Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Pada pratikum kali ini dilakukan uji diuretik. Diuretik sendiri berfungsi sebagai obat
yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine. Dengan kata lain adalah berfungsi
membuat pruduksi urine meningkat. Hal ini dilakukan dengan maksud mencuci atau
membilas ginjal dari zat-zat berbahaya.
Pada pratikum kali ini hewan percobaan yang digunakan adalah marmut. Sebelum
diberikan obat diuretik, marmut tersebut di timbang terlebih dahulu guna menentukan jumlah
obat yang akan digunakan. Selain ditimbang, marmut juga diberikan beberapa perlakuan,
diantaranya adalah pengukuran laju respirasi, denyut nadi, salivasi, dan diameter pupil.
Setelah didapatkan jumlah dosis barulah diambil obat yang akan digunakan. Pada bab
diuretik ini digunakan obat spironolakton dengan sediaan 100 mg per tablet. Setelah marmut
diberikan obat spironolakton sebanyak 1 ml yang mengandung 5 mg spironolakton, marmut
lansung dimasukkan ke kandangnya.
Setelah pemberian obat, marmut kembali diberikan perlakuan yang sama seperti
sebelum pemberian obat, yaitu dengan pengukuran laju respirasi, denyut nadi, salivasi, dan
diameter pupil, serta pengukuran jumlah urine.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa marmut mengalami penurunan laju
respirasi dan denyut nadi. Selain itu diameter pupil marmut mengalami pelebaran, sedangkan
pemberian obat tidak mempengaruhi salivasi. Jumlah urine marmut diukur setelah pemberian
obat, guna melihat onset serta durasi dari obat spironolakton.
Spironolakton merupakan obat diuretik yang termasuk golongan diuretika penghemat
kalium. Diuretik hemat kalium bekerja pada tubulus pengumpul ginjal untuk mencegah
penyerapan kembali ion Na dan pengeluaran ion K. Adapun mekanisme kerja dari obat
spironalakton adalah sebagai penghambat kompetitif efek timbal-balik alfosteron reseptor.
Obat ini memiliki daya diuretis agak lemah sehingga dikombinasikan dengan diuretika
lainnya, misalnya golongan tiazid. Efek dari kombinasi ini adalah adisi. Pada gagal jantung
berat, spironolakton dapat mengurangi resiko kematian sampai 30%. Resorpsinya di usus
tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. Dalam hati, zat ini diubah menjadi metabolit
aktifnya, kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja, dalam metabolit aktif waktu
paruhnya menjadi lebih panjang yaitu 20 jam. Efek sampingnya pada penggunaan lama dan
dosis tinggi akan mengakibatkan gangguan potensi dan libido pada pria dan gangguan haid
pada wanita.
Namun pada percobaan kali ini, marmut tidak mengeluarkan urine. Hal ini dikarenakan
praktikan hanya mengamati marmut selama 30 menit, sedangkan menurut literatur onset dari
obat spironolakton adalah 2 – 4 jam dengan durasi 2 – 3 hari.
Selain hal tersebut, terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan penurunan laju
respirasi, denyut jantung, serta marmut tidak mengeluarkan urine, yaitu :
a. Adanya kesalahan pemberian suspensi, yaitu pada saat pemberian suspensi jumlah
yang diberikan tidak sesuai dari dosis pemberian karena banyak yang terbuang.
b. Perlakuan hewan coba, dalam keadaan stress kemungkinan besar dalam pengeluaran
urin akan terhambat.
c. Faktor lingkungan, pada suhu panas sekresi urin berkurang sedangkan pada suhu
dingin sekresi urin mengalami peningkatan.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik bedasarkan penjelasan diatas adalah sebagai berikut :
1. Spironolakton menyebabkan penurunan laju respirasi, dan denyut jantung, serta
diameter pupil marmut mengalami pelebaran, sedangkan pemberian obat tidak
mempengaruhi salivasi.
2. Pemberian spironolakton pada percobaan kali ini, tidak menyebabkan pengeluaran
urine pada. Hal ini dikarenakan praktikan hanya mengamati marmut selama 30 menit,
sedangkan menurut literatur onset dari obat spironolakton adalah 2 – 4 jam dengan
durasi 2 – 3 hari.