Anda di halaman 1dari 323

BIBLIOGRAFI

BERANOTASI MINANGKABAU

Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan


Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas
BIBLIOGRAFI BERANOTASI MINANGKABAU
© TIM PENYUSUN

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)


Hak cipta dilindungi undang-undang
All Right Reserved

Tim Penyusun : Pramono


Herry Nur Hidayat
Reniwati
Silvia Devi
Suriani
Reni Anggraini
Wirma Andri
Kadrianto
Imam Gozali

ISBN 978-602-50377-9-5

Diterbitkan oleh:
Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPTIK) Universitas Andalas
Lantai Dasar Gedung Perpustakaan Pusat Kampus Universitas Andalas Jl. Dr. Mohammad Hatta
Limau Manis, Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Web: www. lptik.unand.ac.id
Telp. 0751-775827 - 777049
Email: sekretariat_lptik@unand.ac.id

Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Dilarang memperbanyak sebagian maupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun
tanpa izin tertulis dari penerbit kecuali demi tujuan resensi atau kajian ilmiah yang
bersifat nonkomersial.
BIBLIOGRAFI
BERANOTASI MINANGKABAU

TIM PENYUSUN:
Pramono
Herry Nur Hidayat
Reniwati
Silvia Devi
Suriani
Reni Anggraini
Wirma Andri
Kadrianto
Imam Gozali
KATA PENGANTAR
Entah sudah berapa tulisan yang telah dihasilkan oleh sarjana dan cendekia berkai-
tan dengan Minangkabau. Pasti jumlahnya tidak banyak, tetapi sangat banyak,
banyak sekali. Hal ini mengingat bahwa Minangkabau merupakan etnis yang memi-
liki karakteristik yang unik, baik karena sistem matrilineal yang melekat pada bu-
dayanya maupun dalam hal hubungan antara sosio-kulturalnya dengan Islam. Oleh
karenanya, wajar jika dinamika sejarah perjalanan budaya Minangkabau yang khas
tersebut banyak direkam melalui berbagai tulisan. Dan, tidak mengherankan kemu-
dian jika hari ini kita menemui khazanah koleksi keminangkabauan yang melimpah.
Akan tetapi, sayangnya koleksi Minangkabau, khususnya yang klasik, tidak dapat
dengan mudah ditemui, apalagi dimanfaatkan di negerinya sendiri. Pusat informasi ke-
minangkabauan justru berada di luar negeri, terutama di Belanda dan negara-nega-
ra lain. Terseraknya koleksi Minangkabau di berbagai negara ini di satu sisi memang
merisaukan karena seharusnya tersedia lengkap di kampung halaman sendiri,
tetapi di sisi lain bisa juga menguntungkan atau bahkan tidak menjadi persoalan.
Hal itu pernah dilontarkan oleh Henri Chambert-Loir, Direktur Ecole Francais
d’Extreme-Orient, Lembaga Penelitian Perancis untuk Timur Jauh (Kompas, 20 Mei
1999). Menurut Chambert-Loir, kenyataan bahwa banyaknya koleksi kepustakaan Me-
layu (termasuk Minangkabau) yang tersimpan di berbagai negara di luar negeri itu jus-
tru menguntungkan. Dengan dibawa ke luar negeri menurut Chambert-Loir, koleksi
kepustakaan itu terselamatkan, baik oleh situasi Indonesia waktu itu, juga karena barang-
barang itu sekarang berada di tempat-tempat seperti perpustakaan Leiden di Belanda
yang bisa menjamin keselamatan bahan kepustakaan dari kerusakan maupun kehilangan.
Setuju atau tidak terhadap pendapat Chambert-Loir di atas, yang jelas kita telah
v
kehilangan khazanah peninggalan budaya yang sangat berharga. Hal yang ter-
penting untuk dilakukan dengan serius adalah bagaimana mengumpulkan kem-
bali koleksi Minangkabau, khususnya yang klasik. Dalam konteks kekinian, yakni
dengan kemajuan teknologi, agaknya akan lebih mudah untuk mewujudkan cita-cita
itu. Akan tetapi, persoalan yang kemudian penting untuk didiskusikan adalah bagaima-
na dengan koleksi Minangkabausiana, khususnya berupa naskah (manuskrip) kuno
yang masih tersebar di tangan masyarakat (baik perorangan maupun kelompok)?
Kekayaan koleksi Minangkabau yang klasik seperti gambaran di atas, belum dapat
dinikmati seluruhnya oleh kita. Hal ini karena tidak semua kita mendapatkan kesempa-
tan untuk ke Belanda atau ke daerah-daerah di Sumatera Barat di mana terdapat koleksi
Minangkabau yang klasik. Dalam konteks inilah sebenarnya lembaga seperti Badan Per-
pustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat (BPKPSB) dapat berperan lebih banyak.
Sebagai lembaga yang mendapat amanah langsung untuk menyediakan dan melayankan
koleksi Minangkabau, BPKPSB sebenarnya telah mengupayakan ketersediaan koleksi terse-
but. Khusus tentang koleksi Minangkabau klasik, BPKPSB telah melakukan kegiatan yang
diberi nama “Alih Media Naskah Kuno”. Sudah ribuan lembar naskah yang telah dipindahkan
dalam bentuk digital. Di samping itu, BPKPSB juga telah melakukan pengumpulan koleksi
Minangkabau klasik dalam bentuk cetakan. Sayangnya, koleksi tersebut banyak yang musnah
akibat gempa bumi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat
pada tanggal 30 September 2009 lalu dan belum tersusun dalam sebuah daftar bibliografi.
Dalam konteks itu, utamanya jika dikaitkan dengan Era Ekonomi Kreatif saat
ini, sebenarnya khazanah koleksi Minangkabau tersebut dapat dijadikan depo-sit
mata tambang yang baru. Pengemasan dan pengembangan koleksi Minangkabau
membuka peluang bagi cita-cita mulai untuk menyejahterakan orang banyak lin-
tas budaya dan negara. Artinya, pengembangan koleksi Minangkabau dapat mem-
buka peluang bagi sebuah proses “pembacaan” untuk menghasilkan bentuk yang
kaya, berbeda dan beragam, khususnya tentang dan terkait dengan Minangkabau.
Jika sampai pada tahap itu, maka semua itu sekaligus akan memberikan citra positif
terhadap dunia kepustakaan kita. Kita akan dapat menampik tudingan miring tentang si-
kap kurang sadarnya kita terhadap pentingnya arsip. Dengan demikian, kita bisa menjadi
bangsa yang maju, karena salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa adalah kerapian
sistem pengarsipan dokumen-dokumen yang menyangkut perjalanan sejarah bangsa itu.
Berangkat dari cita-cita itulah buku ini disusun, yakni dimulai dengan mendaftar
seluruh khazanah koleksi keminangkabauan. Dari rangkaian kegiatan pengumpulan bah-
an sampai terwujudnya buku ini sepenuhnya dibiayai oleh Kementrian Kebudayaan dan
Pariwisata, khususnya Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film. Pada tahap awal, buku
bibliografi beranotasi Minangkabau ini berisi senarai tulisan keminangkabauan yang ter-
simpan di Bagian Deposit dan Pemeliharaan BPKPSB, Perpustakaan Balai Pelestarian Ni-

vi
lai Budaya Padang dan Perpustakaan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Dalam
kesempatan ini pula kami ucapkan terima kasih kepada pimpinan dan staf ketiga lembaga
tersebut yang telah membantu dan memberi kemudahan dalam penyusunan bibliografi ini.
Susunan bibliografi keminangkabauan yang terkandung di dalam buku ini se-
ngaja dikelompokkan berdasarkan tempat keberadaan koleksi. Hal ini bertujuan untuk
memudahkan khalayak pembaca yang berkepentingan terhadap salah satu tulisan kemi-
nangkabauan dapat langsung mencari di tempat koleksi berada. Dengan demikian, buku
ini berbeda dengan buku susunan bibliografi Minangkabau yang pernah ada sebelumnya,
yakni buku yang disusun oleh Asma M. Naim dan Mochtar Naim (1973), Bibliografi
Minangkabau: Skripsi, Tesis dan Disertasi yang terbit di Padang dengan penerbit Cen-
ter for Minangkabau Studies; dan pada 1975 dengan judul Bibliografi Minang-
kabau yang terbit di Singapura oleh penerbit Institute of Southeast Asian Studies.
Harapan kami, meskipun masih ditemukan kekurangan di sana-sini, semoga
buku ini berguna untuk khalayak pembaca. Semoga pula akan muncul berbagai su-
sunan bibliografi beranotasi Minangkabau yang lain untuk masa yang akan datang.

Padang, Februari 2013

Penyusun

vii
viii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix

BIBLIOGRAFI

KOLEKSI BALAI PELESTARIAN SENI DAN NILAI TRADISI


SUMATERA BARAT ................................................................................... 1

KOLEKSI FAKULTAS ADAB IAIN IMAM BONJOL


SUMATERA BARAT ................................................................................... 77

KOLEKSI PERPUSTAKAAN DAERAH


SUMATERA BARAT ................................................................................... 113

ix
KOLEKSI
Balai Pelestarian
Nilai Budaya
Padang
SASTRA
SASTRA

105
REF Refisrul & Jumhari. 2004.
”Kaba Sutan Palembang : Analisis Isi dan Nilai Budaya”. Padang: Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vii ; 168 halaman).
Penelitian ini mengkaji isi dan nilai budaya yang terkandung dalam “ Kaba Sutan Palembang
“. Isi adalah ide-ide atau amanat yang terdapat dalam cerita dengan melihat segala aspek
dari cerita itu baik dari segi alur cerita, penokohan, ruang, tempat, waktu dan lain-lain. Nilai
budaya yang dimaksud adalah nilai-nilai yang dianggap baik (luhur) dalam cerita tersebut,
terutama yang dianggap masih relevan untuk masa sekarang.
Dalam cerita Kaba Sutan Palembang, fokus utama adalah kehidupan atau petualangan
pemuda bangsawan Palembang dengan suka duka yang dialaminya dalam “perantauan”.
Di samping itu juga mengambarkan bagaimana kehidupan masyarakat dan kerajaan di
Pulau Sumatera dahulunya, khususnya di daerah Palembang dan Minangkabau. Apabila
dihubungkan dengan sistem sosial Minangkabau, maka dapat diutarakan bahwa dalam kaba
Sutan Palembang tidak sepenuhnya tergambarkan. Hal itu bisa difahami, mengingat lokasi
dan tokoh cerita bukan di daerah Minangkabau tetapi di daerah Palembang.
Nilai budaya yang terkandung dalam kaba Sutan Palembang yakni :
1. Nilai kepahlawanan
2. Nilai tanggungjawab
3. Nilai kasih sayang
4. Nilai sastra/keindahan
5. Nilai sejarah
6. Nilai keimanan
7. Nilai sosial
8. Nilai religi

269
ROH Rohanah, Siti dkk. 2001.
“Syair Sitti Marhoemah Yang Saleh Karya Tulis Sutan Sati (Transliterasi dan Tinjuan
Isi)”. Padang. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Syair Sitti Marhoemah berisikan kisah keelokan, kesalehan, dan ketabahan seorang
perempuan bernama Sitti Marhoemah. Kecantikan dan keelokan Sitti Marhoemah membawa
berkah yaitu disayangi dan dicintai oleh banyak orang. Namun, juga membawa petaka karena
kecantikan dan kebaikannya membuat setiap pria jatuh hati termasuk iparnya sendiri. Sitti
Marhoemah menolak keinginan itu karena dia sudah bersuami dan pada saat itu suaminya
sedang berada di Mekah untuk menunaikan haji. Penolakan itu membuat iparnya dan laki-laki
lain merasa sakit hati dan membalas dengan cara yang sangat keji yaitu memfitnah dengan
cara menyebar isu bahwa Sitti Marhoemah telah berbuat zina sehingga ia dirajam, diusir
bahkan dijual ke nakhoda kapal. Berkat doa dan kesabaranya serta sifat pemaafnya, Allah
mengangkat derajat hambaNya dengan mempertemukan Sitti Marhoemah dengan keluarga
raja. Oleh raja Sitti Marhoemah dibuatkan rumah khusus sebagai tempat beribadah sesuai
permintaannya. Kekhususan ibadah dan kesalehanya membuat doa Sitti Marhoemah selalu
dikabulkan oleh Allah sehingga Allah menganugerahi kelebihan yaitu bisa menyembuhkan
segala macam penyakit. Selain itu, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya dengan memberi
pelajaran kepada orang-orang yang membuat fitnah dengan cara memberikan penyakit
yang tidak bisa diobati oleh siapapun kecuali oleh Sitti Marhoemah. Sitti Marhoemah pada
saat itu sudah menjadi tabib besar dan demi melihat pasienya yang pernah memfitnahnya,
sudah payah dan teramat menderita. Dengan kearifan dan kesalehannya, dia memaafkan

5
Koleksi BPNB

kesalahan mereka dengan satu syarat , mereka tidak boleh mengulang kembali kesalahan
yang sama. Naskah ini mencerminkan sikap dan tingkah laku yang amat terpuji yang harus
kita teladani yaitu kejahatan tidak seharusnya kita balas dengan kejahatan juga melainkan
dengan ikhlas memaafkan kesalahan tersebut hingga orang yang berbuat salah kembali
sadar.

117
AJI Ajisman & Ernatip. 2005.
“Kaba Puti Talayang Kajian Nilai Budaya”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional Padang.
Cerita kaba Puti Talayang ini terdiri dari 7 episode atau bagian cerita. Episode dalam
cerita ini adalah 1) Kasih Membara, 2) Puti Talayang Kena Sumpah, 3) Bertemu Raja
Jihin, 4) Nagari Dialah Garudo, 5) Bareno Menolong Raja Kemala Neli, 6) Pertemuan Puti
Talayang, dan 7) Bareno Menjadi Raja di Negerinya. Dari segi isi, cerita ini selain menarik
untuk dibaca, juga sarat dengan nilai-nilai. Walaupun kaba “Puti Talayang” sudah dicetak
ke dalam bentuk naskah hampir seratus tahun yang lalu, tetapi pesan-pesan tersebut masih
sangat bernilai.
Mengenai isi cerita, banyak perbedaan dengan kondisi kultural sosial masyarakat
Minangkabau. Dalam kaba ini tidak disinggung sedikitpun mengenai adat dan budaya
Minangkabau bahkan ada semacam penyimpangan dari sistem sosial masyarakat
Minangkabau.
Kaba Puti Talayang ini dikarang oleh Syamsuddin Sutan Rajo Endah. Apabila dilihat dari
bentuk nama yang memakai nama Sutan, ada kemungkinan nama tersebut berasal dari
daerah pantai Pesisir Sumatera Barat.
Dari segi bentuk, kaba ini termasuk prosa liris yang berirama dan bermantra, susunan
katanya tetap, bentuk bahasanya liris, ungkapanya plastis dan pengunaan pantun sangat
dominan. Dalam kaba Puti Talayang terdapat 18 buah pantun dan untuk mengungkapkan
suatu maksud dilakukan melalui kata-kata yang dibumbuhi dengan pengandaian, umpama,
ungkapan atau basa-basi dan tidak disampaikan secara langsung. Dari segi isi, naskah
kaba Puti Talayang ini sangat berguna sebagai acuan bertingkah laku, kerena nilai-nilai
yang terkandung didalamnya cukup representatif dalam pembentukan kualitan manusia
Indonesia. Secara umum nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kaba ini adalah nilai
ketaatan, nilai sastra/keindahan, nilai kejujuran, nilai keagamaan, nilai sabar atau tawakal,
nilai satria dan nilai religi.

5
NUR Nuralia, Lia dkk. 2002.
“Hikayat Siti Rabihatoen : Suatu Kajian Tekstual. Padang: Balai Kajian Sejarah dan
Nilai Tradisional Padang.
Hikayat Sitti Rabihatoen merupakan hasil fotokopi dari koleksi Pusat Dokumentasi dan
Informasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang. Kajian hikayat dibatasi pengkajian
teks dalam bentuk transliterasi dan nilai-nialai yang terkandung sebagai makna tersirat
dalam cerita.
Cerita Hikayat Sitti Rabihatoen dapat dikatakan sebagai cerita yang melengkapi cerita
prosa rakyat secara umum di Indonesia. Hikayat ini menggambarkan kehidupan seorang
tokoh yang mengalami kesusahan di awal cerita, yang diakhiri dengan sebuah ending yang
menggembirakan di akhir cerita. Seorang perempuan yang bernama “Sitti Rabihatoen”
mengalami kesusahan karena ditinggal mati oleh suaminya. Akhirnya ia mendapatkan

6
SASTRA

kemuliaan. Kegembiraan atau kemuliaan yang dimiliki setiap tokoh cerita rakyat di
Indonesia adalah salah satu ciri khas dari karya prosa lama di Indonesia dahulunya.

154
CHR Christyawaty, Eny & Ajisman. 2006.
”’Fatimah Mati Terbenam’ (Sebuah Analisis Teks dan Pengungkapan Nilai Budaya
Berdasarkan Kisah Nyata pada Awal Abad XX di Ranah Minang)”. Padang: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.

Naskah tersebut berisi cerita tentang seorang ibu yang sangat galak dan bengis kepada
anak perempuan kandungnya. Akhirnya anak tersebut mati tenggelam karena tidak tahan
menghadapi siksaan fisik maupun batin. Kisah yang ditulis di dalam Syair “Fatimah
Mati Terbenam” ini merupakan sebuah kejadian nyata yang terjadi di Kampung Durian,
Nagari Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kisah ini berlatar belakang budaya
Minangkabau yang matrilineal.
Seorang anak perempuan di Minangkabau umumnya mempunyai hubungan yang sangat
dekat dengan ibunya karena dialah yang meneruskan garis keturunan. Akan tetapi, yang
terjadi di sini justru sebaliknya. Sang ibu malahan sangat membenci anaknya karena rasa
dendam terhadap suaminya yang sangat miskin.
Kisah ini merupakan salah satu potret sebuah keluarga di Minang yang ditulis secara
sengaja oleh penulisnya supaya dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang membacanya.
Seperti diketahui, banyak karya sastra pada zaman Balai Pustaka berisi tentag “protes”
secara halus terhadap adat Minangkabau. Naskah ini dianggap mengangkat latar belakang
sosial budaya Minangkabau, seperti merantau dan hubungan kekerabatan antara mamak–
kemenakan. Peran mamak diceritakan agak kurang berfunsi secara optimal karena sang
mamak pergi merantau.

86
AJI Ajisman & Leonard Arios. 2000.
“Kaba Siti Jamilah Dengan Tuanku Lareh Simawang: Kajian Isi Dan Nilai Budaya”.
Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Berdasarkan analisis teks dan observasi, Syamsudin Sutan Rajo Endah dalam mengarang
kaba ini tidak melihat fakta di lapangan. Ia hanya mendengar cerita kaba dari orang
perorangan, kemudian ia tulis. Ada beberapa tempat yang dikatakan di dalam cerita kaba
ini yang tidak sesui dengan fakta di lapangan antara lain disebutkan,
Cerita kaba Siti Jamilah dengan Tuanku Lareh Simawang ini adalah cerita faktual. Kemudian
dikemas oleh Sutan Rajo Endah, sehingga cerita kaba ini menjadi menarik bagi pembaca
atau pendengarnya.

12
AJI Ajisman dkk. 2002.
”Kaba Sutan Pangaduan dan Sutan Lembak Tuah Beserta Ayahnya Gombang Pitunan
: Suatu Kajian Tekstual”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vii ; 168 halaman)
Berdasarkan analisis, kaba “Sutan Pangaduan“ ini bukan asli produk Minangkabau.
Kemungkinan penulis kaba ini pernah merantau ke Aceh, kemudian mendengar cerita kaba
ini di sana. Setelah kembali dari sana kemudian ia menulis cerita tersebut akhirnya menjadi

7
Koleksi BPNB

sebuah naskah. Kaba “Sutan Pangaduan” ini dikarang oleh Sutan Mangkuto alias Sutan
Pangaduan. Apabila dilihat dari bentuk nama yang memakai nama Sutan, ada kemungkinan
nama tersebut berasal dari daerah pantai Pesisir Sumatera Barat.

46
REF Refisrul & Lia Nuraila. 2003.
”Kaba Si Saripoedi : Kajian Isi dan Nilai Budaya”. Padang : Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradiional Padang.
(viii, 164 halaman).
Hasil analisis menunjukkan, dalam cerita kaba ini tergambar bagaimana kehidupan
masyarakat Minangkabau pada masa akhir abad ke 19. Kehidupan masyarakat dahulu yang
masih lekat dengan adat dan kebiasaan tradisional, khususnya dalam hal mata pencaharian,
kekerabatan, adat perkawinan, kematian, kepemimpinan, agama, serta pengetahuan
tentang gejala alam. Hal ini dapat dilihat dari gambaran isi kaba yakni seorang wanita
muda Minangkabau dahulu yang tercermin dalam diri Saripoedi. Terutama bagaimana
pertentangan batin yang dialami menjelang ajal menjemputnya, antara nasehat orang tua
dengan kesetiaan pada persahabatan dengan teman-temannya.

306
ERN Ernatip dkk. 1999/2000.
”Kajian Nilai Budaya Naskah Nazam Kanak-Kanak Dalam Surga”. Padang
:Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan.
( viii ; 147 halaman).
Dari analisis, ditunjukkan bahwa “Nazam Kanak-Kanak dalam Surga” merupakan karya
sastra yang berlandaskan pada nilai-nilai yang ada dalam kandungan kitab suci Al-Quran
dan Hadis Nabi yang dijadikan sarana komunikasi yang praktis dalam menyampaikan pesan,
nasehat dan ajaran agama terhadap manusia. Kandungan isinya menceritakan keadaan surga
dengan segala fasilitas, berupa kenikmatan dan kemewahan yang didapat oleh kanak-kanak
yang masih suci dari dosa dan juga kita sebagai orang tua bisa ikut merasakan fasilitas
itu, konsekuansinya kita diharuskan taat menjalankan ibadah kepada Allah dan melakukan
amal sholeh lainnya selama hidup didunia.

292
AJI Ajisman dkk. 1999/2000.
”Kajian Nilai Budaya Nazam Neraca Kebenaran”. Padang: Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang.
(viii ; 164 halaman).
Kajian ini menunjukkan secara umum nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah ini
adalah nilai keagamaan, rendah hati, perbanyak puji kepada Allah, akal warrag, orang cerdik,
orang budiman, akal sejangkal, akal dua jangkal, akal tiga jangkal, jangan takabur, jangan
menghina orang, jangan menyalahi janji, seorang pemimpin harus adil, orang tua yang
mau bertobat orang kaya yang suka menolong, orang penyabar, bertambah ilmu bertambah
amalan, semakin bertambah kaya semakin pemurah, sifat sabar dan pemaaf, sifat tawakal,
sifat sombong, sifat perempuan soleh kasih saying, ajaran berbuat baik dan melarang
berbuat jahat, sifat hidup dermawan, memuliakan tamu, khusuk dalam sembahyang, ajaran
saling hormat-menghormati, ajaran untuk tolong menolong, ajaran bertakwa kepada Tuhan,

8
SASTRA

dan kelebihan ilmu pengetahuan daripada harta.

307
ERN Ernatip dkk. 1999/2000,
”Pengungkapan Nilai Budaya Naskah Kaba Tuanku Lareh Situjuh”. Padang :
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
( vii ; 181 halaman).
Kaba Tuanku Lareh Situjuh adalah karya sastra klasik yang hidup dikalangan masyarakat
Minangkabau. Kaba ini termasuk sastra lisan yang kemudian ditulis pada sebuah buku
sehingga terwujud sebuah naskah. Kaba ini sesungguhnya adalah tradisi lisan dalam bentuk
teater tutur yang menjadi kekayaan budaya Minangkabau.
Dalam kajian naskah ini disebutkan pertama orang Minangkabau dalam hal tradisi verbal
sangat kaya dalam hal berandai-andai. Untuk mengungkapkan suatu maksud dilakukan
melalui kata-kata yang dibumbui dengan pengandaian, umpama, ungkapan atau basa basi
dan tidak disampaikan secara langsung. Kedua, dari segi bentuk, kaba ini termasuk prosa
liris yang berirma dan bermatra, susunan katanya tetap, bentuk bahasanya liris, ungkapannya
plastis dan penggunaan pantun sangat dominan. Ketiga penyampaian kaba dituturkan
dengan cara dilagukan, keempat dibuka dengan pantun dan ditutup dengan pantun, kelima
menggunakan bahasa klise.
Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam naskah kaba Tuanku Lareh Situjuh adalah:
poligami, mempertahankan harga diri, kepatuhan atau ketaatan anak terhadap orang tua,
serta kesabaran.

NOV Noveri dkk. 2000.


“Kajian Nilai Budaya Naskah Kuno Sariamin”. Padang: Departemen Pendidikan
Nasional Direkorat Jenderal Kebudayaan.
(viii ; 91 halaman).
Tulisan ini memfokuskan bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam naskah kuno
Minangkabau yang berjudul “Sariamin”. Adapun metode yang digunakan dalam melakukan
kajian dan analisis nila-nilai yang terkandung dalam naskah Sariamain adalah metode
analisis isi (content analisis) yang merupakan metode yang sering digunakan oleh para ahli
ilmu sosial dalam mempelajari arti yang lebih dalam serta proses-proses dinamis dibidang
komponen dari nasakah itu sendiri. Mula-mula huruf atau tulisan Arab Melayu yang terdapat
dalam naskah tersebut dialihkan ke huruf atau tulisan latin.

318
ERN Ernatip dkk. 1998/1999.
“Si Ali Amat”. Padang: Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(v ; 116 halaman).
Naskah Si Ali Amat berisi tentang gambaran kehidupan orang Minangkabau pada masa
lalu. Di dalam naskah kuno Si Ali Amat, terdapat beberapa nilai-nilai, yakni ketabahan,
tolong menolong, mempertahankan harga diri, mempunyai pendirian yang kokoh, rendah
hati, pemurah, pemaaf, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang
terkandung dalam setiap pribadi manusia. Ini berguna baik dalam lingkungan keluarga
maupun bermasyarakat.

9
Koleksi BPNB

316
REF Refisrul dkk. 1998/1999.
“Kajian dan Pengungkapan Nilai Budaya Naskah Kuno Rancak Di Labuah” Padang:
Departemen Kebudayaan dan Parawisata, Direktorat Jendral Nilai Budaya, Seni dan
Film.
(viii ; 100 halaman).
Hasil kajian menunjukkan naskah kuno ini menggunakan tulisan Arab Melayu (Jawi)
dengan menggunakan bahasa Minang lama. Berisi tentang pendidikan yang diberikan
oleh seorang ibu kepada anaknya, tentang bagaimana bertindak yang seharusnya sebagai
orang Minangkabau. Pendidikan yang diberikan itu sangat penting bagi si anak. Nilai yang
terkandung di dalam “Cerita Rancak Di Labuah” berdasarkan kajian adalah pendidikan,
musyawarah, budi pekerti, keagamaan, social/kemasyarakatan, tanggung jawab, kesetiaan,
pengetahuan, ketaatan/kepatuhan, dan sastra/keindahan.

813
MOE Moeis, Abdul. 1997.
Salah Asuhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Buku ini menjelaskan salah asuhan, salah satu dari karya seorang anak Minang yakni Abdul
Moeis yang menceritakan kemasyarakatan pada zamannya. Selain merupakaan bacaan
umum, salah asuhan juga digunakan untuk bacaan wajib para pelajar. Melihat tema dan
gaya bahasanya, roman ini merupakan penambahan dalam kesusastraan Indonesia.

787.07
UDI Udin, Syamsuddin. 1993.
Rebab Pesisir Selatan: Malin Kundang. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
Buku ini mendeskripsikan cerita malin kundang rebab pesisir selatan yang merupakan
salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau. Rebab ialah jenis instrumen musik, dan pesisir
selatan merupakan daerah tempat berkembangnya. Sastra lisan disebut sastra tradisi lisan
yang hakekatnya adalah seperangkat pertunjukan yang melibatkan penutur dan khalayak
menurut tata cara dan tradisi pertunjukannya.

395
YUN Yunus, Ahmad dkk. 1993.
Peranan Cerita Rakyat Dalam Pembentukan dan Pembinaan Anak. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat selain merupakan
bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri, juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan
nilai budaya. Lahirnya cerita rakyat ialah hasil pengaruh timbal balik yang rumit dari faktor
sosial dan kultural. Salah satu cara untuk mewarisi nilai budaya kepada generasi muda
berikutnya ialah melalui dongeng atau bercerita.

787
DHA Dhavida, Usria dkk. 1997.
Kesenian Rebab Pesisir. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan Kesenian Rebab Pesisir yang mengalami kemunduran, bahkan

10
SASTRA

hampir langka penciptanya, pemainnya, maupun pembuat rebab itu sendiri. Ini disebabkan
oleh teknologi yang telah menciptakan alat-alat musik modren sehingga instrumen musik
tradisional telah dapat ditiru dan diperdengarkan melalui musik elektronik.

398
DJU Djurip. 2000.
Cerita Rakyat Daerah Sumatera Barat. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional.
Buku ini berisi tentang cerita rakyat di daerah Sumatera Barat karena cerita rakyat
merupakan nilai budaya yang berlaku di masyarakat yang harus dilestarikan. Di antara
cerita rakyat yang paling menarik adalah Legenda Sungai Jernih, sebab merupakan salah
satu objek wisata yang sangat terkenal di kecamatan Baso. Selain itu, juga ada cerita rakyat
Simarosok, asal usul gunung Tembus dan Batu Bujang Jibun.

398
ERN Ernatip. 2005.
Kaba Sutan Palembang: Analisis Isi dan Nilai Budaya Sejarah. Padang: Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional.
Kaba merupakan salah satu bentuk karya sastra masyarakat Minangkabau yang berbentuk
cerita atau kisah. Hasil analisis menunjukkan Kaba Sutan Palembang berisi tentang
petualangan Sutan Palembang yang merantau dengan segala suka dan duka yang dialaminya.
Nilai budaya yang terkandung didalam cerita ini sangat baik dan mempunyai karakteristik
tersendiri.

390.4
DAH Dahrizal, Musra. 2007.
Tigo Carito Randai. Padang:Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Buku ini berisi tiga naskah cerita randai yaitu, Si Umbuik Mudo, Magek Manandin, dan
Santan Batapiah.

959.8
DJA Djamaris, Edwar. 2001.
Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Buku ini memuat karya sastra rakyat Minangkabau yang terdapat dalam berbagai bentuk
dan jenis. Melalui buku ini diharapkan pembaca akan mengenal perkembangan sastra
Minangkabau yang berupa puisi, prosa, dan drama.

090
MAR Marajo, Sjafnir Aboe Nain Datuak Kando dkk. 2009.
Naskah Tuanku Imam Bonjol Beranotasi. Padang. Lembaga Kajian Gerakan Paderi
(1803-1838). Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman dan BPSNT Padang.
287 halm, 21 cm
Buku ini merupakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang merupakan tulisan Arab Melayu.
Dalam naskah ini terdapat pandangan Tuanku Imam tentang adat dan agama. Dalam

11
Koleksi BPNB

menciptakan kedamaian dihadapan Jumat, Tuanku Imam menyatakan tidak lagi akan
mencampuri wewenang basa dan penghulu sehingga memungkinkan pemimpin adat
menyelesaikan masalah-masalah sosial.

810.7
LUB Lubis, Mochtar. 1997.
Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Buku ini memuat sastra dan teknik menulis karya sastra. Buku ini berisi tanya jawab,
karang-mengarang, memberikan uraian bagaimana mengarang novel, mengarang cerita
pendek , dan memuat enam cerita pendek.Berbicara tentang sastra, maka berbicara
mengenai manusia dan masyarakat baik itu perorangan, kelompok masyarakat luas, dan
tentang masyarakat itu sendiri serta bagaimana menjadi seorang pengarang yang kreatif dan
penuh kepercayaan diri.

899.221
ALI Ali , Lukman. 1994.
Unsur Adat Minangkabau dalam Sastra indonesia1922-1956. (cet.1). Jakarta: Balai
Pustaka.
Buku ini memuat unsur adat dalam karya sastra Indonesia. Persoalan yang dibicarakan
ini berlaku untuk karya itu sendiri,tidak keluar dari itu. Persoalan yang paling banyak
ditemukan dalam buku ini adalah kawin paksa yang mengandung unsur adat.

401
RAM Ramadhani. 2006.
Ikhwal Ketaktunggalan dalam Bahasa Minangkabau. (Cet,1). Padang: Andalas
University Press.
186 halm,14,5 x 21 cm
Buku ini menjelaskan bahasa intraetnis di ranah Minang atau para perantau lokal dan global,
sebagai bahasa Minangkabau yang digunakan secara aktif. Bahasa Minangkabau punya
peran penting yaitu sebagai alat berintegrasi sosial. Bahasa Minang dan bahasa Melayu
memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia dan ada juga berasal dari rumpun yang sama
seperti Austronesia barat Malaysia yang mempunyai kemiripan dengan bahasa- bahasa di
dunia dalam ikhwal keuniversalan.

419
NAN Nadra. 2006.
Rekontruksi Bahasa Minangkabau. (cet.1). Padang: Andalas University Press.
241 halm, 15x12 cm
Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Bahasa ini
di kenal juga dengan nama bahasa Minang atau bahasa Padang yang menyebutnya dengan
bahasa Melayu Minangkabau . Penutur bahasa ini diperkirakan berjumlah 6.500.000 orang.
Dapat di simpulkan bahwa punutur bahasa Minangkabau ini adalah bahasa kedua terbesar
setelah bahasa Melayu.

12
SASTRA

398
ALI Ali, Lukman. 1994.
Unsur Adat Minangkabau dalam Sastra Indonesia 1922-1959. Jakarta: Balai Pustaka.
148 halm, 21cm.
Buku ini menguraikan unsur-unsur adat di dalam sastra yang ada di Minangkabau pada kurun
waktu 1922-1959. Masalah adat tak lepas dari rangkaian masalah kemasyarakatan yang
pasti menyinggung pula sedikit zaman yang diceritakan yang menimbulkan pembeturan-
pembeturan dalam masyarakat akibat dinamika yang timbul.

407
RAH Rahman, Abdul. 1996.
Sudah Pandai Membaca Logat Minangkabau. Bukittinggi: CV. Pustaka Indonesia.
102 halm
Buku ini menceritakan perantau Minangkabau yang pulang ke kampung dengan berbagai
masalahnya. Terdapat pula berbagai kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari
bergontong- royong, kerja keras, dan tanggung jawab keluarga.

419
MAR Martis, Non dkk. 2005.
Eksistensi Bahasa Minangkabau dalam Keluarga Muda Minang di Kota Padang.
Padang: Balai Bahasa Padang.
Buku ini menjelaskan bahasa Minangkabau dalam keluarga muda Minang. Bahasa
menjadi ciri identitas satu bangsa. Melalui bahasa orang dapat mengidentifikasi kelompok
masyarakat bahkan dapat mengenali perilaku dan kepribadian masyarakat penuturnya.
Dalam kehidupan masyarakat penutur bahasa Indonesia telah terjadi perubahan, terutama
yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

800
RUS Rusli, Marah. 2009.
Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Jakarta :PT.Balai Pustaka.
334 halm, 20.5 cm.
Sebuah novel karya Marah Rusli tentang kisah cinta Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri,
bersama kenangan dan kebencian orang-orang terhadap perangai Datuk Maringgih yang
licik, akan tetapi sekaligus mempesona. Selain tentang cinta yang indah, terdapat pula
tentang patriotisme dan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang selalu ada pada tiap zaman
karena itulah maka novel ini menjadi abadi.

13
SEJARAH
SEJARAH

NUR Nur, Muhammad


Identitas Budaya Pesisir Minangkabau Dalam Perspektif Sejarah.
Suluah, 2 (3) Desember 2002: 17-22
Artikel ini memuat proses terjadinya asimilasi budaya di pesisir, di antaranya melalui
perdagangan, penyebaran agama, kesenian, perkawinan dan eksvansi politik Aceh.

ZUB Zubir, Zusneli


Kiprah Perempuan Minangkabau di Ranah Publik dari Masa ke Masa. Suluah, 4(5)
Agustus 2004 :54-64
Artikel ini memuat kedudukan perempuan dalam masyarakat Minangkabau memiliki
kedudukan yang sangat tinggi. Perempuan Minangkabau digambarkan sebagai penghias
nagari.

ZUB Zubir, Zusneli


Perubahan Pola Pikir Petani di Sumatera Barat (Tinjauan dari Sisi Perubahan
Budaya Tari)
Suluah, 2(3) Desember 2002: 47-49
Artikel ini memuat perubahan pola pikir petani di Sumatera Barat yang masih berada dalam
masa transisi dalam melaksanakan usaha taninya. Pelaksanaan bertani dimulai dengan
ritual-ritual pada setiap tahapan tetapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan cara
bertani masyarakat pun berubah.

299
MAR Maryetti dkk. 1999/2000.
“Peranan Kaum Wanita dalam Perjuangan Kemerdekaan di Front Timur Kota
Padang Tahun 1945-1950”. Padang: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat
Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vi ; 128 halaman)
Keterlibatan wanita dalam perang kemerdekaan di Kota Padang menunjukkan bahwa tingkat
kepedulian mereka terhadap usaha membela negara yang relatif tinggi. Upaya melibatkan
diri terebut tidaklah melalui pemaksaan, tetapi bersumber dari keinginan dari dalam hati
mereka sendiri. Mereka merasa terpanggil untuk bersama-sama dengan kaum pria maju ke
front pertempuran untuk menghadapi serangan dari tentara Belanda.
Secara organisatoris keterlibatan wanita dalam perang kemerdekaan di Sumatera Barat
umumnya dan Kota Padang khususnya dapat dibagi atas 2 kelompok yaitu Keputian
Republik Indonesia (KRI) dan Sabil Muslimat. Selain berbeda nama, kedua organisasi
perjuangan wanita ini juga relative berbeda dalam struktur maupun dalam perjuangannya.
Kalau KRI berada langsung di bawah TNI sedangkan Sabil Muslimat berada di bawah
Muhammadiyah.
KRI lebih merupakan sebagai organisasi pejuang dari wanita-wanita yang berpendidikan
sekuler. Selain itu mereka lebih banyak berada di garis belakang sebagai palang merah dan
dapur umum, meskipun ada diantaranya yang menjadi kurir dan juga merampas senjata
musuh. Oleh karena KRI berada dibawah TNI maka aktivitas anggotanya lebih banyak
“ ditentukan “ oleh TNI dari pada mengambil inisiatif sendiri. Hal ini disebabkan karena
anggota KRI dilatih oleh prajurit TNI, maka wilayah perjuangannya juga lebih banyak
mengikuti TNI.

17
Koleksi BPNB

171
ROH Rohanah, Siti & Nurmatias. 2006.
“Bagindo Aziz Chan Pahlawan Nasional dari Kuraitaji”. Padang: Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Bagindo Azis Chan telah dianugerahi Pahlawan Nasional. Ini sangat ditunggu-tunggu
oleh masyarakat Sumatera Barat. Tokoh ini telah dianggap sebagai pahlawan nasional
oleh masyarakat Sumatera Barat sebelum penganugerahan tersebut dilakukan. Hal ini,
erat kaitannya dengan nilai-nilai perjuangan yang telah dilakukan oleh Bagindo Aziz
Chan selama kurun waktu satu tahun masa pemerintahannya sebagai Walikota Padang ke
II setelah Abubakar Djaar (15 Agustus 1946). Penganugerahan tanda penghormatan ini
dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 9 Nopember 2005, di
Istana Merdeka Jakarta.
Pada masa pendudukan Jepang, ia tampil untuk memimpin pemuda membuka jalan kereta
api yang menghubungkan kota Sijunjung Sumatera Barat melalui hutan belantara Logas
terus ke Pekan Baru, Riau secara sukarela tanpa paksaan. Menjadi anggota Nokokai yaitu
Badan Kebaktian Rakyat Sumatera Barat yang mengurus masalah logistik. Demikian juga
pada masa-masa kemerdekaan Aziz Chan ikut berpartisipasi dan meluangkan waktu menjadi
penggerak dan pembentuk organisasi maupun masalah-masalah lain yang berhubungan
dengan perjuangan. Hal-hal inilah yang dikemukakan atau diungkapkan kembali sebagai
suatu manifestasi perjuangan dan penghormatan yang diterima beliau.

43
M. NUR Nur, M dkk. 2003.
“Dinamika Pelabuhan Air Bangis dalam Lintasan Sejarah Lokal Pasaman Barat”.
Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang Proyek Pengkajian dan
Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi Padang.
(vi ; 172 halaman).
Bandar Airbangis memang berbeda dengan Bandar pantai lainnya di pesisir barat Pulau
Sumatera. Secara umum pasar dalam sebuah kota terpisah dari bandarnya, yakni di muara
Batang Sikabau. Hal ini terjadi karena Airbangis hanya layak untuk sebuah Bandar yang
terletak dibibir sebuah teluk dan lahan kaki pegunungan Pasaman yang agak luas sehingga
tidak memungkinkan pasar berada jauh kearah pedalaman. Bagaimana peranan Airbangis
sebagai Bandar dan pelayaran di pantai barat Pasaman dalam kurun waktu abad ke 19 sampai
kontemporer, dengan menekankan pada kegiatan perdagangan dan dinamikanya. Secara
keselruhan penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dinamika sejarah Airbangis.
Bandar maritime itu memainkan peranan penting dalam memajukan daerah pedalaman
melalui perdagangan.
Sebelum abad ke-19 pantai barat Pasaman berada dalam kekuasaan Aceh. Kekuatan Aceh
sangat dirasakan disetiap Bandar, termasuk Air Bangis, dengan menempatkan Wakil Raja
Aceh yang bergelar Panglima Aceh disana. Kehadiran kekuatan Aceh dikawasan pesisir
barat Pasaman ditanggapi oleh penduduk setempat dengan pro dan kontra. Bagi yang
pro, mereka mendukung keberadaan Panglima Aceh disetiap Bandar, sebab sebagian dari
orang Aceh telah menjadi penduduk setempat dan berketurunan. Namun kadang-kadang
para panglima sering berbuat semena-mena terhadap penduduk dengan memonopoli
perdagangan lada dan bahan komoditi lainnya.

18
SEJARAH

279
ROH Rohanah, Siti dkk. 2000.
“Peranan Muhammadiyah dalam Sistem Pendidikan Islam di Padang Panjang Tahun
1950-1965”. Padang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal
Sejarah dan Purbakala.
(iii ; 76 halaman).
Masyarakat Sumatera Barat umumnya dan Padang Panjang khususnya kebanyakan
menganut faham Muhammadiyah. Ini berarti Muhammadiyah merupakan sumber kekuatan
masyarakat yang berpengaruh dan menimbulkan perubahan-perubahan ke arah yang lebih
baik dalam masyarakat Islam. Muhammadiyah Padang Panjang telah turut memberikan
sumbangsihnya dalam menumbuhkan dan mempertebal rasa kesatuan dan persatuan bangsa
Indonesia. Selain itu, organisasi itu juga beperan juga menumbuhkan kesadaran masyarakat
akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan agama, bangsa, dan negara.
Dalam melaksanakan amal usahanya, Muhammadiyah sangat kooperatif. Organisasi ini
dapat bekerja sama dengan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan bangsa dan
negara. Untuk itu, Muhammadiyah Padang Panjang pernah dekat dengan pemerintah
sehingga dipercaya untuk menerima bantuan keuangan dalam menunjang pembangunan-
pembangunan fisiknya. Akan tetapi, tidak lama setelah itu, hubungan menjadi renggang. Hal
ini disebabkan karena adanya oknum-oknum tertentu atau gerakan yang merasa bersaing
dengan Muhammadiyah. Cobaan itu diterima baik oleh Muhammadiyah dengan lapang
dada sambil tetap melakukan amal usaha diberbagai bidang kehidupan umat.
Dalam bidang pendidikan, peranan Muhammadiyah cukup besar. Sejak awal berdirinya
sampai sekarang telah ribuan lembaga-lembaga pendidikan didirikan dan tersebar
diberbagai daerah, termasuk di Padang Panjang. Sekolah-sekolah ini telah menghasilkan
ribuan lulusan atau alumni yang berhasil menjadi pejabat pemerintah, pengusaha, pedagang
sukses dan tidak sedikit pula yang mengabi pada dunia pendidikan sebagai rektor, guru dan
dosen, dan lain-lain.

270
ZUB Zubir,Zusneli dkk. 2001.
“Pendudukan Jepang di Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok Dan
Pengaruhnya Terhadap Ekonomi Masyarakat”. Padang : Balai Kajian Sejarah Dan
Nilai Tradisional Padang, 2001.
Salah satu daerah yang secara langsung mengalami masa pendudukan Jepang adalah
kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Daerah ini dulunya adalah
penghasil beras atau padi dan juga sayur-sayuran. Selain itu, Lembang Jaya juga terkenal
sebagai penghasil cengkeh. Sebagai gudang beras, Lembang Jaya dipandang Jepang dapat
memenuhi kebutuhan bahan pangan untuk kepentingan Perang Asia Timur Raya. Oleh
karena itu, Jepang lalu mengeluarkan berbagai macam peraturan, seperti penyerahan padi
secara paksa pada masyarakat di pedesaan. Selain itu, banyak tenaga-tenaga produktif di
masyarakat yang digunakan untuk kepentingan perang Jepang.
Demikian juga dalam menghadapi masa agresi militer Belanda. Rakyat harus dihadapkan
pada keharusan berkorban untuk berjuang dan berperang melawan kolonial Belanda. Masa-
masa yang sulit bagi rakyat yang sedang menghadapi krisis ekonomi juga harus menghadapi
kekalutan akibat perang. Ada satu yang menjadi kebanggaan masyarakat pariaman bahwa
daerahnya dianggap sebagai suatu tempat yang sangat strategis bagi pasukan ALRI.
Markas ALRI yang terletak di kampung Cina, menjadi lambang pelindung dan lambang
kebanggaan bagi masyarakat. Karena selain sebagai pasukan pertahanan kota Pariaman dan
bahkan pasukan pertahanan pusat pemerintahan Bukitinggi dan Sumatera Barat umumnya

19
Koleksi BPNB

juga ALRI telah mampu membuktikan dengan mensejahterakan rakyat Pariaman dalam
hal perekonomian. Menjalin kerja sama dengan masyarakat maupun dengan pasukan lain
telah mmbawa ALRI masuk ke jajaran pasukan yang dihormati oleh masyarakat Pariaman.
Pengorbanan dan perjuangan mereka telah dianggap mampu menghasilkan moment sejarah
yang bisa dijadikan acuan dan motivasi bagi generasi muda Pariaman.
Pariaman sebagai pusat pangkalan ALRI maka pertahanan kota Pariaman lebih didominir
oleh batalion ALRI di bawah pimpinan pusat Mayor Laut Sulaiman. Konsekwensi dari
kedudukan ini, menyebabkan kesatuan ALRI merasa bertanggung jawab dan bertahan
sampai titik darah yang terakhir dalam menghadapi gerakan exspansi kolonialisme
Belanda ke Pariaman dan sekitarnya. Sebagai manifestasi dari rasa tanggung jawab moral
serta panggilan hati nurani untuk membela bangsa dan tanah air itu dari kalangan ALRI
telah gugur sebagao suhada secara heroik dalam menghadapi gerakan agresi kolonialisme
Belanda ke kota Pariaman pada tanggal 6 Januari 1949.

IMA Imadudin, Lim


“Dinamika Kehidupan Surau di Minangkabau (Kasus di Nagari Pariangan, Kab.
Tanah Datar 1960-1990)”. Padang : Badan Pengembangan Kebudayaan dan
Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Padang.
(xiv, 130 halaman).
Fokus penelitian ini adalah dinamika surau yang menyangkut relasi agama dan struktur
sosial, serta perubahan yang terjadi di dalamnya. Penelitian dilaksanakan di Nagari
Pariangan, Kabupaten Tanah Datar yang dianggap sebagai nagari tertua di Minangkabau.
Penelitian ini bertujuan sebagai bagian dari usaha mengembangkan wacana dan mendorong
“gerakan kembali ke surau”.
Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa dinamika kehidupan surau di Pariangan
sepanjang tahun 1960-1990 mengalami pasang surut yang dapat diamati perubahannya.
Sebagai insitusi yang berangkat dari kebudayaan local, surau mempertemukan dua elemen
dasar masayarakat yaitu, agama dan adat. Agama dan adat meruapakn elemen yang saling
mengisi satu sama lain. Ajaran-ajaran kesurauan mengimplementasikan nilai-nilai yang
terkandung dalam doktrin” keberadaan surau terkait dengan upaya Islamisasi” nilai-nilai
adat dan pusat penyebaran agama Islam.
Perubahan sosial yang terjadi dalam konteks surau adalah perubahan yang meninggalkan
peranan institusi lama. Dalam hal ini institusi yang tradisional dianggap tidak berkaitan
dengan kehidupan nyata masyarakat. Pada akhirnya, surau menjadi saksi dari peradaban
besar. Demikianlah surau, merupakan bagian dari siklus sejarah yang pernah ada dan
menjadi khasanah tradisi Minangkabau.

13
IMA Imadudin, Iim dkk. 2002.
“Penerbitan dan Tradisi Intelektualisme di Minangkabau Kasus Tsamaratul Ikwan
1913-1949”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Salah satu di antara penerbit yang cukup disegani pada periode 1900-an adalah Tsamaratul
Ichwan. Pada mulanya Tsamaratul Ichwan merupakan yayasan yang bergerak di bidang
sosial. Kemudian yayasan yang didirikan Syeikh Jamil Jambek tersebut mengkhususkan
diri pada bidang penerbitan. Cukup banyak buku-buku yang diterbitkan. Kajian tentang
penerbit ini menjadi menarik karena para peneliti jarang atau dapat dikatakan sedikit sekali
menelitinya, menjadikan peran penerbit sebagai bagian dari kebangkitan intelektualisme
ulama, lebih-lebih jika dikaitkan dengan kebangkitan umat secara keseluruhan.

20
SEJARAH

Eksistensi Tsamaratul Ichwan mendorong makin kuatnya gerakan pembaharuan kaum


muda. Upaya untuk memurnikan pengamalan agama makin menemukan bentuknya. Jika
sebelumnya hanya terbatas pada ceramah-ceramah keagamaan yang terbatas dan temporer,
dengan adanya penerbitan memiliki daya jangkau lebih luas dan “abadi”. Dalam pengertian,
orang dapat mempelajari dan memahaminya secara lebih utuh dan mendalam. Sudah barang
tentu medan dakwah yang dihadapi penuh dengan kesulitan karena realitas sosial yang
datang dari dua arah. Pertama, tantangan yang hebat dari kaum tua; dan kedua, tekanan
kolonialisme yang memasung kebebasan.
Sebagai penerbitan, Tsamaratul Ichwan mentransformasikan nilai-nilai tentang pentingya
peran media sebagai corong gerakan pembaharuan kaum muda. Demikian juga ulama lebih
memiliki pilihan untuk mengaktualisasikan dakwah kepada masyarakat. Selain itu, penerbit
telah menyediakan dirinya sebagai debating forum. Dalam perkembangannya, keberadaan
Tsamaratul Ichwan sangat terkait dengan pengelolanya. Pada masa kepemimpinan Syeikh
Jamil Jambek, percetakan mencetak buku agama dan budaya. Pasca kepemimpinan Inyiak
jambek, Tsasmaratul Ichwan dikelola Inyiak Ulak. Pada fase ini, tema intelektual dan politis
(yang diwakili Soeara Islam) lebih mengemuka. Sedangkan, pada fase Inyiak Ulak lebih
bercorak budaya.

275
ZUB Zubir, Zusneli dkk. 2000.
“Undang-Undang Otonomi Daerah dan Implementasinya di Sumatera Barat (1945-
1974)”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini menjelaskan beberapa segi permasalahan mengenai beberapa UU Otonomi
Daerah di Indonesia dan implementasinya di Sumatera Barat, yaitu, latar belakang lahirnya
UU Otonomi Indonesia dan tanggapan terhadap UU Otonomi Daerah baik dari pemerintah
pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Semenjak kemerdekaan, negara Republik
Indonesia telah membuat beberapa peraturan mengenai undang-undang Otonomi daerah.
Undang-undang tersebut adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945, Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1948, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1956, Undang-Undang Nomor 16
Tahun 1965 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. Kenyataan tersebut menunjukkan
bahwa proses untuk mewujudkan otonomi daerah, memerlukan waktu yang cukup lama.
Hal ini dapat di lihat dari peraturan perundang-undangan yang terus berubah tentang
pemerintahan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan asal-usul dan budaya daerah
masing-masing, seperti Sumatera Barat, memiliki budaya yang khas dan melekat pada
masyarakatnya. Tentu saja undang-undang tata peraturan pemerintahannya juga harus
sesuai dengan adat-istiadat Minangkabau.

233
ZUB Zubir, Zusneli dkk. 2002.
“Perempuan Minangkabau abad XX : Antara Tradisi, Modernisasi, dan Gender”
Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Mengingat banyak tokoh perempuan Minangkabau yang terkenal, maka penelitian ini hanya
mengangkat empat belas orang saja, yaitu Rahmah El Yunusiyyah, Rohana Kudus, Sitti
Manggopoh, Puti Ros Dewi Balun, Aisyah Amini, Ani Idrus, Dewi Fortuna Anwar, Asmia
J. Awar-Amilus, Zakiah Darajat, Rusni Zulharmans, Elly Kasim, Lily Syarif, Ani Sumadi,
dan Gusmiati Suid. Dalam Penelitian ini melihat bagaimana latar belakang munculnya
gerakan kaum perempuan di Minangkabau dan usaha-usaha apa saja yang dilakukan oleh ke-
empat belas orang tokoh perempuan tersebut dalam memajukan kaumnya, serta pandangan

21
Koleksi BPNB

masyarakat sekarang terhadap gerakan dan peran kaum perempuan dalam bidang pendidikan
maupun bidang sosial budaya lainnya.
Adapun tujuan penelitian ini agar masyarakat dapat mengetahui dan menambah wawasan
tentang kepeloporan beberapa tokoh perempuan Minangkabau, dalam memperjuangkan hak
kaumnya dalam mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum lelaki. Diskriminasi
terhadap perempuan hingga sekarang tetap merupakan masalah di seluruh dunia. Sampai
hari ini masih banyak perempuan di berbagai belahan dunia yang merasa perlu untuk
memperjuangkan hak dan kedudukannya, dengan tujuan mencapai tempat yang sederajat
dengan laki-laki dan tidak lagi dianggap sebagai warga masyarakat kelas dua.

IMA Imaduddin, Lim & Iriani. 2005.


“Kajian Perbandingan Mengenai Kembali ke Marga di Sumatera Selatan dan Nagari
di Sumatera Barat 1979-2004”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang.
Penelitian ini dilakukan di Palembang dan Kayu Agung. Kota Palembang merupakan
ibukota Provinsi Sumatera Selatan yang menjadi tempat pertemuan pelbagai wacana dan
interpretasi “Kembali ke Marga” berlangsung sangat intensif. Kayu Agung mewakili daerah
di luar Palembang yang pada masa lalu tempat eksisnya marga-marga. Titik tolak penelitian
bermula dari tahun 1979 dengan pemahaman bahwa masa itu merupakan saat penerapan UU
No. 5 Tahun 1979 yang menjadi fase yang paling kritis dalam sejarah perkembangan marga
dan nagari. Titik akhir pada tahun 2004 diambil dengan mempertimbangan perkembangan-
perkembangan yang lebih mutakhir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tiga fase sejarah yang dilalui (Pra Kolonial,
Kolonialisme Belanda, Pendudukan Jepang, dan Masa Kemerdekaan) sesungguhnya
pengakuan terhadap nagari dan marga, baik sebagai kesatuan adat maupun pemerintahan,
sudah cukup kuat. Nagari di Minangkabau sejak masa lampau, yang diungkap dalam
tradisi lisan, sampai masa kolonial sedikit saja mengalami pergeseran substansial, terbatas
pada soal-soal administratif saja. “Republik-republik mini” itu pada satu ketika sepertinya
menjadi subordinasi pihak kolonial. Namun demikian, hal tersebut bukanlah kondisi
yang permanen. Demikian pula, marga di Sumatera Selatan mengalami perubahan sistem
pemerintahan, seperti percobaan Pemerintahan Dusun pada zaman kolonial.

83
NUR Nuralia, Lia. 2004.
“Dampak Pengembangan Wilayah Pelabuhan Teluk Bayur Terhadap Masyarakat
dan Lingkungan Sekitarnya di Kota Padang dan Painan (1985-2000)”. Padang: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini mempunyai masalah utama, yaitu dampak pengembangan wilayah pelabuhan
Teluk Bayur terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini mencakup dua
aspek, yaitu aspek spasial dan aspek temporal. Aspek spasial meliputi Kota Padang dan
Painan, khususnya masyarakat dan lingkungan di sekitar pelabuhan Teluk Bayur, serta
lingkungan di luar pelabuhan yang menjadi mata rantai pembangunan, dan termasuk ke
dalam administrative Kota Padang dan Painan, sedangkan aspek temporal berada dalam
kurun waktu 1985-2000. Tahun 1985 adalah tahun awal dilakukannya renovasi pelabuhan
sesuai dengan Surat Keputusan Dua Menteri, yaitu Menteri Perhubungan dan Menteri
Dalam Negeri. Pada tahun ini proses pembangunan pertama dalam rangka renovasi mulai
dilakukan dan dampaknya mulai dirasakan secara otomatis oleh masyarakat dan lingkungan

22
SEJARAH

sekitarnya. Kemudian tahun 2000 diperkirakan sebagai tahun yang dapat dilakukan penilaian
terhadap perubahan yang terjadi. Pada tahun ini pula merupakan pasca Orde Baru dan awal
dari orde reformasi yang banyak memberi perubahan kondisi sosial ekonomi dan politik,
baik terhadap masyarakat Kota Padang dan Painan khususnya maupun bangsa Indonesia
secara umum.
Hasil penelitian menujukkan bahwa pengembangan wilayah atau renovasi pelabuhan Teluk
Bayur tahun 1985 dilakukan berdasarkan SK dua menteri, yaitu Menteri Perhubungan dan
Menteri Dalam Negeri. Renovasi dilakukan dalam beberapa tahap dengan membangun
dermaga khusus komoditi tertentu, gudang penampungan barang, lapangan penumpukan
barang, kantor, jalan, dan fasilitas pendukung lainnya.

11
IMA Imadudin, Iim dkk. 2002.
“Nagari Dikalahkan Garudo (Pengalaman Pelaku Sejarah dalam Kemelut PRRI 1958
Hingga 1970)”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Masalah pokok dari penelitian ini adalah “Bagaimana pengalaman pelaku sejarah dalam
peristiwa PRRI dan konflik psikologisnya. Secara operasional penelitian dilakukan di
Sumatera Barat dimana peristiwa PRRI terjadi. Secara lebih spesifik, penelitian di Padang
menjadi fokus perhatian utama karena sebagian informan kunci berada di daerah tersebut.
Adapun scope temporal-nya tahun 1958 sampai tahun 1970. Tahun 1958 merupakan entry
point dari pergolakan PRRI yang semakin keras, sedangkan tahun 1970 dianggap mewakili
fase dimana dampak psikologis pasca “kekalahan” PRRI masih dirasakan masyarakat
Sumatera Barat.
Hasil penelitian diperoleh bahwa nilai sebuah peristiwa historis memang dinilai dari seberapa
jauh daya gugah terhadap generasi berikutnya. Jadinya, keabsahan sebuah perjuangan entah
atas nama keadilan, demokrasi, dan harapan masa depan, memiliki konsekuensi sendiri.
Sebuah percobaan sudah dilakukan. Suka tidak suka akibat-akibat di belakangnya harus
ditanggung. Perjuangan memerlukan legitimasi, entah itu atas nama kekuasaan, moral,
atau agama. Tetapi legitimasi tidaklah berjarak dengan realitas. Persepsi orang tentang
sesuatu selalu berangkat dari pandangan tentang dirinya. Kasus PRRI telah membuktikan
bahwa betapa mereka yang melakukan protes bahkan yang paling keras, “ultimatum”,
sesungguhnya tidak siap untuk berperang. Semuanya bermula dari “krisis”. Krisis politik
dan ekonomi yang saling berkait membidani lahirnya PRRI. Konflik antar partai, krisis
kabinet, kegagalan pembangunan ekonomi, konflik di kalangan militer, dan semakin
merajalelanya komunis menyemaikan benih-benih tumbuhnya gerakan perlawanan.

116
IMA Iim, Imadudin & Lia Nutaila. 2005.
“Gerakan Baso 1946 : Kajian Tentang Sejarah Sosial di Sumatera Barat”. Padang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini memfokuskan pada beberapa masalah yakni Bagaimana prakondisi yang
melatarbelakangi munculnya Gerakan Baso di Sumatera Barat? Bagaimana proses
gerakan berlangsung? Bagaimana reaksi dari pemerintahan karesidenan? Hasil penelitian
diperoleh bahwa Gerakan Baso 1946 lahir dari persoalan-persoalan sosial politik yang
kompleks pasca kemerdekaan. Ketika orang-orang baru saja terbangun dari mimpi-mimpi
kemerdekaan, mereka mendapati kenyataan yang tidak diinginkan. Republik yang baru
merdeka dihadapkan pada konflik-konflik internal yang hebat. Sementara para politisi saling
berebut pengaruh, laskar-laskar mengalami radikalisasi, NICA yang membonceng Sekutu

23
Koleksi BPNB

tiba di Padang; maka soal perbaikan hidup menjadi urusan belakangan. Memang revolusi
kemerdekaan merupakan perpaduan dari ambivalensi rasionalitas dan irasionalitas, antara
fakta dan mitos, radikalisasi dan upaya-upaya damai, dan sebagainya.
Gerakan Baso yang dipimpin ulama kharismatis Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam
dibentuk oleh suffiecient cause (sebab-sebab yang dekat dengan peristiwa) yang muncul
dalam situasi-situasi sebagai berikut: pertama, Berkuasanya mantan pejabat zaman kolonial
ke tampuk pemerintahan lokal di Sumatera Barat; kkedua, Konflik berkepanjangan antara
Pemerintah dengan Volksfront; Ketiga, Krisis ekonomi yang ditandai dengan inflasi yang
hebat; keempat, Pertentangan partai dan persaingan pribadi diantara pemimpin lokal.

118
NUR Nuralia, Lia & Siti Rohanah. 2005.
“Kehidupan Pengrajin Perak di Koto Gadang Sumatera Barat 1990-2000”., Padang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian tentang “Kehidupan Pengrajin Perak di Koto Gadang Sumatera Barat 1990-
2000” difokuskan pada kehidupan pengrajin, terutama kegiatan usaha kerajinan perak yang
menjadi sumber penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hasil penelitian diperoleh bahwa kerajinan perak Koto Gadang sampai saat ini masih eksis
dan menjadi lapangan pekerjaan bagi sebagian penduduknya yang tinggal di Koto Gadang.
Pada awalnya mereka mengerjakan perak sebagai pekerjaan sambilan setelah mengerjakan
sawah atau ladang, sebagai sebuah kesenangan dan kebiasaan yang dilakukan turun temurun.
Kerajinan perak menghasilkan barang kerajinan yang indah dan dapat digunakan sebagai
perhiasan dan pajangan. Kemudian berubah menjadi barang komersil yang menghasilkan
uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

315
DJU Djurip dkk. 1989/1999.
”Pendataan Biografi Tokoh-tokoh Daerah dan Nasional di Sumatera Barat”. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat
Sejarah dan Nilai Tradisional. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Pendataan biografi seseorang berdasarkan pada aktifitasnya yang lebih menonjol. Hal ini
memudahkan dalam pengelompokkannya, Karena ada beberapa tokoh yang aktifitasnya
tidak terbatas pada satu bidang saja. Kelompok ulama yaitu tokoh-tokoh yang mengabdikan
dirinya bagi kemajuan agama, kelompok politik yaitu tokoh-tokoh yang berkecimpung
dalam bidang politik, kelompok pendidikan yaitu tokoh-tokoh yang lebih mentik beratkan
perhatiannya pada masalah pendidikan, serta kelompok wanita yaitu wanita-wanita
Minangkabau yang muncul menjadi tokoh daerah dan nasional.
Tokoh-tokoh ulama yang ada di Sumatera Barat adalah, Tuanku Imam Bonjol, Syekh Abbas
Qadhi (Abbas Bin Wahab Bin Abdul Hakim Bin Abdul Gaffar), Syekh Sulaiman Ar-Rasuly,
Syekh Muhammad Djamil Djaho, Syekh Dr. H. Abdullah Ahmad, Syekh Haji Daud Rasyidi,
Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, Tuanku Nan Ranceh, Tuanku Nan Tuo, Syekh Haji
Muhammad Nawawi, Buya Haji Mansur Daut Datuk Palimo Kayo, Tuanku Mudo Ismail,
Syekh Bayang, Syekh Inyiak Adam Dt. Basa, Syekh H. Ismail Kiambang, Syekh H. Oedin
Rahmany, Syekh H. Zainuddin Hamidy, Syekh H. Nasharuddin Thaha, Syekh Khatib
Muhammad Ali, Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA).
Tokoh-tokoh politik yakni, Abul Muis, Sutan Syahrir, Muhammad Yamin, Muhammad
Hatta, Chatib Sulaiman, Bagindo Abdul Aziz Chan (Aziz Chan). Abu Hanifah Dt. Maharadja
Emas, Haji Agus Salim, Ahmad Husein, Dahlan Ibrahim, dan Mochamad Nazir. Tokoh-

24
SEJARAH

tokoh wanita adalah Rasuna Said, Rohana Kudus, Hoerijah Adam, Rahmah El Yunissyah.
Tokoh pendidikan yakni Djaka Dt. Sati (Djaka), Zainuddin Labay El-Yunusyi, Muhammad
Taib Umar, Syekh Dhamrah Asyadi, Muhammad Sjafei, Abdul Hamid Hakim. Tokoh seni
dan budaya adalah, Usmar Ismail, Marah Rusli, Ibenzani Usman, Muhamad Ami, Zaini,
Adinegoro (Djamaluddin), Irsan. MA. Tokoh adat yakni Datuak Katemanggungan, dan
Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sutan Balun)

14
M. NUR Nur, M dkk. 2003
” Lokal Sumatera Barat Perjuangan Rakyat dan TNI di Cupak Kabupetan Solok
(1945-1950)”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang Proyek
Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi Padang.
(vi ;61 halaman).
Tulisan ini memaparkan bagaimana sebuah lokalitas yakni daerah Cupak menjadi sebuah
area perjuangan rakyat dan TNI di masa agresi. Sebagai sebuah kajian sejarah local Sumatera
Barat, buku ini telah menyuguhkan bagaimana heroiknya rakyat Cupak dalam melawan
penjajahan Blanda di daerahnya. Penelitian ini dilakukan dengan tekhnik pengumpulan data
yang lazim dalam penelitian sejarah. Dalam melakukan penelitian ini digunakan metode
penelitian sejarah, yakni melalui proses dan tahap –tahap pengumpulan data atau sumber,
kritik, interpretasi dan historiografi.
Nagari Cupak sebagai salah satu nagri di Minangkabau menjadi pusat jaringan pemerintahan
yang melebihi peranannya dari pada nagari yang lain di wilayah Solok. Nagari Cupak
menjadi pusat pemerintahan dan bais perjuangan di front Timur Kota Padang, ebab disana
berkumpul para pejuang untuk melawan Belanda yang menempati posnya di Kota Solok. Di
samping tempat menjalankan roda pemerintahan sipil, Cupak juga menjadi pusat pertemuan
antara pejuang, masyarakat, dan ulama untuk membentuk strategi dalam menghadapi
Belanda.

308
DAH Dahlan, M. Halwi dkk. 1999/2000.
”Dari Dewan Banteng ke PRRI : Kemiripan Sejarah yang Berulang di Era Reformasi”.
Padang: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan.
( xi ; 75 halaman)
Dalam tulisan ini dapat dicerna bahwa masalah Dewan Banteng dan PRRI dapat disimpulkan
bahwa pertama, Dewan Banteng bukanlah pemberontakan, sebab pada dasarnya organisasi
ini lebih mengarah kepada permintaan keadilan dengan mengeluarkan berbagai solusi yang
iusulkan ke pemerintah pusat pada waktu itu. Suatu alasan dan kenyataan logis sebab Dewan
Banteng yang dilahirkan di wilayah mencoba memperlihakan kepeduliannya terhadap
pembangunan bangsa dan Negara Indonesia. Kedua, Dewan Banteng pernah mengambil
alih pemerintahan daerah untuk tujuan menguasainya, hanya melaksanakan pemerintahan
tersebut, itupun hanya untuk sementara sampai peleksanaan pembangunan daerah sesuai
cita-cita Dewan Banteng bisa terealisasi kemudian pelaksanaan pemerintahan daerah
tersebut akan dikembalikan, sedangkan selama pelaksanaan tersebut Gubernur Sumatera
Tengah masih tetap menjabat selaku kepala pemerintahan propinsi Sumatera Tengah dan
ini diakui oleh Dewan Banteng. Ketiga, pengambilalihan yang dilakukan Dewan Banteng
murni untuk meningkatkan taraf kesejahteraan daerah yang dibuktikan dengan hasil-hasil
yang telah dicapai ulama Dewan Banteng menjadi pelaksanaan pembangunan daerah.
Keempat, Tuntutan yang dilakukan oleh Dewan Banteng murni aspirasi daerah Sumatera

25
Koleksi BPNB

Tengah setelah memperhatikan kesesuaian seluruh aspek yang dituntut dengan kondisi yang
terjadi di daerah ini. Tunutan Dewan Banteng adalah merupakan saran, solusi sekaligus
peringatan kepada pemerintah agar segera melaksanakan pemerataan pembangunan yang
merupakan tanggung jawab pemerintah. Kelima, terjadinya perubahan secara prinsipil
yaitu dari tujuan pembangunan daerah menjadi suatu ultimatum besar kemungkinan terjadi
setelah bergabung nya tokoh-tokoh partai yang merikan diri ke Padang, seperti Sjafruddin
Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Moh. Natsir, Zulkifli Lubis dan sebagainya yang
kemudian melahirkan PRRI. Keena, lahirnya PPRI harus disikapi dengan persepsi dan
pemahaman hati-hati.

49
IMA Imadudin, Iim dkk. 2003.
”Inderapura Kerajaan Maritim dan Kota Pantai di Pesisir Selatan Pantai Barat
Sumatera”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vi ; 144)
Tulisan ini memaparkan Inderapura kerajaan maritim dan kota pantai di Pesisir Selatan
pantai barat Sumatera. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif historis yang terdiri dari empat tahapan, yakni heuristic (tahap pengumpulan data
atau sumber), kritik, interpretasi dan historiografi. Sejarah Indrapura adalah sejarah panjang
kemanusian yang terus menerus berdialektika. Dari perjalanan sejarahnya yang panjang
bermula dari masa Indrajati, bahkan beberapa abad sebelum masehi, sampai penghujung
abad ke-20 ketika berstatus regent terlihat pasang surut kerajaan secara dratis. Kerajaan
yang dijayakan dengan lada, dan mengalami kenhancuran oleh sebab lada pula.
Indrapura sebagai kerajaan dan kota pntai pernah mengalami masa keemasan. Puncak
kejayaan terjadi terutama pada abad keenam belas dan delapan belas, sebelum pengaruh
asing benar-benar menancapkan kekuasaannya. Inderapura yang terkenal dengan lada dan
emas dari wilayah penyangganya menjadi pelabuhan internasional bagi perdang-pedagang
yang datang dari penjuru nusantara dan Eropa. Pelabuhan Muara Sakaidipenuhi pancalang
yang layer dan tiang-tiangnya menjulang tinggi. Kelak orang belanda dan Inggris berebut
pengaruh di kawasan ini.

