Anda di halaman 1dari 12

TEKNOLOGI OLEOKIMIA

“FATTY ALKOHOL”

DISUSUN OLEH:

1. LARASATI SURLIADJI 03031181419063


2. DITA TRIANDINI 03031281419085

DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH:


Dr. Ir. H. M. FAIZAL, DEA.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
1. Karakteristik Fatty Alkohol
Fatty alkohol (lemak alkohol) adalah alkohol alifatis yang merupakan
turunan dari lemak alam ataupun minyak alam. Fatty alkohol merupakan bagian
dari asam lemak dan fatty aldehid. Fatty alkohol biasanya mempunyai atom
karbon dalam jumlah genap. Molekul yang kecil digunakan dalam dunia kosmetik,
makanan dan pelarut dalam industri. Molekul yang lebih besar penting sebagai
bahan bakar. Karena sifat amphiphatic-nya, fatty alkohol berkelakuan seperti non
ionic surfaktan. Fatty alkohol dapat digunakan sebagai emulsifier, emollients, dan
thickeners dalam industri kosmetik dan makanan. Contoh fatty alkohol :
1. Capryl alkohol (1-octanol) -- 8 carbon atoms
2. Pelargonic alkohol (1-nonanol) -- 9 carbon atoms
3. Capric alkohol (1-decanol, decyl alkohol) -- 10 carbon atoms
4. 1-dodecanol (lauryl alkohol) -- 12 carbon atoms
5. Myristyl alkohol (1-tetradecanol) -- 14 carbon atoms
6. Cetyl alkohol (1-hexadecanol) -- 16 carbon atoms
7. Palmitoleyl alkohol (cis-9-hexadecan-1-ol) -- 16 carbon atoms,
unsaturated, CH3(CH2)5CH=CH(CH2)8OH
8. Stearyl alkohol (1-octadecanol) -- 18 carbon atoms
9. Isostearyl alkohol (16-methylheptadecan-1-ol) -- 18 carbon atoms,
branched,
(CH3)2CH-(CH2)15OH
10. Elaidyl alkohol (9E-octadecen-1-ol) -- 18 carbon atoms, unsaturated,
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)8OH

1.1.1. Jenis Fatty Alcohol


Pada umumnya fatty alcohol terbagi menjadi dua macam yaitu fatty
alcohol alami (natural fatty alcohol) dan fatty alcohol dari sumber lainnya, seperti
sintetis dari petrolium. Fatty alcohol alami berasal dari bahan baku yang dapat
diperbaharui yang terdapat di alam. Alkohol jenis ini selalu berada dalam bentuk
gabungan pada rantai bebas (senyawa murni). Alkohol gabungan yang penting
adalah gliserol TAG yang mengandung asam lemak yang memiliki rantai panjang
karbon C12-C18 yang dipertukarkan dengan metil ester menjadi fatty alcohol.
Untuk mendapatkan fatty alcohol dari sumber lainnya dapat menggunakan metode
seperti hidrolisis lilin ester menggunakan lemak hewani, proses reduksi sodium
menggunakan lemak dan minyak, proses Ziegler menggunakan etilen, dan proses
oxo menggunakan hidrogenasi olefin.
Tabel 1. Karakteristik Fatty Alcohol

2. Proses Pembuatan Fatty Alcohol


Untuk menmproduksi fatty alcohol dapat menggunakan beberapa metode
berikut :
1. Hidrolisis lilin ester menggunakan lemak hewani
2. Proses reduksi sodium mennggunakan lemak dan minyak
3. Proses Ziegler menggunakan etilen
4. Proses oxo menggunakan hydrogenation olefin
5. Katalitik hidrogenasi asam lemak dan metil ester dari lemak dan minyak
6. Hidrogenasi lansung lemak dan minyak
7. Hidrogenasi pada Tekanan Tinggi
Deskripsi tentang metoda pertama dijelaskan sebagai acuan historis awal
mula proses produksi fatty alcohol di dunia. Deskripsi tentang metoda kedua dam
metoda keenam dijelaskan sebagai metode perkembangan dari metode yang
pertama. Metoda ketiga dan keempat menggunakan bahan baku yang berasal dari
petrokimia dan akan dijelaskan sekilas sebagai bahan perbandingan saja dalam
makalah ini. Bagaimanapun, harus diketahui bahwa kira-kira 50% persediaan fatty
alcohol dunia di produksi melalui dua cara ini.
2.1. Hidrolisis dari Lilin Ester
Fatty alcohol pertama kali diperoleh dari hidrolisis lilin ester yang berasal
dari binatang, terutama spermaceti dari sperma ikan paus. Namun sejak adanya
peraturan tentang larangan perburuan atas ikan paus, sumber dan metode ini tidak
lagi digunakan. Lilin spermaceti dipisahkan dengan cara pemanasan menggunakan
NaOH pekat diatas 3000C, lalu alkohol didistilasi dari sabun dan air yang
terbentuk. Hasil Sulingan (distilat) mengandung alcohol tak jenuh C16-C20. Untuk
mencegah terjadinya auto-oksidasi, distilat ini dikeraskan dengan hidrogenasi
katalitik.. Alkohol yang diperoleh mencapai yield 35 %. Produk utama terdiri dari
: cetyl, oceyl, dan alcohol arachidyl.
2.2. Proses Reduksi Sodium
Larutan sodium didispersikan dalam pelarut inert lalu ditambahkan ester
kering dan alcohol dengan hati-hati. Saat reaksinya komplit , oksida nya
dipecahdengan pengadukan dalam air, kemudian alkoholnya dicuci dan didistilasi.
Penambahan Alkohol R’ (sebaiknya alcohol sekunder), bertindak sebagai donor
hydrogen. Karena adanya reaksi samping , pemakaian sodium bias jadi di atas 20
% dari kebutuhan stoikiometri. Reduksi berjalan selektif tanpa pembuatan
hidrokarbon dari isomerisasi atau hidrogenasi ikatan rangkap.
2.3. Proses Zieglar Menggunakan Etilen
Fatty alcohol dari proses ini mempunyai struktur yang sama dengan
alcohol lemak alami. Proses ini dibagi dalam dua proses yaitu proses Alfol dan
proses Epal.
2.3.1. Proses Alfol
Hidrokarbon digunakan sebagai pelarut, proses ini melalui lima tahap:
1) Hidrogenasi
2 Al(CH2CH3)3 + Al + 1,5 H2 → 3 Hal(CH2CH3)3
2) Etilasi
3 HAl(CH2CH3)3 + 3 CH2=CH2 →3 Al(CH2CH3)3
2/3 dari hasil proses ini di recycle lagi ke proses hidrogenasi dan sisanya lansung
masuk ke reaksi perkembangan
3) Reaksi perkembangan (Growth Reaction)
4) Oksidasi
5) Hidrolisa
2.3.2. Proses Epal
Proses ini mempunyai langkah-langkah yang hampir sama dengan proses
alfol. Fleksibilitas Proses ini lebih besar dibandingkan dengan prose alfol. Alkohol
dan α- olefin yang terbentuk bisa dipasarkan. Namun modal dan biaya yang
dibutuhkan juga lebih besar, karena membutuhkan proses control yang lebih
kompleks dan penambahan olefin dan alcohol rantai bercabang.
2.4. Proses Oxo Menggunakan Olefin
Proses oxo (hidroformilasi) terdiri dari reaksi antara olefin dengan
campuran gas H2-CO dan katalis yang cocok. Reaksi ini ditemukan oleh O.Roelen
pada tahun 1938.
CH3
2R – CH=CH2 + 2CO + 2H2 → R-CH2CH2-CHO + R-CH2OH
Yield α- olefin diperkirakan sama dengan jumlah aldehid rantai lurus dan
bercabangnya. Proses oxo dapat dilakukan dengan tiga cara berikut :
o Proses klasik dengan menggunakan katalis HCO(CO)4
o Proses Shell berdasarkan kompleks kobalt karbonil – phosphine
o Proses menggunakan Katalis Rhodium
Langkah- langkah pada proses klasik yaitu reaksi oxo, pemisahan katalis dan
regenerasi , hidrogenasi aldehid dan distilasi alcohol. Proses antara ketiga proses
tersebut dapat dilihat pada table berikut ini :
Perbandingan Proses OXO
Klasik Shell Unio Carbide
Katalis Cobalt Carbonil Cobalt Carbonil Rhodium
Phosphine Carbonil
Complex Phospine
complex
Konsentrasi 0,1 – 1,0 0,5 0,001 - 0,1
katalis
CO2 : H2 1,1 – 1,2 1,2 – 2,5 Excess hidrogen
Temperatur (0C) 150 – 180 170 – 210 100 - 120
Tekanan (MPa) 20 – 30 5 – 10 2-4
LHSV 0,5 – 1,0 0,1 – 1,2 0,1 – 0,25
Produk Primer Aldehid Alkohol aldehid
Linearitas (%) 40 – 50 80 – 85 90
Pada proses shell, alcohol diperoleh lansung karena bagusnya aktifitas katalis
sehingga tahap hidrogenasi aldehid tidak di perlukan lagi, kelemahan proses ini
adalah, adanya olefin yang hilang dari proses. Sedangkan proses yang
menggunakan katalis Rhodium dapat dilakukan pada P dan T yang rendah, karena
tingginya aktifitas katalis . Kelemahannya adalah memerlukan biaya yang tinggi
karena mahalnya harga Rhodium.
2.5. Hidrogenasi Langsung dari Minyak dan Lemak
Proses pembuatan fatty alcohol dari minyak alami dapat diperoleh dari
metil ester atau asam lemak. Kedua metode ini memiliki persamaan dan sangat
kompetitif dibandingkan dengan metode lainnya. Secara umum proses pembutan
fatty alcohol secara langsung dari minyak dan lemak dapat dilihat pada gambar.

Gambar 2.5. Rute pembentukan Fatty alcohol dari Minyak dan lemak

Proses hidrogenasi langsung mempunyai beberapa kekurangan,


diantaranya menghasilkan produk samping bernilai tinggi gliserin yang justru
mengalami proses hidrogenasi lanjut menghasilkan propilen glikol yang bernilai
rendah, komsumsi gas hidrogen yang cukup tinggi, dan penggunaan katalis dalam
jumlah besar.

2.6. Hidrogenasi Katalitik dari Asam Lemak dan Metil Ester


Fatty alcohol diperoleh dengan cara hidrogenasi metil ester atau asam
lemak. Hidrogenasi langsung asam lemak tidak digunakan dalam skala industri
besar karena kebutuhan temperature reaksi yang lebih tinggi menghasilkan yield
yang lebih rendah dan karena dapat merusak katalis. Secara konvensional, asam
lemak dikonversi terlebih dahulu menjadi ester sebelum dihidrogenasi.
Katalis, CuCr
R-COOCH3 + 2H2 R-CH2OH + CH3OH
Metil ester Hidrogen Fatty alcohol Metanol
Katalis, CuCr
RCOOH +2H2 RCH2OH + H2O
Asam lemak Hidrogen Fatty alcohol Air
Dalam proses pembuatan fatty alcohol banyak dilakukan dengan bahan
dasar metil ester, karena dengan proses ini diperoleh persentase fatty alcohol lebih
tinggi. Dalam reaksi hidrogenasi dapat terbentuk.
RCH2COCOH + 2H2 ----------------> RCH2CH2OH + CH3OH
RCH2COOH + RCH2CH2OH ------> RCH2COOCH2CH2R + CH3OH
RCH2COOCH2CH2R + H2 --------> 2 RCH2OH
Suhu tinggi menyebabkan reaksi sekunder yaitu dehydratasi
RCH2CH2OH ----------> RHC=CH2`
RCH=CH2 + H2 ---------> RCH2CH3 (parafin)
Fatty alcohol dengan bahan baku metil ester atau fatty acids, dengan kondisi
operasi sebagai berikut:
- suhu reaksi 230 – 280oC
- tekanan reaktor 200 – 300 bar
- katalis copper-cromite dengan sirkulasi gas hidrogen panas
- konversi dapat mencapai 91%.
Gambar 2.5.1. Skema Pembuatan Fatty alcohol Dari Metil Ester

2.7. Proses Hidrogenasi pada Tekanan Tinggi


Proses hidrogenasi dengan tekanan tinggi ini terbagi 2 metode yaitu
suspension process dan fixed bed process:
2.7.1. Suspension Process

Gambar 2.7.1. Hidrogenasi Tekanan Tinggi Asam Lemak Metil Ester – Proses Suspensi
Proses yang terjadi:
 Bahan baku yang digunakan adalah asam lemak dengan hidrogen
 Katalis yang digunakan berbentuk slurry
 Kondisi operasi proses ini dalah pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan
temperatur 250-300 0C.
 Reaksi yang terjadi:
RCOOH + 2 H2 RCH2OH + H2O ( dengan katalis CuCr )
 Reaksinya merupakan reaksi eksotermis, sehingga pada proses ini
diperlukan kontrol temperatur sehingga mencegah terjadinya pembentukan
hidrokarbon yang tidak diinginkan.
 Hidrogenasi terjadi di dalam reaktor suhu tinggi di mana bahan dipanaskan
terlebih dahulu.
 Panas dari sisa campuran produk reaktor diperoleh dengan resikulasi gas
hidrogen pada alat penukar panas setelah satu produk dipisahkan dengan
dua tingkat pendinginan ekspansi.
 Pada fase gas ( yang mengandung gas hidrogen, uap alkohol dalam jumlah
kecil dan reaksi air) dipisahkan dari alkohol cair pada hot separator (
pemisah panas)
 Campuran didinginkan lebih lanjut di separator pendingin, dimana uap
alkohol dan air hasil reaksi dikondensi dan dipisahkan. Kelebihan gas
hidrogen direcycle.
 Alkohol cair yang berasal dari separator panas dipompakan ke flashdrum
dimana hidrogen dilarutkan direcycle dengan meningkatkan gas hidrogen.
 Katalis dipisahkan dari fatty alcohol kasar dengan menggunakan pemisah
aktivitas dan resikulasi dengan fatty alcohol.
 Ukuran fase clear dari pemisah sentrifugal adalah “passed through” yaitu
penyaring halus untuk memindahkan semua sisa suspensi padat hasil dari
produk (fatty alcohol kasar).
 Untuk memurnikan fatty alcohol kasar dapat dilakukan dengan distilasi
lebih lanjut untuk menghilangkan hidrokarbon dan dapat mengalami
fraksinasi jika diinginkan.
2.7.2. Metode Fix Bed
Pada metode fixed bed process, hal yang membedakannya dengan
suspension process adalah katalisnya fixed (tetap) dalam reaktor.
Gambar 2.7.2. Hidrogenasi Tekanan Tinggi Asam Lemak Metil Ester Proses Fixed Bed
Proses yang terjadi yaitu:
 Bahan baku yang digunakan pada proses ini adalah ester dan hidrogen
 Reaksi yang terjadi :
RCOOCH3 + 2 H2 RCH2OH + CH3OH
Ester Hidrogen Fatty alcohol Metanol
 Reaksi ini dilakukan pada fase uap dimana sebagian umpan organik
diuapkan dengan gas hidrogen ( 20 – 25 mol ) melalui suatu alat peak
heater sebelum dialirkan ke fixed katalis bed.
 Proses hidrogenasi dengan metode ini dilakukan pada kondisi 20.000-
30.000 Kpa dan temperatur 200-250 0C.
 Kemudian campuran didinginkan dan dipisahkan menjadi fasa gas dan fasa
cair. Pada fasa gas sebagian besar merupakan gas hidrogen dan di recycle.
 Fasa cairan diekspansi pada flash tank untuk menghilangkan metanol dari
fatty alcohol.

3. Manfaat Fatty Alcohol


1) Platicizer (C6-C10)
2) Detergen (C11 keatas)
3) Pengemulsi
4) Pelumas
5) Softener
6) Kosmetik (cream)
7) Makanan sebagai antioksidan
8) Surfaktan
9) Bahan anti busa
10) Produk intermediate
11) Parfum
12) Farmasi
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Pembuatan Plasticiser Alkohol Ester dari Minyak Nabati dan
Formulasinya dengan Resin Polivinil Klorid. (Online):http://www.bic.
web.id/in/lain-lain/207-pvc-dari-minyak-sawit.html. (Diakses pada tanggal
9 Oktober 2016).
Cahyono, Eko. 2010. Plasticizer. (Online): http://www.dokterkimia.com/2010/05
/plasticizer.html. (Diakses pada tanggal 10 Oktober 2016).
Hui, Y. H. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products, fifth edition. 1996. New
York: John Willey & Sons Inc