Anda di halaman 1dari 15

KEPUTUSAN

KEPALA PUKESMAS PENGADEGAN


Nomor :445/007/SK/2016

TENTANG
KEBIJAKAN PENUNJANG PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS
PENGADEGAN

KEPALA PUSKESMAS PENGADEGAN

Menimbang : a. bahwa pelayanan klinis Puskesmas dilaksanakan sesuai


kebutuhan pasien
b. bahwa pelayanan klinis Puskesmas perlu memperhatikan
mutu dan keselamatan pasien
c. bahwa untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan sesuai
kebutuhan pasien, bermutu, dan memperhatikan
keselamatan pasien, maka perlu disusun kebijakan
penunjang pelayanan klinis di Puskesmas Pengadegan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
tahun 2014, tentang Puskesmas;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46
tahun 2015, tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
741/MENKES/SK/X/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG KEBIJAKAN


PENUNJANG PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS
PENGADEGAN.

Kesatu : Kebijakan penunjang pelayanan klinis di Puskesmas


Pengadegan sebagaimana tercantum dalam Lampiran
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat
keputusan ini.
Kedua : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian hari
terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan/perubahan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Pengadegan
pada tanggal :
KEPALA PUSKESMAS
PENGADEGAN,

Silas Asih Subekti


LAMPIRAN KEPUTUSAN
KEPALA PUSKESMAS
NOMOR : 445/007/SK/2016
TENTANG : KEBIJAKAN
PENUNJANG PELAYANAN
KLINIS PUSKESMAS
PENGADEGAN

A. PELAYANAN LABORATORIUM
1. Jenis-jenis pelayanan laboratorium yang disediakan di Puskesmas
Pengadegan meliputi :
1) Pemeriksaan darah rutin
2) Pemeriksaan widal
3) Pemeriksaan BTA
4) Pemeriksaan protein urin
5) Pemeriksaan glukosa stik
6) Pemeriksaan glukosa photometer
7) Pemeriksaan asam urat stik
8) Pemeriksaan asam urat photometer
9) Pemeriksaan cholesterol stik
10) Pemeriksaan cholesterol photometer
11) Pemeriksaan golongan darah
12) Pemeriksaan hemoglobin sahli
13) Pemeriksaan hemoglobin cyanmeth
14) Pemeriksaan hemoglobin stik
15) Pemeriksaan tes kehamilan
16) Pemeriksaan malaria
17) Pemeriksaan urin rutin

2. Pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh petugas yang kompeten, yaitu:


analis kesehatan dan petugas dengan minimal lulusan SMU dan telah
mendapat pelatihan dalam pemeriksaan laboratorium
3. Hasil pemeriksaan harus diinterpertasi oleh petugas yang terlatih
4. Pemeriksaan laboratorium untuk tiap-tiap jenis pemeriksaan harus
dipandu dengan prosedur mulai dari permintaan pemeriksaan,
penerimaan spesimen, pengambilan dan penyimpanan spesimen,
pemeriksaan sampai penyerahan hasil
5. Laboratorium puskesmas pengadegan tidak melayanai permintaan
pemeriksaan di luar jam kerja.
6. Untuk pemeriksaan kasus-kasus berisiko tinggi diatur sebagai berikut :
1) Untuk semua kasus yang dilakukan pemeriksaan laboratorium
diperlakukan sebagai kasus beresiko tinggi. Petugas wajib
memakai APD dengan lengkap.
2) Untuk pemeriksaan pasien dengan riwayat penyakit hepatitis B,
HIV / AIDS, dan TBC maka petugas laboratorium wajib
menggunakan APD selama pengambilan spesimen dan proses
pemeriksaan laboratorium. APD yang wajib digunakan adalah
masker, sarung tangan, serta baju laboratorium. Spesimen yang
diambil juga disimpan dengan penandaan kasus resiko tinggi.
Pemusnahan sisa spesimen resiko tinggi dilakukan sesuai
standar.
7. Petugas pemeriksa laboratorium wajib menggunakan APD
8. Bahan-bahan berbahaya beracun harus disimpan secara aman menurut
ketentuan yang berlaku
9. Limbah laboratorium sebagai akibat pemeriksaan laboratorium harus
dikelola sebagai limbah infeksius
10. Reagensia harus tersedia sesuai dengan jenis pemeriksaan yang
disediakan
11. Reagensia harus disimpan dengan pelabelan yang jelas dan pada tempat
dan suhu sesuai dengan ketentuan yang berlaku
12. Ketersediaan reagen wajib dievaluasi paling lambat setiap bulan sekali
13. Hasil pemeriksaan laboratorium harus diserahkan sesuai dengan waktu
yang telah ditetapkan sebagai berikut:

NO JENIS PEMERIKSAAN WAKTU PEMERIKSAAN


( MENIT )

1. HB Sahli 30

2. HB Cyanmeth 60

3. HB Stik 30

4. Darah Rutin 60

5. Widal 60

6. Malaria 120

7. Glukosa ( stik ) 30

8. Glukosa ( Photometer ) 60

9. Asam Urat ( stik ) 30

10. Asam Urat ( Photometer ) 60

11. Cholesterol ( stik ) 30

12. Cholesterol ( Photometer ) 60

13. BTA 120

14. Tes Kehamilan 30

15. Protein Urine 30

16. Urine Rutin 60

17. Golongan Darah 30


18. Administrasi 10

14. Laporan hasil pemeriksaan laboratorium harus dilengkapi dengan nilai


normal
15. Hasil pemeriksaan laboratorium kritis harus disampaikan segera kepada
tenaga kesehatan yang meminta dalam batas waktu paling lambat satu
jam setelah hasil diperoleh dengan acuan sebagai berikut:

NO JENIS NILAI NORMAL NILAI KRITIS


PEMERIKSAAN
1. HB Pria : 13 – 16 g/dl HB < 5,0 g/dl
Wanita : 12 – 14 g/dl HB > 20 g/dl

2. Leukosit 5000 – 10000/mm3 >20000/mm3

3. Trombosit 150000 – 400000/mm3 <100000/mm3

4. Malaria Negatif Positif

5. GDS 70 – 150 mg/dl >500 mg/dl

6. Asam Urat Pria : 3,4 – 7,0 mg/dl >10 mg/dl


Wanita : 2,4 – 5,7 mg/dl

7. Cholesterol 130 – 200 mg/dl >300 mg/dl

8. Protein Urine Negatif 2+

9. Widal Negatif >1/360

10. BTA Negatif 1+

16. Harus dilakukan kendali mutu pelayanan laboratorium dengan


pemantapan mutu internal dan pemantapan mutu eksternal
17. Program peningkatan mutu pelayanan laboratorium harus disusun dan
merupakan bagian tidak terpisahkan dari program peningkatan mutu
puskesmas dan keselamatan pasien
18. Risiko dalam pelayanan lobaratorium harus diidentifikasi dan ditindak
lanjuti

B. PENGELOLAAN OBAT:
1. Obat harus tersedia di puskesmas sesuai dengan formularium
puskesmas
2. Yang berhak menulis resep adalah dokter dan perawat / bidan yang
sudah diberikan pendelegasian wewenang dari dokter
3. Yang berhak menyiapkan obat adalah apoteker dan asisten apoteker
yang sudah diberikan pendelegasian wewenang
4. Ketersedian obat wajib dievaluasi setiap bulan sekali
5. Obat kadaluwarsa tidak boleh diberikan pada pasien, untuk selanjutnya
diatur dalam prosedur tersendiri.
6. Pemberian Obat narkotika dan psikotropika , diatur sebagai berikut:
a. Peresepan obat narkotika dan psikotropika hanya bolah dilakukan
oleh dokter
b. Penyimpanan obat narkotika dan psikotropika harus dilakukan dengan
sistem dua kunci dimana masing – masing kunci dipegang oleh orang
yang berbeda. Kunci pertama dipegang oleh apoteker, dan kunci
kedua dipegang oleh asisten apoteker. Untuk mengambil obat
narkotika dan psikotropika harus dengan persetujuan kedua orang
pemegang kunci.
7. Jika ada obat yang dibawa oleh pasien, maka obat harus diidentifikasi
dan ditindaklanjuti sesuai dengan instruksi dokter
8. Penyediaan obat dilakukan oleh tenaga farmasi atau tenaga tehnis
kefarmasian dengan memperhatikan higiene dan kebersihan
9. Penyimpanan obat dilakukan sesuai dengan ketentuan penyimpanan tiap-
tiap obat
10. Penyampaian obat pada pasien harus disertai label yang berisi minimal:
nama pasien, tanggal etiket , aturan pakai, cara pemakaian, dan waktu
menggunakan
11. Pemberian obat harus memperhatikan ada tidaknya riwayat alergi,
interaksi obat, dan efek samping obat
12. Efek samping obat harus dilaporkan dan ditindak lanjuti, dan dicatat
dalam rekam medis
13. Jika terjadi kesalahan dalam pemberian obat maka harus dilaporkan dan
ditindak lanjuti
14. Obat-obat emergensi harus tersedia di tempat pelayanan untuk
mengatasi jika terjadi kedaruratan dalam pelayanan kesehatan
15. Obat emergensi harus disegel, dimonitor penggunaannya, dan segera
diganti jika digunakan dan disegel kembali oleh petugas farmasi

C. PELAYANAN RADIODIAGNOSTIK

Di puskesmas Pengadegan tidak dilakukan pelayanan radiodiagnostik

D. PENGELOLAAN INFORMASI DAN REKAM MEDIS

1. Kode klasifikasi diagnosis menggunakan ICD X


2. Kode klasifikasi tindakan menggunakan ICD IX
3. Singkatan yang boleh digunakan dalam pelayanan di puskesmas sebagai
mana pada lampiran
4. Petugas puskesmas yang boleh mengakses rekam medis adalah:
a. Dokter umum
b. Dokter gigi
c. Perawat
d. Bidan
e. Petugas farmasi
f. Tenaga kesehatan masyarakat
g. Tenaga gizi
h. Tenaga kesehatan lain
i. Petugas pendaftaran

5. Jika ada mahasiswa atau peneliti yang membutuhkan akses terhadap


rekam medis harus mendapat persetujuan dari Kepala Puskesmas,
sesuai prosedur yang berlaku dan wajib menjaga kerahasiaan.

6. Rekam medis pasien diidentifikasi dengan cara penomoran sebagai


berikut:
a. Nomor rekam medis pasien terdiri dari 6 digit nomor
b. Dua digit pertama menunjukkan kode desa
c. Empat digit selanjutnya menunjukkan nomor kartu
7. Rekam medis disimpan dengan aturan sebagai berikut :
a. Rekam medis pasien disimpan sebagai family folder
b. Family folder diberi identitas sesuai identitas kepala keluarga, yaitu
nama, tanggal lahir, alamat, dan nomor rekam medis.
c. Family folder disimpan di rak sesuai kode desa
d. Family folder diatur berjajar sesuai urutan nomor kartu berobat
8. Masa retensi rekam medis adalah sebagai berikut :
a. Rekam medis disimpan selama 5 tahun
b. Resume rekam medis disimpan selama 25 tahun
c. Rekam medis pasien yang meninggal dunia tidak boleh dimusnahkan
9. Isi rekam medis mencakup :
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu pasien datang
c. Hasil anamnesa pasien, atau sekurang – kurangnya berisi keluhan
utama pasien
d. Hasil pemeriksaan fisik pasien
e. Diagnosis
f. Rencana tata laksana pasien
g. Pengobatan / tindakan yang dilakukan
h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
i. Untuk pasien gigi dilengkapi dengan odontogram gigi
j. Persetujuan tindakan bila diperlukan
k. Tanda tangan dokter umum / dokter gigi / tenaga kesehatan lain

Untuk pasien gawat darurat ditambah dengan :

a. Kondisi saat pasien datang


b. Identitas pengantar
c. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan gawat
darurat
d. Sarana transportasi yang digunakan saat meninggalkan pelayanan
gawat darurat
10. Kelengkapan isi rekam medis harus dievaluasi dan ditindak lanjuti

E. MANAJEMEN LINGKUNGAN
1. Kondisi fisik bangunan dan lingkungan puskesmas wajib dipantau secara
rutin
2. Prasarana puskesmas, yang meliputi air, linstrik, Wi fi, komputer dan
pengeras suara harus dipantau secara periodik, dipelihara, dan diperbaiki
dan dipastikan berfungsi
3. Hasil pemantauan, pemeliharaan, dan perbaikan harus didokumentasikan
4. Bahan dan limbah berbahaya harus diidentifikasi, disimpan dengan
benar, dimonitor penyimpanan dan penggunaannya, dan ditindak lanjuti
5. Harus disusun program menjamin lingkungan puskesmas yang aman
meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pendidikan dan pelatihan,
pemantauan dan evaluasi
6. Harus disusun program pemeliharaan peralatan, meliputi perencanaan,
pelaksanaaan, monitoring, evaluasi dan tindak lanjut
7. Peralatan yang perlu dikalibrasi harus dikalibrasi tepat waktu
8. Peralatan steril harus disterilkan dengan prosedur yang benar

F. MANAJEMEN SDM YANG BEKERJA DALAM PELAYANAN KLINIS


1. Pola ketenagaan SDM klinis harus disusun berdasar analisis kebutuhan
SDM
2. Kredensial harus dilakukan untuk setiap tenaga klinis
3. Tenaga klinis yang bekerja di puskesmas harus mempunyai surat ijin
yang berlaku
4. Evaluasi kinerja tenaga klinis harus dilakukan secara berkala paling
lambat satu tahun sekali
5. Peluang untuk melakukan pendidikan dan pelatihan harus diinformasikan
kepada tenaga klinis
6. Tiap tenaga klinis harus mempunyai uraian tugas dengan kejelasan
kewenangan klinis untuk masing-masing petugas
7. Pelaksanaan uraian tugas dan wewenangan setiap tenaga klinis harus
dievaluasi dan ditindak lanjuti

G. KODE DIAGNOSIS BERDASARKAN ICD X


1. PENYAKIT INFEKSI DAN PARASIT
A 01 : DEMAM TIFOID DAN PARATIFOID
A 06 : AMOEBIASIS
A 09 : DIARE
A 15 : TB PARU BTA +
A 16 : TB PARU KLINIS
A 18 : TB EKSTRA PARU
A 54 : INFEKSI GONOKOKUS
A 90 : DEMAM DENGUE
A 91 : DEMAM BERDARAH ( DHF )
B 01 : VARICELLA
B 02 : HERPEZ
B 26 : PAROTITIS
B 50 : MALARIA FALCIPARUM
B 51 : MALARIA VIVAK
B 53 : MALARIA KLINIS
B 74 : FILARIASIS
B 80 : ENTEROBIASIS
B 86 : SCABIES
2. GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU
F 03 : DIMENTIA
F 20 : SCHIZOPRENIA
F 45 : PSIKOSOMATIS
3. GANGGUAN DARAH DAN GANGGUAN MEKANISME IMUN
D 50 : ANEMIA DEFISIENSI BESI
D 56 : THALASEMIA
4. GANGGUAN ENDOKRIN, GIZI DAN METABOLIK
E 01 : STRUMA
E 05 : HIPERTYROID
E 10 : IDDM
E 11 : NIDDM
5. GANGGUAN PADA SISTEM SYARAF
G 40 : EPILEPSI
G 43 : MIGRAIN
G 44 : SINDROMA NYERI KEPALA
6. GANGGUAN MATA DAN ADNEKSA
H 00 : HORDEOLUM DAN KALAZION
H 10 : KONJUNGTIVITIS
H 16 : KERATITIS
H 25 : KATARAK
H 40 : GLAUKOMA
H 52 : GANGGUAN REFRAKSI
H 57 : PENYAKIT MATA DAN ADNEKSA LAIN
7. GANGGUAN PADA TELINGA
H 60 : OTITIS EKSTERNA
H 66 : OTITIS MEDIA AKUT
H 91 : GANGGUAN PENURUNAN PENDENGARAN
H 93 : GANGGUAN LAINNYA PADA TELINGA
8. GANGGUAN PADA SISTEM SIRKULASI
I 10 : HIPERTENSI PRIMER
I 20 : ANGINA PECTORIS
I 50 : GAGAL JANTUNG
I 64 : STROKE
I 84 : WASIR
I 96 : HIPOTENSI
9. GANGGUAN PADA SISTEM PERNAPASAN
J 00 : NASOPHARINGITIS AKUT ( CC )
J 01 : SINUSITIS AKUT
J 02 : PHARINGITIS AKUT
J 03 : TONSILITIS AKUT
J 11 : INFLUENZA
J 18 : PNEUMONIA
J 30 : RHINITIS
J 40 : BRONCHITIS
J 44 : CPOD
J 45 : ASMA
10. GANGGUAN PADA SISTEM PENCERNAAN
K 02 : CARIES GIGI
K 04 : PENYAKIT PULPA DAN JARINGAN PERIAPIKAL
K 05 : GINGGIVITIS DAN PENYAKIT PERIODENTAL
K 12 : STOMATITIS
K 29 : GASTRITIS
K 30 : DISPEPSIA
K 35 : APENDICITIS
K 40 : HERNIA INGUINALIS
11. GANGGUAN PADA KULIT DAN JARINGAN SUB KUTAN
L 02 : ABSES
L 03 : CELULITIS
L 20 : DERMATITIS ATOPIK
L 23 : DERMATITIS KONTAK ALERGI
L 40 : PSORIASIS
L 50 : URTIKARIA
L 70 : ACNE VULGARIS
12. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL DAN JARINGAN PENGIKAT
M 06 : RHEMATOID ARTHRITIS
M 10 : ASAM URAT
M 13 : ARTHRITIS LAINNYA
13. GANGGUAN PADA SISTEM GENITOURINARIA
N 17 : GAGAL GINJAL AKUT
N 18 : GAGAL GINJAL KRONIS
N 20 : UROLITHIASIS
N 30 : CYSTITIS
N 40 : BPH
N 80 : ENDOMETRIOSIS
N 92 : MENOMETRORAGHI
N 94 : DISMENORHEA
14. GANGGUAN KEHAMILAN, PERSALINAN, DAN NIFAS
O 00 : KEHAMILAM EKTOPIK
O 04 : ABORTUS
O 14 : PRE EKLAMPSI
O 15 : EKLAMPSIA
O 20 : PERDARAHAN PADA KEHAMILAN
O 21 : HIPEREMESIS GRAVIDARUM
O 42 : KETUBAN PECAH DINI
O 44 : PLASENTA PREVIA
O 48 : KEHAMILAN SEROTINUS
O 60 : PARTUS PREMATUR
15. GANGGUAN PADA KONDISI PERINATAL
P 07 : BBLR
P 21 : ASFIKSIA
P 57 : IKTERUS
16. LUKA, KERACUNAN, DAN AKIBAT LAIN
S 00 : LUKA LECET PADA PERMUKAAN KEPALA
S 06 : TRAUMA INTRAKRANIAL
S 09 : TRAUMA KEPALA
S 12 : FRAKTUR LEHER
S 19 : TRAUMA LEHER
S 29 : TRAUMA DADA
S 72 : FRAKTUR FEMUR
T 00 : LUKA LECET
T 01 : LUKA TERBUKA
T 04 : DISLOKASI
T 31 : LUKA BAKAR
T 50 : KERACUNAN OBAT
T 60 : KERACUNAN PESTISIDA
T 62 : KERACUNAN MAKANAN
V 89 : KECELAKAAN LALU LINTAS
W 19 : JATUH
W 74 : TENGGELAM

H. DAFTAR SINGKATAN DALAM PELAYANAN DI PUSKESMAS


PENGADEGAN
I. RUANG PEMERIKSAAN UMUM
ISPA : INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS
ISK : INFEKSI SALURAN KEMIH
CKR : CEDERA KEPALA RINGAN
CKS : CEDERA KEPALA SEDANG
CKB : CEDERA KEPALA BERAT
KDS : KEJANG DEMAM SEDERHANA
KDK : KEJANG DEMAM KOMPLEK
IMS : INFEKSI MENULAR SEXUAL
GO : GONORE
RA : RHEUMATHOID ARTHRITIS
OA : OSTEOARTHRITIS
HT : HIPERTENSI
DM : DIABETES MELITUS
CHF : CHRONIK HEART FAILURE
CRF : CHRONIK RENAL FAILURE
DC : DECOMPENSATED CORDIS
GGA : GAGAL GINJAL AKUT
Ca : CARCINOMA
PPOK : PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS
TBC : TUBERCULOSIS
HIV : HUMAN IMUNODEFISIENSI VIRUS
FAM : FIBRO ADENOMA MAMAE
CC : COMMON COLD
FA : FARINGITIS AKUT
TFA : TONSILOFARINGITIS AKUT
DKI : DERMATITIS KONTAK IRITAN
DKA : DERMATITIS KONTAK ALERGI
OD : OKULI DEKSTRA
OS : OKULI SINISTRA
OMA : OTITIS MEDIA AKUT
OE : OTITIS EKSTERNA
OMK : OTITIS MEDIA KRONIKA
1. RUANG OBAT
CTM : CHLORFENIRAMIN MALEATE
PCT : PARACETAMOL
AMOX : AMOXICILLIN
HCT : HIDROCHLORTIAZID
THP : TRIHEXYLPENIDIN
GG : GLISERIL GUAICOLATE
SYR : SYRUP
INJ : INJEKSI
VIT : VITAMIN
UE : USSUS EKSTERNUS
NAT DIK : NATRIUM DIKLOVENAK
BIC NAT : NATRIUM BIKARBONAT
GOM : GENTIAN VIOLET
KALK : CALCIUM LAKTAT
DZP : DIAZEPAM
TAB : TABLET
CTH : SENDOK TAKAR
C : SENDOK MAKAN
TTS : TETES
SUPP : SUPPOSITORIA ( PER ANUS )
OVULAE : PER VAGINAM
COTRI : COTRIMOXAZOLE
ERITRO : ERITROMICIN
METRO : METRONIDAZOLE
CIPRO : CIPROFLOXACINE
CEFAD : CEFADROXIL
TETRA : TETRACYCLINE
OAT : OBAT ANTI TUBERCULOSIS
2. RUANG KIA
ANC : ANTENATAL CARE
PNC : POSTNATAL CARE
MOP : METODE OPERASI PRIA
MOW : METODE OPERASI WANITA
IMP : IMPLANT
IUD : INTRA UTERIN DEVICE
AKDR : ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM
KB : KELUARGA BERENCANAN
PER : PRE EKLAMPSI RINGAN
PEB : PRE EKLAMPSI BERAT
PUKA : PUNGGUNG KANAN
PUKI : PUNGGUNG KIRI
KN : KUNJUNGAN NEONETAL
TBJ : TAFSIRAN BERAT JANIN
LETKEP : LETAK KEPALA
PRESKEP : PRESENTASI KEPALA
PRESBO : PRESENTASI BOKONG
LETSU : LETAK SUNGSANG
BALT : BALLOTEMEN
TFU : TINGGI FUNDUS UTERI
LETLI : LETAK LINTANG
DJJ : DENYUT JANTUNG JANIN
BBLR : BERAT BAYI LAHIR RENDAH
AB : ABORTUS
RISTI : RESIKO TINGGI
PP : PLASENTA PREVIA
RETPLAS : RETENSIO PLASENTA
SOLPLAS : SOLUSIO PLASENTA
3. RUANG PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT
GP : GANGREN PULPA
GR : GANGREN RADIX
PT : PERSISTENSI
IP : IRITATIO PULPA
HP : HIPEREMAX PULPA
SA : STOMATITIS AFTOSA
LUX : LUXATIO