Anda di halaman 1dari 10

Melampaui Positivisme dan Modernitas :

Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas


Oleh : F. B Hardiman (2003)

Bagian 1 : Kriti atas Positivisme


1. Untuk Apa Mempersoalkan Realitas ?
Ilmu filsafat yang disebut sebagai induk dari semua ilmu menuntu kita untuk lebih berpikir kritis
dan kreatif terhadap suatu hal, bagaimana cara kita memandang suaru reakitas yang patut kita
hadapi dan pikirkan sewbagai suatu hal yang wajar dan fakta secara nyata. Ilmu filsafat memiliki
dau unsur penting didalamnya yakni antara “mempersoalkan” dan “realitas”, mengapa dua unsur
atau hal ini penting dalam filsafat.
Realita ketika tidak dianggap msalah atau tidak persoalan maka akan dianggap bukan masalah
dan sbelaiknya juga ketika kita menganggap suatu kenyataan atau realita yang ada merupakan suatu
persoalan maka itu akan kita anggap sebagai masalah, maka hal ini akan memacu kita untuk
berpikir untuk bagaimana cara mengahadapai, memecahkan dan menyelesaikan masalah tersebut.
Tentunya dengan jalan memahami apa masalah atau hal yang sedang kita hadapi saat ini, misalkan
kemiskinan yang menurut senagian orang merupakan masalah, namun ada pula sebagian orang
menganggap itu merupakan hal yang wajar.
Pemikrian seperti ini tidak terlepas dari pemahaman seseorang tentang apa yang sedanag di
hadapi atau sedang dialaminya. Kaitan anatara realitas dan cara kita memahami hal ini sangat
penting, apakah ini meruakan realita alam atau manusiawi, disisi lain kadang disebut juga sebagai
realitas alamaiah dan sosial, dari hal ini kita dapat menagatur pemahaman atau interpretasi kita
terhadap suatu realita.
Realitas merupakan kenyataan yang dihadapi oleh seseorang yang sifatnya patologi atau
dianggap abnormal (tidak normal) misalnya : ketimpangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan,
sehingga kita bdituntut untuk lebih peka dan memahami hal tersebut dan mencari jalan keluarnya.
2. Penelitian dan Praksis.
Tema dalam bab kali ini adalah memahami paradigma atau pandangan dalam suatu metode
penelitian dengan pemaparan ilmiah yang berisafta terbuka dan dialogis. Tujaun dari setaip
pnelitian dan observasi adalah ilmu pengetahuan, namun pengetahuan ini idapat dari hasil
bermcam-macam pendekatan, metode , prosedur dan hal lainnya. Hasil ini oleh beberapa filsuf
dibagi kedalam dua jenis ilmu pengetahuan yakni yang bersifat ilmu alam dan sosial.
Hasil dari metode atau prosedur tadi yang telah mengalami pengolahan dan manipulasi yang
bersifat sistematik maka akan menghasilkan teori dan hal inilah yang menjadi pengetahuan.
Perkebangan ilmu pengetahuan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh ilmu-ilmu barat, apapaun
jenis ilmu pengetahuannya, baik itu alam atau pun social bersumber dari ilmu barat. Persoalan
menganai paradigm metode penelitian juga tidak terlepas dari perkembangan zaman, dan akan
semakin kompleks ketika membahas mengenai ilmu social, karena dalam penelitian harus melihat
apa yang ada (das sein) dana pa yang seharusnya (das sollen), sehingga ini juga ynag menjadi kritik
pada paham positivisme karena pengetahuan dalam hal ini tidak memberikan atau mendorong
sebuah perubahan melainkan menghasilkan data social saja sesuai dengan kritik yang dieberikan
kepada salah satu filsuf yakni Harbermas.
Perspektif Harbermas tentang penelitian ilmiah , ada 3 wilayah yakni : wilayah akal sehat,
wilayah ilmu-ilmu alam dan wilayah ilmu-ilmu social. Namun dlam kenyataan tidak seperti itu
yang ada hanya alamiah dan sosail saja yang campur aduk satu sama lain.
