Anda di halaman 1dari 20

MODUL PERKULIAHAN

Tes
Inventori
Modul Standar untuk
digunakan dalam
Perkuliahan di Universitas
Mercu Buana

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

03
Fakultas Psikologi Psikologi Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM

Abstract Kompetensi
Penjelasan tentang tes MMPI, Mahasiswa dapat memahami
definisi, penskalaan, bentuk soal penskalaan tes MMPI dan
dan penggunaan tes MMPI melakukan interpretasi dari hasil tes
MMPI
TES MMPI (Minnesota Multiphasic
Personality Inventory)

I. Definisi

MMPI Adalah kependekan dari Minnesota Multiphasic Persinality Inventory suatu tes
psikologi yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi psikopatologi pada seorang subyek. Tes
ini terdiri dari 566 pernyataan yang perlu dijawab oleh subyek. Dari sini terlihat apakah pada
subyek tersebut terdapat gangguan jiwa, psikopatologi ataukah dia termasuk orang normal
yang tidak menderita gangguan jiwa. Yang diukur dalam tes ini adalah ciri-ciri kepribadian
yang bersifat relatif menetap (personality Traits). Dengan demikian nilai prediktif dari tes ini
cukup tinggi, karena fokusnya adalah ciri-ciri kepribadian, yang dalam jangka waktu yang
lama tidak akan berubah banyak. Untuk tes ini tidak memerlukan peralatan banyak, yaitu
hanya sebuah buku yang berisi 566 pernyataan beserta pedomanya, lembar jawaban dan
tempat yang nyaman untuk dapat bekerja. Sewaktu melakukan testing tidak diperlukan
tenaga ahli untuk mengawasinya, tetapi dalam analisis dan pelaporan hasilnya diperlukan
expertise yang cukup tinggi, yaitu seorang yang tahu benar tentang masalah-masalah klinik
psikiatri dan paham pula akan psikometrik. Di Amerika telah tersedia beberapa program
computer yang dengan langsung dapat menghasilkan laporan lengkap tentang informasi
yang terdapat dalam MMPI, tetapi pada umumnya fasilitas ini lebih banyak digunakan untuk
mengadakan seleksi massal. Bagi laporan untuk seorang pasien pada umumnya masih
dipergunakan laporan yang lebih terinci dan terarah kepada kepentingan individual pasien.

II. Sejarah MMPI

MMPI dikembangkan sejak tahun 1940 di USA oleh S.R. Hathaway, seorang
psikolog dan J.C. Mckinley, seorang psikiater. Maksud dari penyusunan MMPI adalah untuk
secara akurat dapat memberikan gambaran tentang dimensi-dimensi kepribadian dan
psikopatologi yang penting dalam klinik psikiatri. Jadi jelas tujuan dari tes ini adalah untuk
membantu para psikiater (atau petugas kesehatan lain) dalam menetapkan sindrom atau
psikopatologi pada pasien dan skrining dari petugas-petugas tertentu.

Dari seluruh pernyataan-pernyataan ini kemudian disusun skala-skala tertentu yang


menggambarkan sindrom-sindrom yang sering ditemukan dalam pengalaman klinik sehari-

‘13 Tes Inventori


2 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
hari. Disamping itu disusun pula validitas untuk menilai sejauh mana MMPI yang telah diisi
oleh subyek dapat dipercaya kebenaranya.

Starke R Hathaway dan JC McKinley pada awalnya menggabungkan


1000 item terpilih dari berbagai sumber, termasuk sejarah kasus, laporan psikologis, buku
bacaan dan tes yang sudah ada. Kemudian mereka memilih 504 item yang dinilai
independen satu sama lain. Pada tes ini ditambahkan 46 butir yang memberikan informasi
tentang minat jenis kelamin dan gangguan seksual. Untuk mempermudah pengolahan pada
waktu itu ditambahkan 16 butir yang sama (duplikasi), sehingga seluruh tes berisi 566
pernyataan. Dari seluruh pernyataan-pernyataan ini kemudian disusun skala-skala tertentu
yang menggambarkan sindrom-sindrom yang sering ditemukan dalam pengalaman klinik
sehari-hari. Disamping itu disusun pula validitas untuk menilai sejauh mana MMPI yang
telah diisi oleh subyek dapat dipercaya kebenaranya.

Skala lalu ditentukan secara empiris dengan memberikan item kepada kelompok
kriteria dan kelompok kontrol. Kelompok kriteria yang digunakan untuk mengembangkan
MMPI terdiri dari pasien psikiatri di University of Minnesota Hospital. Pasien psikiatri tersebut
dibagi menjadi delapan kelompok berdasarkan diagnosis kejiwaan mereka. Meskipun pada
awalnya ada pasien sebanyak 800 orang, tetapi jumlah tersebut secara besar dikurangi
untuk mendapatkan kelompok yang homogen melalui kesepakatan yang kuat dengan
diagnosis. Delapan kelompok kriteria akhir terdiri atas setidaknya lima puluh pasien :
1. Hipokondriasis
2. Pasien depresi
3. Histeria, yaitu individu yang menunjukkan masalah fisik tanpa adanya sebab fisik
4. Penyimpangan terkait psikopati, yaitu individu yang nakal, kriminal atau antisosial
5. Paranoid, yaitu individu yang menunjukkan simtom seperti waham
6. Psychasthenics, yaitu individu dengan gangguan yang memiliki ciri penyangkalan
yang brelebihan dan ketakutan yang tidak rasional
7. Skizofrenia, yaitu individu dengan gangguan psikotik seperti halusinasi dan masalah
berpikir (seperti penalaran yang tidak logis)
8. Hipomania, yaitu individu dengan gangguan yang memiliki ciri hiperaktivitas dan
mudah marah.

III. Perkembangan MMPI di Indonesia

Mulai tahun 1972 karena para psikiater merasa perlunya mengunakan MMPI sebagai
Instrumen bantuan dalan klinik psikiatri. Dalam tahap pertama diadakan penterjemahan dari
butir MMPI tanpa melihat apakah butir-butir itu dapat diaplikasikan terhadap orang
Indonesia. Dari hasil percobaan, tampak bahwa MMPI yang diterjemahkan saja tidak dapat

‘13 Tes Inventori


3 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
memberikan gambaran yang dapat dipercaya tentang dimensi-dimensi gangguan jiwa pada
seseorang. Ini disebabkan karena:

 Bahasa yang digunakan terlalu kompleks dan kurang dimengerti maksudnya oleh
subyek yang mengisi MMPI
 Terdapat banyak butir-butir yang tidak sesuai dengan keadaan dan bumi Indonesia,
begitu pula gejala-gejala yang dianggap wajar di Amerika tetapi di Indonesia tidak
lazim.
 Scoring yang berlaku untuk orang amerika tidak dapat begitu saja digunakan pada
orang Indonesia
 Banyak butir sama sekali tidak dimengerti orang Indonesia, karena kurang relevan
 Fenomenologi gejala yang berbeda, misalnhya jalan melompat sejumlah tegel

Berdasarkan pengalaman itu akhirnya dibentuk tim penguji yang akan mengkaji
setiap butir, diambil yang sesuai dengan keadaan orang Indonesia dan membuang yang
kurang relevan. Bahasanyapun disederhanakan sejelas mungkin dan sependek mungkin.

Setelan fase validation disusunlah MMPI versi Indonesia yang hasilnya dicoba pada
sejumlah mahasiswa normal.dari hasil inilah disusun scoring untuk orang Indonesia.
Publikasi mengenai hasilnya telah dilakukan dalam kalangan terbatas.

IV. Skala dalam MMPI

Tes MMPI berisikan skala validitas (skala ?, skala L, skala F, dan skala K) dan skala
klinis (skala 1 sampai dengan skala 0).
 Skala Validitas[
1) Skala ? : skala yang disebut sebagai skala tidak tahu adalah sejumlah pernyataan yang
dibiarkan kosong. Yang dianggap skor tinggi adalah 30 atau lebih butir pernyataan yang
tidak dijawab . Dan apabila ini terjadi, maka tes MMPI dikembalikan kepada individu
untuk mengisi yang dikosongkan. Bila seseorang mengisi tidak kurang dari 10 butir
pernyataan, maka dibiarkan saja karena tidak mempengaruhi hasil. Seseorang yang
banyak tidak mengisi butir pernyataan, biasanya tergolong orang yang tidak kooperatif,
kurang dapat mengambil keputusan karena ragu-ragu, terlalu berintelektualisasi, dan
terkadang memiliki ciri-ciri obsesif.
2) Skala L (Lie Scale) : skala yang terdiri dari 15 pernyataan yang berisi kekurangan-
kekurangan kecil yang terdapat pada setiap orang, dan setiap orang itu rela
mengakuinya. Skor yang tinggi berarti bahwa subjek berusaha menampakkan diri sebaik
mungkin di hadapan orang lain, menyembunyikan hal-hal yang kurang baik tentang

‘13 Tes Inventori


4 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dirinya dalam tes yang mengakibatkan dia mengisi MMPI dengan tidak secara jujur atau
banyak berbohong. Orang yang mendapat skor rendah termasuk orang yang tegang,
kurang mawas diri, dan berpendirian agak kaku.
3) Skala F : skala ini terdiri dari 64 pernyataan dan jarang sekali dijawab sesuai dengan
arah skoringnya. Bila terdapat skor tinggi pada skala ini, maka kebenaran tes kurang
dapat dipercayai. Bila terdapat skor yang rendah pada skala ini, maka subjek mengerti
benar apa yang ditanyakan dan mengisi tes sesuai instruksi. Individu dengan skor yang
rendah biasanya tergolong orang yang konvensional, dapat diandalkan dan mempunyai
minat-minat terbatas.
4) Skala K : skala yang terdiri dari 30 butir pernyataan untuk mengukur sikap subjek
terhadap tes. Skor tinggi subjek berarti subjek bersikap defensif, tidak mau mengakui
kekurangan atau kelemahan psikologisnya. Skor yang sedang berarti subjek memiliki
kekuatan ego yang baik, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan memiliki
kemampuan adaptif yang baik. Skor rendah berarti subjek terlalu terbuka,
terlalu kritis terhadap dirinya, kurang puas dengan kedaannya, serta bersedia mengakui
gangguan dan gejala-gejalanya.

 Skala Klinis
1) Skala 1 : skala yang terdiri dari 33 pernyataan dan menggambarkan dimensi gangguan
fisik dan fungsi tubuh. Skor tinggi berarti subjek terlalu memperhatikan kesehatan
tubuhnya dan merasakan keluhan-keluhan somatik lebih dari yang biasa. Skor rendah
berarti subjek memiliki energi yang penuh, ambisius, tidak memiliki hambatan-hambatan,
dan tidak menghiraukan keluhan fisik.
2) Skala 2 : skala yang terdiri dari 60 butir pernyataan yang menggambarkan
dimensi depresi. Skor tinggi berarti individu mengalami depresi, suka memikirkan
sesuatu dengan perasaan cemas dan pesimistik. Skor sedang berarti subjek berekasi
baik terhadap psikoterapi. Skor rendah berarti subjek mempunyai pandangan hidup
yang optimistik, gembira, spontan dan kadang-kadang kurang mengalami hambatan.
3) Skala 3 : skala yang terdiri dari 60 pernyataan yang menggambarkan konversi. Skor
tinggi menunjukkan adanya ketidakmatangan, represi yang bersifat histeris, mudah
terpengaruh oleh sugesti-sugesti dan mudah bereaksi secara emosional. Skor rendah
berarti subjek kurang spontan dan seorang yang kurang senang berpatisipasi dengan
orang-orang lain.
4) Skala 4 : skala yang terdiri dari 50 pernyataan dan menggambarkan orang yang tidak
menghiraukan nilai-nilai sosial, kurang mampu mengambil manfaat dari pengalaman dan
sukar mengadakan hubungan interpersonal yang lama. Skor tinggi berarti subjek
adalah impulsif, kurang mampu memberikan reaksi emosional yang mendalam, dan

‘13 Tes Inventori


5 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
marah terhadap orang lain. Skor sedang berarti subjek adalah orang yang suka
berpetualangan, suka bergaul dan suka berbicara banyak. Skor rendah berarti subjek
adalah seorang yang penurut dan tidak banyak tingkah lakunya.
5) Skala 5 : skala yang terdiri dari 60 pernyataan untuk wanita dan 60 pernyataan untuk
pria serta menggambarkan minat dan perhatian terhadap orang yang tidak sejenis. Skor
tinggi pada pria berarti dia termasuk orang yang sensitif, memiliki minat dan kesenangan
yang bersifat feminim. Skor tinggi pada wanita berarti dia termasuk orang
yang kompetitif,agresif, maskulin dan aktif. Skor rendah pada pria berarti dia suka
berpetualang, lebih suka bersikap dan bertindak aktif. Pada wanita, skor rendah berarti
minat yang bersifat sangat feminim, pasif dan bersedia menerima tugas-tugas yang
berat.
6) Skala 6 : skala yang terdiri dari 40 butir pernyataan dan mengambarkan dimensi
kecurigaan, merasa dikejar dan gejala paranoid. Skor tinggi pada skala ini berarti subjek
mempunyai sifat sangat curiga yang besar, disertai dengan kurangnya perhatian
terhadap lingkungannya, kurang ada kontak sosial dan keras kepala.
7) Skala 7 : skala yang terdiri dari 48 pernyataan dan menggambarkan sindrom neurotik,
seperti fobia, obsesi dan kompulsif. Skor tinggi berarti subjek mengalami kecemasan,
berpendirian kaku, sangat ragu-ragu, dan memiliki kepercayaan diri kurang. Skor rendah
berarti subjek dapat berpikir teratur dan baik, realistik dan dapat menggunakan
kemampuan-kemampuannya dengan lancar dan mudah.
8) Skala 8 : skala yang terdiri dari 78 pernyataan dan menggambarkan dimensi
psikopatologi pikiran aneh serta tingkah laku yang banyak kaitannya dengan skizofrenia.
Skor tinggi berarti subjek kurang suka bergaul, suka menarik diri dari lingkungannya,
melakukan hal-hal yang berada di luar norma-norma masyarakat. Skor rendah berarti
subjek merupakan orang yang konvensional, terkontrol, dan memiliki ciri-ciri orang
penurut.
9) Skala 9 : skala yang terdiri dari 49 pernyataan dan menggambarkan dimensi hipomania,
emosionalitas, impulsivitas, pikiran-pikiran dan aktivitas-aktivitas yang berlebihan. Skor
tinggi berarti subjek mempunyai tingkat energi yang tinggi, kurang tenang, gelisah, tidak
sabar dan hiperaktif. Skor tinggi sekali berarti subjek menderita gangguan bipolar
tipemanik. Skor rendah berarti subjek mempunyai tingkat energi yang rendah, tidak
kompetitif, dan kurang percaya diri.
10) Skala 0 : skala yang terdiri dari 70 pernyataan dan menggambarkan dimensi minat untuk
berpatisipasi secara sosia. Skor tinggi berarti subjek adalah pemalu, kurang pandai
bergaul dengan orang lain, sensitif dan lebih suka menyendiri. Skor rendah berarti
subjek suka bergaul, ramah, dan banyak mengadakan hubungan interaktif dengan orang
lain.

