Anda di halaman 1dari 27

KENALI STARTEGI PENCEGAHAN OBESITAS

(Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Gizi Masyarakat)

NAMA:

Mega Ayu Puspitasari (162110101251)

Kelas Alih Jenis

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
2016
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, dengan ini kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Kenali Strategi Pencegahan Obesitas untuk memenuhi tugas
mata kuliah Gizi Masyarakat.
Dalam penulisan makalah ini, telah banyak mendapat bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan makalah ini. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Irma Prasetyowati S.K.M.,M.Kes selaku Dekan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Jember
2. Sulistiyani, S.KM.,M.Kes sebagai dosen pengampu mata kuliah
3. Teman-teman seperjuangan yang menempuh mata kuliah Gizi Masyarakat
4. Semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam menyusun makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik
dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan.

Jember, Oktober 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... iii

BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 3

1.3 Tujuan ............................................................................................................ 3

BAB 2. PEMBAHASAN ........................................................................................ 4

2.1 Pengertian Obesitas ....................................................................................... 4

Tabel 2.1 Status gizi......................................................................................... 5

2.2 Penyebab ....................................................................................................... 6

2.3 Gejala............................................................................................................. 9

2.4 Faktor yang Mempengaruhi ........................................................................ 10

2.5 Epidemiologi ............................................................................................... 14

2.6 Pencegahan .................................................................................................. 15

BAB 3. PENUTUP ............................................................................................... 20

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 20

3.2 Saran ............................................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Status gizi ................................................................................................ 5

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Lembar Dokumentasi
A. Proses Asuhan Gizi
B. Gizi Pemanfaatan Gizi, Diet dan Obesitas
C. Gambaran Obesitas pada Siswa Sekolah Dasar di SD Pertiwi dan SD Negeri
03 Alai Padang
D. Faktor-Faktor Resiko Terhadap Obesitas Pada Remaja Di Kota Blitung
E. Panduan Sehat dan Bugar Super Lengkap
F. Prinsip-Prinsip Dasar Ahli Gzi
G. Panduan Gizi Lengkap
H. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
I. Obesitas Pada Anak
J. Riset Kesehatan Dasar 2013
K. Prevalensi Obesitas Pada Remaja Di Kabupaten Minahasa
L. Hubungan Status Sosial Ekonomi dan gaya Hidup dengan Kejadian Obesitas
pada Siswa SD Negeri 08 Alang Awas Padang
M. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tumbuh Kembang Anak dan
Kejadian Obesitas Di Sekolah Dasar Swasta Bruder Melati Pontianak
N. Kapita Selekta Kedokteran

iv
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara sehat adalah ketika rakyatnya sehat dan kesehatan tidak hanya
diperoleh dari lingkungan yang bersih, tetapi juga dari kondisi tubuh yang prima.
Salah satu cara untuk mencapai tubuh yang prima adalah dengan asupan gizi
yang penting bagi tubuh. Masalah gizi Indonesia merupakan hal yang sangat
kompleks dan sangat penting. Selama 10 tahun terakhir polemik penanganan gizi
untuk masyarakat Indonesia juga tak kunjung hentinya khusunya untuk gizi anak
dan balita. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia
semakin meningkat. Hal ini tidak sebanding dengan beberapa Negara ASEAN
seperti Malaysia, Singapura dan Thailand (Indra, 2013:139).
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi di
zaman modern ini. Obseitas merupakan suatu kelainan atau penyakit dimana
terjadi penimbunan lemak yang berlebihan. Prevalensi obesitas di Indonesia
menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pada anak umur 5-12 tahun
masih tinggi yaitu 18,8% yang tertinggi di DKI Jakarta 30,1%, pada umur 13-15
tahun di Indonesia sebesar 10,8%, prevalensi gemuk pada remaja umur 16-18
tahun sebanyak 7,3%, pada umur >18 tahun sebesar 15,4%, prevalensi obesitas
pada laki-laki pada tahun 2013 sebanyak 19,7% lebih tinggi dari tahun 2007
(13,9%), prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9% naik 17,5%
dari tahun 2010 (15,5%).
Sebuah data dari NHANES (National Health and Nutrition Examination
Survey, US) tahun 1994 memperlihatkan bahwa dua per tiga pasien overweight
dan obesitas dewasa mengidap paling sedikit satu dari penyakit kronis tersebut
dan sebanyak 27% dari mereka mengidap dua atau lebih penyakit. Data yang
dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan
prevalensi overweight dan obesitas pada 10 sampai 15 tahun terakhir dengan
angka kejadian terbanyak di Amerika. Saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari
100 juta penduduk di seluruh dunia menderita obesitas dan angka ini masih akan
terus meningkat (Hasdianah, 2014:70).

1
2

Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya obesitas yang sebagian


besar merupakan interkasi antara faktor genetic dengan faktor lingkungan, antara
lain aktivitas fisik, sosial ekonomi, dan nutrisi. Perubahan gaya hidup
menyebabkan terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, perilaku, pol makan,
serta pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Selain itu perubahan
gaya hidup juga menurunkan frekuensi dan intensitas olahraga dan permainan
yang mempergunakan fisik pada anak digantikan dengan jenis permainan
elektronik seperti video game (Octari, 2014: 131).
Obesitas sering dikaitkan dengan banyaknya lemak dalam tubuh. Lemak
adalah kawan sekaligus lawan. Lemak sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk
menyimpan energi sebagai penyekat panas, sebagai penyerap guncangan, dll.
Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria.
Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan pada wanita
adalah sekitar 25-30% dan pria sekitar 18-23%. Walaupun lemak amat berguna
bagi tubuh, berbagai penyakit dapat timbul karena kelebihan lemak. Salah
satunya adalah obseitas atau kelebihan berat badan sebagai akibat dari
penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari
25% dan pada pria 20% atau lebih (Irwan, 2016: 100-101).
Penumpukan lemak disimpan dibawah kulit terutama berada di sekitar
pinggul, paha, dinding perut, punggung dan pangkal lengan. Selain dibawah kulit,
lemak disimpan juga berada di dalam rongga dada. Lemak simpanan pada rongga
perut dan di bawah kulit terus bertambah selama kelebihan energy berlangsung.
Pertambahan lemak pada rongga perut dan dibawah kulit dapat mengubah bentuk
tubuh seseorang. Jumlah lemak yang normal pada wanita adalah sekitar 15-28%
dari berat badannya dan untuk pria jumlah lemak yang normal adalah 10-18%
dari berat badannya. Presentasi lemak simpanan dibawah kulit pada wanita adalah
9% dan pada pria adalah 4,4%, presentase lemak dismipan di rongga perut dan
dada pada wanita adalah 2,3% dan 1,55% pada pria (Irwan, 2016: 101).
Pada penelitian yang dilakukan oleh (Kussoy, 2013) bahwa tingginya
prevalensi obesitas pada remaja kemungkinan berhubungan dengan kebiasaan
makan remaja yang kurang baik. Aktivitas remaja umumnya banyak dilakukan di
luar rumah sehingga sering dipengaruhi oleh teman sebaya, termasuk dalam hal
3

pemilihan makanan. Pemilihan makan sudah bukan lagi berdasarkan kandungan


gizi tetapi sekedar bersosialiasai untuk kesenangan dan agar tidak kehilangan
status. Pada saat sekarang ini umumnya remaja memilih makanan yang tidak
membutuhkan waktu lama untuk diolah. Jenis makanan seperti ini dikenal dengan
istilah fast food.

1.2 Rumusan Masalah


- Apa pengertian dari obesitas?
- Apa penyebab dari obesitas?
- Apa gejala dari obesitas?
- Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya obesitas?
- Bagaimana epidemiologi dari obesitas?
- Bagaimana pencegahan obesitas?

1.3 Tujuan
- Mengetahui pengertian obesitas
- Mengetahui penyebab terjadinya obesitas
- Mengetahui gejala dari obesitas
- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya obesitas
- Mengetahui epidemiologi dari obesitas
- Mengetahui pencegahan dari obesitas
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Obesitas


Menurut (Indra, 2013: 143), obesitas atau yang biasa disebut dengan
kegemukan adalah suatu keadaan dimana seseorang kelebihan berat badan
sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang
memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi sebagai penyekat
panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak
tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara
lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23%
pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak
tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki
berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang
normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok
yaitu:
a. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
b. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
c. Obesitas berat : kelebihan berat badan > 100% (Indra, 2013: 143)
Definisi obesitas menurut para dokter adalah sebagai berikut:
- Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan
- Suatu penyakit kronik yang dapat diobati
- Suatu penyakit epidemik
- Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat
menurunkan kualitas hidup (Irwan, 2016: 100).
Menurut Tanto, 2014:126 bahwa obesitas adalah kelainan atau penyakit
yang ditandai dengan penimbunan adipose secara berlebihan, sedangakan
overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat badan ideal
yang mungkin dapat disebabkan oleh peningkatan massa otot seperti pada atlet
binaraga. Obesitas bisa dapat ditentukan berdasarkan perhitungan indeks massa
tubuh (IMT).

4
5

Menurut Kamus Dorland dalam (Hasdianah, 2014:63-64) obesitas adalah


peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik sebagai
akibat akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh.
Obesitas atau biasa orang menyebutnya sebagai kelebihan berat badan
secara medis diartikan sebagai kelebihan lemak yang ada di dalam tubuh.
Seseorang yang obesitas akan meningkatkan risiko penyakit lain misalnya
diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) (Hasdianah, 2014: 65).
Menurut Irianto, 2007: 73 Indeks Massa Tubuh (IMT) memiliki kelebihan
dan kekurangan. Kelebihannya adalah:
a. Pengukuran sederhana dan mudah dilakukan
b. Dapat menentukan kelebihan dan kekurangan berat badan
Namun, indeks ini tak lepas dari kekurangan yaitu:
a. Hanya dapat digunakan untuk menentukan status gizi orang dewasa (usia
18 tahun ke atas)
b. Tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan
olahragawan
c. Tidak dapat digunakan untuk menentukan status gizi bagi orang yang
menderita sakit edema, asites dan hepatomegali
Adapun cara penilaiannya adalah menggunakam formulasi berikut:
Berat badan (kg)
IMT = Tinggi badan (m)2

Selanjutnya hasil perhitungan IMT dikonsultasikan dengan tabel berikut


Tabel 2.1 Status gizi
Status gizi Laki-laki Perempuan
Kurus < 20,1 < 18,7
Normal 20,1 – 25,0 18,7 – 23,8
Obese > 30 > 28,6
Rata-rata 22,0 20,8
Sumber: Irianto, 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragwan.
Dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa obesitas adalah
keadaan dimana seseorang mengalami kelebihan berat badan karena penumpukan
lemak pada jaringan adipose dan bisa diketahui dari pengukuran IMT serta
obesitas dapat menyebabkan terjadinya penyakit seperti diabetes dan hipertensi.
6

2.2 Penyebab
Regulasi simpanan lemak dan etiologi obesitas pada manusia bersifat
multifaktoral. Dalam lingkungan yang menawarkan segala kemudahan makanan
tinggi kalori, makanan cepat saji, memudahkan intervensi lingkungan yang
berdampak pada obesitas sejak masa anak-anak. Faktor genetik juga berperan
dalam mempengaruhi aktivitas fisik dan keluaran energi yang lebih sedikit yang
diamati pada bayi yang kemudian tumbuh menjadi anak obese. Selain itu
terdapat beberapa sindrom genetic yang memiliki gambaran klinis obesitas
dengan berbagai kelainan misalnya sindrom Prader-Willi, sindrom Bardet-Biedl,
sindrom Cohen, sindrom Down dan sindrom Turner. Kelainan hormon juga
menjadi penyebab obesitas. Ada kalanya obesitas yang terjadi akibat pemakaian
obat-obatan seperti kortisol/steroid, sulfonylurea, antidepresan trisiklik,
penghambat monoamin-oksidase, kontrasepsi oral, insulin, tiazolidinedion dan
antipsikotik (Tanto, 2014:126).
Menurut (Indra, 2013: 144) penyebab obesitas yaitu:
a. Gaya hidup
Obesitas bisa terjadi karena banyak faktor. Salah satu faktornya adalah
karena asupan makanan yang melebihi kebutuhan tanpa diimbangi
aktivitas yang cukup atau sedentary lifestyle (gaya hidup tanpa banyak
bergerak). Padahal, aktivitas yang cukup diperlukan untuk membakar
kelebihan energi yang ada. Jika hal ini tidak terjadi, maka kelebihan
energi akan diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam sel-sel lemak.
Pada hasil penelitian (Octari, 2014: 134) bahwa didapatkan hubungan
yang bermakna antara pola makan dengan berat badan yang lebih.
Perbedaan ini dapat terjadi karena sangat banykanya faktor risiko
terjadinya obesitas. Hal-hal tersebut juga dipengaruhi oleh sosial budaya
suatu daerah yang berpengaruh dengan gaya hidup masyarakat.
b. Genetik
Hal lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya obesitas adalah faktor
genetik yaitu sebanyak 25-35%. Jadi, jika ada anggota keluarga yang
memiliki riwayat obesitas, maka akan memiliki risiko yang lebih tinggi
menderita obesitas dibandingkan dengan mereka yang tidak.
7

Pada hasil penelitian yang dilakukan (Puspita, 2014) bahwa terdapat


hubungan faktor herediter terhadap kejadian obesitas. Hasil penelitian ini
didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maddah dan
Nikooyeh (2009) yang menyimpulkan bahwa kedua orangtua obesitas
atau overweight berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak-anak.
Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Rahmawati (2009)
menyimpulkan bahwa anak yang terlahir dari keluarga yang obesitas
merupakan penagruh yang secara genetic untuk mempunyai berat badan
obesitas.
c. Emosional
Sebuah pandangan popular adalah abhwa obesitas bermula dari masalah
emosional yang tidak teratasi. Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih,
seperti anak-anak makanan dianggap sebagai simbol kasih saying ibu atau
kelebihan makan adalah sebagai subtitusi untuk pengganti kepuasan lain
yang tidak tercapai dalam kehidupannya. Banyak pendapat yang
mengatakan bahwa orang gemuk biasanya tidak bahagia, namun
sebenarnya ketidakbahagiaan/ tekanan batinnya lebih diakibatkan sebagai
hasil dari kegemukannya. Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa
mereka cenderung makan lebih banyak apabila mereka tegang atau cemas
dan ekperimen membuktikan kebenarannya. Pada orang gemuk
didapatkan bahwa mereka lebih banyak menghabiskan kripik setelah
menyaksikan film yang tegang dibanding setelah menonton film yang
membosankan. Sedangkan pada orang dengan berat badan kurang selera
makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang maupun film
yang membosankan (Hasdianah, 2014:74).
d. Kerusakan pada salah satu bagian otak
Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu
bagian otak yang disebut hipotalamus, sebuah kumpulan inti sel dalam
otak yang langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain dari otak dan
kelenjar dibawah otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh
darah dari daerah lain pada otak sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh
unsure kimiawi dari darah. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi
8

penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakkan


nafsu makan (awal atau pusat makan), hipotalamus ventromedial (HVM)
yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat
kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur
maka individu menolak untuk makan atau minum dan akan mati kecuali
bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infuse). Sedangkan bila
kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus
dan kegemukan (Hasdianah, 2014:72).
e. Kurang gerak/olahraga
Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu per tiga pengeluaran
energi seseorang dengan berat badan normal, tapi bagi orang yang
memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat
penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga
maka semakin banyak kalori yang hilang. Kekurangan aktivitas gerak
akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan
olahraga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya
olahraga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolism
basal tubuh orang tersebut. Jadi olahraga sangat penting dalam penurunan
berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga
karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal
(Hasdianah, 2014:73).
f. Lingkungan
Faktor lingkungan juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk.
Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk
adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan
cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut tidak
dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan
mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan
(Hasdianah, 2014:75).
9

Obesitas merupakan hasil kombinasi antara faktor-faktor berikut ini:


- Tidak melakukan aktifitas fisik sehingga pembakaran lemak akan menjadi
sedikit
- Memakan makanan dengan tinggi kalori terutama makanan cepat saji
- Beberapa wanita sulit menurunkan berat badan setelah melahirkan, hal ini
dapat memicu terjadinya obesitas
- Kurang tidur
- Mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat diabetes, anti kejang, anti
depressants, antipsychotic, steroids dan beta blockers
- Mengalami masalah medis lain
Dari penyebab diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa penyebab
terjadinya obesitas yaitu gaya hidup yang tidak diimbangi oleh aktivitas fisik,
anggota keluarga yang memiliki riwayat obesitas akan memiliki risiko yang lebih
tinggi menderita obesitas dibandingkan dengan mereka yang tidak dan psikis
yang melampiaskan emosi dengan makan.

2.3 Gejala
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam
dinding dada bisa menekan paru-paru sehingga timbul gangguan pernafasan dan
sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.
Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya
pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu) sehingga pada siang hari
penderita sering merasa ngantuk. Obsitas bisa menyebabkan berbagai masalah
ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoarthritis
(terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki), juga kadang-kadang
sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang
relative lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh
tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.
Sering ditemukan edema (pembengkakakn akibat penimbunan sejumlah cairan)
di daerah tungkai dan pergelangan kaki. Obesitas dapat dikenali dengan tanda dan
gejala sebagai berikut:
10

- Dagu rangkap
- Leher relative pendek
- Dada menggembung dengan payudara yang membesar mengandung
lemak
- Perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai
umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling
menempel menyebabkan laserasi dan ulserasi yang dapat menimbulkan
bau tak sedap
- Pada anak laki-laki penis tampak kecil karena terbenam dalam jaringan
lemak suprapubik (Irwan, 2016:108).
Menurut Hasdianah, 2014: 65-66) gejala-gejala yang biasa dialami oleh
seseorang yang mengalami obesitas antara lain:
- Kebiasaan tidur dengan mendengkur
- Susah tidur nyeri pada punggung atau sendi
- Berhenti nafas pada saat tidur secara tiba-tiba
- Selalu merasakan panas berkeringat secara berlebihan
- Sulit bernafas
- Depresi sering merasakan ngantuk dan lelah
- Ruam atau infeksi pada lipatan kulit
Dari gejala diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa gejala obesitas
yaitu sulit bernafas, dagu rangkap, leher relative pendek, payudara yang
membesar, perut membuncit dan pada anak laki-laki penis tampak kecil.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi


Menurut penelitian Octari, 2014: 134 bahwa pola aktifitas fisik
berpengaruh terhadap kejadian obesitas. Pada uji statistic yang dilakukan,
ditemukan hubungan bermakan antara aktifias fisik anak dengan kejadian obeitas.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Simatupang yang menyatakan bahwa
besarnya hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik. Hal ini mencerminkan
bahwa, pola hidup sedentary berkontribusi dalam terjadinya obesitas pada anak.
Penyebab utama obesitas adalah asupan energi yang lebih besar daripada
pengeluaran energi. Ada banyak faktor individual dan lingkungan yang bersifat
11

sekunder yang mempengaruhi penyebab primer obesitas, tetapi penyebab spesifik


yang membuat anak-anak, baik sebagai individu maupun kelompok menghadapi
risiko yang lebih besar untuk asupan energi yang tinggi dan pengeluaran energi
yang terbatas tidak diketahui. Faktor-faktor individual juga meliputi jenis serta
jumlah makanan yang dimakan oleh seseorang anak dan apakah anak itu
melakukan aktivitas fisik yang teratur melalui olahraga, bermain atau sekolah.
Faktor-faktor diet dan perilaku makan yang menempatkan anak-anak dan remaja
ke dalam risiko obesitas yang semakin meningkat meliputi kebiasaan minum-
minuman manis yang tinggi kalori, kebiasaan tidak sarapan, frekuensi jajan di
luar yang meningkat, asupan kalsium yang rendah, asupan total lemak yang tinggi
dari makanan dan ukuran porsi makan yang meningkat.
Faktor-faktor yang dapat menciptakan suatu lingkungan yang negatif
dalam keluarga seperti kurangnya waktu dan dukungan yang disediakan oleh
orang tua bagi anak-anaknya akan meningkatkan risiko obesitas pada anak.
Sebaliknya, lingkungan keluarga yang positif dimana anak-anak memperoleh
dukungan dari orang tua dan dapat mengekspresikan dirinya sendiri secara tepat
akan menurunkan risiko tersebut. Bertambah lamanya waktu yang digunakan
untuk menonton televise dan bermain video games berkaitan pula dengan
obesitas pada anak, menonton televise juga memiliki keterkaitan dengan
peningkatan asupan kalori yang disebabkan oleh iklan makanan dalam televise.
Peningkatan aktivitas fisik dan partisipasi anak dalam berolahraga akan berkaitan
dengan penurunan risiko obesitas pada anak.
Faktor-faktor komunitas dan sosial juga mempengaruhi proses terjadinya
obesitas pada anak. Apakah suatu komunitas memiliki program makanan sehat
yang dapat dibeli oleh anak-anak dan menyediakan tempat berjalan-jalan akan
mempengaruhi angka obesitas (Emery, 2014: 55-57).
Menurut (Irwan, 2016: 109-110) faktor yang mempengaruhi adalah:
a. Faktor makanan
Jika seseorang mengkonsumsi makanan dengan kandungan energy sesuai
yang dibutuhkan tubuh, maka tidak ada energi yang disimpan. Sebaliknya
jika mengkonsumsi makanan dengan energi melebihi yang dibutuhkan
tubuh, maka kelebihan energy akan disimpan. Sebagai cadangan energi
12

terutama sebagai lemak seperti telah diuraikan di atas. Maraknya iklan


berbagai makanan siap saji di media cetak maupun elektronik sepeti
hamburger, hot dog, pizza dan fried chicken menyebabkan makanan siap
saji sangat popular dan digemari, padahal makanan siap saji cenderung
mengandung lemak tinggi sehingga banyak mengandung kalori. Selain itu
makanan yang tinggi lemak rasanya sangat lezat, sehingga mengakibatkan
dikonsumsi secara berlebihan.
Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hendra, 2016) menjelaskan
bahwa pola makan merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh
terhadap obesitas pada remaja, kehidupan remaja di Kota Bitung
mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat, lemak,
gula serta kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji. Masalah gizi atau
pola makan yang sering terjadi pada remaja adalah ketidakseimbangan
antar konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan.
b. Faktor keturunan
Penelitian pada manusia maupun hewan menunjukkan bahwa obesitas
terjadi karena faktor interaksi gen dan lingkungan. Gen yang ditemukan
diduga dapat mempengaruhi jumlah dan besar sel lemak, distribusi lemak
dan besar penggunaan energy untuk metabolism saat tubuh istirahat.
Beberapa pajar berpendapat faktor keturunan hanya berpengaruh terhadap
bakat seseorang untuk menjadi gemuk. Obesitas pada orang keturunan
obesitas cepat manifes bila mengalami kelebihan asupan energi. Obesitas
juga cepat manifes bila keturunan penderita obesitas kurang melakukan
aktivitas. Jadi kelebihan asupan makanan dan kurang aktivitas yang
menajdi pola kebiasaan hidup tetap merupakan faktor utama penyebab
obesitas.
Faktor genetik menyebabkan obesitas sebanyak 25-35%. Jadi jika ada
anggota keluarga memiliki riwayat obesitas, maka Anda memiliki risiko
yang lebih tinggi menderita obesitas dibandingkan dengan mereka yang
tidak (Hasdianah, 2014:67).
13

c. Faktor hormonal
Menurunnya hormone tyroid dalam tubuh akibat menurunnya fungsi
kelenjar tyroid akan mempengaruhi metabolism dimana kemampuan
menggunakan energi akan berkurang.
d. Faktor psikologis
Pada beberapa individu akan makan lebih banyak dari biasa bila merasa
diperlukan suatu kebutuhan khusus untuk keamanan emosional (security
food). Sebagai contohnya kadang-kadang stress yang hebat pada
seseorang tanpa disadari akan menyebabkan ia meningkatkan masukan
makanan.
e. Jenis kelamin
Wanita lebih mudah mengalami kelebihan berat badan (obesitas). Wanita
berisiko obesitas 2 kali lebih besar daripada pria. Salah satu faktor yang
menyebabkannya adalah fase hidup wanita yang berbeda dari pria.
Kekurangan zar gizi saat dalam kandungan, haid dini, berat badan yang
berlebihan ketika hamil dan aktivitas fisik yang berkurang akiat
menopause mengakibatkan wanita rentan terhadap obesitas. Sedangkan
pria memiliki lebih banyak otot dibandingkan dengan wanita. Otot
membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lain. Oleh karena wanita
lebih sedikit memiliki otot, maka wanita memperoleh kesempatan yang
lebih kecil untuk membakar lemak. Hasilnya wanita lebih beresiko
mengalami obesitas.
Dari faktor penyebab diatas penulis menyimpulkan bahwa faktor
penyebab terjadinya obesitas adalah jenis kelamin, faktor psikologis, faktor
hormonal, faktor keturunan dan faktor makanan. Dari faktor-faktor tersebut yang
paling banyak terjadi obesitas yaitu karena faktor makanan. Hal ini dipengaruhi
oleh gaya hidup yang banyak mengkonsumsi fast food tanpa memperhatikan
kandungan gizi dan tanpa diimbangi oleh olahraga.
14

2.5 Epidemiologi
WHO telah menyatakan obesitas telah menjadi epidemik global, sehingga
merupakan suatu masalah kesehatan yang harus ditangani segera. Kejadian
obesitas di Indonesia mulai menjadi masalah gizi di masyarakat walaupun gizi
kurang atau kurus masih tinggi. Secara Nasional masalah kegemukkan pada umur
6-12 tahun masih tinggi yaitu 9,2% atau masih di atas 5,0%. Prevalensi
kegemukkan pada anak perempuan yaitu berturut-turut sebesar 10,7% dan 7,7%.
Berdasarkan tempat tinggal prevalensi kegemukkan lebih tinggi di perkotaan
dibandingkan dengan prevalensi di pedesaan yaitu berturut-turut sebesar 10,4%
dan 8,1% (Riskesdas, 2010).
Pada 2500 tahun silam Hippocrates, bapak ilmu kedokteran
memperhatikan bahwa orang-orang yang gemuk meninggal dengan tiba-tiba.
Terutama hal ini banyak terjadi pada orang malas dan terus-menerus bertambah
berat badannya. Dengan kata lain, makin panjang ikat pinggang, makin pendek
usia. Kebanyakan anak muda belasan tahun jika mereka sehat dan aktif,
mempunyai berat badan yang sesuai dengan besar badan dan umur. Akan tetapi,
perubahan sering terjadi pada akhir usia 20 tahun dan mengurangi kesesuaian
tubuh seseorang. Kebiasaan malas mulai menjalar bila seseorang hilang
kecakapannya untuk berlari, berenang atau kegiatan lain yang menyehatkan
(Hikam, 2010:74).
Angka kejadian obesitas mengalami peningkatan pada semua kelompok
usia pediatri dalam National Health and Nutrition Examination Surveys yang
dilakukan di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Antara tahun 1976-1980 dan
2007-2008, prevalensi obesitas meningkat dari 5,0% menjadi 10,4% untuk umur
2 sampai 5 tahun, dari 6,5% menjadi 19,6% untuk umur 6 sampai 11 tahun dan
dari 5,0% menjadi 18,1% untuk para remaja yang berusia 12 sampai 19 tahun.
Obesitas pada anak yang berusia di atas 2 tahun didefinisikan sebagai keadaan
dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang melebihi persentil ke-95 ketika
diplotkan pada grafik pertumbuhan dari the Centers for Disease Control and
Prevention (CDC) 2000 untuk jenis kelamin yang spesifik (Emery, 2014: 55-56).
Obesitas pada anak-anak berhubungan dengan disfungsi metabolic
termasuk toleransi glukosa yang terganggu, penyakit diabetes tipe 2 dan kadar
15

kolesterol,trigliserid serta insulin yang tinggi. Variasi genetik dapat menimbulkan


kecenderungan kepada beberapa anak untuk mengalami obsetas. Sekarang ini
masih belum diketahui apakah perilaku jajan camilan pada anak-anak juga
memiliki korelasi dengan obesitas. Bagaimanapun juga, sekarang ini anak-anak
mengonsumsi lebih dari 27% asupan kalori harian dari makanan camilan.
Ketersediaan makanan yang tinggi kalori dengan kandungan kandungan nutien
yang rendah di rumah juga berhubungan dengan peningkatan konsumsi tipe-tipe
makanan camilan tersebut (Emery, 2014: 56).
Obesitas lebih banyak didapatkan pada anak usia > 9 (14,7%) tahun
dibandingkan dengan usia ≤ 9 tahun (8,5%) dan lebih banyak pada laki-laki
(13%) dibandingkan dengan perempuan (8,5%). Hal ini sejalan dengan penelitian
di beberapa sekolah dasar di Semarang Barat yaitu kejadian obesitas lebih tinggi
ditemukan pada anak laki-laki (57,1%) dibandingkan perempuan (42,9%).
Penelitian di Swiss juga menemukan bahwa perbandingan kejadian obesitas pada
anak laki-laki (6,2%) dengan anak perempuan (4,2%) (Hadi, 2015: 249-250).
Berdasarkan epidemiologi diatas penulis menyimpulkan bahwa
kegemukan banyak terjadi di perkotaan (10,4%) dibandingkan dengan pedesaan
(8,1%). Hal ini karena di daerah perkotaan banyak makanan fast food yang
memiliki kandungan lemak yang tinggi, dibandingkan dengan daerah pedesaan
yang mayoritas makanannya hasil dari perkebunan dan pertanian sendiri. Selain
itu obesitas lebih banyak didapatkan pada anak usia >9 tahun (14,7%)
dibandingkan dengan usia ≤ 9 tahun (8,5%) dan lebih banyak pada laki-laki
(13%) dibandingkan dengan perempuan (8,5%).

2.6 Pencegahan
Menurut (Hasdianah, 2014:91) strategi pencegahan overweight dan
obesitas terdiri dari:
a. Pencegahan primer adalah dengan pendekatan komunitas untuk
mempromosikan cara hidup sehat. Usaha pencegahan dimulai dari
lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja dan pusat kesehatan
masyarakat.
b. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan prevalensi obesitas.
16

c. Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi obesitas dan komplikas


penyakit yang ditimbulkan.
d. Pada prinsipnya dari pencegahan dan penatalkasanaan overweight dan
obesitas adalah mengurangi asupan energy serta meningkatkan keluaran
energi dengan cara pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik,
modifikasi gaya hidup serta dukungan secara mental dan sosial.
Menurut Tanto, 2014:128 pencegahan dari obesitas meliputi:
a. Gaya hidup sehat, termasuk makan sehat dan aktivitas fisik dapat
menurunkan risiko obesitas dan terjangkit penyakit yang berkaitan erat
dengan obesitas
b. Perilaku diet dan aktivitas fisik dari anak dan remaja dipengaruhi oleh
berbagai sector dalam komunitas, diantaranya keluarga, sekolah, penitipan
anak, penyedia layanan kesehatan, agama, media dan industry makanan,
minuman serta hiburan
c. Sekolah memiliki peranan besar dengan cara menyediakan lingkungan
yang aman dan suportif untuk penerapan gaya hidup sehat, misalnya
dengan kurikulum olahraga, praktik makan sehat, dsb.
Menurut Hikam, 2010:78 menjaga berat badan ideal adalah:
a. Batasi banyaknya makanan
b. Berhati-hatilah dengan sisa makanan
c. Hentikanlah makan di antara waktu makan
d. Gerak badan yang teratur yang diadakan setiap hari akan menolong
memakai kalori tambahan itu
e. Hindarilah panganan yang mewah
f. Makan dengan teratur penting sekali
g. Jangan tahan lapar lama-lama
h. Jangan lupa makan pagi
i. Makanlah lebih banyak makanan slada, sayur-sayuran hijau, tomat dan
wortel
Menurut (Indra, 2013: 146-148), pembatasan asupan kalori dan
peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam
pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam
17

mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Harus


dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan
makan yang sehat. Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir
lemak tubuh penderita dan risiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI.
Risiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkatkan sejalan
dengan meningkatnya angka BMI yaitu :
- Risiko rendah : BMI < 27
- Risiko menengah : BMI 27-30
- Risiko tinggi : BMI 30-35
- Risiko sangat tinggi : BMI 35-40
- Risiko sangat tinggi : BMI 40 atau lebih
Jenis dan beratnya latihan serta jumlah pembatasan kalori pada setiap
penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan
penderita.
- Penderita dengan risiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-
1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai
dengan olahraga
- Penderita dengan risiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori
(800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria)
disertai olahraga
- Penderita dengan risiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan
obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olahraga
Memilih program penurunan berat badan yang aman dan berhasil. Unsur-
unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu program penurunan berat
badan yaitu:
- Diet harus aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang dianjurkan
(vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan berat badan harus
rendah kalori
- Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat
badan secara perlahan dan stabil
- Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan
pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh
18

- Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan setelah


penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan
bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus
meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen,
untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya
penambahan berat badan. Program ini harus menyelenggarakan perubahan
perilaku termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan
rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan.
Menurut (Wahyu, 2009) pencegahan kegemukan atau obesitas berbasis
komunitas adalah:
- Tiga sasaran pencegahan kegemukan dan obesitas
- Tiga langkah pencegahan kegemukan dan obesitas
- Meningkatkan aktivitas fisik. Olahraga akan memberikan serangkaian
perubahan baik fisik mapun psikologis yang sangat bermanfaat dalam
mengendalikan berat badan (Hasdianah, 2014:92)
- Modifikasi pola makan
- Penerapan pajak penjualan makanan kategori junk food
- Membangun fasilitas publik penunjang pola hidup sehat
- Penyusutan ruang terbuka hijau dan sarana rekreasi public di kota besar
- Belajar mengelola ruang terbuka hijau
Cara, tips mencegah obesitas menurut (Hasdianah, 2014:68-69) yaitu:
- Sering melakukan aktifitas fisik dengan berolahraga secara teratur
- Mengkonsumsi makanan yang rendah lemak, berserat dan sehat. Makanan
berserat dapat membantu menurunkan berat badan, baik untuk jantung,
mencegah diabetes tipe 2, melawan kanker, memperbaiki diet (Hasdianah,
2014:95-97)
- Menjaga berat badan dengan cara yang sehat
Ada rumus yang telah dikemukakan oleh Dr. Aman selaku ketua bidang
ilmiah IDIAI yang juga ahli dalam masalah obesitas menyatakan bahwa cara
menghindari obesitas dengan “Rumus 5210”. Berikut ini penjelasannya:
a. 5 kali (minimal) makan buah dan sayur setiap hari. Usahakan buah dan
sayur selalu ada, meski buah yang harganya murah.
19

b. 2 jam duduk sudah terlalu lama di luar waktu sekolah, anak tidak boleh
duduk lebih dari dua jam. Waktu menonton televise, bermain game dan
sebagainya harus dipangkas. Kebanyakan duduk membuat metabolism
tubuh terganggu dan tidak ada pembakaran kalori sehingga memicu
obesitas, 1 jam aktivitas fisik setiap hari, selain aktivitas fisik 1 jam per
hari, usahakan melakukan olahraga terstruktur selama 20 menit minimal 3
kali dalam sepekan. Aktivitas fisik bisa berupa jalan, naik tangga, dsb.
c. Kebiasaan turun dari mobil, masuk kelas, serta dijemput langsung masuk
mobil lagi harus dibuang. Olahraga yang bisa dipilih seperti jalan, lari,
bersepeda dan berenang.
d. 0 gram gula, maksudnya sesedikit mungkin mengkonsumsi minuman
manis. Kebanyakan anak minum-minuman yang serba manis, seperti teh
dan jus. Semua itu harus dikurangi dan diganti dengan banyak minum air
putih. Untuk menghindari dan mencegah obesitas yang danpaknya sangat
tinggi untuk memicu penyakit lain.
Kegemukan identik dengan kebiasaan makan, berikut beberapa kiat yang
dapat dilakukan untuk menghindari kegemukan:
- Jangan yang digoreng
- Masaklah mie dalam air, jangan di goring
- Begitu juga dengan nasi. Sajikan nasi yang ditanak/dikukus, jangan yang
digoreng
- Memilih daging juga lebih baik yang dipanggang
- Hindari kadar gula dan lemak tinggi
- Buatlah piramida Anda sendiri dengan pemilihan makanan yang
bervariasi dengan gizi seimbang dan dalam jumlah yang tidak berlebihan
- Agenda makanan dan aktivitas, melakukan pencatatan terhadap semua
yang Anda makan (Hasdianah, 2014:76-80)
Dari pencegahan diatas penulis menyimpulkan bahwa untuk mencegah
terjadinya obesitas maka harus melakukan gaya hidup sehat, termasuk makan
sehat dan aktivitas fisik seperti berolahraga, bersepeda, jalan-jalan,dll. Selain itu
perilaku diet dengan menjaga berat badan tubuh tetap normal, makan dengan
teratur dan banyak mengkonsumsi slada, sayur-sayuran hijau, tomat dan wortel.
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Obesitas adalah suatau keadaan dimana seseorang mengalami kelebihan
berat badan yang dapat diukur dengan menggunakan IMT. Kelebihan berat badan
ini terjadi karena penumpukan lemak pada jaringan adiposa. Terjadinya obesitas
banyak dipengaruhi oleh gaya hidup, genetik, psikis, hormonal, obat-obatan dan
jenis kelamin. Kejadian obesitas pada laki-laki dan perempuan tidak signifikan
karena dipengaruhi oleh hal lain sepeti gaya hidup. Cara untuk mencegah
terjadinya obesitas yaitu banyak melakukan aktivitas fisik dengan berolahraga
secara teratur, mengkonsumsi makanan yang rendah lemak dan memperhatikan
gizi seimbang serta menjaga berat badan tubuh tetap normal.

3.2 Saran
Untuk tidak terjadi obesitas maka dalam pemilihan makanan harus
memperhatikan kandungan gizinya, melakukan aktivitas olahraga secara teratur,
dan batasi mengkonsumsi makanan fast food.

20
DAFTAR PUSTAKA

Emery, Elizabeth Zorzanello. 2014. Proses Asuhan Gizi. Jakarta: EGC.


Hadi, Rizqa Fiorendita. 2015. Gambaran Obesitas pada Siswa Sekolah Dasar di
SD Pertiwi dan SD Negeri 03 Alai Padang.
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/230/224. [Di akses
pada 10 Oktober 2016].
Hasdianah. 2014. Pemanfaatan Gizi, Diet dan Obesitas. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Hendra, Christme. 2016. Faktor-Faktor Risiko Terhadap Obesitas Pada Remaja
di Kota Bitung.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/view/11040/10629
. [Di akses pada 10 Oktober 2016].
Hikam, Aslakhul. 2010. Panduan Hidup Sehat & Bugar Super Lengkap.
Yogyakarta: GETAR HATI.
Indra, Dewi. 2013. Prinsip-Prinsip Ahli Gizi. Jakarta: Dunia Cerdas.
Irianto, Djoko Pekik. 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragawan.
Yogyakarta: ANDI.
Irwan. 2016. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Yogyakarta: Deepublish.
Kementerian Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf. [Di akses pada 10 Oktober 2016].
Kussoy, Karina. 2013. Prevalensi Obesitas Pada Remaja di Kabupaten
Minahasa.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/view/5431/4938.
[Di akses pada 10 Oktober 2016].
Octari, Cici. 2014. Hubungan Status Ekonomi dan Gaya Hidup dengan Obesitas
pada Siswa SD Negeri 08 Alang Lawas.
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/50/45 . [Di akses
pada 10 Oktober 2016].
Puspita, Dinarwulan. 2014. Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Tumbuh
Kembang Anak dan Kejadian Obesitas di Sekolah Dasar Swasta Bruder

21
22

Melati Pontianak.
http://journal.stikmuhptk.ac.id/index.php/JKKV1N3S14/article/view/92/2
0. [Diakses pada 10 Oktober 2016].
Tanto, Chris. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Wahyu, Genis Ginanjar. 2009. Obesitas Pada Anak. Yogyakarta: PT Bentang
Pustaka.