Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN KONSEP KEBUTUHAN


RASA AMAN DAN NYAMAN

DISUSUN OLEH :
CICI MELISA, S.Kep
P 27220010 056

PROFESI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS PADANG
2017
PEMENUHAN KEBUTUHAN KONSEP KEBUTUHAN
RASA AMAN DAN NYAMAN

1. Konsep Dasar
A. Pengertian
Keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa
juga keadaan aman dan tentram (Potter& Perry, 2006) Perubahan
kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak
menyenangkan dan berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya
(Carpenito, Linda Jual, 2000) Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap)
B. Jenis Keamanan Kebutuhan fisiologis yang terdiri dari kebutuhan terhadap :
1. oksigen, kelembaban yang optimum, nutrisi, dan suhu yang optimum
akan mempengauhi kemampuan seseorang. Oksigen Bahaya umum
yang ditemukan dirumah adalah sistem pemanasan yang tidak
berfungsi dengan baik dan pembakaran yang tidak mempunyai sistem
pembuangan akan menyebabkan penumpukan karbondioksida.
2. Kelembaban, Kelembaban akan mempengaruhi kesehatan dan
keamanan klien, jika kelembaban relatifnya tinggi maka kelembaban
kulit akan terevaporasi dengan lambat
3. Nutrisi, Makanan yang tidak disimpan atau disiapkan dengan tepat
atau benda yang dapat menyebabkan kondisi kondisi yang tidak bersih
akan meningkatkan resiko infeksi dan keracunan makanan.
Kolcaba (1992, dalam Potter & Perry, 2006) megungkapkan
kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu
kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan
telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi
masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang
mencakup empat aspek yaitu:

a. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.


b. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan
sosial.
c. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri
sendiri yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan).
d. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman eksternal
manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan unsur alamiah
lainnya.

Meningkatkan kebutuhan rasa nyaman diartikan perawat telah


memberikan kekuatan, harapan, hiburan, dukungan, dorongan, dan bantuan.
Secara umum dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman adalah
kebutuhan rasa nyaman bebas dari rasa nyeri, dan hipo/hipertermia. Hal ini
disebabkan karena kondisi nyeri dan hipo/hipertermia merupakan kondisi
yang mempengaruhi perasaan tidak nyaman pasien yang ditunjukan dengan
timbulnya gejala dan tanda pada pasien.

Kenyamanan ( nyeri )
Nyeri adalah kondisi suatu mekanisme prolektif tubuh ayng timbul
bilamana jaringan mengalami kerusakan dan menyebabkan individu
tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan tersebut. (Guyton Hall,
1997)

a. Nyeri Akut Nyeri akut adalah suatu keadaan dimana seseorang


melaporkan adanya ketidaknyamanan yang hebat. Awitan nyeri akut
biasanya mendadak, durasinya singkat kurang dari 6 bulan.
b. Nyeri Kronik Nyeri kronik adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami nyeri yang berlangsung terus menerus, akibat kausa
keganasan dan non keganasan atau intermiten selama 6 bulan atau
lebih.
c. Mual Mual adalah keadaan dimana individu mengalami sesuatu
ketidaknyamanan, sensasi seperti gelombang dibelakang tenggorokan
epigastrium, atau seluruh abdomen yang mungkin atau mungkin tidak
menimbulkan muntah
FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI KEAMANAN DAN
KENYAMANAN Emosi Kecemasan, depresi, dan marah akan mudah
terjadi dan mempengaruhi keamanan dan kenyamanan Status
Mobilisasi Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan
kesadaran menurun memudahkan terjadinya resiko injury Gangguan
Persepsi Sensory Mempengaruhi adaptasi terhadaprangsangan yang
berbahayaseperti gangguan penciuman dan penglihatan Keadaan
Imunits Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang
sehingga mudah terserang penyakit Tingkat Kesadaran Pada pasien
koma, respon akan enurun terhadap rangsangan, paralisis, disorientasi,
dan kurang tidur. Informasi atau Komunikasi Gangguan komunikasi
seperti aphasia atau tidak dapat membaca dapat menimbulkan
kecelakaan. Gangguan Tingkat Pengetahuan Kesadaran akan terjadi
gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional Antibiotik dapat
menimbulkan resisten dan anafilaktik syok Status nutrisi Keadaan
kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah
menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat beresiko terhadap
penyakit tertentu. Usia Pembedaan perkembangan yang ditemukan
diantara kelompok usia anak-anak dan lansia mempengaruhi reaksi
terhadap nyeri Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak
berbeda secara bermakna dalam merespon nyeri dan tingkat
kenyamanannya. Kebudayaan Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan
mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri dan tingkat kenyaman
yang mereka punyai Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap


A. Intervensi (Perencanaan)
1. Kekurangan volume cairan
Tujuan : Menyeimbangkan volume cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
a. Terjdi peningkatan a. Kaji cairan yang a. Membuat klien lebih
asupan cairan min. disukai klien dalam kooperatif.
2000ml/hari batas diet. b. Mempermudah
(kecuali terjadi b. Rencanakan target untuk memantauan
kontraindikasi). pemberian asupan kondisi klien.
b. Menjelaskan perlu- cairan untuk setiap
nya meningkatkan sif, mis : siang 1000
asupan cairan pada ml, sore 800 ml dan
saat stress/cuaca malam 200 ml.
panas. c. Kaji pemahaman c. Pemahaman tentang
c. Mempertahankan klien tentang alasan alsan tsb membantu
berat jenis urine mempertahankan klien dlm mengatasi
dalm batas normal. hidrasi yg adekuat. gangguan.
d. Tidak menunjukan d. Catat asupan dan d. Untuk mengontrol
tanda-tanda haluaran. asupan klien.
dehidrasi. e. Pantau asupan per e. Untuk mengetahui
oral, min. 1500 ml/ prkembangan status
24 jam. kesehatan klien.
f. Pantau haluaran
cairan 1000-1500ml
/24jam. Pantau berat
jenis urine.

2. Kelebihan volume cairan


Tujuan : Kebutuhan cairan klien dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh
klien.
Kriteria hasil Intervensi Rasional
a. Klien akan a. Kaji asupan diet a. Untuk mengontrol
menyebutkan faktor dan kebiasaan yg asupan klien.
penyebab & metode mendorong terjadi-
pencegahan edema. nya retensi cairan.
b. Klien mperlihatkan b. Anjurkan klien b. Konsumsi garam
penurunan edema. untuk menurunkan yg berlebihan me-
konsumsi garam. ningktkan tekanan
darah.
c. Anjurkan klien c. Makanan yg meng-
untuk: gunakan penyedap
i.Menghindari rasa dan pengawet.
makanan gurih, d. Na+
makanan kaleng & mengikat air, jadi
makanan beku. tubuh akan lebih
ii.Mengkonsumsi merasa lebih cepat
mkann tnpa garam haus.
dan menambahkan
bumbu aroma.
iii.Mggunakan cuka
pengganti garam
utk penyedap rasa
sop, rebusan dll.
d. Kaji adanya tanda e. Venostasis dapat
venostasis dan mengakibatkan
bendungan vena terhambatnya aliran
pada bagian tubuh darah.
yang mengantung.
e. Untuk drainase f. Guna
limfatik yang tidak memperlancar
adekuat: sirkulasi.
i.Tinggikan g. Perlukaan pada
ekstremitas dengan daerah yang sakit
mnggunakn bantal, menyebabkan
imobilitas, bidai/ kurang lancarnya
balutan yang kuat, sirkulasi peredaran
serta berdiri/duduk darah di daerah tsb.
dlm waktu yg lama
ii.Jngn memberikan
suntikan/infuse pd
lengan yang sakit.
iii.Ingatkan klien h. Semua kegiataan
untuk menghindari tersebut
detergen yang keras, memperparah
membawa beban keadaan klien
berat, memegang
rokok, mencabut
kutikula/ bintil
kuku, me-nyentuh
kompor gas,
memgenakan
perhiasan atau jam
tangan.
iv. Lindungi kulit yg i. Untuk mepercepat
edema dari cidera. perbaikan jaringan
tubuh.

