Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PLANKTONOLOGI

CHRYSOPHYTA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Planktonologi

Disusun Oleh :
( KELOMPOK 8 - PERIKANAN A )
Nabila Mayangsari (230110170001)
Fikry Ingdrya (230110170026)
Dika Devina (230110170027)
Seldatia Syifani (230110170033)
Andre Wijaya (230110170045)
Hagi Nuansa F (230110170053)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur semoga tetap tercurah kehadirat Tuhan atas rahmat dan
hidayah yang telah diberikan-Nya kepada penyusun sehingga karya ilmiah ini
dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Sebagai tuntutan akademis untuk
mengajukan tugas mata kuliah Planktonologi, maka penyusun berusaha membuat
makalah dengan judul “CHRYSOPHYTA”

Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun sendiri dan


umumnya bagi pembaca. Penyusun juga berharap pembaca dapat menyampaikan
kritik dan saran kepada penyusun demi kemajuan penulisan makalah di masa yang
akan datang.

Jatinangor, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB HALAMAN
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
I. PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................................. 2
II. PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Chrysophyta ........................................................................................................ 3
2.2 Struktur Sel Chrysophyta ...................................................................................................... 3
2.3 Ciri-Ciri Chrysophyta ............................................................................................................ 5
2.4 Cara Perkembangbiakan Chrysophyta .................................................................................. 5
2.5 Klasifikasi Chrysophyta ........................................................................................................ 6
2.6 Habitat Chrysophyta ............................................................................................................ 11
2.7 Manfaat Chrysophyta .......................................................................................................... 11
III. PENUTUP ............................................................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................................... 12
3.2 Saran .................................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Chrysophyta disebut juga ganggang keemasan (golden algae) atau ganggang pirang. Istilah
“Chrysophyta” berasal dari bahasa Yunani, chrysos yang berarti “keemasan”. Warna keemasan
disebabkan karena ganggang ini memiliki pigmen berupa karoten dan xantofil yang jumlahnya
dominan dibandingkan dengan klorofi l a dan c sehingga membuat sel plastida bewarna hijau
kekuningan/cokelat keemasan. Sumber lain ada yang menyebutkan bahwa warna keemasan
disebabkan oleh pigmen yang bernama fukosantin (fucoxanthin).

Chrysophyta kebanyakan hidup di air tawar, meskipun beberapa jenis ada yang hidup di air
laut. Alga kelompok ini mempunyai makanan yang disimpan sebagai laminarin, yaitu suatu
polisakarida sebagai simpanan makanan pada alga ini. Alga keemasan memiliki variasi struktur
dan bentuk. Sebagian tidak memiliki dinding sel dan dapat merayap seperti Amoeba. Sebagian lagi
memiliki dinding sel yang terbuat dari selulosa.

Sebagian besar kelompok ganggang keemasan adalah uniseluler tetapi ada pula yang
membentuk koloni. Sel-sel alga pirang mempunyai dua flagella sehingga disebut sebagai
biflagellata, khususnya untuk alga yang struktur dinding selnya tersusun atas pektin. Kedua
flagellanya terpaut di dekat salah satu ujung sel. Selain hidup di perairan, ada juga Chrysophyta
yang hidup di darat.

Alga pirang yang hidup di darat sering ditemui sebagai selaput seperti beludru di tepi kolam,
tepi perairan, atau di tanah yang lembab. Selain laminarin, Chrysophyta menyimpan kelebihan
makanan dalam bentuk minyak sehingga merupakan komponen penting dalam pembentukan
minyak bumi. Filum Chrysophyta terdiri atas sekitar 5.300 jenis, dan 5.000 di antaranya adalah
diatom yang sekarang sudah dimasukkan dalam Filum tersendiri yaitu Bacillariophyta.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Chrysophyta ?
2. Bagaimana struktur sel Chrysophyta ?
3. Bagaimana ciri-ciri Chrysophyta ?
4. Bagaimana cara perkembangbiakan Chrysophyta ?
5. Bagaimana klasifikasi Chrysophyta ?
6. Bagaimana habitat Chrysophyta ?
7. Bagaimana peranan Chrysophyta ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian Chrysophyta
2. Untuk mengetahui struktur sel Chrysophyta
3. Untuk mengetahui ciri-ciri Chrysophyta
4. Untuk mengetahui cara perkembangbiakan Chrysophyta
5. Untuk mengetahui klasifikasi Chrysophyta
6. Untuk mengetahui habitat Chrysophyta
7. Untuk mengetahui peranan Chrysophyta

