Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

IMPLIKASI STUDI DIAGNOSTIK


EEG (ELEKTROENCHELPALOGRAPH)

Nama Kelompok :

Bella Dama Shinta P27820716019


Wahyu Aji Setyo W P27820716020
Aliyfia Syahadah M P27820716024
Is Naning Tyas N P27820716031
Vika Fatimah Sani P27820716040

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA


PRODI DIV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena anugerah dari-Nya, saya dapat
menyeselaikan tugas Makalah Implikasi Studi Diagnostik ‘EEG
(Elektroenchelpalograph)’ ini.
Penulis sangat bersyukur dan berterimakasih karena dapat menyusun
makalah ini dengan tepat waktu. Disamping itu, penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada semua pihak dan sumber yang membantu dalam proses
penyusunan makalah ini. Tak lupa, penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Joko selaku Dosen Implikasi Studi Diagnostik yang telah
memberikan tugas ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Kritik serta saran penulis terima agar bias mengkoreksi kembali makalah yang
telah penulis buat agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Surabaya, 12 Januari 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
Cover....................................................................................................................i

Kata Pengantar....................................................................................................ii

Daftar Isi............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................1

1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi elektroensefalografi.........................................................................3

2.2 Sejarah elektroensefalografi..........................................................................3

2.3 Tujuan elektroensefalografi...........................................................................5

2.4 Indikasi elektroensefalografi.........................................................................6

2
2.5 Kontraindikasi elektroensefalografi..............................................................6

2.6 Persiapan elektroensefalografi......................................................................6

2.7 Pelaksanaan elektroensefalografi..................................................................9

2.8 Sinyal pada elektroensefalografi.................................................................11

2.9 Hasil pemeriksaan elektroensefalografi......................................................13

2.10 Faktor yang mempengaruhi hasil tes eeg..................................................14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan..................................................................................................15

3.2 Saran............................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................17

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel abnormal di dalam atau di
sekitar organ otak. Tumor otak dapat dapat menyerang siapa saja, namun
sebagian besar kasusnya terjadi pada orang dewasa. Untuk mengetahui
seseorang terdiagnosis tumor otak terdapat beberapa pemeriksaan yang
dapat dilakukan, misalnya : Computer Tomografik Scaning (CT Scan),
Magnetic Resonance Imaging (MRI), Elektroensefalogram (EEG),
Stereotatic Radiosurgery, dan pemeriksaan cytologi.
Pada makalah ini membahas tentang suatu pemeriksaan diagnostic
yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan penunjang pada klien
dengan diagnosis penyakit tertentu dan sebagai penegak diagnosis bagi
tenaga kesehatan. Untuk itu pada penyakit tumor otak, kami mengambil
pemeriksaan Elektroensefalogram (EEG) untuk dijelaskan lebih lengkap
pada makalah ini

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa definisi dari elektroensefalografi?
2) Bagaimana sejarah dari elektroensefalografi?
3) Apa tujuan dari elektroensefalografi?
4) Apa saja indikasi dari elektroensefalografi?
5) Apa saja kontraindikasi dari elektroensefalografi?
6) Apa saja persiapan untukmelakukan elektroensefalografi?
7) Bagaimana pelaksanaan dari elektroensefalografi?
8) Apa saja aktor-faktor yang mempengaruhi elektroensefalografi?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui dan memahami definisi dari elektroensefalografi.
2) Untuk mengetahui dan memahami sejarah dari elektroensefalografi.
3) Untuk mengetahui dan memahami tujuan dari elektroensefalografi.
4) Untuk mengetahui dan memahami indikasi dari elektroensefalografi.
5) Untuk mengetahui dan memahami kontraindikasi dari
elektroensefalografi.
6) Untuk mengetahui dan memahami persiapan untukmelakukan
elektroensefalografi.
7) Untuk mengetahui dan memahami pelaksanaan dari elektroensefalografi.
8) Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
elektroensefalografi.

1
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Elektroencefalogram (EEG)


Istilah “Elektroenchephalograph” berasal dari padanan kata elektro
yang berarti listrik, ensefalo (encephalo) yang berarti kepala dan graf
(graph) yang berarti gambaran, dengan demikian Elektroenchephalograph
dapat diartikan sebagai alat yang dapat merekam aktivitas listrik pada otak
melalui elektroda yang diletakkan pada kulit kepala. Hasil rekaman dari
elektroenchephalograph adalah berupa grafik gambaran aktivitas listrik otak
yang biasa disebut dengan elektroenchephalogram (EEG).1
2.2 Sejarah Elektroencefalogram (EEG)
Hans Berger lahir pada tanggal 21 Mei 1873. Dia berkebangsaan
Jerman, tepatnya berasal dari kota kecil sebelah Utara Bavaria Neuses dekat
Coburg. Berger adalah anak seorang dokter, Paul Friedrich Berger. Ibunya,
Anna Rückert merupakan anak dari seorang penyair Jerman. Berger sangat
dipengaruhi oleh kedua orang tuanya. Itu sebabnya, Hans Berger banyak

1 Conference Paper, ‘Pola Gelombang Otak Abnormal Pada’, 2014, 1–6.

2
disebut sebagai seorang ilmuwan filsafat. Hans Berger lulus dengan
kehormatan dari Gymnasium di Coburg. Kemudian dia mendaftar di
Universitas Berlin sebagai mahasiswa Astronomi pada tahun 1892. Tahun
berikutnya, dia menjadi relawan untuk tentara Jerman. Keputusannya untuk
menjadi relawan militer hampir membuatnya mendapat kecelakaan fatal.
Hans Berger merupakan Penemu Electroencephalogram (EEG). Hans
Berger adalah seorang profesor psikiater dan direktur Klinik Universitas
Psikiater Jena (1919-1938). Akan tetapi, dia terkenal bukan karena hal itu.
Dia menjadi tokoh dunia akibat kontribusinya yang besar dalam penelitian
aktivitas dan kesadaran otak manusia. Penelitian ini bahkan membawanya
pada penemuan suatu alat yang mengubah khazanah ilmu kedokteran.
Namanya adalah Electroencephalogram (EEG) yang merupakan sebuah alat
yang mampu memvisualisasikan Gelombang Otak (Brainwave) manusia ke
dalam bentuk grafik. Gelombang Otak (Brainwave) ini diukur berdasarkan
beda pontensial yang terjadi secara berulang-ulang di antara elektroda yang
dihubungkan ke kepala manusia.2
Pada awalnya, Berger membuat EEG hanya sebagai alat untuk
mengukur Gelombang Otak (Brainwave). Namun ternyata, lama kelamaan,
EEG dijadikan sebagai alat yang mampu mendiagnosis dan mengobati
penyakit tertentu, seperti epilepsi dan tumor otak. Hal ini pun sangat tidak
ternilai harganya. Tahun 1897, dia mendapat gelar dokter dan menjadi staf
junior dari klinik psikiater yang kelak menjadikannya direktur. Tahun 1901,
Berger menjadi dosen. Di tahun itu pula, dia memublikasikan penelitiannya
mengenai fungsi otak manusia dan catatan ukurannya berdasarkan
modifikasi peredaran darah.3
Di awal tahun 1902, dia menjadi terkenal. Hal ini karena dia
mencatatkan penelitiannya mengenai aktivitas cerebral korteks (otak)
anjing. Akan tetapi, tahun 1910, dia merasa putus asa akan hasilnya yang tak
begitu berarti. Berger juga mendapat jalan buntu akan penelitiannya
mengenai energi fisika yang memengaruhi otak. Setelah sempat menjadi
relawan di rumah sakit Rethel, Prancis, dia kembali ke Jerman dan terpilih

2 Aris Catur Bintoro, ‘Pemeriksaan EEG Untuk Diagnosis Dan Monitoring Pada Kelainan Neurologi’,
Medica Hospitalia, 1 (1).1 (2012), 64–70.

3 ‘De Nurse’s Station _ PEMERIKSAAN RADIOLOGI __ LUMBAL PUNKSI, CT SCAN, MRI, Dan EEG’.