3. Ganguan keseimbangan elektrolit (kalium)


Tujuan : Klien memiliki keseimbangan cairan, elektrolit dan asam- basa dalam 48
jam.
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
a. Klien menjelaskan Penurunan kadar a. Dengan meng-
diet yang sesuai kalium etahui tanda hipo-
utk mmpertahnkan a. Observasi tanda dan kalemia, perawat
kadar kalium dlam gejala hipokalemia dapat menetapkn
batas normal. (vertigo, hipotensi lngkh slanjutnya.
b. Klien berpartipasi ariotmia, mual, b. Poliuria dpat me-
untuk melaporkan muntah, diare, nyebabkan pe-
tanda – tanda klinis distensi abdomen ngeluaran kalium
hipokalemia/hiper- ,pnurunn peristaltis, secara berlebihan.
kaenia. kelemahan otot, dan c. Kelebihan cairan
c. Kadar kalium dlam kram tungkai). dapat menyebab-
batas normal/dapat b. Catat asupan dan kan pnurunan ka-
ditoleransi. haluaran. dar kalium se-
c. Tentukan status rum.
hidrasi klien bila d. Nilai kalium yg
terjadi hipokalemia. rendah dapat me-
d. Kenali perubahan nyebabkan kon-
tingkah laku yang fusi, mudh mrah,
merupakan tanda- depresi mental.
tanda hipokalemia. e. Kalium memban-
e. Anjurkan klien dan tu menyeimbang-
keluarga untuk kan cairan tubuh.
mngkonsmsi makan- f. Segmen ST dan
an tinggi kalium gelombang T yg
(mis. Buah-buahan, datar atau terbalik
sari buah, buah merupkn indikasi
kering, syur, daging, hipokalemia.
kacang-kacangan, g. Utk mengurangi
teh, kopi, dan kola). resiko iritasi
f. Laporkan perubahan mukosa lambung.
EKG; segmen ST yg h. Streoid kortison
memanjang, depresi. dapat menyebab-
g. Encerkan suplemen kan retensi natri-
kalium per oral um dan ekresi
sedikitnya dalam kalium.
113,2 gram air/sari i. Nilai kalium yang
buah utk mngurangi rendah dapat me-
resiko iritasi mukosa ningkatkan kerja
lambung. digitalis.
h. Pantau nilai kalium j. Dengan menge-
serum pada klien tahui tanda hipo-
yang mendapat obat kalemia, perawat
diuretic dan steroid. dpt menetapkan
i. Kaji tanda dan langkah slnjutnya
gejala toksisitas
digitalis jika klien
tengah mendapat
obat golongan
digitalis dan diuretik
atau steroid.
Peningkatan Kadar
Kalium k. Haluaran urin yg
a. Observasi tanda dan sedikit dapat me-
gejala hiperkalemia nyebabkan hiper-
(mis.Bradikardia, kalemia.
kram abdomen, l. Nilai kalium
oliguria, ksemutan& lebih dari 7mEq/
kebas pd ekstremtas) l dapat menye-
b. Kaji haluaran urin. babkan henti
Sedikitnya 25ml/jam jantung.
atau 600 ml/ hari. m. Untuk melihat
c. Laporkan nilai adanya pelebaran
kalium serum yang kompleks QRS
melebihi 5mEq/l dan gelombang T
batasi asupan kalium tggi yg merupkan
jika perlu. tanda hiperka-
d. Pantau EKG lemia.

