Anda di halaman 1dari 19

Makalah Kesehatan Reproduksi

“Gizi Pada Remaja”

OLEH:
KELOMPOK IV
DIV KEBIDANAN
1. Diyan Aseptu Putri 7. Mela Oktaviani
2. Happy Apriani 8. Natasya Azreni
3. Ica Hernanda 9. Septi Jumaina
4. Febrianti 10. Ummi Resa Lesmana
5. Kartini Indah Sari 11. Yusi Anggraini
6. Maryani 12. Wulandari

Dosen Pembimbing :

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


TRI MANDIRI SAKTI
DIV KEBIDANAN
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Sebagai rasa terimakasih atas bantuan dan bimbingan serta dorongan dari
semua pihak, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bunda selaku dosen pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi.
2. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Semoga Allah SWT selau membalas segala kebaikan mereka dan selalu
memberikan berkah-Nya. Kami sebagai manusia biasa menyadari bahwa
penyusunan dari makalah ini masih belum sempurna dan pastinya ada kekurangan.
Kesempurnaan hanya ada pada Allah semata.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun kami harapkan demi
kebaikan makalah ini kedepannya. Akhir kata, kami seluruh penyusun berharap
agar makalah ini mampu memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya bagi
para pembaca dan di lingkungan akademis. Amin ya robbal’alamin.

Bengkulu, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL……………………………………

i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………………….. 1
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………. 2
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian .................... …….........................……………………………. 3
B. Tugas Dosen .................................................................................................... 3
C. Hak dan Kewajiban Dosen ............................................................................. 8
D. Tanggung Jawab Dosen ................................................................................. 9
E. Sanksi Dosen .................................................................................................. 10
F. Perlindungan Terhadap Dosen ........................................................................ 11
G. Keahlian yang dibutuhkan seorang Dosen ...................................................... 12
H. Persyaratan Pendidikan Seorang Dosen .......................................................... 12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan………………………………………………………………….. 13
B. Saran………………………………………………………………………….. 13

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa
awal dewasa, jadi pada masa remaja ini manusia tidak dapat disebut sudah dewasa
tetapi tidak dapat juga disebut sebagai anak-anak. Usia remaja biasanya dimulai
saat laki-laki atau perempuan berusia 10-12 tahun dan berakhir pada usia 18-22
tahun.
Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang yang cepat, pertambahan
berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan
karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan
kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan
identitas sangat menonjol dan lebih suka menghabiskan waktu diluar waktu
berkumpul bersama keluarga. Perubahan-perubahan fisik ini akan mempengaruhi
status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau
kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik masalah kekurangan gizi atau
kelebihan gizi.
Masalah gizi pada remaja akan menimbulkan dampak negatif pada tingkat
kesehatan masyarakat, misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko melahirkan
bayi dengan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah), penurunan kesegaran jasmani.
Banyak penelitian telah membuktikan banyak sekali remaja yang mengalami
masalah gizi, masalah tersebut antara lain Anemia (berkisar 40%) dan IMT kurang
dari batas normal atau kurus (berkisar 30%). Banyak faktor yang bisa menyebabkan
hal ini terjadi, tetapi dengan mengetahui faktor-faktor penyebab yang
mempengaruhi hal ini dapat membantu upaya penanggulangannya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan pemberian nutrisi terhadap remaja?
2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan nutrisi?
3. Bagaimana keadaan gizi usia remaja?
4. Bagaimana kebutuhan akan zat gizi pada remaja?
5. Apa akibat dari kekurangan gizi pada usia remaja?
6. Bagaimana cara mengatasi masalah nutrisi pada usia remaja?
7. Bagaimana cara perhitungan energy?

C. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar ilmu dasar
keperawatan lima
2. Untuk mengetahui dan menambah wawasan mengenai peran zat gizi untuk usia
remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat
gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran
ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat
tenaga, pembangun dan zat pengatur.
Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada
satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain.
Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan
sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi
jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung
lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang
aktivitas sehari-hari.
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati
adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah
telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun
berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
seseorang.
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.
Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk
melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
B. Tujuan Pemberian Gizi Pada Remaja
Nutrisi yang tepat itu sangat penting untuk menjaga kesehatan anak remaja,
agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan normal. Pola makan yang sehat
juga membantu para remaja untuk berpartisipasi lebih aktif disekolah dan
beraktivitas fisik. Pada beberapa tahun belakangan ini, telah terjadi penurunan
status nutrisi dan kesehatan pada remaja. Hasil survey menunjukkan bahwa
setidaknya 18% anak-anak dan remaja yang berusia 6 - 10 tahun kelebihan berat
badan, dan setidaknya 11% remaja mengalami obesitas.
Ditahun 2000, lebih dari 16% populasi yang berusia dibawah 18 tahun hidup
dalam kemiskinan, dan sebagai akibatnya, seringkali mereka tidak mendapat nutrisi
yang cukup. Banyak remaja yang mengkonsumsi kalori lebih dari yang mereka
butuhkan, namun tidak mendapat jumlah nutrisi harian yang cukup seperti yang
direkomendasikan. Salah satu keprihatinan utama mengenai anak dan remaja
adalah level kalsium, potassium, serat, magnesium, dan vitamin E yang kurang
dalam diet mereka.
Pola makan yang tidak sehat akan mengarah pada status nutrisi yang buruk
dan bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan remaja. Penyebab ini
dirangking sebagai penyebab ketiga terbesar dari berbagai penyakit kronis yang
mempengaruhi sekitar 5% gadis remaja.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan dan nutrisi pada remaja
bukan cuma bisa mempengaruhi berat badannya, namun juga kesehatannya dimasa-
masa yang akan datang. Sebagai contoh, kekurangan kalsium pada usia remaja bisa
memperbesar resiko osteoporosis saat mereka dewasa. Yang terakhir, nutrisi pada
remaja itu penting karena sebagian remaja punya masalah kesehatan yang
membutuhkan diet khusus.
Diabetes type 1, atau juvenile diabetes, di diagnosa pada sebanyak 13.000
anak dalam satu tahun, seringkali selama mereka masih berusia remaja. Hal ini
membutuhkan pengontrolan faktor-faktor diet dan gaya hidup yang bisa jadi cukup
sulit untuk remaja yang sibuk. Yang mengejutkan, peningkatan dalam obesitas
berarti bahwa diabetes type 2, yang dimasa lalu hanya di alami oleh orang dewasa,
saat ini frekuensinya juga semakin meningkat pada remaja.
Jadi tujuannya adalah untuk memperbaiki keadaan gizi remaja serta
mengembangkan ilmu gizi dan memupuk kesadaran gizi bagi remaja. Sehingga
akan menyadari bahwa makanan yang cukup diperlukan oleh tubuh, cukup dalam
memilih makanan yang memenuhi kebutuhan tubuh, sehingga dalam kebiasaan
makan sehat.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keadaan Nutrisi


Gizi berasal dari bahasa Arab yaitu algizzai yang artinya sari pati makanan.
Pola makan seimbang memenuhi kebutuhan tersebut. Susu dikonsumsi sebagai
penyempurna. Pada dasarnya masalah gizi pada remaja timbul karena perilaku gizi
yang salah, yaitu ketidak seimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi
yang dianjurkan. Keadaan gizi atau status gizi merupakan gambaran apa yang
dikonsumsi dalam jangka waktu cukup lama. Keadaan gizi dapat berupa gizi
kurang, gizi baik atau normal, maupun gizi lebih.
Kekurangan salah satu zat gizi dapat menimbulkan konsekuensi berupa
penyakit defisiensi, dan bila kekurangan dalam batas marginal dapat menimbulkan
gangguan yang sifatnya lebih ringan atau menurunnya kemampuan fungsional.
Misalnya, kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan badan cepat merasa lelah.
Kekurangan zat besi dapat menurunkan prestasi kerja dan prestasi belajar, selain
turunnya ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi.
Sedangkan kekurangan vitamin A dapat menyebabkan terjadinya buta senja
dan turunnya ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terhadap keadaan nutrisi usia sekolah dan remaja:
1. Psikologis.
2. Lingkungan sekolah.
3. Konsumsi makanan tidak cukup.
4. Pilihan terhadap makanan.
5. Tidak ada nafsu makan.
D. Keadaan Gizi Remaja Saat Ini
Cukup banyak masalah yang berdampak negative terhadap kesehatan dan gizi
remaja. Di samping penyakit atau kondisi yang terbawa sejak lahir, penyalahgunaan
obat, kecanduan alcohol dan rokok, serta hubungan seksual terlalu dini, terbukti
menambah beban para remaja. Dalam beberapa hal masalah gizi remaja serupa, atau
merupakan kelanjutan dari masalah gizi pada usia anak, yaitu anemia defisiensi
besi, kelebihan dan kekuranga berat badan. Masalah ini berpangkal pada
“kegemaran yang tidak lazim, lupa makan, dan hamil”. Yang sedikit berbeda
adalah cara mengenai masalah tersebut.
Survei terhadap mahasiswi kedokteran di Prancis, misalkan, membuktikan
16% mahasiswi kehabisan cadangan besi, sementara 75% menderita kekurangan.
Penelitian lain terhadap masyarakat miskin di Kairo menunjukan asupan besi
sebagian besar remaja wanita tidak mencukupi kebutuhan harian yang dianjurkan.
Di Negara yag sedang berkembang, ekitar 27% remaja laki-laki dan 26% remaja
wanita menderita anemia; sementara di Negara maju angka tersebut hanya berada
pada bilangan 5% dan 7%. Secara garis besar, sebanyak 44% wanita di Negara
berkembang (10 negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia) mengalami anemia
kekurangan besi, sementara wanita hamil lebih besar lagi, yaitu 55%.
Salah satu masalah serius yang menghantui dunia kini adalah konsumsi
makanan olahan, seperti yang ditayangkan di iklan televise, secara berlebihan.
Makanan ini, meski dala iklan diklaim kaya akan vitamin dan mineral, sering terlalu
banyak gula serta lemak, di samping zat adiptif. Konsumsi makanan sejenis ini
secara berlebihan dapat berakibat kekurangan zat gizi lain. Kegemaran pada
makanan olahan yang mengandung zat ini menyebabkan remaja mengalami
perubahan patologis yang terlalu dini. Ada 3 alasan mengapa remaja diaktegorikan
rentan:
1. Percepatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energy dan zat
gizi yang lebih banyak.
2. Perubahan gaya hidup dan kebiasaan pangan menuntut penyesuaian masukan
energy dan zat gizi.
3. Kehamilan, keikutsertaan dalam olahraga, kecanduan alcohol dan obat,
meningkatkan kebutuhan energy dan zat gizi, di samping itu tidak sedikit
remaja yang makan secara berlebihan dan akhirnya mengalami obesitas.

Hampir 50% remaja terutama remaja yang lebih tua, tidak sarapan. Penelitian
lain membuktikan masih banyak remaja (89%) yang meyakini jika sarapan memang
penting. Namun, mereka yang sarapan secara teratur hanya 60%. Remaja putri
malah melewatkan dua kali waktu makan, dan lebih memilih kudapan. Sebagian
besar kudapan bukan hanya kalori, tetapi sedikit sekali mengandung zat gizi, selain
dapat mengganggu (menghilangkan) nafsu makan. “Makanan Sampah” (junk food)
kini semakin digemari oleh remaja, baik hanya sebagai kudapan maupun “makan
besar”. Disebut makanan sampah karena sangat sedikit (bahkan ada yang tidak
sama sekali) mengandung kalsium, besi, riboflavin, asam folat, vitamin A dan C;
sementara kandungan lemak jenuh, kolesterol, daN natrium tinggi. Proporsi lemak
sebagai penyedia kalori lebih dari 50% total kalori yang terkandung dalam makanan
itu.
Masalah lain yang mungkin dapat memengaruhi gizi ialah anoreksia.
Kelainan ini pada umumnya diderita oleh remaja putri, terbanyak pada usia 14 dan
18, karena “kegilaan” mereka hendak melangsingkan badan. Penderita kelainan ini
meningkat terus dari tahun ke tahun. Gambaran khasnya ialah kehilangan nafsu
makan yang berat dan parah yang disertai oleh amenore kronis. Anoreksia terkait
dengan penyusutan berat badan serta gangguan ovarium.