3
menjadi direktur klinik universitas psikiater di Jena. Dalam beberapa tahun
pertamanya sebagai direktur, Berger melakukan penelitian mengenai
hubungan antara otak dan jiwa. Akan tetapi, dalam keadaan senggang dia
melakukan penelitian pribadi mengenai aktivitas elektrik di dalam otak.
Dalam kurun waktu ini, Berger dikenal sebagai orang yang disiplin.
Waktunya banyak tersita dalam penelitian. Dari hasil penelitiannya ia
menyimpulkan bahwa di dalam otak manusia terdapat Gelombang Otak
(Brainwave).
Peralatan yang digunakan Berger sangatlah kasar. Dia menggunakan
galvanometer cincin Edelmann sebagai alat pencatatnya. Namun karena
kepintaran dan kecerdasannya, Berger akhirnya mampu menemukan suatu
alat yang dapat mencatat Gelombang Otak (Brainwave) ini. Namanya
adalah Electroencephalogram (EEG) yang ditemukannya pada tanggal 6 Juli
tahun 1924. Nama pasien yang membuatnya berhasil ini adalah seorang
anak muda bernama Zedel. Berger meneruskan penelitiannya selama 5
tahun sebelum akhirnya memublikasikan alat ini kepada umum. Pasiennya
tak hanya orang yang mengalami gangguan kepala, tetapi juga orang yang
normal. Dalam melakukan penelitian, dia menaruh elektroda di bagian
depan kepala dan di bagian belakang kepala.
Tahun 1929, Berger memublikasikan hasil penelitiannya dalam suatu
forum prestisius Archiv für Psychiatrie und Nervenkrankheiten, dan judul
”Über das Elektrenkephalogramm des Menschen” menjadi artikel pertama
dari keempat belas tulisannya mengenai EEG yang dipublikasikan dalam
kurun waktu 1929-1938. Artikel ketiganya pun mampu membuktikan
adanya Gelombang Otak (Brainwave).

2.3 Tujuan Elektroensefalogram (EEG)


Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk mendiagnosa
penyakit yang berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun
penggunaan teknik modern seperti CT Scan dan Magnetic Resonance
Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG tetap berguna mengingat
sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan sangat
murah harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain,

4
sinyal EEG dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta
menangkap persepsi seseorang terhadap rangsangan luar.4
EEG dilakukan untuk:
 Mendiagnosa dan mengklasifikasikan Epilepsi
 Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak,
parkinson
 Mendiagnosa Lesi desak ruang lain
 Mendiagnosa Cedera kepala
 Periode keadaan pingsan atau dementia.
 Narcolepsy.
 Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anesthesia
umum selama perawatan.
 Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit

2.4 Indikasi Elektroensefalogram (EEG)


Pasien yang perlu mendapatkan pemeriksaan EEG antara lain :
 Pasien yang mengalami kejang atau yang diduga mengalami kejang.
Mengevaluasi efek serebral dari berbagai penyakit
 Sistemik (misalnya keadaan ensefalopati metabolik karena diabetes, gagal
ginjal).
 Melakukan studi untuk mengetahui gangguantidur ( sleep disorder ) atau
narkolepsi.
 Membantu menegakkan diagnosa koma.
 Melokalisir perubahan potensial listrik otak yang disebabkan trauma,
tumor, gangguan pembuluh darah (vaskular) dan penyakit degeneratif.
Membantu mencari berbagai gangguan serebral yang dapat menyebabkan
nyeri kepala, gangguan perilaku dan kemunduran intelektual.
2.5 Kontraindikasi Elektroensefalogram (EEG)
1. Kejang
2. Tumor otak
3. Cedera kepala
4. Pendarahan intracranial
5. Abses otak
6. Ensefalitis
7. Mati batang otak
2.6 Persiapan Elektroensefalogram (EEG)

1) Persiapan Pasien

4 Bintoro.

5
Sebelum melakukan tindakan EEG, diperlukan tindakan persiapan
pasien yang ditujukan untuk menyiapkan pasien dan mengkaji keadaan
pasien sebelum tindakan dilakukan, tahap persiapan pasien yang harus
dilakukan adalah:

1. Identitas penderita harus dicatat lengkap


2. Tingkat kesadaran penderita harus dicatat, untuk menghindari salah
interpretasi EEG.
3. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus diidentifikasi, karena
beberapa obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi frekuensi maupun
bentuk gelombang otak. Saat terbaik perekaman adalah pada saat
bebas obat sehingga gelombang otak yang didapat adalah gelombang
otak yang bebas dari pengaruh obat.
4. Premedikasi, dosis dan berapa lama sebelum perekaman harus
diidentifikasi dengan jelas.
5. Pasien tidak hipoglikemia
6. Pasien dalam keadaan tenang dan rileks.
7. Kulit kepala dalam keadaan bersih, bebas kotoran, debu, minyak dan
kulit yang mati.
8. Perhatikan adanya bekas luka, bekas kraniotomi.
9. Penyuluhan penderita sebelum perekaman tentang tujuan
dilakukannya EEG, apa yang dilakukan teknisi terhadap dirinya
sebelum dan saat perekaman, apa yang harus dilakukan penderita saat
perekaman dan apa yang akan dirasakan oleh penderita saat
perekaman.
10. Identifikasi hasil neuroimaging yang sudah dilakukan.
Adapun hal-hal yang perlu diberitahukan kepada pasien adalah
sebagai berikut :
1. Sebelum Prosedur
- Jelaskan prosedur kepada pasien dan beri kesempatan untuk
bertanya tentang prosdur EEG
- Beri tahu pasien bahwa pasien akan diminta untuk tanda tangan
persetujuan ijin melakukan prosedur EEG dan anjurkan untuk
membaca Format secara hati-hati dan bertanya apabila ada sesuatu
yang tidak jelas.

6
- Anjurkan pasien untuk mencuci rambut dengan sampo sebelum
dilakukan perekaman EEG tetapi tidak menggunakan hairspray
atau 'gel' atau minyak rambut.
- Hentikan menggunakan pengobatan yang bertentangan dengan test,
misal obat penenang.
- Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung kafein untuk
8-12 jam sebelum test.
- Beritahu untuk tidur malam sesuai prosedur, misal : malam
sebelumnya, orang dewasa tidak boleh tidur lebih dari 4 atau 5 jam,
dan anak-anak tidak lebih dari 5-7 jam.
- indari puasa malam sebelum prosedur, karena gula darah yang
rendah dapat mempengaruhi hasil EEG.
- Didasarkan kondisi fisik pasien.
2. Selama Prosedur
- Pasien agar relax
- Antara 8-20 electroda akan menempel di kulit kepala pasien
dengan suatu pasta khusus, atau suatu kopiah berisi electroda akan
digunakan.
- Pasien akan diminta untuk menutup mata , relax, dan tenang.
- Ketika perekaman mulai pasien dalam keheningan selama
perekaman. Pasien akan dimonitor melalui suatu ruangan tertentu
untuk mengamati pergerakan yang dapat menyebabkan suatu
pembacaan tidak akurat, seperti menelan atau mengejapkan mata.
Perekaman akan dihentikan pada waktu tertentu dan pasien akan
dibiarkan beristirahat atau memposisikan kembali.
- Setelah awal perekaman dilakukan pada posisi diam, pasien
mungkin akan diuji dengan berbagai stimuli untuk menghasilkan
aktivitas yang tidak muncul saat beristirahat. Sebagai contoh,
pasien diminta untuk bernafas cepat untuk tiga menit, atau disinari
cahaya terang.
- Jika pasien sedang dievaluasi untuk suatu “sleep disorder“, EEG
akan dilakukan saat pasien tertidur.
3. Sesudah Prosedur
- Setelah selesai test, electroda akan di lepas dan pasta electroda
akan dicuci bersih dengan air hangat. Pasien dianjurkan mencuci
rambut dengan sampo.

7
- Kulit kepala akan merah akibat penempatan electroda, tetapi ini
akan menghilang dalam beberapa jam.

2) Persiapan Alat
a. Cek alat apakah benar-benar bias berfungsi dengan baik
b. Cek apakah alat yang digunakan sudah lengkap
c. Cek bahan yang digunakan untuk memasang EEG sudah lengkap.

2.7 Pelaksanaan Elektroensefalogram (EEG)

1. Lakukan pengukuran kepala agar pemasangan elektroda simetris.


Dapat juga dilakukan penandaan titik penempatan elektroda

2. Bersihkan tiap titik peletakan elektroda dengan abrasive gel, caranya


letakkan abrasive gel ke lidiwaten/cotton bud kemudian gosok
perlahan-lahan dititik yang akan diletakkan elektrodanya.

8
3. Pasang elektroda ref dan ground untuk memudahkan dalam cek
impedance. Pemasangan elektroda ground biasanya diletakkan di FPZ
dan untuk elektroda ref diletakkan di antara CZ dan FCZ.

4. Untuk merekatkan elektroda ke kepala, gunakan pasta ten20,


pemasangan yang baik adalah pada saat elektroda yang sudah diberi
pasta ten20 kemudian direkatkan ke kepala.

5. Perhatikan setelah memasang elektroda, akan muncul nilai impedansi


di layer monitor. Bila angka dibawah 5 Kohm berarti pemasangan
sudah baik. Atau dibeberapa mesin digital EEG ada parameter warna,
bila berwarna hijau nilai di bawah 5 Kohm dan bila diatas 5 Kohm
berwarna merah. Parameter warna tergantung dari masing-masing
mesin EEG. Lakukan langkah diatas sampai semua elektroda
terpasang.

6. Ganjal kepala pasien dengan bantal, pergunakan bantal yang nyaman


tapi tidak menganggu elektroda yang terpasang.

7. Saat perekaman, anjurkan pasien untuk membuka dan menutup mata


beberapa kali.

8. Pantau aktivitas pasien, misalnya batuk atau bicara.

9. Gunakan montage referential, misalnya FP1-Ref, FP2-Ref, F4-Ref.


tujuannya adalah agar operator lebih cepat dan mudah dalam
memperbaiki elektroda yang lepas.

10. Saat perekaman, lanjutkan dengan memberikan pertanyaan ringan


sampai dengan yang berat.

11. Untuk pertanyaan perkalian, penjumlahan, dan pembagian operator


harus tau kemampuan atau Pendidikan pasien.

9
12. Lakukan provokasi dengan menggunakan photic, photic adalah lampu
LED atau strobe yang dapat diatur intensitas cahaya dan frekuensinya.

13. Setelah provokasi photic selesai, lakukan provokasi hiperventilasi,


hiperventilasi adalah bernafas dengan cepat yang dilakukan kurang
lebih 3 menit.

14. Berikan contoh ke pasien sebelum melakukan hiperventilasi. Dengan


cara Tarik nafas dari hidung buang melalui mulut, lakukan dengan
cepat. Hati-hati dalam melakukan hiperventilasi, bila pasien ada
gangguan jantung konsultasikan dengan dokter yang mengirim.

15. Setelah provokasi hiperventilasi, lakukan post hiperventilasi, bernafas


secara normal kurang lebih selama 3 menit.

16. Setelah semua selesaai, usahakan pasien tidur, bila pasien mengantuk
diawal rekaman biarkan pasien tidur kurang lebih 15 menit, kemudian
bangunkan. Diharapkan dokter pembaca dapat melihat aktivitas otak
pasien dalam keadaan tidur.

2.8 Sinyal Electroencephalogram (EEG)

Sinyal EEG dapat diketahui dengan menggunakan elektroda yang


dilekatkan pada kepala. Tegangan sinyalnya berkisar 2 sampai 200 μV,
tetapi umumnya 50 μV. Frekuensinya bervariasi tergantung pada tingkah
laku. Daerah frekuensi EEG yang normal rata-rata dari 0,1 Hz hingga 100
Hz, tetapi biasanya antara 0,5 Hz hingga 70 Hz. Variasi dari sinyal EEG
yang terkait dengan frekuensi dan amplitudo mempengaruhi diagnostik.
Daerah frekuensi EEG dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian
untuk analisis EEG, yaitu :9,10
1) Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik.
Gelombang alfa terlihat normal pada saat bangun dan mata tertutup
(tidak tertidur)

10
Gambar8.2.1 Gelombang Alpha
2) Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik.
Gelombang ini secara normal ditemukan ketika siaga atau menjalani
pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines atau pengobatan
anticonvulsants.

Gambar8.2.2 Gelombang Beta


3) Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus
per detik. Gelombang secara normal ditemukan hanya pada saat
sedang tidur dan anak-anak muda.

4) Gelombang teta mempunyai frekwensi 4-7 siklus per detik.


Gelombang ini secara normal ditemukan hanya pada anak-anak
atau selama tidur.

Gambar8.2.3 Gelombang Teta

11
2.9

Hasil EEG
Tabel. Hasil EEG 5
NORMAL  Orang dewasa yang terjaga, EEG menunjukkan
gelombang alfa lebih banyak dibanding dengan
gelombang beta.
 Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa
dari aktivitas elektrik.
 Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari
aktivitas elektrik dan tidak ada gelombang yang
lambat.
 Jika pasien dirangsang dengan cahaya (photic)
selama test maka hasil gelombang tetap normal
ABNORMA
L  Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak
serupa dari aktivitas elektrik.
 EEG menunjukkan gambaran gelombang
abnormal yang cepat atau lambat, hal ini
mungkin disebabkan oleh tumor otak,
infeksi/peradangan, injuri, strok, atau epilepsi.
Ketika seseorang mempunyai epilepsi dengan
pemeriksaan EEG ini bisa diketahui daerah otak
bagian mana yang aktivitas listriknya tidak
normal. Namun pemeriksaan EEG saja tidak
cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak
5 Paper.

12
ada serangan kejang bukan pada saat serangan,
karena tidak mungkin orang yang sedang
mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah
sakit untuk diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan
EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu
sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya dengan
teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Jadi EEG dengan sendirinya tidak cukup untuk
mendiagnosa penyakit neurology tetapi perlu
dengan pemeriksaan yang lain.
 Berbagai keadaan dapat mempengaruhi
gambaran EEG. EEG yang abnormal dapat
disebabkan kelainan di dalam otak yang tidak
hanya terbatas pada satu area khusus di otak,
misalnya intoksikasi obat, infeksi otak
(ensefalitis), atau penyakit metabolisme (Diabetik
ketoasidosis).
 EEG menunjukkan grlombang delta atau
gelombang teta pada orang dewasa yang terjaga.
Hasil ini menandai adanya injuri otak.  EEG
tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam
otak ( a “ flat/” atau “ garis lurus” ). Menandai
fungsi otak telah berhenti, yang mana pada
umumnya disebabkan oleh tidak adanya
(penurunan) aliran darah atau oksigen di dalam
otak. Dalam beberapa hal, pemberian obat
penenang dapat menyebabkan gambaran EEG
flat. Hal ini juga dapat dilihat di status epilepsi
setelah pengobatan diberikan.

2.10 Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Tes EEG

 Kelebihan bergerak (kepala, badan, mata, atau lidah).

13
 Ketidakmampuan untuk bekerja sama
 Ketenangan
 Obat-oabatan (antiepilepsi, penenang, dan obat tidur).
 Tidak sadar akibat obat-obatan atau hypothermia
 Rambut yang kotor, berminyak, atau pemakaian hairspray

BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Elektroenchelpalograph/Elektro Enselo Grafi (EEG) adalah suatu
alat yang mempelajari gambar dari rekaman aktifitas listrik di otak,
termasuk teknik perekaman EEG dan interpretasinya. Gelombang otak
terjadi pada berbagai frekuensi, ada yang cepat dan ada yang lambat. Empat
pola gelombang otak yang jelas adalah:

1. Alfa (8-10 Hz) cepat. Gelombang alfa terjadi saat mata tertutup dan
menggambarkan keadaan relaks atau tidak melakukan apa-apa.
Gelombang alfa menghilang jika seseorang banyak pikiran (keadaan
mental sibuk) atau menjadi mengantug.
2. Beta (5-10 Hz) kecil dan cepat, waspada secara mental dan terstimulasi.
3. Delta (1-2 Hz) gelombang yang lambat, tidur dalamdan pada bayi,
kerusakan otak.
4. Teta (4-6Hz) lambat, pada keadaan tidur.
8. Tujuan spesifik EEG yaitu: Mendiagnosa dan mengklasifikasikan
epilepsy, mendiagnosa dan melokalisasi tumor otak, infeksi otak,
perdarahan otak, mendiagnosa cedera kepala, narkolepsi, memonitor
aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anaestesi umum selama
perawatan, mendiagnosa adanya lesi. Kontraindikasi dari EEG adalah
ejang, tumor otak, cedera kepala, pendarahan intracranial, abses otak,
ensefalitis, mati batang otak

1.2 Saran

Pada saat dilakukan perekaman EEG pasien dapat mengalami


kegelisahan karena waktu yang lama, tempat yang asing, alat-alat yang

14
menempel di otak dll, sehingga akan mempengaruhi hasil EEG, untuk itu
perlu didampingi dan diberi penjelasan agar pasien tenang sehingga hasilnya
sesuai yang diharapkan.
Perhatikan factor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil EEG
misalnya perubahan tahap-tahap tidur, usia, stimulus visual, auditorik
dan olfaktorik, tekanan, trauma emosional, dll.

15
DAFTAR PUSTAKA

Bintoro, Aris Catur, ‘Pemeriksaan EEG Untuk Diagnosis Dan Monitoring Pada
Kelainan Neurologi’, Medica Hospitalia, 1 (1) (2012), 64–70

‘De Nurse’s Station _ PEMERIKSAAN RADIOLOGI __ LUMBAL PUNKSI,


CT SCAN, MRI, Dan EEG’

Paper, Conference, ‘Pola Gelombang Otak Abnormal Pada’, 2014, 1–6

16

Anda mungkin juga menyukai