Anda di halaman 1dari 10

Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini.

Menurut
paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah,
mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur
dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan
oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-
model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Secara umum, terdapat lima prinsip dasar
yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevan
dengan kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3)
menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan
siswa, (5) menilai pembelajaran secara kontekstual.
Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk
membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi
informasi baru. Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran
menurut paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran
sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri
sebagai berikut.
1. Menghargai otonomi dan inisiatif siswa.
2. Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada
keterampilan berpikir kritis.
3. Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi,
dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas.
4. Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi
pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
5. Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelum
sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut.
6. Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupun
dengan siswa yang lain.
7. Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut mereka
untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya.
8. Mengelaborasi respon awal siswa.
9. Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkan
kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.

1
10. Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan
mengerjakan tugas-tugas.
11. Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model pembelajaran yang
beragam.

Paraguru diharapkan dapat belajar sepanjang hayat seirama dengan pengetahuan


yang mereka perlukan untuk mendukung pekerjaannya serta menghadapi tantangan dan
kemajuan sains dan teknologi. Guru tidak diharuskan memiliki semua pengetahuan, tetapi
hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup sesuai dengan yang mereka perlukan,
dimana memperolehnya, dan bagaimana memaknainya. Para guru diharapkan bertindak
atas dasar berpikir yang mendalam, bertindak independen dan kolaboratif satusamalain, dan
siap menyumbangkan pertimbangan-pertimbangan kritis. Para guru diharapkan menjadi
masyarakat memiliki pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam. Di
samping penguasaan materi, guru juga dituntut memiliki keragaman model atau strategi
pembelajaran, karena tidak ada satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mencapait ujuan belajar dari topik-topik yang beragam.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalamanbelajar untuk mencapai tujuan
belajar.
Berikut diberikan dua contoh model pembelajaran yang memiliki kecenderungan
berlandaskan paradigma konstruktivistik, yaitu: model kooperatif, dan model problem
based-instruction.

2
1. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang


mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Seperti yang diungkapkan oleh Nurhadi
(2004:112) bahwa : “ Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus
pada kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar untuk mencapai tujuan”. Model pembelajaran koperatif muncul dari konsep
bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami suatu materi pelajaran
yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Menurut Lie (2003 : 27) :
“Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo hominisocius,
falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial “. Hal ini
menunjukkan bahwa kerjasama siswa merupakan salah satu bagian yang penting
dalam proses pembelajarankooperatif.
Pada pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-
kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajad tetapi heterogen baik
dari segi kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling
membantu.Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan
kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses
belajar dalam mencapai ketuntasan belajar yang disajikan oleh guru.
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran kooperatif. Seperti yang
diungkapkan Lie (2003:30) bahwa :“Ciri khusus dalam pembelajaran kooperatif
mencakup lima unsur yang meliputi:(a) saling ketergantungan positif, (b)
tanggungjawab perseorangan, (c) tatap muka, (d) komunikasi antara nggota dan (e)
evaluasi proses kelompok”.
Model pembelajaran kooperatif juga memiliki tujuan yang penting seperti
yang diungkapkan oleh Ibrahim (dalamTrianto,2007:44) bahwa :”Tujuan
pembelajaran kooperatif yaitu : (a) meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas
akademik ; (b) penerimaan yang luas terhadap keragaman; (c) mengajarkan untuk
saling menghargai satu sama lain. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Isjoni
(2009:109) yang menyatakan bahwa: “Tujuan penting dari pembelajaran kooperatif
ialah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi”.
Keterampilan ini sangat penting dimiliki oleh siswa untuk mengatasi permasalahan
yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran dan dalam kehidupan mereka

3
nantinya.
B. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1. kelompok dibentuk dari pebelajar yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan
rendah, jika memungkinkan, setiap anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku, jenis kelamin yang berbeda,
2. pembelajaran dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi,
3. penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.

C. Fase Model pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya 6 (enam) fase atau


langkah utama dalam pembelajarannya. Pelajaran diawali dengan pembelajar
menyampaikan tujuan pembelajaran disertai dengan memberikan motivasi kepada
pelajar. Pada fase ini diikuti dengan penyampaian informasi, biasanya dalam bentuk
bahan bacaan, selanjutnya pebelajar dikelompokkan ke dalam tim belajar.

Pada tahap ini diikuti bimbingan pembelajar pada saat pebelajar bekerja
bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Selanjutnya fase terakhir
pembelajaran kooperatif meliputi presentase hasil akhir kerja kelompok, atau
evaluasi tentang materi yang telah dipelajari dan pembelajar memberikan
penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Kegiatan pembelajar
terhadap enam fase tersebut, antara lain:
1. Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi pebelajar
Kegiatan Pebelajar : Pembelajar menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi pebelajar belajar
2. Fase 2
Menyajikan informasi
Kegiatan Pebelajar : Pembelajar menyajikan informasi kepada pebelajar baik
dengan peragaan atau teks
3. Fase 3
Mengorganisasikan pebelajar ke dalam kelompok-kelompok belajar

4
Kegiatan Pebelajar : Pembelajar menjelaskan kepada pebelajar bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan
perubahan yang efisien
4. Fase 4
Membantu kerja kelompok dalam belajar
Kegiatan Pebelajar : Pembelajar membimbing kelompok-kelompok belajar pada
saat mereka mengerjakan tugas.
5. Fase 5
Mengetes materi
Kegiatan Pebelajar : Pembelajar memberi tes materi pelajaran, atau kelompok
menyajikan hasil-hasil pekerjaan mereka
6. Fase 6
Memberikan penghargaan
Kegiatan Pembelajar : Pembelajar memberikan cara-cara untuk menghargai baik
penghargaan atas tingginya upaya kerjasama dalam proses belajar kelompok,
maupun hasil belajar individu dan kelompok.

