Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bencana diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam


dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh
faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis (BNPB, 2008). Secara geografis wilayah Indonesia terletak di
dalam jalur lingkaran bencana gempa (ring offire), dimana jalur sepanjang 1.200 km
dari Sabang sampai Papua merupakan batas-batas tiga lempengan besar dunia yaitu;
lempengan Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik akan berpotensi memicu berbagai
kejadian bencana alam yang besar. Indonesia juga berada pada tiga sistem pegunungan
(Alpine Sunda, Circum Pasifik dan Circum Australia). Indonesia memiliki lebih 500
gunung berapi di antaranya 128 statusnya masih aktif, dan merupakan negara
kepulauan karena 2/3 dari luas Indonesia adalah laut, memiliki hampir 5.000 sungai
besar dan kecil dan 30% diantaranya melintasi wilayah padat penduduk (Paidi, 2012).

Hadi Purnomo & Ronny Sugiantoro (2010) menyebutkan bahwa 87% wilayah
Indonesia adalah rawan bencana alam, sebanyak 383 kabupaten atau kotamadya
merupakan daerah rawan bencana alam dari 440 kabupaten atau kotamadya di seluruh
Indonesia. Selain itu kondisi Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan tidak
merata,keanekaragaman suku, agama, adat istiadat, budaya dan golongan
menyebabkan Indonesia sangat rawan terhadap bencana alam. Bencana alam seperti
gempa bumi, tsunami, banjir, gunung meletus, tanah longsor, dan angin topan yang
sering terjadi di Indonesia tentu berdampak kehancuran, juga menyebabkan
penderitaan dan kerugian baik bagi masyarakat maupun negara.
Dalam situasi darurat bencana sering terjadi kegagapan penanganan dan
kesimpangsiuran informasi dan data korban maupun kondisi kerusakan, sehingga
mempersulit dalam pengambilan kebijakan untuk penanganan darurat bencana. Sistem
koordinasi juga sering kurang terbangun dengan baik, penyaluran bantuan, distribusi
logistic sulit terpantau dengan baik sehingga kemajuan kegiatan penangan tanggap
darurat kurang terukur dan terarah secara obyektif. Situasi dan kondisi di lapangan
yang seperti itu disebabkan belum terciptanya mekanisme kerja pos komando dan
koordinasi tanggap darurat bencana yang baik, terstruktur dan sistematis
(Muhammadiyah Disaster Manajemen Center, 2011). Secara umum manajemen siklus
penaggulangan bencana meliputi: 1) kejadian bencana (impact); 2) tanggap darurat
(emergency response); 3) pemulihan (recovery); 4) pembangunan (development); 5)
pencegahan (preventation); 6) mitigasi (mitigation); 7) kesiapsiagaan (preparedness),
Kemenkes RI, (2006). Pengambilan keputusan yang efektif dan efisien dalam
merespon bencana mutlak ditopang oleh informasi yang didapat oleh pihak pengambil
keputusan.

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana


perawat tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga
dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan
antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat
jiwa harus mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini.
Kegiatan pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat
dilakukan oleh proesi keperawatan jiwa. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki seorang perawat jiwa bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam
berbagai bentuk.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui dan memahami konsep pelayanan keperawatan jiwa
pada situasi bencana
2. Mahasiswa mampu memahami peran perawat jiwa dalam situasi bencana
3. Mahasiswa mampu mengetahui hambatan keterlibatan perawat jiwa dalam
situasi bencana
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami isu etik dan kompetensi budaya
dalam situasi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pelayanan Keperawatan Jiwa Pada Situasi Bencana


A. Pengertian Bencana
Bencana diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik
oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis (BNPB, 2008). Bencana alam atau musibah
yang menimpa di suatu negara dapat saja datang secara tiba-tiba, sehingga
masyarakat yang berada di lokasi musibah bencana, tidak sempat melakukan
antisipasi pencegahan terhadap musibah tersebut. Akibat bencana dapat
menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda
dan dampak psikologis yang dapat menghambat pembangunan nasional (UU No
24 Th 2007). Berdasarkan beberapa pengertian bencana tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa bencana adalah suatu peristiwa atau kejadian yang disebabkan
oleh faktor alam maupun ulah manusia, yang dapat mengakibatkan adanya
kerusakan, kerugian, dan kehilangan baik materi maupun non materi yang dapat
mengganggu proses kehidupan yang tidak dapat ditanggulangi tanpa bantuan dari
orang atau pihak lain.
B. Jenis Bencana
Pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana dalam Bab 1 tentang Ketentuan Umum, Pasal 1 terdapat tiga macam
bencana, yaitu: bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial.
a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, Tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.
b. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal
modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan terror.

C. Fase Bencana
Menurut Santamaria (1995) bencana terjadi melalui tiga fase yaitu pre-impact (pra-
dampak), impact (dampak), dan post-impact.
a. Fase pra-dampak (pre-impact) merupakan fase peringatan (warning phase)
yaitu tahap awal adanya bencana. Informasi diperoleh dari badan satelit
dan meteorologi cuaca, atau lembaga lain yang bertanggung jawab
terjadinya bencana b. Fase dampak merupakan fase terjadinya bencana.
b. Pada fase inilah manusia berusaha semaksimal mungkin mencari
pertolongan untuk menyelamatkan diri, keluarga, atau harta benda agar
dapat bertahan hidup (survive). Fase ini terus berlanjut hingga
mengakibatkan kerusakan dan mendapatkan bantuan-bantuan darurat.
c. Fase pasca dampak dimulai saat pemulihan dari fase darurat. Fase ini juga
ditandai dengan dimulainya masyarakat berusaha kembali melakukan
aktifitas secara normal. Secara umum dalam pasca dampak ini para korban
bencana akan mengalami dampak psikologis berupa penolakan, marah,
tawar menawar, depresi hingga akhirnya bisa menerima.
D. Dampak Bencana pada Sistem Manusia, Properti, dan Lingkungan
Bencana yang terjadi secara mendadak dan cepat umumnya mengakibatkan
perasaan syok dan ketidakberdayaan pada korban. Dampak bencana yang
ditimbulkan dapat terjadi pada sistem manusia secara holistik, dampak pada sistem
properti, dan pada system lingkungan.
1. Dampak bencana pada sistem manusia
a. Dampak bencana pada aspek fisik

Secara umum, setiap bencana akan mempengaruhi sistem tubuh manusia.


Pada aspek fisik, dampak yang ditimbulkan dapat berupa badan terasa
tegang, cepat lelah, susah tidur, mudah terkejut, palpitasi, mual, perubahan
nafsu makan, dan kebutuhan seksual menurun (Toomoko,2009).

b. Dampak bencana pada aspek psikologis

Secara khsusus dampak bencana pada aspek psikis ini adalah terhadap
emosi dan kognitif korban. Pada aspek emosi terjadi gejala-gejala sebagai
berikut: syok, rasa takut, sedih, marah, dendam, rasa bersalah, malu, rasa
tidak berdaya, kehilangan emos seperti perasaan cinta, keintiman,
kegembiraan atau perhatian pada kehidupan sehari-hari. Pada aspek
kognitif, korban bencana ini juga mengalami perubahan seperti: pikiran
kacau, salah persepsi, menurunnya kemampuan untuk mengambil
keputusan, daya konsentrasi dan daya ingat berkurang, mengingat hal-hal
yang tidak menyenangkan, dan terkadang menyalahkan dirinya sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian empiris, dampak psikologis dari bencana
dapat diketahui bendasarkan tiga faktor yaitu faktor pra bencana, faktor
bencana dan faktor pasca bencana (Tomoko, 2009)
1) Faktor pra bencana
Dampak psikologis pada faktor pra bencana ini dapat ditinjau dari beberapa
hal diantaranya jenis kelamin, usia dan pengalaman hidup, faktor budaya,
ras, karakter khas etnis, sosial ekonomi, keluarga, tingkat kekuatan mental
dan kepribadian
2) Faktor bencana
Pada faktor ini, dampak psikologis dapat ditinjau dari beberapa hal.

