Anda di halaman 1dari 15

PHILOSOPHICAL THEORY

DALAM KEPERAWATAN

Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi dengan metode Discovery Learning
MK : Critical Thinking Pada Teori Dan Model Keperawatan

Oleh :

KELOMPOK 1
Hammad (131141002)
Diah Septa Gitawati (131141034)
Pepin Nahariani (131141036)
Ni Putu Sumartini (131141045)
Muhtar (131141055)
Theresia Anita Pramesti (131141057)

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2011

Philosophical Theory | 1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disiplin ilmu keperawatan merupakan landasan bagi seorang perawat dalam
melakukan praktik keperawatan profesional. Landasan dasar perawat dalam berfikir
logis, rasional dan juga kritis dan berdasar pada filosofi, model dan teori
keperawatan yang berikatan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Hubungan filosofi, model dan teori keperawatan merupakan struktur konsep
dasar yang menggambarkan pola pengetahuan dasar keperawatan. Pengertian dasar
ilmu keperawatan dikenal sebagai pola dasar pengetahuan yang struktur
komponennya diidekan berdasar ilmu filosofi dan pemahaman tentang
metaparadigma. Batasan metaparadigma keperawatan adalah konsep dari manusia,
lingkungan, keasehatan dan keperawatan. Metaparadigma didefinisikan konsep
paling abstrak dalam penyusunan konsep utama disiplin ilmu keperawatan. Struktur
filosofi keperawatan merupakan pengertian umum keperawatan dan menggambar-
kan pemikiran fenomena keperawatan melalui penyajian rasional dan logis.
Filosofi merupakan kerja teoritikal yang menggambarkan satu atau lebih
konsep metaparadigma yang meliputi manusia, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan dan dasar ilmu filosofikal itu sendiri. Dalam pembahasan makalah ini
menggambarkan konsep filosofikal teori keperawatan yang harapannya dapat
dipahami dan diterapkan dalam pengembangan disiplin ilmu keperawatan.
B. Tujuan penyusunan makalah
1. Tujuan Umum
Secara umum penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan
konsep filosofi keperawatan
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan tinjauan umum tentang filosofi keperawatan
b. Menjelaskan hubungan filosofi dengan paradigma, konsep, model dan
teori keperawatan
c. Menjelaskan teori filosofikal keperawatan dari Florence Nightingale
d. Menjelaskan teori filosofikal keperawatan dari Jean Watson
e. Menjelaskan teori filosofikal keperawatan dari Banner

Philosophical Theory | 1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Filosofi Keperawatan

Filosofi keperawatan sebagai metaparadigma yang memberikan pemahaman


yang luas dalam menerapkan disiplin ilmu keperawatan dan bagaimana
pengembangan aplikasi keperawatan. Strategi filosofikal dibentuk berdasar atas
dasar untuk selalu mengembangkan dan memperbaiki layanan keperawatan
profesional yang berdasar pada pemikiran kritis, rasional dan logis dalam
memahami paradigma keperawatan dan indikator keberhasilan tergantung pada
kemampuannya mensintesis berbagai ilmu tersebut dan aplikasinya ke dalam suatu
bentuk pelayanan profesional.
Filosofi keperawatan dibangun atas dasar pengetahuan yang menguraikan
logika, etika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Filosofi juga merupakan kajian
tentang penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingin-tahuan
tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasarkan pada alasan logis daripada metoda
empiris. Tujuan filosofikal keperawatan adalah untuk menyajikan suatu gambaran
pengetahuan ilmiah yang diformalisasikan, termasuk didalamnya adalah suatu
aplikasi prinsip logis untuk mempertanyakan tentang gambaran ilmiah keperawatan.
Hal ini digambarkan oleh Filosofikal Nightingale dalam mengenalkan keperawatan
berawal dari pertanyaan apakah keperawatan? Bagaimanakah keperawatan
dilaksanakan?. Keperawatan merupakan profesi yang mengidentifikasi dirinya
sebagai profesi yang humanistik, dan memberikan perhatian besar pada falsafah
dasar yang berfokus pada individulitas dan keyakinan bahwa kegiatan manusia
merupakan sesuatu yang dapat dilakukan secara bebas. Pilihan seseorang merupakan
hak menentukan keinginan diri sebagai individu yang aktif. Namun demikian
batasan nursing filosofi masih hanya sebatas paradigma, yang masih memerlukan
pengembangan dan memerlukan pemikiran teoritikal keperawatan dalam penerapan
praktik keperawatan.
Filosofi keperawatan hampir secara universal memiliki keyakinan tentang
manusia yang holistik. Pandangan tentang manusia yang holistik menekankan
bahwa manusia memiliki integrasi yang tidak memungkinkan analisis tentang