Wilayah akal sebenarnya merupakan hasil dari berpikir ilmiah melalui proses penelitian,
abstraksi, dan objektifitas. Tadi telah di singgung mengenai garis besar paradigm, perpsektif atau
wilayah dalam proses penelitian, karena tidak menyangkut objek pengetahuan saja tetapi juga
subjek dari pengetahuan itu sendiri. Hal ini kadang menjadi bahan untuk bertindak dan secara
radikal pengetahuan sering berbenturan dengan praksis karena mengandung unsur subjektif
didalamnya.
Penelitian sosial sebagai praksis komunikasi, sebagai mana kita ketahui bahwa di Indonesia kita
mengenal berbagai macam pendekatan ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, hanya yang bersifat
humanistis-interpretatif lah yang bias di pakai senagai metode penelitian yang memiliki paradigma
komunikasi. Bekerja menurut paradigm komunikasi ialah mengelolah data yang bersifat kuantitatif
kemudian mengeneralisasikan ke dalam bentuk hal yang unik, dalam metode ini yang sering
dipakai adalah kualitatuf yang bersifat hermeneutik.
Metode hermeneutik ini merupakan penafrisan dalam bentuk teks, yang memiliki rasa empati.
Kedudukan penelitian sosial dalam masyarakat untuk memahami peneltian sosial sebagai praksis
komunikatif. Kata praksis menagacu pada tingkah laku, tindakan atau perbuatan, namun bukan
kerja dalam hal hubungan antara subjek sdan objek semata melainkan kemampuan komunikasi
yang muncul dari suatu penelitian sehingga disebut sebagai diskursus (wacana) yang sering
digunakan dalam ilmu-ilmu sosial.
3. Hermeneutik, apa itu ?
Hermeneutik merupakn hal-hal yang berkaitan dengan teks-teks. Kata hermeneutic bereasal dari
Bahasa Inggris yakni hermeneutics, kata terkahir yang berasal dari bahasa Yunani hermeneuo yang
artinya mengungkap pikiran seseorang dalam kata-kata. Dalam kata kerja diartikan sebagai
menerjemahkan atau betindask sebagai penafsiran. Maksud dari kata tersebut adalah perubahan
atau peralihan dari pikiran-pikiran ke dalam bentuk ungkapan yang jelas yakni dalam bentuk
Bahasa.
Hermeneutik sebagai fenomena khas dari manusia merupakan suatu penggunaan lambing, symbol
atau Bahasa yang membedakan dengan mahluk lainnya. Hermeneutik menjadi ciri khas manusia
karena manusia dapat melakukan penafsiran terhadap suatu hal, hal ini pada dasarnya tidak terlepas
dari manusia akan selalu meberukan makna terhadap suatu hal.
Pemahaman manusia ada 3 yaitu : pemahaman mengenai alam material, pemahaman atas
kebudayaan, dan pemahaman menegnai diri kita secara pribadi. Dari salah pemahan ini yang
menghasilkan bahsa yakni pemahaman akan kebudayan, Bahasa terdiri dari sub terkecik yakni kata
yang digabungkan dan dirangkai menjadi kalimat dan digunakan sebagai alat komunikasi, berikut
skema nya : Suku kata, kata, kalimat, gaya Bahasa, dan gaya sastra.
Sejarah hemeneutik ini sendiri berasal dari pemikiran teologi, sejarah teologi sendiri berasal dari
tradisi agama yahudi yang menciptakan filsuf-filsuf atau ahli tafsir yang disebut para Nabi.
Kemudian berlanjut ke tradisi kristiani awal yang juga menerapkan konsep ini dan puncaknya
terjadi pada zaman reformasi karena agama kristen terpecah oleh perbedaan hemenutik ini.
Sumbangan yang sangat berarti dalam sejarah perkembangan hermeneutik ini diberikan oleh
teologi modern yakni Rudolf Bultmann dengan konsep “demitologisasi” yakni penerapan gagasan
Heidegger tentang pra-paham pada teologi.
