Anda di halaman 1dari 6

https://tirto.

id/

Kahar Muzakkar, Si Pembangkang Sejak Belia


https://tirto.id/kahar-muzakkar-si-pembangkang-sejak-belia-cuzQ

Abdul Kahar Muzakkar. FOTO/Istimewa

15 Agustus 2017

Dibaca Normal 4 menit

Di masa muda, Kahar Muzakkar dibuang ke Jawa lantaran melawan adat setempat. Revolusi menjadikannya seorang
letnan kolonel.

tirto.id - Kahar Muzakkar bukan nama pemberian orangtuanya. Sebelum beranjak dewasa, ia dipanggil La Domeng.
Waktu kecil ia suka main (kartu) domino. Tak jelas benar nama sesungguhnya.

Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/ TII (1989), namanya
menjadi Abdul Kahar Muzakkar setelah sekolah di Solo. Nama itu “digubahnya dari nama seorang guru
kesayangannya, seorang pemimpin muda Muhammadiyah, Abdul Kahar Muzakkir.” Muzakkir adalah salah satu wakil
Islam dalam Panitia Sembilan yang merumuskan Pembukaan UUD 1945.

 Baca: Saat Perwakilan dari Indonesia Timur Menolak 'Syariat Islam'

Seperti Panglima Besar Sudirman, Kahar menimba ilmu sejak muda di sekolah Muhammadiyah. Seperti Sudirman
pula, Kahar sempat menjalani hidup sebagai guru.

Dari koleksi arsip Sekretaris Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 di Arsip Nasional Republik Indonesia,
setelah melalui Sekolah Rakyat selama tiga tahun, Kahar lanjut belajar selama empat tahun di Standarschool milik
Muhammadiyah dan lulus pada 1935. Setelahnya ia lanjut ke Muallimin Solo, sekolah guru milik Muhammadiyah.

Menurut Mattulada dalam Kahar Muzakkar: Profil Patriot Pemberontak di jurnal Prisma dan buku Manusia dalam
Kemelut Sejarah (1977), Kahar tidak tamat dari sekolah itu. Di Muhammadiyah, ia aktif di Hizbul Wathan (HW).
https://tirto.id/

Ketika sudah mengajar di Palopo, Sulawesi Selatan, ia memimpin Pasukan HW di sana.

Pedagang yang Membangkang

Sekembali dari Jawa, selain pernah mengajar, Kahar Muzakkar “melanjutkan usaha dagang orangtuanya, mengekspor
kulit kayu bakko ke negeri Jepang, yang mengakibatkan namanya masuk blacklist pemerintah Belanda.”

Ketika Jepang berkuasa, menurut Mattulada, “Kahar Muzakkar mendapat kepercayaan dari pemerintah Dai Nippon
dan ditempatkan di afdeling Luwu (Palopo)." Karena caranya bekerja revolusioner, yakni mengubah pemerintahan
adat feodal menjadi pemerintahan demokratis yang disukai oleh rakyat, "Kahar mendapat tentangan dari
segolongan Hadat Luwu (Tomarilalang, Andi Baso Lanrang cs).”

Tentu saja apa yang dilakukan Kahar itu gila. Di mata kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, Kedatuan Luwu—yang
berpusat di Palopo—adalah muasal mereka. Karena itulah Luwu dihormati secara kultural. Raja-raja terkuat di
Sulawesi Selatan macam Arung Palaka dari Bone pun tak segila Kahar.

Kahar dijatuhkan, dan pemerintah Jepang memenjarakannya selama 1 bulan 11 hari di Palopo. Di dalam penjara, ia
dihadiahi “pukulan tiga kali sehari, yaitu pagi, tengah hari, dan sore. Setelah dibebaskan, ia masih dihukum lagi oleh
Hadat: harus meninggalkan Tanah Luwu paling lambat 24 jam setelah hukuman dikeluarkan."

Akhirnya Kahar Muzakkar meninggalkan Palopo dan menuju Makassar pada akhir tahun 1942.

“Selama berada di Makassar, Kahar Muzakkar bekerja di Kantor Perdagangan Jepang Ogata Shoten kurang lebih 6
bulan lamanya.”

Pertengahan tahun 1943, ia berangkat ke Jawa (Solo) bersama keluarganya. Selama di Jawa, pekerjaannya berdagang
dan mendirikan perusahaan Usaha Muda di Solo, sampai Jepang menyerah.

Sekitar Proklamasi Kemerdekaan, Kahar berada di Jakarta. Sore hari 19 September 1945 di Lapangan Ikada, ribuan
massa menanti Sukarno berpidato. Rapat raksasa di areal yang kini disebut Lapangan Monas itu semula hendak
dibatalkan, tetapi sejarah mencatat aksi pengerahan itu merupakan gerakan politik penting pemuda pasca-
proklamasi.

Di antara gagap gempita massa rakyat itu, muncul seorang pemuda. Ia membawa sebilah golok dan berada di sebelah
Sukarno saat Bung Besar berjalan ke podium.

 Baca: Mengerahkan Massa dan Berkasih-kasihan di Lapangan Monas

Menurut Bernard Wilhelm Lapian, nasionalis dari Minahasa dan ayah dari sejarawan Adrian B. Lapian, “Kahar
Muzakkar turun aktif untuk menyusun kekuatan pemuda Sulawesi Utara dan mendirikan Kebaktian Rakyat
Indonesia Sulawesi (KRIS).”

Kahar terjun ke front Surabaya. Di Yogyakarta, ia bekerja sama dengan Kolonel Zulkifli Lubis. Ia juga mengumpulkan
para pemuda dari Sulawesi Selatan, terutama di Nusakambangan, dan membentuk Batalyon Kemajuan Indonesia, di
bawah komando Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman.

 Baca: Intel Melayu, Belajarlah Kepada Zulkifli Lubis Muda!

Menurut Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (1995), ide pembentukan Batalyon Kemajuan
Indonesia (BKI) berasal dari kontak Sukarno dengan Andi Mattalata—anak bangsawan Barru, Sulawesi Selatan—
https://tirto.id/

yang ikut berjuang di Jawa. Kahar menjadi komandan di BKI, sementara Mattalata menjadi wakil komandan. Adapun
Salah Lahade—juga dari Barru—menjadi kepala staf.

Selain itu Kahar dikenal membentuk Barisan Berani Mati.


https://tirto.id/
https://tirto.id/

Karier Perwira Kepala Batu

Di Sulawesi Selatan, apa yang disebut kampanye Pasifikasi—alias mengembalikan keadaan seperti saat sebelum
perang—justru menjadi aksi banjir darah.

Di bawah komando Kapten Raymond Paul Pierre Westerling, yang membawa sekompi pasukan khusus Belanda
Depot Speciale Troepen (DST), kampanye itu mengakibatkan ribuan orang sipil terbunuh.

Versi Kahar Muzakkar, yang diperolehnya dari pejuang-pejuang Sulawesi Selatan, jumlah korban Westerling sekitar
40.000 orang. Kebanyakan orang-orang kampung yang dituduh tentara Belanda sebagai gerilyawan atau yang
melindungi gerilyawan. Aksi Westerling itu bikin para gerilyawan pro-Republik di sana menyeberang ke Jawa untuk
sementara waktu.

 Baca: Sebelum Westerling Ditimpuk Sepatu

Di mata Herman Nicolas "Ventje" Sumual, salah seorang pencetus Permesta pada 1957, Kahar di masa revolusi adalah
“kawan seperjuangan yang baik, cerdas, dan luar biasa berani”. Di sisi lain, Kahar adalah sosok yang keras kepala dan
berdarah panas.

“Saya teman lama dia, kenal sekali wataknya, keras seperti batu!” ujar Sumual dalam Memoar Ventje H.N.
Sumual (2011).

Menurutnya, ketika satuan bernama Resimen Hasanuddin diubah menjadi batalion, Kahar marah dan bikin darah
panasnya naik. Ia bahkan menyerang markas Brigade XVI dan memerintahkan orang-orangnya merampas senjata.

 Baca: Nasib Mujur Mantan Permesta di Bawah Orde Baru

Menurut Barbara Harvey, sekitar September 1948, Kahar Muzakkar memerintahkan sekompi pimpinan Masud untuk
menangkap Komandan Brigade XVI, Letnan Kolonel Adolf Gustav Lembong di Markas Brigade di sekitar Sayidan,
Yogyakarta.