D. Prosedur Umum Model Pembelajaran Kooperatif

Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif


dipilah menjadi empat langkah, yaitu; orientasi, bekerja kelompok, kuis, dan
pemberian penghargaan. Setiap langkah dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para
pembelajar dengan berpegang pada hakekat setiap langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan
orientasi untuk memilih dan menyepakati bersama tentang apa yang akan dipelajari
serta bagaimana strategi pembelajarannya. Pembelajar mengkomunikasikan tujuan,
materi, waktu, langkah-langkah serta hasil akhir yang diharapkan dikuasai oleh
pebelajar, serta sistem penilaiannya. Pada langkah ini pebelajar diberi kesempatan
untuk mengungkapkan pendapatnya tentang apa saja, termasuk cara kerja dan hasil
akhir yang diharapkan atau sistem penilaiannya. Negosiasi dapat terjadi antara
pembelajar dan pebelajar, dan pada akhir orientasi diharapkan sudah terjadi
kesepakatan bersama.

5
2. Kerja kelompok
Pada tahap ini pebelajar melakukan kerja kelompok sebagai inti kegiatan
pembelajaran. Kerja kelompok dapat dalam bentuk kegiatan memecahkan masalah,
atau memilih dan menerapkan suatu konsep yang dipelajari. Kerja kelompok dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti berdiskusi, melakukan eksplorasi, observasi,
percobaan, browsing lewat internet, dan sebagainya. Waktu untuk bekerja kelompok
disesuaikan dengan luas dan dalamnya materi yang harus dikerjakan. Kegiatan yang
memerlukan waktu lama dapat dilakukan di luar jam pelajaran, sedangkan kegiatan
yang memerlukan sedikit waktu dapat dilakukan pada jam pelajaran. Agar kegiatan
kelompok terarah, perlu diberikan panduan singkat sebagai pedoman kegiatan.
Sebaiknya panduan ini disiapkan oleh pembelajar. Panduan harus memuat tujuan,
materi, waktu, cara kerja kelompok dan tanggung jawab masing-masing anggota
kelompok, serta hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai.

Tes/Kuis
Pada akhir kegiatan kelompok diharapkan semua pebelajar telah mampu
memilih konsep/topik/masalah yang sudah dikaji bersama. Kemudian masing-masing
pebelajar menjawab tes atau kuis untuk mengetahui peman mereka terhadap
konsep/topik/ masalah yang dikaji.
Penghargaan kelompok
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berhasil memperoleh kenaikan skor dalam tes individu.
3. Penilaian
Penilain dalam pembelajaran kooperatif, didasarkan atas skor individu dan
skor kelompok. Untuk mengukur kompetensi setiap pebelajar, tetap dilakukan
evaluasi individu berupa kuis di setiap akhir kerja kelompok, tepatnya setelah
pebelajar belajar dalam tim dan menuntaskan materi pelajaran melalui lembar
kegiatan pebelajar (LKS). Sesegera mungkin setelah kuis, nilai setiap pebelajar
dikeluarkan untuk penghitungan skor peningkatan individual yang merupakan acuan
skor kelompok.
E. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif
Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial

6
2. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenal sikap, ketrampilan, informasi,
perilaku sosial, dan pandangan-pandangan
3. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial
4. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri/egois
5. Meningkatkan rasa saling percaya kerpada sesama manusia
F. Kelemahan Model Pembelajran Kooperatif
Kelemahan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1. Guru khawatir akan terjadi kekacauan di kelas.
Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau
pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.
2. Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan siswa lain.
Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup
mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam
satu grup dengan siswa yang lebih pandai.
3. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau
keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok.
4. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil,
bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan itu.

2. MODEL PROBLEM BASED INTRODUCTION(PBI)


A. Pengertian PBI
Problem Based Instruction merupakan suatu model pengajaran dengan
pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik. Masalah autentik dapat
diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan PBI siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuannya,
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mandiri serta meningkatkan
kepercayaan diri. Selain itu, dengan pemberian masalah autentik, siswa dapat
membentuk makna dari bahan pelajaran melalui proses belajar dan menyimpannya
dalam ingatan sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan lagi (Nurhadi, 2004).
Dalam pengajaran berdasarkan masalah guru berperan sebagai panyaji, mengadakan
dialog, membantu dan memberikan fasilitas penyelidikan. Selain itu, guru juga
memberikan dorongan dan dukungan yang dapat meningkatkan pertumbuhan
intelektual siswa (Ibrahim, 2001).
Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengajaran berdasarkan masalah

7
adalah pemberian masalah kepada siswa yang berfungsi sebagai motivasi untuk
melakukan proses penyelidikan. Di sini guru mengajukan masalah, membimbing dan
memberikan petunjuk dalam memecahkan masalah.