Struktur dalam pemahaman manusia, daalam perkembangannya Ricardo Antonich
meperlihatkan ada 4 struktur dasar tentang pemahaman yakni : cakrawala pemahaman, gerak
melingkar dari pemahaman, struktur dialogis pemahaman dan pengantara pemahaman. Keempat
hal itu tadi akan dipakai dalam menafsirkan teks atau kata-kata, namaun kendala yang sering
diahdapi dalam menafsirkan ialah ada jangka waktu yang membentang natar kita dan zaman
pembuatan tulisan tersebut. Karena terkadang beda zaman maka akan beda apa yang dirsakan.
4. Positivism dan Hermeneutik.
Krisis epistemology yang terjadi saat bukan berkurangnya ilmu penegtahuan itu sendiri bahkan
pada dewasa ini kemajuan ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat baik itu bersifat kualitatif
maupun kauntitatif, kriris ynag lebih mengarah kepada penyempitan pengetahuan akibat
banyaknya reduksi metodologis yang diserta dengan fragmentasi dan instrumentalisasi
pengetahuan, contihnya dari penggunaan pemikiran lama ke pemikiran yang baru yang belum
terintegrasi secara baik dan sistematis. Hal ini terjadi seiring dengna perkembangan zaman.
Positivisme dalam ilmu sosial yang menandai munculnya krisis pengetahuan barat ini
sebenarnya merupakan salah satu aliran filsafat barat. Positivisme muncul dengan pandangan yang
lebih modern dam metodologi ini sangat menitik beratkan pada metodologi ilmu pengetahuan
dalam refleksi filsafatnya. Metode dalam hal ini merupakan suatu cara untuk menghasilkan
pengetahuan, metode sebagai suatu cara untuk mendapatkan pengtahuan yang sahih tentang fakta,
pergeseran, penyempitan atau reduksi ilmu pengetahuan dalam topologi positivism. Comte
mengemukakan norma-norma metodologis sbb :
 Semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa (kepastian) pengamatan secara intersubjektif.
 Kepastian metodis dan kesatuan metode.
 Ketepatan pengetahuan dijamin oleh teori-teori yang dibangun.
 Pengethaun ilmiah harus digunakan secara teknis.
 Pengetahuan tidak ada ujungnya dan bersifat relatife.
Metode untuk ilmu sosial muncul karena problematika yang muncul dari positivisme sehingga
jarus menghidupkan kembali tipologi Kant yakni epistemologi karena persoalan pengetahuan
berubah menjadi persoalan metodologi ilmu pengetahuan. Dalam hal ini ada juga yang dinamakan
fenomenologis dimana akan memperluas konteks ilmu pengetahuan dengan sebuah konsepm yang
sangat penting untuk menyelamatkan subjek penegtahuan.
Hermeneutik dan ilmu-ilmu sosial, degan mengambil unsur penting dari teori kritis dan
fenomenologi sosial maka kita dapat melihatsecara sistematik hermeneutik dalam ilmu sosial.
Penekana ke,nali pada subjek dalam ilmu-ilmu sosial hermeneutik yakni dengan cara merefleksikan
epistemologi klasik, hal yang menarik adalah perkembangan teori pengetahuan adalah peralihan
bolak balik antarakutub subjek ke kutub objek dam begitu pun sebaliknya.
Bagian 2 : Modernitas dan Kritik
5. Modernisasi sebagai Proses Pembebasan.
Corak kesadaran modern, modernisasi aldalah westerninsasi, perubahan besar pada bidang
sosail, ekonomi, kultural, politis dan ideologi yang diperdengar sebagai modernisasi, dari hal ini
kita akan membahas dari sudut pandangn filsafat dan kebudayaan. Interpretasi perubahan perilaku
sosial manusia dengan membaginya yakni : kebudayaan mitis, kebudayaan ontologis dan
kebudayaan fungsionalis.
Pemetaan kebudayaan yang ingin menempatkan fenomena modernisasi dalam rangka yang ideal
pada pengaruh modernisasi di mulai dari barat dimana padangan modernisasi dimulai dan di
pengaruhi dunia barat termasuk juga dalam filsafat yang memepengaruhi pandangannya, terutama
dimulai pada zaman Renaisans kemudian di perkuat pada zaman Aufkalrung’. Dari alam pikir
metafisik dunia barat membebaskan diri da menempatkan dunia empirik yang tercecap. Perubahan
sikap terhadap dunia, seberapa jauh proses pembebasan eksterior ini dimasukkan kedalam dunia
non barat, karena modernisasai merupakan sintesis dari faktor barat dan non barat.