‘13 Tes Inventori


6 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
V. Interpretasi kelompok MMPI skala Klinis
 Hypochondriasis (Hs)
Didefinisikan sebagai gejala gangguan somatoform, yaitu gangguan psikis yang
dimanifestasikan terhadap simptom psikis. Pasien mengembangkan gangguan psikis
menjadi keluhan fisik yang sering diistilahkan sebagai keluhan hipokondrial.
Dengan skor Hs tinggi menunjukkan perhatian terhadap kondisi tubuh yang berlebih
dari gangguan-gangguan yang muncul. Gangguan tersebut meluas terhadap gejala somatis
tidak jelas yang bervariatif seperti gangguan epigastrik, fatig, gejala kronis dan lemah atau
lesu secara umum. Dalam terapi, pasien dengan nilai Hs tinggi menunjukkan kecemasan
yang lebih sedikit dibandingkan dengan gangguan lain. Sifat yang muncul biasanya
mementingkan diri sendiri, berorientasi diri sendiri dan narsistik.Penelitian menunjukkan
mereka dengan kondisi Hs tinggi adalah orang yang pesimis, pertahanan diri kuat, merasa
tidak puas dengan orang lain dan secara umum merasa kurang bahagia. Mereka
menunjukkan sinisme terhadap hidup.
Hubungan interpersonal yang dilakukannya tidak lancar dan orang lain merasa bisa
merasa sedih dengan keluhan-keluhan kronis yang dideritanya. Mereka akan sering
mengeluh, ingin diperhatikan dan kritis terhadap orang lain. Karena terlalu peka, mereka
sering menuntut sesuatu yang tidak objektif kepada orang lain dan terkadang menunjukkan
kekerasan meskipun secara tidak langsung. Aktivitas yang terlihat kurang dan tampak ia
seorang yang membosankan, kurang antusias terhadap sesuatu dan kurang ambisius.
Terlihat dari ekspresi verbal ia kurang efektif. Dengan skor tinggi, seseorang akan tampak
kurang efisien meskipun tanpa penurunan kemampuan. Pada terapi, mereka kurang
responsif dan dengan cepat ingin menghentikannya apabila terapis dianggap kurang
memberikan perhatian atau dukungan. Mereka cenderung meyakini pengobatan medis dan
kurang percaya apabila gangguannya adalah psikis.
 Depression (D)
Hampir keseluruhan orang dengan skor D tinggi mengalami gangguan depresi dan
depresi manik. Digambarkan pasien mengalami perasaan sedih atau tidak bahagia. Mereka
diindikasikan sebagai orang yang terhambat dan pesimis dengan masa depannya. Ia sangat
mengkritisi diri sendiri dan merasa bersalah dengan seringkali tanpa alasan jelas. Ia merasa
kesehatannya menurun, lambat dalam beraktivitas dan sering merasa lemah dan capek.
Banyak pula yang mengalami kecemasan dan tegang, sering pula merasakan tegang dan
sensitif meskipun terhadap hal-hal yang sepele.
Orang dengan skor tinggi tidak dilaporkan adanya perasaan tidak berharga atau
lemah dalam beraktivitas. Ia tampak sebagai orang yang kurang agresif, pemalu, hambatan
dalam kepercayaan dirinya dan sering merasa cemas terhadap hal-hal kecil yang terjadi.

‘13 Tes Inventori


7 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Menjauhkan diri secara sosial mungkin saja terjadi, karena kecenderungan mereka menjaga
jarak dengan kontak yang terjadi secara psikis khususnya hubungan emosional yang
mendalam. Banyak dari mereka menunjukkan keraguan dalam berpikir atau berperilaku.
Mereka akan kesulitan dalam mengambil keputusan. Respon terhadap terapi cukup baik
dimana mereka cenderung mengikuti tanpa dorongan membantah dari terapis, apalagi
terapis yang memiliki intensitas tinggi terhadap perhatian dan dukungan kepada Klien.
Hysteria (Hy)
Orang dengan skor tinggi pada skala ini menunjukkan simptom fisik yang tidak jelas
seperti sakit kepala, pegal-pegal pada bahu, otot lemah, detak jantung tidak normal atau
simptom fisik lain yang tidak jelas dengan tidak adanya diagnosa medis yang menunjukkan
gangguan pada fisik. Skala ini dipahami dari munculnya simptom somatis dari penampilan
kepribadian yang menunjukkan ketidakmampuan secara efektif dalam menghadapi stressor
(tekanan). Orang dengan profil ini menunjukkan pengingkaran atau menekan konflik yang
ada dan seringkali gagal dalam menyelesaikannya secara baik dan wajar. Mereka
menunjukkan ketidakmampuan mendapatkan insight terhadap sebab-sebab dari gangguan
yang berdampak pada rendahnya motivasi atau perasaan untuk mencoba mencari jalan
keluar.Tidak banyak dilaporkan muncul delusi, halusinasi atau kecurigaan berlebih, namun
seringkali disertai sedikit gangguan kecemasan, tegang atau depresi. Pada saat muncul
kecemasan atau ketakutan, simptom akan muncul berbarengan dengan adanya stressor
dan secara tiba-tiba akan menghilang. Skor tinggi juga disertai sifat tidak dewasa secara
mental, kekanak-kanakan atau infantil dan berorientasi pada diri sendiri. Ia juga narsistik dan
egosentris. Ia menuntut perhatian dan afeksi yang tinggi dari orang lain.
Orang dengan skala tinggi tidak menunjukkan kemarahan atau ketidaksukaan secara
terbuka namun dilakukan secara tidak langsung dari hubungan interpersonal yang terjalin.
Mereka memanipulasi hubungan yang terjalin dengan orang lain untuk kebutuhan dirinya
sendiri. Secara sosial mereka terlibat namun tidak disertai dengan ketulusan. Mereka dapat
akrab, aktif berkomunikasi dan antusias. Mereka dapat bertindak namun dengan cara yang
tidak wajar dan menunjukkan sedikit perhatian terhadap kepentingan orang lain.
Pasien dengan tipe ini sulit mengikuti terapi dengan baik karena kecenderungan
pengingkaran yang tinggi dan kecenderungan melihat dirinya pada posisi yang benar. Meski
dapat mengikuti terapi dengan antusias, mereka kurang dapat merespon terhadap insight
diri sendiri karena resistensi yang tinggi terhadap nasihat psikologis yang diberikan. Mereka
cenderung lambat untuk mengetahui sebab-sebab permasalahan sehingga untuk tipe
pasien seperti ini akan lebih sesuai menggunakan “direct advice” dibandingkan dengan
terapi yang berorientasi pada “insight-oriented”.
 Psychopathic deviate (Pd)

