Anda di halaman 1dari 5

https://tirto.

id/

Mengenal Konsep Dakwah dan Puasa Jamaah Tabligh


https://tirto.id/mengenal-konsep-dakwah-dan-puasa-jamaah-tabligh-cqzd

Ilustrasi warga muslim Jamaah Tabligh beribadah. FOTO/Getty Images

13 Juni 2017

Dibaca Normal 3 menit

Para anggota Jamaah Tabligh di Indonesia datang dari berbagai daerah, dengan pusat kegiatannya di sebuah masjid
kuno di Jakarta. Sebagian anggotanya dari kalangan selebritas. Menekankan dakwah nonpolitis.

tirto.id - Nama Jamaah Tabligh menghiasi pemberitaan pada awal Juni lalu ketika 16 warga negara Indonesia
dipulangkan dari Marawi, sebuah kota mayoritas muslim di Filipina Selatan, sejak organisasi teroris global ISIS
menguasai kota pada 23 Mei lalu. Ke-16 warga tersebut adalah anggota Jamaah Tabligh.

Penampilan fisik mereka umumnya memelihara jenggot, celana agak cingkrang, mengenakan serban atau jubah.
Mereka sama sekali tidak terkait dengan gerakan ISIS.

 Baca: WNI di Marawi Dipastikan Tidak Terkait ISIS

Organisasi yang berdiri pada 1927 di kawasan dekat Delhi, India, ini dikembangkan oleh Muhammad Ilyas, seorang
pendakwah yang menekankan siar agama nonpolitis. Mayoritas pengikutnya tersebar di Asia Selatan. Bagi publik
awam di Indonesia, Jamaah Tabligh mungkin dikenal berkat sebagian pengikutnya dari kalangan selebritas,
seperti rocker Gito Rollies, Ilsyah Ryan Reza dan Loekman Hakim dari grup band Noah, serta Salman Sakti dari Sheila
on 7.

Di Jakarta, Anda bisa menemukan pusat kegiatan Jamaah Tabligh di Masjid Jami Kebon Jeruk. Ini adalah salah satu
masjid kuno di kawasan barat Jakarta yang dibangun berkat peran seorang Tionghoa bernama Chau Tsien Hwu 1786.
Sekarang masjid ini menjadi pusat penting dalam aktivitas dakwah Jamaah Tabligh.
https://tirto.id/

 Baca juga: Kisah Dua Masjid Kuno di Jakarta

Satu petang pekan lalu menjelang waktu berbuka puasa, suasana masjid dipenuhi ratusan jemaah, yang tengah
bersiap menyantap kurma, kue, dan air mineral. Makanan ini ditempatkan di atas nampan bundar. Ada empat orang
yang makan bersama di satu nampan tersebut.

"Ini makanan dari orang. Bentuk pengorbanan di jalan Allah," kata Ali Mahsud, anggota Jamaah dari Lampung, yang
ikut makan bersama kawannya sesama asal Lampung bernama Herman dan Ahmad dari Palembang.

Mengapa harus makan bersama di atas satu nampan?

Dalam anjuran Jamaah Tabligh, praktik makan bersama macam ini menjadi "sunah" Rasulullah karena pada zaman
Nabi, Rasul sering menyantap hidangan berbuka puasa bersama para sahabat dalam satu wadah. Dengan cara ini,
"Kita merasakan kebersamaan dan persaudaraan," ujar seorang jemaah.

Sesudahnya ratusan jemaah mengambil wudu untuk menunaikan salat Magrib. Usai salat, mereka
mengumandangkan salawat dan doa selagi panitia yang bergiliran tugas rutin setiap hari mengatur bahwa para
jemaah bisa mengambil makanan di dapur, terletak di belakang masjid. Sama seperti hidangan berbuka, makanan itu
disajikan dalam satu nampan untuk empat orang.

Menurut Salman, pendakwah dari Tulang Bawang, Lampung, ada tiga macam cara kita makan saat berbuka puasa:
makan adil, makan zalim, dan makan ikram. Pada umumnya, masjid berbuka puasa dengan makan adil. Maksudnya,
makan adil adalah makanan yang dibagi satu persatu kepada para jemaah seperti nasi kotak.

Makan zalim, kata Salman, siapa yang duluan datang, dialah yang lebih banyak makan. Sementara bagi mereka,
dengan anjuran yang sudah jadi kebiasaan, makan ikram lebih diutamakan.

"Makan ikram itu saling merasakan kebersamaan satu sama lain," ujar Salman.

Makan ikram juga bisa mengurangi kita buang-buang makanan, menurut Salman. Orang yang makan nasi sedikit akan
menyisakan dan mubazir; sebaliknya, ada orang yang makan banyak tapi makanannya tidak cukup.