Philosophical Theory | 2
manusia dipilah-pilah menjadi sesuatu bagian kecil dan kemudian menyatukannya
kembali. Oleh karena itu, manusia perlu dikaji secara bersamaan pada berbagai
tingkatan dan perspektif yaitu status fisik, psikologis, pengetahuan diri, tujuan
hidup, lingkungan sekelilingnya dan sebagainya.
Tabel berikut ini menyajikan daftar elemen dari struktur tingkat ilmu
pengetahuan dan masing – masing contoh pada setiap level ilmu pengetahuan
keperawatan. Tabel ini juga menggambarkan bagaimanan metaparadigma adalah
konsep paling abstrak yang merupakan konsep sentral dari disiplin ilmu
pengetahuan (orang, lingkungan, sehat, keperawatan) dan konsep ini didefinisikan
dalam setiap model konseptual yang dikembangkan dari falsafah keperawatan.

Tabel : Level struktur ilmu pengetahuan dan contohnya

Level Struktur Contoh


Metaparadigma Human beings, environment- health, nursing
(Manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan)
Filsafat Nightingale
(Florence Ningtingale)
Model Konseptual Neuman Systems Model
(Model Sistem Neuman)
Teori dasar Optimal Client SYstem Stability
(Stabilitas system klien optimal)
Teori Flexible line of defense moderates Optimal Client
System Stability
(Flexibilitas Stabilitas system klien optimal)
Middle Range Theory flexible line of defense moderates stress levels
for Optimal Client System Stability in women
who are enacting multlPle roles (Gigliotti, 1999)
(Flexibilitas Stabilitas system klien optimal pada
seseorang yang mengalami keterbatasan)
Contributions to table data from Fawcett. J. (2005). Analysis and evaluation of contemporary
nursing knowledge, :Conceptual Models and Theories Nursing (Pholadelpia, FA Davis)

2. Hubungan Filosofi dengan paradigma, konsep, model dan teori keperawatan

Paradigma merupakan pola atau skema yang mencoba mengorganisasikan


atau menerangkan suatu proses. Paradigma juga disebut sebagai tahap kedua
perkembangan ilmu pengetahuan (Kuhn, 1962) dimana pada tahap ini pencarian
jalan keluar permasalahan yang rasional dilakukan berdasarkan asumsi metodologis

Philosophical Theory | 3
dan metafisik untuk memahami bagaimana bagian-bagian dari alam semesta
melakukan kegiatan dan bagaimana cara mempelajari hal tersebut. Paradigma
memiliki arti pengetahuan umum dimana didalamnya terdapat proses ilmiah umum
yang secara historis mencerminkan berbagai keberhasilan dalam suatu disiplin. Para
ilmuwan ini berpendapat bahwa paradigma menyajikan kesepakatan bersama antar
ilmuwan dalam suatu disiplin tentang konsep atau beberapa konsep yang akan
mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dalam disiplin tersebut. Paradigma ini
terdiri dari empat komponen yaitu manusia, sehat dan kesehatan, masyarakat dan
lingkungan, serta komponen keperawatan.

Manusia

Keperawatan meyakini dan menekankan dalam setiap kegiatan pelayanan


keperawatannya bahwa manusia merupakan individu yang layak diperlakukan
secara terhormat, dihargai keunikannya berdasarkan individualitas, dalam berbagai
situasi, kondisi, dan sistem yang dapat mengancam kehormatan dan sifat
kemanusiaannya. Perspektif keperawatan menjelaskan bahwa manusia merupakan
pribadi-pribadi dan bukan obyek. Konseptualitas keperawatan tentang manusia
dapat dibuktikan melalui model-model keperawatan tentang kemanusiaan,
penghargaan terhadap manusia, dan perasaan sebagai manusia, yang telah berlaku
sejak lama. Meskipun demikian, mengkonseptualisasikan manusia sebagai suatu
sumber energi atau beberapa set sistem perilaku, atau memperlakukan pikiran dan
perasaan manusia sebagai lingkungan internal dapat menimbulkan keraguan
keperawatan untuk menerangkan tentang manusia secara jelas.

Sehat dan Kesehatan

Definisi sehat & kesehatan telah berubah dari kondisi seseorang yang bebas
penyakit menjadi kondisi yang mampu mempertahankan individu untuk berfungsi
secara konsisten, stabil dan seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-hari
melalui interaksi positif dengan lingkungan. Kesehatan dipandang juga sebagai
sebuah kisaran antara sehat dan sakit dimana individu memiliki suatu nilai yang
berharga tentang kesehatan dan bukan semata-mata suatu fenomena empiris tentang
kondisi seseorang.

Philosophical Theory | 4
Komponen paradigma tentang sehat & kesehatan dapat berkembang menjadi
suatu pemahaman tentang “terciptanya suatu kondisi fisik dan psikologis seseorang
yang bebas dari tanda dan keluhan akibat terjadinya masalah kesehatan, dimana
orang tersebut dapat tetap memperlihatkan kinerja aktif, dinamis, dan efektif serta
kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap setiap tantangan dan ancaman yang
datang baik dari dalam dirinya sendiri maupun lingkungannya, dan berkemampuan
untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan fisik, psikologis, sosial dan
spiritualnya secara seimbang melalui upaya aktualisasi diri yang positif.

Masyarakat dan Lingkungan

Masyarakat dan lingkungan merupakan komponen dalam paradigma


keperawatan dimana setiap individu berinteraksi. Masyarakat dan lingkungan juga
dianggap sebagai sumber terjadinya keadaan sakit (tidak sehat) dan merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan atau kondisi sakit seseorang. Orem
(Marriner-Tomey, 1994) mengidentifikasi bahwa hubungan antara individu dan
lingkungannya serta kemampuan individu untuk mempertahankan kesehatan dirinya
dapat dipenagruhi oleh lingkungan dimana individu itu berada. Individu selalu
berada pada lingkungan fisik, psikologis, dan sosial.
Fokus perhatian terhadap interaksi manusia dan lingkungannya dalam teori
keperawatan dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu teori keperawatan yang
berfokus parsial dan teori keperawatan yang berfokus total. Pada fokus parsial,
perawat berperan sebagai pengganti, dimana peran perawat diperlukan pada saat
klien tidak mampu melakukan kegiatannya. Teori ini beranggapan bahwa perawat
bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebutuhan harian klien sampai mereka
dapat pulih kembali dan mampu bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup
selanjutnya (Marriner-Tomey, 1994). Aplikasi teori ini dapat dilihat dalam teori
Orem, Henderson, dan Orlando, dimana ketiga ahli teori ini sepakat bahwa peran
perawat merupakan peran pengganti ketika klien tidak mampu, tidak mau atau tidak
tahu merawat diri dalam menjalankan fungsi interaksinya yang seimbang dengan
lingkungan, yang dapat disebabkan oleh faktor perkembangan, faktor ketidak
mampuan, faktor keterbatasan lingkungan, faktor respons berlawanan terhadap
interaksi lingkungan dan faktor ketidakmampuan berkomunikasi.

Philosophical Theory | 5
Teori yang berfokus total dikemukakan melalui dukungan beberapa ahli teori
keperawatan yaitu Nightingale, Levine, Rogers, Roy, Neuman, dan Johnson
(Marriner-Tomey, 1994) yang memandang bahwa lingkungan merupakan kondisi
eksternal sebagai sumber ventilasi, kehangatan, kebisingan, dan pencahayaan
dimana perawat dapat mengatur dan memanipulasinya dalam rangka membantu
klien memulihkan diri. Dengan demikian, kegiatan keperawatan meliputi antara lain
menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dan
pemulihan kesehatan seorang klien.
Teori ini juga menekankan bahwa keperawatan seyogyanya berperan aktif
dalam memfasilitasi interaksi antara individu dan lingkungannya melalui upaya
menciptakan lingkungan fisik yang kondusif agar kondisi kesehatan dapat tercapai.
Selain itu, berperan aktif melalui hubungan interaksi klien dan lingkungan yang
tidak terpisahkan dan amat ekstensif (komplementer, helisi, dan resonansi). Juga,
melalui upaya mempertahankan dan meningkatkan kemampuan proses adaptasi
klien terhadap berbagai stimulus. Disamping itu, melalui kemampuan meningkatkan
sistem terbuka klien secara intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal, dan
memfasilitasi sistem perilaku yang positif rnelalui peningkatan fungsi - fungsi
interrelasi dan interdependensi subsistem yang terdapat dalam setiap individu.