Lembong dan stafnya dibawa penculik ke Klaten, daerah perbatasan Yogya-Solo. Lembong adalah bekas KNIL yang
tak disukai Kahar. Kapten Sumual pun bergerak membebaskan komandannya. Berkat campur tangan Presiden
Sukarno, ketegangan mereda. Lembong akhirnya bebas.

 Baca: Asal-Usul Jalan Lembong

Lepas dari masalah-masalahnya di Jawa, setidaknya Kahar berjasa menggerakkan perlawanan di Sulawesi Selatan.

“Sejak Batalyon Kemajuan Indonesia berdiri (akhir 1945) sampai Komando Grup Seberang (awal 1950), Kahar aktif
menyelenggarakan pengiriman rombongan-rombongan bersenjata ekspedisi ke Sulawesi dengan perahu-perahu
liar,” terang BW Lapian.

Sejak penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda pada 27 Desember 1949, Kahar ditempatkan di
https://tirto.id/

Jakarta. Di sana ia membantu Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat Jakarta. Kehidupan militernya di Jakarta
tampaknya tidak menarik. Pada Mei tahun berikutnya ia hendak mengundurkan diri. Pangkatnya kala sudah itu
letnan kolonel.

“Mengingat perjuangan kita dewasa ini telah berubah sifatnya (perjuangan dengan senjata menjelma menjadi
perjuangan membangun dan menyusun), dan mengingat pula kesehatan kami yang [...] akhir-akhir ini tidak
mengizinkan untuk meneruskan perjuangan di lapangan ketentaraan [...] kami mohon kepada Paduka Tuan supaya
kami diperkenankan meletakan jabatan sebagai Pa DPB Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat dan keluar dari
ketentaraan,” mohon Kahar Muzakkar dalam surat pengunduran dirinya (Koleksi ANRI: Letnan Kolonel Kahar
Muzakkar kepada Kepala Staf Angkatan Darat: Surat tanggal 20 Mei tentang Permohonan Mengundurkan Diri di
Dinas Ketentaraan).

Jika mundur dari tentara, hal paling mungkin bagi Kahar adalah berdagang. Namun, pengunduran diri itu tak terjadi.

Setelah masalah bekas gerilyawan di Sulawesi Selatan tidak jua rampung, Kahar pun dikirim ke Makassar. Bersama
Letnan Kolonel Mursito, ia tiba di ibu kota Provinsi Sulawesi itu pada 22 Juni 1950. Ia menemui gerilyawan yang
kebanyakan ingin bergabung sebagai Tentara Nasional Indonesia. Kahar berusaha mengakomodir para gerilyawan
yang dikenal sebagai Komando Gerilya Sulawesi Selatan tersebut.

“Pada 1 Juli 1950, Kahar bertemu Kolonel Alex Kawilarang (Panglima tentara Indonesia Timur). Atas nama kaum
gerilyawan, Kahar mengajukan permohonan agar mereka dijadikan Brigade atau Resimen dari TNI, dengan ia sendiri
menjadi komandan. Permohonan itu ditolak,” tulis Barbara Harvey.

Apa yang terjadi kemudian adalah sejarah: Kahar diculik oleh Andi Sose, salah satu komandan gerilyawan, dan masuk
hutan. Kahar malah ikut bergerilya selama belasan tahun.

“Keputusan yang diambil oleh Kahar Muzakkar dengan memasuki hutan merupakan konsekuensi logis atas
kegagalannya mengantarkan para gerilyawan Sulawesi Selatan menjadi tentara resmi," tulis Diks Pasande dalam
'Politik Nasional dan Penguasa Lokal di Tana Toraja,' dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun
1950an (2011).

Penolakan dari Alex Kawilarang itu menjadi semacam penghinaan yang membuat Abdul Kahar Muzakkar
membangkang terhadap pemerintah Republik.

Baca juga artikel terkait KAHAR MUZAKKAR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi

(tirto.id - Indepth)

Reporter: Petrik Matanasi


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam