Anda di halaman 1dari 15

P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:

Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

HUBUNGAN STATUS IMUNISASI: DPT-HB-HIB DENGAN


PNEUMONIA PADA BALITA USIA 12-24 BULAN DI PUSKESMAS
BABAKAN SARI KOTA BANDUNG

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and


Pneumonia in Toddler Aged 12-24 Months Old at Babakan Sari
Community Health Center Bandung

Benedika Mardewi Iswari , Ikeu Nurhidayah , Sri Hendrawati


1
Puskesmas
1 Tarakan, Makassar2 3
2, 3
Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Bandung
Email: benedika.mardewi@gmail.com

ABSTRAK

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian pada balita. Di Indonesia, angka kematian
pada balita dengan pneumonia masih tinggi sebanyak 15,5%. Pada tahun 2013 jumlah penderita
pneumonia pada balita usia 12-24 bulan di Puskesmas Babakan Sari sebanyak 1.496 balita dari
11.875 balita, sementara kelengkapan imunisasi masih rendah 88,81%. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan status imunisasi: DPT-HB-HIB dengan pneumonia pada balita usia
12-24 bulan di Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung. Jenis penelitian berupa survei analitik
dengan pendekatan case control dengan perbandingan kelompok kasus dan kelompok kontrol
adalah 1:1 atau 45 kasus dan 45 kontrol. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling.
Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar check list. Analisis data yang digunakan, yaitu
univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat hubungan
status imunisasi DPT-HB-HIB (p=0,016; OR=3,946) dengan pneumonia pada balita usia 12-24
bulan. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status
imunisasi: DPT-HB-HIB dengan pneumonia pada balita usia 12-24 bulan di Puskesmas Babakan
Sari Kota Bandung. Sehingga disarankan bagi petugas kesehatan, khususnya perawat, di
puskesmas untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada balita.

Kata kunci: Balita, pneumonia, status imunisasi DPT-HB-HIB


ABSTRACT

Pneumonia was a high of mortality caused in toddlers in Indonesia. Toddler’s mortality rate in
Indonesia was high at 15.5%. In 2013, the number of pneumonia cases in toddler (12-24 months)
in Babakan Sari community health center was 1,496 from 11,875 toddlers. The purpose of this
research was to find the correlation of immunization status: DPT-HB-HIB with pneumonia in
toddlers (12-24 months) at Babakan Sari community health center Bandung. The research
methode was analitic survey with case control approachment, the ratio of case and control
categories are 1:1 or 45 cases and 45 controls. The sampling technique was purposive sampling.
The instrument in this research was used check list form. Data analysis was univariate and
bivariate with chi-square test. The result of this research was imunization status: DPT-HB-HIB
(p=0.016; OR=3.946) was related with pneumonia in toddlers (12-24 months). The conclusions in
this research indicate that immunization state: DPT-HB-HIB was related with pneumonia in
toddlers (12-24 month) at Babakan Sari community health center Bandung. So the results of this
research recommend for health workers, especially nurses at Babakan Sari community health
center to increase immunization coverage.

Key word: Immunization state: DPT-HB-HIB, pneumonia, toddlers

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

101
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

PENDAHULUAN imunisasi DPT-HB-HIB di Jawa Barat


dimulai pada bulan Juli 2013. Imunisasi
Data World Health Organization DPT-HB-HIB termasuk imunisasi yang
(WHO) tahun 2013, menunjukkan baru. Oleh karena itu balita yang sudah
bahwa pneumonia di negara pernah mendapatkan imunisasi DPT-
berkembang menyebabkan angka HB-HIB, maka pada saat Desember
kematian bayi diatas 40 per 1.000 2016 diperkirakan berusia 12-24 bulan.
kelahiran hidup yaitu sekitar 15%-20% Balita yang telah diberikan
per tahun pada golongan usia balita. imunisasi akan terlindungi dari penyakit
Kejadian pneumonia di Indonesia pada berbahaya yang dapat menimbulkan
balita diperkirakan antara 10%-20% per kematian. Salah satu kelompok yang
tahun. Pneumonia ini menjadi penyebab menjadi sasaran program imunisasi yaitu
kedua terbesar kematian pada balita di setiap bayi, dimana setiap bayi wajib
Indonesia yaitu sebanyak 15,5%. Setiap mendapatkan imunisasi dasar lengkap
1,2 juta anak meninggal akibat salah satunya adalah 3 dosis DPT-HB-
pneumonia setiap tahunnya di Indonesia HIB. Program imunisasi pada bayi
(WHO, 2013). bertujuan agar setiap bayi mendapatkan
Menurut World Health imunisasi dasar secara lengkap.
Organization (WHO, 2008) dalam Keberhasilan bayi dalam mendapatkan
Global Immunization Data tahun 2010, imunisasi dasar tersebut diukur melalui
menyebutkan bahwa 1,5 juta anak indikator imunisasi dasar lengkap.
meninggal karena penyakit yang dapat Capaian indikator ini di Indonesia pada
dicegah dengan imunisasi, dan hampir tahun 2015 sebesar 86,54%. Cakupan
17% kematian pada anak usia dibawah imunisasi dasar lengkap pada bayi di
5 tahun dapat dicegah dengan imunisasi. Jawa Barat adalah 82,48%. Angka ini
Rekomendasi dari Strategic Advisory belum mencapai target capaian
Group of Expert on Immunization Universal Child Immunization (UCI)
(SAGE) dan kajian dari Regional pada tahun 2015 sebesar 91%
Review Meeting on Immunization (Kemenkes RI, 2015).
(ITAGI) pada tahun 2010, menyatakan Penelitian Sumiyati (2015) di
bahwa pemberian imunisasi Puskesmas Metro Utara, menunjukan
Haemophilus Influenza type B (HIB) terdapat hubungan status imunisasi
dikombinasikan dengan DPT-HB dengan pneumonia pada bayi usia 0-12
menjadi DPT-HB-HIB (pentavalen). bulan. Status imunisasi DPT tidak
Tindak lanjut nyata rekomendasi lengkap berisiko 3,581 (p=0,040;
tersebut adalah terbitnya Keputusan OR=3,581) kali mengalami pneumonia
Menteri Kesehatan Republik Indonesia dibandingkan bayi dengan status
Nomor 23/Menkes/SK/I/2013 tentang imunisasi DPT lengkap dengan tingkat
Pemberian Imunisasi Difteri Pertusis kepercayaan 95% dan kekuatan 80%.
Tetanus/Hepatitis B/Haemophilus Hal ini juga sejalan dengan penelitian
Influenza type B. Pelaksanaan pemberian Monita, Yani, dan Lestari (2012) di

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

102
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

bagian Anak RSUP Dr. M. Djamil Andir, Cicendo, dan Kiara Condong.
Padang Sumatra Barat, yang Puskesmas Babakan Sari merupakan
menunjukkan bahwa status imunisasi puskesmas yang berada di wilayah kerja
tidak lengkap merupakan faktor risiko Kecamatan Kiara Condong dan
kejadian pneumonia pada balita dengan merupakan urutan ke-3 dari 30
risiko menderita pneumonia 2,39 kali puskesmas di Kota Bandung yang
lebih besar daripada anak yang memiliki jumlah penyakit pneumonia
mendapatkan imunisasi lengkap. terbanyak dengan jumlah kasus
Di Jawa Barat, kasus pneumonia pneumonia pada balita berjumlah 1.496
pada balita masih banyak ditemukan. orang dari jumlah balita 11.875 orang.
Jumlah pneumonia pada balita yang Status imunisasi di Puskesmas Babakan
ditemukan dan ditangani sebanyak Sari untuk imunisasi DPT-HB-HIB
206.133 (48,06%) anak. Karakteristik sebanyak 88,81% yang belum mencapai
penduduk dengan kasus pneumonia target Universal Child Immunization
yang tertinggi terjadi pada kelompok (UCI).
umur 1-4 tahun (25,8%). Pada tahun Dari hasil studi pendahuluan pada
2013, Kota Bandung menempati urutan tanggal 6 Oktober 2016 terhadap 10 ibu
tertinggi untuk prevalensi pneumonia. dengan anak balita yang terkena
Diperkirakan kasus pneumonia yang penyakit pneumonia di Puskesmas
diderita balita di Kota Bandung Babakan Sari, mendapatkan data 6 dari
sebanyak 320 ribu balita dari total 10 ibu mengaku bahwa anak mereka
penduduk 3,2 juta jiwa setiap tahunnya. tidak mendapatkan imunisasi lengkap
Kasus pneumonia yang diterima oleh DPT-HB-HIB. Faktor-faktor lain
Dinas Kesehatan Kota Bandung dari penyebab penyakit pneumonia di
puskesmas mengalami peningkatan dari Puskesmas Babakan Sari didapatkan
tahun 2010 sampai tahun 2012 sebanyak data sebagai berikut: status gizi balita
161.711 kasus dan menurun pada tahun anak baik 88,14%, vitamin A pada balita
2013 sebanyak 17.345 kasus (Depkes 90,58%, pemberian ASI ekslusif 95%,
RI, 2013). kepadatan rumah 70% yang sesuai
Di Kota Bandung, pada tahun (orang x 8 m < luas rumah), rumah ada
2013 terdapat populasi balita sebesar ventilasi 80%,2 dan tidak ada pencemaran
214.569 balita, maka perkiraan balita udara seperti asap dapur 70%. Di
dengan pneumonia sebesar 10%-nya wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari
menjadi 21.457 balita. Kasus yang didapatkan juga data bahwa seluruh
ditemukan dan ditangani sebesar 14.734 rumah tangga menggunakan gas untuk
kasus (68,67%) (Dinkes Provinsi Jawa memasak, sehingga balita tidak terpapar
Barat, 2013). Oleh karena itu, kejadian oleh asap dapur.
pneumonia sangat penting untuk ditekan Perawat komunitas berperan
karena dapat menyebabkan kematian untuk meningkatkan kesehatan balita.
pada balita. Dilihat dari wilayahnya, Peran tersebut dapat diterapkan melalui
kasus pneumonia pada balita terbesar pembinaan keluarga melalui pendidikan
berturut-turut terdapat di Kecamatan kesehatan dan meningkatkan pencapaian

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

103
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

cakupan imunisasi. Sehingga penyakit- pneumonia dari bulan Oktober-


penyakit yang dapat dicegah dengan Desember 2016 sebanyak 97 balita dan
imunisasi, seperti pneumonia dapat yang menjadi sampel kontrol adalah
diturunkan. Dari uraian di atas, ternyata semua balita sehat yang mempunyai
masih banyak ditemukan pneumonia karakteristik yang sama seperti umurnya
yang terjadi pada balita. Sehingga sama, status gizi baik, tidak BBLR,
penting untuk mengidentifikasi mendapatkan ASI ekslusif, mendapat
hubungan status imunisasi: DPT-HB- vitamin A, kepadatan rumah sesuai, ada
HIB dengan pneumonia pada balita usia ventilasi di rumah, tidak ada
12-24 bulan di Puskesmas Babakan Sari pencemaran udara di rumah, dan tempat
Kota Bandung tahun 2016. tinggal yang tidak jauh dari tempat
tinggal kelompok kasus. Perbandingan
kelompok kasus dan kontrol dalam
penelitian ini adalah 1:1.
METODE PENELITIAN Pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan teknik
Metode penelitian yang nonprobability sampling yaitu purposive
digunakan pada penelitian ini adalah sampling. Adapun jumlah sampel yang
metode survei analitik dengan sudah memenuhi kriteria inklusi dan
menggunakan rancangan pendekatan eksklusi pada kelompok kasus sebanyak
case control yaitu suatu penelitian 45 balita dan kelompok kontrol
(survei) analitik mengenai bagaimana sebanyak 45 balita. Sehingga jumlah
faktor risiko dipelajari dengan sampel keseluruhan kelompok kasus dan
menggunakan pendekatan retrospective kelompok kontrol sebanyak 90 balita.
study, dimana efek penyakit atau status Instrumen penelitian yang
kesehatan diidentifikasi pada saat ini, digunakan dalam penelitian ini berupa
kemudian faktor risiko diidentifikasi ada lembar check list. Data dalam penelitian
atau terjadinya pada waktu yang lalu ini diambil dari rekam medis/KMS,
(Notoadmojo, 2010). Populasi didalam yang terdiri dari data tentang riwayat
penelitian ini terdiri dari 2 kelompok, imunisasi DPT-HB-HIB lengkap,
yaitu kelompok kasus dan kelompok imunisasi DPT-HB-HIB tidak lengkap,
kontrol. Kelompok kasus adalah semua serta pneumonia dan tidak pneumonia.
balita yang berusia 12-24 bulan yang Selain itu, data yang digunakan dari
tercatat di buku rekam medik dan rekam medis/KMS balita yang
terdiagnosis pneumonia oleh dokter. berkunjung ke posyandu yang berada di
Sedangkan, kelompok kontrol adalah Kelurahan Babakan Sari wilayah kerja
semua balita sehat yang berusia 12-24 Puskesmas Babakan Sari terdiri dari data
bulan yang tempat tinggal tidak jauh nama balita, umur, jenis kelamin, status
dari kelompok kontrol. vitamin A, status gizi, berat badan lahir,
Dalam penelitian ini yang menjadi status ASI ekslusif, kepadatan rumah,
sampel kasus adalah semua balita yang ventilasi di rumah, dan pencemaran
berusia 12-24 bulan yang terdiagnosis udara di rumah.

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

104
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

Setelah proses pengumpulan data, HASIL PENELITIAN


lalu dilakukan editing, coding, data Karakteristik Balita berdasarkan
entry, cleaning, dan kemudian data Usia pada Kelompok Kasus dan
dianalisis. Data analisis pada tingkat Kontrol
kepercayaan 95% CI (confidence Hasil penelitian mengenai
interval) dan uji statistik yang digunakan karakteristik balita berdasarkan usia
adalah Chi square serta perhitungan pada kelompok kasus dan kontrol
odds ratio (OR). disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi, sebagai berikut:

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

105
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik berdasarkan Usia Balita pada Kelompok Kasus dan Kontrol pada
Kelompok Kasus (n=45) dan pada Kelompok Kontrol (n=45)

Usia Balita (Bulan) Kasus Kontrol


n % N %
12 16 35,6 1 2,2
13 8 17,8 1 2,2
14 11 24,4 2 4,4
15 3 6,7 2 4,4
16 3 6,7 3 6,7
17 2 4,4 4 8,9
18 1 2,2 4 8,9
19 1 2,2 4 8,9
24 0 0 24 53,3

Pada kelompok usia balita 12-24 yang berusia 18 bulan lebih banyak pada
bulan, ditemukan proporsi balita lebih kelompok kontrol yaitu 8,9% dibandingkan
banyak pada usia 24 bulan yaitu 26,7%. kelompok kasus yaitu 2,2%. Proporsi balita
Proporsi balita yang berusia 12 bulan lebih yang berusia 18 bulan lebih banyak pada
banyak pada kelompok kasus yaitu 35,6% kelompok kontrol yaitu 8,9% dibandingkan
dibandingkan kelompok kontrol yaitu 2,2%. kelompok kasus yaitu 2,2%. Adapun
Proporsi balita yang berusia 13 bulan lebih proporsi balita yang berusia 24 bulan lebih
banyak pada kelompok kasus yaitu 17,8% banyak pada kelompok kontrol yaitu 53,3%
dibandingkan kelompok kontrol yaitu 2,2%. dibandingkan kelompok kasus yaitu 0%.
Proporsi balita yang berusia 14 bulan lebih
banyak pada kelompok kasus yaitu 24,4% Status Kelengkapan Pemberian
dibandingkan kelompok kontrol yaitu 4,4%. Imunisasi DPT-HB-HIB pada Balita Usia
Proporsi balita yang berusia 15 bulan lebih 12-24 Bulan pada Kelompok Kasus yang
banyak pada kelompok kasus yaitu 6,7% Mengalami Pneumonia
dibandingkan kelompok kontrol yaitu 4,4%.
Proporsi balita yang berusia 16 bulan sama Hasil penelitian status kelengkapan
banyak pada kelompok kasus dan kelompok pemberian imunisasi DPT-HB-HIB pada
kontrol yaitu 6,7%. Proporsi balita yang balita usia 12-24 bulan pada kelompok
berusia 17 bulan lebih banyak pada kasus yang mengalami pneumonia disajikan
kelompok kontrol yaitu 8,9% dibandingkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi,
kelompok kasus yaitu 4,4%. Proporsi balita sebagai berikut:

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Status Kelengkapan Pemberian Imunisasi DPT-HB-HIB pada Balita Usia 12-24
Bulan pada Kelompok Kasus yang Mengalami Pneumonia (n=45)

Status Imunisasi Kasus


N %
Lengkap 28 62,2
Tidak lengkap 17 37,8

Tabel 2 menunjukkan status kelompok kasus yang mengalami


kelengkapan pemberian imunisasi DPT- pneumonia dengan status imunisasi DPT-
HB-HIB pada balita usia 12-24 bulan, pada HB-HIB lengkap yaitu sebanyak 28 balita

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

106
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

(62,2%). Sedangkan pada kelompok kasus


yang mengalami pneumonia dengan status Hasil penelitian status kelengkapan
imunisasi DPT-HB-HIB tidak lengkap yaitu pemberian imunisasi DPT-HB-HIB pada
sebanyak 17 balita (37,8%). balita usia 12-24 bulan pada kelompok
Status Kelengkapan Pemberian kontrol pada balita sehat (tidak pneumonia)
Imunisasi DPT-HB-HIB Balita Usia 12- disajikan dalam bentuk tabel distribusi
24 Bulan pada Kelompok Kontrol pada frekuensi, sebagai berikut:
Balita Sehat (Tidak Pneumonia)

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Status Kelengkapan Pemberian Imunisasi DPT-HB-HIB Balita Usia 12-24 Bulan
pada Kelompok Kontrol pada Balita Sehat (Tidak Pneumonia) (n=45)

Status Imunisasi Kontrol


n %
Lengkap 39 86,7
Tidak lengkap 6 13,3

Status kelengkapan pemberian Hubungan antara Status Pemberian


imunisasi DPT-HB-HIB pada balita usia Imunisasi DPT-HB-HIB terhadap
12-24 bulan pada kelompok kontrol pada Pneumonia pada Balita Usia 12-24 Bulan
balita sehat (tidak pneumonia) dengan
status imunisasi DPT-HB-HIB lengkap Hasil penelitian hubungan antara
yaitu sebanyak 39 balita (86,7%). status pemberian imunisasi DPT-HB-HIB
Sedangkan pada kelompok kontrol pada terhadap pneumonia pada balita usia 12-24
balita sehat (tidak pneumonia) yang bulan, dapat dilihat pada tabel sebagai
mengalami pneumonia dengan status berikut:
imunisasi DPT-HB-HIB tidak lengkap yaitu
sebanyak 6 balita (13,3%).

Tabel 4 Hubungan Status Pemberian Imunisasi DPT-HB-HIB terhadap Pneumonia pada Balita Usia 12-24
Bulan di Puskesmas Babakan Sari Tahun 2016 (pada Kelompok Kasus n=45 dan pada Kelompok Kontrol
n=45)

Status Imunisasi Kejadian Pneumonia OR CI 95% p


DPT-HB-HIB Kasus Kontrol value

n % n %
Tidak lengkap 17 37,8 6 13,3 3,946 1,38-11,27 0,016
Lengkap 28 62,2 39 86,7

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok yang tidak pneumonia yaitu
yang tidak lengkap mendapatkan imunisasi sebanyak 13,3%. Hasil uji statistik
DPT-HB-HIB terdapat pada kelompok diperoleh nilai p 0,016 (p<0,05), berarti
balita yang menderita pneumonia lebih pada α=0,05 dapat disimpulkan ada
banyak yaitu sebanyak 37,8% dibandingkan hubungan signifikan antara status imunisasi

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

107
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

DPT-HB-HIB dengan pneumonia pada akibat pneumonia dibandingkan balita yang


balita. Analisis hubungan kedua variabel berusia masih muda.
didapatkan OR=3,946 (95%; CI 1,38-
11,27), artinya balita yang tidak diimunisasi Status Kelengkapan Imunisasi DPT-HB-
DPT-HB-HIB secara lengkap berisiko HIB pada Balita Usia 12-24 Bulan pada
3,946 kali untuk menderita pneumonia Kelompok Kasus yang Mengalami
dibandingkan dengan balita yang diberikan Pneumonia
imunisasi DPT-HB-HIB secara lengkap.
PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat
Karakteristik Balita berdasarkan Umur mengenai status kelengkapan imunisasi
Pada tabel 1 dapat dilihat mengenai DPT-HB-HIB pada balita usia 12-24 bulan
karakteristik balita berdasarkan usia pada pada kelompok kasus yang mengalami
kelompok kasus dan kelompok kontrol di pneumonia di Puskesmas Babakan Sari.
Puskesmas Babakan Sari. Pada kelompok Pada kelompok kasus dengan status
kasus, anak usia 12 bulan (35,6%) paling imunisasi DPT-HB-HIB lengkap lebih
banyak mengalami pneumonia. Sedangkan banyak dibandingkan dengan status
pada kelompok kontrol, anak yang imunisasi DPT-HB-HIB yang tidak
sehat/tidak pneumonia paling banyak pada lengkap. Kelompok kasus dengan status
usia 24 bulan (53,3%). imunisasi DPT-HB-HIB lengkap yaitu
Sejumlah penelitian menunjukkan sebanyak 28 balita (62,2%), sedangkan
bahwa insiden penyakit pernapasan oleh pada kelompok kasus dengan status
virus melonjak pada bayi dan anak usia imunisasi DPT-HB-HIB tidak lengkap yaitu
dini. Insiden pneumonia tertinggi pada anak sebanyak 17 balita (37,8%). Pada 17 balita
terjadi pada usia 6-12 bulan. Di Jawa Barat, yang tidak lengkap mendapatkan imunisasi,
kasus pneumonia pada balita masih banyak peneliti mendapatkan data tambahan dari
ditemukan. Jumlah pneumonia pada balita orangtua bahwa orangtua tidak
yang ditemukan dan ditangani sebanyak mengimunisasi anaknya karena trauma
206.133 (48,06%) anak. Karakteristik akibat anaknya demam setelah dilakukan
penduduk dengan kasus pneumonia yang imunisasi.
tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 Pneumonia termasuk kedalam
tahun (25,8%) (Depkes RI, 2013). penyakit yang dapat dicegah dengan
Kelompok usia terbanyak menderita imunisasi (PD3I). Imunisasi merupakan
pneumonia dalam penelitian ini yaitu anak cara untuk meningkatkan kekebalan
usia 12 bulan sebesar 35,6%. Hasil ini seseorang terhadap suatu penyakit,
hampir sama dengan penelitian yang sehingga apabila kelak terpajan pada
dilakukan oleh Puspita dan Syahrul (2015), penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit
yang menunjukan bahwa sebagian besar (Hardinegoro, 2011). Menurut World
balita penderita pneumonia berusia 12 Health Organization (WHO, 2008) dalam
bulan (45%). Usia anak 12 bulan lebih Global Immunization Data tahun 2010,
rentan terhadap penyakit pneumonia karena menyebutkan bahwa 1,5 juta anak
imunitas yang belum sempurna. Semakin meninggal karena penyakit yang dapat
tua usia balita yang menderita pneumonia, dicegah dengan imunisasi dan hampir 17%
maka akan semakin kecil risiko meninggal kematian pada anak dibawah usia 5 tahun
dapat dicegah dengan imunisasi.

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

108
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

Pada penelitian ini, balita yang pada balita usia 12-24 bulan pada kelompok
mengalami pneumonia dengan status kontrol pada balita sehat (tidak pneumonia)
imunisasi DPT-HB-HIB yang tidak lengkap di Puskesmas Babakan Sari. Pada
sebanyak 17 balita (37,8%). Balita yang kelompok kontrol dengan status imunisasi
belum mendapatkan imunisasi DPT-HB- DPT-HB-HIB lengkap lebih banyak
HIB yang tidak lengkap lebih rentan dibandingkan dengan status imunisasi DPT-
terkena pneumonia. Imunisasi merupakan HB-HIB yang tidak lengkap. Kelompok
cara pencegahan terkena penyakit menular kontrol dengan status imunisasi DPT-HB-
karena kekebalan tubuh balita belum HIB lengkap yaitu sebanyak 39 balita
terbentuk sempurna. Imunisasi yang (86,7%), sedangkan pada kelompok kontrol
berhubungan dengan pneumonia adalah dengan status imunisasi DPT-HB-HIB tidak
imunisasi DPT-HB-HIB. lengkap yaitu sebanyak 6 balita (13,6%).
Imunisasi DPT-HB-HIB bertujuan Imunisasi merupakan cara untuk
untuk memberikan kekebalan kepada balita meningkatkan kekebalan seseorang
terhadap penyakit dan menurunkan angka terhadap suatu penyakit, sehingga apabila
kematian dan kesakitan yang disebabkan kelak terpajan pada penyakit tersebut ia
oleh penyakit pneumonia yang dapat tidak menjadi sakit (Hardinegoro, 2011).
dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi termasuk usaha memberikan
Imunisasi DPT-HB-HIB dapat mencegah kekebalan pada bayi dan anak dengan
penyakit pneumonia. Imunisasi ini memasukan vaksin kedalam tubuh agar
diberikan pada balita saat berusia 2 bulan, 3 tubuh membuat zat anti untuk mencegah
bulan, dan 4 bulan. terhadap penyakit tertentu.
Penelitian ini sejalan dengan Balita yang telah diberikan imunisasi
penelitian Monita, Yani, dan Lestari (2012) akan terlindungi dari penyakit berbahaya
di bagian Anak RSUP Dr. M. Djamil yang dapat menimbulkan kematian. Sebagai
Padang Sumatra Barat, yang menunjukkan salah satu kelompok yang menjadi sasaran
bahwa status imunisasi tidak lengkap program imunisasi, setiap bayi wajib
merupakan faktor risiko terjadinya mendapatkan imunisasi dasar lengkap salah
pneumonia pada balita dengan risiko satunya adalah 3 dosis DPT-HB-HIB.
menderita pneumonia 2,39 kali besar Keberhasilan bayi dalam mendapatkan
daripada anak dengan imunisasi yang imunisasi dasar tersebut diukur melalui
lengkap. Oleh karena itu, diharapkan indikator imunisasi dasar lengkap.
kepada pelayanan kesehatan yang ada di Imunisasi DPT-HB-HIB lengkap dapat
Puskesmas Babakan Sari agar lebih menurunkan angka kejadian pneumonia
meningkatkan cakupan imunisasi terutama pada balita. Bayi dan balita yang
imunisasi DPT-HB-HIB. mempunyai status imunisasi lengkap,
apabila menderita pneumonia dapat
Status Kelengkapan Pemberian diharapkan perkembangan penyakitnya
Imunisasi DPT-HB-HIB Balita Usia 12- tidak akan menjadi lebih berat (Maryunani,
24 Bulan pada Kelompok Kontrol pada 2010; Rudan, et al., 2008).
Balita Sehat (Tidak Pneumonia)
Hubungan antara Status Pemberian
Pada tabel 3 dapat dilihat mengenai Imunisasi DPT-HB-HIB dengan
status kelengkapan imunisasi DPT-HB-HIB Pneumonia pada Balita Usia 12-24 Bulan

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

109
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

sosial ekonomi dan cara mengasuh anak,


Hasil penelitian pada tabel 4, dapat keadaan gizi dan pemberian makan,
dilihat hubungan status imunisasi DPT-HB- kebiasaan merokok dan pencemaran udara,
HIB dengan pneumonia yang menunjukkan jenis kelamin, umur, berat badan lahir
bahwa balita yang tidak lengkap rendah dan status imunisasi yang tidak
mendapatkan imunisasi DPT-HB-HIB pada lengkap (Maryunani, 2010). Hasil
kelompok balita yang menderita pneumonia penelitian pada status imunisasi DPT-HB-
lebih banyak yaitu 37,8% dibandingkan HIB pada kelompok kasus dengan status
pada kelompok yang tidak pneumonia yaitu imunisasi DPT-HB-HIB lengkap lebih
13,3%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p banyak dibandingkan dengan status
0,016 (p<0,05), berarti pada α=0,05 dapat imunisasi DPT-HB-HIB yang tidak
disimpulkan ada hubungan signifikan antara lengkap. Kelompok kasus dengan status
status imunisasi DPT-HB-HIB dengan imunisasi DPT-HB-HIB lengkap yaitu 28
pneumonia pada balita. Analisis hubungan balita (62,2%), sedangkan pada kelompok
kedua variabel didapatkan OR=3,946 (95%; kasus dengan status imunisasi DPT-HB-
CI 1,38-11,27), artinya balita yang tidak HIB tidak lengkap yaitu 17 balita (37,8%).
diimunisasi DPT-HB-HIB secara lengkap Sebagian besar kematian yang
berisiko 3,946 kali untuk menderita disebabkan oleh pneumonia berasal dari
pneumonia dibandingkan dengan balita jenis pneumonia yang berkembang dari
yang diberikan imunisasi DPT-HB-HIB penyakit yang dapat dicegah dari imunisasi
secara lengkap. seperti difteri, pertusis, dan campak.
Data World Health Organization Dengan demikian, maka peningkatan
(WHO) tahun 2013, menyatakan bahwa cakupan imunisasi akan berperan besar
pneumonia di negara berkembang dalam upaya pemberantasan pneumonia.
menyumbangkan angka kematian bayi di Untuk mengurangi faktor yang
atas 40 per 1.000 kelahiran hidup yaitu meningkatkan mortalitas pneumonia,
sebesar 15%-20% per tahun pada golongan diupayakan imunisasi lengkap terutama
usia Balita. Kejadian pneumonia di DPT-HB-HIB. Imunisasi dasar lengkap
Indonesia pada balita diperkirakan antara pada bayi meliputi: BCG, 3 dosis DPT-HB-
10%-20% per tahun. Penyebab kedua HIB, 4 dosis Polio, 4 dosis hepatitis B, dan
terbesar kematian pada balita di Indonesia campak. Bayi dan balita yang mempunyai
adalah pneumonia sebanyak 15,5%. Setiap status imunisasi lengkap, apabila menderita
1,2 juta anak meninggal akibat pneumonia pneumonia dapat diharapkan perkembangan
setiap tahunnya di Indonesia (WHO, 2013). penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat
Pneumonia merupakan suatu proses (Maryunani, 2010; Rudan, et al., 2008).
inflamasi pada alveoli paru-paru yang Vaksin DPT-HB-HIB merupakan
disebabkan oleh mikroorganisme seperti suatu vaksin kombinasi dari lima jenis
Streptococcus pneumoniae (paling sering), vaksin dalam satu sediaan. Kelima vaksin
kemudian Streptococcus aureus, itu meliputi difteri, pertusis, tetanus,
Haemophyllus influenza, Escherichia coli, hepatitis B, dan Haemophilus Influenza
dan Pneumocystis jiroveci (Widagdo, type B. Bakteri Haemophylus Influenzae
2012). type B (HIB) merupakan kuman penyebab
Secara umum ada beberapa faktor pneumonia terbanyak pada anak-anak
risiko penyebab pneumonia, yaitu keadaan (P2PL Dinkes Kalimantan Barat, 2015).

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

110
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

Hasil penelitian Shinefield, Fireman, sehingga daya tahan tubuh lebih kuat
Cherian, dan Ray (2006) juga menunjukkan melawan virus dan juga bakteri yang akan
bahwa vaksin 7-valent pneumococcal dapat menginfeksi tubuh. Salah satu cara untuk
mencegah terjadinya pneumonia pada pencegahan terhadap pneumonia ialah
balita. dengan memberikan imunisasi DPT-HB-
Manfaat dari imunisasi, diantaranya HIB. Adapun vaksinasi yang tersedia untuk
dapat mencegah beberapa penyakit infeksi mencegah pneumonia secara langsung
penyebab kematian dan kecacatan, serta yakni Haemophilus Influenza type B (HIB),
mengurangi penyebaran infeksi. Hal ini pertussis, dan vaksin campak. Ketiga vaksin
terjadi karena pada saat imunisasi terjadi ini sudah masuk kedalam imunisasi wajib
pembentukan antibodi spesifik yang dan bisa didapatkan secara gratis di semua
melindungi tubuh dari serangan penyakit. posyandu, puskesmas atau fasilitas
Secara alamiah tubuh sudah memiliki kesehatan pemerintah lainnya
pertahanan terhadap berbagai kuman yang (Hardinegoro, 2011).
masuk. Pertahanan tubuh tersebut meliputi Hasil penelitian mendapatkan adanya
pertahanan non spesifik dan pertahanan hubungan antara status imunisasi DPT-HB-
spesifik. Proses mekanisme pertahanan HIB terhadap pneumonia pada balita usia
dalam tubuh pertama kali adalah pertahanan 12-24 bulan dengan nilai OR 3,946 (95%;
non spesifik, seperti komplemen dan CI=1,38-11,27) menunjukkan bahwa balita
makrofag, dimana komplomen dan yang tidak mendapatkan imunisasi DPT-
makrofag ini yang pertama kali akan HB-HIB lengkap mempunyai risiko 3,946
memberikan peran ketika ada kuman yang kali untuk menderita pneumonia
masuk kedalam tubuh (P2PL Dinkes dibandingkan balita yang mendapatkan
Kalimantan Barat, 2015). Setelah itu, maka imunisasi DPT-HB-HIB lengkap. Hasil
kuman harus melawan pertahanan tubuh penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang kedua, yaitu pertahanan tubuh spesifik Sumiyati (2015) di Puskesmas Metro Utara,
terdiri dari sistem humoral dan selular. yang menunjukan terdapat hubungan status
Sistem pertahanan tersebut hanya bereaksi imunisasi dengan pneumonia pada bayi
terhadap kuman yang mirip dengan usia 0-12 bulan. Dengan status imunisasi
bentuknya. Sistem pertahanan humoral DPT tidak lengkap berisiko 3,581 kali
akan menghasilkan zat yang disebut (p=0,040; OR=3,581) mengalami
imunoglobulin (IgA, IgM, IgG, IgE, IgD) pneumonia dibandingkan bayi dengan
dan sistem pertahanan seluler terdiri dari status imunisasi DPT lengkap dengan
limposit B dan limposit T. Dalam tingkat kepercayaan 95% dan kekuatan
pertahanan spesifik berikutnya akan 80%. Penelitian ini juga didukung oleh
menghasilkan satu sel yang disebut sel hasil penelitian Sukmawati dan Ayu (2010)
memori. Sel ini akan berguna atau sangat yang menyatakan ada hubungan antara
cepat dalam bereaksi apabila sudah pernah imunisasi dengan kejadi ISPA pada balita
masuk kedalam tubuh. Kondisi ini yang (nilai p=0,02). Sejalan dengan pendapat
digunakan dalam prinsip imunisasi Karnen (2006) bahwa dengan pemberian
(Hardinegoro, 2011). imunisasi dapat mencegah berbagai jenis
Oleh karena itu, untuk mencegah penyakit infeksi. Selain itu, pemberian
penyakit ini sebenarnya sangat mudah. imunisasi DPT khususnya dapat mencegah
Cukup dengan melakukan vaksinasi infeksi saluran pernapasan, anti batuk rejan

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

111
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

dan tetanus. Penelitian Husain (2014) juga tidak ada pencemaran udara di rumah. Pada
menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, umur seluruh responden
status imunisasi dengan kejadian ISPA pada homogen yaitu usia 12-24 bulan. Pada
balita di Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta faktor status gizi, hanya responden dengan
(p=0,016). Adapun menurut Wijaya dan status gizi baik yang diambil dalam
Bahar (2014) terdapat hubungan Status penelitian ini. Kemudian, tidak ada
imunisasi dengan kejadian penyakit responden yang memiliki riwayat BBLR.
pneumonia pada balita (OR= 0,790, Seluruh responden mendapatkan ASI
p<0,05). ekslusif dan vitamin A sesuai jadwal. Dari
Hasil penelitian ini berbeda dengan faktor lingkungan, kriteria seperti
hasil penelitian Widayat (2014), yang kepadatan penghuni rumah sesuai, ada
menunjukkan tidak ada hubungan antara ventelansi di rumah, tidak ada pencemaran
pemberian imunisasi DPT dengan kejadian udara di rumah, diambil menjadi responden
pneumonia pada balita (p=0,999; didalam penelitian ini.
OR=0,484; 95%CI=0,042-5,617). Dalam Dalam mencegah angka penderita
hal ini, tujuan pemberian imunisasi DPT pneumonia diharapkan peran perawat yang
kepada anak ialah guna menimbulkan ada di Puskesmas Babakan Sari lebih
sistem kekebalan tubuh pada diri anak meningkatkan lagi program imunisasi dan
sehingga mampu mencegah timbulnya meningkatkan cakupan imunisasi dengan
suatu penyakit tertentu baik pada cara pendidikan kesehatan kepada keluarga
perorangan maupun sekelompok tentang imunisasi dan dampak tidak
masyarakat (IDAI, 2011). Seperti yang diimunisasi itu sendiri. Diharapkan angka
diungkapkan oleh Rudan, et al. (2008), kejadian pneumonia ini dapat dicegah
pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai melalui peningkatan cakupan imunisasi
mikroorganisme, diantaranya Mycoplasma lengkap, diantaranya pemberian DPT-HB-
pneumoniae, Chlamydia spp., HIB. Penelitian Hariyanti (2010) juga
Pseudomonas spp., dan Escherichia coli. menyatakan bahwa terdapat hubungan
Selain itu, measles, varicella, influenza, antara imunisasi campak dengan pneumonia
histoplasmosis, dan toxoplasmosis juga pada balita. Anak yang tidak diimunisasi
dapat menyebabkan pneumonia. Sebagian campak berisiko 2,06 kali untuk menderita
besar penyebab tersebut tidak dapat pneumonia dibandingkan anak yang
dicegah, tetapi imunisasi measles, mendapatkan imunisasi saat bayi.
influenza, dan bacille Calmette–Guérin
(BCG) memiliki kontribusi dalam KESIMPULAN DAN SARAN
menurunkan angka kejadian pneumonia.
Pada penelitian ini, peneliti Karakteristik usia berdasarkan
melakukan homogenisasi yaitu memilih kelompok kasus yang banyak terkena
sampel yang homogen. Homogenisasi pneumonia yaitu balita yang berusia 12
dilakukan terhadap faktor-faktor lain yang bulan, yaitu sebanyak 16 balita (35,6%).
secara teori berhubungan dengan kejadian Status kelengkapan pemberian imunisasi
pneumonia, seperti umur, status gizi baik, DPT-HB-HIB pada balita usia 12-24 bulan
tidak BBLR, mendapatkan ASI ekslusif, pada kelompok kasus yang mengalami
mendapat vitamin A, kepadatan penghuni pneumonia di Puskesmas Babakan Sari
rumah sesuai, ada ventilasi di rumah, dan adalah sebanyak 28 balita (62,2%) yang

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

112
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

menderita pneumonia dengan status yang mendapatkan imunisasi DPT-HB-HIB


imunisasi DPT-HB-HIB lengkap dan 17 lengkap.
balita (37,8%) yang menderita pneumonia Diharapkan pada pemberi pelayanan
dengan status imunisasi DPT-HB-HIB yang kesehatan untuk lebih meningkatkan
tidak lengkap. Status kelengkapan cakupan imunisasi, khususnya imunisasi
pemberian imunisasi DPT-HB-HIB balita DPT-HB-HIB, dengan secara lebih rutin
usia 12-24 bulan pada kelompok kontrol mengunjungi posyandu untuk melakukan
pada balita sehat (tidak pneumonia) penyuluhan tentang pentingnya
sebanyak 39 balita (86,7%) dengan status kelengkapan imunisasi DPT-HB-HIB bagi
imunisasi DPT-HB-HIB lengkap dan 6 balita dan kejadian pneumonia pada balita.
balita (13,3%) dengan status imunisasi Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat
DPT-HB-HIB yang tidak lengkap. meningkatkan sumber informasi pelayanan
Penelitian ini menunjukkan terdapat kesehatan sehingga mampu memberikan
hubungan antara status pemberian imunisasi konseling informasi dan konseling tentang
DPT-HB-HIB terhadap pneumonia pada manfaat imunisasi DPT-HB-HIB serta lebih
balita usia 12-24 bulan di Puskesmas mengenal fungsi keluarga dalam perawatan
Babakan Sari dengan hasil uji statistik kesehatan supaya anggota keluarga dapat
diperoleh nilai p 0,016 dan analisis mencegah terjadinya gangguan kesehatan
hubungan kedua variabel didapatkan nilai maupun merawat anggota keluarga yang
OR=3,946 (95%; CI=1,38-11,27), artinya sakit khususnya balita. Hasil penelitian ini
bahwa balita yang tidak mendapatkan pun dapat dijadikan data dasar dan data
imunisasi DPT-HB-HIB lengkap pembanding penelitian selanjutnya tentang
mempunyai risiko 3,946 kali untuk faktor-faktor penyebab balita yang belum
menderita pneumonia dibandingkan balita diimunisasi secara lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penerbit Ikatan Dokter Anak


(2013). Riset kesehatan dasar. Indonesia.
Diunduh dari:
Hariyanti, I. (2010). Hubungan imunisasi
http://repository.unhas.ac.id. Diakses
campak dengan kejadian pneumonia
pada tanggal 20 Maret 2016.
pada balita usia 12-59 bulan di
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Rumah Sakit Islam Pondok Kopi
(2013). Profil kesehatan Kota Jakarta tahun 2010. (Thesis).
Bandung. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Program Pasca Sarjana Universitas
dari:http://www.depkes.go.id.
Indonesia, Depok.
Diakses tanggal 20 Maret 2016.
Husin, A. (2014). Hubungan berat badan
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan
lahir dan status imunisasi dengan
Barat. (2015). Modul pelatihan
kejadian infeksi saluran pernafasan
imunisasi bagi petugas puskesmas.
akut (ISPA) pada balita di
Kalimantan Barat: Seksi Bimdal
Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta
Pencegahan Penyakit Bina P2PL
(Skripsi). Program Studi Diploma IV
Dinas Kesehatan.
Bidan Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu
Hadinegoro. (2011). Pedoman imunisasi di Kesehatan Aisyiyah Yogyakarta,
Indonesia (Edisi ke-4). Badan Yogyakarta.

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

113
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

IDAI. (2011). Pedoman imunisasi di World Health Organization, 86(5),


Indonesia. Satgas Imunisasi IDAI. 408-418.
Karnen, G. (2006). Imunologi dasar (Edisi Shinefield, H.R., Fireman, B., Cherian, T.,
ke-7). Jakarta: FKUI. & Ray,P. (2006). Effectiveness of
heptavalent pneumococcal conjugate
Kementerian Kesehatan RI. (2016). Profil
vaccine in children younger than 5.
kesehatan Indonesia tahun 2015.
The Pediatric Infectious Disease
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Journal. DOI:
Kementerian Kesehatan RI. (2015). 10.1097/01.inf.0000232706.35674.2
Rencana stategi Kementerian
Sukmawati, & Ayu, S.D. (2010). Hubungan
Kesehatan tahun 2015-2019. Jakarta:
Status Gizi, Berat Badan Lahir,
Kementerian Kesehatan RI.
Imunisasi dengan Kejadian ISPA
Keputusan Menteri Kesehatan Republik pada Balita di Wilayah Kerja
Indonesia Nomor Puskesmas Tunikamaseang
23/Menkes/SK/I/2013 tentang Kecamatan Bontoa Kabupaten
Pemberian Imunisasi Difteri Pertusis Maros. Media Gizi Pangan, X(2), 1-
Tetanus/Hepatitis B/Haemophilus 12.
Influenza type B.
Sumiyati. (2015). Hubungan jenis kelamin
Marni. (2014). Asuhan keperawatan pada dan status imunisasi DPT dengan
anak sakit: Dengan gangguan pneumonia pada bayi usia 0-12
pernapasan. Yogyakarta: Gosyen bulan. Jurnal Keseharan Metro Sai
Publishing. Wawai 3(2). Diunduh dari:
Maryunani. A. (2010). Ilmu kesehatan anak http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id.
dalam kebidanan. Jakarta: CV. Trans Diakses tanggal 28 September 2016.
Info Medika. Widagdo. (2012). Masalah dan tatalaksana
Monita, O. dkk. (2012). Profil kesehatan penyakit infeksi pada anak. Jakarta:
pneumonia komunitas di bagian anak CV Sagung Seto.
RSUP Dr Djamil Padang Sumatra Widayat, A. (2014). Faktor-faktor yang
Barat. Jurnal Kesehatan Andalas. berhubungan dengan pneumonia
Diunduh http://jurnal.fk.unand.ac.id. pada balita di Wilayah Puskesmas
Diakses pada tanggal 12 Desember Mojogedang II Kabupaten
2015. Karanganyar (Skripsi). Program
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
penelitian kesehatan. Jakarta: PT Ilmu Kesehatan Universitas
Rineka Cipta. Muhammadiyah Surakarta,
Surakarta.
Puspita, D.E., & Syahrul, F. (2015). Faktor
risiko pneumonia pada balita Wijaya, IGK., & Bahar, H. (2014).
berdasarkan status imunisasi campak Hubungan kebiasaan merokok,
dan status asi eksklusif. Jurnal imunisasi dengan kejadian penyakit
Berkala Epidemiologi, 3(1). Diunduh pneumonia pada balita di Puskesmas
dari: http://e-journal.unair.ac.id. Pabuaran Tumpeng Kota Tangerang.
Diakses tanggal 28 September 2016. Forum Ilmiah, 11(3), 375-385.

Rudan, I., Boschi-Pinto, C., Biloglav, Z., World Health Organization (WHO). (2013).
Mulhollandd, K., & Campbelle, H. The intergrated global action plan
(2008). Epidemiology and etiology of for pneumonia and diarrhoe
childhood pneumonia. Bulletin of the (GAPPD). Geneva: WHO.

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

114
P- ISSN: 2086-3071, E-ISSN: 2443-0900 Versi online:
Volume 8, Nomor 2, Juli 2017 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view

World Health Organization (WHO). neonatal period, but not those that
(2008). The Global Burned of are associated with measles,
Disease: This figure includes pertussis and HIV. Geneva: WHO.
pneumonia deaths that occur in the

Correlation between Immunization Status of DPT-HB-HIB and Pneumonia in Toddler Aged 12-24
Months Old at Babakan Sari Community Health Center Bandung

115