Anda di halaman 1dari 7

Vol. 5 No.

3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

KELAYAKAN TEORITIS DAN EMPIRIS HASIL PENGEMBANGAN PERANGKAT


PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK MELATIHKAN
KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI JAMUR
THEORETICALLY AND EMPIRICALLY FEASIBLE RESULTS OF DEVELOPMENT BIOLOGY
LEARNING PACKAGE BASED ON GUIDED INQUIRY FOR PRACTICE PROCESS SKILLS IN
FUNGI MATERIAL

Yulia Rahayu Rohmania


Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
Gedung C3 Lt. 2 Jalan Ketintang, Surabaya 60231
e-mail : yuliarahayurochmania@gmail.com

Tjipto Haryono dan Guntur Trimulyono


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya
Gedung C3 Lt. 2 Jalan Ketintang, Surabaya 60231

Abstrak
Penelitian bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang layak secara teoritis dan empiris. Penelitian
ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model 4-D yang terdiri dari define, design, develop, dan
disseminate tetapi disseminate tidak dilakukan. Penelitian dilaksanakan di SMAN Bandarkedungmulyo Jombang pada
bulan April-Mei 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perangkat pembelajaran dinyatakan layak secara teoritis
dengan validitas silabus sebesar 3,6 dengan kategori sangat baik, RPP sebesar 3,7 dengan kategori sangat baik, LKS 1
dan LKS 2 masing-masing sebsar 3,6 dan 3,5 dengan dengan kategori sangat baik, tes hasil belajar sebesar 3,8 dengan
kategori sangat baik. Perangkat pembelajaran dinyatakan layak secara empiris dengan keterlaksanaan RPP oleh guru
dengan persentase rata-rata sebesar 100% dengan kategori sangat layak, kepraktisan LKS 1 dan LKS 2 sebesar 91,66%
dan 95% dengan kategori sangat baik, keterlaksanaan LKS sebesar 93,3% dengan kategori sangat layak, hasil belajar
ditinjau dari kompetensi pengetahuan sebesar 93,3% dan ketercapaian indikator sebesar 86,3%, kompetensi keterampilan
proses sebesar 97,2%, kompetensi sikap spiritual dan sosial sebesar 98,8% dan 98,2%, serta respons siswa sebesar 97,4%
dengan kategori positif dan sangat baik. Perangkat pembelajaran dinyatakan layak secara teoritis dan empiris.

Kata Kunci: perangkat pembelajaran, inkuiri terbimbing, keterampilan proses, materi jamur.

Abstract
The study intended to produce learning packages that were viable theoretically and empirically. This study was
development studies and used 4-D model which were consist of define, design, develop, and disseminate, but disseminate
was not done. The study was implemented in SMAN Bandarkedungmulyo Jombang on April-May 2016. The results
showed that, learning packages were theoretically feasible with validity of syllabus by score 3,6 with very good
category, RPP by score 3,7 with very good category, first second worksheet by score 3,6 and 3,5 with very good
category, assessment test by score 3,8 with very good category. Learning packages were empirically feasible with
enforceability of teacher activity got average percentage 100% with very feasible category, practicallity of worksheet 1
and worksheet 2 got the average percentage 91,66% and 95% with very good category, enforceability of worksheet got
93,3% with very feasible category, learning outcomes based on cognitive competence got 93,3% with very feasible
category and indicator achievement got 86,3%, process skills competence got 97,2%, and students responses got 97,4%
with positive responses category and very good category. Learning packages were feasible theoretically and empirically.

Keywords: learning package, guided inquiry, process skills, fungi material.

PENDAHULUAN Kurikulum 2013 yang berorientasi pada metode ilmiah.


Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang Metode ilmiah didasarkan pada keterampilan proses yang
digunakan di Indonesia pada saat ini. Berdasarkan melatihkan keterampilan-keterampilan siswa untuk
Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses melakukan kinerja ilmiah dengan menggunakan langkah-
Pendidikan Dasar dan Menengah, menjelaskan bahwa langkah ilmiah.
pendekatan saintifik ditekankan dalam penerapan
115
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

Kenyataan yang dijumpai di sekolah berdasarkan aktif dalam menemukan konsep pembelajarannya
wawancara seorang guru mata pelajaran biologi SMA dan sekaligus melatihkan keterampilan proses sains yang
hasil angket siswa yang telah dilakukan di SMAN dimilikinya secara kritis, logis, dan sistematis.
Bandarkedungmulyo, LKS yang digunakan hanya sekedar Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
berisi rangkuman materi dan kumpulan beberapa soal Ertiningsih (2014) menyimpulkan bahwa secara
latihan tanpa adanya suatu kegiatan aktif untuk siswa. keseluruhan perangkat pembelajaran berbasis inkuiri
Sehingga siswa cenderung pasif dalam menemukan suatu terbimbing yang dikembangkan berkategori sangat layak
konsep materi yang diajakarkan dan juga pembelajaran dengan kisaran skor 3,26-4,0. Skor yang diperoleh
berpusat pada guru bukan pada siswanya. Padahal untuk meliputi: (1) silabus 3,8; (2) RPP 3,8; (3) instrumen
melaksanakan pembelajaran yang baik dan sesuai dengan penilaian keterampilan ilmiah 3,9; sikap ilmiah 3,8 dan
Kurikulum 2013, sangat diperlukan suatu perangkat soal pemahaman konsep 3,9.
pembelajaran yang mendukung keterlaksanan proses Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka
belajar mengajar misalnya saja RPP dan LKS, terutama dilakukan penelitian pengembangan perangkat
yang mendukung untuk melatihkan keterampilan proses pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing untuk
siswa. melatihkan keterampilan proses yang layak secara teoritis
Menurut Ibrahim (2010) keterampilan proses dibagi dan secara empiris yang diharapkan dapat menunjang
menjadi dua, yaitu keterampilan proses dasar dan ketercapaian tujuan Kurikulum 2013 yang menekankan
keterampilan proses terpadu atau eksperimen. pada pendekatan saintifik
Keterampilan proses dasar seperti pengamatan,
pengukuran, klasifikasi, bertanya, komunikasi, dan METODE
prediksi. Keterampilan proses terpadu atau eksperimen Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4-
meliputi langkah-langkah dalam metode ilmiah. D yang terdiri dari define, design, develop, dan
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan disseminate tetapi disseminate tidak dilakukan. Uji coba
berbasis inkuiri terbimbing ini meliputi RPP, LKS dan tes terbatas dilaksanakan di SMAN Bandarkedungmulyo
hasil belajar yang sesuai dengan pendekatan dalam Jombang pada bulan April-Mei 2016 kepada 15 siswa
Kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan Kelas X MIA. Teknik pengumpulan data dengan metode
saintifik. Kegiatan inkuiri diawali dengan kegiatan validasi yang dilakukan oleh 2 dosen ahli dan 1 guru mata
mengamati, menanya, melakukan penyelidikan, pelajaran biologi, metode tes, metode observasi, dan
menganalisis, dan menjelaskan (Ibrahim, 2010). metode angket. Data hasil validasi dianalisis dengan
Dikembangkannya perangkat pembelajaran berbasis menggunakan skala penilaian, keterlaksanaan dianalisis
inkuiri terbimbing diharapkan mampu melatihkan menggunakan persentase kegiatan yang terlaksana, hasil
keterampilan proses dasar bagi siswa yang belum pernah belajar dianalisis menggunakan persentase ketuntasan dan
mendapatkan pembelajaran berbasis inkuiri sebelumnya gain score dan respons siswa dianalisis menggunakan
terutama pembelajaran yang melibatkan siswa secara persentase responden yang memberikan respons positif.
aktif, selain itu dengan pembelajaran berbasis inkuiri Berdasarkan nilai gain score dapat diketahui peningkatan
terbimbing ini diharapkan dapat melibatkan seluruh atau tingkat gain setelah penggunaan perangkat
kemampuan siswa secara maksimal dalam berfikir kritis, pembelajararan berbasis inkuiri terbimbing dan hasil
logis, dan sistematis. analisis respons siswa, dapat disimpulkan bahwa
Adapun materi yang dipilih adalah materi jamur perangkat pembelajaran biologi yang dikembangkan
pada submateri pengelompokan jamur. Sebanyak 50% dikatakan efektif interpretasinya
dari 30 siswa yang diambil secara acak dengan jumlah
total siswa Kelas X MIA 90 siswa di SMAN HASIL
Bandarkedungmulyo berpendapat bahwa submateri Kelayakan perangkat pembelajaran berbasis inkuiri
pengelompokan jamur dianggap sulit dan banyak berdasarkan kelayakan secara teoritis dan secara empiris.
menghafal karena kurangnya pengetahuan secara a. Kelayakan Teoritis
langsung dari lingkungan sekitarnya mengenai contoh- Tabel 1. Rekapitulasi Validitas Perangkat
contoh jamur dari masing-masing Divisi sehingga siswa Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing
tidak bisa menjelaskan perbedaan serta ciri khas dari No. Jenis Nilai Kategori
masing-masing Divisi tersebut. Ketersediaannya yang Perangkat Kelayakan
melimpah di alam juga seharusnya memudahkan proses 1. Silabus 3,6
Sangat Baik
pengamatan siswa yang diharapkan mampu merangsang 2. RPP 3,7
Sangat Baik
rasa keingintahuannya, sehingga siswa dapat berperan 3. LKS 1 3,6
Sangat Baik
116
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

No. Jenis Nilai Kategori keterlaksanaan sebesar 100%. Hasil keterlaksanaan


Perangkat Kelayakan LKS berdasarkan kepraktisan LKS termasuk dalam
4. LKS 2 3,5 Sangat Baik kategori sangat baik dengan persentase rata-rata
5. Tes Evaluasi 3,8 Sangat Baik yaitu untuk LKS 1 dan LKS 2 masing-masing
Rata-rata sebesar 91,66% dan 95%, sedangkan keterlaksanaan
3,64 Sangat Baik
Keseluruhan
LKS berdasarkan laporan hasil pengamatan siswa
masuk dalam kategori sangat layak dengan
Kelayakan teoritis diperoleh berdasarkan hasil
persentase keterlaksanaan sebesar 95% dan
validasi perangkat pembelajaran berbasis inkuiri
keseluruhan aspek tergolong sangat baik dengan
terbimbing yang meliputi silabus, RPP, LKS dan tes
skor rata-rata secara klasikal sebesar 3,8.
hasil belajar seorang ahli pendidikan, dan seorang
Hasil belajar diperoleh berdasarkan penilaian
ahli materi jamur serta satu guru Biologi SMAN
kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Bandarkedungmulyo Jombang. Perangkat
Kompetensi pengetahuan dinilai menggunakan
pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan layak
instrumen lembar penilaian tes hasil belajar berupa
secara teoritis dengan kategori sangat baik dan
pre-test dan post-test. Ketuntasan tes hasil belajar
sangat layak dengan skor validitas yaitu; (1) Silabus
ditentukan berdasarkan ketercapaian indikator dan
sebesar 3,6 dengan kategori sangat baik; (2) RPP
peningkatan hasil belajar. Ketercapaian inikator
sebesar 3,7 dengan kategori sangat baik; (3) LKS 1
siswa secara klasikal sebesar 86,3% dengan kategori
sebesar 3,6 dengan kategori sangat baik; (4) LKS 2
tuntas dan peningkatan hasil belajar siswa pada saat
sebesar 3,5 dengan kategori sangat baik; (5) tes hasil
pretest yaitu sebesar 100% tergolong tidak tuntas
belajar sebesar 3,8 dengan kategori sangat baik
dan untuk ketuntasan postest sebanyak 14 siswa atau
b. Kelayakan Empiris
93,3% tergolong dalam kategori tuntas. Berdasarkan
Tabel 2. Kelayakan Empiris Perangkat
Pembelajaran Berbasis Inkuiri kriteria gain score dari jumlah total 15 siswa,
Terbimbing sebanyak 4 siswa atau 26,6% tergolong dalam
kriteria gain score sedang, sedangkan sebanyak 11
No. Aspek Nilai Kategori
siswa atau 73,4% tergolong dalam dalam kriteria
Kelayakan Kelayakan
gain score tinggi, sehingga secara klasikal rata-rata
1. Keterlaksanaan 3,6 Sangat Baik
RPP gain score termasuk dalam kategori tinggi dengan
2. Kepraktisan 3,7 Sangat Baik besarnya gain yaitu 0,79. Berdasarkan hasil tersebut
LKS secara umum tes hasil belajar siswa mengalami
3. Keterlaksanaan 3,6 Sangat Baik peningkatan dan tuntas.
LKS Hasil belajar ditinjau dari pengamatan
4. Hasil Belajar 86,3% Sangat Baik keterampilan proses siswa secara klasikal tergolong
Kompetensi
Pengetahuan dalam kategori sangat layak dengan persentase
5. Hasil Belajar 97,2% Sangat Baik ketuntasan sebesar 97,2%. Ketuntasan hasil belajar
Kompetensi yang ditinjau dari kompetensi sikap spiritual secara
Keterampilan klasikal digolongkan dalam kategori sangat baik dan
6. Hasil Belajar 98,5% Sangat Baik tuntas 98,8%, sedangkan kompetensi sikap sosial
Kompetensi secara klasikal sebesar 98,2% tuntas dengan predikat
Sikap
sangat baik.
7. Respons Siswa 97,4% Sangat Baik
Respons siswa diperoleh berdasarkan angket
Rata-rata
3,64 Sangat Baik respons siswa terhadap pembelajaran juga
Keseluruhan
keterbacaan LKS yang dikembangkan. Persentase
Kelayakan perangkat pembelajaran secara respons siswa secara klasikal sebesar 97,4% yaitu
empiris ditinjau dari keterlaksanaan pembelajaran dalam kategori positif dan sangat baik, sedangkan
yang meliputi keterlaksanaan RPP, LKS 1 dan LKS sebesar 2,6% pembelajaran menggunakan perangkat
2, serta keterampilan proses dasar siswa, pembelajaran berbasis inkuiri memperoleh respon
peningkatan hasil belajar dan respons siswa. Hasil negatif.
keterlaksanaan RPP diperoleh melalui pengamatan
terhadap kegiatan guru selama proses pembelajaran PEMBAHASAN
berlangsung yaitu memperoleh rata-rata persentase Berdasarkan uji validasi untuk memperoleh
kelayakan perangkat pembelajaran secara teoritis dan uji
117
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

coba terbatas untuk memperoleh kelayakan perangkat Hasil validasi tes hasil belajar menunjukkan
pembelajaran secara empiris maka diperoleh hasil bahwa lembar tes hasil belajar yang dikembangkan
validitas, keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar, dan memiiki kategori sangat baik dengan persentase
respon siswa. kelayakan tergolong dalam ketegori sangat layak.
a. Kelayakan Teoritis Skor terendah yang diperoleh berdasarkan hasil
Hasil validasi perangkat pembelajaran berbasis validasi adalah aspek bahasa dengan kriteria
inkuiri terbimbing yang meliputi validitas silabus, rumusan kalimat yang komunikatif. Hal ini
RPP, LKS dan tes hasil belajar memperoleh skor disebabkan adanya butir soal yang menyebabkan
rata-rata 3,6 yang tergolong dalam kategori sangat penafsiran ganda menurut salah satu validator,
baik dan layak secara teoritis. Hasil validsi silabus sehingga dapat memunculkan jawaban yang berbeda
menunjukkan bahwa secara keseluruhan silabus di luar kisi-kisi dan kunci soal. Tujuan adanya tes
memperoleh rata-rata skor sebesar 3,6 dengan evaluasi hasil belajar adalah untuk mengetahui
kategori sangat baik dan persentase sangat layak. Hal penguasaan kompetensi siswa sebagai bentuk
ini menunjukkan bahwa silabus yang dikembangkan ketercapaian atau ketuntasan hasil belajar. Tes
telah sesuai dengan pendapat Ibrahim (2010) yang evaluasi hasil belajar yang dikembangkan ini
menyatakan bahwa silabus telah mencakup dan bertujuan untuk menilai kompetensi pengetahuan
memuat kompetensi dasar, materi pokok siswa yaitu kemampuan berfikir siswa pada
pembelajaran, alokasi waktu, penilaian serta tingkatan pengetahuan tertentu (Permendikbud,
sumber/bahan/alat pembelajaran dan menjabarkan 2014a).
kompetensi dasar ke dalam suatu materi pokok Perangkat pembelajaran berbasis inkuiri
pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan indikator terbimbing yang dikembangkan dan telah divalidasi
pencapaian kompetensi untuk penilaian. oleh para ahli menunjukkan hasil yaitu bahwa
Hasil validsi RPP secara umum menunjukkan validasi silabus, RPP, LKS, dan tes evaluasi hasil
bahwa validitas RPP tergolong dalam kategori belajar dinyatakan layak secara teoritis dengan
sangat baik dengan persentase sangat layak. Skor kriteria sangat baik dengan persentase sangat layak
validasi RPP tersendah diperoleh pada aspek untuk diuji cobakan, hal ini sesuai dengan tujuan
penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dengan penelitian yaitu untuk menghasilkan perangkat
skor sebesar 3,3 kategori baik dan persentase pembelajaran biologi berbasis inkuiri terbimbing
kelayakan tergolong layak, hal ini disebabkan oleh untuk melatihkan keterampilan proses pada materi
kalimat yang digunakan dalam RPP masih jamur Kelas X SMA yang layak secara teoritis
menggunakan tata bahasa yang kurang tepat berdasarkan hasil vaidasi kelayakan perangkat
terutama kalimat penjelasan pada langkah pembelajaran.
pembelajaran. Hal ini selaras dengan kriteria RPP b. Kelayakan Empiris
yang baik adalah di dalamnya memuat langkah Perangkat pembelajaran yang telah divalidasi
pembelajaran dengan karakteristik interktif dan kemudian diuji cobakan secara terbatas di SMAN
inspiratif sehingga untuk mewujudkannya perlu Bandarkedungmulyo Jombang kepada 15 siswa
adanya langkah pembelajaran yang baik dan benar di Kelas X MIA untuk mengetahui kelayakan
dalam RPP (Kemendikbud, 2014). perangkat pembelajaran yang dikembangkan secara
Berdasarkan hasil validasi LKS yang diperoleh empiris. Kelayakan empiris meliputi yaitu:
maka dapat dinyatakan bahwa LKS 1 dan LKS 2 keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar dan
termasuk dalam kategori sangat baik dengan respon siswa.
persentase kelayakan tergolong dalam kategori Keterlaksanaan pembelajaran ditinjau dari
sangat layak digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa keterlaksanaan RPP oleh guru pada pertemuan
LKS berbasis inkuiri yang dikembangkan telah pertama dan kedua menunjukkan bahwa
memenuhi syarat LKS yang baik menurut pendapat keterlaksanaan seluruh kegiatan pembelajaran dapat
Widjajanti (2008), yaitu yang memenuhi syarat dilaksanakan oleh guru dengan sangat baik. Kegiatan
didaktik yaitu meliputi keefektifan dalam pembelajaran di dalam RPP berbasis inkuiri
pembelajaran, syarat konstruksi yaitu meliputi terbimbing memuat sintaks pembelajaran inkuiri.
penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata, Menurut Muslich (2008), langkah kegiatan
tingkat kesukaran, dan kejelasan, serta syarat teknis pembelajaran inkuiri yaitu: 1) merumuskan masalah;
yaitu meliputi sistematika susunan LKS. 2) mengamati atau melakukan observasi; 3)
menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk
118
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya test. Ketuntasan hasil pretest yaitu sebesar 100%
lain; 4) mengomunikasikan atau menyajikan hasil. tergolong tidak tuntas hal ini disebabkan karena
Keberhasilan keterlaksanaan pembelajaran berbasis siswa belum diberikan perlakuan atau belum
inkuiri terbimbing merupakan kolaborasi antara guru melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri
dan siswa karena peranan guru dan siswa sama-sama terbimbing. Hasil pretest merupakan pengetahuan
aktif dan mendominasi. Menurut pendapat Putra atau kemampuan berpikir awal siswa berdasarkan
(2013), pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing pengetahuan dan pengalaman belajar yang diperoleh
memposisikan guru sebagai pemberi arahan siswa sebelumnya, sedangkan hasil ketuntasan postest
diskusi sekaligus stimulus awal dalam pembentukan yaitu sebesar 93,3% tergolong dalam kategori tuntas
konsep dan proses berfikir siswa. tetapi terdapat satu siswa yang termasuk dalam
Hasil keterlaksanaan LKS yang diperoleh kategori tidak tuntas. Hal ini disebabkan karena
berdasarkan kepraktisan LKS dan laporan hasil siswa tidak mampu menjawab butir soal uraian
pengamtan siswa menunjukkan bahwa dalam mendeskripsikan ciri-ciri jamur berdasarkan
keterlaksanaan pembelajaran tergolong dalam beberapa contoh gambar yang merupakan KD 3.6.
kategori sangat baik yang artinya secara empiris Siswa hanya mampu membedakan Divisi jamur
perangkat pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan gambar tetapi tidak mampu
dinyatakan sangat layak ditinjau dari kepraktisan dan membedakan ciri dan cara reproduksinya.
keterlaksanaan LKS. Kepraktisan LKS diperoleh Berdasarkan hasil perhitungan gain score
dari hasil kerja siswa yang tertuang dalam LKS. peningkatan hasil belajar tergolong dalam dalam
Kegiatan mengamati pada LKS 1 dan LKS 2 kriteria gain score tinggi dan hasil belajar mengalami
meunjukkan hasil berkategori sangat baik, hal ini peningkatan yang artinya pembelajaran berbasis
berarti siswa dapat mengidentifikasi fenomena yang inkuiri layak secara empiri ditinjau dari peningkatan
terdapat dalam LKS sehingga siswa mampu hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil
menuliskan informasi penting atau permasalahan penelitian yang dilakukan oleh Ni’mah (2014) yaitu
yang diuraikan tersebut (Khakim, 2013). hasil belajar pada aspek kognitif mengalami
Keterlaksanaan pembelajaran ditinjau dari peningkatan yang ditunjukkan dengan besarnya nilai
keterlaksanaan LKS menunjukkan bahwa gain score pada pertemuan pertama sebesar 0,35
keterlaksanaan pembelajaran tergolong dalam menjadi 0,49 pada pertemuan kedua yang artinya
kategori sangat baik yang artinya secara empiris pembelajaran dengan menggunakan perangkat
perangkat pembelajaran yang dikembangkan pembelajaran berbasis inkuiri efektif dalam
dinyatakan sangat layak. Aspek yang memperoleh ketuntasan dan meningkatkan hasil belajar.
skor terendah dalam keterlaksanaan LKS adalah Hasil belajar ditinjau dari ketuntasan kompetensi
aspek menggambarkan hasil pengamatan, siswa keterampilan menunjukkan bahwa keterampilan
menggambarkan hasil pengamatannya tanpa disertai proses siswa secara klasikal tergolong dalam
dengan ukuran atau perbesaran. Dalam sintaks kategori tuntas dengan persentase sangat layak
inkuiri menggambarkan hasil pengamatan secara empiris. Penelitian yang dilakukan Rizkiyah
merupakan termasuk dalam sintaks terakhir yaitu (2015) menunjukkan hasil yang sama yaitu
mengomunikasikan atau menyajikan hasil. Menurut keterampilan proses siswa memperoleh ketercapaian
Ibrahim (2010), dalam menyajikan hasil pengamatan sebesar 93,3% pada pertemuan pertama dan
salah satu hal yang penting adalah mendeskripsikan mengalami peningkatan sebesar 0,1% pada
poin penting atau inti pengamatan dan keakuratan pertemuan kedua dengan menggunakan
dalam berkomunikasi. Sehingga hasil pengamatan pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing.
siswa yang tidak disertai ukuran atau perbesarannya Kompetensi sikap spiritual siswa dalam belajar
pada mikroskop tergolong dalam hasil pengamatan memperoleh ketuntasan sebesar 98,8% dengan
yang kurang akurat. kategori sangat baik. Dalam menilai dirinya sendiri
Kelayakan secara empiris selain ditentukan oleh siswa diberikan kesempatan untuk melatih
keterlaksanaan pembelajaran juga ditentukan oleh kejujurannya dengan tetap diamati oleh observer
ketuntasan hasil belajar siswa yang mencakup 3 keterlaksanaan tiap aspeknya.
kompetensi yaitu kompetensi pengetahuan, Ketuntasan belajar kompetensi sikap sosial
keterampilan dan sikap. Ketuntasan hasil belajar diperoleh berdasarkan hasil pengamatan oleh
pada kompetensi pengetahuan diperoleh berdasarkan observer menggunakan lembar penilaian sikap sosial
hasil tes evaluasi belajar berupa pre-test dan post- yang berisikan aspek-aspek pada KD 2.1 dan 2.2.
119
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

tabel 4.13 menunjukkan bahwa ketuntasan hasil Perangkat pembelajaran biologi berbasis inkuiri
belajar siswa ditinjau dari sikap sosial tergolong terbimbing yang telah diujicobakan secara terbatas
dalam predikat dangat baik dengan persentase secara menunjukkan hasil kelayakan secara empiris pada
klasikal sebesar 98,2%. Aspek yang memperoleh kategori sangat layak ditinjau dari keterlaksanaan
skor terendah pada kompetensi sikap sosial adalah pembelajaran yang meliputi keterlaksanaan RPP,
sikap hati-hati siswa dalam menggunakan alat LKS 1 dan LKS 2, serta keterampilan proses dasar
praktikum yang kurang sesuai dengan kegunaanya, siswa, peningkatan hasil belajar dan respons siswa,
hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan sehingga tujuan penelitian tercapai dan dihasilkan
siswa tentang kegunaan berbagai alat praktikum dan perangkat pembelajaran biologi berbasis inkuiri
kurang menyeluruhnya penjelasan dari guru tentang terbimbing yang layak secara empiris
berbagai alat yang akan digunakan untuk praktikum,
sehingga beberapa siswa menggunakan alat
praktikum diluar kegunaannya.
Hasil respons siswa menunjukkan bahwa secara PENUTUP
keseluruhan aspek dinilai positif oleh siswa, Simpulan
sehingga dapat dikatakan bahwa siswa memberikan Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat
respons yang postif terhadap pembelajaran berbasis disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran biologi
inkuiri terbimbing beserta LKS yang dikembangkan berbasis inkuiri terbimbing pada materi jamur untuk
ini. Hal ini disebabkan karena siswa sangat tertarik melatihkan keterampilan proses yang dikembangkan
dan antusias terhadap kegiatan pembelajaran dan dinyatakan layak secara teoritis dengan kategori sangat
praktikum yang menurut siswa jarang dilaksanakan valid dan dinyatakan layak secara empiris.
sehingga pembelajaran yang diterima selama ini
kurang melatihkan keterampilan siswa terutama Saran
keterampilan dalam mengamati, menanya, Saran yang bisa disampaikan terkait penelitian
mengklasifikasi, dan memprediksi. Selain itu, yang telah dilakukan yaitu sebagai berikut:
pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing melatihkan 1. Sebaiknya dicantumkan dan dijabarkan tahapan
siswa untuk menemukan konsep belajarnya sendiri “melakukan kegiatan atau pengamatan” di dalam LKS
dan menyelesaikan masalah yang bersifat konkrit 2. Video yang digunakan dalam LKS disarankan untuk
serta berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. divalidasi terlebih dahulu sebelum diimplementasikan
Penelitian yang dilakukan oleh Rizkiyah (2015) dalam pembelajaran.
menunjukkan hasil yang sama yaitu keseluruhan 3. Perlu adanya petunjuk penyusunan rumusan masalah
siswa merespon positif pembelajaran dengan yang baik dan benar secara ilmiah di dalam LKS.
menggunakan perangkat pembelajaran berbasis 4. Sebaiknya di dalam LKS dicantumkan syarat-syarat
inkuiri terbimbing dengan persentase sebesar pengamatan yang baik.
88,47%. 5. Pengelolahan waktu dalam pembelajaran oleh guru
Respon negatif dengan persentase tertinggi sangat diperlukan untuk memaksimalkan ketuntasan
diberikan oleh siswa yaitu siswa berpendapat bahwa belajar siswa.
kegiatan di dalam LKS tidak melatihkan
keterampilan mengklasifikasi, hal ini disebabkan Ucapan Terima Kasih
karena siswa masih kurang memahami cara Peneliti mengucapkan terima kasih kepada validator
menggunakan kunci identifikasi dan pengetahuan Novita Kartika Indah, S.Pd, M.Sc. dan Dra. Isnawati,
yang kurang mengenai urutan tingkatan taksonomi M.Si. Seluruh pihak khususnya kepada guru Biologi
mulai dari Kingdom sampai dengan genus. Sehingga SMAN Bandarkedungmulyo Jombang Setya Utami, S.Pd.
diperlukan kegiatan pengamatan dalam yang telah menjadi validator serta siswa-siswi X MIA 1.
pembelajaran yang mampu melatihkan keterampilan
siswa dalam mengklasifikasi. Karena menurut
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim (2010), pada dasarnya klasifikasi adalah
mencari persamaan pada objek yang berbeda dan Ertiningsih. 2014. Pengembangan Perangkat
mencari perbedaan pada objek yang sama, sehingga Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri Terbimbing
keterampilan menglasifikasi yang baik didukung Materi Archaeabacteria Dan Eubacteria Untuk Siswa
oleh keterampilan pengamatan yang baik pula. Kelas X-MIA Semester I SMA Negeri 2 Pare

120
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur
Vol. 5 No.3
BioEdu September
ISSN: 2302-
9528
http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bioedu
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi 2016

Kabupaten Kediri. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.


Malang: Universitas Negeri Malang.

Ibrahim, M. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar


Mengajar. Surabaya: Unesa University Press.

Kemendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 tentang
Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kemendikbud. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 tentang
Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan
Menengah.

Khakim, M.L. 2013. Pengembangan Authentic


Assessment Pada Pembelajaran Fisika yang
Berorientasi Life Skill Berdasarkan Standar
Kompetensi Kelulusan (SKL). Skripsi. Tidak
Dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Negeri
Sunan Kalijaga.

Muslich, M. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis


Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.

Ni’mah, S. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran


Fisiologi Tumbuhan Berbasis Inkuiri Terbimbing.
Jurnal Pendidikan Sains. Vol.2(3): hal. 175-183.

Putra, S.R. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif


Berbasis Sains. Jogjakarta: DIVA Press.

Rizkiyah, K. 2015. Pengembangan Perangkat


Pembelajaran Biologi Model Inkuiri Terbimbing
(Guided Inquiry) Pada Pokok Bahasan Sistem Gerak
Kelas XI SMA. Skripsi. Tidak Dipublikasikan.
Jember: Universitas Muhammadiyah.

Widjajanti, E. 2008. Kualitas Lembar Kerja Siswa.


Yogyakarta: UNY.

121
Rohmania, Yulia R dkk: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing Materi Jamur