B. Implementasi (Penatalaksanaan)
1. Kekurangan volume cairan
a. Mengkaji cairan yang disukai klien dalam batas diet.
b. Merencanakan target pemberian asupan cairan untuk setiap sif, mis: siang
1000 ml. Sore 800 ml dan malam 200 ml.
c. Mengkaji pemahaman klien tentang alasan mempertahankan hidrasi yang
adekuat Mencatat asupan dan haluaran.
d. Memantau asupan per oral, minimal 1500 ml/24 jam.
e. Memantau haluaran cairan 1000- 1500 ml/24 jam. Memantau berat jenis urine.
2. Kelebihan volume cairan
a. Mengkaji asupan diet dan kebiasaan yang mendorong terjadinya setensi cairan.
b. Menganjurkan klien untuk menurunkan konsumsi garam.
c. Menganjurkan klien untuk:
i. Menghindari makanan gurih,makanan kaleng,dan makanan beku.
ii. Mengonsumsi makanan tanpa garam dan menambahkan bumbu aroma
iii. Menggunakan cuka pengganti garam untuk penyedap rasa sop,rebusan dll.
d. Mengkaji adanya tanda venostasis dan bendungan vena pada bagian tubuh
yang mengantung.
e. Memposisikan ekstremitas yang mengalami edema diatas level jantung,bila
memungkinkan(kecuali ada kontra indikasi).
f. Untuk drinase limfatik yang tidak adekuat:
i. Meninggikan ekstremitas dengan menggunakan bantal.
ii. Mengukur tekanan darah pada lengan yang tidak sakit.
iii. Jangan memberikan suntikan atau infuse pada lengan yang sakit.
iv. Mengingatkan klien untuk menghindari detergen yang keras, membawa
beban berat, memegang rokok, mencabut kutikula atau bintil kuku,
memyentuh kompor gas, memgenakan perhiasan atau jam tangan.
v. Melindungi kulit yang edema dari cidera
3. Gangguan keseimbangan Elektrolit(kalium)
Penurunan kadar kaliu:
a. Mengobservasi tanda dan gejala hipokalemia (vertigo,hipotensi ariotmia, mual,
muntah, diare, distensi abdomen, penurunan peristaltis, kelemahan otot, dan
kram tungkai
b. Mencatat asupan dan haluaran. (poliuria dapat menyebabkan pengeluaran
kalium secara berlebihan).
c. Menentukan status hidrasi klien bila terjadi hipokalemia. (kelebihan cairan
dapat menyebabkan serum).
d. Mengenali perubahan tingkah laku yang merupakan tanda- tanda hipokalemia.
Nilai kalium yang rendah dapat menyebabkan konfusi, mudah marah, depresi
mental.
e. Menganjurkan klien dan keluarga untuka mengkonsumsi makanan tinggi
kalium (mis. Buahbuahan, sari buah, buah kering, sayur, daging, kacang-
kacangan, teh, kopi,dan kola)
f. Melaporkan perubahan EKG; segmen ST yang nmemanjang, depresin segmen
ST dan gelombang T yang datar atau terbalik merupakan indikasi hipokalemia.
g. Mengencerkan suplemen kalium per oral sedikitnya dalam 113,2 gram air/sari
buah untuk mengurangi resiko iritasi mukosa lambung.
h. Memantau nilai kalium serum pada klien yang mendapat obat diuretic dan
steroid. (Streoid kortisonndapat menyebabkan retensi natrium dan ekresi
kalium).
i. Mengkaji tanda dan gejala toksisitas digitalis jika klien tengah mendapat obat
golongan digitalis dan diuretikatau steroid. (nilai kalium yang rendah dapat
meningkatkan kerja digitalis.
Peningkatan Kadar Kalium:
a. Mengobservasi tanda dan gejala hiperkalemia (mis. Bradikardia, kram
abdomen, oliguria, kesemutan dan kebas pada ekstremitas).
b. Mengkaji haluaran urin. Sedikitnya 25 ml/ jam atau 600 ml/ hari (haluaran urin
yang sedikti dapat menyebabkan hiperkalemia).
c. Melaporkan nilai kalium serum yang melebihi 5 mEq/ l. batasi asupan kalium
jika perlu. (nilai kalium lebih dari 7 mEq/ l dapat menyebabkan henti jantung)
d. Memantau EKG untuk melihat adanya pelebaran kompleks QRS dan
gelombang T tinggi yang merupakan tanda hiperkalema..