‘13 Tes Inventori


8 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Orang dengan skor tinggi menunjukkan karakteristik perilaku anti-sosial, termasuk
perilaku membangkang terhadap figur otoritas, ketegangan dalam hubungan keluarga dan
tindakan berlebih dengan tanpa pertimbangan konsekuensi atau akibat yang akan
dihasilkan. Mereka akan cenderung menyalahkan orang lain terhadap masalahnya, yang
dapat direfleksikan dari pengalamannya seperti kurang berprestasi dirinya di sekolah,
perilaku buruk dalam bekerja atau hubungan perkawinan yang kurang harmonis.
Bermasalah dengan hukum mungkin saja terjadi.
Mereka bertindak secara impulsif tanpa dilakukan pertimbangan matang, toleransi
terhadap frustasi rendah dan seringkali bereaksi terhadap impulsifitasnya. Tindakan tidak
direncanakan dengan baik, lemah dalam mengambil keputusan dan akan mengambil resiko
terhadap hal-hal yang secara umum tidak dilakukan oleh orang lain. Mereka tidak belajar
dari pengalaman, dan akan mengulangi perilaku negatif tersebut meskipun seringkali
mendapatkan imbalan buruk berupa teguran atau hukuman. Mereka akan dipandang
sebagai kurang dewasa, kekanak-kanakan, egois dan narsistik. Mereka terkesan hedonis,
suka pamer, hura-hura dan tidak sensitif dengan kebutuhan orang lain. Hubungan yang
dijalin secara sosial tidak tulus dan menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri.
Meskipun dapat membuat kesan pertama yang menyenangkan dan mudah akrab, namun
hubungan yang terjalin tidak bertahan lama karena berorientasi pada diri sendiri. Mereka
juga tidak membangun kehangatan dalam berinteraksi.
Secara individu akan tampak ekstrovert, mudah bergaul, aktif berbicara, hiperaktif
dan tindakannya spontan dalam kelompok. Mereka tampak pintar dan percaya diri meskipun
aktivitasnya tanpa tujuan jelas. Hubungan yang terjalin biasanya bersifat kasar, agresif,
keras, sinis, membangkang dan terkadang pendendam. Mereka seringkali bertindak sangat
agresif dan sering mengajak berkelahi Biasanya mereka tidak disertai gangguan
kecemasan, depresi maupun simptom psikotik. Mereka cenderung didiagnosa sebagai
gangguan kepribadian terutama perilaku anti-sosial atau kepribadian pasif-agresif.
Prognosis pada treatmen buruk, dimana pasien cenderung menunjukkan insight
pada perilakunya karena tidak menunjukkan penyesalan atau kekhawatiran dari perilakunya
selama ini. Selain itu pasien akan cenderung menyalahkan orang lain dan menggunakan
intelektualisasi daripada menghadapinya sebagai tanggung jawab diri. Mereka seringkali
menghentikan treatmen tanpa ada perubahan.
 Masculinity-Femininity (Mf)
Kecenderungan skala ini lebih melihat peran gender dan bukan skala psikopatologis.
Laki-laki
Dengan skor >80 memperlihatkan individu memiliki konflik terhadap identitas seksual
dan merasa tidak aman dengan peran maskulin. Mereka akan cenderung menyukai aestetik
dan artistik melebihi laki-laki pada umumnya. Penelitian menunjukkan mereka menunjukkan

‘13 Tes Inventori


9 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
intelegensi tinggi dan dapat melakukan aktivitas kognitif dengan baik. Mereka digambarkan
sebagai orang yang ambisius, kompetitif, sikapnya meyakinkan, pintar, berpikir jernih, teratur
dan dapat mengambil keputusan dengan baik. Mereka cenderung kreatif, keingin-tahuannya
tinggi dan imajinatif. Mereka bersosialisasi dengan baik, peka terhadap orang lain, toleran
dan dapat mengekspresikan kehangatan kepada orang lain. Orang lain melihat pasif,
tergantung dan tenang dengan orientasi jauh dari agresivitas. Mereka cenderung penurut
terhadap situasi konflik untuk menghindari konfrontasi. Laki-laki dengan pendidikan tinggi
menunjukkan skor tinggi dibandingkan dengan laki-laki dengan pendidikan rendah.
Skor antara 70-79 terlihat sebagai figur sensitif, insight dan toleran. Mereka memiliki
ketertarikan luas terhadap budaya, dan terkadang tenang dan pasif dalam menjalin
hubungan interpersonal. Pada analisa klinis dapat menunjukkan kebingungan peran seksual
atau permasalahan pada penyesuaian jenis kelamin.
Skor <35 menunjukkan dirinya “macho” dengan orientasi tinggi terhadap
maskulinitas. Mereka ingin menunjukkan dirinya secara fisik kuat, gagah dan agresif.
Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap pencarian sensasi ketegangan adrenalin melalui
aktivitas fisik, petualangan dan cenderung vulgar dalam menjalin hubungan. Mereka
sebenarnya tampak ragu dengan maskulinitasnya dan merasa perlu bukti dengan
ketertarikan dan perilaku maskulin-nya. Dengan skala Mf rendah pada laki-laki menunjukkan
keterbatasan pada intelektualitasnya dan kurang tertarik terhadap budaya. Mereka kurang
fleksibel dalam bertindak dan memiliki pendekatan permasalahan yang tidak original.
Mereka cenderung bertindak praktis dan non-teoritis. Mereka juga cenderung menghindari
aktivitas yang membutuhkan pemikiran tinggi dan tidak suka mendiskusikan hubungan
interpersonal yang dijalin, sehingga mereka akan resisten dengan terapi psikologis. Mereka
cenderung kurang sadar terhadap nilai-nilai sosial dan kurang ter-insight dari motif-motif
yang dimiliki.
Perempuan
Skor >70 akan menolak perilaku atau peran tradisional wanita, cenderung tertarik
dengan aktivitas maskulin yang sering dilakukan oleh laki-laki dalam pekerjaan, hobi, olah
raga atau aktivitas-aktivitas rutin harian. Mereka terkesan aktif dan kompetitif, energik,
agresif, dominan. Mereka menunjukkan ketegaran dan lebih kuat secara fisik dibandingkan
wanita pada umumnya. Mereka akan mudah bergaul, percaya diri dan akan mudah
bertindak meskipun terkadang kurang perasa atau kurang akrab.
Skor < 35 menunjukkan wanita dengan figur dan peran feminis. Ia dapat dikatakan
ultra-feminist, tertarik dengan aktivitas feminin, pasif, tenang, pendiam dan cerewet dalam
berinteraksi sosial. Mereka cenderung menggantungkan pada figur laki-laki atau figur yang
lebih maskulin dalam mengambil keputusan atau bertindak. Penelitian menunjukkan skala
rendah pada perempuan tidak diterapkan untuk kalangan yang berpendidikan tinggi.