Keperawatan

Menurut Henderson, keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan


kepada individu baik sehat maupun sakit, yang dibutuhkan sampai pulih kembali
atau menjelang ajal, dimana individu tidak mampu melaksanakan kegiatan
kehidupannya akibat ketidak mampuan, ketidak mauan, dan ketidak-tahuan
(Marriner-Tomey, 1994). Asuhan keperawatan adalah pelayanan yang diberikan
kepada klien (individu atau kelompok) yang sedang mengalami stress kesehatan -
stress penyakit dimana situasi kehidupan yang seimbang menjadi terganggu dan
menghasilkan tekanan (biologis, psikologis, dan sosial) serta ketidak-nyamanan.
Keperawatan dapat dipandang sebagi suatu proses kegiatan dan juga sebagai
suatu keluaran kegiatan, tergantung dari cara memandang dan perspektif pandangan.
Sebagai proses serangkaian kegiatan, maka keperawatan perlu mengorganisasikan,
mengatur, mengkoordinasikan serta mengarahkan berbagai sumber (termasuk klien

Philosophical Theory | 6
didalamnya) untuk digunakan seefektif dan efisien mungkin dalam rangka
memenuhi kebutuhan klien. Selain itu, untuk mengatasi masalah-masalah aktual dan
potensial klien melalui suatu bentuk pelayanan keperawatan yang menekankan pada
pengadaan fasilitasi interaksi klien dan lingkungannya.
Keperawatan sering diartikan pula sebagai serangkaian kegiatan atau fungsi
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, banyak pihak yang
merasa belum jelas, apakah fungsi-fungsi, proses dan tujuan keperawatan ini,
apakah keperawatan hanya memberikan perawatan, ataukah sejenis penyembuhan,
apa indikasi keperawatan, apakah keperawatan berfokus pada orang atau lingkungan
atau interaksi antara orang dan lingkungan? Untuk menjawab hal – hal ini telah
banyak diperkenalkan model-model keperawatan. Dan banyak tujuan keperawatan
terkait dengan upaya mempertahankan keseimbangan, upaya adaptasi, merancang
pola kehidupan kembali dimana kesemuanya dilakukan dalam rangka pulihnya
situasi sehat dan kesehatan.

3. Teori Filosofikal Keperawatan dari Florence Nightingale

Teori Nightingale mengutamakan fokus pada lingkungan dalam


penerapannya. Walaupun secara pernyataan tidak pernah menyebutkan lingkungan,
ia menggambarkan lingkungan dengan mendefinisikan tentang ventilasi,
kehangatan, cahaya / penerangan, makanan, kebersihan dan suara. Nightingale tidak
secara khusus membedakan lingkungan pasien dengan aspek fisik, psikologis dan
sosial, tetapi dari tulisan-tulisan yang ada, ia memberi penekanan pada lingkungan
fisik. Lingkungan sehat dilihat dalam situasi rumah sakit, rumah tinggal dan kondisi
fisik pemukiman.
Lima komponen penting lingkungan yang sehat menurut Nightingale meliputi
udara bersih, air bersih, pembuangan air yang efisien, kebersihan ruangan dan
pencahayaan. Nightingale menekankan pada pemberian ventilasi yang baik bagi
proses penyembuhan pasien. Perawat diingatkan untuk "mempertahankan
pemberian udara pada pasien sebersih udara eksternal, tanpa membuatnya
kedinginan" (Nightingale, 1969 ). Pencahayaan diidentifikasi sebagai pemberian
cahaya matahari secara langsung yang merupakan kebutuhan penting bagi pasien. Ia
mengatakan "cahaya memiliki pengaruh yang cukup nyata dan dapat dirasakan pada