298
GIR Giro, Ramot Silalahi dkk. 1999/2000.
”Perlawanan Masyarakat Kota Padang Terhadap Sekutu (Oktober 1945-November
1946)”. Padang: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan.
(vii ; 164 halaman).
Fokus utama tulisan ini adalah mendeskripsikan aksi tentara Sekutu sejak awal kedatangannya
dan bagaimana tindakan masyarakat Kota Padang khususnya pemuda pejuang pada masa
itu. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian sejarah,
yang terdiri dari empat tahap yakni heuristic (pengumpulan data baik berupa benda melalui
peninggalan sejarah, maupun literature yang dapat dilakukan studi pustaka) serta oral history
dengan melakukan wawancara kepada tokoh atau pelaku maupun saksi sejarah, dalam hal
ini dilakukan wawancara kepada informan yang dahulunya pernah menjadi anggota Balai
Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI), Anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara
Keamanan Rakyat serta anggota Barisan Rakyat (Hisbullah).

26
SEJARAH

52
AJI Ajisman & Almaizon. 2003.
“Bangunan Bersejarah di Kabupaten Tanah Datar”. Padang: Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Padang.
(x;75 halaman).
Tulisan ini berisi tentang gambaran bangunan bersejarah yang ada di Kabupaten Tanah
Datar. Terdapat bangunan bersejarah yang ada di Kabupaten Tanah Datar, yakni Benteng
Van Der Capellen. Bangunan ini tidak dibuat tidak terlepas untuk menumpas kaum Paderi
dan menguasai Tanah Datar secara keseluruhan.Monumen Perjuangan Rakyat Lintau Buo.
Monumen ini didirikan tanggal 14 Juli 1998. Monumen didirikan untuk mengenang pristiwa
pembunuhan tentara Jepang oleh rakyat Lintau Buo.

ALF Alfitri; Taifur, Werry D


Sakali Aia Gadang Sakali Tapian Barubah: Kondisi Nagari Menjelang Kembali ke
Nagari. Suluah, 2 (3) Desember 2002: 1-3
Artikel ini memuat kondisi nagari menjelang kembali ke nagari. Banyaknya perubahan
yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru membawa dampak buruk bagi masyarakatnya yaitu
semakin menonjolnya ego dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan lokal.

959.8
KAH Kahin, Audrey. 2005.
Dari Pemberontakan ke Integrasi Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998.
Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
473 halm, 24 cm
Buku ini berisi studi tentang sejarah politik Sumatera Barat sejak periode akhir penjajahan
sampai masa kini, dengan fokus pada proses dan kadar kesungguhan orang Minangkabau
berintegrasi ke dalam negara Indonesia kontemporer.

900
UND Undri. 2009.
Orang Pasaman: Menelusuri Sejarah Masyarakat di Rantau Minangkabau. Padang.
Lembaga Kajian Gerakan Padri (1803-1838). Gebu Minang, Pemerintah Daerah
Kabupeten Pasaman dan BPSNT Padang.
177 halm, 21 cm
Buku ini berisi tentang gambaran daerah Pasaman baik secara referensi maupun secara
sejarahnya. Kebudayaan Pasaman dapat diistilahkan “unik” karena merupakan campuran
berbagai kebudayaan yakni etnik Minangkabau, etnik Mandailing dan Jawa. Semua ini
terlihat dalam berbagai kegiatan dalam kehidupan budaya orang Pasaman. Beberapa
manifestasi kesenian orang Pasaman diantaranya nampak pada kesenian Ronggeng,
Bakobar, Rantak Kudo dan Wayang.

27
Koleksi BPNB

959.8
ISK Iskandar, Mohammad dkk. 1998.
Peranan Desa Dalam Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Barat 1945—1950.
Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jendral
Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Buku ini menguraikan partisipasi dan peran serta masyarakat desa di daerah Sumatra
barat dan keterlibatan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan RI yang telah
diproklamasikan pada 17 agustus 1945. Mereka itu adalah tokoh masyarakat, para ulama,
santri bahkan petani yang tindakannya di nilai mengorbankan semangat para pejuang pada
masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

930.1
AJI Ajisman, Almaizon. 2004.
Bangunan Bersejarah di Kabupaten Tanah Datar. Padang: Balai Kajian Sejarah dan
Nilai Tradisional.
Buku ini menunjukan bahwa Kabupaten Tanah Datar sebagai luhak nan tuo banyak memiliki
bangunan peninggalan sejarah.namun akibat perbuatan manusia yang tidak mengerti
dengan nilai bangunan bersejarah maka secara fisik banyak yang terancam kelestariannya.
kalau dibiarkan dan tidak ada upaya perlindungan terhadap keberadaannya, dikhawatirkan
akan hilang, baik roboh ataupun dihancurkan.

959.8
ASN Asnan, Gusti. 2006.
Pemerintahan Daerah Sumatera Barat dari VOC Hingga Reformasi. Yogyakarta: Citra
Pustaka.
Buku ini mencoba mengungkapkan berbagai persoalan tentang pemerintahan daerah
Sumatera Barat di masa lampau. Karena luasnya aspek-aspek pemerintahan daerah itu,
maka buku ini difokuskan pada persoalan struktur birokrasi, persoalan pihak eksekutif,
legislatif, dan unit-unit administrasi daerah Sumatera Barat pada era pemerintahan VOC,
Hindia Belanda, Jepang, dan Indonesia.

959.8
ZUB Zubir, Zusneli dkk. 2008.
Peranan Anak Nagari di Situjuh Batua Kabupaten Limo Puluh Koto dalam Peristiwa
PDRI dan PRRI (1945-1966). Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini merupakan hasil penelitian yang diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat
dalam memahami peristiwa sejarah di Situjuh Batua. Oleh sebab itu, perlu diperlihatkan
bentuk-bentuk perjuangan maupun pengorbanan yang telah di lakukan oleh para pejuang
tersebut, dan siapa saja yang ikut berjuang, apakah hanya dilakukan oleh tentara atau peran
masyarakat dalam perjuangan tersebut.

959.8
MAR Maryetti dkk. 1999/2000.
Peranan Kaum Wanita dalam Perjuangan Kemerdekan di Front Timur Kota Padang
Tahun 1945-1950. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

28
SEJARAH

Buku ini memuat peranan wanita dalam perjuangan kemerdekaan yang telah tercatat dalam
sejarah. Mereka tidak saja berjuang di garis belakang tetapi juga ikut serta di garis depan
bersama tentara. Dari perjuangan tersebut tampak adanya semangat juang yang tinggi di
kaum wanita. Keterlibatan wanita dalam perang kemerdekaan di kota Padang menunjukkan
bahwa tingkat kepedulian mereka terhadap usaha membela Negara yang relatif tinggi.

959.8
YUN Yunus, Jamaris dkk. 2003.
Penyerbuan ke Kota Payakumbuh 3 Februari 1949. Padang: Kerjasama MSI,
Komisariat Unand, dengan DHD-45.
Buku ini memuat peristiwa penyerbuan ke kota Payakumbuh oleh para pejuang kemerdekaan
pada waktu itu. Mereka melakukan langkah-langkah mengadakan pertemuan, menghadiri
peringatan peristiwa Situjuh, menyusun konsep dengan tujuan untuk mendapatkan
kesempurnaan. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya situs-situs bersejarah dalam
wilayah.

959.8
NUR Nur, M dkk. 2004.
Dinamika Pelabuhan Airbangis Dalam Lintasan Sejarah Lokal Pasaman Barat. Padang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Ruang lingkup permasalahan kajian ini adalah peranan airbangis sebagai Bandar dan
pelayanan di pantai barat pasaman dalam kurun waktu abad-19 sampai kontemporer,
dengan menekakan pada perdagangan dan dinamikanya. Ada 2 corak dinamika penduduk
pantai barat pasaman abad-19:
1. perdagangan lokal terhadap pedagang aceh
2. gabungan pedagang lokal dan Aceh menghadapi pedagang asing
Adapun kemerosotan Bandar ini dipengaruhi oleh faktor,
- Faktor eksternal: semakin kuatnya kekuatan para sultan di pantai timur.
- Faktor internal: karena kurangnya multibarang dan rendahnya pendidikan warga.

959.8
GIR Giro, Ramot Silalahi dkk. 2000.
Perlawanan Masyarakat Padang Terhadap Sekutu (Oktober 1945- November 1946).
Padang: Departemen Pendidkan Nasional, Direktorat Jendral Kebudayaan.
Buku ini mengkaji kedatangan tentara Sekutu di Teluk Bayur, Padang. Hal ini ditandai
dengan adanya kesepakatan kerjasama untuk mencapai tujuan sukutu agar dapat berjalan
lancar. Karena maksud dari kedatangan sekutu tidak sesuai lagi dengan tujuan sebelumnya,
maka berbagai demonstrasi, bentrokan, dan pertempuran di kota Padang dan daerah-daerah
sekitarnya tidak dapat di hindari lagi sehingga terjadilah perlawanan antara warga dan
serkutu.

29
Koleksi BPNB

900
CHA Chamsah, Bachtiar dkk. 2009.
Gerakan Paderi Pahlawan dan Dendam Sejarah. Yogyakarta. Suara Muhammadiyah
dan Pemda Kabupaten Pasaman Sumatera Barat.
210 halm, 21 cm
Buku ini merupakan kumpulan makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional “200
Tahun Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao”, yang diselenggarakan Pemkab Pasaman
pada 8 Oktober 2008. Seminar nasional ini membahas sumber-sumber sejarah tertulis
dan juga sejarah lisan mengenai perjuangan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao, juga
membahas makna perjuangan tersebut. Bagi bangsa Indonesia dan Minangkabau / Melayu
secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial serta Kabupaten Pasaman sebagai
bagian integral dari Provinsi Sumatera Barat.

959.8
ASN Asnan, Gusti dkk. 2003.
Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Solok: 1945-1949. Padang: DHD’ 45 Sumatera
Barat dan Pemda Kabupaten Solok.
Buku ini menjelaskan Perjuangan Rakyat Solok mulai dari tahun 1945-1949, dan
menerangkan masalah lingkungan sosiokultural dan perkembang politik-administratif
Kabupaten Solok sebelum kemerdekaan, serta mengungkapkan konsolidasi bersenjata,
pembentukan Laskar Rakyat dan Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) pada semua
nagari di Kabupaten Solok.

959.8
DJA Djamin, Awaloedin dkk. 1996.
Bunga Rampai Peran Pelajar Pejuang di Sumatera Tengah Selama Perang Kemerdekaan.
Bandung: Angkasa.
Bunga Rampai ini berisi tentang kisah-kisah perjuangan atau cerita remaja Pemuda Pelajar,
baik cerita yang mereka alami sendiri maupun maupun yang didengar dari para pelaku
lainnya dalam perjalanan perang kemerdekaan, sehingga terekamlah pengalamam pribadi-
pribadi pelajar pejuang dalam kancah dalam mempertahankan kemerdekaan 1945-1949.

959.8
NUR Nur, M dkk. 2002.
Sejarah lokal Sumatera Barat Perjuangan Rakyat dan TNI di Cupak Kabupaten Solok
(1945-1950). Padang.
Buku ini menerangkan sejarah lokal Sumatera Barat, perjuangan rakyat dan TNI di
Cupak karena Nagari ini pernah menjadi area pertempuran dalam memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaan RI. Pada tahun 1945-1949 nagari Cupak menjadi pusat
pertemuan bagi pejuang Sumatera Barat di Kabupaten Solok.

922
YUN Yunus, Yulizal dkk. 2008.
Beberapa Ulama di Sumatera Barat. Padang: Museum Adityawarman.
Buku ini memuat beberapa tokoh ulama yang ada di Sumatera Barat. Di antaranya seperti

30
SEJARAH

Syekh Ahmad Khatib al- Minangkabau, ulama yang terkemuka asal Sumatera Barat.
Syekh Minangkabau mendapat pengakuan internasional dalam sejarah sebagai guru besar
di Masjidil Haram pada masanya. Banyak ulama Sumatera barat yang tercatat sebagai
penggerak arah sejarah nasional Indonesia yang dihormati, di antaranya Tuanku Imam
Bonjol, Syekh Paseban, Haji Agus Salim, Haji Abdul Karim Amrullah, dan masih banyak
yang lainnya.

810
TAS Tasman, Abel dkk. 2004.
Siti Manggopoh Catatan Perjuangan Singa Betina. Padang: Yayasan Citra Budaya
Indonesia.
Buku ini menceritakan catatan perjuangan Siti Manggopoh masa kecil dan remaja. Dalam
buku ini, diuraikan bagaimana Siti Monggopoh dan suaminya mempersiapkan bekal untuk
memperjuangkan kemerdekaan dari tangan Belanda.
Sikap Siti Manggopoh menjadi inpirasi yang dapat di contoh dalam masyarakat yaitu wanita
yang berani membela bangsa dan negara di daerah Minangkabau.

901
IMA Imadudin, Lim dkk. 2004.
Inderapura Kerajaan Maritim dan Kota Pantai di Pesisir Selatan Pantai Barat Sumatera.
Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai tradisional Padang, Proyek Pengkajian dan
Pemanfaatan Sejarah dan tradisi Padang.
144 halm,21cm.
Buku ini menceritakan sejarah Inderapura sebagai kerajaan dan kota pantai yang pernah
mengalami masa keemasan. Puncak kejayaan terjadi terutama pada abad 16 dan 18,
sebelum pengaruh asing benar- benar menancapkan kekuasaannya. Inderapura merupakan
bagian dari Minangkabau, tetapi mereka memiliki entifitas kultural yang lebih tinggi dilihat
dari segi eksistensional melalui mitos-mitos yang dibangunnya. Namun, selain itu hanya
terpendam dalam pikiran para ninik mamak di sana yang enggan membangun konflik
terbuka.

923.7
AJI Ajisman. 2002.
Rahmah El Yunusial Tokoh Pembaharuan Pendidikan dan Aktifitas Perempuan di
Sumatera Barat. Padang: Badan Pengenbangan Kebudayaan dan Pariwisata BKSNT
Padang.
132 halm, 21 cm
Buku ini berisi biografi salah satu tokoh sumatera barat di bidang pendidikan yakni
Rahmah El Yunisiah. Beliau dengan gigih memperjuangkan pendidikan dan kedudukan
kaum perempuan, dengan segala jasanya tersebut sepatutnyalah Rahmah dijadikan sebagai
Pahlawan Nasional.

31
Koleksi BPNB

959.8
ZUB Zubir, Zusneli dkk. 2007.
Andil Masyarakat Bidar Alam, Solok Selatan pada masa PDRI 1949. Padang: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Buku ini menjelaskan masalah gejolak perjuangan masyarakat di Bidar Alam yang tergabung
dalam PDRI dalam pempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat nagari di
Sumatera Barat. Selama ini perjuangan masyarakat yang tergabung dalam PDRI cenderung
terpinggirkan.

959.8
AJI Ajisman dkk. 2008.
Idrus Hakimi DT. Raja Penghulu Tokoh Adat dan Ulama di Minangkabau. Padang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Buku ini menjelaskan pengabdian dan perjuangan Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu dalam
melestarikan adat dan syarak di Sumatera Barat. Hal ini telah dirintisnya semenjak awal
berdirinya Orde Baru. Sesungguhnya ia dan keluarganya tidak mengharapkan sesuatu
imbalan yang telah ia perbuat.

920
KUR Kurnia, Merry. 2010.
H. Syukri Doktor Tanpa Sekolah Profesor Tak Pernah Kuliah. Padang: Minangkabau
Press.
Buku ini adalah biografi H. Syukri, seorang otodidak sejati. Beliau adalah sosok pekerja
keras yang gigih, ulet, dan inovatif. Keterbatasan pendidikan yang beliau miliki ternyata
tak menghalangi beliau untuk berinovasi. Kemampuan penelitian yang dilakukannya
menempatkannya berada sejajar dengan profesor yang menghabiskan usianya di
laboratorium.

920
ASO Asoka, Andi. 2010.
H. Ilyas Jakoeb Pahlawan Nasional dari Pesisir Selatan Sumatera Barat. Padang:
Minangkabau Press.
Buku ini berisi biografi H. Ilyas Jakoeb dalam kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia
dibawah bedera Persatuan Muslim Indonesia (Permi). Beliau adalah sosok yang pantas
untuk dibicarakan, karena beliau telah berdialog dengan masa lampau Indonesia. Menjelang
akhir hayatnya beliau tetap aktif di pentas politik.

920
ASN Asnan, Gusti dkk. 2006.
Dr. Mohammad Djamil: Berjuang untuk Kemerdekaan dan Kemanusiaan. Padang:
Lembaga Telaah dan Implementasi Gagasan Alternatif.
Buku ini menampilkan perjalanan hidup Dr. Mohammad Djamil sebagai salah seorang
figur Republik Indonesia masuk dalam jajaran terdepan dalam perjuangan kemerdekaan
Indonesia di daerah Sumatera Barat. Pada awal Kemerdekaan di tanah Minangkabau ini
Dr. M. Djamil mengawali kiprahnya sebagai ketua Komite Nasional Nasional Indonesia

32
SEJARAH

Daerah Sumatera Barat guna menjawab keingintahuan masyarakat terhadap figur tersebut
yang namanya diabadikan pada rumah sakit pemerintah yang terletak dikota Padang.

920
AJI Ajisman dkk. 2001.
Dahlan Ibrahim Riwayat Hidup dan Pengabdiannya. Padang: Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata , Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala.
Buku ini memuat tokoh daerah dari Sumatera Barat, Dahlan Ibrahim. Ia seorang pejuang
daerah Sumatera Barat yang cukup banyak pengabdiannya terhadap bangsa dan negara.
Dahlan Ibrahim secara resmi diberi tugas untuk membentuk Kompi-kompi dari Padang,
Painan, dan Tapan yang disiapkan untuk melawan penjajah.

920
SAY Saydam, Gouzali. 2009.
55 Tokoh Asal Minangkabau di Pentas Nasional. Bandung : CV Alfabeta.
Buku ini merupakan suatu usaha yang mencoba mengemukakan biografi singkat dari
sejumlah tokoh Indonesia yang berasal dari Minangkabau, di antaranya para tokoh yang
dikemukakan dan banyak personal asal Minangkabau yang berperan besar dalam kejayaan
bangsa dan negara. Dengan begitu masyarakat bisa mengenal tokoh-tokoh yang ada di
Sumatera Barat.

900
VES Vesky, Fajar Rillah. 2008.
Tambiluak Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah. Padang. Yayasan Citra Budaya
Indonesia Padang dan Luhak Limopuluah Press Club.
116 hlam, 21 cm
Buku ini berisi tentang PDRI terutama mengenai sejarah peristiwa Situjuah. Terdiri dari
sebelas judul yang menguraikan apa, siapa, dan bagaimana para pejuang memperjuangkan
kemerdekaan dari rongrongan Belanda dalam Agresi Militer II. Pembentukan Pemerintahan
Darurat Republik Indonesia oleh Syafruddin Parwiranegara demi memperjuangkan nasib
para pemimpin bangsa di Yogyakarta yang masih belum diketahui

33
BUDAYA
BUDAYA

SUK Sukandi, Syaid, Andi Asrizal, Eka Tizar


Makna Filosofis Pada Ukiran Itiak Pulang Patang dalam Adat Minangkabau.
Linguistika Kultura, 1 (2)November 2007 : 185-192
Artikel ini memuat makna filosofis yang terkandung pada ukiran yang masih tetap di
upayakan untuk dipegang teguh sebagai falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Salah
satu ukiran yang mengandung makna filosofis yang tinggi adalah ukiran yang terinspirasi
dari hewan itik pulang petang yakni menggambarkan keselarasan dan keserasian kehidupan
masyarakat Minangkabau.

EFF Effendi, Nursyirwan


Posisi Minangkabau Dalam Perubahan Sosial : Antara Pluralisme dan Pembangunan
Partisipatif.
Suluah, 4(5) Agustus 2004:1-8
Artikel ini memuat argumen masyarakat bahwa kebudayaan Minangkabau sekarang
sangat menjunjung tinggi pola sosial yang hirarkis karena konsep yang berbeda sehingga
menyebabkan perilaku seorang pemimpin tidak terlepas dari budaya yang melingkupinya.

JUM Jumhari
Nilai Demokrasi Minangkabau dan Kepemimpinan nasional ; Refleksi atas Pemikiran
dan Prilaku Politik Soekarno dan hatta.
Suluah, 4(5) Agustus 2004 :9-16
Artikel ini memuat suksesi kepemimpinan nasional, hal ini dilihat pada rangkaian pemanasan
dari kegiatan penilu nasional 2004, pemilu legislative (5 april 2004) maupun pemilu pilpres
tahap 1 ( 5 juli 2004) maupun tahap 2 (20 sep 2004).

EFR Efrianto . A
Makam Panjang dan Pulau Angso Potensi Wisata di Kota Pariaman
Suluah, 9(11) Desember 2009 : 13-17
Artikel ini memuat pengembangan situs Kuburan Panjang di tengah Pulau Angso di kota
Pariaman. Dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang
Kuburan Panjang agar lebih mengoptimalkan keindahan alam dan pasirnya yang terdapat
di Pulau Angso tersebut demi kemajuan pariwisata di kota Pariaman di masa yang akan
datang.

HAR Hariadi
H. Djalaluddin : Sufi Politisi Dari Sumatera Barat
Suluah, 9(11) Desember 2009 : 18-27
Artikel ini memuat tokoh sufi yang terlibat aktif dalam urusan politik di daerah Sumatera
Barat diantaranya H. Djalaluddin. H. Djalaluddin adalah tokoh yang mengembangkan
semangat rekonsiliasi antara dunia sufi dan dunia politik, itu menunjukkan kedinamisan
cara berfikirnya yang mengajarkan manusia untuk selalu memelihara kesucian jiwa dan
mengedepankan akhlakul karimah.

37
Koleksi BPNB

CHR Christyawaty, Eny


Refleksi Perempuan Minangkabau di Tengah Perubahan Sosial.
Suluah, 2 (3) Desember 2002: 11-16
Artikel ini memuat peranan perempuan Minangkabau dalam menghadapi perubahan sosial,
perempuan Minangkabau diharapkan mempunyai peluang untuk mengembangkan diri dan
mengaktualisasikan diri sesuai potensinya ditengah-tengah masyarakat.

ERN Ernatip
Tabuik dan Pariwisata
Suluah, (1) Juli 2001 : 15-20
Artikel ini memuat pesta tabuik. Pesta tabuik merupakan sejenis upacara tradisional yang
sudah lama berkembang di Pariaman. Upacara tabuik ini bertujuan untuk memperingati
mati syahidnya Hasan dan Husein.

GIR Giro, Ramot Silalahi


Pola Hubungan Kekerabatan Masyarakat Padang Pariaman
Suluah, (1) Juli 2001: 32-36
Artikel ini memuat sistem kekerabatan masyarakat Padang Pariaman dalam upacara
perkawinan. Masyarakat Padang Pariaman menganut sistem kekerabatan berdasarkan
garis keturunan ibu yang disebut matrilineal, mamak sangat berperan penting dalam proses
perkawinan kemenakannya.

IMA Imaduddin, Iim


Antara Misi Budaya dan Kembalinya Si Anak Hilang : Refleksi Atas Dinamika
Merantau Orang Minang.
Suluah, 2(3) Desember 2002 :23-28
Artikel ini memuat tradisi merantau orang Minang yang merupakan bagian dari kehidupan
orang Sumatera Barat. Merantau merupakan sesuatu yang di luar sana dan tetap menjadi
penduduk yang tidak membumi. Oleh karena itu, kita harus membawanya sebagai bagian
dari solusi penyelesaian krisis ekonomi masyarakat sumatera barat.

IRI Iriani
Raso Jo Pareso Landasan Kepemimpinan Lokal Minangkabau Kelampauan dan
Makna Kekinian Untuk Hidup Bersama.
Suluah, 4 (5) Agustus 2004 :36-40
Artikel ini memuat pentingnya mengetahui tentang nilai budaya. Raso Jo Pareso merupakan
salah satu nilai budaya lokal yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan
harkat, martabat, dan harga diri manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk
sosial.

IRI Iriani
Saluang Jo Dendang (Pentas Kreativitas Masyarakat Minangkabau)
Suluah, 2(3) Desember 2002 :36-39
Artikel ini memuat daya tarik yang dimiliki kesenian tradisional saluang jo dendang. Saluang

38
BUDAYA

ini memiliki daya dan ciri khas tersendiri yang dapat mendorong timbulnya dinamika.

NUR Nuralia, Lia dkk. 2003.


“Mobilitas Sosial Penduduk Kota Bukit Tinggi”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan
Nilai Tradisional.
Penelitian ini berisi tentang mobilitas sosial penduduk yang terjadi di Kota Bukit Tinggi.
Apa yang mendorong terjadinya mobilitas sosial penduduk di Kota Bukit Tinggi, bagaimana
proses mobilitas sosial, dan apa dampak positif dan negative dari mobilitas sosial tersebut.
Mobilitas sosial penduduk yang terjadi di Kota Bukit Tinggi disebabkan oleh faktor yang
bersifat fisik dan nonfisik. Faktor yang bersifat fisik meliputi daya tarik kota (daerah tujuan)
dan daya dorong desa (daerah asal). Daya tarik daerah tujuan antara lain keberadaan
pasar, keberadaan sekolah, tersedianya sarana transportasi, terjadinya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan industri dan kemajuan pendidikan, serta
informasi tentang keberadaan kota. Daya dorong daerah asal adalah fasilitas hidup di daerah
asal yang relatif terbatas, seperti jumlah sekolah yang sedikit, lapangan kerja yang sempit
dan jenis pekerjaan yang tidak bervariasi.
Dampak positif dari mobilitas ini adalah banyaknya pengunjung ke lokasi-lokasi objek
wisata sehingga mendatangkan keuntungan yang besar. Dampak negatifnya kebersihan
yang tidak terjaga dan faktor keamanan yang terabaikan.

287
NOV Noveri
“Modernisasi dan Sikap Anak-Anak di Kota Padang Terhadap Permainan Rakyat”.
Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vi ; 62 halaman)
Penelitian ini menjelaskan bagaimana modernisasi sikap anak-anak di Kota Padang terhadap
permainan rakyat. Adapun tujuan daripenelitian ini yakni memberikan data dan informasi
kepada berbagai pihak dan pemerintah mengenai sikap anak-anak terhadap permainan
rakyat yang ada di Kota Padang. Serta agar pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya
khususnya pemerhati masalah anak-anak dapat mewaspadai dampak-dampak negatif yang
muncul akibat terlalu tingginya minat anak-anak terhadap permainan modern yang ada
sekarang ini.
Salah satu hasil nyata dari perkembangan modernisasi adalah terciptakan berbagai
permainan rakyat yang khusus dirancang untuk anak-anak. Belakangan sebagian besar
anak-anak cendrung menyukai permainan modern dari pada permainan rakyat. Jika setiap
anak-anak seperti itu diawasi maka dikwatirkan permainan rakyat sebagai salah satu unsure
unsure budaya daerah akan hilang tanpa bekas. Akibatnya anak-anak tidak mengenal
warisan budaya (permainan rakyat) nya sendiri.
Seperti kota-kota lainnya, perkembangan modernisasi juga berlangsung di Kota Padang.
Modernisasi tersebut selanjutnya akan menimbulkan perubahan sikap dari masyarakat
terhadap sesuatu hal yang ada dilingkungannya. Berkaitan dengan penelitian ini, sikap
anak-anak di kota Padang terhadap permainan rakyat menunjukkan bahwa mereka sebagian
besar masih menyukai permainan rakyat. Sikap seperti itu dimungkinkan karena mereka
umumnya berasal dari kelompok etnis yang sama baik di lingkungan sekolah maupun
lingkungan tempat tinggal, selain itu mereka juga menyadari bahwa dalam permainan
rakyat terkandung nilai-nilai pendidikan, kerjasama atau gotong royong dan sportivitas.
Faktor pendukung lainnya adalah karena anak-anak belum terlalu disibukkan oleh kegiatan
belajar di sekolah dan pekerjaan di rumah. Bahwa mereka setuju jika permainan rakyat terus

39
Koleksi BPNB

dikembangkan dan dilestarikan. Namun demikian, juga muncul rasa khawatir permainan
modern yang ada sekarang ini tampaknya mengurangi minat anak-anak terhadap permainan
rakyat.

IRI Iriani dkk. 2001.


”Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan di Desa Sago, Kecamatan IV Jurai,
Kabupaten Pesisir Selatan”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang.
(xvi ; 70 halaman).
Penelitian ini membahas kehidupan sosial ekonomi yang dijalani oleh nelayan tradisional
khususnya nelayan pukat tepi dan nelayan di Desa Sago. Sebagian besar masyarakat nelayan
di Desa Sago, Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan mengantung hidupnya di laut.
Mereka umumnya berprofesi sebagai penangkap ikan di laut (nelayan). Hal ini dimungkinkan
karena sebagian besar wilayahnya dilalui oleh garis pantai. Kehidupan nelayan dalam
bidang sosial maupun ekonomi, mereka jalankan secara sederhana (tradisional). Kehidupan
sosial masyarakat nelayan di pedesaan masih diwarnai oleh prinsip kekeluargaan. Hal ini
terlihat dalam sistem jaringan kerja, misalnya sistem kerabat. Dalam hal pemilihan tenaga
kerja, pemilik pukat lebih mengutamakan pekerja (anak pukat) yang masih mempunyai
hubungan kekerabatan dengannya.

111
CHR Christyawaty, Eny. 2004.
“Kinerja Pemerintah Nagari di Era ‘Kembali ke Nagari’ (Kasus di Nagari Singgalang,
Kec. X Koto, Tanah Datar)”. Padang: Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional
Padang.
Spirit bernagari, semangat bersatu, dan menyatukan visi kembali mengapung ketika
diberlakukannya kembali sistem pemerintahan nagari di Singgalang ini. Sebagai
pemerintahan terendah yang otonom, mereka bebas menentukan nasibnya dan mengurus
rumah tangganya sendiri. Dengan demikian, mereka telah menjadi tuan rumah di nagari
sendiri sekarang ini. Pemimpin yang baru pun sudah dipilih atas kehendak anak nagari.
Dampak positif yang nyata dari “Kembali ke Nagari” adalah makin besarnya antusiasme
dan partisipasi masyarakat nagari terhadap kemajuan dan pembangunan nagarinya. Bentuk
partisipasi adalah maraknya kegiatan gotong royong di dalam nagari. Dampak lain adalah
segala keputusan wali nagari selalu dikompromikan terlebih dahulu rakyat, melalui
wakilnya yang duduk dalam keanggotaan Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Peran
ninik mamak yang tergabung dalam Lembaga Kerapatan Adat Nagarai (KAN) pun semakin
nyata dalam mengatur anak kemenakannya. Intinya nilai-nilai demokratis, seperti prinsip
musyawarah dan mufakat kembali bangkit dan hidup kembali.

136
ERN Ernatip & Refisrul. 2005.
”Bacakap dalam Upacara Adat di Nagari Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima
Puluh Kota”. Padang : Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Padang.
Setelah dilakukan penelitian tentang tradisi lisan bacakap di nagari Pangkalan Koto Baru,
ternyata sampai saat ini tradisi bacakap dalam upacara adat khususnya adat perkawinan
masih bertahan. Artinya pelaksanaan bacakap dalam upacara adat perkawinan belum
mengalami perubahan baik dari teknis pelaksanaan maupun materi bacakap itu sendiri.

40
BUDAYA

Walupun sekarang ini disadari bahwa keadaan zaman telah jauh berubah dan sudah banyak
orang yang mulai meninggalkan tradisi lama. Tetapi masyarakat Pangkalan Kota Baru
sangat antusias terhadap tradisi lama dan mereka masih melestarikannya bahkan mereka
sangat bangga dengan tradisi tersebut.
Bacakap sebagai salah satu hasil sastra Minangkabau adalah suatu pelahiran maksud dan
tujuan seseorang yang disampaikan dengan bahasa yang indah berdasarkan konsep-konsep
estetika. Dalam bacakap fungsi komunikasi bahasa mendasari terwujudnya suatu tujuan.
Rentetan kata-kata yang indah dengan gaya bahasa khas Minangkabau mengambil konsep
“berguru kepada alam” atau “alam takambang jadi guru”. Ini menandakan bahwa bacakap
mengandung nilai tradisi sebagai pelahiran budaya masyarakat Minangkabau khsusnya
masyarakat Pangkalan Kota Baru.

159
ALM Almaizon & Refisrul. 2006.
“Potensi Pacu Kudo sebagai Obyek Pariwisata di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan
Guguk, Kabupaten 50 Kota”. Padang : Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata
Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Padang.
Pacu kudo adalah jenis permainan yang menggunakan kuda sebagai alat. Bentuk
permainannya dapat menggunakan satu atau beberapa ekor kuda dengan dikendalikan
seorang joki akan berpacu (berlomba) pada suatu tempat yang disebut “gelanggang”.
Permainan pacu kudo ini berlangsung setiap tahun pada beberapa daerah di Minangkabau
seperti: Batu Sangkar, Bukittinggi, Padangpanjang, Padang dan Payakumbuh. Setiap
daerah tersebut mempunyai gelanggang sendiri tempat kuda berlomba. Penyelenggaraan
pacu kudo setiap tahun sangat dinantikan oleh masyarakat Minangkabau dan menjadi arena
hiburan yang melibatkan masyarakat luas. Acara pacu kudo ini merupakan sebuah tradisi
masyarakat Minangkabau yang sangat diminati dari dulu hingga sekarang. Sebagaimana
suatu permainan umumnya pacu kudo ini juga mempunyai aturan yang harus diikuti setiap
peserta.
Dari sudut pandang pariwisata, pacu kudo tradisional di Sumatera Barat memiliki potensi
yang sangat besar untuk mendatangkan wisatawan tidak hanya lokal, tetapi juga wisatawan
domestik dan wisatawan asing. Faktor utamanya adalah konsep permainan pacu kudo di
Sumatera Barat berbeda dengan konsep permainan pacu kuda modern yang terdapat di
luar negeri, terutama dari bentuk ketradisionalannya. Apalagi kecenderungan pada masa
sekarang bahwa selera para wisatawan mulai berubah dari objek wisata yang bersifat massal
kepada objek wisata minat khusus. Pacu kudo di Sumatera Barat dapat dikategorikan
sebagai objek wisata minat khusus karena merupakan olahraga tradisional masyarakat
Sumatera Barat yang sekaligus mengandung unsur-unsur budaya dan norma-norma yang
berlaku pada masyarakat.

104
YON Yondri & Lia Nuraila. 2004.
“Sistem Pemerintahan Bidar Alam Surambi Sungai Pagu”. Padang : Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan proses berdiri dan berkembangnya suatu
pemerintahan kerajaan. Artinya, merekonstruksi kembali peristiwa berdirinya suatu kerajaan
dengan segala permasalahan yang ada di dalamnya. Walaupun dengan data dan sumber
yang minim dan kejadiannya telah lampau, karena tujuannya menceritakan kembali, maka
yang utama dilakukan adalah menganalisa data dari beberapa sumber yang ada. Persoalan-

41
Koleksi BPNB

persoalan yang terkandung dalam peristiwa tersebut mengacu kepada hal-hal yang berkaitan
dengan sebab-musabab dan faktor kondisional yang ada dan berkembang atau apa yang
mendasari hal itu terjadi.
Hasil penelitian diperoleh bahwa Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu terbentuk pada abad
17. Pada masa ini Islam disinyalir telah masuk dan dianut oleh hampir seluruh masyarakat
Sungai Pagu. Agama Islam dibawa oleh seorang mubaligh yang bernama Abdul Halim
Syech Maulana Syoufi dan beliaulah yang mengislamkan sekaligus menikahkan Inyiek
Samsuddin Sadewano, Raja pertama Alam Surambi Sungai Pagu. Inyiek Syamsuddin
Sadewano adalah Raja pertama yang merupakan keturunan langsung dari Pagaruyung.
Beliau dipilih dan dinobatkan Sultan Alam di Pagaruyung. Ini menandakan bahwa Alam
Surambi Sungai Pagu merupakan salah satu kerajaan bagian dari pada Pagaruyung.

277
CHR Christyawaty, Eny dkk. 2000.
“Kehidupan Keluarga Nelayan: Studi Kasus 5 Keluarga Nelayan di Desa Taluak
Kecamatan Pariaman Selatan, Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera
Barat”. Padang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Nilai
Budaya, Seni dan Film.
(xiv ; 101 halaman).
Kabupaten Padang Pariaman merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat
yang mempunyai wilayah yang cukup panjang, yaitu sekitar 75 kilometer. Wilayah laut yang
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Padang Pariaman luasnya kurang lebih 5000 hektar.
Dengan adanya potensi sector kelautan yang ukup besar memungkinkan penduduknya
menjadikan perikanan sebagai sumber mata pencaharian. Berkenaan dengan hal tersebu,
penelitian ini memfokuskan tentang gambaran kehidupan dan struktur keluarga nelayan di
Padang Pariaman. Pengumpulan data dan informasi pada penelitian ini bersifat deskriptif
melalui pendekatan kualitatif.
Beberapa faktor yang menghambat perkembangan kehidupan sosial ekonomi nelayan yang
erat kaitannya dengan aktivitas melaut adalah : pertama faktor alam, yakni badai, badai
merupakan salah satu faktor alam yang paling ditakuti oleh hampi semua jenis nelayan
(nelayan paying, perahu layer, bagan, maupun kapal tonda). Pada saat badai berlangung,
otomatis para nelayan tersebut menghentikan kegiatannya menangkap ikan. Fluktuasi musim
ikan, kapan terjadinya musin banjir ikan maupun musim paceklik tidak apat ditentukan.
Hanya tanda-tandanya saja yang bia mereka kenali. Kedua, fluktuasi harga, naik turunnya
harga atau fluktuasi harga ikan seringkali terjadi dan selalu saja tidak berpihak kepada
nelayan. Tidak ada harga patokan ikan yang tetap. Pada saat banjir harga ikan turun, bahkan
sangat murah. Ketiga, tekhnologi yang masih sederhana, sebagian nenayan di Desa Taluak
masih menggunakan tekhnologi yang sederhana dan tradisional, serta hanya mengandalkan
tenaga manusia di dalam pekerjaannya menangkap ikan di laut. Keempat, keterampilan
sederhana, pendidikan yang rendah dan terbatas. Kebanyakan para nelayan pengetahuannya
hanya terbatas pada bidang kenelayanan saja, sehingga peluang kerja yang bisa dimasuki
oleh meraka biasanya terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan bidan kenalayanan.

294
REF Refisrul & Djurip. 1999/2000.
“Pola Pemukiman Masyarakat Minangkabau. Kasus: Desa Pariangan Kabupaten
Tanah Datar”. Padang: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral
Kebudayaan, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(ix ; 109 halaman)

42
BUDAYA

Tulisan ini menjelaskan tentang pola pemukiman masyarakat di Desa Pariangan,


Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Daerah ini merupakan sebagai tipikal
atau cerminan dari pola pemukiman masyarakat Minangkabau dahulu dan sekarang.
Dalam rangka mendapatkan data dan inormasi dalam penelitian ini dilakukan melalui
beberapa teknik yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif yakni studi kepustakaan,
wawancara dan observasi dilapangan. Di daerah ini dapat ditemukan bentuk tradisional
pemukiman Minangkabau yang dikenal terbentuk dari kesatuan pemukiman berupa
Taratak, Dusun, Koto, dan Nagari. Perkembangan pemukiman demikian, merupakan proses
terbentuknya desa atau nagari Pariangan, serta nagari-nagari lainnya di Minangkabau. Di
lihat dari tipe pemukiman, maka pemukiman masyarakat Desa Pariangan adalah tergolong
semi mengelompk. Artinya, tidak dapat dikatakan mengelompok dan tidak pula disebut
menyebar. Pengelompokan masyarakat terpusat pada beberapa pemukiman dengan
adanya satu kompleks pemukiman yang mejadi daerah pemukiman utama. Pemukiman
yang terbentuk kemudian biasanya merupakan penyebaran dari pemukiman pertama atau
utama tersebut. Dalam hal masyarakat yang menetap disatu pemukiman, maka terlihat
kecendrungan pada mulanya adalah orang-orang yang sesuku atau punya hubungan darah
dan dalam perkembangan kemudian baru bercampur dengan suku lain.

266
CHR Christyawaty, Eny dkk. 2001.
“Strategi Buruh Wanita Meneri dalam Mempertahankan Kelangsungan Ekonomi
Rumah Tangga (Kasus di Desa Pantai Karan Aur, Padang Pariaman)”. Padang : Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Dari penelitian tentang strategi buruh wanita meneri dalam mempertahankan kelangsungan
ekonomi rumah tangga di Kelurahan Karan Aur, Padang Pariaman, diperoleh kesimpulan
yakni sebagian besar para buruh wanita meneri berumur di atas 40 tahun dan berstatus
sebagai ibu rumah tangga. Kebanyakan mereka berpendidikan rendah. Sekitar 80 persen
ternyata tidak bisa baca tulis. Daerah asal mereka sebagian besar dari Karan Aur, sebagian
lagi berasal dari desa sekitar yang letaknya tidak jauh dari lokasi kegiatan meneri. Sementara
itu yang menjadi alasan utama mereka bekerja meneri adalah alasan ekonomi, yaitu ingin
memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jam kerja buruh meneri termasuk panjang, yaitu
antara 10 sampai 12 jam per hari.
Kontribusi buruh wanita meneri terhadap pendapatan rumah tangga sangat signifikan. Pada
rumah tangga buruh wanita meneri yang berstatus janda, kontribusi mereka sangat besar,
bahkan dapat dikatakan hampir seratus persen pemenuhan kebutuhan rumah tangga sehari-
hari adalah dari pendapatannya bekerja. Hal ini dikarenakan dalam rumah tangga tersebut
hanya dialah yang bekerja mencari nafkah. Hal yang serupa terjadi pula pada rumah
tangga para buruh wanita meneri yang suaminya sedang tidak bekerja atau menganggur
sehingga terjadi kevakuman pencari nafkah pokok. Merekalah yang menggantikan posisi
suami dalam mencari nafkah. Buruh wanita meneri yang suaminya juga bekerja, keduanya
mempunyai kontribusi seimbang.

156
NUR Nurmatias & Siti Rohanah. 2006.
”Eksistensi dan Pengembangan Permainan Rakyat di Kabupaten Padang Pariaman:
Studi Kasus: Randai dan Dikia Rabano di Nagari Ketaping”. Padang : Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang
Permainan Dikia Rabano merupakan permainan tradisional Minangkabau yang bernafaskan

43
Koleksi BPNB

Islam.
Randai merupakan gabungan dari seni gerak dan suara musik. Permainan ini hampir sama
dengan rabab karena sama-sama menceritakan suatu kisah. Dalam permainan randai bentuk
cerita diwujudkan dengan gerak. Kesenian randai yang ada di Pariaman selalu ditampilan
pada malam hari, yang dimainkankan pada acara pesta atau dalam sebuah festival.
Hasil penelitian memperlihatkan, dalam kehidupan masyarakat Ketaping eksistensi dan
keberadaan permainan ini merupakan bahagian yang tidak terpisah dalam kehidupan
masyarakat. seperti permainan Dikia Rabano, permainan ini merupakan bahagian yang tidak
bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, sebagai daerah dipengaruhi dan memegang
kuat ajaran Syeh Burhanuddin, maka masyarakat mengenal istilah mendo’akan orang yang
telah meninggal (Mangaji). disinilah letak pentingnya permainan ini dalam kehidupan
masyarakat Ketaping.

89
CHR Christyawaty, Eny dkk. 2004.
“Sistem Perladangan Suku Mentawai di Muntei Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan
Mentawai”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Masyarakat Mentawai adalah masyarakat tradisional yang masih mempertahankan
kehidupan adat dan tradisi. Hal ini tercermin pada upacara-upacara di setiap tahap proses
perladangan yang merupakan mata pencaharian pokok penduduk. Alat-alat serta sistem
teknologi mereka pun dalam berladang dapat dikatakan masih tradisional, seperti: tegle,
suki, lading, kampak.
Masyarakat Mentawai adalah masyarakat tradisional yang ada di tengah-tengah kehidupan
moderen. Pada dasarnya mereka bukanlah masyarakat yang tertutup (terisolir) dari dunia
luar. Mereka pun tidak resisten terhadap pengaruh budaya luar. Sedikit banyak budaya
luar yang dibawa oleh Orang Tepi atau sasareu (kaum pendatang dari luar pulau Mentawai)
telah ikut mewarnai kehidupan orang Mentawai. Salah satu contohnya adalah kebutuhan
akan barang-barang yang tentu saja tidak bisa mereka produksi sendiri, seperti baju, sabun,
alat-alat elektronik, alat-alat rumah tangga, dan sebagainya. Kebutuhan akan barang-barang
tersebut telah mendesak mereka untuk dapat menghasilkan uang lebih banyak. Akibatnya
gaya hidup pun berubah. Mata pencaharian yang dulu bersifat subsistem (meskipun tidak
total) sekarang ini telah berubah menjadi komersial.

47
CHR Christyawaty, Eny & Iim Imadudin. 2003.
“Profil dan Pola Interaksi Pelaku Ekonomi Sektor Informal di Kota Padang Studi
Penjaja Makanan di RSU M. Djamil Padang)”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan
Nilai Tradisional Padang.
Pekerjaan sebagai penjaja makanan adalah salah satu pekerjaan yang dapat dilakukan
oleh warga masyarakat Padang yang tidak banyak membutuhkan persyaratan
pendidikan formal yang tinggi. Akan tetapi, yang lebih diutamakan adalah “keuletan”
,“kemauan”,“kerajinan”,dan sedikit keberanian. Banyaknya pekerjaan di sektor informal
yang ditekuni masyarakat bisa dipahami (karena tingkat pendidikan yang rendah pada
umumnya) karena di daerah perkotaan atau daerah lainnya mempunyai tingkat kompetisi
kerja yang tinggi.
Bisa dikatakan sebagian besar para penjaja makanan ini adalah para wanita yang sudah
bersuami dan mempunyai anak. Alasan utama mereka berjualan yang paling dominan
adalah untuk membantu suami mencari nafkah untuk kelangsungan hidup rumah tangga.
Keterbatasan modal, secara finansial, sebenarnya bukan masalah yang paling penting dalam

44
BUDAYA

pekerjaan sebagai penjaja makanan ini. Masalah ini dapat diatasi dengan “meminjam”
barang dagangan. Artinya mereka yang kekurang modal biasanya meminjam barang
dagangan dari seseorang untuk kemudian dijual kembali. Apabila ada barang yang belum
laku, barang itu bisa dikembalikan lagi kepada yang empunya.

42
REF Refisrul & Rois Leonard Arios. 2003.
“Potensi Sosial Budaya Masyarakat Pesisir di Sumatera Barat (Studi Kasus di Air
Bangis Kabupaten Pasaman)”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang.
Penelitian ini difokuskan pada masyarakat pesisir di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman.
Pemilihan daerah ini terutama didasarkan pada letaknya yang berada di pesisir pantai
dan sebagian besar masyarakatnya aktif sebagai nelayan dan bertani (kebun). Mayoritas
masyarakatnya adalah masyarakat asli (Minang) dan dikenal masih kuat memelihara
kebiasaan tradisional yang terwujud dalam adat istiadat sehari-hari. Pemilihan daerah
tersebut, diharapkan dapat menggambarkan tentang masyarakat pesisir Sumatera Barat dan
potensi-potensi yang dimilikinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengungkapkan dan memahami potensi sosial
budaya masyarakat yang bermukim di tepi pantai (pesisir) Sumatera Barat, khususnya di
Air Bangis Kabupaten Pasaman. Adapun manfaat yang bisa diperoleh dengan pencapaian
tujuan tersebut antara lain dapat menambah pengetahuan tentang kehidupan masyarakat
pesisir di Sumatera Barat terutama potensi-potensi yang dimilikinya, serta dapat digunakan
sebagai acuan atau pedoman dalam menerapkan kebijakan peningkatan atau pemberdayaan
masyarakat pesisir bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait. Artinya, pembinaan
kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut dapat dilakukan tanpa harus bertentangan
dengan kebiasaan atau nilai-nilai budaya mereka.

DJU Djurip dkk. 2000.


”Tata Krama di Lingkungan Suku Bangsa Mentawai di Kabupaten Padang Pariaman
Propinsi Sumatera Barat”. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana tatakrama di lingkungan suku bangsa Mentawai
di Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat. Berdasarkan penelitian yang
telah dilakukan berkaitan dengan tatakrama yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Mentawai dengan mengamati bagaimana tatakrama mereka dalam menghormat, makan
dan minum, bersalaman, berpakaian dan berdandan, berbicara, bertegur sapa, dan bertamu,
diperoleh pemahaman bahwa tatakrama yang berlaku pada masyarakat Mentawai masih
kental dengan aroma ketradisionalan yang mereka miliki. Artinya, mereka belum banyak
berpengaruh oleh kebiasaan atau kebudayaan luar walaupun seiring dengan perkembangan
zaman, mereka juga tidak luput dari berbagai sentuhan dengan budaya luar tersebut
yang tercermin dengan telah terciptanya interaksi sosial dengan masyarakat yang bukan
Mentawai.

45
Koleksi BPNB

SAA Saaduddin, Yusrizal dkk. 1996/1997


”Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri di Daerah
Sumatera Barat”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Padang : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian yang menghasilkan nukilan penemuan-penemuan yang menonjol dari hasil
penelitian tentang Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri
di Daerah Sumatera Barat. Beberapa penemuan itu antara lain: pertama, membangun
suatu perusahaan perindustrian yang memerlukan areal atau lokasi tertentu di daerah
pedesaan Propinsi Sumatera Barat tidaklah mengalami kesulitan asal melalui prosedur
atau ketentuan-ketentuan yang berlaku di daerah bersangkutan terutama yang menyangkut
hukum adat. Di samping itu, pendekatannya harus melalui ninik mamak kepala ulayat/
waris dan pemerintahan desa, terutama tentang pemakaian tanah ulayat.
Kedua, pembangunan gedung-gedung industri atau prasarana lainnya dari suatu industri
yang didirikan di daerah pedesaan, tidak boleh menganggu kehidupan perekonomian
masyarakat setempat seperti saluran-saluran air/bandar, sawah, jalan umum dan fasilitas
masyarakat lainnya. Ketiga, umumnya perusahaan-perusahaan industri yang dibangun di
daerah pedesaan hanya menyerap tenaga kasar sebagai buruh pabrik.

50
GIR Ramot Silalahi Giro, dan Zusneli Zubir. 2003
“Gejala Religi Masyarakat di Daerah Perkotaan (Studi Kasus : Tingkat Religius
Pemeluk Agama Islam di Kelurahan Parupuk Tabing Kecamatan Koto Tangah Kota
Padang)”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini memfokuskan tentang tingkat religius pemeluk agama Islam di daerah
perkotaan, dan tingkat religius pemeluk agama Islam di daerah perkotaan semakin rendah
atau sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah Mendapatkan gambaran yang jelas dan akurat
tentang tingkat religius pemeluk agama Islam dan Mempelajari kehidupan keagamaan
pemeluk agama Islam. Sedangkan manfaatnya yakni Memberikan kontribusi data dan
informasi kepada Pemerintah Daerah Kota Padang dalam usaha melakukan pembinaan
keagamaan kepada pemeluk agama Islam yang tinggal di daerah perkotaan.
Hasil penelitian diperoleh:
1. Tingkat religius pemeluk agama Islam di Kel. Parupuk Tabing yang paling tinggi adalah
dalam hal keterlibatan idiologis dan keterlibatan pengalaman.
2. Keterlibatan ritual (sebagai tingkat keterlibtan tertinggi) yang dimiliki seseorang
ternyata tidak bisa dijadikan jaminan bahwa ia akan memiliki keterlibatan lainnya
(sebagai tingkat keterlibatan lebih rendah).
3. Kaum wanita khususnya ibu-ibu yang berumur 50 tahun ke atas tampaknya memilki
tingkat religius lebih tinggi daripada kaum laki-laki.
4. Agama bukan merupakan prioritas utama dalam kehidupan masyarakat di daerah
perkotaan dan bisa jadi termasuk di Kota Padang.
5. Tingginya tingkat kesibukan orang-orang di perkotaan pada umumnya merupakan
salah satu penyebab rendahnya tingkat keterlibatan religius, keterlibatan intelektual
dan keterlibatan secara konsekuen mereka dalam menjalankan agama.
6. Tingkat religius anak-anak remaja baik laki-laki maupun perempuan terutama dalam
keterlibatan religius dan keterlibatan intelektual cukup memprihatikan.
Dibandingkan dengan hari-hari biasa, aktivitas keagamaan cenderung meningkat pada hari-
hari besar umat Islam.

46
BUDAYA

1
ERN Ernatip dkk. 2002.
”Peranan Kaum Kerabat dalam Upacara Perkawinan di Nagari Pangkalan Koto Baru
Kabupaten 50 Kota”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(viii ; 113 halaman).
Di Kenagarian Pangkalan Koto Baru upacara perkawinan dilaksanakan dalam beberapa
tahap. Masing-masing rangkaian kegiatan dilaksanakan secara terpisah dengan pelaksanaan
yang berbeda. Adapun rangkaian kegiatannya, yaitu : mufakat dalam keluarga, meminang,
mufakat kampong, akad nikah, baarak bako, kenduri/ baralek, pulang malam, manjalang
mintuo, dan mauling jajak. Dalam pelaksanaan tahap demi tahap memerlukan dana dan
tenaga yang cukup banyak. Di sanalah akan terlihat betapa pentingnya peranan kaum
kerabat. Kaum kerabat tidak saja sebagai penyandang dana tetapi sekaligus sebagai
pelaksana. Masing-masing kaum kerabat mempunyai peranan yang berbeda sesuai dengan
statusnya dalam kaum yang bersangkutan.

290
MAR Maryetti dkk. 2000.
”Sikap Masyarakat Kota Bukit Tinggi Terhadap Ilmu Gaib”. Padang: Badan
Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional Padang.
Tulisan ini memaparkan sikap yang ditunjukan masyarakat kota terhadap suatu objek,
yakni ilmu gaib. Karena sikap tidak dapat diobservasi atau diukur secara langsung, untuk
mengukur sikap dapat dengan menanyakan apa yang dipercaya masyarakat tentang
objek sikap tersebut. Seseorang yang mempunyai banyak kepercayaan positif dan sedikit
kepercayaan negetif tentang suatu objek, dinyatakan memunyai sikap positif, dan begitu
juga sebaliknya.
Hasil penelitian diperoleh, ternyata masyarakat kota yang menjadi sampel penelitian ini
bersikap negatif terhadap ilmu gaib. Artinya, pengobatan oleh dukun bukanlah menjadi
perioritas pertama bagi mereka. Begitupun tentang penyebab penyakit atau praktik-praktik
ilmu gaib dalam usaha memperoleh keuntungan (dalam berdagang) atau memperoleh
jabatan tidak sepenuhnya dipercayai, hanya sebagian kecil saja yang mempercayai (dan
melakukan) hal-hal yang berbau gaib tersebut.

106
ROH Rohanah, Siti & Ajisman. 2005.
”Tuanku Rao : Peranannya dalam Gerakan Paderi”. Padang: Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional, Padang.
( ix ; 93 halaman)
Kefanatikan masyarakat Minangkabau dan gencarnya perjuangan Tuanku Rao untuk
mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al-Quran dan Hadis sangat berpengaruh bagi
masyarakat Minangkabau. Simbol kepahlawanan nya menjadi acuan dan identik dengan
falsafah masyarakat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Keberanian melewati tapal batal daerah Minangkabau dengan menyebarluaskan dakwah
ajaran Islam menuju Tapanuli juga mengakibatkan Minangkabau mengakui bahwa Tuanku
Rao adalah putra Minang. Sebaliknya masyarakat Tapanuli selain karena terpengaruh oleh
buku M.O.Parlindungan juga terinspirasi oleh perjuangannya menegakkan ajaran Islam dan
dakwahnya yang membawa dampak positif dengan beralihnya keyakinan lama mereka ke
yang baru. Dampak positif ini dipercayai sebagai suatu kekuatan yang dimiliki oleh Tuanku

47
Koleksi BPNB

Rao dalam mempengaruhi masyarakat Tapanuli untuk mengenal ajaran keesaan Tuhan.
Beberapa versi mengenai asal-usul Tuanku Rao, pertama versi Batak. Menurut versi Batak
disebutkan bahwa Tuanku Rao adalah anak Batak sejati. Beliau adalah keturunan raja-raja
Batak yang bergelar Si Singamangaraja. Ada dua versi yang ditonjolkan dan kedua-duanya
hampir sama, yang membedakannya hanya pada “pemberian” nama kedua orang tuanya.
Kedua versi Minangkabau, menurut Hamka, Tuanku Rao adalah putra asli Minang yang lahir
di Padang Mantinggi, Rao. Hal ini bertentangan sekali dengan pendapat yang dilontarkan
pihak versi Batak, terutama M.O.Parlindungan. M.O.Parlindungan yang menulis buku
yang berjudul “Tuanku Rao Gelar Si Pongkinan Ngol-Ngolan”berisi penjelasan mengenai
siapa Tuanku Rao dan kiprahnya terhadap pengembangan dakwah Islam serta perjalanan
sejarah Islam itu sendiri.

321
MAR Maryetti dkk. 1989/1999.
“Dampak Keberadaan Perumnas Belimbing Terhadap Masyarakat di Kelurahan
Kuranji Padang”. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Padang.
Penelitian ini merupakan studi pendahuluan terhadap perubahan sosial yang terjadi pada
suatu daerah. Karena bermaksud mengumpulkan data tentang sesuatu yang bersifat umum
(pendapat umum) maka metode yang dipakai dalam hal ini adalah survey, melalui alat
pengukur wawancara.
Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah, pertama keberadaan Perumnas Belimbing
memberikan dampak positif terhadap masyarakat di Kelurahan Kuranji. Hal ini dapat dilihat
dai perubahan (secara fisik) yang terjadi pada masyarakat, dimana masyarakat memperoleh
kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memperoleh pengetahuan
serta kesempatan dalam memanfaatkan sarana yang ada di kompleks Perumnas Belimbing.
Kedua, sarana yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Kelurahan Kuranji adalah sarana yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan primer seperti pasar, dan sarana transportasi.
Sarana yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sekunder belum banyak dimanfaatkan.
Hal itu disebabkan tidak hanya karena tingkat kebutuhan masyarakat yang belum sampai
pada tahap itu, tetapi juga karena faktor ekonomi.
Ketiga, masyarakat Kelurahan Kuranji cukup terbuka. Hal ini terlihat dari kemauan
menerima hal-hal baru yang masuk ke daerah mereka. Dengan demikian, walaupun dalam
pemanfaatan sarana yang baru mereka masih kurang, pengetahuan mereka terhadap hal-hal
baru tersebut cukup tinggi.

232
ARI Arios, Leonard Arios dkk. 2002.
”Identitas Etnik Masyarakat Perbatasan (Kasus di Kecamatan Rao Kabupaten
Pasaman)”. Padang: Balai Kajian Sejarah an Nilai Tradisional Padang.
(vi ; 110 halaman).
Sebagai daerah perbatasan, Rao memiliki karakteristik tersendiri yakni bertemunya dua
etnik yang berbeda yakni Mandailing dengan Minangkabau yang menghasilkan istilah
daerah tersebut Orang Rao. Lewat penelitian yang dilakukan di daerah Tarung-Tarung
Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat dengan mengunakan metode
penelitian kualitatif diperoleh gambaran yakni, Nagari Tarung-Tarung merupakan salah
satu dari sembilan nagari di Kecamatan Rao dan berkedudukan sebagai ibukota kecamatan.

48
BUDAYA

Sebagai ibu kota kecamatan, tentu masyarakatnya telah mendapat pengaruh dari berbagai
budaya luar.
Budaya Minangkabau sebagai budaya asal di daerah tersebut telah mendapat pengaruh
budaya Mandailing yang berasal dari Propinsi Sumatera Utara. Kedatangan orang Mandailing
ini pada awalnya merupakan salah satu program pemerintah kebupaten Pasaman untuk
membuka daerah-daerah yang masih terisolir oleh hutan. Kegigihan orang Mandailing
telah memberikan hasil dengan semakin luasnya wilayah pemukiman mereka ehingga dapat
mempertahankan budayanya. Lambat laun orang Mandailing mulai menguasai berbagai
sektor seperti perdagangan dan jasa angkutan. Kondisi ini memaksa orang Minangkabau
untuk menjadi konsumen atau masyarakat lapis kedua dalam bidang jasa dan perdangangan
walaupun dari segi budaya orang Mandailing harus tunduk pada budaya Minangkabau.

REF Refisrul dkk. 2002.


”Kerajinan Gerabah I Sumatera Barat : Hambatan Kultural dan Struktural (Kasus
di Desa Alo Gandang, Kabupaten Tanah Datar)”. Padang: Badan Pengembangan
Kebudayaan dan Pariisata. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(x ; 67 halaman).
Kerajinan gerabah merupakan salah satu jenis aktifitas manusia yang terbilang tua dan
di Desa Galo Gandang menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian masyarakatnya.
Dilakukan hanya oleh kaum wainta sejak dahulunya dan telah menjadi bagian dari identitas
dan kebanggaan masyarakat setempat. Kebaradaan kerajinan gerabah tidak saja terkait
dengan aspek ekonomi (mata pencaharian) tetapi juga aspek sosial dan budaya yang
membuat usaha ini tetap bertahan hingga sekarang.

17
CHR Christyawaty, Eny dkk. 2002.
”Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata (Studi Kasus di Kawasan
Objek Wisata Danau Maninjau)”. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang.
(xii ; 86 halaman).
Peran serta masyarakat yang pertama ini bertujuan untuk melayani para wisatawan dengan
sebaik-baiknya agar mereka betah tinggal ditempat itu. Dengan demikian, para wisatawan
tersebut akan membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya di daerah tujuan wisata itu,
yaitu Nagari Maninjau. Dari sekian banyak bentuk peran serta masyarakat, sebagian besar
berupa pelayanan jasa. Sementara itu peran serta masyarakat dalam bentuk menjual produk
atau hasil kerajinan (hasil karya, lukisan, kerajinan) bisa dikatakan tidak ada. Jadi, yang
ditinjolkan do daerah ini adalah benar-benar keindahan danau. Peran serta penduduk
di daerah ini untuk tujuan melayani tamu atau para wisatawan yang berkunjung, pada
umumnya dilakukan dengan mengambil bagian bekerja dibidang jasa dalam rangka meraih
peluang ekonom dari perjalanan wisata. Hal itu diwujudkan dengan menjadi tenaga produkti
yang mandiri seperti membuka tempat penginapan, café, persewaan sepeda, atau sebagai
karyawan yang bekerja sebagai juru masak, sebagai satpam, dan sebagainya.

49
Koleksi BPNB

272
ERN Ernatip dkk. 2001.
”Pasambahan dalam Upacara Kematian di Kecamatan Kuranji Kota Padang”.
Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
( viii ; 109 halaman).
Pasambahan dalam upacara kematian disebut juga dengan pasambahan di bawah payung.
Pasambahan di bawah payung di Kenagarian Pauh IX sampai saat ini masih terlaksana.
Tidak ada satupun alasan pasambahan ini tidak dapat dilaksanakan, misalnya karena hari
hujan lebat. Bila pada hari kematian itu terjadi hujan lebat, maka pasambahan di bawah
payung dapat dilaksanakan di teras rumah atau di dalam rumah. Pelaksanaannya cukup
sederhana, diikuti oleh orang-orang terpenting dalam adat dan kerabat terdekat. Pasambahan
di bawah payung tidak dilaksanakan bila meninggal dunia karena kecelakaan atau bencana
alam yang mayatnya tidak ditemukan, mati sahid, serta bukan penduduk asli atau pendatang.

317
YON Yondri dkk. 1989/1999.
”Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan dan Perilaku Generasi Muda Terhadap Tata
Krama Budaya Minangkabau di Kota Padang”. Padang: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya
Sumatera Barat.
(vi ; 137 halaman).
Penelitian ini dilakukan terhadap generasi muda yang berumur 15-20 tahun yakni pelajar
SLTA baik yang ada di negeri maupun swasta yang ada di Kotamadya Padang. Untuk
menentukan sampel maka murid-murid yang diambil adalah mereka yang duduk di kelas
2 (dua) dan 3 (tiga). Ruang lingkup materi tentang keadaan genarasi muda di Kota Padang
yang akan diteliti meliputi : kondisi lingkungan kota, pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan
perilaku generasi muda yang berkaitan dengan tatakarama budaya tradisional, ini meliputi
bagian pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan perlaku tentang tata cara penggunaan bahasa,
memberi salam, istilah menyapa, cara duduk, berpakaian, berjalan, dan cara makan yang
dilakukan di lingkungan keluarga. Di samping itu, tentang media komunikasi, kreativitas
genarasi muda yang dilakukan baik di lingkungan sekolah maupun di luar.

256
ROH Rohanah, Siti dkk. 2002.
“’Pelita’ (Penerangan Kegelapan Saudara Kita) Etika Berpakaian Kaum Muslim Awal
Abad 20 (Ajaran Islam dari Sudut Pandang Sosial dan Moral)”. Badan Pengembangan
Kebudayaan dan Parawisata. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradiional Padang.
(x ; 64 halaman).
Nilai luhur yang terkandung dalam naskah ini yakni berisi anjuran mengenai bagaimana
cara berpakaian sebagai seorang muslim sesuai dengan ukuran dan etika yang diatur dalam
agama Islam. Selain itu, naskah berisi jawaban atas bantahan-bantahan yang dilakukan oleh
masyarakat terhadap pidato pengarang mengenai ukuran pakaian bagi laki-laki maupun
perempuan yang ditetapkan dalam Islam. Isi pidato yang dibantah oleh masyarakat tersebut
dituangkan di dalam kitab “Cermin Tarus”, dan menjadi bahan pembicaraan bahkan caci
maki dari masyarakat.

50
BUDAYA

7
REF Refisrul dkk. 2002.
”Tatakrama Suku Bangsa Minangkabau di Kabupaten Tanah Datar Propinsi
Sumatera Barat”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang Proyek
Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi Padang.
(viii ; 96 halaman).
Tatakrama atau sopan santun dalam berhubungan dengan orang lain, di dalam kerabat
maupun di luar kerabat memang merupakan suatu yang mengatur tata kehidupan masyarakat
menjadi lebih harmonis. Tatakrama yang berlaku pada suatu masyarakat sesungguhnya
menunjukkan jati diri dari masyarakat yang bersangkuta dan sangat dipengaruhi oleh
kebiasaan dan budaya yang telah berlaku turun temurun. Seyogyanya tatakrama tersebut
tetap dipelihara dan diwarisi oleh masyarakat tersebut terutama generasi muda.

58
REF Refisrul dkk. 2003.
”Tatakrama Suku Bangsa Minangkabau di Nagari Airbangis Kabupaten Pasaman
Propinsi Sumatera Barat”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Padang Proyek Penkaian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi Padang.
(vi ; 120 halaman).
Tatakrama yang berlaku di Nagari Air Bangis secara umum tidak jauh berbeda dengan
tatakrama di nagari-nagai lain di Sumatera Barat. Hal ini bisa dimengerti karena orang-orang
yang tinggal dalam satu nagari sebagian besar berlatar belakang budaya Minangkabau dan
beragama Islam. Walaupun ada pendatang dari Sumatera Utara (Mandailing), tapi mereka
telah lama berbaur dan menganggap dirinya sebagai orang Minangkabau.
Penggunaan tarakrama dalam kerabat maupun di luar kerabat di Nagari Air Bangis pada
prinsipnya tidak banyak perbedaan dan masih sesuai dengan adat istiadat Minangkabau.
Karena masyarakat yang homogen dalam budaya atau kebiasaan sehari-hari, walaupun
asal-usul mereka dari daerah yang berbeda, tetapi satu budaya yakni budaya Minangkabau.
Dapat dikatakan perbedaan penggunaan tatakrama yang ditunjukan dalam kerabat maupun
di luar kerabat (masyarakat) pada masyarakat Nagari Air Bangis atau Minangkabau
umumnya masih berlangsung dalam batas-batas wajar dan bisa ditolerir sehingga belum
sampai menimbulkan konflik yang berarti. Dengan kata lain, masyarakat Air Bangis dalam
berperilaku masih mengunakan tatakrama yang berpedoman pada adat Minangkabau dan
ajaran Agama Islam sebagaimana tersimpul dalam semboyan masyarakat Minangkabau “
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

293
MAR Maryetti dkk. 1999/2000.
”Pengetahuan Ibu Balita Tentang Gizi Kasus Balita Gizi Buruk Pada Keluarga Non
Gakin di Desa Talawi Hilir Kodya Sawahlunto”. Padang: Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan.
(xxiv ; 43 halaman).
Terjadinya gizi buruk pada anak Balita tidaklah semata-mata disebakan oleh rendahnya
tingkat ekonomi orang tua. Ada banyak faktor yang diperkirakan dapat memicu kondisi
tersebut. Salah satunya adalah yang menjadi fokus penelitian ini, yakni rendahnya tingkat
pengetahuan ibu balita tentang gizi dan makanan bergizi.
Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa ternyata pengetahuan tentang gizi dan
makanan bergizi dari ibu yang anak balitanya mengalami gizi buruk, cukup tinggi. Artinya

51
Koleksi BPNB

tidak terlihat adanya korelasi langsung antara tingkat pengetahuan ibu balita tentang gizi
dan makanan bergizi, dengan kondisi gizi balita itu sendiri. Dengan demikian dalam hal
ini faktor pengetahuan ibu balita tentang gizi dn makanan bergizi, juga bukan menjadi
penyebab terjadinya gizi buruk pada balita.

255
AJI Ajisman dkk. 2002.
“Rahmah El Yunusiyah : Tokoh Pembaharu Pendidikan dan Aktivis Perempuan di
Sumatera Barat”. Padang: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Parawisata Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(vi ; 132 halaman).
Rahman El Yunusiyah dilahirkan di Kota Padang Panjang pada hari Jum’at tanggal 1
Rajab 1318 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 29 Desember 1900 Masehi. Ayahnya
bernama Syekh Muhammad Yunus, seorang ulama dengan jabatan qadhi di Kenagarian
Pandai Sikek. Kakeknya bernama Syekh Imanudin, juga seorang ulama pemimpin Taraket
Naqsabandiyah dan juga ahli ilmu Falaq di Minangkabau. Menurut silsilah keturunannya,
Rahmah El-Yunusiyah masih mempunyai darah seorang ulama besar di Minangkabau,
yaitu Tuanku Nan Pulang dari Rao, yang hidup pada zaman Paderi. Sementara itu, ibunya
bernama Rafiah, seorang wanita saleh dari suku Sikumbang belahan suku dari Datuk
Bagindo Maradjo Bukit Surungan Padang Panjang.

274
ERN Ernatip dkk. 2000.
”Upacara Tabuik di Pariaman : Kajian Nilai Budaya dan Fungsi Bagi Masyarakat
Pendukungnya”. Padang: Departemen Kebudayaan dan Parawisata Direktorat
Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film.
(x ; 69 halaman).
Tulisan ini menyajikan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam makna simbolik upacara
Tabuik dan fungsinya bagi masyarakat pendukungnya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa
upacara Tabuik di Pariaman sampai saat ini masih dilaksanakan seperti apa adanya yaitu
pada tanggal 1-10 Muharram tiap tahunnya. Pengkisahan pristiwa perang Karbela tetap
ditampilkan sebagaimana biasanya. Rangkaian demi rangkaian kegiatan terlaksana dengan
teratur tanpa adanya pengaruh dari unsur lain. Pelaksanaan upacara tetap mempertahankan
nilai-nilai luhur yang ada dengan penghayatan dan emosi yang mendalam serta terpelihara
dengan baik. Pengaruh pembangunan, modernisasi serta masuknya unsur-unsur budaya
luar tampaknya belum menyebabkan terjadinya pergeseran-pergeseran baik dalam bentuk,
isi maupun fungsinya.

19
IRI Iriani dkk. 2002.
”Pola Strategi Pedagang Pakaian Bekas dalam Sistem Perdagangan di Sumatera
Barat Studi Kasus Pedagang Bekas Di Bukit Tinggi”. Padang: Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Padang.
( x ; 77 halaman).
Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Mengambarkan
dan menjelaskan secara teperinci masalah yang diteliti. Berdasarkan usia para pedagang
pakaian bekas sangat bervariasi, mereka berusia sekitar 21tahun hingga 35 tahun. Sangat

52
BUDAYA

kurang ditemukan pedagang bekas yang berusia di atas 35 tahun. Apabila dihubungkan
dengan status perkawinan maka pedagang pakaian bekas pada umumnya berada pada status
perkawinan dan telah mempunyai anak. Mengenai latar belakang pekerjaan mereka juga
sangat bervariasi ada yang berasal dari pedagang pakaian baru, pedagang sepatu, pelayan
took, ibu rumah tangga, dan ada juga yang berasal dari penjual nasi. Apabila dihubungkan
dengan latar belakang pendididkan, maka pedang pakaian bekas pada umumnya telah
mengenyam bangku sekolah SLTA dan hanya sebagian kecil yang telah tamat perguruan
tinggi dan menyandang gelar sarjana.

289
DAH Dahlan, Halwi dkk. 2000.
”Persepsi Ninik Mamak di Kabupaten Agam Tentang Pemanfaatan Hak Ulayat”.
Padang: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Parawisata Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Padang.
(xiv ; 94 halaman).
Menurut persepsi ninik mamak, pemanfaatan hak ulayat atas tanah nagari maupun tanah
kaum sudah tidak berjalan lagi dengan ajaran adat Minangkabau. Penyebabnya bukan
hanya berasal dari faktor-faktor luar seperti kebijakan pemerintah mensertifikatkan tanah
atau modernisasi dan mekanisasi saja. Beberapa faktor yang berasal dari dalam masyarakat
itu sendiri juga merupakan penyebab terjadinya kesalahan dan pemanfaatan hak ulayat,
keserakahan sebagian ninik mamak mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya
dari pemanfaatan tanah ulayat, kurangnya musyawarah antara penghulu nagari dengan
anak nagari tentang persoa;an-persoalan menyangkut tanah ulayat nagari, kurangnya
musyawarah antara mamak kepala kaum (mamak kepala waris) dengan anggota kaumnya
tentang persoalan-persoalan menyangkut pemanfaatan tanah ulayat kaumnya.

2
MAR Maryetti dkk. 2002.
“Magic Dalam Permainan Rakyat : Studi Kasus Permainan Lukah Gilo di Kecamatan
Sungayang Kabupaten Tanah Datar”. Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional Padang.
(xi ; 61 halaman).
Fokus perhatian dalam penelitian ini adalah keberadaan unsur magis dalam permainan
lukah gilo. Dalam hal ini dikaji bagaimana ilmu gaib berperan dalam permainan tersebut,
antara lain dengan melihat ritual apa yang dilakukan untuk “memanggil” kekuatan gaib.
Begitupun persyaratan yang harus dipenuhi serta pantangan yang harus dipenuhi serta
pandangan yang harus dihindari supaya kekuatan gaib itu datang. Metode penelitian bersifat
deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun tekhnik yang digunakan
dalam pengumpulan data dan informasi adalah dengan wawancara dan pengamatan.

45
CHR Christyawaty, Eny & Maryetti. 2003
“Pemain Rabab Pasisia: Dari ‘Pengabdian Seni’ Ke ‘Profesi’ (Studi Kasus 5 Orang
Pemain Rabab Pasisia di Pesisir Selatan, Sumatera Barat”. Padang: Balai Kajian
Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
(ix ; 95 halaman).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkapkan profil pemain rabab Pasisia

53
Koleksi BPNB

serta seluk beluk mereka di dalam menghayati dan menekuni rabab Pasisia sebagai seni
maupun profesi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif untuk mendapatkan
data dan informasi yang lebih mendalam. Sifat penelitian ini deskriptif analitis, artinya
melukiskan atau menggambarkan hubungan fenomena yang diteliti dengan sistematis,
faktual, dan akurat. Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah pelaku kesenian atau
tukang rabab Pasisia.

393
ALM Almaizon. 2005.
Pasambahan Dalam Upacara Kematian di Kecamatan Kuranji Padang. Padang: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini menjelaskan pasambahan dalam upacara kematian di daerah Kuranji yang
dilakukan sebelum penyelenggaraan jenazah. Pelaksanaannya di halaman rumah, dimulai
dari orang sumando dari kaum yang meninggal dunia kepada ninik mamak dalam suku
yang bersangkutan. Saat pasambahan mayat berada di tengah rumah dan melibatkan
semua lapisan masyarakat, mulai dari memandikan, mengafani, menyembahyangkan, dan
memakamkannya.

394
ARD Ardion, Rusli. 1999.
Aktualisasi Nilai Budaya Bangsa di Kalangan Generasi Muda Daerah Sumatera Barat.
(Cet.1). Padang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam menyongsong era globalisasi dan informasi, aktualisasi nilai budaya bangsa di
kalangan generasi muda sangat perlu karena generasi muda sangat mudah menyerap budaya
luar. Aktualisasi adalah suatu proses mewujudkan sesuatu yang tidak tampak menjadi
tampak yang kongkret dan dapat diamati. Aktualisasi atau perwujudan dan nilai budaya
bangsa di kalangan generasi muda perlu memperhatikan di lingkungan keluarga, sekolah,
dan umum yang menyangkut hal ketekunan, kerapian, ketaatan, dan kejujuran.

395
BAK Bakar, Amir. 1990.
Tata Kelakuan di Lingkungan Pergaulan Kelurga dan Masyarakat Setempat di Daerah
Sumatera Barat. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan tata kelakuan pergaulan keluarga dan masyarakat setempat di
Sumatera Barat yang sangat memprihatinkan. Ini disebabkan terjadinya perkembangan dan
perubahan daerah Sumatera Barat akibat proses pembangunan yang sangat pesat sehingga
nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau mulai berubah. Oleh karena
itu, adanya usaha pemerintah untuk menyelamatkan unsur-unsur kebudayaan daerah agar
tidak hilang dan dapat dilestarikan untuk generasi mendatang.

793
ARI Arios, Rois Leonard. 2005.
Pemain Rabab Pasisia. Padang. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini menjelaskan pemain rabab yang berprofesi sebagai tukang rabab. Pada hakikatnya
masih banyak nilai yang relevan untuk dikaji, misalnya tentang bagaimana mereka

54
BUDAYA

menghayati dan menekuni rabab Pasisia sebagai seni dan juga sebagai profesi. Rabab
pasisia menjadi kesenian yang bernilai tinggi dan menjadi mata pencarian tradisional yang
bukannya mengalami penyempitan lahan tetapi jusru menjadi pekerjaan yang diminati
banyak orang.

392
LKA LKAAM SUMATERA BARAT. 2002.
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. (Cet.1). Padang : Sako Batuah.
Buku ini menjelaskan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang merupakan adat
atau norma hukum yang dipakai nenek moyang orang Minangkabau yang berdasarkan
kepada ajaran syarak dan sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau. Sandi artinya
dasar yang kuat sedangkan syarak ajaran agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan
hadits Rasulullah.

688.6
MAK Makmur, Erman. 1984.
Alat Angkutan Tradisional Sumatera Barat. Padang : Proyek Pengembangan
Permusuman Sumatera Barat.
Alat angkutan tradisional adalah alat yang dibuat dengan bahan yang disediakan dari alam
sekitar yang berfungsi untuk mengangkut barang atau orang dari satu tempat ke tempat
tujuan baik angkutan air, darat, maupun udara. Alat angkutan tersebut adalah kuda beban,
osoh, gerobak, pedati, sampan, bendi, dan periah. Akan tetapi, alat angkutan tersebut jarang
dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau disebabkan oleh adanya alat transportasi yang
lebih modern.

306.1
MAK Makmur, Erman dkk. 1984.
Alat Musik Tradisional Minangkabau. Padang : Proyek Pengembangan Permuseuman
Sumatera Barat.
Buku ini menjelaskan alat musik tradisional Minangkabau yang merupakan jenis peralatan
yang dipergunakan dalam kesenian musik daerah setempat. Alat musik tersebut dibuat dan
dibentuk secara tradisional dengan bahan yang disediakan alam sekitar seperti kayu, talang,
logam, tanduk, kulit hewan, dan sebagainya yang berperan penting sebagai media dalam
usaha, dalam kehidupan lahiriah, dan kepuasan batiniah.

391
MAK Makmur, Erman. 1997.
Pakaian Adat Wanita Payakumbuh. Padang: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Sumatera Barat.
Buku ini menjelaskan pakaian adat wanita di daerah Payakumbuh yang dapat diketahui
secara jelas mengenai bentuk dan kelengkapan pakaiannya yang berbagai bentuk serta
coraknya dan macam-macam pakaian yang dipakai oleh wanita untuk berbagai kegiatan
serta kedudukannya apakah ia sebagai seorang gadis, orang tua, atau janda.

55
Koleksi BPNB

306
MAR Maryetti. 1999.
Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Sumatera Barat. (Cet.1)
Padang:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Integrasi merupakan proses penyesuaian antara unsur kebudayaan yang berbeda sehingga
mencapai suatu keserasian fungsinya dalam kehidupan masyarakat. Integrasi tidak dapat
terwujud karena adanya sekelompok yang keliru, dapat diartikan sebagai penilaian terhadap
apa yang nampak dari suatu golongan etnik tertentu. Penilaian ini ada yang positif dan ada
yang bersifat nagatif.

302
MAR Maryetti dkk. 2002.
Sikap Masyarakat Kota Bukittinggi Terhadap Ilmu Gaib. Padang: Badan Pengembangan
Kebudayaan dan Pariwisata,Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini menceritakan penggunaan ilmu gaib sebagai alternatif pemecahan masalah bagi
masyarakat baik dari berbagai lapisan yang merupakan gambaran dari keadaan masyarakat
yang masih mempercayai adanya kekuatan sakti di luar kekuatan yang dikenalnya selama
ini. Sikap masyarakat kota Bukittinggi terhadap ilmu gaib berbeda-beda, ada yang bersikap
produktif, menolak, agresif, dan meramal.

621.9
MUT Mutia, Riza. 1998.
Kincir Padi. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan mata pencarian masyarakat Sumatera Barat, yaitu bertani terutama
mengolah sawah. Untuk mengolah sawah dipergunakan macam-macam peralatan seperti
bajak, gilingan, cangkul, dan sebagainya. Setelah padi dipanen, kemudian dijadikan beras
menggunakan semacam alat secara tradisional yaitu kincir padi yang digerakkan oleh tenaga
air. Kincir padi berfungsi selain untuk menumbuk padi juga digunakan untuk menumbuk
beras dan kacang tanah.

391
MUT Mutia, Riza dkk. 1997.
Pakaian Penghulu Minangkabau. Padang:Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Sumatera Barat.
Buku ini menjelaskan pakaian penghulu Minangkabau yang merupakan pimpinan kelompok
berdasarkan stelsel matrilineal yakni mamak atau paman yaitu saudara laki-laki dari ibu.
Penghulu dipilih berdasarkan kesepakatan kaum yang tugasnya memimpin seluruh anggota
kaumnya dan kewajiban menyelesaikan setiap perselisihan atau masalah yang terjadi di
kaumnya. Pakaian penghulu galibnya terdiri dari tutup kepala yang dinamakan saluak atau
deta, baju, celana, sisampiang sandang, ikat pinggang, tongkat, dan sebagainya.

302.2
NOV Noveri. 1998
Peranan Media Massa Lokal bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah
Sumatera Barat. Padang: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.

56
BUDAYA

Buku ini memuat peranan media massa lokal bagi pembinaan dan pengembangan
kebudayaan daerah Sumatera Barat. Sistem jaringan media massa sudah menjangkau
masyarakat di daerah. Media massa telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, tetapi
penggunaannya masih tampak selektif. Dengan adanya media massa, penyebarluasan
informasi mengenai pesan-pesan pembangunan, pemahaman dan pemantapan budaya
bangsa akan langsung diterima oleh lapisan masyarakat melalui media elektronik maupun
cetak.

390
PUR Purna, Made. 1997.
Apresiasi Generasi Muda Terhadap Pencak Silat di Daerah Sumatera Barat. (Cet.1).
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan pencak silat, yakni seni bela diri Indonesia yang dewasa ini masih
tetap ditekuni. Pencak silat mempunyai daya untuk membantu sikap memahami nilai
budaya yang dapat diandalkan untuk pendewasaan mental. Oleh karena itu, pencak silat
sangat bermanfaat untuk membangun mentalitas bangsa terutama generasi muda.

398
PUR Purna, Made.1993.
Pengukuhan Nilai-Nilai Budaya Melalui Dendang Pengasuhan Anak. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dendang pengasuhan anak adalah salah satu unsur kebudayaan yang dianggap perlu digali
sebagai suatu kekayaan khasanah budaya Indonesia yang mempunyai budaya positif kepada
anak-anak. Dendang pengasuhan anak ini memiliki kadar komunikasi yang tinggi, dalam
artian sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan pesan seperti harapan dan do’a yang
terkandung di dalamnya yaitu moral, pendidikan, dan etika hidup.

738.3
REF Refisrul dkk. 2002.
Kerajinan Gerabah di Sumatera Barat: Hambatan Kultural dan Stuktural. Padang:
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Kerajinan gerabah dapat dikatakan industri rumah tangga atau usaha kecil-kecilan yang
dikerjakan di rumah. Kerajinan gerabah ini merupakan jenis kerajinan tradisional yang
menjadi suatu kekayaan budaya dan patut dilestarikan. Hambatan kultural dan struktural ialah
hambatan yang disebabkan oleh faktor internal misalnya mengenai kondisi fisik pengrajin,
pendidikan dan pola pikirnya, sedangkan faktor strutural dari eksternal misalnya, kurangnya
minat dari generasi muda, penggeseran selera konsumen, dan persepsi masyarakat.

395
REF Refisrul dkk. 2003.
Tata Krama Suku Bangsa Minangkabau di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera
Barat. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan
Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi.
Buku ini menjelaskan tata krama yang mengatur perilaku masyarakat. Jika aturan tata
krama dipatuhi maka akan tercipta integrasi social yang teratur, tertib, dan efektif dalam

57
Koleksi BPNB

mastarakat yang bersangkutan. Tata krama pada suku bangsa Minangkabau di daerah Tanah
Datar lebih dipusatkan ke dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Wujud tata kramanya
ialah menghormati, berbicara, bersalaman, makan dan minum, berpakaian, dan tutur sapa.

395
REF Refisrul dkk. 2003.
Tata Krama Suku Bangsa Minangkabau di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman
Propinsi Sumatera Barat. Padang: Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,Proyek
Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi.
Buku ini tata krama masyarakat suku Minangkabau pada umumnya yang berlaku pada suku
bangsa Minangkabau di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman. Wujud tata kramanya ialah
menghormati, berbicara, bersalaman, duduk, makan, minum, berpakaian, dan tegur sapa
serta penggunaan tata krama dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam kerabat maupun di
luar kerabat.

643.3
SAF Safwan, Mardanas dkk. 1989.
Dapur dan Alat-alat Memasak Tradisional Daerah Sumatera Barat. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan dapur tradisional yang meliputi dari letak dapur, bentuk dan susunan
ruangan, serta arti dan fungsi dapur dalam kebudayaan di daerah Sumatera Barat. Arti dapur
itu sendiri ialah derajat kemampuan ekonomi suatu keluarga, sedangkan fungsinya yang
utama ialah tempat memasak dan menyiapkan makanan dan minuman serta untuk penyimpan
makanan. Alat memasaknya antara lain, kompor, bakul, batu lado, dan sebagainya.

303.3
SAM Samin, Yahya dkk. 1996.
Peranan Mamak Terhadap Kemenakan dalam Kebudayaan Minangkabau Masa Kini.
(Ed.1). Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini memuat peranan mamak terhadap kemenakan sangatlah penting karena mamak
tidak hanya bertanggung jawab pada anak, tetapi juga terhadap kemenakannya. Hubungan
mamak dan kemenakan dalam kebudayaan Minangkabau merupakan hubungan pertalian
darah. Fungsi dan tugas seorang mamak itu haruslah arif dan bijaksana.

394.4
SAM Samin, Yahya. 1992.
Upacara Turun Mandi Anak Secara Tradisional Minangkabau di Sumatera Barat.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan
Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sumatera Barat.
Upacara tradisional turun mandi anak merupakan salah satu aspek warisan nenek moyang
yang hanya dapat dimiliki oleh anggota masyarakat dengan jalan memperkenalkan dan
mempelajarinya. Upacara turun mandi anak mengandung nilai-nilai budaya yang bersifat
abstrak, yang sukar dicerna dan diterapkan begitu saja di daerah tersebut.

58
BUDAYA

736.4
SIA Siat, Hasni & Riza Mutia. 1999.
Ukiran Tradisional Minangkabau. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini memuat seni ukiran tradisional Minangkabau yang pada umumnya diterapkan pada
bangunan dan beberapa peralatan sehari-hari seperti rumah gadang, balai adat, mesjid, dan
lain-lain baik untuk bidang kecil atau untuk bidang besar, peralatan upacara, alat pertanian
dan alat permainan. Semua motif ukiran tersebut bersumber pada falsafah alam takambang
jadi guru. Motif ukuran tersebut berfungsi sebagai hiasan dan juga melambangkan ajaran
yang tersirat.

304
SIT Sitanggang, Hilderia. 1984.
Dampak Modernisasi Terhadap hubungan Kekerabatan Daerah Sumatera Barat.
Jakarta: : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Terbukanya lapangan kerja dikota membuat penduduk pedesaan berpindah ke kota untuk
hidup yang lebih baik sehingga terjadi perubahan nilai-nilai di dalam masyarakat yang
bersangkutan sejalan dengan proses modernisasi yang terjadi, membuat masyarakat mulai
meninggalkan nilai-nilai tradisional yang selama ini mereka anut terutama nilai kekerabatan.

307
SPI Spina, Bruno. 1981.
Mitos dan Legenda Suku Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka.
Buku ini berisi kumpulan cerita-cerita rakyat baik itu mitos maupun legenda yang dikenal di
Mentawai. Cerita- cerita ini diterjemahkan dari bahasa Mentawai dengan bahasa Indonesia
yang baik, ejaannya juga sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang
sempurna, dilengkapi dengan gambar dan fotonya.

306
SUL Sultani dkk. 1998.
Peranan Nilai Budaya Daerah Sumatera Barat dalam Gerakan Disiplin Nasional.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Buku ini menjelaskan gerakan nasional yang tidak terlepas dari akar budaya daerah yang
telah dimiliki oleh kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia dapat dilihat di dalam
kehidupan masyarakat yang bersifat religius dan ritual. Salah satu pendukung keberhasilan
pembangunan nasional adalah bersikap, berperilaku disiplin, baik dan benar, serta mematuhi
dan melaksanakan aturan hukum dan semua kaidah sosial yang berlaku.

720
SYA Syafwandi. 1993.
Arsitektur Tradisional Sumatera Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Arsitektur ialah pemenuhan akan kebutuhan manusia terhadap ruang yang dapat memberikan
rasa tentram dan bahagia bagi manusia yang dilingkupinya. Contohnya arsitektur rumah
gadang yang memiliki ciri arsitektur tradisional yang khas dan unik.

59
Koleksi BPNB

304
YON Yondri dkk. 2000.
Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan, dan Perilaku Generasi Muda Terhadap Upacara
Perkawinan Adat Minangkabau di Kota Padang. (cet.1). Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Buku ini memuat bagaimana generasi muda atau penerus dapat meneruskan kebudayaan
dari nenek moyang mereka karena kebudayaan pada dasarnya telah ada semenjak hadirnya
manusia pertama di muka bumi ini. Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah
laku pada generasi muda akan berdampak besar pada corak dan nuansa kebudayaan pada
yang akan datang, apalagi dipengaruhi oleh derasnya arus informasi dari luar.

394
ZAI Zaidan, Nur Anas dkk. 1999.
Makanan, Wujud, Variasi, dan Fungsinya serta Cara Penyajiannya di Daerah Sumatra
Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.
Buku ini memuat makanan tradisional daerah Sumatra Barat, yang diuraikan konsep
makanan, minuman, penyajian dan tata cara makan dan minum dalam upacara adat.
Cara pengolahannya secara sederhana yakni dengan cara direbus atau dibakar. Makanan
merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dimiliki oleh setiap manusia karena mengolah
bahan mentah menjadi makanan, perwujudannya, cara penyajian, dan pengkonsumsianya
menjadi tradisi. Hal ini dapat terjadi karena dukungan dan adanya hubungan kait mengkait
dengan berbagai aspek yang ada dalam kehidupan sosial.

314.59
ZUR Zuriati. 2007.
Undang-Undang Minangkabau dalam Perspektif Ulama Sufi. Padang: Fakultas Sastra
universitas Andalas.
320 halm,21 cm
Buku ini merupakan hasil kajian terhadap naskah Undang-Undang Minangkabau yang
memuat berbagai peraturan hukum adapt yang dijiwai oleh hukum Islam (syarak), meliputi
syariat, fikih, dan tasawuf. Naskah ini ditulis atau disalin oleh ulama / sufi dan hukum
adat. Naskah ini ditulis dengan tujuan untuk membentuk masyarakat Minangkabau menjadi
manusia yang masuk kedalam golongan Islam yang hakiki, yang mempunyai ilmu lahir /
fikih dan ilmu batin / tasawuf.

306
BOE Boestami, Sjafnir Abu Nain & Rosida. 1992.
Kedudukan dan Peranan Wanita dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau.
Padang : Esa.
Buku ini memuat kedudukan dan peranan wanita Minangkabau. Wanita dalam aturan
adat Minangkabau disebut limpapeh rumah nan gadang. Dia mempunyai peranan untuk
menentukan garis keturunan dan pewarisan melalui garis keturunan ibu. Peranan wanita
yang disebut bundo kanduang mempunyai arti kedudukannya yaitu tumpuan harapan
generasi terhadap wanita.

60
BUDAYA

395
CHR Christyawaty, Eny. 2004.
Tata Krama Suku Bangsa Minangkabau di Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera
Barat. Padang:Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini mejelaskan fungsi tata krama yang mengatur seluruh perilaku masyarakat suku
bangsa Minangkabau di Pesisir Selatan sehingga jika dipatuhi akan tercipta interaksi
sosial yang teratur, tertib, dan efektif dalam masyarakat yang bersangkutan. Tata krama
juga mengandung adanya pengendalian sosial seperti adanya rasa hormat antarsesama,
rasa takut, sungkan, malu, dan rasa kesetiakawanan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau
konflik antarsuku.

793.4
CHR Christyawaty, Eny. 2005.
Magic Dalam Permainan Rakyat (Studi Kasus Permainan Lukah Gilo di Kecamatan
Sungayang Kabupaten Tanah Datar). Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional.
Magic atau ilmu gaib banyak digunakan dalam kehidupan manusia sehari-hari, baik dalam
kehidupan sosial, mata pencarian, maupun dalam permainan rakyat. Pada masyarakat
Minangkabau yang mengandung unsur magic ialah permainan daduih, pencak silat dan
lukah gilo.

394
DEF Defrizal dkk. 1995.
Deskripsi Upacara Tradisional: Malimau Pasia Turun ke Laut di Daerah Pesisir Barat
Propinsi Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Upacara malimau pasia adalah upacara pantai yang menjadi lahan penghasilan para nelayan.
Tujuannya agar mendapat hasil tangkapan ikan yang banyak. Pada upacara ini ditampilkan
berbagai kegiatan anak nagari berupa kesenian tradisional randai, pencak silat, dan tari-
tarian.

307
DEL Delly, H,S.M dkk. 1992.
Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup
Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian
Proyek inventaris dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sumatera Barat.
Buku ini menguraikan dasar perilaku masyarakat Minangkabau yakni agama yang disertai
iman kepada kekuasaan Allah. Hal ini terungkap dalam “adat basandi syarak syarak basandi
kitabullah” dalam upacara pelestarian lingkungan terlihat adanya upacara keagamaan
seperti tolak bala, penangkal pianggang. Jadi dalam pengelolaan sawah, tegal, peliharaan
semuanya memiliki ilmu yang mengandung inplikasi positif dalam pelestarian lingkungan.

61
Koleksi BPNB

306.1
DHA Dhavida, Usria & Lisa Sri Dwiyanti. 1997.
Kerajinan Tradisional Anyaman Pandan di Sumatera Barat. Padang: Bagian Proyek
Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat.
Buku ini berisi tentang kerajinan tradisional anyaman pandan di Sumatera Barat. Proses
pembuatan berbagai macam barang dengan mengandalkan tangan serta alat-alat sederhana
dalam lingkungan rumah tangga. Kerajinan anyaman ditinjau dari bahan baku dapat
dibedakan empat bagian yaitu kerajinan anyaman bambu, rotan, pandan, serta mensiang.
Kerajinan anyaman pandan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari baik bagi pengrajin
maupun masyarakat umumnya, fungsi tersebut dapat bersifat ekonomi, sosial, dan budaya.

664
DHA Dhavida, Usria dkk. 1996.
Pengolah Makanan Tradisional Sumatera Barat. Padang: Bagian Proyek Pembinaan
Permuseuman Propinsi Sumatera Barat.
Dalam masyarakat Minangkabau, kepandaian memasak makanan menjadi salah satu acuan
nilai terhadap kaum wanita karena jika seorang gadis yang hendak menikah dipertanyakan
tentang kepandaiannya memasak. Dalam hal ini, makanan memang lebih tertuju pada cara-
cara mengolah, memasak, dan menyajikan. Alat pengolah masakan tradisional Sumatera
Barat adalah dandang, balango, sanduak, tapisan santan, parutan, dan sebagainya.

392.5
DHA Dhavida, Usria dkk. 2002.
Upacara Adat Perkawinan di Koto Berapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir
Selatan. Padang: Bagian Kegiatan Pengembangan Museum.
Buku ini membahas dan menggambarkan berbagai hal sesuai dengan tahap yang
dilaksanakan dalam upacara adat perkawinan dari awal hingga akhir. Pakaian perkawinan
dan perlengkapan serta makna yang terkandung di dalamnya terurai dengan jelas dan mudah
dipahami oleh semua pihak.

370.1
DJO Djohor, Bemi. 1993.
Peran Pendidkan Dalam Pembinaan Kebudayaan Nasional Daerah Sumatera Barat.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan pendidikan ialah suatu proses panjang dan mencakup keseluruhan
yang dipelajari secara formal dan non formal yang menghasilkan kebudayaan bagi
individu, membentuk kepribadian dan sosialisasi dirinya sendiri untuk hidup sebagai warga
masyarakat. Peranan pendididikan dalam pembinaan kebudayaan nasional ini sangatlah
penting terutama bagi seorang siswa, pelajar, dan mahasiswa.

398
DJU Djurip dkk. 2000.
Budaya Masyarakat Suku Bangsa Minangkabau di Kabupaten Pasaman Propinsi
Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan Nasional.
Buku ini memuat budaya masyarakat untuk dapat saling mengenal perbedaan dan persamaan

62
BUDAYA

antarsesama terutama di Kabupaten Pasaman. Dengan saling mengenal dapat tumbuh sikap
saling menghargai dan menghormati antarsuku bangsa yang ada.

395
DJU Djurip dkk. 2000.
Tata Krama di Lingkungan Suku Bangsa Mentawai di Kabupaten Padang Pariaman
Propinsi Sumatera Barat. (Cet.1). Padang: Departemen Pendidikan Nasional.
Buku ini memuat informasi mengenai budaya yang dimiliki oleh suku bangsa mentawai.
Karena suku bangsa di Indonesia sangatlah banyak dan beraneka ragam yang terpenting
tata krama itu sendiri adalah sopan santun, tata cara bicara, perilaku, dan adat istiadat,
menyebabkan tata krama di setiap suku bangsa berbeda satu sama lainnya.

392.5
ERN Ernatip dkk. 2004.
Peranan Kaum Kerabat Dalam Upacara Perkawinan di Nagari Pangkalan Koto Baru
Kabupaten Lima Puluh Kota. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Peranan kaum kerabat dalam upacara perkawinan sangatlah penting, masing-masing
mempunyai tugas yang telah diatur menurut adat daerah yang bersangkutan. Di daerah
Koto Baru, upacara perkawinan berlangsung dalam waktu lebih kurang dua minggu. Proses
pelaksanaannya terikat pada tradisi lama, artinya rangkaian kegiatan tersebut betul-betul
dilaksanakan menurut tata cara yang mereka terima dari tetuanya.

394.5
ERN Ernatip dkk. 2001.
Upacara Tabuik di Pariaman: Kajian Nilai Budaya dan Fungsi Bagi Masyarakat
Penduduknya. Padang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal
Nilai Budaya, Seni dan Film.
Upacara tabuik merupakan pencerminan dari sikap dan pola hidup masyarakat Pariaman
serta nilai yang terkandung di dalam upacara tersebut menjadi panutan bagi masyarakat.
Upacara tabuik berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan pencipta, dengan kata lain
mewujudkan keseimbangan hubungan antarmanusia dan penciptanya. Upacara ini sangat
digemari oleh masyarakat Pariaman yang biasa dilakukan setiap tahun dan merupakan
upacara ritual keagamaan.

306
GET Getri. 1993.
Pembinaan Budaya dalam Lingkungan Keluarga di Daerah Sumatera Barat. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan pembinaan budaya dalam lingkungan keluarga sangat besar
peranannya dalam kelangsungan hidup budaya suatu bangsa. Keluarga merupakan unit
kesatuan sosial terkecil pada suatu suku bangsa yang secara sadar maupun tidak sejak dini
telah melakukan penanaman dan pembinaan nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang
dalam lingkungan kelompok suku bangsa yang bersangkutan.

63
Koleksi BPNB

302
GIR Giro, Ramot Silalahi. 2002
Persepsi Ninik Mamak di Kabupaten Agam tentang Pemanfaatan Hak Ulayat. Padang:
Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional.
Dalam buku ini dibahas masalah tanah ulayat di Minangkabau yang pada dasarnya dimiliki
secara bersama oleh suatu nagari dan pengawasannya berada di tangan para ninik mamak.
Ninik mamaklah yang paling berperan mengurus dan mengatur semua persoalan yang
menyangkut tanah ulayat nagari kaumnya. Akan tetapi, ninik mamak belum mempunyai
persepsi sama tentang pemanfaatan hak ulayat. Akibatnya, sering ditemui penyelesaian
konflik malah semakin rumit.

306.8
GIR Giro, Ramot Silalahi. 2000.
Pola hubungan kekerabatan masyarakat padang pariaman dalam upacara perkawinan.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini memuat masyarakat Pariaman menempatkan perkawinan menjadi persoalan dan
urusan kaum kerabat, mulai mencari pasangan, membuat persetujuan, pertunangan dan
perkawinan sampai kepada segala urusan akibat perkawinan tersebut. Dalam masyarakat
perkawinan tersebut, terdapat empat jenis hubungan kekerabatan yakni tali kerabat mamak
kemenakan, tali kerabat suku sako, tali kerabat induk bako, anak pisang, dan tali kerabat
andan pasumandan.

307
HER Hernawati, Tarida. 2007.
Uma Fenomena Keterkaitan Manusia Dengan Alam. Padang: Yayasan Citra Mandiri.
131 hal, 22,5 cm.
Buku ini menggambarkan bagaimana arifnya masyarakat adat Mentawai dalam mengelola
potensi yang dimilikinya dengan konsep keseimbangan dan keterkaitan manusia dengan
alam sekitarnya. Perubahan terhadap lingkungan alam membawa perubahan pula terhadap
kebudayaan sebab lingkungan merupakan inspirasi kebudayaan bagi masyarakat tradisional
Mentawai khususnya warga Uma Sagalu.

398
IBR Ibrahim, Anwar dkk. 1988.
Ungkapan Tradisional yang Berkaitan dengan Sila- Sila dalam Pancasila di Sumatera
Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini merupakan kumpulan ungkapan tradisional yang ada kaitannya dengan sila-sila
dalam Pancasila. Ungkapan tersebut ditulis dalam bahasa daerah Minangkabau, kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas. Melalui ungkapan tradisional
tersebut, suku bangsa Minangkabau mendidik dan melatih masyarakatnya supaya menjadi
manusia yang beradab, berilmu, dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

391.1
IBR Ibrahim, Anwar dkk. 1985.

64
BUDAYA

Arti Lambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Menanamkan Nilai-Nilai Budaya
Propinsi Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan pentingnya tata rias pengantin yang mencerminkan pengenalan
sifat dan kepribadian masyarakat yang bersangkutan. Tata rias pengantin tidak hanya
sekadar menarik perhatian tetapi dapat mencerminkan suasana resi dan khidmat sehingga
perwujudan tidak hanya mewah namun mengandung lambang-lambang dan makna tertentu
sebagai pengungkapan pesan hidup yang hendak disampaikan.

390
JAM Jamin, Jamilus. 2006.
Alur Panitahan Adat Minangkabau. Bukittinggi : Kristal Multimedia.
105 halm, 16 cm.
Buku ini menguraikan adat Minangkabau. Setiap ada pertemuan adat selalu melaksanakan
alur panitahan, yakni pidato adat yang diucapkan sewaktu duduk bersama untuk musyawarah
menyetujui suatu maksud yang mengucapkan pidato itu adalah pemula wakil kelompok
yang telah bergelar / berkeluarga, mengajak lawan bicaranya pemuda sebaya wakil dari
kelompok lain.

307
PEL Pelawi, Kencana. S dkk. 1993.
Tambo Minang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek
Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Buku ini menjelaskan asal usul orang Minang di mulai dari suatu wilayah yang dikelilingi
oleh 3 gunung kemudian berkembang biak. Sejarah dahulu, masyarakat Minangkabau
dalam kehidupan kekerabatannya sudah diatur oleh adat.

340
SUB Subekti,Nanang dkk. 2007.
Membangun Masa Depan Minangkabau dari Perspektif HAM. Jakarta, Sekretariat
Jendral dan Kepaniteraan, Komnas HAM, FH Universitas Andalas, dan Sekretariat
Nasional Masyarakat Hukum Adat.
Buku ini menjelaskan bagaimana masyarakat hukum adat Minangkabau. Masyarakat hukum
adat Minangkabau ciri khasnya yaitu manganut sistem kekerabatan matrilineal yang tidak
banyak terdapat di daerah lainnya di Indonesia, maka diperlukan perhatian khusus terhadap
kemungkinan adanya masalah-masalah khusus yang mungkin timbul dari masyarakat.

390
ABI Abidin, Mas’oed. 2004.
Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Padang: Pusat
Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat.
Buku ini menggambarkan bagaimana orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan
kokoh adatnya. Akan tetapi, banyak masalah yang dihadapi di dalamnya, baik kurangnya
ilmu pengetahuan dan menipisnya pengalaman agama karena tumbuh suburnya penyakit
masyarakat. Buku ini mencari solusi untuk peningkatan syahsyiah para murabbi sebagai
paga adat dan syarak di nagari untuk menjawab berbagai tantangan di masyarakat.

65
Koleksi BPNB

395
PAD Pador, Zenwen dkk. 2002.
Kembali ke Nagari : Batuka Baruak Jo Cigak?. Padang: Lembaga Bantuan hukum
(LBH) padang.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari kecemasan akan tidak adanya perubahan yang
berarti batuka baruak jo cigak ( bertukar monyet dengan beruk) artinya sama saja yang
merupakan kekhawatiran yang wajar muncul di tengah tidak tegasnya komitmen negara
termasuk pemerintahan daerah terhadap nasib rakyat.

305.8
LEO Leonard, Rois dkk. 2003.
Identitas Etnik Masyarakat Perbatasan: Kasus di Kecamatan Rag Kabupaten Pasaman.
Padang: Balai Kajian Sejarah dan nilai Tradisional Padang.
110 Hlm.: 21 cm
Buku ini berisi tentang proses pola interaksi antara penduduk di suatu bangsa yang berbeda
dan proses asimilasi yang terjadi dalam bagian wujud kebudayaan di daerah perbatasan.
Dalam berinteraksi, masyarakat daerah perbatasan ini menjadikan bahasa Mandailing
sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di samping bahasa Minangkabau. Agar terjalin
hubungan baik antara dua suku tersebut, mereka melakukan modifikasi unsur budaya salah
satunya adalah terciptanya bahasa rao.

390
YAN Yandri, Efi. 2005.
Buku Pintar Banagari Kabupaten Solok Selatan. Padang: Pemerintah Kabupaten
Solok Selatan Bagian Tata Pemerintahan.
103 halm,;21 cm
Buku ini berisi tentang data base Kabupaten Solok Selatan sebagai merupakan kabupaten
baru. Buku ini memuat cerita tentang mengapa mestinya di Kabupaten Solok Selatan ini
terdapat 12 nagari yang diuraikan dinamikanya oleh penulis yakni nagari pahan raba, lubuak
malako, bidar alam, sungai kunyit, pasa tangah, lubuk ulang aling, abai, koto baru, alam
pauh duo, pasia talang, sako pasia talang dan lubuak gadang.

306-7
AT-T At-Tabani, Riwayat. 2005.
Erosi Moralitas di Minangkabau. Padang: Media Explorasi.
140 halm,21 cm
Buku ini menjelaskan bagaimana keadaan nagari Minangkabau yang dulu terkenal segala
tindak tanduk pada muda mudi yang berpedoman dengan adat basandi syarak syarak basandi
kitabullah dan pesan amanah. Kini budaya Minang makin terpengaruh dan tenggelam
banyak peristiwa yang tidak sesuai dengan agama yang dilakukan. Akibatnya banyak terjadi
pergaulan bebas yang telah mengerosi moral generasi muda Minangkabau. Ini semua adalah
tanggung jawab masyarakat Minangkabau secara bersama dan harus dicari jalan keluarnya.

66
BUDAYA

301.2
SCH Schefold, Reimar. 1991.
Mainan Bagi Roh Kebudayaan Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka.
175 halm,22 cm
Buku ini menguraikan umat Simagere atau mainan bagi roh yang merupakan pola pikir
masyarakat suku Mentawai yang menjiwai setiap aspek kehidupan mereka. Hal ini
tercermin pula dalam proses dan wujud pada barang- barang ciptaan untuk keperluan
sehari-hari maupun barabg-barang untuk ritus-ritus keagamaan. Bagi suku Mentawai, roh
setiap orang yang hidup, sebaiknya tetap berada di sekitar tempat tempat dia hidup. Dan
sebagaimana manusia hidup, roh ini pun juga memiliki sifat dapat merasa bosan sehingga
orang kemudian akan mati. Oleh sebab itu, roh-roh harus selalu diusahakan agar senang
dengan cara dibuatkan mainan.

390
BAT Batuah, R-St. Tandiko M.I.St. Rajo. 2003.
Sumarak Nagari : Alur Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau. Bukittinggi:
Kristal Multi Media.
Buku ini menjelaskan tentang alur yakni petuturan ninik mamak dan cadiak pandai pada
upacara adat. Isinya banyak mengandung kiasan, pepatah petitih, sedangkan pasambahan
dipakai orang muda pada upacara adat dengan berisi panduan muda mudi, juga pidato
yang dibawa pemuda sifatnya lebih besar seperti acara pengangkatan penghulu isinya
mengandung tambo adat lama pusaka usang alam Minangkabau.

390
MUT Mutia, Riza dkk. 2001.
Rumah Gadang di Pesisir Sumatera Barat. Padang: Bagian Proyek Pembianaa
Permuseuman Suamatera Barat.
64 halm,21cm
Buku ini menguraikan rumah adat Minangkabau. Fungsi rumah gadang di daerah luhak
dan daerah pesisir (rantau) tidak banyak perbedaan, tetapi bentuk dan arsitekturnya agak
berbeda. Bentuk rumah gadang suatu daerah juga tidak terlepas dari faktor lingkungan
alam, sejarah, dan budaya suatu masyarakat.

391
IBR Ibarahim, Anwar dkk. 1985/1986.
Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Proyek Inventaris dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Buku ini menjelaskan berbagai macam pakaian adat tradisional suku bangsa Minangkabau
seperti pakaian penghulu , pakaian bundo kanduang, pakaian orang tua/orang muda, pakaian
silat, pakaian waktu kekah. Keseluruhan macam pakaian adapt tradisional ini sampai
sekarang masih tetap terpelihara dan dijunjung tinggi oleh masyarakat minangakabau.

67
Koleksi BPNB

303.3
DAK Dakung, Sugiarto & Wahyu Ningsih. 1983/1984.
Sistem Kepemimpinan di Dalam Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventaris dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah.
308 halm, 23cm.
Buku ini menjelaskan sistem kepemimpinan baik dalam formal seperti kepemimpinan
di bidang pemerintahan dan badan- badan lain, maupun kepemimpinan informal seperti
kepemimpinan alim ulama, cadiak pandai / cendekiawan, dan ninik mamak / penghulu
adat. Prinsip- prinsip yang bersifat kekeluargaan perlu diindahkan dan dipedomani untuk
pemimpin bersangkutan.

304
GIR Giro, Ramot Silalahi dkk. 2001.
Fungsi Keluarga dalam Penanaman Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Minangkabau di
Kota Bukittinggi. Padang: Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengajian dan
Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Suamatera Barat.
Buku ini menguraikan fungsi keluarga yakni peranan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya
yang ditanamkan berhubungan dengan fungsi biologi, fungsi keamanan, fungsi sosial,
fungsi ekonomi fungsi pendidikan. Kelima fungsi tersebut mendapatkan tantangan berat
dari niali-nilai budaya luar yang ada pada masyarakat.

390
MAR Marajo, Syafnir Dt. Kando. 2006.
Sirih Pinang Adat Mianngkabau Pengetahuan Adat Minangkabau Tematis. Padang:
Sentra Budaya.
252 halm,21cm.
Buku ini berasal dari catatan secara tematis yang disusun berdasarkan pendekatan sistem
matrilineal sebagai ciri khas kebudayaan Minangkabau. Sistem matrilini melahirkan
lembaga kekerabatan, kepemimpinan jenjang kekerabatan. Semua mempunyai tugas
wewenang serta membentuk komunitas untuk menyejahterakan lingkungan kekerabatan
berdasarkan musyawarah dan mufakat di nagari mereka memelihara sarana kesejahteraan
bersama yang di sebut tanah ulayat.

305
DIR Dirajo, Ibrahim Dt.Sangguno. 2003.
Curaian Adat Minangkabau. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
211 halm.
Buku ini menguraikan adat Minangkabau yang telah diatur sedemikian rupa untuk menjaga
keselamatan masyarakat Minangkabau. Kurangnya pemahaman tentang adat lembaga
Minangkabau itu, sering kali terjadi kesalahan dalam menerapan adat itu yang akan
mendatang akan mengalami kerugian yang sangat beasar bagi negeri.

68
BUDAYA

307
DEL Delly, H.S.M. dkk. 1990.
Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventaris dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.
208 halm, 21cm.
Buku ini menguraikan peranan pasar pada masyarakat daerah Tanjung Mutiara. Pasar
sebagai arena pertemuan dari berbagai warga dan suku bangsa, mempunyai peran dalam
perubahan ekonomi masyarakat. Selain itu, pada saatnya akan ikut berperan dalam perubahan
kebudayaan sebagai akibat adanya pembauran informasi yang membawa perubahan.

307
ILY Ilyas, Abraham. 1999.
Nan Empat, Dialektika, Logika, Sistematika, Alam Takambang. Palembang: Yayasan
Datuk Soda.
167halm
Buku ini menceritakan “Nan Empat” yang merupakan sistematika berfikir, bersikap dan
berbuat menghadapi kehidupan didunia diserap dari tatanan alam yang pengaturannya
adalah sangat logis. Persentuhannya dengan unsur-unsur budaya dan kepercayaan Islam
yang memberi jiwa kepada cara berfikir yang tidak berlawanan dengan adat dan ajaran
Islam.

305
DEL Delly, H.S.M. dkk. 1992/1993.
Pembinaan Budaya dalam Lingkungan Keluaga di Daerah Sumatera Barat. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
132 halm, 21cm.
Buku ini menguraikan peranan keluarga dalam pembinaan budaya yang merupakan wadah
yang paling tepat dan efektif. Alur keluarga sejak dini telah terjalin hubungan emosional
yang akrab dan intensif sehingga memberi kemungkinan yang berlangsungnya proses
pendidikan secara persuasif.

306.1
EFF Effendi, Irwan dkk. 1995/1996.
Pembinaan Disiplin di Lingkungan Masyarakat Kota di Daerah Sumatera Barat.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengajian dan Pembinaan
Nilai-Nilai Budaya Daerah.
134 halm, 21cm
Buku ini menguraikan pembinaan disiplin sosial masyarakat perkotaan yang sangat
dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya masyarakat itu sendiri. Masyarakat kota
heterogenitas merupakan salah satu kendala sekaligus sebagai faktor pendorong. Untuk
meningkatkan disiplin sosial warga kota, pemda kota Padang melaksanakan program K3 (
ketertiban, kebersihan dan keindahan)

69
Koleksi BPNB

306
EFR Efrison. 2005.
Potensi dan Profil Luhak Nan Tigo. Tanah Datar: Kantor Inforkom dan PDE Tanah
Datar.
169 halm, 21cm.
Buku ini merupakan buku profil Kabupaten Tanah Datar. Buku ini berisi tentang sekilas
Tanah Datar, pemerintahan, potensi ekonomi dan pembangunan, kesejahteraan masyarakat,
sarana umum, pelayanan umum dan alamat, serta informasi penting.

640
CHR Christyawaty, Eny. 2001.
Kehidupan Keluarga Nelayan Studi Kasus 5 Keluarga Nelayan di Desa Taluak,
Kecamatan Pariaman Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Padang:
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Buku ini berisi tentang kehidupan para nelayan yang keras dan penuh tantangan. Faktor yang
menghambat perkembangan kehidupan sosial ekonomi nelayan yang erat kaitannya dengan
aktifitas melaut adalah faktor alam, fluktuasi harga, teknologi yang masih sederhana, dan
pendidikan yang rendah dan terbatas.

398
MAN Mangkuto, Mustafa Ibrahim Katik & Mangkuto. 2008.
Tuanku Lintau, Puti Andam Dewi, Harimau Agam. Padang: Dinas Pariwisata, Seni
dan Budaya Propinsi Sumatera Barat.
Buku ini memperkenalkan keragaman Seni Budaya Minangkabau serta Promosi
Kepariwisataan daerah Sumatera Barat bagi masyarakat luas. Menerangkan riwayat
kepahlawanan Tuanku Lintau, Puti Andam Dewi, dan Harimau agam.

900
PUT Putieh, Ismar Maadis Datuk. 2008.
Risalah Kubang Tigo Baleh Solok. Padang: Bintang Grafika.
Buku ini menjelaskan Adat istiadat di Kubang Tigo Baleh karena orang Tigo Baleh yang
pergi merantau harus mempelajari adat ini. Bak pepatah Adat: Kok Ketek Tapak Tangan
jo Niru di tampuangkan. Isinya adalah untuk menggali nilai-nilai Budaya yang tersimpan
dalam Masyarakat Kubang Tigo Baleh, yang selama ini terlupakan oleh generasi muda.

394.3
DWI Dwiyana, Lisa Sri dkk. 2001
Permainan Tradisional Sumatera Barat. Padang: Bagian Proyek Pembinaan
Permuseuman Sumatera Barat.
69 halm,21cm
Buku ini berisi tentang berbagai macam permainan tradisional yang berkembang hingga
kini di Sumatera Barat. Permainan ini pun terbagi menjadi tiga kategori yakni anak-anak,
remaja, dan orang dewasa. Permainan tradisional ini baik jenis dan bentuk permainan terus
dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda dengan cara lisan atau kaba dan dengan
contoh serta pertunjukan permainan tanpa adanya bukti- bukti yang otentik.

70
BUDAYA

307
MAR Maryetti dkk. 2007.
Persepsi Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari. Padang: Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Padang.
Buku ini menerangkan sejauh mana persepsi masyarakat tentang nagari, karena berlakunya
Perda nomor: 9 tahun 2000 tentang Perubahan Sistem Pemerintahan Desa ke Nagari.
Sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau umumnya dan Tujuh Koto Talago
khususnya berdasarkan undang-undang Nomor: 5 tentang Pemerintahan Desa. Hal ini
telah mengakibatkan hilangnya eksistensi nagari di daerah di Minangkabau. Dengan
diberlakukannya perda tersebut, maka sistem pemerintahan desa diganti dengan sistem
pemerintahan nagari. Perubahan sistem ini yang menjadi pokok bahasannya.

310
SID Siddik, Hawari. 1993.
Data Kepariwisataan Sumatera Barat. Padang: Dinas Pariwisata Daerah Tingkat I
Sumatera Barat.
Buku ini berisi tentang rekaman dan menyajikan data kepariwisataan Sumatera Barat, dan
dijadikan sebagai kerangka acuan bagi pihak yang membutuhkan, khususnya dalam memacu
pertumbuhan dan perkembangan kepariwisataan di Sumatera Barat dan Pembangunan
Nasional.

303
SAA Saaduddin, Yusrizal dkk. 1996.
Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri di Sumatera
Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Secara garis besar buku ini mengungkapkan perubahan-perubahan dalam pola kehidupan
masyarakat akibat pertumbuhan industri di daerah Sumatera Barat. Perubahan-perubahan
yang timbul pada dasarnya terjadi karena pertemuan pada dua pola kehidupan yang beda,
yakni antara kebudayaan agraris dan kebudayaan ini sekaligus berdampak positif maupun
negatif terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri.

307
ABU Abu, Rivai. 1980.
Sistim Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Buku ini menerangkan sistem kesatuan hidup setempat, yang disebut juga dengan
komunitas, adalah merupakan ikatan yang sangat erat antara pendukung suatu kebudayaan
dengan tempat kediamannya. Ikatan yang sangat erat ini didukung oleh rasa bangga, rasa
cinta, persamaan, dan persatuan.

310
NN. 1999.
Profil Kecamatan IX Koto Sungai Lasi Tahun 1998. Solok: BPS Badan Pusat Statistik
Kab. Solok.
Buku ini menjelaskan gambaran suatu informasi potensi daerah yang meliputi data-data

71
Koleksi BPNB

pokok tentang penduduk, pendidikan, pertanian, industri, listrik, dan air minum, pariwisata,
perdangan, dan data pembangunan daerah lain.

307
CHR Christyawati, Eny dkk. 2008.
Kinerja Pemerintah Nagari di Era “ Kembali Ke Nagari” di Sumatera Barat. Padang:
Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
Buku ini menjelaskan proses pembuatan rencana kerja yang akan dilaksanakan oleh
pemerintahan Nagari Singgalang, aplikasi dan aktualisasi, serta hasil pelaksanaan program
kerja tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

2x0.07
ROH Rohanah, Siti dkk. 2001.
Peranan Muhammadiyah dalam Sistim Pendidikan Islam di Padang Panjang Tahun
1950-1965. Padang: Departemen akebudayaan dan Pariwisata , direktorat Jendral
Sejarah dan Purbakala.
Buku ini memuat peranan Muhammadiyah dalam sistem pendidikan Islam di Padang
Panjang. Peranan Muhammadiyah dalam pengembangan agama Islam sangat besar
dalam bentuk pembaruan sistem pendidikan serta pembangunan sarana dan prasarana,
menumbuhkan semangat memotifasi masyarakat agar mau belajar dan menerima sesuatu
yang baru berupa kemajuan. Dan juga untuk bersatu melawan keterbelakangan dan kembali
kepada tuntutan Islam yang sebenarnya yaitu Al-Qur’an dan hadist.

641
MAR Maryetti dkk. 2000.
Pengetahuan Ibu Balita tentang Gizi Kasus Balita Gizi Buruk Pada Keluarga Non
Bakian di Desa Talawi Hilir Kodya Sawah Lunto. Padang: Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jendral Kebudayaan.
Buku ini menjelaskan keadaan gizi buruk pada anak balita di Sumatera Barat yang ditemui
merata pada semua daerah. Dari beberapa faktor sosial-budaya yang diperkirakan penyebab
kondisi gizi buruk pada balita, faktor pengetahuan ibu balita tentang gizi diduga memegang
peran yang amat penting. Terjadinya gizi buruk pada anak balita tidaklah semata-mata
disebabkan oleh rendahnya tingakat pengetahuan Ibu balita tentang gizi dan makanan
bergizi.

398
END Endah, Sjamsudin St.Radja. 2004.
Kaba Laksamana Hang Tuah. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
95 halm, 16 cm.
Buku ini berisi kaba klasik Minangkabau yang merupakan karya sastra yang sudah dikenal
sejak lama oleh masyarakat Minangkabau, umumnya berisi kritikan sosial terhadap realitas
yang ada di sekitar pengarangnya. Awalnya kaba ini disampaikan dalam bentuk lisan oleh
seseorang, tukang kaba kepada pengarangnya, dimana proses penyampainya adalah dengan
cara berdendang, diiringi dengan bunyi-bunyian Minang seperti rabab/saluang. Buku ini
adalah salah satu kaba yang terkenal yang banyak hikmah di dalamnya yang hubungannya

72
BUDAYA

dengan sifat-sifat luhur kemanusian dalam memperjuangkan hak dan martabat manusia.

304
SAM Samin, Yahya. 1994.
Dampak Globalisasi Informasi dan Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat di Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Bagian Proyek P3NB Sumatera Barat.
Buku ini memuat dampak globalisasi terhadap kehidupan msyarakat di daerah Sumatera
Barat, khususnya di daerah pedesaan. Salah satunya ditunjukkan pada media masa modern
telah masuk dibdaerah pedesaan dan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat seperti
radio, televisi, dan surat kabar, yang mempunyai peran penting sebagai sarana penerangan,
pendidikan, hiburan, dan sosial kontrol. Kondisi ini dapat mengubah sebagian besar
masyarakat pedesaan dari kondisi ketradisionalan menjadi kategori maju dan modern.

306
SET Setyawati, Sri.
Dari Pedalaman Minangkabau ke Pelosok Mentawai. Perempuan, Politik, dan
Pemberdayaan Masyarakat Adat.
206 halm, 21 cm
Buku ini merupakan kumpulan dari makalah-makalah dari berbagai presentasi serta hasil
diskusi dengan berbagai LSM yang berisi tentang persoalan perempuan dalam ranah politik
dan pemberdayaan masyarakat adat yang masih menjadi hal yang perlu dilakukan segera.

306
NAI Naim, Mochtar. 2006.
Tiga Menguak Tabir : Perempuan Minangkabau di Persimpangan Jalan. Jakarta:
Hasanah
74 halm, 21 cm
Buku ini merupakan kumpulan tiga makalah dari Kongres Kebudayaan dan Apresiasi
Seni Budaya Minangkabau di Padang 29-30 November 2006. Makalah itu menguraikan
bagaimana posisi wanita Minangkabau di masa kini yang dibandingkan dari masa lalu. Di
Sumatera Barat wanita memiliki derajat yang tinggi dan sangat dihargai. Akan tetapi, yang
terjadi sekarang ini justru segala tindak tanduk wanita menjatuhkan harga dirinya sendiri
dikarenakan berkiblat ke negara Barat.

390
MAR Marjohan. 2009.
Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah. Pergulatan Antara Historis Regulasi
dan Implementasi. Suara Muhammadiyah.
Buku ini menjelaskan peristiwa yang sedang mengeliat di tanah air, termasuk di Sumatera
Barat secara provinsial, dan Minangkabau secara kultural, sebagai senyawa dari budaya
bangsa, dalam lingkup negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) dan menyigi lebih
Intens ihwal adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK)

73
Koleksi BPNB

300
ISK Iskandar, Harry Efendi. 2010.
Inyo Ajo Awak Juo Solidaritas Primitif, Uang, dan Kekuasaan Dalam Pemilihan Bupati
Padang Pariaman 2005. Padang: Minangkabau Press.
Buku ini menjelaskan menentukan pilihan masyarakat Pariaman tetap saja berdasarkan
kedekatan emosional, darah, dan hubungan kekeluargaan yang menentukannya. Inyo ajo
awak juo, ungkapan yang lazim dalam menentukan pilihan.

390
EDI Edison, Nasrun. 2010.
Tambo Minangkabau Budaya dan Hukum Adat di Minangkabau. Sumatera Barat.
Kristal Multimedia.
359 hlm, 21 cm
Buku ini mencoba mendeskripsikan budaya dan hukum adat di Minangkabau untuk dapat
disimak dan dipahami secara komprehensif bagi pembaca baik budaya yang terus dipelihara
di ranah Minangkabau ataupun hukum-hukum adat yang tetap dipertahankan kelestariannya
oleh segenap anak kemenakan minang itu sendiri, baik masih tetap tinggal di tanah leluhur
maupun di perantauan.

306
MUT Mutia, Riza dkk. 2007.
Objek Wisata Sejarah dan Budaya Sumatera Barat. Padang: UPDT Museum
Adityawarman.
Buku ini menggambarkan alam Sumatera Barat yang indah juga memiliki beragam
peninggalan sejarah dan budaya. Peninggalan sejarah dan budaya tersebut ada yang terdapat
di museum dan ada juga yang tersimpan di masyarakat serta situs-situs purbakala lainnya
yang tersebar di berbagai daerah. Dengan adanya buku ini dapat membantu masyarakat
dalam mengenal berbagai objek wisata yang ada di Sumatera Barat.

394.3
IZA Izati, Lisa Sri Dwiyana & Arman. 2003.
Randai Permainan Anak Nagari. Padang: Museum Adtyawarman.
Buku ini memuat permainan anak nagari yang ada di Sumatera Barat yaitu randai. Randai
merupakan salah satu budaya tradisional Minangkabau yang digolongkan pada rakyat.
Permainan ini sangat sederhana, spontan dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Bentuk
randai pada dasarnya bertolak dari kaba sebagai sumber cerita, pencak silat sebagai gerakan
dan dendang serta kerawitan tertentu sebagai alat bantu seperti salung, talempong, gendang
dan sebagainya.

360
IMA Imadudin, Lim dkk. 2002.
Dinamika Kehidupan Surau di Minangkabau (kasus di Nagari Pariangan Kab. Tanah
Datar 1960-1990). Padang: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Buku ini menguraikan kehidupan surau di Minangkabau sebagai arena pendewasaan dan

74
BUDAYA

periode turun tanah. Surau adalah tempat pengembangaan kepribadian orang muda Minang
dan beperan dalam melahirkan manusia yang terdidik secara intelektual. Surau sebagai
tempat ibadah dan pendidikan agama memiliki peran penting dalam pembinaan akhlak
masyarakat dan adanya ulama-ulama yang cukup dikenal oleh masyarakat luas.

395
AMI Amir, B dkk. 1984/1985.
Tata Kelakuan Di Lingkungan Pergaulan Keluarga Masyarakat Setempat di Daerah
Sumatera Barat. Padang: Departemen Pandidikan dan Kebudayaan Proyek Inventaris
dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Buku ini memuat tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat daerah
Sumatera Barat. Tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat sasarannya
adalah suku bangsa Minangkabau yang berada di daerah Sumatera Barat. Karena wilayah
tempat tinggal suku Minangkabau ini berada di dalam wilayah Sumatera Barat, tata kelakuan
tersebut tidak diperhatikan.

376
IND Indrawati, Nita. 2004.
Perempuan Sumatera Barat Ilmu dan Teknologi. Padang: Yayasan Citra Budaya
Indonesia.
228 halm, 21 cm
Buku ini berisi tentang kumpulan profil guru yang dikupas oleh sejumlah jurnalis perempuan
Sumatera Barat. Pada masyarakat kini, perempuan di Indonesia sudah menduduki posisi
yang sama dengan laki-laki dalam berbagai profesi. Bahkan sebagai antariksawan,
tercatat nama seorang perempuan di dunia pendidikan Sumatera Barat, juga sudah banyak
perempuan yang meraih guru besar. Sebuah prestasi kebanggaan tentunya.

746.4
ASW Aswar, Sativa Sutan. 1999.
Antakesuma Suji Dalam Minangkabau Adat. Djambatan.
115 halm, 24 cm.
Buku ini berisi tentang Sulaman Minang seperti setik rantai, tusuk suji dengan berbagai
variasinya, sulaman itu di buat pada pakaian bagian bawah (sarung), pakain bagian atas
(baju kurung dan selendang ) maupun untuk hiasan kepala. Ini khususnya berlaku bagi
pakaian adat. Selain itu dalam tata upacara minang dikembangkan pula hiasan-hiasan
sulaman untuk penghias tempat upacara, mulai dari tilam, aneka bantal maupun hiasan
kain-kain gantung seperti halnya terpasang pada pelaminan.

75
KOLEKSI
Fakultas Adab
IAIN Imam Bonjol
Sumatera Barat
AGAMA
AGAMA

III/SD/DDS/PERP.2007
Samad, Duski. 2006.
Kontinuitas Tarekat di Minangkabau. TMF Press
ii + 161 halaman
Buku ini memuat tarekat yang ada di Minangkabau, Syathariyah dan Naqsabandiyah, serta
dinamikanya.

006/DB/PPS.PERP/2009
Safri, Edi. 2001.
Kajian Ilmu Hadist Melacak Pandangan Dalimi Lubis Tentang Penolakannya Terhadap
Sunnah: Kajian Kasus Penganut Paham Inkar As-Sunnah Di Padang Panjang. Qaitul
Hikmah Press
76 halaman
Buku ini memuat pandangan Dahmi Lubis terhadap kehujjahan hadis atau bertolak pada
keyakinan.

Sabiruddin. 2001.
Gerakan Dakwah Islamiyah Mentawai. Padang: IAIN- IB press
147 halaman
Buku ini menguraikan gerakan Dakwah Islamiyah yang ada di Mentawai, sebuah organisasi
yang aktif di Mentawai.

002/ SD? PPS. PERP./2005


Aboenaim, Sjafnir. 2004.
Naskah Faqih Shaqhir. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM).
v + 38 Halaman
Ini merupakan suatu cerita dari naskah Arab Melayu yang telah dialihbahasakan ke dalam
bahasa latin.

Kamal, Tamrin. 2006.


Purifikasi Ajaran Islam Pada Masyarakat Minangkabau: Konsep Pembaharuan H. Abd.
Karim Amrullah Awal Abad ke-20. Bandung: Angkasa Raya.
195 halaman
Buku ini membahas pemikiran Abdul Karim Amrullah tentang purifikasi ajaran Islam.

81
Koleksi IAIN

795/ PPS.PERP./ 2001


Samad, Duski. 2000.
Sufi Nusantara dan Pemikirannya. Jakarta: TMF Perss.
114 halaman
Buku ini membahas pergerakan sufi yang ada di nusantara.

003/813/PPS.PERP. 2001
Shamad, Irhash A.. 2007.
Islam dan Praktis Cultural Masyarakat Minangkabau. Jakarta: PT. Tintamas Indonesia
Jakarta.
183 Halaman
Buku ini menguraikan proses dialetika Islam di wilayah Minangkabau.

82
SASTRA
SASTRA

3616/FA/1994
Junus, Umar. 1984.
Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Problema Sosiologi Sastra. Jakarta: Balai
Pustaka
136 hlm.
Buku ini menguraikan tentang hakikat dan fakta kaba serta penjelasan tentang sistem
sosial di Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan secara matrilineal. Di dalam
buku ini juga dijelaskan tentang fakta kaba yang berkembang di masyarakat Minangkabau
dan hubungannya dengan sistem sosial yang dianut oleh masyarakat ini. Buku ini juga
dilengkapi dengan daftar kaba yang ada di Minangkabau untuk memudahkan pembaca
mengetahui berapa banyak dan judul-judul kaba yang berkembang di Sumatera Barat pada
umumnya.

702/FA/2000
Roust, Syamsir. 1999.
Seni Islam Genre Arab: Dikie, Indang, dan Salawat Talam. Padang: IAIN Imam Bonjol
Press.
xii + 111 hlm.
Buku ini menyingkap dan mengapungkan kembali khazanah lama kesenian Islam yang
deras dengan pengaruh Arab. Hal ini menarik, karena dalam kesenian dikie, salawat talam,
dan indang yang dibahas oleh Syamsir Roust ini adalah gaya bersastra tradisi lisan yang
merupakan peralihan dari sastra kitab. Corak dari tradisi lisan ini merupakan teknik kreatif
dalam mengkomunikasikan nilai-nilai Islam lewat sastra yang tadinya berakar dari kitab
yang agak formal dan akademik sekali serta terjangkau oleh masyarakat menengah ke
bawah menjadi suatu sarana yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa
meninggalkan nilai-nilai keislamannya.
Buku ini juga membahas hakikat alat yang digunakan dalam acara dikie, salawat talam,
dan indang yang kesemuanya menggunakan sejenis alat musik seperti rebana. Dalam
acara dikie, digunakan rebana besar yang disebut dengan roda, dalam Indang digunakan
rebana kecil yang disebut dengan rifa’i, sementara untuk salawat talam, digunakan rebana
besar yang disebut dengan dulang. Permasalahan jenis alat musik dan kesenian Islam di
Minangkabau ini dilengkapi dengan perkembangannya di masyarakat Minangkabau.

014/ SD/ PPS. PERP. /2005


Nafis, Anas. 2004.
Curito Mahangkerang. Padang: Pusat Kajian Islam dan Minangkabau (PPIM)
v + 98 Halaman
Buku ini menceritakan suka-duka sepasang anak manusia. Seorang bernama Sutan
Khairullah, kemudian dikenal sebagai Sutan Manangkerang dan adiknya Putri Andam
Dewi. Mereka adalah sepasang anak yang berasal dari keluarga kaya raya.
Singkat cerita banyak penderitaan yang dialami oleh dua orang yang beradik kakak itu
akibat ulah Puti Bungo.

85
Koleksi IAIN

015/ SD/ PPS. PERP. / 2005


Nafis, Anas. 2004.
Kaba Mamak Si Hetong. Padang: Pusat Kajian Islam dan Minangkabau.
v + 62 Halaman
Kaba berbahasa Minangkabau yang menceritakan penderitaan sepasang anak manusia
hidup miskin yaitu Mamak Si Hetong dan adiknya Si Rona Pinang yang dihina oleh Si
Kasumbo Hampai yang kaya raya. Berkat Rabab dan Saluang Mamak Hetong, Kasumbo
Hampai pun berbalik jatuh cinta dengan Mamak si Hetong.

018/ SD/ PPS. PERP./ 2005


Nafis, Anas. 2004.
Carito Rancak di Labuah. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (
PPIM).
v + 58 Halaman
Ini merupakan sebuah kisah tentang Si Rancak di Labuah yang menggadaikan harta
kaumnya tanpa sepengetahuan ibu dan kaumnya. Uang gadaian digunakan untuk foya-foya.
Ketika gadaian jatuh tempo, Si Rancak di Labuah kelabakan dan kemudian ia sadar.

691/PPS.PERP./2000
Yunus, Yulinas. 1999.
Sastra Islam (Kajian Syair Apologenik Pembela Tarekat Naqsabandiyah Syeikh
Bayang)”. Padang: IAIN Press
vii + 145 Hal
Buku ini memuat tentang sastra Islam dan tradisi sastra yang menular pada Syeikh Bayang
dan di buku ini juga dimuat dan dianalisis tentang salam Syeikh Bayang.

011/SD/PPS.PERP./2005
Nafis, Anas. 2004.
Kaba Sabai Nan Aluih. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM).
v + 28 hal
Cerita berbahasa Minangkabau ini tidak tertata dalam struktur adat Minangkabau yang baku.
Dalam adat, yang menentukan masalah perjodohan adalah kaum si Sabai dan bukanlah
ayahnya yang tidak bersuku sama dengan anaknya Sabai.

86
SASTRA

004/SD/PPS.PERP./2005
Thaib, Raudha. 2004.
Carito Nik Reno. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau( PPIM).
v + 35 Halaman
Buku ini menguraikan cerita dalam bahasa Minang yang memuat tentang sejarah dan tambo
Minangkabau.

87
BUDAYA
BUDAYA

1228/FA/2005
Refisrul, dkk. 2002.
Kerajinan Gerabah di Sumatera Barat: Hambatan Kultural dan Struktural (Kasus
di Desa Galo Gandang Kabupaten Tanah Datar). Padang: Badang Pengembangan
Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
x + 88
Buku ini menguraikan tentang latar belakang historis kerajinan gerabah, profil pengrajin
gerabah, pembuatan dan pemasaraan gerabah, pewarisan kepandaian, dan aspek sosial dan
budaya dari kerajinan gerabah yang ada di Desa Galo Gandang Kabupaten Tanah Datar.
Buku ini juga dilengkapi dengan hambatan kultural dan struktural dalam pembuatan
gerabah. Hambatan kultural ini antara lain kondisi fisik, pendidikan, perubahan pola pikir,
dan budaya dari pengrajin gerabah yang membuat gerabah tersebut. Sementara hambatan
struktural untuk permasalahan ini adalah industrialisasi peralatan dapur, pergeseran
konsumen, kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari cara membuat gerabah, dan
kurangnya penyuluhan dan peminaan dari pemerintah untuk tetap melestarikan kerajinan
khas daerah dari Sumatera Barat ini.

3887/FA/2010
Shamad, Irhash A., dan Danil M. Chaniago. 2007.
Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau. Jakarta: PT. Tintamas Indonesia.
iv + 183 hlm.
Buku ini menguraikan tentang proses masuknya Islam ke Minangkabau, ordo sufi dan
kegiatan islamisasi di Minangkabau, gerakan awal pembaharuan Islamdi Minangkabau,
perlawanan terhadap kolonial di antara pertikaian internal, nasionalisme dalamgejolak
pembaharuan Islam, dan Islamdi Minangkabau pascakemerdekaan.
Pembahasan tentang ordo sufi dan kegiatan Islamisasi di Minangkabau meliputi pembahasan
tentang jaringan penyebaran aliran sufi di Minangkabau, kegiatan Islamisasi yang dilakukan
oleh kaum sufi, sufisme dan aktifitas sosial dan ekonomi, dan dinamika sufisme pedalaman
ke arah pembaharuan awal.
Gerakan awal pembaharuan Islam di Minangkabau ini meliputi persoalan kondisi
Minangkabau pragerakan pembaharuan, gerakan pembaharuan Islam tahap awal, dan
pembaharuan Islam versi Paderi. Permasalahan tentang perlawanan terhadap kolonial
di antara pertikaian internal membahas tentang perang Paderi, perjalanan intelektual
pascapaderi, diferensiasi pemahaman dan pemikiran keagamaan, polarisasi kaum tua dan
kaum muda, dan juga pembahasan tentang Islam dan perlawanan rakyat pascapaderi.
Permasalahan yang dibahas dalam pembahasan Islam di Minangkabau pascakemerdekaan
meliputi marginalisasi kepemimpinan Islam dan proses revolusi, pembentukan partai-
partai Islam, laskar-laskar Islam di masa revolusi, partai Islam dipentas politik pemilihan
umum 1955, dan Islamdan Adat Minangkabau sesudah kemerdekaan.

91
Koleksi IAIN

5274/P/2010
Rasyad, Zubir. 2009.
Ranah dan Adat Minangkabau. Jakarta: Agra Wirasandra.
xiv + 213 hlm
Buku ini mengandung tiga macam nilai sosial yaitu sejarah, ekonomi, dan politik. Sejarah
sebagai fakta di masa lalu, ekonomi sebagai kondisi masa kini, dan politik sebagai pandangan
ke masa depan. Ketiga aspek ini tergabung bagaikan mata rantai, dalam masa kini terletak
masa lalu dan keadaan sekarang menjadi cerminan untuk masa depan.
Di dalam buku ini diuraikan pula tentang beberapa hal yaitu ranah dan adat, nagari dan kota,
adat dan amanah, harga diri, dan tahu diri. Permasalahan yang dibahas dalam ranah dan
adat adalah memperbandingkan wilayah minangkabau yang berada di Minangkampar dan
suwarnabhumi. Dalam pembahasan nagari dan kota dipermasalahkan beberapa kota yang
ada di Sumatera Barat yaitu kota Pariangan, Padang Panjang, dan Bukittinggi. Mengenai
adat dan amanah dibahas soal PDRI dan kepemimpinan Islam yang ada di Minangkabau
pada awal perkembangan dan pertumbungan agama ini di Sumatera Barat. Pembahasan
yang dibahas dalam subbab harga diri adalah Sungai Dareh dan Taratak, sementara dalam
konsep tahu diri dipersoalkan permasalahan retrospeksi dan kesan yang diperoleh penulis
ketika menulis buku ini.

163 /DB/ PPS . PERP./2004


Nasroen. 2004.
Dasar Filsafah Adat Minangkabau. Djakarta: Bulan Bintang.
231 halaman
Buku ini berisi tentang adat dan agama serta dasar-dasar filsafat adat Minangkabau
yang dikupas secara jelas oleh Prof. Mr. M. Nasroen ini. Di dalam buku ini juga
dibahas tentang hari depan adat Minangkabau dan kebijaksanaan terhadap adat.

97/SB/PPS.PERP./2005
Kamaluddin, Syafrudin halimy. 2004.
Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam. Padang: Hayfa Press.
vi + 324 Halaman
Buku ini beri tentang kajian yang bertujuan untuk menilai hukum keluarga adat Minangkabau
menurut perspektif hukum Islam. Apakah hukum adat itu bertentangan dengan hukum
Islam atau tidak.

558/ PR/ 94
Penghulu, M. Idrus Hakimy Dt. Rajo.1978.
Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
v + 238 Halaman
Buku ini menyorot satu aspek dari studi tentang Minangkabau dan buku ini menguraikan

92
BUDAYA

tentang segi-segi adat istiadat dari satu lingkungan masyarakat Minangkabau.

5592/PR/94
Hakimy, M Idrus. 1978.
1000 Petatah Petitih Mamang-Bidal Pantun-Gurindam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
iii + 130 hal
Buku ini memuat petatah-petitih mamang dan bidal adat Minangkabau yang bersanding
dengan ajaran syarak (agama Islam). Petatah-petitih ini dengan berdasarkan pada raso,
pareso, malu dan sopan, atau budi yang mulia. Membahas segala aspek kehidupan untuk
mencapai suatu masyarakat yang aman, adil, dan makmur untuk perseorangan, masyarakat
maupun bangsa.

5587/PR/94
Hakimy, M Idrus. 1978.
Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
v + 182 hal
Buku ini memuat pokok-pokok pengetahuan adat alam Minangkabau. Suksesnya
pembangunan masa depan banyak tergantung pada mempositifkan peranan adat dari ninik
mamak, selain kekuatan lain yang nyata ada pada masyarakat.

013/SD/PPS.PERP./2005
Jamna, Jamaris. 2004.
Pendidikan Matrilineal. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau ( PPIM).
148 Halaman
Buku ini diangkat dari kajian kualitas pendidikan yang mendalam berupa disertasi oleh
pemerhati budaya. Buku ini menyoroti keluarga matrelineal dari konsep pendidikan luar
sekolah dalam mengungkap pemikiran mendasar dan konseptual dari pembelajaran hakikat
basandi.

005/SD/PPS/PERP./2005
Nizar, Hayati. 2004.
Bundo Kandung dalam Kajian Islam dan Budaya. Padang: Pusat Pengkajian Islam
dan Minangkabau
v + 116
Buku ini menghadirkan kajian tentang perempuan dalam berbagai posisinya. Kajian ini
berdasarkan pada filosofi Minangkabau, adapt basandi sarak, sarak basandi kitabullah, serta
pada sistem kekeluargaan Minangkabau yaitu matrinial.

93
Koleksi IAIN

1871/PPS.PERP.2003
Arrasuli, Syeikh Sulaiman. 2003.
Pertalian Adat dan Syara (Alih Bahasa Melayu-Latin oleh Drs. Hamdan Izmi).
Jakarta: Ciputat Press.
Buku ini merupakan transliterasi dari bahasa Arab Melayu ke bahasa Latin, yang
menguraikan tentang Minangkabau yaitu adat dan undang-undang.

5786/PR/94
Penghulu, Idrus Hakimy Dt. Rajo. 1978.
Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di
Minangkabau. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
176 halaman
Buku ini berisi tentang tata cara untuk bisa menjadi penghulu, bundo kanduang, dan pidato
tagak gala penghulu.

5595/ PR/ 94
Diradja, Sanggoeno. 1988.
Mustika Adat Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia Bukittinggi.
301 Halaman
Buku ini merupakan sumber tempat menggali adat dan budaya Minangkabau. Di buku ini
seluk-beluk dalam sistem Minangkabau.adat-adat yang diuraikan dalam bentuk cerita.

94
SEJARAH
SEJARAH

2888/FA/2003
Ajisman, dkk.. 2002.
Rahmah El Yunusiyah: Tokoh Pembaharu Pendidikan dan Aktivis Perempuan di
Sumatera Barat. Padang: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
xi + 267 hlm
Buku ini berisi tentang kehidupan Rahmah EL Yunusiyah di kota kelahirannya yaitu Padang
Panjang yang meliputi persoalan asal usul keluarganya, pendidikan, dan kepribadiannya
serta kehidupan perkawinannya dengan Haji Baharuddin Latif.
Pendirian Diniyah Putri dan keterlibatannya dalam pergolakan politik juga dibahas
dalam buku ini dengan menguraikan permasalahan tentang pendirian Diniyah Putri dan
perkembangannya dalam zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Di dalam buku ini
juga ditambahkan beberapa pendapat dan pandangan beberapa tokoh mengenai Rahmah
El Yunusiyah. Tokoh-tokoh tersebut antara lain dr. Zulfa Usman, A.A. Nafis, Drs. Hasnawi
Karim, H. Suhaimi Nurdin, Dra. Zikra Hasnani Karim, dan Alwi R.B..

746/FA/1998
Amran, Rusli. 1981.
Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Kintamani Offset.
vi + 652 hlm
Buku ini secara garis besar membahas sejarah Minangkabau atau Sumatera Barat pada
umumnya. Pembahasan dalam buku ini meliputi pertama, kerajaan Minangkabau yang
meguraikan tentang Si Rocok di Sungai Lansek, Beberapa prasasti yang ada di Sunagi
Lansek, sejarah tentang Dhamasraya dan Dr. Rauffaer, Kota Barus dan kebudayaan asal
India Selatan yang berkembang di daerah ini, dan sistem pemerintahan yang pernah ada
di nagari Sungai Lansek tersebut. Kedua, permasalahan yang dibahas adalah masuknya si
bule yang dalam hal ini adalah orang-orang Belanda atau VOC dan tanggapan masyarakat
pesisir terhadap masuknya kaum VOC. Dalam bagian ini juga dibahas masuknya tentara
Inggris yang kemudian berseteru dengan VOC di Sumatera Barat, yang dihiasi dengan
cerita demam salido dan cerita sedih dari Indera Pura, jatuhnya VOC, perang raksasa yang
ditunggangi oleh Belanda, usaha memaksakan cultuur stelsel di Sumatera Barat, orang-
orang yang mengkhianati Belanda di antaranya Sutan Alam Bagagarsyah, Tuanku di Buo,
Sentot Ali Basya, dan Tuanku nan Cerdik.

0010/FA/2000
Chairusdi. 1999.
Sejarah Perjuangan dan Kiprah PERTI dalam Dunia Pendidikan Islam di Minangkabau.
Padang: IAIN Imam Bonjol Press.
vii + 125 hlm.
Buku ini membahas sejarah organisasi Islam PERTI seperti organisasi atau perkumpulan
Islam lainnya yang tumbuh dan berkembang pada masa akhir penjajahan Belanda di
Minangkabau untuk merumuskan interpretasi dan imajinasi baru yang akan direkonstruksikan
dalam bentuk tulisan sejarah.

97
Koleksi IAIN

Diawali dengan penjelasan tentang situasi di Minangkabau pada awal abad XX, penulis
membahas kebijakan politik pemerintah kolonial Belanda, gerakan pembaharuan Islam di
Minangkabau, dan antisipasi kaum tradisional di Minangkabau.
Bagian kedua yang dibahas dalam buku ini adalah sejarah perjuangan PERTI dari periode
kolonial (1928 s.d. 1945) sampai periode kemerdekaan (1945 s.d. sekarang). Persoalan
mengenai PERTI dalam dunia pendidikan Islam di Minangkabau yang dilengkapi dengan
pasang surut lembaga pendidikan PERTI di Minangkabau dan perspektif PERTI dalam
dunia pendidikan Islam untuk menghadapi dinamika sistem pendidikan nasional.

2801/FA/2008
Daya, Burhanuddin. 1995.
Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib. Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya.
xxi + 397 hlm.
Buku ini berisi penjelasan tentang gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Sumatera
Barat yang diawali dari gerakan kaum Paderi pada abad ke-19 dan pendirian Sumatera
Thawalib pada awal abad ke-20. Di dalam buku ini juga dijelaskan profil lengkap tentang
Sumatera Thawalib mulai dari asal mula sejarah, tujuan, dan program awal didirikannya
Sumatera Thawalib di Parabek – Bukittinggi. Sejarah detail tentang Sumatera Thawalib
juga dipaparkan oleh Burhanuddin Daya ditambah dengan perkembangan serta kemunduran
Sumatera Thawalib sampai tahun 1980-an berikut berbagai masalah yang dihadapinya
selama kurun waktu lebih dari tiga perempat abad ini.

2874/FA/2009
Dobbin, Christine. 2008.
Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi Minangkabau1784 – 1847.
Depok: Komunitas Bambu.
Buku ini menguraikan sejarah ekonomi pedalaman Minangkabau sejak abad ke-18 yang
mendorong proses reformasi agama di pedalaman Minangkabau sebagaimana tercermin
dalam gerakan Paderi yang pernah dianggap sebagai pasang naik pertama dalam
perkembangan Islam di Indonesia.
Permasalahan yang dibahas dalam buku ini adalah desa dan pasar dalam ekonomi domestik
Minangkabau 1818 – 1834, perkembangan dan perubahan dalam jaringan perdagangan
luar 1347 – 1829, kebangkitan Islam 1784 – 1832, gerakan Paderi di Utara 1807 – 1832,
Nasionalisme Minangkabau dan tantangan dagang Belanda 1833 – 1841, dan imperialisme
kopi 1841 – 1847 dan sesudahnya.

2983/FA/2009
Etek, Azizah dkk.. 2007.
Koto Gadang Masa Kolonial. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.
xii + 326 hlm.
Buku ini mengajak pembaca untuk mengenal sejarah, khazanah, dan budaya adat

98
SEJARAH

Minangkabau khususnya bagi masyarakat Kabupaten Agam dan umumnya bagi masyarakat
Sumatera Barat. Koto Gadang merupakan sebuah nagari yang sampai tahun 1917 menjadi
ibu nagari kelarasan dan Orderdistrict IV Koto dalam Onderafdeeling Oud Agam (Agam
Tuo) di mana pada masa dahulu jabatan Tuanku Laras IV Koto kebetulan dimonopoli orang
Koto Gadang.
Fenomena Koto Gadang yang ditampilkan oleh penulis dalam buku ini sangat menarik.
Bukan hanya sistem kekerabatan dan adat istiadatnya yang spesifik, melainkan juga karena
keberhasilan tokoh masyarakatnya dalammengelola dan memanfaatkan berbagai konflik
menjadi daya penggerak sosial bagi kemajuan negeri.
Buku ini bukanlah seperti buku sejarah melainkan hanya sekedar kumpulan suntingan
’paco-paco’ dari cerita masa silam yang disadur oleh penulis dan dibumbui sekedarnya.
Permasalahan itu antara lain cerita tentang nasib Daina, seorang perempuan Koto Gadang,
waterleiding, Koto Gadang Abad ke-19, pendidikan di Koto Gadang, cerita tentang Yahya
Datuk Kayo sebagai orang yang menerima Anugerah Nagari, Volksraad dan Koto Gadang,
kenangan, dan berkaca pada Koto Gadang masa kolonial.

1227/FA/2005
Imadudin, Iim. 2002.
Dinamika Kehidupan Surau di Minangkabau (Kasus di Nagari Pariangan Kabupaten
Tanah Datar 1960 – 1990). Padang: Balai Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
xiv + 130 hlm.
Buku ini berisi tentang pembahasan detail terkait dengan kehidupan surau di Minangkabau
pada umumnya dan nagari Pariangan pada umumnya. Diawali dengan gambaran umum
daerah penelitian kemudian dilengkapi dengan penjelasan tentang kedudukan dan peranan
surau bagi masyarakat Pariangan. Keberadaan surau di Pariangan secara sosiologis terkait
dengan usaha Islamisasi kehidupan masyarakat yang bertumpu pada adat.
Di dalam buku ini juga dibahas tentang perubahan sosial yang juga menyebabkan terjadinya
perubahan pada surau. Perubahan budaya menyebabkan adanya perubahan atau peralihan
posisi guru di surau yang diambil alih oleh orang tua.

3849/FA/2010
Marjohan. 2009.
Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah: Pergulatan Antara Historis Regulasi
dan Implementasi. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
vix + 120
Buku ini menyigi lebih inten ihwal adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah (ABS-
SBK) yang hingga kini masih tetap mengemuka dalam percaturan dan pemikiran dari
berbagai kalangan. Permasalahan yang dibahas dalam buku ini dilengkapi dengan geografis
kultural dan jati diri Minangkabau, dan penelusuran heroik Tuanku Rao serta gerakan Paderi
dan akulturasi budaya yang terjadi di Minangkabau.
Permasalahan Minangkabau lainnya yang dibahas di sini juga dalam hal mu’amalah seperti
politik dan kultural Islam, lembaga ekonomi Muhammadiyah dan budaya bisnisnya serta

99
Koleksi IAIN

oposisi dan integritas pemimpin yang seutuhnya. Permasalahan MTQ, puasa, dan Ramadhan
sebagai pembersihan jiwa pun dibahas tuntas dalam buku ini.

3029/FA/2009
Martamin, Mardjani. 1984.
Tuanku Imam Bonjol. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Proyek dan
Dokumentasi Sejarah Nasional
x + 124 hlm.
Buku ini berisi tentang perjalanan sejarah dan perjuangan Tuanku Imam Bonjol dalam
menyebarkan agama Islam dan melawan kekuasaan Belanda. Di dalam buku ini diterangkan
tentang masa perjuangan Tuanku Imam Bonjol yang meliputi pendirian daerah Bonjol
sebagai benteng pertahanan pada saat gerakan Paderi dilanjutkan dengan Tuanku Imam
Bonjol sebagai pemimpin gerakan Paderi untuk melawan Belanda, usaha merebut hegemoni
perdaganga di Panti Barat, dan kepimpinan Imam Bonjol melawan penjajah Belanda.
Pembahasan tentang masa akhir dan masa hidup Tuanku Imam Bonjol dalam pengasingan
menjelaskan hal-hal meliputi pengapungan terhadap benteng Bonjol, usaha Belanda
mengalahkan Tuanku Imam Bonjol yang telah terkepung, dan jatuhnya benteng Bonjol.
Buku ini diakhiri dengan riwayat Tuanku Imam Bonjol yang ditangkap oleh Belanda.

2423/FA/2007
Masrial. 2005.
Gerakan Dakwah Kaum Paderi di Minangkabau. Padang: IAIN Imam Bonjol Press.
iii + 107 hlm.
Buku ini berisi tentang kondisi masyarakat Minangkabau berdasarkan sistem sosial
masyarakat sebelum Paderi, agama yang berkembang, dan kepercayaan masyarakat
sebelum Islam. Pembahasan yang paling mendasar dibahas oleh Masrial dalam bukunya
adalah tentang latar belakang lahirnya gerakan Paderi, paham keagamaan kaum Paderi,
gerakan Paderi daerah darek, dan uraian tentang peristiwa perang Paderi. Pembahasan
tentang gerakan dakwah kaum Paderi ini dilengkapi dengan pola gerakan dakwah kaum
Paderi dan reaksi kaum adat terhadap dakwah kaum Paderi.

777/FA/2002
Samad, Duski dan Salmadanis. 2001.
Surau di Era Otonomi. Jakarta: The Minangkabau Fondation.
vii +148
Buku ini merupakan hasil penelitian kelompok dengan judul ”Revitalisasi Tradisi Surau
di Sumatera Barat (Mencari Format Baru Lembaga Surau dalam Menghadapi Otonomi
Daerah” yang didanai oleh Program Hibah Bersaing Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam Departemen Agama RI.
Buku ini menjelaskan Minangkabau yang merupakan satu di antara wilayah dan suku
bangsa Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pilar Islam di wilayah Nusantara. Sejarah
masuk dan berkembangnya Islam di tempat ini begitu menarik pakar dan penulis keislaman

100
SEJARAH

Indonesia tak terkecuali bangsa Barat (Orientalisme). Pergulatan Islam dengan budaya
lokal (Adat Istiadat MK) menjadi sesuatu yang dikarenakan keunikan daya tarik mendalam
pemerhati sosial. Hal ini dikarenakan keunikan yang terdapat dalam sistem matrilineal yang
dianut dala kekerabatan di Minangkabau.
Di antara tradisi pokok yang menjadi titik pusat kelembagaan agama dan sosial budaya
di Minangkabau adalah surau. Surau merupakan satu di antara institusi tradisional Islam
yang dicatat sejarah untuk memainkan peran penting dalam perkembangan agama Islam,
pendidikan dan sosial budaya masyarakat Minangkabau. Sejarah panjang tradisi surau
ternyata telah menjadi kenangan indah dan bermakna bagi generasi masa lalu yang hidup
dalam budaya dan tradisi surau tersebut. Namun, dalam rentang waktu sejarah masyarakat
ternyata surau mengalami fase maju-mundur dan sekaligus berubah senafas dengan denyut
nadi masyarakat.
Akibatnya, sebagian di antara komunitas Minangkabau tercerabut dari akar budayanya
dan larut dalam tradisi dan budaya baru yang nyata-nyata menghapus identitas keislaman
dan keminangan yang selalu dibanggakan. Untuk kembali kepada masyarakat ideal yang
dicitakan maka muncul suatu gagasan back to surau (kembali ke surau). Peratnyaan lebih
jauh dari ide kembali ke surau ini adalah format surau yang bagaimana yang cocok dan
mampu menjawab tantangan zaman khusus era ekonomi saat ini.
Buku ini mencoba menawarkan konsep alternatif dengan format kembali ke surau di era
otonomi.

2326/FA/2003
Shamad, Duski. 2002.
Syekh Burhanuddin dan Islamisasi di Minangkabau (Syarak Mandaki Adat Manurun).
Jakarta: The Minangkabau Fondation.
xx + 231 hlm
Buku ini menguraikan tentang sejarah ringkas Syekh Burhanuddin mulai dari masa kecilnya
sampai pada pemikiran dan karya-karya Syekh Burhanuddin. Permasalahan lain yang
dibahas adalah Ulakan dalam peta pengembangan Islam di Minangkabau yang menjelaskan
antara lain tentang nagari Ulakan, kultur sosial dan budaya nagari Ulakan, keberadaan
Syekh Burhanuddin, dan dukungan ulama dan pemuka adat Ulakan.
Permasalahan lain yang dibahas adalah menegenai surau Syekh Burhanudding yang dalam
perkembangannya sangat banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah di luar
Ulakan dan islamisasi yang terjadi di Minangkabau dan pengembangan Islam pasca-Syekh
Burhanuddin.
Pengembangan Islam pasca-Syekh Burhanuddin meliputi penjelasan tentang paham
keagamaan sesudah Syekh Burhanuddin, polemik sekitar Syekh Burhanuddin, bersyafar
(basapa) ke makam Syekh Burhanuddin, peserta bersyafar, dan beberapa pemikiran tentang
pengembangan tradisi bersyafar ini.

101
Koleksi IAIN

661/B/PR/2004
Samad, Duski dan Salmadanis. 2003.
Adat Basandi Syarak: Nilai dan Aplikasinya Menuju Kembali ke Nagari dan Surau.
Jakarta: Kartina Insan Lestari.
ix +209 hlm.
Buku ini berisi tentang norma-norma fundamental dan instrumental adat yang dilaksanakan
oleh masyarakat. Penggalian norma-norma adat ini dikuti dengan penguatan sumber
utama ajaran Islam yaitu Al Quran dan Hadist. Pendekatan lain yang digunakan adalah
perkembangan kehidupan modern yang digunakan sebagai nilai tambah bagi masyarakat
Minangkabau dalam menempatkan adat dan agama secara benar dan tepat.
Buku ini menjelaskan tentang makna dan arti adat basandi syarak yang meliputi alam
Minangkabau, adat dan fungsi dalam kehiduan masyarakat, konsep dasar adat Minangkabau,
dan adat basandi syarak. Buku ini juga dilengkapi dengan penerapan adat basandi syarak
yang membahas tentang budi pekerti, raso jo pareso, budi jo akal, kato nan ampek,
kekeluargaan dan kekerabatan, bakoroang bakampuang, babundo kanduang, dan baurang
sumando.
Buku ini juga disertai dengan uraian masa depan adat basandi syarak yang membahas
perubahan-perubahan di dalam budaya Minangkabau, modernisasi, penyakit masyarakat
modern, kekeluargaan dari mamak kepada ayah, pusaka dan pewarisnya, pandangan
keagamaan orang Minangkabau, kembali ke nagari, dan kembali ke surau.

2403/FA/2007
Samad, Duski. 2006.
Kontinuitas Tarekat di Minangkabau. Padang: TMF Press.
iv + 161
Buku ini berisi tentang perkembangan Islam di Minangkabau termasuk perkembangan
surau sebagai salah satu sarana/media pendidikan pertama bagi generasi muda di
Minangkabau. Selain itu, pengajaran tarekat yang diajarkan di surau-surau Minangkabau
pun dieksplorasikan berikut ajaran tarekatnya secara umum yaitu tarekat Syatariyyah dan
tarekat Naqsyabandiyah. Perkembangan tarekat di Minangkabau dijelaskan oleh Samad
dengan menguraikan permasalahan tentang Islamisasi lewat tarekat, konflik dan kecaman
terhadap tarekat, dan kebangkitan yang diwarnai dengan pembelaan terhadap tarekat pada
awal abad 20-an.

2249/FA/2007
Syamsuddin, Fachri. 2005.
Pembaharuan Islam di Minangkabau Awal Abad XX: Pemikiran Syeh Muhammad
Jamil Jambek, Syekh Abdullah Ahmad, dan Syekh Abdul Karim Amrullah. Jakarta:
The Minangkabau Fondation.
vii + 245 hlm.
Buku ini menguraikan tentang pembaharuan Islam di Minangkabau yang berisi tentang
masuknya Islam di Minangkabau, awal pembaharuan Islam, tokoh pembaharu, dan aspek-
aspek pembaharuan yang ada di Minangkabau pada awal masuk dan berkembangnya Islam

102
SEJARAH

di daerah ini. Di dalam buku ini juga dibahas tentang usaha-usaha penunjang pembaharuan
yaitu tentang pendirian sekolah, penerbitan majalah Al Munir, serta penyatuan guru-guru
agama Islam dalam PGAI. Selain itu, pengaruh dan reaksi terhadap pembaharuan yang
terjadi di Minangkabau ini juga dibahas antara lain pengaruhnya terhadap pengenalan
agama, reaksi kalangan adat dan kaum tua, dan reaksi birokrasi.

2977/FA/2008
Yunus, Yulizar. 2008.
Beberapa Ulama di Sumatera Barat. Padang: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya UPTD
Museum Adityawarman.
ix + 274 hlm.
Buku ini menguraikan tentang sketsa biografis sekitar 17 ulama besar Minangkabau yang
tercatat dalam tinta emas sebagai penggerak arah sejarah nasional Indonesia yang berwibawa
dan dihormati sekaligus penyebar ajaran Islam di ranah Minang ini. 17 ulama yang diuraikan
dalam buku ini antara lain Tuanku Imam Bonjol, Syekh Ibrahim Kumpulan, Syekh Paseban,
Syekh Abdullah Halaban, Syekh Muhammad Saad Mungka, Syekh Khatib Muhammad
Ali, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh
Thahir Jalaludin Al Azhari AlFalaki, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Syekh Muhammad Thaib
Umar, Haji Abdul Karim Amrullah, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Ibrahim Musa Parabek,
dan Haji Abdul Latif Syakurt.
Buku ini seperti biografi singkat masing-masing ulama yang menjelaskan tentang sketsa
biografisnya melalui jejak rekam perjuangan yang pernah dilakukan oleh ulama-ulama
tersebut baik dalam penyebaran agama Islam maupun dalam upaya melawan penjajah.
Buku ini juga merupakan sebuah kearifan historis untuk menghadirkan kepada ’masa kini’
mentalitet hisrory’ Sumatera Barat yang pada prinsipnya dari zaman para ulama-ulama esar
tersebut kita semua dapat mengambil banyak kearifan.

128/SB/PPS.PERP.2007
Sismarni.
Perti dalam Sejarah Dinamika Partisipasi Massa PERTI dalam Organisasi Sosial Politik.
Padang: Hayfa Press.
i + 100 Hal.
Buku ini memberikan penjelasan tentang sebuah organisasi sosial politik dalam suatu
masyarakat yang memfokuskan kepada keterlibatan massa PERTI dalam berorganisasi dan
mengemukakan penyebab terjadinya inkonsistensi massa PERTI terhadap organisasi serta
menjelaskan alasan mereka memilih PERTI sebagai organisasinya.

103
Koleksi IAIN

537/PPS/ PERP./ 2000


Chairusdi. 1999.
Sejarah Perjuangan dan Kiprah PERTI dalam Dunia Pendidikan Islam di Minangkabau.
Padang: IAIN-IB Press
125 Halaman
Buku ini menceritakan tentang situasi minangkabau pada awal abad-abad sejarah perjuangan
PERTI dalam pendidikan.

1154/DB/PPS.PERP/2005
Syamsuddin, Fadhri. 2006.
Pembaharuan Islam di Minangkabau Awal Abad XX. Padang: TMF Perss.
Buku ini merupakan Sebuah penelitian yang menemukakan tiga macam pembaharuan,
yaitu (1) Pembaharuan tentang adat, (2) pembahasan tentang tarekat, dan (3) konsep
pembaharuan tentang syari’ah.

1287/PPS.PERP./2002
Samad, Duski. 2001.
Surau di Era Otonoimi. Jakarta: TMF Perss
vi + 138 Halaman
Buku ini mencoba mengungkapkan tradisi surau dalam konteks sejarah. Buku ini merupakan
hasil sebuah penelitian.

177/SKI/2010
Ajisman, dkk.. 2009.
Dinamika Hubungan Minangkabau dan Negeri Sembilan dalam Persfektif Sejarah.
Padang:BPSNT Padang Press.
vix + 140 hlm
Buku ini berisi kajian tentang rekonstruksi peristiwa sejarah Minangkabau dan Negeri
Sembilan. Di dalam buku ini juga dijelaskan selayang pandang Minangkabau dan Negeri
Sembilan yang menguraikan tentang letak geografis, asal usul, dan nama-nama suku yang
ada di Minangkabau dan Negeri Sembilan.
Bagian kedua buku ini berisi penjelasan tentang proses migrasi orang Minangkabau ke
negeri Sembilan yang membahas tentang pengiriman raja ke negeri Sembilan, migrasi pada
masa kolonial, migrasi pada masa pendudukan Jepang dan migrasi pasca PRRI.
Beberapa hal tentang bentuk-bentuk hubungan yang ada antarkedua daerah juga dibahas
permasalahan pemberian gelar, bantuan bangunan, pembentukan Kota Kembar Bukittinggi
dan Seremban, dan kerja sama kota Bukittinggi dengan Seremban di Malaysia.

104
SEJARAH

183/SKI/2010
Maryetti, dkk.. 2009.
Budaya Masyarakat Minangkabau di Kabupaten Lima Puluh Kota. Padang: BPSNT
Padang Press.
xiii + 132 hlm
Buku ini menguraikan gambaran umum Kabupaten 50 Kota, sistem kemasyarakatan,
pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, cerita rakyat, permainan rakyat, dan kesenian
yang berkembang di Kabupaten 50 Kota.
Permasalahan menarik dalam buku ini adalah pengenalan kembali tentang beberapa macam
permainan rakyat yang ada di Kabupaten 50 Kota antara lain main tali, main dore, main
galah, main simbang, main pela/polok, patok lele, main kasti, layang-layang, dan pacu itik.
Pengenalan kembali jenis-jenis permainan rakyat ini akan kembali mengingatkan budaya
masa lalu yang mulai hilang. Sementara, pembahasan yang diuraikan pada bagian kesenian
adalah tradisi basijobang, randai, basirompak, saluang, dendang, talempong pacik, dan
zikir rebana.

177/SKI/2010
Refisrul, dkk.. 2009.
Minangkabau dan Negeri Sembilan: Sistem Pasukuan di Nagari Pagaruyung dan Negeri
Sembilan Darul Khusus Malaysia. Padang: BPSNT Padang Press.
xii + 158 hlm
Buku ini mengkaji penelusuran hubungan budaya antara Minangkabau dengan negeri
Sembilan, Malaysia, yang telah terjalin erat sejak beberapa abad silam. Sebagian besar
leluhur masyarakat Negeri Sembilan berasal dari Minangkabau dan adat yang digunakan
pun sama dengan adat yang ada di Minangkabau sebagai wujud adat Parpatih. Kajian dalam
buku ini terfokus pada upaya pengungkapan pelaksanaan sistem suku atau pasukuan pada
masyarakat Minangkabau dan komunitas adat Parpatiah di Negeri Sembilan Malaysia.
Di dalam buku ini juga dijelaskan tentang gambaran umum Nagari Pagaruyung dan Negeri
Sembilan. Pembahasan tentang Minangkabau dan Negeri Sembilan diisi dengan perubahan
orang Minangkabau dan tradisi merantau, daerah rantau Minangkabau, negeri Sembilan
sebagai rantau Minangkabau, kedatangan orang Minangkabau di Negeri Sembilan, hubungan
Minangkabau dan negeri Sembilan sekarang, dan organisasi/perkumpulan Minangkabau di
Negeri Sembilan.
Pembahasan tentang sistem pasukuan di nagari Pagaruyung dan Negeri Sembilan dilengkapi
dengan penjelasan tentang suku pada masyarakat Minangkabau,sistem pasukuan di Nagari
Pagaruyung, sistem pasukuan di Negeri Sembilan, dan perbandingannya dengan suku di
Nagari Pagaruyung dan Negeri Sembilan.

8864/P/2010
Graves, Elizabeth E.. 2007.
Asal Usul Elite Minangkabau Modern – Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/
XX. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
xvi + 310 hlm.

105
Koleksi IAIN

Buku ini memberikan analisis tentang reaksi bumiputera terhadap kekuasaan Belanda di
Minangkabau khususnya berkenaan dengan perkembangan Abad ke-19 saat kekuasaan
Belanda mulai mantap di Sumatera. Riset buku ini menggunakan data dokumen yang
sangat luas terutama arsip Belanda, di samping studi lapangan di Sumatera Barat sekitar
tahun 1967.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Graves adalah kebijakan dan organisasi pendidikan
barat yang dikenalkan Belanda sejak abad ke-19. Konklusi Graves ialah bahwa sebagai
konsekuensi dari intervensi kekuasaan kolonial Belanda terhadap masyarakat lokal ialah
runtuhnya kekuasaan tradisional kelas atas akibat rotasi alami yang dilakukan Belanda tidak
berlanjut dalam birokrasinya, sedangkan mobilitas pada keluarga kelas menengah tidak
memungkinkan secara tradisional. Namun, untunglah peluang pendidikan yang diberikan
Belanda memungkinkan mereka melakukan mobilitas di luar lingkungan tradisional, yakni
menjadi pegawai birokrasi. Keturunan mereka ini kemudian menjadi cikal bakal elite
Minangkabau modern yang kemudian mengisi sebagian besar ego politik Indonesia.

810/FA/2002
Shamad, Irhash, A.. 2001.
Hegemoni Politik Pusat dan Kemandirian Etnik di Daerah: Kepemimpinan Sumatera
Barat di Masa Orde Baru. Padang: IAIN Imam Bonjol Press.
xiii + 151 hlm.
Buku ini berisi tentang kepemimpinan tradisional Minangkabau yang meliputi masyarakat
Minangkabau, kepemimpinan tradisional dan struktur sosial, dan ”nagari” dalam
perkembangan politik di Sumatera Barat. Permasalahan kedua yang dibahas adalah negara
dan posisi masyarakat etnik yang meliputi negara, masyarakat dan budaya etnik,hubungan
pusat dan daerah, konsepsi otonomi dan negara kesatuan, rekruitmen elit politik daerah,
eksperimen demokrasi, dan uniformitas struktural di masa orde baru.
Buku ini juga memahas tentang pemerintah daerah, perubahan perilaku elit politik lokal
dan implikasinya terhadap sistem internal di Sumatera Barat yang meliputi LKAAM dan
UUPD untuk sistem internal daerah.

5575/ PR/94
Yakub, Nurdin. 1989.
Minangkabau Tanah Pusaka: Tambo Minangkabau Buku Kedua. Bukittinggi: Pustaka
Indonesia Bukittinggi.
59 halaman
Di dalam buku ini diuraikan tentang adat alam Minangkabau yang di dalamnya membahas
tentang berdirinya hukum dan berlakunya undang-undang dalam Minangkabau.

5577/ PR/ 94
Yakub, Nurdin.1991.
Minangkabau Tanah Pusaka: Tambo MK. Bukittinggi : CV Pustaka Indonesia.
54 halaman

106
SEJARAH

Buku ini memuat hukum tanah dan pembagiannya di daerah Minangkabau, serta membahas
tentang penghulu adat serta tugas dan peranan penghulu.

5580/PR/94
Yakub, B Nurdin. 1987.
Minangkabau Tanah Pusaka: Sejarah Minangkabau Buku 1. Bukittinggi : Pustaka
Indonesia.
52 halaman
Buku ini memuat tentang sejarah Minangkabau dimulai dari zaman prasejarah sampai
dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di Minangkabau.

5802/PR/94
Toeah,Datoek.
Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi : Pustaka Indonesia.
iii + 382
Buku ini membahas tentang sejarah Minangkabau dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan Minangkabau dimulai dari sejarah lahirnya alam Minangkabau hingga runtuhnya
kerajaan Minangkabau.

107
HUKUM
HUKUM

729/FA/2001
Hermawati. 2000.
Aspek Sosiologis Perubahan Hukum Pertanahan dalam Tanah Adat Minangkabau:
Studi Kasus Proses Pembebasan Tanah di Sungai Aur. Jakarta: The Minangkabau
Foundation.
viii + 133 hlm.
Persoalan yang dibahas dalam buku ini adalah kekuasaan negara dan hak milik atas tanah
hukum adat, pemilikan dan penguasaan tanah adat Minangkabau, dan proses pembebasan
tanah milik PT Bakrie Pasaman Plantation. Pembahasan tentang kekuasaan negara dan hak
milik atas tanah hukumadat meliputi kekuasaan negara atas tanah, pemilikan dan penguasaan
tanah di Indonesia, hukum pertanahan di Indonesia, hak milik di dalam lingkungan
masyarakat hukum adat, hukum adat dalam pasal 5 UUPA 1960, dan permasalahan
pembebasan tanah.
Pemikiran dan penguasaan tanah adat Minangkabau di Sumatera Barat membahas tentang
pemilikan dan penguasaan tanah adat Minangkabau di Sumatera Barat, pemilikan dan
penguasaan tanah di anagarian Sungai Aur, dan kedudukan ninik mamak dalam penguasaan
tanah ulayat.
Bagian terakhir yang dibahas dalam buku ini yaitu tentang proses pembebasan PT Bakrie
Pasaman Plantation yang menjelaskan tentang pembebasan tanah versi ninik mamak sebagai
penguasa tanah ulayat, pembebasan tanah versi proyek PT. Bakrie Pasaman Plantation,
dan dampak pembebasan tanah untuk keperluan PT. Bakrie Pasaman Plantation terhadap
kehidupan sosial masyarakat Kanagarian Sungai Aur.

2263/FA/2007
Kamaluddin, Safrudin Halimy. 2005.
Adat Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam: Analisis Fiqh terhadap Sistem
Matrilineal, Larangan Kawin Sesuku, dan Hukum Waris Adat Minangkabau. Padang:
Hayfa Press.
xiv + 326
Buku ini berisi antara lain: 1) kajian terhadap kitab-kitab adat Minangkabau yang ditulis
oleh ahli-ahli adat, baik kitab-kitab lama maupun kitab-kitab baru yang ditulis, 2) kajian
terhadap kitab-kitab sosiologi dan antropologi peradaban masyarakat Minangkabau
sebagai pembanding untuk memahami kedudukan adat Minangkabau, 3) kajian terhadap
kitab-kitab Fiqh khususnya Kitab Al Ahmad al Syakhsiyyah dengan memperhatikan
hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan adat dan budaya suatu tempat pada masa
lalu dan mengumpulkan pendapat-pendapat Fuqaha’ dalam masalah yang menjadi fokus
penyelidikan, dan 4) kajian terhadap kitab-kitab Ushul Fiqh khususnya bab Ijtihad dengan
memperhatikan ijtihad Fuqaha’ dalam menetapkan hukum yang berhubungan dengan adat
dan budaya suatu tempat.
Buku ini pun dilengkapi dengan wawancara yang dilakukan penulis dengan pemuka adat dan
ulama-ulama yang berkompeten di bidang ini dengan melihat secara langsung pengalaman
hukum adat pada masa kini di Minangkabau. Selanjutnya buku ini dilengkapi pula dengan
analisis Fiqh dengan menemukan hubungan antara adat Arab dan hukum Islam dengan adat
dan hukum adat Minangkabau kemudian merumuskan aspek pertentangan antara hukum
Islam dan hukum adat dalam mencari penyelesaiannya.

111
Koleksi IAIN

761/ DB/ PPS. PERP. / 2006


Anwar, Chairul. 1997.
Hukum Adat Indonesia: Meninjau Hukum Adat Minangkabau. Jakarta: Rineka Cipta.
v + 160 Halaman
Buku ini membahas berbagai aspek hukum adat Minangkabau mulai dari persoalan hukum,
suku, kampung dan nagari sampai kepada kelarasan luhak dan rantau, serta adat dan macam-
macamnya.

739/ DB/ PPS. PERP./ 2006


Yaswirman. 2004.
Hukum Keluarga Adat dan Islam: Analisis Sejarah, Karakteristik, dan Prospeknya
dalam Masyarakat Matrilineal Minangkabau. Padang: Andalas University Press.
xi + 351 halaman
Buku ini memuat tentang perjalanan sejarah, politik hukum serta karakteristik dan
prospeknya di Indonesia secara umum dan dalam masyarakat matrilineal secara khusus.

112
KOLEKSI
Badan Perpustakaan dan
Kearsipan
Provinsi Sumatera Barat
(BPKPSB)
AGAMA
AGAMA

MK 726.
Boestami, dkk. 1981.
Aspek Arkhelogi Islam tentang Makam dan Surau Syehk Burhanuddin. Padang: Proyek
Pemugaran dan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatra Barat.
53 hlm.
Buku ini bercerita tentang arkeologi Islam yang terdapat pada bangunan makam Syeh
Burhanuddin Ulakan. Mulai dari seni banguan atau arsitektur, benda-benda pusaka, hingga
tradisi masyarakat di sekitar kompleks bangunan makam tersebut.

MK 206/MK-2010
Suryadi. 2002.
Syair Sunur. Teks dan Konteks ‘Otobiografi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19.
Padang: PPIM.
Xxii + 235 hlm.
Buku ini merupakan hasil suntingan dari naskah Syair Sunur, yang isinya berbicara tentang
perkembangan agama Islam di daerah pesisir Pariaman yang digubahnya ke dalam syair.
Adalah sebuah gerakan pembaharuan Islam yang dilakoni oleh Syeh Daut dari pesisir
Pariaman yaitu Ulakan, setelah pecahnya berbagai permusuhan bersaudara di Minangkabau
termasuk perang PADRI.

MK 920
Hamka. 1974.
Kenang-kenangan Hidup. Jakarta: Bulan Bintang.
203 hlm.
Buku karangan Hamka ini bercerita tentang kehidupan secara keseluruhan. Setiap langkah
harus jadi pertimbangan untuk menentukan langkah dan sikap yang akan di ambil berikutnya,
hari depan, maupun akhirat.

117
BAHASA
BAHASA

MK 419.145
Yades, Efri. 2004.
”Konjungsi Subordinatif Bahasa Minangkabau Menurut Prilaku Sintaksis dan
Semantisnya”. Laporan Penelitian. Padang : Jurusan Sastra Indoensia Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
28 hlm.
Laporan penelitian ini menguraikan konjungsi subordinatif bahasa Minangkabau menurut
perilaku sintaksis dan semantisnya yang dikelompokkan menjadi tiga belas kelompok.
Kelompok tersebut adalah konjungsi subordinatif waktu, konjungsi subordinatif syarat,
konjungsi subordinatif pengadaian, konjungsi subordinatif tujuan, konjungsi subordinatif
konsesif, konjungsi subordinatif perbandingan, konjungsi subordinatif sebab, konjungsi
subordinatif hasil, konjungsi subordinatif optatif, konjungsi subordinatif atribut, konjungsi
subordinatif komplementasi, kegunaan dan konjungsi subordinatif perkecualian.

MK 4X1.4
Nadra. 1992.
“Geografi Dialek Bahasa Minangkabau di Daerah Kabupaten Limapuluh Kota”.
Laporan Penelitian. Padang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
iv + 79 hlm.
Laporan ini memerikan variasi dialektikal pemakaian unsur linguistik dalam bidang
leksikon yang terdapat dalam bahasa Minangkabau di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota.
Tulisan ini juga mempoerlihatkan batas-batas dialek yang ada. Untuk menentukan batas-
batas dialek itu, secara statistik digunakan perhitungan dialektometri.

MK 4X1.4
Husin, Nurzuir. 1981.
“Akar Klausa Tindakan Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Padang.
xiv + 88 hlm.
Laporan penelitian ini berisi analisis akar klausa tindakan Bahasa Minangkabau. Penelitian
ini dilandasi teori Pike dan Pike (1975). Dalam uraiannya dijelaskan akar klausa tindakan
bahasa Minangkabau yang dikelompokkan menjadi delapan tipe yang ditentukan dua hal,
yakni kata kerja yang mengisi slot predikat dan posisi tagmen dalam akar klausa tindakan
tersebut.

MK 419.148
Kasih, Media Sandra. 1990.
“Ungkapan Pernyataan Emosi Bahasa Minangkabau: Tinjauan Sosiolinguistik”.
Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Uiniversitas Andalas.
i + 35 hlm.
Penelitian ini menganalisis lima contoh pemakaian pernyataan emosi dalam Bahasa
Minangkabau. Pendekatan yang digunakan untuk analisis datanya dengan pendekatan
sosiolinguistik.

121
Koleksi BPKPSB

MK 4X.4
Wahyuni, Sri dkk. 2001.
“Perilaku Sufiks Bahasa Minangkabau di Rao-Rao”. Laporan Penelitian. Padang :
Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
8 hlm.
Tulisan ini merupakan artikel hasil penelitian yang menganalisis proses pembentukkan kata
dalam bahasa Minangkabau di Rao, khususnya perilaku sufiks. Analisis data didasarkan
pada proses morfofonemik seperti yang dikemukakan oleh Kridalaksana (1992).

MK 419.14
Lindawati. 1992.
“Usaha Pelestarian Bahasa Minangkabau”. Makalah pada Seminar Sosiolinguistik di
Fakultas Sastra UI.
Makalah ini memaparkan situasi kebahasaan Bahasa Minangkabau yang terdiri dari
banyak variasi. Di samping itu, dalam tulisan ini dikemukakan tentang kelestarian bahasa
Minangkabau, baik bahasa keseharian maupun bahasa ragam khusus, seperti pidato adat.

MK4X1.4
Reniwati dkk. 2000.
“Interferensi Bahasa Indonesia terhadap Bahasa Minangkabau pada Acara “Berita
dalam Bahasa Minang” di Radio Republik Indonesia Padang”. Artikel Penelitian.
Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
10 hlm.
Artikel ini membahas tentang interferensi bahasa Indonesia terhadap Bahasa Minangkabau
pada siaran “Berita Berbahasa Minang”. Tulisan ini juga mengemukakan temuan hasil
penelitian berupa banyaknya leksikon baru dalam bahasa Minangkabau dan adanya
kebergandaan penggunaan bunyi dalam bahasa Minangkabau pada siaran berita tersebut.

MK 4X1.4
Yusuf, M. 1994.
“Bahasa Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung”. Laporan Penelitian. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
i + 30 hlm.
Laporan penelitian ini menjelaskan kedudukan bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu,
aksara Arab Melayu dan Bahasa Minangkabau dan alternatif dalam transliterasi naskah
Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung.

MK 4X1.409 598 13
Nadra. 1990.
“Pemadu Manasuka Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
ii + 64 hlm.

122
BAHASA

Laporan penelitian ini menjelaskan tentang pemadu manasuka dalam bahasa Minangkabau,
berupa modalitas, cara, alat, tempat, waktu dan aspek.

MK 419.141 1
Reniwati. 1996.
“Hubungan Kekerabatan Bahasa Melayu, Kerinci, Serawak dan Minangkabau:
Suatu Kajian Leksikostatistik”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
iii + 53 hlm.
Laporan penelitian ini mendeskripsikan hubungan Bahasa Melayu, Kerinci, Serawak
dan Minangkabau yang dtinjau berdasarkan leksikostatistik. Data yang dianalisis dalam
penelitian ini berdasarkan daftar Swadesh.

MK 419.148
Ramadhani. 1994.
“Sistem Sapaan dalam Bahasa Minangkabau” Makalah. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
14 hlm.
Makalah ini menguraikan tentang aspek sosiolinguistik sapaan dalam bahasa Minangkabau
dikaitkan dengan bentuk-bentuk sapaat adat.

MK 419.145
Oktavianus. 1996.
“Morfosintaksis Bahasa Minangkabau Dialek Solok Suatu Tinjauan tentang Afiks
Penentu Valensi Verba”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
iii + 29 hlm
Laporan penelitian ini memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan afiksasi penentu valensi
verba bahasa Minangkabau dialek Solok.

MK 4X1.4
Noviatri dkk. 2001.
“Pemarkah Kalimat Imperatif Berkategori Gramatikal dalam Bahasa Minangkabau
di Pariaman”. Artikel Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
9 hlm.
Artikel ini menguraikan temuan penelitian, yakni ditinjau dari segi bentuk pemarkahnya
(pemarkah berkategori gramatikal) dijumpai dua bentuk pemarkah dalam bahasa
Minangkabau Pariaman. Dua bentuk pemarkah tersebut adalah (1) pemarkah berkategori
gramatikal berupa pelepasan afiks {maN-} dan afiks {di-}; (2) pemarkah berkategori
partikel yaitu penambahan partikel {-lah}.

123
Koleksi BPKPSB

MK 4X1.4
Aslinda. 1992.
“Sistim Penerjemahan Kata Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang :
Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 36 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi sistem pemajemukan kata Bahasa Minangkabau.
Deskripsi juga mencakup ciri, tipe dan makna kata majemuk.

MK 419.141 2
Yades, Efri. 2004.
“Hubungan Makna pada Konstruksi Subordinatif dalam Bahasa Minangkabau”.
Artikel Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Artikel ini memaparkan hubungan semantis antarklausa pada konstruksi subordinatif
bahasa Minangkabau. Pembahasannya dibagi atas hubungan makna waktu, makna syarat,
makna pengandaian, makna tujuan, makna konsesif, makna perbandingan, makna sebab,
makna hasil, makna komplementasi, makna atribut, makna optatif, makna kegunaan, makna
perkecualian.

MK419.14
Tim Universitas Andalas. 2001.
“Kumpulan Bahasa-bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Universitas
Andalas.
Tulisan ini merupakan kompilasi beberapa hasil penelitian dosen-dosen Universitas Andalas
tentang bahasa Minangkabau.

MK 419.14
Maksan, Marjusman dkk. 1984.
Geografi Dialek Bahasa Minangkabau. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
xix + 160 hlm
Buku ini memaparkan geografi dialek bahasa Minangkabau pada daerah Kabupaten Pesisir
Selatan. Penjelasan dalam buku ini dimulai dengan pemaparan unsur-unsur linguistik dan
pemetaan pemakaian variasi bahasa Minangkabau di Pesisir Selatan.

MK 4X1.4
Bustami, Hamidah. 1992.
“Korespondensi Antara Vokal /o/ Sub-Dialek Kubang Kecamatan Guguk Kabupaten
Lima puluh Kota dengan vokal /o/ Dialek Padang”. Laporan Penelitian. Padang :
Pusat Penelitian Universitas Andalas.
vi + 81 hlm.
Laporan penelitian ini berisi hasil inventarisasi dialek dari segi fonem vokal /o/ sub-dialek
Kubang Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh Kota yang berkorespondensi dengan

124
BAHASA

vokal /a/ dialek Padang.

MK 4X1.461
Yades, Efri & Aslinda. 1990.
“Analisis Fonologi Bahasa Minangkabau Dialek Kecamatan Kuranji Kotamadya
Padang: Studi Komparatif Deskriptif dengan Bahasa Minangkabau Umum”. Laporan
Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
v + 39 hlm.
Laporan penelitian ini menguraikan hasil analisis fonologi, bagaimana fonem-fonemnya,
jumlah vokal, konsonan dan diftong pada bahasa Minangkabau dialek Kecamatan Kuranji,
Padang.

MK 4X1.415
Reniwati. 1990.
“Fonologi Dialek Negeri Sembilan: Langkah Awal untuk Perbandingan dengan
Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas
Andalas.
v + 31 hlm.
Laporan penelitian ini mengemukakan perbandingan pada bidang linguistik antara dialek
Negeri Sembilan dengan bahasa Minangkabau. Data yang disajikan dalam laporan penelitian
ini menyangkut data korespondensi bunyi sistem fonem bahasa Minangkabau dan dialek
Negeri Sembilan.

MK 419.148
Yusdi, Muhammad. 1998.
“Penerapan Kaidah Tegmemik dalam Bahasa Minangkabau”. Artikel. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
17 hlm.
Artikel ini berisi uraian tentang seperangkat prosedur bagi pemerian bahasa dengan satuan
gramatikal dasar yang dicantumkan dalam konstruksi tipe dalam bahasa Minangkabau.

MK 419.141
Sastra, Gusdi. 1991.
“Leksiostatistik Atas Variasi Fonologi Bahasa Minangkabau; Agam, Tanah Datar,
Kerinci: Studi Linguistik Komparatif Kontrastif” Laporan Penelitian. Padang : Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
iii + 25 hlm
Laporan penelitian ini berisi hasil perhitungan leksikosatistik Bahasa Kerinci melalui
diferensiasi antara bahasa Kerinci dengan bahasa Minangkabau dialek Agam dan Tanah
Datar atas variasi bunyi, menyangkut perubahan, distribusi dan korespondensi fonemis.

125
Koleksi BPKPSB

MK 419.140 3
Sati, Dj. Dt. B. Lubuk. t.t.
“Kamus Minang-Indonesia”. Stensilan.
Tulisan ini berisi daftar 2029 kata Minangkabau dengan artinya. Tulisan yang disusun
dalam bentuk kamus ini masih dalam bentuk stensilan.

MK4X1.4
Roesli. 1967.
Peladjaran Bahasa Minangkabau. Jakarta : Bhratara.
74 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang tatabahasa Minangkabau dengan contoh-contoh bahasa yang
digunakan dalam syair lagu-lagu Minangkabau, seperti Ayam den Lapeh, Tak Tontong dan
lain-lain.

MK 419.14
Ramadhani. 2006.
Ikhwal Ketaktunggalan dalam Bahasa Minangkabau. Padang : Andalas University
Press.
Buku ini menguraikan tentang ketaktunggalan dalam bahasa Minangkabau yang
direalisasikan pada tataran kata, frasa dan klausa. Buku ini menjelaskan bentuk-bentuk
ketaktunggalan dengan makna gramatikal pada tataran kata, frasa, dan klausa serta satuan-
satuan lingual sebagai pemarkah ketaktunggalan.

MK 415.095 981 3
Arfinal. 1999.
“Morfologi Bahasa Minangkabau”. Makalah. Padang : Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
17 hlm.
Makalah ini menguraikan persoalan morfologi bahasa Minangkabau umum dengan
membataskan pada morfem, klasifikasi kata, proses morfologis, dan morfofonemik.

MK 4X1.4
Kasih, Media Sandra. 1990.
“Kata Majemuk Berantonim.” Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian
Universitas Andalas.
iii + 24 hlm.
Laporan penelitian ini merupakan hasil inventarisasi dan deskripsi kata majemuk bahasa
Minangkabau yang konstituennya berantonim. Di samping itu, tulisan ini juga menjelaskan
makna yang ditimbulkan oleh peristiwa morfologis.

126
BAHASA

MK 4X0.940 7
Manan, Umar dkk. 1983.
“Struktur Bahasa Muko-muko”. Laporan Penelitian. Padang : Proyek Penelitian
Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sumatra Barat Pusat Pembinaan dan
Pengambangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
vi + 64 hlm
Laporan penelitian ini berisi deskripsi struktur bahasa Muko-muko yang mencakup
komponen-komponen fonologi, morfologi dan sintaksis. Adapun yang dijadikan sampel
dan populasi penelitian adalah penutur asli yang berada dalam daerah Kecamatan Muko-
muko Utara dan sebagian Kecamatan Muko-muko Selatan bagian Utara.

MK 419.959 813I
Syafyahya, Leni. 2001.
“Interferensi Morfologi Bahasa Minangkabau terhadap Bahasa Indonesia: Daerah
Bandung”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
vi + 41 hlm.
Minangkabau terhadap bahasa Indonesia. Uraiannya terkait dengan bagaimana bentuk-
bentuk dan jenis interferensi tersebut serta dalam situasi apa interferensi itu dapat terjadi.

MK 417.959 813
Arifin, Syamsir. 1981.
Kata Tugas Bahasa Minangkabau. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengambangan
Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
xvi + 114 hlm.
Buku ini menguraikan tentang ciri kata tugas, bentuk kata tugas, fungsi kata tugas, distribusi
kata tugas dalam bahasa Minangkabau. Adapun data yang dianalisis berasal dari penutur
bahasa Minangkabau dari daerah Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Pariaman, dan
Painan.

MK 4X1.4
Anwar, Khaidir. 1989.
Ungkapan Bahasa Minang; Minangkabau Expressions. Padang : Yayasan Pengkajian
Kebudayaan Minangkabau.
vi + 40 hlm.
Buku ini berisi macam-macam ungkapan Minangkabau yang disusun berdasarkan abjad
serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

MK 419.14
Rahman, Abd. 1996.
Kiat Belajar Logat Minangkabau. Bukittinggi : CV. Pustaka Indonesia.
v + 138 hlm.
Buku ini berisi tentang kiat belajar bahasa Minangkabau yang terdiri dari beberapa bentuk

127
Koleksi BPKPSB

kata ganti, bunyi suku kata dan pemakaian imbuhan, awalan, bentuk dan bunyi suku kata
terakhir, pemakaian imbuhan an dan i dan ciri-ciri khas logat Minang. Selain itu, di dalam
buku ini juga disajikan beberapa daftar kosa kata dalam bahasa Minangkabau.

MK 4x1.4
Zainil dkk. 1986.
Sistem Pemajemukan Bahasa Minangkabau. Jakarta : Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
xvi + 109 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang batasan kata majemuk, bentuk-bentuk kata majemuk, fungsi
kata majemuk, morfofonemik kata majemuk, arti kata majemuk dalam bahasa Minangkabau.

MK 419.14
Fadlillah dkk (Editor). 2004.
Dinamika; Bahasa, Filologi, Sastra dan Budaya; Kenang-kenangan untuk Prof. Dr.
Amir Hakim Usman. Padang : Andalas University Press.
xii + 190 hlm.
Buku ini merupakan bungai rampai yang terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama beberapa
tulisan dalam bidang bahasa, kedua tentang filologi, dan ketiga tentang sastra. Sebagian
besar tema tulisan dalam buku ini tentang keminangkabauan.

MK 4X1.41
Reniwati. 1990.
“Korespondensi Bunyi Bahasa Dialek Negeri Sembilan dan Bahasa Minangkabau”.
Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
19 hlm.
Laporan penelitian ini berisi perbandingan 550 fonem kata dialek Negeri Sembilan dengan
bahasa Minangkabau.

MK 4X1.4
Lindawati. 1990.
“Istilah Kekerabatan dan Kata Sapaan Bahasa Minang: Suatu Perbandingan”.
Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 54 hlm.
Laporan penelitian ini menguraiakan variasi istilah kekerabatan dan kata sapaan bahasa
Minang serta pengertian dari beberapa istilah kekerabatan bentuk dasar.

MK 4X1.44
Wahyuni, Sri. 1999.
“Sistim Sapaan Bahasa Minangkabau Dialek Tanah Datar: Nagari Rao-rao dan
Salimpaung”. Laporan Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.

128
BAHASA

12 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi kata sapaan dalam dialek Tanah Datar, khususnya di
kanagarian Rao-rao dan Salimpaung.

MK 419.14
Moussay, Gerard. 1998.
Tata Bahasa Minangkabau. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
372 hlm.
Buku ini menguraikan seluk beluk tata bahasa Minangkabau yang terkait dengan fonologi,
satuan bermakna, tata kalimat, frase nominal, frase verbal modifikator dalam bahasa
Minangkabau.

MK 4X1.4
Datuk, Z. Dt., Majo. 1991.
“Aspek Referensi Bahasa Minangkabau: Suatu Analisis Wacana”. Laporan Penelitian.
Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
ii + 25 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi unsur-unsur referensi kohesif membentuk teks dalam
bahasa Minangkabau, identifikasi unsur-unsur referensinya dan paparan bagaimana unsur-
unsur itu mengacu, ke arah mana mengacu serta hubungan yang dibentuk unsur-unsur itu
dapat mengungkapkan perbedaan antara teks dan nonteks.

MK 4X1.415 2
Revita, Ike. 2002.
“Tindak Tutur dalam Bahasa Minangkabau; Sebuah Kajian dari Aspek Sosial
Budaya”. Artikel Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
iii + 19 hlm.
Artikel ini menjelaskan pemakaian tindak tutur dalam bahasa Minangkabau dikaitkan
dengan aspek sosial budaya masyarakatnya, tipe tindak tutur yang dapat menyampaikan
pesan secara efektif dalam bahasa Minangkabau dan pergeseran pemakaian tindak tutur
dalam masyarakat Minangkabau dilihat dari aspek sosial budaya.

MK 419.145
Yades, Efri. 2005.
“Jenis Kalimat Bahasa Minangkabau yang Digunakan dalam Kaba Berdasarkan
Jumlah Klausa”. Makalah. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi penjelasan tentang jenis kalimat yang terdapat dalam kaba berdasarkan
jumlah klausa dan kalimat.

129
Koleksi BPKPSB

MK 419.142 959 813


Marnita, Rina. 1997.
“Patterns of Use of Classifiers in Contemporary Minangkabau”. Makalah. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
33 hlm.
Makalah ini membahas pemarkah yang digunakan dalam bahasa Minangkabau.

MK 4X1.4
Nadra. 1992.
“Geografi Dialek Bahasa Minangkabau di Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota”.
Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
V + 79 hlm.
Laporan penelitian ini memerikan variasi dialektal pemakaian unsur linguistik dalam bidang
leksikon (kosa kata) yang terdapat dalam bahasa Minangkabau di daerah Kabupaten Lima
Puluh Kota. Tulisan ini juga memperlihatkan batas-batas dialek yang ada.

MK 417.959 813 4
Kasih, Media Sandra. 1991.
“Sistem Fonologi Bahasa Minangkabau: Sub Dialek Sungayang”. Laporan Penelitian.
Padang : Universitas Andalas.
19 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi subdialek Sungayang ditinjau secara fonologis
dengan menggunakan senarai kata dasar yang disusun oleh Swadesh dan deskripsi vokal
dan konsonan sub dialek Sungayang Tanah Datar.

MK 4X1.4
Ihsan, Ainul. 1991.
“Analisis Tagmening Atas Komponen Fisiologis Bahasa Minang”. Laporan Penelitian.
Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
17 hlm.
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang sistem pembentukan kata dalam bahasa
Minangkabau.

MK 659.959 813
Kasih, Media Sandra. 1995.
“Kohesi dan Koherensi Bahasa Iklan Surat Kabar Terbitan Padang”. Makalah.
Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
Makalah ini berisi deskripsi bentuk lingual yang digunakan oleh iklan sebagai wacana dan
kohesi serta koherensi yang digunakan oleh wacana iklan tertulis, khususnya yang terdapat
di surat kabar terbitan kota Padang.

130
BAHASA

MK 419.143 022 22
Yusdi, Muhammad. 2001.
“Standard Negation in Minangkabau Language as Spoken in Bonjol”. Laporan
Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
iv + 59 hlm.
Laporan penelitian ini mendeskripsikan negasi dalam bahasa percakapan bahasa
Minangkabau di daerah Bonjol, Kabupaten Pasaman.

MK 419.145
Oktavianus. 1996.
“Morfosintaksis Bahasa Minangkabau Dialek Solok Suatu Tinjauan Tentang Afiks
Penentu Valensi Verba. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
iii + 30 hlm.
Laporan penelitian ini mendeskripsikan afiks penentu valensi verba bahasa Minangkabau
dialek Solok secara umum.

MK-2010
Yades, Efri. 2004.
“Ketaksaan Makna dalam Bahasa Minangkabau; Penerapan Teori Relevans”.
Makalah. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi uraian tentang kata-kata yang taksa dalam bahasa Minangkabau dengan
menerapkan teori relevans.

MK 419.145
Aslinda. 1993.
“Struktur Sintaksis Adverbia Bahasa Minangkabau”. Artikel Penelitian. Padang :
Pusat Penelitian Universitas Andalas.
Artikel ini menguraikan tentang letak struktur adverbia dalam bahasa Minangkabau.

MK 419.147 959 813 2


Reniwati. 1998.
“Pemetaan Isolek Bahasa Minangkabau di Kabupaten Liam Puluh Kota dan
Kotamadya Payakumbuh”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas
Andalas.
IX + 68 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi variasi fonem, pemetaan distribusi variasi fonem
penelusuran dan deskripsi unsur-unsur isolek bahasa Minangkabau di daerah Kabupaten
Liam Puluh Kota dan Kotamadya Payakumbuh.

131
Koleksi BPKPSB

MK 419.142
Efriyades. 1995.
“Analisis Semantik dan Pragmatik dalam Ketaksamaan Ujaran Bahasa Minangkabau.”
Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 19 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi makna ujaran yang taksa dalam bahasa Minangkabau
dengan melihat kenyataan yang ada dalam ujaran bahasa Minangkabau serta analisis dengan
menggunakan metode analisis deskriptif.

MK 419.14
Ramadhani. 1995.
“Ketaktunggalan pada Tataran Kata dalam Bahasa Minangkabau (Bagian II)”.
Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi uraian realisasi ketaktunggalan pada tataran frasa dengan
hubungan gramatikal dalam bahasa Minangkabau.

MK 419.145
Marnita, Rina. T.t.
“Minangkabau Numerals Classifiers”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
57 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi dan klasifikasi pembilangan dalam bahasa
Minangkabau.

MK 419.147
Nadra. 1994.
“Perbandingan Tiga Isolek Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini menjelaskan perbedaan yang terdapat dalam tiga isolek bahasa
Minangkabau yang dipakai pada tiga titik pengamatan, yakni Nagari Tarung-tarung, Nagari
Balai Gurah, dan Nagari Tapan.

MK 419.141 82
Yudi, Muhammad. 2001.
“Pengisi Peran dalam Bahasa Minangkabau”. Makalah. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
Makalah ini berisi penjelasan peran instrumental yang inti dan luar inti dalam bahasa
Minangkabau.

MK 410.959 8131
Noviatri & Aslinda. 1990
“Campur Kode di Kecamatan Rao; Suatu Tinjauan Sosiolinguistik”. Laporan

132
BAHASA

Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.


iv +34 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi campur kode yang ada di Kecamatan Rao. Di samping
itu juga berisi penjelasan tentang sejauh mana percampuran kode itu menggeser kedudukan
dan fungsi bahasa Minangkabau di Kecamatan Rao.

MK 4X1.4
Oktavianus. 1997
“Pengelompokkan Bahasa-bahasa Minangkabau, Kerinci, Sakai, Madura, dan Bali”.
Makalah. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi deskripsi 100 kata daftar Swadesh tentang pengelompokkan bahasa
Minangkabau, Kerinci, Sakai, Madura dan Bahasa Bali.

MK 412
Kasih, Media Sandra. 1991.
“Medan Leksikal dan Perubahan Makna Leksikal dalam Bahasa Indonesia”. Laporan
Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi analisis makna leksikal dan perubahannya dengan
memperkenalkan medan leksikal dan perubahannya dengan memperkenalkan medan
leksikal kata-kata tersebut terlebih dahulu.

MK 4X5.959 813
Ramadian.1995.
Adverbia Penanda Modalitas Bahasa Minangkabau. Padang : Angkasa Raya.
85 hlm.
Buku ini mendeskripsikan adverbia penanda modalitas bahasa Minangkabau melalui
sumber-sumber tertulis. Adapun sumber tertulis yang digunakan adalah “Tambo dan
Silsilah Adat Alam Minangkabau”, “Dasar Falsafah Adat Minangkabau”, “la Langue
Minangkabau”, “Pidato Adat Pasambahan Adat Minangkabau”, dan “Pasambahan Pidato
Adat Minangkabau”.

MK 419.145
Yades, Efri. 2002.
“Konstruksi Subordinatif dalam Bahasa Minangkabau Suatu Kajian Sintaksis dan
Semantis”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi konstruksi subordinatif bahasa Minangkabau ditinjau
dari ciri sintaksis dan semantis.

133
Koleksi BPKPSB

MK 419.141
Ihsan, Ainul dkk. 1991
“Tautan Antara Representasi Bentuk Dasar dengan Realisasifonetis Bahasa
Minangkabau; Sebuah Tinjauan Pendekatan Fonologi Generatif”. Laporan Penelitian.
Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini mendeskripsikan masalah fonologi generatif representasi fonemis
Bahasa Minangkabau dan bentuk-bentuk realisasi fonetis Bahasa Minangkabau untuk
setiap fonem.

MK 419.14
Maksan, Marjusman dkk. 1981.
“Geografi Dialek Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat
Pembinaan dan Pengambangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Padang.
ix + 180 hlm
Laporan penelitian ini memaparkan geografi dialek bahasa Minangkabau pada daerah
Kabupaten Pesisir Selatan. Penjelasan dalam laporan ini dimulai dengan pemaparan unsur-
unsur linguistik dan pemetaan pemakaian variasi bahasa Minangkabau di Pesisir Selatan.

MK 1778
Saifullah. 2005.
“Pengalaman Mengajarkan Tulisan Jawi di Minangkabau”. Makalah pada Seminar
Antarabangsa Tulisan Jawi (Satuja) Sempena Ulang Tahun ke-20 Universiti Brunei
Darussalam tanggal 29-30 Oktober 2005.
Makalah ini berisi tentang dinamika pengajaran dan pemakaian aksara Jawi di Minangkabau.

MK 419.141
Yades, Efri. 2005.
“Gaya Bahasa yang Digunakan dalam Kaba”. Makalah. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
Makalah ini berisi deskripsi dan penjelasan makna gaya bahasa yang terdapat dalam kaba.

MK 419.141
Nadra. 1994.
“Fonologi Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini mendeskripsikan aspek-aspek dalam fonologi bahasa Minangkabau.

MK 419.145
Aslinda.1993.
“Struktur Sintaksis Adverbia Bahasa Minangkabau”. Artikel Penelitian. Padang :

134
BAHASA

Pusat Penelitian Universitas Andalas.


Artikel ini berisi deskripsi letak struktur adverbia, lingkup struktur, dan pemakaian adverbia
dalam bahasa Minangkabau.

MK 155.241 914
Marnita, Rina. 1997.
“General Characteristics of Minangkabau Language”. Makalah. Padang : Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi penjelasan tentang karakteristik umum dalam bahasa Minangkabau.

MK.4X1.4
Medan, Tamsin. 1986
Geografi Dialek Bahasa Minangkabau: Suatu Deskripsi dan Pemetaan Daerah
Kabupaten Pasaman. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
xvii + 241 hlm.
Buku ini berisi deskripsi ringkas tentang bahasa Minangkabau di daerah Kabupaten
Pasaman, peta-peta unsur bahasa, pengelompokkan isoglos peta-peta.

MK 419.14
Abra, Arsal dkk. 2004
Bahasa Minang Populer; Minang Taseba. Depok : Gema Pesona.
289 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Indonesia,
perbandingan kosa kata dalam bahasa Minangkabau dengan bahasa Indonesia, pemahaman
kelas kata dalam bahasa Minangkabau, imbuhan dan pembentukan kalimat dalam bahasa
Minangkabau.

MK 419.14
Usman, H. Abdul Kadir. 2002.
Kamus Umum Bahasa Minangkabau-Indonesia. Padang : Anggrek Media.
571 hlm.
Buku ini berisi daftar kata dalam bahasa Minangkabau dan artinya dalam bahasa
Minangkabau.

