Anda di halaman 1dari 5

1.

Pemikiran atau inti ajaran tasawuf ibn Arabi

a. Wahdat al - Wujud

Sebagaimana doktrin doktrin beliau dalam kitab Futuhad Al-Makkiyah


dan Fushush Al-Hikam esensi KeTuhanan bagi ibnu Arabi adalah segala yang
ada yang bisa dipandang dari dua aspek: (1) sebagai esensi murni,tunggal dan
tanpa atribut( sifat); dan (2) sebagai esensi yang dikaruniai atribut.Tuhan,karena
dipandang tidak beratribut,berada di luar relasi dan karenanya juga di luar
pengetahuan. Dalam esensi - Nya Tuhan terbebas dari penciptaan,tetapi dalam
keTuhanan-Nya,Tuhan membutuhkannya.Eksistensi Tuhan adalah absolut,
ciptaannya ada secara relatif,dan yang muncul sebagai relasi realitas adalah
wujud nyata yang terbatasi dan terindividualisasi. Karenanya segala sesuatu
adalah atribut Tuhan dan dengan demikian semua pada akhirnya identik dengan
Tuhan,tanpa memandang bahwa semua itu sebenarnya bukan apa apa. [9]

Ibn Arabi memandang manusia dan alam sebagai cermin yang


memperlihatkan Tuhan dan berkata bahwa sang penerima berasal dari nol sebab
ia berasal dari emanasi-Nya yang paling suci karena seluruh kejadian
(eksistensi) berawal dan berakhir bersama-Nya: kepada-Nya ia akan
kembali dan dari-Nya ia berawal.[10]

Ketika Tuhan berkehendak dengan nama nama bagus-Nya(sifat sifat)


yang berada di luar hitungan, esensinya bisa dilihat. Dia menyebabkan nama
nama itu bisa dilihat dalam sebuah wujud mikrokosmik yang karena dikaruniai
eksistensi meliputi seluruh obyek penglihatan dan melaluinyalah kesadaran
terdalam Tuhan menjadi termanifestasikan di hadapan-Nya [11]

Menurut Ibnu Arabi wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud
makhluk pada hakikatnya adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara
keduanya dari segi hakikat.Adapun kalau ada yang mengira bahwa antara
wujud khaliq dan makhluk ada perbedaan ,hal itu dilihat dari sudut pandang
panca indra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap
hakikat apa yang ada pada Dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu
berhimpun pada-Nya.[12]

Menurutnya wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah
adalah hakikat alam.Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang
disebut Khaliq dan wujud baru yang disebut makhluk.Kalau antara Khaliq dan
makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa terlihat dua? Ibnu Arabi menjawab
sebabnya adalah tidak memandang dari sisi yang satu tetapi memandang
keduanya dengan pandangan bahwa keduanya adalah Khaliq dari sisi yang satu
dan makhluk dari sisi yang satu [13]

Satu satunya wujud adalah wujud Tuhan,tidak ada wujud selain


wujudNya. Ini berarti apa pun selain Tuhan baik berupa alam maupun apa saja
yang ada di alam tidak memiliki wujud .Kesimpulannya kata wujud tidak
diberikan kepada selain Tuhan. Akan tetapi kenyataannya Ibnu Arabi juga
menggunakan kata wujud untuk menyebut sesuatu selain Tuhan.Namun ia
mengatakan bahwa wujud itu hanya kepunyaan Tuhan sedang wujud yang ada
pada alam hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya..Untuk
memperjelas uraiannya ibnu Arabi memberikan contoh berupa cahaya. Cahaya
hanya milik matahari ,tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni
bumi. Ibn Al Arabi mengemukakan teori tajalli yang berarti menampakkan
diri.Tajalli artinya Allah menampakkan diri atau membuka diri,jadi
diumpamakan Allah bercermin sehingga terciptalah bayangan Tuhan dengan
sendirinya.Dengan teori ini makhluk adalah bayang bayang atau pencerminan
Tuhan di mana Tuhan dapat melihat dirinya sendiri tanpa kehilangan
sesuatupun.Artinya tetap dalam kemutlakannya

Lebih lanjut Ibnu arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan


alam .menurutnya alam adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang
hakiki dan alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya.Oleh karena itu alam
tempat tajali dan mazhar(penampakan Tuhan) Menurutnya ketika Allah
menciptakan alam ini. Ia juga memberikan sifat sifat keTuhanan pada segala
sesuatu .Alam ini seperti cermin yang buram dan seperti badan yang tidak
bernyawa.oleh karena itu Allah menciptakan manusia untuk memperjelas
cermin itu.Dengan pernyataan lain alam ini merupakan mazhar(penampakan
)dari asma dan sifat Allah yang terus menerus. Tanpa alam sifat dan asma_nya
akan kehilangan makna dan senantiasa dalam bentuk dzat yang tinggal dalam
ke- mujarrad-an (kesendirian)-Nya.yang mutlak yang tidak dikenal oleh
siapapun. [14]

Sementara permasalahan Tasybih dan Tanzih Ibn Arabi berpendapat


bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesucian
Allah dari segala sifat yang baru) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan
yang baru) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah
harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip
perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan
menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang
menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi
kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti
yang dilakukan ole kalangan Mu’tazilah yang melucuti Tuhan dari segala sifat,
hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Hal ini
mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika
hanya mengenal Allah dalam aspek
tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatk
an keserupaan Tuhan dengan yag baru.

Untuk memperkuat pendapatnya beliau merujuk pada sebuah hadis Qudsi

Artinya:

Aku pada permulaaanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi,kemudian


Aku ingin dikenal ,maka Ku ciptakan makhluk.lalu dengan itulah mereka
mengenal aku

b. Haqiqah Muhammadiyah

Konsep haqiqah Muhammadiyah ini lanjutan dari konsep Wahdat al -


Wujud.Ibnu arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan
dari ajaran haqiqah Muhammadiyah atau Nur Muhammad .Menurutnya tahapan
tahapan kejadian proses penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran
itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu dzat yang mandiri dan
tidak berhajat kepada suatu apapun.

Kedua, wujud haqiqah Muhammadiyah sebagai emanasi (pelimpahan )


pertama dari wujud Tuhan dan dari sini muncul segala wujud dengan proses
tahapan tahapannya.Selanjutnya beliau mengatakan bahwa Nur muhammad itu
qadim dan merupakan sumber emanasi degan berbagai macam kesempurnaan
ilmiah dan amaliah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam
sampai Muhammad dan merealisasikan dari Muhammad pada diri pengikutnya
dari kalangan para wali dan person person insan kamil. [15]

Dalam teori penciptaan ini Ibnu Arabi menganut faham tajalli atau
tanazul(menampakkan diri). Dalam pandangan ibnu arabi bahwa Nur
Muhammad (haqiqah muhammadiyah) adalah tahapan pertama dari tahapan
tahapan tanazul zat Tuhan dalam bentuk bentuk wujud. Dari haqiqah
muhammadiayah segala yang maujud dijadikan. Dengan demikian penciptaan
alam semesta ini termasuk manusia dalam teori ibnu Arabi berasal dari zat
Tuhan sendiri kemudian bertanazul kepada haqiqah muhammadiyah sebagai
tanazul tingkat pertama yang dari padanya melimpah wujud wujud yang
lain.[16]

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat (penampakan) Allah pada lingkaran


wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan
keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah
habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang
tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin
membuka perbendaharaan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq
tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan
dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.
Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat:

1). Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) Tajalliyat Wujudiya Zatiya


yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal
ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan
Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat,
nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal
dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib,
sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul
darinya hakikat keberadaan yang mutlak.

2). Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah


dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya
(asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal
dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlak
dalam hiasan kesempurnaan.Inilah yang dikenal dengan Haqiqat
Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada
rahasia gaib yang mutlak dengan jalan faid al-aqdas (atau limpahan yang
paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini
tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat
Allah.
3). Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq
dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar
(A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal
dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan
limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada
gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun
yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.[17]

c. Wahdat al - adyan (kesamaan agama)

Konsep Wahdat al- adyan juga merupakan lanjutan tentang konsep


Wahdat al -Wujud. Ibnu arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu,
yaitu hakikat Muhammadiyyah.Konsekuensinya semua agama(baca: agama
samawi.red) adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seorang yang
benar benar arif adalah orang yang menyembah Allah dalam setiap bidang
kehidupannya.Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ibadah yang benar
hendaknya seorang abid memandang semua apa saja sebagai bagian dari ruang
lingkup realitas dzat Tuhan yang Tunggal.

Banyak penulis yang tidak sepakat tentang konsep wahdat al – adyan


yang menganggap agama adalah sama. Setiap agama berbeda jadi Tuhannya
seorang yang beda agama tidak bisa dijadikan Tuhan seseorang yang beragama
lain,terlebih lebih agama ardhi yang merupakan hasil budaya manusia tidak bisa
disamakan dengan Allah.