Philosophical Theory | 7
tubuh manusia" (Nightingale, 1969 ). Untuk memperoleh keuntungan dari sinar
matahari, perawat diminta untuk memindahkan dan memposisikan pasien agar
terkena cahaya matahari. Dalam pemberian ventilasi yang baik, perawat perlu
mengkaji suhu tubuh pasien dengan cara mempalpasi ekstremitas, agar jangan
sampai pasien kedinginan atau kepanasan. Perawat disarankan untuk memanipulasi
lingkungan secara berkelanjutan untuk mempertahankan ventilasi dan kehangatan
pada pasien dengan pemberian pemanas, membuka jendela dan pemberian posisi
yang tepat pada pasien.
Kebersihan ditujukan kepada pasien, perawat dan lingkungan fisik.
Lingkungan yang kotor (pada lantai, karpet, dinding dan bed linen) adalah sumber
infeksi. Walaupun ruangan memiliki ventilasi yang baik, materi organik dapat
membuat lingkungan menjadi kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan pembuang ekskresi
dan kotoran tubuh yang baik untuk mencegah kontaminasi terhadap lingkungan.
Selain itu, pasien perlu dimandikan secara teratur setiap hari. Perawat juga harus
mandi setiap hari, mengenakan pakaian yang bersih dan sering mencuci tangan.
Konsep ini bukan hanya ditujukan pada perawatan individual pasien, tetapi
ditujukan juga bagi perbaikan status kesehatan di pemukiman kumuh yang padat
dimana pembuangan kotoran tidak adekuat dan akses mendapatkan air bersih
terbatas (Nightingale, 1969).
Kebutuhan akan lingkungan yang tenang juga perlu dikaji dan diintervesi
oleh perawat. Suara berisik yang dihasilkan oleh aktifitas fisik di ruangan perlu
dihindari karena dapat mengganggu pasien. Selain itu, perawat juga perlu
memperhatikan nutrisi / makanan pasien. Perawat perlu mengkaji pemasukan
makanan, jadwal makan dan pengaruhnya terhadap pasien. Nightingale percaya
bahwa pasien dengan penyakit kronis membutuhkan nutrisi yang lebih banyak dan
perawat yang pintar adalah perawat yang berhasil memenuhi kebutuhan nutrisi
pasien.
Selanjutnya, komponen lainnya yang didefinisikan oleh teori Nightingale
adalah petty management (Nightingale, 1969), dimana perawat memiliki kendali
terhadap lingkungan secara fisik dan administratif. Perawat perlu mengontrol
lingkungan untuk melindungi pasien dari ancaman fisik dan psikologis. Nightingale
juga yakin bahwa perawat akan tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan

Philosophical Theory | 8
walaupun ia tidak ada di ruangan, karena ia telah menyerahkan tanggung jawab
kepada orang lain yang bekerja disana saat ia tidak ada di tempat, hal ini
menunjukkan sebenarnya proses pendelegasian sudah ada pada jaman Nightingale.

4. Teori Filosofikal Keperawatan dari Jean Watson

Watson (1979) melakukan pendekatan yang unik dalam filosofi keperawatan


untuk pertama kalinya, yaitu dalam karyanya “Nursing: The Philosophy and Science
of Caring”. Dalam karyanya, yang dikenal sebagai ilmu manusia, ia telah
menyatakan untuk kembali ke nilai keperawatan sebelumnya, yang menekankan
pada aspek kepedulian (Watson, 1988). Dalam filsafat keilmuan menurut Watson,
dia menetapkan posisi keilmuan bagi manusia dalam hubungan antar manusia dari
sudut pandang keperawatan dan menentukan sepuluh faktor kreatif untuk memandu
penerapannya dalam praktek keperawatan. Caring antar personal adalah pendekatan
yang diusulkan untuk mencapai keterhubungan di mana perawat dan pasien berubah
secara bersama-sama. Penekanan pada harmoni dari kesatuan dalam tubuh, pikiran
dan jiwa, serta penyakit dipandang sebagai ketidakharmonisan, sehingga perawat
dan pasien harus berpartisipasi secara bersama-sama sampai tercapai keharmonisan
antara tubuh, pikiran dan jiwa. Teori Watson telah digunakan untuk mendukung
konseptualisasi praktek umum (Chambers, 1998) dan praktik keperawatan jiwa
(Tilley, 1995) dan yang terkini adalah untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan
rheumatoid arthritis (Nyman & Lutzen, 1999).

5. Teori Filosofikal Keperawatan dari Banner

Benner (1984) memberikan pandangan filosofis mengenai praktek


keperawatan yang berfokus pada bagaimana pengetahuan praktek diperoleh dan
bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, karya Benner
dapat dipandang sebagai personal knowing (pembelajaran pribadi) menggunakan
pola Carper (1978). Penelitian interpretatif beliau mengarah pada gambaran
kemajuan perawat dari orang baru menjadi ahli keperawatan dan kesadaran
pentingnya caring dalam keperawatan. Karya Benner telah digunakan untuk
menuntun pengujian inovasi dan perubahan praktek keperawatan. Sebagai contoh,
filosofi Benner dipakai untuk menguji ancaman terhadap kelangsungan keperawatan

Philosophical Theory | 9
pada individual yang kritis (Walsh, 1997). Sementara itu Alcock (1996)
menggunakan karya Benner untuk mempelajari praktek keperawatan tingkat lanjut
dari sudut pandang administratif. Hal serupa dilakukan oleh Dunn (1997) yang
menggunakan karya Benner untuk menguji praktek keperawatan lanjut di literatur
keperawatan. Baru-baru ini, Benner, Hooper-Kyriakidis, dan Stannard (1999)
mempublikasikan buku dengan judul Clinical Wisdom and Intervention in Critical
Care : A Thinking in Action Approach.

Philosophical Theory | 10
BAB III
ANALISIS KELOMPOK

Berdasarkan uraian pada tinjauan teroritis diketahui bahwa penerapan teori


keperawatan dalam praktek tergantung pada pengetahuan yang diperoleh dan
dikembangkan oleh tokoh-tokoh perawat melalui karya teoritikal dari disiplin ilmu
keperawatan, serta bagaimana pemahaman perawat terhadap filosofi, model dan teori
keperawatan yang berhubungan satu sama lain. Ditinjau dari kerangka pikir secara
filosofis diketahui bahwa teori keperawatan merupakan pengembangan yang lebih
konkrit dari konsep model keperawatan yang masih bersifat abstrak, namun demikian
konseptual model dan teori keperawatan merupakan kerangka acuan dalam
pengembangan praktek keperawatan.
Filsafat keperawatan juga merupakan telaahan yang ingin menjawab berbagai
persoalan secara mendalam tentang hakikat keperawatan, dengan kata lain filsafat
keperawatan adalah usaha untuk mengetahui bagaimana keperawatan itu sendiri. Para
filsuf keperawatan telah melakukan penelaahan, penalaran dan mengemukakan berbagai
argumentasi-argumentasi mendasar tentang keperawatan.
Ditinjau dari bidang kajian filsafat, secara ontology telah dikemukakan oleh para
filsuf keperawatan mengenai apa itu perawat, apakah keperawatan itu dan pertanyaan-
pertanyaan lainya yang ingin mengungkapkan tentang asal usul keperawatan, dari mana
dan kearah mana keperawatan akan dikembangkan. Dari pertanyaan-pertanyaan secara
ontology itulah sehingga muncul pengertian keperawatan menurut Henderson, yaitu
”keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu baik sehat
maupun sakit, yang dibutuhkan sampai pulih kembali atau menjelang ajal, dimana
individu tidak mampu melaksanakan kegiatan kehidupannya akibat ketidak mampuan,
ketidak mauan, dan ketidak-tahuan” (Marriner-Tomey, 1994).
Secara epistemology, juga telah dikembangkan tentang bagaimana pengetahuan
keperawatan itu diperoleh, baik melalui akal pikiran, pengalaman panca indera maupun
ide-ide termasuk juga pemikiran tentang validitas (kebenaran) akan pengetahuan
keperawatan. sebagai contoh pengembangan filosofi keperawatan Florence berawal dari
kedatangan Florence yang berjalan kaki membawa lentera selalu dinantikan para pasien,
memelihara kebersihan, mengatur ventilasi serta menjaga suhu lingkungan. Yang

Philosophical Theory | 11
kemudian setelah dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan keperawatan menjadi
teori filosofikal keperawatan dari Florence Nightingale yang mengutamakan fokus pada
lingkungan dalam penerapannya.
Kemudian secara aksiology, nilai-nilai keperawatan telah dikembangkan
kedalam tataran nyata praktik keperawatan. seperti Watson yang mengembangkan nilai
keperawatan yang menekankan pada aspek kepedulian, yang dalam praktek
keperawatan lebih dikenal dengan caring. Caring antar personal adalah pendekatan yang
diusulkan untuk mencapai keterhubungan di mana perawat dan pasien berubah secara
bersama-sama. Penekanan pada harmoni dari kesatuan dalam tubuh, pikiran dan jiwa,
serta penyakit dipandang sebagai ketidakharmonisan, sehingga perawat dan pasien
harus berpartisipasi secara bersama-sama sampai tercapai keharmonisan antara tubuh,
pikiran dan jiwa.
Dari kajian tersebut diketahi bahwa ilmu keperawatan pada dasarnya
mempunyai landasan ontology, epistemology dan aksiology dalam perkembangannya
bahkan ketiga aspek tersebut telah jauh lebih berkembang dan dilaksanakan secara
konsekuen dalam praktek keperawatan. Ilmu keperawatan beserta hasil-hasil pemikiran
para ahli secara umum menggambarkan pola empiris atau ilmu dari keperawatan. Para
ahli ini telah mengorganisir kerangka substansi untuk pendekatan praktek keperawatan.
Mereka mengorganisir pemikiran perawat dengan memberikan struktur berfikir kritis
untuk menuntun rasionalisasi yang diperlukan untuk praktek keperawatan professional.

Philosophical Theory | 12
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada tinjauan teoritis maupun analisis kelompok dapat


disimpulkan bahwa bahwa ilmu keperawatan pada dasarnya mempunyai landasan
ontology, epistemology dan aksiology dalam perkembangannya bahkan ketiga aspek
tersebut telah jauh lebih berkembang dan dilaksanakan secara konsekuen dalam praktek
keperawatan. Ilmu keperawatan beserta hasil-hasil pemikiran para ahli secara umum
menggambarkan pola empiris atau ilmu dari keperawatan. Para ahli ini telah
mengorganisir kerangka substansi untuk pendekatan praktek keperawatan. Mereka
mengorganisir pemikiran perawat dengan memberikan struktur berfikir kritis untuk
menuntun rasionalisasi yang diperlukan untuk praktek keperawatan professional.

Philosophical Theory | 13
DAFTAR PUSTAKA

Chin P.L.& Kramer. 1997. Theory and Nursing : A System Approach. Sint Louis:
Mosby Company.

George J.B. 2000. Nursing Theories. Toronto : Appleton & Lange.

Marriner-Tomey & Alligood (2006). Nursing theorists and their works. 6th
Ed.St.Louis:Mosby Elsevier, Inc

Mercer, Ramona T. 1995. Becoming a Mother: Research from Rubin to the Present.
NY: Springer Publishers. (Chapter 1 includes a complete description of
theory of maternal role attainment)

Mercer's Theory of Maternal Role Attainment. In M.R. Alligood & A. Marriner-Tomey,


Nursing Theory: Utilization and Application, 2nd edition.

Ramona T Mercer , Lorraine O Walker (2006). A review of nursing interventions to


foster becoming a mother. JOGNN, 35, 568-582; 2006. DOI:
10.1111/J.1552-6909.2006.00080.x (c) 2006, AWHONN, the

Reed, P.G, Shearer, N.C., & Nicoll, L. H. (2004). Perspectives on nursing theory. 4th
Ed.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Tomey, A.M., & Alligood, M.R. 1998. Nursing Theorists and their Work, 4th Edition.
St.Louis: Mosby. (Chapter 27--Ramona T. Mercer: Maternal Role
Attainment, pps 407-422) Meighan, M. (In Press) .

Tomey, M.A. 1994. Nursing Theorist and Their Work. St. Louis : Mosby Company

Philosophical Theory | 14