Anda di halaman 1dari 4

Nama : Medina Alifia

Nim : 030627371
Mata Kuliah : Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank
Tugas :2

1. Menurut kalian apakah rahasia bank masih menjadi hal yang harus dipertahankan?
Rahasia bank diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Menurut
ketentuan pasal tersebut : Ayat (1) Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai
nasabah penyimpan dan simpanannya, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 41, Pasal 41A, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, dan Pasal 44A.
Ayat (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi pihak
terafiliasi.
Berdasarkan ketentuan diatas, jelas bahwa yang wajib dirahasiakan oleh pihak
Bank/Pihak terafiliasi hanya keterangan mengenai nasabah Penyimpan dan simpanannya.
Apabila Nasabah Bank adalah Nasabah Penyimpan yang sekaligus juga sebagai Nasabah
debitur, bank tetap wajib merahasiakan keterangan tentang nasabah dalam kedudukannya
sebagai nasabah penyimpan. Artinya jika nasabah itu hanya berkedudukan sebagai
nasabah debitur maka keterangan tentang nasabah debitur dan hutangnya tidak wajid
dirahasiakan oleh bank/pihak terafiliasi. Dengan demikian, lingkup rahasia bank hanya
meliputi keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya, keterangan selain itu
bukan rahasia bank.
2. Apa yang menjadi latar belakang muncul nya Perpu No 1 tahun 2017 tentang AKSES
INFORMASI KEUANGAN UNTUK KEPENTINGAN PERPAJAKAN?
Latar belakang yang dimulai pada tahun 2008, ketika Amerika Serikat (AS) berhasil
menemukan bahwa salah satu bank di Swiss telah menjadi tempat penyembunyian aset
keuangan milik Wajib Pajak AS yang bertujuan untuk menghindari pajak. Pemerintah AS
mengenakan denda kepada bank tersebut sebesar USD700 juta dan mewajibkan bank
tersebut untuk mengungkapkan informasi lebih dari 5000 rekening milik orang AS kepada
Internal Revenue Service (IRS).
Dari pengalaman tersebut, tahun 2010 pemerintah AS menerbitkan kebijakan Foreign
Account Tax Compliance Act (FATCA) yang mengharuskan semua Lembaga Keuangan
Asing (Foreign Financial Institution/FFI) untuk memberikan informasi tentang nasabah
mereka yang merupakan warga negara AS ke IRS.
Terdorong dengan kebijakan Amerika Serikat tersebut, negara-negara yang tergabung
dalam forum G20 bersepakat bahwa kebijakan tersebut tidak hanya dapat diterapkan
secara unilateral, namun juga dapat diterapkan secara global untuk mengatasi praktik
penghindaran pajak. Para pemimpin negara-negara anggota G20 termasuk Indonesia
dalam London Summit 2009, telah mendeklarasikan untuk mengambil tindakan terhadap
negara atau yurisdiksi yang tidak kooperatif terkait transparansi untuk kepentingan
perpajakan, termasuk negara-negara “tax haven”.
Para pemimpin negara-negara anggota G20 termasuk Indonesia siap memberlakukan
sanksi dalam rangka melindungi keuangan publik dan sistem keuangan negara mereka.
Pada pertemuan tersebut, juga telah dideklarasikan bahwa era kerahasiaan perbankan telah
berakhir untuk kepentingan perpajakan.
G20 kemudian mendorong Organisation for Economic Co-Operation and
Development (OECD) melalui Global Forum on Transparency and Exchange of
Information for Tax Purpose (Global Forum) untuk menerbitkan Common Reporting
Standard (CRS), sebagai sebuah standar pengumpulan data dan pelaporan. Global Forum
adalah forum yang saat ini beranggotakan 139 negara atau yurisdiksi, termasuk Indonesia,
yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan pertukaran informasi di bidang perpajakan
agar sesuai dengan standar-standar pertukaran informasi yang telah disepakati termasuk
pelaksanaan Automatic Exchange of Financial Information (AEOI).
Saat ini, sebanyak 100 negara atau yurisdiksi telah berkomitmen untuk ikut serta
dalam AEOI, 50 negara atau yurisdiksi telah berkomitmen untuk mulai menerapkan AEOI
per September 2017, dan 50 negara atau yurisdiksi lainnya berkomitmen untuk mulai
menerapkan AEOI per September 2018. Negara atau yurisdiksi telah berkomitmen
tersebut termasuk Offshore Financial Center seperti Swiss, Hong Kong, Singapura,
Panama, Luxemburg, dan Uni Emirat Arab. Saat ini, Hong Kong, Swiss, dan Singapura
telah mengesahkan legislasi primernya untuk mengimplementasikan AEOI dan telah
menyatakan siap bertukar informasi keuangan hanya dengan negara yang tingkat
transparansi untuk kepentingan perpajakan yang sama (level playing field).
Dalam rangka memenuhi komitmen implementasi AEOI, Indonesia harus memiliki
legislasi primer (Undang-Undang) dan sekunder (peraturan di bawah UU) paling lambat
pada tanggal 30 Juni 2017. Kegagalan mengambil langkah cepat dan tepat akan merugikan
Indonesia karena Indonesia dapat dikategorikan sebagai “Non-Cooperative Jurisdiction”
yang berdampak pada penilaian dunia internasional bahwa Indonesia tidak level playing
field dengan negara-negara yang telah memenuhi komitmen AEOI.
Hal ini dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak transparan, tax haven
country, tempat untuk pencucian uang, dan tujuan penyimpanan pendanaan terorisme.
Akibatnya, Indonesia menjadi tidak kompetitif secara ekonomi karena cost of doing
business menjadi lebih mahal dibandingkan negara yang telah memenuhi komitmen
AEOI. Selain itu, sesuai dengan prinsip resiprokal yang dianut, Indonesia tidak akan
memperoleh informasi keuangan milik Wajib Pajak Indonesia yang disimpan di luar
negeri baik yang sudah atau tidak mengikuti program pengampunan pajak.
Dengan pertimbangan adanya keadaan yang memaksa dan kebutuhan yang sangat
mendesak untuk segera memberikan akses bagi otoritas perpajakan untuk menerima dan
memperoleh informasi keuangan untuk kepentingan perpajakan, Presiden telah
menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 1 Tahun
2017 tentang Akses Informasi Keuangan untuk Kepentingan Perpajakan diundangkan
pada tanggal 8 Mei 2017. Penyusunan PERPU ini telah dikoordinasikan dengan Bank
Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.
Pemerintah menjamin bahwa kewenangan DJP atas akses informasi keuangan ini
hanya untuk kepentingan perpajakan dan tidak disalahgunakan oleh pegawai DJP untuk
kepentingan yang lain. Informasi keuangan Wajib Pajak akan dijaga kerahasiaannya. Bagi
pegawai DJP yang tidak menjaga kerahasiaan informasi keuangan tersebut akan dikenakan
sanksi pidana denda dan pidana kurungan. Pemerintah akan terus melakukan peningkatan
kualitas pengamanan atas kerahasiaan informasi keuangan dengan merujuk pada standar
yang diakui secara internasional.
3. Bagaimana dampak Perppu tersebut terhadap perbankan?
Dampak pertama adalah konsekuensi bagi persaingan bisnis perbankan. Dengan
kondisi mudahnya akses informasi perbankan ke dunia internasional secara global, maka
situasi tersebut dapat digunakan untuk sistem kompetitif terbuka.
Dampak kedua, perppu tersebut berkaitan dengan manajemen perbankan secara siber.
Karena itu harus dibekali dengan batasan yang kuat agar tidak berujung penyalahgunaan
oleh pihak-pihak tertentu. Pemberlakukan perppu juga diharapkan didukung aspek
kemajuan teknologi. Jadi sungguh pun ini transparan, terbuka, mengikuti ketentuan
internasional, tapi tidak mudah untuk di-hack sehingga tidak disalahgunakan,
Dampak ketiga, prinsip manajemen terbuka tersebut membuat aktivitas perbankan
terbuka dan transparan. Sehingga siapa pun tidak bisa menyembunyikannya. Sampai
berapa rupiah pun tahu semua. Jadi kita sudah enggak bisa lagi menyembunyikan.
Masyarakat tidak bisa menghindari ketentuan yang ada di era transformasi kultural itu,
khususnya perbankan.

Anda mungkin juga menyukai