MK.04-431
Saydam, Gouzali. 2004.
Kamus Lengkap Bahasa Minang (Minang-Indonesia) Bagian Pertama. Padang : Pusat
Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat.
Buku ini berisi daftar kata dalam bahasa Minangkabau dan artinya dalam bahasa
Minangkabau.

135
Koleksi BPKPSB

MK 417.959 813
Nadra. 1995.
“Inovasi Leksikal Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
55 hlm.
Laporan penelitian ini berisi inovasi leksikal bahasa Minangkabau dengan pengamatan di
berbagai wilayah Minangkabau.

MK 306.440 959 813


Kasih, Media Sandra dkk. 1994.
“Register Anak Muda Bahasa Minangkabau: Tinjauan Sosiolinguistik”. Laporan
Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
iv +31 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi tentang register yang terdapat dalam kelompok anak
Muda Minangkabau serta tujuan penggunaan register tersebut.

MK 419.145 959 813


Nadra & Reniwati. 1990.
“Idiom Bahasa Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian
Universitas Andalas.
ii+ 33 hlm.
Laporan penelitian ini berisi deskripsi dan analisis makna serta situasi pemakaian idiom
bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari.

MK 4X1.3
Majolelo, Yunus St. 1983.
Kamus Kecil Bahasa Minangkabau; Disertai dengan Uraian tentang Bahasa Minang.
Jakarta : Mutiara.
Buku ini berisi daftar kata dalam bahasa Minangkabau dan artinya dalam bahasa
Minangkabau.

MK 810.959 813
Sulaiman, Syafruddin. 1989.
“Peranan Peribahasa di Minangkabau Sebuah Hipotesis”. Makalah. Padang : Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi tentang penjelasan singkat tentang peranan peribahasa dalam sosial-
budaya masyarakat Minangkabau.

136
BAHASA

974/MK-2010
Ramadian. 1995.
Adverbia Penanda Modalitas Bahasa Minangkabau. Padang: Angkasa Raya Padang.
87 Hlm.
Buku ini merupakan hasil penelitian yang menyelidiki Adverbia Penanda Modalitas (APM)
yang terdapat dalam bahasa Minangakbau. Dimana ditemukan 16 Adverbia Penanda
Modalitas. 10 macam dari 16 tersebut merupakan penanda asli.

137
SASTRA
SASTRA

707 / MK-2010
Panitia pelaksana KPSP. 2002.
Bung Hatta Dalam Puisi. Padang : Komunitas Pegiat Sastra Padang.
xxviii + 112 Hlm.
Buku ini berisi tentang kumpulan puisi-puisi tentang Bung Hatta dari berbagai pengarang.

712 / MK- 2010


Damhoeri. 1985.
Badai Pagi Hari. Bukittinggi : Pustaka Indonesia.
64 Hlm.
Novel ini menceritakan seorang tokoh yang bernama Romli yang akan menyelundupkan
barang telarang ke Jakarta. Namun usaha itu dapat digagalkan oleh Ujang yang bekerja
sama dengan polisi. Usaha mereka untuk menangkap Romli dikisahkan dengan gaya dan
penyampaiannya yang khas.

1176 / MK-2010
Sulaiman, Syafruddin. 1986.
”Memahami Roman Bako”. Padang : Fakultas Sastra Unand.
62 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang analisis dengan mengunakan metode intrinsik terhadap
roman Bako.

1153 / MK-2010
Sulaiman, Syafruddin. 1989.
“Profil Manusia Minangkabau dalam Novel Bako”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
23 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang analisis perwatakan terhadap novel Bako.

2829 / Br - 06
Navis, anas.2004.
Syair Perang Kamang. Padang: Ppim.
28 Hlm.
Buku ini berisi syair Perang Kamang yang berisi tentang perlawanan rakyat Kamang
terhadap pemerintah Belanda.

141
Koleksi BPKPSB

716 / MK- 2010


Saria, Rusli, Marzuki. 2000.
Menolong Dalam Renungan. Jakarta : Pustaka Firdaus.
xvi + 439 Hlm.
Buku ini berisi kumpulan dari berbagai sajak Rusli Marzuki Saria.

MK 808.81
Saria, Rusli Marzuki. 1998
Parewa; Sajak dalam Lima Kumpulan (1960-1992). Jakarta : Grasindo.
220 hlm. ISBN 979-669-327-5
Buku ini adalah kumpulan sajak yang ditulis oleh sastrawan asal Minangkabau, yakni Rusli
Marzuki Saria.

324.7
Isra, Saldi. 2004
Kampanye dengan Uang Haram. Padang : Citra Budaya Indonesia.
143 hlm. ISBN 979-3458-04-6
Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terkait dengan politik dan demokrasi di Indonesia
umumnya dan Sumatera Barat khususnya.

MK.796.8
Sayuti, Azunar. 1978.
”Perkembangan Seni Bela Diri Tradisional di Sumatera Barat”. Jakarta: Proyek
Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
ii+52 Hlm.,1252/MK-2010
Penelitian ini merupakan uraian tentang perkembangan pencak silat yang bervariasi di
masing-masing daerah Sumatra Barat.

1137/MK-2010
Usman, Ibenzami. 1981.
”Seni Ukir Tradisional Minangkabau dalam Konteks Adat Istiadat”. Padang:
Universitas Andalas dengan IKIP padang.
14 Hlm.
Penelitian berisi uraian tentang seni ukir Minangkabau yang pada mulanya merupakan
cermin dari kegemaran manusia untuk behias dan menghias.

142
SASTRA

MK.709.959.813
Sukmawati, Noni. t.t.
”Randai dan Peranannya dalam Perkembangan Kesenian di Sumatera Barat”.
Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
6 Hlm.
Penelitan ini menguraikan randai yang dipengaruhi oleh masuknya kesenian teater moderen,
yang banyak mempengaruhi struktur kesenian randai.

633/MK-2010
Bustaman, Syofyani. 1981.
”Seni Tari”. Padang: Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi (Pat)
IKIP Padang.
16 Hlm.
Penelitian ini menguraikan tari sebagai salah satu salah satu cabang kesenian, ekspresi
dilahirkan melalui gerak yang ritmis dengan mengandalkan tubuh sebagai alat yang utama.

MK.747.291.598.13
Basri,hasan. 1979.
”Pelaminan Minangkabau”. Padang: SMSR Padang.
50 Hlm.
Penelitian ini berisi penjelasan tentang pelaminan Minangkabau mencakup kain bakabek,
sebeng, kalambu,kain balapiah, banta kaciak, banta bulek, banta gadang, kasua kayu,
peti,ombak-ombak, lidah-lidah, tabia, dindiang, tabia langik-langik, ankin-ankin, rambai-
rambai, dulang tinggi, tuduang saji, dalamak, carano.

576/MK-2010
Anonim. 1979.
”Arsitektur Tradisional Minangkabau Rumah Gadang”. Jakarta: Proyek Sasana
Budaya Jakarta.
67 Hlm.
Penelitian ini menjelaskan tentang arsitektur tradisional Minangkabau pada rumah gadang
yang dipercayakan sebagai salah satu arsitektur yang paling dominan di Minangkabau.

628/MK-2010
Azwar, Nasrul. 2003.
Menyulam Visi. Padang: Dewan Kesenian Sumatera Barat.
xiv+511 Hlm.
Buku ini mendokumentasikan peristiwa budaya, kesenian dan pemikiran dalam rentang
sebuah periode kepengurusan dewan kesenian Sumatera Barat.

143
Koleksi BPKPSB

621/MK-2010
Anonim. 1976.
Kumpulan Lagu-Lagu Daaerah Sumatera Barat (Minang). Padang:
25 Hlm.
Buku ini merupakan kumpulan lagu-lagu daerah Sumatera Barat baik yang tradisional
maupun yang modern yang diciptakan oleh para seniman daerah Minangkabau.

626/MK-2010
Anonim. 1991.
Pekan Budaya Minangkabau dan Pameran Pembangunan VII Sumatera Barat.
Bukittinggi: ...
vii+56 Hlm.
Buku adalah laporan pekan budaya Minangkabau dan pameran pembangunan VII Sumatera
Barat.

622/MK-2010
Djamal, Emral. 1997.
Layang-layang Darek. Padang: Dewan Kesenian Sumatera Barat.
46 Hlm.
Buku ini adalah kumpulan puisi karya Emral Djamal.

MK.819.14
Sukmawati, Noni. 1994.
”Tupai Janjang”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
20 Hlm.
Penelitian ini berisi deskripsi kesenian Tupai Janjang yang diangkat dari sebuah kaba klasik
Minangkabau yang berkaitan dengan tradisi dan sistem nilai yang ada dalam lingkungan
masyarakat Minangkabau.

684/MK-2010
Yusrizal, dkk. 1997.
”Konteks Sosial Kesenian Gamat”. Padang: Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
25 Hlm.
Laporan penelitian berisi uraian tentang konteks sosial kesenian gamat yaitu sejenis lagu
yang dinyanyikan oleh dua atau empat orang penyanyi dengan iringan seperangkat alat
musik yang didomonasi oleh akordeon dan biola, dengan irama mengisyaratkan tarian,
joged.

144
SASTRA

098/MK-2010
Couto, Nasbahry. 2008.
Budaya Visual Kesenian Tradisi Minangkabau. Padang: UNP Press Padang.
X +248 Hlm.,ISBN 978-979-8587-37-5
Buku ini berisi informasi budaya visual Minangkabau yang berangkat dari kode-kode visual
yang berbentuk atap gonjong atau merek rumah makan, toko yang digonjongkan.

MK.790.028
Thaha, Agusman. 1986.
”Peralatan Hiburan Dan Kesenian Tradisional Minangkabau”. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat.
vi+312 Hlm.
Penelitian ini berisi gambaran tentang peralatan hiburan dan kesenian tradisional
Minangkabau serta daya kreatif penduduk Sumatera Barat untuk mengolah alam serta
kesanggupan untuk menyerap apa yang datang dari luar untuk memenuhi kebutuhannya
akan alat hiburan dan kesenian yang cukup besar.

MK.722.095.981.3
Syafwandi. 1993.
”Arsitektur Tradisional Sumatera Barat”. Padang: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Sumatera Barat.
57 Hlm.
Penelitian tentang arsitektur tradisional Sumatera Barat yang mencakup sejarah, gaya
arsitektur serta teknik, maupun tata letak bangunan tradisional Sumatera Barat.

671/MK-2010
Martamin, Mardjani. 1976.
”Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. Padang: Fakultas Keguruan
Pengetahuan Sosial IKIP.
54 Hlm.
Tulisan ini berisi penjelasan arti ukiran-ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau.

666/MK-2010
Dhavida, Usria. 2004.
Naskah Pembuatan CD Ukiran Minang. Padang: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya
Museum Adityawarman.
48 Hlm.
Buku ini adalah naskah panduan untuk pembuatan CD ukiran Minang yang diangkat
dari tiga wujud yakni : wujud idea, wujud kelakuan, wujud fisik yang bertujuan untuk
pelestarian warisan budaya bangsa.

145
Koleksi BPKPSB

596/MK-2010
Anonim. 1977.
”Pokok-Pokok Kesimpulan Seni Ukir di Sumatera Barat”. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat.
60 Hlm.
Penelitin ini tentang seni ukir di Sumatera Barat bertali-tali dengan seni ornamen dan seni
hias dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

604/MK-2010
Budiman, Sexri. t.t.
”Cara Membuat Bansi yang Tradisi dan Diatonis”. Padang: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Sumatera Barat.
16 Hlm.
Tulisan ini membahas cara membuat bansi tradisi yang terbuat dari bambu yang telah
menjadi bagian dari alat musik moderen.

606/MK-2010
Esten, Mursal. 1980.
”Randai dan Beberapa Permasalahannya”. Padang: Kerjasama Unversitas Andalas
dengan IKIP Padang.
10 Hlm.
Laporan penelitian ini memaparkan tentang randai sebagai salah satu bentuk kesenian
tadisional Minangkabau yang penting, digemari dan sampai sekarang memiliki pendukung
yang sangat kuat.

607/MK-2010
Ermayanti. Tt.
”Rebab Pesisir”. Padang: Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Andalas
Padang.
12 Hlm.
Penelitian tentang Rabab Pesisir yang merupakan salah satu kesenian tradisional
Minangkabau yang melibatkan pendendang dan kelompok khalayak tertentu.

594/MK-2010
Hasanuddin. 1995.
“Permainan Anak Nagari Minangkabau”. Padang: DP&K Wilayah Sumbar.
15 Hlm.
Makalah ini berisikan tentang pencak silat, tarian tradisional, randai, tabuik, karawitan dan
sepak rago.

146
SASTRA

595/MK-2010
Herwandi, dkk. 1996.
”Materi dan Fungsi Rumah Gadang: Suatu Kajian dari Pendekatan Model Multi
Sistem”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
15 Hlm.
Makalah ini berisikan tentang pendektan multisistem sebagai salah satu pendekatan ekologi
manusia, rumah gadang Minangkabau adalah produk kebudayaan Minangkabau.

MK.745.959.813.
Adilla, Ivan. 1989.
“Pantun dalam Kesenian Rakyat Minangkabau”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
16 Hlm.
Laporan penelitian ini menjelaskan kedudukan pantun dalam kesenian rakyat Minangkabau.

601/MK-2010
Fauzan. 2004.
Keterampilan Minangkabau. Jakarta: Bumi Aksara.
viii+35 Hlm.
Buku ini berisi keterampilan Minangkabau yang membahas tentang masakan khas
Minangkabau, buah-buahan hasil daerah Minangkabau untuk pembelajaran kelas 4 SD.

600/MK-2010
Wasana. 1992.
”Struktur Lagu Minang Moderen”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
ii+35 Hlm.
Penelitian ini merupakan kajian stuktur lagu Minang yang diangkat dari unsur lirik,yang
dikumpulkan dan disusun kemudian dianalisis dan disertai unsur-unsur lain.

611/MK-2010
Anonim. 1994.
”Dulang Sebagai Alat Kesenian Tradisional di Sumatera Barat”. Padang: Museum
Negeri Propinsi Sumatera Barat.
24 Hlm.
Penelitian ini memaparkan tentang dulang, yakni salah satu alat kesenian dari bahan logam
sebagai alat kesenian tradisional yang dinamakan salawat dulang.

147
Koleksi BPKPSB

585/MK-2010
Anonim. 1982.
Tenun Tradisional Minangkabau. Padang: Proyek Pengenbangan Pemuseuman
Sumatera Barat.
vi+26 Hlm.
Buku ini membahas tenun tradisional dalam segi pengerjaan dan pembuatannya yang
memakai alat-alat yang sangat sederhana sekali seperti tumbuhan gambir dan belerang.

634/MK-2010
Samah, Arby. 1979.
”Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Pembinaan dan Pengembangan
Kesenian”. Padang: Proyek Pusat Pengembangan Kebudayaan Sumatera Barat.
6 Hlm.
Makalah ini membahas kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan
penghidupan yang lebih baik terutama meningkatkan nilai seni dalam kehudupan
masyarakat.

635/MK-2010
Tumbidjo. 1980.
”Masalah Bahan Alat Teknik dalam Seni Rupa”. Padang: SMSR.Padang.
68 Hlm.
Laporan penelitian ini membahas bahan alat teknik yang dipakai dalam seni rupa.

574/MK-2010
Nursyirwan. 1982.
Ragam Hias Songket Minangkabau. Padang: Proyek Pengembangan Permuseuman
Sumatera Barat.
32 Hlm.
Buku ini menjelaskan tentang ragam hias songket Minangkabau yang diberi benang emas,
perak, atau benang bewarna lainnya waktu penenunan.

581/m-03
Djamin,`Nasjah. 1963.
Hilanglah Anak Si Anak Hilang. Jakarta: N.V Nusantara Bukittinggi Jakarta
129 Hlm.,
Novel ini berawal dari sebuah telaah naskah dilahirkan tahun 1924 di kota Perbaungan,

375/prok-03
Adilla, Ivan dkk. 1991.
”Kisah Pendurhakaan dalam Cerita Rakyat Minangkabau”. Padang: Lembaga

148
SASTRA

Penelitian Universitas Andalas.


34 Hlm.
Penelitian ini mencakup isi pantun dalam pertunjukan bagurau, latar belakang sosiologis
pemaian dan pegurau, yang diasumsikan akan berpengaruh kepada pantun-pantun yang
dimainkan.

430/prok-03
Armini. 1990.
Folklor Lisan Minangkabau. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
52 Hlm.
Penelitian ini membicarakan teka-teki yang hidup di Minangkabau yang disebut dengan
takok-taki oleh orang Minangkabau.

2180/m-07
Anwar, Khairil. 1999.
”Pemetaan Sastra Lisan Miangkabau Di Kab. Agam, Tanah Datar, dan Sawah Lunto
Sijunjuang”. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
90 Hlm.
Penelitian ini membahas masalah dari sistem ekonomi yang makin berorientasi kapital dan
masalah kesenian.

063/MK-2010
Navis, A.A. 1994.
Cerita Rakyat dari Sumatra Barat. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
48 Hlm.
Cerita ini menyampaikan kisah-kisah riwayat nama Minangkabau, Cidur Mato, Rambun
Pamenan, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih, Umbut Mudo, Gadis Basanai, Malin
Kundang.

062/MK-2010
Nazir, Tengkoe. 1974.
Pak Pandir. Pekan baru:
135 Hlm.
Buku ini dikutip dari kumpulan cerita lama dengan bermacam-macam corak sejarah, roman,
dongeng, dan ada hikayat.

005/MK-2010
Sjamsuddin. Tt.
Talipuak Lajua. Bukittinggi: CV Indah Bukittinggi.
40 Hlm.

149
Koleksi BPKPSB

Talipuak Lajua adalah salah satu roman klasik Minangkabau yang bercerita dengan pepatah
petitih Minangkabau.

008/MK-2010
Hendrik, Makmur. 1983.
Girih-girih Perak 5. Padang: cv.Pena Emas.
155 Hlm.
Girih-girih perak 5 adalah sebuah roman yang menceritakan tentang kejadian alam (gempa
bumi).

014/MK-2010
Ibrahim, Mutafa. 2008.
Tuanku Lintau, Puti Adam Dewi, Harimau Agam. Batu Sangkar : ?
78 Hlm.
Tuanku Lintau. Puti Adam Dewi, Harimau Agam adalah cerita rakyat Minangkabau
yang mengkaji nilai-nilai sosial budaya serta spiritual yang terkandung dalam budaya
Minangkabau.

305.409.598-13
Rafilus. 1992.
”Profil Wanita dalam Novel Salah Pilih Karya Nur Sutan Iskandar”. Padang: Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
141 Hlm.
Tesis ini membahas masalah harta warisan di Minangkabau yang diwariskan kepada kaum
perempuan Minangkabau dalam novel Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar.

784/m-03
Tanjuang, dkk. 1976.
Bunga Rampai Cerita Rakyat Minangkabau. Jakarta. Proyek Pengenbangan Media
dan Kebudayaan.
59 Hlm.
Buku ini membahas cerita batu menangis di sebuah kampung di pinggiran Danau Maninjau.

590/prok-03
Rosa, Silvia. 2002.
“Makna Mitos Bundo Kanduang Raja Perempuan di Minangkabau: Suatu Tinjauan
Semantik”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
68 Hlm.
Penelitian ini membahas struktur kaba Cindua Mato dalam rangka menemukan keteraturan-
keteraturan.

150
SASTRA

453/MK-2010
Idris, Samad. 1990.
Payung Terkembang. Malaysia: Pustaka Budiman Kuala Lumpur.
457 Hlm.
Buku ini dituliskan dengan maksud supaya rakyat kedua negara Malaysia - Indonesia dan
Negeri Sembilan - Minangkabau banyak sedikit mengetahui akan salur galur sejarah kedua-
dua daerah ini secara ringkas.

138/prok-03
Fadillah,dkk. 2000.
”Paradigma Politik Kebudayaan Minangkabau dalam Kaba Sebuah Pertimbangan
Tradisi”. Padang: Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
11 Hlm.
Artikel penelitian ini membahas fakta sistem politik dalam kaba, fakta aktifitas sosial
budaya dalam sebuah pertimbangan tradisi.

1840/m-07
Adilla, Ivan. 1991.
”Kisah dari Masa Lalu Empat Lakon dari Sumatra Barat”. Padang: Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
14 Hlm.
Penelitian tentang kisah empat lakon Sumatra Barat yang merupakan kumpulan sejarah dan
tambo Minangkabau.

1109/m-03
Nafis, Anas. 1990.
”Pidato Memuji Korong Kampuang”. Jakarta: Balai Selasa.
3 Hlm.
Pidato mamuji korong kampuang yang bisanya dihiasi dengan berbagai perhiasan seperti
carano, dan diiringi dengan petatah peitih Minangkabau.

129/MK-2010
Alisjahbana, Sutan Takdir. 2007.
Dian Yang Tak Kunjung Padam .Jakarta: Dian Rakyat.
156 Hlm.
Novel ini menceritakan kisah cinta antara Molek dan Yasin yang mengatasi jurang keturunan,
derajat dan kekayaan.

151
Koleksi BPKPSB

111.446/br-95
Iskandar. 1990.
Hulubalang Raja. Jakarta: Balai Pustaka.
214 Hlm.
Cerita hulubalang raja mengisahkan peristiwa di abad 17, yakni hubungan antara kerajaan-
kerajaan Minangkabau di Sumatra Barat.

147/MK-2010
Herwandi. 2006.
Rakena Mandeh Rubiah. Padang. Nailil Prantika Yokyakarta.
135 Hlm.
Buku ini disusun dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang Rakena Mandeh
Rubiah dalam khasanah sejarah Minangkabau.

Ranasti, A.A. t.t.


Malapetaka Bukit Tui . Padang: Gunung Bungsu.
69 Hlm.
Cerita Bukit Tui adalah salah satu satelit kota Padang Panjang yang sering mengalami
reruntuhan dan lonsor.

1612/m-04
Refisrul, dkk. 2004.
Kaba Si Saripoedi. Padang: CV. Faura Abadi
164 Hlm., ISBN 979-9388-47-3
Kaba si Saripoedi adalah suatu kajian isi dan nilai budaya yang terlaksana dari pengkajian
terhadap naskah kuno yang terdapat di Sumatra Barat.

3704/m-2008
Fitrianan,julita. 2007.
Hikayat Bentuk Hitam dan Bajak Laut. Jakarta: Pusat Bahasa
89 Hlm.
Hikayat ini adalah kumpulan cerita rakyat Kepulauan Riau yang menceritakan petualangan
bajak laut di kampung seberang.

1286/m-05
Nafis, Anas. 2004.
Syair Perang Kamang. Padang: Sarana Grafika
28 Hlm.
Dalam cerita Syair Perang Kamang yang berbahasa Melayu-Minangkabau ini diceritakan
tentang Perang Kamang.

152
SASTRA

437/MK-2010
Thaib, Puti Reno. 2002.
Carito Niniek Reno. Padang: Institut Minangkabau.
70 Hlm.
Buku ini ditulis dalam bahasa Minangkabau yang berisikan tentang sejarah dan budaya
Minangkabau, baik dilihat dari sejarah tambo maupun tentang kerajaan Minangkabau.

1018/m-03
Iskandar. 1987.
Pengalaman Masa Kecil. Jakarta: Balai Pustaka
182 Hlm.
Cerita ini diangkat dari pengalaman seorang calon pendidik yang mengambarkan perbedaan
adat isriadat.

1235/MK-2010
1.161/m-04
Syamsuddin. t.t.
Kaba Puti Nilam Cayo. Bukttinggi. Pustaka Indonesia Bukittinggi.
87 Hlm.
Kaba Puti Nilam Cayo ini menceritakan tentang cara turun mandi, pitanah tukang tanuang,
rambun sati, ditangkok raksasa, malarikan diri, mancari rajo, naiak nobat, basuo jo adiak
kanduang, manjalang bapak mande.

016/MK-2010
Hatta, Mohammad, 1966.
Mengambil Pelajaran dari Masa Lampau untuk Membangun Masa Datang. Jakarta:
Angkasa Bandung.
31 Hlm.
Tulisan ini menjelaskan angkatan 66 dan timbulnya masa baru bagi pemuda sekarang.

024/MK-2010
Dwinanto, Djoko. 2007.
Syekh Burhanuddin. Jakarta: Cakra Media.
vii+63 Hlm.
Buku kecil ini menceritakan tentang biografi singkat Syekh Burhanuddin Ulakan.

153
Koleksi BPKPSB

3346/m-07
Sulastri. 1995.
”Hambatan dalam Menterjemahkan Sastra Lisan Berbahasa Minangkabau ke
Bahasa Indonesia”. Padang. Fakultas Sastra Universitas Andalas
48 Hlm.
Penelitian ini memaparkan hambatan dalam menterjemahkan sastra lisan berbahasa
Minangkabau ke bahasa Indonesia.

2570/m-07
Novianti. 1992.
”Pemahaman Terhadap Sajak-Sajak Darman Moenir”. Padang: Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
19 Hlm.
Penelitian ini menguraikan pemahaman terhadap sajak-sajak Darman Moenir yang
menggunakan unsur-unsur formal atau dari pemikiran sendiri.

455/prok-03
Sulastri. 1992.
”Kaba-Kaba Minangkabau Suatu Analisa Perbandingan Sastra”. Padang. Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
30 Hlm.
Laporan penelitian ini menceritakan kumpulan kaba-kaba yang ada di Minangkabau seperti:
Rantak Sigadih Ranti, Rancak di Labuah, Siti Kalsum, Puti Sari Banilai, Tuanku Lareh
Simawang, Rambun Pamenan, Anggun Nan Tongga, Simanjau Ari, Puti Balukih, Sabai
Nan Aluih.

2473/m-07
Sulastri. 1988.
”Tradisi Bakayaik Suatu Bentuk Sastra Lisan di Pariaman”. Padang: Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas Andalas.
32 Hlm.
Penelitian ini menjelaskan struktur lirik dan irama dan kosa kata untuk diungkapkan klasik
yang terdapat dalam tradisi bakayaik di Pariaman.

694/MK-2010
Aslinda. 1991.
”Beda Kepenulisan Pengarang dengan Minangkabau”. Padang: Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
34 Hlm.
Penelitian ini bertujuan menganalisa beda kepenulisan pengarang dengan seseorang
sastrawan Minangkabau.

154
SASTRA

693/MK-2010
Adilla, Ivan. 1990.
”Kisah Perang Padri dalam Drama Wisran Hadi Pembicaraan Tentang Penggunaan
Fakta Historis dalam Karya Sastra”. Padang: Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan Universitas Andalas.
48 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang perbandingan peristiwa sejarah dan watak tokoh
sejarah dalam tiga naskah drama karya Wisran Hadi.

689/MK-2010
Kurai.1978.
”Pengantar Kesusastraan Minangkabau”. Bukittinggi: ...
102 Hlm.
Laporan ini menyangkut dengan dasar-dasar filsafat adat Minangkabau serta diiringi dengan
penyampaiannya dalam tambo adat Minangkabau.

686/MK-2010
Susena, Danang. 1991.
”Telaah Naskah Syair Ken Tambuhan”. Padang: Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan Universitas Andalas.
47 Hlm.
Penelitian ini menyajikan naskah syair Ken Tambuhan dalam bentuk suntingan dalam
kajian filologi.

783/MK-2010
Amir, Adriyetti dkk. 2006.
Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau. Padang. Andalas University Press.
207 Hlm.
Buku ini berisi pemetaan sastra lisan yang ada di Minangkabau disertai dengan deskripsi
jenis-jenis sastra lisan yang ada di daerah tersebut.

1817/m-07
Djamaris, Edwar. 2001.
Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Buku Obor.
xii+305 Hlm.
Buku ini menceritakan jenis-jenis sastra Minangkabau seperti puisi, mantra, pantun, talibun.

155
Koleksi BPKPSB

2616/m-07
Sulaiman, Syafruddin. 1996.
”Bukan Salah Penghulu dan Sipadang: Suatu Perbandingan Sastra”. Padang:
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
40 Hlm.
Penelitian ini merupakan kajian sastra perbandingan serta resepsi sastra dan memberi jalan
bagi pemahaman cerpen kepada pembaca.

709/MK-2010
Hasanuddin dkk. 1995.
”Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Magdalena Sebuah Analisis
Intertekstualitas”. Padang: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas
Andalas.
iv+36 Hlm.
Penelitian ini adalah perbandingan antara novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dengan
Magdalena dengan pendekatan intertekstualitas.

710/MK-2010
Yusriwal. 1992.
”Struktur Alur Kaba Minangkabau”. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
22 Hlm.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui volume kaba yang ada di Minangkabau, dalam
pemakaian teori strukturalisme dan sosiologi sastra.

1874/m-07
Sulastri. t.t.
”Novel ”Warisan” Karya Chairul Harun Tinjauan Sosiologi Sastra”. Padang:
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
25 Hlm.
Penelitian ini mengupas persoalan warisan yang banyak didominasikan oleh tokoh yang
punya sikap serakah, bukan serakah karena harta saja tetapi juga terhadap wanita berdasarkan
novel Warisan karya Chairul Harun.

735/MK-2010
Basri, Hasan. 1974.
”Kaba Bujang Pajudi”. Padang: Fakultas Keguruan Sastra Seni IKIP.
68 Hlm.
Dalam makalah ini menceritakan kaba Bujang Pajudi dalam bentuk pantun-pantun Minang
yang tertuang secara imajinatif.

156
SASTRA

2608/m-07
Sulaiman, Syafruddin. 1989.
”Memahami Cerpen Sipadang”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
62 Hlm.
Penelitian ini menjelaskan kepada masyarakat tentang karya sastra sebagai suatu hasil
imajinasi dan mencoba mengungkapkan pesan-pesan atau amat yang ada di dalamnya,
khususnya dalam cerpen Sipadang.

5354/m-08
Suryadi. 2002.
Syair Sunur. Padang: Citra Budaya Indonesia.
xxii+235 Hlm., ISBN 979-3458-05-4
Buku ini adalah hasil kajian terhadap Syair Sunur, seorang ulama Minangkabau pada
abad ke-19 tentang pembaruan Islam dan pertahanan kaum konservatif pengikut tarekat
Syattariyah di Pantai Barat Sumatra.

725/MK-2010
Nafis, Anas. 2004.
Kaba Si Ali Amat. Padang: Sarana Grafika.
xi+58 Hlm.,ISBN 979-3797-01-0
Kaba ini menceritakan budaya Minang telah terbentuk melalui pengalaman dan perenungan
mengenai alam semesta yang disemboyankan alam takambang jadi guru.

3.079/Br-08
Iskandar, Nur St. 2006.
Salah Pilih. Jakarta: Balai Pustaka.
vii+262 Hlm., ISBN 979-407-178-1
Novel ini menceritakan kisah dua orang yang sama diasuh oleh seorang ibu, dan kemudian
memendam perasaan (cinta) yang tidak mungkin bisa disatukan. Dan akhirnya barakhir
dengan kekecewaan yang mendalam.

Djamal, Emral. 2005.


Bonsu Pinang Sibaribuik. Padang: Pusat Kajian Warisan Budaya Minangkabau.
408 Hlm.
Kaba Bonsu Pinang Sibaribuik adalah suatu kaba pusako Minangkabau yang disebut kaba
tareh yang artinya perjalanan tahun dalam pengertian asli Minangkabau ialah “esensi”.

157
Koleksi BPKPSB

409/CB/vii-07
Ambran SN. t.t.
Hikayat Gunung Padang. Padang: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Propinsi
Sumatra Barat.
48 Hlm.
Hikayat Gunung Padang ini menceritakan Puti Arau, Tuanku Jabus dan berakhir dengan
banjir bandang.

9.359/Br-o4
Purna, Rozi Sastra. 2004.
Perjalanan Sufi. Padang: Anggrek Media.
162 Hlm.
Novel ini menceritakan seorang gadis muslimah yang berjilbab, ia harus tersandung oleh
sebuah kebijakan yang harus membuat dia melepas jilbabnya karena orang yang dicintainya.

7.966/Br-05
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Tuanku Lareh Simawang. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
72 Hlm.
Kaba Tuanku Lareh Simawang adalah salah satu kaba klasik Minangkabau yang berisi pai
kumisi, pantang tatagahkan, hati paibo mambaok sansai, basimbah darah, tuah dicari hino
nan buliah, sasa kudian indak paguno.

1738/m-05
Syamsudin St.Rajo Endah. 2005.
Cindua Mato. Bukittinggi: Kristal Multimedia
192 Hlm.
Kaba Cindua Mato adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang pada umumnya berisi
kritikan sosial terhadap realitas yang ada di sekitar pengarangnya begitu juga dengan kaba
Cindua Mato.

7.902/ br-05
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Laksamana Hang Tuah. Bukittinggi: Kristal Multimedia
95 Hlm.
Kaba Laksamana Hang Tuah adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang menceritakan
lima pemuda dari negeri bintang yang mengharumkan nama tanah malaka.

158
SASTRA

3958/m-07
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Angku Kapalo Sitalang. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
96 Hlm.
Kaba Angku Kapalo Sitalang adalah suatu kaba klasik Minangkabau yanng menceritakan
tentang seorang anak manusia yang berambisi untuk menjadi angku kapalo di nagari
Sitalang.

1.376/m-05
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Magek Manandin. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
136 Hlm.
Kaba Magek Manandin adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang berisikan tentang kisah
galangang puti bulan, rajo duo baleh, rajo kuaso makum magek manadin dan siburuang
nuri.

7.886/br-05
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Si Gadi Ranti. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
80 Hlm.
Kaba Si Gadih Ranti adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang menceritakan malangnya
nasib Gadih Ranti di yang sedang bertunangan dilamar pula oleh seorang yang berkuasa di
dalam negeri yaitu Angku Kapalo.

26.304/br-06
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Tuanku Lareh Simawang. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
82 Hlm.
Kaba Tuanku Lareh Simawang adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang menceritakan
lareh simawang hatinya sedang berbunga-bunga. Mata hatinya seakan tertutup atas segala
nasehat dari keluarganya diapun merasa mantap untuk menikahi Siti Rawani.

3.331/br-08
Jamin, Jamilus. 1991.
Alur Panitahan Adat Minangkabau. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
105 Hlm.
Alur panitahan adat Minangkabau yakni pidato adat yang diucapkan sewaktu duduk bersama
untuk musyawarah menyetujui suatu maksud. Terbagi atas panitahan jamuan makan,
katurun, di pakuburan, menjanguak, timbang tando, manjapuik marapulai, maantaan
marapulai.

159
Koleksi BPKPSB

3.342/Br-08
Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo. 2003.
Curaian Adat Minangkabau. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
211 Hlm.
Curaian adat Minangkabau adalah salah satu buku yang berisikan adat istiadat Minangkabau
berupa pantun, petatah petitih, dan hukum di Minangkabau.

3365/m-07
Sulaiman, Syafruddin. 1988.
”Malin Deman Jo Puti Bungsu”. Padang: Fakultas Sastra.
15 Hlm.
Makalah ini berisikan bahasa sebuah lisan Minangkabau yang berjudul “malin deman jo
puti bungsu” yang ditulis untuk studi penunjang mata kuliah metode penelitian sastra lisan.

3.415/br-08
Bahri, H. Syamsoel. tt.
Kisah Nyata Cerita Rakyat.
117 Hlm.
Buku ini adalah kisah nyata cerita rakyat Lareh Simawang jo Siti Jamilah yang diangkat
dari sebuah materi, sinetron, drama, randai, dan kaba.

2296/m-07
Budiono, Agus dkk. 1992.
”Perbedaan Antara Sastra dalam Masyarakat Kotamadya Padang”. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Universitas Andalas.
34 Hlm.
Laporan penelitian ini berisikan perbedaan antara sastra dalam masyarakat Kotamadya
Padang yang diangkat dari stuktur masyarakatnya dan kebudayan Minangkabau itu sendiri.

MK 398.205-98-13
Djamaris, Edwar. 2004.
Kaba Minangkabau. Jakarta: Pusat Bahasa.
xii+363 Hlm.,ISBN 979-685-413-9
Buku ini merupakan penjelasan tentang kaba, yakni sastra tradisional Minangkabau yang
populer di dalam masyarakat Minangkabau.

3180/br-08
Tandiko, St.R.dkk. 2003.
Sumarak Nagari. Bukittinggi: Kristal Multimedia.

160
SASTRA

163 Hlm.
Buku sumarak nagari merupakan alur pasambahan dan pidato adat Minangkabau, yang
dilaksanakan di setiap kegiatan anak nagari seperti acara kemalangan, tukar cincin, sunatan,
pernikahan, dan lain-lain.

1754/M-04
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Sibuyuang Karuik: Bukittinggi. Kristal Multimedia.
88 Hlm.
Kaba Sibuyuang Karuik menceritakan semenjak meninggalkan kampung halaman
penderitaan demi penderitaan dijalani oleh Sibuyuang Karuik dengan adiknya Siti Syamsiah
dengan penuh kesabaran. Sampai mereka dipisahkan oleh nasib masing-masing.

1753/M-04
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Kaba Si Umbuik Mudo. Bukittingi: Kristal Multimedia.
96 Hlm.
Kaba Si Umbuik Mudo adalah salah satu kaba klasik Minangkabau yang berisi Pai Mangaji,
Mandapek Malu, Pupuik Parupuak, Manjampuik Umbuik Mudo, Di Rumah Galang Banyak,
dan Janjian.

3578/M-07
Syamsudin St.Rajo Endah. 2004.
Siti Kalsum. Bukittinggi: Kristal Multimedia.
96 Hlm.
Kaba Siti Kalsum adalah suatu kaba klasik Minangkabau yang menceritakan kesetiaan Siti
Kalsum menunggu kedatangan suaminya kembali dari merantau.

3199/Br-2008
Iskandar, St. Nur. 1995.
Hoja Nasruddin. Jakarta: Balai Pustaka.
251 Hlm.
Hoja Nasruddin adalah salah satu kisah seribu satu malam seperti Abu Nawas yang amat
terkenal dan sangat digemari itu.

4598/M-07
Moenir, Darman. 1983.
Bako. Jakarta: Balai Pustaka.
102 Hlm.

161
Koleksi BPKPSB

Roman Bako ini mengisahkan pemberontakan terhadap adat dalam segi-segi permasalahan
yang lain.

84/B-88
Yakub, Nurdin. 1982.
Sibuyuang Telong. Bukittinggi: cv. Pustaka Indonesia.
51 Hlm.
Cerita berisi tentang anak-anak yang punya kelainan fisik dan mental, sehingga mereka
berhasil memiliki kepercayaan kepada kebolehannya, bahwa mereka juga manusia yang
berguna.

835/H-05
Anas, Navis. 2004.
Hikayat Nahkoda Muda. Padang: Sarana Grafika.
68 Hlm.
Buku ini meriwayatkan suka duka seorang nahkoda pedagang asal Minangkabau yang
melayari hampir separuh kepulauan nusantara dan akhirnya menetap di Teluk Semangka
Lampung.

977/MK-2010
Nafis, Anas. 2004.
Kaba Mamak Si Hetong. Padang: PSIKM.
xi+62 Hlm. ISBN: 979-97407-9-7
Buku ini menceritakan penderitaan sepasang anak manusia yang sangat miskin yaitu mamak
si Hetong dan adiknya Si Rona Pinang dihina oleh Si Kasumbo Hampai yang kaya raya.

5456/m-08
Suheimi, K. 2005.
Tangan Tuhan di Detik-detik Menentukan. Padang: Anggrek Media.
viii+220 Hlm. ISBN:979-96734-5-3
Buku ini merupakan buku yang pantas dibaca oleh semua kalangan. Dari sudut pandang
penulisnya, pembaca seakan diajak memasuki wilayah perenungan yang berangkat dari
fenomena keseharian yang tampak sederhana namun bermakna.

398.209 598 13
Idris, Agustiar. 1995.
Cindurmato dari Minangkabau. Jakarta: Pertja.
584 hlm., ISBN: 979-87 12-02-1
Novel ini bercerita tentang anak muda yang hidup di lingkungan istana Pagaruyung, si anak
muda menjadi kepercayaan keluarga kerajaan, anak itu dipanggil dengan cindua mato. Si

162
SASTRA

pemuda mau berkorban apa saja untuk keluarga kerajaan, termasuk bertempur melawan
penyamun dibukit Tambun Tulang, melawan Tiang Bungkuak dan juga menerima hukuman
karena dia telah membunuh Raja Imbang Jaya.Cerita ini juga diselingi perang besar antara
Pagaruyung dengan kerajaan Sungai Ngiang yang dipimpin oleh Tiang Bungkuak, yang
tidak mempan oleh senjata apapun.

CB-D3
Ismail, Taufik. 1993.
Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.
172 Hlm., ISBN: 979-8424-00-X
Buku ini merupakan kumpulan puisi Taufik Ismail yang dirangkum ke dalam satu judul
yaitu Tirani dan Benteng. Buku ini pada intinya bertemakan kecemasan, keterasingan,
kesangsian, kebebasan, harapan, angan-angan, cita-cita, mimpi, dan tekad.

Naim, Sjafnir Aboe. 2004.


Faqih Sagir. Padang: PPIM.
ix+38 Hlm., ISBN: 979-3797-16-9
Buku ini menceritakan hikayat seorang yang bernama Faqih Sagir. Hikayat ini disadur dari
tulisan arab melayu di dalam catatan sejarah melayu memberikan pemahaman baru bagi
perkembangan Isalam masa lampau di Minangkabau. Dalam pengembagan ajaran Islam itu
sendiri, Faqih Sagir adalah tokoh yang sangat berjasa.

398.209 598 13
Pangaduan, Sutan. 2004.
Kaba Magek Manandin. Bukittnggi: CV. Kristal Multimedia.
135 hlm.
Buku ini bercerita tentang seorang yang tangguh Minangkabau yang keras hati, dia bernama
Magek Manandin. Dia menuntut balas atas kematian ayahnya oleh seorang raja zalim di
negrinya. Akhirnya Magek Manandin berhasil membunuh raja tersebut.

Pangaduan, Sutan dkk. 1988.


Kaba Si Untuang Sudah. Jakarta: DP&K Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia
dan Daerah.
248 Hlm.
Buku ini berisikan Kaba Si Untuang Sudah yang disajikan teks aslinya dalam bahasa
Minangkabau dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Si Untuang dibuang sejak kecil
ke dalam lurah di tengah hutan. Di dalam lurah itu ia dipelihara oleh binatang hutan. Akhir
cerita Si Untuang Sudah dinobatkan menjadi raja. Ia disenangi oleh anak negeri.

163
Koleksi BPKPSB

Registrasi: 305/H-05
Nafis,Anas. 2004.
Kaba Sabai Nan Aluih. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xi+18 Hlm., ISBN: 979-3797-00-2
Buku ini menceritakan kisah Sabai Nan Aluih Putri Rajo Babandiang yang menuntut
bela kematian ayahnya. Karena lamarannya ditolak ayah si Sabai, lalu Rajo Nan Panjang
membunuhnya. Si Sabai membalas dendam. Mati pulalah orang yang membunuh ayahnya
itu.

Registrasi:1812/M-07
Nafis, Anas. 2004.
Hikayat Manjau Ari. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xi+99 Hlm., ISBN: 979-97407-7-0
Buku ini menceritakan Si Manjau yang ketika lahir menunjukkan tanda-tanda akan menjadi
orang yang ternama. Ternyata dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah melebihi
kepintaran gurunya. Sang guru bukannya bangga dengan kemampuan muridnya, malah
memfitnahnya. Si Manjau di usir oleh orang tua dan mamaknya.

Registrasi:3618/M-07
Nafis, Anas. 2004.
Kaba Si Ali Amat. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xi+58 Hlm., ISBN: 979-3797-01-0
Buku ini menceritakan si Ali Amat seorang pengembala kerbau yang diusir ibunya. Adiknya
yang bernama Puti Kasumbo ikut pula diusir, karena ia akrab dengan kakaknya. Maka
bertualanglah kakak beradik itu.

Registrasi: 327/H-05
Nafis, Anas. 2004.
Si Palalok. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xi+28 Hlm.
Buku ini mengisahkan seorang yang suka tidur. Karena kebiasaan buruk tersebut, ia diusir
oleh istri-istrinya dan berkali-kali pula ditipu orang. Karena tidak tertahan lagi, bagai kata-
kata orang tua tikus seekor penggada seratus, maka Si Palalok masuk hutan keluar hutan.
Bertualanglah Si Palalok dengan penyakit pelelapnya itu.

Registrasi: 311/h-05
Nafis, Anas.2004.
Sutan Manangkerang. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xi+98 Hlm., ISBN:979-97407-6-2
Buku ini menceritakan suka duka sepasang anak manusia. Seorang bernama Sutan
Kahirullah, kemudian dikenal dengan Sutan Manangkerang dan adiknya Putri Andam Dewi.

164
SASTRA

165
SEJARAH
SEJARAH

3.325/Br – 08
Tubani-at, Riwayat.2005.
Erosi Moralitas di Minangkabau. Padang : Media Explorasi
iv + 140 Hlm.
Buku ini menceritakan berbagai tindakan moral, seperti pemerkosaan, seks di luar nikah,
pergaulan bebas, dengan fakta dan data kredibel serta menjelaskan perkembangan perbuatan
susila dan tindakan lain yang mengerosi moralitas orang Minangkabau.

4973/ m- 07
Asnan, Gusti. 2006.
Pemerintahan Daerah Sumatera Barat dari VOC Hingga Reformasi. Yokyakarta :Citra
Pustaka.
x + 278 Hlm. ISBN 979-25-3698-1
Buku ini menceritakan perubahan-perubahan unit administratif yang pernah ada dan terjadi
di Sumatera Barat dalam rentang waktu 3 ½ abad, tepatnya sejak zaman VOC hingga era
reformasi. Buku menguraikan dengan cukup mendalam berbagai persoalan para birokrat
serta eksitensi, kerja sama antara pihak eksekutif dan legistativ daerah.

01020 / Br – 05
Adli, Adrial. 1996
”Pasang Surut Agribisnis di Sumatera Barat Masa Kolonial ( 1870- 1930 )”. Padang.
Fakultas Sastra Unand.
9 Hlm.
Laporan penelitian ini menceritakan masalah ekonomi pertanian yang terjadi di Sumatera
Barat sejak tahun 1870-1930.

1159 / MK – 2010
Syafrizal. 1994.
”Kemerosotan Pranata Politik Lokal Minangkabau Masa Kolonial”. Padang :
Fakultas Sastra Unand.
iii + 40 Hlm.
Laporan penelitian ini menjelaskan kemerosotan politik yang terjadi di Minangkabau.

4032 / m – 07
Zed, Mestika. 1995.
Sejarah Tanah Datar. Padang.
xii + 471 Hlm.
Buku ini menceritakan tentang sejarah Tanah datar mulai dari dari Zaman Prakolonial
sampai pada zaman Orde baru.

169
Koleksi BPKPSB

469 / MK- 2010


Zed, Mustika. 1884.
”Kolonialisme, Pendidikan, dan Munculnya Elit Minangkabau Moderen : Sumatera
Barat Abad ke -19”. Jakarta: Proyek Inventasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
25 Hlm.
Hasil penelitian ini menceritakan masalah kolonialisme, pendidikan, serta munculnya elit
Minangkabau modern yang terjadi di Sumatera Barat abad ke-19.

566 / H – 6
Yunus,Yulizar. dkk. 2004.
Pesisir Selatan dalam Dasawarsa 1995-2005 di Bawah Kepemimpinan Bupati Darizal
Basir. Padang : Pemkab Pesisir Selatan dengan IAIN-IB Press.
xxii + 283., ISBN 979-3045-36-1
Buku ini menceritakan kondisi objektif Pesisir Selatan awal pemerintahan Bupati Darizal
Basir sampai dengan masa pemirntahan Bupati Darizal Basir. Darizal Basir mengeksplisitkan
agama sebagai salah satu pilar pembagunan di samping pilar ekonomi dan pilar budaya
dalam masa pemerintahanya.

397 / H- 02
Herwandi & M. Nur. 1989.
”Gaya Berpakaian Para Angku Lareh Abad 19”. Padang : Fakultas Sastra Unand.
ii + 32 Hlm.
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang gaya berpakaian para Angku Lareh abad 19
yang terjadi di Minangkabau.

566 / MK – 2010
Simulie, Kamardi Rais Dt.P. 2004.
Mesin Ketik Tua. Sumatera Barat : Ppim
xx + 271 Hlm., ISBN : 979- 3797 – 04 -5
Buku ini menceritakan paparan budaya dan juga mengambarkan kepekaan seorang
penghulu terhadap perkembangan adat Minangkabau sepanjang masa dibawah payung
ajaran islam. Masalah pahlawan nasional Datuk Tan Malaka yang legendaris dan misteriuas
juga diceritakan dalam buku ini.

480 / MK- 2010


Basa, Datuak Nagari. 1966.
Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Payakumbuh : C.V. Eleonora.
140 Hlm.
Buku ini menceritakan sejarah Minangkabau mulai dari Negeri Bertunggu sampai dengan
masuknya Aditiawarman ke Minangkabau dan juga memaparkan masalah silsilah Adat.

170
SEJARAH

454 / MK- 2010


Nanitam, R.M. Dt. Tandiko. tp.
Penggalian Sejarah dan Seluk Beluk Adat / Kebudayaan Minangkabau
Buku ini berisi tentang sejarah dan seluk beluk Adat dan kebudayaan Minangkabau.

275 / Prak – 03
Chairiyah, Sri zul. 1996.
“Pemerintahan Desa di Minangkabau Setelah Berlakunya UU No. 5 / 1979”. Padang.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.
23 Hlm.
Laporan ini berisi tentang bagaimana kondisi di Minangkabau setelah berlakunya UU No.
5 /979.

2635 / M- 07
Zulqaiyyim. 1996.
”Perkembangan Sistem Pemerintahan Hindia Belanda di Padang Darat Pada Abad
ke-19 dan awal abad ke-20”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
15 Hlm.
Makalah ini berisi tentang perkembangan sistem pemerintahan Hindia Belanda di Padang
pada abad 19 dan awal abad 20.

5343 / M – 08
Asnan, Gusti. 2006.
Demokrasi, Otonomi, dan Gerakan Daerah. Yayasan citra Budaya Indonesia
xxxiii + 236 Hlm., ISBN 979- 3458- 10- 0
Buku ini berisi tentang pikiran orang Minang tentang demokrasi, otonomi, dan gerakan
daerah. Tiga persoalan yang tidak terpisahkan dari sejarah Minangkabau khususnya
Indonesia pada umumnya di tahun 1950-an. Apa yang dipikirkan dan perdebatkan tentang
tiga persoalan yang hampir identik dengan apa yang berlaku dewasa ini yang ada banyak
persamaan tentang jiwa zaman dengan latar kebudayaan tahun 1950-an.

552 / MK – 2010
Salim, Ampera dan Zulkifli. 2004.
Minangkabau dalam Catatan Sejarah Yang Tercecer. Padang : Yayasan Citra Budaya
Indonesia.
xi + 184 Hlm., ISBN : 979 – 3458 – 03 – 8
Buku ini berisi tentang sejarah, masalah kepemimpinan, dan budaya Minangkabau.

171
Koleksi BPKPSB

1214 / MK- 2010


Sialah, E.K. 1977.
Monografi Sejarah dan Budaya Daerah Sumatera Utara . Padang : PRPM Sumatera
Barat.
29 Hlm.
Buku ini berisi tentang monografi sejarah dan budaya Sumatera Utara.

605 / MK – 2010
Nain, Aboe Syafnir datuk Kando Marajo.
Tuanku Imam Bonjol . Padang : Esa Padang.
xv + 128 Hlm. ISBN 979- 3797 – 05 – 3
Buku ini berisi tentang perjalanan Tuanku Imam Bonjol dan sejarah intelektual Islam di
Minangkabau pada tahun 1784-1832.

3. 633 / Bo – 08
Sabar. 2006.
Kebijakan Beras Pemerintahan Belanda di Sumatera Barat Tahun 1930- 1942. Padang.
Andalas University Press.
xii + 166 Hlm. ISBN 979 – 1097 – 03 – 8
Buku ini berisi tentang keadaan ekonomi dan politik yang terjadi di Sumatera Barat. Sejak
krisis tahun 1930-an harga pasaran produk tanaman komoditas ekspor seperti karet, kopi
sedang anjlok. Saat itu produksi beras juga rendah dan tidak mencukupi untuk penduduk
Sumatera Barat.

24.244 / Br – 06
Zed, Mestika. 1984.
Kolonialisme, Pendidikan dan Munculnya Elit Minangkabau Moderen : Sumatera Barat
Abad Ke – 19. Jakarta: Pidsn.
27 Hlm.
Buku ini berisi tentang masalah kolonialisme, pendidikan, dan munculnya elit Minangkabau
Moderen (Sumatera Barat) abad ke–19.

2839 / M – 07
Noer, M, dkk. 1992.
”Peninggalan Aliran Syiah di Sumatera Barat dalam Perspektif Historis”. Padang.
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
i + 34 Hlm.
Laporan penelitian ini berisia tentang perkembangan Islam dan sejarah perpektif peninggalan
Aliran Syiah di Sumatera Barat.

172
SEJARAH

45/3 / M – 07
Zaiyardam. 1988.
“Muara Faham Nasionalisme Indonesia di Minangkabau Pada Awal Abad 20”.
Padang. Fakultas Sastra Universitas Andalas.
ii + 58 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang awal Nasionalisme di Indonesia dan gejolak di
Minangkabau pada awal abad 20.

3076 / M – 07
Djuir, M. 1993.
“Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan Sumatera Barat 1945- 1950”. Padang.
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
iii + 38 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang tentara pelajar dalam perang kemerdekaan yang terjadi
di Sumatera Barat semenjak tahun 1945- 1950.

2195 / 5 – 07
Nur, Mhd. 1994.
“Orang Minangkabau dan Gerakan Paderi”. Padang Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
24 Hlm.
Buku ini berisi tentang gerakan Paderi di Minangkabau, gerakan pemurnian agama Islam,
jalannya perang, serta akhirnya perang Paderi juga disampaikan dalam buku ini.

512 / Prok. 03
Syafrizal. 1994.
“Kemerosotan Pranata Politik Lokal Minangkabau Masa Kolonial”. Padang. Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
iii + 40 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang domisi Kolonialisme Belanda di Minangkabau dan
juga masalah pranata politik lokal Minangkabau dan Kolonialisme.
`

Wid
Widjaja, I Wangsa. 1988.
Mengenang Bung Hatta. Jakarta: Haji Masagung.
xi + 292 Hlm.
Penulis buku ini menceritakan Bung Hatta dan kehidupannya. Mulai dari Bung Hatta
menjadi tokoh pergerakan sampai dengan perjalanan Bung Hatta semasa hidupnya. Warisan
Bung Hatta yang terbesar dan terpenting adalah Indonesia merdeka, dan warisan lainya
ialah cita-citanya dan ajaranya membangung negara adil dan makmur.

173
Koleksi BPKPSB

2076 / M – 07
Syafrizal. 1993.
“Studi Sejarah dan Dialog Keilmuan”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
10 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang masalah objek kajian ilmu sejarah dan dialog keilmuan.

806 / MK – 2010
Navis, A.A. 1999.
Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Jakarta. Gramedia Widiasarana
x + 550 Hlm.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan A.A Navis yang berisi tentang masalah sosial budaya
Minangkabau, kesusastraan, budaya dan agama, pendidikan dan generasi muda, budaya
dan politik serta tokoh- tokoh yang ada di Minangkabau.

187 / MK – 2010
Sidin, Nazar. 1994.
Apa Siapa? Padang : Pustaka Artaz.
xi + 257 Hlm. ISBN 979 – 8833-02-3
Penulis buku ini menceritakan riwayat hidup tokoh intelektual kelahiran Minangkabau. Di
antaranya Abdul Gaffar Ismail, K.H, Abdukl Gani, Drs, Abdul Hlm.im Alias Aleng, Abdul
Moeis, Abdul Raoef Soehoed, ir, Abdulatif, Drs, Abdullah Kamil, H, Achmad Tahir, Adnan
Kapau Gani, Adnil Hasnan Habid, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang diceritakan
dalam buku ini.

2344 / M – 2007
Adli, adrial. 1991.
“Perkembangan Tarekat dan Pengaruhnya dalam Gerakan Sosial di Minangkabau (
Sumatera Barat ) dan Jawa”. Padang. Fakultas Sastra Universitas Andalas.
21 hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang awal masuknya Islam dan perkembangannya di Indonesia.
Juga perkembangan tarekat serta pengaruhnya dalam gerakan sosial yang terjadi di
Minangkabau dan Jawa.

2224 / M – 2007
Abdnain, Syafnir. 1991.
“Sumpah Satie di Bukit Marapalam Perpaduan Antara Adat dengan Syarak”. Padang
: Fakultas Sastra Unand.
13 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang aspek penting dalam perkembangan Islam di
Minangkabau serta perpaduan antara adat dan agama. Kaum adat dan kaum agama
melakukan musyawarah di Bukit Marapalam untuk perpaduan antara adat dengan agama.

174
SEJARAH

3648 / M – 07
Suheimi, H.K. 2002.
Jangan Biarkan Setetes Air Kembali ke Laut. Padang : Anggrek Distributor.
viii + 207 hlm.
Buku ini berisi tentang Islam di tengah percaturan zaman, pernik kehidupan, menguraikan
kegelisahan manusia yang terbungkus dalam ’manusia, alam, masa depan’, dan juga
masalah catatan perjalanan yang pernah dilakukan oleh pengarang dengan pelajaran
berharga.

891 / M – 2003
Suheimi, H.K. 2002.
Nurhana : Lima Puluh Pituah Hidup. Padang: Anggrek Media.
viii + 207 hlm. ISBN 979- 96734-1-0
Buku ini berisi tentang optimisme dalam menerukan kehidupan dunia untuk berinvestasi
dalam kehidupan akhirat kelak, sebagaimana Islam mengajarkan kepada umatnya.

2450 / M – 07
Asnan, Gusti. 1991.
”Islam dan Adat Minangkabau”. Padang. Fakultas Sastra Universitas Andalas.
23 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang perkembangan adat dan agama serta perpaduan
antara adat dan agama di Minangkabau.

3706 / M – 07
Junir, Muhammad. 2003.
Gelitik dari Raja Hingga Tukang Cukur. Pasaman : Mita Luhur.
x + 198 hlm.
Buku ini merupakan kumpulan-kumpulan tulisan penulis, seputar agama, budaya, politik,
ekonomi, hukum,adat Minangkabau dan sosial kemasyarakatan yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.

320 / MK – 2010
Pandoe, Marthias, d. 1976.
Kepingan Kehidupan Pribadi Muhammad Hatta. Departemen. P dan K propinsi
Sumatera Barat.
11 hlm.
Buku ini berisi tentang masalah kehidupan pribadi tentang Muhammad Hatta.

175
Koleksi BPKPSB

990 / MK – 2010
Makmur, Erman. 1986.
Bunga Rampai Permuseuman dan Museum Adhityawarman. Padang. PP Sumatera
Barat.
xiii + 165 hlm.
Buku ini berisi tentang petunjuk-petunjuk dasar dan pengertian-pengertian mengenai
museum dan permuseuman. Buku ini menyinggung berbagai aspek dari museum dan
permuseunan, termasuk aspek definitive, historikal dan aplikatif; perkembangan museum
di dunia, di Indonesia dan di daerah ini. Juga petunjuk-petunjuk mengenai Museum
Adhityawarman Sumatera Barat.

995 / MK -2010
Ginarti. 1973.
Sejarah Pakaian. Jakarta
74 hlm.
Dalam hasil penelitian ini berisi tentang asal- usul dari pada pakaian dan perkembanganya
hingga dewasa ini dan akhirnya. Adapun pakaian yang dipaparkan bukanlah baju saja tetapi
meliputi suatu yang menutup tubuh manusia, jadi termasuk topi, ranbut, kaca, topeng, dan
perluasan-perluasan alainya seperti gelang, cincin, kalung, sepatu dan semua yang dipakai
oleh tubuh manusia. Dan juga pakaian daerah Indonesia dan asia juga dibicarakan dalam
buku ini.

1026 / MK – 2010
Gusti, Asnan, dkk. 1991.
“Sejarah Transportasi : Involusi Peranan Kereta Api di Sumatera Barat”. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
28 hlm.
Dalam hasil penelitian ini berisi tentang kehadiran transportasi di Sumatera Barat dari
sudut perspektif ilmu sejarah, yang di dalamnya terkandung peranan serta perkembangan
kereta api di Sumatera Barat.

2117 / M - 2007
Nopriyasman, dan Sabar. 1991.
“Pemerintahan Nagari dan Relevansinya dengan Perjuangan Otonomi di Daerah
Sumatera Barat 1956-1957”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
41 hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang keterlibatan elit pemerintahan nagari dalam perjuanagan
status dan ideologi otonomi yang telah berhasil menarik rakyat untuk berpartisipasi dalam
perjuangan otonomi di Sumatera Barat.

176
SEJARAH

918 / MK – 2010
Nur, Mhd. 1993.
“Dominasi Kebudayaan Pariaman di Kabupaten Agam dalam Perspetif Sejarah”.
Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
10 hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang dominasi unsur- unsur kebudayaan Pariaman di Kabupaten
Agam umumnya dan Tiku khususnya. Juga menekankan pada proses perkembangan
kebudayaan Pariaman dan Tiku dan salah satu wujud kebudayaan Pariaman, yaitu sistem
perkawinan, sistem organisasi kemasyarakatan, dan sistem keagamaan.

853 / MK – 2010
Navis, A.A. 1993.
Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik. Padang : Genta Singgalang
Press.
186 hlm.
Buku ini berisi tentang segi-segi masyarakat Minangkabau, serta nilai-nilai yang dapat
diberikan terhadap kehidupan nasional untuk masa depan. Dalam buku ini juga dipaparkan
tentang masyarakat Minangkabau dari peneliti yang berbeda. Namun, semuanya
memperlihatkan masyarakat Minangkabau hampir secara keseluruhan, nilai dan pola dasar,
norma dan lembaga sosialnya, dalam proses dialektika dengan segala permasalahan dan
implikasinya.

2008 / M – 2007
Fathurahman. 1991.
“Militer Elit Baru Masyarakat Minangkabau di Awal Kemerdekaan Republik
Indonesia”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
ii + 46 Hlm.,
Hasil penelitian ini berisi tentang perkembangan militer di Indonesia ( Minangkabau ) yang
tak terlepas dari perubahan yang timbul di tengah masyarakat. Pemerintahan ini terjadi
disebabkan kebijakan pemerintahan militer Jepang selama pendudukannya di Sumatera
Barat serta perkembangan Sumatera Barat di awal kemerdekaan RI.

2229 / M – 2007
Zulqaiyyim. 1997.
“Sejarah Kota Bukittinggi 1837-1942”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
28 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang sejarah kota Bukittinggi tahun 1937- 942, pada
masa itu pemerintahan Hindia- Belanda mulai menetapkan kota Bukittinggi sebagai pusat
administrasi pemerintahan di daerah dataran tinggi.

177
Koleksi BPKPSB

3D95 / M – 07
Asnan, Gusti, Syafrizal. 1992.
“Pajak di Sumatera Barat Awal Abad 20: Pengalaman Politik Ekonomi Belanda di
Minangkabau”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
37 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang kondisi sosial, ekonomi dan politik Minangkabau
sebelum abad 20 dengan pemerintahan kolonial Belanda. Juga langkah-langkah politik
yang ditempuh dan diterapkan oleh pemerintah Belanda dalam melaksanakan program
pajaknya.

3638 / M – 2007
Karsyah, Lindo. 2005.
Dari Gubernur M. Nasroen Sampai Zainal Bakar. Padang : Genta Singgalang Press.
278 hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah kepemimpinan sejarah masa lalu, mengungkap sejarah
kepemimpinan gubernur-gubernur Sumbar yang banyak mengandung nilai-nilai sejarah
kepemimpinan.

424 / MK – 2010
Mahyuddin, Suardi, dan Rahman Rustan. 2002.
Hukum Adat Minangkabau dalam Sejarah Perkembangan Nagari Rao-Rao : Ranah
Katitiran di Ujuang Tanduak. Jakarta: Citatama Mandiri.
Buku ini berisi tentang sejarah Minangkabau, peradilan adat Datuk Parpatih Nan Sabatang,
kasus-kasus adat Minangkabau, sejarah Negeri Rao-rao, sejarah pemerintahan, Islam dan
pendidikan, mata pencarian, olahraga, kesehatan, kegemaran, kesenian orang Minangkabau
dan bagian yang terakhir berupa serba-serbi.

00 / 66 /4/ 77
Rapani, dkk. 1967.
Sejarah Bangsa Dan Tanah Airku. Bukittinggi : Rapani
69 hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah Indonesia mulai dari penjajah masuk ke Indonesia sampai
Indonesia merdeka . Sengketa antara Indonesia dan Malaysia juga diceritakan dalam buku
ini.

2588 / M – 2007
Sulastri, dkk. 1993.
“Asal-Usul Nama-Nama Tempat di Minangkabau”. Fakultas Sastra Unand : Padang.
33 Hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang asal–usul penamaan suatu tempat (daerah) di
Minangkabau.

178
SEJARAH

065 / MK – 2010
Katkova, Irina. R. dan Pramono. 2009.
Sufi Saints Of Sumatra Alliya Sumatra. Academy of Culture’s Research ,Saint-
Petersbung.
120 hlm. ISBN 978-5- 903931-34-7
Buku ini berisi tentang Sejarah ringkas Auliyah allah Asalihin Shekh Abdurrauf (Shekh
Kuala) Pengembangan Agama Islam di Aceh yang ditulis oleh Sheikh’ Abd al – Manaf
Amin al – Khatib (1922-2006).

070 / MK – 2010
Idris, Samad. A. 1990.
Payung Terkembang. Kuala lumpur : Pustaka Budiman.
457 hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah antara Malaysia / Indonesia dan Negeri Sembilan /
Minangkabau. Orang-orang Negeri Sembilan tentunya ingin mengetahui asal-usul negeri
nenek moyangnya. Manakala orang Minangkabau mengetahui apa yang telah berlaku
kepada nenek moyangnya yang telah merantau jauh sejak beratus tahun yang lalu.

015/ MK-2010
Saleh, B.A. 2007.
Seri Pahlawan Nasional : Muhammad Hatta. Bandung : Citra Praya.
iv + 115,. ISBN 979- 9281-64-4
Buku ini berisi tentang kisah perjalanan hidup dan perjuangan para pahlawan nasional.

914 / Prok – 2003


Kiram, Abdul. dan Kiram, Yeyen. 2002.
Raja-Raja Minangkabau dalam Lintasan Sejarah. Padang : Museum Aditiyarman.
251 hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah para raja-raja yang ada di Minangkabau.

3863 / H – 2010
Mardanas, Izarwisma. 1981.
Marah Rusli : Hasil karya dan Pengabdiannya.Jakarta : Proyek IDSN
xii + 65 Hlm.
Buku ini berisi tentang riwayat hidup Marah Rusli, pengabdian terhadap bangsa Indonesia
dan karya sastra dikarang oleh Marah Rusli.

179
Koleksi BPKPSB

023 / MK – 2010
Schrieke, B.J.O. 1973.
Pergolakan Agama di Sumatera Barat. Jakarta : Brahtara.
89 Hlm.
Buku ini berisi tentang perselisihan kaum muda dan lawan-lawannya di Sumatera Barat.
Meskipun demikian tidak luput dari perhatian alim ulama, namum di dalam kehidupan
biasa orang melihat bahwa pengolaan ini dengan sangat sengitnya diarahkan kepada hal
yang tidak penting.

Gusnidar,2006.
Derap Langkah Perjuangan Khatib Sulaiman.Klaten,CV.Media Pustaka.
ix+121 Hlm.
Dalam buku ini berisi tentang Khatib Sulaiman dan berbagai peristiwa yang dilalui.
Berisi bab-bab Januari Yang Kelabu, Mengenal Sang Pejuang, Padang Panjang Basis
Perjuangan Khatib Sulaiman, Derap Perjuangan di Zaman Belanda, Pembuangan ke Kota
Cane, Perjuangan di Zaman Jepang, Gema Proklamasi, Tersandung Seratus Rupiah Jepang,
Pernik-Pernik Perjuangan Setelah Proklamasi, Subuh Beranda di Lurah Kincir, Khatib
Sulaiman di Mata Kawan dan Lawan.

Tim Peneliti Sejarah dan Nilai Tradisional. 2003.


Masa Revolusi di Bengkulu 1945-1950. Padang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional.
vi + 75 Hlm. ISBN 979- 9388- 30-9
Buku ini berisi tentang inventarisasi dan rekontruksi sejarah perjuangan kemerdekaan di
Bengkulu, sebuah periode bangsa Indonesia baru saja menikmati kebebasannya. Sebuah
revolusi telah terjadi sekaligus menumbuhkan kesadaran baru. Tiba- tiba sekutu diboncengi
NICA sebagai pemenang perang merasa berhak berkuasa kembali hingga kontak senjata
tidak dapat dihindari.

25. 378 / Br – 06
Nain, Syafnir Aboe. 1990.
”Gerakan Pembaharuan di Minangkabau Abad ke-18”. Bandung : Fakultas Sastra
Unpad
49 Hlm.
Hasil penelitian ini berisi suatu studi naskah Fakih Saghir yang berisi tentang gerakan
pembaharuan di Minangkabau abad (1784-1803), sesudah itu Tuanku Haji Miskin
menyebarkan ide pembaharuan yang lebih radikal Minangkabau setelah ia menyaksikan
sendiri pembaharuan wahabi yang dilakukan di mekkah pada tahun 1803.

180
SEJARAH

069 / MK – 2010
Kahim, Audrey.1979.
Perjuangan Kemerdekaan. Cornell University.
xiv + 353 Hlm.
Dalam buku ini menceritakan perjuangan kemerdekaan Sumatera Barat dalam revolusi
Nasional Indonesia ( 1945-1950 ). Peristiwa-peristiwa di Sumatera Barat dalam menegakkan
proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Bagaimana usaha-usaha lokal untuk
menciptakan tentara nasional, tertib politik dan pemerintahan.

029 / MK- 2010


Zed, Mestika. 1986.
Reaksi Minangkabau Terhadap Kolonialisme Belanda Abab XIX ( terjemahan) IKIP.
Padang.
v + 128 Hlm.
Dalam buku ini berisi tentang reaksi orang-orang Minangkabau terhadap kehadiran
kekuatan kolonial Belanda sejak pertengahan abad ke 19. Segera setelah Sumatera Barat
ditaklukannya dalam tahun 1837, Belanda membutuhkan kelompok orang-orang terpelajar
dari kalangan penduduk setempat untuk ditempatkan dalam birokrasi pemerintahan balanda.

410 / MK- 2010


Asnan, Gusti. 1992.
”Padang Akhir Abad XIX dan Awal Abad XX: Profil Kota Kolonial”. Padang :
Fakultas Sastra Unand.
49 Hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang gambaran Kota Padang sebelum abad XX dan setelah
abad XX.