Studi komparatif pada umunya memuat 3 pokok kajian yang berkaitan dengan sikap individu
dalam pengemban filsafat terhadap dunia, yaitu : manusia dipergunakan dalam mengkaji realitas,
fokus pada kajian filsafat, dan kaitan antara fokus kajian dan praksis sikap hidup pengemban
filsafat. Namun dalam pengembangan dan pembebasannya terjadi ketegangan.

6. Kesadaran yang Tak Bersarang.


Pembahasan modernisasi tak kunjung habis dibahas dalam semua lini pembahasan karena hal
ini bersifat objektif. Modernisasi sebagai pembangun alam artifisial, manusia dianggap hewan yang
sama dengan mahluk hidup lainnya namun terspesialisasi karena manusia tidak ditentukan oleh
lingkungannya berbeda dengan hewan yang lain mereka sangat peka terhadap lingkugannya,
berbeda dengan manusia mereka kadang mengambil jarak anatar dirinya dengan lingkungannya.
Kemudian muncul momen eksternalisasi yang memunculkan kesadaran modern dan aspek-
aspeknya. Dari zaman kezaman aka nada perbedaan namun ada pula kesamaannya yakni kesadaran
modern yang menjadi topik pembahasannya, dan dijelaskan bahwa kesadaran modern muncul di
Eropa dan penemuan subjektivitas dan gerakan rasionalisme dan dianggap empirisme.
Momen objektivitas merupakan kesadaran lebih berada pada lingkup batiniah. Ada banyak
macam pranata modern sebagai ganti pranata dalam masyarakay pra-modern. Momen internalisasi
dalam Triad Berger adalah tahap pembatinan kembali hasil objektivitas denga mengubah struktur
lahiriah itu menjadi struktur batiniah yakni kesadaran subjektif. Reaksi atas hasil objekvitas itu
dimungkinkan karena kesadaran bukan hanyabisa megadaptasi, melainkan juga bisa
‘mentransendir dir’ , dua bentuk reaksi yang mungkin adalah memberontak atau menarik diri.
7. Kritik, Krisis, dan Tradisi.
Gambaran dari puis tersebut menggambarkan bahwa zaman edan adalah zaman krisis. Sketsa
kritik bahwa kritik dan krisis saling bertautan. Dengan tulisan tersebut penulis mencoba
mengana;ogikan dan menafsirkan kritik dan krisis dengan sejumlah bidang yang ada dalam aspek
kehidupan. Lewat pembangunan masyarakat dalam puis tesbut menyeratkan yakni masyarakat
yang stabil sudah lama ditinggalkan, dan telah terjadi transformasi namun hal ini bukan merupakan
suatu hal yang negative, melainkan sesuatu yang dikehendaki dan dibuat. Dan hal ini menimbulkan
kebingungan dimasyarakat terkhusus masyarakat awam.
Kritik, autoritas dan tradisi terlukiaksan bahwa setip orang mengalami kebingungan, mengalami
disorientasi normative, maka ngedan adalah cara adaptasi untuk bertahan hidup. Tradisi, autoritas.
Dan pseudo-komunikasi, zaman edan ini dihubungkan dengan pergeseran dari pemeliharaan
warisan tradisi merupakan sebuah kondisi dari zaman waras. Tradisi yang dimaksudkan adalah
tradisi kultural mencakup praktek-praktek komunikasi sosial. Kritik dan elemen-elemen tradisi
yang berkelit, kalua keedanan dapat didefinisikan sebagai hilangnya kontrol kesadaran diri yang
diperluas secara bermasyarakat.