B. Ciri-ciri PBI
Pengajaran berdasarkan masalah memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah
Pengajaran berdasarkan masalah diawali dengan guru mengajukan pertanyaan
dan masalah yang secara sosial dianggap penting dan secara pribadi bermakna
untuk siswa.
b. Terintegrasi dengan disiplin ilmu yang lain
Meskipun PBI berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, dan
ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah ditentukan secara pasti
agar dalam pemecahannya siswa meninjau dari banyak mata pelajaran..
c. Penyelidikan autentik
PBI menuntut siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari
penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
PBI menuntut siswa untuk menghasilkan produk yang mewakili bentuk
pemecahan masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa laporan,
model fisik, video, maupun program komputer. Dalam pembelajaran materi
fluida, produk yang dapat dihasilkan berupa laporan.
e. Kerjasama
PBI mempunyai ciri khusus yaitu siswa bekerja sama dalam kelompok kecil.
Adapun keuntungan bekerja sama dalam kelompok kecil di antaranya siswa
dapat saling memberikan motivasi dalam tugas-tugas kelompok dan dapat
mengembangkan keterampilan social dan keterampilan berpikir.
C. Pelaksanaan PBI
Pelaksanaan model pengajaran berdasarkan masalah meliputi beberapa tahap
(Ibrahim dan Nur, 2004) antara lain:
a. Orientasi siswa pada masalah
Guru menyajikan masalah dengan jelas, sehingga memungkinkan siswa untuk
terlibat dalam identifikasi masalah. Masalah diajukan oleh guru merupakan
masalah yang dalam penyelesaiannya memungkinkan siswa untuk melihat,
8
merasakan dan menyentuh sesuatu yang dapat memunculkan ketertarikan dan
memotivasi inkuiri. Orientasi siswa pada masalah menentukan tahap
selanjutnya sehingga masalah harus menarik dan menimbulkan rasa ingin
tahu.
b. Mengorganisasi siswa untuk belajar
Siswa dikelompokkan secara bervariasi dengan memperhatikan tingkat
kemampuan yang didasarkan pada tujuan yang telah ditetapkan.
c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Siswa melakukan penyelidikan atau pemecahan masalah secara bebas dalam
kelompoknya. Guru bertugas mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan
melaksanakan penyelidikan sampai mereka benar-benar memahami situasi
masalahnya. Kemudian siswa mengajukan penjelasan dalam berbagai
hipotesis dan pemecahan masalah yang diselidiki. Pada tahap ini guru
mendorong semua ide, memerima sepenuhnya ide tersebut dan membetulkan
konsep-konsep yang salah.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Siswa dituntut untuk menghasilkan sebuah produk baik berupa laporan, model
fisik, video, maupun program komputer.
e. Manganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu menganalisis proses berpikir siswa, keterampilan
penyelidikan dan keterampilan intelektual siswa, kemudian guru
menyimpulkan materi pembelajaran.
D. Kelebihan PBI
PBI memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan model pengajaran lainnya, di
antaranya sebagai berikut:
a. Mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas.
b. Mendorong siswa melakukan pengamatan dan dialog dengan orang lain.
c. Melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri. Hal ini memungkinkan
siswa menjelaskan dan membangun pemahamannya sendiri mengenai
fenomena tersebut.
d. Membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri. Bimbingan guru kepada
siswa secara berulang-ulang, mendorong dan mengarahkan siswa untuk
mengajukan pertanyaan dan mencari penyelesaian masalah mereka sendiri.

9
Dengan begitu siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri
dalam hidupnya kelak (Ibrahim dan Nur, 2004).

E. Kekurangan PBI
Kelemahan dari pelaksanaan PBI adalah sebagai berikut:
a. Kondisi kebanyakan sekolah tidak kondusif untuk pendekatan PBI. Dalam
pelaksanaannya, PBI memerlukan sarana dan prasarana yang tidak semua
sekolah memilikinya. Sebagai contoh, banyak sekolah yang belum memiliki
fasilitas laboratorium cukup memadai untuk kelengkapan pelaksanaan PBI.
b. Pelaksanaan PBI memerlukan waktu yang cukup lama. Standar 40-50 menit
untuk satu jam pelajaran yang banyak dijumpai di berbagai sekolah tidak
mencukupi standar waktu pelaksanaan PBI yang melibatkan aktivitas siswa di
luar sekolah.
c. Model PBI tidak mencakup semua informasi atau pengetahuan dasar. Siswa
tidak dapat memperoleh pemahaman materi secara keseluruhan. Hal ini
disebabkan karena standar satu jam pelajaran di sekolah yang tidak mencukupi
untuk pelaksanaan PBI.

10