2455 / M- 2007
Syafrizal. 1991.
“Proses Masuknya Islam Ke Minangkabau”. Padang : Fakultas Sastra Unand.
15 Hlm.
Dalam laporan penelitian ini berisi tentang proses masuknya Islam ke Minangkabau.
Adapun mulai proses perkembangan Islam di Indonesia dan Minangkabau bermula dari
kontak perdagangan. Mulai dari abad 6 ketika Sumatera Barat menjadi pusat perdagangan
utama di Indonesia, ketika itu Islam mulai masuk Ke Minangkabau dan berkembang
dengan pesat.

181
Koleksi BPKPSB

366 / MK – 2010
Basa, B. Datuak Nagari. 1966.
Tambo dan Silsilah Adat Minangkabau. Payakumbuh : Elenora.
140 Hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah Minangkabau dan silsilah adat Minangkabau secara lengkap.

632 / Prok – 03
Adli, Adrial. Tt.
Tinjauan Beberapa Sumber Belanda Bagi Penulisan Sejarah Minangkabau.
18 Hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang suatu tinjauan beberapa sumber Belanda untuk penulisan
sejarah Minangkabau.

265 / MK – 2010
Ananda, M.A. Maya. 1984.
Pertempuran di Situjuh Batur Sumatera Barat. Jakarta: Rosda Jayaputra.
76 Hlm.
Buku ini berisi sejarah pertempuran di Situjuah Batur Sumatera Barat.

411 / MK – 2010
Adli, Adrial. 1999.
“Kebudayaan Minangkabau Versus Globanisasi”. Padang : Fakultas Sastra Unand.
6 Hlm.
Buku ini berisi tentang kebudayaan Minangkabau menyongsong era globanisasi 2010.

Asnan, Gusti. 2007.


Pemikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
xxvi + 264 Hlm.,
Buku ini berisi tentang pengalaman menyeluruh Sumatera Barat sepanjang dasawarsa
1950-an. Adapun pengalaman yang dimaskud antara lain berkaitan dengan berbagai
pemikiran warga daerah melihat dirinya dan posisi dirinya dalam RI yang masih muda
belia, hubungan dengan pemerintah pusat dan hubungan dengan daerah bawahanya. Juga
perlawanan terhadap pemerintah pusat.

182
SEJARAH

384 / MK – 2010
Amran, Rusli. 1986.
Padang Riwayatmu Dulu. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
335 Hlm.
Buku ini berisi tentang pertumbuhan dan perkembangan kota padang semenjak masa
dulu. Banyak mengadung literatur tentang kota Padang yang bisa dilihat oleh masyarakat
sekarang.

484 / MK – 2010
Narny, Yenny. 2000.
“Wilayah Pesisir, Laut, dan Ilmu Sejarah”. Padang : Fakultas Sastra Unand.
9 Hlm.
Makalah ini berisi masalah pesisir dan laut di Indonesia yang telah banyak persoalan
menyimpang.

3899 / M - 07
Westenenk, L.C. 1982.
Karangan-Karangan Minangkabau. Padang: Museum Negeri Adityawarman.
20 Hlm.
Buku ini merupakan terjemahan dari judul aslinya “Jpstellen over Minangkabau” yang
berisi tentang Koemanih dan Soempoe Koedoeih, dan Rajo nan Tigo Selo.

3832 / M – 07
Meuraxa, Dada. 1974.
Sejarah Kebudayaan Sumatera. tp
832 Hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah kebudayaan Sumatera yang meliputi kebudayaan aceh,
Minangkabau, Riau, Melayu, Jambi, Bengkulu, Palembang dan Lampung.

1286/MK/-2010
Kunp, P.H. Van Du. 1814.
”Sumatera Barat Menurut Tractaat London”. tp
34 Hlm.
Tulisan ini merupakan sebuah paper yang berisikan tentang perjalanan Dui Pny yang tak
berhasil dalam bulan Mei-juni 1818 untuk mengambil alih Padang.

183
Koleksi BPKPSB

583/prok-03
Zulqaiyyim, dkk. 2000.
”Peta Sejarah Sumatera Barat (Minangkabau) 1821-1962”. Padang: Lembaga
Penelitian Unand.
13 Hlm.
Sebuah hasil penelitian yang berisikan tentang peta sejarah yang melukiskan peristiwa yang
terjadi pada setiap episode sejarah dalam wilayah geografis Sumatera Barat (Minangkabau).

2070/M-07
Syafrizal. 1993.
”Studi Sejarah dan Dialog Keilmuan”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
10 Hlm.
Penelitian mandiri ini berisikan tentang revisi persepsi tentang objek ilmu sejarah dan revisi
terhadap metode yang telah berkembang.

2641/m-07
Zulqaiyyim. 1996.
”Perkembangan Sistem Pemerintahan Hindia Belanda di Padang Darat pada Abad
ke-19 dan Awal Abad ke-20”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
15 Hlm.
Penelitian ini berisikan tentang sejarah masa perang Paderi dan gejolak yang dihadapi
penghulu.

2111 / M – 07
Nopriyasman., dan Sabar. 1991.
”Pemerintahan Nagari dan Relevansinya dengan Perjuangan Otonomi di daerah
Sumatera Barat (1956-1957)”. Padang: Fakultas Sastra Unand.
41 Hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang elite pemerintahan nagari dan perjuangan otonomi di
daerah di Sumatera Barat.

408 / MK-2010
Mangiang, Aswar Dt. 1991.
Piagam Bukik Marapalam. Padang : Fakultas Sastra Unand.
20 Hlm.,
Buku ini berikan tentang konflik antara kaum paderi dengan kaum adat. Konflik terbuka ini
berakhir dengan suatu konsesus yang dicapai di antara pemuka adat dengan pemuka agama
yang diadakan di Bukit Marapalam.

184
SEJARAH

360 / MK- 2010


Idris, Abdul Saman Bin. 1970.
Hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan. Seremban : Pustaka Asas Negeri.
40 Hlm.
Buku ini berisi tentang hubungan Minangkabau dengan negeri Sembilan. Adapun
penyelidikanya dilihat dari asal-usul rakyat Negeri Sembilan yang datang dari Minangkabau.

256 / MK- 2010


Imran,Amrin.dkk. 2003.
Paderi dalam Perang Kemerdekaan. Jakarta : Citra Pendidikan.
xxxi + 333 Hlm. ISBN 979-96217-1-2
Buku ini membahas tentang perjalanan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
mengalahkan Pemerintahan Belanda dalam perang kemerdekaan.

672 / Prok – 03
Hadi, Wisran. 1990.
“Silsilah Keturunan Raja Pagaruyung dan Kerabat Diraja Negeri Sembilan”. Padang:
Fakultas Sastra Unand.
15 Hlm.
Penelitian ini berisi tentang Silsilah Raja Pagaruyung dan Silsilah Kerabat Diraja Negeri
Sembilan serta permasalahan dalam studi silsilah.

194 / MK- 2010


Noer, Deliar.
Mohammad Hatta Biografi Politik. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi dan Sosial. tp
xiv + 778 Hlm.,
Buku ini berisi tentang perjalanan hidup Bung Hatta dengan segala sifat, watak, pemikiran,
cita-cita serta gaya hidup dan perjuanggannya, termasuk pergulatan hati, hidup dan
kehidupannya.

397 / MK- 2010


Nazif, Mohammad. t.t.
Sumpah Indonesia Raja. Indonesia. N.V. Nusantara.
48 Hlm.
Buku ini berisi tentang uraian tentang rumusan dan wujud sumpah pemuda tanggal 28
oktober 1928 untuk membentuk Indonesia yang merdeka.

185
Koleksi BPKPSB

200 / MK- 2010


Joenoes, Marak. Mr.H.
Sutan Mohammad Rasjid. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
xv + 114 Hlm. ISBN 979-9331-34-3
Buku ini berisi tentang biografi Mr. H. Sutan Mohammad Rasjid. Adapun perjalanan
hidupnya mulai tahun 1946, Rasjid menjadi residen Sumatera Barat, perintis kemerdekaan,
hinga menjadi Gubenur Militer Sumatera Tengah, dan juga sebagai duta besar RI di Roma
serta menjadi penengah Bintang Mahaputra Adipradana.

214 / MK- 2010


Kutoyo, Sustrino. 2004.
Seri Pahlawan Muhammad Yamin. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
330 Hlm.
Buku ini berisi tentang biografi tokoh Prof. H. Muhammad Yamin SH. dalam wujud yang
manusiawi (humas ; menselijk); satu dan hal lain. Mulai dari kehidupan keluarga dan
pendidikannya sampai dengan akhir perjuanganya.

521 / MK-2010
Asmuni, marlely. 1984.
Sariamin Ismail : Hasil Karya dan Pengabdiannya. Dpnk.
137 Hlm.,
Buku ini berisi tentang biografi Sariamin Ismail mulai dari pengabdiannya terhadap bangsa
Indonesia serta karya-karya yang dilahirkannya.

201/ MK- 2010


Penerbit. 1983.
Kenangan-kenangan 70 Tahun Buya Hamka. Jakarta : pustaka panjimas.
xxviii + 537 Hlm.
Buku ini berisi tentang kumpulan tulisan dari berbagai pengarang tentang Buya Hamka.
Seperti tulisan Mohammad Hatta, M. Yunan Nasution, Dr. Deliar Noer, A.R. Hajat, H.B.
Jassin, Nurcholish Madjid, Sambutan pers dan masih banyak lagi pengarang-pengarang
yang menceritakan Buya Hamka dalam buku ini.

Widjaja, I. Wangsa.
Mengenang Bung Hatta. Jakarta : Yayasan Masagung.
xi + 292 Hlm.
Buku ini berisi tentang biografi Bung Hatta mulai menjadi tokoh pergerakan, politikus dan
negarawan, ilmuan, dosen yang disegani mahasiswa, bapak koperasi, hubungan dengan

186
SEJARAH

orang lain, karakternya serta sekelumit catatan perjalanannya.

795 / MK- 2010


Welmar. 1995.
Mengenang Mahaputra Muhammad Yamin Pahlawan Nasional RI. Bukittinggi : Kristal
Multimedia.
47 Hlm.
Buku ini berisi tentang perjalanan Muhammad Yamin mulai dari masa kecil dan
pendidikannya sampai pemikiran-pemikiran Muhammad Yamin yang jauh ke depan.

4747 / M – 07
Abu, Rifai dan Suhadi, Abdullah. 1976.
”Chatib Sulaiman”. Jakarta. Proyek Biografi Pahlawan Nasional.
44 Hlm.
Hasil penelitian ini berisi tentang bahan-bahan data riwayat hidup serta riwayat perjuangan
Chatib Sulaiman yang dicalonkan sebagai Pahlawan Nasional.

211 / MK- 2010


Ilyas, Muslim. 1984.
Riwayat Perjuangan Bagindo Aziz Chan Di Kota Padang. Padang.
vi + 90 Hlm.
Buku ini berisi tentang riwayat perjuangan Bagindo Azis Chan melawan Belanda demi
mempertahankan tanah kelahirannya.

199 / MK- 2010


Kartodirjo, Sartono. 1992.
Peranan Bung Hatta dalam Pembangunan Bangsa. Padang : Bung Hatta University
Press.
28 Hlm.
Buku ini berisi tentang peranan Bung hatta dalam pembangunan bangsa dan riwayat
hidupnya.

196 / MK- 2010


Panitia Buku . 1978.
Mohammad Roem 70 Tahun Pejuang Perunding. Jakarta : Bulan Bintang.
xii +414 Hlm.

187
Koleksi BPKPSB

Buku ini berisi tentang rangkaian peristiwa dan perjalanan hidup Mohammad Roem dan
berbagai kata sambutan dari berbagai pengarang tentang Mohammad Roem.

3908 / M- 07
Hamidy, Zainuddin. t.t.
Seperempat Abad A’had Islam Pajakumbuh. tp
123 Hlm.
Buku ini berisi tentang deskripsian tentang sekolah Ma’had Islamy yang terdapat di
Payakumbuh.

CB-D3-03-189
Asnan, Gusti, dkk. 2003.
Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Solok: 1945-1949. Solok: DHD 45 Sumbar dan
Pemda Solok.
312 Hlm., ISBN: 979-98100-0-0
Buku ini menceritakan sejarah perjuangan rakyat Solok menghadapi agresi militer Belanda
II. Proses pembentukan laskar rakyat, basis PDRI, pertempuran-pertempuran di daerah
Solok selama mempertahankan kedaulatan Indonesia yang sedang terancam.

MK-959.813
Anonyswan (ed). 2007.
Latar Sejarah Indo Julito, Bundo Kanduang di Minangkabau. Batu Sangka: CV. Sarana
Wisata Enterprise.
vii+144 Hlm.
Buku ini bercerita tentang perjalanan Iskandar Zulqarnain dari Yunani hingga Macedonia,
dikatakan bahwa Bundo Kanduang di Minangkabau adalah keturunan Iskandar Zulqarnain
yang telah berhasil menaklukan Yunani, Sparta, dan daerah kerajaan lain dan kemudian
dia terdampar di Pulai Perca. Kemudian kisah banjir Nabi Nuh juga diceritakan di sini
mempunyai kemiripan cerita dengan banjir besar yang pernah terjadi di daerah lain di dunia
dan di dalam kebudayaan yang berbeda.

434/MK-2010-959.813 03
Asnan, Gusti. 2003.
Kamus Sejarah Minangkabau. Padang: PPIM.
xxix+380 Hlm., ISBN: 979-97407-0-3
Buku ini bercerita tentang hasil peninggalan kebudayaan dari zaman dahulu. Dari hasil
peninggalan sejarah itu banyak mengandung istilah-istilah yang tidak bisa dippahami oleh
orang Minangkabau sekarang. Dalam buku ini ppenulis mengahdirkan 350 entri istilah
Minangkabau bersejarah yang ditulis dengan ringkas serta komunikatif.

188
SEJARAH

404/MK-2010.
Ajisman dan Almaizon. 2004.
Bangunan Bersejarah di Kabupaten Tanah Datar. Padang: BKSNT Padang.
x+75 HLM., ISBN: 979-9388-49-x,
Buku ini menceritakan dan mendeskripsikan bangunan-banguan yang bersejarah di
Kabupaten Tanah Datar. Benteng-benteng peninggalan zaman penjajahan, rumah tua,
surau, menumen perjuangan, sekolah pertama di tanah datar, masjid dideskiripsikan secara
detil dalam buku ini.

Amran, Rusli. 1988.


Sumatra Barat, Pemberontakan Pajak 1908 (bagian ke- 1 Perang Kamang). Jakarta:
PT (persero) Gita Karya.
302 hlm., ISBN: 322.420 959 813 3
Buku ini bercerita tentang peristiwa Perang Kamang dan dilengkapi dengan daftar lampiran
berupa foto dan daftar nama-nama pelaku sejarah.

254/MK-2010
Amram, Rusli. 1981.
Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
652 Hlm.
Buku ini berisikan sejarah Sumatra Barat dimulai dari perjanjian Plakat Panjang. Bagaimana
tipu muslihat dan permainan Inggris juga dijelasakan secara sederhana dalam buku ini.

384/MK-2010
Amram, Rusli. 1986.
Padang Riwayatmu Dulu. Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya.
335 Hlm.
Buku ini menceritakan riwayat Kota Padang tempo dulu. Dimulainya hadirnya orang
Indo di Padang, Regen terakhir, raja terakhir, Tuanku Lareh dan mantri, terakhir hadirnya
masyarakat Jawa di kota Padang.

250/MK-2010
Amram, Rusli. 1985.
Sumatra Barat Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
339 Hlm.
Buku ini berisikan sejarah Sumatra Barat dimulai dari perjanjian Plakat Panjang. Bagaimana
tipu muslihat dan permainan Inggris juga dijelasakan secara sederhana dalam buku ini.

189
Koleksi BPKPSB

M-959.813
Caniago, Naali Sutan. 1979.
Naskah Tuanku Imam Bonjol.
350 Hlm.
Naskah ini bercerita tentang perjalanan Tuanku Imam Bonjol yang disadur dari naskah arab
melayu dan alih tulisan oleh Sjafnir (anak naali Sutan Caniago). Buku ini menceritakan
sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik yaitu Tuanku Imam
Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yag beraliran wahabi hingga pecahnya perang
PADRI.

25/MK-2010
Etek, Azizah, Mursjid, dan Arfan. 2007.
Koto Gadang Masa Kolonial. Yogyakarta: LkiS.
xxii+322 Hlm., ISBN: 979-1283-29-X
Buku ini mengisahkan keseharian kehidupan masyarakat Koto Gadang semasa pendudukan
Kolonial. Penulis memulainya dengan kebudayaan sehari-hari masyarakat seperti
perkawinan, pelaksanaan hukum serta undang-undang. Kemudian secara berangsur-angsur
Belanda terlibat, sehingga Tuanku Lareh terjun ke masyarakat, pembentukan Volkstrad,
hingga perjuangan kembali merebut HIS.

178/MK-2010
Fatmah, Siti (dkk). 2007.
Bagindo Aziz Chan, 1910-1947 Pahlawan Nasional dari Kota Padang.
xxiv+222 Hlm., ISBN: 978-979-3458-14-4
Buku ini bererita tentang kisah perjuangan Bagindo Aziz Chan seorang walikota Padang di
masa pendudukan sekutu di Padang. Akibat kegigihan Aziz Chan dalam mempertahankan
dan melawan sekutu, beliau dibunuh oleh sekutu dalam rekayasa tipu muslihat.

Gusnaidar. 2006.
Derap Langkah Perjuangan Khatib Sulaiman. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional Pusat Perbukuan.
x+122 Hlm., ISBN: 979-1198-01-2
Buku ini menceritakan perjuangan dan pengabdian anak bangsa terhadap tanah airnya.
Dialah Khatib Sulaiman, pada suasana sedih dan gerimis di Situjuah Batua beliau tewas
dalam sergapan tentara Belanda akibat penghianatan salah seorang anak bangsa yang haus
uang.

190
SEJARAH

189/MK-2010
Hamka. 1971.
Di antara Fakta dan Hayal Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang.
359 Hlm.
Buku ini berisikan fakta sejarah yang dikemukan Hamka, untuk menghadapi segala
tuduhan yang dilemparkan Onggang Parlindungan terhadap tokoh Minangkabau dan adat
kebudayaannya. Secara sadar dan arif Hamka mendeskripsikan kebenaran sejarah yang
pernah dia alami, dan dia juga menjelaskan siapa sebenarnya Tuanku Rao. Dikatakn
kemudian buku ini menjadi salah satu polemik Onggang Parlindungan dengan Hamka.

Parlindungan, Onggang. 1971.


Tuanku Rao. Tanjung Pengharapan.
691 Hlm.
Buku ini bercerita tentang fakta sefihak yang telah dikumpulkan oleh Onggang Parlindungan,
untuk memukul dan menceraiberaikan garis keturunan Rasulullah. Sasaran pertamanya
adalah Minangkabau.

145/MK-2010
Hasan, Ismael. 2002.
Hari-hari Terakhir PDRI Lahirnya Tugas dan Perjuangan. Jakarta: Panitia Peringatan
54 tahun PDRI.
130 Hlm.
Buku ini menceritakan lahirnya PDRI dan tugasnya memenyelamatkan kemerdekaan
Bangsa Indonesia. Dengan bergerilya di hutan rimba para tokoh PDRI telah berhasil
menyelamatkan pemerintahan RI. Kemudian penghargaan-pengharaan yang diberikan
pada tokoh PDRI dan Sumatra Barat sendiri sebagai tempat berdirinya PDRI.

213/MK-2010
Ilyas, Muslim. 1984.
Riwayat dan Perjuangan Aziz Chan. Jakarta: PT. Telaga Gunung.
90 Hlm.,
Buku ini bererita tentang kisah perjuangan Bagindo Aziz Chan seorang walikota Padang di
masa pendudukan sekutu di Padang. Akibat kegigihan Aziz Chan dalam mempertahankan
dan melawan sekutu, beliau dibunuh oleh sekutu dalam rekayasa tipu muslihat.

Iriana, dkk. 1993.


‘’Ilmu Sejarah dan Pandangan Calon Mahasiwa di SMA IV Lubuk Basung’’. Hasil
penelitan. Padang: Universitas Andalas.
29 hlm.

191
Koleksi BPKPSB

Laporan ini bercerita tentang pandangan calon mahasiswa terhadap ilmu sejarah sebagai
sarana atau salah satu cabang ilmu lanjutan di jenjang strata 1 di Perguruan Tinggi.

232/MK-2010
Joustra, M. 1923.
Overzicht Van Land, Geschiedenis En Volk. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
217 Hlm.
Buku ini dikarang oleh orang Belanda. Dia mengumpulkan segala pengalamannya selama
berada di Ranah Minang. Tulisannya yang terperinci mampu menjelaskan Minangkabau
hampir secara keseluruan. Tetapi yang jelas, penulis buku ini melihat Minangkabau dari
kaca mata kebelandaannya.

MK-959.813
Kiram, Abdul dan Yeyen Kiram. 2003.
Raja-raja Minangkabau dalam Lintasan Sejarah. Padang: Musium Adityawarman dan
MSI Padang.
251 Hlm.
Buku ini bercerita tentang beberapa unsur, pertama Minangkabau pada masa klasik, dua
perkembangan, tiga hubungan luhak dengan rantau, dan empat raja-raja Minangkabau serta
keturunannya.

249/MK-2010
Kahim, Audrey. 1979.
Perjuangan Kemerdekaan; Sumatra Barat dalam Revolusi Nasional Indonesia, 1945-
1950. Padang: MSI Cabang Sumbar.
xiv+352 Hlm.
Buku ini bercerita tentang perlawanan pejuang kemerdekaan di Sumbar terhadap penjajahan.
Diceritakan dari reaksi masyarakat Minangkabau itu sendiri terhadap penjajahan,
pendudukan Jepang, berdirinya pemerintahan revolusioner, kedatangan Inggris dan Belanda
untuk kedua kalinya, konflik internal, ekonomi perjuangan, usaha integrasi, serangan dan
balasan, serta gencatan senjata.

221/MK-2010
Kusuma, Nila. 1982.
Siti, Srikandi dari Mangopoh. Bandung: Aqua Press.
94 Hlm., seri No. 059/AP/NA/X/82
Buku ini menceritakan kisah Siti cikal bakal pejuang wanita dari Mangopoh. Sejak kecil Siti
sudah dibsarkan dengan lingkungan keras, belajar silat, mengaji, berladang dan bersawah.
Sehingga setelah besar, Siti tinggal hanya melaksanakan pelajaran yang telah diterimanya

192
SEJARAH

selama ini. Siti berhasil menjadi sosok pejuang wanita yang sangat ditakuti Belanda di
masanya.

215/mk-2010
Kutoyo, Sutrisno. 2004.
Prof. H. Muhammad Yamin SH; Cita-cita dan Perjuangan Seorang Bapak Bangsa.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
330 Hlm., ISBN: 979-9331-54-4
Buku ini menceritakan sejarah seorang tokoh bangsa M. Yamin. Sejarahnya dimulai dari
masa pendidikannya, pergaulan, organisasi, sumpah pemuda politik. Kemudian Yamin
terlibat perjuangan pada masa pendudukan Jepang hingga perkenalannya dengan Tan
Malaka.

Regitrasi: 164/MK.2010
Latief, Awaludin. 1997.
Kisah Nyata Pada Masa Revolusi: Kepahlawanan, Tragedi, Cinta, dan Pengorbanan.
Jakarta: SL
104 Hlm.
Buku ini bercerita tentang kisah perjuangan Awaludin Latief yang dengan segenap tenaga ikut
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di dalam pergerilyaannya beliau menggunakan
senata seadanya, sepeti badia balansa, kasiak balado, dan senjata bekas perang dunia II
yang direbut dari tangan jepang.

MK-959.813.8
Mintaraga, Mulyadi. 1986.
Api Perjuangan Kemerdekaan di Kota Padang. Jakarta: PT Songo Abadi Inti.
176 Hlm.
Buku ini menceritakan kegigihan para patriot bangsa mempertahankan kemerdekaan
Indonesia di Sumatera Barat sampai pada titik darah penghabisan. Waktu ini termasuk salah
satunya Brigjen Polisi (Purn.) Jhony Anwar. Sebagai kepala polisi pada masa walikota
Bagindo Aziz Chan, Jhony telah banyak memainkan peranan besar. Di samping polisi,
selama pensiun dia juga telah menuliskan kisah perjuangannya melawan Belanda di Padang.

171/MK-2010
Naim, Sjafnir Aboe. 2004.
Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM.
xiii+318 Hlm., ISBN: 979-3797-05-3
Buku ini disadur dari naskah arab melayu yang ditulis oleh anak Naali Sutan Caniago. Buku
ini menceritakan sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik

193
Koleksi BPKPSB

yaitu Tuanku Imam Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yang beraliran wahabi
hingga pecahnya perang PADRI.

M-959 813
Naim, Sjafnir Aboe. 1988.
Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau, 1784-1832. Padang:
ESA Padang.
xviii+158 Hlm.
Buku ini disadur dari naskah arab melayu yang ditulis oleh anak Naali Sutan Caniago. Buku
ini menceritakan sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik
yaitu Tuanku Imam Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yag beraliran wahabi
hingga pecahnya perang PADRI.

M-920
Rabaatin, Bahauddin.
A Great Hero; Pahlawan Besar.
20 Hlm.
Buku ini bercerita tentang jasa-jasa Muh. Yamin dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa
Indoesia, sehingga penulis buku ini menamakannya dengan a great hero.

242/MK-2010
Salim, Ampera dan Zulkifli. 2005.
Minangkabau dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Padang: Citra Budaya.
xi+184 Hlm., ISBN: 979-3458-03-8
Buku ini bercerita tentang kealpaan kita anak bangsa, kealpaan terhadap adat dan kebudayaan
Minangkabau, dan mungkin sebuah kealpaan pemerintah terhadap Minangkabau itu sendiri
yang notabene cukup andil dalam kemerdekaan RI.

220/MK-2010
Soebagijo. 1985.
Riwayat Hidup dan Perjuangan H. Zainal Abidin Ahmad. Jakarta: Pustaka Antara,
218 Hlm.
Buku ini berisiskan riwayat seorang tokoh dari Minangkabau yaitu Zaial Abidin Ahmad.
Sejarahnya dimulai dari masa kecil di kampung, masuk sekolah thawalib, terju kemasyarakat
dan langsung mengibarkan panji Islam, juga bersentuhan dengan masanya PKI. Pada masa
hidupnya Zainal Abidin adalah seorang pendakwah yang disegani di kalangan nasional dan
daerah.

194
SEJARAH

959.813
………,……
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau, 1945-1950.
1978. Jakarta: Badan Pemurnian Sejarah Indoesia-Minangkabau.
695 Hlm.
Buku ini menceritakan dengan detail tentang sejarah perjuangan Republik di daerah
Minangkabau, mulai sejak masuknya Belanda, Jepang, NICA atau sekutu untuk kembali
menjajah Indonesia keseluruhan.

204/MK-2010
Thaib, Maisir. 1955.
Tuanku Imam Bonjol. ……..,……
Buku ini bercerita tentang sejarah perjuangan Tuanku Imam Bonjol semasa hidupnya
melawan tentara Belanda.

222/MK-2010
Tasman, Abel (dkk). 2002.
Siti Mangopoh. Padang: Cita Budaya Indonesia.
xiii+108 Hlm., ISBN: 979-95830-7-1
Buku ini menceritakan kisah perjuangan seorang pejuang wanita dari ranah Minang
menentang kebijakan penjajah Belanda. Mangopoh perempuan pejuang yang nyaris
dilupakan oleh orde baru ternyata lebih heroik di medan perang menghadapi tentara
Belanda. Sebagai perempuan tangguh, dia mampu membuat Belanda bercerai-berai dari
pasukannya, sistem belasting kiranya telah mampu mengobarkan api perlawanan rakyat
mangopoh untuk mengusir penjajah dari tanah pertiwi.

246/MK-2010
Tasman, Abel (dkk). 2004.
Siti Mangopoh, Catatan Perjuangan Singa Betina. Padang: Cita Budaya Indonesia.
xiii+71 Hlm., ISBN: 979-95830-7-1
Buku ini menceritakan kisah perjuangan seorang pejuang wanita dari ranah Minang
menentang kebijakan penjajah Belanda. Mangopoh perempuan pejuang yang nyaris
dilupakan oleh orde baru ternyata lebih heroik di medan perang menghadapi tentara
Belanda. Sebagai perempuan tangguh, dia mampu membuat Belanda bercerai-berai dari
pasukannya, sistem belasting kiranya telah mampu mengobarkan api perlawanan rakyat
mangopoh untuk mengusir penjajah dari tanah pertiwi.

195
Koleksi BPKPSB

233/MK-2010
Yakub, Nurdin. 1991.
Minangkabau Tanah Pusaka; Sejarah Minangkabau Petama. Bukittnggi: CV
PUSTAKA INDONESIA.
47 Hlm.
Penulis buku ini mendeskripsikan sejarah Minangkabau yang dimulainya dari zaman
paleolitikum, neolitikum, perunggu, kekuasan Dipertuan Agung Di Pagaruyung, Negri
Sembilan, hingga masuknya Islam ke Nusantara.

338.749
Zed, Mestika, dkk. 2001.
Indaruang Tonggak Sejarah Industri Semen Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
xvii+406 Hlm., ISBN: 979-416-647-4
Buku ini bercerita tentang salah satu warisan ekonomi Belanda yaitu Semen Padang.
Perjalanan Semen Padang terlalu banyak mendapatkan gangguan salah satunya terjadinya
PD 1 dan pada masa PD II, Semen Padang telah banyak dimanfaatkan untuk pembangunan
benteng Jepang di daerah jajahannya. Tidak hanya pada masa pergolakan kemerdekaan,
Semen Padang telah mampu membangun Republik Indonesia menjadi bangsa yang tangguh
dan bermartabat.

MK-959.813
Amran, Rusli. 1981
Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta : Sinar Harapan.
652 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang kerajaan Minangkabau, masuknya bangsa Eropa ke
Minangkabau, masyarakat pesisir dan VOC, pertentangan Inggris dengan VOC di Sumatera
Barat, jatuhnya VOC, masalah perang Paderi, pelaksanaan cultuur-stelsel di Sumatera
Barat, dan penghianatan Belanda terhadap elit di Minangkabau.

MK-959.813 8
Sofwan, Mardanas. 1987
Sejarah Kota Padang. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah
Nasional.
Buku ini berisi lintasan sejarah kota Padang sampai tahun 1950, kota Padang dan
lingkungannya, struktur Kota Padang, pemerintahan Kota Padang sejak tahun 1950 dan
peranan kota Padang dalam bidang ekonomi.

196
SEJARAH

Koto, H. Basrizal. 2008


15 Kita Menjadi Saudagar. Pekanbaru : Riau Mandiri Press.
68 hlm.
Buku ini berisi 15 kita yang ditawarkan oleh Basrizal Koto untuk menjadi saudagar. Buku
ini didahului dengan beberapa uraian Mochtar Naim, Ginanjar Agustian, Asro Kamal Rokal
tentang sosok Basrizal Koto.

103/ MK-2010
Asnan, Gusti. 2003
Kamus Sejarah Minangkabau. Padang : Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau
(PPIM).
xxviii, 383 hlm.; 21 cm. ISBN 979-97407-0-3
Kamus ini berisi berbagai entri yang didasarkan pada aspek peristiwa, tokoh, lembaga
dan organisasi sosial, politik, ekonomi dan budaya khususnya serta berbagai peninggalan
kesejarahan pada umumnya yang terkait dengan keminangkabauan.

248/H-02
Tim Penulis. 1981.
Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat. Padang : Islamic
Centre Sumatera Barat.
Buku ini berisi sejarah 20 ulama besar Sumatera Barat terkait biografi dan sejarah
perjuangannya.

010/MK-2010
Marajo, Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando dkk. 2008.
Naskah Tuanku Imam Bonjol. Padang : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
vi + 318 hlm. ISBN 978-979-9388-91-9
Buku ini merupakan transliterasi dan terjemahan dari naskah Tuanku Imam Bonjol dari
Jawi ke Latin.

055/MK-2010
Rasyid, Fachrul. 2008
Refleksi Sejarah Minangkabau dari Pagaruyung sampai Semenanjung. Padang :
Museum Adityawarman.
xxiii + 123 hlm.
Buku ini berisi tentang uraian serba singkat tentang sejarah Minangkabau dari Kerajaan
Minangkabau sampai sistem pemerintahan.

197
Koleksi BPKPSB

086/MK-2010
Sayuti, M. Dt. Rajo Penghulu. 2003
Bung Hatta Suri Tauladan Kita: Cara Baik Bung Hatta. Padang : Mega Sari.
Buku ini berisi biografi Bung Hatta, khususnya tentang uraian tentang kehidupan sehari-
hari Bung Hatta.

097/MK-2010
Amir, Adriyetti. 2001.
Sejarah Ringkas Aulia Allah Al Shalihin Syeh Burhanuddin Ulakan; Pengantar dan
Transliterasi. Padang : PUITIKA.
Buku ini merupakan transliterasi naskah “Sejarah Ringkas Aulia Allah Al Shalihin Syeh
Burhanuddin Ulakan” yang ditulis oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.
Selain berisi transliterasi, buku ini juga menguraikan analisis singkat dari kandungan
naskah tersebut.

213/Br-99
Yusra, Abrar (Ed). 1997
Tokoh yang Berhati Rakyat; Biografi Harun Zain. Jakarta : Yayasan Gebu Minang.
xviii + 475. ISBN 979-8428-01-3
Buku ini menguraikan tentang biografi Harun Zen yang ditulis oleh beberapa orang yang
pernah mengenal sosok beliau.

MK-959.813
Armansyah dkk. 1991
“Malaise: Perubahan Sosial Budaya Minangkabau Tahun 1930-an”. Laporan
Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 37 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang penjelasan kondisi sosial, politik, dan ekonomi di
daerah Sumatera Barat sebelum peristiwa Malaise dan dampak peristiwa Malaise tersebut
terhadap kehidupan sosial dan politik di daerah Sumatera Barat.

MK-959.813
Irianna dkk, 1999.
“Tinjauan terhadap Pengaruh Kebudayaan Islam di Minangkabau Awal Abad XX”.
Artikel Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
Artikel ini menguraikan perubahan masyarakat Minangkabau setelah mendapat pengaruh
Islam.

198
SEJARAH

MK-959.813
May, Eni. 1995
“Chakel-Society dan Tumbuhnya Nasionalisme di Minangkabau Abad XIX”. Laporan
Penelitian. Padang “: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
iv + 23 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang latar belakang lahirnya golongan Chakel-Society di
Minangkabau dan lahirnya gerakan nasionalisme dari golongan ini.

MK-959.813
May, Eni. 1995
“Negeri Minangkabau di Zaman Nipon”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas
Sastra Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi penjelasan singkat masa penjajahan bangsa Jepang di
Minangkabau.

MK-959.813
Hadjerat, Hadji Mohammad. 1947
Sedjarah Negeri Kurai V Djorong Serta Pemerintahannja; Pasar dan Kota Bukittinggi.
Bukittinggi : Ichwan.
62 hlm.
Buku ini berisi uraian singkat tentang sejarah negeri Kurai V Jorong (Bukittinggi) dari
mulai zaman Belanda.

053/MK-2010
Kemal, Iskandar. 1971
Beberapa Studi tentang Minangkabau. Padang : Fakultas Hukum dan Pengetahuan
Masjarakat Universitas Andalas.
79 hlm.
Buku ini berisi tentang uraian beberapa aspek dari hukum kewarisan matrilineal ke bilateral
di Minangkabau, tentang gadai tanah, antara pemerintahan desa dan nagari di Minangkabau.

MK-346.050.959.813
Zayardam. 1989
“Muara Faham Nasionalisme Indonesia di Minangkabau pada Awal Abad 20”.
Laporan Penelitian. Padang : Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
iii + 58 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang dinamika nasionalisme di Minangkabau pada awal
abad 20.

199
Koleksi BPKPSB

1988/M-07
Nur, Mhd. 1997
“Perdagangan dan Maritim di Pantai Barat Pulau Sumatera pada Abad ke-19”.
Artikel Penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Artikel ini berisi uraian singkat tentang perdagangan di kota-kota pantai di beberapa pulau
di Sumatera.

MK-352.598 13
Nopriyasman. 1991
“Pemerintahan Nagari dan Relevansinya dengan Perjuangan Otonomi di Daerah
Sumatera Barat (1956-1957)”. Laporan Penelitian. Padang : Pusat Penelitian
Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi uraian tentang perkembangan pemerintahan sistem nagari di
Sumatera Barat dan kedudukan adat di dalamnya pada tahun 1956 dan 1957.

MK-307.729 898 1352


Nopriyasman dkk. 1997
“Koto Baru: Dinamika Masyarakat Desa Frontier di Sumatera Barat 1970-1995”.
Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
v + 45 hlm.
Laporan penelitian ini berisi gambaran masalah-masalah yang berkaitan dengan
pembangunan pedesaan di daerah batas dan dampak-dampaknya, khususnya reaksi
masyarakat terhadap transformasi struktural dan kultural dalam fase-fase kebijaksanaan
pembangunan pemerintahan Indonesia, khususnya yang terjadi di wilayah kenagarian Koto
Baru Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung.

M-370.959 813
Safwan, Mardanas & Sutrisno Kutoyo (Ed.). 1981
Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat. Jakarta : Proyek Inventarisasi dan
Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
xiii + 270 hlm.
Buku ini berisi tentang uraian sejarah pendidikan di Sumatera Barat yang dimulai dengan
penjelasan tentang pendidikan tradisional, pendidikan barat, pendidikan abad ke-20,
pendidikan zaman Jepang.

MK-959.813
Panitia Pembangunan Kembali Istana Pagaruyung. t.t.
“Raja Alam Bagagarsyah pada Akhir Hayat Tahun 1833-1834”. Terjemahan Surat-
Surat Belanda.

200
SEJARAH

Tulisan ini merupakan kumpulan beberapa surat-surat Belanda yang diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia.

MK-959.813
Adli, Adrial. 1993
“Tinjauan Beberapa Sumber Belanda bagi Penulisan Sejarah Minangkabau”.
Makalah. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini berisi beberapa penilaian sumber-sumber Belanda untuk penulisan sejarah
Minangkabau.

MK-959.813
Sati, Dj. Dt. Bandaro Lubuk Sati. T.t.
“Tambo Sultan Nan Salapan”. Alih Tulis Tambo yang Diterima dari Tuan Gadang di
Batipuh.
Tulisan ini merupakan uraian tambo Sultan Nan Salapan dalam bahasa Minangkabau.

MK-959.813
Zulqayyim. 1993
“Trio Permi Suatu Kajian Prosografi Tentang Sejarah Pergerakkan Nasional di
Sumatera Barat (1930-1934”. Laporan Penelitian. Padang: Pusat Penelitian Universitas
Andalas.
iii + 47 hlm.
Laporan penelitian ini berisi uraian tentang tiga orang tokoh PERMI, yakni H. Jalaluddin
Thaib, H. Ilyas Ya’cub dan H. Mukhtar Lutfi yang merupakan organisator, konseptor, dan
orator Permi.

MK-959.813
Grujzen, A.J. 1980
“Nota Omtent de IX Koto En Padang Tarap (Midden-Sumatera)”. Diterjemahkan
oleh Panitia Pembangunan Kembali Istana Pagaruyung.
Tulisan ini merupakan terjemahan tulisan A.J Grujzen tentang IX Koto dan Padang Tarap
(Sumatera Tengah) dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia.

MK-959.813
Ibrahim. t.t.
“Buku Curai Paparan Asal Usul Raja dan Hamba Rakyat Rokan IV Koto”.
Diterjemahkan oleh Djafri Datuk B. Lubuk Sati. Padang: Bagian Urusan
Kebudayaan Pemerintahan Tingkat I Sumatera Barat.

201
Koleksi BPKPSB

Tulisan ini merupakan keterangan tentang paparan asal-usul raja dan hamba rakyat Luhak
Rokan IV Koto.

MK-959.813
Sati, Dj. Dt. Bandaro Lubuk. 1982
“Silsilah Umum Datuk Rajo Api Suku Melayu di Pariangan dan Lapeh
Rambai Keseluruhan Alam Minangkabau”. Transliterasi Naskah. Padang:
Museum Adhityawarman.
Tulisan ini merupakan hasil transliterasi naskah yang berisi silsilah Datuk Rajo Api suku
Melayu di Pariangan hingga ke suluruh Alam Minangkabau.

MK-959.813 8
Adli, Adrial. t.t.
“Kota Lama Padang” Artikel. Padang: Fakulktas Sastra Universitas Andalas.
Artikel ini berisi penjelasan singkat tentang sejarah dan keberadaan kota lama Padang.

MK-959.813
Syafrizal dkk. 1993
“Sumatera Barat di Pentas Revolusi Studi Tentang Kegagalan Negara Bonek”.
Laporan Penelitian. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 28 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang uraian singkat tentang sejarah Sumatera Barat pada
zaman revolusi dan gagalnya pembentukan Negara Boneka.

MK-959.813
Zulqayyim. 1997
“Sejarah Kota Bukittinggi (1837-1942)”. Makalah pada Seminar Jurusan Sejarah
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Makalah ini menguraiakan sejarah singkat Kota Bukittinggi dalam rentang waktu 1837-
1942.

MK-959.813
B, Amir. 1982
“Minangkabau sampai Akhir Abad ke-19”. Diktat. Padang: Fakultas Keguruan
Pengetahuan Sosial IKIP Padang.
Tulisan ini merupakan diktat mata kuliah Antropologi Kebudayaan Indonesia, di dalamnya
menguraiakan tentang sejarah perjalanan kebudayaan Minangkabau sampai akhir Abad ke-
19.

202
SEJARAH

Miko, Alfan. 1993


“Perubahan dalam Hubungan Kekerabatan Minangkabau; Studi Kasus di Kanagarian
Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang”. Laporan Penelitian. Padang: Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
Laporan penelitian ini berisi uraian tentang perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat
di Nagaro Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang.

MK-370.959 813
Herwandi. 1991
“Berdirinya Adabiah School: Suatu Kajian tentang Respon Ulama Atas
Berkembangnya Sistem Pendidikan di Minangkabau pada Awal Abad ke-20”. Artikel.
Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Artikel ini berisi tentang penjelasan singkat tentang kondisi yang mendorong lahirnya
Adabiah School dan dinamikanya.

MK-959.813
Nain, Sjafnir Aboe. 1990
“Gerakan Pembaruan di Minangkabau Abad ke-18; Suatu Studi Naskah Fakih
Saghir”. Makalah pada MUNAS Sejarah X di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran
Bandung.
Makalah ini berisi analisis singkat tentang teks dan konteks kesejarahan dalam naskah
Fakih Saghir.

798/MK-2010
Boelhourwer, J.C. 1841
“Sumatra’s Westkust Gedurende de Jaren 1831-1834” Arsip Babz 306 Bat.
Genootschap.
Tulisan ini merupakan catatan seorang Belanda tentang pengalamannya selama berada di
Minangkabau dari 1831-1834.

MK-959.813
B.P.S.I.M. 1978
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau (Jilid I).
Jakarta: Badan Pemurnian Sejarah Indonesia – Minangkabau.
695 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang sejarah perjuangan Indonesia secara umum dan Minangkabau
secara khusus dalam melawan Belanda dan Jepang hingga pemberontakan PKI.

203
Koleksi BPKPSB

MK-959.813
Djamaris, Edwar. 1991
Tambo Minangkabau: Suntingan Teks Disertai Analisis Struktur. Jakarta : Balai
Pustaka.
Buku ini merupakan hasil kajian filologi terhadap naskah tambo Minangkabau dan disertai
analisis struktur.

MK-930.109.598 13
Boestami dkk. 1981
Aspek Arkeologi Islam tentang Makam dan Surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Padang:
Pemugaran dan Pemeliharaan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat.
v + 58 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang sejarah masuknya Islam ke Minangkabau yang dibawa oleh
Syekh Burhanuddin Ulakan dan kajian tinggalan benda cagar budaya di sekitar makam dan
suraunya.

MK-959.8
Nain, Sjafnir Aboe. 1995
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (22 Desember 1948-13 Juli 1949). Padang: Esa
Padang.
iii + 68 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dari bulan Desember 1928
sampai Juli 1949, mulai dari proklamasi 17 Agustus sampai Republik Indonesia menjadi
Negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat.

349/MK-2010
…….. 1986.
“Sulit Air dalam Berita 1986-1990”. Padang: DPP SAS.
276 hlm
Buku ini merupakan kumpulan berita-berita yang ada di media massa, berisikan tentang
berita-berita tentang Sulit Air.

433/MK-2010
…… 1979.
“Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Minangkabau. Padang:
……
697 hlm
Buku ini berisikan tentang sejarah kemerdekaan di Minangkabau dari zaman penjajahan

204
SEJARAH

Belanda sampai awan mendung meliputi Indonesia (peristiwa G30S/PKI).

CB-3D-04-391
Israr, M.Hikmat.,ed. 2004
“H.C. Israr, Kesederhanaan dan Keperjuangan Anak Payakumbuh”
383 hlm
Buku ini berisikan perjalanan hidup seorang anak payakumbuh yang patut ditiru dan
dicontoh oleh generasi penerus.

197/MK-2010
Arief, Sritua. Tt
Ekonomi Kerakyatan Indonesia, Mengenang Bung Hatta Bapak Ekonomi Kerakyatan
Indonesia. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
xviii+332 hlm
Buku ini berisikan tentang ekonomi kerakyatan yang ada di Indonesia mulai dari ideology
sampai danpak yang di timbulkan dari ekonomi kerakyatan.

567/Mk-2010
……..1982
Bung Hatta Kita dalam Pandangan Masyarakat: Mengenang 40 Hari Wafatnya Bung
Hatta. Jakarta: Yayasan Idayu
300 hlm
Buku ini merupakan sebagai salah satu ukuran dari pancaran perasaan bangsa dan
masyarakat dunia dengan meninggalnya seorang yang bernama Hatta. Berisikan tentang
sebuah kenangan dari bung Hatta akhir hayatnya.

182/MK-2010
Hamka. 1971
Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang
359 hlm
Buku ini berisikan tentang bantahan terhadap tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang
Parlindungan dalam bukunya “Tuangku Rao”

MK-959.813
Yakub, Dt.B.Nurdin. 1987
Minangkabau Tanah Pusaka, Tambo Minangkabau Buku Pertama. Bukittinggi:
Pustaka Indonesia.

205
Koleksi BPKPSB

47 hlm
Buku ini berisikan tentang asal mula bangsa Minangkabau sampai asal mula nama
Minangkabau.

MK-959.813
Yakub, Dt.B.Nurdin. 1987
Minangkabau Tanah Pusaka, Tambo Minangkabau Buku Kedua. Bukittinggi: Pustaka
Indonesia.
54 hlm
Buku ini berisikan tentang adat alam Minangkabau sampai dengan hukum tanah dan hukum
waris.

MK-959.813
Hardjowardoyo, R. Pitono. 1966
Adityawarman: Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV
50 hlm
Buku ini berisikan tentang Adityawarman mulai dari tinjauan sejarahnya sampai tinjauan
khususnya

MK-959.615
Kahin, Audrey. 1979
Perjuangan Kemerdekaan: Sumatera Barat dalam Revolusi Nasional Indonesia 1945-
1950. Padang: MSI cabang Sumbar
354 hlm
Buku ini merupakan telaah sejarah revolusi Indonesia 1945-1950 Sumatera Barat. Buku ini
mulai dengan seting sejarah lokal Sumbar sebelum perang.

MK-959.813 2
Yunus, Jamaris. 2003
Penyerbuan ke Kota Payakumbuh 3 Februari 1949. Padang: Masyarakat Sejarawan
Indonesia.
47 hlm
Buku ini berisikan peristiwa yang terjadi di Payakumbuh yang menyebutkan nama-nama
pejuang dan tempat perjuangannya.

MK-959.813
Mahmoed, ST. 1987

206
SEJARAH

Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah. Medan : Pustaka Indonesia.


176 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang sejarah Minangkabau versi tambo Minangkabau diikuti
dengan penjelasan tentang penghulu dan harta warisan, adat Minangkabau serta berisi alur
pasambahan.

MK-959.813
Rsyad, Firdaus Bgd Sampono. 2002
Indonesia Bagian dari Desaku Rao-Rao. Jakarta : PT. Candi Cipta Pramudia.
xii +121 hlm.
Buku ini berisi kumpulan puisi yang kebanyakan bertema kampung halaman penulisnya,
yakni Rao-rao.

MK-959.813
Amran, Rusli. 1988
Sumatera Barat, Pemberontakan Pajak 1908 (Bag. I Perang Kamang). Jakarta : Gita
Karya.
302 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang sejarah peristiwa Perang Kamang di Sumatera Barat. Uraian
dalam buku ini juga terkait dengan tokoh dan latar belakang Perang Kamang.

MK-959.813.4
Zed, Mestika. 1995
Sejarah Tanah Datar. Padang : …
xvi + 471 hlm.
Buku ini berisi tentang sejarah Tanah Datar yang dimulai dengan zaman prakolonial, masa
kolonial, perjuangan kemerdekaan, dan Tanah Datar dari tahun 1950 sampai 1995.

MK-920
Ardial. 2004
H. Adlin dalam Pengambangan Hidup. Medan : Jabal Rahmat.
xii + 240 hlm. ISBN 979-614-029-2
Buku ini berisi biografi H. Adlin yang terkait dengan pemikiran multikultural di Minangkabau
dan dinamika sejarah kehidupannya.

207
Koleksi BPKPSB

MK-920
Tim Penulis. 1995
Profil Tokoh, Aktivis dan Pemuka Masyarakat Minang. Jakarta : PT. Permo Promotion
berkerja sama dengan Yayasan Bina Prestasi Minang Indonesia & PT. Head Infomarko.
Buku ini berisi biografi tokoh, aktivis dan pemuka masyarakat Minang semasa hidup dan
perjuangannya.

M-920
Nafis, Anas. 2002
“M. Hatta Pernak-pernik Perjalanan Politik Rotterdam-Bandaneira” Saduran.
Tulisan ini merupakan kisah M. Hatta yang disadur oleh penulisnya dari berbagai buku
dan majalah lama terbitan sebelum tahun 1934, misalnya Soerat Boelanan Soematra tahun
1927, Majalah Medan Rakyat 1932-1934 Padang, Pandji Poestaka Batavia tahun 1931-
1934.

Manan, Imran. 1995


Birokrasi Moderen dan Otoritas Tradisional di Minangkabau (Nagari dan Desa di
Minangkabau. Padang : Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau.
vi + 140 hlm.
Buku ini berisi uraian tentang Minangkabau prakolonial, dinamika birokrasi modern dan
otoritas Tradisional Minangkabau, nagari dan pemerintahannya pada masa kemerdekaan
dan nagari dan desa di daerah hukum adat Minangkabau.

MK-352.007.22
Mestenenk. 1969
De Minangkabausche Nagari (Terjemahan Mahjuddin Saleh). Padang : Fakultas
Hukum & Pengetahuan Masjarakat.
83 hlm.
Buku ini merupakan catatan seorang Belanda tentang sosial pemerintahan di Minangkabau
dahulunya.

CB-D3-04-237
Irianto, Agus. 2004
“Pengembangan Kawasan Terpadu Bandara Kataping dan Sekitarnya”. Laporan
Penelitian. Padang : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
vii + 111 hlm.
Laporan penelitian ini berisi profil daerah Ketaping dan sekitarnya dan rencana
pengembangan kawasan di wilayah tersebut.

208
SEJARAH

MK-352.170 959 813


Chairiyah, Sri Zul. 1996
“Pemerintahan Desa di Minangkabau setelah Berlakunya UU No. 5/1979”. Makalah.
Padang : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.
Makalah ini menguraikan secara singkat dinamika pemerintahan desa di Minangkabau
pasca-berlakunya UU No 5/1979.

012/MK-2010
Christyawati, Eni. 2008
Kinerja Pemerintahan Nagari di Era “Kembali ke Nagari” di Sumatera Barat. Padang :
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.
vi + 85 hlm. ISBN 978-979-9388-86-5
Buku ini berisi uraian tentang dinamika pelaksanaan pemerintahan nagari di Nagari
Singgalang setelah penetapan kebijakan Kembali ke Nagari oleh pemerintahan daerah
Provinsi Sumatera Barat.

208/MK-2010
Anwar, Rosihan, dkk. 1997.
Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi. Jakarta: Sinar Harapan.
xxii+ 298 hlm. ISBN: 979-416-378-2
Buku ini menceritakan perjuangan seorang tokoh kemerdekaan dari Sumatra Barat yang
bernama Kemal Idris. Lika-liku kehidupannya yang panjang yaitu berpindah dari rantau satu
kerantau lain, tidak memupuskan semangatnya untuk memerdekan Indonesia dari belenggu
penjajah, dan penghianatan terhadap ibu pertiwi. Ternyata usahanya tersebut membuahkan
hasil dan sekarang kemerdekaan tersebut dapat dinikmati oleh generasi bangsa.

229/MK-2010
Amir.2001.
Biografi Burhanuddin Syech. Padang:
81 hlm.
Buku ini menceritaan ketokohan Syeh Burhanuddin sebagai pengembang ajaran Islam
di Minangkabau. Dikatakan bahwa beliau adalah guru yang pertama, sebelum berakhir
perjalanannya dari Aceh. Perjalanan tersebut dimulai dari daerah Sintuak-Ulakan-Aceh.
Sampai sekarang makam Syeh Burhanuddin selalu ramai dikunjungi di daerah Ulakan.

174MK-2010
D’Kincai, Rhian. 2003.
Rainal Rais Abdi Organisasi. Jakarta: Rosda Karya.
xvi+277 hlm.

209
Koleksi BPKPSB

Buku ini mengisahkan kehidupan Rainal Rais yang selalu berkecimpung dalam organisasi,
seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Kamar Dagang dn Industri Indonesia,
Perssetasi, Hippi, PGI, KBRG, YBODMR, IPPSA, SAS. Dia juga pernah menjabat sebagai
pelaksana pertandingan sepak takraw pada SEA GAMES XVI di Jakarta.

175/MK-2010
Juenoes, Marah. 2001.
Rasjid, M. ST. Perintis Kemerdekaan , Pejuang yang Tangguh, Brani, dan Jujur. Jakarta:
PT Mutiara Sumber widya.
266 hlm. ISBN: 979-9331-34-3
Buku ini menceritakan kisah perjuangan Moh. Rasjid seorang anak yang ditinggal mati
oleh orang tuanya. Selama anak-anak hingga remaja dia selalu dikelilingi pemberontakan
melawan Belanda, pertama sekali pemberontakan PKI di Silungkang. Selama di MULO
dia memimpin Jong Sumatra Bond cabang Padang, untuk tingkat pusat diketuai oleh Muh.
Yamin. Selama itulah gerak-geriknya sangat diperhatikan oleh Belanda.

201/MK-2010
……,…..
Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka. 1983. Jakarta: Panji Mas
537 hlm.
Buku ditulis rangka untuk mewujudkan kenang-kenangan 70 Buya Hamka. Berbagai
macam tulisan berasal dari berbagai macam penulis ikut andil dalam buku ini, seperti HB.
Jasin dan lain-lain.

186/MK-2010
Karsyah, Lindo. 2005.
Dari Gubernur M. Nasroen sampai Zainal Bakar. Padang: PT. Singgalang Press.
276 hlm. ISBN:
Buku ini menceritakan beberapa orang tokoh yang pernah menjadi orang terkemuka
di Sumatera Barat. Di mulai dari M. Nasroen, Roeslan Moeljohardjo, Kaharoeddin
Dt.Rangkayo Basa, Harun Zain, Azwar Anas,Hasan Basri Durin, Muchlis Ibrahim, Dunidja
D, dan Zainal Bakar.

920
Noer, Deliar.
Muhammad Hatta Biografi Politik. Jakarta: LP3ES.
778 hlm.
Buku ini bercerita tentang tokoh nasional, yaitu M. Hatta. Seorang tokoh pejuang, seorang
proklamator, dan kemudian menjadi orang kedua di Indonesia. Setelah Soekarno jatuh, dia

210
SEJARAH

sebenarnya bisa melanjutkan cita-citanya tetapi dia tidak mau, dia lebih memilih untuk
mundur dan dia pergi dalam keadaan sepi. Buku ini menceritakan dengan detail tentang
Hatta dengan segala sifatnya, pemikirannya, cita-cita dan gaya hidup dan perjuangannya,
termasuk pergulatan hati serta kehidupannya yang belum diketahui oleh orang luar.

MK-920
Haj. Rasyad, Aminuddin, dkk. 1991.
Hj. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay, Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu
Sistem Pendidikan di Indonesia, Riwayat Hidup, Cita-cita dan Perjuangannya. Padang
Panjang: Pengurus Perguruan Tinggi Diniyyah Putri.
395 hlm.
Buku ini bersisikan riwayat perjuangan Hj. Rahmah El Yunuisiyyah dan Zainuddin Labay,
dua bersaudara yang mampu menorehkan kemajuan pendidikan di Indonesia. Zainuddin
Labai sebagai pedobrak kekolotan dan kejumudan serta merupakan pelopor sistem
pendidikan Islam di Indonesia dan Rahmah adalah sebagai pendobrak kekolotan dan
kejumudan di kalangan kaum wanita.

230/MK-2010
Sanusi, Latief. 1981.
Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatra Barat. Padang: Islamic
Centre.
244 hlm.
Penulis buku ini menceritakan riwayat hidup tokoh-tokoh intelektual kelahiran Minangkabau.
Di antaranya Syeikh H.Rahmah El Yunusiyah, Syeikh Abdurrahman, Amad Kahatib Al
Minangkabawy, Khatib Muhammad Ali, Muhammad Jamil Jambek, Abbas Qadhi Ladang
Lawas, Sulaiman Ar Rasuly, Muhammad Thaib Umar, Muhammad Jamil Jaho, Abdullah
Ahmad, Abd. Karim Amrullah, H.Daud Rasyidi, Ibrahim Musa Parbek, Abbas Abdullah
Padang Jopang, H. Agus Salim, Zainuddin Labay, Abdullah Hamid Hakim, Ilyas Yaqub,
Zainudin Hamidi, dan H. Nasrudi Thaha.

188/mk-2010
Sidin, Nazir. 2004.
Apa Siapa. Padang: Pustaka Artaz.
268 hlm. ISBN: 979-8833-02-3
Buku ini merupakan cuplikan dari autobiografi tokoh-tokoh perintis dan pejuang
kemerdekaan bangsa, cendekiawan dan intelektual sebagai pelaku sejarah, dan generasi
penerus untuk mengisi kemerdekaan bangsa.

211
Koleksi BPKPSB

217/MK-2010
Welmar. 1995.
Mengenang Maha Putra Prof. Dr. M. Yamin Pahlawan Nasional RI. Bukittinggi: Kristal
Multimedia.
47 hlm.
Buku ini bercerita tentang perjuangan M.Yamin yang telah diangkat sebagai pahlawan
Nasional RI. Almarhum adalah seorang tokoh yang susah dicarikan tandingannya, orangnya
kompleks, pemikir, konseptor, ahli hokum, ahli bahasa, pengarang, pujangga, ahli sejarah,
orator, dan politikus.

156/MK.2010
Yusra, Abrar. 1997.
Tokoh yang Berhati Rakyat, Biografi Harun Zein. Jakarta: Gebu Minang.
474 hlm.
Buku ini menceritakan ketokohan Harun Zein sejak era pasca PRRI dan bangkitnya Orde
Baru dengan program pembangunan nasional yang pada akhirnya mengantarkan Sumbar
sebagai salah satu provinsi di luar pulau Jawa yang mendapatkan prestasi terbaik di
Indonesia dalam pelaksanaan Pelita yaitu Pelita III (1979-1984) dan Pelita V (1989-1994).

244/MK-2010
Yusra, Abrar. 1994.
Otobiografi AA. Navis, Satiris dan Suara Kritis dari Daeah. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
434 hlm.
Buku ini bercerita tentang sosok Navis yang dikatakan keturunan Jawa, ibu Minang dan
bapak Jawa. Karena itu, masa remajanya jarang diterima oleh lingkungan teman-temannya,
dia harus berjuang bahwa dia juga orang Minang. Di samping itu dia tetap berkarya,
cerpennya yang terkenal adalah Robohnya Surau Kami. Di masa kanak-kanaknya Navis
selalu dapat masalah dengan anak-anak Belanda, dan di masanya dewasa Navis selalu
ditinggalkan teman-teman di akhir acara yang direncanakan bersama. Tapi sosok Navis
seorang sastrawan lebih peka dengan kondisi lingkungan sekitar.

184/MK-2010
Zoelverdi, Haji Ed (ed). 1995.
Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang. DKI Jakarta: Biro Penerbitan BK3AM.
vx+528 hlm. ISBN: 079-8790-00-6
Buku ini bercerita tentang semua tokoh Sumatra Barat yang telah berhasil mengaharumkan
nama bangsa dan negara. Dimulai dari AA. Navis dan ditutup dengan Zuyen Rais.

212
SEJARAH

1006/MK/2010
Hamka. 1982.
Ayahku, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di
Sumatera. Jakarta: Penerbit Umminda.
xviii+361 hlm.
Buku ini menjelaskan riwayat hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan perjuangan kaum
agama di Sumatera terutama di Sumatera Barat. Di dalamnya terdapat sejarah masuknya
Islam di Minangkabau, perjuangan Abdul Karim Amrullah, dan riwayat syekh-syekh
Minangkabau yang dekat dengan Abdul Karim.

MK 340
Hatta, Muhammad. 1966.
Mengambil Peladjaran dari Masa Lampau untuk Membangun Masa Datang. Bandung:
Angkasa.
Buku ini bercerita tentang alam pikiran M. Hatta yang digunakannya untuk memerdekakan
Indonesia. Bagaimana berpolitik, bergaul, dan hidup ditengah-tengah percaturan global
diterangkan dalam buku ini.

MK 808.8
Navis, AA. 1999.
Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Jakarta : PT. Grasindo.
x + 550 hlm
Buku ini berisi kumpulan artikel dengan beberapa tema yang dijadikan judul per bab, yakni
Sosial Budaya Minangkabau, Kesusastraan, Sosial dan Agama, Pendidikan dan Generasi
Muda, Tokoh-Tokoh Minangkabau, Budaya dan Politik.

173/MK-2010
Prayitno, Irwan. 2005.
Basamo Mambangun Nagari, Kiprah Seorang Asli Putera Minang. Jakarta: SL
215 hlm
Buku ini bercerita tentang ketokohan Irwan Prayitno dalam membangun nagari di
Minangkabau, bangsa dan negara. Dalam usia yang masih relatif muda, Irwan mampu
memulihkan ekonomi rakyat khususnya Sumbar.

Anonyswan (ed). 2007.


Latar Sejarah Indo Julito, Bundo Kanduang di Minangkabau. Batu Sangka: CV. Sarana
Wisata Enterprise.
vii +144 hlm

213
Koleksi BPKPSB

Buku ini bercerita tentang perjalanan Iskandar Zulqarnain dari Yunani hingga Macedonia,
dikatakan bahwa Bundo Kanduang di Minangkabau adalah keturunan Iskandar Zulqarnain
yang telah berhasil menaklukan Yunani, Sparta, dan daerah kerajaan lain dan kemudian dia
terdampar di Pulai Perca. Kemudian kisah banjir Nabi Nuh juga diceritakan di sini yang
mempunyai kemiripan cerita dengan banjir besar yang pernah terjadi di daerah lain di dunia
dan di dalam kebudayaan yang berbeda.

MK-2010. 959.813 03
Asnan, Gusti. 2003.
Kamus Sejarah Minangkabau. Padang: PPIM.
xxix + 380 hlm
Buku ini bercerita tentang hasil peninggalan kebudayaan dari zaman dahulu. Dari hasil
peninggalan sejarah itu banyak mengandung istilah-istilah yang tidak bisa dipahami oleh
orang Minangkabau sekarang. Dalam buku ini penulis mengahdirkan 350 entrsi istilah
Minangkabau bersejarah yang ditulis dengan ringkas serta komunikatif.

MK 959 813 4
Ajisman dan Almaizon. 2004.
Bangunan Bersejrah di Kabupaten Tanah Datar. Padang: BKSNT Padang.
x +75 Hlm
Buku ini menceritakan dan mendeskripsikan bangunan-banguan yang bersejarah di
Kabupaten Tanah Datar. Benteng-benteng peninggalan zaman penjajahan, rumah tua,
surau, menumen perjuangan, sekolah pertama di Tanah Datar, dan masjid dideskiripsikan
secara detail dalam buku ini.

MK 322.420 959 813 3


Amran, Rusli. 1988.
Sumatra Barat, Pemberontakan Pajak 1908 (bagian ke- 1 Perang Kamang). Jakarta:
PT (persero) Gita Karya.
302 hlm.
Buku ini bercerita tentang peristiwa Perang Kamang dan dilengkapi dengan daftar lampiran
berupa foto dan daftar nama-nama pelaku sejarah.

MK959.813
Amram, Rusli. 1985.
Sumatra Barat Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.
339 hal.
Buku ini berisikan sejarah Sumatra Barat dimulai dari perjanjian Plakat Panjang. Bagaimana
tipu muslihat dan permainan Inggris juga dijelasakan secara sederhana dalam buku ini.

214
SEJARAH

MK 959.813
Caniago, Naali Sutan. 1979.
Naskah Tuanku Imam Bonjol.
350 hlm
Naskah ini bercerita tentang perjalanan Tuanku Imam Bonjol disadur dari naskah arab
melayu dan alih tuliskan oleh Sjafnir (anak Naali Sutan Caniago). Buku ini menceritakan
sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik yaitu Tuanku Imam
Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yag beraliran wahabi hingga pecahnya perang
PADRI.

MK959.813 3
Etek, Azizah, Mursjid, dan Arfan. 2007.
Koto Gadang Masa Kolonial. Yogyakarta: LkiS.
xxii + 322 hlm
Buku ini mengisahkan keseharian kehidupanmasyarakat Koto Gadang semasa pendudukan
Kolonial. Penulis memulainya dengan kebudayaan sehari-hari masyarakat seperti
perkawinan, pelaksanaan hukum serta undang-undang. Kemudian secara berangsur-angsur
Belanda terlibat, sehingga Tuanku Lareh terjun ke masyarakat, pembentukan Volkstrad,
hingga perjuangan kembali merebut HIS.

MK 331.095 983 1
Iriana, dkk. 1993.
‘’Ilmu Sejarah dan Pandangan Calon Mahasiwa di SMA IV Lubuk Basung’’. Hasil
penelitan. Padang: Universitas Andalas.
29 hlm.
Laporan ini bercerita tentang pandangan calon mahasiswa terhadap ilmu sejarah sebagai
sarana atau salah satu cabang ilmu lanjutan di jenjang strata 1 di Perguruan Tinggi.

MK 959.813
Joustra, M. 1923.
Overzicht Van Land, Geschiedenis En Volk. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
217 hlm
Buku ini dikarang oleh Orang Belanda. Dia mengumpulkan segala pengalamannya selama
berada di Ranah Minang. Tulisannya yang terperinci mampu menjelaskan Minangkabau
hampir secara keseluruan. Tetapi yang jelas, penulis buku ini melihat Minangkabau dari
kaca mata kebelandaannya.

215
Koleksi BPKPSB

MK959.813
Kiram, Abdul dan Yeyen Kiram. 2003.
Raja-raja Minangkabau dalam Lintasan Sejarah. Padang: Musium Adityawarman dan
MSI Padang.
251 hlm
Buku ini bercerita tentang beberapa unsur, pertama Minangkabau pada masa klasik, dua
perkembangan, tiga hubungan luhak dengan rantau, dan empat raja-raja Minangkabau serta
keturunannya.

MK959.813
Kahim, Audrey. 1979.
Perjuangan Kemerdekaan; Sumatra Barat dalam Revolusi Nasional Indonesia, 1945-
1950. Padang: MSI Cabang Sumbar.
xiv + 352 hlm
Buku ini bercerita tentang perlawanan pejuang kemerdekaan di Sumbar terhadap penjajahan.
Diceritakan dari reaksi masyarakat Minangkabau itu sendiri terhadap penjajahan,
pendudukan Jepang, berdirinya pemerintahan revolusioner, kedatangan Inggris dan Belanda
untuk kedua kalinya, konflik internal, ekonomi perjuangan, usaha integrasi, serangan dan
balasan,serta gencatan senjata.

MK 920
Kusuma, Nila. 1982.
Siti, Srikandi dari Mangopoh. Bandung: Aqua Press.
94 hlm.
Buku ini menceritakan kisah Siti cikal bakal pejuang wanita dari Mangopoh. Sejak kecil Siti
sudah dibsarkan dengan lingkungan keras, belajar silat, mengaji, berladang dan bersawah.
Sehingga setelah besar, Siti tinggal hanya melaksanakan pelajaran yang telah diterimanya
selama ini. Siti, berhasil menjadi sosok pejuang wanita yang sangat ditakuti Belanda di
masanya.

MK215/ -2010
Kutoyo, Sutrisno. 2004.
Prof. H. Muhammad Yamin SH; Cita-cita dan Perjuangan seorang Bapak Bangsa.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
330 hlm
Buku ini menceritakan sejarah seorang tokoh bangsa M. Yamin. Sejarahnya di mulai dari
masa pendidikannya, pergaulan, organisasi, sumpah pemuda, politik. Kemudian Yamin
terlibat perjuangan pada masa pendudukan Jepang hinga perkenalannya dengan Tan Malaka.

216
SEJARAH

MK 959 813
Naim, Sjafnir Aboe. 2004.
Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM.
xiii + 318 hlm
Buku ini disadur dari naskah arab melayu yang ditulis oleh anak Naali Sutan Caniago. Buku
ini menceritakan sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik
yaitu Tuanku Imam Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yag beraliran wahabi
hingga pecahnya perang PADRI.

MK 959 813
Naim, Sjafnir Aboe. 1988.
Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau, 1784-1832. Padang:
ESA Padang.
xviii +158 hlm
Buku ini disadur dari naskah arab melayu yang ditulis oleh anak naali Sutan Caniago. Buku
ini menceritakan sejarah dan kisah perjuangan seorang tokoh PADRI yang kharismatik
yaitu Tuanku Imam Bonjol, dimulai dari datangnya 3 orang Haji yag beraliran wahabi
hingga pecahnya perang PADRI.

MK959 813
Rabaatin, Bahauddin.
A Great Hero; Pahlawan Besar.
20 hlm
Buku ini bercerita tentang jasa-jasa Muh. Yamin dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa
Indoesia, sehingga penulis buku ini menemakannya dengan a great hero.

MK 920 2010
Soebagijo. 1985.
Riwayat Hidup dan Perjuangan H. Zainal Abidin Ahmad. Jakarta: Pustaka Antara.
218 hlm
Buku ini berisiskan riwayat seorang tokoh dari Minangkabau yaitu Zaial Abidin Ahmad.
Sejarahnya dimulai dari masa kecil di kampung, masuk sekolah thawalib, terjun kemasyarakat
dan langsung mengibarkan panji Islam, juga bersentuhan dengan masanya PKI. Pada masa
hidupnya Zainal Abidin adalah seorang pendakwah yang disegani di kalangan nasional dan
daerah.

217
Koleksi BPKPSB

MK920
Thaib, Maisir. 1955.
Tuanku Imam Bonjol.
Buku ini bercerita tentang sejarah perjuangan Tuanku Imam Bonjol semasa hidupnya dan
segala perjuangannya melawan tentara Belanda.

MK 920
Tasman, Abel (dkk). 2002.
Siti Mangopoh. Padang: Cita Budaya Indonesia.
xiii +108 hlm.
Buku ini menceritakan kisah perjuangan seorang pejuang wanita dari ranah Minang
menentang kebijakan penjajah Belanda. Mangopoh perempuan pejuang yang nyaris
dilupakan oleh orde baru ternyata lebih heroik di medan perang menghadapi tentara
Belanda. Sebagai perempuan tangguh, dia mampu membuat Belanda bercerai-berai dari
pasukannya, sistem belasting kiranya telah mampu mengobarkan api perlawanan rakyat
Mangopoh untuk mengusir penajajah dari tanah pertiwi.

MK 959.813
Yakub, Nurdin. 1991.
Minangkabau Tanah Pusaka; Sejarah Minangkabau Petama. Bukittnggi: CV
PUSTAKA INDONESIA.
47 hlm
Penulis buku ini mendeskripsikan tentang sejarah Minangkabau yang dimulainya dari
zaman paleolitikum, neolitikum, perunggu, kekuasan dipertuan agung di Pagaruyung, negri
sembilan, hingga masuknya Islam ke Nusantara.

MK.
Zed, Mestika. 1986.
“Reaksi Minangkabau Terhadap Kolonialisme Belanda Abad XIX (Elizabeth E.
Grafes, 1981)”. Hasil penelitian. Padang: Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(IKIP).
120 hlm.
Hasil penelitian ini bercerita tentang sejarah kolonial di Sumatra Barat pada masa
pemerintahan Abad XIX oleh Ratu Elizabeth E. Grafes.

218
BUDAYA
BUDAYA

MK 959.813
Athallah. 1994.
Budaya Tradisional Minangkabau. Bukittinggi: Usaha Ikhlas.
65 hal.
Buku ini mendiskripsikan alam dan kebudayaan Minangkabau dimulai dari asal nama
Minangkabau, susunan masyarakat, adat kebudayaan, hingga kesusastraan yang pernah
dihasilkannya.

MK 394.4
Anas, Azwar.
Alek Malewakan. Padang: LKAM Sumbar
52 hal.
Buku kecil ini bercerita tentang prosesi mengukuhan gelar penghulu yang dikenakan oleh
Azwar Anas, dilengkapi dengan dialektika keMinangkabauan yang tergambar di dalam
pasambahan pengukuhan gelar tersebut.

MK
B, Amir, dkk. 1984.
”Suatu Kajian Sosiologis Tentang Adat Upacara Kemtian Niniak Mamak Pamangku
Adat pada Masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat”. Hasil penelitian. Padang:
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah.
81 hlm.
Laporan penelitian ini bercerita tentang acara saremonial yaitu prosesi pemakaian niniak
mamak pemangku adat di Minangkabau. Peneliti memulainya dengan upacara kematian
penghulu dan upacara kematian Sutan.

MK 959.813
Di Radjo, Datoe Sanggeono. 1919.
Tjoerai Paparan Adat Lembaga Alam Minangabau. Fort De Kock: Snelpersdrukkerli
‘’Agam’’.
ix+299 hal.
Buku ini ditulis dalam ejaan lama yang isinya tentang pusaka Minangkabau. Pusaka tersebut
terdiri dari lembaga adat, hukum, undang-undang yang berlaku di lingkungan kebudayaan
Minangkabau idealnya.

221
Koleksi BPKPSB

MK 959.813.
Damhoeri dan Musrida. 1995.
Serambi Budaya Alam Minangkabau II. Bukittinggi: CV. Pustaka Indonesia.
134 hlm.
Dalam buku ini penulis bercerita tentang peninggalan sejarah, fungsi balai dalam
masyarakat Minangkabau, batu bertulis, prasasti, stupa di Muara Takus, Adityawarman,
upacara seremonial, pengangkatan penghulu, batagak rumah, upacara perkawinan, dan
ditutup dengan upacara keagamaan.

MK 959.813 4
Door, dkk. 1980.
‘’Nota Omtrent De IX Koto En Padang Tarab (Midden-Sumatera)’’. Laporan panitia
pembangunan istana pagaruyung. Padang: Panitia Pembangunan Kembali Istana
Pagaruyung.
36 hlm.
Laporan ini menceritakan kawasan (IX) yang akan dijadikan tempat pembangunan Istana
Pagaruyung pasca dibakarnya oleh kaum Agama di Minangkabau, dijabarkan dari kondisi
wilayah, letak, dan batas-batasnya dengan daerah lain yang berdekatan.

MK 958.813
Ghazali, dkk. 2005.
Ensiklopedi Minangkabau. Padang: PPIM Sumbar.
xviii+441 hlm., ISBN: 979379723-1
Ensiklopedi ini berisi tentang nilai, ajaran, sistem, peristiwa, benda, tempat, orang dan
lain sebagainya. Karena diterima sebagai pemberi warna hidup masyarakat, seperti tokoh
sejarah, tempat bersejarah, peristiwa bersejarah, tradisi bersejarah dan lain-lain.

MK.
Hakimy, Idrus. 2004.
Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang, dan Pidato Alua Pasambahan Adat di
Minangkabau. Bandung: Remaja Rosdakarya.
179 hal., ISBN: 978-514-364-6
Buku ini bercerita tentang penghulu serta tugas dan fungsinya; Bundo Kanduang serta
fungsinya; pidato adat pasambahan, jenis, bentuk, dan kegunaannya dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Minangkabau.

MK 340.575 981 3
Kemal, Iskandar. 1971.
Beberapa Studi Tentang Minangkabau. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan

222
BUDAYA

Masjarakat Universitas Andalas.


80 hlm.
Buku ini menceritakan hukum kewarisan dari Matrilineal ke Bilateral, gadai, dualisme
kepemimpinan (desa dan nagari) dan dasar-dasar perkawinan consanguinal di Minangkabau.

MK 959.813
Mahyudin, Sutadi dan Rustam Rahman. 2002.
Hukum Adat Minangkabau dalam Perkembangan Nagari Rao-rao, Ranah Katitira di
Ujuang Tunjuak. Jakarta: Panitia Peninggalan Sejarah Rao-rao.
219 hal.
Buku ini menceritakan peristiwa sejarah Nagari Rao-Rao, kebiasan-kebiasaan, dan hukum
adat Minangkabau yang berhubungan dengan hukum adat kebiasaan di Nagari Rao-rao.

MK 340.570 959 813


Penghulu, Dt. Radjo. 1975.
Dasar Adat Minangkabau. Padang: LKAM.
32 hlm.
Buku ini bercerita tentang dasar-dasar adat Minangkabau yang tujuan penulisan adalah
unutuk anak sekolah dasar. Penulis menceritakan asal kata Minangkabau, pembagian
Minangkabau, Nagari, pencipta adat Minangkabau, kepemimpinan, pepatah, etika
pergaulan, dan rumah gadang.

MK 303.340 959 813


Samin, Yahya dkk. 1995.
‘’Peranan Mamak Terhadap Kemenakan dalam Kebudayaan Minangkabau Masa
Kini’’. Hasil penelitian. Padang: Deperetemen Pendidikan dan Kebudayaan.
xi+104 hlm.
Hasil penelitian ini bercerita tetang peranan ideal mamak menurut konsep tradisional
Minangkabau dan aplikasi peran tersebut terhadap kemenakan yang hidup pada Minangkabau
masa kini.

MK 303.340 959 813


Dakung, Sugiarto dan Wahyuningsih (ed). 1983/1984.
‘’Sistem Kepemimpinan di dalam Masyarakat Pedesaan Sumatra Barat’’. Hasil
penelitian.  Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah.
xv+310 hal.
Hasil penelitian ini bercerita tentang system kepemimpinan masyarakat desa Sumatra Barat,
dimulai dengan pola kepempinan di bidang sosial, bidang agama, dan di bidang pendidikan.

223
Koleksi BPKPSB

Pola kepemimpinan tersebut dilihat dari organisasi kegiatan, system, dan pengaruh serta
fungsinya.

MK 297.43
Nizar, Hayati. 2004.
Bundo Kanduang dalam Kajian Islam dan Budaya. Padang: PPIM.
x+116 hlm., ISBN: 979-3797-09-6
Buku ini bercerita tentang posisi perempuan Minangkabau secara agama dan adat
Minangkabau, hingga perempuan itu sendiri melakukan penyesuaian diri dengan wacana
yang berkembang, seperti kesetaran gender, KB, dan lain-lain.

MK 959.813
Rasyad, Firdaus. 2002.
Indonesia bagian dari Desaku ‘’Rao-rao’’. Jakarta: PT. Candi Cipta Paramuda.
xii+120 hal.
Sebuah buku catatan perjalanan yang ringan namun mempunyai makna dalam khususnya
bagi masyarakat Rao-rao Tanah Datar. Sebuah pencarian jati diri untuk sebuah eksistensi
terjadap kultur dan sebuah buku yang pertama sekali membahas Nagari Rao-Rao secara
khusus.

MK-2010 959.813 61
Spine, Bruno. 1981.
Mitos dan Legenda Suku Mentawai. Jakarta: PN BALAI PUSTAKA.
499 hal.
Buku ini memuat berbagai macam kisah mitos dan legenda sukuMentawai. Kemudian hari
dapat mempengaruhi pandangan hidup dan pola pikir suku mentawai ke depan.

MK 390.095 891 3
Sjafnir. 2006.
Sirih Pinang Adat Minangkabau, Pengetahuan Adat Minangkabau Tematis.  Padang:
Sentra Budaya.
250 hal., ISBN: 979,9307-07-5
Buku ini bercerita tentang tatacara berkelakuan yang sesuai dengan adat kebudayaan
Minangkabau, sesuai dengan alua jo patuik, sesuai dengan dinamika masyarakat kekinian.
Dikatakan sebagai adat di sisi limbago dituang, bentuk kerabatan Minangkabau dan lain-
lain.

224
BUDAYA

MK 959.813
Toeah, Datoek. 1969.
Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: CV. PUSTAKA INDOESIA.
381 hal.
Buku ini bercerita kompleksitas keMinangkabauan, dimulai dari asal usul nama itu, adat
kebudayaannya, kebiasaan, masayarakat, hukum, undang-undang, harta pusaka, dan lain-
lain. Buku ini dapat dijadikan referensi tentang Minangkabau.

MK 959.813
Yakub, Nurdin. 1991.
Minangkabau Tanah Pusaka. Bukittnggi: CV PUSTAKA INDONESIA.
47 hlm.
Buku ini bercerita tentang sejarah Minangkabau dimulai dari zaman prasejarah, proto
sejarah, zaman Minangkabau timur (Hindu, Islam-sunnah, Budha, Islam-syiah), kerajaan
Pagaruyung hingga masuknya raja Islam pertama di Minangkabau.

MK 958.813
Yakub, Nurdin. 1987.
Minangkabau Tanah Pusaka; Tambo Minangkabau Buku Pertama. Bukittinggi:
Pustaka Indonesia.
47 hal.
Buku ini menceritakan asal usul nenek moyang Minangkabau dimulai dari awal kedatangan
Maha Raja Diraja ke Minangkabau. Di sini terjadi dialektika sederhana dalam konflik, hal
ini ketika terjadinya pertarungan kerbau, dan perselisihan anaara Katamanggungan dengan
Parpatiah Nan Sabatang.

MK 95-218
Yakub, Nurdin. 1995.
Hukum Kekerabatan Minangkabau. Bukittinggi: CV PUSTAKA INDONESIA.
96 hlm.,
Buku ini menceritakan hukum kekerabatan yang berlaku di Minangkabau. Penulis mulai
mendeskripsikan tentang undang-undang Minangkabau, adat dan pengaruh modernisasi,
penghulu dan perannya, upacara saremonial perwainan, adat suami-istri, hukum di
Minangkabau, hak milik, sando dan pinjam, hukum acara, dan syarat dakwa.

MK 959.813
Yakub, Nurdin. 1991.
Minangkabau Tanah Pusaka, Tambo Minangkabau Buku Ketiga. Bukittinggi: CV
Pustaka Indonesia.

225
Koleksi BPKPSB

51 hal.
Buku ini menceritakan undang-undang Minangkabau, hukum, dan gelar pusaka. Fitur
tersebut diulas dengan detail di dalam buku ini dan sekaligus cara penerapannya.

Mk
….. 1998.
Peranan Nilai Budaya Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
viii + 113 Hal.
Buku ini mengambarkan peranan budaya Minangkabau dalam kaitannya dengan pelaksanaan
GDN ( Gerakan Disiplin Nasiona). Sebagai budaya yang dominan di daerah Sumatera Barat,
budaya Minangkabau sangat relevan dan sangat mendukung pelaksanaan GDN karena dari
falsafah budaya Minangkabau itu sendiri terlihat adanya suatu penghargaan yang tinggi
terhadap prilaku disiplin.

MK
Ibrahim, Anwar. Dkk. 1986.
Pakaian Adat Tradisonal Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
xvi + 213 Hal
Buku ini berisikan tentang pakaian adat tradisional di Minangkabau dan dokumentasi
pakaian dan perhiasan dan kelengkapan tradisional.

MK1.537/M-05
Esde, Erni. Dkk.1994.
“Pakaian Penganten Daerah Pesisir Selatan”. Padang: Museum Negeri Propinsi
Sumatera Barat.
40 Hal.
Penelitian ini berisikan tentang pakaian pengantin daerah Pesisir Selatan, hal tersebut untuk
mengetahui lebih jelas tentang bagian-bagian serta makna yang terkandung di dalamnya
maupun fungsinya di dalam masyarakat.

MK
I.D.Dt. Tumanggungan. Dkk. 1998.
Gurindam Adat Minangkabau. Bukittinggi: CV. Pustaka Indonesia.
236 Hal.
Buku ini berisikan tentang Gurindam Adat Minangkabau yang isinya sejenis pantun adat
Minangkabau yang erat hubungannya dengan adat istiadat Minangkabau.

226
BUDAYA

MK 4427/m-07
Syamsuddin. 1978.
Arti yang Terpendam Pada Pakaian Kebesaran Minangkabau. Padang: Proyek Pusat
Pengembangan Kebudayaan Sumatera Barat.
14 hal
Penelitian ini berisikan tentang arti yang terpendam pada pakaian kebesaran adat
Minangkabau, adapun pakaian kebesaran adat terdiri dari: deta hitam, keris, baju gadang,
sarawa dalam hitam, kain sarung hitam, kabek pinggang patah sembilan, tungkek, dan
salendang.

MK073/-2010
Manan, Miral. 1979.
Aturan Alam. Padang:….
47 hal.
Buku ini berisikan tentang aturan alam yaitu aturan hukum yang berlaku secara abadi di
seluruh alam dan mengatur setiap sesuatu dan segala sesuatu terjadi sendirinya, tanpa dapat
berubah atau diubah oleh siapapun.

079/MK-2010
Miko, Alfan. 1993.
“Perubahan dalam Hubungan Kekerabatan Minangkabau”. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Universitas Andalas.
30 Hal
Artikel ini memuat perubahan hubungan kekerabatan di Minangkabau. Minangkabau
dikenal dengan kebudayaan yang unik yaitu masyarakat mengambil garis keturunan dari
pihak ibu yang dikenal matrilineal.

MK 21/Prok-03
Herwandi. 1995.
“Kelarasan: Studi Perbandingan Sistem Kelarasan Tradisional Minagkabau dan
Sistem Laras Belanda”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
14 Hal.
Makalah ini berisikan tentang perbandingan sisem kelarasan tradisional Minangkabau
dengan laras Belanda,

MK1589/ M-04
Dhavida, Usria. Dkk. 2004.
“Pakaian Adat Wanita Payakumbuh”. Padang: Pemerintahan Daerah Propinsi
Sumatera Barat Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Museum Adityawarman.

227
Koleksi BPKPSB

iv + 49 Hal.
Buku ini berisikan informasi tentang pakaian adat wanita Payakumbuh, daerah memiliki
keanekaragaman pakaian adat wanitanya yang dipakai sesuai jenis helat dan status si
pemakainya, hal ini dapat terlihat yang dipakainya.

MK502/ M- 02
Yelmi, Kusnel. Dkk. 2000.
“Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan, dan Perilaku Generasi Muda terhadap Upacara
Perkawinan Adat Minangkabau”. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
x +70 Hal.
Buku ini berisikan tentang pengetahuan terhadap upacara perkawinan adat Minangkabau.
Generasi muda sekarang memiliki keterbatasan kurangnya pengetahuan tentang upacara
adat Minangkabau ini.

MK 404/m-02
Boestami. Dkk. 1992.
Kedudukan dan Peranan Wanita dalam Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau.
Padang:Esa Padang.
x + 202 Hal.
Buku ini menggambarkan bagaimana kedudukan dan peranan anita pada suku bangsa
Minangkabau, mulai dari mengurus anak, kadang-kadang membantu perekonomian rumah
tangga, menyediakan persiapan untuk upacara sampai memelihara harta pusaka karena
Minangkabau mengenal sistem matrilineal, dan berhak atas harta warisan.

MK 3070/M-07
Ronidin. 2006.
Minangkabau di Mata Anak Muda. Padang: Andalas University Press.
xvi +145 Hal.
Buku ini berisikan tentang Minangkabau di mata anak muda yang dikelompokan menjadi
empat bagian: pertama surau dan rantau, kedua remaja dan wanita, ketiga nagari dan tradisi,
dan keempat kristenisasi.

MK 69/H-02
Arifin, Bustanul. 1995.
Budaya Alam Minangkabau. Jakarta: Cv. Art Print Jakarta.
iii + 151 Hal.
Buku ini berisi tentang pengertian, fungsi adat alam Minangkabau, ruang lingkup, dan
sejarah adat alam Minangkabau berguna untuk proses belajar mengajar.

228
BUDAYA

MK402/ Mk-2010
Maryetti. Dkk. 1999.
“Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya di Daerah Sumatera Barat”. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
123 Hal
Laporan penelitian ini menggambarkan integrasi sosial budaya antarsuku bangsa
Minangkabau, Batak, dan Jawa yang ada di Sumatera Barat.

MK 499/-2010
Dt. Seri Maharadjo. 1919.
Tjoerai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau. Bukittinggi: Snelpersdrckkerij
Fort De Kock.
viii + 229 Hal
Buku ini adalah paparan adat lembaga alam Minangkabau, yang berejaan lama.

MK 1140/ Mk-2010
Hasanuddin. 1999.
“Eksistensi Kebudayaan Minangkabau Pada Milenium Tiga”. Makalah. Padang:
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
7 Hal.
Makalah ini berisikan eksistensi tentang kebudayaan yaitu segala sesuatu yang mencirikan
budaya. Budaya adalah sistem nilai yang dihayati.

MK
Izati. Dkk. 2006.
“Tradisi Babako - Anak Pisang pada Upacara Adat di Minangkabau”. Laporan
Penelitian. Padang: Pemerintahan Propinsi Sumatera Barat Dinas Pariwisata Seni
dan Budaya.
iii + 87 Hal.
Buku ini berisikan tentang tradisi babako-anak pisang dalam upacara adat Minangkabau.
Judul ini diangkat karena belum ada referensi tentang tradisi babako-anak pisang pada
upacara adat.

MK
Esde, Erni. 2007.
Ampe Banta. Padang: PPSB Dinas Pariwisata Seni dan Budaya UPTD Museum
Adityawarman.
viii + 66 Hal.

229
Koleksi BPKPSB

Buku ini berisikan pendataan dan pendokumentasian tentang Ampe Banta sebagai pelaminan
bagi masyarakat di Lintau Buo.

MK 2698/H-2007
Abadin, H. Mas’od. Dkk.
Jurnal PPIM. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
v+93 hal
Merupakan sebuah jurnal yang bertemakan kepemimpinan di Minangkabau, di antaranya
adalah pemimpinan di Minangkabau antara harapan dan kenyataan, membangun piramida
kepemimpinan di Minangkabau, proses kepemimpinan adat basandi syarak, kepemimpinan
dalam Islam dan adat Minangkabau,dan lain-lain.

MK 97.689/H-97
Yunus, Ahmad. 1986.
Dampak Modernisasi terhadap Hubungan Kekerabatan pada suku Bangsa Melayu
jambi. Jambi: DP&K
iv+142 hal
Buku ini berisikan tentang informasi yang nyata mengenai berbagai aspek kebudayaan
daerah Jambi dengan segala latar belakangnya yang mengandung nilai luhur yang perlu
diketahui oleh setiap generasi penerus.

MK133-2010
Sati, M. Delly Dt. Cmg,dkk. 1992.
Upacara Batagak Rumah di Daerah Sumatera Barat. Padang: Bidang Sejarah dan
Nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Prov. Sumbar.
iii+21 hal
Merupakan hasil penelitian yang berisikan tentang proses (tahap-tahap mendirikan
rumah, sistem pengetahuan masyarakat menyangkut pembangunan rumah, dan nilai-nilai
sosiokultural yang terkanduing di dalamnya.

MK 127/MK-2010
…….2002.
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Pedoman Hidup Banagari. Padang:
LKASAM Sumbar
xi+129 hal
Buku ini bersikan tentang kombinasi dan kolaborasi antara adat dan agama yang dianut
oleh masyarakat Minangkabau.

230
BUDAYA

MK
……1989.
Laporan StudyTour Kebudayaan Minangkabau di Lunang Kab. Pesisir Selatan.
Bukittinggi: …….
iv+73 hal
Merupakan laporan tentang studi tur yang dilaksanakan di Lunang Kec. Pancung soal Kab.
Pesisir Selatan. Yang berisikan tentang kebudayaannya, mulai dari sistem kepercayaan
sampai keseniannya.

MK1121-2010
Taufik, Ilhamdi. 1990.
“Kerapatan Adat Nagari dalam Bangunan dan Masalahnya”. Padang: Fakultas
Hukum Universitas Andalas.
29 hal.
Makalah ini terlihat peranan KAN dapat ditingkatkan.

Mk940/prok-03
Amelia,Ranny. 1989.
“Islam dalam Perspektif Masyarakat Minangkabau Suatu Tinjauan Sosial Politik di
Indonesia “. Artikel penelitian. Padang : DPNK Universitas Andalas.
i+65 hlm
Penelitian tentang Islam di Minangkabau suatu tinjauan sosial politik di Indonesia, sebagai
suatu studi pendahulauan untuk mendalami perilaku dan peranan agama islam di masyarakat
yang diteliti.

Mk 722/prog-03
Yusuf. M. 1089.
“ Kewarisan Adat Minangkabau Mempengaruhi Harta Pencaharian di Pekan Baru”.
Artikel penelitian. Padang : fakultas hukum Universitas Andalas.
65 hlm.
Penelitian ini membicarakan orang Minang yang pergi merantau dan bagaimana pula
pelaksanaan adat Minang tentang pembagian harta warisan yang diberlakukan di nagari
orang tersebut.

Mk 290 / m-05
Nafis, Anas. …..
“Pidato Pihak Helat dalam Helat Perkawinan“. Padang: Pusat Dokumentasi &
Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM-PP).

231
Koleksi BPKPSB

8 hlm
Artiel ini berisi tentang pidato yang disampaikan dalam perhelatan perkawinan.

Mk 1138/mk-2010
Amir. B. dkk. 1982.
“ Upacara Tradisional sebagai Kegiatan Sosiolisasi di Daerah Sumatra Barat (Upaca
kematian)”. Laporan Penelitian. DPNK Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah.
viii+197 hlm
Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasikan dan mendokumentasikan upacara
tradisional daerah Sumatra Barat. Khususnya mengenai upacara kematian.

Mk 2440/m-07
Syarifudin, Amir. 1991.
“ Perpaduan Adat Dengan Syarak dalam Lingkungan Adat Minangkabau”. Artikel
penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
20 hlm
penelitian ini membicarakan adat memberikan petunjuk bahwa yang berlaku dalam
kehidupan sosial Minangkabau adalah hukum syarak. Dalam hukum syarak itu terkandung
arti bahwa masyarakat Minangkabau telah melaksanakan adatnya.

Mk 333/m-02
Amir. B. 1979.
Adat dan Islam Suatu Tijauan Mengenai Konflik di Minangkabau. Terjemahan bebas.
Padang: FKPS IKIP Padang.
45 hlm.
Penelitian ini membicarakan konflik yang akan berguna lagi sebagai suatu alat operasional
untuk menganalisa perkembangan sosial dan untuk mengetahui apa penyebab terjadinya
perubahan-perubahan sosial.

Mk 810/mk-2010
Nafis,Anas…..
“Pidato Memuji Rumah Gadang “. Padang : PDIKM-PP.
2 hlm
Artikel ini berisi tentang pidato memuji rumah gadang Minangkabau.

Mk 1075/mk-2010

232
BUDAYA

Hasanuddin. 1996.
“Pidato Pasambahan Minangkabau Refleksi Budaya “. Artikel penelitian. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
19 hlm
Penelitian ini membicarakan tentang pidato pasambahan adalah peristiwa bahasa lisan
Minangkabau yang digunakan di dalam berbagai peristiwa budaya di Minangkabau serta
pergeseran persepsi masyarakat Minangkabau terhadap tradisi lisan pidato pasambahan.

Mk765/prok-03
Zulkayyim. Dkk. 2002.
“Kerapatan Adat Nagari dan Pembangunan Studi Kasus Kan Limbukan-Aurkuning”
Payakumbuh 1983-2000. Padang : DPNK universitas andalas.
iii+ 14 hlm
Penelitian ini melihat keberadaan suatu lembaga adat di Sumatra Barat khususnya di
Limbukan Payakumbuh dengan batasan temporal 1983-2000. Lembaga adat yang dibentuk
di Limbukan berdasarkan pada Peraturan Daerah nomor 13 tahun 1983 tersebut.

Mk 2282/m-07
Syofyan, Yunita. 1989.
“Perubahan Sosial Budaya Perantau Minangkabau di Daerah Rantau”. Artikel
penelitian. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
12 hlm
Penelitian melihat bahwa banyaknya orang miangakabau yang pergi merantau, disebabkan
adanya beberapa faktor, di antaranya faktor adat. Adat sangat menentukan aktivitas orang
Minangkabau merantau.

Mk4721/mk-07
Basri, Hasan. ….
“Pelaminan Minangkabau”. Padang : SMSR Padang.
50 hlm
Penelitian ini langsung melihat dan meneliti benda-benda, mengajukan pertanyaan dan
langsung membahas setiap unsur pelaminan.

Mk 733/prok-03
Yusuf, M. 1988.
“Mamak dan Kemenakan dalam Masyarakat Minangkabau di Padang Luar Koto”.
Artikel penelitian. Padang.
iii+95 hlm

233
Koleksi BPKPSB

Penelitian ini bertujuan untuk pemulihan dan pengokohan kembali hubungan mamak dengan
kemenakan. Diuraikan juga di sini masalah-masalah hubungan kemenakan di Padang Luar
Kota.

Mk 702/mk-2010
Kasih, Media Sandra. 1994.
“Implikatur dalam Pidato Adat Pasambahan Minangkabau”. Artikel penelitian.
Padang: DPNK Universitas Andalas.
32 hlm
Penelitian ini mengambil sampel pasambahan pada jamuan makan helat perkawinan
melalui percakapan yang terjadi antara pihak tamu dengan tuan rumah.

Mk 647/prok-03
Yusriwal. 1994.
“Kemampuan dan Lapangan Kerja Tamatan Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah
Minangkabau”. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
19 hlm.
Makalah ini tentang bagaimana menyalurkan tenaga kerja tamatan program studi Sastra
Daerah. Membahas pula tentang kurang diketahuinya oleh intansi tentang pendidikan
kebudayaan yang ada di Universitas Andalas.

Mk 491/prok-03
Sukmawati, noni. 1997.
“Alek Nagari dan Permasalahan Pengembangan Seni Budaya Minangkabau”. Artikel
penelitian. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
15 hlm
Penelitian ini mengamati langsung ke lapangan. Ternyata alek nagari telah memainkan
peranan dan memiliki fungsi yang penting untuk mempertahankan dan mengembangkan
kebudayaan Minangkabau.

Mk 590/ mk-2010
Djafri, Dt Bandaro….
“Tambo-Darah”. Padang : Limbang Koto Laweh.
7 hlm.
Penelitian ini tentang transliterasi naskah Tambo Darah dari tulisan arab melayu menjadi
tulisan latin.

234
BUDAYA

Mk 466/m-02
Syamsuddin. 1977.
“Arti yang Terpendam pada Pakaian Kebesaran Adat Minangkabau”. Padang:
Proyek Pusat Pengamatan Kebudayaan Sumatra Barat.
14 hlm
Artikel ini tentang fungsi dan perlengkapan yang terdapat pada baju kebesaran orang
Minangkabau yaitu pakaian niniak mamak.

Mk 1112/mk-2010
Amir. B. 1980.
Minangkabau Manusia dan Kebudayaannya. Padang: Jurusan sejarah Fakultas Sastra.
95 hlm
Buku ini merupakan suatu rentetan sejarah Minangkabau dan kebudayaan yang ada pada
masyarakat Minangkabau.

Mk 457/m-02
Djafri. Dt Bandaro…..
Ceramah Adat Alam Minangkabau. Jakarta: Keluarga Mahasiswa Minang.
65 hlm
Buku ini berisi tentang ceramah yang membahas apakah Minangkabau itu? Apakah
Minangkabau itu hanya wilayah adminitratif yang dibentuk dengan undang-undang ataukah
terjadi akibat gempa bumi, banjir dan sebagainya.

MK
Bandaharo. ...
”Tambo Alam, Sarato Panitahan Alua Pasambahan Adat Minangkabau”. Bukittinggi
: Lestari Bukittinggi.
Artikel ini berisi tentang pasambahan-pasambahan Minangkabau.

Mk4927/m-07
Ermaleli. dkk. 2004
Budaya Alam Minangkabau untuk SD Kls 3. Jakarta: PT Bumi Aksara.
xiii+141 hlm
Buku ini adalah panduan belajar untuk murid-murid SD kls 3 tentang kebudayaan
Minangkabau.

235
Koleksi BPKPSB

Mk 3605/m-07
Usman, Abdul Kadir. 2002.
Alam Takambang Jadi Gumam. Padang: Bina Wawasan Sumatra barat.
vi+206 hlm
Buku ini mengungkap ada saja masalah yang membuat setiap orang bergumam. Setidaknya
bagi orang secara hukum memiliki kesadaran dan terlatih bereaksi bila ada melihat kurang
pas menurut yang semestinya.

Mk 87-281
Boechari, Sidi Ibrahim. 1981.
Pengaruh Timbal-Balik Antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di
Minangkabau. Jakarta : Gunung Tiga.
202 hlm
Buku ini mengungkapkan hubungan timbal balik antara pendidikan Islam dan pergerakan
nasional yang utuh. Berusaha menggali sejarah daerah untuk menciptakan sejarah nasional
yang utuh.

MK
Sati, Lubuk. Dt. 1980.“
Istano Pagaruyuang. Padang
Buku ini adalah simpanan tambo yang terletak di Aluang Bunian Luhak Nan Tigo Lareh
Nan Duo.

Mk730/mk-2010
Abdullah,taufik. 1980.
“Seminar Internasional Mengenai Kesusastraan, Kemasyarakatan dan Kebudayaan
Minangkabau”. Padang : universitas andalas.
15 hlm
Artikel ini membicarakan saat sidang seksi dari seminar mengenai hukum adat dan hukum
tanah di Minangkabau, yang diadakan di padang pada tahun 1968.

Mk 800/mk-2010
Jabbar, Hamid. 1978.
“Sajak-sajak”. Padang : DPNK Proyek Pelita.
9 hlm
Buku ini berisi sajak-sajak yang dibuat oleh Hamid Jabbar.

236
BUDAYA

Mk 393/m-02
Syamsuddin. 1977.
“Pidato Panjang “. Padang: Proyek Pusat Pengembangan Kebudayaan Sumatra
Barat.
11 hal
Artikel ini berisi tentang pasambahan penghulu, pasambahan malin, pasambahan manti,
pasambahan dubalang, dan lain-lain.

Mk059/mk-2010
Makmur, Erman. 1982.
“Tenun Tradisional Minangkabau”. Padang: Proyek Pengembangan Permuseuman
Sumatra Barat.
22 hlm
Penelitian ini berisi tentang tenun tradisional Minangkabau. Tenun merupakan sebagian
bahan pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia untuk menutupi tubuh.

Mk 291/mk-2010
Yades, Efri. 1992.
“Arti Kebudayaan bagi Suku Masyarakat Minangkabau”. Artikel penelitian. Padang:
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
10 hlm
Penelitian ini berisi tentang kebudayaan yaitu cara suatu bangsa hidup dalam tanggapan
dan perbuatan.

Mk584/mk-2010
Nuri, Amri. dkk. 2004.
Keterampilan Tradisional Minangkabau Untuk SMP Kelas 2. Jakarta: PT Bumi Aksara.
vii+55 hlm
Buku ini merupakan panduan untuk murid-murid SMP Kls 2 untuk kelancaran dalam
belajar.

MK 769/MK-2010
Esten, Mursal. 1993.
Tradisi dan Perubahan. Padang : Angkara Raya Padang.
139 hal
Buku ini merupakan himpunan sejumlah makalah dan bagian-bagian tertentu disertasi yang
ditulis oleh penulis.

237
Koleksi BPKPSB

Mk 994/mk-2010
Bandaro. Dt. 1988.
Alam Minangkabau, Tutua Nan Badanga Warih Nan Bajawek. Padang …
95 hal
Buku ini berisi tentang tindak tuturan dan informasi tentang kebudayaan Minangkabau
melalui tindak tutur yang dipakai.

Mk 773/mk-2010
Maharadjo,Sutan. 1972.
Buku Pasambahan Pidato Adat Minangkabau. Padang: Pustaka Saudara.
101 hlm
Buku pasambahan pidato adat sebagai satu jalan guna mempertahankan kebudayaan
Minangkabau dan juga menggambarkan nilai dan tingginya kebudayaan daerah dalam
berunding.

Mk 4326/m-07
Penghulu, Radjo.1973.
Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Padang: LKAM Sumbar.
229 hlm
Buku ini menerangkan kesadaran tentang panggilan kebudayaan Minangkabau merupakan
hal yang mutlak, yang merupakan sumbangan daerah ini kepada kekayaan kebudayaan
nasional.

MK 1 352/m-05
Hakimy, Idrus. 1997.
Pegangan Penghulu Bundo Kanduang dan Pidato Alua Pasambahan Adat di
Minangkabau. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
179 hlm
Buku ini berisi sifat-sifat yang melekat pada seorang penghulu dan menjelaskan pembagian
perempuan serta sifat-sifat bagi seorang bundo kanduang.

Mk 675/mk-2010
Aswar, Sativa Sutan. 1999.
Antakesumasuji dalam Adat Minangkabau = Antakesuma Embrioidery In The
Minangkabau. Jakarta : djambatan.
122 hlm
Buku ini sebuah usaha untuk menghimpun pengetahuan mengenai salah satu khasanah
budaya daerah kita. Dalam hal ini ia mengumpulkan informasi tentang sulaman Minang.

238
BUDAYA

Ternyata di Minang banyak sulaman yang terkenal diantaranya sulaman suji.

Mk 5421/m-08
Putra, Yerri S. 2007.
Minangkabau di Persimpangan Generasi. Padang: Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
xxiv+460 hlm
Buku ini menyikapi perkembangan sosial masyarakat Minangkabau saat ini, buku ini juga
memahaminya melalui berbagai perspektif, baik itu melalui sastra, budaya, bahasa, dan
sosial kemasyarakatnya.

Mk 3 523/br-96
Jamin, Jamilus. …..
Alur panitahan Adat Minangkabau. Padang : CV. Pustaka Indonesia.
66 hlm
Buku ini berisi tentang panitahan jamuan makan, katurun (minta pulang), minta maaf di
pakuburan, dan lain-lain.

Mk 306.072
Sugiyanti, Sri.1997.
Hasil Pemugaran Benda Cagar Budaya PJP I. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan
Sejarah Dan Kepubrikalan Pusat.
xi+320Hlm
Buku ini berisi tentang informasi pemugaran benda cagar budaya, diharapkan masyarakat
makin sadar dan bangga akan tingginya nilai-nilai yang terkandung di dalam benda cagar
budaya.

Mk 606/h-06
Widiyanto, Sigit. 1999.
Keberadaan Paguyuban-Paguyuban Etnis di Daerah Perantauan dalam Menunjang
Pembinaan Persatuan dan Kesatuan : (Khusus Ikatan Keluarga Minang Saiyo di
Denpasar Bali, Paguyuban Etnis). Jakarta : DPNK Direktorat Jenderal Kebudayaan
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan
Kebudayaan Masa Kini.
xi+72 hlm
Buku ini berisi tentang paguyuban atau ikatan-ikatan berdasarkan etnis merupakan suatu
bentuk adaptasi bagi masyarakat yang tinggal di perantauan.

Mk 290/mk-2010

239
Koleksi BPKPSB

Astute, Renggo. dkk. 1998.


Budaya Masyarakat Perbatasan (Hubungan Sosial Antargolongan Etnik yang Berbeda
di Daerah Sumatra Barat). Jakarta: Bupara Nugraha.
xi+91 hlm
Buku ini mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia, tujuannya untuk menimbulkan
kesalingkenalan dan tercapainya pula tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan
nasional kita.

Mk 743/mk-2010
…….. 1987
Budaya tradisional Minangkabau untuk Kls V jilid 1. Bukittinggi: Usaha Iklas.
65 hlm
Buku ini merupakan sebagai bimbingan belajar untuk murid-murid SD kls V.

Mk564/mk-2010
……. 1991
Minangkabau Tanah Pusaka. Bukittinggi: CV. Pustaka Indonesia.
51 hlm
Buku ini berisi tentang berbagai adat Minangkabau terutama sekali hukum tanah dan hukum
waris, sando-manyando (pinjam-meminjam), suku dan pengembangannya, penghulu, dan
lain-lain

Mk 259/mk-2010
Ibrahim, Ahmad. 1984.
Minangkabau Minangrantau. Medan : Offset Madju.
231 hlm
Buku ini menceritakan budaya orang Minangkabau tentang merantau. Kebiasaan orang
Minang merantau itu karena ada hubungannya dengan adat dan budaya orang Minang itu
sendiri.

MK 4050./m-07
Bahar. 1996.
Falsafah Pakaian Penghulu di Minangkabau. Payakumbuh: C.V. Eleonora.
57 Hal.
Buku ini menjelaskan falsafah pakaian penghulu di Minangkabau yang diuraikan dalam
bahasa daerah Minangkabau dan bahasa Indonesia,

240
BUDAYA

MK 5110/m-07
……. 1980.
Pakaian Adat Wanita Daerah Payakumbuh. Padang: Proyek Pengembangan
Permusiuman Sumatera Barat.
48 Hal.
Buku ini menyajikan informasi tentang pakaian adat wanita daerah, memuat nilai-nilai
khusus tentang pakaian adat wanita payakumbuh yang dirasakan pengetahuan tentang
pakaian adat ini sudah mulai memudar.

MK 298/h-02
Esde, Erni. dkk. 2000.
Pakaian Penganten Sawah Lunto Sijunjung. Padang: DPNK DJK Museum Negeri
Propinsi Sumatera Barat Adhityawarman.
iii + 42 hal
Buku ini menceritakan adat istiadat perkawinan dan pakaian pengantin Sawahlunto
Sijunjung, ini adalah aset budaya bangsa bagi generasi muda dan masyarakat untuk
menambah wawasan dan khasanah budaya daerah.

MK 3894/m-07
Makmur, H. Erman. dkk. 1999.
Peranan dan Pakaian Sikerai dalam Kehidupan Masyarakat Mentawai. Padang: DPNK
DJK Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat.
vi + 68 Hal
Buku ini berisikan tentang peranan dan pakaian Sikirai dalam kehidupan masyarakat
Mentawai. Sikerai adalah dukun. Buku ini menjelaskan asal usul Sikerai dan bagaimana
peranannya dalam kehidupan masyarakat mentawai.

MK824/2010
Zamri. dkk. 2004.
Budaya Alam Minagkabau. Jakarta: PT Bumi Aksara.
x + 86 Hal.
Buku ini berisikan budaya tentang alam Minangkabau untuk SD kelas 6, menjelaskan
tentang sistem kekerabatan di Minangkabau, harta pusaka menurut adat, dan harta adat
alam Minangkabau.

MK 96/51/fu/15-97
Mansur. 1997.
”Upacara Kematian pada Masyarakat Cina Kecamatan Gaung Kabupaten Indragiri
Hilir Propinsi Riau”. Padang: Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri

241
Koleksi BPKPSB

(IAIN) Al-Jami’ah Imam Bonjol.


ix + 113 Hal.
Skripsi ini meneliti upacara kematian pada masyarakat Cina Propinsi Riau yaitu bagaimana
upacara kematian pada masyarakat keturunan Cina Kecamatan Gaung ini mengemukakan
aspek keturunan antara mereka yang berbeda keyakinan, yang pada masyarakat keturunan
Cina ini memeluk bermacam agama; Budha, Kristen, Islam dan Hindu.

MK996-2010
H. Salmandanis. 2003.
Adat Basandi Syarak. Jakarta: Kartina Insan Lestari.
xxii + 208 Hal
Buku ini berisikan tentang adat basandi syarak, yang menerapkan nilai dan aplikasinya
menuju kembali ke nagari dan surau, berupaya menggali nilai-nilai adat yang disandi
(didasarkan) pada agama dengan pendekatan yang sederhana dan menjadi alternatif untuk
mengaplikasikan adat di tengah-tengah kehidupan modern.

MK 870-2010
Tandiko. ST. dkk. 1989.
Sumarak Nagari. Bukittinggi: Pustaka Indonesia.
124 Hal
Buku Sumarak Nagari menceritakan cara menyemarakan suatu nagari di Minangkabau
adalah dengan penyampaian alur, pasambahan, dan pidato adat Minangkabau.

MK 2600//m-07
Gayatri, Satya. 2000.
”Pelestarian Kebudayaan Minangkabau di dalam Pendidikan Formal”. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Andalas
Padang.
7 Hal
Penelitian ini tentang pelestarian kebudayaan Minangkabau di dalam pendidikan formal,
yaitu pendidikan yang dilaksanakan dengan cara sistematis, berencana, berurutan, dengan
tujuan pendidikan yang jelas dalam situasi yang secara khusus.

MK 857/ MK-2010
Abidin, H. Mas’oed. 2005.
Ensiklopedi Minangkabau. Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau.
xviii + 463 Hal.
Buku ini berisi tentang Ensiklopedi Minangkabau yang disusun sebagai informasi ringkas
mengenai kebudayaan Minangkabau, sejarah, tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarahnya,
yang berasal dari ras Minang.

242
BUDAYA

MK 3305/br-2008
Amir, M.S. 2006.
Adat Minangkabau. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya.
xxii + 206 Hal
Buku ini berisi tentang adat Minagkabau, salah satu tujuan adat pada umumnya, adat
Minang pada khususnya adalah membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang
berbudaya, manusia yang beradab , dengan pola dan tujuan orang Minang.

MK851/ 2010
Mutia, Riza. dkk. 1997.
”Pakaian Penghulu Minangkabau”. Padang: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Sumatera Barat.
v + 77 Hal
Penelitian ini berisi tentang pakaian penghulu Minangkabau yang terdapat di tiga luhak,
yaitu; Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, Luhak 50 Kota.

MK 844-2010
Anwar, Zaiful. 1993.
”Peran Pendidikan Dalam Pembinaan Kebudayaan Nadional Daerah Sumatera
Barat”. Padang: Depertemen Pendidikan dan Kebudayan.
vi + 117 Hal
Penelitian ini berisi tentang peran pendidikan dalam pembinaan kebudayaan nasional
daerah Sumatera Barat, mengambarkan antara lain faktor penghambat dan pendukung
pengejawatahan kebudayaan nasional daerah Sumatera Barat yang ditransformasikan
melalui pranata keluarga, sekolah, ekonomi, agama dan politik pada masyarakat di daerah
Sumatera Barat.

MKn4890/m-07
Sofyan, Dt. Bandaro. Tt.
Petatah-petitih, Pantun, Gurindam, Mamang, Bidal, Adat Minangkabau. Padang: N.M
Rang Koto Anggota Kerapatan Adat Nagari.
iii + 27 Hal.
Buku ini berisi petatah-petitih, pantun, gurindam, mamang, bidal, yang dalam Minagkabau
untuk adat Dt. Perpatiah, adonyo pariangan, niniak mamak, panghulu di lahia sajo, luhak
jo rantau, kato nan ampek, cupak nan duo, cadiak pandai, pusako penghulu, dan undang-
undang.

243
Koleksi BPKPSB

MK832/2010
Esde, Erni. dkk. 2005.
UpacaranPerkawinan di Lunang. Padang: Pemerintahan Daerah Sumatera Barat
Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya.
iii + 61 Hal
Buku ini menceritakan Upacara Perkawinan di Lunang Kabupaten Pesisir Selatan yang
mempunyai keunikan tersendiri dan mempunyai perbedaan dibandingkan daerah lainnya
di Sumatera Barat.

MK 315/H-02
Dhavida, Erman. dkk. 1996.
Pengolahan Makanan Tradisonal Sumatera Barat. Padang: Bagian Proyek Pembinaan
Permuseuman Propinsi Sumatera Barat.
iii + 67 Hal.
Buku ini berisi tentang pengolahan makanan tradisional yang dideskripsikan secara
tradisional yaitu pengolahan padi, pengolahan kelapa, koleksi pengolahan tempat makanan
yang terbuat dari kuningan.

MK1018/2010
…… 1989.
Dapur dan Alat-Alat Tradisonal Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
119 Hal.
Buku ini berisi tentang alat-alat memasak atau dapur tradisional di Minangkabau, dapur
tradisional Minangkabau pada umumnya bentuk segi empat persegi panjang, letak di
bagian di belakang rumah, dapur berfungsi sebagai tempat memasak, juga sebagai tempat
menyimpan makanan, bahan dan peralatannya.

MK 994/2010
….. 1998.
”Peranan Nilai Budaya Daerah Sumatera Barat dalam Gerakan Disiplin Nasional”.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
vii + 90 Hal
Penelitian ini berisi tentang peranan nilai budaya daerah Sumatera Barat dalam gerakan
displin nasional yang bertujuan untuk mengindentifikasi dan mendeskripsikan berbagai
sikap dan perilaku disiplin di kalangan warga masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-
hari, maupun dalam upacara ritual dan religius.

MK 391.009.589 13

244
BUDAYA

Syamsuddin. 1978.
Arti yang Terpendam pada Pakaian Kebesaran Adat Minangkabau. Padang: Proyek
Pusat Pengembangan Kebudayaan sumatera Barat.
14 hal
Buku ini memuat tentang deta hitam becinicin, keris, baju gadang hitam, kain saruang
hitam, kabek pinggang patah sambilan, tungkek dan salendang lapeh.

MK593/prok-03
Arbain, Armini. 2001.
“Kepercayaan Rakyat Minangkabau”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
48 hal.
Penelitian ini adalah penelitian folklor setengah lisan yaitu kepercayaan rakyat.

MK 1592/br-05
Yoserizal. dkk. 1991.
”Organisasi Perantauan dan Pengaruhnya Terhadap Kampung Halaman”. Padang:
DPNK Pusat Penelitian Universitas Andalas.
30 hal.
Penelitian ini adalah suatu organisasi perantauan telah menujukan tendensi sebagai suatu
organisasi yang bersifat statis dan dinamis untuk membangun kampung halamannya.

MK 905/ mk-2010
Syofyan, Yunita. 1989.
”Kedudukan Wanita Minagkabau Sistem Matrilineal”. Padang: Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
10 Hal.
Penelitian ini mendapat kedudukan yang istimewa karena untuk meneruskan keturunan.

MK 993/2010
Mutia, Riza. dkk. 1996.
”Senjata Tradisional Sumatera Barat Koleksi Museum Negeri Propinsi Sumatera
Barat”. Padang: Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat.
iii + 43 hal
Penelitian ini tentang senjata tradisonal Sumatera Barat mengategorikan senjata sebagai
salah satu dari delapan sistem teknologi diantaranya yaitu; 1. alat-alat produktif, 2. senjata,
3. wadah, 4. alat-alat menyalakan api, 5. makanan, minuman, bahan pembangkit gairah
dan jamuan, 6. pakaian dan perhiasan 7. tempat perlindungan dan perumahan, 8. alat-alat
transportasi.

245
Koleksi BPKPSB

MK 341/br-02
Sati, H. Dj. Dt. Bandaro LB. 1988.
Tutua Nan Badanga Warih Nan Bajawek Baradat Ka-Pariangan Ba-Rajo Ka-
Pagaruyuang “Alam Minangkabau”. Padang: …..
96 Hal.
Buku ini menceritakan alam Minagkabau, dan kerajaan-kerajaan dan peradaban
Minangkabau yang demikian menjadi pengangan dalam kehidupan.

MK 1019/2010
Safwan, Mardanas. 1989.
Dapur dan Alat-Alat Tradisonal Daerah Sumatera Barat. Padang: Departemen
pendidikan dankebudayaan
ix + 323 Hal.
Buku ini berisikan tentang alat-alat memasak atau dapur tradisional di Minangkabau, dapur
tradisional Minangkabau pada umumnya bentuk segi empat persegi panjang, letak di
bagian di belakang rumah, dapur berfungsi sebagai tempat memasak, juga sebagai tempat
menyimpan makanan, bahan dan peralatannya.

MK 342598 130
Sjamsir. Tt. …..
“Alat-Alat Perlengkapan Nagari Sepanjang Nagari Sepanjang Adat”. Padang: ….
20 hal
Penelitian ini berisikan tentang alat-alat perlengkapan nagari sepanjang adat, nagari sebagai
suatu masyarakat hukum adat, mempunyai alat-alat perlenngkapan untuk mengurus segala
macam kegiatan dan kewenangannya.

MK915.981 38 504/2010
Syamwil, Suhaili. 1986.
Padang Kota Tercinta. Padang: Angkasa Raya.
75 hlm
Buku ini menceritakan lingkungan kota Padang yang indah, bersih, dan asri. Lebih
menariknya, Kota Padang memiliki taman-taman yang alami, bekas Kota Perjuangan, dan
sebagai Kota Pendidikan, sehingga penulis berani menggambarkan Padang di masa dalam
menghadapi masa depan. Sebagai acuan wisatawan, Padang juga terdapat pantai yang indah

MK 959.813.8
Profile. 1973.
“Padang Kota Tercinta”.

246
BUDAYA

…. Hlm
Profile ini menceritakan keadaan dan suasana kota pada tempo dulu (1973), yang alam dan
lingkungannya masih indah dan alami lagi bersih.

MK 910.202 09 598 13
tn, …. tt
Pedoman Wisata Remaja di Sumatra Barat. Bukittinggi: Pariwisata Sumbar.
61 hlm
Buku ini adalah buku panduan untuk wisatawan di Sumatra Barat, alamat-alamat objek
wisata, dan pusat bantuan yang harus dituju ketika mendapat kendala selama perjalanan.

MK 338.495 981 31
Isramirawati. 1994
“Tingkat Kemampuan Bahasa Inggris Pramuwisata di Kotamadya Padang”. Laporan
Penelitian. Padang : Pusat Penelitian Universitas Andalas.
45 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang tingkat kemampuan pramuwisata di Padang yang
datanya diambil dari Himpunan Pramuwisata Indonesia cabang Padang pada 1994.

MK 910.409 598 13
Tim Penulis. t.t
Pedoman Wisata Remaja di Sumatera Barat. Padang : Pengembangan Pariwisata
Sumatera Barat.
Buku ini merupakan petunjuk ringkas tentang tempat-tempat wisata di Sumatera Barat,
khususnya bagi wisatawan remaja.

MK 307.959 813
… ……… ……
“Pendekatan Sosial-Budaya dalam Pembangunan Pariwisata di Sumatera Barat”.
Artikel. Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Artikel ini menguraikan tentang dunia kepariwisataan di Sumatera Barat dengan pendekatan
sosial-budaya.

MK 352.949 598 13
Hasanuddin. 1999.
“Pembangunan Kepariwisataan Sumbar dan Dualisme Tuntutan”. Artikel. Padang :
Fakultas Sastra Universitas Andalas.

247
Koleksi BPKPSB

Artikel ini berisi uraian tentang dualisme pengambangan pariwisata di Sumatera Barat.

020/MK-2010
Tim Penyusun. 1989.
Padang Pintu Gerbang Pantai Barat Indonesia. Padang: Manda Buana Bhakti.
210 hlm.
Buku ini berisi tentang profil Kota Padang dan berbagai potensi yang dimiliki oleh daerah
ini.

MK 800
Dinas Pariwisata Daerah Tk. I Sumatera Barat. 1987.
“Sumbangan Pikiran bagi Pengembangan Pariwisata Sumatera Barat; Himpunan
10 Karya Tulis Terbaik Sayembara Karya Tulis Pariwisata Sumatera Barat dalam
Rangka Hari Pers Nasional III di Sumatera Barat.” Padang : Dinas Pariwisata Daerah
Tk. I Sumatera Barat.
Tulisan ini adalah kumpulan beberapa tulisan tentang dunia kepariwisataan di Sumatera
Barat.

248
SENI
SENI

B, Amir. 1980/1981.
‘’Permainan Rakyat Daerah Sumatra Barat’’. Hasil penelitian. Padang: Proyek
Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan
Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
279 hlm.
Hasil penelitian ini bercerita tentang bentuk permainan rakyat Minangkabau tradisional,
dimulai dari permainan orang dewasa hingga permainan anak-anak.

MK
920.958. 13
Ars
.3
Revisionary, Riza dkk. 1979.
‘’Arsitektur Minangkabau’’. Hasil penelitian. Bandung: Departemen Arsitektur
Institut Teknologi Bandung.
xiv+321 hlm.
Penelitian ini mendeskripsikan segala bentuk arsitektur tradisional bangunan yang terdapat
di daerah Sumatera Barat. Daerah yang menjadi basis penelitian adalah Solok, Batu Sangkar,
Bukittinggi, dan Payakumbuh.

MK
792. 8959813
SUL
B.1
Sulastri. 1994.
“Beberapa Bentuk Seni Pertunjukkan di Minangkabau: Suatu Deskripsi Awal”. Hasil
Penelitian. Padang : Fakutas Sastra Unand.
Tulisan ini menceritakan tentang bentuk seni pertunjukan di Minangkabau yang terdiri
dari seni pertunjukan tradisional dan bernafaskan Islam. Seni tradisional yaitu batagak
penghulu, saluang dendang, randai, dan seni pertunjukan bernafaskan Islam yaitu tabuik,
salawat dulang, dikia, dabus, indang.

Sukmawati, Noni. 1995.


‘’Kaitan Randai dengan Teater Modern di Sumatra Barat’’. Hasil penelitian. Padang:
LP Universitas Andalas.
v+52 hlm.
Laporan penelitian ini bercerita tentang seni teater tradisional Minangkabau yang disebut
dengan randai, kelak randai akan memicu lahirnya teater modern di Sumatra Barat.

251
Koleksi BPKPSB

M
722.409 598 13
Sun
a
Soenarto dan Sudaryanto. 1982/1983.
Arsitektur Tradisional Minangkabau Selayang Pandang. Jakarta: Proyek Media
Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Depertemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
vii+ 146 hlm.
Buku ini menceritakan arsitektur Minangkabau sebagai kebudayaan nasional, Nilai-nilai
budaya yang dikandungnya, lingkungan hidup, hubungannya dengan ketahanan nasional,
dan potensi pelestarian arsitektur tradisional Minangkabau.

MK
720 095 981 3
Sya.
a.3
Syafwandi. 1993.
‘’Arsitektur Tradisional Sumatra Barat’’. Hasil penelitian.  Jakarta: Depertemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan
Nilai Tradisional Proyek Pnelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
viii+58 hlm.
Laporan ini menceritakan arsitektur banguan di Minangkabau Sumatra Barat. Untuk
memulainya, peneliti mendeskripsikan terlebih dahulu tentang sejarah Minangkabau, adat
kebudayaan, dan kebiasaan masyarakatnya yang matrilineal.

MK
751.4
Fum
M.4
Tumbidjo, HB. Datuak. 1980.
‘’Minangkabau Siana, Masalah Bahan Alat Teknik dalam Seni Rupa’’. Hasil
penelitian. Padang: SMSR.
68 hlm.
Laporan penelitian ini bercerita bahan-bahan teknik dalam seni rupa, mulai dari bahan
tradisional hingga bahan modern.

572/mk-2010
Mk
700
Mur
S.5

252
SENI

Bahar, Madi. 2004.


Seni Tradisi Menentang Perubahan Bunga Rampai. Padang Panjang: STSI Padang
Panjang Fress.
xv+251 hal
Buku ini menjelaskan perubahan pandangan, tari dan perubahannya, pedalangan, dasar
kerupaan dan tantangan, seni dan konteks ritualnya. Buku ini untuk mengenang Prof. Dr.
Mursal Esten.

661/mk-2010
Mk
746.440 9598 13
Ker
1
Esde, Erni. dkk. 1995.
Kerajinan Sulaman Sumatra Barat. Padang: Museum Negeri Propinsi Sumatra Barat
Adhtyawarman.
60 hal
Dalam buku ini menjelaskan gambaran umum daerah penelitian, jenis sulaman dan peralatan
yang dipergunakan, motif dan fungsi sulaman.

Mk
746.6
Gin
C
G. Ginarti,1976.
Teknik Menghias. Padang: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP
ii+58 hal
Buku ini menjelaskan peranan cipta karsa di dalam pendidikan kesejahteraan keluarga.
Teknik menjadikan bahan baru menjilid buku/majalah, memberi bingkai dan membungkus
hadiah. Cara bekerja yang baik. Pekerjaan dari kulit.

2981/m-07
Mk
792.895 958 13
Sul
b.1
Sulastri,1994.
”Beberapa Bentuk Seni Pertunjukan di Minangkabau Suatu Deskripsi Awal” Padang:
Fakultas Sastara Universitas Andalas.
49 hal

253
Koleksi BPKPSB

Dalam laporan penelitian ini dijelaskan ranah dan kawasan Islam di Minangkabau, bentuk
seni pertunjukan di Minangkabau: seni pertunjukan tradisional, acara batagak penghulu,
saluang dan dendang, seni musik talempong, randai, seni pertunjukan bernafas Islam,
tabuik , salawat dulang, dikia, dabus, dan indang.

Mk
793 095 9813
Per
Tim peneliti. 1981.
”Permainan Rakyat Daerah Sumatra Barat”. Padang: Depertemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
302 hal
Dalam laporan penelitian ini dijelaskan permainan rakyat Sumatra Barat yang belum pernah
dibukukan, lengkap dengan gambarnya.

Mk
722.4095 9813
Sun
A
Soenato. Sudyarto. 1983.
Arsitektur Tradisional Minangkabau Selayang Pandang. Padang: Depertemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
xx+145 hal
Buku ini berisi: Arsitektur Minang dan Kebudayaan Nasional, Arsitektur Minang dan Nilai
Budaya, Arsitektur Minang dan Lingkungan Hidup, Arsitektur Minang dan Ketahanan
Budaya Nasional, Pelestarian Arsitektur Minang, Beberapa Potensi untuk Pelestarian
Arsitektur Tradisional.

770/mk-2010
8x1.4
Kri
S
Krisna. Eva. 2001
Saluang Sastra Minangkabau. Padang: Balai Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional.
vii+94 hal
Dalam buku ini dijelaskan pertunjukan sastra lisan, struktur pantun, dan trankripsi rekaman
dendang.

Mk
808.2

254
SENI

Bus
d.1
Bandaro.1981.
Pendidikan Kesenian Drama. Solok: SMA Negeri.
42 hal
Buku ini menjelaskan pengertian teater dan nonteater, unsur-unsur drama, karya sastra,
karya sastara dramatik, drama sebagai tontonan umum, pertumbuhan teater di Indonesia,
teater garapan baru, dan masalah teknik pada drama pentas

Mk
8x1.41
Adi
p.3
Adilla Ivan,1989.
’’Pantun dalam Pertunjukan Bagurau”. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
i+39 hal
Dalam laporan penelitian ini dijelaskan bagurau sebagai pertunjukan dan pantun dalam
pertunjukan bagurau.

Mk
745 959 813
Amr
k.5
Zamris.dkk. 2004.
Keterampilan Tradisional Minangkabau. Padang: Bumi Aksara.
33 hal
Buku ini berisikan: mengenal jenis-jenis anyaman, anyaman dari daun dan batang, anyaman
dari bambu dan lidi kelapa, anyaman dari rotan.

658 / MK- 2010


Ens.4
Tim Peneliti. 1976.
”Ekslopedi Musik dan Tari Daerah Sumatera Barat”. Sumatera Barat.
xvi + 201 hal,.
Hasil penelitian ini berisi tentang ekslopedi musik dan tari yang berada di Sumatera Barat.

255
Koleksi BPKPSB

665 / MK- 2010


Lis Dwiyana, Lisa Sri. dkk. 2001.
”Permainan Tradisional Sumatera Barat”. Padang: Museum Negeri Propinsi
Sumatera Barat.
v + 69 hal,.
Hasil penelitian ini berisi tentang keberadaan permainan tradisional (congklak, m a i n
tali, main patok lele, dan lain-lain) di Sumatera Barat.

Mk
746 410 959 813
Mak
A
Dhavita, Usria. Dwiyanti Lisa Sri. 1997.
KerajinanTradisional Anyaman Pandan Di Sumatra Barat. Padang: Museum
Adytiawarman.
45 hal
Buku ini memberikan sekilas tentang kerajinan tradisional anyaman pandan dan kerajinan
anyaman pandan di Sumatra Barat,

Mk
792 095 9813
Kum
5
Bidang Kajbang. 1987.
Kumpulan Naskah Randai Bernafaskan P4 Dati II Sumatra Barat. Sumatra Barat.
310 hal
Buku ini berisi naskah randai: Salendang Dunia ( Pasaman), Sabai Alui (Agam), Sabai Nan
Alui ( Bukik Tinggi), Dt.Sandi Ponco Alam (50 Kota ), Anggun Nan Tongga ( Payakumbu),
Intang Pangiriang (Padang), Lamak Di Awak Nan Katuju Di Urang (Pandang Panjang),
Bujang Johari (Padang Pariaman), Maamuak Jo Pisau Maja ( Pasisir Selatan), Siti Dahlia (
Sawalunto),Upik Rabanun (Kodya Solok), Sutan Sari Alam (Kab Solok), Sarah Siti (Tanah
Datar)

Mk
782 420 959 813
Adr
s.5
Amir, Adriyetti. 1990.
”Salawat Dulang Sastra Sufi di Minangkabau”. Padang: Pusat Penelitian Universitas
Andalas.
31 hal

256
SENI

Laporan penelitian ini menjelaskan Salawat Dulang Sastra Sufi di Minangkabau dalam
kehidupan masyarakat Minangkabau.

Mk
709 598 13
Non
K
Sukmawati, Noni. 1995.
”Kaitan Randai dengan Teater Modern di Sumatra Barat”. Padang: Lembaga
Penelitian Universitas Andalas.
iv+70 hal
Laporan penelitian ini berisi tentang kesenian di Minagkabau, randai dan teater modern di
Sumatera Barat.

M
793 809 598 13
Per
2
Makmur, Erman. 1981.
”Permainan Dabus di Sumatra Barat”. Padang: Permuseuman Sumbar.
55 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan alat-alat yang diperlukan dalam pertunjukan debus,
macam-macam permainan debus, serta poto debus.

4944/m-07
Mk
745 959 813
Zam
k.5
Nurin, Amir Dkk. 2004.
Keterampilan Tradisional Minagkabau. Padang: Bumi Aksara.
iii+89 hal
Buku ini berisikan sulaman daerah Minangkabau, membuat sulaman daerah Minangkabau,
tenun daerah Minangkabau, makanan khas daerah Minangkabau.

575/mk-2010
Yus
g.2
Yoeswar, Erita dan Suid Gusmiati. Tp.
Tarian Rantak Dan Kreasinya. Padang: …….

257
Koleksi BPKPSB

38 hal
Buku ini berisikan riwayat hidup singkat Gusmiati Suit, lingkungan dan orientasi Gusmiati
Suit, tari rantak proses penciptaan dan sosialisasi, arti Gusmiarti Suit dan karya-karyanya.

5753/m-07
09 5753
Tim penaliti. 1980.
’’Olah Raga Selaju Sampan di Sumatra Barat”. Padang: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Sumatra Barat.
vii+39 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan sungai-sungai dan lokasinya, nama, luas, dan lokasi
daerah danau di Sumatra Barat; jumlah nelayan perikanan laut di Sumatra Barat 1978;
jumlah petani ikan dan nelayan penangkap ikan darat tahun 1978; distribusi jumlah atlit
selaju sampan menurut umur pada beberapa daerah Sumatra Barat tahun 1980; persentasi
jumlah atlit selaju sampan menurut latar belakang pendidikan pada beberapa Dati II Sumatra
Barat 1980; ukuran sampan yang biasa digunakan dalam bersilaju sampan pada beberapa
Dati II Sumatra Barat 1980.

96-602
Hamdani, Muhammad Rufi. 1994.
” Perencanaan Interior Ruang Pameranpada Museum Seni Karawitan Minangkabau”.
Padang: Jurusan Teknik Desain Interior
vi+105 hal
Skripsi ini berisikan Museum Seni karawitan Minangkabau, program desain, analisis
program desain, konsep perencanaan, serta lampiran gambar desain.

Mk
792 959 813
Iva
k.1
Adila, Ivan. 1996.
”Kehidupan Teater Sumatra Barat di Masa Datang”. Padang: Fakultas Sastra
Universitas Andalas.
18 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan teater sebagai kerja kolektif.

1109/mk-2010
Mk
782 45
Suk

258
SENI

i.4
Sukmawati, Noni. 1996.
”Indang Tuo Sebagai Media Dakwa” Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
45 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan Minangkabau dan kesenian, perkembangan seni
Minangkabau, indang tuo dan perkembangannya, indang tuo sebagai media dakwah,
kesenian dakwa tuo.

3306/m-07
Mk
723
Her
P
Herwandi,Dkk. 1997.
”Pola Hias Masa Megalitik di Lima Puluh Koto Menggali Akar Budaya Pola Hias
Minangkabau”. Padang: Universitas Andalas.
iii+27 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan peninggalan tradisi menggalitik di Lima Puluh Koto,
menghias dan klasifikasi hias, perbandingan pola hias Minangkabau dengan pola hias di
situs-situs megalitik Lima Puluh Kota.

771/mk-2010
Mk
722
Rum
Tim penulis. 2005.
Rumah Gadang 20 Ruang di Sulik Air. Padang: Dinas Parawisata, Seni, dan Budaya
iii+45 hal
Buku ini menjelaskan sekilas mengenal nagari Sulik Aia dan rumah gadang di Sulik Aia.

1148/mk-2010
Mk
793
Maz
p.3
Luth, Mazzia. 1979.
”Palabak Permainan Rakyat Daerah Mentawai”. Padang: Fakultas Keguruan dan
Pengetahuan Sosial IKIP
12 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan palapak merupakan rakyat daerah kepulauan Mentawai
khusus daerah kecamatan Siberut Utara. Jenis permainan rakyat ini dilakukan secara

259
Koleksi BPKPSB

sembunyi-sembunyi sehingga orang luar jarang dapat melihat permainan ini.

1226/mk-10
Mk
782 420 959 813
Sul.1
Sulaiman, Syafrudin. 1990.
”Sastra Lisan Indang di Minagkabau”. Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
iii+197 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan asal mula indang dan teks indang,

1097/mk 10
Mk
793 397 981 3
Has
p.2
Hasanudin. 1995.
”Permainan Anak Nagari Minangkabau”. Padang: Fakultas Sastra Unuversitas
Andalas
15 hal
Laporan ini menjelaskan permainan rakyat seperti pencak silat, tarian pencak, tarian
perintang, tarian kaba, teater tradisional randai, gamaik, tabuik, karawitan (alat musik tiup),
karawitan pukul, dan sepak rago.

612/mk-10
Mk
745 959 813
Yus.8
Yusriwal, dkk. 1997.
”Konteks Sosial Kesenian Rakyat”. Padang: Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
iii+27 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan sejarah dan perkembangan gamat, konteks sosial
kesenian dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

772/mk-10
Mk
796.8
Per.1
Azinar, Sayuti dkk. 1978.
”Perkembangan Seni Bela Diri Tradisional di Sumatra Barat”. Jakarta: PP dan PPK.

260
SENI

48 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan latar belakang sosial budaya dalam perkembangan silat
di daerah, tata struktur dalam pengajaran silat, dan ciri-ciri perguruan.

4143/m-07
Mk
700
Zai
t.5
Naid, Zainir. Tp.
”Seni Tradisional Sebagai Bahan Penciptaan Seni Indonesia Baru”. Padang: ……
6 hal
Laporan penelitian menjelaskan seni tradisional sebagai bahan penciptaan seni Indonesia
baru.

518/m-02
M
750
Pam
2
Taman Budaya Sumatra Barat. 2000.
Mengisi Celah Menggali Kemungkinan. Padang: Taman Budaya Sumatra Barat.
32 hal
Buku ini menjelaskan seni grafis Indonesia meratap atau meradang, satu seni rupa,

238/prok-03
Mk
790 028
Per
Thaha, Agusman. dkk. 1986.
”Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Minagkabau”. Sumatra Barat: ……
v+306 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan identifikasi alam dan sosial budaya Sumatra, peralatan
kesenian rakyat tradisional, dan peralatan hiburan tradisional.

261
Koleksi BPKPSB

4411/m-07
Mk
780
Teo
5
nn. tt.
”Seni Dasar Musik”
14 hal
Menjelaskan teori dasar musik, notasi kunci, tangga nada, tanda mula, musik harmonis.

1163/mk-10
Mk
709.959813
Non
r.9
Sukmawati, Noni. Tp.
“Randai dan Peranan dalam Perkembangan Kesenian di Sumatra Barat”. Padang:
Fakultas Sastra Universitas Andalas.
6 hal
Makalah ini menjelaskan randai dan peranannya dalam perkembangan kesenian di Sumatra
Barat.


526/m-02
……………
Gaung Masa Silam Kesenian Langkah Minagkabau Sumatra Barat
21 hal
Bbuku ini menjelaskan gandang agung, tari mulo pado, indang tuo, batintin, dan sampelong.

1173/mk-10
745 959 813
Iva
p.6
Adila, Ivan. 1989.
”Pantun dalam Kesenian Minangkabau”. Padang: Fakultas Sastra Universitas
Andalas.
18 hal
Laporan penelitian ini menjelaskan pantun dalam kesenian rakyat Minagkabau, surau ,
langgar, intelektual, Islam di Sumatra Barat pada awal abad ke-20.

262
SENI

8X9.131
Dha
K
Dhavida, Usria dkk. 1996.
Kesenian Rabab Pesisir. Padang: Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat
Adhityawarman.
iv + 43 hlm.
Buku ini menguraikan secara deskriptif tentang kesenian Rabab Pesisir. Deskripsi kesenian
tersebut mencakup perkembangan dan bentuk Rabab Pesisir, bagian-bagian Rabab Pesisir,
cara memainkannya serta fungsi dan peranan Rabab Pesisir dalam kehidupan sosial budaya
masyarakat pendukungnya.

