Anda di halaman 1dari 2

Pada percobaan kali ini praktikan melakukan analisa kuantitatif untuk menstandarisasi larutan baku

sekunder dengan larutan baku primer. dimana pada percobaan kali ini larutan baku sekunder yang akan
digunakan adalah NaOH (natrium hidroksida) dan larutan baku primer H2C2O4 2H2O (asam oksalat).

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat
(sebagai asam lemah) dan NaOH (sebagai basa kuat). Pada pembuatan larutan standar natrium
hidroksida indikator yang digunakan yaitu fenophtalein (indikator PP). Indikator fenophtalein digunakan
dalam percobaan ini karena fenophtalein tak berwarna dengan pH antara 8,3-10,0 akan mempermudah
praktikan dalam mengetahui bahwa dalam proses sudah mencapai titik ekivalen. Perubahan yang terjadi
pada proses penitrasian ini adalah berubah menjadi warna merah yang konstan dari warna asal mula
bening. Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekivalen. Volume NaOH yang
diperlukan untuk titrasi sebanyak 25, 168 mL yang dihitung dari rata-rata lima kali percobaan. Dan pada
penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,0041 N.

Reaksi yang terjadi saat titrasi yaitu:

C2H2O4 2H2O + 2NaOH → Na2C2O4 + 2H2O

VII. Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat setelah melakukan percobaan ini adalah:

Standarisasi yang dilakukan pada percobaan bertujuan untuk menentukan konsentrasi dari larutan
standar.

Pada penentuan konsentrasi NaOH didapatkan normalitas NaOH sebesar 0,0041 N.

Volume rata-rata NaOH yang diperlukan saat titrasi yaitu 25, 168 mL

Kesetimbangan asam basa sebagai dasar metode asidi-alkalimetri merupakan topik yang sangat penting
dalam kimia maupun bidang pertanian, biologi, dan obat-obatan. Titrasi asam basa merupakan teknik
yang sangat banyak digunakan untuk menetapkan secara tepat konsentrasi asam atau basa dari suatu
larutan, sebagai nforamasi yang banyak dibutuhkan. Titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan dari
suatu reaktan yang dibutuhakn untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah tertentu lainnya. Dalam
titrasi asm basa, ujmlah relatif asam dan basa yang diperlukan untukemencapai titik ekuivalen ditentuksn
oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi.

Dengan kata lain, pada titrasi asam basa jumlah ekuivalen asam sama dengan jumlah ekuivalen basa. Hal
itu dapat dituliskan sebagi berikut:

Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasr untuk titrasi,
karena suatu reaksi harus memenuhi syarat tertentu:
1. Reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi tertentu. Harus tidak ada reaksi .

2. Beberapa cara harus tersedia untuk menentukannnya apabila titik ekuivalen didapat.suatu indikator
harus ada atau beberepa car instrumental dapat digunakan untuk mengatakan kepada analisis apabila
harus berhennti dengan penambahan titran.

4.Diharapkan bahwa reaksi berlangsung cepat sehingga titrasi dapat berlangsung dalam beberap menit.
(R.a. Day,JR dan A.L.,Underwood, Analisi Kimia Kuantitatif, Jakarta:Erlangga,2002.)