Anda di halaman 1dari 10

13 April 2020 Commented [Dhovander1]: Yang ini gak di spasi

Angin pagi berhembus menyusuri lorong jalan kecil di perkotaan dengan sejuknya,
menabrak pilar-pilar dan gedung yang menjulang tinggi lagi kokoh lalu memecah untuk mencari
arah baru untuk ditelusuri. Kebanyakan orang mencari segarnya angin pagi dengan berolahraga,
sekedar berjalan pagi, ataupun dengan bersantai sambil menikmati sejuknya angin pagi ditemani
embun yang tidak pernah absen saat pagi hari. Namun itu tidak dapat dirasakan oleh Teo,
seorang pemuda 17 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah atas. Ia masih terbaring
namun sadar sepenuhnya di kasurnya. Sambil memasangVirtual glasses di kepalanya, ia Commented [Dhovander2]: Tiada spasi

memejamkan matanya sejenak—berharap tidak ada sesuatu yang buruk akan terjadi nantinya.
Dengan ragu ia menekan tombol yang berada di sisi kacamata tersebut. “Pip!” suara itu
terdengar jelas di telinga Teo yang kemudian membuatnya bergetar cemas. Suara itu terdengar
semakin cepat berbunyi, menandakan countdown untuknya berpindah dunia. Hingga akhirnya
nada panjang berbunyi, kemudian diikuti dengung di telinganya, kini Teo tidak dapat melihat
apapun selain cahaya putih.

Perlahan cahaya putih tadi mulai membentuk titik-titik, lalu berubah menjadi garis, lalu
membentuk objek disertai warna. Lalu ia dapat melihat batuan, pohon, tanah, dan objek alam lain
disekitarnya. Setelah itu, ia rasakan kaku di tubuhnya perlahan menghilang, tubuhnya kini dapat
bergerak dengan leluasa. Ia langkahkan kakinya menyusuri hamparan rerumputan yang ada.
Tidak percaya dengan kejadian itu, ia lalu menunduk untuk meraba rumput yang menjulang
sedikit lebih tinggi daripada yang lain. Semuanya dapat ia rasakan dengan baik, begitu pula
panca indera nya. Benarkah ia sedang berada di dalam dunia virtual saat ini? Ia tidak yakin. Commented [Dhovander3]: Tiada italic

Ia lalu duduk di atas sebuah batu, menikmati pemandangan yang disajikan oleh
permainan yang baru saja dibelikan oleh adiknya beberapa hari yang lalu—tetap, ia tidak percaya
dia berada di dunia lain saat ini. Ditatapnya lekat hamparan rumput halus yang membentang
sampai ke ujung pandangnya, tak dapat ia melihat seberapa jauh ia akan memandang lagi, karena
semakin jauh ia memandang, semakin takjub ia akan dunia ini. Dilihatnya sekitar yang masih
ditutupi oleh hamparan rumput, namun kali ini ia melihat sebuah pohon yang terletak di sebelah
kirinya, kira-kira 120m jauhnya, mungkin ia akan kesana beberapa saat lagi. Tak lupa, angin
khas daerah dataran rendah yang menyapu tubuhnya lekat ia rasakan, bahkan lebih kencang dari
biasanya—seperti ia tidak memakai pakaian.

Ia lalu menatap tubuhnya sendiri, tersadar ia hanya memakai sebuah celana pendek.

“Apa?!” Sentaknya kaget sekaligus malu. Ia tidak menyangka bahwa daritadi ia tidak
diberikan pakaian sehelaipun. Ia menatap sekitar, tidak ditemukan olehnya player lain. Namun ia
tetap saja tidak suka dengan kondisi ini. Semua yang akan dilakukannya serasa memalukan.