E. Kebutuhan Akan Zat Gizi Pada Usia Remaja


Penentuan kebutuhan akan zat gizi remaja secara umum didasarkan pada
Recommended Daily Allowances (RDA). Untuk praktisnya, RDA disusun
berdasarkan perkembangan kronologis, bukan kematangan. Karena itu, jika
konsumsi remaja kurang dari jumlah yang dianjurkan, tidak berarti kebutuhannya
belum tercukupi. Status gizi remaja harus dinilai secara perorangan, berdasarkan
data yang diperoleh dari pemeriksaan klinis, biokimiawi, antropometris, diet, serta
psikososial.
Banyaknya energy yang dibutuhkan remaja dapat diacu pada table RDA.
Secara garis besar, remaja putra memerlukan lebih banyak energy ketimbang
remaja putri. Pada usia 16 tahun remaja putera membutuhkan sekitar 3.470 kkal per
hari, dan menurun menjadi 2.900 pada usia 16-19 tahun. Kebutuhan remaja putri
memuncak pada usai 12 tahun (2.550 kkal), kemudian menurun menjadi 2.200 kkal
pada usia 18 tahun. Perhitungan ini didasarkan pada stadium perkembangan
fisiologis, bukan usia kronologis. Wait dkk. Menganjurkan penggunaan kkal per
cm tinggi badan sebagai penentu kebutuhan akan energy yang lebih baik. Perkiraan
energy untuk remaja putera berusia 11-18 tahun yaitu 13-23 kkal/cm, sementara
remaja putri dengan usia yang sama yaitu 10-19 kkal/cm.
Perhitungan besarnya kebutuhan akan protein berkaitan dengan pola tumbuh,
bukan usia kronologis. Untuk remaja putera, kisaran besarnya kebutuhan ini ialah
0.29-0.32 g/cm tinggi badan. Sementara remaja putri hanya 0.27-0.29 g/cm.
Kebutuhan akan semua jenis mineral juga meningkat. Penigkatan kebutuhan akan
besi dan kalsium paling mencolok karena kedua mineral ini merupakan komponen
penting pembentuk tulang dan otot. Asupan kalsium yang dianjurkan sebesar 800
mg (praremaja) sampai 1.200 mg remaja.
Peningkatan kebutuhan energy dan zat gizi sekaligus memerlukan tambahan
vitamin di atas kebutuhan semasa bayi dan anak. Asupan thiamin, riboflavin, dan
niacin harus ditambah sejajar dengan pertambahan energy. Vitamin ini diketahui
berperan dalam proses pelepasan energy dari karbohidrat. Percepatan sintesis
jaringan mengisyaratkan pertambahan asupan vitamin B6, B12 dan asam folat.
Ketiga jenis vitamin ini berperan dalam sintesis RNA dan DNA. Untuk menjaga
agar sel dan jaringan baru tidak cepat rusak, asupan vitamin A, C, dan E juga perlu
ditingkatkan disamping vitamin D karena perannya dalam proses pembentukan
tulang. Kadar vitamin C dalam serum remaja cukup rendah (Dep. Perranian AS,
Guenter dkk, 1986), terutama mereka yang mematangkan sayur dan buah serta
perokok.
F. Akibat Kekurangan Gizi Pada Usia Remaja
Remaja putri rentan mengalami kurang gizi pada periode puncak tumbuh
kembang yang kedua kurang asupan zat gizi karena pola makan yang salah,
pengaruh dari lingkungan pergaulan (ingin langsing). Remaja putri yang kurang
gizi tidak dapat mencapai status gizi yang optimal (kurus, pendek dan pertumbuhan
tulang tidak proporsional). Kurang zat besi dan gizi lain yang penting untuk tumbuh
kembang (zinc), sering sakit-sakitan. Dari kedua masalah status gizi remaja putri
tersebut, diperlukan upaya peningkatan status gizinya, karena remaja putri
membutuhkan zat gizi untuk tumbuh kembang yang optimal dan remaja putri perlu
suplementasi gizi guna meningkatkan status gizi dan kesehatannya.
Kurus merupakan masalah gizi yang umumnya lebih banyak ditemukan pada
remaja perempuan. “Kurus itu indah”, kata mereka dan sering merupakan moto bagi
remaja perempuan. Body image kurus itu indah dan cantik, merupakan salah satu
penyebab anorexia nervosa dan bulimia (keduanya merupakan keadaan buruk
akibat ingin kurus, sehingga menolak makan atau memuntahkan kembali makanan
yang telah dimakan), khususnya remaja perempuan. Masa remaja merupakan masa
yang sangat “rentan”.
Peningkatan kadar hormon estrogen dan progesterone pada remaja serta
hormon testosteron pada remaja pria terjadi dengan pesat pada masa ini. Jika tidak
diimbangi dengan perawatan tubuh yang baik, terutama kebersihan badan dan
asupan nutrisi yang baik, peningkatan kadar hormon tersebut bisa mengakibatkan
munculnya jerawat yang sering kali mengganggu penampilan. Hal ini terjadi akibat
kurangnya mengkonsumsi Vitamin A, C, dan E yang banyak terdapat pada bit,
sayur-sayuran, buah-buahan. Sering makan makanan gula dan makanan kaya akan
asam lemak seperti susu, mentega, minyak nabati. Disarankan untuk
mengkonsumsi makanan yang kaya serat. Remaja yang tak memperoleh cukup gizi
yang biasa didapati pada buah-buahan dan ikan lebih rentan terhadap kondisi paru-
paru yang dibawah normal, sakit asma, batuk dan sesak nafas. Remaja dengan
asupan dan terutama vitamin C paling rendah memiliki paru-paru yang lebih lemah
dibandingkan dengan yang lain. Remaja yang kurang mengkonsumsi vitamin E,
yang terdapat pada minyak nabati dan kacang, lebih mungkin untuk terserang asma.
Remaja yang mengkonsumsi kurang banyak buah dan lebih sedikit asam lemak
omega-3 lebih mungkin untuk terserang asma dan gangguan pernafasan seperti
tersengal-sengal.
Salah satu masalah gizi remaja yang berkaitan langsung dengan AKI adalah
anemia gizi. Anemia, dipengaruhi secara langsung oleh konsumsi makanan sehari-
hari yang kurang mengandung zat besi, selain faktor infeksi sebagai pemicunya.
Anemia, terjadi pula karena peningkatan kebutuhan pada tubuh seseorang seperti
pada saat menstruasi, kehamilan, melahirkan, sementara zat besi yang masuk
sedikit.

G. Cara Mengatasi Masalah Nutrisi Pada Usia Remaja


Peran pemerintah untuk program gizi masyarakat dengan tujuan
penanggulangan masalah gizi sudah banyak yang diluncurkan, antara lain:
1. Program Edukasi Gizi
Upaya-upaya pendidikan gizi pada remaja lebih efektif dilakukan di sekolah,
khususnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA), karena pada masa ini remaja mengalami pertumbuhan
cepat (growth spurt) setelah pertumbuhan pada masa balita.
2. Program Suplementasi Gizi
Suplementasi adalah penambahan satu atau lebih unsur pada keadaan yang
biasa terjadi. Suplementasi gizi adalah satu atau lebih zat gizi yang
ditambahkan ke konsumsi makanan sehari-hari dengan harapan terpenuhi
kebutuhan gizinya. Contoh: Melalui pemberian makanan maupun produk zat
gizi seperti pil besi dan vitamin A.
3. Program Fortifikasi Bahan Makanan
Fortifikasi adalah penambahan zat gizi tertentu ke dalam bahan makanan
dengan tujuan agar masyarakat terhindar dari defisiensi (kekurangan) zat gizi
tersebut. Biasanya, zat gizi yang ditambahkan adalah zat gizi mikro yang masih
menjadi masalah di Negara bersangkutan atau berisiko untuk menjadi masalah
jika tidak dilakukan fortifikasi pada bahan makanan tersebut. Contoh:
Umumnya bahan makanan itu adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi
oleh masyarakat dan iodium pada garam ataupun fortifikasi besi pada tepung.

H. Perhitungan Energi
Dasar perhitungan kebutuhan energi
1. Kandungan energi dalam makanan
Muatan energy di dalam makanan bergantung terutama pada kandungan
protein, lemak, karbohidrat dan alkoholnya. Komponen organic lain seperti
(asam organic) menyumbang hanya sejumlah kecil energy dibandingkan
sebagian besar makanan. Air tidak mengundang energy, melainkan bertindak
hanya sebagai zat pelarut. Karena itu, keterkandungan air di dalam makanan
akan memengaruhi kadar atau kepadatan kandungan energy makanan tesebut.
Jumlah energy dalam makanan atau zat gizi, dapat ditentukan dengan
jalan membakar makanan tersebut di dalam bom calorimeter. Panas yang
kemudian dihasilkan diukur. Tiap jenis makanan akan mengeluarkan sejumlah
energy tertentu jika dibakar atau dimetabolisasi oleh tubuh. Jumlah kalori yang
kemudian dihasilkan bergantung pada komposisi makanan tersebut (protein,
karbohidrat, dan lemak). Besarnya panas yang dihasilkan oleh tiap gram
sampel protein, karbohidrat, dan lemak murni berturut-turut adalah 5.65; 4.10;
dan 9.45 kkal (sementara alcohol 7.10 kkal).
Makanan yang telah dikonsumsi tidak seluruhnya dapat dicerna dan
diserap dengan sempurna. Karena itu penting sekali diketahui besaran
ketercernaan makanan tersebut. Pada keadaan normal, keterserapan protein,
lemak, dan karbohidrat berturut-turut sebesar 92%, 95%, dan 96%.
2. Kandungan energy total di dalam tubuh
Kandungan energy di dalam tubuh bergantung pada ukuran dan
komposisi tubuh, dan dapat dihitung berdasarkan ke dua hal tersebut.
Contohnya, komposisi tubuh kimia laki-laki yang mempunyai berat badan
normal 65 kg adalah kira-kira 11 kg protein, 9 kg lemak, 1 kg karbohidrat, 40
kg air, dan 4 kg mineral. Air dan mineral tidak mengandung energy.
Kandungan energy tubuh total dapat dihitung menjadi 150.000 kkal. Lebih
kurang setengah dari jumlah ini berada dalam struktur protein penting dalam
tubuh, sementara sisanya (sebagian besar lemak) merupakan cadangan yang
jika diperlukan dapat dimobilisasi. Pada penderita obese, cadangan ini sangat
besar. Begitu pula sebaliknya, pada orang kurus jumlah tersebut kecil.
3. Kebutuhan energi
Kebutuhan energy orang yang sehat dapat diartikan sebagai tingkat
asupan energy yang dapat dimobilisasi dari makanan yang akan
menyeimbangkan keluaran energy, ditambah dengan kebutuhan tambahan
untuk pertumbuhan, kehamilan dan penyusuan yaitu energy makanan yang
diperlukan untuk memelihara keadaan yang telah baik.
4. Basal Metabolic Rate (BMR)
Komponen terbesar dari keluaran energy harian adalah BMR. BMR
merupakan pengekspresian sejumlah kalori (kilokalori) yang dikeluarkan oleh
tubuh per meter persegi luas permukaan tubuh setiap jam (kal/jam/m2).
Laju metabolisme basal ini dapat diukur dengan calorimeter tak
langsung, dan diartikan sebagai energy yang dikeluarkan oleh seseorang
setelah 12-14 jam berpuasa (biasanya sepanjang malam) sementara secara
mental dan fisik beristirahat pada lingkungan bersuhu netral. BMR sering
diambil untuk mewakili tingkat minimal keluaran enrgi tiap hari, meski telah
diketahui BMR bukanlah nilai yang baku, dan bahwa energy yang keluar
selama tidur jatuh dibawah tingkat BMR. Banyak faktor (terbagi menjadi dua):
a. Faktor primer antara lain luas permukaan tubuh, jenis kelamin, usia,
komposisi tubuh, keaktifan kelenjar penghasil hormon (tiroid, insulin,
glucagon, hormone pertumbuhan, prolactin, dan MSH), serta kehamilan.
b. Faktor sekunder yang berpengaruh adalah status gizi, tidur, demam, dan
kegiatan. Cara menghitung BMR : cara perhitungan menggnakan factor
koreksi. Dengan cara ini, BMR diperkirakan melalui perkalian “factor”
(0.9-1.0) dengan berat badan selama 24 jam. Dengan demikian, BMR
untuk wanita 0.9 x BB (kg) x 24 jam; dan laki-laki 1.0 x BB (kg) x 24 jam.
Jika seorang laki-laki, misalkan, mempunyai berat badan 60 kg; maka
BMR laki-laki itu selama 24 jam ialah:
1 x 60 x 24 = 1440 kkal (bandingkan dengan hasil yang diperoleh jika
digunakan rumus Harris-Bennedict).
Table Rumus Harris-Bennedict
BMR = 66.42 + (13.75 BB) + (5 TB) – (6.78 U)
BMR = 655.1 + (9.65 BB) + (1.85 TB) – (4.68 U)

Keterangan:
BMR = Basal Metabolic Rate (kkal)
BB = Berat Badan (dalam kilogram). Berat yang digunakan bergantung
pada tujuan perhitungan energy ini, dapat berat normal, berat ideal,
atau berat sekarang.
TB = Tinggi badan (dalam meter)
U = Usia

Adapun hasil perhitunga BMR dengan persamaan Harris-Bennedict,


berdasarkan penelitian Daly, dkk. (1985) berlebih 10-15%, sementara hasil
riset Long dkk. (1979, 1980) menunjukan bahwa kelebihan tersebut hanya
sebesar 3%. Dengan demikian, hasil perhitungan dengan persamaan ini
harus dipotong sebanyak kelebihan tersebut (sebagian besar literature
menuliskan angka 10%).

Perhitungan Energi Remaja


Dalam menentukan besaran kebutuhan akan kalori, penentuan usia
ginekologik lebih penting ketimbang usia kronologis. Sebab, pertmbuhan linear
belum optimal sebelum mencapai usia ginekologik 4-5 tahun. Usia ginekologik
adalah jumlah tahun yang dihabiskan setelah seorang wanita mengalami menstruasi
pertama (menarche). Pertambahan berat badan dari usia ginekologik selama 1-5
tahun berturut-turut adalah 4.8 kg (tahun I), 2.8 kg (tahun II), 1.0 kg (tahun III),
dan), 0.8 kg (tahun IV-V).
Dengan demikian jika seorang wanita baru sekali datang haid, dan kemudian
hamil, maka selama kehamilannya dia bukan saja harus menambah berat badan
sebanyak 10-12 kg, tetapi juga harus ditambah dengan penambahan berat badan
pada usia ginekologik pertama; yaitu 3.8 kilogram (angka 3.8 diperoleh dari
perkalian 9.5/12 x 4.8 kg; 9.5 adalah masa hamil jila dihitung dengan kalender
bulanan, dan angka 12 adalah jumlah bulan dalam setahun). Bergantung pada berat
badan dan tinggi badan sebelum hamil, aturan pertambahan berat badan total
selama hamil ialah:
1. 12.5-18 kg jika BMI < 19.8,
2. 11.5-16 jika BMI = 19.8-26.0,
3. 7-11.5 manakala BMI > 26-29.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Remaja mempunyai kebutuhan nutrisi yang lebih, karena pada saat tersebut
terjadi pertumbuhan yang pesat dan terjadi perubahan kematangan fisiologis
sehubungan dengan timbulnya pubertas. Pertumbuhan pada masa remaja akan
mempengaruhi kebutuhan, absorbsi, serta cara penggunaan zat gizi.

Kebutuhan gizi pada remaja lebih tinggi daripada usia anak. Namun,
kebutuhan gizi pada remaja perempuan dan laki-laki akan jelas berbeda. Hal ini
disebabkan oleh adanya pertumbuhan yang pesat, kematangan seksual, perubahan
komposisi tubuh, mineralisasi tulang, dan perubahan aktifitas fisik. Kebutuhan
nutrisi yang meningkat pada masa remaja adalah energi, protein, kalsium, besi, dan
zinc.

Peran pemerintah untuk program gizi masyarakat dengan tujuan


penanggulangan masalah gizi sudah banyak yang diluncurkan, antara lain program
edukasi gizi, program suplementasi gizi melalui pemberian makanan maupun
produk zat gizi seperti pil besi dan vitamin A, program fortifikasi bahan makanan
seperti iodium pada garam ataupun fortifikasi besi pada tepung.

B. Saran
Suatu tim interdisiplin akan lebih berhasil untuk menyelesaikan masalah
remaja di klinik karena pendekatan tersebut akan menguntungkan, Dengan cara
tersebut akan-memberikan pelayanan medik sebagai keseluruhan, yaitu dapat
mensahkan dan membenarkan adanya pemeriksaan psikologik, menghindari
terjadinya masalah nutrisi yang akan merusak kesehatan, mempermudah dalam
memeriksa nutrisi remaja secara komprehensif dan akan menyempurnakan hasil
penelitian dengan dokumen dan catatan medik yang ada. Tim spesialis yang perlu
dibentuk adalah tim intervensi krisis, tim kekerasan fisik dan seksual, tim nutrisi
dan gangguan makan, tim penyalahgunaan obat terlarang dan tim untuk
menyelesaikan masalah stres dan bunuh diri.

DAFTAR PUSTAKA

http://indriana112.blogspot.co.id/
http://1001-diet.blogspot.co.id/2011/05/nutrisi-untuk-remaja.html
Arisman. (2003).Gizi dalam Daur Kehidupan: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta