Anda di halaman 1dari 27

KELARUTAN 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelarutan diartikan sebagai konsentrasi bahan terlarut atau suatu

larutan jenuh pada suatu suhu tertentu. Larutan sebagai campuran

homogeny bahan yang berlainan (voight, 1994).

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia

terlarut. Kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling

(Ditjen POM, 1979 H. 32).

Larutan jenuh adalah larutan yang telah mengandung zat terlarut

dalam jumlah maksimal, sehingga tidak dapat ditambahkan lagi zat

terlarut. Pada keadaan ini terjadi kesetimbangn antara solut yang larut

dan yang tak larut atau kecepatan pelarutan sama dengan kecepatan

pengendapan (Yazid, 2005).

Larutan yang tak jenuh adalah suatu larutan yang mengandug

sejumlah solut yang lebih sedikit (encer) daripada larutan jenuhnya

(Yazid, 2005).

Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung solut

lebih banyak (pekat) daripada yang ada dalam larutan jenuhya pada

suhu yang sama (Yazid, 2005).

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah

pengadukan, suhu, luas permukaan, fikositas, ukuran partikel, pH

larutan, dan polimerfisme (Ditjen POM, 1979).

Koefisen Distribusi adalah perbandingan konsentrasi

kesetimbanagnan zat dalam dua pelarut yang berbeda yang tidak

bercampur (Anonim, 2018)

Colsolven merupakan pelarut yang dalam kombinasi menaikkan

kelarutan zat terlarut (Martin, 1990)

Secara teori jika pH dinaikkan, maka kelarutannya pun ikut

meningkat, karena selain terbentuk larutan jenuh obat dalam bentuk

molekul yang tidak terionkan (kelarutan intrinsic) juga terlarut obat yang

terbentuk ion (Martin, 1990).

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat

mengetahui dan dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang

paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi

kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan.

Farmasetis (dibidang Farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak

sebagai standar atau uji kelarutan.

Oleh karena itu, percobaan kelarutan sangat penting dilakukan

agar kita dapat mengetahui usaha-usaha yang dilakukan untuk

meningkatkan kelarutan suatu obat yang dapat mempermudah

absorpsi obat dalam tubuh manusia.

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

B. Maksud Praktikum

Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan

memahami perbandingan kelarutan paracetamol di dalam air, alkohol

dan propilenglikol

C. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk :

1. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

2. Menentuan kelarutan suatu zat dalam dua cairan yang tidak saling

bercampur

3. Menentukan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Larutan kimia dan fisika merupakan campuran dua atau lebih

zat yang homogen. Secara umum larutan menunjukkan campuran

homogen yang cair meskipun memungkinkan untuk membuat

campuran homogen dari padatan atau gas. Jadi, sangat mungkin

membuat larutan padatan dalam cairan, cairan dalam cairan, gas

dalam cairan, gas dalam gas dan padatan dalam padatan. Ketiga hal

ini paling penting dalam farmasi (Remington, 1990).

Secara kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai

konsentrasi zat terlarut didalam larutan jenuhnya pada suhu dan

tekanan tertentu. Kelarutan dinyatakan dalam satuan mililiter pelarut

yang dapat melarutkan satu gram zat. Misalnya 1 gram asam salisilat

akan larut dalam 500 mL air. Kelarutan juga dinyatakan dalam satuan

molalitas, molaritas dan persen (Tungandi, 2009).

Pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi

oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada

prinsinya obat baru dapat di absorpsi setelah zat aktifnya terlarut

dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk

Mempertinggi efek Farmakologi dari sediaan adalah dengan

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

menaikkan kelarutan zat aktifnya (Tungandi, 2009).

Kelarutan suatu garam yang sedikit larut juga tergantung pada

konsentrasi dari zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation

garam dan dasil hidrolisasi seperti dikatakan diatas adalah suatu

contoh yang pereaksi pembentuk kompleksnya yaitu ion hidroksida

(Roth, 1994).

Kelarutan juga tergantung pada struktur zat, seperti

perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin

panjang rantai gugus non polar suatu zat makin zat tersebut larut

dalam air. Selain itu, penambahan surfaktan dapat juga ditambahkan

zat-zat pembentuk kompleks untuk menaikkan kelarutan suatu zat,

misalnya penambahan uretan dalam pembuatan injeksi khinin

(Tungandi, 2009).

Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara

molekul, atom ataupun ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran

karena susunannya atau komposisinya dapat berubah. Disebut

homogen karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat

diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan

mikroskop optis sekalipun (Tungandi, 2009).

Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah

pengadukan, suhu, fikositas, ukuran partikel, pH larutan dan

polimerfisme (Ditjen POM, 1979).

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Selain faktor di atas penambah surfaktan juga akan

mempengaruhi kelarutan. Surfaktan adalah suatu zat yang digunakan

untuk menakkan kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas

dua bagian yaitu polar dan non polar. Jika kelarutan suatu zat tidak

diketahui dengan pasti, kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah

berikut : (Ditjen POM, 1979).

Jumlah bagian pelarut yang


Istikah Kelarutan diperlukan untk melarutkan 1
bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1

Mudah larut 1 sampai 10

Larut 10 sampai 30

Agak sukar larut 30 sampai 100

Sukar larut 100 sampai 1000

Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000

Praktis tidak larut Lebih dari 10.000

Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas

misalnya udara. Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan

paduan logam yang lain. Larutan cair misalnya air laut, larutan gula

dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri dari pelarut (solvent)

dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair. Pelarut

cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

bensena, kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka

nama pelarutnya disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol

disebut larutan garam dalam alkohol (alkohol disebutkan), tetap

larutan garam dalam air disebut larutan garam (air tidak disebutkan)

(Tungandi, 2009).

B. Uraian Bahan

1. Alkohol (Dirjen POM 1995:65)

Nama resmi : AETHANOLUM

Nama Lain : Etanol, Alkohol

Pemerian : Cairan yang tidak berwarna, jernih, mudah

menguap, dan mudah terbakar, bau

khas, rasa panas, mudah terbakar dengan

memberikan nyala biru yang tidak berasap

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam

kloroform p dan dalam eter p.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api.

Penggunaan : Sebagai pelarut

2. Air suling (Dirjen POM 1979:96)

Nama resmi : AQUADESTILLATA

Nama Lain : Air suling

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,

dan tidak mempunyai rasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Sebagai sampel

3. Paracetamol (Dirjen POM 1979:37)

Nama resmi : ACETAMINOPHENUM

Nama Lain : Asetminofen, parasetamol

Rumus molekul : C8H9NO2

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau,

tidak berasa

Kelarutan : Larut dalam 17 bagian air, dalam 7 bagian

etanol (95%) P. Dalam 13 bagian aseton P,

dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9

bagian propilengglikol p; larut dalam larutan

alkali hidroksida.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

4. Propilenglikol (Dirjen POM 1979:534)

Nama resmi : PROPYLENGLYCOLUM

Nama Lain : Propilenglikol

Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak

berbau, rasa agak manis, higroskopik.

Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol, dan

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

dengan kloroform p, larut dalam 6 bagian eter

p, tidak dapat campur dengan eter minyak

tanah p dan dengan minyak lemak.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan : Sebagai pelarut

5. Minyak Kelapa (Ditjen POM, 1979 : 456)

Nama Resmi : OLEUM COCOS

Nama Lain : Minyak Kelapa

Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna atau kuning

pucat, bau khas, tidak tengik.

Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (96%) P

pada suhu 60֩ ; sangat mudah larut dalam

kloroform P dan dalam eter P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari

cahaya, di tempat sejuk.

Kegunaan : Zat Tambahan.

C. Prosedur kerja

a. Menentukan Kelarutan Suatu Zat Secara Kuantitatif

1. Dimasukkan 300 mg paracetamol kedalam 10 ml aquadest lalu di

homogenkan selama 1,5 jam menggunakan stirrer.

2. Jika endapan larut selama dihomogenkan, ditambahkan lagi

sejumlah paracetamol tertentu sampai dipeoleh larutan yang

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

jenuh.
3. Disaring dan ditentukan kadar paacetamol yang larut didalam

masing-masing larutan.

b. Pengaruh Pelarut Campur Terhadap Kelarutan Zat

1. Dibuat 100 ml campuran bahan pelarut A (aquadest + propilen

glikol).

2. Diambil 10 ml campuran pelarut dan dimasukkan kedalam vial.

3. Dilarutkan paracetamol sebanyak 100 mg kedalam masing-

masing campuran pelarut.

4. Dihomogenkan larutan menggunakan stirrer selama 1,5 jam. Jika

ada endapan yang larut selama dihomogenkan, lalu ditambahkan

lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh larutan yang

jenuh kembali.

5. Disaring larutan dan ditentukan kadar paracetamol yang larut

dengan menggunakan spektofotometer.

6. Dibuat kurva antara kelarutan paracetamol dengan harga

konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.

c. Cara Menentukan Koefisien Distribusi

1. Ditimbang 100 mg metil paraben, lalu dimasukkan kedalam

Erlenmeyer 100 ml.

2. Dilarutkan dengan aquadest sampai batas tanda hingga 50 ml.

3. Diambil 25 ml dari larutan tersebut dan dimasukkan kedalam

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

corong pisah lalu ditambahkan dengan 25 ml minyak kelapa.

4. Dihomogenkan selama beberapa menit didalam corong pish,

diamkan selama 10-15 menit hingga kedua cairan memisah satu

sama lain.

5. Dibuka tutup corong pisah, lalu dipisahkan air dari minyak dengan

menampung dalam Erlenmeyer.

6. Ditentukan kadar metil paraben dalam air menggunakan

spektofotometer.

7. Dihitung koefisien distribusi

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

BAB III

METODE KERJA

A. Alat Praktikum

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu, Botol

semprot, Corong pisah, gelas ukur 10 mL, gelas ukur 10 mL, gelas

kimia 100 mL, Erlenmeyer, sendok tanduk, kertas saring, pipet tetes,

stirrer, spektrofotometer, Timbangan analitik, vial.

B. Bahan Praktikum

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu,

Alkohol, Aluminium foil, aquadest, Ethanol, minyak kelapa,

Paracetamol, propilglikol.

C. Cara Kerja

a) Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

Dimasukkan 100 mg paracetamol dalam 50 ml air dan

dikocok selama 1 jam dengan stirrer, jika ada endapan yang larut

selama pengocokan ditambahkan lagi sejumlah tertentu

paracetamol sampai diperoleh larutan jenuh. Kemudian Disaring

dengan menggunakan kertas saring dan kemudian ditentukan

kadar paracetamol yang terlarut dalam masing-masing larutan.

b) Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

Dibuat 100 ml campuran bahan pelarut yaitu air, alkohol,

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

dan propilglikol sesuai di tabel dibaawah ini :

Pelarut Air % (v/v) Alkohol% (v/v) Propilen glikol % (v/v)

A 60 0 40

C 60 10 30

E 60 20 20

G 60 35 5

H 60 40 0

Kemudian ditimbang paracetamol dan dimsukkan kedalam

Erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 100 mg paracetamol lalu di

kocok selama 1 jam dengan menggunakan stirrer. Apabila terdapat

endapan yang larut selama pengocokan ditambahkan lagi

paracetamol sampai kembali memperoleh larutan yang jenuh.

Endapan yang tersisa disaring dan dikeringkan dengan oven.

Setelah kering kemudian ditimbang untuk menentukan kadar

paracetamol yang larut dan dibuat kurvanya.

c) Cara menentukan koefisien distribusi

Ditimbang 100 mg paracetamol, lalu dimasukkan dalam

Erlenmeyer 100 mL. dilarutkan dengan aquadest, kemudian

dicukupkan volume larutan hingga 50 mL dengan aquadest.

Kemudian diambil 25 mL dari larutan tersebut, dimasukkan dalam

corong pisah, dan ditambahkan dengan 25 mL minyak kelapa.

kocok selama 5 menit campuran di dalam corong pisah, diamkan

10-15 menit hingga kedua cairan memisah satu sama lain. Dibuka

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

tutup corong pisah, lalu pisahkan air dari minyak dengan

menampung dalam Erlenmeyer. Ditentukan kadar

paracetamol/metil paraben dalam air menggunakan

spektrofotometer. Dihitung koefisien distribusi

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
a. Tabel Kuantitatif dan Konstanta Dielektrik

PPM ABS
2 0,159
4 0,274
6 0,399
8 0,530
10 0,655
12 0,787
a = 0,0259 b = 0,0645 r = 0,999

Konstanta dielektrik : Air = 80,04; Alkohol = 23,3; Propilenglikol = 34

b.Tabel Pelarut Campur

PPM ABS
4 0,156
6 0,254
8 0,349
10 0,422
12 0,529
14 0,617
a = - 0,023 b = 0,045 r = 0,999

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

c. Tabel Kelarutan Secara Kuantitatif :

Jumlah Paracetamol
paracetamol Absorbansi yang larut

Paracetamol 433 mg 0,357 131,38


mg/5 mL

d. Tabel Pelarut Campuran :

Pelarut Jumlah PCT Absorbansi KD PCT yang


yang larut
ditambahkan

A 443 mg 0,548 68 310,86


mg/ 5mL

B 425 mg 0,223 65,5 167,79


mg/5 mL

C 562 mg 0,253 63 376,35


mg/5mL

D 632 mg 0,276 59,25 357,33


mg/5 mL

E 313 mg 0,211 58 319,29


mg/5 mL

e. Tabel Koefisien Distribusi :

Kelompok Absorbansi PCT yang PCT yang Koefisien


larut air larut minyak Distribusi
100,0152 -6579,94
1 0,782 -0,0152 mg/50mL
mg/50mL
99,21 125,58
2 0,776 0,79 mg/50Ml
mg/5mL

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

f. Hubungan antara konstanta dialektrik dengan paracetamol

450

400

350

300
y = -8.2823x + 826.04
250 R² = 0.1786
Series1
200
Linear (Series1)
150

100

50

0
55 60 65 70

B. Pembahasan

Larutan adalah suatu campuran yang terdapat zat pelarut dan zat

terlarut yang sulit untuk dibedakan atau telah menjadi homogen.

Sedangkan Kelarutan diartikan sebagai konsentrasi bahan terlarut atau

suatu larutan jenuh pada suatu suhu tertentu. Larutan sebagai

campuran homogeny bahan yang berlainan.

Koefisen Distribusi adalah perbandingan konsentrasi

kesetimbanagnan zat dalam dua pelarut yang berbeda yang tidak

bercampur. Colsolven merupakan pelarut yang dalam kombinasi


.
menaikkan kelarutan zat terlarut.

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu, Botol

semprot, Corong pisah, gelas ukur 10 mL, gelas ukur 10 mL, gelas

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

kimia 100 mL, Erlenmeyer, sendok tanduk, kertas saring, pipet tetes,

stirrer, spektrofotometer, Timbangan analitik, vial.

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu, Alkohol,

Aluminium foil, aquadest, Ethanol, minyak kelapa, Paracetamol,

propilglikol.

Pada praktikum ini sampel utama yang digunakan adalah

parasetamol. Fungsinya adalah untuk mempelajari bagaimana proses

parasetamol di dalam tubuh. Misalnya pada metode koefisien distribusi,

pada metode ini kita menggunakan air dan minyak, yang akan dihitung

adalah kadar parasetamol dan air. Minyak berguna sebagai

pengandaian lemak di dalam tubuh. Disini kita mempelajari bagaimana

di dalam tubuh air dan lemak melarutkan parasetamol tersebut.

Praktikum ini dilakukan dengan tujuan mendeteksi dan menentukan

kadar kelarutan parasetamol dalam suatu larutan dengan beberapa

metode, yaitu metode kuantitatif, metode pelarut campur, dan metode

koefisien distribusi. paracetamol yang dilarutkan sampai membentuk

larutan jenuh pada masing-masing percobaan kemudian disaring dan

ditentukan kadarnya dengan mengunakan spektrofotometri untuk

diketahui nilai absorbannya.

Dalam menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif,

pertama-tama yang dilakukan adalah menimbang 100 mg paracetamol,

masukkan 5 ml air ke dalam vial kemudian kocok selama 1 jam dengan

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

menggunakan stirrer dan stirrer magnetik. Jika ada endapan yang larut

maka tambahkan sejumlah tertentu paracetamol at sampai diperoleh

larutan jenuh. Saring larutan dengan menggunakan kertas saring dan

keringkan dengan menggunakan oven. Setelah kering, sampel

tersebut kemudian ditimbang kembali.

Dalam percobaan menentukan pengaruh pelarut campur terhadap

kelarutan pertama-tama yang dilakukan adalah dibuat 10 mL campuran

yang bedasarkan pada tabel. Setelah itu ditimbang paracetamol

kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Tambahkan 100 mg

paracetamol kemudian kocok selama 1 jam menit dengan

menggunakan stirrer. Jika ada endapan yang larut tambahkan sejumlah

tertentu paracetamol. Endapan yang tersisa kemudian disaring dengan

menggunakan kertas saring.

Dalam percobaan menentukan koefisien distribusi. Peratama-tama

yang akan dilakukan adalah ditimbang paracetamol seberat 100 mg

kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer dan ditanbahkan aquadest

hingga mencapai 50 mL. Lalu ambil 25 mL dari larutan tersebut dan

masukkan ke dalam corong pisah kemudian ditambhkan 25 mL minyak

kelapa. Kemudian kocok selama beberapa menit lalu diamkan 10-15

menit hingga cairan tersebut memisah. Lalu pisahkan cairan dengan

menampung cairan ke dalam erlenmeyer kemudian tentukan kadar

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

paracetamol dalam air menggunakan spektrofotometer. Terakhir hitung

koefisien distribusi.

Pada percobaan menentukan kelarutan zat suatu zat secara

kuantitatif diperoleh paracetamol yang larut adalah 131,38 mg/5 ml dari

423 mg yang ditambahkan, dimana dapat disimpulkan bahwa

paracetamol tersebut sukar larut hal ini sesuai dengan farmakope

bahwa paracetamol larut dalam 70 bagian air

Pada percobaan palarut campur diperoleh hasil pada pelarut A =

310,86 mg/5mL, pada pelarut B = 167,79 mg/5mL, pada pelarut C =

376,35 mg/5 ml, pada pelarut D = 357,33 mg/5 ml dan pelarut E =

319,29 mg/5ml. Dengan selisih antara paracetamol yang ditambahkan

dengan yang larut lebih dari 100 sehingga paracetamol termaksud

sukar larut Sedangkan dengan adanya penambahan alcohol dan

propilen glikol pada pelarut campur seharusnya dapat meningkatkan

kelarutan paracetamol berdasarkan Farmakope Indonesia yakni mudah

larut pada 7 dan 9 bagian alcohol dan propilen glikol. Ini menunjukkan

bahwa hasil yang diperoleh pada praktikum tidak sesuai dengan

literatur. Serta pada penentuan konstanta dialektrik semakin besar nilai

konstanta semakin banyak yang dapat dilarutkan tetapi terdapat

kesalahan dimana ada pelarut dengan konstanta dialektrik tinggi hanya

kemampuan melarutnya rendah

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Pada penentuan koefisien distribusi (KD) mendapatkan hasil -

6579,94 dan 125,56 Ini berarti larutan tersebut merupakan larutan yang

sukar larut. Selain itu juga pada Farmakope Indonesia ed IV 649, 1995

bahwa kelarutan paracetamol larut dalam air mendidih dan dalam

Natrium Hidroksida 1 N; mudah larut dalam etanol.

Aplikasi kelarutan dalam bidang farmasi adalah digunakan dalam

pembuatan larutan farmasetika dapat membantu dalam menentukan

pelarut yang tepat untuk sediaan obat, dan dapat juga digunakan untuk

uji kemurnian.

Aplikasi koefisien distribusi dalam bidang farmasi digunakan untuk

mengetahui pengawetan yang digunakan dalam sediaan obat. Diaman

pengawet yang baik digunakan seperti emulsi, misalnya harus dapat

larut dalam air dan minyak, karena jika pengawetan hanya bisa larut

dalam air maka fase minyak akan ditumbuhi oleh mikroorganisme

sehingga tidak akan menghasilkan sediaan yang baik. Serta

mengetahui absorbsi dan distribusi suatu bahan obat didalam tubuh

Adapun faktor kesalahan pada kegiatan praktikum kali ini adalah

pada saat mencampurkan bahan atau zat (sampel) praktikan tidak

terlalu teliti dan tidak memperhatikan cara kerja dengan baik. Akibatnya

sampel yang telah dicampur tidak mendapatkan hasil yang sesuai

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

BAB V

PENUTUP

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

A. Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh dari ketiga kelompok, dapat

disimpulkan bahwa

a. Pada penentuan kadar secara kuantitatif didapatkan hasil 131,38

mg/5 ml dari 423 mg dimana paracetamol sukar larut dalam air

b. Pada penentuan kadar pada pelarut campur didapatkan hasil hasil

pada pelarut A = 310,86 mg/5mL, pada pelarut B = 167,79 mg/5mL,

pada pelarut C = 376,35 mg/5 ml, pada pelarut D = 357,33 mg/5 ml

dan pelarut E = 319,29 mg/5ml. Dimana semakin besar konstanta

dialektrik, semakin besar kelarutan zat tapi pada praktikum terdapat

beberapa kesalahan dimana terdapat pelarut yang memiliki

konstanta dialektrik besar tapi kelarutan zat rendah

c. Pada penentuan koefisien distribusi didapatkan hasil 6579,94 dan

125,56 dimana paracetamol lebih larut dalam minyak dari pada

dalam air

B. Saran
Sebaiknya pada saat kegiatan praktikum sedang berjalan,
praktikan diharapkan untuk lebih teliti dalam mencampurkan bahan dan
pada saat mengukur sampel agar tidak terjadi kesalahan yang tidak
diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2018, Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas Muslim


Indonesia : Makassar.

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan


RI : Jakarta.

Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan


RI : Jakarta.

Martin, Alfred, 1990, Farmasi Fisika jilid I dan II Edisi III. Press : Yogyakarta.

Remington, Joseph P, 2006. The Science and Practice of


Pharmaceutical. United States of America

Roth, J.H., dan Blaschke, G., 1998, Analisis Farmasi, Cetakan III,
diterjemahkan oleh Kisman, S., dan Ibrahim, S., Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Tungadi, Robert. 2009. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Jurusan


Farmasi Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo
Voight, R, 1994. Buku pelajaran teknologi farmasi, cetakan I, edisi V. UGM
press, yogyakarta

Yazid, Estien, 2005, Kimia Fisik untuk Paramedis. Yogyakarta : ANDI

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

LAMPIRAN

SKEMA KERJA

A. Kelarutan secara kuantitatif

100mg parasetamol di larutkan dalam 5 ml air

Kocok selama 1,5 jam dengan stirer (jika endapan


yang terbebtuk larut maka tambahkan lagi
parasetamol sampai diperoleh larutan jenuh)

Saring dan hitung kadar parasetamol

B. Pengaruh pelarut campur terhadap kalarutan zat

Buat 100mg pelarut campur dengan


mencapurkan air + alkohol + propilen glikol

Ambil 5 ml pelarut campur dan masukkan


kedalam vial dan tambahkan 300mg
parasetamol

Kocok selama 1,5 jam dengan stirer (jika endapan


yang terbebtuk larut maka tambahkan lagi
parasetamol sampai diperoleh larutan jenuh)

Saring dan hitung kadar parasetamol


dengan mengunakan spektofotometer

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

Buat kurva antarakelarutan parasetamol dengan


harga kosntanta dielektrik bahan pelarut campur
C. Cara menentukan koefisien distribusi

Timbang 100 mg parasetamol, lalu


masukkan kedalam erlenmeyer 100mL

Larutkan dengan aquadest, kemudian


dicukupkan volumenya larutan hingga 50ml

Ambil 25 ml dari larutan tersebut dan


masukkan kedalam corong pisah dan
tambahkan 25 minyak kelapa

Kocok beberapa menit campuran di dalam


corong pisah ,diamkan selama 10-25 menit
hingga kedua cairan berpisah

Buka tutup corong pisah, lalu pisahkan air


dari minyak dengan menampung dalam
erlenmeyer

Tentukan kadar parasetamol dalam air


menggunakan spektofotometer dan hitung
koefisien distribusinya

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173
KELARUTAN 1

SUCI RAMADHANI AR A. MUMTIHANAH MURSYID, S.Farm, M.Si, Apt


15020170173