Anda di halaman 1dari 7

PROBLEM POSSING DAN Deep Dialogue atau Critical Thinking(DD/CT) SEBAGAI

MODEL PEMBELAJARAN SOSIOKULTURAL

Teori sosiokultural atau kognitif sosial lahir dari beberapa ahli pembelajaran di
antaranya yaitu:
1. Santrock
Beliau mengemukakan bahwa dalam teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang
berperan penting dalam pembelajaran ialah faktor sosial dan kognitif. Faktor kognitif
yaitu harapan siswa untuk berhasil, sedangkan faktor sosial yaitu pengamatan siswa
terhadap perilaku pencapaian orang tua mereka.
2. Piaget
Beliau berpendapat bahwa belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya
pengetahuan berasal dari individu. Siswa berinteraksi dengan lingkungan sosial yaitu
teman sebayanya dibanding orang-orang yang lebih dewasa. Penentu utama terjadinya
belajar adalah individu yang bersangkutan (siswa) sedangkan lingkungan sosial
menjadi faktor sekunder. Keaktifan siswa menjadi penentu utama dan jaminan
kesuksesan belajar, sedangkan penataan kondisi hanya sekedar memudahkan belajar.
Perkembangan kognitif merupakan proses genetik yang diikuti adaptasi biologis dengan
lingkungan sehingga terjadi ekuilibrasi. Untuk mencapai ekuilibrasi dibutuhkan proses
adaptasi (asimilasi dan akomodasi).
3. Lev Vygotsky
Beliau menjelaskan bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa memberikan
sumbangan terhadap perkembangan keterampilan. Menurut Vygotsky, orang dewasa
yang sensitif memperhatikan kesiapan anak untuk tantangan baru, dan mereka
menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan
keterampilan baru.

4. Albert Bandura
Beliau menekankan bahwa pengaruh antara pengalaman lingkungan dan perilaku
sangat penting. Ketika siswa belajar, mereka secara kognitif dapat mewakili atau
mengubah pengalaman mereka. Selanjutnya, Bandura mengembangkan sebuah model
determinisme timbal-balik yang terdiri atas tiga faktor utama yaitu, perilaku,
lingkungan, dan orang/kognitif.
A. TUJUAN TEORI SOSIOKULTURAL
Teori sosiokultural atau kognitif sosial menekankan bagaimana seorang anak atau
pembelajar menyertakan kebudayaan ke dalam penalaran, interaksi sosial, dan pemahaman
diri mereka. Pembelajaran ini mengandung tujuan, yaitu membelajarkan siswa dengan
bekerja sama dan menghubungkan pengalaman siswa yang dahulu dengan pengalaman siswa
yang sekarang.
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial dan
untuk menentukan perangkat – perangkat pembelajarannya.

B. MODEL – MODEL PEMBELAJARAN YANG SESUAI DENGAN TEORI


BELAJAR SOSIOKULTURAL

Berikut adalah model – model pembelajaran yang sesuai dengan teori belajar
sosiokultural :
1. Model Pembelajaran Problem Possing
a. Pengantar
Kemajuan IPTEK yang pesat menuntut sumber daya manusia yang
berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia juga merupakan syarat untuk
mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan sumber
daya manusia tersebut adalah pendidikan yang berkualitas. Sebagai faktor
penentu keberhasilan pembangunan, maka kualitas sumber daya manusia harus
ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara
sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan
IPTEK. Mutu dan relefansi pendidikan pada tingkat pendidikan menengah di
Indonesia sangat memprihatinkan.
Dilain pihak kemajuan IPTEK menuntut peningkatan sumber daya
manusia yang siap menghadapi kemungkinan masa yang akan datang, dalam hal
ini lembaga pendidikanlah yang memegang peran utama. Tugas dan peranan
guru sebagai pendidik profesional sesungguhnya sangat kompleks, tidak
terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif didalam kelas, yang lazim
disebut pembelajaran.
b. Model Pembelajaran Problem Possing
Problem Possing merupakan istilah bahasa inggris dalam bahasa
indonesia pembentukan masalah. Pembentukan soal atau pembentukan masalah
mencakup dua masalah:
 Pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau dari
pengalaman siswa.
 Pembentukan soal dari soal lain yang sudah ada.
Menurut J. Riberu dalam Ad Rooijokker (1991) dalam problem possing ini cara
pendekatan yang dianjurkan adalah dari bermacam – macam segi, merumuskan
masalah lalu mencari pemecahan masalah melalui berbagai macam jalan. Garis
besar cara pendekatan ini adalah sebagai berikut:
 Penyadaran masalah
Pada awal pengajaran berusaha agar peserta didik saadar adanya suatu
masalah. Hal ini ditempuh dengan jalan:
Mengemukakan beberapa fakta yang menonjol sebagai gejala
dari suatu masalah.
Memanfaatkan berita – berita
Pengumpulan pendapat peserta didik
 Analisa masalah
Kalau peserta didik sadar akan adanya masalah, maka peserta didik akan
diajak untuk menelaah itu lebih lanjut,yang perlu diperhatikan ialah
aspek – aspek masalah, latar belakang sebab pelaku dan ruang serta
waktu disekitar masalah.
 Perumusan masalah
Sesudah masalah dianalisa umumnya peserta didik mulai mendapat
gambaran yang lebih menyeluruh dan terpadu tentang suatu masalah.
 Pemecahan masalah
Sesudah masalah dianalisa dan dirumuskan mulailah peserta didik
dirangsang untuk mencari pemecahan yang sebaik – baiknya.
 Perumusan pemecahan masalah
Sesudah alternatif pemecahan masalah dipilih, peserta didik dapat
merumuskan secara singkat cara pemecahan yang dipilihkan. Dengan
demikian penerapan model pembelajaran problem possing di sekolah
sebagai berikut:
Guru meminta siswa untuk membaca materi
Guru meminta siswa untuk menulis permasalahan dan siswa
yang bersangkutan harus dapat menyelesaikannya
Guru mengklarifikasikan jawaban dari permasalahan, tugas ini
dapat dilakukan secara kelompok
Guru memberikan tugas rumah secara individu
Pada tahap awal cukup memberikan tugas kepada siswa dalam model pembelajaran
problem possing dengan memilih salah satu cara sebagai berikut: 1). Siswa membuat
pertanyaan berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru (presolution possing). 2) siswa
memecah pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub – sub pertanyaan yang relevan dengan
pertanyaan guru, siswa membuat soal sejenis seperti yang dibuat oleh guru.
Pembelajaran dengan pendekatan problem possing tidak dapat dilepaskan dari kegiatan
memecahkan masalah atau soal, karena memecahkan masalah salah satu unsur utama dalam
pembelajaran.
Proses pemecahan masalah terletak pada diri pelajar, variabel dari luar hanya
merupakan instruksi verbal yang bersifat membantu atau membimbing pelajar unruk
memecahkan masalah.
Pendekatan problem possing ternyata sesuai dengan salah satu teori tentang berpikir
matematis. Berpikir matematis terdiri atas beberapa komponen, yaitu:
 Memahami masalah atau perkara
 Berusaha keluar dari kemacetan yang ada
 Menemukan kekeliruan yang ada
 Meminimumkan pembilangan
 Meminimumkan tulis menulis dalam perhitungan
 Gigih dalam mencari strategi pemecahan masalah
 Membentuk soal atau masalah

c. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran problem possing


Adapun beberapa kelemahan dari model pembelajaran ini adalah:
1. Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona
perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
2. Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan
potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya;
3. Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk
mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan
intramental;
4. Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan
deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang
dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah;
5. Proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih
merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau
makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di
dalamnya.
Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran ini yaitu terbatas pada perilaku
yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan
konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan
kemampuan berpikir sukar diamati.

2. Model Pembelajaran Deep Dialogue atau Crirical Thinking

Secara sederhana, dialog adalah percakapan antara orang-orang dan melalui dialog
tersebut dua masyarakat atau kelompok atau lebih yang memiliki pandangan yang berbeda
bertukar ide, informasi, dan pengalaman. Deep Dialogue atau dialog mendalam diartikan
sebagai percakapan antara orang-orang tadi atau dialog harus diwujudkan dalam hubungan
yang inter personal, saling keterbukaan, jujur, dan mengandalkan kebaikan. Sedangkan
Critical Thinking atau berpikir kritis adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan
mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan, dan
mengambil keputusan secara tepat dan melaksanan secara benar.

Prinsip dalam Deep Dialogue atau Critical Thinking antara lain adalah adanya
komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan
kesederajatan, dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi. Dengan Deep Dialogue atau
Critical Thinking, seseorang disamping mampu mengenali diri sendiri juga mengenal diri
orang lain. Selain itu, dengan dialog mendalam atau berpikir kritis, orang akan belajar
mengenal dunia lain di luar dunia dirinya dan selanjutnya mampu menghargai perbedaan-
perbedaan yang ada di dalam masyarakat.
 Kelebihan pembelajaran berbasis DD/CT
1. Dapat digunakan melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imjinatif,
menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta, dan melahirkan imajinatif atas ide-
ide lokal dan tradisional.
2. Merupakan pendekatan yang dapat dikolaborasikan dengan berbagai metode yang
ada dan dipergunakan oleh guru selama ini
3. Merupakan hal yang interen dalam kehidupan peserta didik, oleh karena itu dalam
kegiatan pembelajarannya, selalu berkaitan dengan kehidupan nyata, sehingga
memudahkan peserta didik untuk mengerti dan memahami manfaat dari isi
pembelajaran
4. Menekankan pada nilai, sikap, kepribadian, mental, emosional, dan spiritual
sehinggga peserta didik belajar dengan menyenangkan dan bergairah
5. Baik guru maupun peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dan
pengalaman karena dengan dialog mendalam dan berpikir kritis mampu memasuki
ranah intelektual, fisikal, sosial, mental, dan emosional seseorang
6. Membiasakan guru dan siswa untuk saling membelajarkan dan belajar hidup
dalam keberagaman

 Tahapan Penerapan Pembelajaran DD/CT


1. Kegiatan Awal
Mempersiapkan peserta didik berkonsentrasi sebelum mengikuti pembelajaran
2. Kegiatan Inti
 Tahap Pertama
Guru mengggali informasi dan diskusi
 Tahap Kedua
Umpan baik dari peserta didik setelah berdialog
3. Kegiatan Akhir
Tahap pengambilan kesimpulan sekaligus penghargaan atas aktivitas peserta didik
(penilaian hasil belajar)1