"Jadi makan ikram lebih baik karena ada orang yang makan dikit dan banyak sehingga makanan yang disediakan
dalam nampan besar itu bisa habis. Cara makan ini mengikuti sunah Rasulullah," terang Salman.
https://tirto.id/
https://tirto.id/

Khuruj

Tak kalah dengan pusat bisnis di kawasan Hayam Wuruk di kawasan dekat masjid, suasana Masjid Kebon Jeruk tanpa
henti selama 24 jam. Selama bulan Ramadan, para jemaah dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan, bahkan
beberapa dari luar negeri seperti Pakistan, Malaysia, Yordania, Mekkah, dan Bangladesh.

Seluruh aktivitas keseharian para jamaah dilakukan di masjid. Mereka tidur, makan, cuci baju, dan mandi di masjid.
Bahkan semua hal menyangkut kendala, berbagi pengalaman, rencana kegiatan, pengiriman jemaah untuk kegiatan
ceramah di Indonesia maupun luar negeri dibahas dalam musyawarah di masjid. Kegiatan ini rutin setiap pagi,
sekitar jam 6:30 hingga selesai salat Asar.

Herman, anggota Jamaah dari Lampung, mengatakan sesudah salat Asar bahwa ada koleganya baru pulang dari
sebuah perjalanan dakwah dan berbagi pengalaman seta mengajak jemaah lain untuk melakukan hal serupa.
Kegiatan berbagi pengalaman ini biasanya dilangsungkan usai Asar, dibagi ke dalam beberapa kelompok, baik yang
pulang dakwah dari daerah-daerah di Indonesia maupun dari luar negeri.

Sesudahnya, para jemaah mendengarkan ceramah umum dari pendakwah selama setengah jam. Selama ramadan,
aktivitas ini sudah berlangsung selama 10 hari. Ceramah tersebut, ujar Herman, bukan hanya menunggu berbuka
puasa, tetapi juga usai salat Subuh.

Saat saya datang ke sana, mereka tengah mempersiapkan apa yang disebut dalam istilah mereka sebagai khuruj,
yakni bepergian untuk berdakwah. Rencananya mereka akan ke Mekkah pada 16 Juni mendatang.

"Jamaah yang sudah berpengalaman memberikan nasihat kepada pendakwah, bagaimana menjaga akhlak di tempat
orang, berhubungan dengan ulama, umara (penguasa), dan masyarakat setempat," kata Salman, yang sudah
berdakwah di Singapura, India, Bangladesh, dan Amerika Serikat.

Pada setiap perjalanan dakwah, Jamaah Tabligh membentuk sebuah kelompok, minimal terdiri lima orang dan
maksimal 12 orang. Tujuannya adalah mempererat silahturahmi sesama jemaah.

Kelompok-kelompok ini ditempatkan di masing-masing lantai Masjid Kebon Jeruk. Ada kelompok yang akan
berdakwah ke luar negeri, mengisi lantai empat masjid, lantai tiga untuk tamu dakwah dari luar negeri, lantai dua
untuk dakwah domestik, dan lantai satu untuk beribadah.

Bagi yang merencanakan dakwah ke luar negeri, mereka akan menunggu visa dari negara tujuan.

Dalam konsep Jamaah Tabligh, seseorang yang dinilai sebagai pengikut Jamaah sudah melaksanakan khuruj.
Sandarannya adalah Surat Al 'Imran ayat 104 dan 110, yang memerintahkan perbuatan dan seruan kebajikan.

Selama proses khuruj, seorang jemaah harus melewati sejumlah tahapan, termasuk membaca riwayat nabi dan
sahabatnya, mengajak warga sekitar untuk ikut terlibat dalam pengajian Jamaah, rutin melapor perkembangannya
kepada pimpinan, dan mau tidur di masjid. Mereka juga akan diuji keyakinannya: 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam
setahun; dan 4 bulan sekali seumur hidup.

Menurut Salman, proses ini dilakoni untuk mencapai lima sifat bertahap: iman, ibadah, usaha, relasi, dan akhlak.

"Setiap tahapan itu menguji sifat kita," ujarnya.

Ali Mahsud dari Lampung semula menentang ajaran Jamaah Tabligh, tetapi pelan-pelan ia melewati tiga
tahapan khuruj. Mahsud bergabung dengan Jamaah sejak 1993; ia sudah berdakwah ke India dan Bangladesh,
masing-masing selama dua bulan. Dakwah ini, sekalipun ke luar negeri, harus dari kantong pribadi.

“Semua pengorbanan ini untuk tabungan di akhirat,” kata Mahsud, percaya diri.
https://tirto.id/

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat

(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Reja Hidayat


Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam