Anda di halaman 1dari 5

https://tirto.

id/

Legenda Kahar Muzakkar, Terbunuh tapi Dianggap Masih


Hidup
https://tirto.id/legenda-kahar-muzakkar-terbunuh-tapi-dianggap-masih-hidup-cuz7

Abdul Kahar Muzakkar. FOTO/Istimewa

15 Agustus 2017

Dibaca Normal 3 menit

Beberapa pengikut Kahar Muzakkar tetap bergerilya sampai 1970-an. Nama Kahar tetap harum oleh sebagian
penduduk Sulawesi Selatan.

tirto.id - Sudah dua periode Andi Muzakkar alias Andi Cakka jadi Bupati Luwu. Dalam pemilihan kepala daerah
untuk periode berikutnya, saudaranya, Buhari Kahar Muzakkar, yang akan maju.

Saudara Andi Cakka lain yang terjun ke politik dan sukses pada 2014 adalah Abdul Azis Kahar Muzakkar—
sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah. Ia berniat maju dalam pemilihan gubernur Sulawesi Selatan pada
2018.

Andi Cakka, Buhari, dan Azis adalah anak dari legenda Sulawesi Selatan: Abdul Kahar Muzakkar. Kahar masih
diingat dengan baik oleh masyarakat di sekitar Luwu. Satu dekade belakangan, beberapa keturunan Kahar
Muzakkar di Luwu terjun ke dunia politik. Tak semuanya sukses.

 Baca: Legenda Dinasti Politik Kennedy

Puluhan tahun silam, dalam laporan bertanggal 28 Oktober 1950, Bernard Wilhelm Lapian, yang saat itu
bertindak sebagai Gubernur Sulawesi, menyebut “Kahar Muzakkar [...] sebagai pelopor perjuangan
https://tirto.id/

kemerdekaan […] yang telah memupuk [...] perjuangan rakyat terutama di


daerah Sulawesi Selatan.”

Intinya, pada 1950-an, Kahar Muzakkar dihormati kaum gerilyawan dan “disambut meriah dengan arak-arakan”
di sekitar Luwu dan Tana Toraja.

Dibedil Maung Siliwangi

Meski sudah dinyatakan tertembak pada Februari 1965, ada sebagian orang yang masih percaya bahwa Kahar
Muzakkar belum mati. Makamnya tak pernah ditemukan, atau pemerintah Indonesia sengaja menyembunyikan
kuburannya demi menghindari pemujaan.

 Baca: Makam Pemberontak yang Ditakuti Penguasa

Pada 1954, pernah ada kabar bohong yang menyebut Kahar tewas. Kabar ini beredar sampai ke Jakarta. Pihak
pemerintah daerah Sulawesi melalui Kepala Bagian Politik Kegubernuran Sulawesi J. Latumahina akhirnya
mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri untuk mengklarifikasi kabar kematian tersebut. Mereka mendengar
kabar bahwa Kahar Muzakkar meninggal di Palopo.

“Sepanjang penyelidikan kami, berita ini belum dapat dibenarkan dan masih terus diadakan penyelidikan,” jelas
Latumahina dalam surat bertanggal 23 Mei 1954.

Menurut catatan Anhar Gonggong, “Ketika terbetik berita bahwa ia telah meninggal pada 1954, Bintang
Timur edisi 24 Mei 1954 bahkan tidak segera mengutuk kegiatan Kahar Muzakkar sebagai pemberontak dan
pengkhianat negara." Surat kabar organ Partai Komunis Indonesia ini malah menulis, "Di dalam menilai Kahar
Muzakkar, kita tidak boleh gegabah.”

Menurut catatan Kodam Siliwangi dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), Kahar tertembak pada 2 Februari
1965. Usai kawasan di sekitar Sungai Lasalo dikepung dan disisir oleh pasukan Siliwangi, sepeleton prajurit dari
Siliwangi di bawah komando Pembantu Letnan Satu Umar Sumarsana ditugaskan mencari posisi Kahar
Muzakkar pada 27 Januari 1965. Usaha itu terlihat pada 2 Februari 1965.

“Dari seberang Sungai Lasalo, mereka melihat ada orang yang mandi dan membawa karaben. Peleton Umar
kemudian berkesimpulan, tak jauh dari situ, terdapat perkubuan musuh (gerombolan). Tiba-tiba pada pukul 16.30
(2 Februari 1965) terdengarlah sayup-sayup lagu Terkenang Masa Lampau dari sebuah radio, yang dipancarkan
dari radio Malaysia Kuala Lumpur,” menurut buku tersebut.

Menurut pengikut Kahar, lagu tersebut adalah lagu kesukaan sang panglima. Pasukan Umar pernah diberitahu,
“satu-satunya radio di hutan itu adalah milik Kahar Muzakkar.” Hal ini ditegaskan lewat informasi tawanan
bernama Ali Basya.

Penyusupan ke sekitar pondok gerombolan dilakukan oleh peleton dari Kompi D. Batalyon 330/Kujang Siliwangi
yang dipimpin Umar. Sebelum penyergapan, semua jalur pelarian ditutup di areal posisi persembunyian Kahar.
Dini hari 3 Februari 1965, Pasukan Umar mulai bergerak.

 Baca: Ejekan Tentara Belanda untuk Maung Siliwangi

Menurut catatan Siliwangi dari Masa ke Masa, “Ketika tembakan-tembakan dilepaskan, dari gubuk ke-5 (dari
utara) melompatlah Kahar Muzakkar, yang dengan jelas dapat dikenal oleh Kopral Dua Ili Sadeli […] Kahar
Muzakkar sedang menggenggam granat tangan. Kopral Dua Ili Sadeli pun tak mau mengambil risiko ... Dengan
jitu, ia melepaskan tembakan terarah ke dada Kahar yang kemudian tewas seketika.”
https://tirto.id/

Kabar kematian Kahar sampai ke Jakarta agak telat karena lokasi baku tembak sulit dijangkau. Jenazahnya
kemudian dibawa ke Makassar.

Panglima militer di Makassar, Kolonel M. Jusuf, “memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
menyaksikan jenazah itu, dan memastikan sendiri bahwa yang mati benar-benar adalah Kahar Muzakkar,” tulis
Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006).

Meski begitu, isu Kahar masih hidup tetap ada. Toh, masyarakat tak melihat ada kuburan Kahar Muzakkar
sampai sekarang.

“Setelah satu hari dibaringkan di rumah sakit, kemudian jenazah dikuburkan, hanya sedikit pejabat militer yang
mengetahuinya.”

Baik M. Jusuf dan perwira lain seperti Solichin GP juga enggan memberi tahu letak pasti kuburan Kahar.

 Baca: M. Jusuf, Panglima Kesayangan Para Prajurit


https://tirto.id/
https://tirto.id/

Setelah Kahar Terbunuh

Kahar boleh mati pada 3 Februari 1965, tapi masih ada pengikut Kahar yang masih bergerilya hingga 1970-an di
sekitar perbukitan Duri, Enrekang, yang dekat Tana Toraja. Di sana nama Kahar harum. Daerah Baraka, dekat
Kalosi dan Anggeraja—jalan poros ke Tana Toraja—dulunya jadi markas pasukan Kahar Muzakkar. Masyarakat
di daerah itu punya bayangan sendiri soal Kahar Muzakkar.

Menurut cerita dari Haerul, warga Duri yang mendalami sejarah di Universitas Hasanuddin, Makassar, pengikut
Kahar seperti Sanusi Daris bersembunyi di hutan hingga 1970-an. Sesekali pengikut Daris turun ke desa-desa
untuk mendapatkan makanan. Biasanya dengan isyarat cahaya cermin.

Itulah kenapa masyarakat menyebut, “gunung tempat Sanusi Daris bersembunyi dengan nama Sansudaris,” ujar
Haerul. “Di sini, sebagian orang anggap Sanusi Daris adalah pahlawan, tapi beberapa juga menganggap
pemberontak.”

Menurut Martin van Bruinessen dalam Contemporary Developments in Indonesian Islam(2013), “setelah Kahar
terbunuh, Sanusi Daris tetap bersembunyi, hidup di dalam gua. Ketika dia keluar dari persembunyiannya, dia
segera ditangkap dan diadili. Dia akhirnya dilepaskan karena intervensi dari Jenderal M. Jusuf.”

Andi Faisal Bakti dalam "Collective Memories of the Qahhar Movement" menulis "Sanusi Daris ditangkap pada 5
Oktober 1982." Bersama pemimpin senior lain, ia diinterogasi secara brutal dan disiksa selama penahanan dua
tahun dan disidangkan di Makassar. Setelah bebas, Sanusi ke luar negeri.

“Rupanya untuk mencari Kahar,” tulis Andi Bakti dalam artikelnya yang dimuat pada buku Beginning to
Remember; The Past in the Indonesian Present (2005).

Sanusi dan sisa pengikut lain tampak yakin “bahwa Kahar masih hidup dalam pengasingan. Meski gagal
menemukan Kahar, Sanusi berhasil mengorganisir pertemuan dan pendukung di Malaysia.” Setelah Sanusi
meninggal dunia, Syamsul Bachri alias Syamsul Fattah menggantikan Sanusi sebagai pemimpin Republik
Persatuan Sulawesi (RPS).

 Baca: Saat Perwakilan dari Indonesia Timur Menolak Piagam Jakarta

Setelah pemerintahan Soeharto bubar, menurut catatan Andi Bakti, salah seorang anak Kahar, Abdul Azis,
mendirikan Komite Persiapan Pelaksanaan Syariat Islam (KPPSI). Selain itu ada pula organisasi bernama Pusat
Amanat Referendum Rakyat Sulawesi (PARAS). Pernah ada seseorang bernama Syamsuri bahkan mengaku diri
sebagai Kahar Muzakkar, tetapi 37 anggota keluarga besar membantah hal tersebut pada 17 Agustus 2000.

Menurut keluarga, Syamsuri bukan Kahar Muzakkar dan Kahar Muzakkar sudah meninggal pada 3 Februari
1965. Intinya, dari apa yang ditulis Andi Bakti, kenangan Kahar Muzakkar telah ikut memengaruhi lanskap politik
lokal di Sulawesi Selatan.

Baca juga artikel terkait KAHAR MUZAKKAR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi

(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam