
dilakukan pada awal dan akhir eksperimen. Kemudian suhu (T) dapat dihitung dengan hukum
Curie χ= C/T, dimana C adalah konstanta Curie, dan X adalah suseptibilitas magnetik.

Daftar Pustaka

Arora, C.L. dan Hemne, P.S. 2008. Physics for Degree Student. S. Chand and Company Pvt.
Ram Nagar. New Delhi