Anda di halaman 1dari 45

A.

PENGERTIAN ISLAM DARI SEGI BAHASA DAN ISTILAH


Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama.
Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.
‫إسالما يسلم أسلم من مصدر اإلسالم‬
Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki
beberapa pengertian, diantaranya adalah:
1. Berasal dari ‘salm’ (‫ )الس َّْلم‬yang berarti damai.
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman (QS. 8 : 61)
‫س ْل ِم َجنَ ُحوا َوإِ ْن‬
َّ ‫علَى َوت ََو َّك ْل لَ َها فَاجْ نَحْ ِلل‬ َّ ‫ْالعَ ِليم ال‬
َّ ُ‫س ِمي ُع ُه َو إِنَّه‬
َ ِ‫ّللا‬
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.”
Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini
merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan
agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian.
Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman : (QS. 49 : 9)
‫َان َوإِ ْن‬ َ َ‫ص ِل ُحوا ا ْقتَتَلُوا ْال ُمؤْ ِمنِينَ ِمن‬
ِ ‫طائِفَت‬ ْ َ ‫َت فَإ ِ ْن ا ََبَ ْينَ ُهم فَأ‬
ْ ‫علَى إِحْ دَا ُه َما بَغ‬ َ ‫الَّتِي َفقَاتِلُوا األ ُ ْخ َرى‬
‫ّللاِ أ َ ْم ِر إِلَى ت َ ِفي َء َحتَّى ت َ ْب ِغي‬
َّ ‫ت فَإ ِ ْن‬ ْ ‫ص ِل ُحوا فَا َء‬ ْ َ ‫طوا بِ ْالعَ ْد ِل بَ ْينَ ُه َما فَأ‬
ُ ‫ََّللا إِ َّن َوأ َ ْق ِس‬
َّ ‫ي ُِحب‬
ِ ‫ْال ُم ْقس‬
َ‫ِطين‬

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah
antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap
golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga
golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada
perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung
tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan kaum muslimin
berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya. Dalam Al-Qur’an
Allah berfirman: (QS. 22 : 39)

َ‫ظ ِل ُموا بِأَنَّ ُه ْم يُقَاتَلُونَ ِللَّذِينَ أُذِن‬


ُ ‫ّللاَ َو ِإ َّن‬
َّ ‫علَى‬ ْ ‫لَقَدِير‬
َ ‫ص ِر ِه ْم ََن‬

1
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena
sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha
Kuasa menolong mereka itu.”

2. Berasal dari kata ‘aslama’ (‫ )أَ ْسلَ َم‬yang berarti menyerah.


Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang
secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT. Penyerahan
diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan
serta menjauhi segala larangan-Nya. Menunjukkan makna penyerahan ini, Allah
berfirman dalam al-Qur’an: (QS. 4 : 125)

َ ْ‫ِيم ِملَّةَ اتَّبَ َع ََو ُمحْ سِن َو ُه َو ِ َّلِلِ َوجْ َههُ أ َ ْسلَ َم ِم َّم ْن دِينًا أَح‬
‫س ُن َو َم ْن‬ َ ‫ّللاُ َوات َّ َخذَ َحنِيفًا إِب َْراه‬
َّ ‫ِيم‬
َ ‫إِب َْراه‬
ً‫َخ ِليل‬
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti
agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi
kesayanganNya.”
Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan
seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam sebuah ayat Allah berfirman:
(QS. 6 : 162)
‫صلَتِي ِإ َّن قُ ْل‬ ُ ُ‫اي َون‬
َ ‫س ِكي‬ َ َ‫ب ِ َّلِلِ َو َم َماتِي َو َمحْ ي‬ ْ ‫ِمين‬
ِ ‫ََال َعال َر‬
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang
ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah
SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya. Allah berfirman: (QS. 3 : 83) :

‫ِين أَفَغَي َْر‬ َّ َ‫ت ِفي َم ْن أ َ ْسلَ َم َولَهُ يَ ْبغُون‬


ِ ‫ّللاِ د‬ ِ ‫س َم َوا‬ ِ ‫عا َواأل َ ْر‬
َّ ‫ض ال‬ َ ‫ي ُْر َجعُون َو ِإلَ ْي ِه َو َك ْر ًها‬
ً ‫ط ْو‬

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-
Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka
maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.”

Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menyerahkan diri kita
kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak Allah SWT. Karena insya Allah

2
dengan demikian akan menjadikan hati kita tentram, damai dan tenang (baca;
mutma’inah).

3. Berasal dari kata istaslama–mustaslimun (‫ ا ْستَ ْسلَ َم‬- َ‫) ُم ْستَ ْس ِل ُم ْون‬: penyerahan total kepada
Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 37 : 26)
‫ُم ْست َ ْس ِل ُمونَ ْاليَ ْو َم ُه ُم َب ْل‬
“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.”
Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Karena
sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara total menyerahkan
seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah
SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah adalah
seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan,
kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT.
Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain,
seperti sisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya,
semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 2 : 208)

‫ت ِبعُوا َََت َت َولَ َكافَّةً الس ِْل ِم ِفي ا ْد ُخلُوا َءا َمنُوا الَّذِينَ َياأَي َها‬ ُ ‫ان ُخ‬
ِ ‫ط َوا‬ ِ ‫ط‬َ ‫ش ْي‬
َّ ‫عد لَ ُك ْم ِإنَّهُ ال‬
َ َُ ‫ُم ِبين و‬
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada
Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala
yang dilarang-Nya.

4. Berasal dari kata ‘saliim’ (‫س ِليْم‬


َ ) yang berarti bersih dan suci. Mengenai makna ini,
Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 89):
َّ ‫س ِلي ِبقَ ْلب‬
َّ‫ّللاَ أَت َى َم ْن ِإل‬ َ
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 37: 84)
‫س ِليم ِبقَ ْلب َربَّهُ َجا َء ِإ ْذ‬
َ
3
“(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih,
yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian
jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun
di akhirat. Karena pada hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai
ajaran Islam, adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan
jiwa manusia. Allah berfirman: (QS. 5 : 6)
َّ ‫علَ ْي ُك ْم ِليَجْ َع َل‬
‫ّللاُ ي ُِريدُ َما‬ َ ‫ط ِه َر ُك ْمَِل ي ُِريدُ َولَ ِك ْن َح َرج ِم ْن‬ َ ‫لَعَلَّ ُك ْم‬
َ ُ‫علَ ْي ُك ْم نِ ْع َمتَهُ َو ِليُتِ َّم ي‬
َ‫ت َ ْش ُك ُرون‬
“Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak
menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan
kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

5. Berasal dari ‘salam’ (‫سلَم‬


َ ) yang berarti selamat dan sejahtera.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: (QS. 19 : 47)
‫سلَم قَا َل‬ َ ‫سأ َ ْست َ ْغ ِف ُر‬
َ َ‫علَيْك‬ َ َ‫ا ًَ َح ِفي بِي َكانَ ِإنَّهُ َر ِبي لَك‬
Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta
ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku."
Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa
umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan
kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.

Adapun dari segi istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap dinul
Islam), Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang
diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan
pedoman hidup dan juga sebagai hukum/aturan Allah SWT yang dapat
membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan
akhirat.’ Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari
oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Diantara poin-poinnya adalah :
1. Islam sebagai wahyu ilahi (‫ي‬ َ ‫)اْ ِإللَ ِهي‬
ُ ْ‫الوح‬
Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4 :
َ ‫يُو َحى َوحْ ي إِلَّ ُه َو إِ ْن * ْال َه َوى‬
‫ع ِن يَ ْن ِط ُق َو َما‬

4
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya)."
ِ َ‫اْأل َ ْنبِي‬
2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW) ( ُ‫اء ِد ْين‬
َ ‫)و ْال ُم ْر‬
َ‫س ِليْن‬ َ
Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)
َّ ِ‫علَ ْينَا أ ُ ْن ِز َل َو َما ب‬
‫الِلِ آ َمنَّا قُ ْل‬ َ ‫علَى أ ُ ْن ِز َل َو َما‬
َ ‫ِيم‬ َ ُ‫َويَ ْعق‬
َ ‫وب َوإِ ْس َحاقَ َوإِ ْس َما ِعي َل إِب َْراه‬
ِ َ‫ي َو َما َواأل َ ْسب‬
‫اط‬ ُ َ ‫سى ُمو‬ َ ‫َرب ِم ْن َوالنَّبِيونَ َو ِعي‬ َ َِ‫ِم ْن ُه ْم أ َ َحد بَيْنَ نُفَ ِر ُق لَ ِه ْم‬
َ ِ‫سى أوت‬
‫ُم ْس ِل ُمون لَهُ َونَحْ ُن‬
“Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il,
Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa,
`Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan
seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami
menyerahkan diri."
3. ْ
Sebagai pedoman hidup (‫)ال َح َيا ِة ِم ْن َها ُج‬
Allah berfirman (QS. 45 : 20):
‫صائِ ُر َهذَا‬ ِ َّ‫يُوقِنُونَ ِلقَ ْوم َو َرحْ َمة َو ُهدًى ِللن‬
َ ‫اس َب‬
"Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang meyakini."

4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah


SAW (‫سنَّةُ ِكتَابِ ِه فِ ْي للاِ أَحْ كَا ُم‬
ُ ‫س ْو ِل ِه َو‬
ُ ‫)ر‬
َ
Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)
‫ّللاُ أ َ ْنزَ َل ِب َما بَ ْينَ ُه ْم احْ ُك ْم َوأ َ ِن‬
َّ َ‫ع ْن َي ْفتِنُوكَ أ َ ْن َواحْ ذَ ْر ُه ْم َوا َء ُه ْمَْأَه تَتَّبِ ْع َول‬ َ ‫ض‬ ِ ‫َما َب ْع‬
‫ّللاُ أ َ ْنزَ َل‬
َّ َ‫ّللاُ ي ُِريدُ أَنَّ َما فَا ْعلَ ْم ت ََولَّ ْوا فَإ ِ ْن ِإلَيْك‬
َّ ‫ُصي َب ُه ْم أ َ ْن‬
ِ ‫ضي‬ ِ ‫يرا إِ َّن ََو ذُنُو ِب ِه ْم ِب َب ْع‬
ً ِ‫َكث‬
ِ َّ‫س ُن َو َم ْن َي ْبغُونَ ْال َجا ِه ِليَّ ِة أَفَ ُح ْك َم * لَفَا ِسقُونَ الن‬
َ‫اس ِمن‬ َ ْ‫ّللاِ ِمنَ أَح‬
َّ ‫و ِقنُونَ َُي ِلقَ ْوم ُح ْك ًما‬
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa
yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan

5
Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa
mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin?”
ِ ‫ْال ُم ْست َ ِق ْي ُم‬
ُ ‫الص َرا‬
5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus. (‫ط‬
Allah berfirman (QS. 6 : 153)
‫اطي َهذَا َوأ َ َّن‬ ِ ‫سبِي ِل ِه َع ْن ِب ُك ْم فَتَفَ َّرقَ السبُ َل تَتَّبِعُوا َولَ فَاتَّبِعُوهُ ُم ْستَ ِقي ًما‬
ِ ‫ص َر‬ َ ‫صاك ذَ ِل ُك ْم‬ َ ‫لَعَلَّ ُك ْم بِ ِه ْم‬
َّ ‫َُو‬
َ‫تَتَّقُون‬
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.(ُ‫سلَ َمة‬ ِ ْ‫)وا‬


َ ‫آلخ َرةِ الد ْنيَا‬ َ
Allah berfirman (QS. 16 : 97)
‫ع ِم َل َم ْن‬ َ ‫طيِبَةً َحيَاة ً فَلَنُحْ يِيَنَّهُ ُمؤْ ِمن َو ُه َو أ ُ ْنثَى أ َ ْو ذَ َكر ِم ْن‬
َ ‫صا ِل ًحا‬ َ ‫أَجْ َر ُه ْم َولَنَجْ ِزيَنَّ ُه ْم‬
َ ْ‫يَ ْع َملُونَ َكانُوا َما بِأَح‬
‫س ِن‬
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan."

