Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

TEKNOLOGI SEDIAAN KOSMETIK


“EMULGEL”

OLEH:
KELOMPOK 2
TATI HARIATI (16.01.272) AHMAD KHAIRUL (16.01.300)
NUR MILA (16.01.274) ANSYARULLAH (16.01.302)
DESVINA PLAPIA S.P. (16.01.275) MUH. RAMLI (16.01.303)
ASTRI WIJAYANTI (16.01.276) KIKI RACHMAN (16.01.309)
DESY PUTRIANI (16.01.277) RIA FITRI WAHYUNI (16.01.310)
AGNES VIVI LESTARY (16.01.279) ELISABETH BUREM (16.01.312)
WAHYUNI ABDULLAH (16.01.283) RUSMAN AWALUDDIN (16.01.313)
MARYAM S.RATULOLY (16.01.284) ANGGRAENI W. (16.01.314)
YOHANES D.P. AGUNG E (16.01.287) IANATUL ALIYAH (16.01.315)
ROSALIA MEKTILDIS (16.01.288) SITTI HALIJAH SALAM (16.01.316)
HENRIKA THAURIN (16.01.289) MUHAMMAD SAID (16.01.323)
APRILIA PRAMITASARI L. (16.01.292) HARDIANTO (16.01.324)
CROLANT IMALTON P. (16.01.293) LISA MUTMAINNAH (16.01.325)
SONYA M. M. KARNEN (16.01.296) SUKARDI S. (16.01.327)
AFRIANI KURNIAWATI L. (16.01.297)

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh terhadap pengaruh
luar, baik pengaruh fisik maupun pengaruh kimia. Kulit pun
mendukung penampilan seseorang. Penampilan kulit biasanya
terganggu dengan adanya rangsangan sentuhan, rasa sakit
maupun pengaruh buruk dari luar. Gangguan-gangguan ini dapat
menyebabkan kulit terkena penyakit. Penyakit yang paling sering
diderita dalam permasalah kulit ini adalah jerawat (Wasitaatmadja,
2008).
Jerawat biasanya muncul pada permukaan kulit wajah, leher,
dada dan pungggung pada saat kelenjar minyak pada kulit terlalu
aktif sehingga pori-pori kulit akan tersumbat oleh timbunan lemak
yang berlebihan. Jika timbunan itu bercampur dengan keringat,
debu dan kotoran lain, maka akan menyebabkan timbunan lemak
dan bintik hitam di atasnya yang disebut komedo. Pada komedo
terdapat bakteri, maka terjadilah peradangan yang dikenal dengan
jerawat yang ukurannya bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai
ukuran besar serta berwarna merah, kadang-kadang bernanah
serta menimbulkan rasa nyeri (Djajadisastra et al., 2009).
Tanaman binahong (Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis)
merupakan tanaman menjalar yang sering disebut gondola.
Binahong mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi,
termasuk di Indonesia. Daun binahong banyak dimanfaatkan
masyarakat suku jawa untuk mengobati berbagai penyakit
termasuk untuk penyembuhan luka dan peradangan jerawat (Yani,
dkk, 2016).
Salah satu kandungan kimia dari daun binahong adalah
asam ursolat. Asam ursolat adalah senyawa natural nontoksik dari
asam triterpenoid saponin yang ditemukan di berbagai jenis
tanaman obat. Asam ursolat memiliki aktivitas antibakteri dan
antiinflamasi (Yani, dkk, 2016).
Banyak sediaan anti jerawat di pasaran dalam bentuk gel,
krim, dan lotio. Sediaan emulgel adalah emulsi, baik itu tipe minyak
dalam air (M/A) maupun air dalam minyak (A/M) yang dibuat
menjadi sediaan gel dengan mencampurkan bahan pembentuk gel.
Sediaan emulgel memiliki kelebihan sebagai pembawa bahan yang
hidrofobik yang tidak dapat menyatu secara langsung dalam basis
gel. Emulgel membantu menyatukan bahan aktif hidrofobik dalam
fase minyak kemudian globul minyak terdispersi dalam fase air
(emulsi M/A) yang selanjutnya emulsi ini dapat dicampurkan dalam
basis gel (Yani, dkk, 2016).
Berdasarkan uraian diatas, penulis berkeinginan untuk
membuat “Formulasi Emulgel Ekstrak Etanol Daun Binahong”.
I.2 Rumusan Masalah
Apakah ekstrak daun binahong (Anredera Cordifolia (Ten.)
Steenis) dapat diformulasi dalam bentuk sediaan emulgel?
I.3 Tujuan
1. Untuk memperoleh formula emulgel ekstrak daun binahong
(Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis) yang stabil secara fisik.
2. Untuk memperoleh efektivitas emulgel ekstrak daun binahong
(Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis) yang stabil secara fisik
sebagai sediaan anti jerawat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uji aktivitas Ekstrak Binahong