Diantaranya tingkat keterpaparan, ditinggal mati oleh sanak keluarga atau


sahabat, diri sendiri atau keluarga terluka, merasakan ancaman
keselamatan jiwa atau mengalami ketakutan yang luar biasa, mengalami
situasi panik pada saat bencana dan lain-lain

3) Faktor pasca bencana

Dampak psikologis pasca bencana dapat diakibatkan oleh kegiatan tertentu


dalam siklus kehidupan dan stress kronik pasca bencana yang terkait
dengan kondisi psykitrik korban bencana. Hal ini perlu adanya pemantauan
dalam jangka panjang oleh tenaga spesialis. Hal lain yang penting
diperhatikan pasca bencana adalah menginventarisasi semua sumber daya
yang ada secara terinci, konkrit dan diumumkan. Gejala dan dampak
psikologis pasca bencana juga dapat dilihat dari daftar gejala Hopkins
untuk mengetahui adanya depresi dan kecemasan. Gejala- gejala Hopkins
tersebut meliputi perasaan depresi, minat atau rasa senang yang berkurang,
dan DSM-IV kriteria. Gejala perasaan depresi meliputi mudah menangis,
merasa tidak ada harapan untuk masa depan, merasa galau dan merasa
kesepian. Minat atau rasa senang yang berkurang seperti tidak ada rasa
minat terhadap segala hal, dan hilangnya minat atau kesenangan seksual.
Sedangkan gejala DSM-IV pada kriteria A adalah nafsu makan rendah,
kesulitan untuk tidur atau tetap tidur, merasa kurang bertenaga dan atau
merasa segala sesuatu perlu usaha, menaruh kesalahan pada diri sendiri
untuk segala hal, terlalu khawatir mengenai segala hal atau merasa tidak
berguna, dan berpikir untuk bunuh diri.

c. Dampak bencana pada aspek sosial – budaya

Pada setiap bencana atau musibah pasti menimbulkan banyak kerugian,


namun tidak semua kerugian yang diakibatkan karena bencana ini dapat
dihitung. Kerugian yang selalu menjadi perhatian utama adalah kerugian pada
sektor materi atau fisik. Misalnya kerusakan bangunan dan fasilitas pada
sektor perumahan, infrastruktur, ekonomi, dan sosial. Pada sector sosial ini
yang dimaksud adalah bangunan pendidikan, tempat ibadah, pondok
pesantren, dan panti sosial. Sementara, kerugian tak langsung itu dihitung
berdasarkan keuntungan ekonomis yang hilang akibat kerusakan tersebut.
Menurut Michael Cernea dalam Mirdasy (2007), seorang antropologi dari
George Washington University, Amerika Serikat menjelaskan bahwa dampak
disintegrasi sosial, tercerai-berainya masyarakat, dan hancurnya budaya
sangatlah serius, meskipun tak kasatmata dan tak bisa dikuantifikasi.
Rusaknya komunitas, hancurnya struktur tatanan masyarakat, tercerai-
berainya jaringan formal dan informal, perkumpulan-perkumpulan,
merupakan kehilangan modal sosial yang sangat mahal meski tak bisa
dikuantifikasi. Kehilangan modal sosial itu bisa mengarah pada pemiskinan
korban dari segala sisi.

d. Dampak bencana pada aspek spiritual

Manusia sebagai makhluk yang utuh atau holistik memiliki kebutuhan yang
kompleks yaitu kebutuhan biologis, psikologis, sosial kultural dan spiritual.
Spiritual digambarkan sebagai pengalaman seseorang atau keyakinan
seseorang, dan merupakan bagian dari kekuatan yang ada pada diri seseorang
dalam memaknai kehidupannya. Bencana adalah fenomena kehidupan yang
maknanya sangat tergantung dari mana seseorang memaknainya. Disinilah
aspek spiritual ini berperan. Dalam kondisi bencana, spiritualitas seseorang
merupakan kekuatan yang luar biasa, karena spiritualitas seseorang ini
mempengaruhi persepsi dalam memaknai bencana selain faktor pengetahuan,
pengalaman, dan sosial ekonomi. Kejadian bencana dapat merubah pola
spiritualitas seseorang. Ada yang bertambah meningkat aspek spiritualitasnya
ada pula yang sebaliknya. Bagi yang meningkatkan aspek spiritualitasnya
berarti mereka meyakini bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak dan
kuasa sang Pencipta yang tidak mampu di tandingi oleh siapapun. Mereka
mendekat dengan cara meningkatkan spiritualitasnya supaya mendapatkan
kekuatan dan pertolongan dalam menghadapi bencana atau musibah yang
dialaminya. Sedangkan bagi yang menjauh umumnya karena dasar keimanan
atau keyakinan terhadap sang pencipta rendah, atau karena putus asa.

e. Dampak bencana pada aspek psikososial

Psikososial merupakan salah satu istilah yang merujuk pada perkembangan


psikologi manusia dan interaksinya dengan lingkungan sosial. Hal ini terjadi
karena tidak semua individu mampu berinteraksi atau sepenuhnya menerima
lingkungan sosial dengan baik. Psikososial adalah Suatu kondisi yang terjadi
pada individu yang mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya secara
terintegrasi. Aspek kejiwaan berasal dari dalam diri kita, sedangkan aspek
sosial berasal dari luar, dan kedua aspek ini sangat saling berpengaruh kala
mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian dampak
psikososial adalah suatu perubahan psikis dan sosial yang terjadi setelah
adanya bencana atau peristiwa traumatik misalnya tsunami, banjir, tanah
longsor atau seperti luapan lumpur Lapindo Respon individu paska trauma
bervariasi tergantung dari persepsi dan kestabilan emosi ynag dimilikinya.

f. Dampak bencana pada property

Bencana menimbulkan kerusakan dan kerugian mengakibatkan kerugian tidak


langsung yang mencakup potensi ekonomi yang hilang .

6. Dampak bencana pada lingkungan

Akibat terjadinya bencana alam, tentu menimbulkan kerugian bagi kehidupan


masyarakat seperti rusaknya rumah, rusaknya fasilitas umum, hilangnya harta
benda bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Rusaknya rumah masyarakat
akibat bencana alam, menyebabkan masyarakat pindah ke tempat
pengungsian dengan persediaan fasilitas hidup yang terbatas atau mengungsi
ke tempat saudara yang jaraknya cukup jauh dari tempat kejadian. Selain itu,
terjadinya bencana alam juga menyebabkan rusaknya fasilitas atau sarana
pendidikan yang ada seperti gedung sekolah, peralatan belajar dan
terganggunya proses belajar mengajar. Sebagai akibat kerusakan lingkungan,
selain rusaknya infrasturtur, fasilitas lain yang menyangkut kebutuhan dasar
manusia juga terganggu, misalnya ketersediaan air bersih, distribusi bahan
makanan dan pencemaran lingkungan. Semua dampak lingkungan ini, cepat
atau lambat akan mengancam status kesehatan korban bencana.