“Lebih baik aku tidak melihat kebawah tadi!” gumamnya kesal kepada dirinya sendiri. Ia
langsung berlari menuju ke pohon yang terletak lumayan jauh dari tempatnya berada sekarang.
Kakinya berfungsi normal, anggota tubuhnya bergerak sebagaimana mestinya—tetap ia tidak
percaya dia ada di dunia virtual saat itu. Setelah berlari cukup kencang, nafasnya terengah berat. Commented [Dhovander4]: Lage

Ia berusaha menenangkan tubuhnya sejenak untuk bernafas normal. Disandarkan tubuhnya ke


batang pohon lalu duduk sambil mengontrol hembusan nafasnya. Setelah diperhatikannya baik-
baik, terdapat sebuah hud kecil yang berada di pojok kanan atas penglihatannya. Penasaran
dengan itu, ia lalu menekan lambing lingkaran yang mengambang, lalu keluarlah menu bar yang
menyajikan pilihan seperti: info; status; skill; dan help. Merasa penasaran dengan menu itu, ia Commented [Dhovander5]: Ngapain di italic, njir. Kan ini
bukan bahasa asing
lalu menekan “info” terlebih dahulu.

Dari cursori info, muncullah sebuah teks yang bertuliskan: Commented [Dhovander6]: Tipo

“Selamat datang di Age of Past! Kini anda telah menjadi player no.4 di dunia ini!

Untuk memunculkan menu bar, tekan lingkaran yang ada di pojok kanan anda atau ayunkan jari
telunjuk anda membentuk persegi!

Silahkan sentuh atau fokuskan tatapan anda lalu sentuh telinga kiri anda untuk mendapatkan
informasi tentang objek atau status dari objek!

Geser tangan atau turunkan tangan anda menjauh untuk menutup menu!”

Teo mengangguk mengerti setelah membaca informasi itu. Teo lalu menyentuh pohon
yang ia sandari, lalu keluarlah informasi yang berisikan tentang pohon itu. Nama pohon itu
adalah Strea, yang berfungsi sebagai penghasil buah Strach, dan daunnya yang lebar dapat
dipetik untuk dijadikan cloth armor. Tanpa piker panjang, Teo memanjat pohon itu untuk Commented [Dhovander7]: Woi angkat kursi! Bersihin kelas!
Oh itu piket...hehe. TYPO WOI
menggapai daunnya, lalu mencabut sehelai daunnya, namun kaki Teo terpeleset saat berhasil
menggapai daun Strea, lalu terjatuh dari ketinggian sekitar 2m diatas permukaan tanah. Saat Commented [Dhovander8]: Tiada Etalekkkk

terjatuh, diperhatikan indikator HP bar nya berkurang sedikit karena menerima damage dari
terjatuh tadi. Namun ia tidak menghiraukan itu, dengan cepat ia memunculkan informasi tentang
daun Strea yang baru saja dipetiknya. Setelah membaca informasi tentang daun Strea dan Commented [Dhovander9]: Eaaaa
Commented [Dhovander10]: Eaaaa
mengumpulkan 4 helai lagi daun Strea, kini semua bahan yang diperlukan untuk membuat
Commented [Dhovander11]: Eaaaa
pakaian telah terkumpul.

“Membuat pakaian saja harus sesulit ini?!” Gumamnya kesal sambil berusaha untuk
menyusun daun Strea menjadi satu tumpukkan, lalu muncullah pilihan “Craft” yang berada
diatas tumpukkan daun Strea tersebut. Tanpa ragu, Teo menekan hud tersebut—tumpukkan daun Commented [Dhovander12]: Tedak Etalek ea...Dasar tidak
konsisten
Strea-nya hilang, digantikan menjadi notifikasi bar yang bertuliskan ”Cloth of Strea crafted!” . Commented [Dhovander13]: Tuh kaaannn

Tanpa ragu, Teo menekan notifikasi tersebut yang langsung mengarahkannya ke equipment list
yang dapat diaksesnya melalui menu, lalu memakai pakaian yang dibuatnya dengan susah payah.
Ditatapnya sekilas avatar nya yang berada di status bar, tidak terlalu buruk, menurutnya.

xxx

Teo kini berusaha untuk mengetahui apa inti dari game yang sedang ia mainkan ini;
apakah ini hanya untuk berpindah dunia dari dunia nyata ke dunia virtual yang kosong? Ataukah
ada sesuatu yang harus dicari sendiri oleh Teo didalam game ini. Kini ia mengamati tiap
petunjuk mengenai game tersebut, ditelitinya paragraf demi paragraf yang mengutarakan inti Commented [Dhovander14]: Etalek nya manaaaa!!!

