Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Keluarga terutama orang tua adalah lingkungan pertama kali yang ditemui oleh
anak ketika ia dilahirkan. Lingkungan pertama harus diusahakan sebaik-baiknya
sebagai lingkungan yang optimal bagi perkembangan kepribadian yang baik.
Keluarga sangat berpengaruh pada permulaan perkembangan anak dan menentukan
sifat dan sikap apa yang akan dibentuk, oleh karena itu orang tua sangat berpengaruh
dalam pertumbuhan, perkembangan dan pergaulan anak (Syofiyanti, 2016).
Model perilaku orang tua secara langsung maupun tidak langsung akan
dipelajari dan ditiru oleh anak. Orang tua merupakan lingkungan terdekat yang selalu
mengitarinya dan sekaligus menjadi figur dan idola anak. Bila anak melihat kebiasaan
baik dari orang tuanya maka anak akan dengan cepat mencontohnya, demikian
sebaliknya bila orang tua berperilaku buruk maka akan ditiru perilakunya oleh
anakanak. Anak meniru bagaiman orang tua bersikap, bertutur kata, mengekspresikan
harapan, tuntutan, dan kritikan satu sama lain, menanggapi dan memecahkan
masalah, serta mengungkapan perasaan dan emosinya. Model perilaku yang baik
akan membawa dampak baik bagi perkembangan anak demikian juga sebaiknya
(Furqon, 2010).
Undang-undang perlindungan anak No. 23 tahun 2002, menjelaskan bahwa
harapan anak Indonesia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat,
ceria, dan berakhlak mulia. Bagian keempat dalam Undang-undang ini menjelaskan
kewajiban dan tanggung jawab keluarga dan orang tua. Undang-Undang Dasar 1945
pasal 26 ayat 1 juga menjelaskan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung
jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak, selanjutnya
menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan bakat dan minat (Pratama,
2016).

1
2

Masa remaja merupakan masa transisi seseorang dari anak-anak menjadi


dewasa. Masa transisi remaja dimulai dengan menunjukkan jati dirinya yaitu dengan
berperilaku sesuai dengan karakter dan kreativitas masing-masing dalam hal-hal yang
positif meliputi aktraktif dan kreatif. Selain itu selama masa transisi ini remaja juga
menunjukkan perilaku-perilaku yang mengarah pada hal-hal negatif yaitu hura-hura
bahkan mengacu pada tindakan kekerasan. Perilaku remaja memang sangat menarik
dan gaya mereka bermacam-macam. Hal ini terjadi karena remaja mulai berjuang
melepas ketergantungan kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian
sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa (King, 2010).
Remaja lebih sering diistilahkan dengan adolsecence yang berarti tumbuh ke arah
kematangan, seperti kematangan mental, emosional, sosial, psikologis, dan fisik sangat
mempengaruhi perkembangan. Remaja pada dasarnya mempunyai rasa ingin tahu yang
besar, maka mereka cenderung mudah terpengaruh oleh kebiasaan sehari-hari dan
mempengaruhi lingkungan sekitar tempat mereka bergaul. Remaja pada umumnya
bergaul dengan sesama mereka berdasarkan karakteristik persahabatan remaja seperti
kesamaan usia, jenis kelamin, dan ras atau suku. Faktor lingkungan bagi remaja sangat
berperan penting bagi perkembangan remaja. (Yusuf, 2010).
Masa remaja awal biasanya antara usia 12-15 tahun fokus pada permintaan
terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman
sebaya. Ciri-ciri remaja usia 12-15 tahun adalah berperilaku kasar, cenderung berusaha
berperilaku tidak toleran terhadap orang lain dan tidak berusaha mengendalikan diri dan
perasaan (Bichler dalam Fatimah, 2010). Kemampuan mengendalikan diri merupakan
salah satu kunci untuk mengurangi terjadinya perilaku kekerasan karena dengan
pengendalian diri individu dapat merasa tenang sehingga emosional dirinya tidak mudah
marah dan pada akhirnya mampu membina hubungan baik dengan teman. Remaja akan
lebih banyak melakukan pelanggaran aturan ketika berada di lingkungan yang dipenuhi
dengan tata tertib seperti di lingkungan pendidikan (Brook, 2011).
Salah satu fenomena pelanggaran aturan yang menyita perhatian didunia
pendidikan saat ini adalah kekerasan sekolah yang dilakukan oleh antar siswa. Aksi
tawuran dan kekerasan (bullying) yang dilakukan oleh siswa disekolah semakin banyak
3

diberitakan di halaman media cetak maupun elektronik. Hal ini membuktikan bahwa
nilai-nilai kemanusiaan pada remaja telah hilang (Wiyani, 2012).
American Psychological Association (2013) mengartikan Bullying sebagai “a
form of aggressive behavior in which someone intentionally and repeatedly causes
another person injury or discomfort. Bullying can take the form of physical contact,
words or more subtle actions”. Pengertian tersebut bermakna sebagai suatu bentuk
perilaku agresif yang dilakukan seseorang secara berulang yang menyebabkan
kecederaan atau ketidaknyamanan pada orang lain. Secara umum diartikan sebagai
perilaku mengganggu dan kekerasan. Jika makna ini yang digunakan justru tidak
tepat sebab perilaku tersebut lebih dari sekedar mengganggu dan kekerasan.
Bullying merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku pada korbannya
bukan sebuah kelalaian, tetapi memang dilakukan secara sengaja dan tindakan ini
terjadi secara berulang – ulang. Bullying seringkali dianggap masalah yang sepele
atau kurang diperhatikan dalam kehidupan sehari -hari. Terbukti bahwa banyak para
orang tua, guru dan masyarakat saat ini menganggap fenomena bullying di sekolah
adalah hal yang biasa dan baru meresponnya ketika telah mengakibatkan korban
terluka hingga membutuhkan bantuan medis. Sementara bullying sosial, verbal dan
elektronik belum ditanggapi dengan baik (Asikin, dalam Fauzi 2017).
Anak korban perilaku bullying di sekolah akan berdampak buruk bagi prestasi
mereka di sekolah. Mereka akan membolos, berperilaku yang buruk, tidak
mengerjakan tugas sekolah dengan baik, bahkan ada yang sampai depresi
(Wharton, dalam Korua dkk 2015).
Menurut survai yang dilakukan Latitude News terhadap 40 negara di dunia
ditemukan fakta tentang bullying. Salah satu faktanya adalah bahwa pelaku bullying
biasanya para siswa laki-laki. Sedangkan siswa perempuan lebih banyak menggosip
daripada melakukan aksi kekerasan dengan fisik. Dari hasil survai tersebut juga
terdapat negara - negara dengan kasus bullying tertinggi di dunia. Indonesia termasuk
Negara dengan kasus bullying diurutan kedua. Lima Negara dengan kasus bullying
pada posisi pertama ditempati oleh Jepang, kemudian Indonesia, Kanada, Amerika
4

Serikat, dan Finlandia (Yolanda, dalam Fauzi 2017). Selaku Ketua Konsorsium
Nasional Pengembangan Sekolah Karakter menilai bahwa Indonesia sudah masuk
kategori “darurat bullying di sekolah", oleh karena itu perlu segera dilakukan
intervensi (Susanto dalam Siswati, 2009)
Fenomena bullying seperti dikucilkan oleh teman, dibentak dan diganggu oleh
orang yang lebih besar darinya (senior) semakin marak dan dapat dilihat dari data
yang dirilis dari pusat data dan informasi Komisi Perlindungan Anak tahun 2011.
Disebutkan bahwa angka kekerasan pada tahun 2011 menunjukkan kenaikan yang
cukup signifikan mengkhawatirkan. Untuk jumlah pengaduan yang masuk,
peningkatan mencapai 98% pada tahun 2011, yaitu 2.386 pengaduan dari 1.234
laporan pada tahun 2010 (Wiyani, 2012:120). Pada akhir 2013 terdapat 181 kasus
berujung pada kematian, 141 kasus korban menderita luka berat, dan 97 kasus korban
menderita luka ringan. Dari 2011 sampai Agustus 2014, KPAI mencatat 369
pengaduan terkait masalah tersebut. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan
di bidang pendidikan sebanyak 1.480 kasus. Bullying yang disebut KPAI sebagai
bentuk kekerasan di sekolah mengalahkan tawuran pelajar, diskriminasi
pendidikan, ataupun aduan pungutan liar (Komisi Perlindungan Anak Indonesia,
2014).
Adapun faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying salah satunya adalah
karena latar belakang lingkungan serta pola asuh orang tua ataupun keluarga,
selanjutnya juga lingkungan sekitar. Terdapatnya korelasi antara pola pengasuhan
orang tua yang tidak tepat dan pembentukan perilaku agresif pada anak. Penggunaan
hukuman fisik, hukuman yang tidak konsisten, dan pemanjaan secara berlebihan,
berkaitan dengan perilaku agresif anak. Dengan kata lain, remaja yang kerap
mendapat hukuman fisik dari orang tua dan dimanja dengan berlebihan dapat
meningkatkan perilaku agresif anak sehingga memicu terjadinya perilaku bullying
(Syofiyanti, 2016).
Pada hakikatnya pola asuh orang tua itu sendiri merupakan suatu peranan
penting yang dapat menumbuh kembangkankan kepribadian anak. Jika pola asuh
5

yang dikembangkan baik maka akan berdampak baik pula pada perkembangan anak.
Karena, pada dasarnya “pola asuh orang tua merupakan segala bentuk dan proses
interaksi yang terjadi anatara orang tua dan anak yang merupakan pola pengasuhan
tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan
kepribadian anak. (Utami, 2016)
Hsali studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 19 Febuari 2018 di SMP
Fajar plus Depok didapatkan hasil wawancara dari salah satu guru BK mengatakan
bahwa …..

I.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang diatas penulis mengajukan rumusan masalah utama
yaitu apakah perilaku bullying siswa dipengaruhi oleh pola asuh orang tua? Dari
rumusan masalah utama tersebut, diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana gambaran perilaku bullying siswa SMP Fajar Plus ?

I.3 Tujuan Penelitian


I.3.1 Tujuan Umum
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan umum dari penelitian ini
ialah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada
remaja di SMP Fajar plus.
I.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik siswa-siswi SMP Fajar plus.
b. Untuk mengetahui karakteristik orang tua khususnya ibu siswa SMP Fajar
plus.
c. Untuk mengetahui gambaran perilaku bullying siswa di SMP Fajar plus.

I.4 Manfaat Penelitian


I.4.1 Bagi Orang Tua
6

Hasil penelitian ini diharapkan responden dapat menambah pengetahuan dan


dapat menentukan sikap sebagai orang tua dengan pola asuh yang baik untuk dapat
menumbuh kembangkankan kepribadian anak.
I.4.2 Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pendidik
(guru SMP) dalam memilih metode pembelajaran atau mengembangkan kurikulum
dalam pembentukan karakter yang sesuai pada peserta didik yang orang tuanya
bekerja.
I.4.3 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan informasi tentang
hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku bullying pada remaja
I.4.4 Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Dapat digunakan untuk acuan penelitian selanjutnya, sehingga menambah
pengetahuan dan pengalaman penelitian dalam mengkaji permasalahan tentang
hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di SMP
Fajar Plus

I.5 Ruang Lingkup


Ruang lingkup peneliti ini dilakukan pada siswa – siswi dan orang tua di SMP
Fajar Plus Depok. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2018