Anda di halaman 1dari 118

BAB 1

Energi : Pengertian, Konsep, dan Satuan

1.1 Pengenalan

Hal-hal yang berkaitan dengan neraca energi :

Adiabatis, isothermal, isobarik, dan isokorik merupakan proses yang digunakan


dalam menentukan suatu kondisi dimana tidak terjadi perubahan dalam proses.

Konsep-konsep seperti fungsi tetap (state function) atau variabel merupakan


konsep yang penting untuk dipahami.

Variabel Intensif atau biasa disebut dengan state variable : Menunjukkan hasil
akhir yang diperoleh, tidak memperhatikan lintasan seperti ditunjukkan gambar 1.

Contoh : Temperatur dan tekanan

22
T
A
A

B
1

Gambar 1. Perubahan nilai state variable yang sama pada masing-masing lintasan
A dan B dari 1 ke 2.

Satuan energi pada sistem SI : Joule (J)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 1


Satuan energi dalam sistem AE (American Engineering) : Btu, (ft) (lbf), dan (kW)
(hr).Satuan kalori sering digunakan pada bungkus makanan untuk menunjukkan
suatu informasi mengenai jumlah kalori, tetapi kalori yang digunakan sebenarnya
tidak tepat.

1 kalori merupakan energi untuk menaikkan temperatur 1 mL air sebesar 1 oC.

Akan tetapi, kalori yang digunakan pada bungkus makanan tidak sesuai dengan
pengertian di atas. Sebenarnya hal yang sering disebut kalori pada diinformasi
tersebut adalah kilokalori (kcal).
1 kilokalori (kcal) = 1000 kalori (dalam pengertian thermokimia) yang merupakan
energi untuk menaikkan temperatur 1 L air sebesar 1 oC.

Jadi misal penyebutan informasi dalam bungkus makanan tersebut adalah kalori,
maka kita dapat menghitung energi sesungguhnya dalam Joule/jam yaitu

2000 kcal 1000 cal 4,184 J 1 hari


 350.000 J / jam
hari kcal cal 24 jam
Tabel 1.1 Istilah-istilah dalam neraca energi.
Kata Pengertian Gambar
Sistem Jumlah zat atau wilayah dari suatu bagian
(system) yang dipilih
Lingkungan Semua hal diluar sistem batas (boundary)
(surroundings)

Batas Suatu permukaan yang dapat berupa bentuk


(Boundary) sesungguhnya atau permukaan yang
dimisalkan, tetap atau dapat bergerak untuk
memisahkan sistem dengan lingkungan
Sistem terbuka Sistem yang terbuka untuk terjadinya
(open perpindahan massa, panas, dan kerja dengan
system/flow lingkungan
system)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 2


(Lanjutan tabel 1)
Kata Pengertian Gambar
Sistem tertutup Sistem dimana tidak terjadi perpindahan
(close massa dengan lingkungan. Tetapi, panas
system/nonflow dan kerja dapat mengalami perpindahan
system)
Properti (Property) Karakteristik suatu sistem yang dapat
diamati atau dihitung seperti tekanan,
suhu, volum dal lain-lain.
Keadaan (State) Kondisi suatu sistem yang dijelaskan
khusus dalam nilai suhu, tekanan,
komposisi dsb.
Keadaan tetap Akumulasi pada sistem bernilai nol,
(Steady state) aliran masuk dan keluar konstan, properti
dalam sistem tidak berubah.
Keadaan tidak Akumulasi pada sistem tidak bernilai nol,
tetap (Unsteady aliran masuk dan keluar tidak konstan,
state/transient) properti dalam sistem berubah.
Kesetimbangan Properti pada sistem tidak bervariasi
(equilibrium) sehingga mengalami kondisi
kesetimbangan, misalnya kesetimbangan
thermal, mekanik, fasa, dan kimia.
Fasa (Phase) Suatu bagian atau keseluruhan dari
sistem yang secara makroskopik bersifat
homogen pada variabel komposisi seperti
gas, cair, atau padatan

Buku Ajar Neraca Energi 2017 3


Tabel 2 Istilah-istilah tambahan pada neraca energi

Kata Pengertian Gambar


Sistem Adiabatis Sistem dimana tidak terjadi
(Adiabatic system) perpindahan panas dengan lingkungan
selama proses berlangsung (isolasi
sempurna).
Sistem Isotermal Sistem dimana temperatur tetap selama
(Isothermal proses berlangsung.
system)
Sistem Isobarik Sistem dimana tekanan tetap selama
(Isobaric system) proses berlangsung.

Sistem Isokorik Sistem dimana volume tetap selama


(Isochoric system) proses berlangsung.

Variabel keadaan Semua variabel atau fungsi dimana


(State function) nilainya tergantung hanya pada keadaan
(Point function) sistem dan tidak pada keadaan
sebelumnya, contohnya energi dalam.
Variabel lintasan Semua variabel atau fungsi dimana
(Path variable/ nilainya tergantung pada bagaimana
function) proses berlangsung dan dapat berbeda
dengan keadaan sebelumnya,
contohnya panas dan kerja.

1.2 Bentuk-bentuk energi

1. Work (W)
keadaan2

 F .ds
keadaan1
(1.1)

dimana F adalah gaya eksternal dan s adalah arah vector gaya bekerja
Work atau kerja positif (+) saat sistem menerima kerja dari lingkungan
Work atau kerja negatif (-) saat sistem melakukan kerja terhadap lingkungan

Buku Ajar Neraca Energi 2017 4


2. Heat (Q)
Energi total yang mengalir pada sistem boundary yang disebabkan oleh
perbedaan temperatur antara sistem dengan lingkungan. Pada proses
adiabatic, Q = 0.
Heat akan bertanda positif (+) saat ditransfer ke sistem

Q  UA(T2  T1 ) (1.2)
dimana :
Q : rate transfer panas (J/s)
A : luas area heat transfer (m2)
(T2  T1 ) : perbedaan temperatur antara lingkungan (T2) dan sistem (T1)
(oC)

3. Energi Kinetik (EK)


1
EK  mv 2 (1.3)
2
Dimana :
m : massa (kg)
v : kecepatan (m/s)

4. Energi Potensial (EP)


EP  m g h (1.4)
Dimana :
m : massa (kg)
g : percepatan gravitasi (m/s2)
h : ketinggian (m)

5. Energi Dalam (∆Ȗ)


U2 T2

∆Ȗ = Ȗ2 - Ȗ1 =  d U   Cv dT
U1 T1
(1.5)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 5


Dimana :
Ȗ : energi internal (fungsi temperatur)
Cv : Kapasitas panas pada volume tetap (J/(kg)(K))
T : Temperatur

6. Entalpi (  H )

H2 T2
   
 H  H 2 H1   d H   Cp dT
 T1
(1.6)
H1


H : Entalpi (fungsi temperatur)
Cp : Kapasitas panas pada tekanan tetap (J/(kg)(K))
T : Temperatur

Contoh Soal 1.1 Perhitungan Kerja Mekanis oleh Piston


Gas Ideal pada temperatur 300 K dan 200 K ditempatkan disilinder
tertutup dengan sebuah piston yang diasumsikan tanpa friksi di dalamnya,
gas perlahan di menekan piston sehingga piston bergerak dan volume gas
di dalam silinder berekspansi seperti ditunjukkan gambar C1.1.

Gambar C1.1a
Hitung besar kerja yang dilakukan oleh gas pada piston jika dua cara
digunakan dari bagian awal (1) ke bagian akhir (2)
Cara (Path) A : Ekspansi terjadi pada tekanan konstan (isobarik) : p = 200
kPa
Cara (Path) B : Ekspansi terjadi pada temperatur konstan (isotermal) : T
= 300 K

Penyelesaian :
Asumsi :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 6


1) Tidak ada friksi pada piston
2) Proses ideal (terjadi pelan-pelan)
3) Pergerakan piston pada boundary yaitu state 1 sampai dengan state 2

Basis : Jumlah Gas

200 kPa 0.1 m 3 (kg mol ) ( K )


n  0.00802 kg mol
300 K 8.314(kPa) (m 3 )

Kerja mekanik yang dilakukan sistem pada piston per unit luas

keadaan2 v2
F
W  
keadaan1
A
. A ds    p dV
v1

Tanda negatif merupakan tanda bahwa sisem melakukan kerja

Gambar C1.1b
Cara A :
v2
W   p  dV   p(v 2  v1 )
v1

200 x 10 3 Pa 1N 0.1 m 3 1J
W 2
 20 kJ
1 (m ) ( Pa) 1 ( N ) ( m)

Cara B :
v2
nRT V 
W  dV  nRT ln  2 
v1
V  V1 

Buku Ajar Neraca Energi 2017 7


0.00802 kg mol 8.314 kJ 300 K
W ln 2  20 ln 2  13.86 kJ
(kg mol) ( K )

Contoh Soal 1.2 Perhitungan Energi Dalam


Berapa perubahan energi dalam saat 10 kg mol udara didinginkan dari 60
o
C menjadi 30 oC pada proses volume konstan?
Penyelesaian :
Menggunakan Cv karena proses terjadi pada volume konstan. Nilai Cv
untuk range temperatur tersebut adalah 2.1 x 104 J/(kg mol) (oC), sehingga
energi dalam :
30 o C
 J 
U    2.1 x 10 4 o
dT  2.1 x 10 5 (30  60)
60 o C 
(kg mol) C 
  6.3 x 10 6 J
Soal !
1. Sebuah silinder mengandung N2 pada tekanan 200 kPa dan suhu 80 oC.
Sebagai hasil dari pendinginan pada saat malam hari, tekanan silinder
berkurang menjadi 190 kPa dan suhu 30 oC. Berapa kerja yang
dilakukan oleh gas?
2. Gas nitrogen pada sebuah silinder mempunyai 4 tahapan proses ideal
seperti pada gambar S1.1

Gambar S1.1
Hitung kerja yang dilakukan oleh gas pada masing-masing tahapan (dalam
satuan Btu)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 8


BAB 2
Pengenalan Neraca Energi pada Proses
Tanpa Reaksi

Konsep Hukum Kekekalan Energi


Total energi pada sistem dan lingkungan tidak dapat diciptakan ataupun
dimusnahkan.

2.1 Neraca Energi untuk Sistem Tertutup dan Unsteady-state

Neraca massa makroskopik untuk sistem tertutup dan unsteady-state


(Akumulasi massa di dalam sistem) = (massa yang masuk) - (massa yang
keluar)
msistem  mmasuk  mkeluar (2.1)
Secara analogi, neraca energi makroskopik untuk sistem tertutup, Unsteady-
state dapat dituliskan
(Akumulasi energi di dalam sistem) = (energi yang masuk) - (energi yang
keluar)
(U  EP  EK ) sistem  E  Q  W (2.2)

Kerja (W) dilakukan ke sistem

Energi sistem (U + Panas (Q) masuk ke sistem


EP + EK) =E (E bisa
berubah terhadap
waktu)

Gambar 2.1 Sistem tertutup, unsteady-state dengan panas (Q) dan kerja (W).

Buku Ajar Neraca Energi 2017 9


Contoh 2.1. Aplikasi neraca energi sistem tertutup

Alkaloid merupakan senyawa kimia yang mengandung nitrogen yang dapat


diproduksi oleh sel tumbuhan. Pada sebuah penelitian, tangki tertutup seperti
ditunjukkan pada gambar C2.1, silinder tersebut mempunyai volume 1,673 m3
diisi dengan air yang mengandung dua alkaloid, ajmalisin, dan serpentin. Suhu
larutan 10 oC, untuk mendapatkan alkaloid kering maka air sebanyak 1 kg di
dalam tangki akan diuapkan. Asumsi properti air dapat digunakan untuk
menggantikan properti larutan.

Berapa banyak panas yang harus ditransfer ke tangki jika 1 kg saturated liquid
water pada 10 oC teruapkan secara sempurna dengan kondisi akhir 100 oC pada 1
atm

Gambar C2.1

Penyelesaian :

Data yang ditampilkan dapat digunakan untuk mencari properti lain di steam table

Data kondisi awal, p = 1 atm, T = 10 oC, dan Ȗ = 41.99 kJ/kg, data kondisi akhir,
p = 1 atm, T = 100 oC, dan Ȗ = 2506 kJ/kg

Sistem tertutup. Unsteady state sehingga dapat menggunakan pers. 2.1

(U  EP  EK ) sistem  E  Q  W

EK  0 ,karena air dalam keadaan diam

EP  0 ,karena air dibagian tengah berubah sangat kecil

Buku Ajar Neraca Energi 2017 10


Tidak terdapat kerja (W = 0)

Basis : 1 kg H2O terevaporasi

  
Q  U  m U  m(U 2  U 1 )

1 kg H 2 O (2506.0  41.99) kJ
Q  2464.01 kJ
kg

Soal !
1. Sistem tertutup terdiri dari 3 stage dengan nilai transfer panas masing-
masing Q1 = +10 kJ, Q2 = +30 kJ, dan Q3 = -5 kJ. Pada stage pertama E
= + 20 kJ, dan pada stage ketiga E = - 20 kJ. Berapa kerja di stage
kedua, dan berapa besar kerja keluar untuk ketiga stage?
2. Tangki tertutup mengandung 20 lb air, jika 200 Btu ditambahkan ke dalam
air, berapa perubahan energi internal di dalam air?
3. Air panas pada suhu 140 oF secara tiba-tiba dicampur dengan air dingin 50
o
F menghasilkan air bersuhu 110 oF. Berapa rasio air panas dengan air
dengan? (Gunakan steam table)

2.2 Neraca Energi untuk Sistem Tertutup dan Steady-state

Steady state berarti akumulasi di dalam sistem = 0


Aliran Q dan W konstan
Dalam sistem EK  0 , EP  0 , U  0 , E  0
Sehingga Q  W  0 (2.3)
Persamaan 2.3 disusun ulang menjadi
W  Q
Hal tersebut berarti semua kerja yang dilakukan pada sistem tertutup, steady-
state akan ditransfer keluar sebagai panas (-Q). Akan tetapi tidak terjadi
sebaliknya, Q tidak selalu dengan kerja yang dilakukan oleh sistem (-W).

Buku Ajar Neraca Energi 2017 11


Gambar 2.2 Contoh sistem tertutup, steady-state dan termasuk perubahan energi

Keterangan gambar :

Gambar a : W  0 sehingga Q  0

Gambar b : W  5 kJ sehingga Q  5 kJ

Gambar c : W  7 kJ sehingga Q  7kJ

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, untuk sistem tertutup, steady-state maka


persamaan neraca energi adalah menggunakan persamaan 2.3.

Soal ! Perhatikan gambar S2.1, berapa nilai E ?

Gambar S2.1

Buku Ajar Neraca Energi 2017 12


2.3 Neraca Energi untuk Sistem Terbuka dan Unsteady-state

Pada sistem terbuka dan unsteady-state, akumulasi pada E pada neraca


energi tidak sama dengan 0 karena :
1. Massa di dalam sistem berubah
2. Energi per unit massa di dalam sistem berubah
3. Kedua-duanya (no 1 dan 2) terjadi

Gambar 2.3 Sistem terbuka dan unsteady-state.

Pada gambar 2.3, sistem digambarkan di dalam batas (boundary), nomor 1


menunjukkan aliran massa masuk sistem sedangkan nomor 2 menunjukkan aliran
massa keluar. Hal yang penting adalah tidak memperhatikan detail sistem tetapi
hanya transfer energi yang masuk ke dalam sistem dan keluar dari sistem.

Neraca energi secara umum :

Akumulasi pada sistem dari t1 ke t2 :

     
E  mt 2 (U  EK  EP) t 2  mt1 (U  EK  EP) t1 (2.4)

Transfer energi masuk sistem dari dari t1 ke t2 :

  
(U 1  EK1  EP1 )m1 (2.5)

Transfer energi keluar sistem dari dari t1 ke t2 :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 13


  
(U 2  EK 2  EP2 )m2 (2.6)

Net transfer energi oleh transfer panas masuk dan keluar sistem dari t1 ke t2 : Q

Net transfer energi oleh kemiringan, mekanik, kerja elektrik masuk dan keluar
sistem dari t1 ke t2 : W

Net transfer energi oleh kerja dalam rangka memasukkan dan mengeluarkan
massa dari t1 ke t2 :

 
p1V1 m1  p 2V2 m2 (2.7)

 
p1 V1 dan p 2 V2 disebut kerja pV/energi tekanan/kerja aliran/kerja energi
merupakan kerja yang dilakukan oleh lingkungan untuk memasukkan massa suatu
bahan ke dalam sistem pada batas nomor 1 di gambar 2.3 dan kerja yang
dilakukan oleh sistem kepada lingkungan sebagai satuan massa yang
meninggalkan sistem ditunjukkan nomor 2 gambar 2.3.

Maka kerja per unit massa :


V1
   
W1   p1d V  p1 (V1  0)  p1 V1
0
(2.8)


Dimana V adalah volume per unit massa, maka kerja pada aliran keluar adalah

 
W2   p 2 V 2 (2.9)

Penggabungan persamaan-persamaan di atas menjadi persamaan neraca energi


sebagai berikut

       
E  (U 1  EK1  EP1 )m1  (U 2  EK 2  EP2 )m2  Q  W  p1 V1 m1  p 2 V2 m2
(2.10)

   
Jika p1V1m1  U1 m1 dan p 2V2 m2  U 2 m2 , maka

Buku Ajar Neraca Energi 2017 14


    
     

E  (U 1  p1 V1 )  EK1  EP1  m1  (U 2  p 2 V2 )  EK 2  EP2 ) m2  Q  W
   
(2.11)

  
Memasukkan H  U  p V ke pers. 2.11 sehingga diperoleh

     
E  ( H 1  EK1  EP1 )m1  ( H 2  EK 2  EP2 )m2  Q  W (2.12)

Penulisan sederhana neraca energi untuk memudahkan dalam mengingat


ditunjukkan persamaan 2.13

E  Et 2  Et1  Q  W  ( H  EK  EP) (2.13)

Dimana E  Et 2  Et1  (U  EK  EP) t adalah keadaan di dalam sistem


pada waktu t

Tanda  merupakan tanda yang berarti perbedaan, dalam persamaan di atas


mempunyai dua arti yaitu :

a) E ,  berarti akhir dikurangi awal (waktu)

b) ( H  EK  EP),  berarti keluar sistem dikurangi masuk sistem

a. Kristaliser b. Pengisian tangki c. Batch distillation


dengan air
Gambar 2.4 Contoh sistem terbuka dan unsteady-state

Buku Ajar Neraca Energi 2017 15


Contoh 2.2 Penggunaan neraca energi umum untuk analisis sistem terbuka dan
unsteady-state

Tangki yang keras terisolasi sempurna dihubungkan ke 2 valve. Hanya satu valve
yang menuju aliran steam dimana kondisi steam pada P = 1000 kPa dan T = 600
K, sedangkan valve yang lain menuju ke pompa vakum. Kedua valve awalnya
dalam keadaan tertutup. Kemudian valve yang mengarah ke pompa vakum
dibuka, lalu tangki dikosongkan, setelah itu valve kembali ditutup. Berikutnya
valve menuju ke aliran steam dibuka sehingga steam masuk dengan pelan ke
dalam tangki yang telah dikosongkan sampai tekanan di dalam tangki sama
dengan tekanan pada aliran steam. Hitung suhu akhir steam di dalam tangki.

Penyelesaian :

Gambar sistem

Gambar C.2.2

Pertama, menentukan bahwa tangki sebagai sistem, sistem terbuka dan unsteady-
state (massa di dalam sistem bertambah)

Basis 1 kg steam


Properti steam pada P = 1000 kPa dan T = 600 K adalah U  2837.73 kJ/kg,
 
H  3109.44 kJ/kg, dan V  0.271 m3/kg

Menuliskan persamaan umum neraca energi sesuai pers. 2.13

E  Et 2  Et1  Q  W  ( H  EK  EP) (a)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 16


Asumsi untuk menyederhanakan persamaan :

1. Tidak terjadi perubahan di dalam sistem untuk EP dan EK, sehingga


E  U
2. Tidak ada kerja yang dilakukan dari atau ke ke sistem karena tangki keras
sehingga W = 0
3. Tidak ada panas yang ditransfer dari atau ke sistem karena tangki terisolasi
sempurna sehingga Q = 0
4. EK dan EP untuk steam yang masuk = 0
5. Tidak ada aliran keluar sistem sehingga Hkeluar = 0
6. Pada awalnya tidak ada massa di dalam sistem sehingga Ut1 = 0

Sehingga persamaan (a) menjadi U t 2  0  ( H keluar  H masuk ) atau


 
U  U t 2  mmasuk U t 2   H masuk  mmasuk H masuk (b)
Untuk mengetahui suhu akhir di dalam tangki, maka minimal harus
diketahui 2 properti. Pada persoalan disebutkan satu keadaan dimana
tekanannya sama dengan tekanan di steam yaitu 1000 kPa
 
Maka properti yang lain yang dapat dicari bukan T maupun V tetapi U t 2
karena
 
U t 2  H masuk = 3109.44 kJ/kg
Sehingga dengan interpolasi di steam table dengan p = 1000 kPa diperoleh
nilai T = 764 K.

Jika terdapat lebih dari satu aliran masuk dan keluar, maka
persamaan umum neraca energi yang digunakan adalah

Buku Ajar Neraca Energi 2017 17


M   
E  Et 2  Et1   mi ( H i  EK i  EP i )
aliran masuk
i 1
N   
 m o
aliran keluar
( H o  EK o  EP o )  Q  W
i 1

(2.14)

Dimana Et  (U  EK  EP) t adalah keadaan di dalam sistem

M = nomor aliran masuk

N = nomor aliran keluar

i = aliran masuk

o = aliran keluar

Soal !

1. Sederhanakan persamaan umum neraca energi (pers.2.13 ) untuk keadaan


sebagai berikut :
a) Tidak ada bagian yang berpindah pada sistem
b) Suhu di dalam sistem sama dengan suhu di lingkungan
c) Kecepatan fluida masuk ke sistem sama dengan kecepatan fluida keluar
sistem
d) Fluida keluar sistem dengan kecepatan yang cukup sehingga keluaran
dapat mencapai 3 meter
2. Tangki di stasiun mengandung udara 100 kPa dan 300 K diisi udara
dengan kompresor dengan tekanan 300 kPa dan suhu 400 K ke dalam
tangki. Setelah 1 kg udara dipompakan ke dalam tangki, tekanan di dalam
tangki mencapai 300 kPa dan suhu 400 K. Berapa banyak panas yang
ditambahkan atau dibuang dari tangki selama pengisian
Data properti udara :

  
P dan T H (kJ/kg) U (kJ/kg) V (kJ/kg)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 18


100 kPa dan 300 K 459.85 337.75 0.8497
300 kPa dan 400 K 560.51 445.61 0.3830

2.4 Neraca Energi untuk Sistem Terbuka dan Steady-state

Kebanyakan proses refining dan industri kimia merupakan sistem terbuka


dan steady-state karena proses produksi sistem kontinyu untuk
menghasilkan produk dalam jumlah besar lebih menguntungkan secara
ekonomi.

Steady state, E  0 sehingga persamaan 2.13 menjadi


Q  W  ( H  EP  EK ) (2.15)
EP dan EK bisa diabaikan karena istilah energi pada neraca energi pada
kebanyakan proses terbuka didominasi Q, W, dan H sedangkan EP

dan EK jarang digunakan.


Sehingga persamaan paling umum untuk sistem terbuka dan steady-state
adalah

Q  W  H (2.16)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 19


Gambar 2.5 Contoh sistem terbuka dan steady-state

Contoh 2.3 Aplikasi neraca energi pada sistem terbuka dan steady-state yaitu
penukar panas (heat exchanger)

Susu (sifat dasar seperti air) dipanaskan dari 15 oC menjadi 25 oC dengan air
panas suhu 70 oC dan menjadi 35 oC seperti gambar di bawah ini. Asumsi apa
yang dapat Anda ambil untuk menyederhanakan persamaan 2.15 dan berapa rate
aliran air dalam kg/menit per kg/ menit susu?

Penyelesaian :

Gambar C2.3

Menetapkan susu plus air di dalam tangki sebagai sistem.

Asumsi untuk persamaan 2.15 :

1. EP dan EK bernilai 0


2. Q = 0
3. W = 0
Sehingga persamaan 2.15 menjadi H  0
(a)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 20


Properti air (asumsi properti susu sama dengan air)

T (oC) H (kJ/kg)
15 62.01
25 103.86
35 146.69
70 293.10

Basis = 1 menit atau berarti 1 kg susu, maka

H keluar  H masuk  0
  
   

(1) H susu, 25 o C  ( m) H air , 35 o C  (1) H susu, 15 o C  ( m) H air , 70 o C  0
   

(b)
[103.86 + (m) 146.69] – [62.01 + (m) 293.10] =0
41.85
m = (0.29 kg air panas/menit)/(kg susu/menit)
146.41

Contoh 2.4 Perhitungan Power untuk Memompa Air pada Sistem Terbuka dan
Steady-state

Air dipompa dari sumur dengan kedalaman 20 ft di bawah permukaan tanah


seperti ditunjukkan pada gambar C2.4. Air keluar dengan rate 0.50 ft3 menuju
pipa yang berada di atas permukaan tanah. Asumsikan bahwa tidak terjadi transfer
panas yang terjadi dari air selama mengalir. Hitung kerja elektrik yang diperlukan
untuk memompa jika efisiensi 100% serta friksi di dalam pipa dan pompa
diabaikan.

Penyelesaian :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 21


Gambar C2.4

Sistem : pipa sepanjang dari sumur hingga ke keluaran pipa (5 ft di atas


permukaan tanah)

Asumsi :

1) Q = 0 (Asumsi yang diutarakan di soal)


2) EK  0 (Perubahan energi kinetik diabaikan)
3) Suhu air di dalam sumur sama dengan suhu air saat keluar (suhu 50 oF)

Maka persamaan 2.15 dapat di susun ulang menjadi

W  EP  mg(hout  hin )

Basis laju alir massa dalam 1 detik (pada suhu 50 oF) :

0.50 ft 3 62.4 lbm


 31.3 lbm air/detik
s ft 3

W  PEout  PEin
2
31.3 lbm H 2 O 32.2 ft 25 ft ( s )(lb f ) 1.055 (kW )( s 2 )
  1.06 kW (1.42 hp)
s s2 32.2 ( ft) (lbm ) 778.2 ( ft) (lb f )

Soal !

1. Boiler mengkonversi air menjadi steam dengan mengalirkan air melalui


tube yang dipanaskan dengan gas panas atau liquid lain. Tekanan dan laju

Buku Ajar Neraca Energi 2017 22


alir air di dalam tube dimaintain dengan menggunakan regulator. Pada
sistem boiler, sederhanakan persamaan umum neraca energi semaksimal
mungkin dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang digunakan.

2. Hitung Q untuk sistem pada gambar S2.1 di bawah ini

Gambar S2.1

3. Turbin uap berkapasitas 13 MW beroperasi dalam kondisi steady state


menggunakan 20 kg/s uap. Kondisi inlet uap adalah tekanan 3000 kPa dan
suhu 450 oC. Kondisi outlet 500 kPa, saturatred vapor. Kecepatan uap
masuk sebesar 250 m/s dan kecepatan uap keluar adalah 40 m/s. Berapa
transfer panas dalam kW untuk turben sebagai sistem?

Buku Ajar Neraca Energi 2017 23


BAB 3

Perhitungan Perubahan Entalpi

3.1. Transisi Fasa

Transisi Fasa terjadi dari fasa padat menjadi fasa cair, dari fasa cair
menjadi fasa gas, dan sebaliknya. Pada proses transisi ini terjadi perubahan entalpi
(dan energi dalam) dimana terjadi pada temperature tetap yang disebut panas
laten. Perubahan entalpi pada fasa yang sama disebut dengan panas sensible.

Jenis-jenis panas laten :

a) Panas peleburan (Heat of Fusion) (∆Hfusion)


Terjadi pada perubahan fasa dari padat ke cair
b) Panas Pemadatan (Heat of Solidification)
Terjadi pada perubahan fasa dari cair ke padat
c) Panas penguapan (Heat of Vaporization) (∆Hv)
Terjadi pada perubahan fasa dari cair ke gas
d) Panas Kondensasi (Heat of Condentation)
Terjadi pada perubahan fasa dari gas ke cair
Perubahan entalpi overall komponen murni ditunjukkan pada gambar 3.1

Gambar 3.1 Perubahan entalpi komponen murni sebagai fungsi temperatur

Buku Ajar Neraca Energi 2017 24


Perubahan entalpi masing-masing secara keseluruhan ditunjukkan pada
persamaan 3.1
   T fusion 
 H  H (T )  H (Tref )   C p,soliddT  H fusionpadaTfusion
T ref
T vaporization  T (3.1)
 C
T fusion
p ,liquid dT  H vaporization padaTvap  C
T vap
p ,vapor dT

Persamaan-persamaan untuk mengestimasi Panas penguapan (Heat of


Vaporization)
1. Persamaan Clapeyron
 
dp * HV dp * HV
 atau  (3.2)
dT T (V  V ) d (ln T ) V  V
g l g l

dimana : p* = tekanan uap


T = Temperatur absolut

 H v = Panas molar penguapan pada suhu T

V i = Volum molar gas (g) dan liquid (l)
Gambar 3.2 menunjukkan bahwa slope (dp / d(lnT)) dapt digunakan untuk
mengestimasi panas spesifik penguapan.


Gambar 3.2  H v terhubung langsung ke garis miring pada grafik

Persamaan 3.2 dapat disederhanakan dengan asumsi sebagai berikut :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 25


 
1. V l diabaikan jika dibandingkan dengan V g


2. Hukum pada gas ideal dapat diterapkan untuk V g  RT / p *
Sehingga diperoleh persamaan 3.3


dp *  H V dT
d ln p*   (3.3)
p* RT 2


Jika  H v diasumsikan konstan pada range temperature tertentu maka persamaan
3.3 diintegralkan sehingga menjadi persamaan 3.4 yang disebut dengan
Persamaan Clausius-Clapeyron


p1 * HV  1 1 
log 10    
p 2 * 2.303R  T2 T1 
(3.4)

2. Persamaan Chen

 3.978 (Tb / Tc )  3.938  1.555 ln pc 


H V  RTb  
 1 .07  (Tb / Tc ) 
(3.5)
dimana : Tc = Tekanan kritis
Tb = Titik didih normal
pc = Tekanan kritis
3. Persamaan Riedel

T (ln pc  1) 
H V  1.093RTc  b  (3.6)
 c
T ( 0.930  (Tb / Tc 
)
4. Persamaan Watson
 0.38
 HV2  1  Tr 2 

   (3.7)
 H V1  1  Tr1 

dimana :  H v1 = Panas penguapan liquid murni pada suhu T1

Buku Ajar Neraca Energi 2017 26



 H v 2 = Panas penguapan liquid murni pada suhu T2

Persamaan Watson digunakan untuk menentukan panas penguapan pada suhu


tertentu dengan berdasar pada panas penguapan pada titik didih normal (pada 1
atm) yan telah diketahui
Contoh 3.1 Perhitungan panas penguapan menggunakan Persamaan Watson
Hitung panas penguapan air pada 600 K jika diketahui properti air pada suhu 100
o
C adalah panas penguapan = 2256.1 kJ/kg, Tc air = 647.4 K

Penyelesaian :
Menggunakan persamaan 3.7
0.38
 600 

 H V ,600 1 

  647.4   0.551
 H V , 373 1 373 
 
 647.4 
 
 H V ,600   H V , 373 0.551  1244 kJ / kg

Contoh 3.2 Perbandingan perhitungan estimasi panas penguapan


Gunakan a) Persamaan Clausius-Clapeyron, b) Persamaan Chen, c) Persamaan
Riedel untuk mengestimasi panas penguapan aseton pada titik didih normal dan
bandingkan dengan nilai eksperimen yaitu 30.2 kJ/g mol yang terdaftar di
Apendiks C buku Himmelblau edisi 7.

Penyelesaian :
Langkah penyelesaian
1) Basis 1 g mol
2) Mencari properti aseton di Apendiks D buku Himmelblau edisi 7
Titik didih normal : 392.2 K
Tc : 508.0 K
pc : 47.0 atm
3) Menghitung beberapa nilai variabel yang dibutuhkan pada persamaan estimasi
Tb /Tc = 329.2/508.0 = 0.648

Buku Ajar Neraca Energi 2017 27


ln pc = ln (47.0) = 3.85
a) Menggunakan persamaan Clausius-Clapeyron

dp *  H V dT
Dari persamaan 3.3 d ln p*  
p* RT 2
dan diferensiasi dari persamaan Antoine
B
d ln p*  dT
(C  T ) 2
Kombinasi 2 persamaan tersebut menjadi

RBT 2
H v 
(C  T ) 2
Dari Apendiks G buku Himmelblau edisi 7
B = 2940.46, C = -35.93

8.314 x103 2940.46 (329.3) 2


H v   29.63 kJ / g mol
(35.93  329.3) 2
Hasil perhitungan lebih rendah 1.9 % dari nilai eksperimen
b) Persamaan Chen
Dari persamaan 3.5, maka

8.314 x 10 3 kJ 329.2 K  3.978 (0.648)  3.938  (1.555) (3.85) 


H V   
( g mol) ( K )  1.07  0.648 
= 30.0 kJ/g mol
(lebih rendah 0.6% dari nilai eksperimen)
c) Persamaan Riedel
Dari persamaan 3.6, maka

 (3.85  1) 
H V  1.093(8.314 x 10 3 ) (508.0) (0.648) 
 (0.930  0.648 
= 30.23 kJ/g mol
(lebih tinggi 0.09% dari nilai eksperimen)
Soal !
1. Etana (C2H6) mempunyai panas penguapan 14.707 kJ/ g mol pada 184.6
K.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 28


a) Estimasi panas penguapan etana pada 184.6 K dengan 3 model
b) Berapa nilai panas penguapan etana yang diestimasi pada suhu 210 K?
2. Air sebanyak 315 g didinginkan pada 0 oC. Perubahan energi apa yang
terjadi pada proses?
3. Seribu g air dalam fasa gas pada suhu 395 K. Berapa banyak energi yang
dibutuhkan untuk mengkondensasikan semua air tersebut pada suhu 395
K?

3.2. Persamaan Kapasitas Panas


Perubahan entalpi pada komponen dalam satu fasa (bukan dalam fasa transisi)
dapat dihitung dengan kapasitas panas seperti ditunjukkan pada persamaan
3.8.
 T2

 H   C p dT (3.8)
T1


Jika C p konstan,  H  C p T , T  T2  T1

Pengertian kapasitas panas adalah sejumlah energi yang dibutuhkan untuk


meningkatkan temperatur suatu zat sebanyak 1 derajat setiap massa tertentu.
Satuan kapasitas panas adalah (energi)/(perbedaan temperatur) (massa atau
mol).
Untuk zat incompressible Cp = Cv. Cv tidak terlalu sering digunakan pada
proses sehingga pada pembahasan ini akan difokuskan ke Cp. Grafik kapasitas
panas untuk beberapa komponen pada berbagai temperatur ditunjukkan pada
gambar 3.3.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 29


Gambar 3.3 Kurva kapasitas panas pada gas pembakaran
Nilai kapasitas panas berubah terhadap suhu untuk padat, cair, dan gas
nyata, tetapi fungsi temperatur yang kontinyu tersebut hanya tejadi pada
wilayah transisi fasa

Untuk gas ideal, kapasitas panas pada tekanan konstan bernilai konstan
meskipun temperatur berubah.

Tabel 3.1 Kapasitas Panas untuk Gas Ideal

Pada gas ideal, terdapat hubungan antara Cp dan Cv karena U dan H hanya
merupakan fungsi temperatur :

p V  RT
   
H  U  p V  U  RT

Buku Ajar Neraca Energi 2017 30



Diferensiasi nilai H terhadap temperatur,
    
d H  dU 
Cp     R  C v  RT (3.9)
 dT   dT 
   
Untuk Gas Ideal Campuran
n
C p , rata rata   xi C p ,i (3.10)
i 1

Dimana xi fraksi mol komponen i.


Cp ditulis dalam bentuk deret dengan fungsi temperature seperti persamaan
3.11

C p  a  bT  cT 2 (3.11)

Sehingga persamaan perubahan entalpi dapat dituliskan pada persamaan 3.12


berikut :
 T2 b c
 H   (a  bT  cT 2 )dT  a (T2  T1 )  (T22  T12 )  (T23  T13 )
T1 2 3
(3.12)
Contoh 3.3 Menghitung perubahan entalpi campuran gas menggunakan
persamaan kapasitas panas untuk masing-masing komponen

Konversi limbah padat menjadi gas yang tidak berbahaya dapat dilakukan dengan
insenerator. Akan tetapi, gas panas yang keluar harus didinginkan atau dilarutkan
ke udara. Komposisi limbah yang terbakar sebagai berikut :
CO2 9.2%
CO 1.5%
O2 7.3%
N2 82.0%
Total 100%
Berapa perubahan entalpi untuk gas ini per lb mol di antara bagian bawah dan atas
cerobong asap jika suhu di bagian bawah adalah 550 oF dan suhu di bagian atas
200 oF.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 31


Penyelesaian : Basis 1 lb mol gas

Persamaan kapasitas panas (T dalam oF, Cp = Btu/(lb mol) (oF)) dikalikan dengan
kandungan masing-masing komponen dalam gas :

N 2 : C p  (6.895  0.7624 x 10 3 T  0.7009 x 10 7 T 2 ) 0.82


O2 : C p  (7.104  0.7851 x 10 3 T  0.5528 x 10 7 T 2 ) 0.073
CO2 : C p  (8.448  5.757 x 10 3 T  21.59 x 10 7 T 2  3.059 x 10 10 T 3 ) 0.092
CO : C p  (6.865  0.8024 x 10 3 T  0.7367 x 10 7 T 2 ) 0.015

C p, net  7.053  1.2242 x10 3 T  2.6124 x10 7 T 2  0.2814 x10 10 T 3

200

 (7.053  1.2242 x 10
3
H  T  2.6124 x 10 7 T 2  0.2814 x 10 10 T 3 )
550

1.2242 x 10 3
 7.053(200)  (550) 
2
(200 2 )  (550 2 ) 
7
0.2814 x 10 10

2.6124 x 10
3

(200 )  (550 ) 
3 3

4
 (200 4 )  (550 4 ) 
 2616 Btu / lb mol gas

Perhitungan perubahan entalpi air dari suhu -30 oC menjadi l30 oC (gambar 3.4):
 final   Tfusion 
 H ref  H (T final )  H (Tref )   C p , es dT   H fusion, 0 o C
Tref

Tvaporization 
 C p , air liquiddT   H vaporization,100 oC
Tfusion
Tfinal
 C p , air vapor dT
Tvaporization

Buku Ajar Neraca Energi 2017 32


Gambar 3.4 Perubahan entalpi dari -30 oC menjadi l30 oC
Soal !
1. Tentukan entalpi air dalam fasa liquid pada suhu 400 K dan 500 kPa dan
air dalam fasa liquid pada suhu 0 oC dan 500 kPa dengan persamaan
kapasitas panas dan bandingkan dengan steam tables.
2. Entalpi suatu senyawa dapat diprediksi dengan rumus empiris

H ( J / g )  30.2  4.25 T  0.001T 2
Dimana T dalam Kelvin, bagaimana hubungan kapasitas panas pada
temperature konstan untuk senyawa tersebut?
3. Hitung perubahan entalpi dan energi dalam (J/g mol) yang terjadi saat N2
dipanaskan dari suhuh 30 oC menjadi 300 oC pada 1 atmosfer.
4. Uap air didinginkan dari 300 oF menjadi 0 oF. Gunakan kapasitas panas
dan nilai transisi fasa untuk menghitung perubahan entalpi (dalam Btu/lb)

3.3. Tabel dan Grafik untuk Memperoleh Nilai Entalpi


Tabel 3.2 Properti air jenuh

Buku Ajar Neraca Energi 2017 33


Berdasarkan tabel 3.2, maka untuk mendapatkan nilai entalpi pada suhu T = 307
K dilakukan interpolasi sebagai berikut
H 307  H 305 2568.2  2559.1
H 307  H 305  ( H 307  H 305 )  2559.1 
H 310  H 305 310  305
 (307  305)  2557.5
Untuk compressed liquid, dapat digunakan properti saturated liquid pada
suhu yang sama sebagai pendekatan yang bagus.
Contoh 3.4 Perhitungan Perubahan Entalpi Gas Menggunakan nilai Entalpi dari
data Tabel
Hitung perubahan entalpi untuk 1 kg mol gas N2 yang dipanaskan pada
temperature konstan pada 100 kPa dari 18 oC menjadi 1100 oC

Penyelesaian :
100 kPa bernilai 1 atm, maka dapat digunakan tabel di Appendiks D6 (Himellblau
Edisi 7) untuk menghituhng perubahan entalpi

Pada 1100 oC (1373 K) : H = 34.715 kJ/kg mol (dengan interpolasi)

Pada 18 oC (291 K) : H = 0.524 kJ/kg mol
Basis 1 kg N2

Buku Ajar Neraca Energi 2017 34



 H = 34.715 – 0.524 = 34.191 kJ/kg mol

Contoh 3.5 Penggunaan steam table untuk menghitung perubahan entalpi


Steam didinginkan dari 640 oF pada 92 psia menjadi 480 oF pada 52 psia. Berapa

 H dalam Btu/lb?
Penyelesaian

Gambar C3.1

Perubahan H yang terjadi pada soal ditunjukkan dari bagian A menjadi bagian B
seperti ditunjukkan pada gambar C3.1
Interpolasi dilakukan 2 kali untuk titik A dan B:

1. H diinterpolasi antar tekanan pada temperature yang fixed

2. H diinterpolasi antar temperatur pada tekanan yang fixed (yang telah
diinterpolasi)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 35



Pada steam tabel, setelah diinterpolasi H pada 600 oF pada 92 psia adalah
1328.6, berikut contoh interpolasinya
2/5 (1328.7 – 1328.4) = 0.4 (0.3) = 0.12

Pada p = 92 psia dan T = 600 oF, H = 1328.7 – 0.12 = 1328.6
Perubahan entalpi yang terjadi pada soal adalah

 H =1272.8 – 1348.4 = -75.6 Btu/lb

Contoh 3.6 Penggunaan steam table saat perubahan fasa telibat untuk menghitung
kondisi akhir dari air.
Empat kg air pada suhu 27 oC dan 200 kPa dipanaskan pada tekanan konstan
sampai dengan volume air menjadi 1000 kali lebih besar dari volume awal.
Berapa suhu akhir air tersebut?

Penyelesaian :
Efek tekanan pada volume air (liquid) diabaikan
Spesifik volume air pada 300 K = 0.001004 m3/kg, sehingga spesifik volume
akhir = 0.001004 (1000) = 1.004 m3/kg.
Pada 200 kPa, interpolasi dilakukan antara suhu 400 K (V = 0.9024 m3) dan suhu
450 K (V = 1.025 m3) dimana range tersebut adalah range diantara nilai 1.004

Buku Ajar Neraca Energi 2017 36


m3/kg. Sehingga nilai T dapat ditentukan dengan interpolasi linear sebagai berikut

(1.025  0.9024) m 3 / kg
0.9024 m / kg 
3
(T  400) K 1.004 m 3 / kg
(450  400) K
T  430  41  2557.5  441 K

Gambar 3.5 Diagram tekanan-entalpi n-butana, garis titik-titik merupakan garis


spsesifik volume, garis dengan suhu oF merupakan garis pada suhu tetap

Contoh 3.7 Penggunaan diagram tekanan-entalpi n-butana untuk menghitung


perubahan entalp diantara dua keadaan
 
Hitung  H ,  V , T pada uap jenuh n-butana 1 lb dari 2 atm menjadi 20 atm
(saturated)

Penyelesaian :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 37


Data dari gambar 3.5

Soal !
1. Berapa perubahan entalpi yang dibutuhkan untuk mengubah 3 lb air dari
32 oF, 60 psia menjadi steam pada 1 atm, 300 oF
2. Berapa perubahan entalpi yang dibutuhkan untuk mengubah campuran 1 lb
air-steam dengan kualitas steam 60% menjadi kualitas 80%jika suhu
campuran tersebut adalah 300 oF
3. Berapa perbuahan entalpi yan terjadi saat 1 kg air berubah dari 200 kPa
dan 600 K menjadi 1000 kPa dan 400 K? Hitung juga untuk energi dalam.

4. Hitung  H untuk 1 g mol gas NO2 dimana suhunya berubah dari 300 K
menjadi 1000 K.
5. Hitung perubahan entalpi yang terjadi saat 1 lb CO2 berubah kondisinya
dari 8 psia dan campuran mengandung 20% liquid plus saturated solid
menjadi 200 oF dengan proses volume konstan. (Petunjuk : lihat diagram
CO2 di Appendiks buku Himellblau ed.7)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 38


BAB 4

Aplikasi Neraca Energi Tanpa Reaksi Kimia

Persamaan neraca energi

E di dalam  (U  EK  EP) di dalam  Q  W  ( H  EK  EP) mengalir


  
(4.1)
 Q  W  (m( H  EK  EP)

Sistem “di dalam” : sistem di dalam boundary

Sistem “mengalir” : aliran yang melintasi boundary

4.1 Penyederhanaan Persamaan Umum Neraca Energi

1. Sistem tertutup. Untuk sistem tertutup sistem batch, aliran tanpa massa

terjadi (m1 = m2 = 0) sehingga :

E  Q  W (4.2)

Jika tidak ada akumulasi E  0

Q  W (4.3)

Contoh sistem ini terjadi pada awal pemanasan untuk mengembangkan

balon udara panas.

2. Sistem terbuka dengan transfer panas

 
Q   m H   H (4.4)
 

Persamaan 4.2 dapat diaplikasikan pada heat exchanger dan kolom


distilasi.
Jika tidak terjadi transfer panas antara sistem dan lingkungan, maka :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 39


H  0 (4.5)

Persamaan 4.4 merupakan neraca entalpi, digunakan untuk memodelkan


pencampuran dua fluida dengan suhu yang berbeda.
3. Sistem terbuka dan aliran steady-state
Untuk steady-state ∆E = 0, sehingga transfer panas ∆Q = 0, maka :
W  EP  EK (4.6)
Beberapa model neraca energi :
a) Isothermal (dT = 0), proses pada suhu konstan
b) Isobarik (dP = 0), proses pada tekanan konstan
c) Isometrik atau isokorik (dV = 0), proses pada volume konstan
d) Adiabatik (Q = 0), tidak terjadi perpindahan panas

Contoh 4.1 Penyederhanaan Persamaan Umum Neraca Energi


Gambar C4.1 menunjukkan proses dalam beberapa segmen yang dibedakan
dengan batasan yang dinomori. Buat daftar asumsi untuk menyederhanakan
persamaan 4.1 untuk segmen 1-5, 4-5, 3-4, 3-5, dan 1-3

Gambar C4.1
Penyelesaian :
Analisis untuk masing-masing segmen :
1-5 :

-)  EP = 0 (tidak ada perbedaan ketinggian)

-) Kemungkinan  EK = 0

-)  E = 0 (proses steady-state)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 40


  
Hasilnya Q  W  H
4-5 :
 
-) Q  W  0

-)  EK  0

-)  E = 0
 
Hasilnya H   EP
3-4 :
 
-) Q  W  0

-)  EK  0

-)  E = 0
 
Hasilnya H   EP
3-5 :
 
-) Q  W  0

-)  EP  0

-)  EK  0

-)  E = 0

Hasilnya H  0
1-3 :

-)  EP  0

-)  EK  0

-)  E = 0
  
Hasilnya Q  W  H

Buku Ajar Neraca Energi 2017 41


Soal !
1. Sebuah valve di tabung gas laboratorium seperti ditunjukkan gambar S3.1
dibuka sehingga gas N2 tersebut mengalir keluar. Jika sistem adalah
tabung tersebut, maka sederhankan persamaan umum neraca energi
dengan menetapkan semua asumsi-asumsi yang mungkin untuk
diterapkan.

Gambar S4.1

2. Gas mengalir secara steady (valve terbuka) dari tekanan tinggi pada posisi
no1 ke tekanan rendah pada posisi no.2 seperti ditunjukkan pada gambar
S3.2 melalui turbin yang menghasilkan kerja. Sederhanakan persamaan
umum neraca energi untuk sistem yang terdiri dari kedua silinder dan
turbin dengan menghilangkan bagian yang mungkin dihilangkan.

Gambar S4.2

Strategi Penyelesaian Permasalahan Neraca Energi

1. Pilih sistem, pahami batasnya (boundary), tentukan apakah sistem tertutup


atau terbuka. Tuliskan keputusan yang diambil, lalu ganti jika keputusan-
keputusan yang diambil apabila kurang memberikan penyelesaian yang bagus.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 42


2. Tentukan apakah sistem steady state atau unsteady-state. Tuliskan keputusan
yang diambil.
3. Tuliskan persamaan umum neraca energi.
4. Sederhanakan persamaan tersebut sesederhana mungkin dengan menggunakan
informasi dari soal atau asumsi yang dapat diterima.
5. Menganalisis derajat kebebasan termasuk di dalamnya neraca energi dalam
satu persamaan.
6. Pilih kondisi referensi untuk perhitungan, biasanya tekanan dan temperature.
7. Berdasarkan kondisi referensi, dapatkan properti fisik yang lain seperti
tekanan, temperatur, molar volum, energy dalam, dan entalpi
8. Masukkan data-data tersebut ke sketsa proses
9. Selesaikan neraca energi.
Entalpi merupakan fungsi eksplisit temperatur dan tekanan pada aliran

Contoh 4.2 Analisis derajat kebebasan


Misalnya terdapat air (W) dan sukrosa (S) dengan konsentrasi tertentu
dicampurkan dengan W dan S yang memiliki konsentrasi yang berbeda untuk
memproduksi larutan sukrosa (P) dengan konsentrasi hasil campuran. Gambar
C3.1 menunjukkan sistem terbuka dan steady-statei, aliran ditunjukkan
dengan huruf Fi, dan konsentrasi ditunjukkan dengan huruf xi.

. Gambar C4.2
Penyelesaian :
Sistem mempunyai 2 variabel yang tidak diketahui yaitu F1 dan F2.
Penyelesaian dengan menuliskan 2 persamaan neraca massa independen yaitu
Total : F1 + F2 = 100

Buku Ajar Neraca Energi 2017 43


Sukrosa : 0.1F1 + 0.5F2 = 0.3 (100)
Sehingga derajat kebebasan sama dengan nol dan diperoleh nilai F1 = F2 = 50

Contoh 4.3 Analisis Derajat Kebebasan dan Neraca Energi


o
Gambar C3.2 menunjukkan bahwa aliran gas panas bersuhu 500 C
didinginkan menjadi 300 oC dengan memindahkan panas ke air yang masuk
pada suhu 20 oC. Kita ingin mengetahui laju alir air per 100 kg mol gas panas
masuk. Jabarkan analisis derajat kebebasan untuk soal ini untuk menentukan
jika kita dapat menyelesaikannya dengan berbasis informasi dan gambar C3.2.

Gambar C4.3
Penyelesaian :
a. Karena Q = W = 0 dan EP = EK = 0 pada masing-masing aliran dengan
sistem terbuka steady state, neraca energi dikurangi menjadi ∆H = 0.
b. Jumlah komponen = 4, sehingga dapat dituliskan 4 neraca massa
independen.
c. Misal aliran masing-masing komponen merupakan variabel.
Mempertimbangkan semua variabel, sehingga soal di atas mempunyai 9
variabel aliran dan tiga temperatur.
d. Tekanan telah ditentukan
e. Air dalam tekanan uap
Berdasarkan analisis di atas, maka dapat dibuat daftar untuk menganalisis
derajat kebebasan.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 44


Jumlah variabel
Massa
Gas panas : 4 aliran komponen, T, dan p 6
Gas dingin : 4 aliran komponen, T, dan p 6
Air masuk : 1 aliran komponen T, dan p 3
Air keluar : 1 aliran komponen T, dan p 3
Energi
Q dan W 2
H, EP, dan EK yang terhubung dengan aliran 12
Total 32

Jumlah persamaan dan spesifikasi


Nilai yang ditetapkan
Gas panas : T, p, dan 4 aliran komponen 6
Gas dingin : T, dan p 2
Air masuk : T, dan p 2
Air keluar : T, dan p 2
Ditetapkan dalam neraca energi
Q dan W 2
EP, dan EK (dalam 4 aliran) 8
Neraca massa : 4 jenis neraca plus air 5
Neraca energi 1
H dalam masing-masing aliran sebagai fungsi T, dan p 4
Total 32

Sehingga derajat kebebasan = 0


Soal !
1. Perhatikan gambar S3.3

Gambar S4.3

Buku Ajar Neraca Energi 2017 45


Silinder tersebut terisolasi. Volume awal steam di dalam silinder adalah
0.1 m3 pada 200 kPa dan 600 K. Saat valve terbuka, steam berekspansi
perlahan sehingga menyebabkan piston bergerak ke kiri melakukan kerja
hingga volume di dalam silinder menjadi 0.2 m3 pada 200 kPa. Berapa
jumlah derajat kebebasan pada proses tersebut?

2. Dalam pemanasan air 100 lb/min dari suhu 100 oF menjadi 180 oF.
Berdasarkan gambar S3.4 dibawah ini, maka :
a) Berapa persamaan independen yang dapat dituliskan di proses?
b) Berapa derajat kebebasan pada proses tersebut?

Gambar S4.4

4.2 Aplikasi Neraca Energi untuk Sistem Tertutup

Contoh 4.4 Aplikasi Neraca Energi


Sepuluh pound CO2 pada suhu ruangan (80 oF) disimpan didalam tabung
pemadam kebakaran mempunyai volume 4.0 ft3 seperti ditunjukkan gambar C4.4
Berapa banyak panas yang harus dibuang dari tabung tersebut sehingga sebanyak
40% CO2 berubah menjadi liquid?

Penyelesaian :
Sistem tertutup, unsteady-state tanpa reaksi. Anda dapat menggunakan grapfik
CO2 pada Appendiks J Himellblau untuk mendapatkan nilai properti yang
dibutuhkan
Tahap 1,2,3, dan 4
Spesifik volume CO2 = 4/10 = 0.40 ft3/lb, sehingga pada grafik dapat diperoleh

nilai V = 0.40 dan T = 80 oF, CO2 berbentuk gas pada awal proses. Kedaan referen

Buku Ajar Neraca Energi 2017 46



untuk CO2 adalah -40 oF, saturate liquid. Tekanan 300 psia, dan H  160
Btu/lb.

Gambar C4.4
Tahap 5
Basis 10 lb CO2
Tahap 6
Neraca massa = konstan
Neraca energi :
E  Q  W
W = 0 karena volume sistem tetap, sedangkan EK  EP  0 di dalam sistem
Q  U  H  ( pV )
 
Nilai U tidak dapat diperoleh di grafik, hanya nilai  H yang dapat diperoleh
dengan mengikuti garis volume-konstan 0.4 ft3.lb menuju titik 0.6 sehingga
diperoleh keadaan akhir dengan properti

 H akhir  81 Btu/lb
p akhir  140 psia
Anda dapat menyimpulkan derajat kebebasan sama dengan nol, dengan satu
persamaan yang tidak diketahui yang akan diselesaikan untuk mendapatkan nilai
Q.
Tahap 7,8, dan 9

  (140) (0.40) (300) (0.40)  


Q  (81  160)     10
  778 .2 778 .2 
  792
(panas dikeluarkan)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 47


Contoh 4.5 Penerapan Neraca Energi
Pencampuran 10 pound air suhu 35 oF, 4.00 lb es suhu 32 oF, dan 6.00 lb steam
suhu 250 oF dan 20 psia dalam sebuah vessel dengan volume tetap. Berapa suhu
akhir campuran? Berapa banyak steam terkondensasi?
Asumsi volume vessel konstan dengan nilai sama degan volume awal steam,
vessel terisolasi.
Penyelesaian :
Tahap 1,2,3, dan 4
-) Proses batch ditunjukkan pada gambar C4.5 pada sistem tertutup dengan Q = 0
dan W = 0
-) Misal T2 merupakan suhu akhir di sistem. Awalnya, sistem terdiri dari 20 lb air
dalam 3 fasa dan dalam 1 atau dua fasa dalam fasa akhir.
-) EK  EP  0
-) U  0
-) Untuk menyelesaikan persoalan, Anda harus mengetahui properti air di kondisi
awal dan akhir

Gambar C4.5
Properti yang diperlukan dalam perhitungan :
 
Fasa T(oF) U (Btu/lb) V (ft3/lb)
Es 32 -143.6 diabaikan
Air 35 3.025 0.0162

Buku Ajar Neraca Energi 2017 48


Steam 250 1092.25 20.80

Volume vessel tetap seperti keadaan awal volume steam yaitu (6) (20.80) =
124.80 ft3. Volume es dan air dapat diabaikan karena kecil
Tahap 5
Basis 20 lb air dengan kondisi sebagai berikut :
Basis :
1. 4 lb es pada suhu 32 oF
2. 10 lb H2O pada suhu 35 oF
3. 6 lb steam pada suhu 250 oF dan 20 psia

Tahap 6 dan 7
 
Variabel yang tidak diketahui adalah T2, x (kualitas uap), U , dan V . Semua
variabel ini terhubung dalam steam table sehingga saat T2 sudah ditentukan maka
variabel yang lain dapat diketahui jika keadaan akhir diasumsikan saturated.
Jika tidak saturated, maka 2 nilai variabel harus diketahui untuk menentukan 1
variabel yang lain sehingga informasi yang diberikan adalah tekanan akhir sistem.
Spesifik volume akhir di dalam sistem

124.80 ft 3
 6.42 ft 3 / lb
20 lb
Spesifik energi dalam di sistem adalah energi dalam awal dibagi massa awal
karena tidak ada transfer panas atau kerja yang terjadi.

4 (143.6)  10 (3.025)  6 (1092.25) Btu  357.9 Btu / lb


20 lb
Perhitungan kualitas uap pada keadaan akhir
 
(1  x) V liquid  x V vapor  6.42 (a)
 
(1  x)U liquid  x U vapor  357.9 (b)
Volume liquid diabaikan karena kecil sehingga
6.42
x  (c)
V vapor

Buku Ajar Neraca Energi 2017 49


 
Trial dan eror pada steam tables.Asumsi nilai T2, cek nilai U , dan V , gunakan
persamaan c untuk mendapatkan x lalu tentukan masukkan nilai tersebut hingga
memenuhi persamaan b.

Interpolasi linear antara dua suhu menghasilkan suhu akhir 205 oF dengan nilai x
= 0.21. Sehingga keadaan akhir adalah 20 (0.21) = 4.2 lb uap, maka 6 – 4.2 = 1.8
lb steam terkondensasi

Soal !
1. Oksigen cair disimpan di dalam 14000 L tangki. Saat diisi, tangki berisi
13000 L cair dalam keadaan setimbang dengan uap pada tekanan 1 atm.
a) Berapa suhu oksigen di dalam tangki?
b) Berapa massa oksigen di dalam tangki?
c) Berapa kualitas oksigen di dalam tangki?
pressure relief valve tangki penyimpanan diset 2.5 at,. Jika panas
masuk ke dalam tangki oksigen dengan laju 5.0 x 106 J/hr.
d) Kapan pressure relief valve terbuka?
e) Berapa suhu dalam tangki saat itu?

Data : pada 1 atm, saturated, V 1  0.0281 L / g mol ,
 
V g  7.15 L / g mol , H  133.5 J / g ,

Pada 2.5 atm, saturated, H  116.6 J / g

Buku Ajar Neraca Energi 2017 50


2. Anggap Anda akan mengisi termos terisolasi hingga volume 95% dengan
es dan air pada keadaan setimbang dan segel pengaman termos terbuka.
a) Apakah tekanan di dalam termos akan naik, turun, atau tetap sama
setelah 2 jam?
b) Apakah tekanan di dalam termos akan naik, turun, atau tetap sama
setelah 2 minggu?
c) Untuk kasus setelah pengisian dan ditutup dengan segel, lalu termos di
goncangkan secara rata, apa yang terjadi dengan tekanan?
3. Sebuah tangki 0.25 L yang berisi 0.225 kg air dengan tekanan 20 atm
didinginkan hingga tekanan di dalam tangki adalah 100 kPa.
a) Berapa suhu awal dan akhir air?
b) Berapa banyak panas ditransfer dari air untuk mencapai keadaan akhir?

4.3 Aplikasi Neraca Energi untuk Sistem Terbuka


Kebanyakan proses dalam industri kimia bersifat terbuka, dan steady-state.
Operasi-operasi pada sistem terbuka seperti transport liquid, padatan, penukar
panas, evaporasi, dan lain-lain. Contoh sistem kompleks ditunjukkan gambar
4.1 Dalam masing-masing stage dapat terjadi kehilangan material dan energi
ke lingkungan sehingga seorang engineer harus mampu menguranginya

Gambar 4.1 Aliran energi dan material umum pada plant kompleks

Buku Ajar Neraca Energi 2017 51


Contoh 4.6 Aplikasi Neraca Energi untuk Pemompaan Air
Air dipompa dari dasar sumur dengan kedalaman 15 ft dengan laju 200 gal/hr ke
tangki penyimpan untuk menjaga ketinggian air di dalam tangki tetap 165 ft di
atas tanah. Untuk mencegah pembekuan di musim dingin, pemanas kecil
ditambahkan dengan kekuatan 30000 Btu/hr untuk memanaskan air selama proses
perpindahan air menuju tangki penyimpanan. Kehilangan panas dari keseluruhan
sistem pada laju konstan 25000 Btu/hr
Berapa suhu air saat masuk ke dalam tangki penyimpanan, asumsi suhu air di
dalam sumur adalah 35 oF.
Pompa 2 hp digunakan untuk memompa air. Sebesar 55% kekuatan pompa
menjadi kerja sedangkan sisanya menjadi panas yang dilepaska ke atmosfer.

Penyelesaian :
Tahap 1, 2, 3, dan 4
Asumsi sistem terbuka dan steady-state, terdiri dari sumur, pipa, pompa, dan
tangki penyimpan seperti ditunjukkan pada gambar C4.6.

Gambar C4.6

Tahap 5
Basis : 1 jam operasi

Tahap 6
Neraca massa : 200 gal air masuk dan 200 gal air keluar dalam waktu 1 jam.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 52


Neraca energi :

  
E  Q  W  (m( H  EK  EP)

-) E = 0 (proses steady-state)
-) m1 = m2 = m

-) Kemungkinan  EK = 0 karena asumsi v1 = v2 = 0
  
Sehingga 0  Q  W  (m( H  EK  EP)
Nilai H di bagian atas tangki tidak diketahui, tetapi dapat dihitung dari neraca
energi
Jika Anda menetapkan suhu referen adalah 35 oF (suhu input) maka entalpi di
input = 0, karena perbedaan suhu (Tmasuk - 35) = (35 - 35) = 0 sehingga nilai H
dapat dihitung sebagai H2 – 0.

Suhu keluar dapat ditentukan berdasarkan perhitungan properti H jika Cp
diasumsikan konstan

 T2
H  m H  m  C p dT  mC p (T2  35)
T 35o F

Tahap 8 dan 9

Massa total air yang dipompa


200 gal 8.33 lb
 1666 lb
hr 1 gal
Perubahan potensial energi
2
 1666 lb m 32.2 ft 180 ft ( s ) (lb f ) 1 Btu
EP  m  EP  m g h  2
s 32.2 ( ft ) (lb m ) 778 ( ft ) (lb f )
 385.4 Btu
Kehilangan panas pada sistem adalah 25000 Btu saat pemanas sebesar 30000 Btu
diletakkan di dalam sistem, sehingga net heat exchange :

Q = 30000 – 25000 = 5000 Btu

Rate kerja pada air oleh pompa

Buku Ajar Neraca Energi 2017 53


2 hp 0.55 33000 ( ft) (lb f ) 60 min Btu
W  2800 Btu / hr
(min) (hp) hr 778 ( ft) (lb f )

Q  W  H  EP
5000  2800  H  385
H  7415 Btu

Karena range suhu dianggap kecil, maka kapasitas panas air (liquid) diasumsikan
konstan dan sama dengan 1.0 Btu/(lb) (oF) sehingga

7415  H  mC p dT  1666 (1.0) (T2  35)


T  4.5 o F (kenaikan suhu ), sehingga T2  39.5 o F

Soal !

1. Dalam refinery, kondensor di set untuk mendinginkan 1000 lb/hr benzene


yang masuk pada tekanan 1 atm, 200 oF, dan keluar 171 oF. Asumsi
kehilangan panas ke lingkungan diabaikan. Berapa banyak (dalam pound)
air pendingin yang dibutuhkan per jam jika air pendingin masuk pada suhu
80 oF dan keluar 100 oF?

2. Pada proses steady-state, 10 g mol/s O2 pada 100 oC dan 10 g mol/s


nitrogen pada suhu 150 oC dicampurkan di dalam vessel yang mempunyai
kehilangan panas ke lingkungan sebesar 109(T - 25) J/s dimana T adalah
suhu campuran dalam oC. Hitung suhu gas keluar dalam oC. Gunakan
kapasitas panas sebagi berikut :

O2 : C p  6.15  3.1 x 10 3 T
N 2 : C p  6.5  1.25 x 10 3 T
Dimana T dalam K, Cp dalam cal/(g mol) (K)

3. Fan pembuangan di saluran dengan luas konstan dan terisolasi dengan baik
mengantarkan udara dengan kecepatan keluar sebesar 1.5 m/s pada
perbedaan tekanan 6 cm H2O. Suhu inlet dan outlet adalah 21.1 oC dan
22.8 oC . Luas saluran adalah 0.60 cm3. Tentukan power yang dibutuhkan
fan.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 54


BAB 5

Perhitungan Neraca Energi dengan Reaksi


Kimia

 o
5.1 Panas (entalpi) Standar Pembentukan (  H f )
Superscript o menandakan keadaan standar untuk reaksi pada 25 oC dan 1
atm. Subscript f menandakan formation (pembentukan). Panas (atau yang
sebenarnya merupakan entalpi) pembentukan standar sering disebut sebagai panas
pembentukan. Panas standar pembentukan adalah penamaan perubahan
entalpi spesial dengan pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsur
penyusunnya dalam keadaan standar. Contoh gambar entalpi pembentukan gas
CO2 dari unsur-unsurnya yaitu karbon dan oksigen pada suhu 25 oC dan 1 atm
seperti ditunjukkan gambar 5.1.
C (s) + O2 (g)  CO2 (g)

Gambar 5.1 Transfer panas pada proses pembakaran steady state C menjadi CO
pada keadaan standar

Buku Ajar Neraca Energi 2017 55


Neraca energi pada proses tersebu adalah ∆H = Q = -393.5 kJ/g mol CO2 sehingga
panas standar pembentukan CO2 adalah -393.5 kJ/g mol.
Nilai panas pembentukan standar untuk masing-masing unsur adalah nol
misalnya O2, N2, N
Nilai panas pembentukan dapat dilihat di Appendiks F (Himellblau ed. 7).
Panas standar pembentukan bernilai negatif untuk reaksi eksotermis
Contoh 5.1 Penentuan panas pembentukan dari pengukuran transfer panas
Tentukan panas pembentukan standar CO berdasarkan data eksperimen

Penyelesaian :
Menyiapkan CO murni dari reaksi C dan O2 kemudian mengukur transfer panas
merupakan hal yang sulit dilakukan sehingga akan lebih mudah untuk
menyiapkan panas pembentukan pada kondisi standar untuk reaksi pada proses
yang ditunjukkan pada gambar C5.1

Gambar C5.1

a) C (s) + O2 (g)  CO2 (g) Q = -393.51 kJ/g mol C = ∆HA


b) CO (g) + ½ O2 (g)  CO2 (g) Q = -282.99 kJ/g mol CO = ∆HB

Basis 1 g mol C dan CO


Menyusun ulang persamaan a) dan b) sehingga dapat diperoleh persamaan c)
sebagai berikut
C (s) + ½ O2 (g)  CO (g)
 o
 H f  393.51  (282.99)  110.52 kJ/g mol C

Contoh 5.2 Mendapatkan panas pembentukan dari data referensi


Berapa panas pembentukan standar HCl (g)?

Buku Ajar Neraca Energi 2017 56


Penyelesaian :
 o
Berdasarkan Appendiks F (Himellblau ed. 7), nilai  H f untuk kolom HCl (g)
adalah -92.311 kJ/g mol. Reaksi pembentukan HCl (g) pada 25 oC dan 1 atm :
½ H2 (g) + ½ Cl2 (g)  HCl (g)
Untuk nilai H2 (g) dan Cl2 (g) masing-masing mempunyai panas pembentukan
 o
standar 0 karena merupakan suatu unsur sehingga nilai  H f untuk kolom
HCl (g) adalah -92.311 kJ/g mol.
 o
1 1 
 H f  1(92.311)   (0)  (0)  92.311 kJ/g mol
2 2 

Soal ! :
1. Dalam penilaian bahaya suatu senyawa, dapat dilakukan dengan
berdasarkan pada laju potensial pelepasan energi yang salah satu
metodenya adalah dengan menggunakan panas pembentukan per gram
senyawa. Manakah menurut saudara yang paling bersifat eksplosif di
antara beberapa senyawa berikut : gas asetilen, lead azide padat, cairan
trinito gliserin (TNT), atau padatan amonium nitrat?
2. Berapa panas pembentukan standar HBr (g)?
3. Tunjukkan pada proses yang terjadi pada gambar 5.1 bahwa sehingga
diperoleh neraca energi ∆H = Q. Asumsi apa saja yang digunakan?
4. Apakah panas pembentukan dapat dihitung dari pengukuran yang
diperoleh dari proses batch? Jika dapat, tunjukkan asumsi dan
perhitungannya
5. Hitung panas pembentukan standar CH4 berdasarkan hasil eksperimen
pada suhu 25 oC dan 1 atm berikut (Q untuk reaksi sempurna)

H2 (g) + ½ O2 (g)  H2O (l) Q = -285.84 kJ/g mol H2


C (grafit) + O2 (g)  CO2 (g) Q = -393.51 kJ/g mol C
CH4 (g) + 2O2 (g)  CO2 (g) + 2H2O (l) Q = -890.36 kJ/g mol CH4

Bandingkan hasil perhitungan yang diperoleh dengan nilai panas


pembentukan yang tertera di Appendiks F

Buku Ajar Neraca Energi 2017 57


5.2 Panas (entalpi) Reaksi
Panas reaksi (atau sering disebut entalpi reaksi) merupakan perubahan
entalpi yang terjadi saat jumlah reaktan stoikiometri pada suhu dan tekanan
tertentu untuk membentuk produk pada kondisi yang sama.
 o
Panas rekasi standar (  H rxn ) untuk penamaan panas reaksi 1 mol senyawa
pada keadaan standar yaitu 25 oC dan 1 atm saat jumlah reaktan stoikiometri
pada keadaan standar bereaksi secara lengkap menghasilkan produk dalam
keadaan standar.
 o
Apa bedanya  H rxn dan H rxn ?
Proses steady-state tanpa adanya kerja seperti ditunjukkan gambar 5.2 dimana
benzene (C6H6) bereaksi secara stoikiometri dengan sejumlah H2 untuk
memproduksi sikloheksana (C6H12) dalam keadaan standar :

Gambar 5.2 Reaksi benzene untuk membentuk sikloheksana

C6H6 (g) + 3H2 (g)  C6H12 (g)


Neraca energi pada proses tersebut disederhanakan menjadi Q = ∆H dengan
 o
∆H merupakan  H rxn untuk persamaan reaksi kimia tersebut. Data-data :
 o
Senyawa Entalpi spesifik =  H rxn (kJ/g mol)
C6H6 (g) 82.927
H2 (g) 0
C6H12 (g) -123.1

Buku Ajar Neraca Energi 2017 58


 o  o  o  o
 H rxn  v C6 H1 2  H f ,C H
6 12
v C6 H 6  H f ,C H
6 6
v H2  H f ,H
2

 (1) ( 123.1)  (1) (82.927)  (3) (0)


  206.0 kJ
 o
Dalam reaksi sempurna, persamaan umum  H rxn adalah
 o  produk  o reak tan  o 
 H rxn (25 C )    vi  H f ,i   vi  H f ,i 
o
 (5.1)
 i i 
Hal yang perlu diingat bahwa panas reaksi sesungguhnya adalah perubahan
entalpi.
Contoh 5.3 Perhitungan Panas Rekasi Standar berdasarkan panas pembentukan
standar
 o
Hitung  H rxn untuk reaksi 4 g mol NH3 ditunjukkan reaksi di bawah ini :
4NH3 (g) + 5O2 (g)  4NO (g) + 6H2O (g)

Penyelesaian :
Basis 4 g mol NH3

 o
Menggunakan persamaan 5.1 untuk menghitung  H rxn   H rxn (25 o C ) untuk
4 g mol NH3 asumsi reaksi sempurna, sehingga :
 o
 H rxn (25 o C )  4 (90.374)  6 (241.826)  5 (0)  4 (46.191)
= -904.696 kJ/4 g mol NH3
 o
Per g mol reaksi  H rxn = -226.174 kJ/g mol NH3

Bagaimana jika reaksi tidak sempurna?

nifinal  niawal  vi 
Atau untuk sistem aliran

Buku Ajar Neraca Energi 2017 59


nikeluar  nimasuk  vi 
Sehingga

 produk masuk  o reak tan  o 


 H rxn (25 C )    (ni
o
 vi  )  H f ,i   (ni masuk
 vi  )  H f ,i 
 i i 
 o  o 
 H rxn (25 C )   n
o masuk
i H f ,i   vi  H f ,i  nimasuk  H f ,i

 o  o
 v  H
i
semua komponen
f ,i   H rxn

(5.2)
Sebagai contoh dalam reaksi gambar 5.2, asumsi fraksi konversi adalah 0.80
berbasis C6H6,

 (0.80) (1)

1

 H rxn (25 o C )  (0.80) (1) (123.1)  (3) (0)  (1) (82.927)


  164.8 kJ

Gambar 5.3 Informasi yang digunakan dalam perhitungan  H rxn (T )

Buku Ajar Neraca Energi 2017 60


Persamaan umum untuk panas reaksi dimana berlangsung pada suhu yang
berbeda dengan referen :

reak tan
  
 H rxn (T )  i i 
n H i ( 25 o
C )  H i (T )    H rxn ( 25 C ) 
o

 
produk
  
  ni  H i (T )  H i (25 o C )   H rxn (25 o C ) (5.3)
i  


 H (T )  H (25 o C ) 
produk 
 H (T )  H (25 o C ) 
reak tan   H rxn (25 o C )

Contoh 5.4 Perhitungan panas reaksi pada suhu yang berbeda dengan kondisi
standar

Pengurangan CO2 di atmosfer salah satunya dengan mereaksikan gas tersebut


dengan hydrogen, hydrogen dapat berasal dari elektrolisis air menggunakan solar
cells. Asumsi sejumlah stoikiometrik reaktan masuk ke dalam reactor. Tentukan
panas reaksi jika gas masuk dan keluar pada kondisi 1 atm dan 500 oC sepeti
gambar C5.2.

Gambar C5.2

Penyelesaian :

Basis : 1 g mol CO2 (g) pada 1 atm dan 500 oC

Data-data yang dibutuhkan :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 61


 H rxn (25 o C )  (1) ( 74.848)  2 (241.835)  (1) ( 393.250)  4 (0)
  165.27 kJ

 H 
reak tan

i (500 o C )  H i (25 o C )  (1) (21.425)  4 (13.834) 76.761


i

 H 
produk

i (500 o C )  H i (25 o C )  (2) (17.010)  1(23.126) 57.146


i

 H rxn (500 oC )  57.146  76.761  (165.27)  184.9 kJ / g mol

Panas reaksi dalam persamaan umum neraca energi

E  Q  W  ( H  EK  EP)

   
H  H (T output ) output  H (T input ) input  H rxn (25 o C) (5.4)

Contoh 5.5 Perhitungan Transfer Panas Menggunakan Panas Reaksi pada Proses
dimana Reaktan Masuk dan Produk Keluar pada Suhu yang Berbeda

Tes proses yang dijelaskan pada contoh soal 5.4 menunjukkan basis 1 g mol CO2
masuk dari proses lain pada 800 K, bereaksi dengan 4 g mol H2 yang masuk pada
suhu 298 K, CO2 yang terkonversi yang hanya 70 %. Produk keluar pada suhu
1000 K. Hitung transfer panas kea tau dari reactor pada tes tersebut.

Penyelesaian :

Sistem steady state dan terbuka dengan reaksi. Asumsi 1 atm.

Basis 1 g mol CO2 (g)

Tenperatur referen 25 oC.

1) Menghitung panas reaksi pada suhu referen


CO2 (g) + 4H2 (g)  2H2O (g) + CH4 (g)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 62


 o
 H rxn (25 o C )  1(74.84)  2 (241.835)  2 (393.51)  4 (0)
  165.27 kJ

Untuk konversi 70 % CO2

 H rxn (25 o C )  (0.70) (165.27)  115.69 kJ

2) Menghitung perubahan entalpi dari 298 K ke suhu zat masuk dan keluar
dari reaktor

Q = ∆H = 97.971 – 22.798 + (-115.69) = -40.517 kJ/g mol CO2

Soal !
1. Hitung panas reaksi standar untuk reaksi di bawah ini berdasarkan panas
pembentukan.
C6H6 (g)  3C2H2 (g)
2. Hitung panas reaksi pada 90 oC untuk proses Sache (dimana asetilen
dibuat dengan pembakaran sebagian LPG).
C3H8 (l) + 2O2  C2H2 (g) + CO (g) + 3H2O (l)

5.3 Penggabungan Panas Pembentukan dengan Panas Sensibel Zat dalam


Neraca Energi
Reaksi
aA + bB  cC + dD

Buku Ajar Neraca Energi 2017 63


Asumsi reaksi : reaktan dan produk tidak stoikiometri, masuk dan keluar
reactor pada suhu yang berbeda
Kita tidak dapat selalu mengasumsikan bahwa reaksi stoikiometri, reaksi
sempurna, dan suhu inlet outlet sama.

Langkah-langkah :
1. Memilih kondisi referen entalpi dimana panas pembentukan diketahui
(pada 25 oC), jika tidak ada reaksi, maka kondisi referen dapat
ditentukan untuk inlet atau outlet
2. Menghitung entalpi aliran masuk dan keluar dengan berdasarkan kondisi
referen.

Gambar 5.4 Proses steady state dengan reaksi, nama “Reactants” dan
“Products” dapat termasuk zat yang ikut maupun tidak ikut bereaksi.

Gambar 5.5 Ilustrasi bagaimana entalpi masuk dan keluar yang dihitung relatif
berdasarkan kondisi referen 25 oC dan 1 atm.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 64


Gambar 5.6 Infromasi flow diagram menunjukkan cara perhitungan entalpi suatu
zat yang masuk dan keluar reaktor.

Untuk memudahkan, asumsikan aliran steady-state (∆U = 0) dan tidak ada kerja
(W= 0), EK dan EP = 0 sehingga neraca energi dapat disederhanakan menjadi :

Q = ∆H = ∆Hkeluar - ∆Hmasuk (5.5)

Contoh 5.6 Perhitungan kembali contoh 5.4 dengan menggunakan Panas


Pembentukan yang digabungkan dengan Panas Sensibel

Penyelesaian :

Contoh 5.7 Perhitungan Transfer Panas saat Reaktan dan Produk Masuk dan
Keluar pada suhu yang berbeda Contoh aplikasi gambar 5.6, perhitungan untuk
reaksi seperti ditunjukkan gambar C5.3

Gambar C5.3

Buku Ajar Neraca Energi 2017 65


Asumsi : tidak stoikiometri, dengan zat yang masuk dan keluar mempunyai
jumlah mol dan suhu ditunjukkan pada kolom 1 dan 2 pada Tabel di bawah ini
Reaksi yang terjadi :
CO (g, 1 atm, 25 oC) + ½ O2 (g, 1 atm, 400 K) CO2 (g, 1 atm, 300 K)

Penyelesaian :
Data yang dibutuhkan untuk perhitungan diambil dari Appendiks D dan E
Himellblau ed.7


Catatan : Tabel di Appendiks D dan E mempunyai suhu referen untuk H = 0
adalah 0 oC, bukan 25 oC sehingga entalpi pada 25 oC dikurangi pada kolom panas
sensible untuk masing-masing komponen, sehingga :

output input
∆H = (-381.866 + 8.389) – (-110.520 + 17.429) = -280.386 kJ/ g mol CO

Soal !

1. Berapa transfer panas kea tau dari reactor dimana metana bereaksi secara
sempurna dengan oksigen untuk membentuk gas karbondioksida dan uap
air?
Berdasarkan jumlah feed yang masuk 1 g mol CH4 (g) pada suhu 400 K
plus 2 g mol O2 pada 25 oC. Gas keluar dengan suhu 1000 K. Gunakan
metode pada bagian pembahasan ini
2. Ulangi soal 1, tapi asumsikan bahwa konversi 60%.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 66


3. Hitung panas yang ditambahkan atau dihilangkan dari reactor dimana
reaksi stoikiometri CO (g) dan H2 (g) pada 400 oC bereaksi membentuk
CH3OH (g) methanol pada 400 oC.

5.4 Panas Pembakaran


Metode lama perhitungan perubahan entalpi saat reaksi kimia terjadi dalah

dengan panas (entalpi) pembakaran standar (  H c ).
o

Persetujuan yang digunakan dalam panas pembakaran standar :


1. Senyawa teroksidasi dengan oksigen atau beberapa zat lain untuk
menghasilkan CO2 (g), H2O (l), HCl (aq), dll.
2. Kondisi referen 25 oC dan 1 atm

3. Nilai  H c = 0, ditetapkan untuk produk oksidasi tertentu seperti CO2
o

(g), H2O (l), HCl (aq), dan O2 (g).


4. Jika terdapat zat pembakaran lain seperti S, N2, atau Cl2, maka perlu
memastikan bahwa kondisi produk telah terspesifikasi dengan baik dan
dan dapat ditransfer ke kondisi standar.
5. Stoikiometri diasumsikan bereaksi secara sempurna

 produk  o reak tan  o 


 H (25 C )    ni  H c ,i   ni  H c ,i 
o
rxn

o
(5.6)
 i i 

Sebagai contoh perhitungan  H rxn


o
(25 o C ) dari panas pembakaran (Data diambil

dari Appendiks F Himellblau ed.7)


CO (g) + H2O (g)  CO2 (g) + H2 (g)
 o
 H rxn (25 o C )  (1) (0)  (1) (285.84)  (1) (282.99)  (1) (44.00)
  41.15 kJ

Nilai panas pembakaran H2O (l) = 0, tapi untuk H2O (g) = -44.00 kJ/g mol karena
panas penguapan air pada suhu 25 oC dan 1 atm harus dikurangkan dari nilai H2O

(l). (Nilai  H vap = 44.00 kJ/g mol)
o

Buku Ajar Neraca Energi 2017 67


Pada bahan bakar seperti batu bara atau minyak, panas pembakaran standar
bernilai negative disebut dengan heating value bahan bakar.
LHV (Lower (net) heating value)
HHV (Higher (gross) heating value)
Kedua istilah diatas muncul, tergantung apakah air sebagai produk pembakaran
dalam bentuk uap (untuk LHV) atau cair (untuk HHV). Lihat Gambar 5.7.

Air Produk
(vapor H2O)
Tangki
Pembakaran

Bahan Bakar Produk


(liquid H2O)

Gambar 5.7 Klasifikasi LHV dan HHV untuk bahan bakar tergantung dari
keadaan air yang keluar dari sistem.


HHV = LHV + (nH2O (g) produk x  H vap pada 25 oC dan 1 atm)
o

Gambar 5.8 Perubahan entalpi yang terjadi saat H2O (l) 25 oC dan 1 atm menjadi
H2O (g) 25 oC dan 1 atm

Buku Ajar Neraca Energi 2017 68


HHV untuk batubara dapat diestimasi dengan menggunakan persamaan Dulong
sebagai berikut:

HHV (Btu/lb)=14544 C + 62028 (H + O/8) + 4050 S

Sedangkan HHV untuk fuel oil dapat diestimasi dengan menggunakan persamaan
berikut:

HHV (Btu/lb)=17887 + 57,5o API – 102,2 (%S)

Contoh 5.8 Heating Value Batubara

Gasifikasi batubara merupakan transformasi batubara padat menjadi gas


yang mudah terbakar. Sdebelum adanya gas alam, gas pembakaran berasal dari
batubara. Heating value baubara berbeda-beda, semakin tinggi heating value
maka semakin tinggi gas yang dihasilkan. Suatu analisis menghasilkan heating
value batubara adalah 29770 kJ/kg. Asumsi gross heating value pada 25 oC
diperoleh pada sistem terbuka. Data-data

Penyelesaian :

HHV = 14544 (0.71) + 62.028 (0.056 – 0.130/8) + 4050 (0.27)

= 12901 Btu/lb

Catatan : 0.056 lb H2 juga sama dengan 0.056 lb H dan 0.130 lb O2 juga sama
dengan 0.130 lb O

Mengubah satuan

Buku Ajar Neraca Energi 2017 69


12901 Btu 1lb 1.055 kJ
= 29980 kJ/kg (Nilai mendekati dengan hasil
lb 0.454 kg 1 Btu
analisis)

Contoh 5.9 Pemilihan Bahan Bakar untuk Mengurangi Emisi SO2

Emisi SO2 dari pembangkit energi merupakan salah satu penyebab utama hujan
asam karena SO2 terabsorbsi oleh hujan sehingga meningkatkan tingka asam
hujan. Mempertimbangkan dua jenis bahan bakar di tabel bawah ini. Tentukan
bahan bakar mana yang lebih baik untuk menyediakan termal energi pembakaran
sebesar 106 Btu sementara itu limbah SO2 dapat diminimalkan. Pembuangan SO2
dari corong dapat diimplementasikan untuk mengurangi jumlahnya pada
discharge tapi terdapat penambahan biaya.

Penyelesaian :
Basis 106 Btu dari pembakaran
Untuk Minyak No 6

10 6 Btu 1 gal 60.2 lb bahan bakar 0.0072 lb S


 2.80 lb S
155000Btu 1 gal 1 lb bahan bakar
Untuk Minyak No 2

10 6 Btu 1 gal 58.7 lb bahan bakar 0.0062 lb S


 3.03 lb S
120000Btu 1 gal 1 lb bahan bakar
Minyak No 6 dipilih karena pembakarannya menghasilkan emisi SO2 yang lebih
sedikit, meskipun mempunyai kandungan S yang lebih bayak.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 70


Soal !

1. Gas sintesis terdiri dari 6.1 % CO2, 0.8 % C2H4, 0.1 % O2, 26.4 % CO,
30.2 % H2, 3.8 % CH4, 32.6 % N2. Berapa heating value gas diukur pada
60 oF, saturated saat barometer menunjukkan angka 30.0 in Hg?
2. Hitung panas reaksi standar menggunakan data panas pembakaran untuk
reaksi

CO (g) + 3H2 (g)  CH4 (g) + H2O (l)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 71


BAB 6

Neraca Energi dengan Efek Reaksi Kimia

6.1 Analisis Derajat Kebebasan untuk Memasukkan Neraca Energi dengan


Reaksi
Neraca energi dalam penghitungan derajat kebebasan menyebabkan
penambahan persamaan dan variabel yang tidak diketahui. Persamaan yang
ditambahkan adalah neraca energi.Sedangkan variabel yang ditambahkan adalah
temperatur dan tekanan untuk semua aliran serta panas yang ditransfer dari atau
ke sistem. Anda dapat membuat hanya satu neraca energi, tapi setiap bagian dari
neraca energi menambah satu atau lebih variabel tambahan. Sayangnya, sebagian
besar bagian dalam neraca energi terspesifikasi 0 seperti EP, EK, atau W karena
pada umumnya neraca energi diterapkan dalam sistem terbuka dan steady-state
untuk Q = ∆H.
Entalpi adalah fungsi suhu dan tekanan, karena itu dalam analisis derajat
kebebasan, Anda dapat mengganti satu variabel dengan entalpi suatu aliran yang
memiliki dua variabel, suhu dan tekanan.
Jika neraca massa dan persamaan lainnya seperti spesifikasi dan hubungan
kesetimbangan dapat diselesaikan secara terpisah dari neraca energi, maka analisis
derajat kebebasan untuk neraca energi dapat dipisahkan dari analisis derajat
kebebasan neraca energi. Apabila sebaliknya, maka analisis derajat kebebasan
akan termasuk di dalam neraca massa dan energi.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 72


Tabel 6.1 Derajat Kebebasan untuk Sistem Aliran Steady-state

Contoh 6.1 Analisis Derajat Kebebasan untuk Proses Pembakaran

Metana dibakar dengan udara excess 5 % di dalam furnace. Gambar C6.1


menunjukkan komposisi aliran dan variabel yang telah ditetapkan. Proses untuk
masing-masing aliran terjadi pada 1 atm. Tentukan analisisnya jika derajat
kebebasan bernilai 0.

Gambar C6.1

Penyelesaian :

Untuk mempermudah analisis maka dibuat tabel. Neraca Energi disederhanakan


menjadi Q = ∆H, gantikan ∆H dengan variabel p dan T.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 73


Jumlah variabel pada proses
Komponen F1 1
F2 2
F3 5
Subtotal 8
Jumlah aliran 3
Suhu aliran 3
Tekanan aliran 3
Q 1
Reaksi (2 reaksi) 2
Total 20

Jumlah persamaan
Neraca massa komponen independen 1
Jumlah komponen dalam masing-masing 2 aliran 2
Neraca Energi 2
Spesifikasi nilai variabel
Total aliran (F1, basis, dan F2 dari 5 % excess udara)
2
Nilai komponen (CO) 1
Tekanan (p1= p2 = p3 = 1 atm) 3
Suhu (T1 dan T2 ) 2
Rasio O2 / N2 yang ditetapkan dalam F1 (implicit) 2
Reaksi sempurna (tidak ada CH4 dalam aliran keluar) karena
reaksi dinyatakan secara tidak langsung untuk kedua reaksi
(untuk CO dan CO2) 2
Total 20
Derajat kebebasan untuk variabel = 20 dan jumlah persamaan = 20 maka
derajat kebebasan bernilai 0

Buku Ajar Neraca Energi 2017 74


Soal !
1. Asam asetat pada 350 oF terurai dalam reaksi steady-state pada 450 oF
sehingga menghasilkan ketene (CH2CO) dan metana (CH4). By
product yang dihasilkan adalah CO2 (g) dan H2O (g). Pengukuran
menunjukkan bahwa konversi total asam asetat adalah 68.2 % dan
konversi ke ketene adalah 9.3 %. Analisis derajat kebebasan untuk
proses ini untuk menentukan jumlah spesifikasi tambahan yang harus
disediakan untuk memperoleh deraja kebebasan 0. (Petunjuk : Suhu
gas keluar sudah diketahui atau belum?)
2. Di dalam proses kontak SO2 dikonversikan menjadi SO3 dalam reaktor
nonadiabatis. Jika fraksi mol gas masuk yang terdiri dari SO2, O2, dan
N2 diketahui. Jika gas keluar terdiri dari SO2, SO3, O2, dan N2. Jika
laju alir molar masuk dan keluar diketahui, dan suhu masuk serta
tekanan masuk dan keluar diketahui, berapa derajat kebebasan dalam
masalah ini untuk konversi SO2 80%. Apakah derajat kebebasan pada
perhitungan SO2 80% berubah jika konversi berubah menjadi 70%.

6.2 Aplikasi Neraca Energi pada Proses dimana Reaksi Termasuk di


dalamnya
Dalam pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai solusi untuk proses
steady-state, kontinyu dengan neraca energi yang disederhanakan menjadi 2
pilihan :

a) Efek reaksi kimia digabung dengan panas sensibel


  
Q  H  H (T )  H (25 oC ) keluar  H (T )  H (25 oC ) masuk 
 H keluar  H kmasuk (6.1)
b) Efek reaksi kimia menjadi bagian dalam panas reaksi


Q  H  H (T )  H (25 o C )  sensibel perubahan fasa
keluar 
 H (T )  H (25 o C ) 
sensibel  perubahan fasa
masuk

 H rxn
(6.2)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 75


Suhu reaksi adiabatis (nyala api teroitis, pembakaran) merupakan suhu yang
diperoleh di dalam proses saat :

1. Reaksi pada kondisi adiabatic


2. Tidak terjadi efek lain seperti efek elektrik, kerja, ionisasi, pembentukan
radikal bebas
3. Reaksi pembatas bereaksi sempurna

Untuk sistem unsteady-state dan tertutup dengan nilai ∆EP dan ∆EK = 0 dan W
= 0, neraca energi berubah menjadi :
Q  U  U akhir  U awal (6.3)

Jika nilai U tidak diketahui, maka harus dihitung dari H   ( pV ) sehingga


Q  H (T )  H (25 o C ) keluar  
 H (T )  H (25 o C ) masuk (6.4)

 ( pV ) akhir  ( pV ) awal 

Contoh 6.2 Perhitungan Suhu Reaksi (Nyala Api)Adiabatis

Hitung suhu teoritis nyala api gas CO yang dibakar pada tekanan konstan dengan
100 % udara excess, saat reaktan masuk pada suhuh 100 oC dan 1 atm

Penyelesaian :

Sistem ditunjukkan pada Gambar C6.2, Proses steady-state.

CO (g) + ½ O2  CO2 (g)

Basis 1 g mol CO (g), referen : 25 oC dan 1 atm

Gambar C6.2

Buku Ajar Neraca Energi 2017 76


Reaksi diasumsikan terjadi dengan reaksi pembatas bereaksi sempurna, udara
excess tidak bereaksi, tetapi butuh panas sensible untuk mencapai suhu reaksi
adiabatic. Neraca massa dapat diselesaikan tersendiri terpisah dari neraca energi
(derajat kebebasan = 0), berikut neraca massa :

Kondisi referen : 25 oC, 1 atm, Q = 0 sehingga ∆H = 0. Neraca energi

Interpolasi liner untuk menentukan theoretical flame temperature (TFT) :

0  (16657)
TFT  1750  (250)  1750  78  1828K (1555 o C )
36740  16657

Buku Ajar Neraca Energi 2017 77


Jika sistem berubah menjadi sistem tertutup dimana CO dan O2 bereaksi secara
stoikiometri menghasilkan CO2. Maka nilai TFT akan berbeda, maka persamaan
6.4 digunakan untuk perhitungan dengan nilai Q = 0.

Soal !

1. Gas kering dengan nilai Btu rendah terdiri dari CO 20 %, H2 20 %, N2 60


% dibakar dengan udara excess 200 % udara kering yang masuk pada suhu
25 oC. Jika gas keluar pada suhu 25 oC, hitung transfer panas dari proses
per unit volume gas masuk diukur pada kondisi standar (25 oC, 1 atm)
2. Metana dibakar pada furnace dengan 100 % udara kering excess untuk
mendapatkan steam boiler. Udara dan metana masuk ke dalam furnace

Buku Ajar Neraca Energi 2017 78


pada suhu 500 oF dan 1 atm, dan produk keluar dari furnace pada 2000 oF.
Jika gas terdiri dari CO2, H2O, O2, dan N2. Hitung jumlah panas yang
diabsorb oleh air untuk memproduksi steam per pound metana yang
dibakar.
3. Campuran alumunium metal serbuk dan Fe2O3 dapat digunakan pada
pengelasan suhu tinggi. Dua bagian baja ditempatkan end to end, Jika suhu
diinginkan 3000 oF dan heat loss 20 % (∆Hproduk - ∆Hreaktan) melalui radiasi,
berapa berat campuran (digunakan dalam proporsi molecular 2Al + 1
Fe2O3) harus digunakan untuk menghasilkan suhu ini pada 1 lb baja yang
dilas, asumsi suhu awal 65 oF
2 Al + Fe2O3  Al2O3 + 2Fe

4. Hitung theoretical flame temperature saat hydrogen dibakar dengan 400 %


udara kering excess pasa 1 atm, rekatan masuk pada suhu 100 oC.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 79


BAB 7

Proses Ideal, Efisiensi, dan Neraca Energi


Mekanis

7.1 Proses Ideal Reversibel

1. Reversibel : Proses Ideal (hipotesis utama) dimana perubahan terjadi karena


ketidakseimbangan (perbedaan) suhu , tekanan, dan yang lainnya.

2. Irreversibel : Proses yang tidak reversible karena terjadi dengan perbedaan


temperature, tekanan dll yang terbatas, misalnya hal ini terjadi dip roses pada
umumnya.

Gambar 7.1 Perbandingan dua proses hypothetical untuk interval waktu pendek.
(a) ekspansi lambat gas tanpa friksi antara piston dan wadah, (b) ekpansi cepat gas
dengan friksi antara piston dengan dinding dan bersifat turbulen

Contoh 7.1 Perhitungan Kerja yang dilakukan Selama Proses Evaporasi Liquid

Berapa banyak kerja yang dilakukan oleh 1 liter air jenuh yang terevaporasi dari
vessel terbuka ke atmosfer dimana tekanannya 100 kPa?

Buku Ajar Neraca Energi 2017 80


Penyelesaian :

Soal ini mengilustrasikan proses real reversible

Tahap 1,2,3, dan 4

Sistem adalah air, proses terbuka, proses reversible karena evaporasi terjadi pada
suhu konstan (372.78 K) dan tekanan dan kondisi di atmosfer di atas porsi vessel
dalam kondisi kesetimbangan dengan permukaan air. Tekanan atmosfer 100 kPa,
basis 1 Liter air yang menguap menjadi gas, volume spesifik uap air adalah 1.694
m3/kg H2O.

Gambar C7.1

Tahap 5

Basis 1 Liter air (liquid)

Tahap 6 dan 7

Neraca Energi
  
E  Q  W  (m( H  EK  EP)
Tidak dapat digunakan karena Q tidak diketahui
Asumsi reversible, sehingga kerja di dalam sistem

V2
W  p dV   p V
V1

Persamaan ini merepresentasikan kerja yang dilakukan pada saat pengisian air ke
dalam wadah hypothetical dan menekan balik atmosfer.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 81


Tahap 8 dan 9

Volume Spesifik air berdasarkan steam tabel adalah 0.001043 m3/kg. Volume
final uap air (volume awal H2O di dalam wadah adalah nol dan diasumsikan
terdapat air yang cukup di dalam vessel sehingga hilangnya air karena menguap
diabaikan)

Soal !

1. Tentukan Q, W, ∆E, dan ∆H untuk proses kompres reversible 3 mol gas


ideal dari volume 100 dm3 menjadi 2.4 dm3 pada suhu konstan 300 K.
2. Satu mol gas ideal di. ekspansikan melawan tekanan eksternal 1.12 atm.
Volume awal gas 233.17 dm3, dan volume final 35.22 dm3. Berapa kerja
yang dilakukan oleh sistem di dalam proses?
(Asumsi psistem = plingkungan pada akhir proses, dan T konstan).

Buku Ajar Neraca Energi 2017 82


7.2 Efisiensi

Tabel 7.1 Jenis-Jenis Efisiensi pada Proses

Tabel 7.2 Efisiensi Konversi Energi (persentase dalam tanda kurung)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 83


Contoh 7.2 Efisiensi Power Generation by Hydroelectric Plant

Hydroelectric plant kecil menghasilkan 20 MW saat ketinggian air 25 m di atas


generator dan laju alir air yang mengalir melalui generator adalah 100 m3/s.
Berapa efisiensi total plant?

Penyelesaian :

Laju alir massa air (densitas 1000 kg/m3) :

100 m3 100 0 kg
3
 105 kg / s
s m

Perubahan energi potensial air per detik :

10 5 kg 9.870 m 25 m ( s 2 ) ( J ) ( s) (W )
EP  m g h  2
 2.45 x 10 7 W
s s 1 (kg) (m) 1 J

20 x 10 6 W
  0.82
2.45 x 10 7 W

Contoh 7.3 Perhitungan Efisiensi Plant

Analisis penggunaan energi dilakukan dalam suatu pabrik. Contoh ini


menggunakan data dari M. Fehr, “ An Auditor’s View of Furnace Efficiency,” in
Hydrocarbon Processing, November, 1988, p. 93. Hal lebih detail terkait audit
peralatan proses dan energi dapat dibaca di artikel tersebut.

Gambar C7.2 mengilustrasikan gas-fired boiler. Data dihitung dari pengukuran di


dalam heater sebegai berikut (semua satuan dalam kJ per m3 pada SC bahan bakar
gas) :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 84


Gambar C7.2

Penyelesaian :

Soal !

1. Sistem pemanas standar untuk rumah mempunyai karakteristik sebagai


berikut : Furnace gas memindahkan energi ke ruangan dengan laju rata-
rata 5.8 kW pada saat musim dingin. Seperempat energi yang berasal dari
bahan bakar untuk input ke furnace hilang karena pemkaran yang tidak
sempurna dan lepasnya panas ke luar ruangan dan cerobong asap. Sisa
energi, 12 % keluar melalui dinding dan tidak dapat mencapai ruangan.
Hitung efisiensi penggunaan bahan bakar gas.
2. Cogeneration plants memproduksi listrik dan steam yang ditunjukkan
pada gambar C7.3.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 85


Gambar C7.3.

Berapa persen bahan bakar yang dapat dihemat untuk mendapatkan listrik
dan steam dengan menggunakan cogeneration plants dibandingkan plant
listrik dan steam secara terpisah dalam memproduksi 0.25 MJ energi
listrik dan energi termal steam 0.45 MJ.

7.3 Neraca Energi Mekanik

Berdasarkan gambar 7.2 akan muncul pertanyaan sebagai berikut :


Pompa ukuran berapa yang digunakan untuk meremove biowaste dari tangki,
Berapa pressure drop antara tangki dan pipa yang menuju treatment plant?

Gambar 7.2 Sistem pengumpulan biowaste

Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan menggunakan neraca energi mekanik


dibandingkan dengan persamaan umum neraca energi. Neraca energi mekanik

Buku Ajar Neraca Energi 2017 86


dengan variabel kerja dan energi yang berbentuk mekanik digunakan untuk
perhitungan yang melibatkan proses kompresi gas dan pemompaan liquid,
sedangkan pada proses seperti kolom distilasi atau reaktor, energi yang penting
adalah berupa transfer panas dan perubahan entalpi, Namun energi yang
berbentuk mekanik diangap 0 sehingga dapat menggunakan persamaan neraca
energi umum.
Dua kategori perbedaan kualitas energi :
a) Energi yang berbentuk mekanik seperti energi kinetic, energi potensial,
dan kerja.
b) Energi selain di bagian (a) sepeti energi dalam dan panas

Neraca energi mekanik steady-state untuk sistem dimana terjadi perubahan


massa dengan lingkungan (basis per unit massa)
  P2   
( EK  EP)   V dp  W  E v  0 (7.1)
P1

Dimana Ev merupakan energi mekanik yang hilang, persamaan 7.1 disebut


Persamaan Bernoulli untuk proses reveribel dimana Ev = 0. Jika fluida
incompressible, dan W = 0 maka

p v 2
  g h  0 (7.2)
p 2

Neraca energi mekanik paling baik diterapkan pada perhitungan aliran fluida saat
energi kinetic dan potensial dan kerja menjadi bagian yang penting. Friction loss
dapat dievaluasi berdasarkan friction factor atau orifice coefficients.

Contoh 7.4 Perbandingan Kerja reversible untuk proses batch dimana proses
beroperasi di bawah kondisi yang sama.

Lima kubik feet gas ideal pada 100 oF akan dikompres secara adiabatic dari 1 atm
menjadi 10 atm. Persamaan keadaan yang digunakan untuk gas adalah pV1.40 =
konstan.

Terdapat 2 pilihan cara dalam proses kompresi :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 87


a) Kompresi pada silinder horizontal dengan piston.
b) Kompresi pada kompresor rotary.
Hitung kerja reversible yang dibutuhkan untuk masing-masing proses tersebut

Penyelesaian :

1. Proses (a) kompresi pada silinder horizontal dengan piston

Proses berlangsung pada sistem tertutup seperti gambar 7.1 tapi silinder
horizontal, persamaan neraca energi menjadi
∆E = ∆U = W
Jika ada nilai Cv ada, maka untuk nilai W dapat diperoleh dengan mengintegralkan
Cv dT tetapi dalam kasus ini nilai Cv atau Cp tidak diberikan. Nilai W dapat
dihitung dengan cara lain yaitu dengan mengintegrasikan pdV untuk proses kerja
reversible

Tahap 1,2,3, dan 4


Nilai V1 diketahui, nilai V1 dihitung. Sistem adalah gas.
1 / 1.40
p 
1 / 1.40
1
V2  V1  1   5   0.965 ft 3
 p2   10 
Tahap 5
Basis : 5 ft3 gas pada 100 oF dan 1 atm.

Tahap 6-9
1.40
V 2  0.965 V2 V  V2
Wrev    p dV    p  1  dV   p1 V11.40  V 1.40 dV
V1 5 V1
 V2  V1

p1 V11.40 0.40 p V  p1 V1
 (V2  V10.40 )   2 2
1  1.40 1  1.40


(10) (0.965)  (1)(5)( ft )( atm) 1.987 Btu
3

 0.40 0.7302 ( ft 3 )( atm)


 31.6 Btu

(Tanda positif mengindikasikan bahwa kerja dilakukan di dalam sistem)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 88


2. Proses (b) kompresi pada pada kompresor rotary.

  P2   
( EK  EP)   V dp  W  E v  0
P1

Gambar C7.4

 
Nilai EK dan EP diasumsikan 0, dan Ev = 0, sehingga

 P2 
W   V dp
P1

Tahap 1,2,3, dan 4

Sesuai gambar C7.4 menunjukkan sistem dan data. Sehingga mol gas adalah

p1 V1 1 atm 5 ft 3 1 (lb mol) ( o R)


n1     0.0122 lb mol
RT1 560 o R ( ft 3 ) (atm)

Tahap 5

Basis = 0.0122 lb mol

Tahap 6,7,8, dan 9


1 / 1.4
 P2  p  P2 
W rev   V dp   V  1  dp
P1 P1
 p

 V p1
0.714
3.50p 2
0.286
 p1
0.286

   V  0.714
W rev  n1 W rev  n1  1  p1 3.50 p 2
0.286
 p1  
0.286

 n1 

= (5) (1)0.714 [(3.50) (10)0.286 – 10.286] (ft3) (atm) (1.987 Btu/0.7302 (ft3)
(atm))

= 44.4 Btu

Buku Ajar Neraca Energi 2017 89


Soal !

1. Air dipompakan dari tangki air yang berukuran besar, seperti ditunjukkan pada
gambar C7.5 dengan laju 2000 gal/min. Tentukan power minimum (misalnya
pada proses reversibel) yang dibutuhkan pompa dalam horse power.

Gambar C7.5

2. Gunakan neraca energi mekanik untuk menjelaskan kenapa aliran air yang
mengalir turun di dalam pipa vertikal yang dipenuhi air berbeda dengan aliran
air turun air terjun.
3. Fluida dengan specific gravity 1.15 dikosongkan dari bagian bawah tangki
yang terbuka ke dalam sebuah wadah melalui pipa berdiameter 5 cm (diameter
dalam) dengan ketinggian 4.5 m di bawah permukaan fluida tangki. Hitung
kecepatan discharge fluida, abaikan efek friksi.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 90


BAB 8

Panas Pelarutan dan Pencampuran

8.1 Panas Pelarutan, Peleburan, dan Pencampuran

Kapasitas Panas pada Campuran Larutan Ideal

C p, campuran  x AC p, A  xB C p, B  xC C p, C  ..........

Untuk entalpi campuran,


   
H campuran  x A  H A  x B  H B  xC  H C  ..........

Pada hal-hal tertentu, campuran gas dianggap larutan ideal

Beberapa jenis larutan biner atau campuran yang perlu dipertimbangkan:

a. Gas – gas
b. Gas – cair
c. Gas – padat
d. Cair – cair
e. Cair – padat
f. Padat – padat

-) Pada campuran (a), (c), dan (f) perubahan energi diabaikan, sedangkan selain
itu disebut sebagai Larutan nyata.
-) Saat gas atau zat padat terlarut (senyawa yang dilarutkan) dicampur dengan
pelarut cair (senyawa yang merupakan tenpat dimana zat terlarut dilarutkan),
efek energi yang terjadi disebut panas (sesungguhnya : entalpi) pelarutan.
-) Saat cairan dicampurkan dengan cairan, efek energi disebut panas
(sesungguhnya : entalpi) pencampuran. Kebalikan dari panas pelarutan dan
pencampuran adalah panas (sesungguhnya : entalpi) peleburan (heat of
dissolution).

Buku Ajar Neraca Energi 2017 91


Panas pelarutan dapat bernilai positif (endotermik) atau negatif (eksotermik).
Pada gambar 8.1 ditunjukkan tren nilai entalpi realtif suatu pencampuran
fluorocarbon (C6F6) di dalam benzene (C6H6).

Gambar 8.1 Perubahan entalpi realtif pencampuran fluorocarbon (C6F6) di dalam


benzene (C6H6)

Tabel 8.1 menunjukkan dua konsep yang menggunakan nama “panas pelarutan: :
a) Panas pelarutan increment (diferensial), kolom 3
b) Panas pelarutan integral, kolom 4. Panas pelarutan kombinasi 1 mol HCl (g)
dengan n mol H2O (l).

Biasanya “panas pelarutan” mewakili konsep (b), dan perubahan entalpi


dinyatakan dalam per mol zat terlarut. Gambar 8.2 menunjukkan grafik
berdasarkan tabel 8.1. Garis asimtot panas pelarutan HCl terlarut dalam jumlah air
tak terhingga yang dikenal dengan nama Panas Pelarutan pada Pengenceran
Tak Hingga dengan angka -75.144 J/g mol HCl. Jika kita ingin menghitung panas
pembentukan dari berapapun jumlah larutan HCL (g) dalam H2O (l), maka hal
yang harus dilakukan adalah menambahkan panas pelarutan ke panas
pembentukan HCL (g), sepeti ditunjukkan pada kolom 5 Tabel 8.1.

 o  o  o
 H f , laru tan   H f , terlaut   H laru tan (8.1)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 92


 o
dimana  H laru tan merupakan panas pelarutan integral pada kondisi standar per
 o
mol HCl, dan  H f , laru tan merupakan panas pembentukan larutan tersebut per
mol HCl. Penting untuk diingat bahwa panas pembentukan H2O tidak masuk
ke dalam perhitungan.

Tabel 8.1 Data Panas Pelarutan pada 25 oC dan 1 atm

Gambar 8.2 Panas pelarutan integral HCl di air

Buku Ajar Neraca Energi 2017 93


Contoh 8.1 Aplikasi Data Panas Pelarutan

Anda diminta menyiapkan larutan amonium hidroksida pada 77 oF dengan


melarutkan gas NH3 di dalam air. Hitung

a) Jumlah pendingin yang dibutuhkan dalam Btu untuk menyiapkan 3.0 %


larutan yang mengandung 1 lb mol NH3.
b) Jumlah pendingin yang dibutuhkan dalam Btu untuk menyiapkan 100
galon larutan yang mengandung 32.0 % NH3.
Data panas pelarutan diambil dari NBS circular 500 sebagai berikut :

Penyelesaian :

Suhu referen : 77 oF

a) Basis 1 lb mol NH3 = 17 lb NH3


lb NH 3
wt.% NH 3  (100)
lb H 2 O  lb NH 3

17 (100)
3
17  mH 2 O
mH 2 O  550 lb atau 30 lb mol H 2 O
 o
Berdasarkan tabel di atas,  H laru tan = -14800 Btu/lb mol NH3 dimana
sama dengan 14800 Btu dikeluarkan dari sistem.
b) Basis : 100 galon larutan

Buku Ajar Neraca Energi 2017 94


Properti larutan NH3 32 % :
Specific gravity : NH3 = 0.889, H2O = 1.003
Densitas larutan NH3 32 % dalam lb/100 galon
(0.889) (62.4) (1.003) (100)
7.48
 744 lb / 100 galon
744 (0.32)
  14.0 lb mol NH 3 / 100 galon laru tan
17

Basis : 1 lb mol NH3

1700
32.0 
17  mH 2 O
mH 2 O  36 lb dan nH 2 O  2 lb mol

Pendinginan yang dibutuhkan dalam Btu/100 galon adalah

 lb mol NH 3   Btu 
     H laru
o

lb mol NH 3 
tan
 100 galon  

= (14.0) (-13700) = -192.000 Btu/100 galon larutan (panas yang dibuang)

Soal !

1. Hitung panas pelarutan pada kondisi standar dimana 1 mol larutan HCl 20 %
mol dicampur dengan 1 mol larutan 25 % mol HCl.
2. Berapa banyak panas yang ditambahkan ke larutan 1 g mol HCl di dalam 10
g mol H2O untuk meninggikan konsentrasi 1 g mol HCl di dalam 4 g mol
H2O.
3. Panas Pembentukan H2SO4 adalah – 811.319 kJ/g mol H2SO4. Berapa panas
pembentukan per g mol H2SO4 larutan Asam Sulfat 20%? Gunakan
Appendiks H Buku Himellblau.

8.2 Pengenalan Efek Pencampuran dalam Neraca Energi


Dalam Subbab 8.1 pembahasan dibatasi pada keadaan standar yaitu 25 oC dan 1
atm. Pada bagian ini akan dibahas dimana suhu aliran masuk dan keluar tidak 25
o
C untuk sistem biner dalam sistem terbuka, proses steady-state (Untuk sistem

Buku Ajar Neraca Energi 2017 95


tertutup, energi dalam pada keadaan awal dan keadaan akhir lebih dilibatkan
daripada aliran). Anda dapat menganalisis soal dimana di dalamnya termasuk
panas pelarutan/pencampuran sama persis dengan saat Anda menganalisis dimana
di dalamnya termasuk reaksi. Panas pelarutan/pencampuran dapat disamakan
dengan panas reaksi di dalam neraca energi. Anda dapat melakukan perhitungan
dengan :
a) Mengasosiasikan panas pembentukan komponen dan larutan dengan
masing-masing komponen dan larutan.
b) Menghitung panas pelarutan overall pada kondisi referen.
dan untuk pilihan lain, menghitung panas sensible (efek perubahan fasa) untuk
komponen dan larutan dari kondisi standar.

Contoh 8.2 Aplikasi Data Panas Pelarutan


Asam hidroklorik merupakan komponen yang sangat penting dalam industri
kimia. Untuk membuat larutan dengan grade pasar (asam muriatik), HCl (g) yang
telah dimurnikan diabsorbsi di dalam air dengan absorber tantalum pada proses
kontinyu steady-state. Berapa banyak panas harus dihilangkan dari absorber
dengan air pendingin per 100 kg produk, jika HCL (g) panas pada 120 oC
dimasukkan ke dalam air di absorber ditunjukkan pada gambar C8.2.

Gambar C8.2

Buku Ajar Neraca Energi 2017 96


Air masuk diasumsikan pada kondisi 25 oC, dan produk HCL (aq) yang keluar
mempunyai konsentrasi 25 % (% berat) pada 35 oC. Air pendingin tidak
bercampur dengan larutan HCl.

Penyelesaian :
Tahap 1,2,3, dan 4
Mengkonversi data-data dalam proses ke dalam mol HCl sehingga dapat
digunakan sesuai tabel 8.1. Konversi produk menjadi mol HCl dan mol H2O

Komponen kg Mr kg mol Fraksi mol


HCl 25 36.37 0.685 0.141
H2O 75 18.02 4.163 0.859
Total 100 4.848 1.000

Perbandingan mol H2O dan HCl adalah 4.163/0.685 = 6.077. Mr larutan adalah
0.141 * 36.37 + 0.859 * 18.02 = 20.60.

Tahap 5
Sistem merupakan HCl dan air (air pendingin tidak termasuk)
Basis 100 kg produk
Suhu referen 25 oC

Tahap 6 dan 7
Neraca energi dapat disederhanakan menjadi Q = ∆H dan kedua entalpi awal dan
akhir untuk semua aliran diketahui atau dapat dihitung secara langsung karena
persoalan tersebut mempunyai derajat kebebasan sama dengan nol. Pada tabel di
tahap 1,2,3,4 di atas terdapat neraca massa input dan output yang dapat digunakan
untuk menghitung neraca energi

Lanjutan tahap 3
Menentukan nilai entalpi aliran, Cp untuk HCl (g) produk 2.7 J/(g) (oC) ekivalen
 o
dengan 55.6 J/(gmol) (oC);  H f untuk HCl.6.007 H2O = -157753 J/g mol HCl.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 97


 o
Kita akan menggunakan  H f untuk masing-masing aliran dalam perhitungan
∆H.

Tahap 8 dan 9
 o
T  H f (J/g mol  o
Aliran g mol  H s (J/g mol)
(oC) HCL)
Keluar
35 o C
HCl (aq) 4,848* 35 -157753 25 o C
(55.6) dt  27

Masuk
HCl (l) 4.163 25 - 0
120 o C

H2O (g) 0.685 120 -92311 


25 o C
(29.13  0.134 x 10  2 T ) dt
 2758

*HCl = 0.685

Q = ∆Hkeluarr - ∆Hmasuk
= [0.685(-157753) + 4.848 (55.6) (35-25)] – [0 + 0.685(-92311) + 0.685(2758)]
= -42370 J

Jika menggunakan nilai panas pelarutan, maka perhitungan adalah (dari tabel 8.1
panas pelarutan = -65442 J/gmol HCl untuk perbandingan HCl/H2O = 6.077)
Q = ∆Hkeluarr, sensibel - ∆Hmasuk, sensible + ∆Hlarutan
= (4.848)(55.6)(35-25) – [0.685(2753) + 0] + (0.685)(-65442)
= -42370 J (sesuai yang diharapkan)

Soal !
1. Gunakan data panas pelarutan di Appendiks H (Buku Himellblau ed.7) untuk
menentukan jumlah panas yang ditransfer per mol larutan yang masuk,
menuju atau keluar dari proses dimana 2 g mol larutan asam sulfat 50 % mol
pada 25 oC dicampur dengan air pada 25 oC untuk menghasilkan laurtan pada
25 oC yang mengandung rasio mol yaitu 10 H2O dan 1 H2SO4

Buku Ajar Neraca Energi 2017 98


2. Hitung jumlah panas yang harus ditambahkan atau dibuang per ton 50 wt %
H2SO4 yang diproduksi pada proses seperti ditunjukkan pada gambar di bawah
ini.

3. Untuk sistem asam sulfat-air, apa saja fasa, komposisi, dan entalpi yang terjadi

pada  H = 120 Btu/lb dan T = 260 oF?
4. Estimasi panas penguapan campuran etanol-air pada 1 atm dan fraksi massa
etanol 0.50 berdasarkan grafik entalp-konsentrasi di Appendiks I Buku
Himellblau.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 99


BAB 9

Kurva Kelembaban (Psychrometric) dan


Penggunaannya

9.1 Terminologi
Kelembaban Ҥ (specific humidity) merupakan massa uap air (dalam lb atau kg)
per unit massa udara kering (dalam lb atau kg) (beberapa menggunakan mole uap
air per mole udara kering sebagai penjelasan dari kelembaban)
m H 2O 18 p H 2O 18 nH 2O
Ҥ=   (9.1)
m udaraker ing 29 ( ptotal  p H 2O ) 29 (ntotal  nH 2O )
Terminologi yang berkaitan dengan campuran udara-uap air antara lain :
a) Humid heat (Cs)
Merupakan kapasitas panas campuran udara-uap air yang berdasarkan pada
basis 1 lb atau kg udara kering.
C s  C p udara  (C p H 2O uap ) (9.2)

Asumsi kapasitas panas untuk udara dan uap air adalah konstan di bawah
range kondisi tertentu eksperimen pada perhitungan AC dan humidifikasi,
sehingga dapat dituliskan pada satuan AE :
C s  0.240  0.45 (Ҥ) Btu/(oF) (lb udara kering) (9.3)
Sedangkan pada satuan SI
Cs  1.00  1.88 (Ҥ) Btu/(oF) (lb udara kering) (9.4)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 100


Tabel 9.1 Parameter yang Termasuk dalam Perhitungan Grafik Humidity

b) Humid volume
Merupakan volume 1 lb atau kg udara kering plus uap air pada udara. Pada
sistem AE :
 359 ft 3 1 lb mol udara T ( o F )  460 359 ft 3 1 lb mol air T ( o F )  460 H lb air
V 
1 lb mol 29 lb udara 32  460 1 lb mol 18 lb air 32  460 lb air
 1 H
 (0.730 T ( o F )  336)   
 29 18 

dimana V dalam ft3/lb udara kering. Pada sistem SI :
 22.415 m 3 1 kg mol udara T ( K ) 22.415 m 3 1 kg mol air T ( K ) H kg air
V 
1 kg mol 29 kg udara 273 1 kg mol 18 kg air 273 kg air
 2.80 10 3 T ( K )  4.56 10 3 T ( K ) H

dimana V dalam m3/kg udara kering.
c) Dry-bulb Temperature (TDB)
Merupakan temperature seperti umumnya yang selalu digunakan dengan
mengukur pada gas dalam oF, atau oC, (oR atau K).
d) Wet-bulb Temperature (TWB)
Pengukuran temperature dilakukan pada kondisi thermometer yang basah.
Misalnya mengukur temperature dengan membasahi thermometer bagian
ujung yang berisi merkuri dengan cotton/sumbu (wick) basah. Seperti
ditunjukkan pada gambar 9.1.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 101


Gambar 9.1 Wet-bulb temperature

Pada saat air di sumbu menguap, sumbu tersebut akan menjadi dingin dan terus
menjadi dingin sampai laju energi energi yang ditransfer ke sumbu dengan steady-
state oleh udara yang dialirkan sama dengan energi yang hilang karena air yang
menguap dari sumbu. Wet-bulb temperature terjadi pada ujung pentolan (bulb)
saat air pada sumbu berada dalam kondisi kesetimbangan dengan uap air di udara.

Gambar 9.2 Pendinginan karena evaporasi pada sumbu dengan kondisi awal dry-
bulb temperature (TDB) menyebabkan thermometer yang dililit sumbu pada
kondisi kesetimbangan untuk mencapai wet-bulb temperature (TDB)

9.2 Grafik Humiditi (Psychrometric)

Grafik humidity atau secara formal disebut grafik psikometrik berhubungan


dengan berbagai macam parameter yang termasuk di dalam neraca energi dan
massa pada udara lembab.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 102


Pada grafik humiditi, bagian sumbu vertical (pada bagian kanan) adalah
specific humidity, sedangkan bagian sumbu horizontal merupakan dry-bulb
temperature.

Garis Wet-bulb (Persamaan)

Wet-bulb temperature berdasarkan pada kesetimbangan antara laju energi ke


pentolan (bulb) dan evaporasi air.

Gambar 9.3 Koordinat utama grafik humiditi

Gambar 9.4 Representasi proses wet-bulb pada grafik H(humidity)-T

Sebagai contoh, pada proses wet-bulb dengan kondisi awal TDB (sepanjang garis
horisontal) dan HDB (sepanjang garis vertikal) kombinasi kedua garis tersbut
adalah titik A. Garis ditarik kearah kiri melalui wet-bulb line menuju kurva

Buku Ajar Neraca Energi 2017 103


saturasi (di titik B). Lalu dari titik B ditarik garis ke bawah sehingga diperoleh
TWB (di titik C), dan ditarik garis ke samping arah kanan dari titik B sehingga
diperoleh HDB (di titik D).

Garis Pendinginan Adiabatis (Persamaan)

Pendinginan adiabatic disebut juga humidfikasi seperti ditunjukkan pada


gambar 9.5.

Gambar 9.5 Proses Humidifikasi Adiabatis dengan Air yang di-recycle

Pada proses ini, udara didinginkan dan dihumidifikasi (kandungan air naik)
sedangkan sedikit air yang diresiskulasi diuapkan sehingga dibutuhkan makeup
water. Pada kondisi kesetimbangan dan steady-state, temperature udara keluar
sama dengan temperature air, dan udara yang keluar jenuh pada kondisi
temperature ini.

Catatan untuk garis dan kurva pada grafik humidity :

1. Relative humidity konstan diindikasikan dalam persen


2. Humid volume konstan
3. Garis pendinginan adiabatik dimana sama dengan wet-bulb atau garis
psikometrik.
4. Kurva relative humidity 100% (contoh : kurva udara jenuh)
5. Entalpi spesifik per massa udara kering untuk campuran udara jenuh-uap
  
air :  H   H udara   H uap air (Humidity )

Buku Ajar Neraca Energi 2017 104


Gambar 9.6 Kerangka Grafik humidity (psikometrik) menunjukkan hubungan
temperature, dewpoint, wet- and dry-bulb temperature, relative humidity, specific
humid volume, humidity enthalpy, adiabatic cooling/wet-bulb line.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 105


Gambar 9.7 Grafik humidity (psikometrik) dalam satuan AE

Buku Ajar Neraca Energi 2017 106


Gambar 9.8 Grafik humidity (psikometrik) dalam satuan SI

Buku Ajar Neraca Energi 2017 107


Contoh 9.1 Menentukan Properti Udara Basah dengan Grafik Humiditi

Tuliskan semua properti yang dapat Anda temukan di grafik humidity (satuan AE)
untuk udara basah pada dry-bulb temperature 90 oF and wet-bulb temperature
70oF. Dapat diasumsikan bahwa sesorang dapat mengukur dry-bulb temperature
menggunakan thermometer raksa dan wet-bulb temperature menggunakan sling
psychrometer.

Penyelesaian :

Penyelesaian dengan melihat grafik humidity satuan AE.

Penjelasan grafik :

Menentukan titik A dari dry-bulb temperature (90oF) dan wet-bulb temperature


(70 oF) dengan menraik garis ke atas dari TDB = 90oF kemudian berpotongan
dengan garis wet-bulb pada suhu 70oF dan menarikanya ke kiri hingga mencapai
saturated air line (100% relative humidity). Dari titik A, ditarik ke arah kiri
sampai dengan garis humidity (H).

Properti yang lain bisa ditentukan setelah titik A fixed, properti tersebut antara
lain :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 108


a) Dew Point
Saat udara pada titik A didinginkan pada tekanan tetap (efeknya adalah
humidity konstan) sehingga mencapai temperature dimana udara tersebut
mulai terkondensasi. Proses ini dapat diketahui di grafik dengan menarik
garis horizontal dari titik A ke kiri sampai berpotongan dengan saturated
air line. Dew point ditunjukkan pada titik B yaitu pada suhu 60 oF.
b) Relative humidity
Diperoleh dengan menginterpolasi antara garis Relative humidity 30% dan
40%, sehingga dapat ditentukan relative humidity untuk titik A adalah
sekitar 37%.
c) Humidity (H)
Humidity dapat diperoleh dengan menarik garis dari titik A ke kanan
sehingga diperoleh nilai 0.0112 lb H2O/lb udara kering.
d) Humid volume
Melalui interpolasi antara garis humid volume 14.0 ft3/lb dan 14.5 ft3/lb,
sehingga diperoleh humid volume sebesar 14.1 ft3/lb udara kering.
e) Enthalpy
Entalpi untuk udara jenuh pada kondisi wet-bulb temperature 70 oF adalah
34.1 Btu/lb udara kering. Deviasi entalpi ditunjukkan pada garis putus-
putus pada gambar 9.7. Pada keadaan kurang dari udara jenuh, entalpi
adalah -0.2 Btu/ lb udara kering sehingga entalpi udara yang sesungguhnya
pada relative humidity 37% adalah 34.1-0.2 = 33.9 Btu/lb udara kering.

9.3 Aplikasi Grafik Humiditi


Pada beberapa proses industri, dapat ditemukan beberapa properti yang
terdapat dalam grafik humidity antara lain :
a) Proses pengeringan (udara basah masuk dan udara dengan kandungan air
lebih sedikit keluar pda proses).
b) Humidifikasi (air liquid diuapkan menjadi udara basah).
c) Pembakaran (udara basah masuk ke proses dan air tambahan ditambahkan
ke udara basah tersebut dari hasil pembakaran).
d) Air conditioning (udara bersih dipanaskan dan didinginkan)

Buku Ajar Neraca Energi 2017 109


e) Kondensasi (udara kering didinginkan di bawah suhu jenuhnya)

Contoh 9.2 Pemanasan pada Humiditi Konstan dalam Furnace Rumah

Udara basah pada kondisi 38 oC dan 49% relative humidity dipanaskan di dalam
furnace rumah menjadi 86 oC. Berapa banyak panas yang harus ditambahkan per
m3 udara basah awal, dan berapa dew point akhir udara?

Penyelesaian :

Pada grafik humidity dapat dilihat sebagai berikut :

Pada proses diketahui kondisi masuk di titik A pada TDB = 38 oC dan 49% relative
humidity ddan kondisi keluaran di titik B yang berlokasi di perpotongan garis
horizontal pada humiditi konstan dengan garis vertical dari TDB = 86 oC. Dew
point tidak berubah pada proses ini karena humiditi tidak berubah dan berlokasi
pada C (24.8 oC). Nilai Entalpi ditunjukkan pada tabel berikut (dalam kJ/kg udara
kering) :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 110



Nilai reduksi  H jenuh via H diperoleh dari garis deviasi entalpi. Pada titik A,
volume udara basah adalah 0.91 m3/kg udara kering sehingga panas yang
 
ditambahkan adalah (neraca energi disederhanakan menjadi Q   H ) :

140.0 – 89.5 = 50.5 kJ/kg udara kering.

50.5 kJ 1 kg udara ker ing


 55.5 kJ/m3 udara basah awal.
kg udara ker ing 0.91m3

Soal !

1. Proses pengeluaran kandungan air dari udara dengan melewatkan air yang
di spray efektif digunakan selama suhu air di bawah dew point udara.
Proses ditunjukkan seperti gambar berikut

Jika kondisi udara masuk mempunyai dew point 70 oF dan 40% relative
humidity, berapa banyak panas harus dihilangkan dengan pendinginan dan
berapa banyak uap air yang dihilangkan saat udara keluar bersuhu 56 oF
dengan dew point 54 oF?

Buku Ajar Neraca Energi 2017 111


2. Udara basah pada 1 atm dan 200 oC mengandung 0.0645 lb H2O/lb udara
kering, masuk ke dalam pendingin dengan laju 1000 lb udara kering per
jam (plus disertai uap air). Udara kering meninggalkan pendingin pada 100
o
F, dalam kondisi jenuh dengan uap air (0.0434 lb H2O/lb udara kering).
Sehingga 0.0211 lb H2O dikondensasikan per lb udara kering. Berapa
banyak panas yang ditransfer ke pendingin?

Buku Ajar Neraca Energi 2017 112


BAB 10

Analisis Derajat Kebebasan pada Proses


Steady-state

Derajat kebebasan adalah jumlah variabel dalam persamaan independen dimana


nilai tersebut harus ditentukan sehingga dapat menyelesaikan persamaan.

Nd merupakan jumlah derajat kebebasan, Nv merupakan jumlah variabel, dan Nd


merupakan jumlah persamaan.

Nd = Nv – Ne

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Nv – Ne harus ditentukan sepanjang


persamaan Ne masih independen.

Beberapa variabel yang dipertimbangkan :

1. Temperatur
2. Tekanan
3. Laju alir mass/mol untuk masing-masing komponen di aliran atau
konsentrasi masing-masing komponen plus total laju alir
4. Specific enthalpies
5. Aliran panas dan kerja (pada neraca energi)
6. Recycle ratio
7. Spesifikasi
8. Tingkat reaksi atau konversi fraksi

Periksa aliran pada gambar berikut :

Buku Ajar Neraca Energi 2017 113


Dua model digunakan untuk menentukan jumlah variabel yang berhubungan
dengan aliran proses

Nsp merupakan jumlah komponen pada aliran. Perhitungan jumlah komposisi


menggunakan Nsp – 1 bukan Nsp karena konstrain implicit jumlah fraksi massa atau
mol adalah 1. Sehingga dapat disimpulkan jumlah variabel Nv yang dibutuhkan
untuk menentukan kondisi aliran secara lengkao adalah
Nv = Nsp + 2

Beberapa jenis persamaan dalam analisis derajat kebebasan :


1. Neraca massa independen untuk masing-masing komponen (neraca total
dapat disubtitusikan untuk 1 neraca komponen)
2. Neraca energi
3. Hubungan kesetimbangan fasa
4. Hubungan kesetimbangan kimia
5. Hubungan implicit seperti konsentrasi komponen adalah nol pada aliran
6. Hubungan eksplisit seperti fraksi yang diberikan pada kondensasi aliran
7. Tingkat reaksi atau konversi fraksi.

Berikut contoh penghitungan derajat kebebasan


Proses isobaric, steady-state, isothermal dimana terdapat tiga aliran tambah
transfer panas. Perhitungan variabel dan persamaan adalah sebagai berikut :
Variabel :
(Nsp + 2) x 3 = (2 + 2) x 3 = 12

Buku Ajar Neraca Energi 2017 114


Q 1
Total 13
Persamaan :
Neraca Massa 2
Neraca Energi 1
Kesetimbangan H2O 1
T sama dalam 3 aliran
(T1= T2= T3) 2 persamaan independen 2
p sama dalam 3 aliran
(p1= p2= p3) 2 persamaan independen 2
Total 8

Derajat kebebasan :
13 – 8 = 5

Buku Ajar Neraca Energi 2017 115


Gambar 10.1 Proses sederhana dengan tiga aliran. Pada gambar A, aliran
merupakan laju alir mol dan pada gambar B aliran merupakan aliran total dan
komposisi komponen ditunjukkan dalam fraksi mol.
Contoh Soal 10.1
Sebuah kolom pemisahan isothermal ditunjukkan pada gambar C10.1. Spesifikasi
kolom untuk bahan masuk (feed) dengan fraksi massa sebagai berikut : C 4 =

0.15, C 5 = 0.20, C i 5 = 0.30, dan C 6 = 0.35. Fraksi massa pada bagian

overhead C 5 = 0.40 dan C 6 = 0. Pada produk residual, fraksi massa sebagai

berikut : C 4 = 0.

Gambar C10.1
Jika diketahui F = 100 lb/hr, apakah kolom pemisah tersebut sudah dapat
terspesifikasi secara lengkap dimana derajat kebebasan Nd = 0? Aliran P1 dan P2
tidak dalam kesetimbangan.

Penyelesaian :
Langkah pertama : menghitung Nv dan Ne. Kita akan mengasumsi bahwa semua
aliran temperature dan tekanan identik. Jumlah Nv :
Nv = (Nsp + 2) (3) = (4 + 2) (3) = 18

Jumlah batasan dan persamaan (Ne) :


Komponen necara massa (tanpa reaksi) = Nsp = 4
TF = TP1 = TP2 2
pF = pP1 = pP2 2

Buku Ajar Neraca Energi 2017 116


Spesifikasi kolom awal :
(4 dalam F, 2 dalam P1, dan 1 dalam P1 plus TF = 30 oC serta pF = 1 atm) 9
Total Ne 17
Jumlah derajat kebebasan Nd : 18 – 17 = 1

Soal !
1. Tentukan derajat kebebasan untuk kondensor seperti ditunjukkan pada
gambar di bawah ini

2. Tentukan derajat kebebasan untuk reboiler seperti pada gambar di bawah ini.
Variabel apa yang harus ditentukan untuk membuat penyelesaian neraca
energi dan neraca massa?

3. Jika pada stage kesetimbangan seperti pada gambar di bawah ini


ditambhankan aliran feed. Tentukan derajat kebebasan pada kasus tersebut.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 117


DAFTAR PUSTAKA

Himmelblau, DM., 2003. Basic Principles and Calculation in Chemical


Engineering, Prentice Hall, 7th ed.
Himmelblau, DM., 2012. Basic Principles and Calculation in Chemical
Engineering, Prentice Hall, 8th ed
Felder, RM and Rousseau., 2000. Elementary Principles Of Chemical Processes,
John Wiley and Sons, 3rd ed.
Reklaitis, GV., 1983. Introduction to Material Balances, Wiley.

Buku Ajar Neraca Energi 2017 118

Anda mungkin juga menyukai