tersirat dari game ini. Singkatnya, Age of Past merupakan game tentang kehidupan disaat dunia Commented [Dhovander15]: Nama merk di Etalek juga!!

masih kosong atau minim penghuni, disaat itulah player dapat membuat peradaban sendiri untuk
melanjutkan kehidupannya. Cukup mudah, pikirnya—tentu ini semua tidak dapat semudah yang
ia pikirkan, mengingat membuat pakaian saja membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Ia memejamkan matanya sejenak sambil berpikir tentang strategi permainan untuk


kedepannya. Tiap pola pikirnya kini disertai bisikan lembut angin yang bergeming di daun
telinganya, sekedar melintas untuk memberikan salam sapaan—walaupun semua ini palsu. Tiba-
tiba pikirannya dibuyarkan karena suara perut yang meraung menandakan ia butuh asupan
makanan. Teo berdiri sejenak untuk mencari sumber makanan; dilihatnya tiap ranting dari pohon
Strea yang konon memiliki buah stratch, namun Teo tidak dapat menemukan itu. Ia berpikir Commented [Dhovander16]: E a e a e a e a. Ingaatt istilah
asing di etalek
untuk berburu, namun equipment list nya masih kosong, dan ia tidak melihat seekor hewan-pun
sedari tadi ia memandangi padang rumput itu. Tapi ia pasti butuh senjata untuk berburu, pikirnya.
Tanpa pikir panjang, ia patahkan ranting dari pohon Strea, lalu digosokkannya di batu hingga
salah satu ujungnya menjadi tajam—setidaknya itu yang dapat ia lakukan untuk saat ini.

“Bagaimana kalau Sword of Strea?” gumamnya sembari memasukkan pedang buatannya Commented [Dhovander17]: Banyak kale ya yg tak ter
etalek...ngajak ribut ko yaaaa
kedalam equipment list nya, lalu muncul notifikasi yang berkedip; yang menunjukkan bahwa
crafting skill nya telah mencapai level 1, teo mengangkat kedua bahunya heran. Namun semua
itu dapat dimengertinya sekarang, semua sistem dan pola game ini telah terbayang di benaknya.
Layaknya di game RPG lain, player akan mendapatkan exp untuk suatu hal, lalu akan menaikkan Commented [Dhovander18]: Krik...masalah anak ini
kebanyakan di etalek ya
levelnya. Namun Teo menyadari bahwa ia tidak memiliki character level sama sekali, hanya ada
Crafting skill level 1. Setelah peralatan berburu nya, Teo berjalan menyusuri hamparan
rerumputan, berusaha untuk menemukan seekor hewan untuk dijadikan santapannya—paling
tidak sayur atau buah-buahan saja sudah cukup untuk mengganjal perutnya yang meraung kesal.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, Teo melihat seekor hewan yang berwujud seperti
sapi, namun tubuhnya berwarna kuning tua disertai tanduk kecil dikepalanya yang berbentuk
oval, Comanamanya. Mungkin saja ini adalah buruan pertama Teo, jadi ia tidak boleh Commented [Dhovander19]: Wadoo apa ini mamanx tiada
sepasi
melepaskan itu. Sambil mengulas perutnya yang berbisik semakin keras, Teo mengeluarkan
Sword of Strea dari list nya, lalu memegangnya erat. Ia lalu berlari menuju ke belakang hewan
tersebut, lalu berusaha untuk menebas ekornya. Namun karena pedangnya yang tidak begitu
bagus untuk menyerang, ekor dari Coma hanya ter-iris sedikit, lalu membuat coma berbalik
untuk menghadap ke arah Teo; kini duel 1 lawan 1 dimulai.

“Aku rasa aku hanya perlu memukulimu sampai tewas.” Ucapnya sambil memasang
kuda-kuda pedang satu tangan yang sering kali ia lihat di drama aksi.

Teo mencoba untuk menusuk langsung kepala Coma, namun tepat saat pedangnya berada
di depan matanya, Coma sengaja mengarahkan tanduknya untuk menepis serangan dari Teo.
“Kau ini boss atau semacamnya?!” Sahut Teo kesal. Tak disangkanya melawan seekor
sapi saja akan susah seperti ini.

