Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Uterus adalah organ reproduksi yang mempunyai fungsi sangat penting.
Dalam siklus reproduksi wanita, uterus terus menerus dipengaruhi oleh
hormon, karena terjadinya siklus menstruasi. Banyak keadaan yang dapat
mengganggu fungsi uterus, misalnya kerena kelainan kongenital, peradangan
atau adanya tumor pada uterus. Reproduksi wanita dikatakan mulai berfungsi
apabila ovarium telah menghasilkan ovum. Hal ini ditandai dengan terjadinya
menstruasi pertama (menarche), dimana ovarium mulai mensekresikan
hormon estrogen dan progesteron. Setelah mencapai menopause, ovarium
tidak menghasilkan ovum lagi, sebagai respon dari menurunnya sekresi
hormon estrogen dan progesteron, maka reproduksi wanita dikatakan
berhenti. 1
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang paing umum dan sering
dialami oleh wanita. Jarang sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun
dan belum pernah (dilaprkan) terjadi sebelum menarche, paling banyak
ditemkan pada wanita berumur 35-45 tahun (proprsi 25%). Setelah
menopause hanya kira-kira 10% mioma masih tumbuh. 1,7
Mioma uteri ini menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi
yang efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai
etiologi mioma uteri itu sendiri. Walaupun jarang menyebabkan mortalitas,
namun morbiditas yang ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup tinggi karena
mioma uteri dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal, serta
diperkirakan dapat menyebabkan kesuburan rendah. 1, 2
Mioma selama kehamilan atau masa nifas kadang-kadang mengalami
degenerasi “merah” atau “karneosa” akibat infark hemoragik. Gejala dan
tandanya adalah nyeri lokal, disertai nyeri tekan pada palpasi dan kadang-
kadang demam ringan. Sering terjadi leukositosis.2
Pengaruh mioma uteri pada kehamilan tergantung pada jumlah, ukuran
dan lokasinya. Mioma uteri selama kehamilan dapat menyebabkan banyak
komplikasi perinatal, seperti perdarahan pada kehamilan, keguguran, sakit
akibat degenarasi merah, malpresentasi, persalinan premature, ketuban pecah
dini, solusio plasenta, dan berkaitan dengan insiden yang lebih tinggi dari
operasi Caesar, atonia uteri dan perdarahan post partum. Infeksi post partum
lebih sering terjadi pada pasien dengan mioma karena dapat menyebabkan
retensi plasenta.4
Penyebab paling umum dari morbiditas neonatal adalah prematuritas,
karena kehamilan berakhir di usia kehamilan sebelumnya. Terapi hanya
mencakup istirahat total dan obsevasi, terapi simtomatik dalam kasus nyeri
dan pengawasan janin intensif, serta dilakukan operasi pada situasi tertentu.
Dalam refleksi kasus ini secara berturut-turut akan di bicarakan lebih khusus
tentang solusio placenta disertai kasus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos
uterus, yang diselingi untaian jaringan ikat den dikelilingi kapsul yang
tipis, dan sering terjadi pada usia reproduksi. Tumor ini juga dikenal
dengan istilah fibromioma uteri, leiomyoma uteri, dan uterine fibroid.
Dapat bersifat tunggal atau ganda dan mencapai ukuran besar,
konsistensinya keras dengan batas kapsul yang jelas sehingga dapat
dilepas dari jaringan sekitarnya. 1

2. 2. Klasifikasi
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dank e arah mana
mereka tumbuh. Mioma memiliki pseudokapsul yang berasal dari sel otot
polos uterus yang terkompresi dan hanya memiliki beberapa pembuluh
darah dan pembuluh limfe. Jenis mioma uteri yang paling sering adalah
intamural (54%), subserosa (48%), submukosa (6,1%) dan intraligamenter
(4,4%). Dikenal dua tempat asal mioma uteri yaitu serviks uteri dan korpus
uteri. Mioma pada serviks uteri hanya di temukan sebanyak 3% dan pada
korpus uteri ditemukan 97%.5
Mioma intramural merupakan mioma yang paling banyak ditemukan.
Jenis mioma ini seluruhnya atau sebagian besar tumbuh di antara lapisan
uterus yang paling tebal dan paling tengah yaitu myometrium. Mioma
subserosa tumbuh keluar dari lapisan tipis uterus yang paling luar yaitu
serosa. Jenis mioma ini dapat bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar
lebar. Jenis mioma ini merupakan kedua terbanyak ditemukan. Jenis mioma
ketiga yaitu mioma submukosa yang tumbuh dari dinding uterus paling
dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai
menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks disebut mioma
geburt.5
Berdasarkan tempat tumbuh atau letaknya, mioma uteri dapat
diklasifikasikan menjadi :
1. Mioma uteri intramural
Mioma terdapat di korpus uteri diantara serabut myometrium. Karena
pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan
terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding
Rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk
yang berjonjol-jonjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang
terletak pada dinding depat uterus, dalam pertumbuhannya akan
menekan dan mendorong kandung kemih keatas, sehingga dapat
menimbulkan keluhan berkemih.
2. Mioma uteri submukosa
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.
Jenis ini dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma jenis lain
meskipun besar mingkin belum memberikan keluhan perdarahan,
tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan
gangguan berdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase,
dengan adanya menjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete bump
dan dengan pemeriksaan histereskopi dapat diketahui posisi tangkai
tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma
submukosa pedunkulata. Mioma submukosa pedunkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar
dari rongga Rahim ke vagina, di kenal dengan mioma geburt atau
mioma yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan
infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan
sepsis karena proses diatas.
Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan
perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering
memberikan keluhan perdarahan. Hal ini dapat menyebabkan
dismenore, namun ketika telah dikeluarkan dari serviks menjadi
nekrotik, akan memberikan gejala pelepasan darah yang tidak regular
dan dapat disalah artikan sebagai kanker serviks.
3. Mioma uteri subserosa
Mioma terletak dibawah tunika serosa, tumbuh kea rah luar menonjol
ke permukaan uterus. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua
lapisan ligamentum latum menjadi mioma legamenter yang dapat
menekan ligamenter dan arteri iliaka. Mioma jenis ini juga dapat
tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke omentum dan
kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering
dan parasite fibroid.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya
ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari
uterus sehingga di sebut wondering/parasitic fibroid. Jarang sekali di
temukan satu mioma saja dalam satu uterus. Mioma dalam seviks
dapat menonjol kedalam satu saluran seviks sehingga ostium uteri
eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dibelah maka tampak
bahwa mioma terdiri dari bekas otot polos dan jaringan ikat yang
tersusun seperti kumparan dengan pseudokapsul yang terdiri dari
jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang
mioma.5
Gambar 2.1 Klasifikasi mioma uteri

