Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Penggunaan energi besar-besaran telah membuat manusia mengalami krisis energi.


Ini disebabkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam
yang sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat kita perbarui.Untuk mengatasi krisis energi masa depan, beberapa
alternatif sumber energi mulai dikembangkan, salah satunya adalah energi biomassa.
Pada awalnya, biomassa dikenal sebagai sumber energi ketika manusia membakar
kayu untuk memasak makanan atau menghangatkan tubuh pada musim dingin. Kayu
merupakan sumber energi biomassa yang masih lazim digunakan tetapi sumber energi
biomassa lain termasuk bahan makanan hasil panen, rumput dan tanaman lain, limbah dan
residu pertanian atau pengolahan hutan, komponen organik limbah rumah tangga dan
industri, juga gas metana sebagai hasil dari timbunan sampah. Sebagai bahan bakar,
biomassa perlu diolah terlebih dahulu agar dapat dengan mudah dipergunakan. Proses ini
dikenal sebagai konversi biomassa. Beberapa proses tersebut adalah dengan mengubah
biomassa menjadi briket sehingga mudah disimpan, diangkut, dan mempunyai ukuran dan
kualitas yang seragam. Jenis konversi lain adalah mengubah biomassa melalui proses kimia
dan fisika seperti anaerobic digestion (peruraian tanpa bantuan oksigen) yang menghasilkan
gas metana, pirolisis (dekomposisi menggunakan panas) yang menghasilkan produk bahan
bakar padat berupa karbon dan produk lain berupa karbon dioksida dan metana.
Dengan lahirnya revolusi industri, timbul banyak perubahan di masyarakat yang
menyebabkan kenaikan tingkat konsumsi energi. Selain itu, dengan adanya revolusi industri,
metode produksi yang dipakai telah menghasilkan jumlah limbah energi yang signifikan
(misalnya panas) yang idealnya bisa digunakan untuk tujuan lain. Sebagai contoh, di bidang
industri pertanian, yang ada di hampir seluruh bagian dunia, sejumlah input digunakan
selama budidaya seperti pestisida, rekayasa bibit, penggunaan traktor dll. Semua input
produksi ini memerlukan sejumlah besar energi dan pastinya mengkonsumsi minyak dalam
jumlah yang besar. Dalam hal energi biomassa, untuk menghasilkan energi bisa digunakan
berbagai macam bahan bakar, contohnya adalah tanaman dengan potensi produksi energi
yang tinggi seperti jagung dan kedelai, serbuk gergaji, kotoran ternak, limbah padat
perkotaan dan lain-lain.
Dengan demikian, mengingat situasi dewasa ini, mungkin telah tiba saatnya bagi
kita untuk kembali memanfaatkan energi biomassa yang telah dilengkapi dengan
kebijaksanaan yang kita asah selama berabad-abad dalam hal produksi energi, dan mulai
menggunakan lagi apa yang selama ini kita anggap sebagai limbah untuk mengubahnya
menjadi energi yang berguna. Untuk itulah dibuat makalah ini untuk menambah ilmu
pengetahuan serta teknologi mengenai biomassa.
1.2 Tujuan
1. Mengerti tentang energi biomassa
2. Memahami proses terbentuknya biomassa
3. Memahami penggunaan biomassa sebagai energi alternative
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa itu energi biomassa?
2. Bagaimana proses terbentuknya biomassa?
3. Bagaimana penggunaan biomassa sebagai energi alternative?
BAB ll
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Biomassa

Secara umum biomassa merupakan bahan yang dapat diperoleh dari tanaman baik
secara langsung maupun tidak langsung dan dimanfaatkan sebagai energy atau bahan dalam
jumlah yang besar. “Secara tidak langsung” mengacu pada produk yang diperoleh melalui
peternakan dan industry makanan. Biomassa disebut juga sebagai “fitomassa” dan seringkali
diterjemahkan sebagai bioresource atau sumber daya yang diperoleh dari hayati. Basis
sumber daya meliputi ratusan dan ribuan spesies tanaman, daratan dan lautan, berbagai
sumber pertanian, perhutanan, dan limbah residu dan proses industri, limbah dan kotoran
hewan. Tanaman energy yang membuat perkebunan energy skala besar akan menjadi salah
satu biomassa yang menjajikan walaupun belum dikomersialkan pada saat ini. Biomassa
secara spesifik berarti kayu, rumput Napier, rapeseed, eceng gondok, rumput laut raksasa,
chorella, serbuk gergaji, serpihan kayu, jerami, sekam padi, sampah dapur, lumpur pulp,
kotoran hewan, dan lain-lain. Biomassa jenis perkebunan seperti kayu putih, poplar hybrid,
kelapa sawit, tebu, rumput gajah, dan lain-lain adalah termasuk kategori ini.
Menurut kamus Bahasa Inggris Oxford, istilah “biomassa” pertama kali muncul di
literature pada tahun 1934. Didalam Journal of Marine Biology Association, ilmuwan Rusia
bernama Bogorov menggunakan biomassa sebagi tatanama. Ia mengukur bobot plankton laut
(Calanus finmarchicus) setelah dikeringkan yang ia kumpulkan untuk menyelidiki perubahan
pertumbuhan musiman plankton. Plankton yang telah kering ini dinamakan biomassa.
Banyak kajian telah menyarankan bahwa energi turunan biomassa akan
memberikan sumbangan yang besar terhadap suplai energi keseluruhan karena harga bahan
bakar fosil semakin meningkat pada beberapa decade yang akan datang. Penggunaan
biomassa sebagai sumber energi adalah sangat menarik karena ia merupakan sumber energi
dengan jumlah bersih CO2 yang nol, oleh karenanya tidak berkontribusi pada peningkatan
emisi gas rumah kaca.
2.2 Proses Terbentuknya Biomassa

Tanaman menyerap energi dari matahari. Melalui proses fotosintesis dengan


memanfaatkan air dan unsur hara dari dalam tanah serta CO2 dari atmosfer akan
menghasilkan bahan organik untuk memperkuat jaringan dan membentuk daun, bunga atau
buah. Sementara itu karena tidak mampu berfotosintesa sendiri, hewan memanfaatkan energi
yang telah berubah bentuk menjadi daun, rumput atau yang lain dari bagian tumbuhan secara
langsung untuk hidupnya. Sedangkan secara tidak langsung, misalnya hewan carnifora,
prinsipnya tetap memanfaatkan energi yang telah berubah bentuk menjadi daging pada
hewan lain. Inilah yang menjadi bahan dasar biomasa.
Saat biomasa diubah menjadi energi, CO2 yang akan dilepaskan ke atmosfer. Siklus
CO2 akan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pembakaran
minyak bumi atau gas alam. Ini berarti CO2 yang dihasilkan tersebut tidak memiliki efek
terhadap kesetimbangan CO2 di atmosfer. Kelebihan ini yang dapat dimanfaatkan untuk
mendukung terciptanya energi yang berkelanjutan.
2.3 Energi Biomassa
Biomasa dapat diambil dari bahan tanaman yang berupa limbah pertanian, limbah
industri pengolahan kayu atau dari tanaman yang memang ditanam secara khusus untuk
menghasilkan energi bagi mesin bakar. Di samping itu dapat juga dimanfaatkan limbah
peternakan dan limbah rumah tangga. Dari kedua jenis bahan penyusun biomassa tersebut
dapat dua bagian besar yaitu, biomasa kering (limbah kayu, jerami atau sekam) dan biomassa
basah (kotoran ternak dan sampah rumah tangga).
1. Biomassa Basah
Biomasa basah yang berupa kotoran ternak atau sampah rumah tangga perlu diubah
terlebih dahulu melalui proses anaerobik untuk menghasilkan gas metana yang dapat
digunakan untuk menggerakkan generator listrik. Proses ini lebih dikenal dengan nama
Biogas. Umumnya biogas lebih banyak menggunakan kotoran ternak. Di dalam biomassa
basah terdapat penggunaan gas metana. Gas metana tersebut dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik dengan dua cara yaitu, untuk menggerakkan mesin bakar internal atau
untuk menggerakkan turbin gas sebagai penghasil tenaga gerak untuk generator. Selanjutnya
generator tersebut yang akan menghasilkan energi listrik. Motor bakar internal (MBI) yang
digunakan pada prinsipnya sama dengan yang digunakan untuk MBI bensin dan solar. MBI
gas ini cukup efisien untuk menghasilkan listrik sampai dengan 100 kW. Sedangkan untuk
menghasilkan tenaga listrik yang lebih besar lagi dapat digunakan turbin gas.
2. Biomassa Kering
Biomassa kering ini dapat diperoleh dari bahan tanaman yang berasal dari hutan
atau areal pertanian. Dari hutan biasanya hanya kayu yang dianggap memiliki nilai ekonomis
tinggi sebagai bahan baku bubur kertas, pertukangan atau kayu bakar. Peluang kayu untuk
bioenergi baik selama masih di hutan maupun setelah masuk industri cukup besar.
Pemanfaatan kayu yang ditebang untuk bahan baku kertas/pertukangan hanya sekitar 50%
saja. Energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik diperoleh dari panas yang dihasilkan
dari pembakaran biomasa kering. Panas yang dihasilkan tersebut digunakan untuk
memanaskan air sehingga setelah terbentuk uap panas maka uap panas tersebut dapat
dialirkan untuk menggerakkan baling-baling dalam turbin uap. Yang harus dihindari adalah
terjadinya pembakaran yang tidak sempurna karena dalam proses pembakaran yang tidak
sempurna akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO) yang berbahaya bagi kesehatan dan
lingkungan. Sebagai gambaran, kotoran 2 ekor sapi membutuhkan ruang sebesar 3 m3 untuk
diubah menjadi biogas. Dari sini akan dihasilkan kurang lebih 1 m3 biogas yang dapat
digunakan untuk menghasilkan listrik sekitar 450 watt jam. Listrik yang dihasilkan dengan
menggunakan biomasa akan berharga lebih mahal dibandingkan
harga listrik PLN. Akan tetapi ini akan menguntungkan untuk daerah-daerah, karena kondisi
geografis atau yang lain, tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN .
Berbicara tentang sumber energi, biomassa merupakan salah satu alternatif.
Biomassa mengandung energi tersimpan dalam jumlah cukup banyak Kenyataannya, pada
saat kita makan, tubuh kita mampu mengubah energi yang tersimpan di dalam makanan
menjadi energi atau tenaga untuk tumbuh dan berkembang. Pada saat kita bergerak, bahkan
ketika kita berpikir pun, energi dalam makanan akan terbakar. Dari latar belakang itulah kini
mulai digali banyak kemungkinan pemanfaatan biomassa sebagai sumber bahan bakar nabati
(biofuel). Dari bahan bakar nabati dapat dikembangkan biokerosene (minyak tanah),
biodiesel, bioetanol bahkan biopower (untuk listrik).
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan biofuel
mengingat begitu besarnya sumber daya hayati yang ada baik di darat maupun di perairan.
Menurut hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia memiliki
banyak jenis tanaman yang berpotensi menjadi energi bahan bakar alternatif, antara lain :
 Kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, sirsak, srikaya, kapuk : sebagai sumber bahan bakar
alternatif pengganti solar (minyak diesel)
 Tebu, jagung, sagu, jambu mete, singkong, ubi jalar, dan ubi-ubian yang lain : sebagai
sumber bahan bakar alternatif pengganti premium.
 Nyamplung, algae, azolla : kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai sumber
pengganti kerosene, minyak bakar atau bensin penerbangan.
Biomassa adalah satu-satunya sumber energi terbarukan yang dapat diubah menjadi
bahan bakar cair biofuel untuk keperluan transportasi (mobil, truk, bus, pesawat terbang dan
kereta api). Di antara jenis biofuel yang banyak dikenal adalah biogas, biodiesel dan
bioethanol.
2.5 Konversi Energi Biomassa dan Pemanfaatannya

Gambar 2.1 Ragam teknologi konversi dan praperlakuan

Ada berbagai teknologi konversi yang bisa digunakan untuk merubah kualitas
biomassa sesuai dengan tujuan penggunaannya. Ada teknik fisika, kimia dan biologi. Gambar
2.1 menunjukkan teknologi konversi yang biasa digunakan. Konversi fisika termasuk
penggerusan, penggerindaan, dan pengukusan untuk mengurai struktur biomassa dengan
tujuan meningkatkan luas permukaan sehingga proses selanjutnya, yaitu kimia, termal dan
biologi bisa dipercepat. Proses ini juga meliputi pemisahan, ekstraksi, penyulingan dan
sebagainya untuk mendapatkan bahan berguna dari biomassa serta proses pemampatan,
pengeringan atau kontrol kelembaban dengan tujuan membuat biomassa lebih mudah
diangkut dan disimpan. Teknologi konversi fisika sering digunakan pada perlakuan
pendahuluan untuk mempercepat proses utama.
Konversi kimia meliputi hidrolisis, oksidasi parsial, pembakaran,
karbonisasi,pirolisis, reaksi hidrotermal untuk penguraian biomassa, serta sintesis,
polimerisasi, hidrogenasi untuk
membangun molekul baru atau pembentukan kembali biomassa. Penghasilan
elektron dari proses oksidasi biomassa dapat digunakan pada sel bahan bakar untuk
menghasilkan listrik. Konversi biologi umumnya terdiri atas proses fermentasi seperti
fermentasi etanol, fermentasi metana, fermentasi aseton-butanol, fermentasi hidrogen, dan
perlakuan enzimatis yang berperan penting pada penggunaan bioetanol generasi kedua.
Aplikasi proses fotosintesis dan fotolisis akan menjadi lebih penting untuk memperbaiki
sistem biomassa menjadi lebih baik.
Teknologi praperlakuan seperti pemisahan, pengekstrakan, kisaran, asahan,
kontrolkelembaban dan selainnya sering dilakukan sebelum proses konversi utama. Gambar
2.1 menunjukkan contoh yang disebut kotak ajaib dimana biomassa ditempatkan di bawah
dan diubah melalui berbagai teknik untuk memenuhi tujuan Penggunannya. Penilaian
terhadap proses-proses konversi ini dilakukan berdasarkan kualitas produk, efisiensi energi,
hasil dan ekonomi sistem. Perancangan sistem konversi dan penggunaan seharusnya
mempertimbangkan aspekaspek yang berikut: naik turun pasokan biomassa, cara dan biaya
transportasi dan penyimpanan, manajemen organisasi dan peraturan seperti yang ditetapkan
otoritas yang terkait dan juga dari aspek ekonomi untuk keseluruhan sistem.
1. Biobriket
Briket adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengkonversi sumber energi
biomassa ke bentuk biomassa lain dengan cara dimampatkan sehingga bentuknya menjadi
lebih teratur. Briket yang terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja
yang bisa di bikin briket. Biomassa lain seperti sekam, arang sekam, serbuk gergaji, serbuk
kayu, dan limbah-limbah biomassa yang lainnya. Pembuatan briket tidak terlalu sulit, alat
yang digunakan juga tidak terlalu rumit. Di IPB terdapat banyak jenis-jenis mesin pengempa
briket mulai dari yang manual, semi mekanis, dan yang memakai mesin.
2. Gasifikasi

Gambar 2.2 Skema Gasifikasi Biomassa dan Sistem Pembangkit Daya

Secara sederhana, gasifikasi biomassa dapat didefinisikan sebagai proses konversi


bahan selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi (gasifier) menjadi bahan bakar. Gas tersebut
dipergunakan sebagai bahan bakar motor untuk menggerakan generator pembangkit listrik.
Gasifikasi merupakan salah satu alternatif dalam rangka program penghematan dan
diversifikasi energi. Selain itu gasifikasi akan membantu mengatasi masalah penanganan dan
pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan. Ada tiga bagian utama perangkat
gasifikasi, yaitu : (a) unit pengkonversi bahan baku (umpan) menjadi gas, disebut reaktor
gasifikasi atau gasifier, (b) unit pemurnian gas, (c) unit pemanfaatan gas.
3. Pirolisa
Pirolisa adalah penguraian biomassa (lysis) karena panas (pyro) pada suhu yang
lebih dari 150oC. Pada proses pirolisa terdapat beberapa tingkatan proses, yaitu pirolisa
primer dan pirolisa sekunder. Pirolisa primer adalah pirolisa yang terjadi pada bahan baku
(umpan), sedangkan pirolisa sekunder adalah pirolisa yang terjadi atas partikel dan gas/uap
hasil pirolisa primer. Penting diingat bahwa pirolisa adalah penguraian karena panas,
sehingga keberadaan O2 dihindari pada proses tersebut karena akan memicu reaksi
pembakaran.
4. Liquification
Liquification merupakan proses perubahan wujud dari gas ke cairan dengan proses
kondensasi, biasanya melalui pendinginan, atau perubahan dari padat ke cairan dengan
peleburan, bisa juga dengan pemanasan atau penggilingan dan pencampuran dengan cairan
lain untuk memutuskan ikatan. Pada bidang energi liquification tejadi pada batubara dan gas
menjadi bentuk cairan untuk menghemat transportasi dan memudahkan dalam pemanfaatan.
5. Biokimia

Gambar 2.3 Skema Pembentukan Gas Bio

Pemanfaatan energi biomassa yang lain adalah dengan cara proses biokimia.
Contoh proses yang termasuk ke dalam proses biokimia adalah hidrolisis, fermentasi dan an-
aerobic digestion. An-aerobic digestion adalah penguraian bahan organik atau selulosa
menjadi CH4 dan gas lain melalui proses biokimia. Adapun tahapan proses anaerobik
digestion adalah diperlihatkan pada Gambar .
Selain anaerobic digestion, proses pembuatan etanol dari biomassa tergolong dalam
konversi biokimiawi. Biomassa yang kaya dengan karbohidrat atau glukosa dapat
difermentasi sehingga terurai menjadi etanol dan CO2. Akan tetapi, karbohidrat harus
mengalami penguraian (hidrolisa) terlebih dahulu menjadi glukosa. Etanol hasil fermentasi
pada umumnya mempunyai kadar air yang tinggi dan tidak sesuai untuk pemanfaatannya
sebagai bahan bakar pengganti bensin. Etanol ini harus didistilasi sedemikian rupa mencapai
kadar etanol di atas 99.5%.
2.6 Manfaat Pengggunaan Energi Biomassa
Meskipun energi dari biomassa umumnya tidak kompetitif dari segi biaya jika
dibandingkan dengan bahan bakar fosil dengan teknologi dan kondisi pasar saat ini, namum
produksi biomassa untuk bahan baku dan energi akan menghasilkan berbagai manfaat.
Manfaat-manfaat ini beragam, namun beberapa manfaat yang signifikan adalah mengimbangi
emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, menciptakan lapangan pekerjaan
dan pendapatan melalui pengembangan industri baru dan pemanfaatan bahan baku lokal serta
meningkatkan keamanan energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Namun, pemahaman terhadap nilai dari semua manfaat yang disebutkan di atas masih belum
dapat ditentukan jika dibandingkan dengan biaya biomassa dan biaya produksi bioenergi.
Penilaian terhadap manfaat-manfaat ini akan memberikan gambaran yang lebih
komprehensif mengenai daya saing biomassa dan bioenergi, dan dapat memberikan implikasi
yang jelas terhadap perkembangan bioenergi dan perumusan kebijakan yang terkait.
 Deplesi minyak bumi
Sumber daya hutan dan batu bara sangat melimpah dan cukup untuk memenuhi
permintaan energi. Akan tetapi, akibat kreativitas manusia yang melebihi harapan, diperlukan
teknologi berbasis batu bara dan minyak bumi untuk menghasilkan energi yang lebih efisien.
Cadangan minyak bumi dunia diperkirakan sebanyak 2000 miliar barel. Konsumsi global per
hari adalah sekitar 71,7 juta barel. Diperkirakan sekitar 1000 milyar barel telah digunakan
dan hanya tersisa 1000 miliar barel cadangan minyak bumi di seluruh dunia (Asifa dan
Muneer,2007). Harga bensin dan bahan bakar yang lain akan meningkat seiring dengan efek
ekonomi yang buruk sehingga manusia akan beralih ke alternatif lain selain bahan bakar
fosil.
Peningkatan penggunaan biomassa akan memperpanjang umur pasokan minyak
mentah yang semakin berkurang.
 Perbaikan taraf hidup
Karena bidang pertanian sangat penting untuk ekonomi yang sedang berkembang,
maka diharapkan pertanian yang berkelanjutan akan meningkatkan taraf hidup petani
disamping pendapatan mereka. Pendidikan masyarakat juga sangat penting karena tingkat
literasi di daerah pedesaan untuk negara berkembang tidak terlalu tinggi. Dalam hal ini, maka
penting untuk menyediakan informasi yang akurat tentang teknologi ini kepada para petani.
Apa yang dianggap penting dari segi pemanfaatan biomassa oleh para petani adalah
kemudahan untuk mengakses tanaman biomassa atau tempat pengumpulan biomassa.
Meskipun para petani memiliki atau menghasilkan bahan baku biomassa, hal ini sangat sia-
sia jika tidak ada akses ke tempat dimana biomassa tersebut diproduksi.
 Peningkatan pendapatan petani
Ada 2 cara utama untuk membantu para petani (The Japan Institute of Energi, 2007).
Salah satu cara adalah dengan memberikan energi agar para petani ini mendapat akses ke
bahan bakar yang berguna. Di Thailand, para petani menggunakan gas untuk memasak yang
berasal dari proses biometanasi skala kecil, sehingga mereka tidak perlu membeli gas
propana untuk keperluan memasak. Bantuan kepada para petani ini juga efektif untuk
menciptakan pertanian yang berkelanjutan dikarenakan pengurangan penggunaan bahan
bakar fosil. Bantuan yang lain adalah melalui pemberian uang tunai. Jika para petani ini
menanam bahan baku untuk produksi etanol lalu menjualnya dengan harga yang lebih tinggi,
maka mereka akan mendapatkan uang untuk membeli listrik. Karena mereka yang
menggunakan etanol sebagai bahan bakar lebih kaya jika dibandingkan para petani, maka
mekanisme ini bisa dianggap sebagai “redistribusi kekayaan”.
 Keamanan energi
Perekonomian semua negara dan khususnya negara maju bergantung pada pasokan
energi yang aman. Keamanan energi berarti ketersediaan energi yang konsisten dalam
berbagai bentuk pada harga yang terjangkau. Kondisi ini harus bisa tetap bertahan untuk
jangka panjang agar dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Perhatian
terhadap keamanan energi sangat penting karena distribusi sumber daya bahan bakar fosil
yang tidak seimbang di kebanyakan negara saat ini. Pasokan energi akan menjadi lebih
rentan pada waktu dekat ini akibat kebergantungan global terhadap minyak impor. Biomassa
merupakan sumber daya domestik yang tidak terkena pengaruh fluktuasi harga pasar dunia
atau ketidakpastian pasokan bahan bakar impor.
 Mata uang asing
Ada peluang bagi negara berkembang untuk mendapatkan mata uang asing melalui
ekspor bioenergi. Misalnya, untuk kasus produksi ubi kayu di Thailand, produksi ubi kayu
untuk keperluan makanan dan etanol adalah seimbang saat ini. Akan tetapi, penggunaan ubi
kayu untuk masa depan harus dipertimbangkan dengan teliti. Pada masa depan, jumlah
produksi ubi kayu untuk etanol mungkin meningkat, hal ini sering dikatakan bahwa
pemanfaatan bioenergi mungkin akan mengalami konflik dengan produksi makanan, dengan
kata lain permintaan dunia terhadap etanol mungkin akan mengancam stabilitas pasokan
makanan domestik.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Biomassa adalah sumber energi terbarukan yang dapat diubah menjadi bahan bakar cair -
biofuel – untuk keperluan transportasi (mobil, truk, bus, pesawat terbang dan kereta api)
dan lain-lain.
2. Saat biomasa diubah menjadi energi, CO2 yang akan dilepaskan ke atmosfer. Siklus CO2
akan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pembakaran
minyak bumi atau gas alam. Ini berarti CO2 yang dihasilkan tersebut tidak memiliki efek
terhadap kesetimbangan CO2 di atmosfer. Kelebihan ini yang dapat dimanfaatkan untuk
mendukung terciptanya energi yang berkelanjutan.
3. Penggunaan biomassa sebagai energi anternative yaitu dimana biomassa dapat diambil
dari bahan tanaman yang berupa limbah pertanian, limbah industri pengolahan kayu atau
dari tanaman yang memang ditanam secara khusus untuk menghasilkan energi bagi
mesin bakar.
3.2 Saran
Beberapa saran yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah :

1. Jagalah kelestarian lingkungan kita dari berbagai macam polusi


2. Mulailah kita mengembangkan energi – energi alternative untuk menyelamatkan
cadangan minyak bumi yang telah kritis
3. Belajar bagaimana menciptakan ide – ide baru sebagai gerakan menyelamatkan
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan Teknologi XVII, Fakultas


Pertanian. Bandung: Universitas`Padjadjaran.

Anonim. Makalah Seminar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,


Yogyakarta: UMY.

Dahuri, D. 2003. Sampah organik, kotoran kerbau sumber energi alternatif. Media Indonesia.

Nike-Triwahyuningsih; P.E. Tiara-Putri dan S. Khoiriyah. 2006a. Isolasi dan Karakterisasi

Mikrobia Pendegradasi dari Kotoran Gajah sebagai Sumber Inokulum untuk Pengolahan
Sampah. Fakultas Pertanian UMY (tidak dipublikasikan)