Coma berlari dengan kencang ke arah Teo sambil mengarahkan tanduknya, berusaha
untuk menyeruduk Teo. Kini Teo telah siap dengan kuda-kuda kenjutsu nya, mengacungkan
pedang ke depan dadanya. Saat Coma berusaha untuk mengenai Teo dengan tanduknya, dengan
gesit Teo menunduk lalu menebas kaki kiri Coma, sehingga membuat hewan itu terjatuh.
Kesempatan ini dimanfaatkan Teo untuk segera menusuk leher Coma yang sepertinya tidak
memiliki pertahanan khusus dan terlihat sangat alot. HP bar Coma sepenuhnya berwarna putih,
garis merah kini telah hilang, begitu pula dengan jasad Coma yang berubah menjadi serpihan
Kristal kemudian diikuti dengan notifikasi “Kamu mendapatkan Coma Meat x1!” Senyum tipis
dengan rasa bangga tergambar di wajah Teo. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari.

“GGWP EZ NOOB COMA UNINSTALL YOUR DO-“ Teriakan penuh rasa bangga Commented [Dhovander20]: Wat de fak is dis syit?

yang keluar dari mulutnya terpotong, mengingat ini bukan game strategi yang biasanya ia
mainkan—menghina player lain juga, tentunya; ia harus menghentikan itu segera, atau sifatnya
akan dibenci oleh pemain lain. Setelah melawan Coma, Teo berjalan menyusuri setapak yang Commented [Dhovander21]: Kok tanda baca nya titik? Bukan
koma?
ada di rerumputan. Sekilas ia berfikir, Ia merupakan pemain ke 4 di dunia ini.. tetapi ia tidak
menemukan satu orang-pun dari tadi. Ia lalu membuka map yang berada di equipment list nya,
tetapi tidak menemukan apapun selain jalan yang baru saja ia lewati, selebihnya gelap. Mungkin
disini, map hanya menampilkan lokasi yang sudah pernah dilewati oleh player sebelumnya.
Mengabaikan semua hal itu, yang pertama kali harus ia lakukan adalah mencari tahu lebih
banyak tentang dunia ini. Dipikirannya, ia harus membuat senjata yang pantas, lalu zirah yang
mencukupi untuk kebutuhan berperangnya, namun ia rasa ia lebih memerlukan tempat untuk
berlindung sekarang.

Ia berjalan menyusuri setapak, hingga menemukan sebuah bukit bebatuan di ujung


pandangannya, kemudian Teo berlari ke bukit tersebut sambil “membersihkan” area
disekelilingnya yang terdiri dari Coma dan beberapa spesies anjing yang disebut “Dwart”. Commented [Dhovander22]: Oh wow...bahasa Indonesia kah
ini? Sampai tidak memerlukan etalek
Sesampainya di kaki bukit, ia dapat melihat gua di atas bukit tersebut. Teo memutuskan untuk
mendaki bukit untuk menggapai gua yang akan dijadikan tempat berlindung sampai ia
mengetahui cara untuk membuat rumah nantinya. Sesampainya di depan gua, ia melihat
seseorang yang sedang duduk membelakanginya sedang menghantamkan dua batu. Teo melihat
info mengenainya, namun tidak ada info yang muncul, sudah dipastikan ia bukan NPC.

“Permisi…” Ucap Teo sopan. Namun sapaannya itu dibalas dengan tatapan yang tidak
menyenangkan dari pria yang sedang duduk didepannya tersebut.

“Apa maumu kemari?” Ucapnya sinis. Ia lalu berdiri menghadap ke Teo sambil mengikat
rambut hitam panjangnya. Ia masih belum menggunakan pakaian apapun di badannya, membuat
tubuhnya yang kekar terlihat jelas oleh Teo yang berdiri diluar gua.

“Aku ingin menyakan sesua—“ Tiba tiba ucapan Teo terpotong oleh sebuah Anak panah
yang melesat di hadapannya. Untungnya, Teo berhasil menghindari itu dan dengan cepat
berlindung dibalik batu.

Pria itu sekarang berdiri dengan mengarahkan busur panah ke arah Teo bersembunyi.
Dengan tenang, Teo keluar dari tempat persembunyiannya, lalu membungkuk hormat ke player
yang berada didepannya itu.

“Maafkan ketidaksopananku, Namaku Teo. Aku ingin bertanya sesuatu mengenai dunia
ini.” Ucapnya sopan, lalu mengangkat kepalanya menatap lurus lelaki itu.

“Adhy.” Ucapnya singkat. “Kalau begitu, kita bertukar Informasi.” Ucapnya sembari
menyimpan busur panah nya.

Teo meletakkan pedangnya ditanah lalu duduk bersandar di batu yang tadinya ia pakai
sebagai tempat berlindung sambil menatap Adhy. Kini diatas kepala Adhy terdapat tulisan
“Adhy” dengan hitam. Ia semakin penasaran sekarang. Namun tentu, Adhy merupakan sumber
informasi yang berharga. Dengan berani, ia membuka mulutnya untuk memulai percakapan.

“Apakah kau melihat namaku di atas kepalaku juga?” Tanya Teo memulai percakapan. Commented [Dhovander23]: Berbelit nih...

“Aku bisa melihatnya sekarang.” Jawab Adhy lalu duduk di depan Teo.

“Kau belum memiliki pakaian?” Tanya Teo sungkan sambil menatap ke arah lain.

Adhy menggeleng dengan tegas, seperti berkata ia tidak memerlukan pakaian.


“Bagaimana caramu membuat panah?” Tanya Teo dengan nada yang hati hati, ia tidak
mau sebuah anak panah menancap di kepalanya setelah ia bertanya.

“Aku menemukan Batang kayu yang tidak terlalu lurus dan tipis yang terletak di dalam Commented [Dhovander24]: Kenapa kapital??

gua, lalu aku memasang item yang bernama Dwart’s taildi kedua ujungnya, Mungkin ini bisa
menjadi sebuah panah pikirku. Kemudian dari anak panah, aku mengasah Dwart’s bone di
bebatuan kasar, hingga ujungnya menjadi tajam, mungkin ini bisa menjadi sebuah panah pikirku.”
Ucapnya rinci.

“Lalu, apa yang ingin kau lakukan dengan menghantamkan 2 batu?” Tanya Teo lagi.

“Dari buku yang aku baca, kita dapat menciptakan api dengan menghantamkan 2
permukaan batu.” Jawabnya polos.

Teo mengingat semua itu, bahkan ia dapat membuat panah sekarang mengingat semua
bahannya sudah ada, namun Teo memutuskan untuk membuat itu nanti.

“Kalau begitu, aku akan bertanya balik. Bagaimana caramu membuat pakaian?”
Pertanyaan balik dari Adhy yang kemudian membuat Teo berpikir ulang tentang bagaimana
caranya ia dapat membuat pakaian.

“Pakaianku berasaln dari daun Strea. Aku membuatnya dengan menyambungkan dan Commented [Dhovander25]: Fungsi dari n apa?

mengikat mereka bersamaan.” Ucap Teo ringkas.

“Aku tidak mengerti maksudmu. Selanjutnya, apa yang berada di sampingmu itu?” Tanya
Adhy pemanasan.

“Ah, ini adalah pedang yang kubuat sendiri. Silahkan ketahui info nya. Aku membuatnya
dengan menajamkan batang Strea, sama halnya dengan yang kau lakukan dengan anak panah
tadi.” Ucap Teo sambil memindahkan pedang itu kedepannya.

Adhy melihat sekilas informasi pedang yang Teo buat. “Sword of Strea? Jadi kau bisa
menamainya ya.” Ucap Adhy lega.

“Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan dengan aliansi.” Ucap Adhy sambil
meletakkan Busur panah didepannya.
“Seperti Party?” Tanya Teo tertarik. “Apa keuntungan yang bisa kudapatkan dengan
party ini?” Ucap Teo hati-hati.

“Kita dapat mencari informasi tentang dunia ini bersama, dan berbagi keuntungan.”
Jawab Adhy dengan senyuman puas di ujung ucapannya.

“Kalau begitu, aku setuju!” Ucap Teo antusias.

Teo melihat info tentang Adhy, yang kini dapat ia lakukan. Lalu menambahkan Adhy
kedalam party nya. Disamping kiri pandangannya, ia dapat melihat HP bar milik Adhy. Kini, Commented [Dhovander26]: Etalek ea

Teo melihat Tubuh tanpa busana—kecuali celana pendek hitam Adhy, mungkin ia harus Commented [Dhovander27]: Apa ini? Apa motivasinya di
kapitalkan?
menemukan pakaian dulu untuk Adhy. Teo lalu berdiri dari duduknya diikuti oleh Adhy dan
meletakkan pedangnya di pinggang.

“Kalau begitu, kita mulai dari pakaian dulu.” Usul Teo. Adhy mengangguk tanda setuju.

Mereka lalu berjalan menuruni bukit dengan senjata yang siap untuk melakukan
perbuuruan. Adhy lalu memindai Info dari Dwart yang ada di sekitar mereka dan menemukan
Dwart Fur di dalam list item drop dari dwarf. Dengan cepat Adhy memanah Dwart tersebut dari Commented [Dhovander28]: Duwarf?

kejauhan; dengan tiga kali tembakan, anjing berekor panjang tersebut dapat dikalahkannya tanpa
mendekatinya sedikitpun.

“Ternyata menjadi archer seperti ini ya…” Gumam Teo mengagumi panahan dari Adhy.

“Apakah Dwart Fur ini dapat kita jadikan sebagai pakaian?” Tanya Adhy di sela
pertarungan antara Teo dengan Dwart.

“Tentu!” Balas Teo sebagai akhiran dari pertarungannya, ia menyimpan pedangnya ke


sarung yang ada di pinggangnya dengan halus. “Mari kita kulit ini.” Saran Teo. Commented [Dhovander29]: Oh wow? Mari kita kulit?
Pekerjaan apa itu?

“Tidak perlu, kau hanya perlu menyentuhnya.” Sela Adhy sambil menyentuh Dwart yang
tewas tersebut, kemudian Dwart itu menjadi Kristal layaknya Coma tadi. “Lalu item yang kau Commented [Dhovander30]: Yey kulit item!

dapatkan akan masuk otomatis ke inventory mu.” Ucapnya sebagai akhir dari peraga singkatnya.

Teo lalu menyentuh Dwart yang dikalahkannya, lalu berubah menjadi Kristal yang
berhamburan di udara lalu muncul notifikasi “Kamu mendapatkan: Dwart’s Fur x1 ; Dwart’s
Tail x1 ; Bone M x1 ; Dwart’s Meat x1!” Teo lalu melihat inventory nya, lalu menekan tulisan Commented [Dhovander31]: Etalek!

“Dwart’s Fur.” Alhasil, terbentanglah sehelai kulit binatang yang dilapisi bulu hijau yang tidak
terlalu lebat—layaknya bulu pada Dwart, ukurannya cukup untuk menutupi dada dan perut dari
manusia, mungkin ini dapat digunakan sebagai pakaian, pikir Teo.

“Kita harus mengumpulkan satu lagi.” Ucap Teo. Kemudian sehelai Dart’s Fur mendarat
tepat di kepalanya. “Itu,” Ucap Adhy singkat.

Teo menyingkirkan Kulit itu dari kepalanya, lalu meletakkannya diatas Dwart Fur yang
berada di depannya. Muncul notifikasi “Craft.” Yang kemudian ditekan oleh Teo. Lalu Commented [Dhovander32]: Kalau bukan perkataan pake ‘ ‘
Commented [Dhovander33]: Etalek
tumpukan kulit itu berubah menjadi Sebuah mantel yang berbulu tipis diikuti dengan notifikasi.

“Kira-kria seperti itu.” Ucap Teo sambil menamai pakaiannya itu kepada Adhy yang
sedari tadi memerhatikan praktek Teo dari belakangnya.

Disaat Adhy mencoba untuk membuat pakaian, Teo sedikit ber eksperimen dengan
equipment list nya. Apa yang terjadi jika kedua benda itu digabungkan? Pikirnya. Ia lalu menarik Commented [Dhovander34]: EEEEEEEETALEEEEKKKKKKKKKK
KK
kedua Icon pakaian tersebut lalu berusaha untuk menyatukannya. Tiba tiba pakaian Teo terlepas Commented [Dhovander35]: Syaiton ga di etalek!

dan menumpuk di atas Dwart’s Fur yang berada di tanah, diikuti dengan notifikasi “Craft.”
Penasaran namun hati-hati, Teo menekan tombol itu. Lalu pakaiannya pakaian baru; sebuah
mantel tebal Dwart dan jubah yang terbuat dari daun Strea, dan kini ia menamai itu sebagai Commented [Dhovander36]: Etalek

“Teo’s Strea-Dwart.” Ia lalu memakai pakaian itu dengan rasa bangga, kemudian menoleh ke
Adhy yang telah memakai Dwart’s Fur Cloth miliknya.

“Tapi, aku tidak bisa menamai ini, disini tertulis Dwart’s Fur Cloth.” ucap Adhy
kebingungan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.

“Benarkah? Padahal aku menamainya seperti itu tadi…” Ucap Teo kebingungan juga.

Kini keduanya bertatapan, lalu tersentak kagum setelah menyadari sesuatu.

“Jadi siapa yang menemukannya duluan, dapat menamainya?!” Ucap Adhy dengan
antusias.

“Jadi aku menemukan ini?!” Balas Teo dengan antusias pula.


“Aku menemukan Coolest Dwart bow of Adhy!!” Balas Adhy lebih antusias lagi.

Namun setelah itu, Teo terdiam, menyadari betapa payahnya Adhy dalam menamai
sesuatu. Sudah puas dengan informasi itu, mereka kembali ke markas mereka. Disana, Teo
mengajari bagaimana caranya menggunakan pedang, sedangkan Teo diajarkan oleh Adhy cara
untuk menggunakan panah. Mereka tidak bisa tinggal diam dengan semua ini, keduanya antusias.
Teo menciptakan api unggun dengan ranting yang didapatkannya di pohon Strea, dan
menciptakan api dengan menggosokkan keduanya. Adhy tampak kagum, namun ia tidak tinggal
diam. Adhy mengeluarkan seluruh consumable item miliknya, diikuti oleh Teo yang sukarela
menyerahkan miliknya. Adhy dengan terampil membungkus daging Coma dan daging Dwart
dengan daun Strea, lalu membakarnya dengan teliti di api unggun.

Kini keduanya menatap langit malam sambil memutar tulang untuk meratakan
pembakaran, Aroma khas dari kedua daging tersebut menyatu dengan sejuknya udara malam.
Keduanya mengesampingkan fakta bahwa mereka berada di dunia virtual, mereka hanya
menikmati suasana disini. Suara ranting yang terbakar lekang oleh panasnya api, hangatnya
udara di sekitar api unggun, angin yang malam yang menabrak mulut gua-pun menghasilkan
suara khas yang menciptakan ketenangan di sekitarnya. Adhy dan Teo berbincang ringan
sembari bercanda untuk mendiskusikan rencananya untuk kemudian hari, diskusi mereka
ditemani dengan suasana malam yang indah, dipantau oleh bintang dan bulan—yang entah
disebut apa di dunia itu. Namun yang jelas keduanya menyukai ini. Tak berhenti keduanya
terkagum terrhadap dunia ini, dunia yang dulunya di idamkan oleh orang ramai.

Daging telah kecoklatan, mereka melahap hasil masakan itu dengan penuh penghayatan,
berusaha mencari rasa khusus dari daging itu, namun yang dapat mereka rasakan adalah daging
hambar yang disisipi oleh daun Strea. Cukuplah itu, untuk membuat perut Teo yang dari tadi
mengaum. Adhy tersenyum kecut sambil membanggakan masakannya disambut dengan
masukan oleh Teo. Dinding gua yang kelihatannya lembab tak lepas dari penglihatan Teo. Kini
ia merasa ia telah terlahir di dunia ini, mengesampingkan fakta yang sebenarnya, bahwa ini
adalah ilusi yang ia cintai untuk saat ini. Bahkan burung malam yang berterbangan menyapa
mereka dengan kepakan sayap yang dapat didengar keduanya sembari menatap langit. Sungguh
dunia simple yang diidamkan oleh Teo yang tersenyum sambil menatap bintang malam di dunia Commented [Dhovander37]: Opo iki dunia simple?

lain.