Anda di halaman 1dari 13

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN

PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA


RS EMMA MOJOKERTO

RUMAH SAKIT EMMA MOJOKERTO


Jl.Raya Ijen No.67, Wates, Magersari
Mojokerto

Tahun 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di masa yang lampau sistem kesehatan lebih banyak berorientasi pada


panyakit yaitu hanya menunggu sampai ada yang sakit, barulah kemudian yang
bersangkutan diberi pengobatan. Dalam keadaaan yang memerlukan, si sakit dirawat di
rumah sakit. Sesudah sembuh dipulangkan, lalu kambuh dengan penyakit yang sama
sehingga yang bersangkutan dirawat kembali di rumah sakit. Demikian siklus ini
berlangsung terus, kemudian disadari, bahwa untuk memelihara kesehatan masyarakat
diperlukan sesuatu rangkaian usahayang lebih luas, dimana perawatan dan pengobatan
rumah sakit hanyalah salah satu bagina kecil dari rangkaian usaha tersebut.

Efektivitas suatu pengobatan, selain dipengaruhi oleh pola pelayanan


kesehatan yang ada serta sikap dan keterampilan para pelaksanannya, juga sangat
dipengaruhi oleh lingkungan, sikap, pola hidup pasien dankeluarganya. Selain itu,
tergantung juga pada kerjasama yang positif antara petugas kesehatan dengan pasien
dan keluarganya. Kalau pasien dan keluarganya memiliki pengetahuan tentang cara-
cara penyembuhan dan pencegahan penyakitnya, serta keluarga pasien mampu dan mau
berpartisipasi secara positif, maka hal ini akan membantu peningkatan kualitas
kesahatan masyarakat pada umumnya.
Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) berusaha mengembangkan
pengertian pasien, keluarga, dan pengunjung rumah sakit tentang penyakit dan
pencegahannya. Selain itu, PKRS juga berusaha menggugah kesadaran dan minat
pasien, keluarga, dan pengunjung rumah sakit untuk berperan secara aktif
danpositifdalam berusaha penyembuhan dan pencegahan penyakit. Oleh karena itu,
PKRS merupakan bagian yang tidak terpisah dari program pelayanan kesehatan rumah
sakit.

B. Isu Strategis
Promosi kesehatan di rumah sakit telah diselanggarakan sejak tahun
1994 dengan nama Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS). Seiring
dengan pengembangannya, pada tahun 2003, istilah PKMRS berubah menjadi Promosi
Kesehatan Rumah Sakit (PKMRS). Seiring dengan pengembangannya, pada tahun
2003, istilah PKMRS berubah menjadi promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).
Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mengembangkan PKRS seperti penyusunan
pedoman PKRS, advokasi dan sosialisasi PKRS kepada Direktur rumah sakit
pemerintah, pelatihan PKRS, pengembangan dan distribusi media serta pengembangan
model PKRS antara lain di Rumah Sakit Pasar Rebo di Jakarta dan Rumah Sakit
Syamsuddin, SH di Sukabumi. Namun pelaksanaan PKRS dalam kurun waktu lebih
dari 15 tahun belum memberikan hasil yang maksimal dan kesinambungannyadi rumah
sakit tidak terjaga dengan baik tergantung pada kuat tidaknya komitmen Direktur rumah
sakit.

Berdasarkan hal tersebut, beberapa isu strategis yang muncul dalam


promosi kesehatan di rumah sakit, yaitu:
1. Sebagian besar rumah sakit belum menjadikan PKRS sebagai salah satu
kebijakan upaya pelayanan kesahatan di rumah sakit.
2. Sebagian besar rumah sakit belum memberikan hak pasien untuk mendapatkan
informasi tentang pencegahan dan pengobatan yang berhubungan dengan
penyakitnya.
3. Sebagian besar rumah sakit belum mewujudkan tempat kerjayang aman, bersih
dan sehat.
4. Sebagian besar rumah sakit kurang manggalang kemitraan untuk meningkatkan
upaya pelayanan yang bersifat preventif dan promotif.

Keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor


574/MENKES/SK/ VI/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju
Indonesia Sehat 2010, pemberian promosi kesehatan yang menyeluruh kepada pasien
mengenai merupakan hak pasien dan kewajiban rumah sakit dan seluruh tim medis
rumah sakit. Informasi yang diberikan dapat mencakup upaya peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan kesehatan (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan
pemulihan kesehatan (rehabilitative). Promosi kesehatan harus dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan, serta dilaksanakan bersama antara unit-
unit rumah sakit yang terkait sesuai dengan keputusan menteri kesehatan Republik
Indonesia nomor 1426/MENKES/SK/XII/2006 tentang Petunjuk Teknis Promosi
Kesehatan Rumah Sakit.

Pemberian informasi medis yang menyeluruh juga dapat membantu


pasien untuk menentukan pilihan diagnostik, terapi maupun rehabilitasi yang nantinya
akan mempengaruhi prognosisnya, sehingga sejalan dengan etika kedokteran mengenai
autonomi pasien. Hal ini juga diharapkan akan membangun hubungan dokter dan rumah
sakit kepada pasien, meningkatkan mutu pelayanan serta menimbulkan rasa percaya dan
aman sehingga komplians pasien juga diharapkan akan lebih baik. Berdasarkan hal
tersebut diatas dan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan medis rumah sakit, maka
dibentuklah panitia Promosi Kesehatan oleh Rumah Sakit (PKRS).

C. Dasar Hukum

1. Undang-undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan:


a. Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang
kesehatan yang seimbang dan bertanggungjawab.

b. Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan
diterimanya dari tenaga kesehatan.

c. Pasal 10
Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upara
memperoleh lingkungan yang sehat baik fisik, biologi, maupun sosial.

d. Pasal 11
Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan,
mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi-tingginya.

e. Pasal 17
Pemerintahbertanggungjawabatasketersediaanaksesterhadapinformasi,
edukasi,
danfasilitaspelayanankesehatanuntukmeningkatkandanmemeliharaderajatkes
ehatan yang setinggi-tingginya.

f. Pasal 18
Pemerintahbertanggungjawabmemberdayakandanmendorongperanaktifmasy
arakatdalamsegalabentukupayakesehatan.

g. Pasal 47
Upayakesehatandiselenggarakandalambentukkegiatandenganpendekatanpro
motif, preventif, kuratifdanrehabilitatif yang dilaksanakansecaraterpadu,
meyeluruhdanberkesinambungan.
h. Pasal 55
1. Pemerintah wajib menentapkan standar mutu pelayanan kesehatan.
2. Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat
(1) diatur dengan peraturan peraturan pemerintah.

i. Pasal 62
1. Peningkatan kesehatan merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan
oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat untuk
mengoptimalkan kesehatan melalui kegiatan penyuluhan,
penyebarluasan informasi, atau kegiatan lain untuk menunjang
tercapainya hidup sehat.
2. Pencegahan penyakit merupakan segala bentuk upaya uang dilakukan
oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau masyarakat untuk
menghindari atau mengurangi resiko, masalah dan dampak buruk akibat
penyakit.
3. Pemerintah kota maupun pemerintah daerah menjamin dan menyediakan
fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit
4. Ketentuan berlanjut tentang upaya peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit diatur dengan peraturan Menteri.

j. Pasal 115
1. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Pemerintah Daerah wajib menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di
wilayahnya.

k. Pasal 168
1. Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efesien
diperlukan informasi kesehatan.
2. Informasi kesehatan sebagaimana dimaksudkan ayat (1) dilakukan
melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi sebagaimana
dimaskudkan pada ayat (2)diatur oleh Peraturan Pemerintah.

2. Undang-undang RI nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit:


a. Pasal 1
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayana rawat inap, rawat jalan, dan pelayanangawat darurat.

b. Pasal 4
Rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna.

c. Pasal 10, ayat 2


Bangunan rumah sakit paling sedikit terdiri atas ruang , butir m) ruang
penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit.

d. Pasal 29
Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban; butir a) memberikan informasi
yang benar tentang pelayanan Rumah sakit kepada masyarakat.
e. Pasal 32
Setiap pasien mempunyai hak, butir d) memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu sesuai dengan stadar profesi dan standar prosedur operasional.

3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 267/MENKES/SK/II/2010 tentang


Penetapan Road Map Reformasi Kesehatan Masyarakat, dimana hal ini tidak
terpisahkan dengan rencana strategis (renstra)kementerian kesehatan tahun2010-
2014. Salah satu prioritas reformasi kesehatan yang dimaksud adalah rumah sakit
Indonesia kelas dunia (World Class Hospital).

4. Peraturan Meneteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 004 tahun 2012 tentang
Pedoman Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit.

D. TARGET YANG INGIN DICAPAI


1. Terpenuhinya saran dan prasarana pelayanan komite pendidikan pasien dan
keluarga di RS.Emma dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan.
2. Terlaksananya kegiatan pelayanan pendidikan pasien dan keluarga yang
multidisiplin antar profesi dan bekerja secara interdisiplin.
3. Terlaksananya program kegiatan pelayanan dan pendidikan kesehatan guna
meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga guna mendukung akreditasi Rumah
Sakit.
II. MAKSUD DAN TUJUAN

A. MAKSUD
Dengan adanya pendidikan pasien dan keluarga, mendorong rumah sakit dalam
hal peningkatan pemahaman pasien dan keluarga dalam kesehatan serta
perbaikan peningkatan pelayanan rumah sakit.

B. TUJUAN
Melaksanakan pelayanan kesehatan yang kualitas dan bermutu tinggi.
III. SASARAN

1. Pimpinan Rumah Sakit


2. Ketua Panitia PPK
3. Kepala/Unit yang terkait dengan PPK
4. Anggota Panitia PPK
5. Pelaksanaan pelayanan yang terkait dengan program PPK (medis dan non medis)
IV. RENCANA KEGIATAN
Tabel Jadwal Kegiatan
No. KEGIATAN WAKTU
1. Rapat pokja PPK dengan TIM PPK bahasan 5 Mei 2017
telusur 1/sd 3
2. Rapat pokja PPK dengan TIM PPK bahasan 15 Mei 2017
telusur 1/sd 3
3. Rapat pokja PPK pembentukan tim PKRS 25 Mei 2017
4. Rapat tim PKRS u/persiapan penyuluhan 2 Juni 2017
(pembutan materi, leaflet dan persiapan alat
dan waktu)
4. Sosialisasi assesment kebutuhan edukasi oleh 10 Juni 2017
tim PKRS
5. Sosialisasi SOP pokja PPK 15 juni 2017
5. Rapat hasil sosialisasi tim PKRS 20 Juni 2017
6. Penyuluhan kesehatan di dalam Rs (instalansi Saat pasien masuk-
rawat inap) pasien keluar
7. Penyuluhan kesehatan di dalam Rs ( instalansi Setiap Jum’at
rawat jalan) (siang/sore)
8. Penyuluhan kesehatan diluar RS ( kelompok Setiap 1 bulan sekali di
posyandu) posyandu lansia
9. Pelaksanaan pelatihan staff terkait komunikasi September 2017
yang efektif
V. RINCIAN ANGGARANh

NO. RINCIAN SASARAN CARA PELAKSANAAN JADWAL ANGGARAN KET


KEGIATAN PELAKSAAAN
KEGIATAN KEGIATAN

KET NOMINAL

1. Rapat komite & TIM - Anggota PPK - Rapat rutin 1 bln, 3 bln, 6 Snack 120.000
PPK - Seluruh staff medis dan bln, 1th
non medis - Rapat isidentil Snack 85.000

2. Sarana & prasarana - Pembelian ATK Pemenuhan 500.000


pokja PPK - Pengadaan laptop dan sarana dan
printer prasarana 4.000.000
- Pembuatan leaflet 500.000
- Pengadaan LCD
800.000

3. Sosialisasi SOP PPK - Seluruh staff - Rapat Snack 150.000


- edukasi
Form SOP 50.000

4. Sosialisasi assesment - perawat dan bidan - rapat Snack 150.000


edukasi - sosialisasi cara pengisian
form Form assement 85.000

5. Penyuluhan kesehatan di - Tim PKRS - edukasi leaflet 200.000


instalansi rawat inap - Pasien dan Keluarga
6. Penyuluhan kesehatan di - Tim PKRS - edukasi leaflet 200.000
instalansi rawat jalan - Pasien dan keluarga

7. Penyuluhan kesehatan di - Tim PKRS - edukasi leaflet 200.000


posyandu - Pasien dan keluarga

8. Pelatihan staff - Tim PKRS - pelatihan Snack 100.000


- Perawat bidan
Materi 50.0000

sertifikat 1.000.000

9. Monitoring/ penilaian - pasien dan keluarga - proses tanya jawab Form penilaian 80.000
pemahaman setelah
pemberian edukasi

TOTAL BIAYA
VI. KRITERIA KEBERHASILAN
Kriteria keberhasilan pokja terimplementasi semua sasaran di kegiatan rumah sakit yaitu :
berjalannya program PPK kepada seluruh pasien dan keluarga baik rawat inap, rawat jalan
ataupun dikomunitas.

VII. KENDALA
1. Banyak kegiatan rumah sakit sehingga sulit untuk koordinasi
2. Anggota pokja mempunyai tugas pokok dan tambahan sehingga sulit untuk
melaksanakan assement dan evaluasi.
3. Sebagian besar anggota TIM PPK /PKRS belum melaksanakan pelatihan tentang
komunikasi yang baik,benar dan efektif.
4. Dalam proses sosialisasi atau penyuluhan beberapa pasien atau keluarga cenderung
tidak dapat bekerja sama.

VIII. STRATEGI DAN KOMUNIKASI

1. Sosialisasi
2. Presentasi dan evaluasi
3. Melaksanakan program PPK
4. Koordinasi dan kolaborasi
IX. PENUTUP

Agar terciptanya maupun terlaksanakanya program PPK di Rumah


Sakit Emma, perlu sosialisasi berkesinambungan tentang sasaran yang ingin
dicapai baik pasien rawat jalan, rawat inap atau pun dikomunitas. Sehingga
dapat menjadi pengetahuan untuk kesehatan baik bagi pasien ataupun
keluarga yang tidak terlepas untuk peningkatan mutu kesehatan dan pelayanan
Rumah Sakit.
Hal ini tidak terlepas dari peran serta para pemimpin rumah sakit Emma
yang berperan aktif untuk memberi teladan dan terbuka dalam pelaksanaan
implementasi program PPK.