2.3 Epidemiologi
Frekuensi mioma uteri kurang lebih 10% dari jumlah seluruh penyakit
pada alat-alat genital dan merupakan tumor pelvis. Angka kejadian tumor ini
sulit ditentukan secara tepat karena tidak semua penderita dengan mioma
uteri memiliki keluhan. 7
Berdasarkan otopsi, novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma, dan 15-20% pada wanita diatas 35 tahun. Pada
wanita berkulit hitam ditemukan lebih banyak dibandingkan wanita kulit
putih, karena wanita berkulit hitam memiliki lebih banyak hormone estrogen.
Mioma uteri belum pernah dilaporkan sebelum menarche. Setelah
menopause hanya kira-kira 10% mioma masih bertumbuh. 7

2.4 Etiologi 6
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit pultifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan
sebuah tumor monoclonal yang dihasilkan dari mutasi somatic dari sebuah sel
neoplastic tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom lengan
12q15 atau 6p21. Ada beberapa factor yang diduga kuat sebagai factor resiko
terjadinya mioma uteri, yaitu :
1. Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, di
temukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini
paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
2. Usia Menarche : Beberapa penelitian mengemukakan bahwa peningkatan
pertumbuhan mioma uteri merupakan respon dari stimulus estrogen.
Insidensi mioma uteri meningkat signifikan pada wanita yang mengalami
menarche sebelum umur 11 tahun. Paparan estrogen yang semakin lama
akan meningkatkan insidensi mioma uteri. Menarche dini(< 10 tahun)
ditemukan meningkatkan resiko relatif mioma uteri dan menarche yang
lambat (> 16 tahun) menurunkan resiko relatif mioma uteri.
3. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relative
infertile, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertile
menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan
infertile, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
4. Kehamilan : Meningkatnya vaskularisasi uterus ditambah dengan
meningkatnya kadar estrogen sirkulasi sering menyebabkan pembesaran
dan pelunakan mioma. Jika pertumbuhan mioma terlalu cepat akan
melebihi suplai darah sehingga terjadi perubahan degeneratif tumor ini.
Hasil yang paling serius adalah nekrobiosis (degenerasi merah). Pasien
dapat mengeluh nyeri dan demam derajat rendah, biasanya pada kehamilan
sepuluh minggu kedua. Palpasi menunjukkan bahwa mioma sangat lunak.
5. Factor ras : pada wanita ras tertentu, khusunya wanita berkulit hitam, angka
kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari factor ras, kejadian tumor ini
tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ad yang menderita mioma.
6. Factor genetic : Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan
penderita mioma uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan
resiko untuk menderita mioma uteri dibanding dengan wanita tanpa garis
keturunan penderita mioma uteri. Penderita mioma yang mempunyai
riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali lipat kekuatan
ekspresi dari VEGF-α (a myoma-related growth factor) dibandingkan
dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga
penderita mioma uteri.
7. Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormone estrogen
dengan pertumbuhan mioma, di mana mioma uteri muncul setelah
menarche, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah
menopause.
8. Factor Berat badan : Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai
kemungkinan risiko menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk
setiap kenaikan 10 kg berat badan dan dengan peningkatan indeks massa
tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan untuk wanita dengan 30%
kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas menyebabkan
pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan menurunkan
hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan
estrogen secara biological yang bisa menerangkan mengapa terjadi
peningkatan prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya.
9. Factor Diet : Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya
mioma uteri dengan pemakanan seperti daging sapi atau daging merah atau
ham bisa meningkatkan insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa
menurunkannya. Studi ini sangat sukar untuk diintepretasikan kerana
studi ini tidak menghitung nilai kalori dan pengambilan lemak tetapi
sekadar informasi sahaja dan juga tidak diketahui dengan pasti apakah
vitamin, serat atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri.
10. Kebiasan merokok : Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri.
Banyak faktor yang bisa menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada
jaringan seperti: penurunan konversi androgen kepada estrone dengan
penghambatan enzim aromatase oleh nikotin (Kurniasari, 2010).
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari
penggandaan suatu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya
perkembangan dari sel otot uterus atau arteri pada uterus, dari transformasi
metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel embrionik sisa yang persisten.
Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang menalami
mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal.

2. 5. Patogenesis 6

Penyebab mioma uteri tidak diketahui. Glukosa-6-fosfat menunjukkan


bahwa masing-masing mioma individu unisellular berasal (monoclonal).
Meskipun tidak ada bukti menunjukkan bahwa penyebab mioma adalah
estrogen terlibat dalam pertumbuhan mioma. Mioma mengandung reseptor
estrogen dalam konsentrasi tinggi dari miometrium sekitarnya tetapi dalam
konsentrasi lebih rendah dari endometrium. Progestrone meningkatkan
aktivitas mitosis dari mioma pada wanita muda. Progestrone memungkinkan
untuk pembesaran tumor dengan penurunan apoptosis dalam tumor.
Estrogen dapat berkontribusi untuk pembesaran tumor dengan
meningkatkan produksi matriks ekstrasellular. Mioma bertambah besar
dengan terapi estrogen dan selama kehamilan. Ada spekulasi bahwa
pertumbuhan mioma pada kehamilan berkaitan dengan sinergis estradiol dan
laktogen plasenta (hPL). Biasanya ukuran akan menurun setelah
menopause.

Perubahan sekunder

a. Atrofi

Tanda-tanda dan gejala berkurang dan menghilang karena ukuran mioma


uteri berkurang saat menopause atau setelah kehamilan.

b. Degenerasi Hialin

Perubahan ini sering terutama pada penderita usia lanjut disebabkan karena
kurangnya suplai darah. Jaringan fibrous berubah menjadi hialin dan serabut
otot menghilang. Mioma kehilangan stuktur aslinya dan menjadi homogen.
Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah-
olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.

c. Degenerasi Kistik

Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma
menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi
agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe
sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor
sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.

d. Degenerasi Membatu ( Calsireus Degeneration )

Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan
dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang
mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto
rontgen.

e. Degenerasi Merah ( Carneus Degeneration )


Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis : diperkirakan
karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna
merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah
tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus,
sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada
perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium
atau mioma bertangkai.

f. Degenerasi Lemak

Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Pada mioma yang


sudah lama dapat terbentuk generasi lemak. Di permukaan irisannya
berwarna kuning homogen dan serabut ototnya berisi titik lemak dan dapat
ditunjukkan dengan pengecatan khusus untuk lemak.

2. 6. Gambaran Klinis
A. Perdarahan uterus abnormal
Perdarahan menjadi manifestasi klinis utama pada mioma dan hal ini
terjadi pada 30% penderita. Bila terjadi secara kronis maka dapat terjadi
anemia defisiensi zat besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah
yang besar maka sulit untuk dikoreksi dengan suplementasi zat besi.
Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan oleh
hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan bendungan
pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi
endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan
trombosis vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi
(vagina dan kavum uteri terhubung oleh tangkai yang keluar dari
ostium
serviks). Dismenorea dapat disebabkan oleh efek tekanan, kompresi,
termasuk hipoksia lokal miometrium.3, 8, 9
B. Nyeri
Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila
kemudian terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait dengan
proses degenerasi akibat oklusi pembuluh darah, infeksi, torsi tangkai
mioma atau kontraksi uterus sebagai upaya untuk mengeluarkan mioma
subserosa dari kavum uteri. Gejala abdomen akut dapat terjadi bila torsi
berlanjut dengan terjadinya infark atau degenerasi merah yang
mengiritasi selaput peritoneum (seperti peritonitis). Mioma yang besar
dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi mengedan. Nyeri
pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan
pensyarafan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis. 3, 8, 9
C. Efek penekanan
Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi
tidaklah mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ dengan
mioma. Mioma intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap
organ sekitar. Parasitik mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran
cerna perlekatannya dengan omentum menyebabkan strangulasi usus.
Mioma serviks dapat menyebabkan sekret serosanguinea vaginal,
perdarahan, dispareunia dan infertilitas. Bila ukuran tumor lebih besar
lagi akan terjadi penekanan ureter, kandung kemih dan rektum. Abortus
spontan dapat disebabkan oleh efek penekanan langsung mioma
terhadap kavum uteri. Semua efek penekanan dapat dikenali melalui
pemeriksaan IVP, kontras saluran cerna,rontgen dan MRI. 3, 8, 9

2.7 Diagnosis
A. Anamnesis
Dalam anamnesis, dicari keluhan utama serta gejala-gejala mioma uteri
lainnya, faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi pada
penderita yang hamil. Seringkali penderita mengeluh akan rasa berat dan
adanya benjolan pada perut bagian bawah, kadang mempunyai gangguan
haid dan ada rasa nyeri. 3, 8
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Kadang, mioma uteri
dapat diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk
tidak teratur, gerakan bebas, tidak sakit. Bila belum jelas, terutama pada
wanita gemuk, dapat dilakukan pemeriksaan bimanual. Pemeriksaan
bimanual akan mengungkap tumor pada uterus, yang umumnya terletak di
garis tengah atau pun agak ke samping, seringkali teraba terbenjol-benjol.
Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubung dengan
uterus. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan
memberi kesan adanya perubahan degeneratif. 3, 8
Pada pemeriksaan pelvis, serviks biasanya normal namun pada keadaan
tertentu mioma submukosa yang bertangkai dapat mengakibatkan dilatasi
serviks dan terlihat pada osteum servikalis. Uterus cenderung membesar
tidak beraturan dan noduler. Perlunakan tergantung pada derajat degenerasi
dan kerusakan vaskular. Uterus sering dapat digerakkan, kecuali apabila
terdapat keadaan patologik pada adneksa. Kavum endometrium dapat
membesar karena tumor submukosa. 3, 8
C. Pemeriksaan laboratorium
Anemia disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya
cadangan zat besi. Namun pada kebanyakkan pasien akan terjadi
mekanisme eritrositosis. Pada kasus dengan komplikasi menjadi
degenerasi akut atau infeksi akan ditemukan leukositosis. 3, 8
Gambaran histopatologi mioma uteri adalah seperti berikut: Pada
gambaran makroskopik menunjukkan suatu tumor berbatas jelas,
bersimpati, pada penampang menunjukkan massa putih dengan susunan
lingkaran-lingkaran konsentrik di dalamnya. Tumor ini bisa terjadi secara
tunggal tetapi kebiasaanya terjadi secara multipel dan bertaburan pada
uterus dengan saiz yang berbeda-beda. 3, 8
D. Pemeriksaan Penunjang 9
a. Ultra Sonografi (USG):
Mioma uteri yang besar paling bagus didiagnosis dengan kombinasi
transabdominal dan transvaginal sonografi. Gambaran sonografi
mioma kebiasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas, hypoechoic dan
degenerasi kistik menunjukkan anechoic. USG menunjukkan
gambaran massa padat dan homogen pada uterus. Mioma uteri
berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan
pelvis, dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi.
Lihat gambar 2.2 yang menunjukkan gambaran USG mioma uteri.

Gambar 2.2 Ultra Sonografi mioma uteri


b. Magnetic Resonance Imagine (MRI):
Lebih baik daripada USG tetapi mahal. MRI mampu menentukan saiz,
lokasi dan bilangan mioma uteri serta bisa mengevaluasi jarak
penembusan mioma submukosa di dalam dinding miometrium. MRI
akan menghasilkan gambaran dengan menyerap energy dari suatu
gelombang radio berfrekuensi tinggi yang menunjukkan adanya
mioma. Lihat gambar 2.4 yang menunjukkan gambaran MRI mioma
uteri.
Gambar 2.3 Magnetic Resonance Imagine (MRI) mioma uteri

c. Histerosalfingografi (HSG):
Digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh kearah kavum
uteri pada pasien infertil. Merupakan suatu prosedur yang
menghasilkan gambaran foto rontgen bagian dalam lavitas uterus dan
untuk mengetahui keadaan tuba falopii. Sejumlah cairan yang
mengandung iodine diinjeksikan melalui cervix ke dalam uterus dan
tuba falopii, hasil foto rontgen didapatkan.
d. Urografi intravena:
Digunakan pada kasus massa di pelvis sebab pada kasus tersebut
sering terjadi deviasi ureter atau penekanan dan anomali system
urinarius. Cara ini baik untuk mengetahui posisi, jumlah massa pada
ureter dan ginjal.
e. Computed Tomography (CT)
CT merupakan salah satu tipe rontgen yang menggunakan computer
untuk menghasilkan gambaran struktur tubuh seperti uterus. Walapun
jarang dibutuhkan, hasil gambaran CT dapat memperlihatkan adanya
mioma.
f. Sonohistografi
Suatu prosedur ultrasonic di mana kavitas uterus dibatasi oleh
sejumlah kecil cairan. Cairan ini ditempatkan pada uterus melalui
suatu selang plastik kecil. Pasien bisa merasakan kram yang ringan.
Sonohistografi meningkatkan kemampuan pemeriksa untuk
mengidentifikasi mioma yang masuk ke dalam kavum uteri.
2.8 Terapi
A. Terapi Emergensi
Transfusi darah mungkin diperlukan untuk memperbaiki anemia.
Transfusi dikemas sel darah merah lebih digunakan daripada whole
blood. Operasi biasa diindikasikan untuk pasien ketika mereka menjadi
secara hemodinamik stabil. Operasi emergensi diindikasikan untuk
infeksi mioma, torsi akut, atau obstruksi usus yang disebabkan oleh
pedunkulata atau parisitik mioma. 5

B. Terapi medikamentosa
Tujuan daripada perawatan medis adalah untuk meringankan atau
mengurangi gejala. Meskipun tidak ada terapi medikasi yang
pasti ada pada saat ini tersedia untuk mioma uteri, gonadotropin
releasing hormone (GnRH) agonis membuktikan bahwa GnRH adalah
sangat berguna untuk membatasi pertumbuhan atau membantu
mengurangi ukuran tumor. GnRH agonis dapat menyebabkan
hypogonadism melalui hipofisis desensitisasi, mengatur turun reseptor,
dan penghambatan gonadotropin. Terapi gonadotropin yang dilakukan
untuk mioma uteri untuk 3 bulan akan mencapai penyusutan maksimum
mioma uteri untuk lebih kurang 35%-60% daripada volumnya dan hasil
amenorrhea akan membaiki dalam parameter hematologik. Terapi GnRH
dilimitasi oleh efek samping hipopoestrogenik dan keropos tulang,
terutama dengan terapi yang dilakukan untuk lebih 6 bulan. 5
C. Terapi operasi
Operasi adalah terapi yang paling penting untuk mioma.
Pemeriksaan Imaging paling sering harus disertai dengan evaluasi untuk
menyingkirkan proses neoplastik panggul lainnya. Semua pasien harus
mengikuti serviks Papanicolaou smear test dan endometrium evaluasi
jikalau perdarahannya irregular. Sebelum operasi definitive, volume
darah yang diperlukan harus disediakan terlebih dahulu dan
langkahlangkah lain seperti administrasi antibiotika profilatik atau
heparin harus dipetimbangkan. Mekanikal dan persediaan antibiotika
usus dapat digunakan bila operasi panggul menjadi sukar. 5
a. Miomektomi:
Miomektomi adalah salah satu pilihan simptomatik pasien yang
ingin untuk memelihara fertilitas atau melindungi uterus. Kerugian
signifikan adalah resiko untuk mioma yang akan timbul. Pasca
miomektomi setelah 5 tahun, 50-60% pasien akan mempunyai
mioma baru yang akan dideteksi dalam ultrasound, dan lebih dari
25% pasien akan memerlukan operasi major untuk kali kedua.
Pasangan harus menjalani evaluasi infertilitas menyeluruh sebelum
wanita tersebut menjalani miomektomi untuk memajukan fertilitas.

Gambar 2.4 teknik miomektmi terbuka


Kebanyakkan wanita akan dinasihati untuk melambatkan kehamilan
untuk 3-6 bulan selepas miomektomi abdomen dan untuk
merencanakan sektio sesarean selepas mengeliminasi mioma
transmural. Resiko untuk kerusakan uterus disebabkan oleh paritas
selepas miomektomi abdomen dilaporkan sebanyak 0,0002%.
Miomektomi yang dilakukan melalui histeroskopi dalam kasus
mioma submukosa dan melalui laparaskopi untuk mioma subserosa
yang angkanya kecil atau mioma intramural sedang meningkat.
Kekuatan penutupan uterus dalam laparaskopi mioma ialah
kontroversi, dan kerusakan uterus dilaporkan apabila masa gestasi
33 minggu. Pasien yang menginginkan fertilitas dinasihatkan tentang
resikonya.
Pedunculated mioma submukosa yang bertumbuh dalam vagina
dapat disingkirkan kadang-kala dengan menggunakan tali yang ada
lengkungan atau melalui histereskopi. Tindakan ini adalah langkah
yang paling efektif jikalau tidak ada tumor yang diperlukan untuk
dieliminasi. Jikalau pedunculated mioma tidak dapat disingkirkan
melalui vagina maka biopsi dilakukan untuk mengelakkan
miosarcoma atau mesodermal sarcoma. Indikasi untuk miomektomi
dalam kehamilan adalah tanda torsi dalam mioma pedunculated di
mana hemostasis stalk dapat dicapai dengan keselamatan relatif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tindakan ini mempunyai
resiko yang besar untuk mendapatkan perdarahan atau transfusi.

Gambar 2.5 miomektomi dengan histeroskopi


b. Histerektomi
Mioma uteri adalah indikasi paling sering untuk histerektomi
dengan resiko kumulatif sebanyak 7% untuk semua wanita yang
berusia dalam lingkungan 25 tahun - 45 tahun. Lebih dari 50%
histerektomi dilakukan pada wanita yang kulit hitam disebabkan
oleh mioma, dengan resiko kumulatif sebanyak 20% sehingga umur
45 tahun. Histerektomi menyingkirkan gejala dan rekuren.
Uterus dengan mioma kecil mungkin dapat dieliminasikan dengan
tindakan histerektomi vagina total, terutamanya jika relaksasi vagina
membutuhkan perbaikan cystocele, rectocele, atau entrocele.
Bila tumor yang besar ditemukan banyak, histerektomi abdomen
total diindikasikan. Ovari umumnya dipelihara pada wanita
premenopausal. Tidak ada komplikasi dalam mengangkat ovary
daripada wanita yang pasca menopause.

Gambar 2.6 Histerektomi


c. Embolisasi mioma uteri
Okulasi emboli arteri uterus adalah suatu alternatif untuk
operasi major pada wanita premenopausal yang tidak menginginkan
fertilitas tetapi menginginkan untuk terus memelihara uterus atau
mengelakkan efek samping daripada terapi medikasi. Dalam
prosedur ini, arteriogram akan dilaksanakan untuk
mengidentifikasikan suplai darah ke mioma. Selepas itu satu kateter
akan dimasukkan ke dalam bagian distal arteri uterus, biasanya
melalui arteri femoris sebelah kanan. Arteri tersebut akan diinfusi
dengan agen embolisasi (polyvinyl alcohol particles atau tris-acryl
gelatine microspheres) sehingga alirannya terhenti. Prosedur ini akan
bertahan selama 1 jam secara menyeluruh. Studi observasi
menunujukkan bahwa terapinya sama efektif seperti histeretomi dan
miomektomi, dengan banyak komplikasi minor dan dengan
komplikasi major yang sikit. Frekuensi mioma rekuren adalah sedikit
dengan embolisasi dibandingkan dengan miomektomi.

Gambar 2.7 Embolisasi mioma uteri


d. Ablasi Endometrium:
Untuk wanita yang tidak menginginkan fertilitas, ablasi
endometrium dapat mengkontrol gejala perdarahan. Prosedur ini
lebih efektif jika dikombinasikan dengan miolisis.
e. Miolisis
Prosedur ini adalah teknik laparascopic thermal coagulation
tidak membutuhkan penjahitan dan senang untuk dilaksanakan.
Destruksi jaringan lokal mungkin akan mengakibatkan kerusakan
pada masa kehamilan.
f. Laparaskopi uterus okulasi arteri
Tindakan ini dilaksanakan dengan kateterisasi arteri uterus
melalui laparaskopi.
g. Magnetic resonance-guided focused ultrasound surgery
Cara ini diluluskan oleh Food and Drug Administration (FDA) pada
tahun 2004 untuk terapi mioma pada wanita premenopausal yang
sudah memiliki anak. Prosedur outpatient yang menggunakan MRI
untuk real-time monitoring of thermoablative teknik yang
menukarkan multipel ambangan energi ultrasound pada volume
jaringan yang kecil untuk dimatikan 5

2.9. Komplikasi
A. Mioma dan Kehamilan
Lebih kurang dua pertiga wanita dengan mioma uteri dan infertiliti yang
tidak dapat dijelaskan pascamiomektomi, dan lebih kurang separuh
darpada wanita akan menjalani paritas bayi. Tetapi perbedaan dengan
manajmen kehamilan diperlukan untuk menyimpulkan keefektifan
prosedur ini. Semasa trimester kedua dan ketiga kehamilan, mioma akan
meningkat dalam ukuran dan akan melalui deprivasi vaskuler dan
perubahan degenratif. Secara klinis, keadaan ini menyebabkan nyeri dan
kelembutan lokal tetapi juga akan menyebabkan persalinan premature.
Manajmen kehamilan dengan istirahat hampir setiap kali menghilangkan
nyerinya tetapi tokolitik mungkin diperlukan untuk mengkontrol
kontraksi uterus. 2
Semasa persalinan, mioma akan memproduksi kelembaban uteri,
malpresentasi janin atau obstruksi jalan persalinan. Pada umumnya,
mioma cenderung naik dari panggul sebagai kehamilan berlanjut dan
pengiriman vagina bisa dicapai. Mioma uteri mungkin akan mengganggu
kontraksi uterus yang efektif segera setelah persalinan, maka
kemungkinan hemorrhagia pascapartus harus diantisipasi. 2
B. Komplikasi pada wanita tidak hamil
Perdarahan yang hebat dengan anemia adalah komplikasi yang paling
sering pada kasus mioma. Obstruksi saluran kemih atau usus dari mioma
besar atau parisitik lebih kurang umum dan transformasi maligna jarang
terjadi. Cedera ureter atau ligase merupakan komplikasi diakui operasi
untuk kasus mioma terutama yang terhubung dengan serviks 2

2.10 Prognosis
Histerektomi dengan eliminasi semua mioma adalah penyembuhan
sempurna. Miomektomi yang berlanjutan akan menyebabkan uterus dan
kavitasnya kembali ke keadaan normal. Salah satu keprihatinan major
adalah resiko rekuren selepas miomektomi. Studi yang dilakukan
menunjukkan 2% - 3% per tahun mengalami simptomatik mioma selepas
miomektomi 9
BAB III

LAPORAN KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 13 Desember 2017


Jam : 13.00 WITA
Ruangan : Merak RSU Anutapura Palu

I. IDENTITAS
Nama : Ny. R Nama suami : Tn. S
Umur : 36 tahun Umur : 38 Tahun
Alamat : Jl. Malonda Alamat : Jl. Malonda
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana Pendidikan : Sarjana

II ANAMNESIS

G1P0A0
Menarche : ± 13 tahun
Perkawinan : 4 tahun
A. Keluhan Utama :
Nyeri perut

B. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien (G1P0A0) Gravid 32 minggu usia 38 masuk IGD Kebidanan
diantar oleh Suaminya dengan keluhan nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk
RS. Nyeri perut dirasakan hilang timbul. Tidak ada nyeri tembus hingga bagian
belakang. Pasien juga mengeluh sempat keluar darah dari jalan lahir 2 hari
sebelum masuk RS, berwarna kemerahan tidak menggumpal. Pasien juga
mengeluh sesak napas, mual, muntah, dan pusing. Riwayat haid teratur. BAB
belum 2 hari, pasien juga mengeluh buang air kecil sedikit-sedikit.

C. Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien belum pernah menderita tumor kandungan sebelum hamil
ataupun selama masa hamil. Tidak ada riwayat penurunan berat badan dan
selera makan.Tidak ada riwayat tekanan darah tingggi selama hamil.

D. Riwayat Penyakit Keluarga :


- riwayat asma (-)
- diabetes melitus (-)
- penyakit jantung (-)
- hipertensi (-)
- hepatitis (-)

E. Riwayat Menstruasi :
 Menarche : 10 tahun
 Siklus : 28 hari
 Lama haid : 5-6 hari
 Banyak : 1-2 x ganti pembalut

F. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, usia pernikahan dengan suami sekarang ± 4 tahun.

G. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran:


G1P0A0

H. Riwayat Kontrasepsi (Keluarga Berencana)


(-) Pil KB (-) Suntik KB 3 bulanan (-) IUD
(-) Susuk KB (-) Lain-lain

I. Riwayat Operasi : tidak pernah

J. Kebiasaan Hidup :
Merokok (-), Alkohol (-), minum obat & jamu (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK

KU : sakit sedang

Kesadaran : Kompos mentis

BB : 63 Kg

TB : 155 cm

Tek. Darah : 100/70 mmHg

Nadi : 88 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Suhu : 36,8ºC
Kepala – Leher :

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-), pembesaran
KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-). Mata cekung (-)

Thorax :
I : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru-hepar SIC
VII linea mid-clavicula dextra, batas jantung dalam batas normal.
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung I/II
murni reguler

Abdomen :

I : Tampak cembung, bentuk asimetris

A : Peristaltik (+) kesan normal

P : Timpani

P : teraba massa ukuran 8 x 8 cm di region umbilicus, konsistensi padat,

tidak terfiksasi, nyeri tekan (-), suhu masa dengan suhu kulit sekitar.

Status Obstetri dan Ginekologi :

Pemeriksaan Luar

- Inspeksi : sikatrik (-), tanda radang (-), dinding perut datar, linea nigra (-)
striae gravidarum (-) perdarahan flek-flek (+)
- Palpasi : TFU 3 jari dibawah umbilicus
Leopold I 31 cm, 2 jari di bawah umbilicus
Leopold II punggung kiri
Leopold III punggung kanan
Leopold IV Belum masuk PAP
HIS : -
Pemeriksaan Dalam

- Vulva uretra vagina : tidak ada kelainan, dinding vagina licin


- Portio : tebal lunak
- Pembukaan : seujung jari
- Selaput ketuban : utuh
- Pelepasan : lendir

Ekstremitas :

Edema ekstremitas bawah -/-, turgor < 2 detik.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah lengkap :

 WBC : 15,1 x 103/mm3



HGB : 8,9 gr/dL

HCT : 27,4 %

PLT : 288x 103/mm3

RBC :3,28x 106/mm3

HbSAg: non reaktif
Kimia darah :
 GDS : 114 mg/ dL
USG :
 Gravid tunggal intrauterine, DJJ (+) 166 x/menit, letak kepala
 Placenta pada corpus uteri anterior
 Cairan amnion cukup, AFI 11 cm
 Estimasi kasar kehamilan 32-33 minggu
 Estimasi berat janin 2236 gr
 Tampak massa hiperechoic batas tegas tepi regular pada korpus uteri
anterior uk 6,6 x 8,6 x 8,8 cm (mioma uteri)

Gambar 3.1 USG obstetrik


V. RESUME
Pasien wanita, ( G1P0A0 ) Gravid 32 minggu usia 38 tahun masuk RS datang ke
RSU Anutpura Palu dengan keluhan nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk RS.
Nyeri perut dirasakan hilang timbul. Tidak ada nyeri tembus hingga bagian
belakang. Pasien juga mengeluh sempat keluar darah dari jalan lahir 2 hari sebelum
masuk RS, berwarna kemerahan tidak menggumpal. Pasien juga mengeluh sesak
napas, nausea, vomite, dan dizzyness. Riwayat menstruasi teratur. defekasi belum 2
hari, pasien juga mengeluh miksi sedikit-sedikit.

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan Tek. Darah 100/70 mmHg, Nadi 88


x/menit, Respirasi 20 x/menit, Suhu 36,8 ºC. Pemeriksaan abdomen ditemukan
kesan Tampak cembung bentuk asimetris, Peristaltik(+) kesan normal, teraba massa
ukuran 8 x 8 cm di region umbilicus, konsistensi padat, tidak terfiksasi, nyeri tekan
(-), suhu masa dengan suhu kulit sekitar. Pemeriksaan obstetri didapatkan TFU 3
jari dibawah umbilicus, Leopold I 31 cm, 2 jari di bawah umbilicus, Leopold II
punggung kiri, Leopold III punggung kanan, Leopold IV Belum masuk PAP.
Pemeriksaan dalam (vaginal touche) Vulva uretra vagina tidak ada kelainan,
dinding vagina licin, Portio tebal lunak , Pembukaan seujung jari, Selaput ketuban
utuh, Pelepasan lendir.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan WBC 15,1 x 103/mm3, HGB 8,9


gr/dL, HCT 27,4 %,PLT 241x 103/mm3, RBC 3,28x 106/mm3, HbSAg: non
reaktif. Pada pemeriksaan USG obstetric ditemukan Tampak massa hiperechoic
batas tegas tepi regular pada korpus uteri anterior uk 6,6 x 8,6 x 8,8 cm
(mioma uteri).

VI. DIAGNOSIS
Preoperatif : G1P0A0Gravid 36-37 minggu + belum inpartu + mioma uteri

Post operatif :P1A0 Post sectio caesaria + myomectomy e.c Mioma uteri

VII. PENATALAKSANAAN
 IVFD RL 28 TPM
 kateterisasi
 ceftriaxone 1 gr/ IV / 12 jam
 Inj. Ranitidine 1 amp / IV/ 8 jam
 Inj. Ketorolac 1 amp / IV 8 Jam
 Rencanakan sectio caesaria + miomectomy

Laporan Operasi:

1) Pasien dibaringkan dalam posisi supinasi dalam pengaruh anatesi spinal


2) Desinfeksi area operasi dan sekitarnya, pasang duk steril
3) Insisi abdomen dengan metode pfannanstiel secara lapis demi lapis menembus
peritoneum secara tajam dan tumpul, kontrol perdarahan, perdarahan minimal
4) Insisi segmen bawah Rahim lapis demi lapis menembus secara tajam dan
tumpul, control perdarahan
5) Bayi dilahirkan langsung menangis, dengan presentasi kepala, berjenis
kelamin perempuan
6) BBL 2500 gr, PBL 45 cm, ketuban putih keruh volume cukup
7) Placenta dilahirkan secara manual dan lengkap
8) Eksplorasi dan bersihkan rongga Rahim dengan kassa steril dan betadine
9) Jahit Rahim lapis demi lapis dengan benang demesorb I, control perdarahan
10) Jahit plica vesicauterina dengan benang demosorb I control perdarahan
11) Identifikasi uterus, tampak uterus membesar dengan mioma uteri
12) Dilakukan miomektomi control perdarahan, tampak ovarium dextra dan
sinistra normal, tuba sinistra dan dextra normal
13) Jadi uterus lapis demi lapis, control perdarahan
14) Injeksi intramural metylergometrin 1 ampul
15) Eksplorasi cavum abdomen, bersihkan dari sisa bekuan darah, control
peerdarahan
16) Abdomen dijahit lapis demi lapis sampai kulit, control perdarahan
17) Bersihkan lapangan operasi, kemudian tutup luka dengan kasa steril dan
betadine
18) Vagina Toilet
19) Operasi selesai

Gambar 3.2
mioma uteri
pada corpus
uteri

Gambar 3.3 mioma uteri yang


telah diangkat
VIII.
PENATALAKSANAAN POST OPERATIF
 IVFD RL 28 TPM
 Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/ IV
 Drips. Metronidazole /12 jam/IV
 Inj. Ondansentron 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ranitidin 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ketorolac 1amp/8 jam /IV
 Inj. Asam traneksamat 1amp/8 jam/IV
 Drips Oxytosin 2 amp dalam RL 500 cc, habiskan dalam 2 kolf
 Cek Hb 2 jam post op. Jika Hb < 8 gr/dl lakukan transfusi 2 WB
 Obs. KU dan TTV, Produksi Urin, balance cairan
FOLLOW UP

14 Desember 2017

S : Nyeri luka operasi (+), Perdarahan Per Vaginam (+) minimal, mual (+), muntah
(-), pusing (-), sakit kepala (-), flatus (+), BAB (-), BAK (+)

O : Keadaan Umum :sakit sedang

Konjungtiva : anemis (-/-)

TD : 150/80 mmHg

N :90x/menit

R :22 x/menit

S : 37 ºC

TFU 1 jari dibawah umbilicus

ASI (+/+), kontraksi (+), lokia (+)

A : P1A0 Post sectio caesaria + myomectomy e.c Mioma uteri H 1

P :

 IVFD RL 28 Tpm
 Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/ IV
 Drips. Metronidazole /12 jam/IV
 Inj. Ondansentron 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ranitidin 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ketorolac 1amp/8 jam /IV
 Inj. Asam traneksamat 1amp/8 jam/IV
 Mobilisasi bertahap
 Diet lunak

15 Desember 2017

S : Nyeri luka operasi (+), Perdarahan Per Vaginam (+) minimal, mual (-), muntah
(-), pusing (-), sakit kepala (-),BAB (-), BAK (+)

O : Keadaan Umum :sakit sedang


Konjungtiva : anemis (-/-)

TD :90/60 mmHg

N :78x/menit

R :20 x/menit

S : 36,6ºC

ASI (+/+), kontraksi (+), lokia (+)

TFU 1 jari dibawah umbilicus

A : P1A0 Post sectio caesaria + myomectomy e.c Mioma uteri H 2

P :

 IVFD RL 28 Tpm
 Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/ IV
 Drips. Metronidazole /12 jam/IV
 Inj. Ondansentron 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ranitidin 1amp/8 jam/IV
 Inj. Ketorolac 1amp/8 jam /IV
 Dulcolax Supp. 2 x 1
 Inj. Asam traneksamat 1amp/8 jam/IV
 Mobilisasi bertahap

16 Desember 2017

S : Nyeri luka operasi (+), Perdarahan Per Vaginam (+) minimal, mual (-), muntah
(-), pusing (-), sakit kepala (-),BAB (+), BAK (+)

O : Keadaan Umum :sakit ringan

Konjungtiva : anemis (-/-)

TD :110/80 mmHg

N :84 x/menit

R :20 x/menit

S : 36,2ºC
ASI (+/+), kontraksi (+), lokia (+)

TFU 2 jari di baawah pusat

A : P1A0 Post sectio caesaria + myomectomy e.c Mioma uteri H 3

P :

 Aff infus
 Aff kateter
 Cefadroxyltab. 2x100mg
 Meloxicam 2x7,5mg
 Vit C tab 3 x 1 tab

17 Desember 2017

S : Nyeri luka operasi (+), Perdarahan Per Vaginam (+) minimal, mual (-), muntah
(-), pusing (-), sakit kepala (-),BAB (+), BAK (+)

O : Keadaan Umum :sakit ringan

Konjungtiva : anemis (-/-)

TD :110/80 mmHg

N :84 x/menit

R :20 x/menit

S : 36,2ºC

ASI (+/+), kontraksi (+), lokia (+)

TFU 3 jari di baawah pusat

A : P1A0 Post sectio caesaria + myomectomy e.c Mioma uteri H 4

P :

 Cefadroxyl tab. 2 x 100 mg


 Meloxicam 2x7,5mg
 Vit C tab 3 x 1 tab
 Ganti perban
 Pasien di bolehkan pulang, control di poliklinik KIA

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, wanita, wanita hamil ( G 1P0A0 ) Gravid 32 minggu usia 38 tahun
datang ke RSU Anutpura Palu dengan keluhan nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk
RS. Nyeri perut dirasakan hilang timbul. Tidak ada nyeri tembus hingga bagian belakang.
Pasien juga mengeluh sempat keluar darah dari jalan lahir 2 hari sebelum masuk RS,
berwarna kemerahan tidak menggumpal. Pasien juga mengeluh sesak napas, mual,
muntah, dan pusing. Riwayat haid teratur. BAB belum 2 hari, pasien juga mengeluh
buang air kecil sedikit-sedikit.

Penegakkan diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, serta


pemeriksaan penunjuang yang sesuai. Pada pasien ini didapatkan beberapa factor resiko,
tanda dan gejala terkait kejadian mioma uteri, diantara mioma uteri jarang terjadi pada
usia 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini
paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. Pasien ini juga memiliki
riwayat Menarche sebelum 11 tahun. Pasien ini juga dalam kondisi hamil yang menjadi
factor resiko. Sebab meningkatnya vaskularisasi uterus ditambah dengan meningkatnya
kadar estrogen sirkulasi sering menyebabkan pembesaran dan pelunakan mioma, yang
pada tahap lanjut dapat membuat mioma mengalami degenarasi (degenarasi merah).

Tanda-tanda gejala yang bisa didapatkan :

a. Perdarahan uterus abnormal


Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan
dapat juga terjadi metroragia. Berikut beberapa factor yang menjadi penyebab
perdarahan ini, antara lain adalah :
 Pengaruh ovarium sehingga terjadi hyperplasia endometrium sampai adeno
karsinoma endometrium.
 Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa
 Atrofi endometrium di atas mioma submuksa
 Myometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma
diantara serabut myometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh
darah yang melaluinya dengan baik.
Pada pasien ini terdapat riwayat perdarahan 2 hari sebelum masuk RS, berupa
bercak kemerahan dan tidak menggumpal.

b. Rasa nyeri
Rasa nyeri dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang
di sertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma sumukosum
yang akan dilahirkan, pertumbuhannya dapat menyebabkan penyempitan kanalis
servikalis sehingga menimbulkan dismenore. Pada pasien ini terdapat keuhan nyeri
pada perut.
c. Gejala dan tanda penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan lokasi mioma uteri. Penekanan pada
kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensi
urin, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter hingga hidronefrosis dan pada
rectum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmus, pada pembuluh darah dan
pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
Pada pasien ini di amati terdapat gejala penekanan berupa keluhan susah BAB dan
BAK yang sedikit-seikit dan sering.
d. Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars
intertibialis tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya
abortus oleh distorsi rongga uterus.

Berdasarkan pemeriksaan fisik abdomen : teraba massa ukuran 8 x 8 cm di region


umbilicus, konsistensi padat, tidak terfiksasi, nyeri tekan (-), suhu masa dengan suhu kulit
sekitar. USG ginekologi gravid intrauteri dengan estimasi usia kehamilan 32-33 minggu
dan ditemukan masa hiperechoic uteri batas tegas tepi regular pada korpus uteri anterior
ukuran 6,6 x 8,8 x 8,8 cm (mioma uteri). Sehingga pasien di diagnosis G 1P0A0 Gravid 32-
33 minggu dengan disertai mioma uteri.

Tatalaksana yang di gunakan pada pasien ini baik sebelum dan dan sesudah
operasi merupakan terapi simtomatik seperti pemberian antibiotic, analgetik,
antiperdarahan, vitamin, dan antiemesis, mukoprotektor, dan pencahar.

Pada pasien ini, di pilih tindakan operatif, yaitu akan dilakukan section caesaria
kemudian miomektomi. Section caesaria dilakukan karena resiko untuk terjadi abortus
lebih tinggi oleh pengaruh mioma. Sementara miomektomi di lakukan atas pertimbangan
ukuran mioma uteri yang cukup besar (8 x 8 cm) dan umur ibu yang belum memasuki
menopause sehingga tidak dilakukan histerektomi total. Pilihan tindakan invasive lain
yang dapat menjadi pilihan yaitu tubektomi mengingat angka kekambuhan mioma uteri
pasca miomektomi cukup tinggi (50-60%) dan lebih dari 25% pasien akan memerlukan
operasi major untuk kali kedua.

Dalam 4 hari perawatan pasca operasi tidak ada penyulit sehingga pasien
dibolehkan pulang pada hari ke empat perawatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H., 2005, Ilmu Kandungan Edisi Kedua, Didalam: Saifudin, Abdul
Bahri dan Triatmojo Rachimhadhi (ed), Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

2. Fortner, Kimberly B, dkk. 2007, The Johns Hopkins Manual of Gynecology and
Obstetrics, 3rd ed. Department of Gynecology and Obstetrics, The Johns Hopkins
University School of Medicine, Baltimore, Maryland.

3. Taran, Andrei F et al., 2010, Characteristics indicating adenomyosis coexisting


with leiomyomas: a case–control study, Hum Repro Update, 5(25): 1177-1182.

4. Schorge et al., 2008, William Ginecology, 22nd ed, The McGraw-Hill Company,
Inc.
5. Pernoll, M.L., 2001, Benson and Pernoll’s handbook of Obstetrics Gynecology,
10th ed , The McGraw-Hill Company, Inc.

6. Flake, Gordon P,Janet Andersen, Darlene Dixon., 2003, Etiology And


Pathogenesis Of Uterine Leiomyomas: A Review, Environmental Health
Perspective, 111(8).p; 1037-1054.

7. Pratiwi, Lilis, Eddy Suparman, Freddy Wagery, 2013, Hubungan Usia Reproduksi
dengan Kejadian Mioma Uteri di RSUP Prof DR. R.D. Kandou Manado, vol I, no.
1. Jurnal e-Clinic.

8. Kurniasari, Tri., 2010, Karakteristik Mioma Uteri di RSUD dr. Moewardi


surakarta periode Januari 2009 - Januari 2010, Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret Surakarta: Surakarta (Skripsi).

9. Sara Y. Brucker, et al, 2014, Clinical characteristics indicating adenomyosis


coexisting with leiomyomas: a retrospective, questionnaire-based study, American
Society for Reproductive Medicine, 110 (1): 237-241