Anda di halaman 1dari 3

Praktik Activity-Based Cost Management di India : Studi Empiris Manoj Anand*, B. S.

Sahay** & Subhashish Saha***

Pengenalan
Penerbitan buku Johnson dan Kaplan (1987) berjudul ‘Relevance Lost’ membawa sebuah
revolusi dalam sejarah akuntansi manajemen. Sistem akuntansi manajemen waktu itu gagal
untuk memberikan informasi yang relevan untuk biaya produk dan evaluasi kinerja saat
perubahan teknologi yang cepat, persaingan sengit dan revolusi pengolahan informasi.
Drucker (1992) berpendapat bahwa sistem akuntansi harus memberikan jawaban tentang
bisnis mereka, pasar, pelanggan, dan lingkungan untuk informasi terbuka bagi manajer.
Akuntan manajemen tidak hanya mengumpulkan informasi biaya selengkap mungkin, tetapi
juga untuk menganalisis utilitas informasi biaya untuk pengambilan keputusan manajerial
yang penting.

Pada pertengahan tahun 1980an, tercipta sistem activity-based cost management. Sistem ini
diklaim memiliki kemampuan menyediakan informasi biaya yang akurat sementara
menghapus distorsi dalam harga produk atau jasa dan analisis profitabilitas pelanggan di
lingkungan manufaktur yang kompleks.

Evolusi dari Activity-Based Costing


Cooper (1988b) menemukan bahwa perusahaan yang menghadapi tingkat kompetisi yang
tinggi dan memiliki campuran produk yang beragam lebih mungkin untuk mendapatkan
keuntungan dari informasi biaya yang tepat dan pengenalan dari sistem activity-based cost.
Sementara itu, Kaplan (1988) mengamati bahwa banyak perusahaan menggunakan sistem
single cost untuk memenuhi tiga ragam kebutuhan, yaitu penilaian persediaan dan pelaporan
keuangan, biaya produk/jasa/pelanggan, dan menyediakan umpan balik operasional kepada
karyawan di pabrik. Namun, ia menangkap bahwa di lingkungan manufaktur yang kompleks
dengan keragaman produk dan proses dan perhatian untuk keunggulan, sistem single cost
mungkin tidak cukup untuk semua ketiga kebutuhan tersebut.

Cooper dan Kaplan (1997, 1998) berpendapat bahwa pengendalian operasional dan sistem
activity-based cost adalah dua sistem yang terpisah karena mereka memiliki tujuan yang
berbeda dan kebutuhan yang berbeda untuk akurasi, ketepatan waktu, dan agregasi. Setiap
usaha untuk mengintegrasikan keduanya harus dibuat dengan hati-hati, jika tidak, kinerja
keduanya tidak berfungsi dengan baik.
Produk, pelanggan, dan profitabilitas unit usaha adalah tujuan sistem activity-based cost.

Isu-isu dalam implementasi Activity-Based Costing.

Sistem activity-based cost, meskipun lebih unggul dari sistem biaya tradisional, bisa juga
gagal karena proses implementasi yang tidak memadai.
Brown et al. (2004) melihat sebuah asosiasi, antara ukuran organisasi dan awal ketertarikan
dalam activity-based costing adalah signifikan.

Shields (1995) dan Shields and Young (1989) menemukan proses orientasi dan pelatihan
yang memadai kepada karyawan pada ABC, keterkaitan antara tim activity-based berorientasi
pada metrik kinerja untuk rencana kompensasi, dan pengambilan keputusan di tingkat bawah
oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan. Ulasan dari inisiatif implementasi ABC dalam
perspektif jangka panjang ini juga merupakan faktor kunci sukses penerapan ABC.

Berdasarkan temuan-temuan survei dari Cost Management Group dari institute of


Management Accountants, 1996, Krumwiede (1998) melaporkan status pengadopsian dan
faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan activity-based cost, yaitu dengan dukungan
manajemen puncak dengan kecanggihan teknologi informasinya, besarnya ukuran
perusahaan, dan integrasi dengan sistem keuangan. Penggunaan sistem activity-based cost
ditemukan berkorelasi positif dengan ukuran perusahaan. Faktor-faktor organisasi seperti
dukungan manajemen puncak, dan pelatihan, penting dalam keberhasilan implementasi
activity-based costing.

Mendukung peran proses implementasi, Anderson dan Young (1999) dalam sebuah studi
penelitian dari dua perusahaan meneliti hubungan antara sistem activity-based costing,
faktor-faktor kontekstual, dan faktor-faktor yang terkait proses implementasi ABC dengan
menggunakan proses survei dan wawancara. Mereka menemukan bahwa proses implementasi
memiliki pengaruh pada keberhasilan ABCM dan pengaturan kontekstual langsung pada
proses dan hasil.

Aplikasi dari Kegiatan berbasis biaya


Survei praktik activity-based costing Innes dan Mitchell (1995) di 251 perusahaan Inggris
yang tercantum dalam The Times 1000 (1994) menemukan bahwa 19,5% responden telah
mengadopsi ABC dan 27,1% mempertimbangkan adopsi. Tingkat adopsi di sektor non-
manufaktur tidak ditemukan secara signifikan berbeda dari yang ditemukan dalam
konsentrasi manufakur. Pengguna ABC telah mempertimbangkan penerapannya di bidang
pengurangan biaya, harga produk/jasa, pengukuran kinerja dan pemodelan biaya.

Dugdale dan Jones (1997) menindak lanjut survey Innes dan Mitchell (1995) kuesioner dari
perusahaan besar UK yang mengadopsi activity-based costing telah menemukan bahwa
hanya tiga perusahaan menggunakan ABC untuk stock penilaian dibandingkan pelaporan
pada 14 perusahaan, ketika definisi yang kuat dari ABC diterapkan.