Anda di halaman 1dari 8

PSAK 55

PSAK 55 (Revisi 2006) Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran


12-11-2008 11:06
Tujuan Pernyataan dalam PSAK 55 (Revisi 2006) adalah untuk mengatur prinsip-prinsip dasar
pengakuan dan
pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dan kontrak pembelian atau penjualan item non
keuangan.
Persyaratan penyajian dan pengungkapan informasi instrumen keuangan diatur dalam PSAK 50
(revisi 2006) Instrumen
Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan.
Istilah yang didefinisikan dalam PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan
Pengungkapan juga
digunakan dalam pernyataan ini dengan pengertian sebagaimana dijabarkan dalam pernyataan ini
dengan pengertian
sebagaimana dijabarkan dalam paragraf 7 PSAK 50 (Revisi 2006) Instumen Keuangan:
Penyajian dan Pengungkapan.
PSAK tersebut mendefinisikan istilah berikut ini:
 Instrumen Keuangan
 Aset Keuangan
 Kewajiban Keuangan
 Instrumen Ekuitas
dan menyediakan pedoman untuk menerapkan definisi-definisi tersebut.
PSAK 55 (Revisi 2006) terdiri dari paragraf 1-108 dan Panduan Aplikasi. Maka hal ini akan
memudahkan penerapan
PSAK 55 oleh pengguna.
Entitas harus menerapkan Pernyataan ini secara prospektif untuk laporan keuangan yang
mencakup periode yang
dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Jika entitas menerapkan Pernyataan ini
sebelum 1 Januari 2009,
maka fakta
ini harus diungkapkan.
Pernyataan ini menggantikan:
(a) PSAK No. 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing, untuk pengaturan yang
terkait dengan transaksi valuta berjangka;
(b) PSAK No. 28 (Revisi 1996) tentang Akuntansi Asuransi Kerugian, untuk pengaturan yang
terkait dengan perlakuan
akuntansi surat berharga (marketable
securities);
(c) PSAK No. 31 (Revisi 2000) tentang Akuntansi Perbankan, untuk pengaturan yang
terkait dengan perlakuan akuntansi transaksi efek;
(d) PSAK No. 36 (Revisi 1996) tentang Akuntansi Asuransi Kerugian, untuk pengaturan yang
terkait dengan perlakuan
akuntansi surat berharga (marketable securities);
(e)PSAK No. 42 (1998) tentang Akuntansi Perusahaan Efek, untuk pengaturan yang terkait
dengan:
(i) transaksi jual efek dengan janji beli kembali (repo)/beli efek dengan janji
jual kembali (reverse repo); dan
(ii) transaksi manajer investasi untuk pengakuan perolehan, pengklasifikasian,
dan penilaian pada tanggal neraca untuk efek dan unit penyertaan reksa
dana yang dibeli untuk investasi sendiri;
(f) PSAK No. 43 (Revisi 1997) tentang Akuntansi Anjak Piutang, untuk pengaturan
yang terkait dengan pengakuan dan pengukuran;
(g) PSAK No. 50 (Revisi 1998) tentang Akuntansi Investasi Efek Tertentu, untuk
pengaturan yang terkait dengan pengakuan dan pengukuran invetasi efek tertentu;
dan
(h) PSAK No. 55 (Revisi 1999) tentang Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas
Lindung Nilai, untuk pengaturan yang terkait dengan pengakuan dan pengukuran
instrumen derivatif dan aktivitas lindung nilai

Sekilas tentang PP 71 Tahun 2010, SAP berbasis akrual

Isu terkini didalam pelaksanaan akuntansi keuangan daerah adalah


mengenai penerapan PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan sebagai pengganti PP Nomor 24 Tahun 2005. Dimana PP 71
merupakan penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual murni
meskipun didalam peraturan tersebut juga masih diakomodir pilihan
menerapkan basis kas menuju akrual sebagaimana yang diatur didalam PP
nomor 24 tahun 2005 selama masa transisi dimana pelaksanaan akrual murni
paling tidak harus diterapkan paling lambat empat (4) tahun setelah peraturan
ini diterbitkan.
Komitmen Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi di
bidang akuntansi terutama untuk penerapan akuntansi berbasis akrual pada
setiap instansi pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun pemerintahan
daerah, dimulai tahun anggaran 2008. Hal ini ditegaskan dalam Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam Pasal 36 ayat
(1) yang berbunyi sebagai berikut: ”Ketentuan mengenai pengakuan dan
pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 angka 13, 14, 15, dan 16 undang-undang ini dilaksanakan
selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Selama pengakuan dan
pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan,
digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas.”
Apa yang dimaksud dengan akuntansi berbasis akrual, yaitu suatu
basis akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui,
dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi
tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau
dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu pencatatan (recording)
sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan
informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya dicatat.

Study #14 IFAC Public Sector Committee (2002) menyatakan bahwa


pelaporan berbasis akrual bermanfaat dalam mengevaluasi kinerja pemerintah
terkait biaya jasa layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan. Dengan pelaporan
berbasis akrual, pengguna dapat mengidentifikasi posisi keuangan pemerintah
dan perubahannya, bagaimana pemerintah mendanai kegiatannya sesuai
dengan kemampuan pendanaannya sehingga dapat diukur kapasitas
pemerintah yang sebenarnya. Akuntansi pemerintah berbasis akrual juga
memungkinkan pemerintah untuk mengidentifikasi kesempatan dalam
menggunakan sumberdaya masa depan dan mewujudkan pengelolaan yang
baik atas sumberdaya tersebut.
Jika dibandingkan dengan akuntansi pemerintah berbasis kas menuju
akrual, akuntansi berbasis akrual sebenarnya tidak banyak berbeda. Pengaruh
perlakuan akrual dalam akuntansi berbasis kas menuju akrual sudah banyak
diakomodasi di dalam laporan keuangan terutama neraca yang disusun sesuai
dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP). Keberadaan pos piutang, aset tetap, hutang
merupakan bukti adanya proses pembukuan yang dipengaruhi oleh asas akrual.
Ketika akrual hendak dilakukan sepenuhnya untuk menggambarkan
berlangsungnya esensi transaksi atau kejadian, maka kelebihan yang diperoleh
dari penerapan akrual adalah tergambarkannya informasi operasi atau
kegiatan. Dalam sektor komersial, gambaran perkembangan operasi atau
kegiatan ini dituangkan dalam Laporan Laba Rugi. Sedangkan dalam akuntansi
pemerintah, laporan sejenis ini diciptakan dalam bentuk Laporan Operasional
atau Laporan Surplus/Defisit.
Dengan demikian, perbedaan kongkrit yang paling memerlukan
perhatian adalah jenis/komponen laporan keuangan. Perbedaan mendasar
SAP PP 24/2005 dengan SAP Akrual terletak pada PSAP 12
mengenai Laporan Operasional. Entitas pemerintah melaporkan secara
transparan besarnya sumber daya ekonomi yang didapatkan, dan besarnya
beban yang ditanggung untuk menjalankan kegiatan pemerintahan.
Surplus/defisit operasional merupakan penambah atau pengurang
ekuitas/kekayaan bersih entitas pemerintahan bersangkutan. Secara ringkas
perbedaan komponen laporan keuangan basis akrual dengan basis kas menuju
akrual disajikan pada Lampiran II.
Walaupun basis akrual berlaku efektif untuk laporan keuangan atas
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran mulai tahun 2010, tetapi
apabila entitas pelaporan belum dapat menerapkan PSAP ini, entitas pelaporan
dapat menerapkan PSAP Berbasis Kas Menuju Akrual paling lama 4 (empat)
tahun setelah Tahun Anggaran 2010. Penerapan SAP Berbasis Akrual dapat
dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
menjadi penerapan SAP Berbasis Akrual. Ketentuan lebih lanjut mengenai
penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah pusat diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan, sedangkan untuk pada pemerintah
daerah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (pasal 7 PP 71 tahun
2010).

STRUKTUR SAP BERBASIS AKRUAL


Didalam struktur SAP berbasis akrual berdasar PP 71 Tahun 2010
terdapat tambahan pernyataan standar akuntansi yaitu pada pernyataan PSAP
Nomor 12 tentang Laporan Operasional, adapun Kerangka Konseptual
Akuntansi Pemerintahan adalah sebagai berikut :
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP)terdiri dari: PSAP
Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan; PSAP Nomor 02 tentang
Laporan Realisasi Anggaran; PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas; PSAP
Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;PSAP Nomor 04 tentang
Catatan atas Laporan Keuangan; PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi
Persediaan; PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi; PSAP Nomor 07
tentang Akuntansi Aset Tetap; PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi
Dalam Pengerjaan; PSAPN 09 tentang Akuntansi Kewajiban; PSAP Nomor 10
tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa
Luar Biasa; PSAPN 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian; dan PSAP
Nomor 12 tentang Laporan Operasional.

KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN


Perbedaan antara PP 71 dengan PP 24 juga terdapat pada komponen
laporan keuangan, dimana pada PP 24 terdapat empat (4) jenis laporan
keuangan yaitu : 1. Neraca; 2. Laporan Arus Kas; 3. Laporan Realisasi
Anggaran; 4. Catatan atas Laporan Keuangan. Didalam PP 71 laporan keuangan
yang harus disusun oleh Pemda bertambah menjadi enam (6) jenis laporan
keuangan yaitu :Laporan Realisasi Anggaran; Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih (SAL); Neraca; Laporan Arus Kas; Laporan
Operasional; Laporan Perubahan Ekuitas; Catatan atas Laporan Keuanggan.
secara garis besar, penjelasan tentang jenis-jenis laporan keuangan tersebut
adalah sebagai berikut:

LAPORAN REALISASI ANGGARAN


Meskipun basis yang harus digunakan adalah basis akrual, khusus untuk
LRA masih menggunakan cash basis yang menyajikan informasi realisasi
pendapatan-LRA, belanja transfer surplus/defisit LRA dan belanja, transfer,
surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan, yang masing-masing diperbandingkan
dengan anggarannya dalam satu periode. Struktur LRA tidak ada perubahan
yang terdiri dari: Pendapatan-LRA, Belanja, Transfer, Surplus/defisit-
LRA, Pembiayaan, Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA).

LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH


Laporan ini melaporkan mutasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang
merupakan akumulasi saldo SiLPA/SiKPA dari LRA, adapun struktur SAL
adalah sebagai berikut: Saldo Anggaran Lebih awal; Penggunaan Saldo
Anggaran Lebih; Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun
berjalan; Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya; danLain-lain

NERACA
Merupakan laporan keuangan yang telah menerapkan basis akrual,
karena itu tidak terdapat perbedaan signifikan hanya saja ada sedikit tambahan
pos-pos didalam sisi asset dan perubahan format pada sisi ekuitas, dimana
ekuitas dana tidak dirinci kedalam EDL, EDI dan EDC tapi merupakan jumlah
total selisih antara asset dan kewajiban, perubahan itu jadi membuat format
neraca lebih sederhana. format neraca terdiri dari Aset, Kewajiban dan Ekuitas
(tanpa dirinci lebih lanjut ke EDL, EDI, EDC)
LAPORAN OPERASIONAL
Format laporan operasional terdiri dari : Pendapatan-LO dari
kegiatan operasional, Beban dari kegiatan operasional, Surplus/Defisit dari
Kegiatan Non Operasional, bila ada, Pos luar biasa, bila ada, Surplus/defisit-
LO. perbedaan signifikan LO dan LRA terletak pengakuan belanja dan beban.
Diatas telah dijelaskan bahwa penyusunan LRA masih menggunakan kas basis
dalam arti kata pengakuan belanja di LRA adalah sebesar kas yang dikeluarkan
dari kas daerah, juga pendapatan diakui pada saat diterima dikas daerah.
Sedangkan pengakuan beban pada laporan operasional adalah juga meliputi
kewajiban/biaya yang timbul meskipun belum dibayar tidak semata-mata
melihat apakah kas tersebut sudah keluar atau belum dari kas daerah. hal yang
sama juga berlaku pada pengakuan pendapatan yaitu pada saat timbulnya hak
atas pendapatan tersebut. Pengertian timbulnya hak tersebut perlu dijelaskan
bahwa timbulnya harus ditandai dengan suatu dokumen yang menyatakan
bahwa benar-benar hak tersebut diperkirakan dapat direalisasikan. Dalam
pengertian ini tidak termasuk potensi-potensi sumber-sumber daya yang
belum dieksploitasi (national resources), misalnya kandungan minyak,
kandungan batu bara, ikan, hutan, dan sebagainya.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS


Menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos: Ekuitas awal Surplus/Defisit
LO pada periode bersangkutan, dan koreksi-koreksi yang langsung
menambah/mengurangi ekuitas dana

HUBUNGAN ANTAR LAPORAN KEUANGAN


PP 71 mengakomodasi dua jenis pelaporan, yaitu laporan pelaksanaan
anggaran dan laporan financial. Laporan pelaksanaan anggaran terdiri dari
Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih.
Sedangkan laporan financial terdiri dari neraca, Laporan Operasional, Arus
Kas, Catatan Atas Laporan Keuangan dan laporan perubahan ekuitas.

STRATEGI PENERAPAN SAP BERBASIS AKRUAL (PP 71 2010)


Didalam menerapkan PP 71, hendaknya setiap pemda merumuskan
strategi yang dimulai dari aturan pelaksanaan menyangkut penyiapan aturan
pelaksanaan dan kebijakan akuntansi, kemudian pengembangan sistem
akuntansi dan TI, pengembangan kapasitas SDM, semua itu harus
disosialisasikan agar ada keseragaman pandangan didalam pelaksanaan teknis
akuntansi diseluruh SKPD.
Demikian sekilas tentang penerapan PP 71, semoga dapat memberikan
gambaran umum tentang persiapan apa yang harus dilakukan didalam masa
transisi penerapan SAP berbasis akrual.