Tindakan Keperawatan
1. Pemberian cairan dan elektrolit per oral
a. Penambahan intake cairan dapat diberikan per oral pada pasien-pasien tertentu,
misalnya pasien dengan dehidrasi ringan atau DHF stadium I.
b. Penambahan inteke cairan biasanya di atas 3000 cc per hari.
c. Pemberian elektrolit per oral biasanya melalui makanan dan minuman.
2. Pemberian therapy intravena
a. Pemberian terapy intravena merupakan metode yang efektif untuk memenuhi
cairan extrasel secara langsung.
b. Tujuan terapy intravena :
1) Memenuhi kebutuhan cairan pada pasien yang tidak mampu mengkonsumsi
cairan per oral secara adekuat.
2) Memberikan masukan-masukan elektrolit untuk menjaga keseimbangan
elektrolit.
c. Jenis cairan intravena yang biasa digunakan :
1) Larutan nutrient, berisi beberapa jenis karbohidrat dan air, misalnya
dextrosa dan glukosa. Yang digunakan yaitu 5% dextrosa in water (DSW)
dan amigen, aminovel.
2) Larutan elektrolit, antara lain larutan salin baik isotonik, hypotonik, maupun
hypertonik. Yang banyak digunakan yaitu normal saline (isotonik) : NaCL
0,9%.
3) Cairan asam basa, contohnya sodium laktate dan sodium bicarbonat.
4) Blood volume expanders, berfungsi untuk meningkatkan volume pembuluh
darah atau plasma. Cara kerjanya adalah meningkatkan tekanan osmotik
darah.
3. Tindakan keperawatan pada pasien yang terpasang infus
a. Mempertahankan infus intravena terhadap daerah pemasangan infus dan
memberikan pendidikan kesehatan pada pasien.
b. Memenuhi rasa nyaman dan membantu aktivitas pasien misalnya dalam
pemenuhan personal hygiene, membantu mobilitas.
c. Observasi komplikasi yang mungkin terjadi, misalnya :
1) Infiltrat : masukkannya cairan ke sub kutan.
Gejala : bengkak, dingin, nyeri, tetesan infus lambat.
2) Phlebitis : trauma mekanik pada vena atau iritasi bahan kimia.
Gejala : nyeri, panas, kemerahan pada vena tempat pemasangan.
3) Kelebihan inteke cairan : akibat tetesan infus yang terlalu cepat.
d. Mengatur tetesan infus
Dilakukan setiap 30 menit sampai dengan 1 jam. Tetesan terlalu cepat
menyebabkan masalah pada paru-paru dan jantung. Tetesan yang lambat dapat
menyebabkan intake cairan dan elektrolit yang tidak adekuat. Faktor yang
mempengaruhi jumlah tetesan :
1) Posisi pemasangan
2) Posisi dan patency tube/selang
3) Tinggi botol infus
4) Kemungkinan adanya infiltrat
e. Mengganti botol infus
Dilakukan jika cairan sudah di leher botol dan tetesan masih berjalan.
Prosedurnya :
1) Siapkan botol yang baru.
2) Klem selang.
3) Tarik jarum dan segera tusukan pada botol yang baru.
4) Gantungkan botol.
5) Buka klem dan hitung kembali tetesan.
6) Pasang label.
7) Catat tindakan yang dilakukan.
f. Mengganti selang infus
Minimal 3x4 jam, langkah-langkahnya :
1) Siapkan infus set yang baru, termasuk botol.
2) Masukkan cairan sepanjang selang dan gantungkan botol serta tutup klem.
3) Pegang poros jarum dan tangan lain melepas selang.
4) Tusukan tube yang baru ke poros jarum.
5) Lanhkah berikutnya seperti memasang infus.
g. Menghentikan infus
Dilakukan bila program terapi telah selesai atau bila akan mengganti tusukan
yang baru. Langkah-langkahnya :
1) Tutup klem infus.
2) Buka tape pada daerah tusukan sambil memegang jarum.
3) Tarik jarum sepenuhnya dan beri penekanan pada daerah bebas tusukan
dengan kapas beralkohol selama 2-3 menit untuk mencegah perdarahan.
4) Tutup daerah bebas dengan kassa steril.
5) Catat waktu penghentian infus dan jumlah cairan yang masuk dan yang
tersisa dalam botol.
4. Tindakan keperawatan pada pasien yang terpasang transfusi darah
Pengertian disini adalah memasukkan darah lengkap atau komponen darah ke
dalam sirkulasi vena.
Tujuannya yaitu untuk :
a. Mengembalikan jumlah darah setelah perdarahan hebat.
b. Mengembalikan sel darah merah misalnya pada anemia berat.
c. Memberikan faktor-faktor plasma seperti antihemofilik.
Reaksi-reaksi transfusi yang mungkin timbul yaitu :
a. Hemofilik : terjadi apabila aglutinogen dengan anti aglutinin dengan tipe
sama bertemu.
b. Febris : karena adanya kontaminasi pada darah atau sensitivitas dari sel
darah putih.
c. Reaksi alergi : biasanya karena adanya antibody pada plasma donor.
Risiko transfusi yang utama adalah transfusi penyakit hepatitis, AIDS, dsb.

C. Evaluasi tindakan keperawatan


1. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan.
2. Output urine pasien seimbang dengan intake cairan, membran mukosa lembab,
turgor kulit baik.
3. Karakterisitik urine menunjukkan fungsi ginjal yang baik.
4. Pasien akan mengkonsumsi cairan sesuai dengan program (per oral, therapy
intravena atau TPN).
5. Pasien dapat mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat teratasi.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.1995.”Diagnosa Keperawatan”.Jakarta : EGC

Harnawatiaj.2008.Keseimbangan Cairan dan Elektrolit, (http://wordpress.com/, diakses


24 April 2010)

Mubarak, Wahid.I & Chayatin, NS.Nurul..2008.”Kebutuhan Dasar Manusia”. Jakarta:


EGC.

Faqih, Moh. Ubaidillah.2009.”Cairan dan Elektrolit dalam Tubuh Manusia”,


(http://www.scribd.com/ diakses 25 april 2010)

Obet.2010.Kebutuhan Cairan dalam Tubuh, (http://akarrumput21.blogspot.com/,


diakses 24 April 2010)