8. Kaum Intelektual dan modernitas.
Lapisan sosial yang berkembang dan berpengaruh sekarang dikenal sebagai kaum intelektual
atau kaum cendekia yang perlu dilihat dan di perhatikan dalam rangka modernitas. Ada kesejajaran
tertentu di antara kondisi-kondisi dalam masyarakat barat tradisional dan dalam masyarakat
tradisional kita yang membuat subur pertumbuhan lapisan ini, yakni kondisi ketergantungan
infantil pada suatu dominasi, yakni feodalisme (Barat) dan kolonialisme (Indonesia). Pertama :
Modern itu seharunya mengutamakan kesadaran diri sebagai objek, dalam hal ini orang modern
memperhatikan soal hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi.
Kedua : modern itu harus kritis, ketiga : m odern hatusnya progresif, peran kritis kaum intelektual
pra-kemerdekaan adalah sebuah peran revolusioner dalam mebentuk subjektivitas bangsa dengan
cara disilusionasi autoritas tradisi kolonialistik.
Sesudah penemuan dan penciptaan subjektivitas bangsa, tahap selanjutny adalah progresif,
progres dengan orientasi pada pembentukan sistemsistem objektif, seperti sistem birokrasi dan
sistem ekonomi sebagai upaya pemecahan masalah. Didalan masa dewasa ini kita ditugaskan
menggalang solidarittas sosial adalah tugas menginterpretasikan konstelasi tiga unsur : agama,
tradisi, dan modernitas. Tugas ini semakin kompleks pada era pembangunan karena modernitas
tidak hanya menampilkan sisi emansipasi tetapi juga sisi eliminasinya. Memasuki kondisi kultural
masyarakat, kaum intelektual memang hidup dalam horizon politik tertentu. Hal ini turut
mempengaruhi pandangan yang mereka hasilkan. Dalam pluralisme nilai, kreativitas, keterbukaan
dan kodrat pengembara kaum intelektual direalisasikan, karena itu sebuah kelompok intelektual
multietnis, multireligi, dan multidisipliner sehingga memungkinkan untuk menghancurkan Batasan
yang ada. Kadang karena kekuatan-kekuatan objektif seperti modal dan kekuasaan mampu
membuat masyarakat merasakan amnesia sejarah. Bukankah tugas kaum intelektual membuat
anamnesis secara kreatif dan konstruktif demi masa depan yang bermakna ?
9. Mengenang Gerakan Kiri Baru.
Mengenang suatu gerakan sosio-kultural yang telah memudar juga merupakan proses belajar
secara kolektif dalam sejarah. Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan gerakan kiri baru dan
nilai-nilai yang diperjuangkan sebagai contoh gerakan sosio-kultural masyarakat modern.gerakan
ini menarik untuk dikenang karena di prakarsai oleh para mahasiswa dan kelompok terpelajar ada
masa modern. Gerakan kiri baru perlu di pahami dalam konteksnya yaitu masyarakat modern
(khusunya) di Barat, pada masa itu bangkit kesadaran manusia akan subjektivitas dan
individualitas.
Kritik dari gerakan kiri baru sangat antibirokrasi dan teknologi, bentuk ktitiknya bermacam-
macam seperti menentang komsurisme, borjuis dan demokrasi dipandang semu. Apa yang merka
lawan adalah saintisme, positivisme, netralitas, dan objektivisme. Gerakan bermula dengan gerakan
jak-hak sipil, gerakan ini berkembang dan memunculkan dua gerakan yakni gerakan
memabngkitkan kesadaran akan hak-hak asasi manusia di getto afrika sehingga menimbukna
gerakan hitam. Gerakan hitam ini merupakan gerakan hak-hak sipil yang ingin melakukan gerakan
kebebasan berbicara atau mimbar, gerakan anti perang (gerakan anti milisi), gerakan anti nuklir
(gerakan feminisme).
Gerakan kiri baru sebagai gerakan radikal tampak pada cita-cita dasariah meraka, yaitu
mengadakan perubahan-perubahan sosio-historis secara struktural maupun kultural, dan
didalamnya terdapat berbagai mahzab yang bermunculan anatara lain Kalr Marx, Frankfurt, dll.
Ciri-ciri gerakan kiri yang radikal dapat dilihat dari 5 tema sentral yang mereka perjuangkan dalam
praksis, yakni :
a. Tema pertama mengubah sistem universitas yang dalam padangannya terkait dengan system
kapitalisme.
b. Tema kedua yakni pembebasan rakyat kecil yang menjadi korban struktur sosial yang tidak adil
(grassroot movement).
c. Tema ketiga adalah usaha pengadaan proyek aksi demi gerakan universal bagi kaum miskin,
tanpa batas spesifik ras, dan kelompok minoritas.
d. Tema keempat, kontra terhadap perang Indocina.
e. Tema kelima terkait dengan gerakan-gerakan bawah tanah untuk mewujudkan masyarakat
alternatife dengan menghapus struktur masyarakat yang kapitalis modern yang ada.
Basis nilai yang diperjuangkan gerakan kiri baru secara implisit nilai-nilai yang menjadi
kerangka acuan atau orientasi mereka, Sargent membaginya kedalam 7 nilai dasar yakni : praksis,
jatidiri, komunitas, persamaan, kebebasan, demokrasi partisipatoris, dan revolusi.
Memudarnya gerekan kiri baru di mulai pada tahun 1960-an ini membuktikan kokohnya
establishment siatem kapitalis kontemporer. Nilai kebebasan yang di perjuangkan sesungguhnya
merupakan nilai yang ambigu ketika ditabrakkan dengan nilai persamaan. Pemutlakan nilai
persamaan aakan menekan nilai kebebasan dan bahkan lenyap. Akhirnya, revolusi emansipatoris
yang dilakukan oleh kiri baru merupakan gerakan yang sangat beresiko, suatu gerakan yang
mengadaikan jebolnya seluruh bangunan lama dan meletakkan bangunana baru diatasnya sehingga
tidak mungkin menghilangkan pranata yang telah ada sebelumnya atau yang sudah lama, karena
mekanisme sistem yang lama masih berjalan meskipun sudah ada mekanisne sistem yang baru dan
dengan menggunakan cara kekerasan sehingga semakin menekan kebebasan dan juga
mencerminkan sikap-sikap opersif, karena penindasan yang satu akan diganti dengan penindasan
yang lain.

Bagian 3 : Postmodernisme sebagai Kritik


10. Kritik atas Patologi Modernitas dan [Post]Modernisme.
Modernitas menjadi sebuah proyek yang normatif di negara-negara berkembang dan modernitas
sebagai tujuan yang di dambakan. Dengan mengikuti analisis Jurgen Habermas dari tahun 1960-an
sampai 1980-an, kita bahkan mampu menemukan filsuf ini berusaha menunjukkan secara empiris
bahwa masyarakat sedang berkembang menjadi rasional dalam arti menuju modernitas.
Kehendak menjadi modern merupakan kehendak politis yang secara empirirs dibuktikan adanya
olrh Geertz du berbagai negara. Para pemikir seperti Heidegger, Horkhelmer, dan Adorno berusaha
meperlihatkan bahwa modernisasi bukan sekedar perjalanan yang terseok-seok melainkan juga
perjalana yang disintegrasi sosial.
Hari ini kita mengenal dua posisi antinomis dalam pemikiran Barat kontemporer yaitu :
mendukung modernitas sebagai tujuan universal segala bentuk masyarakat, kemudian yang kedua
berupaya meninggalkan modernitas. Tulisan kecil ini menggambarkan sketsa tentatif untuk
menggambarkan atau menggariskan proyek teori kritis Habermas dengan dialognya dengan ahli
waris Nietzsche. Teori kritis dan potsmodernisasi menjadi paradigma-paradigma yang
berpengaruh dalam ilmu-ilmu sosial, sebagai alternative bagi teori-teori modernisasi yang masih
besar pengaruhnya di negara-negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia.
Teori kritis, modernitas, dan dilema modernitas, teori kritis oleh Max Herkheimer dkk, dari
mahzab Frankfurt berupaya ndalam mengantisipasi determinisme ekonomis dari maxisme
ortodoks. Teori Marx adalah bentuk pemikiran modern yang dikembangkan pra pencerahan yakni
pada abad ke-19. Dengan demikian, disamping memperluas reformasi religius post-Renaisans ke
reformasi politik lewat revolusi Prancis.