B. VISI-VISI AJARAN ISLAM


Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Visi diartikan sebagai suatu
pandangan, wawasan dan kemampuan untuk melihat pada inti persoalan. Dalam arti
lain yaitu apa yang tampak dalam daya khayal. Kata Visi berasal dari bahasa Inggris,
vision yang berarti penglihatan, daya lihat, pandangan, impian atau bayangan. Visi
itu ‘What we believe we can be’, yang dimana visi merupakan suatu gambaran tentang

6
masa depan. Maksudnya, seseorang mampu memikirkan atau merencanakan suatu
pemikiran tentang apa yang akan dilakukan untuk jangka waktu yang panjang.
Semua hal dalam hidup ini tak lepas dari ajaran-ajaran islam. Karena segala
sesuatu yang sangat kecil sekali pun Allah SWT telah mengaturnya dengan keindahan
dan kemudahan. Hanya saja manusianya yang mempersulit ajaran-ajaran tersebut.
Segala sesuatu telah diatur dan ditentukan oleh Allah SWT melalui kitab-
kitab-Nya yang telah diturunkan di dunia ini. Namun pada kitab Al-Qur’an-lah
seluruh ajaran-ajaran yang paling terlengkap.
Ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Yang di dalamnya telah
mengandung seluruh aspek-aspek tentang bagaimana menjalani hidup di dunia ini.
Bahkan bukan hanya untuk di dunia saja, namun untuk di kehidupan yang selanjutnya
juga, yaitu akhirat.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang
paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan
buang air besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya.
Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi
agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)[3]
Visi ajaran Islam itu sendiri terkait dengan kerasulan Nabi Muhammad Saw,
yaitu membangun sebuah kehidupan manusia yang patuh dan tunduk kepada Allah
serta membawa rahmat bagi seluruh alam, seperti dalam firman-Nya Q.S Al-Ankabut
ayat 16 yang artinya : Dan (Ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya:
“Sembahlah oleh mu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah
lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”Kata tunduk dan patuh memiliki arti yang
amat luas dalam segala aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, ilmu
pengetahuan, dsb yang didasarkan pada nilai-nilai Allah, yaitu nilai keimanan,
ketakwaan, kejujuran, keadilan, kemanusiaan, kesastraan, kebersamaan, toleransi dan
tolong menolong. Pendidikan Islam yang dilaksanakan harus diarahkan untuk
mewujudkan sebuah tata kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai tersebut.
1. Visi Islam Sebagai Pembawa Rahmat
Islam merupakan ad-din yang telah memberikan petunjuk kepada
manusia menuju Allah.Dalam perjalanan sejarah Islam telah menyumbangkan
banyak kebaikan kepada kemanusiaan. Islam telah membebaskan manusia dari
kebodohan menuju kebenaran islam.Islam tidak hanya membawa rahmat bagi

7
kaum muslim, tetapi juga bagi seluruh umat. Banyak hal-hal yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan bersumber dari Al-Quran ataupun bersumber dari
pemikiran tokoh cendikiawan muslim, namun diambil oleh pemikir-pemikir
Yahudi sehingga mereka mendapat nama besar sebagai penemu ilmu
pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut berasal dari bangsa mereka.Ilmu
tersebut sangat bermanfaat bagi semua umat dan menjadi rahmat.
Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini yang padanya
diberikan agama Islam dialah yang dikatakan sebagai pembawa rahmat kepada
alam. Agama Islam yang diberikan kepada Rasulullah SAW oleh Allah adalah
untuk memimpin manusia ini, firman Allah yang maksudnya :
“Tidak Aku utuskan engkau (ya Muhammad) melainkan untuk menjadi
Rahmat kepada Alam“
2. Islam Pembawa Kesejahteraan Umat
Sebagai agama pembawa keselamatan dan kesejahteraan bagi umat
sejagat, Islam sangat anti-kemiskinan.Kemiskinan dianggap sebagai sumber
berbagai kejahatan dan kegiatan sumbang (Ataul Huq, 1993). Rasulullah saw
bersabda: "Kemiskinan mendekati kekufuran" (H.R. as-Sayuti). Hal ini juga
diakui pakar ekonomi barat.Alcock (1993) misalnya menyebutkan bahwa
kemiskinan adalah salah satu penyakit sosial.Tidak seperti kemiskinan
konvensional yang hanya diukur dengan material semata, kemiskinan dalam
Islam jauh bersifat komprehensif dengan mempertimbangkan baik aspek
material maupun spiritual.Ini berimplikasi bahwa tolak ukur kemiskinan
antara konsep konvensional dan Islam adalah berbeda.Bisa jadi seseorang itu
kaya bila menggunakan ukuran konvensional, tapi miskin bila dilihat dengan
kacamata ekonomi Islam.Berbedanya definisi dan ukuran kemiskinan antara
konsep kemiskinan barat dengan Islam otomatis menyebabkan kriteria sebuah
kesuksesan dalam program pengentasan kemiskinan juga berbeda. Mungkin
program pengentasan kemiskinan itu dikatakan berhasil bila dilihat dari
perspektif barat, tapi ia gagal secara Islam. Demi berhasilnya program
pengentasan kemiskinan, yang pertama sekali harus kita identifikasikan adalah
faktor-faktor penyebab kemiskinan itu sendiri.Dengan mengetahui "root of the
problems" (akar masalah), maka dengan mudah kemiskinan yang mendera
lebih separuh penduduk Muslem dapat dientaskan.
3. Islam Pembawa Perdamaian

8
Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku bangsa untuk saling
mengenal.Arti luas mengenal disini adalah seluruh manusia diperintahkan
untuk tidak membeda-bedakan suku, ras maupun status.Islam mengajarkan
perdamaian agar perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk saling
berpecah belah. Hidup damai sesama pemeluk agama maupun antar beda
agama.
4. Islam Mengajarkan Persamaan
Prinsip Persamaan Antarmanusia :
Yâ ayyuhannâs innâ khalaqnâkum min dzakarin wa untsâ wa ja’alnâkum
syu’uban wa qabâila lita’ârafu inna akramakum ‘indallâhi atqâkum innallâha
‘alîmunkhabît
Artinya :“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-
laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-
suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat di atas secara gamblang mendeskripsikan proses kejadian


manusia. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
dari pasangan laki-laki dan perempuan.Kemudian dari pasangan tersebut lahir
pasangan-pasangan lainnya.
Dengan demikian, pada hakekatnya, manusia itu adalah “satu
keluarga”. Proses penciptaan yang “seragam” itu merupakan bukti bahwa pada
dasarnya semua manusia adalah sama. Karena itu, manusia memiliki
kedudukan yang sama.Di dalam al-Quran ada sejumlah ayat yang juga
menjelaskan persamaan antarmanusia, seperti surat al-Nisaa’/4:1, al-
A’raf/7:189, al-Zumar/39:6, Fathir/35:11, dan al-Mu’min/40:67.
Ayat-ayat itu, sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Husayn al-
Thabathaba’i dalam tafsirnya al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an (Jilid VI, h. 134-
135), pada pokoknya hendak menjelaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan,
antara manusia yang satu dan manusia lainnya tidak ada perbedaan. Mereka
semua sama, dari asal kejadian yang sama, yaitu dari tanah, dari diri yang satu,
yakni Adam yang diciptakan dari tanah. Karena itu, tidak ada kelebihan
seorang individu atas individu lainnya. Karena asal-usul kejadian manusia

9
seluruhnya adalah sama. Oleh karenanya tidak layak seseorang atau satu
golongan menyombongkan diri terhadap yang lain atau menghina yang lain.
Persamaan yang diajarkan Islam adalah persamaan dalam bentuk yang paling
hakiki dan sempurna. Islam mengajarkan bahwa semua manusia dari segi
harkat dan martabatnya adalah sama di hadapan Tuhan. Tidak ada perbedaan
antara manusia yang satu dan lainnya kecuali dalam taqwanya kepada Tuhan
5. Islam Penegak Keadilan
Perspektif Islam
Islam sangat objektif dan rasional dalam penegakan keadilan. Seseorang tidak
ditolelir untuk mendiamkan pelanggaran apa pun dari orang yang dicintainya
atau mengganjar orang yang dibencinya di luar kepantasan. Penegakan
keadilan mesti benar-benar adil, sekalipun terhadap diri sendiri, ibu bapak dan
kaum kerabat.Bahkan, keadilan harus ditegakkan terhadap orang kaya dan
miskin.Keadilan Islam tidak berkompromi dengan segala prestise dan status
sosial.Al-Quran sangat mewanti-wanti poin ini, karena seringkali kekayaan
seseorang membuat penegak hukum tidak berkutik menindaknya, atau
kemiskinan dan kesengsaraan seseorang tidak jarang membangkitkan rasa
kasihan dan tidak tega menghukumnya.
Penegakan keadilan perspektif Islam memiliki dasar pijak, standar nilai
dan tujuan sangat jelas.Al-Quran mengungkapkannya dalam redaksi
qawwâmîna lil-Lâh (orang-orang yang menegakkan keadilan karena
Allah).Upaya penegakan keadilan harus diawali karena ketundukan dan
keinginan tulus untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah.Tidak boleh ada
nilai-nilai lain yang digunakan sebagai standar kecuali ajaran Allah atau nilai
masyarakat yang sejalan dengan kehendak-Nya. Poin paling esensial, keadilan
ditegakkan bukanlah untuk memuliakan sebagian orang atau menghinakan
yang lain, tapi semata-mata untuk “memuaskan” Allah. Seluruh aktivitas
penegakan keadilan harus mengarah secara jelas pada penegakan “kehendak”
Allah, Tuhan yang sangat menyayangi manusia dan menginginkan yang
terbaik bagi hamba-Nya."Islam seharusnya menegakkan keadilan untuk semua
orang, bukan hanya untuk umat Islam. Siapa pun yang lemah, apa pun
agamanya, harus dibantu. Kita harus berpikir dalam bingkai negara
kebangsaan dengan problem-problem kemanusiaan yang lintas batas," Islam,

10
aktif melakukan kritik etik terhadap sistem sosial politik mana pun yang tidak
memihak kelompok lemah.
Dasar-dasar perumusan visi pendidikan islam hendaknya tidak terlepas
dari beberapa pertimbangan pokok seperti berikut ini :

1. Merefleksikan cita-cita yang hendak dicapai


2. Mampu memetakan secara jelas antara kesempatan dan tantangan
3. Mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis yang
terdapat dalam lembaga pendidikan sebagai sebuah organisasi
4. Memiliki wawasan dan orientasi jauh kedepan
5. Mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan
pendidikan
6. Mampu menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi pendidikan
C. MISI-MISI AJARAN ISLAM
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan bahwa misi adalah suatu
tugas atau tujuan yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukannya
demi tujuan tertentu, misalnya agama, ideologi, patriotisme dan sebagainya.
Islam adalah kata turunan (jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan, kepatuhan
(kepada kehendak Allah), berasal dari kata salama yang artinya patuh atau menerima,
berakar dari huruf sin, lam, mim, (S-L-M). Kata dasarnya adalah salima yang berarti
sejahtera, tidak tercela, tidak bercatat. Jadi secara singkat Islam adalah kedamaian,
kesejahteraan, keselamatan, penyerahan (diri), ketaatan dan kepatuhan.
Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa misi
ajaran islam sebgai pembawa rahmat bagi seluruh alam :
Pertama, Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan orang muslim
ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah,
artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai dengan manusia
bukan saja menyingkiri berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada sesamanya,
melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya. Dua pengertian ini dinyatakan dalam
Al-Quran sebagai berikut: “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan
diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya
dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS.
Al-Baqarah, 2:112)

11
Kedua, misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang
dimainkan Islam dalam tata hidup masyarakat seperti problematika agama, sosial,
ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, dsb. Dalam bidang sosial adanya
kelas sosial dan kasta yang dibedakan berdasarkan ras, suku, agama, bangsa, keturunan,
jenis kelamin, dsb. Seperti ras kulit hitam sebagai budah ras kulit putih, mereka tidak
memiliki hak sebagai manusia seutuhnya, melainkan kebebasannya dikekang oleh si
majikan, lalu derajat wanita yang dianggap rendah untuk memenuhi kepuasan nafsu
belaka, dalam suatu kelompok tertentu kelahiran wanita dianggap aib sehingga dikubur
hidup-hidup. Yang berada dalam kelas rendah selama-lamanya akan selalu rendah
dengan mengabaikan prestasi yang ada. Selanjutnya dalam bidang ekonomi, ditandai
dengan praktik mendapatkan uang dengan menghalalkan segala cara seperti praktik riba,
mengurangi timbangan, menipu, monopoli, kapitalisme, dsb. Sehingga membawa
persaingan yang tidak sehat, yang kuasa akan semakin kaya sedangkan yang miskin akan
tetap pada keadaannya. Kemudian dalam bidang politik dan pemerintahan, pada masa itu
ditandai oleh pemerintah yang diktator, otoriter dan tirani, kebebasan rakyat dibatasi,
pemerintahan yang cenderung memaksa. Seperti di zaman Persia dan Romawi dua
imperium hebat yang berusaha saling menjatuhkan dan terus melakukan ekspedisi
perluasan tanah jajahan. Selanjutnya dalam bidang pendidikan, ditandai oleh keadaaan
dimana pendidikan dan ilmu pengetahuan hanya dimiliki kaum elite, seperti di Indonesia
yang dijajah oleh Belanda lebih dari kurun waktu 350 tahun, dibiarkan tenggelam dalam
kebodohan agar Belanda dapat terus mengeruk sumber daya alam dan tenaga kerja di
Indonesia. Di bidang kebudayaan ditandai oleh keadaan masyarakat yang semata-mata
mengikuti hawa nafsunya seperti mabuk-mabukan, foya-foya, berzina, berjudi, dsb.
Ketiga, misi islam dapat pula dilihat dari misi ajaran yang dibawa dan dipraktikkan
oleh nabi Muhammd SAW. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan tegas sebagai berikut
Artinya : “Dan tiada kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.” (QS. Al-Ambiya, 21:107). Misi kerahmatan Nabi Muhammad SAW.
Bukan hanya dapat dilihat dari misi ajaran Islam yang dibawanya sebagaimana telah
disebutkan diatas melainkan juga terlihat dalam mpraktik kehidupan nabi Muhammad
yang dikenal dengan seorang yang sangat sayang kepada umatnya dan kepada manusi
pada umumnya.
Keempat, misi Islam selanjutnya dapat pula dilihat pada kedudukannya sebagai
sumber nilai dan pandangan hidup manusia. Dalam hal ini Islam telah memainkan empat
peran sebagai berikut : 1. Sebagai factor kreatif yaitu ajaran agama yang dapat

12
mendorong manusia melakukan kerja produktif dan kreatif. 2. Factor motivatif, yaitu
bahwa ajaran agama dapat melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam aspek
kehidupannya. 3. Factor sublimatif, yakni ajaran agama yang dapat meningkatkan dan
mengkhuduskan fenomena kegiatan manusia tidak hanya hal keagamaan saja, tetapi juga
bersifat keduniaan. 4. Factor integrative, yaitu ajaran agama yang dapat dipersatukan
sikap dan pandangan manusia serta aktivitasnya baik secara individual maupun kolektif
dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kelima, misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat dapat pula dilihat dari peran yang
dimainkannya dalam sejarah. bahwa Islam diabad klasik (abad 7-13 M) atau selama lebih
kurang 7 abad telah tampil sebagai pengawal sejarah umat manusia menuju kehidupan
yang tertib, aman, damai, sejahtera, maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan
dan peradaban.
Keenam, misi ajaran Islam lebih lanjut dapat pula dilihat dari praktik hubungan Islam
dengan penganut agama lain, sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad di Madinah
adalah menjalin hubungan yang harmonis dan kokoh dengan seluruh komponen
masyarakat yang ada di Madinah melalui apa yang dikenal dalam sejarah sebagai Mitsaq
al-Madinah atau Piagam Madinah, didalamnya terdapat prinsip tentang hak manusia dan
politik pemerintahan. Teks piagam tersebut menyatakan bahwa atas dasar ajaran
Alquran, kemanusiaann dan ikatan sosial, di samping orang-orang Muslim mukmin
sebagai satu umat atas dasar agama dan keyakinan , kaum Yahudi dan sekutunya juga
merupakan umat bersama orang-orang mukmin. Untuk kebutuhan umat seperti ini,
piagam itu menegaskan pentingnya mewujudkan persaudaraan, persatuan dan kerja sama
dalam kehidupan sesama antargolongan guna mencapai tujuan bersama sebagaimana
diajarkan Alquran.
Dari sejak kelahirannya Islam sudah memiliki komitmen dan respon yang tinggi
untuk ikut serta terlibat dalam memecahkan berbagai masalah tersebut diatas. Islam
bukan hanya mengurusi social, ibadah, dan seluk-beluk yang terkait dengannya saja,
melainkan juga ikut terlibat memberikan jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi
berbagai masalah tersebut dengan penuh bijaksana, adil, demokratis, manusiawi, dan
seterusnya. Hal-hal yang demikian itu dapat dikemukakan sebagai berikut :
A. Misi Islam Dalam bidang sosial
Dalam bidang sosial islam memperkenalkan ajaran yang bersifat egaliter atau
kesetaraan dan kesederajatan antara manusia dengan manusia lain. Satu dan
lainnya sama-sama sebagai makhluk Allah SWT. Dengan segala kelebihan

13
dan kekurangannya masing-masing. Orang yang memiliki kelebihan dalam
bidang tertentu misalnya ia memiliki kekurangan dalam bidang tertentu
lainnya. Orang yang memiliki kekurangan dalam bidang tertentu tapi memiliki
kelebihan dalam bidang lainnya. Selain itu, ajaran Islam tentang aspek sosial
ini menekankan adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.
Sebagaimana halnya kaum pria, kaum wanita dalam Islam memiliki kesamaan
kesempatan dan peluang untuk mengaktualisasikan potensi yang ada dalam
dirinya. Ajaran Islam dalam bidang sosial inilah yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW. Yaitu ajaran yang bersifat, eligater, toleransi,
persaudaraan, tolong-menolong, nasehat-menasehati, saling menjaga dan
mengamankan dan seterusnya.
B. Misi Islam sebagai pembawa rahmat dalam bidang ekonomi
Misi Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam dapat dilihat
dari ajaran dalam bidang ekonomi yang bersendikan azas keseimbangan dan
pemerataan. Dalam ajaran Islam seseorang diperbolehkan memiliki kekayaan
tanpa batas, namun dalam jumlah tertentu dalam hartanya itu terdapat milik
orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah.
Dengan cara demikian, makin banyak harta kekayaan yang dimiliki seseorang,
semakin banyak pula sumbangan yang harus ia keluarkan. Harta yang
dikeluarkan itu dibagi kepada mereka yang kurang mampu. Dengan cara
demikian kecemburuan kesenjangan sosial yang dapat memicu terjadinya
pertentangan dapat dihindari.
Selain itu misi Islam dalam bidang ekonomi ini dapat dilihat pula dari
perintah berdagang dengan cara yang jujur yaitu pedagang yang jauh dari
kecurangan, penipuan atau tin dakan lainnya yang merugikan konsumen,
dseperti mengurangi timbangan, takaran, dan sebagainya. Lebih lanjut ajaran
Islam sangat melarang keras melakukan praktik Riba atau membungakan uang
yang menguntungkan secara berlipat ganda tanpa memeperhitungkan
kemampuan orang yang meminjamnya.
C. Misi ajaran islam rahmatal lil alamin dalam bidang politik
Misi ajaran islam rahmatal lil alamin dalam bidang politik terlihat dari
perintah Al-Qur’an agar seorang pemerintah bersikap adil, bijaksana terhadap
rakyat yang dipimpinnya, memperhatikan aspirasi dan kepentingan rakyat
yang dipimpinnya, mendahulukan kepentingan-kepentingan rakyat daripada

14
kepentingan dirinya, melindungi dan mengayomi rakyat, memberikan
keamanan dan ketentraman kepada masyarakat. Kepemimpinan dalam Islam
adalah merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan cara
melaksanakan kegiatan yang berguna bagi rakyat yang dipimpinnya.
D. Misi Islam rahmatal lil alamin dalam bidang hukum
Misi rahmatal lil alamin ajaran Islam dalam bidang hukum-hukum
terlihat dari perintah Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 58. Ayat tersebut
memerintahkan seorang hakim agar berlaku adil dan bijaksana dalam
memutuskan perkara dengan tidak memndang perbedaan pada orang yang
sedang berperkara. Penegakan supremasi hukum sangat dianjurkan dalam
ajaran Islam.
E. Misi rahmatal lil alamin ajaran Islam dalam bidang pendidikan
Misi ajaran Islam rahmatal lil alamin dapat pula dilihat dalam bidang
pendidikan . Hal ini terlihat dalam ajaran Islam yang memberikan kebebasan
kepada manusia untuk mendapatkan hak-haknya dalam bidang pendidikan.
Islam menganjurkan belajar sungguhpun dalam keadaan perang. Dan
menuntut ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat, serta melakukannya
sepanjang hayat. Pendidikan dalam Islam adalah untuk semua. Pemerataan
dalam pendidikan adalah merupakan misi ajaran Islam

D. TUJUAN DAN SASARAN AJARAN ISLAM


Islam merupakan satu-sautnya agama yang benar-benar menjunjung tinggi
kesejahteraan manusia di dunia ini, secara khusus umat Islam sendiri dan umat
beragama yang lain pada umumnya. Hal ini sudah ditegaskan oleh Syari’ (Pembuat
Hukum) yang agung dan Rasul-Nya Muhammad SAW bahwa Islam sebagai
Rahmatan Lil ‘Alamin, yang memberi kesejahteraan bagi seluruh manusia yang
bernaung di dalamnya. Secara historis pun sudah jelas terbukti tatkala Khilafah
Islamiyah menguasai hampir sepertiga dunia, semua makhluq yang bernaung di dalam
kekuasaan islam yang adil senantiasa merasakan kesejahteraan. Tidak hanya umat
Islam, umat non Islam pun terjamin hak-haknya. Inilah hakikat Islam sebagai
Rahmatan Lil ‘Alamin.

15
Di dalam Islam terdapat hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Yang
mana sasaran dan tujuan sebenarnya adalah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan
manusia, khususnya umat Islam sendiri. Berikut penjelasan secara ringkasnya.

Mewujudkan Kemaslahatan Hamba Dahulu dan Sekarang


Sesungguhnya, tujuan utama Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan,
dan menghindarkan kerusakan dan bahaya dari seorang hamba baik dahulu, sekarang,
dan yang akan datang. Sehingga akan tercapailah kebahagiaan mereka yang hakiki
dimanapun berada. Imam al-‘Izz bin Abdussalam berkata, “Sesungguhnya seluruh
syari’at yang ada merupakan kemaslahatan. baik dengan mengindarkan dari
kerusakan, ataupun mendatangkan kebaikan”.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga
berkata, “Sesungguhnya Syari’at Islam datang untuk mencapai kemaslahatan dan
menyempurnakannya, serta menghilangkan kerusakan dan mengikisnya”.
Imam Ibnu Qoyim Al-Jauziyah yang merupakan murid dari Ibnu Taimiyah
juga mengatakan, “Syari’at terbangun didasari dan dipondasi dengan hukum yang
merupakan kemaslahatan bagi hamba di dunia dan akhirat. Dan seluruh hukum itu
merupakan suatu keadilan dan rahmat. Dan seluruh hukum itu merupakan
hikmah”.Imam As-Syatibi juga menegaskan dalam kitabnya Al-Muwafaqot:
“Sesungguhnya Syari’at Islam diadakan adalah untuk kemaslahatan hamba”.
Kenyataannya, apa yang telah disebutkan oleh para Imam di atas tentang
tujuan, sasaran, dan sifat yang sebenarnya dari Islam merupakan suatu kebenaran.
Sangat banyak dalil-dalil tentang hal itu, baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
Salah satunya, dan yang cukup luas cakupannya adalah firman Allah:

‫س ْلنَاكَ إِ اَّل َر ْح َمةً ِل ْلعَالَ ِمي َن‬


َ ‫َو َما أ َ ْر‬
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Ayat di atas sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Islam merupakan rahmat
bagi semesta alam, karena Islam pada dasarnya menerapkan kemaslahatan bagi
hamba, di dunia dan akhirat, serta menghindarkan dari kerusakan dan bahaya. Allah
berfirman dalam Al-Qur’an: (QS. 19 : 47)
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan
meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”

16
Macam-macam Maslahat
Maslahat yang sifatnya pokok, dan harus ada. Dalam maslahat ini, peranan Islam ada
dalam lima aspek kehidupan, yaitu:

1. Penjagaan terhadap Dien (agama). Contoh: Menjauhkan dari murtad dengan


memerangi orang kafir.
2. Penjagaan terhadap diri. Contoh: Syari’at Qishas.
3. Penjagaan keturunan. Contoh: Menjauhkan dari zina.
4. Penjagaan harta. Contoh: Adanya hukuman bagi pencuri.
5. Penjagaan akal. Contoh: Pengharaman khamar.
6. Maslahat yang sifatnya sebagai kebutuhan. Dalam maslahat ini ada suatu
bentuk keluasan dan menghilangkan hal-hal yang sulit. Contoh: Keringanan
bagi orang yang safar atau sakit untuk berbuka pada bulan Ramadhan.
7. Maslahat yang sifatnya sebagai pemerindah. Hal ini mencakup masalah
kemuliaan Akhlaq. Contoh: Perintah untuk berhias jika pergi ke masjid

Mensucikan dan membersihkan jiwa manusia.

Allah berfirman: (QS. 5 : 6)

“Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak
menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan kamu
dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Membimbing manusia ke jalan yang lurus

Allah berfirman (QS. 6 : 153)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu bertakwa.

E. PRINSIP-PRINSIP AJARAN ISLAM


Prinsip prinsip yang terdapat dalam ajaran islam adalah sebagai berikut :
a. Sesuai dengan fitrah manusia

17
Kata fitrah secara harfiah berarti keadaan suci. Adapun yang mengartikan
bahwa fitrah adalah kecendrungan atau perasaan mengakui adanya kekuasaan yang
menguasai dirinya dan alam jagat raya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh para
ahli, ternyata bukan hanya fitrah beragama saja melainkan juga fitrah keingintahuan
terhadap sesuatu, fitrah menyukai dan mencintai seni. Dengan fitrah
beragamamanusia menjadi orang yang berilmu pengetahuan, dan dengan fitrah seni
manusia menjadi halus dan menyukai yang indah.
b. Keseimbangan
Manusia terdiri dari unsur jasmani dan unsur rohani. Jasmani berasal dari
tanah atau bumi yang melambangkan kerendahan, adapun rohani berasal dari tuhan
dan bahkan ia merupakan unsur ketuhanan yang terdapat dalam diri manusia yang
melambangkan ketinggian. Hidup yang seimbang adalah hidup yang memperhatikan
kepentingan jasmani dan rohani.
c. Sesuai dengan keadaan zaman dan tempat
Islam adalah agama akhir zaman, dengan sifatnya yang demikian berdasarkan
al-qur’an dan hadits, islam akan terus berlaku sepanjang zaman. Walaupun sumber
ajaran islam itu di al-qur’an dan hadits, namun pemahaman dan implementasinya
mengalami penyesuaian persebaad yang disesuaikan dengan keadaan perkembangan
masyarakat. Namun demikian, perbedaan ini tidak sampai mengubah teks al-qur’an
dan hadist serta menolak hal-hal yang bersifat qat’i yaitu dalam hal akidah, ibadah
dan akhlakul karimah.
d. Tidak menyusahkan manusia
Ajaran islam turun dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat, memberi
rahmat, mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada terang benderang, dan dari
kebiadaban menjadi beradab. Ajaran islam juga memberikan toleransi kepada
umatnya dalam hal ibadah, shalat, puasa, dan makanan. Adanya berbagai
kemudahan atau dispensasi tersebut menunjukkan bahwa islam tidak mempersulit
manusia, jikalau itu terjadi maka hal ini bertentangan engan visi, misi, dan tujuan
ajaran islam itu sendiri yakni untuk memlihara jiwa, agama, akal, harta, dan
keturunan.
e. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Islam adalah agama satu-satunya yang sejak kelahirannya mewajibkan setiap
orang untuk membaca, karena dengan membaca kitaakan mudah untuk mendapatkan
informasi yang sedang terjadi atau yang sedang booming di zamannya. Selain itu

18
dengan membaca kita juga memperoleh kemudahan dan kecepatan dalam mencapai
tujuan agama tersebut. Ibnu ruslan dalam kitab zubad halaman 68 mengatakan
‘setiap orang yang beramal tanpa ilmu pengetahuan, maka amalnya ditolak, tidak
diterima’
f. Berbasis pada penelitian
Penelitian merupakan pengembangan ilmu pengetahuan, mengumpulkan fakta dan
data-data untuk membuktikan keberadaan tentangs esuatu yang disusun secara
sistematis dalam bentuk teori. Ajaran islam berbasis pada hal tersebut serta sikap
kehati-hatian dalam menentukan sebuah kebijakan, sehingga kebijakan ini tidak
hanya cukup didasarkan pada asumsi atau dugaan saja.
g. Berorientasi pada masa depan
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada penganutnya agar masa depan
keadaannya lebih baik dari masa lalu dan sekarang. Dengan berorientasi ke masa
depan seseorang akan lebih kreatif, optimis, dan tidak mengagung agungkan masa
lalu hanya untuk menghibur diri atau menutup kemalasan dimasa sekarang.
Kemudian seseorang akan berusaha meningkatkan mutu hasil kerjanya, sehingga
akan tetap berguna dan mampu bersaing secara sehat.
h. Kesederajatan
Prinsip ajaran islam tentang kesederajatan ini penting dilakukan selain
mendatangkan manfaat juga akan menimbulkan sikap saling menghormati,
menghargai, akan menghilangkan praktek penjajahan dan berbagai tindakan
kedzaliman manusia yang satu dengan yang lainnya, serta akan membangun citra
ajaran islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam.
i. Keadilan
Dapat diartikan sebagai sebuah perlakuan seseorang atas orang lain yang
didasarkan atas perasaan memberi kesempatan yang sama, seimbang, profesional,
sesuai dengan peran, tugas, tanggung jawab, dan prestasi yang dicapainya.
j. Musyawarah
Dengan adanya musyawarah ini, maka berbagai gagasan dan pikiran-pikiran
dari berbagai pihak akan dapat ditampung. Sehingga berbagai kemungkinan
terjadinya ketidakpuasan yang dapat menimbulkan unjuk rasa, demostrasi, dan
sebagainya dapat dihindari.
k. Persaudaraan

