Anda di halaman 1dari 8

Tugas 6

TEORI PEMBELAJARAN FISIKA

Oleh :

NAMA : EKA SRIWAHYUNI

NIM : 171050801003

PRODI : PENDIDIKAN FISIKA

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
Konstruktivisme: Hubungan Dengan Belajar Dan Pembelajaran

1. Jelaskan pandangan kontruktivisme mengenai belajar


Jawab:
Secara filosofis, belajar menurut teori konstruktivisme adalah
membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya
diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekoyong-konyong.
Dalam proses belajar dikelas, menurut Nurhadi dan kawan-kawan (2004),
siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu
yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan
mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
mengkonstrusikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori
konstruktivisme ini adalah ide. Siswa harus menemukan dan
menstransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Dengan
dasar itu, maka belajar dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses
mengkonstruksi, bukan “menerima” pengetahuan.
Oleh karena itu, Slavin 1994 menyatakan bahwa dalam proses
belajar dan pembelajaran siswa harus terlibat aktif dan siswa menjadi
pusat kegiatan belajar dan pembelajaran didalam kelas. Guru dapat
memfasilitasi proses ini dengan mengajar menggunakan cara-cara yang
membuat sebuah informasi menjadi bermakna dan relevan bagi siswa.
Untuk itu, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau mengaplikasikan ide-ide mereka sendiri, disamping
mengajarkan siswa untuk menyadari dan sadar akan strategi belajar
mereka sendiri.
2. Deskripsikan dan jelaskan dua tradisi besar dari konstruktivisme
menurut Mathews
Jawab: Matthews (1994) membedakan dua tradisi besar konstruktivisme:
a. Konstruktivisme Psikologis
Konstruktivisme psikologis bertitik tolak dari perkembangan
psikologis anak dalam membangun pengetahuannya. Sedangkan
Konstruktivisme sosial lebih mendasarkan pada masyarakatlah yang
membangun pengetahuan. Konstruktivisme psikologis bercabang dua,
yaitu konstruktivisme yang lebih personal (Piaget) dan yang lebih sosial
seperti Vygotsky (socioculturalism).
b. Konstruktivisme Sosiologis
Konstruktivisme sosiologis berdiri sendiri.
3. Deskripsikan dan jelaskan kategori dari konstruktivisme menurut
Doolittle dan Camp
Jawab: Glasersfeld (dalam Doolittle dan Camp, 1999: 5) mengemukakan
tiga keyakinan (tenet) sebagai epistemologi konstruktivisme. Knowledge
is not passively accumulated, but rather, is the result of active cognizing
by the individual; Cognition is an adaptive process that functions to make
an individual’s behavior more viable given a particular environment;
Cognition organizes and makes sense of one’s experience, and is not a
process to render an accurate representation of reality.
Artinya sebagai berikut : Pengetahuan tidak dihimpun secara pasif,
tetapi dihasilkan melalui kognisi aktif individu. Kognisi merupakan proses
adaptif yang berfungsi membuat perilaku individu lebih sesuai pada suatu
lingkungan tententu yang diberikan. Mengorganisasi kognisi dapat
membuat pengertian dari pengalaman seseorang, dan bukan suatu proses
untuk menghasilkan representasi akurat dari kenyataan.
Doolittle dan Camp (1999: 5) mengacu pada pendapat Dewey,
Garisson, Larochelle, Bednarz dan Garisson, Gergen, dan Maturana dan
Varella, menambah sebuah keyakinan (tenet) pada epistemologi
konstruktivisme yang dikemukakan oleh von Glasersfeld sebagai berikut:
Knowing has roots both in biological/neurological construction, and in
social, cultural, and language-based interactions. Artinya sebagai berikut ;
Pengetahuan berakar dalam konstruksi biologis/neurologis dan dalam
interaksi sosial, budaya, dan bahasa.

4. Buatlah kompirasi dari behaviorosme dan kostruktivisme dalam hal


belajar
Jawab:
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika
dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam
belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara
stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat
diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan
respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa
yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori
ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal
penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku
tersebut.
Teori Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita
sendiri. Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi
konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme
menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan
paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya
partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan
siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk
mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Hal ini berdampak terhadap landasan teori belajar dalam dunia
pendidikan di Indonesia. Semula teori belajar dalam pendidikan Indonesia,
lebih didominasi aliran psikologi behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para
pakar pendidikan di Indonesia banyak yang menyerukan agar landasan
teori belajar mengaju pada aliran konstruktivisme.

PERBANDINGAN
Komparasi Pembelajaran Behaviorisme dengan Konstruktivisme
BEHAVIORISTIK KONSTRUKTIVISTIK

Pandangan Tentang Pengetahuan, Belajar dan Pembelajaran

Pengetahuan : non- objektif, temporer,


Pengetahuan: objektif, pasti, tetap
selalu berubah

Belajar: perolehan pengetahuan Belajar: pemaknaan pengetahuan

Mengajar: memindahkan pengetahuan


Mengajar: menggali makna
ke orang yang belajar

Mind berfungsi sebagai alat


Mind berfungsi sebagai alat penjiplak
menginterpretasi sehingga muncul makna
struktur pengetahuan
yang unik

Si pembelajar diharapkan memiliki Si pembelajar bisa memiliki pemahaman


pemahaman yang sama dengan pengajar yang berbeda terhadap pengetahuan yang
terhadap pengetahuan yang dipelajari dipelajari

Segala sesuatu yang ada di alam telah


Segala sesuatu bersifat temporer, berubah,
terstruktur, teratur, rapi.
dan tidak menentu.
Pengetahuan juga sudah terstruktur rapi
Kitalah yang memberi makna terhadap
realitas

Masalah Belajar dan Pembelajaran

Keteraturan Ketidakteraturan

Si pembelajar dihadapkan pada aturan-


Si pembelajar dihadapkan kepada
aturan yang jelas yang ditetapkan lebih
lingkungan belajar yang bebas
dulu secara ketat

Kebebasan merupakan unsur yang sangat


Pembiasaan (disiplin) sangat esensial
esensial

Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam


menambah pengetahuan dikategorikan
sebagai KESALAHAN, HARUS Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan
DIHUKUM atau ketidakmampuan dilihat sebagai
interpretasi yang berbeda yang perlu
Keberhasilan atau kemampuan DIHARGAI
dikategorikan sebagai bentuk perilaku
yang pantas dipuji atau diberi HADIAH

Ketaatan kepada aturan dipandang Kebebasan dipandang sebagai penentu


sebagai penentu keberhasilan keberhasilan

Kontrol belajar dipegang oleh sistem di Kontrol belajar dipegang oleh si


luar diri si Pembelajar Pembelajar

Tujuan pembelajaran menekankan pada


penambahan pengetahuan Tujuan pembelajaran menekankan pada
penciptaan pemahaman, yang menuntut
Seseorang dikatakan telah belajar aktivitas kreatif-produktif dalam konteks
apabila mampu mengungkapkan kembali nyata
apa yang telah dipelajari

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi Pembelajaran

Keterampilan terisolasi Penggunaan pengetahuan secara bermakna


Mengikuti urutan kurikulum ketat Mengikuti pandangan si Pembelajar

Aktivitas belajar mengikuti buku teks Aktivitas belajar dalam konteks nyata

Menekankan pada hasil Menekankan pada proses

Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi

Respon pasif Penyusunan makna secara aktif

Menuntut satu jawaban benar Menuntut pemecahan ganda

Evaluasi merupakan bagian terpisah dari Evaluasi merupakan bagian utuh dari
belajar belajar

Perbedaan karakteristik antara pembelajaran tradisional (behavioristik)


dengan pembelajaran konstruktivistik, adalah sebagai berikut:

Teori Behavioristik Teori Konstruktivistik

1. Kurikulum disajikan dari bagian- 1. Kurikulum disajikan mulai dari


bagian menuju keseluruhan dengan keseluruhan menuju kebagian-bagian,
menekankan pada keterampilan- dan lebih mendekatkan pada konsep-
keterampilan dasar. konsep yang lebih luas.

2. Pembelajaran lebih menghargai pada


2. Pembelajaran sangat taat pada
pemunculan pertanyaan dan ide-ide
kurikulum yang telah ditetapkan.
siswa.

3. Kegiatan kurikuler lebih banak 3. Kegiatan kurikuler lebih banyak


mengandalkan pada buku teks dan mengandalkan pada sumber-sumber
buku kerja. data primer dan manipulasi bahan.

4. Siswa dipandang sebagai “kertas


4. Siswa dipandang sebagai pemikir
kosong” yang dapat digoresi
yang dapat memunculkan teori-teori
informasi oleh guru, dan guru pada
tentang dirinya.
umumnya menggunakan cara
didaktik dalam menyampaikan
informasi kepada siswa.

5. Pengukuran proses dan hasil belajar


5. Penilaian hasil belajar atau
siswa terjalin di dalam kesatuan
pengetahuan siswa dipandang
kegiatan pembelajaran, dengan cara
sebagai bagian dari pembelajaran,
guru mengamati hal-hal yang sedang
dan biasanya dilakukan pada akhir
dilakukan siswa, serta melalui tugas-
pembelajaran dengan cara testing.
tugas pekerjaan.

6. Siswa-siswi biasanya bekerja


6. Siswa-siswi banyak belajar dan
sendiri-sendiri, tanpa ada grup
bekerja di dalam grup proses.
proses dalam belajar.

5. Deskripsikan implikasi konstruktivisme terhadap pembelajaran


Jawab: Implikasi Konstruktivisme terhadap Pembelajaran
Pendekatan konstruktivisme mementingkan pengembangan
lingkungan belajar yang meningkatkan pembentukan pengertian dari
prespektif ganda, dan informasi yang efektif atau control eksternal yang
teliti dari peristiwa-peristiwa sswa yang ketat, dihindari sama sekali.
Untuk maksud tersebut, guru perlu melalukan hal-hal berikut: menyajikan
masalah-masalah actual kepada siswa dalam konteks yang sesuai dengan
tingkat perkembangan siswa, pembelajaran distruktur di sekitar konsep-
konsep primer, member dorongan kepada siswa untuk mengajukan
pertanyaan sendiri, memberikan siswa untuk menemukan jawabann dari
pertanyaan sendiri, memberanikan siswa mengemumakan pandapat dan
menghargai sudut pandangnya, menganjurkan siswa bekerja dalam
kelompok, dan menilai proses dan hasil belajar siswa dalam konteks
pembelajaran. Sedangkan menurut Suprijono (2011:40), pembelajaran
konstruktivisme merupakan belajar artikulasi. Belajar artikulasi
merupakan proses mengartikulasikan ide, pikiran, dan solusi. Implikasi
konstruktivisme dalam pembelajaran terbagi menjadi beberapa fase, yaitu
a. Orientasi, merupakan fase untuk memberikan kesempatan kepada
peserta didik, memerhatikan dan mengembangkan motivasi terhadap
topic materi pembelajaran
b. Elicitasi, merupakan fase membantu peserta didikmeggali ide-ide yang
dimilikinya dengan member kesempatan kepada peserta didik untuk
mendiskusikan atau menggambarkan pengetahuan dasar atau ide
mereka.
c. Restruksi ide, dalam hal ini peserta didik melakukan klarifikasi ide
dengan cara mengontraskan ide-idenya dengan ide orang lain
d. Aplikasi ide, dalam fase ini, idea tau pengetahuan yang telah dibentuk
peserta didik perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang
dihadapi.
e. Reviu, dalam fase ini memungkinkan peserta didik mengaplikasikan
pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, merevisi
gagasannya dengan menambah suatu keterangan atau dengan cara
mengubahnya menjadi lebih lengkap.
s

Anda mungkin juga menyukai