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Chrysophyta


Chrysophyta disebut juga ganggang keemasan (golden algae) atau ganggang pirang. Istilah
“Chrysophyta” berasal dari bahasa Yunani, chrysos yang berarti “keemasan”. Warna keemasan
disebabkan karena ganggang ini memiliki pigmen berupa karoten dan xantofil. Chrysophyta
merupakan ganggang keemasan karena mengandung pigmen kuning keemasan (chrysos). Alga ini
tidak memiliki pirenoid dan dan kloroplasnya kecil-kecil. Beberapa jenis memiliki dinding sel dari
silikat (diafomeae) dan pektin. Berdasarkan bentuk dan susunan serta kandungan zatnya,
Chrysophyta terbagi menjadi dua kelas, yaitu Bacillariophyceae (Diatomeae) dan Xantophyceae.

2.2 Struktur Sel Chrysophyta


1. Dinding Sel
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka terdiri dari lorika
(Contoh: Dinobryon dan Kephryon). Atau tersusun dari lempengan silicon (Contoh: Sinura
dan mallomonas) atau tersusun dari cakram kalsium karbonat (Contoh: Syracospoera).
Struktur selnya tidak mempunyai dinding selulosa dan membrannya menunjukkan
kewujudan silica.
2. Isi Sel
a. Xantophyceae
Terdapat inti sel: berbentuk tunggal dan berbentuk banyak inti. Terdapat plastid
berbentuk cakram tanpa pienoid. Pigmen : klorofil a dan b, β karoten, xantofil.
b. Chrysophyceae
Berinti tunggal, plastida terdiri dari 1 atau 2, pigmen berupa klorofil a, b, c, β karotin,
xantofil, berupa lutein, diadinoxantin, fukoxantin dan dinoxantin.
c. Bacillariophyceae
Berinti tunggal dan berinti diploid, pigmen berupa klorofil a dan c, β karotin, xantofil.

3. Kloroplas

3
Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta menunjukkan
perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar periphery
kloroplas (girdle lamina).

4. Alat Gerak

Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap ordo
(struktur dasar flagel pada alga mirip dengan flagel pada mahluk hidup lain. Susunan benang
flagel menunjukkan pola 9+2 dengan tipe akronematik (whiplash) dan pantonematik (tinsei).
Contoh: Synura dan Syracospaera mempunyai 2 flagel yang sama panjangnya, Dinobryon
dan Ocromonas, mempunyai 2 flagel yang tidak sama panjangnya. Chrysamoeba, memiliki
1 flagel.
Kedudukan dan keadaan flagelumnya berbeda, selnya boleh menjadi uniflagerum atau
biflagerum. Jika biflagelum, flagel mungkin sama panjang atau tidak. Tingkat flagenta yang
paling tinggi yaitu heterokontois. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal dan
berbentuk koloni. Sel heterokontous mempunyai 2 flagel yaitu flagel licin dengan bulu kaku
seperti pipa atau mastigonema dalam dua baris.

5. Vakuola Kontraktil

Terdapat satu atau dua vakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada spesies) yang terletak
dekat dasar dari flagel. Masing-masing vakuola kontrakil terdiri atas vesikel kecil yang
berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. vakuola kontraktil yang
terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya adalah osmoregulator.

6. Badan Golgi

Badan golgi terletak di antara inti dan vakuola kontraktil. Badan golgi adalah organela yang
terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang strukturnya terdiri dari
tumpukan vesikel bentuk cakram atau kantung.

7. Nukleus

Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas yang mana berhubungan
dengan pembungkus inti

4
2.3 Ciri-Ciri Chrysophyta
Chrysophyta memiliki bentuk thalus yang beraneka ragam yaitu batang, telapak tangan dan
bentuk-bentuk campuran lain seperti pada diatome memiliki bentuk yang beragam terdiri dari
bentuk wadah (hipoteka) dan tutup (epiteka) diantara wadah dan tutup terdapat celah (rafe).
Chryshopyta memiliki dinding sel yang diperkuat oleh silikat. Memiliki cadangan makanan yang
hampir sama pada semua jenis Chryshopyta yaitu terdiri dari karbohidrat dan lemak yang
warnanya agak kuning. Pada umumnya Chrysophyta memiliki flagel yang panjang dan bentuknya
tidak selalu sama. Chrysophyta memiliki ciri khusus sebagai berikut :

1. Struktur tubuh berupa benang, ada yang bersel satu ada juga yang bersel banyak
2. Memiliki pgmen karoten (kuning) dan xantofil (kekuningan dan kecoklatan) sehingga
chrysophta sering disebut sebagai alga keemasan atau alga kuning
3. Memiliki kloroplas yang berbentuk cakram dan berukuran kecil
4. Habitatnya ditempat yang basah dan mengandung air

2.4 Cara Perkembangbiakan Chrysophyta


1. Reproduksi Secara Aseksual (Vegetatif)
Reproduksi aseksual dilakukan cara pembelahan sel, fragmentasi dan juga
pembentukan zoospora (sporik).

 Sporik adalah cara perkembangbiakkan dengan membentuk zoospore (untuk sel-sel


yang tidak memiliki flagel) dan statospora. Statospora yaitu tipe spora paling unik yang
diketemukan pada chrysophyta, khususnya pada kelas-kelas chrysophyceae dengan
bentuk sporis dan bulat. Dinding spora bersilia, tersusun oleh dua bagian yang saling
tumpang tindih, mempunyai lubang atau pora yang ditutupi oleh sumbat yang
mengandung gelatin.
 Fragmentasi merupakan reproduksi aseksual dimana koloni memisah menjadi dua
bagian atau lebih. Sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian membentuk koloni
yang baru
 Selain pembentukan zoospora, ada juga spesies Chrysophyta yang reproduksi
aseksualnya dengan cara membelah diri seperti pada Ochromonas. Pada proses
membelah diri, setelah intinya menjadi dua, maka tutup dan wadah mulai berpisah dan

5
masing-masing membawa spora dari protoplasma. Masing-masing dari pembelahan itu
membuat dinding baru yang menjadi wadah-wadah baru. Dengan cara membelah diri
ini maka spesies yang dihasilkan selalu sama besarnya dengan induknya tetapi ada
spesies yang menjadi lebih kecil (Sachlan 1990).
2. Reproduksi Secara Seksual (Generatif)
Reproduksi seksual pada Chrysophyta yaitu dengan oogami dan kojugasi.
 Dengan cara oogami, yaitu dengan membentuk oogonia (pembentuk gamet betina) dan
anteridia (pembentuk gamet jantan) pada filamen yang sama. Sel telur yang dihasilkan
berukuran besar dengan satu inti yang mengandung klorofil. Sperma yang dihasilkan
anteridia mempunyai flagela yang kecil. Setelah terjadi pembuahan akan terbentuk
zigot. Setelah dilepaskan dari induknya, zigot siap tumbuh membentuk filamen baru.
Proses reproduksi oogami ini dilakukan oleh kelas Xantophyceae.
 Jika ukuran Chrysophyta kecil dan tidak memungkinkan untuk membelah, maka
gumpalam protoplasma hasil dari bercampurnya 2 protoplasma akan membesar sampai
ukuran protoplasma sama seperti ukuran induknya. Proses reproduksi konjugasi ini
dilakukan oleh ordo Navicula.

2.5 Klasifikasi Chrysophyta


1. Bacillariophyceae (Diatomeae)
Bacillariophyceae atau Diatomeae adalah jasad renik bersel satu yang masih dekat
dengan flagellatae. Bentuk sel macam-macam, semuanya dapat dikembalikan ke dua
bentuk dasar yaitu bentuk bilateral dan yang sentrik. Dinding sel mempunyai bentuk sel
yang khusus dan mengandung pectin dan di sebelah luarnya terdapat silikat. Adapun bagian
dari dinding sel ini adalah sebagai berikut :
a) Dinding sel bagian dasar disebut hipoteka (hypotheca ; hype=bawah, theca=cawan,
mangkok)
b) Dinding sel bagian atas atau penutup disebut epiteka (epitheca ; epi=atas,
theca=cawan, mangkok)

Sel diatomeae mempunyai inti dan kromatofora berwarna kuning-coklat yang


mengandung klorofil-a, karotin, santofil dan karotenoid lainnya yang sangat menyerupai

6
fikosianin. Di dalamnya terdapat pirenoid, tetapi tidak dikelilingi oleh tepung. Hasil-hasil
asimilasi ditimbun di luar kromatofora berupa tetes-tetes minyak dalam plasma (vakuola),
dan kadang-kadang leukosin.

Pada Diatomeae perkembangbiakan terjadi dengan cara membelah diri,


pembentukan auksospora, secara seksual dengan oogami. Tempat hidup dari alga ini
terdapat di perairan yang tawar, air laut diatas tanah-tanah yang basah. Cara hidupnya ada
yang membentuk koloni ada pula yang soliter.

Permukaan atas dari bagian cawan algae diatomeae memiliki alur yang teratur,
tampak sebagai garis-garis. Berdasarkanbentuknya, maka algae ini dapat dibagi menjadi
dua ordo yaitu : Bangsa Pennales dan bangsa Centrales.

a) Ordo Pennales
Ordo Pennales memiliki bentuk batang, seperti perahu atau pahat.
Organisme ini bergerak merayap maju mundur, yang mungkin karena pergeseran
anatra alas dan arus plasma ekstraseluler pada rafe. Organisme ini pula biasanya
melekat pada tumbuh-tumbuhan air. Perkembangbiakan seksual berlangsung
dengan cara isogami. Contoh : Pinnularia dan Navicula
b) Ordo Centrales
Hidup dalam laut, merupakan salah satu penyusun plankton. Memiliki alur
yang memusat (central) pada permukaan cawannya. Hal ini berkaitan dengan cara
hidupnya yakni supaya memudahkan untuk melayang di dalam air, terdapat alat-
alat melayang yang berupa duri atau sayap, atau dengan perantaraan lender.
Perkembangbiakannya dapat membelah diri, oogami, serta pembentukan
auksospora. Contoh : Melosira dan Cyclotella.

Berdasarkan cara hidupnya diatom dikelompokkan menjadi dua kelompok


besar, yaitu :
a. Diatom Bentos
Diatom bentos pada umumnya hidup bercampur dengan lumpur atau
menempel pada substrat di dasar perairan, misalnya Cymbella, Gomphonema,
Cocconeis, dan Eunotia.

7
b. Diatom Plankton
Diatom plankton biasanya hidup melayang-layang bebas di perairan, baik
air tawar maupun air laut. Di air tawar diatom dapat ditemukan di sungai, danau,
kolam, rawa-rawa, dan ada juga yang bisa ditemukan di perairan yang suhunya
mencapai 45 0C. Beberapa diatom hidup sebagai epifit pada alga lain atau tanaman
air.

Gambar 1. Bacillariophyceae
diatoms

2. Xanthophyceae

Alga ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) maka
disebut alga hijau kuning. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang
berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan
disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya
terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang
dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru.
Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora. Zoospora terlepas dari
induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.

Xanthophyceae banyak ditemukan hidup di air tawar, air laut dan tanah. Susunan
tubuhnya mempunyai 3 bentuk yaitu berbentuk sel tunggal (contohnya Botrydiopsis),
berbentuk filament (contohnya Tribonema) dan yang terakhir berbentuk tubular
(contohnyavaucheria).

Ciri-ciri kelas xantophyceae, yaitu :

1. Uniseluler dan koloni dengan dinding silikat


2. Susunan tubuh :

8
- Berbentuk sel tunggal, contoh: botrydiopsis
- Berbentuk filament, contoh: tribonema
- Berbentuk tubular, contoh: vaucheria
3. Umumnya tidak memiliki dinding sel, bila mempunyai dinding sel, terdiri dari
pectin dan silikon (SiO3). Terdiri dari dua bagian yang saling menutupi, seperti
pada tribonema sp.
4. Alat gerak berupa dua buah flagel.
5. Isi sel berbentuk tunggal dan banyak inti, terdapat plastid berbentuk cakram tanpa
pirenoi.
6. Habitat umumnya pada semua situasi air, tetapi terutama dalam air dingin.
7. Cadangan makanan berupa Chrysolaminarin (dimodifikasi laminarin) dan minyak.

Gambar 2. Vaucheria sp

Xantophyceae dibagi kedalam 4 ordo, yaitu :

1. Ordo Botrydiales bentuk tubuhnya berupa sel tunggal, contohnya : Botrydium,


Asterosiphon.

2. Ordo Mischococcales, contohnya : Mischococcus, Pleurochloris.

3. Ordo Tribonematales bentuk tubuhnya berupa filament, contohnya : Heterococcus,


Tribonema.

4. Ordo Vaucheriales berbentuk tubular contohnya : Vaucheria.

3. Chrysophyceae

Chrysophyceae mempunyai pigmen keemasan yang sering disebut dengan karoten,


klorofil a, b, dan c, beta karoten, xantofil berupa lutein, dindinoxantin, fukoxantin, dan

9
dinixantin. Contoh ochromonas. Ochromonas sel tubuhnya berbentuk bola yang dlengkapi
dengan 2 flagel yang digunakan sebagai alat gerak. Kedua flagel tersebut panjangnya tidak
sama. Di dalam sitoplasmanya terdapat beberapa organel penting seperti kloroplas yang
berbentuk lembaran melengkung, vakuola, stigma dan nucleus.

Chrysophyceae kebanyakan hidup di air laut atau air tawar. Susunan tubuhnya ada
yang berbentuk sel tunggal (contohnya Ochromonas) dan ada yang berbentuk koloni
(contohnya Synura).

Ciri-ciri kelas chrysophyceae, yaitu :

1. Chrysophytes dengan kloroplas emas-coklat, berisi klorofil a dan c, dan mayoritas


carotenes dan xanthophylls, termasuk fucoxanthin.
2. Susunan tubuh berbentuk sel tunggal dan berbenruk koloni
3. Umumnya tidak mempunyai dinding sel, terdiri dari: lorika, contoh: Sinura dan
Mallomonas atau bisa juga tersusun dari cakram kalsium karbonat. Contoh
Spyracospaera.
4. Alat gerak terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga, contoh: Synura, dan
Syracosphaera, mempunyai dua flagel yang sama panjangnya. Dinobryon dan
Ocromonas, mempunyai dua flagel yang tidak sama panjangnya. Chrysamoeba,
memiliki satu flagel.
5. Berinti tunggal, plastida terdiri dari satu atau dua, pigmen berupa klorofil a, b, dan c.
Beta karotin, xantofil, berupa lutein, diadinixantin, fukoxantin, dan dinoxantin.
6. Habitatnya terutama pada air tawar yang dingin.
7. Cadangan makanan termasuk Chrysolaminarin, yang dimodifikasi laminarin (leucosin)
dan minyak.

Gambar 3. Synura sp

10
2.6 Habitat Chrysophyta
Ganggang keemasan sebagian besar hidup di air tawar tetapi ada juga yang hidup di air
laut dan ada yang hidup di tanah. Meskipun ada anggota Chrysophyta yang hidup di laut,
reproduksinya dilakukan secara aseksual dengan pembelahan biner. Pada ganggang uniseluler
reproduksi atau perkembangbiakan dilakukan dengan pembentukan spora. Sedangkan pada
ganggang yang multiseluler reproduksi seksualnya dilakukan melalui penyatuan dari jenis
gamet. Contoh dari ganggang keemasan atau ganggang pirang adalah Navicula, Synura, dan
Nishoous.

2.7 Manfaat Chrysophyta


- Diatom (Navicula) yang telah mati dan mengendap di dasar laut membentuk endapan tanah
yang bermanfaat sebagai bahan penggosok, penyekat dinamit, bahan pembuatan cat,
pernis, bahan dasar industri kaca, penyaring dan piringan hitam.
- Diatom sebagai sumber vitamin A dan D.
- Diatom sebagai produsen utama terpenting di lautan karena mengandung B karotin dan
cadangan makanan berupa lemak.
- Genus Cocolith yang berada di laut yang tidak begitu dalam dari kelas Chrysophycae
berguna sebagai makanan ikan.
- Bacillariophyta digunakan sebagai bahan agar-agar, kosmetik dan sup.
- Pada Vaucheria, cadangan makan disimpan dalam bentuk minyak, sehingga organisme ini
merupakan komponen utama dalam pembentukan minyak bumi.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Chrysophyta kebanyakan hidup di air laut atau air tawar. Susunan tubuhnya ada yang
berbentuk sel tunggal (contohnya ochromonas) dan ada yang berbentuk koloni (contohnya
synura). Umumnya ganggang ini tidak mempunyai dinding sel. Bila mempunyai dinding sel,
biasanya terdiri dari lorika atau bisa juga tersusun dari lempengan silicon atau bisa juga dari
cakram kalsim karbonat. Ganggang jenis ini mempunyai alat gerak yang berupa flagella yang
tidak sama jumlahnya tiap marga Cadangan makanan berupa tepung krisolaminarin.
Alga ini memiliki pigmen keemasan (karoten) dan klorofil. Tubuh ada yang bersel satu,
contohnya Ochromonas dan bentuk koloni contohnya Synura. Ochromonas Sel tubuhnya
berbentuk bola yang dilengkapi dengan 2 flagel sebagai alat gerak. Kedua flagel tersebut tidak
sama panjang. Di dalam sitoplasmanya terdapat beberapa organel penting, seperti kloroplas
yang berbentuk lembaran melengkung, vakuola, stigma, dan nukleus. Ochromonas
berkembangbiak dengan membelah diri.

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, hal ini disebabkan karena
keterbatasan pengetahuan, kemampuan serta pengalaman yang penulis miliki. Untuk itu
penulis menunggu saran atau koreksi dari semua pihak, untuk perbaikan di masa yang akan
datang.

12
DAFTAR PUSTAKA

Kasrina, Sri Irawati dan Wahyu E Jayanti. 2012. Ragam Jenis Mikroalga Di Air Rawa Kelurahan
Bentiring Permai Kota Bengkulu Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi. Jurnal Exacta,
Vol. X No. 1 Juni 2012 : Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu Jalan Raya Kandang Limun
Bengkulu.

M. Sachlan. 1980. Planktonologi. Semarang: Jurusan perikanan Fakultas Peternakan dan


Perikanan Universitas Diponegoro

Nuraeni, E. 2010. Panduan Praktikum Chrysophyta Mata Kuliah Botany Cryptogamae.


http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197606052001122-
ENI_NURAENI/BAHAN_AJAR/CHRYSOPHYTA.pdf
Yulianti, 2006. Pengantar Biologi Laut. Erlangga: Jakarta.

13