Hadi Purnomo & Ronny Sugiantoro (2010) menyebutkan bahwa 87%


wilayah Indonesia adalah rawan bencana alam, sebanyak 383 kabupaten atau
kotamadya merupakan daerah rawan bencana alam dari 440 kabupaten atau
kotamadya di seluruh Indonesia. Selain itu kondisi Indonesia dengan jumlah
penduduk yang besar dan tidak merata, keanekaragaman suku, agama, adat
istiadat, budaya dan golongan menyebabkan Indonesia sangat rawan terhadap
bencana alam. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, gunung
meletus, tanah longsor, dan angin topan yang sering terjadi di Indonesia tentu
berdampak kehancuran, juga menyebabkan penderitaan dan kerugian baik
bagi masyarakat maupun negara. Dalam situasi darurat bencana sering terjadi
kegagapan penanganan dan kesimpangsiuran informasi dan data korban
maupun kondisi kerusakan, sehingga mempersulit dalam pengambilan
kebijakan untuk penanganan darurat bencana. Sistem koordinasi juga sering
kurang terbangun dengan baik, penyaluran bantuan, distribusi logistic sulit
terpantau dengan baik sehingga kemajuan kegiatan penangan tanggap darurat
kurang terukur dan terarah secara obyektif. Situasi dan kondisi di lapangan
yang seperti itu disebabkan belum terciptanya mekanisme kerja pos komando
dan koordinasi tanggap darurat bencana yang baik, terstruktur dan sistematis
(Muhammadiyah Disaster Manajemen Center, 2011).

Secara umum manajemen siklus penaggulangan bencana meliputi: 1) kejadian


bencana (impact); 2) tanggap darurat (emergency response); 3) pemulihan
(recovery); 4) pembangunan (development); 5) pencegahan (preventation); 6)
mitigasi (mitigation); 7) kesiapsiagaan (preparedness), Kemenkes RI, (2006).
Pengambilan keputusan yang efektif dan efisien dalam merespon bencana mutlak
ditopang oleh informasi yang didapat oleh pihak pengambil keputusan. Jika informasi
tidak benar, bisa dipastikan keputusan akan salah dan intervensi yang dilakukan juga
tidak tepat (tidak efektif), juga sangat dimungkinkan menghambur-hamburkan
sumberdaya dan sumber dana (tidak effisien).

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana perawat
tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga dituntut
mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara
keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus
mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini. Kegiatan
pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat dilakukan oleh
proesi keperawatan. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang
perawat bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai bentuk.

4. Respon Kehilangan dan Berduka Akibat Bencana

Bencana menimbulkan kerugian dan gangguan pada sistem manusia. Hal ini dapat
menimbulkan berbagai perubahan. Salah satu perubahan yang sering dialami oleh
korban bencana adalah perasaan kehilangan dan berdukacita & berkabung. Kozier, et
al. (2004), mendefinisikan kehilangan adalah situasi saat ini atau yang akan terjadi
(resiko), saat dimana sesuatu yang bernilai menjadi berbeda nilainya, tidak lagi ada
ataupun bahkan hilang. Dukacita merupakan respon emosional yang dialami
berhubungan dengan kehilangan. Dukacita dapat dimanifestasikan melalui pikiran,
perasaan dan perilaku yang bercampur dengan stres berat dan penderitaan. Berkabung
adalah proses perilaku/aktivitas setelah kesedihan/dukacita telah selesai. Hal ini sering
dipengaruhi oleh budaya, pengalaman keagamaan dan adat istiadat. Berkabung
merupakan respon subyektif yang dialami seseorang setelah kematian orang yang
dikasihi yang memiliki hubungan yang berarti/erat. Penjelasan mengenai respon
psikososial kehilangan dan berdukacita-berkabung, dapat digambarkan dalam uraian
dibawah ini:
1. Tipe dan sumber – sumber kehilangan

Menurut Kozier, et al (2004) ada 2 tipe umum dari kehilangan, yaitu kehilangan aktual
dan kehilangan yang dipersepsikan. Kehilangan actual dapat diidentifikasikan oleh
orang lain dan dapat timbul sebagai respon ataupun sebagai antisipasi dari suatu situasi.
Sebagai contoh, seorang perempuan mempunyai suami yang akan meninggal dunia,
mengalami kehilangan aktual untuk mengantisipasi kematian suami. Kehilangan yang
dipersepsikan dialami oleh seseorang akan tetapi tidak dapat dijelaskan oleh orang lain.
Sebagai contoh, seorang perempuan yang meninggalkan pekerjaan untuk mengasuh
anak-anak di rumah dapat merasakan kehilangan kebebasan dan kemandirian.

2. Faktor–faktor yang berpengaruh terhadap kehilangan dan berduka cita

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi respon kehilangan antara lain jenis
kelamin, budaya, keyakinan spiritual, dan sosial ekonomi. Peran jenis kelamin dapat
mempengaruhi perubahan drastis pada aspek psikososial individu akibat suatu
kehilangan. Hal ini bisa dikarenakan karena faktor hormonal yang dapat
mempengaruhi persepsi terhadap adanya kehilangan. Faktor budaya juga
mempengaruhi respon kehilangan dan berdukacita- berkabung. Menurut Kozier, et al.
(2004), beberapa kelompok budaya menilai mendapat dukungan masyarakat dari
ekspresi kehilangan. Keyakinan spiritual dan pelaksanaannya sangat mempengaruhi
reaksi seseorang akan kehilangan dan perilaku setelahnya. Kebanyakkan kelompok
agama memiliki upacara yang berhubungan dengan sakratul maut, yang sering kali
penting bagi klien dan orang–orang yang mendukungnya (Gilbert, 1996; Moos, 1995).

3. Koping terhadap kehilangan

Berbagai reaksi ditunjukkan seseorang yang mengalami kehilangan. Menurut Kozier,


dkk (2004), usia mempengaruhi pemahaman dan reaksi kehilangan.
Perkabungan/berkabung normal biasanya terjadi sampai dengan satu tahun. Dengan
adanya pengalaman, biasanya pemahaman dan penerimaan seseorang terhadap
kehidupan, kehilangan dan kematian akan meningkat. Seseorang yang tidak biasa
menghadapi kehilangan dalam hidup atau kehilangan orang yang dikasihi, berakibat
pada kesulitan dalam menghadapi kehilangan lain yang terjadi. Usia dan pengalaman
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan koping ketika
mengalami bencana (kehilangan).

4. Tahap atau fase – fase berduka cita

Kubler – Ross (1969, dalam Kozier, dkk. 2004), membagi dukacita dalam 5 tahapan.
Pertama, denial/menolak, dengan respon perilaku: menolak untuk percaya bahwa
sedang mengalami kehilangan, tidak siap menghadapi masalah – masalah yang akan
terjadi, misalnya tidak siap untuk menggunakan protesis/kaki palsu setelah kehilangan
kaki, bisa berpura – pura bersikap gembira untuk memperpanjang penolakkan. Kedua,
anger/marah, dengan respon perilaku : Individu atau keluarga bisa langsung marah
kepada orang – orang di sekitarnya. Kemarahan tersebut sehubungan dengan masalah
yang dalam keadaan normal tidak mengganggu mereka. Ketiga, bargaining/tawar –
menawar, dengan respon perilaku : Mulai menawarkan untuk menghindari kesulitan,
mungkin akan mengungkapkan perasaan bersalah, ketakutan, hukuman, dosa masa lalu
yang dapat secara nyata ataupun tidak. Respon tawar – menawar lebih ditunjukkan
melalui aspek verbalisasi. Keempat, depression/depresi, dengan respon perilaku :
Kesedihan lebih dalam terhadap apa yang telah berlalu dan apa yang tidak dapat terjadi
lagi, mungkin tidak akan banyak berbicara ataupun menyendiri/menarik diri. Respon
depresi ini lebih dominan tercermin dari aspek perilaku. Kelima,
acceptance/penerimaan, dengan respon perilaku : Memasuki tahap akhir dari tahap
kehilangan, bisa mengalami penurunan perhatian pada keadaan sekitar dan orang –
orang terdekat. Individu mungkin mulai membuat rencana penggunaan alat bantu
seperti kaki palsu dan lain – lian, serta menata rencana kehidupannya ke depan.

5. Manajemen Bencana

Secara Nasional peristiwa bencana sudah menjadi perhatian pemerintah. Hal ini
terbukti dengan dibentuknya lembaga-lembaga yang khusus menangani masalah-
masalah yang timbul akibat bencana, seperti adanya badan penanggulangan bencana
mulai dari tingkat pusat hingga lokal tempat kejadian bencana. Manajemen bencana
difokuskan pada bagaimana manajemen bencana dilakukan agar tidak menyebabkan
gangguan atau masalah bagi kesehatan manusia, baik sebagai individu, keluarga dan
masyarakat.

a. Kompetensi perawat dalam manajemen bencana

Amelia (2007) menjelaskan, untuk menjadi perawat bencana harus mempunyai


kompetensi khusus sesuai posisinya. Bila dalam posisi manajer keperawatan, maka
seorang perawat bencana harus mempunyai kompetensi:

1) mampu membuat keputusan cepat dalam rangka mengatasi masalah bencana,


misalnya menentukan staf (SDM) yang dilibatkan dalam penanganan bencana,
memenuhi alat dan obat-obatan yang harus disiapkan, dan mampu memenuhi
kebutuhan logistik penanganan bencana

2) mampu melakukan koordinasi dengan baik pada saat terjadi bencana

Sedangkan sebagai pelaksana keperawatan, kompetensi yang harus dimiliki


adalah mampu:

1) melakukan triage darurat bencana

2) melaksanakan penyelamatan kehidupan dasar dan lanjutan

3) melaksanakan tindakan keperawatan gawat

4) memenuhi kebutuhan klien gawat darurat

5) melaksanakan pengawasan

6) membuat dokumentasi setiap tindakan

7) menangani kepanikan klien dan keluarga, dan

8) menangani sukarelawan

b. Peran perawat dalam manajemen bencana


Bencana yang terjadi seringkali menimbulkan trauma dan penderitaan bagi korban.
Sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat mempunyai tanggung jawab dalam
membantu mengatasi ancaman bencana baik pada fase preimpact, impact/emergency
maupun postimpact. Dalam melakukan pertolongan tentunya perawat tidak bisa
bekerja sendiri, namun perlu keterlibatan dan kerjasama dengan berbagai komponen
dengan koordinasi dan persiapan yang baik mulai dari pemerintahan pusat hingga
kelurahan.

Peran perawat cukup komplit, mulai dari penyusun rencana, pendidik, pemberi layanan
kesehatan dan bagian dari tim pengkajian kejadian bencana. Tujuan tindakan
keperawatan yang dilakukan selama bencana adalah untuk mencapai kemungkian
tingkat kesehatan terbaik bagi masyarakat korban. Jika perawat berada di pusat area
bencana, ia diharapkan mampu atau ikut melakukan evakuasi dan memberi pertolongan
pertama pada korban. Sementara di lokasi penampungan, perawat dapat melakukan
evaluasi kondisi korban, melakukan tindakan keperawatan berkelanjutan dan
mengkondisikan lingkungan terhadap perawatan korban dengan penyakit menular.
Untuk menjadi perawat bencana yang sigap dan terampil, ada beberapa hal yang perlu
diikuti pada masa pra bencana yaitu:

1) perawat mengikuti pedidikan dan pelatihan bagi tenaga keseahatan dalam


penanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya (preimpact, impact,
postimpact). Materi pelatihan mencakup berbagai tindakan dalam
penanggulangan ancaman dan dampak bencana. Misalnya mengenai intruksi
ancaman bahaya, mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan saat fase darurat
(makanan, air, obat-obatan, pakaian, selimut, tenda dsb) dan mengikuti
pelatihan penanganan pertama korban bencana (PPGD)

2) Perawat ikut terlibat dalam berbagai tim kesehatan, baik dari dinas kesehatan
pemerintah, organisasi lingkungan, Palang Merah Nasional, maupun LSM
dalam memberikan penyuluhan dan simulasi dalam menghadapi ancaman
bencana kepada masyarakat. Penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada
masyarakat harus meliputi:

a) pelatihan pertolongan pertama pada anggota keluarga, misalnya menolong


anggota keluarga dengan kecurigaan fraktur, perdarahan dan pertolongan luka
bakar. Pelatihan ini akan lebih baik bila keluarga juga dikenalkan mengenai
perlengkapan kesehatan (first aid kit) seperti obat penurun panas
(parasetamol), tablet antasida, antidiare, antiseptik, laksatif, termometer,
perban, plester, bidai

b) Pembekalan informasi tentang bagaimana menyimpan dan membawa


persediaan makanan, penggunaan air yang aman dan sehat

c) Perawat juga dapat memberikat beberapa alamat dan nomor telepon darurat
seperti dinas kebakaran, rumah sakit dan ambulans. f) Memberikan tempat
alternatif penampungan atau posko bencana

d) Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa (misal


pakaian seperlunya, portable radio, senter dan baterai)

Sementara untuk peristiwa emergensi, intervensi psikososial yang dilakukan pada saat-
saat gawat darurat (emergency) telah dikembangkan dan direkomendasikan oleh
kelompok kerja sebagai berikut

1) Fase segera setelah kejadian (rescue):

a) Menyediakan defusing (sarana pengungkapan tekanan/beban/emosi) dan


pelayanan intervensi krisis untuk pekerja yang memberikan bantuan
kedaruratan.

b) Memastikan keselamatan korban dan memastikan terpenuhnya kebutuhan-


kebutuhan fisik dasar (rumah, makanan, air bersih).

c) Mencari cara menyatukan kembali keluarga dan komunitas.


d) Menyediakan informasi, kenyamanan, asistensi praktis, dan pertolongan
pertama masalah emosional.

2) Fase inventory awal (bulan pertama setelah kejadian):

a) Melanjutkan tugas-tugas penyelamatan.

b) Mendidik & melatih orang lokal dan relawan mengenai efek trauma.

c) Melatih konselor-konselor tambahan untuk situasi bencana.

d) Menyediakan dukungan praktis jangka pendek.

e) Mengindentifikasi mereka yang berada dalam resiko-resiko khusus.

f) Memulai dukungan krisis, debriefing dan bentuk lain semacamnya.

3) Fase inventory lanjutan (dua bulan setelah kejadian dan setelahnya):

a) Melanjutkan tugas penyelamatan dan fase awal.

b) Menyediakan pendidikan masyarakat.

c) Mengembangkan pelayanan-pelayanan outreach, dan mengidentifikasi yang


memerlukannya.

d) Menyediakan debriefing dan aktivitas-aktivitas lain sesuai kebutuhan korban


bencana.

e) Mengembangkan layanan berbasis sekolah dan layanan-layanan lain berbasis


lembaga kemasyarakatan.

4) Fase rekonstruksi:

a) Tindaklanjut terhadap korban yang selamat yang telah ditemui atau ditangani
sebelumnya.

b) Menyediakan hotline dan cara-cara lain yang memungkinkan komunitas


menghubungi konselor.
c) Melanjutkan layanan defusing dan debriefing untuk pekerja penyelamatan dan
komunitas.

Tomoto (2009) dari Hyogo Care centre Jepang menjelaskan bahwa intervensi dasar
yang dapat dilakukan pada korban bencana adalah:

a) menjelaskan bahwa kondisi sudah aman

b) berbagi pengetahuan dan informasi, dengan melakukan pendidikan psikologis


dan memanfaatkan sumber daya local

c) tidak memaksa terhadap tindakan yang akan dilakukan tidak menjanjikan


bahwa tugas selanjutnya kita tanggung semua

Pilihan intervensi yang direkomendasikan adalah intervensi tahap awal, tindakan medis
berdasarkan diagnosis umum, dan tindakan medis oleh tenaga spesialis:

1. Intervensi tahap awal

Korban bencana yang memerlukan intervensi awal ini adalah korban yang
terasingkan, korban yang tidak dapat beristirahat sebagaimana mestinya, dan
korban yang tidak memiliki tempat yang aman untuk menceritakan
pengalamannya (Foy dkk, 1984; Keane dkk., Martin dkk., 2000 dalam Tomota,
2009). Prinsip intervensi pada tahap awal ini adalah: a) tidak membahayakan,
b) reaksi normal terhadap kondisi abnormal, c) menceritakan pengalaman dan
perasaan sendiri kepada orang yang dapat dipercaya, d) pemulihan pola hidup
normal dan aktifitas sehari-hari, e) olah raga secukupnya, dan f) usahakan
waktu tidur cukup.

2. tindakan medis berdasarkan diagnosis umum (primary care)

a) pilihan pertama: SSRI (selective serotonin Reuptake Inhibitor, misalnya


Paxil, Luvox, Depromel)

b) Pilihan kedua: Tricyclic antidepressant, Catapres, Inderal


c) Jika rasa cemas menguat, diberikan: Benzodiazepine anxiolytic dosis
tinggi, Solanax, Constan, tambahan Rivotril Landsen

d) Jika timbul dorongan impulsif dan ofensif yang kuat, diberikan


Tegretol, Depakene dan sebagainya. Tujuan diberikan obat ini tidak
untuk melupakan memori pengalaman yang traumatik namun untuk
memulihkan rasa percaya diri bahwa memori sudah dapat dikontrol.

e) Bila gejala mengarah gangguan jiwa, maka diberikan antiispychotic

3. tindakan medis oleh tenaga spesialis, seperti

a) terapi dengan obat

b) terapi dengan dukungan moral

c) EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)

d) CBT (Cognitive Behaviour Therapy), dan

e) Eksposur dalam jangka waktu panjang

Selain prinsip-prinsip intervensi tersebut diatas, Tomoto (2009) juga menjelaskan


perlunya menghindari kata-kata yang diucapkan selama memberikan intervensi karena
dapat melukai perasaan klien, antara lain:

1) teruslah berusaha. Pernyataan ini memberikan motivasi namun pada waktu


yang tidak tepat karena kondisi klien yang sedang berduka yang masih sulit
menerima advise dari luar

2) kalau kamu tidak sembuh-sembuh, orang yang sudah meninggal juga tidak akan
tenang lho!.

3) kalau kamu menangis, orang yang sudah meninggal juga tidak akan tenang lho!

4) Sudah bagus lho bahwa nyawa kamu masih bisa diselamatkan

5) Kamu kan punya keluarga, itu saja sudah bisa bahagia, bukan?

6) Anggap saja ini tidak pernah terjadi, mari mulai segalanya dari awal
7) Pasti ada hal yang baik dimasa yang akan dating

8) Cepat lupakan, bangkitkan semangatmu

9) Kamu lebih sehat dari yang saya pikirkan sebelumnya

10) Jangan berfikir begitu lagi

11) Mari berfikir positif

12) Segini saja cukupkan?

13) Tidak apa-apa lho!

Individu korban bencana merupakan pihak yang sangat rentan dan sensitive terhadap
ungkapan atau pernyataan orang lain. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan emosi
korban pasca bencana. Untuk itu perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan perlu
memahami dan melatih untuk menggunakan tehnik komunikasi secara terapeutik
ketika berinterkasi dengan klien.

c. Peran perawat kesehatan jiwa dalam manajemen bencana

Salah satu peran penting perawat kesehatan jiwa adalah melakukan intervensi
psikososial. Intervensi psikososial merupakan pemberian layanan kesehatan mental
yang tidak hanya berbasis pada layanan yang diberikan di rumah sakit jiwa, namun
lebih mengarah pada layanan yang diberikan dalam komunitas yang sifatnya lebih
informal. Intervensi ini berupaya untuk mendekatkan psikologi dan psikiatri ke dalam
kehidupan sehari-hari dan memberikan layanan kepada kelompok-kelompok yang ada
dimasyarakat baik yang mengalamai masalah psikiatri (gangguan), yang beresiko
mengalamai gangguan maupun yang sehat. Dengan intervensi psikososial, bagi yang
mengalami gangguan agar meningkat kemampuannya dan mandiri. Untuk yang
berresiko agar terhindar atau tidak terjadi gangguan, dan untuk yang sehat agar semakin
sehat dan meningkat status kesehatannya (CMHN, 2005). Intervensi psikososial selain
diberikan kepada masyarakat yang mengalami bencana, juga perlu diberikan kepada
para relawan atau pekerja kemanusiaan (yang bukan profesional kesehatan mental)
yang memberi pertologan kepada masyarakat korban.

Menurut Iskandar dkk (2005), untuk dapat melakukan intervensi psikososial secara
baik dan efektif maka langkah-langkah di bawah ini perlu diperhatikan:

a) Mengembangkan kepercayaan (trust). Terapis perlu membina hubungan saling


percaya kepada korban. Apalagi korban dalam kondisi emosi yang labil atau
masih dalam fase berkabung dan kehilangan sehingga sangat sensitif terhadap
keberadaan orang lain. Terapis perlu memperkenalkan diri dengan sopan,
mendengarkan, menghormati cara-cara dan keyakinan local dalam
berhubungan dengan masyarakat.

b) Menunjukkan empati, terutama apabila memberikan pertolongan pertama dan


bantuan tanggap darurat, sehingga masyarakat korban tidak merasa menjadi
obyek tetapi subyek dari intervensi yang dilakukan. Prosedur untuk
memberitahukan tahap-tahap yang dilakukan dalam memberi bantuan dan
mendapatkan informed consent atau izin sebelum memberikan pertolongan
wajib dilakukan.

c) Membantu atau memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan fisik dasar, misalnya


penampungan darurat, bantuan sandang dan pangan. Dapat juga memastikan
perlindungan kelompok-kelompok yang rentan kekerasan seperti perempuan
dan anak-anak

d) Tetap tenang meski orang yang dihadapi sangat gelisah, agresif, ataupun situasi
mengagetkan/berbeda tak seperti dugaan sebelumnya.

e) Dalam menghadapi individu-individu khusus, upayakan menempatkan


individu pada situasi yang aman, meminimalkan kemungkinan ia melukai diri
sendiri atau orang lain

f) Mendorong dilakukannya kegiatan-kegiatan kelompok.

g) Mengembangkan rutinitas yang positif


h) Menghadiri kegiatan meskipun sekadar ada bersama, mendengar, mengamati,
menunjukkan kepedulian.

i) Melakukan kunjungan-kunjungan rumah.

j) Mengidentifikasi masalah-masalah psikososial khusus dan orang-orang yang


menunjukan gejala-gejala trauma lebih dalam.

2.2 Peran Perawat Jiwa Dalam Situasi Bencana

Berbagai bencana telah menimbulkan korban dalam jumlah yang besar. Banyak korban
yang selamat menderita sakit dan cacat. Rumah, tempat kerja, ternak, dan peralatan
menjadi rusak atau hancur. Korban juga mengalami dampak psikologis akibat bencana,
misalnya ketakutan, kecemasan akut, perasaan mati rasa emosional, dan kesedihan
yang mendalam.

1. Tahap tanggap darurat ; pasca dampak-langsung


a. menyediakan pelayanan intervensi krisis untuk pekerja bantuan,
misalnya defusing dan debriefing untuk mencegah secondary trauma
b. memberikan pertolongan emosional pertama (emotional first aid),
misalnya berbagai macam teknik relaksasi dan terapi praktis
c. berusahalah untuk menyatukan kembali keluarga dan masyarakat
d. menghidupkan kembali aktivitas rutin bagi anak
e. menyediakan informasi, kenyamanan, dan bantuan praktis
2. Tahap pemulihan:bulan pertama
a. lanjut tahap tanggap darurat
b. mendidik professional local, relawan, dan masyarakat sehubungan
dengan efek trauma
c. melatih konselor bencana tambahan
3. Tahap pemulihan akhir : bulan kedua
a. lanjutkan tugas tanggap bencana
b. memberikan dan pelatihan masyarakat tentang reseliensi atau
ketangguhan
c. menyediakan debriefing dan layanan lainnya untuk penyintas
bencana yang membutuhkan
4. fase rekontruksi
a. melanjutkan memberikan layanan psikologis dan pembekalan bagi
pekerja kemanusiaan dan penyintas bencana
b. melanjutkan program reseliensi untuk antisipasi datangnya bencana
lagi
Remaja
-Mengajaknya sholat dan ikir untuk relaksasi
-melakukan aktifitas sosial
-melakukan aktifitas olahraga
-melakukan aktifitas kesenian seperti menari, menyanyi, main musik, drama,
melukis, dan lain-lain
-menulis
-menonton film
Orang dewasa
-ajak untuk perbanyak melakukan kegiatan agama
-temani mereka
-ajak bicara tentang apa saja sehingga ia tidak merasa sendiri
-dorong korban untuk banyak beristirahat dan makan yang cukup
-ajak korban melakukan aktifitas yang positif
Lansia
-berikan keyakinan yang positif
-dampingi pemulihan fisiknya dengan melakukan kunjungan berkala
-berikan perhatian yang khusus untuk mendapatkan kenyamanan pada lokasi
penampungan
-bantu untuk membangun kembali kontak dengan keluarga maupun
lingkungan social lainnya
-dampingi untuk mendapatkan pengobatan dan bantuan keuangan

2.3 Hambatan Keterlibatan Keperawatan Jiwa Dalam Situasi Bencana

1. Resistens
Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari penyebab
cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan alamiah atau
penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten biasanya menunjukkan
ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari pengalaman yang
menimbulkan cemas padahal hal ini merupakan bagian normal dalam proses terapeutik.
Resisten ini sering akibat dari ketidaksesuaian klien untuk berubah ketika kebutuhan
untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien pada
fase kerja, karena pada fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaiaan masalah
(Stuart danSundeen dalam Intan. 2005).
Beberapa bentuk resistensi (Stuart dan Sundeen , 1995)
1. Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan
2. Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan
yang bersifat sementara
3. Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak
mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya,.
4. Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya
dengan menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive,
atau menggunakan mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti
penghayatan
5. Perilaku amuk atau tidak rasional

2. Transference

Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku


terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang
tertentu yang bermakna baginya pada waktu sebelum terjadinya bencana..
Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini
diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama
reaksi transference yaitu reksi bermusuhan dan tergantung.

3. Coutertransference
Coutertrasference merupakan kebutuhan terapeutik yang di buat oleh perawat
dan bukan oleh klien. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan perawat-klien.
Beberapa bentuk countransference ( Stuart dan Sundeen dalamIntan, 2005):
a. Ketidakmampuan berempati terhadap klien dalam masalah kehilangan yang
terjadi saat terjadi bencana.
b. Menekan perasaan selama atau sesudah sesi.
c. Kecerobohan dalam mengimplementasikan kontrak dengan datang terlambat,
atau melampaui waktu yang telah ditentukan.
d. Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk berubah.
e. Berdebat dengan klien atau kecendrungan untuk memaksa klien sebelum ia
siap.
f. Mencoba untuk menolong klien dalam segala hal tidak berhubungan dengan
tujuan keperawatan yang telah diidentifikasi.
g. Keterlibatan dengan klien dalam tingkat personal dan sosial.
h. l. Perasaan cemas, gelisah atau persaan bersalah terhadap kien
i. m. Kecendrungan untuk memusatkan secara berulang hanya pada satu aspek
atau cara memandang pada informasi yang di berikan klien.
j. n. Kebutuhan untuk mempertahankan intervensi keperawatan dengan klien

Secara lebih singkat hambatan yang dialami perawat khususnya perawat jiwa
dalam situasi bencana adalah :

1. Terdapat hambatan penganggaran untuk mobilisasi perawat jiwa ke situasi


bencana. Misalnya pada kasus gempa bumi di Aceh pada 7 Desember 2016
silam, dimana 40 perawat jiwa yang telah dilatih modul PFA (Psychological
First Aid (PFA) mengalami hambatan untuk mobilisasi.
2. Jalur komunikasi yang terputus, gangguan alat komunikasi, gangguan alat
penerangan, serta gangguan transportasi.
3. Kendala koordinasi juga menjadi hambatan dalam melakukan pengkajian.
4. Kolaborasi yang terbentur ego sectoral

2.4 Isu Etik dan Kompetensi Budaya dalam Situasi Bencana


Sebuah refleksi atas bencana banjir bandang Wasior - Papua Barat
Banjir bandang Wasior menyisakan pilu mendalam. Kejadian itu saat ini terjadi di
dalam negeri. di sebuah Ibu Kota Teluk Wondoma-Papua Barat. Dan seperti kejadian
bencana ekologis lainnya, hal yang muncul adalah perang opini penyebab banjir
bandang yang saat ini tercatat mengorbankan 149 orang meninggal. sudah dapat
dipastikan, pemerintah melalui Menhut dan KLH menolak keras bahwa penyebab
banjir adalah pembalakan liar. Sedangkan kalangan aktifis lingkungan sebaliknya,
sangat menyakini jika banjir bandang tersebut akibat rusaknya ekologis, yang
didalamnya akibat pembabatan hutan, legal maupun illegal. Nenek-nenek juga tahu
kalau banjir itu dipicu oleh hujan. Sekalipun tanpa hujan, banjir bandang bisa saja
terjadi akibat jebolnya DAM atau bendungan yang menahan genangan air. Hal yang
kadang kurang luput dari pengamatan kita berkaitan dengan hak perlindungan dan
keselamatan adalah early warning atau peringatan dini. Sebagai upaya kesiapsiagaan
menghadapi ancaman bencana. Selain juga, pengetahuan tentang ancaman bencana
yang ada, kemampuan meminimalisasi risiko dan kesiapan menghadapi kondisi kritis
(emergency).
Kebutuhan riil PTB adalah tempat hunian yang layak sesuai dengan standar
minumum. sebuah ruang berukuran 3,5 m2 yang bersih dan sehat. Air bersih, antara
7,5 - 15 liter perhari perjiwa, kalori 2.100 Kcal, atau bantuan darurat lainnya
termasuk pelayanan kesehatan. Bahkan untuk saat ini, bagi keluarga yang belum
menemukan anggota keluarganya, memastikan mereka hidup atau mati jauh lebih
penting di bandingkan memperdebatkan atau saling tuding tentang penyebab.
Hak penduduk terkena bencana adalah terpenuhinya kebutuhan dasarnya sesuai dengan
standar minimum. Paling tidak, PERKA BNPB No 7/2008 dapat menjadi pijakan,
bagaimana negara dapat memenuhi tanggung jawabnya. Dari mulai kebutuhan air
bersih dan sanitasi, hunian sementara, pangan dan non pangan, pelayanan kesehatan.
Jangan sampai PTB yang telah menderita akibat bencana, kembali menderita atau lebih
menderita oleh berbagai wabah penyakit paska bencana dan kesulitan hidup karena
buruknya penanganan. Diare, ISPA, campak, penyakit kulit, DB atau malaria (jika
endemik) merupakan ancaman yang dapat
menyebabkan kematian dalam pengungsian. artinya, masih terdapat ancaman yang
dapat menjadi bencana kedua akibat salah atau buruknya penanganan bencana. dan ini
bukan main-main dan harus ditangani secara serius. Hal yang kerap memperburuk
kondisi dan penanganan bencana adalah kedatangan para pejabat tinggi, apalagi
setingkat Presiden di lokasi bencana. Lokasi yang harus steril dipahami di tingkat
lapang menghentikan sebagian atau bahkan seluruh aktifitas penanganan bencana. dan
itu berdampak buruk bagi PTB sendiri. sekalipun secara psikologis, mereka cukup
terbantu dengan kedatangan langsung sang pemimpin negeri.

Kompetensi Perawat Dalam Keperawatan Bencana Menurut International


Council Of Nursing (Icn)
1.Definisi kompetensi
Kompetensi dapat didefinisikan sebagai suatu karakteristik dasar individu yang
memiliki hubungan kausal atau sebab akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan,
efektif, atau berpenampilan superior di tempat kerja pada situasi tertentu (Nursalam &
Efendi, 2008).
a. Karakteristik dasar yang dimaksud adalah bahwa kompetensi harus bersifat
mendasar dan mencakup kepribadian seseorang (personality) serta dapat
memprediksikan sikap seseorang pada situasi tertentu yang sangat bervariasi
pada aktivitas pekerjaan tertentu.
b. Hubungan kausal berarti bahwa kompetensi dapat menyebabkan atau
digunakan untuk memprediksi kinerja seseorang.
c. Kriteria yang dijadikan acuan berarti bahwa kompetensi secara nyata akan
memprediksi seseorang yang bekerja dengan baik atau buruk yang sesuai
dengan kriteria spesifik atau standar.
Kepmendiknas 045/U/2002 dalam Nursalam dan Efendi (2008) kompetensi
adalah seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang
sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.
Dalam profesi kesehatan, kompetensi digunakan untuk menggambarkan
pengetahuan yang memungkinkan seorang praktisi melakukan kegiatan secara
konsisten dengan cara yang aman. Ini adalah penentu utama kinerja. Ada kesepakatan
dalam keperawatan bahwa kompetensi merupakan cerminan dari hal berikut (ICN &
WHO, 2009).
1. Pengetahuan, pemahaman, dan penilaian.
2. Berbagai keterampilan kognitif, teknis atau psikomotorik dan interpersonal; dan
3. Berbagai atribut dan sikap pribadi "(Alexander dan Runciman, 2003, hal. 16
dalam ICN & WHO, 2009).
ICN (1997, hal. 44) dalam ICN dan WHO (2009) mendefinisikan kompetensi
sebagai "tingkat kinerja yang menunjukkan aplikasi yang efektif dari pengetahuan,
keterampilan dan penilaian". Definisi ini yang digunakan sebagai fondasi untuk
Kompetensi menurut ICN dan untuk Kompetensi Keperawatan Bencana menurut ICN.
2. Kompetensi dalam keperawatan bencana menurut ICN
Ruang lingkup dan kompleksitas bencana mengharuskan perawat memiliki
seperangkat kompetensi dalam keperawatan bencana. Dari perspektif global, beberapa
model ada yang berfokus pada keperawatan bencana (Wynd, 2006, dalam ICN &
WHO, 2009). Perawat harus mampu bekerja secara internasional, dalam berbagai
pengaturan baik sesama perawat maupun dengan penyedia layanan kesehatan dari
seluruh penjuru dunia. Untuk menjamin tenaga kerja keperawatan global yang siap
untuk merespon pada saat terjadi bencana, kompetensi sangat penting.
Agar mampu menjalankan perannnya dengan tepat dalam situasi luar biasa
seperti bencana, International Nursing Coalition for Mass Casualty Education
(INCMCE) (2003) mengungkapkan bahwa terdapat standar kompetensi dan
pengetahuan minimal yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Kemampuan yang
harus disiapkan oleh perawat dalam penanganan bencana antara lain; manajemen
bencana, manajeman rumah sakit lapangan, emergency nursing, Advance Trauma Life
Support (ATLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) (Raharja, 2010).
Selain itu, World Health Organization (WHO) dan International Council of
Nurses (ICN) menyusun suatu formulasi konsep kerja ICN dalam penyusunan
kompetensi keperawatan bencana. Kompetensi ini diharapkan mampu menjelaskan
mengenai peran perawat dalam bencana. Selain itu, diharapkan juga dapat menjadi
pedoman dalam perencanaan pelatihan dan pendidikan manajemen bagi perawat
(Chan, dkk. 2010).
International Council Nurse (2007) membagi kompetensi perawat disaster dalam
empat klasifikasi yaitu:
a. kompetensi mitigasi (pencegahan),
b. kompetensi preparedness (kesiapsiagaan),
c. kompetensi respon (tanggap bencana) dan
d. kompetensi recovery dan rehabilitasi.
Dalam empat bidang, 10 domain diidentifikasi: (1) pengurangan risiko,
pencegahan penyakit dan promosi kesehatan, (2) pengembangan kebijakan dan
perencanaan, (3) praktek etis, praktek hukum dan akuntabilitas, (4) komunikasi dan
berbagi informasi; (5) pendidikan dan kesiapan; (6) mengurus masyarakat, (7)
perawatan individu dan keluarga, (8) perawatan psikologis, (9) mengurus penduduk
yang rentan, dan (10) pemulihan jangka panjang dari individu, keluarga dan
masyarakat.
Fokus dari Kompetensi Keperawatan Bencana menurut ICN adalah perawat
generalis. Kompetensi yang berkaitan dengan keperawatan khusus seperti perawatan
darurat, keperawatan anak dan keperawatan kesehatan masyarakat tidak secara khusus
dimasukkan ke dalam dokumen. Hal ini diantisipasi bahwa kompetensi perawat
praktek khusus akan diintegrasikan dengan kompetensi inti dari Kerangka ICN
Kompetensi untuk Perawat generalis. Tidak boleh dilupakan bahwa ICN generalis
kompetensi perawat berfungsi sebagai dasar dari ICN Kompetensi Keperawatan
Bencana. Keperawatan bencana melibatkan aplikasi sistematis kompetensi
keperawatan dasar dan kompetensi keperawatan bencana khusus untuk situasi bencana.
Godwin (2007, dalam Cindy, 2012) kesiapsiagaan bencana yang dapat di
lakukan oleh perawat antara lain:
1. Perawat berpartisipasi dalam mengembangkan rencana penanggulangan
bencana (Community Disaster Plan),
2. Melaksanakan pengkajian resiko (Community Risk Assesment) meliputi
kemungkinan terjadinya bencana, dampak dan kerugian yang timbul akibat
bencana, pemetaan kawasan rawan bencana,
3. Pencegahan bencana (Disaster Prevention) meliputi mencegah dan
mengurangi kerusakan akibat bencana, memindahkan korban dalam
pengungsian, peringatan dini bencana kepada masayarakat serta membuat dan
mengembangkan sistem peringatan dini, mengikuti dan berperan aktif dalam
pelatihan serta pendidikan penanggulangan bencana, melakukan identifikasi
kebutuhan pelatihan dan pendidikan penanggulangan bencana bagi perawat,
mengembangkan data perawat yang dapat dimobilisasi untuk tanggap darurat
4. Melakukan triage bencana dan melakukan evaluasi semua komponen dalam
penanggulangan bencana (Disaster Nursing Respon).
Kompetensi yang dibutuhkan oleh perawat, yaitu (Chan, dkk. 2010):
a. Promosi kesehatan dalam tahap mitigasi
b. Triage
c. Komunikasi dan transportasi
d. Pre hospital transfer skills
e. Wound management
f. Interviewing skills
g. Psychological firs aid
h. Pengkajian individu, keluarga dan komunitas
Selain kompetensi di atas, ICN juga menyebutkan terdapat beberapa
kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh perawat, yaitu:
a. Pengkajian kardiovaskular
b. Pengkajian luka bakar
c. Pengkajian mental status
d. Manajemen crush injuries dan fraktur.

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana


perawat tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga
dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan
antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat
harus mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini. Kegiatan
pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat dilakukan oleh
proesi keperawatan. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang
perawat bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai bentuk.
Meningkatnya kejadian bencana di seluruh dunia membuat setiap negara untuk siap
menghadapi hal yang tidak terduga, termasuk bencana alam. M Manajemen
bencana yang tepat dalam kesiapsiagaan, respon dan fase pemulihan sangat penting
untuk dibentuk. Meskipun banyak disiplin ilmu yang diperlukan untuk mendukung
manajemen bencana, perawat dianggap sebagai salah satu profesi kesehatan yang harus
disiapkan untuk menghadapi dan menangani bencana alam. Dengan demikian,
kesadaran sangat dibutuhkan dari perawat yang bekerja di daerah berisiko tinggi
dengan bencana. Disamping itu, perawat perlu mempersiapkan diri dengan memiliki
pengetahuan dasar serta keterampilan untuk menghadapi bencana. Dengan demikian,
perawat bertanggung jawab untuk mencapai peran dan kompetensi mereka dalam
semua tahap bencana, terutama pada fase respon atau tanggap darurat yang meliputi
peringatan, mobilisasi, dan evakuasi adalah tanggung jawab pertama yang dicapai.

Kemudian, menilai masalah kesehatan korban dan pelaporan data ke instansi


pemerintah terkait harus dilakukan dalam rangka untuk memberikan dan menstabilkan
kondisi kesehatan korban bencana.

3.2 Saran

manajemen bencana yang tepat dalam kesiapsiagaan, respon dan fase pemulihan sangat
penting untuk dibentuk. Meskipun banyak disiplin ilmu yang diperlukan untuk
mendukung manajemen bencana, perawat dianggap sebagai salah satu profesi
kesehatan yang harus disiapkan untuk menghadapi dan menangani bencana alam.
engan demikian, kesadaran sangat dibutuhkan dari perawat yang bekerja di daerah
berisiko tinggi dengan bencana.
DAFTAR PUSTAKA

Adeney, Farsijana.(2007).Perempuan Dan Bencana. Yogyakarta : Selendang Ungu


Press

Ardia Putra, Ratna Juwita, Risna, Rudi Alfiandi, Yuni Arnita, M. Iqbal, Ervina. Peran
Dan Kepemimpinan Perawat Dalam Manajemen Bencana Pada Fase
Tanggap Darurat. Bidang Keilmuan Keperawatan Dasar Dasar Keperawatan,
Fakultas Keperawatan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Vol. VI No. 1.

Ellis R.B & Gates R.J. 2000. Komunikasi Interpersonal dalam


Keperawatan(terjemahan). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Fitria, H., (2011). Tanggap Darurat Bencana (Studi Kasus:Tanggap Darurat Bencana
Gunung Api Merapi Kabupaten Sleman Tahun 2010) diunduh dari
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20 271095-s466-tanggap%20darurat
skripsi digital, pada tanggal 5 Desember 2014.
Effendi, F., & Makhfudli, (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori
dan Praktik Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Assyari, M., (2010). Permasalahan anak berkebutuhan khusus.Diunduh dari


Universitas Pendidikan Indonesia skripsi digital, pada tanggal 12 Januari
2011. , Pedoman assessment tanggap darurat. Di unduh dari
http://www.mcdc.or.id/index.php/down load-file/catergory/6-panduan-
tanggap-darurat-pedomanassesmenttanggapdarurat, pada tanggal 4
Desember 2014.

Japanese Red Cross Society & PMI. (2009). Keperawatan Bencana. Banda Aceh:
Forum Keperawatan Bencana

Knebel, AR., Toomey, L., Libby, M., (2012). Nursing Leadership in disaster
preparedness and Reponses. Annual Review of Nursing research Spinger
Publishing Company Diunduh dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2
4894051, pada tanggal Desember 2014.

Mepsa. P, (2012). Peran Mahasiswa Keperawatan Dalam Tanggap


Bencana. Diunduh dari
http://fkep.unand.ac.id/images/peran_mahasiswa_keperawatan_dalam_tangg
ap _bencana.docx. Diakses tanggal 5 Desember 2014.

Mundakir. (2009). Dampak Psikososial Akibat Bencana Lumpur Lapindo di Desa


Nova Riyanti Yusuf (Psikiater Di Rs Jiwa Soeharto Heerdjan, Ketua Umum
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Pdskji) Dki Jakarta) dalam
tulisannya “Tantangan Implementasi Pertolongan Pertama Psikologis Pasca
Bencana Alam” di Rappler Indonesia diakses tanggal 24 Maret 2018 pukul
21.11 WITA
Alimul A.A. 2003. Riset Keperawatan & Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta:
Pernerbit Salemba Medika.

Pajarakan Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Tesis.Universitas Indonesia

Effendi & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori


Dan Praktik Dalam Keperawatan. Jakarta: Selemba Medika.

Pan America Health Organization (2001). Establishing a mass casualty management


system. Washington: PAHO

Pan America Health Organization. (2006). Bencana alam: perlindungan kesehatan


masyarakat. Jakarta: EGC

Sukandarrumidi. (2010). Bencana Alam dan Bencana Anthropogene. Yogyakarta:


Kanisius

Veenema, T.G. (2007 ). Disaster nursing and emergency preparedness for chemical,
biological, and radiological terorisme and other hazard ( 2 nd ed ). New
York : Springer Publishing Company.

Zailani. 2009. Keperawatan Bencana. Banda Aceh: Forum Keperawatan Bencana


Yati Nur Azizah1, Retty Ratnawati2, Setyoadi3. Pengalaman Perawat Dalam
Melakukan Penilaian Cepat Kesehatan Kejadian Bencana Pada Tanggap
Darurat Bencana Erupsi Gunung Kelud Tahun 2014 Di Kabupaten Malang
(Studi Fenomenologi). Jurnal Ilmu Keperawatan, Vol: 3, No. 2, November
2015