Anda di halaman 1dari 3

Pro Kontra MSG: Benarkah Buruk untuk Kesehatan?

Puluhan studi dan berbagai evaluasi ilmiah telah menyimpulkan bahwa MSG
adalah bahan penyedap rasa yang aman dan berguna untuk masakan.

MSG ditambahkan ke dalam masakan untuk menghasilkan rasa gurih, mirip dengan glutamat yang
diproduksi secara alami oleh bahan makanan segar. ( Gam1983/Thinkstock )

Monosodium glutamat alias MSG adalah salah satu bahan makanan yang paling banyak
mendapatkan pemberitaan buruk. MSG atau yang lebih akrab dikenal sebagai mecin diklaim bisa
menyebabkan kecanduan dan bikin bodoh. Apa kata dunia kesehatan soal bahaya MSG?

Kapan MSG pertama kali dipasarkan sebagai bumbu penyedap?

MSG telah digunakan sebagai bahan penambah rasa masakan sejak puluhan tahun yang
lalu. Pada zaman dulu, MSG adalah penyedap rasa alami yang diperoleh dari proses pengolahan
rumput laut. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini MSG dibuat dari proses fermentasi
industri. MSG ditambahkan ke dalam masakan untuk menghasilkan rasa gurih, mirip dengan
glutamat yang diproduksi secara alami oleh bahan makanan segar.

Baca juga: Bahaya Kesehatan yang Mengintai di Balik Lezatnya Kentang Goreng

MSG adalah bumbu penyedap masakan yang terbuat dari garam

MSG adalah molekul garam yang dikombinasikan dengan asam amino L-glutamat. Molekul
garam ini digunakan untuk menstabilkan komponen glutamat. Glutamat yang terkandung dalam
asam amino berperan sebagai pemberi rasa gurih (umami).

Asam amino glutamat bisa Anda temukan di hampir semua bahan dasar makanan, terutama
makanan berprotein tinggi, seperti produk susu, daging merah dan ikan, dan banyak sayuran.
Bahan makanan lainnya yang sering digunakan sebagai penyedap alami, seperti jamur dan tomat
, juga mengandung asam amino glutamat alami dalam kadar tinggi.

Baca juga: Empat Kebiasaan Buruk yang Bisa Membuat Anda Cepat Tua

Tubuh manusia juga memproduksi asam amino glutamat dan memainkan peran penting dalam
fungsi tubuh normal. Bahkan, ASI mengandung glutamat 10 kali lebih banyak dibandingkan
susu sapi.

Lalu, kenapa katanya MSG buruk untuk kesehatan?

Kontroversi mengenai keamanan MSG mulai terangkat di tahun 1960-an, ketika badan
keamanan pangan Amerika Serikat (FDA) menerima banyak laporan mengenai efek samping
yang dialami banyak pengunjung restoran masakan Cina, sehingga menyeruaklah istilah Chinese
Restaurant Syndrome . Orang-orang ini melaporkan bahwa mereka mengalami sakit kepala,
mual, mati rasa yang menjalar dari belakang leher hingga ke seluruh lengan dan punggung, dada
sesak, keringat deras, jantung berdebar, dan tubuh lemas setelah makan makanan ber-MSG.

Baca juga: 9 Gejala Kanker Paru yang Tak Boleh Anda Abaikan

Maju beberapa tahun ke depan, sebuah penelitian medis yang diterbitkan pada tahun 2011
dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukan kaitan antara konsumsi MSG yang
berlebihan terhadap peningkatan risiko obesitas di Cina. Cina memang menjadi salah satu negara
dengan tingkat konsumsi MSG terbesar.

Peneliti menemukan bahwa individu yang mengonsumsi MSG dalam jumlah tinggi (4.2 gram
per hari) lebih rentan terhadap obesitas daripada orang-orang yang mengonsumsi MSG masih
dalam batas wajar atau malah sedikit sekali (0,4 gram per hari).

Namun yang perlu dipahami, kelompok orang-orang dengan jumlah konsumsi MSG terbanyak
juga menunjukan gaya hidup yang tidak sehat – merokok, kurang gerak/jarang olahraga, makan
makanan berkalori tinggi, lemak tinggi, dan karbohidrat tinggi. Karena tim peneliti tidak
memasukkan faktor-faktor ini ke dalam perhitungan mereka, masih diperlukan lebih banyak
penelitian lainnya yang bisa membuktikan bahwa konsumsi MSG adalah penyebab langsung dari
kegemukan dan obesitas.

Baca juga: Lima Hal yang Membuat Kita Makan Berlebihan

Studi-studi yang lebih modern tentang bahaya MSG juga menemukan bahwa reaksi Chinese
Restaurant Syndrome seperti yang disebutkan di atas kemungkinan besar tidak diakibatkan oleh
MSG itu sendiri. Reaksi yang timbul kemungkinan besar diakibatkan oleh alergi terhadap bahan
penyerta dalam makanan tersebut, seperti udang, kacang, bumbu dan rempah-rempah lainnya.

Walau memang, peneliti mengakui gejala ringan akibat makan MSG bisa saja timbul pada
beberapa individu yang sensitif, terutama jika mengonsumsi makanan ber-MSG dalam porsi
besar saat perut kosong.

Jadi sebenarnya, MSG itu baik atau buruk bagi kesehatan?

Terlepas dari berbagai laporan dan cerita anekdot seputar bahaya MSG, FDA telah menyatakan
MSG sebagai bahan makanan yang “aman digunakan secara umum” dengan label resmi GRAS.
Keputusan FDA ini disepakati pula oleh World Health Organization (WHO), Food and
Agriculture Organization (FAO), juga Kementerian Kesehatan RI.

Baca juga: Khasiat Air Lemon untuk Atasi Maag

Pemecahan MSG dalam tubuh lebih cepat daripada lemak trans . Namun tidak seperti lemak
trans, studi ilmiah yang memelajari bahaya MSG tidak menemukan bahwa MSG menyebabkan
penambahan berat badan atau hilangnya kesadaran secara tiba-tiba. Puluhan studi dan berbagai
evaluasi ilmiah telah menyimpulkan bahwa MSG adalah bahan penyedap rasa yang aman
dan berguna untuk masakan.

Namun sejatinya, perlakuan MSG adalah sama seperti bahan makanan lainnya, yaitu tidak
dikonsumsi berlebihan . Salah satu penelitian terbitan American Journal of Clinical Nutrition
yang membantah tentang bahaya MSG menyatakan bahwa masyarakat luas tetap harus waspada
terhadap efek samping kesehatan yang mungkin terjadi akibat makan MSG dan agar lebih bijak
mengatur porsinya.

Untuk alasan tersebut, FDA meminta produsen makanan dan restoran-restoran untuk tetap
mencantumkan MSG dalam daftar komposisi produk mereka.