‘13 Tes Inventori


10 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
 Paranoia (Pa)
Skala ini digunakan untuk melihat simptom atau karakteristik kepribadian dengan
gangguan paranoid. Orang dengan skor > 80 secara jelas dapat menunjukkan perilaku
psikotik, gangguan pikir, delusi persekusi atau delusi grande atau kedua-duanya dan delusi
keyakinan seperti ideas of reference. Mereka meyakini orang lain memanfaatkannya,
menentangnya atau melakukan sesuatu terhadap dirinya. Mereka biasanya menunjukkan
amarah dan rasa tidak suka. Mereka menunjukkan pertentangan atau ketidaksukaan karena
telah menerima kesalahan dimana orang lain bersekongkol melawan dirinya. Pasien
biasanya menggunakan mekanisme pertahanan diri proyeksi dan sering didiagnosa sebagai
schizophrenia paranoid atau keadaan paranoid.
Dengan skor moderat (65-79) menunjukkan predisposisi paranoid kalo tidak
memunculkan simptom atau gangguan delusi. Mereka memiliki sensitivitas berlebih, curiga
dan responsif terhadap reaksi orang lain. Mereka menganggap memiliki nasib buruk dalam
kehidupannya. Jika pasien akan melakukan rasionalisasi terhadap kesulitannya dan
menyalahkan kepada orang lain permasalahan dirinya sendiri. Mereka tampak curiga,
berjaga-jaga dan memungkinkan untuk bereaksi kasar, tidak suka atau menentang terhadap
orang lain. Mereka menunjukkan sikap moral yang tinggi dan rigid. Pasien dengan kondisi ini
memiliki prognosis buruk terhadap terapi karena tidak suka untuk mendiskusikan
permasalahannya dan sulit terbuka. Mereka sulit membuka diri untuk membangun
hubungan dalam treatmen.
 Psychasthenia (Pt)
Skala ini mudah dilihat sebagai pengukuran kecemasan dan gangguan penyesuaian
diri secara umum. Pasien dengan skor tinggi menunjukkan kecemasan, tegang dan
kegelisahan. Mereka akan mudah sekali khawatir dan sangat cemas meskipun terhadap
masalah kecil. Mereka merasa terancam dan takut. Dalam berkonsentrasi sulit. Orang lain
melihat dirinya ragu-ragu dan khawatir dengan terlalu banyak introspeksi diri, obsesif dan
kompulsif hampir setiap waktu. Terkadang simptom fisik menyertainya terutama pada detak
jantung. Seringkali pasien menganggapnya sakit jantung.
Pasien tampak sangat mengkritisi diri sendiri, pemalu dan sulit bergaul dengan
lingkungan sosial. Merasa tidak aman, inferior, kurang percaya diri dan sering terpaku
dengan keragu-raguan. Umumnya rigid dalam pendekatan interpersonal, moralistik dan
kaku. Mereka terkesan perfeksionis, terlalu teratur dalam aktivitasnya. Manifestasi rigid
ditampilkan dengan tidak adanya basa-basi dalam bertindak, tidak kompromis, kaku dengan
interaksi hubungan yang ada. Mereka cenderung ragu dalam mengambil keputusan karena
melihat terlalu banyak kemungkinan dari situasi yang dihadapi.

‘13 Tes Inventori


11 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi sekarang dan akan termotivasi dengan
treatmen psikologis. Pasien akan lebih lama bertahan dengan treatmen psikologis yang
diberikan namun lambat, atau istilah lainnya “lambat tapi pasti”. Insight sulit dimunculkan
namun masih memungkinkan. Kecenderungan intelektualitas dan rasionalisasinya adalah
kurang produktif. Resistensi terhadap terapi muncul karena kekakuannya (rigid).Terkadang
muncul kekacauan atau distorsi kepentingan masalah yang disebabkan terlalu bereaksi
terhadap hal-hal kecil.
 Schizophrenia (Sc)
Skala ini menunjukkan kompleksitas intepretasi dan memiliki cakupan luas sebelum
melakukan diagnosa secara tepat. Perlu dipertimbangkan terkadang pasien memiliki
kecenderungan schizophrenia dan terkadang pula menunjukkan perilaku anti-sosial. Pada
kondisi lain dapat pula diasosiasikan terhadap gangguan psikis parah dengan perilaku
kurang terkendali atau mengangsingkan diri secara sosial dengan tidak adanya pengalaman
pikir yang buruk.
Skor 80-90
Individu dengan range skor ini dapat secara yakin menunjukkan perilaku psikotik.
Individu seperti ini menunjukkan kecenderungan bingung, tidak terkontrol perilakunya dan
mengalami disorientasi. Mereka memiliki ketidakwajaran pikir atau sikap dengan delusi
keyakinan (salah satunya ideas of reference), dan terkadang mengalami halusinasi.
Pertimbangan keputusan perilaku yang buruk tampak dalam dirinya.
Skor 65-79
Skor dengan range ini menunjukkan gaya hidup schizoid. Mereka merasa
terasingkan dari kondisi sosial, merasa terisolasi dan salah dimengerti oleh orang lain.
Mereka menghindar diri, menarik diri terhadap kondisi sosial yang dianggap tidak dapat
menerima dirinya. Mereka menghindar dari orang lain dan tampak sebagai orang yang
aneh, pemalu, menjauhkan diri dan tidak akrab. Pasien akan menggeneralisasi stress atau
depresi dengan menjauhkan diri dengan cara berkhayal atau berfantasi. Mereka akan
bersikap kasar dan agresif dengan cara-cara atau perilaku yang tidak wajar.
Pasien dengan tipe seperti ini biasanya merespon situasi dengan salah dalam waktu
lama, tidak beradaptasi dan perilaku aneh. Perasaan inferioritasnya tinggi, tidak puas
dengan kehidupannya, bingung dengan peran seksual, perilaku eksentrik, keras kepala,
impulsif dan kekanak-kanakan.
Treatmen psikologis dapat beragam hasilnya mempertimbangkan cara terapi yang
harus dilakukan harus tepat. Namun pada umumnya prognosis buruk karena pasien sulit
mendapatkan insight, sulit menjalin kontak atau hubungan dengan terapis dan pada terapi
jangka pendek akan tidak efektif karena keluasan masalah yang diderita pasien. Terapi
jangka panjang dapat efektif jika terapis menyediakan situasi atau keadaan yang dapat

‘13 Tes Inventori


12 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
diterima sehingga tidak menutup kemungkinan pasien tipe ini dapat mempercayai terapis.
Treatmen yang dilakukan banyak bersifat jangka panjang dan berorientasi directive-therapy
dengan memperhatikan mental pasien.
 Hypomania (Ma)
Skala ini berusaha menunjukkan manik atau perilaku hipomanik, gangguan afeksi
dengan melibatkan gangguan mood. Terdapat 3 kelompok definisi, yaitu:
Skor >80
Individu dalam kategori ini menunjukkan perilaku mengganggu, termasuk perilaku
over-acting, hiperaktif, percepatan bicara dan terkadang gejala yang cukup lama gangguan
pikir inkoheren atau flight of idea. Terkadang disertai pula halusinasi atau delusi grande.
Aktivitasnya meluas,berenergi dan antusias. Mengalami gangguan pikir dan kurang dapat
mengatur energi dengan baik. Keinginan dan aktivitasnya banyak namun sulit untuk berhasil
sampai tujuan yang diharapkan. Kesan pertama dalam pergaulan tampak pintar, cerdas,
kreatif, menghibur dan hangat. Mereka merasa kesulitan beraktivitas rutin dan kemampuan
detailnya rendah. Mereka menunjukkan ide atau aspirasi yang tidak realistis dan terkadang
grande, mereka sulit melihat keterbatasan dirinya. Mereka cenderung menunjukkan secara
berlebih keyakinan diri dan tingkat kepentingannya. Pada saat tertentu dan tidak lama
mereka akan menunjukkan kebosanan dan merasa tidak suka secara cepat. Terkadang
sering bermasalah dengan hukum atau sosial karena dorongan impulsif-nya menjadikan
tindakan yang dilakukan bebas dengan sedikit atau tidak menghargai nilai-nilai etis atau
norma yang berlaku, termasuk dorongan seksual. Terkadang pada tahap tertentu
menunjukkan kurang stabil, agresif dan kekerasan terhadap objek atau orang lain.
Sifat pribadinya terbuka, sosial dan menyenangkan dihadapan orang lain. Mereka
menunjukkan kepercayaan diri, hangat dan bersahabat dan berusaha menunjukkan kesan
pertama yang menyenangkan. Mereka mudah berbicara dengan banyak orang, sopan,
menunjukkan antusiasme namun kurang tulus. Pada skor tunggal cenderung perilakunya
manipulatif demi kepentingan dirinya sendiri. Mereka seringkali memutarbalikkan fakta, tidak
realistis dan mencampuradukkan kebenaran dan kebohongan pada pembicaraannya. Pada
saat tertentu mereka memiliki periode depresi.
Treatmen dengan skor ini membutuhkan treatmen medis untuk mood-nya.
Psikoterapi yang dibangun terkadang sering diganggu akibat ulah dari perilakunya misalkan
masalah hukum, gangguan dalam kerja atau sekolah dll. Mereka cenderung akan menolak
intepretasi yang diberikan terapis yang berdampak kesulitan mendapatkan insight diri.
Banyak dari mereka tidak dapat secara teratur mengikuti terapi karena perhatian terhadap
aktivitas lain yang menarik seringkali mengganggu dirinya dalam mengikuti proses terapi
secara rutin. Banyak yang menghentikan terapi di tengah jalan dan banyak pula yang
bersifat kasar dan agresif terhadap terapis.

‘13 Tes Inventori


13 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Skor 65-79
Skor dengan kondisi seperti ini perlu berhati-hati dalam mengintepretasikan karena
individu cenderung normal dengan tidak adanya gangguan afeksi. Dapat dilihat mereka
karakteristiknya adalah over-aktif, energetik dan banyak berbicara. Mereka menunjukkan
ketertarikan di berbagai bidang dan terkadang tidak realistis dengan ketertarikannya.
Mereka terkadang terlalu bergairah dalam beraktivitas namun kurang melihat tujuan dari
aktivitasnya.
Keterbatasan melihat dirinya sendiri dan merasa terlalu yakin terhadap apa yang
akan diraih menjadikan realitasnya terhadap tujuan berbeda jauh dengan apa yang ada
dalam pikirannya. Ada kecenderungan tidak menyukai rutinitas dan perhatian terhadap detail
rendah. Banyak janji-janji akhirnya diingkari karena terlalu banyak aktivitas dan sifatnya
setengah-setengah. Cepat bosan dan capek seringkali dirasakannya, mudah frustasi.
Terkadang menunjukkan episode tertentu yang sensitif, agresif dan kasar.
Pada konteks interpersonal, mereka sosial, terbuka dan mudah bergaul. Mereka senang
dalam situasi sosial dengan menunjukkan karakteristik yang menyenangkan, menarik,
sopan dan antusias mekipun kurang tulus. Terkadang ketidaktulusannya ditunjukkan dengan
berbicara bohong atau tidak realistis. Pada skala ini pasien tidak tertarik dengan treatmen
psikologis karena “merasa menyenangkan”, dalam kondisi “asik-asik aja” dan resisten
terhadap intepretasi psikologis. Apabila mengikuti terapi seringkali bolos atau dengan cepat
menghentikan proses terapi.
Skor <35
Orang dengan skor seperti ini terlihat kurang berenergi, kurang bergairah, banyak
ketidaktertarikan aktivitas dalam sosial dan cenderung pendiam, rutin dan sulit dimotivasi
dalam treatmen.
 Social Interversion (Si)
Skala ini mengukur intraversion atau ekstraversion. Skala ini sifatnya unidimensional
dan dapat diinterpretasikan pada tataran skor, dimana skor tinggi berarti cenderung
introversion dan skor rendah cenderung ekstraversion. Skor >65 memiliki sifat sangat malu
dalam pergaulan sosial dan tertutup pribadinya. Mereka sangat nyaman bila sendiri atau
dengan segelintir teman dekatnya. Terkadang mereka tidak nyaman dengan lawan jenis dan
sulit dimengerti. Terlalu sensitif terhadap reaksi dari orang lain, sangat mengendalikan diri
sendiri dan cenderung pasif dalam berinteraksi dengan orang lain bahkan tidak ekspresif.
Mereka tampak sangat serius, konvensional dan penurut terhadap otoritas yang ada.
Tempo yang ditunjukkan lambat, berhati-hati sampai ragu-ragu, tidak original dalam
pendekatan terhadap masalah dan seringkali mendapatkan kesulitan dalam mengambil
keputusan meskipun terhadap hal-hal kecil. Mereka cenderung pada mood dan memiliki
episode cemas atau depresi.

‘13 Tes Inventori


14 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Treatmen psikologis dengan skor tinggi dalam kategori sulit, karena mereka sulit
atau terhambat mengekspresikan perasaannya, kurang berpartisipasi secara sosial,
seringkali hambatan komunikasi oral dan terutama rigid dan tidak fleksibel dalam kondisi-
kondisi tertentu.
Apabila skor <= 45 menunjukkan sangat sosial dan terbuka. Tampak dirinya mudah
bergaul, senang ngobrol atau berkecimpung dalam kelompok, sopan dan banyak bicara.
Dorongan untuk dikelilingi orang banyak tinggi dan banyak menghabiskan waktu dengan
kongkow. Mereka terkesan spontan dan ekpresif dalam bersikap dan senang dengan situasi
kompetitif. Dengan skor sangat rendah dapat berarti kurang dewasa, impusif dan
berorientasi pada kesenangan pribadi.

MMPI-2 (Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2)


Butir-butir soal MMPI-2 terdiri dari 567 pernyataan afirmatif yang ditanggapi peserta
tes "Benar" atau "Salah". 370 soal pertama, yang pada dasarnya sama dengan butir-butir
soal dalam MMPI, kecuali dalam hal perubahan editorial dan pengaturan kembali,
menyediakan semua respons yang dibutuhkan untuk memberi skor 10 skala "klinis" yang
asli dan tiga skala validitas 197 butir soal tersisa (107 di antaranya baru) diperlukan untuk
menskor seluruh komplemen yang terdiri dari 104 validitas baru, yang direvisi dan
dipertahankan, serta skala dan subskala suplementer yang membangun inventori secara
lengkap. Butir-butir soal mempunyai rentang luas dalam isi, mencakup bidang-bidang seperti
kesehatan umum; simptom-simptom afektif, neurologis, dan motorik; sikap seksual, politis,
dan social; ppertanyaan-pertanyaan tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan
pernikahan; serta banyak manifestasi perilaku neurons, atau psikotis yang dikenal, seperti
keadaan obsesif dan kompulsif, delusi, halusinasi, ide-ide rujukan, fobia, dan
kecenderungan sadistis serta masokhistis. Dahsltrom (1993a) telah mempersiapkan
suplemen manual yang menyediakan semua mformasi yang perlu untuk membandingkan
butir-butir soal MMPI-2 dengan butir-butir soal yang asli
Segi yang menonjol dari MMPI asli adalah penggunaan tiga skala yang disebut
skala-skala validitas, yang juga dipertahankan dalam MMPI-2. 5 Skala-skala ini tidak
berkaitan dengan validitas dalam pengertian teknis. Akibatnya, skala-skala ini mewakili
pengecekan dalam hal kurangnya perhatian, kesalahpahaman, pura-pura sakit, dan
pelaksanaan perangkat respons khusus dan sikap mengikuti tes
Bagaimanapun juga, panduan MMPI-2 memiliki informasi yang memungkinkan para
pengguna untuk membandingkan skor-skor yang dimunculkan dari kedua versi vang
didasarkan pada respons ke salah satunya. Meskipun usul ini bukan tanpa masalah-
masalah yang dibawanya (lihat, misalnya Ben-Porath & Tellegen, 1995), usulan ini didukung
oleh sejumlah metode yang dapat dipertahankan secara empiris bagi para pengguna untuk

‘13 Tes Inventori


15 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menegosiasikan periode transisi antara kedua versi ini (lihat, misalnya Humphrey &
Dahlstrom, 1995).

MMPI-A (Minnesota Multiphasic Personality Inventory-Adolescent)


MMPI-A adalah bentuk baru MMPI yang dikembangkan secara spesifik untuk
digunakan pada remaja. MMPI-A memuat hampir semua segi dari MMPI dan MMPI-2,
mencakup 13 skala dasar, tetapi menampung para peserta lebih muda melalui pengurangan
panjang keseluruhan inventori menjadi hanya 478 butir soal, dimasukkannya butir-butir soal
dan skala-skala baru yang mencakup bidang yang secara spesifik relevan bagi mereka,
seperti masalah sekolah dan keluarga, dan di atas segala-galanya, persyaratan norma
kecocokan usia. MMPI-A menggunakan sampel normatif yang terdiri dari 1620 remaja
dewasa ini yang berusia antara 14 dan 18 tahun; sampel klinis terdiri dari 713 remaja
dengan rentang usia sama telah dikumpulkan untuk perbandingan dan studi validitas.
Di samping skala klinis dan validitas yang digunakan bersama dengan MMPI-2,
MMPI-A memiliki skala validitas sendiri (F1 dan F2), juga skala dan subskala isi serta
suplementer yang unik untuk MMPI-A dan beberapa hal yang umum bagi kedua instrumen
tersebut. Meskipun sejumlah besar penelitian, termasuk tabel norma dan konversi yang
diterbitkan oleh Dahlstrom et al., (1972) dan Marks, Seeman, dan Haller (1974), menyokong
penggunaan MMPI pada para remaja, riset itutidak berlaku bagi MMPI-A, yang lebih
merupakan instrumen yang baru sama sekali daripada revisi. Dengan demikian, manfaatnya
haruslah ditentukan melalui akumulasi riset dan materi interpretif yang dimulai secara
bersamaan dengan Publikasinya (Archer, 1992a; Butcher &C Williams, 1992; Williams,
Butcher, Ben-Porath, & Graham,1992).

MMPI di Indonesia
Unsur – unsur religiousitas penduduk Minessota tahun 1930-an adalah kebanyakan
protestan, dan pada MMPI Indonesia, pertanyaan religiousitas dinetralkan.
Contoh pertanyaan :
No 95: I go to Church almost every week.
Penduduk Minesota 1930-an, pada umumnya akan menjawab Ya sebagai mayoritas, dan
Tidak adalah minoritas. Ditahun 1980-an, ternyata jawaban Ya adalah minoritas,
sedangkan Tidak adalah mayoritas. Terjemahan dalam bahasa Indonesia (Yul Iskandar)
Aku rajin pergi ketempat ibadah. (True) sampai saat ini masih mayoritas.

VI. Kritik dan kontroversi


RC dan Klinis Timbangan

‘13 Tes Inventori


16 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Beberapa pertanyaan telah dikemukakan tentang Scales RC dan rilis mendatang
dari MMPI-2-RF, yang menghilangkan sisik klinis yang lebih tua sepenuhnya berpihak pada
skala RC lebih psychometrically menarik. Penggantian Timbangan Klinis asli dengan skala
RC belum bertemu dengan persetujuan universal, dan diskusi yang cukup diperlukan untuk
mendorong edisi khusus Journal akademik Personality Assessment (Vol 87, Issue 2,
Oktober 2006) untuk menyediakan setiap sisi dengan forum untuk menyuarakan pendapat
mereka mengenai langkah-langkah lama dan baru.

Individu yang mendukung mempertahankan Klinis skala yang lebih tua berpendapat
bahwa RC baru timbangan mengukur patologi yang nyata berbeda dari yang diukur dengan
skala klinis yang asli. klaim ini tidak didukung oleh hasil penelitian, yangmenemukan skala
RC untuk menjadi lebih bersih, versi yang lebih murni dari skala klinis asli karena 1) korelasi
interscale akan sangat berkurang dan tidak ada item yang terkandung di lebih dari satu
skala RC, dan 2) yang tersebar di seluruh varians umum skala yang lebih tua klinis
karena faktor umum bersama psikopatologi-parsing keluar dan terkandung dalam
demoralisasi skala pengukuran terpisah (RCdem). Kritik dari skala baru berpendapat bahwa
penghapusan ini varians umum membuat skala RC kurang ekologis berlaku (kurang
suka kehidupan nyata) karena pasien riil cenderung untuk menyajikan pola-pola kompleks
gejala. Namun, masalah ini ditangani dengan mampu melihat peningkatan pada skala RC
lain yang kurang jenuh dengan faktor umum dan, karenanya, juga lebih transparan dan lebih
mudah untuk menginterpretasikan.

Kritik dari skala RC menyatakan mereka telah menyimpang terlalu jauh dari skala
klinis asli, implikasi bahwa penelitian sebelumnya dilakukan pada skala klinis tidak lagi
relevan untuk interpretasi skala RC dan beban pembuktian harus di RC skala untuk
menunjukkan mereka jelas lebih unggul dengan skala klinis asli. Pendukung skala RC
menyatakan penelitian yang telah ditangani isu-isu tersebut dengan hasil menunjukkan
bahwa skala RC memprediksi patologi di daerah mereka lebih baik daripada skala yang
ditunjuk sesuai klinis yang asli ketika menggunakan item secara signifikan lebih sedikit dan
memelihara sama dengan reliabilitas konsistensi internal dan validitas yang lebih tinggi,
dan tidak lemah di mengidentifikasi unsur-unsur inti dari skala klinis asli; lebih lanjut, tidak
seperti sisik klinis asli, timbangan RC tidak jenuh dengan faktor utama (demoralisasi,
sekarang ditangkap dalam RCdem) yang sering menghasilkan elevasi menyebar dan
interpretasi yang terbuat dari hasil sulit; akhirnya, timbangan RC memiliki korelasi interscale
lebih rendah dan, dalam kontras dengan skala klinis asli, tidak berisi item interscale tumpang
tindih Sebuah kritik lebih mendasar adalah bahwa MMPI-2 RF sisik bertumpu pada asumsi
bahwa psikopatologi adalah. kondisi homogen yang aditif. Meskipun gejala terutama
homogen, kondisi yang paling psychodiagnostic seperti histeria, PTSD, DID terdiri dari

‘13 Tes Inventori


17 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pertahanan, negara bertentangan, dan tampaknya tidak berhubungan tanda-tanda dan
gejala yang tidak dapat diukur dengan skala yang dibuat memiliki konsistensi internal yang
tinggi.

VII. Ranah Bidang Penggunaan.

Minnesota Multiphasic Personality Inventories (MMPI) sering digunakan pada bidang


klinis untuk mendeteksi psikopatologis. Minnesota Multiphasic Personality Inventories
(MMPI) digunakan untuk subjek-subjek yang normal dalam lingkungan konseling, pekerjaan,
medis, militer, dan forensik.

Data dari MMPI-2 penilaian sangat berguna dalam pengaturan kesehatan kerja
dalam presentasi kompleks dimana keraguan tentang apa yang benar-benar salah dengan
pasien ada. Sebagai contoh, MMPI-2 biasanya harus bisa mendeteksi secara tidak sadar
atau sadar somatizing berpura-pura sakit pada pasien. MMPI 2 juga dapat digunakan untuk
menilai stabilitas psikologis pada pekerja di berisiko tinggi 'profesi' seperti pilot pesawat,
polisi atau pekerja dalam industri tenaga nuklir.

Popularitas MMPI sampai saat ini masih sangat dipercaya, terutama di Indonesia
sebagai alat resmi diagnosa gangguan jiwa oleh psikiater dan di bidang psikologi kalah
populer alat inventori ini dengan alat-alat tes lain. Kemungkinan besar karena alat ini
dianggap hanya untuk mengukur gangguan jiwa dan jumlah item yang dirasa cukup banyak
sehingga para psikolog cenderung mengabaikan. Padahal selain penggunaan secara klinis,
alat ini dari dulu sudah diakui untuk mengukur fit and proper test oleh psikiater terhadap
klien yang akan menduduki jabatan termasuk calon presiden RI yang dilakukan oleh
psikiater dari RSPAD. Jadi alat ini tidak selamanya digunakan untuk mendiagnosa gangguan
klinis saja namun dapat melihat gambaran untuk kepribadian terutama dinamika psikologis
yang terkait dengan aspek kesehatan jiwa secara umum.
Secara umum MMPI/MMPI-2 dapat digunakan untuk:
⇒ Evaluasi pasien gangguan jiwa untuk membantu status kesehatan mentalnya.
⇒ Alat menilai simptom untuk menentukan perawatan yang sesuai.

⇒ Alat menilai pasien untuk melakukan perencanaan perawatan.


⇒ Evaluasi efek dari perawatan atau terapi.

⇒ Alat penelitian epidemilogi menggunakan kriteria kepribadian.


⇒ Alat penilai kepribadian untuk posisi publik seperti polisi, tentara, pilot, pemadam
kebakaran, calon bupati-gubernur-presiden, pejabat lain dan jabatan-jabatan lain
yang penting untuk dilihat kesehatan jiwanya.

‘13 Tes Inventori


18 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
⇒ Alat penelitian psikologi terutama menentukan perbedaan kriteria kepribadian.
⇒ Alat penelitian genetika kepribadian.

⇒ Alat penelitian dengan konteks budaya yang berbeda.


⇒ Evaluasi kesehatan mental orang tua.

⇒ Evaluasi kesehatan mental tersangka (alat forensik kesehatan mental).

Kelebihan dan kekurangan MMPI/MMPI 2


Kelebihan:
 Item yang banyak
 Interview klinis terstruktur
 Psikolog/Psikiater tidak perlu mengadministrasikan tes
 Inventori Laporan Diri
 Pilihan hanya ya/tidak
 Sejarah panjang dengan literatur penelitian yang sedemikian banyak
 Inventori kepribadian yang paling banyak digunakan di dunia
 Diterjemahkan (dan dibuat norma ulang) ke berbagai bahasa.
 Lebih dari 250 skala atau sistem yang saat ini dikembangkan dengan variasi setting
klinis yang berbeda-beda.
 Terdapat skala yang secara eksplisit mengevaluasi validitas pelaksanaan tes
 Dapat diadministrasikan dalam bentuk “short form (370 Item awal)” ketika waktu
terbatas atau kerjasama dengan testee tidak memungkinkan lagi
 Versi tes yang secara khusus didesain untuk remaja dan dan dewasa.
Kekurangan:
 Item yang banyak
 Interview klinis terstruktur
 Klien/testee harus menjalankan tes
 Inventori Laporan Diri
 Pilihan hanya ya/tidak
 Sejarah panjang dengan literatur penelitian yang sedemikian banyak
 Isi berorientasi mendalam pada psikopatologi
 Dibutuhkan kemampuan baca, paling tidak klien/testee lulus SMP
 Lembar jawab ‘memusingkan’ dan cenderung susah digunakan.
 Skala content overlap

‘13 Tes Inventori


19 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka

Aiken, L.R. 1997.Psychological Testing & Asessment. Boston: Allyn & Bacon.

Anastasi, A. & Urbania, S. 1997. Psychological testing. New York: McMillan Company.

Anastasia, A & Urbina, S.2007. Tes Psikologi. Jakarta. Indeks

Gregory, R.J. 2000.Psychological testing. Boston: Allyn & Bacon.

Groth-Marnat, G. (1999). Handbook of Psychological Asessment. (3rd Ed). New York: Jhon
Wiley & Sons, Inc.

http://www.psychologymania.net/2010/03/tes-inventori-inventory-test.html

http://psikologi45.blogspot.com/2011/02/tes-inventory.html

http://lailatur-rohmah.blogspot.com/2012/01/minnesota-multiphasic-persinality.html

www.psychologymania.com. Diakses 2 April 2014.

"Manfaat Tes Kesehatan Jiwa untuk Afriyani".


http://health.kompas.com/read/2012/02/02/15483564/Manfaat.Tes.Kesehatan.Jiwa.u
ntuk.Afriyani. Diakses 5 April 2014.

Robert M. Kaplan, Dennis P. Saccuzzo, ed. (2012). Pengukuran Psikologi: Prinsip,


Penerapan, dan Isu. Jakarta: Salemba Humanika. hlm. 341. ISBN 978-981-4410-33-
5.

Yustinus Semiun, OFM, ed. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
hlm. 307. ISBN 979-21-1121-2.

http://id.wikipedia.org/wiki/Tes_MMPI

http://wikansusanti.blogspot.com/2011/03/mmpi-minnesota-multifase-personality.html

http://kumpulanmakalah-kedokteran-psikologi.blogspot.com/2013/06/psikodiagnostik-non-
proyektif-minnesota.html

‘13 Tes Inventori


20 Nunnie Retna Widagdo, Dra, Psi, MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id