Uji aktivitas antibakteri sediaan emulgel ekstrak daun binahong
dilakukan dengan metode difusi cakram secara triplo. Kontrol positif
yang digunakan adalah gel klindamisin 1,2% dan sediaan yang
beredar dipasaran yaitu acne treatment gel yang mengandung
triklosan dan Aloe vera. Sedangkan kontrol negatif yang digunakan
yaitu basis emulgel dan cakram kosong steril. Kertas cakram kosong
steril (6 mm) direndam dalam setiap sediaan uji yaitu basis emulgel
(kontrol negatif), emulgel formula 1, emulgel formula 2, acne treatment
gel, gel kindamisin 1,2% (kontrol positif) selama 15 menit. Kemudian
cakram diletakkan pada permukaan media agar (Yani, dkk, 2016)..
Uji in vitro dilakukan terhadap bakteri Propionibacterium acnes.
Hasil yang di dapatkan yaitu, ekstrak etanol daun binahong
mengandung asam ursolat 1,28% dengan menghasilkan konsentrasi
bunuh minimum 0,05% (Yani, dkk, 2016).
II.2 Uji efektivitas Ekstrak Binahong
Uji efektivitas dilakukan dengan membuat sediaan emulgel.
Sediaan emulgel ekstrak etanol daun binahong memiliki stabilitas fisik
yang baik dan mampu berpenetrasi melalui kulit. Emulgel yang dibuat
dari ekstrak etanol daun binahong ini memiliki stabilitas fisik yang baik
selama 12 minggu. Zona hambat sediaan emulgel ekstrak etanol daun
binahong terhadap bakteri Propionibacterium acnes lebih besar
dibandingkan klindamisin fosfat 1,2% (kontrol positif) yaitu pada
formula 1 (ekstrak setara dengan KHM 0,05%)sebesar 19,67±1,25
mm dan formula 2 (ekstrak setara duakali KHM0,05%) sebesar
20,67±0,47mm,sedangkan klindamisin fosfat 1,2% memiliki zona
hambat yaitu 16,33±0,47 mm. (Yani, dkk, 2016).
II.3 Penyiapan bahan baku
1. Klasifikasi tanaman binahong
Berikut ini adalah klasifikasi tanaman binahong (A. cordifolia)
menurut Bargumono (2013) antara lain:
Kingdom : Plantae(tumbuhan)
Sub kingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkanbiji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Subkelas : Hamamelidae
Ordo : Caryophyllales
Familia : Basellaceae
Genus : Anredera
Species : Anrederacordifolia (Tenore) Steeni
2. Nama daerah
Gondola (Sunda), Gendala(Bali), Lembayung ( Minangkabau),
Genjerol, Gedrek, Uci-uci (Jawa), Kandula (Madura), Lalabuwe
(Sulawesi Utara), Poiloo (Gorontalo), Kandala (Timor) (Hariana,A,
2013).
3. Kandungan kimia dan Khasiat
Kandungan kimia yang terdapat dalam daun binahong antara lain :
flavonoid, asam oleanolik, protein, asam askorbat dan saponin.
Berbagai kandungan kimia tersebut menyebabkan daun binahong
dapat bersifat sebagai anti bakteri, anti virus, anti inflamasi,
analgetik dan antioksidan. Selain itu, juga berkhasiat untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, memperkuat daya tahan sel
terhadap infeksi sekaligus memperbaiki sel rusak, melancarkan dan
menormalkan peredaran darah serta tekanan darah, mencegah
stroke, mengatasi diabetes serta mengobati penyakit maag
(Hariana, A, 2013).
4. Parameter Spesifik dan Non spesifik
a. Pengujian Parameter Non Spesifik Ekstrak
1) Susut Pengeringan dan Kadar Air
Ekstrak ditimbang dengan seksama sebanyak 1 gram dan
dimasukan ke dalam botol timbang dangkal bertutup yang
sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 1050C selama 30
menit dan telah ditara. Sebelum ditimbang, ekstrak diratakan
dalam botol timbang dengan menggoyang – goyangkan botol,
hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai
10 mm, kemudian dimasukan ke dalam oven, buka tutupnya.
Pengeringan dilakukan pada suhu penetapan yaitu 1050C
hingga diperoleh bobot tetap lalu ditimbang. Sebelum setiap
pengeringan, botol dibiarkan dalam keadaan tertutup
mendingin dalam eksikator hingga suhu kamar.
2) Kadar Abu
Lebih kurang 2 g ekstrak yang telah digerus dan ditimbang
seksama, dimasukan ke dalam krus platina atau krus silikat
yang telah dipijarkan dan ditara, lalu ekstrak diratakan.
Dipijarkan perlahan – lahan hingga arang habis, didinginkan,
ditimbang. Jika arang tidak dapat hilang, ditambahkan air
panas, disaring dengan menggunakan kertas saring bebas
abu. Dipijarkan sisa abu dan kertas saring dalam krus yang
sama. Filtrat dimasukkan ke dalam krus, diuapkan, dipijarkan
hingga bobot tetap, ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap
berat ekstrak dan dinyatakan dalam % b/b (Depkes RI, 2000)
b. Parameter spesifik
1) Penetapan organoleptik ekstrak, meliputi warna, bentuk, bau
dan rasa
2) Penetapan kadar senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
a) Kadar senyawa larut air
Sejumlah 5 g ekstrak disari selama 24 jam dengan 100 ml
air-kloroform LP, menggunakan labu bersumbat sambil
berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian
dibiarkan selama 18 jam, saring. Di uapkan 20 mL filtrate
hingga kering dalam cawan penguap, residu dipanaskan
pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Dihitung kadar dalam
persen senyawa yang larut dalam air terhadap berat
ekstrak awal.
b) Kadar senyawa larut etanol
Sejumlah 5 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam dengan
100 ml 95% menggunakan labu bersumbat sambil berkali -
kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan
selama 18 jam. Disaring cepat dengan menghindari
penguapan etanol, kemudian diuapkan 20 ml filtrat hingga
kering dalam cawan penguap yang telah ditara, residu
dipanaskan pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Dihitung
kadar dalam persen senyawa yang larut dalam etanol
terhadap berat ekstrak awal (Depkes RI, 1980).
II.4 Teori kulit dan Emulgel
1. Anatomi kulit
Kulit adalah organ yang paling luar yang mempunyai banyak
fungsi yang penting yaitu selain sebagai indra perasa dan
pelindung tubuh dari ancaman kondisi alam sekitar. Kulit membantu
mengatur suhu tubuh dan juga melindungi dari virus dan bakteri
serta kadang kala penting menjalani fungsi sekresi serta
pengeluaran cairan. Kulit kusam kurang berchaya biasa menjadi
indikasi tubuh tidak dalam keadaan baik .
Kulit merupakan organ yang esensial serta merupakan cermin
kesehatan dari kehidupan, kulit juga sangat kompleks, elastis dan
peka. Kulit adalah organ tubuh terbesar dari sistem yang menutupi
otot dan organ dasar. Kulit berfungsi sebagai pelindung terhadap
suhu berbahaya, cahaya, cedera, dan infeksi. Kulit juga menyimpan
air, lemak, vitamin D, indra perasa stimulasi yang menyakitkan dan
menyenangkan. Berat kulit orang dewasa sekitar 2,7 kg.
Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis,
dan jaringan subkutan atau subkutis.
a. Epidermis, lapisan luar kulit, membentuk perisai fisik dan
antimikroba untuk melindungi tubuh dari ancaman lingkungan.
Epidermis mengandung keratinosit yang berfungsi sebagai
tempat sintesis keratin. Lapisan kedua kulit, dermis berisi
jaringan pembuluh darah, ujung saraf, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea, folikel rambut, dan otot rambut.
b. Dermis pada dasarnya terdiri dari protein struktural urat saraf
yang dikenal sebagai kolagen. Dermis paling tebal berada di
punggung, di mana sekitar 30-40 kali dari ketebalan epidermis.
c. Lapisan ketiga dari kulit adalah lapisan subkutis. Lapisan
subkutis merupakan lapisan jaringan ikat longgar dan lemak di
bawah dermis. Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel
lemak dan di antara gerombolan ini berjalan serabut serabut
jaringan ikat dermis. Lapisan lemak ini disebut penikulus
adiposus. Tebal jaringan lemak tidak sama bergantung pada
lokasi, di abdomen 3 cm, sedangkan didaerah kelopak mata dan
penis sangat tipis (Wasitaatmadja, 1997).
Gambar 1. Lapisan Kulit (Lachman, 1994).
2. Teori emulgel
Emulgel merupakan gel dengan cairan berbentuk emulsi,
biasanya untuk menghantarkan minyak yang merupakan zat aktif
dalam sediaan tersebut, dengan mengurangi kesan berminyak
dalam aplikasinya (Ansel, 1989)
Emulgel adalah emulsi tipe minyak dalam air (o/W) atau air
dalam minyak (w/o) yang dicampur dengan basis gel. Emulgel
memiliki sifat-sifat menguntungkan yaitu:
a. Konsistensi yang baik
b. Waktu kontak lebih lama
c. Transparan dan dapat melembabkan
d. Mudah penyebarannya
e. Mudah dihilangkan
f. Larut dalam air dan dapat bercampur dengan eksipien lain
(Dewi, dkk, 2015)
Surfaktan adalah suatu zat yang ketika dilarutkan dalam
pelarut maka molekul-molekulnya akan tertarik ke permukaan dan
kehadirannya dapat menurunkan tegangan permukaan.
Berdasarkan gugus hidrofiliknya, surfaktan dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Surfaktan anionik, bagian aktif permukaan yang mengandung
muatan negatif, contoh: Natrium Lauril Sulfat
b. Surfaktan kationik, bagian aktif permukaan yang mengandung
muatan positif, contih benzalkonium klorida
c. Surfaktan non ionik, bagian aktif permukaan yang tidak
bermuatan. Contoh: poli (oksietilena)alkil fenol
d. Surfaktan zwitter ion, bagian aktif permukaan yang mengandung
muatan positif dan muatan negatif. Contoh: sulfobetaine.
Emulgel membantu menyatukan bahan aktif hidrofobik dalam
fase minyak kemudian globul minyak terdispersi dalam fase air
(m/a) diharapkan tidak akan memperburuk jerawat.
3. Target Aksi Obat
a. Kanal ion
b. Enzim
c. Molekul pembawa
d. reseptor
4. level aksi obat
Tingkatan aksi obat dari yang sederhana menuju yang kompleks :
1. Molekuler
2. Subseluler
3. Sel
4. Organ atau jaringan
5. Organisme utuh
5. Mekanisme aksi obat
a. Non spesifik berdasarkan sifat kimia fisika obat
menpengaruhi lingkungan aksi perubahan sistem biologi
respon
b. Spesifik berdasarkan interaksi senyawa dengan target aksi
spesifik proses biokimia sel respon. ( Ikawati, 2006)
II.5 Formula
1. Rancangan Formula
Tiap 30 gram mengandung:
Ekstrak Binahong 0,05%
Span 20 1,40%
Tween 60 3,60%
Minyak Zaitun 5,00%
Karbopol 940 2,00%
Propilenglikol 5,00%
Etanol 96% 3%
NaOH 0,60%
Propil Paraben 0,1%
Metil Paraben 0,1%
BHT 0,03%
Air suling 100%
2. Alasan Pemilihan Sediaan
Sediaan yang dipilih yaitu emulgel karena emulgel membantu
menyatukan bahan aktif hidrofobik dalam fase minyak kemudian
globul minyak terdispersi dalam fase air (emulsi M/A) yang
selanjutnya emulsi ini dapat dicampurkan dalam basis gel (Yani,
dkk., 2016).
Penggunaan sediaan emulgel lebih diminati bila dibandingkan
dengan sediaan emulsi atau gel saja. Gel mempunyai kelebihan
berupa kandungan air yang cukup tinggi sehingga memberikan
kelembaban yang bersifat mendinginkan dan memberikan rasa
nyaman pada kulit. Sedangkan emulsi mempunyai keuntungan
dapat membentuk sedian yang saling tidak bercampur menjadi
dapat bersatu membentuk sediaan yang homogen dan stabil
(Mitsui; Magdy, dalam Yenti, dkk., 2014).
3. Alasan Pemilihan Bahan
Adapun alasan dipilihnya bahan yakni:
a. Alasan pemilihan bahan aktif
Diketahui bahwa ekstrak daun binahong memiliki aktivitas
antibakteri terlihat dengan adanya zona hambat yang terbentuk.
Diameter zona hambat pada konsentrasi 5% adalah sebesar
2,33 mm, konsentrasi 10% sebesar 3,67 mm, konsentrasi 15%
sebesar 8,67 mm, konsentrasi 20% sebesar 10,33 mm,
konsentrasi 25% sebesar 11,67 mm, dan konsentrasi 30%
sebesar 13,33 mm. Semakin tinggi konsentrasi semakin besar
pula zona hambat yang dibentuknya (Nurwahyuni, 2012).
Dalam penelitian Yani, dkk. (2016), dipaparkan bahwa pada
penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Novani,
diperoleh hasil bahwa ekstrak etanol daun binahong
mengandung golongan senyawa kimia flavonoid, saponon, dan
tanin memiliki aktivitas terhadap bakteri Staphylococcus aureus,
Klebsiella pneumonia, dan Pseudomonas areoginosa. Skrining
fitokimia hasil maserasi serbuk kering daun binahing dengan
menggunakan pelarut n-heksana dan metanol positif
mengandung saponin triterpenoid, flavooid dan minyak atsiri,
sedangkan pada ekstrak petroleum eter, etil asetat dan etanol
positif mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid.
Pada penelitian yang sama juga dipaparkan bahwa salah
satu kandungan kimia dari daun binahong adalah asam ursolat.
Asam ursolat adalah senyawa natural nontoksik dari asam
triterpenoid saponin yang ditemukan di berbagai jenis tanaman
obat. Asam ursolat memiliki aktivitas antibakteri dan anti
inflamasi (Yulian, dkk; Shai, dkk dalam Yani, dkk., 2016)
b. Alasan pemilihan bahan tambahan
1) Span 20
Untuk aplikasi topikal bila digunakan ester sorbitan
menghasilkan emulsi air dalam minyak yang stabil dan
mikroemulsi, namun sering digunakan dalam kombinasi
dengan berbagai polisorbat untuk menghasilkan emulsi air
dalam minyak atau minyak dalam air dari berbagai
konsistensi, dan juga obat pengemulsi dari sistem pengiriman
untuk senyawa yang tidak larut baik. Sorbitan monolaurat
digunakan pada konsentrasi 0,01-0,05% b/v (Rowe, et al,
2009)
2) Tween 60
Tween® 60 merupakan emulgator nonionik yang bersifat
netral dan stabil dengan adanya asam/basa dari komponen
krim, memiliki keseimbangan lipofilik dan hidrofilik bersifat
tidak toksik, dan tidak iritatif (Nursalam H, Isriany I, dan Saudi,
A.D.A., 2014).
3) Minyak Zaitun
Minyak zaitun digunakan sebagai pelembut dan
pengaroma
4) Karbopol 940
Karbopol 940 mempunyai viskositas 40.000-60.000 cP
yang dapat digunakan sebagai pembentuk gel atau pengental
yang baik memiliki viskositasnya tinggi, menghasilkan gel
yang bening. Carbopol 940 jika didispersikan dalam air
adanya bahan atau zat alkali akan mengembang dan
membentuk gel yang jernih. (Martindale 36th). Sebagai gelling
agent dengan konsentrasi 0,5 – 2,0%. Kelebihannya carbopol
940 adalah bersifat stabil dan hidroskopis, kompatibilitas dan
stabilitasnya tinggi, tidak toksik jika diaplikasikan kekulit dan
penyebaran dikulit lebih mudah, memiliki sifat yang baik dalam
pelepasan zat aktif.
5) NaOH
Natrium hidroksida secara luas digunakan dalam
formulasi farmasetik untuk menambah pH larutan. NaOH juga
sapat bereaksi dengan asam lemah dalam bentuk garam
(Rowe et al., 2009).
6) Propilenglikol
Digunakan sebagai kosolven yang dugnakan untuk
meningkatkan kelarutan bahan (Rowe et al., 2009).
7) Propil Paraben
Propil paraben sering digunakan sebagai pengawet
antimikroba dalam kosmetik, makanan dan sediaan farmasi
lainnya. Dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan
dengan paraben lainnya.penggunaan sebagai pengawet
antimikroba paling sering digunakan untuk kosmetik.
Golongan paraben efektif pada jangkauan yang luas,
meskipun hanya lebih efektif untuk melawan kapang dan
jamur. Propil paraben biasa digunakan sebagai pengawet fase
minyak. Konsentrasi yang digunakan pada sediaan topikal
adalah 0,01 – 0,6 %.
8) Metil Paraben
Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang
ditambahkan dan dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas
sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi
mikroorganisme. Karena pada sediaan krim mengandung fase
air dan lemak maka pada sediaan ini mudah ditumbuhi bakteri
dan jamur.
9) Etanol
Sebagai peningkat kelarutan.
10) BHT
Butylated hydroxytoluene digunakan sebagai antioksidan
di kosmetik, makanan, dan obat-obatan. Hal ini terutama
digunakan untuk menunda atau mencegah tengik oksidatif
lemak dan minyak dan ke mencegah hilangnya aktivitas
vitamin yang larut dalam minyak. Butylated hydroxytoluene
juga digunakan pada 0,5-1,0% b / b konsentrasi karet alam
atau sintetis untuk memberikan peningkatan stabilitas warna.
butylated hydroxytoluene memiliki beberapa aktivitas antiviral
dan telah digunakan secara terapeutik untuk mengobati
herpes simplex labialis.
11) Aquadest
Digunakan sebagai pelarut pembawa dalam pembuatan
gel dan sediaan farmasi.
4. Uraian Bahan
a. Span 20
Nama Resmi : SORBITAN MONOLAURATE
Nama Lain : Span 20
Kelas Fungsional : Emulgator
Konsentrasi :1-10%
RM / BM : C18H34O6 / 364
Pemerian : Cairan atau zat padat berwarna kuning
keemasan dengan bau dan rasa
khas
Kelarutan : Larut atau terdispersi minyak; Mereka
juga larut dalam kebanyakan pelarut
organik. Dalam air,meskipun tidak larut,
mereka umumnya terdispersi.
Stabilitas : Stabil dalam asam lemah atau basa
Penyimpanan : Dalam wadah yang tertutup rapat di
tempat sejuk dan kering.
b. Tween 60
Nama resmi : TWEEN 60
Nama lain : Polyoxyethylene sorbitan monostearate
Kelas fungsional : Emulsing
Konsentrasi :
Rm : C64H126O26
Bm : 1311.68
Pemerian : Cairan kental, buram kuning, bau agak
harum atau bau minyak. Pada suhu
lebih dari 24˚ menjadi cairan jernih
sepertu minyak.
Kelarutan : Larut dalam air, dalam minyak biji
kapas p, praktis tidak larut dalam
minyak mineral, dapat campurndengan
aseton p dan dengan dioksan p
Stabilitas : Stabil dibawah suhu dan tekanan
normal
Inkompatibilitas : Zat pengoksidasi kuat, basa, garam
logam berat
Penyimpanan : Simpan di wadah tertutup, di
tempat yang sejuk, dan kering.
c. Minyak Zaitun
Nama resmi :OLEUM OLIVAE (FI III, 1979: hal 458)
Nama lain :Minyak Zaitun
Kelas fungsional : Sebagai pelembut
Pemerian : Kuning pucat atau kehijauan, rasa
khas, bauh lemah tidak tengik, cairan
kuning pucat atau kuning kehijauan
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (96%) p,
mudah larut dalam kloroform P, dan
dalam eter P dan dalam eter minyak
tanah P.
Inkompabilitas : Minyak zaitun dapat disaponifikasi oleh
alkali hidroksida, karena mengandung
proporsi tinggi asam tak jenuh, minyak
zaitun rentan terhadap oksidase.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh
d. Karbopol 940
Nama resmi : CARBOKSIPOLIMETILEN
Nama lain : acrylic acid polymer, carbomer
Kelas fungsional : sebagai gelling agent
Konsentrasi : 0,5-2,0%
RM : C3H4O2
Pemerian : Berwarnaputih, berbentuk serbuk
halus, bersifat asam, higroskopik,
dengan sedikit karakteristik bau.
Kelarutan : Dapat larut dalam air, di dalam etanol
(95%) dan gliserin, dpat terdispersi
didalam air untuk membentuk larutan
koloidal.
pKa dan pH : 6.0±0.5 dan 2.5–3.0
Stabilitas : Bersifat stabil dan higroskopik,
penambahan temperature berlebih
dapat mengakibatkan kekentalan
menurun sehingga mengurangi
stabilitas.
Inkompatibilitas : DenganFenol, polimer kationik, asam
kuat, dan tingkat tinggi
Penyimpanan : Dalam kedap udara, korosi Wadah
dan terlindungi dari kelembaban.
Penggunaan kaca,Plastik, atau wadah
berlapis resin.
e. NaOH
Nama resmi : NATRII HYDROXIDUM
Nama lain : Sodium Hydroxide
Kelas fungsional : Buffer
Konsentrasi : 0,60%
RM/BM : NaOH/40,00
Pemerian : Bentuk batang massa hablur air keping-
keping, keras dan rapuh dan
menunjukkan susunan hablur putih mudah
meleleh basa sangat katalis dan korosif
segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan : Sangat mudah larut dala, air.
pH : 13
Stabilitas : Stabil di bawah kondisi penyimpanan
biasa.
Inkompatibilitas : Sodium hidroksida kontak dengan asam dan
senyawa halogen organik dapat
menyebabkan reaksi kekerasan. Kontak
dengan nitromethane dan senyawa nitro
serupa menyebabkan pembentukan sensitif
garam shock. Kontak dengan logam seperti
aluminium, magnesium, timah, dan seng
menyebabkan pembentukan gas hidrogen
mudah terbakar. Sodium hidroksida, dalam
larutan cukup, mudah bereaksi dengan
Penyimpanan : berbagai
Dalam wadah
gula tertutup baik.
untuk menghasilkan karbon
f. Propilenglikol monoksida.
Nama resmi : PROPYLENGLYCOLUM
Nama lain : Propylenglicol
Kelas fungsional : Kosolven
Konsentrasi : 5%-80%
RM/BM : C3H8O2/76,09
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna,
rasa khas, praktis tidak berbau,
menyerap air pada udara lembab.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan
aseton, dan dengan kloroform, larut
dalam eter, dan dalam beberapa
minyak esensial; tetapi tidak dapat
pH bercampur dengan minyak lemak.
: 9,5-10,5
Stabilitas : Dalam suhu yang sejuk, propilen glikol
stabil dalam wadah tertutup propilen
glikol stabil secara kimia ketika
Inkompatibilitas: Inkompatibel dengan
dicampur dengan pengoksidasi
etanol, gliserin, seperti
atau
potassium
air. permanganat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
g. Propil Paraben
Nama resmi : PROPYLIS PARBENUM
Nama lain : Propil paraben
Kelas fungsional : pengawet
Konsentrasi : 0,01% – 0,6%
Rm : H12O3
Bm : 180,21
Pemerian : Tidak berwarna, tidak berasa, tidak
berbau, serbuk putih dan hablur kecil,
tidak berwarna
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, mudah
larut dalam etanol dan eter, sukar larut
dalam air mendidih.
pKa dan pH : pKa 8,4 pada 22 0C pH larutan 4-8
Titik lebur : antara 9500 dan 9800
Stabilitas : kelarutan dalam air pada pH 3-6 bisa
disterilkan dengan autoclaving tanpa
mengalami penguraian, pada pH 3-6
kelarutan dalam air stabil (penguraian
kecil dari 10%)
Inkompabilitas : Dengan senyawa magnesium trisiklat,
magnesium silikat
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
h. Metil Paraben
Nama resmi : METHYL PARABENUM
Nama lain : Metil paraben, Nipagin
Kelas fungsional : Sebagi pengawet
Konsentrasi : 0,02 % - 0,3 %
RM/BM : C8H8O3/152,15
Pemerian : Serbuk hablur halus, putih, hampir
tidak berbau, tidak berasa, kemudian
agak membakar diikuti rasa tebal
Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air, dalam 20
bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian
etanol (95 %) P,eter P, dan dalam
larutan alkali hidroksida
Inkompabilitas : Aktivitas antimikrobial dan paraben lain
dengan sangat dikurangi pada
surfaktan non ionik seperti polysorbat
80. Ketidakcocokan dengan unsur lain
seperti bentonite, sodium alginate, oil,
sorbitol, dan atropin.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
i. Etanol
Nama resmi : ETANOL
Nama lain : Ethanol; Ethyl alcohol
Kelas fungsional : Pelarut
RM : C2H6O
BM : 46.069
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah
menguap dan mudah bergerak, bau
khas, rasa panas. Mudah terbakar
dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam kloroform
p dan dalam eter p.
pKa dan pH : 7.0
Titik lebur : -117 °C
Stabilitas : Larutan etanol berair dapat disterilisasi
dengan autoklaf atau dengan
penyaringan .
Inkompatibilitas : Dalam kondisi asam, larutan etanol
dapat bereaksi dengan kuat dengan
bahan pengoksidasi. Larutan etanol
juga kompatibel dengan aluminium
yang mengandung dan dapat
berinteraksi dengan beberapa obat.
Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara dan
ditempat sejuk
j. BHT
Nama Resmi : BUTYLATED HYDROXYTOLUENE
Nama Lain : BHT
Kelas Fungsional : Antioksidan
Konsentrasi :0.0075–0.1%
RM / BM : C15H24O / 220.35
Pemerian : Hablur padat, putih; bau khas lemah.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, gliserin,
propilen glikol, asam-asammineral dan
larutan alkali; mudah larut dalam etanol,
aseton, benzendan parafin liquid; lebih
mudah larut dalam minyak-
minyakmakanan dan lemak.
Stabilitas : Jauhkan dari cahaya, kelembaban dan
panas.
Inkompabilitas : Bahan pengoksidasi kuat seperti
peroksida dan permanganat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
k. Aquadest
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Aquadest, air suling
Kelas Fungsional : Sebagai pelarut
RM/BM : H2O/18,2
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar
Stabilitas : Dalam semua keadaan fisik (es, cairan,
udara).
Inkompabilitas :Bereaksi dengan obat-obatan dan
eksipien lain yang rentan terhadap
hidrolisis, bereaksi keras dengan logam
alkali.
Penyimpanan : Wadah tertutup baik.
5. Perhitungan Bahan
a. Ekstrak binahong 0,05 %
0,05
- x 30 g = 0,015 g
100

b. Span 1,40 %
1,40
- x 30 g = 0,42 g
100

c. Tween 60 3,60%
3,60
- 100
x 30 g = 1,08 g
d. Minyak Zaitun 5 %
5
- x 30 g = 1,5 g
100

e. Karbopol 940 2 %
2
- x 30 g = 0,6 g
100

f. NaOH 0,60 %
0,60
- x 30 g = 0,18 g
100

g. Propilenglikol 5 %
5
- x 30 g = 1,5 g
100

h. Etanol 3%
3
- x 30 g = 0,9 g
100

i. Metil Paraben 0,1 %


0,1
- x 30 g = 0,03 g
100

j. BHT 0,03 %
0,03
- x 30 g = 0,009 g
100

k. Aquadest
30 g – 6,315 g = 23,685
6. Metode Kerja
a. Fase minyak dari emulsi dibuat dengan melarutkan Span 20.
b. Ekstrak etanol dan BHT dalam minyal zaitun.
c. Fase air dibuat dengan melarutkan Tween 60 dalam air suling
(masing-masing fase dipanaskan pada suhu 70-75℃, setelah itu
tambahkan fase minyak ke dalam fase air. Campuran diaduk
dengan homogenizer kecepatan 2500 rpm hingga suhu turun
mencapai suhu ruang dan terbentuk emulsi.
d. Basis gel dibuat dengan mendiskripsikan karbomer di dalam air
suling sebanyak 30% dari total massa emulgel sambil diaduk
hingga benar-benar terdispersi.
e. NaOH dilarutkan dalam air suling kemudian ditambahkan ke
dalam basis gel campuran karbopol 940 menggunakan
homogenizer dengan pengadukan 500 rpm hingga terbentuk
basis gel yang kental.
f. Propil paraben dan metil paraben dilarutkan dalam propilenglikol
dan etanol lalu ditambahkan dalam basis gel.
g. Emulgel dibuat dengan cara mencampurkan emulsi yang telah
dibuat ke dalam basis gel sedikit demi sedikit dengan
menggunakan homogenizer pengadukan 2000 rpm selama 30
menit atau hingga terbentuk massa homogen.
7. Evaluasi sediaan
a. Evaluasi sediaan emulgel
Gel dievaluasi dengan pengamatan organoleptis meliputi warna,
bau, dan homogenitas, pengukuran pH, pengukuran viskositas
dan sifat alir, pengukuran diameter globul rata-rata.
b. Uji stabilitas fisik emulgel
Stabilitas sediaan meliputi warna, bau, dan pH dievaluasi 40° ±
2℃; 28° ± 2℃ dan 4° ± 2℃ selama 12 minggu dengan
pengamatan setiap 2 minggu sekali. Pengukuran viskositas dan
diameter globul rata-rata pada minggu ke-12, uji sentrifugasi
dengan kecepatan 3800 rpm selama 5 jam dan Cycling test yaitu
pada suhu 4℃ selama 24 jam lalu keluarkan dan ditempatkan
pada suhu 40℃ selama 24 jam. Percobaan diulang sebanyak 6
siklus. Kondisi fisik sediaan dibandingkan selama percobaan
dengan sediaan sebelumnya untuk melihat perubahan fase.
c. Uji aktivitas antibakteri emulgel secara In Vitro terhadap
Propionionibacterium acnes
Dilakukan secara triplo. Kontrol positif yang digunakan adalah
gel klindamisin 1,2 % dan sediaan yang beredar di pasaran yaitu
acne treartment gel yang menagndung triloksan dan Aloe vera.
Sedangkan kontrol negatif yang digunakan yaitu basis emulgel
dan cakram kosong steril. Kertas cakram kosong steril (6 mm)
direndam daam setiap sediaan uji yaitu basis emulgel (kontrol
negatif), emulgel perlakuan, acne treatment gel, gel klindamisin
1,2% (kontrol positif) selama 15 menit. Kemudian cakram
diletakkan pada permukaan media agar brucell dalam cawan
petri yang telah diinokulasi bakteri Propionibacterium acnes
dengan cara swabbing. Cawan petri diikubasi dalam kondisi
anaerob (Anaerob pack) dengan jar pada suhu 37℃ selama 79-
96 jam. Hasil dpaat diamati dengan mengukur diameter zona
hambat, yaitu daerah bening di sekitar diamter cakram dari
setiap sediaan uji menggunakan mikrometer sekrup. Zona
hamabat dinayatakan nol apabila tidak ada arena being di sekitar
cakram atau diameter area bening sama dengan diameter
cakram.
d. Evaluasi daya iritasi
sediaan emulgel dilakukan terhadap hewan uji marmut dengan
menggunakan metode Draize (1959). Dengan menggunakan 6
ekor marmut berumur rata-rata 2 bulan. Rambut marmut dicukur
pada bagian punggungnya sampai bersih. Untuk membantu
menghilangkan bulu halus digunakan veet. Punggung marmut
dibagi menjadi 6 bagian dengan luas yang sama kemudian
diberikan perlakuan sediaan emulgel F1, F2, F3, basis, kontrol
sakit dan kontrol sehat. Masing-masing sampel iritan sebanyak
0,5 gram dioleskan pada bagian punggung marmut yang telah
dicukur, lalu ditutup dengan kasa steril kemudian direkat-kan
dengan plester. Setelah 24 jam, plester dibuka dan dibiarkan
selama 1 jam, lalu diamati. Setelah diamati, bagian tersebut
ditutup kembali dengan plester yang sama dan dilakukan
pengamatan kembali setelah 72 jam. (Irsan et al, 2013). Untuk
setiap keadaan kulit diberi nilai seperti pada Tabel II. (Delia
Komala et al, 2015).
8. Notifikasi
Notifikasi sediaan emulgel
Nomor registrasi :
Terdiri dari 2 huruf dan 11 angka:
a. 2 huruf = Kode benua Contoh: (NA)
b. 2 angka = Kode Negara (Indonesia=18)
c. 2 angka = Tahun Notifikasi ( 2017=17)
d. 2 angka = Jenis produk contoh (emulgel:28)
e. 5 angka = Nomor urut produksi contoh (0002)
NA 1817280002
9. Validasi
Validasi metode analisis adalah upaya yang dilakukan melalui
penelitian laboratorium untuk membuktikan karakteristik kinerja
metode memenuhi aplikasi analisis yang dimaksud (BPOM, 2001).
Validasi dilakukan untuk melihat pengaruh dari kondisi peralatan
yang digunakan, pereaksi dan personil yang melakukan
pemeriksaan. Parameter validasi yang ditetapkan dalam analisis
kuantitatif yakni kekhasan (spesifitas), linieritas dan rentang, batas
deteksi (DL) dan batas kuantitasi (QL), keseksamaan (presisi) dan
kecermatan (akurasi) (UNODC,2009).
Akurasi diartikan sebagai ukuran yang menunjukkan derajat
kedekatan hasil analisi dengan kadar analit yang sebenarnya.
Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery)
analit yang ditambahkan.
Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual
dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada
sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Presisi
diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif
(koefisienvariasi). Suatu data dikatakan presisi jika nilai koefisien
variasi (KV) < 2% (Harmita, 2004).
Spesifitas adalah kemampuan mengukur analit yang dituju
secara tepat dan spesifik dengan adanya komponen-komponen lain
dalam matriks sampel seperti ketidakmurnian, produk degradasi,
dan komponen matriks.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
formula emulgel ekstrak daun binahong (Anredera Cordifolia
(Ten.) Steenis) dilakukan dengan metode difusi cakram secara triplo.
Kontrol positif yang digunakan adalah gel klindamisin 1,2% dan
sediaan yang beredar dipasaran yaitu acne treatment gelyang
mengandung triklosan dan Aloe vera. Sediaan emulgel ekstrak etanol
daun binahong memiliki stabilitas fisik yang baik dan mampu
berpenetrasi melalui kulit. Emulgel yang dibuat dari ekstrak etanol
daun binahong ini memiliki stabilitas fisik yang baik selama 12 minggu.
Zona hambat sediaan emulgel ekstrak etanol daun binahong terhadap
bakteri Propionibacterium acnes lebih besar dibandingkan klindamisin
fosfat 1,2% (kontrol positif) yaitu pada formula 1 (ekstrak setara
dengan KHM 0,05%)sebesar 19,67±1,25 mm dan formula 2 (ekstrak
setara duakali KHM0,05%) sebesar 20,67±0,47mm,sedangkan
klindamisin fosfat 1,2% memiliki zona hambat yaitu 16,33±0,47 mm.

V.2 Saran
Diharapkan untuk dapat memformulasikan pengujian ekstrak
daun binahong dengan menggunakan sediaan yang berbeda untuk
mengetahui kestabilan dan efektifitas dari sediaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Bargumono HM. 2013. Tigapuluhtiga (33) tanamantoka (tanaman obat,


kosmetika, aromatika bermanfaat untuk semua umat). Leutikaprio.
Jogja

Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standard Umum Ekstrak


Tumbuhan Obat. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1980, Materia Medika, Jilid IV. Departemen


Kesehatan RI, Jakarta.

Dewi, et al. 2015. Optimasi Formulasi Basis Sediaan Emulgel dengan


Variasi Konsentrasi Surfaktan. Fakultas Farmasi. Unisba

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Depkes RI. Jakarta

Djajadisastra, wt al. 2009. Formulasi Gel Topikal dari Ekstrak Nerii


Folium dalam Sediaan Anti Jerawat. JFI. 4(4): 210 -216.

Hariana, Arief. 2013. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Swadaya. Jakarta

Ikawati, Z. 2006. Farmakologi Molekuler Target Aksi Obat dan Mekanisme


Molekulernya. UGM Press: Yogyakarta

Lachman L., et al. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri diterjemahkan
oleh Suyatni S. Edisi II. Jakarta : UI Press.

Priani, et al. 2014. Formulasi Sediaan Emulgel Antioksidan Mengandung


Ekstrak Etanol Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum Burmani
Ness Ex.Bl.). Jurusan Farmasi Universitas Islam. Bandung

Reynold. 2009. Martindale The Extra Pharmacopoera. 36th Ed. London

Rowe, et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient 5th Edition.


London
Wasitaatmadja SM. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-
Press.

Wasitaatmadja, S.M. 2008. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-


Press.

Yani T, et al. 2016. Formulasi Emulgel yang Mengandung Ekstrak Etanol


Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.)Steeins) dan Uji
Aktivitasnya terhadap Propionibacterium acnes secara In Vitro.
Jurnal Kefarmasian Indonesia. Depok.

Yenti R, Afrianti, dan Siti Q. 2014. Formulasi Emulgel Ekstrak Etanol Daun
Dewa (Gynura pseudohina (L.) DC) Untuk Pengobatan Nyeri Sendi
Terhadap Tikus Jantan. Prosiding Seminar Nasional dan Workshop
“Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV”.