Isi keprihatinan Marx tersebut tidak dapat di aktualisasikan dalam sosok metodologi ilmu-ilmu
sosial yang tepat. Kalau kita mengikuti benang merah sejarah filsafat barat. Kita dapat menemukan
bahwa teori kritis adalah keturunan dari filsafat kesadaran yang sangat radikal sejak Descartes.
Kegagalan mazhab Frankfurt kemudian di lihat dan diteruskan oleh Harbermas aadalah mereka
yang kurang jernih memahami refleksi diri. Muatan arti dialektika pencerahan adalah paradox
bahwa kita sebagai mahluk sosial, tidak pernah mencapai rasionalitas.
Usaha-usaha dalam meninggalkan modernitas, Habermas dengan sangat tajam menunjukkan
kelemahan para penganut postmodernisme. Habermas menemukan konsep dialektika pencerahan
dari pada pendahulunya sebagai semacam arena diskusinya dengna pemikiran postmodern.
Postmodernisme menjadi pola lazim dalam karya Habermas juga muncul dalam diskusinya dengan
pemikiran postmodern. Melanjutkan proyek modernisme dengan rasio komunikatif, Habermas
menaruh penghargaan besar terhadap para partner diskusinya. Para ahli waris Nietzsche ini sukses
menggali dasar dari modernitas dan kesadaranya.
11. Ilmu-ilmu Sosial dalam Diskursus Modernisme dan Pasca-Modernisme.
Diskusi modernisme/pasca-modernisme ini merembes ke berbagai dinding disiplin intelektual.
Penghancuran tembok perbatasan itu di lakukan bukannya tanpa intensi, dengan metode empiris
dan pendekatan subjektivisnya. Pertanyaan yang dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana
perkembangan epsitemologi tersebut dalam ilmu-ilmu sosial, dan bagaimanakah pasca modernisasi
dapat ditanggapi.
Penelitian filosofis berperan penting apa yang sejak lama ingin ditolaknya. Filsafat sebagai
penemuan orang Yunani muncul bukan dalam segala kepenuhannya sebagai logos. Dalam buku ini
sang penulis menggambarkan penyebaran kekuatan rasional dalam masyarakat akan membawa
perubahan dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan seperti pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan. Mungkin dalam arti sedudah diskursus modernisme/pasca-modernisme kita akan
semakin berhati-hati dengan keangkuhan intelektual dan semakin rendah diri dengan kemampuan
intelektual yang kita miliki.
12. Pluralisme dan Komunikasi.
Modernitas dianggap sebagai konsep waktu dalam artian zaman baru maupun sebagai epistemis
atau kesadaran baru. Secara epistemis ada empat elemen yakni : subjektivitas yang reflektif,
subjektivitas berkaitan dengan kritik atau reflektif, kesadran historis yang dimunculkan oleh
subjek, dan universalisme yang merupakan dasar dari ketiga elemen sebelumnya. Reaksi
postmodern dalam hal ini ada 3 pokok bahasan yakni :
 Ide mengenai subjektivitas yang dipegang teguh yang dianggap sebagai penyembunyian
kekuasan.
 Ide kritik dan refleksi dicurigai sebagai jalan untuk mencapai tujuan yang totaliter ideologi
tertentu.
 Persoalan akan sejarah yang sesuai atau telah linear amsih di persoalkan.
Belajar berdemokrasi dan hidup dalam pluralism yang baru bagi masyarakat Indonesia bukan
hal yang baru melainkan bagaimana cara kita dalam bertindak menghadapi pluralism atau
kemajemukan itu sendiri, karena kita ketahui di Indinesia terdapat beragam suku bangsa, agama
dan ras, namun hal ini tidak mereduksi dalam homogenitas tertentu. Dari polemik ini kita dapat
belajar dan memahami dalam hidup berdemokrasi dan sejatinya mampu memahami pluralisme dan
tidak terpeleset pada pemikiran relativisme, karena demokasi menghedaki hubungan timbal balik
dan konsensus yang tidak dipaksakan. Namun kita juga dapat belajar dari semua teori yang ada,
dan teori yang di sarankan dari Habermas dalam tindakan teori tindakan kominikasi.

Beri Nilai