MK
306.072
Mar
i
Martamin, Mardjani & Amir B. 1976.
“Indang Piaman: Salah Satu Contoh Pengumpulan Data Folklore”. Laporan
Penelitian. Padang: Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Padang.
iv + 25 hlm.
Laporan penelitian ini berisi dokumentasi folklor Rabab Piaman. Dokumentasi folklor ini
meliputi cara pertunjukkan, para pemain, dan dinamika kesenian Indang Piaman.

MK
736.095.981.3
Ibe
s.4
Usman, Ibenzani. 1981.
“Seni Ukir Tradisional Minangkabau dalam Konteks Adat Istiadat”. Laporan
Penelitian. Padang : Kerja sama Universitas Andalas dengan IKIP Padang, INS Kayu
Tanam, dan Pemerintahan Daerah Sumatera Barat.
13 hlm.
Laporan penelitian ini menguraikan jenis-jenis dan pola-pola seni ukir tradisional
Minangkabau yang terdapat di rumah gadang. Selain itu, dalam tulisan ini juga dijelaskan
makna filosofis dan akar sejarah dari jenis-jenis motif ukiran yang ada di Minangkabau.

MK
736.409 598 13
Uki
Siat, Hasni dkk. 1999.
“Ukiran Tradisional Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang : Bagian Proyek

263
Koleksi BPKPSB

Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat.


ix + 79
Laporan penelitian ini menjelaskan nama-nama motif, bahan dan peralatan pembuatan
ukiran tradisional Minangkabau. Di samping itu, dalam tulisan ini juga dijelaskan nilai-
nilai yang terkandung di dalam motif ukiran tradisional Minangkabau.

MK
441/mk-2010
Ami
s.3
Amir, Adriyetti. 1990.
“Salawat Dulang : Sastra Sufi di Minangkau”. Laporan penelitian. Padang: Proyek
OP Universitas Andalas.
30 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan sastra lisan seperti salawat dulang, penampilan selawat
dulang ini seperti bersoal dan jawab. Komunikasi pemain seperti orang tanya jawab.

mk
512/mk-2010
Zur
Zuriati. 2006.
“Bataram Sutan Pangaduan dari Pesisir Minangkabau”. Padang: Andalas University
Press.
ix + 421 hlm
Buku ini merupakan laporan hasil penelitian penulis yang berjudul ”Bataram Suatu
Sastra Lisan Minangkabau”, yang berisi informasi dan deskripsi satu bentuk tradisi lisan
Minangkabau yang nyaris punah.

Mk
1.495/m/05
Ismail, Nazar. 1999.
Pameran Seni Patung Nazar Ismail. Taman Budaya Propinsi Sumatra Barat.
10 hlm
Buku ini menceritakan keberhasilan dan penghargaan yang telah diterima oleh Nazar Ismail
dalam berbagai pameran seni patung.

Mk
082/mk-2010 s/d 100/mk-2010
Sulaiman, Syafruddin. 1990.

264
SENI

“ Sastra Lisan Indang di Minangkabau”. Laporan penelitian. Padang: Untuk Yayasan


Toyota Tokyo Jepang, Fakultas Sastra Universitas Andalas.
iv+ 199 hlm
Laporan penelitian ini berisi tentang seluk- beluk kesenian indang. Penulis menelusuri
kembali sastra lisan indang yang hampir punah, baik dari segi sejarah sekaligus
mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan.

Mk
085/mk-2010
Martamin, Mardjani & Amir B. 1978.
“Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. Padang: Jurusan Sejarah Fakultas
Keguruan Pengetahuan Sosial IKIP.
53 hlm
Artikel ini berisi tentang penjelasan mengenai arti ukiran-ukiran yang terdapat pada rumah
adat Minangkabau. Setiap ukiran yang ada di rumah adat Minangkabau tersebut memiliki
arti tersendiri.

Mk
056/mk-2010
Wasana. 1992.
“Struktur Lirik Lagu Minang Modern”. Laporan penelitian. Padang: Proyek OPF
Universitas Andalas.
ii+ 35 hlm
Penelitian ini adalah tentang struktur lirik lagu Minang modern khususnya mengenai unsur
tema dan amanat.

Mk
2976/m-07
Fad
Sulastri. 1994.
“Beberapa Bentuk Seni Pertunjukan di Minangkabau Suatu Deskripsi Awal“.
Padang: Fakultas Sastra Universitas Andalas.
49 hlm
Penelitian ini tentang seni pertunjukan di Minangkabau yang berkembang sesuai dengan
perkembangan dinamika masyarakat pendukungnya.

265
Koleksi BPKPSB

Mk
736.409 598 13
Uki
Siat, hasni dkk. 1999.
“Ukiran Tradisional Minangkabau“. Laporan penelitian. Proyek pembinaan
permuseuman Sumatra Barat.
ix+ 79 hlm
Penelitian ini tentang ragam hias ukiran Minangkabau yang pada umumnya diterapkan
di rumah gadang Minangkabau serta fungsi sebagai hiasan atau dekoratif yang dikatkan
dengan falsafahnya.

Mk
535/prok-03
Non
Sukmawati, noni. 1998.
“Seni Pertunjukan Tradisional Minangkabau: Teater Tupai Janjang”. Padang:
Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
34 hlm
Penelitian ini tentang teater tutur tupai janjang, seni tradisional Minangkabau yang cukup
unik sebagai lanjutan tradisi bakaba.

Mk
1087/mk-2010
Iva
Adilla, Ivan. 1989.
“Pantun dalam Kesenian Rakyat Minangkabau”. Padang: DPNK Universitas Andalas.
18 hlm.
Penelitian ini tentang penggunaan pantun dalam kesenian Minangkabau

Mk
067/mk-2010
Krisna, Eva. 2001.
“Saluang Sastra Lisan Minangkabau“. Padang: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.
viii+100 hlm
Buku ini bercerita tentang sastra lisan yaitu saluang, sejarah dan pendeskripsiannya.

266
SOSIAL
SOSIAL

395.095 981 3
Tat
1
B, Amir dkk. 1984.
‘’Tata kelakuan di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat di
Daerah Sumatra Barat’’. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek
Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
xiii+157 hlm.
Buku ini merupakan hasil penelitian tentang etika kelakuan di lingkungan pergaulan
keluarga, dan masyarakat. Dijelaskan pula dalam buku ini tentang kesetiakawanan sosial,
mental tenggang rasa, hemat, bekerja keras, tertib, pengabdian, cermat, kejujuran, dan
kewiraan.

BAPPEDA. 2008.
Pasaman dalam Angka, 2008. Lubuak Sikapiang: Badan Pusat Statistik Kabupaten
Pasaman.
xxxiii+353 hlm., ISBN: 1403.13.091
Buku ini mendeskripsikan Kabupaten Pasaman, mulai dari geografis daerah, pemerintahan,
penduduk, tenaga kerja, sosial pertanian, ekonomi, dan keuangan. Deskripsi ini bisa
dituliskan setelah pemerintahan berjalan di bawah pimpinan H. Bupati Lubis, SH pada
tahun 2008.

mk
303.495 9812
Dam.
t.9
Damsar. 1989.
‘’Titipan Bayi: Perobahan Pola Asuh Anak Bawah Lima Tahun pada Masyarakat
Minangkabau’’. Hasil penelitian. Padang: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan
Pusat Penelitian niversitas Andalas.
iii+25 hlm.
Laporan ini menceritakan perubahan pola pendidikan pengasuhan anak oleh kaum ibu di
Minangkabau semenjak hadirnya tempat penitipan anak di lingkungan masyarakat Sumatra
Barat.

Mk
306.850 958 13
Nini
Anggraini, Nini. Dkk. 1999.
“Sosialisasi Anak dalam Keluarga Minang dan Cina”. Laporan Penelitian. Padang :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Andalas.

269
Koleksi BPKPSB

9 hlm
Hasil penelitian ini menjelaskan proses kehidupan anak-anak dalam lingkungan
masyarakatnya yang mempunyai perbedaan etnis (Minang dan Cina). Kehidupan yang
multietnis tersebut mengharuskan orang tua membina anak sejak dini tentang pentingnya
beradaptasi dalam kehidupan masyarakat sekitarnya yang berbeda etnis antara orang
Minang dan Cina.

Mk
060. 959 8137
Yos
O.8
Yoserizal. Dkk. 1991.
“Organisasi Perantauan dan Pengaruhnya terhadap Kampung Halaman, Studi
Kasus: Perantau Koto Anau di Kotamadya Padang”. Laporan Penelitian. Padang :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Universitas Andalas.
ii+30 hlm
Laporan ini berisi tentang organisasi perantau Fon Pembangunan Rakyat Koto Anau
(FOPERKA) di Kota Padang yang mempunyai struktur dinamis dan dijalankan dengan baik
sehingga mempunyai kontribusi penting dalam pembangunan di kampung halamannya.

Mk
959. 813
Boe
H.5
B, Amir. 1981.
Minangkabau. Padang : Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial. IKIP.
161 hlm
Buku ini menjelaskan sistem kekerabatan, organisasi masyarakat, kesusasteraan, dan pola
merantau orang Minangkabau di tengah kehidupan modern saat ini.

M
574.52
Pen
……….., 1980.
“Pengaruh Sistem Pembukaan Tanah terhadap Aspek-Aspek Lingkungan di Daerah
Pemukiman Transmigrasi: Sebuah Studi Perbandingan di Daerah Sumatera Barat
dan Riau”. Padang: Lembaga Penelitian Ekonomi Regional Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas.
xi+239 hlm
Laporan penelitian ini adalah untuk Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di daerah
Sitiung Dhamasraya terhadap pembukaan lahan dan usaha tani yang mempengaruhi
pembangunan daerah.

270
SOSIAL

Mk
808.83
Bam
Rudito, Bambang. 1989.
“Dampak Sosial dari Pembangunan Jalan Padang By Pass”. Laporan Penelitian.
Padang: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Pusat Penelitian Universitas
Andalas.
33 hlm
Laporan ini berisi tentang perubahan masyarakat di sekitar lokasi pembangunan jalan By
Pass yang dbermata pencaharian petani berubah di bidang jasa.

Mk
745. 959 813 2
Her
p.3
Herwandi, Drs. 1997.
“Membangun Masyarakat Rasional dalam Rangka Menghadapi Era Globalisasi”.
Makalah. Padang : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Andalas.
6 hlm
Makalah ini menjelaskan bagaimana persiapan dan usaha masyarakat dalam menghadapi
zaman modern dengan segala efek negatif maupun positifnya.

CB-D3
002. 095 981 34
Mon
1
Syam, Suryati. 1979.
“Monografi Nagari Panyalaian Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar”. Padang:
Lembaga Penelitian Ekonomi Regional Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
33 hlm
Berisikan keadaan alam dearah, pemerintahan, politik dan adat istiadat daerah Nagari
Panyalaian Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar.

Mk
666.3
Pam.2
………. 1983.
“Peranan Tanah Liat dalam Kehidupan Sehari-Hari di Sumatera Barat”. Proyek
Pengembangan Permuseuman Museum Negeri Adityawarman.
iii+33 hlm
Pameran Tanah Liat di Museum Adityawarman dari barbagai daerah di Sumatera Barat.

271
Koleksi BPKPSB

……….1989.
”Buletin Dharma Wanita Prov. Sumatera Barat”. Padang. ……….
44hal
Berisikan tentang peranan wanita dalam program KKB, malu adalah sifat orang beriman,
pendidikan itu sejak rahim, dan ciptakan suasana yang membuat anak betah di rumah, dan
lain-lain.

………., 2005.
“Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat (PEKAT) di Sumatera
Barat”. Padang: Badang Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
14 hlm
Upaya pencegahan dan pemberantasan setiap bentuk perbuatan berbau maksiat dalam
mewujudkan prinsip filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kittabullah di Sumatera
Barat.

……….., 2005.
“Etika Berpemerintahan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Sumatera Barat”.
Padang: Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
13 hlm
Penerapan hukum normatif dalam penyelenggaraan pemerintahan, penerapan etika dalam
pemerintahan, fungsi unit kerja dan hubungan pemerintahan provinsi dengan kota yang
harus dimaksimalkan.

…………, 2005.
“Pembinaan Karir Pegawai Negeri Sipil Sumatera Barat di Era Otonomi Daerah”.
Padang: Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
9 hlm
Berisi tentang peningkatan SDM bagi pegawai negeri sipil agar semangat dan motifasi
untuk meningkatkan kualitas kerja.

…………, 2005.
“Kekerasan dan Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Sumatera
Barat”. Padang: Badang Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
17 hlm
Berisi data tentang tingginya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak dan
upaya pencegahan di Sumatera Barat.

272
SOSIAL

……….., 2005.
“Diskriminasi dalam Pelayanan dada Sekolah Inklusif”. Padang: Badan Penelitian
dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
15 hlm
Penyetaraan terhadap sekolah-sekolah inklusif dengan dukungan pemerintah, dan
pentingnya perhatian terhadap kurikulum sekolah tersebut dan upaya peningkatan SDM
guru-guru sekolah inklusif.

…………, 2005.
“Peningkatan Kesejahteraan Tenaga Pengelola Masjid dalam Rangka Kembali ke
Surau”. Padang: Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat.
11 hlm
Peningkatan fungsi surau dan masjid yang ideal di Sumbar diperlukannya sistem manajemen
yang baik dengan diadakannya pembinaan kepada petugas yang dipercayakan.

BKSNT, 2004.
“Tatakrama Suku Bangsa Minangkabau di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman
Provinsi Sumatera Barat”. Padang : BKSNT.
v+119 hlm
Beisikan hasil penelitian budaya dan aneka ragamnya di Nagari Air Bangis Pasaman sebagai
salah satu asset bangsa yang patut dilestarikan.

Hendrawati. 1999.
“Makna Pembantu Rumah Tangga dalam Keluarga Masyarakat Minangkabau di
Perkotaan”. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian
Univeritas Andalas.
10 hlm
Laporan penelitian yang mengungkap peran pembantu rumah tangga dalam keluarga
masyarakat Minangkabau perkotaan semakin menepati kedudukan yang penting. Mereka
menjadi bagian yang sangat dibutuhkan bagi keluarga yang suami dan istrinya pekerja,
namun pembagian kerja tidak jelas dan bekerja 24 jam tanpa sistem upah yang jelas.

Mk
392. 509 598 13
Fac
p.1
Fachrina, Dra. 2001.
“Pemilihan Jodoh (Mate Selection) dalam Masyarakat Minangkabau Kontemporer”.
Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik Universitas

273
Koleksi BPKPSB

Andalas.
X+49 hlm
Berisi tentang pemilihan jodoh pada masyarakat Minangkabau tradisional, orang tua,
mamak, dan saudara aktif berperan.

Mk
303.340 959 813
Hen
b.1
Hendrawati. t.t.
“Bergesernya Nilai-Nilai Gotong Royong pada Masyarakat Minangkabau. Studi
tentang Bergesernya Nilai-Nilai Gotong Royong di Desa Pulai Kecamatan Batipuah
Kabupaten Tanah Datar”. Padang: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan
Universitas Andalas Fakultas Sastra.
iv+72 hlm
Pergeseran kerjasama di berbagai bidang dalam masyarakat tradisional dalam bentuk norma
maupun nilainya. Pergeseran tersebut diakibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan
satu sama lainnya.

M
362.604 209 598 13
Mik
P
Dahlan, Dahrul. Dkk. 1988.
“Panti Jompo dan Hubungannya dengan Pola Penyantunan Orang Lanjut Usia di
Minangkabau. Studi di Tempat Panti Jompo Provinsi Sumatera Barat”. Laporan
Penelitian. Padang : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian
Universitas Andalas.
iv+127
Laporan penelitian tentang panti jompo sebagai wadah alternatif. Peran pemerintah juga
perlu ditingkatkan karena semakin banyaknya orang lanjut usia.

Mk
301. 095 981 3
Sam
s.
Samin, Yahya. 1991.
“Sistim Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Sumatera Barat”. Laporan Penelitian.
Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
vi+152 hlm
Kontrol sosial dalam masyarakat menyebabkan mereka perlu mempertahankan adat

274
SOSIAL

istiadatnya, khususnya dalam tata cara pergaulan, cara berperilaku yang menempatkan
masyarakat untuk saling mengawasi dan pentingnya kerapatan adat (KAN) dalam
pemerintahan nagari di Sumatera Barat.

Mk
307. 720 959 813
Sum
p.6
……….., 1981.
“Pemukiman sebagai Kesatuan Ekosistem Daerah Sumatera Barat”. Laporan
Penelitian. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
xv+253 hlm
Berisi tentang laporan penelitian tentang desa swasembada yang lebih mampu berkembang
dibandingkan desa swakarya di Sumatera Barat.

Mk
959. 813
Jon
M
Josselin, De Jong. 1960.
“Minangkabau And Negri Sembilan: Sosio Political Structure In Indonesia”. Jakarta:
Bhratara.
211 hlm
Berisikan gambaran kesamaan sosial politik di Minangkabau dan Negeri Sembilan.

Mk
915.981 3
Moc
p.5
Naim, Mochtar. 1977.
“Pola Perwilayahan Perkotaan dan Pedesaan”. Kertas Kerja. Yogyakarta: Program
Studi Perancangan dan Pembangunan Regional Universitas Gadjah Mada.
20 hlm
Berisikan gambaran bentuk pemukiman di perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Mk
746. 409 598 13
Suw
f.3
Kartiwi, Suwita. TT.

275
Koleksi BPKPSB

“Fungsi Sosial Kain Songket”.


31 hlm
Berisikan makna kain songket dalam masyarkat sosial di tiga luhak di Minangkabau.

Mk
303.340 959 813
Sis
Dakung, Sugiarto. (Ed). 1983.
“Sistem Kepemimpinan di dalam Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat”. Padang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat.
xv+310 hlm
Menjelaskan keadaan sosial budaya maupun tentang faktor dan sistem kepemimpinan
dalam masyarakat.

Mk
307. 095 981 3
Sis
Abu, Rifai. (Ed). 1980.
“Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sumatera Barat”. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah.
xii+157 hlm
Berisi tentang sistem kesatuan dalam nagari sebagai daerah otonom yang dapat mengatur
pola pemerintahannya dengan mandiri.

Mk
301. 426 598 138
Noe
P
Noerman, Ardhani. dkk. 1979.
“Pengetahuan Sikap dan Pelaksanaan Keluarga Berencana Oleh Masyarakat di
Kecamatan Padang Barat”. Padang: Dinas Kesehatan Kotamadya Padang Puskesmas
Padang Barat dan Bagian Public Healt Fakultas Kedokteran Universitas Negeri
Padang.
vii+42 hlm
Berisikan sosialisai program keluarga berencana pada Kota Padang dan pelaksanaannya.

78-1566
Pusat Informasi dan Dokumentasi dan Perencanaan Tata Kota dan Tata Daerah. 1978.

276
SOSIAL

“Seminar Nasional Pengembangan Lingkungan Hidup”. Kumpulan Makalah. Pusat


Informasi dan Dokumentasi dan Perencanaan Tata Kota dan Tata Daerah
27 Hlm
Berisi kumpulan makalah tentang pengembangan lingkungan di perkotaan.

Mk
330.917.095.981 3
Per
Saaudin, Yusrizal. 1985.
“Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri di Daerah
Sumatera Barat”. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah.
ix+119 hlm
Pola perubahan kehidupan masyarakat akibat pertumbuhan industri dan keadaan sosial
masyarakat daerah industri.

Korn, VE. TT
”Nama Wanita di dalam Keluarga Minangkabau” Diterjemahkan oleh Panitia
Pembangunan Istana Pagaruyung.
36 hlm
Berisi karakter nama wanita tradisional di Minangkabau.

Lembaga Pembinaan Hukum Internasional.1971.


“Pola-Pola Kewarisan di Sumatera Barat Dewasa Ini”. Laporan Penelitian. Padang:
Lembaga Pembinaan Hukum Internasional Fakultas Hukum dan Pengetahuan
Masyarakat Universitas Andalas.
25 hlm
Berisi tentang pergeseran pola pewarisan di Minangkabau yang semula berdasarkan garis
Ibu menjadi pewarisan melalui Ayah (Patrilineal).

MK
303.495 981 3
Yun
p.4
Syofyan, Yunita. 1989.
“Perubahan Sosial Budaya Perantau Minangkabau di Daerah Rantau”. Artikel.
Padang : Fakultas Sastra Universitas Andalas.
13 hlm.

277
Koleksi BPKPSB

Artikel ini berisi tentang merantau dan perubahannya, perubahan dalam pola berdagang,
perubahan ke arah susunan baru. Tulisan ini juga menjelaskan faktor-faktor sosial budaya
yang menyebabkan perubahan pola merantau bagi masyarakat Minangkabau.

MK
305. 430 959 813
Elf
p.1
Elfitra dkk. 2000.
“Peranan Wanita Penjual Nasi Kapau dalam Struktur Keluarga Matrilineal
Minangkabau dan Pengaruhnya Terhadap Status Suami dalam Rumah Tangga”.
Artikel Penelitian. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga
Penelitian Universitas Andalas.
15 hlm.
Artikel ini menguraikan aktifitas wanita penjual nasi Kapau yang menjalankan akrivitasnya
sebagai pencari nafkah keluarga di daerah Kapau, sebuah Nagari di Kecamatan Tilatang
Kamang, Kabupaten Agam. Aktifitas wanita menjual nasi kapau ternyata berpengaruh
terhadap kedudukan suami, pembagian kerja dan pengambilan keputusan dalam rumah
tangga.

MK
307.720.959.813
Sum
p.3
Tim Penyusun. 1982
“Pemukiman Sebagai Kesatuan Ekosistem Daerah Sumatera Barat”. Laporan
Penelitian. Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
253 hlm.
Penelitian ini membicarakan pemukiman sebagai kesatuan ekosistem di dua model wilayah
objek penelitian: Desa Swasembada Rambatan (wilayah pedalaman) dan Desa Swakarsa
Air Bangis (pinggiran Pantai). Perbedaan geografis kedua desa tberpengaruh terhadap
komposisi penduduk, lingkungan dan potensi ekonominya. Demikian juga dengan sektor
perhubungan. Kemapanan ekosistem juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti cara-
cara pemenuhan kebutuhan pokok, kekritisan masyarakat menerima unsur lain dalam
hubungannya dengan mata pencaharian dan tingkat kerukunan hidup dan kebutuhan
rekreasi dan hiburan masyarakat bersangkutan.

MK
362.82
Zah
p.4
Idris, Zahara. 1982.

278
SOSIAL

“Peranan Ibu dalam Rumah Tangga Minang Dewasa Ini”. Artikel. Disampaikan pada
diskusi HUT ke-VIII Bundo Kandung Tingkat I Sumatera Barat Tgl. 18 November
1982.
14 hlm.
Artikel ini memuat uraian mengenai tanggung jawab dan peranan yang dijalankan ibu
dalam rumah tangga Minang ditinjau dari adat, agama dan fungsi sosial mereka sebagai
wanita karir.

MK
640. 059. 981 3
Elf.
w.3
Efina, Mira dkk. 2000.
“Wanita Minangkabau dan Otonomi dalam Rumah Tangga”. Artikel Penelitian.
Padang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.
8 hlm.
Artikel ini menyoal anggapan umum bahwa wanita Minangkabau tidak bergantung kepada
suami yang dijemput. Faktor perubahan struktur keluarga dewasa ini sehubungan dengan
tanggung jawab ayah/suami dalam memenuhi nafkah keluarga, agaknya anggapan umum
tersebut perlu direvisi mengingat sebagai kepala keluarga yang harus dipatuhi pada gilirannya
memantapkan peran gender ayah/suami sehingga menguasai faktor-faktor produksi.

MK
302.959.813
Maz
s.1
Luth, Mazzia. 1981.
“Sistem Sosial Minangkabau, Sebuah Analisa Tentang Struktur Organisasi dan
Pimpinan Masyarakat Hukum Adat”. Laporan Penelitian. Padang: IKIP.
78 hlm.
Penelitian ini meninjau struktur organisasi masyarakat dalam sistem Nagari, terutama peran
penghulu sebagai pimpinan masyarakat di Minangkabau. Pengamatan dilakukan pada
beberapa nagari baik dalam kesukuan laras Koto Piliang, Bodi Caniago maupun laras nan
Panjang atau Pisang Sikalek Hutan seperti nagari: Batu Payung, Cupak Lampasi Solok,
Singkarak dan Sulit Air.

MK
342.959 813
Elf
S
Elfinorita dkk. 1989.
“Survival Strategies Rumah Tangga Yang Dikepalai Wanita, Studi Masyarakat

279
Koleksi BPKPSB

Matrilineal Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang: Jurusan Sosialisasi dan


Antropologi Fakultas Sastra dan Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Andalas Padang-Biro
Pusat Statistik (BPS) Jakarta.
237 hlm.
Penelitian ini meninjau rumah tangga yang dikepalai oleh wanita dalam sturktur masyarakat
matrilineal Minangkabau dengan mengacu pada 16 kasus wanita yang menjadi kepala
rumah tangga. Evaluasi dilakukan pada beban pembagian kerja, ekonomi, otonomi, pola
kehidupan bermasyarakat, mobilitas dan strategi dan aspirasi yang berhubungan dengan
anak.

M
307.760 959 813
Has
U
Hasrul, Dahlizar. 1984.
“Urbanisasi di Sumatera Barat”. Laporan Penelitian. Padang: Pusat Penelitian
Universitas Anadalas.
89 hlm.
Penelitian ini meninjau urbanisasi di Sumatera Barat dari beberapa faktor: daya tarik
ekonomi dan demografi daerah asal, pendidikan serta daya tarik kota. Laju pertumbuhan
urbanisasi menimbulkan sejumlah implikasi bagi perkembangan perekonomian kota dan
desa, yakni kekurangan tenaga kerja potensial bagi desa pada satu sisi dan menjadi beban
bagi kota pada sisi lain.

MK
306.809 598 130
Nen
P
Hendrawati. t.t.
“Pola Kehidupan Keluarga Masyarakat Desa Lubuk Gadang di Kotamadya Padang”.
Laporan Penelitian. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
51 hlm.
Penelitian ini meninjau perubahan sosial budaya perantau dan konflik dalam sistem
kekerabatan di Lubuk Gadang kota Padang. Tinjauan konflik diarahkan pada beberapa
kasus seperti isteri menguasai suami, perselisihan mamak dengan bapak dan hilangnya
wibawa orang sumando di keluarga isteri.

MK
301.326
Sum
Tim Penyusun 1982.
“Laporan Penelitian dan Perencanaan Sosial Ekonomi dan Pengembangan

280
SOSIAL

Lingkungan Daerah Pemukiman Transmigrasi Lunang II Provinsi Sumatera Barat”.


Laporan Penelitian. Padang: Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Transmigrasi Propinsi Sumatera Barat.
133 hlm.
Penelitian ini meninjau potensi pengembangan sosial ekonomi dan lingkungan di daerah
pemukiman transmigrasi Lunang II Sumatera Barat dari beberapa aspek: geografi dan
demografi, sosial ekonomi dan budaya serta sumber daya alam.

MK
615.882
Jho
p.8
Roza, Jhonri, dkk. 1993.
“Peranan Kerei dalam Pengobatan Tradisional Mentawai, Studi Kasus Desa
Matotonan Kec. Siberut Selatan, Kep. Mentawai”. Laporan Penelitian. Padang :
Universitas Andalas.
27 hlm.
Penelitian ini menyoal fungsi kerei (sistem pengobatan tradisional Mentawai) yang
berbenturan dengan keberadaan pengobatan modern (puskesmas). Di masyarakat Matotonan,
kerei tetap dipercaya sebagai bentuk pengobatan penting sehingga hingga saat ini masih
banyak lahir kerei-kerei baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi kerei
dalam kehidupan masyarakat Mentawai serta untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan
konsep sakit menurut masyarakat setempat.

MK
640.095 981 3
Elf
w.2
Elfina, Mira dkk. 2000.
“Wanita Minangkabau dan Otonomi dalam Rumah Tangga”. Artikel Penelitian.
Padang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lembaga Penelitian Universitas
Andalas.
8 hlm.
Penelitian ini meninjau peran wanita dalam rumah tangga berbasis 50 orang responden yang
dijadikan objek penelitian. Perbedaan latar belakang wanita dari segi ekonomi, pendidikan,
umur, umur pasangan, latar belakang keluarga, pekerjaan dan status dalam masyarakat
menjadi dasar bagi perbedaan peran-peran yang dimainkan wanita dalam rumah tangga.

MK
649. 102. 480.959.813
Dam
.2

281
Koleksi BPKPSB

Damsar. 1989
“Titipan Bayi: Perubahan Pola Aush Anak Bawah Lima Tahun Pada Masyarakat
Minangkabau”. Laporan Penelitian. Padang: Universitas Andalas.
27 hlm.
Penelitian ini meninjau keputusan untuk menitipkan anak di dalam keluarga dari beberapa
beberapa faktor: tingkat pendidikan formal, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan dan tempat
tinggal keluarga.

MK
307 720 959 813
Ran
s.2
Tim Penyusun. 1980.
“Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Sumatera Barat”.
Laporan Penelitian. Padang: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
219 hlm.
Penelitian ini meninjau nilai-nilai budaya yang melatari kegiatan gotong royong dan
hubungannya dengan praktek gotong royong itu sendiri di daerah pedesaan Sumatera
Barat. aktifitas gotong royong yang disorot berhubungan dengan aspek ekonomi dan mata
pencaharian, teknologi dan perlengkapan hidup, kemasyarakatan dan keagamaan.

MK
155.599 813
Yul
p.10
Amir, Yulmaida, dkk. 1991.
“Problematika Remaja di Kota Padang”. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Padang:
Universitas Andalas.
16 hlm.
Penelitian ini meninjau gangguan penyesuaian diri di kalangan remaja di Kota Padang.
beberapa permasalahan yang dihadapi remaja secara umum terbagi kepada dua: permasalahan
sosial psikologis dan permasalahan fisik.

MK
395.095 981 3
Tat
1
Tim Penyusun. 1985.
“Tata Kelakuan di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat di
Daerah Sumatera Barat”. Buku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

282
SOSIAL

157 hlm.
Buku ini membahas bentuk-bentuk tata kelakuan yang bersifat tradisional dan hidup di
tengah-tengah masyarakat yang seharusnya dipedomani dalam kehidupan masa kini. Tata
kelakukan dimaksud ditinjau dari dua aspek: keluarga dan masyarakat.

MK
305.595 9813
And
s.3
Asoka, Andi dkk. 1992.
“Stratifikasi Sosial Minangkabau Pra-Kolonial”. Laporan Penelitian. Padang: Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
46 hlm.
Penelitian ini melihat adanya stratifikasi masyarakat Minangkabau pra-kolonial. Hal itu
ditinjau dari dua jenis masyarakat pra-kolonial: masyarakat tradisional dan masyarakat
setelah Islam. Keduanya dianggap memiliki stratifikasi sendiri di dalam masyarakat.

MK
301 095 981 3
Sam
s.2
Tim Penyusun. 1991.
“Sistem Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Sumatera Barat”. Laporan Penelitian.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
154 hlm.
Penelitian ini meninjau sistem pengendalian sosial yang hidup dalam lembaga tradisional
seperti surau, Kerapatan Adat Nagari, Bundo Kanduang, Angku Kali, Gotong royong dan
hubungannya dengan pandangan warga terhadap sistem pengendalian sosial tersebut.
Penelitian ini mengambil sampel lokasi di Desa Guguk Randah dan Desa Pahambatan
Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam Sumatera Barat.

MK
307 720 959 813
Ran
s.1
Tim Penyusun. 1980
“Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Sumatera Barat”.
Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
219 hlm.
Penelitian ini meninjau nilai-nilai budaya yang melatari kegiatan gotong royong dan
hubungannya dengan praktik gotong royong itu sendiri di daerah pedesaan Sumatera

283
Koleksi BPKPSB

Barat. Aktifitas gotong royong yang disorot berhubungan dengan aspek ekonomi dan mata
pencaharian, teknologi dan perlengkapan hidup, kemasyarakatan dan keagamaan.

MK
307.720.959.813
Sum
p.6
Tim Penyusun. 1982.
“Pemukiman Sebagai Kesatuan Ekosistem Daerah Sumatera Barat” Laporan
Penelitian. Padang: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi
dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
253 hlm.
Penelitian ini meninjau pemukinan desa sebagai ekosistem dari 6 faktor: kependudukan,
pemenuhan kebutuhan pokok, keragaman mata pencaharian, tingkat kekritisan, kerukunan
hidup dan pemenuhan kebutuhan rekreasi. Lokasi penelitian terdiri dari beberapa desa dan
jorong di wilayah Tanah Datar dan Air Bangis.

MK
646.780.959.813
Bac
p.2
Abna, Bachtiar. 1981.
“Perkembangan Kehidupan Keluarga dalam Masyarakat Minangkabau”. Laporan
Penelitian. Padang Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas
Andalas.
29 hlm.
Penelitian ini meninjau kehidupan Semendo di tengah-tengah keluarga di Minangkabau,
yang ditelaah dari tiga sudut pandang: Semendo di atas tunggul, Semendo menetap dan
Semendo bebas.

MK
340.570 959 813
Osm
p.4
Osmawati. 1994
“Peranan Uang Jemput dan Uang Hilang dalam Perkawinan Menurut Adat
Perkawinan di Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman (Sumatera
Barat) Studi Kasus di Desa Lohong”. Skripsi. Program Studi PMP-KN Jurusan Ilmu
Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.
57 hlm.
Penelitian ini melihat peran penting dari uang jemput dan uang hilang yang diberlakukan di
dalam upacara adat perkawinan di desa Lohong terhadap kemudahan dalam mencari calon

284
SOSIAL

suami anak kemenakan masyarakat sekitar, meningkatkan harga diri, dan menghindari
adanya perawan tua.

MK
306.809 598 133
Mik
p.3
Miko, Alfan. 1993
“Perubahan dalam Hubungan Kekerabatan Minangkabau”. Skripsi. Padang: Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
31 hlm.
Penelitian ini meninjau perubahan yang terjadi dalam pola hubungan kekerabatan pada
masyarakat Minangkabau. Penelitian ini menengarai adanya beberapa faktor yang dianggap
sebagai penyebab terjadinya perubahan: peran dan fungsi mamak, peran ayah dan keluarga
inti, tanggung jawab anak-anak yang telah berkeluarga dan hubungan-hubungan sosial
yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antara sesama anggota keluarga.

MK
303.695 981 374
Sya
p.2
Syafrizal dkk. 1994.
“Pasar Tradisional dan Konflik Sosial di Minangkabau Kasus Nagari Surian Kabupaten
Solok 1970-an”. Laporan Penelitian. Padang:Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
30 hlm.
Penelitian ini meninjau eksistensi Pasar Surian pada tahun 1970 an sebagai latar dari konflik
yang muncul pada tahun itu. Penelitian ini melihat bahwa ternyata pasar Surian tidak hanya
mengemban fungsi ekonomi melainkan juga menyangkut fungsi sosial yang besar.

MK
640.959 813
Jok
s.1
Van Reenen, Joke dkk. 1989.
“Survival Strategies Rumah Tangga Yang dikepalai Wanita (Studi Masyarakat
Matrilineal Minangkabau, Sumatera Barat)”. Laporan Penelitian. Fakultas Sastra
dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Andalas-Biro Pusat Statistik (Bps) Jakarta.
238 hlm.
Penelitian ini meninjau dinamika wanita yang menjadi kepala keluarga di Nagari Rao-Rao
Kec. Sungai Tarab Kab. Tanah Datar. Sampel penelitian terdiri dari 16 kasus. Banyaknya
kaum pria yang merantau menjadi faktor bagi peran besar yang dimainkan oleh wanita
dalam kehidupan rumah tangga.

285
Koleksi BPKPSB

8-1558
Mochtar Naim. 1977.
“Pola Pewilayahan, Perkotaan, dan Pedesaan”. Makalah. Yogyakarta: Lokakarya III
Impak Regional Pembangunan Sektoral, Program Studi Perancangan Pembangunan
Regional Universitas Gadjah Mada.
20 hlm.
Makalah ini melihat pengembangan kota di Indonesia sebagai bagian integral dari
pengembangan wilayah. Wilayah dipandang sebagai faktor penentu bagi rancangan
pengembangan kota untuk masa selanjutnya.

MK 920
Durin, Hasan Basri. 1997.
Catatan Seorang Pamong. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
xii + 400 hlm
Buku ini berisikan perjalanan dan pengelaman seorang mantan gubernur sumabar (1987-
1997). Buku ini ditulis oleh Hasan Basri Durin sebagai kenang-kenangannya selama
sepuluh tahun, tulisan ini lebih bersifat pribadi dan tidak dapat disamakan dengan memori
serah terima jabatan dari pejabat yang lama kepada pejabat yang baru.

MK 99-102
Rasyad, Fahmy. 1991.
Himpunan Peraturan Perundangan tentang Pemerintahan Desa di Sumatra Barat.
Bukittinggi: VC.Usaha Ikhlas.
xv + 804 hlm.
Buku ini merupakan kumpulan peraturan pemerintahan desa di Sumatra Barat, lengkap
dengan tata cara pelaksanaannya

Mk 352.007.22
Sjahmunir,1997.
Fungsi Pemerintahan Nagari dalam Penyelesaian Masalah Adat di Desa/Jorong.
Padang: Fakultas Hukum Universitas Andalas
20 hlm.
Buku ini menjelaskan fungsi pemerintahan nagari dalam penyelesain masalah adat di desa
dan jorong di provinsi Sumatra Barat

MK 352.490 959 8139


........ 1999.
Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Agam
Tahun 1999-2000. Pemerintahan Agam, Sumatra Barat.

286
SOSIAL

iii + 42 hlm

MK 303.340 959 813


Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1984.
Sistem Kepemimpinan di dalam Masyarakat Pedesaan di Sumatra Barat. Padang:
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatra Barat
vii + 310 hlm
Dalam buku ini menjelaskan gambaran umum kepemimpinan dalam masyarakat
pedesaan Sumatra Barat, pola kepemimpinan pedesaan seperti di bidang ekonomi, sosial
dan beberapa analisa.

287
HUKUM
HUKUM

MK 340.509 598 13
Thalib, Sjofjan. 1979.
”Hukum Adat dan Lembaga–Lembaga Hukum Adat Daerah Jambi”. Padang :
Fakultas Hukum Universitas Andalas.
vi + 254 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan lembaga-lembaga hukum adat daerah Jambi dan alam
lembaga-lembaga hukum adat, seperti masyarakat-masyarakat hukum, hukum perorangan,
hukum perkawinan, hukum waris, hukum tanah, hukum, lembaga seperti hukum Islam, UU
No 5/1960 dan UU No.1/1974 masing-masing dengan peraturan pelaksanaannya.

MK 297.432
Syaripudin, Amir. 1984.
Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. Jakarta:
Gunung Agung.
vii + 369 hlm
Dalam buku ini dijelaskan hukum kewarisan Islam, adat dan hukum adat Minangkabau serta
pelaksanaan hukum kewarisan Islam terhadap harta pencarian dalam budaya Minangkabau.

MK 346 598 130 6


Chatib, Lukman. 1980.
”Pelaksanaan UU Perkawinan Nasional dan Masalahnya pada Masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat”. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan
Masyarakat Universitas Andalas.
iii + 12 hlm
Laporan penelitian ini berisi penjelasan tentang penerapan UU No.1/1974 dalam masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat pada 1979.

MK 345.060.959 8138
Sabri, Fadillah. 1989.
”Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Pengambilan Visum ET Revertum di Kota
Madya Padang”. Padang : Fakultas Hukum Universitas Andalas.
iii + 43 hlm
Dalam laporan penelitian ini dijelaskan tentang sejauh mana kesadaran hukum masyarakat
di Kotamadya Padang dalam pengambilan visum et repertum sehingga diketahui masalah-
masalah yang ada kaitannya dengan kesadaran hukum masyarakat itu.

MK 96-142
Srinofitri, Rita. 1993.
”Pengelolaan Arsip pada Biro Hukum PT Semen Padang”. Padang: Fakultas Ekonomi

291
Koleksi BPKPSB

Universitas Andalas
iv + 54 hlm
Tulisan ini merupakan laporan kerja praktik yang menjelaskan tentang administrasi
kearsipan, pelaksanaan kearsipan pada biro hukum PT Semen Padang.

MK 333 310 959 813 62


Firmansyah. 1989.
”Pelaksanaan Konversi Tanah Gamgam Bauntuk dalam Masyarakat Minangkabau
Menjadi Hak Pakai di Kabupaten Sawalunto Sijunjung”. Padang : Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
iv + 41 Hlm
Laporan penelitian secara umum menjelaskan sistem kekerabatan, macam penguasaan
tanah di Minangkabau dan keagrariaan. Secara khusus dalam tulisan ini diuraikan tentang
persoalan tanah di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.

MK
Bagian Hukum Sekretariat. 2007.
Informasi Hukum dan Perundangan-undangan Pemerintah Kota Sawalunto. Padang:
Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota Sawalunto.
244 hlm
Dalam buku ini diuraikan undang-undang pemerintahan Kota Sawahlunto beserta surat
keputusannya.

MK
Sumatra Barat. 2005.
Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2005, Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2005 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2005. Padang: Pengawas Pemilihan Kepala Daerah Propinsi Sumatra
Barat.
70 hlm
Buku ini menjelaskan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2005,
peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2005.

MK 134/2010
Chatib, Lukman. 1981.
”Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama dalam Perkawinan di Kalangan Masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat. Padang: Fakultas Hukum Universitas Andalas
vii + 130 hlm

292
HUKUM

Laporan penelitian ini berisi kumpulan data mengenai pelaksanaan pembagian harta
bersama suami istri, baik bercerai hidup, bercerai mati maupun bila kedua suami istri
meninggal dunia

MK 084/2010
Nurullah. 1999.
Tanah Ulayat Menurut Ajaran Adat Minangkabau. Sumatra Barat: Yayasan Sako
Batuah.
32 hlm
Buku ini berisi acuan bagi guru-guru dan hakim dalam menyelesaikan sangketa dan notaris
dalam membuat perjanjian

MK
Edinal. 1983.
“Pewarisan Harta Pencarian di Minangkabau”. Skripsi. Padang: Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
vi + 89 hlm
Skripsi ini berisi tentang penggolongan harta secara historis di Minangkabau, hubungan
hukum adat waris Minangkabau, dan hukum Islam serta pewarisan harta pencarian di
Minangkabau khususnya di wilayah Padang.

MK 021/2010
Yakub, Nurdin. 1995.
Hukum Kekerabatan Minangkabau. Bukittinggi: CV Pustaka Indonesia
83 hlm
Buku ini merupakan pedoman, penghayatan, pengamalan bagi mempertahankan identitas
sebagai masyarakat Minangkabau yang beradat dan sangat unik.

MK 019/2010
Soemadiningrat, Otje Salman. 2002.
Rekonseptualisasi Hukum Adat Kotenporer: Telaah Kritis Terhadap Hukum Adat sebagai
Hukum yang Hidup dalam Masyarakat. Bandung: PT Alumni
xiv + 228 hlm
Buku ini berisi tentang rekonseptualisasi bidang-bidang hukum yang masih dikuasai hukum
adat, hubungannya dengan hukum tertulis dan hukum agama.

293
Koleksi BPKPSB

MK 001/2010
Esmara, Hendra. 1980.
“Pengaruh Sistem Pembukaan Tanah terhadap Aspek-aspek Lingkungan di Daerah
Pemukiman Transmigrasi: Sebuah Studi Perbandingan di Daerah Sumatera Barat
dan Riau”. Padang: Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
xi + 277 hlm
Laporan penelitian yang berisi tentang partisipasi masyarakat dan kebijaksanaan
pembangunan daerah transmigrasi di Sumatera Barat dan Riau.

MK 081/2010
Ratnawati. 1983.
”Asas Monogami dalam Undang-Undang Perkawinan dan Pengaruhnya Terhadap
Wanita di Bukittinggi Ditinjau dari Hukum Islam”. Padang: Fakultas Syariah Institut
Agama Islam Al-Jami’ah Jurusan Qadha.
iv + 110 hlm
Dalam skripsi ini dijelaskan Undang-Undang N0 1 Tahun 1974 tentang perkawinan,
khususnya perkawinan menurut Syari’at Islam serta monogami dalam undang-undang
perkawinan dan pengaruhnya terhadap wanita.

MK 080/2010
Hamisayati. 1981.
”Menunaikan Haji dengan Hasil Gadai Pusaka Tinggi di Minangkabau Ditinjau dari
Hukum Islam”. Padang: Fakultas Syariah Institut Agama Islam Al-Jami’ah, Jurusan
Qadha.
iv + 93 hlm
Skripsi ini menjelaskan haji dan permasalahannya yang meninjau gadai pusaka tinggi di
Minangkabau. Uraian ini mencakup hukum menunaikan haji dengan hasil pusaka tinggi
Minangkabau menurut hukum Islam.

MK078 / 2010
Nasir.M. 1987.
”Pelaksanaan Hukum Acara Adat dalam Penyelesaian Tanah pada Masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat”. Padang: DPK dan PP Universitas Andalas.
iii + 34 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan bahwa di Minangkabau masih berlaku fatwa ada,
bulek aia dek pambulu, bulek kato dek mufakaik masih kuat mamangan asas tersebut yang
menjadikan alam takambang jadi guru untuk menghadapi persoalan tanah.

294
HUKUM

MK 043/2010
Darmawir. 1981.
”Kedudukan Istri terhadap Harta Bersama Menurut UU No.1 Tahun 1971”. Padang:
Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
20 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pengertian harta bersama dalam perkawinan menurut
hukum islam, luasnya tanggung jawab istri dalam harta perkawinan menurut hukum Islam,
perbedaan antara suami istri terhadap harta bersama dalam peruraian menurut UU No.1
tahun 1974.

MK 049/2010
Tim Peneliti. 2006.
Penelitian Hukum Tentang Aspek Hukum Rasionalisasi Pegawai Negri Sipil dalam
Kaitan dengan Otonomi Daerah. Jakarta: PBHN Depertemen Hukum Dan HAM RI.
ix+231 hlm
Dalam buku ini dijelaskan tinjauan umum UU No 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok
kepegawaian, penyajian data, dan analisis rasionalisasi kepegawaian daerah dalam
kaitannya dengan otonomi daerah.

MK 363.040 095 981 3


Saptomo, Ada. 1994.
”Proses Penyelesaian Sengketa Tanah pada Masyarakat Minangkabau Sumatra
Barat”. Padang : DPK Lembaga Penelitian Universitas Andalas
ii + 58 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan kasus sengketa tanah dan penyelesaiannya dan hasil
pembahasan perkembangan dan pembangunan berbagai sektor telah menimbulkan ekses di
bidang pertanahan terutama nilai-nilai adat yang tereduksi sehingga terjadi sengketa tanah.

MK 340 570 959 813


Sihombing, Herman Salim Mahyudin. 1974.
”Hukum Adat Minangkabau dalam Keputusan Pengadilan Negri dan Komentarnya”.
Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
78 hlm
Dalam laporan penelitian ini dijelaskan tentang pengangkatan anak oleh suku Jawa terhadap
anak seorang laki-laki dari famili istrinya orang Minangkabau, harta tempatan tinggal,
harta bawaan kembali apabila gadang manumpang dalam kaum maka harta turut dibagi,
penduduk yang mendiami lebih dahulu mempunyai hak utama.

295
Koleksi BPKPSB

MK 332 709 598 1361


Rinaldi. 1988.
”Masalah Pagang Gadai di Pariaman (Studi Kasus di Kecamatan Nan Sabaris)”.
Padang : Fakultas Hukum Universitas Andalas.
iv + 86 hlm
Dalam skripsi ini diuraikan profil Kecamatan Nan Sabaris selayang pandang. Selanjutnya
uraian tentang pagang gadai menurut adat Minangkabau, pagang gadai setelah berlakunya
UUPA dalam praktik di Kecamatan Nan Sabaris.

MK 333 310 959 813


Nazir, M. 1989.
”Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 1977 Perwakapan Tanah Milik
Oleh Masyarakat Minangkabau di Kota Madya Padang Propinsi Sumatra Barat”.
Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
vi + 25 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pengetahuan responden tentang dasar hukum wakaf,
pengetahuan masyarakat mewakafkan tanah dan tanggapan responden terhadap Peraturan
Pemerintah No 28 Tahun 1977.

MK 333.310 959 4134


Harun, Elfitra Zulkarnain. 1997.
”Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Konflik Tanah Ulayat di Minangkabau Studi
Kasus di Nagari Simawang Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Sumatra
Barat”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Andalas
79 hlm
Laporan ini menjelaskan gambaran umum Nagari Simawang dengan kekerabatan,
sejarah nagari, kondisi fisiografis, demokrafis, mata pencarian penduduknya, agama dan
pendidikan, sarana prasarananya. Selain itu, secara khusus dalam laporan penelitian ini
dijelaskan tentang penyebab konflik tanah ulayat di daerah tersebut.

MK 342.03
Suharizal,2002.
Reformasi Konstitusi 1998-2002. Jakarta : PT Sinar Grafika.
xiv + 190 hlm
Buku ini menjelaskan tentang analisis aspek yuridis-teoritis, politis dan historis terhadap
proses amandemen UUD 1945. Persfektif teoritis atas konstitusi dan dilanjutkan tinjauan
teoritis terhadap perubahan UUD 1945, persoalan politik –hukum pada kejatuhan Soeharto,
pembahasan amandemen pertama, kedua, ketiga dan keempat yang dilaksanakan oleh
MPR`serta kecendrungan politik serta tarik-ulur kepentinngan serta perbedaan yang terjadi.

296
HUKUM

MK 340.580 959 813


Yakub, Nurdin. 1995.
Hukum Kekerabatan Minangkabau. Bukittinggi: CV. Pustaka Indonesia.
95 hlm
Buku ini menjelaskan tentang undang-undang Minangkabau, adat dan modernisasi,
penghulu dan kepenghuluan klarisifikasi kemenakan, upacara-upacara perkawinan, adat
suami istri, hukum di Minangkabau, hak milik, sando manyando dan pinjam-meminjam,
pampasan dan timbangan hukum, hukum acara, syarat dakwa.

MK 346.043
Syahmunir. 2004,
Eksistensi Tanah Ulayat dalam Perundangang-Undangan di Indonesia. Padang :
Sarana Grafika.
xix + 215 hlm
Buku ini menjelaskan tentang pengertian masyarakat, masyarakat hukum dan masyarakat
adat, hak ulayat dan masyarakat hukum adat, hak ulayat dan hukum agraria nasional,
pendapat tentang eksitensi tanah ulayat di Sumatra Barat.

MK 346 050 959 813


Edinal. 1983.
“Pewarisan Harta Pencakarian di Minangkabau”. Skripsi. Padang: Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
vi + 89 hlm
Skripsi menjelaskan tentang sejarah pertumbuhan adat dan penggolongan harta di
Minangkabau, hubungan hukum waris Minangkabau dengan hukum Islam, kedudukan
harta pencarian di Minagkabau dan perkembangannya.

MK 390.095 98
Rangkoto M.N. tt.
Lembaran Adat Minagkabau. Bukittinggi : Lestar.
43 hlm
Buku ini menjelaskan hubungan mamak dengan kemenakan dahulu dan sekarang yang juga
disampaikan dalam bentuk petatah Minangkabau.

MK 346 598 04
Darmawis. 1981.
”Kedudukan Istri terhadap Harta Bersama Menurut Undang-Undang No 1 Tahun
1971. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.

297
Koleksi BPKPSB

14 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pengertian harta bersama, dalam perkawinan, pengertian
menurut hukum islam,luasnya tanggung jawab istri dalam harta perkawin menurut hukum
islam,perbedaan hukum antara suami istri terhadap harta bersama dalam perceraian menurut
undang-undang Perkawinan No 1 tahun 1974.

MK 346 598 130 43


Richard, Suhatmi. 1980.
”Sedikit Tinjauan Tentang Tanah Ulayat”. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan
Masyarakat Universitas Andalas.
6 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan hak ulayat atas tanah, kedudukan tanah ulayat dulu dan
sekarang,

MK 340.570 959 813


Nasir,M. 1987.
”Pelaksanaan Hukum Acara Perda Adat dalam Penyelesaian Tanah pada Masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat. Padang: Universitas Andalas.
iii + 33 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang identitas responden, pengetahuan responden
tentang pengertian hukum acara perdata adat, pengetahuan masyarakat tentang pelaksanaan
hukum acara perdata adat dalam peradilan adat nagari, KAN, pengetahuan masyarakat
mengenai pelaksanaan hukum acara tentang bukti, pengetahuan masyarakat tentang
pengambilan keputusan (vonis).

MK 257.432 095 9513


Syaripudin Amir. 1942.
Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Masyarakat
Minangkabau. Jakarta : PT Gunung Agung.
ix + 374 hlm
Buku ini menjelaskan dinamika pelaksanaan hukum pewarisan secara hukum Islam , dan
dinamika pelaksanaan hukum adat di Minangkabau.

MK 340.57
Syamsoeddin Erman. 1982.
”Suatu tinjauan Tentang Pelaksanaan Peradilan Adat Serta Keputusan di Kenagarian
Gadut Tilatang Kamang”. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyrakat
Universitas Andalas.
iii + 70 hlm

298
HUKUM

Laporan penelitian ini menjelaskan sejarah peradilan adat di Indonesia secara umum,
perkara yang menjadi wewenang peradilan adat, proses pelaksanaan peradilan adat dan
keputusannya di Gadut Tilatang Kamang provinsi Sumatara Barat.

MK 340.570 959 813


Tim Peneliti. 1971.
”Pola-Pola Kewarisan di Sumatra Barat Dewasa ini”. Padang: Fakultas Hukum
Dan Lemabaga Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
20 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang prosedur penelitian, hasil-hasil penemuan,
menjelaskan kesan-kesan penemuan, pola-pola pokok kewarisan di kota Padang dan nagari-
nagari di Sumatra Barat.

MK 297.432
Adnani, Anwar syaipul. 1978.
”Hukum Waris” Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas
Andalas.
v + 121 hlm
Laporan ini menjelaskan tentang warisan secara umum setelah kematian, pewarisan karena
kematian, testament, bentuk-bentuk testament.

MK 340 570 959 813


Djamarin, Azmi. 1982.
”Perbuatan dan Sanksi Adat Yang Masih Hidup dalam Hukum Adat Minagkabau
Dewasa ini. Padang: Fakultas Hukum Universitas Andalas.
vii + 53 hlm
Dalam laporan penelitian ini menjelaskan ruang lingkup penelitian dan konsep dasar dalam
penelitian, lokasi penelitian, responden, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data,
hasil-hasil dan penemuan penelitian.

MK 340.57
Tim peneliti. 1980.
”Perkembangan Hukum Waris Adat Minangkabau (Sebuah Studi Kasus Tentang
Harta Pencarian). Padang: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan IKIP Padang.
vi + 55 Hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan penyelesaian melalui pengadilan negeri

299
Koleksi BPKPSB

MK 320.540 959 813


Tim Peneliti. 1980.
”Pekembangan Hukum Waris Adat Minangkabau”. Padang: Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan IKIP Padang.
vi + 55 hlm
Dalam laporan penelitian menjelaskan tentang metodologi penelitian, hasil penemuan dan
pembahasan, penyelesain melalui pengadilan negeri

MK 340 594
Bahri, Syamsul. 1986.
”Beberapa Aspek Hukum Adat yang Berpengaruh Terhadap Pendaftaran Tanah”.
Rangkuman Disertasi, Medan: Universitas Sumatra Utara.
xii + 37 hlm
Disertasi ini berisi rangkuman dan ringkasan disertasi tentang beberapa aspek hukum adat
yang berpengaruh terhadap pendaftaran tanah.

MK 340.570 9598
Chatib, Lukman. 1981.
”Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama dalam Perkawinan di Kalangan Masyarakat
Minangkabau di Sumatra Barat”. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan
Masyarakat Universitas Andalas”.
vix + 138 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pelaksanaan pembagian harta bersama suami istri dalam
hal: bila terjadi penceraian suami-istri, baik bercerai hidup, bercerai mati maupun keduanya
meninggal dunia.

MK 384.6
Desrizal. 1994.
”Prosedur dan Sistem Penjanjian Antara Pemakai Jasa Telepon Dengan Pihak
Perumtel di Kantor Daerah Transmisi Telegram dan Telepon Padang”. Padang:
Fakultas Hukum Ekasati.
v + 76 hlm
Skripsi ini menjelaskan prosedur dan sistem penjanjian antara pemakai jasa telepon dengan
pihak perumtel di kantor daerah transmisi telegram dan telepon Padang, serta berbagai hal
yang timbul dalam penjanjian.

MK 346.009 598 1306


Chatib, Lukman. 1982.
”Pengaruh Undang-Undang Perkawinan Nasional terhadap Kehidupan Keluarga

300
HUKUM

dalam Masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat”. Padang: Depertemen


Pendidikan dan Kebudayaan.
vi + 126 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pengaruh Undang-Undang Perkawinan Nasional
Terhadap Kehidupan Keluarga dalam Masyarakat Minangkabau meliputi, sikap pelaksanaan
poligami dan perceraian pada kenyataan masyarakat dan sebab-sebab dan alasan terjadinya,
poligami, perceraian. frekuensi poligami serta perceraian sebelum dan sesudah undang-
undang di terapkan di masyarakat.

MK 340.959.813
Isra, Saldi…..
Teknik Penyusunan Produk Hukum Daerah. Padang: Anggrek law Firm.
183 hlm
Buku ini menjelaskan Transpormasi sisitem pemerintahan daerah di daerah reformasi
telah menimbulkan beberapa harapan sekali gus tantangan bagi daerah Sumatra barat
penerapan sisitem pemerintahan Nagari merupakan sebuah harapan sekaligus tantangan
yang membutuhkan profesionalisme aparat pemerintahan daerah.

MK 340.580.959.813
Ibrahim. 1924.
Peratoeran Hoekoem Adat Minangkabau, Bukit Tinggi. Fort De Kock, Drukkrij
Gebroeders, Lie.
120 hlm
Buku ini berisi: Asal Usul Minagkabau, Menjatukan Asal Hukum, Syarat Memeriksa dan
Hukum Perkara, Menjatukan Pusaka Fikir dalam Hukum Dijatuhkan, Menjatukan Hutang
Hakim dalam Perkara Tawar - Menawar, Menjatukan Bagian-Bagian Hukum, Menjatukan
Ilmu Kata-Kata dalam Adat, Hukum Fitna, Menjatukan Hukum Penghulu, Kedudukan
Hukum Penghulu, Ketetapan Hukum Penghulu, Sendi Adat Minagkabau, Kesalahan dalam
Adat, Malalaikan Hukum Adat, Menjatukan Undang-Undang Nan Ampek dan Bagian-
Bagiannya, Hukum Orang Yang Salah Melanggar Undang-Undang Nan Ampek, Menjatukan
Kesalahan-Kesalahan kepada Undang-Undang Nan Ampek.

MK 340.57
Gustiti. 1983.
”Minangkabau Siana Hukum Perhutangan atas Perundangan Ditinjau dari Segi
Hukum Adat Minagkabau Dihubungkan dengan Undang-Undang”. Padang: Fakultas
Hukum Universitas Andalas.
iv + 249 hlm
Skripsi ini menjelaskan tentang undang-undang pokok perumahan, hak perumahan yang
berdiri di atas hak kaum, penyelesaian masalah yang timbul, beberapa pendapat dan saran.

301
Koleksi BPKPSB

MK 333.310 959 813


Sulistia, Teguh, Zurnetti Aria. 2001.
”Konstribusi Masyarakat Minangkabau dalam Penggunaan Tanah Ulayat untuk
Pembangunan Kota di Kota Kotamadya Padang. Padang: Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
x + 44 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan penjajakan dan mengetahuan sampai di mana
penggunaan tanah ulayat untuk pembangunan kota, kedudukan dan peruntukannya serta
kontribusi masyarakat adat Minangkabau dalam penggunaan tanah ulayat dasawarsa ini.

MK
Basri, Hasan. 1982.
”Perbandingan Kedudukan Wanita dalam Hukum Perkawinan dan Kewarisan di
Daerah Batak Dengan Minangkabau Suatu Tinjauan dari Hukum Adat. Padang:
Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
i + 60 hlm
Skripsi ini menjelaskan struktur masyarakat serta bentuk-bentuk perkawinan dan sistem
kewarisan di daerah batak dan Minangkabau, kedudukan wanita dalam hukum perkawinan
dan kewarisan dan daerah Batak dan Minang.

MK 959 813
nn. tt.
Tambo Minangkabau.
iv + 216 hlm
Buku ini menjelaskan tentang pengertian Tambo Alam Minangkabau, menjawek waris,
pusako, luhak Tanah Tatar, luhak Agam, luhak limo Puluh Kota, kubang Tigo Baleh,
Kampar Kanan , kampar kiri, penghulu keris, orang mamak, undang-undang akal, undang-
undang nan duo puluh, fasal-fasal, undang-undang hukum, paham akal, kata adat, nilai
uang, ukuran berat, kediaman biapari, perjalanan undang-undang, hukuman pada zaman
dahulu, pakaian segala alam, pusako koto piliang.

MK 290 095 813


Thalib, Sjofjan. 1978.
”Peranan Ninik Mamak dalam Pembangunan di Daerah Sumatra Barat”. Padang:
Fakultas Hukum dan Pengetahuan masyarakat Universitas Andalas.
92 hlm
Laporan ini menjelaskan perencanaan dan pelaksanaan penelitian, hasil-hasil dan temuan
penelitian, kesimpulan dan saran.

302
HUKUM

MK 346.050 959 813


Hasyim, Asmarni. 1981.
”Status Anak terhadap Harta Pencarian di Minangkabau”. Padang: Fakultas Hukum
dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
iv + 92 hlm
Skripsi ini menjelaskan sistem kekeluargaan, macam-macam harta yang terdapat dalam
perkawinan, status anak terhadap anak pencarian, pembagian harta pencarian dalam
praktiknya.

MK
Resmen. 2003.
”Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Sumatra Barat”. Padang: Fakultas Hukum
Universitas Bung Hatta.
vii + 125 hlm
Skripsi ini menjelaskan tinjauan umum hak asasi manusia dan pelaksanaan hak asasi
manusia di Sumatra Barat.

MK 346.02
Chatib, Lukman. 1979.
”Penerapan UU N0.1 Tahun 1974 dalam Masyarakat Minangkabau di Sumatra
Barat”. Padang: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
viii +77 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang usaha mengumpulkan data tentang tanggapan
masyarakat terhadap undang-undang perkawinan (UU N0.1974) yang meliputi prosedur
perkawinan dan perceraian sebagai mana yang di atur oleh undang-undang.

MK 333.309 598 13
Hasan, Firman, Hermayulis. 1998.
”Pengaruh Penerapan Tata Guna Hutan Kesepakatan terhadap Penguasaan Tanah
oleh Masyarakat Hukum Adat Minangkabau di Sumatra Barat”. Padang: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan LP Universitas Andalas.
ix + 102 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan pengaruh penerapan tata guna hutan kesepakatan
terhadap penguasaan tanah oleh masyarakat hukum adat Minangkabau di Sumatra Barat

303
Koleksi BPKPSB

Bulkaini. 1981.
”Aspek-Aspek Kebudayaan dalam Hukum Adat”. Padang: Fakultas Hukum dan
Pengetahuan Masyarakat Universitas Andalas.
14 hlm
Dalam laporan penelitian ini dijelaskan aspek-aspek hukum Indonesia yang mempengaruhi
hukum adat Minangkabau.

MK 352 007 22
Sihoman, Herman, Bahri sjamsul. 1975.
Peraturan-Peraturan Tentang Pemerintahan Nagari/Desa di Sumatra Barat. Padang:
Bursa Buku Fakultas Hukum dan Pelayanan Masyarakat Universitas Andalas.
239 hlm
Buku ini menjelaskan perturan-peraturan daerah Sumatra Barat, surat keputusan Gubernur
Sumatra Barat

MK 340.57
Sjamsir. 1985.
”Status Tanah Pusaka di Minangkabau Setelah DiSertifikatkan”. Padang: Pusat
Penelitian Universitas Andalas.
iv + 46 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan suatu usaha awal tentang kedudukan tanah pusaka di
Minangkabau setelah disertipikatkan ,jadi suatu penelitian yang bersifat exploratif.

MK 340
Narzief. 2000.
”Aspek Hukum Kerjasama Model Modal Ventura (Studi pada PT Sarana Sumatra
Barat Ventura)”. Padang: DPN LPUA.
7 hlm
Artikel penelitian ini berisi kerja sama usaha model ventura pada dasarnya adalah modal
kemitraan usaha antara yang kuat dengan yang lemah, yang terdapat di PT Sarana Sumatra
Barat.

MK 340 574
Thalib, Sajuti. 1985.
Hubungan Tanah Adat dengan Hukum Agraria di Minangkabau. Padang: Bina Aksara.
xv + 61 hlm
Buku ini menjelaskan pensertifikatan tanah ulayat di Sumatra Barat, kecenderungan pengaruh
pensertifikatan tanah terhadap pelestarian tanah adat di Minangkabau, bantuan hukum

304
HUKUM

Islam untuk menegaskan kedudukan hukum tanah adata di Minangkabau. Mensertifikat


tanah adalah memperbaharui hukum.

MK 649 109 59813


Nazaruddin. 1982.
”Kelahiran dan Pengasuhan Anak di Minangkabau”. Padang: Fakultas Hukum
Universitas Andalas.
viii + 91 hlm
Laporan penelitian ini menjelaskan tentang tinjauan tentang masyarakat Pariangan, cara
dan upacara perkawinan anak, pengasuhan anak

MK 24.266/bo-07
Faizal. 1981.
”Fungsi Mamak Kepala Waris di Nagari Koto Tangah Kota Kotamadya Padang”.
Padang: Fakultas Hukum Pengetahuan masyarakat Universitas Andalas.
iii + 51 hlm
Skripsi ini menjelaskan gambaran umum kenagarian Koto Tangah, struktur lembaga adat,
mamak kepala waris dalam masyarakat hukum adat.

MK 347 019
Irmansyah. 1994.
”Notaris Sebagai Pembuat Grosse Akta dan Permasalahan yang Timbul dalam
Praktik”. Padang: Fakultas Hukum Universitas Ekasati.
Iv + 110 hlm
Dalam skripsi ini menjelaskan tentang tinjauan umum tentang notaris, gambaran umum
tentang grosse, permasalahan yang timbul dalam grosse akta dan eksekusinya.

MK 340 570 959 813


Sihombing, Herman, Salim Mahjudin. 1975.
Hukum Adat Minangkabau dalam Keputusan Pengadilan Negeri di Sumatra Barat.
Bandung: Kotak Pos.
180 hlm
Dalam buku ini dikemukakan hal-hal yang menyangkut dengan lembaga adat mengangkat
anak (anak angkat), Wali, perwalian, harta tepatan, kaum, jual beli, harta pusaka tinggi,
pusako renda, harta pencarian, warisan, ahli waris, mamak kepala waris dalam kaum,
ganggam bauntuk, pagang bamasiang, gelar adat harta pusako, pinjam pakai harta pusako,
pangga gadaian.

305
Koleksi BPKPSB

MK 346.598 13016
Chatib Lukman.1983.
Undang-Undang Perkawinan dan Masalah di Minangkabau. Bandung: Armiko.
32 hlm
Buku ini menjelaskan pelaksanaan undang-undang perkawinan nasional dan masalahnya
pada masyarakat Minangkabau, prinsip monogami menurut UU No.1/1974 dan kenyataan
dalam masyarakat Minangkabau.

306
EKONOMI
EKONOMI

MK 739.095 981 3
Mutia, Riza dkk. 1996/1997.
Kerajinan Perak di Sumatra Barat (ed). Padang: Museum Negri Propinsi Sumatra
Barat.
iv + 55 hlm.

MK
Saidan, Syafrida. 1982.
‘’Penentuan Unsur Mikro Pada Tanah Gundul dan Daerah Puncak Gunung Merapi
Sumatra Barat’’. Hasil penelitian. Padang: Universitas Andalas.
xi+79 hlm.
Buku ini berisi tentang kerajinan perak di daerah Koto Gadang, penulis mulai
mendeskripsikan tentang peralatan, proses pembuatan, dan hingga hasil dari kerajinan
perak itu sendiri.

MK746.410 959 813


Rohanah, Siti dan Ajisman. 2005.
Dinamika Usaha Kerajinan Kain Besurek di Kota Bengkulu Tahun 1980-2000. Padang:
BKSNT Padang.
85 hal.
Buku ini menceritakan perubahan yang terjadi dalam industri kerajinan kain basurek di
Bengkulu. Penulis dengan lihai mengungkapkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
kerajinan tersebut seperti apa adanya.

CB-D.3 96-461
Yurzan. 1994
“Perencanaan Desain Interior Ruang Pameran Taman Budaya Propinsi Sumatera
Barat”. Skripsi. Padang: Fakultas Teknik Institut Sains Teknologi dan Pembangunan
Nusantra Padang.
xv + 114 hlm.
Skripsi ini berisi tentang gambaran desain ruang pameran di Taman Budaya Provinsi
Sumatera Barat disertai penilaiannya.

85-365
Sadly, Oktarul. 1984
“Kualitas Air Susu Sapi Perah di Kotamadya Padang Panjang”. Tesis. Padang :
Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
55 hlm.

309
Koleksi BPKPSB

Tesis ini berisi hasil penelitian dengan pendekatan ilmu peternakan yang meneliti kualitas
air susu perah di Kota Padang Panjang.

Aisman dkk. 2003


“Pengembangan Agribisnis”. Laporan Penelitian. Padang: Balitbang Sumatera Barat
dengan Lembaga Penelitian Universitas Andalas.
xi +79 hlm.
Laporan penelitian ini berisi uraian tentang model pengembangan agribisnis komodisi
Gambir di Sumatera Barat. Hasil penelitian ini juga berisi rancangan sisitem agribisnis
komoditi gambir di Sumatera Barat.

91-132
Zainulif. 1985
“Pengembangan Industri Kecil di Sumatera Barat”. Laporan Penelitian. Padang:
Pusat Penelitian Universitas Andalas.
iii + 50 hlm.
Laporan penelitian ini berisi tentang peranan industri kecil di Sumatera Barat dalam dunia
ekonomi, sosial, maupun ketahanan sosial.

Agustedi dkk. 2003


“Pengembangan Industri Hasil Laut”. Laporan Penelitian. Padang: Balitbang
Sumatera Barat dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Universitas
Bung Hatta.
viii + 49 hlm.
Laporan penelitian ini menguraikan tentang kondisi perikanan di Air Bangis Pasaman,
Pasie Nan Tigo dan Bungus Padang dan Simpang Carocok Pesisir Selatan.

85-366
Yunafri.1985
“Hubungan antara Besar Usaha dan Tenaga Kerja dengan Keuntungan pada Usaha
Peternakan Ayam Ras di Kabupaten 50 Kota”. Laporan Penelitian. Padang : Fakultas
Peternakan Universitas Andalas.
62 hlm.
Laporan penelitian ini berisi kajian hubungan antara besar usaha dengan tenaga kerja
dengan keuntungan pada usaha peternakan ayam ras di Kabupaten 50 Kota.

310