19
Prinsip persaudaraan dalam islam didasarkan pada pandangan walaupun
manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda namun mereka memiliki unsur
persamaan dari segi asal usul, proses, kebutuhan hidup, tempat kembali, dan nenek
moyang. Hal tersebut merupakan dasar atau landasan bagi terbangunnya konsep
persaudaraan yang bersifat kemanusiaan.
l. Keterbukaan
Suatu sikap yang meyakini kebenaran suatu agama atau ideologi dan berusaha
mempertahankan dan mengamalkannya, namun dalam waktu yang bersamaan
ia mau menerima kasukan dari luar, serta menghargainya. Dengan kata lain,
bahwa yang dimaksud keterbukaan bukanlah sikap menerima semua yang
berasal dari luar penelitian dan penyaringan, melainkan mau menerima
informasi atau kebenaran dari manapun datangnya, dengan tetap waspada,
hati-hati, dan menyesuaikannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan hadits.
F. GARIS-GARIS BESAR RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM
Ada 3 (tiga) pokok yang diambil dari garis besar agama islam, yaitu:
 Aqidah
Aqidah arti bahasanya ikatan atau sangkutan. Bentuk jamaknya ialah aqa’id. Arti
aqidah menurut istilah ialah keyakinan hidup atau lebih khas lagi iman. Sesuai dengan
maknanya ini yang disebut aqidah ialah bidang keimanan dalam islam dengan
meliputi semua hal yang harus diyakini oleh seorang muslim/mukmin. Terutama
sekali yang termasuk bidang aqidah ialah rukun iman yang enam, yaitu iman kepada
Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-
Nya, kepada hari Akhir dan kepada qada’dan qadar.
Aqidah adalah sistem keyakinan yang mendasari seluruh aktivitas muslim. Ajaran
Islam berisikan tentang apa saja yang mesti dipercayai, diyakini, dan diimani oleh
setiap muslim. Karena agama Islam bersumber kepada kepercayaan dan keimanan
kepada Allah swt, maka aqidah merupakan sistem kepercayaaan yang mengikat
manusia kepada Islam. Seorang manusia disebut muslim jika dengan penuh kesadaran
dan ketulusan bersedia terikat dengan sistem kepercayaan Islam. Karena itu, aqidah
merupakan ikatan dan simpul dasar dalam Islam yang pertama dan utama.
Aqidah dibangun atas 6 dasar keimanan yang lazim disebut Rukun Iman. Rukun
iman meliputi : iman kepada Allah swt, para malaikat, kitab – kitab, para Rasul, hari
akhir, dan Qodlo dan Qodar. Allah berfirman dalam QS.An-Nisa’, ayat 136 yang

20
artinya “Wahai orang yang beriman, tetaplah beriman kepaada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang diturunkan
sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya,
hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh- jauhnya”.
Berdasarkan 6 fondasi tersebut, maka keterikatan setiap muslim yang semestinya
ada pada jiwa setiap muslim adalah :
1. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang terakhir, mengandung syariat
yang menyempurnakan syariat – syariat yang diturunkan Allah
sebelumnya.
2. Meyakini bahwa Islam adalah satu- satunya agama yang benar di sisi
Allah. Islam dating dengan membawa kebenarana yang bersifat absolute
guna menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia selaras dengan
fitrahnya.
3. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang universal serta berlaku untuk
semua manusioa dalam segala lapisan masyarakat dan sesuai dengasn
tuntutan budaya manusia.

Ruang lingkup pembahasan Materi Aqidah dalam mata pelajaran Agama


Islam, yaitu :

1. Iman (bahasa Arab:‫ )اإليمان‬secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman


(‫ )إيمان‬diambil dari kata kerja 'aamana' (‫ )أمن‬-- yukminu' (‫ )يؤمن‬yang berarti
'percaya' atau 'membenarkan'.
2. Tauhid (Arab :‫)توحيد‬, adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan
keesaan Allah.
3. Ibadah
Ibadah atau Ibadah adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa Arab. Arti
kata ini adalah perbuatan atau penyataan bakti terhadap Allah yang didasari
oleh peraturan agama (syar`i).
4. Islam
Islam (Arab: al-islām, ‫ اإلسالم‬Tentang suara ini dengarkan (bantuan·info):
"berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan,
yaitu Allah. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri
sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: ‫هللا‬, Allāh

21
Agar terhindar dari perbuatan syirik:

1. Beriman kepada Allah & segala firmannya


2. Beriman kepada Rasul-rasul Allah
3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah
4. Beriman kepada Malaikat-malaikat
5. Beriman kepada Hari akhirat
6. Beriman kepada Takdir

 Syari’ah
Komponen Islam yang kedua adalah syari’ah yang berisi peraturan dan perundang-
undangan yang mengatur aktifitas yang seharusnya dikerjakan manusia. Syari’at
adalah sistem nilai yang merupakan inti ajaran Islam. Syari’ah aatau sistem nilai
Islam yang diciptakan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan ini, Allah disebut Syaari
atau pencipta hukum.
Sistem nilai Islam secara umum meliputi 2 bidang :
1. Syari’at yang mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Allah
(ibadah mahdah / khusus). Disebut ibadah mahdah karena sifatnya yang khas
dan sudah ditentukan secara pasti oleh Allah dan dicontohkan secara rinci oleh
Allah. Dalam konteks ini, syari’at berisikan ketentuan tentang tata cara
peribadatan manusia kepada Allah, seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, haji.
2. Syari’at yang mengatur hubungan manusia secara horizontal dengan sesama
dan makhluk lainnya ( mu’amalah ). Mu’amalah meliputi ketentuan perundang-
undangan yang mengatur segala aktivitas hidup manusia dalam pergaulan
dengan sesamanya dan alam sekitarnya.

Adanya sistem mu’amalah ini membuktikan bahwa Islam tidak meninggalkan


urusan dunia, bahkan tidak pula melakukan pemisahan terhadap persoalan dunia
maupuu akhirat. Bagi Islam, ibadah yang diwajibkan Allah atas hambanya bukan
sekedar bersifat formal belaka, melainkan disuruhnya agar semua aktivitas hidup
dijalankan manusia hendaknya bernilai ibadah. Ajaran ini sesuai dengan ajaran
Islam tentang tujuan diciptakannya manusia supaya beribadah. Allah berfirman
dalam QS. Az-Zarariyat, ayat 56

22
“ Dan tiadalah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepada-
Ku “

Hubungan horizontal ini disebut pula dengan ibadah gairu mahdah / umum
karena sifatnya umum, di mana Allah atau Rasul-Nya tidak memerinci macam dan
jenis perilakunya, tetapi hanya memberikan prinsip dasarnya saja. Syari’ah arti
bahasanya jalan, sedang arti istilahnya ialah peraturan Allah yang mengatur
hubungan manusia dengan tiga pihak Tuhan, sesama manusia dan alam seluruhnya,
peraturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan disebut ibadah,
dan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam
seluruhnya disebut Muamalah. Rukun Islam yang lima yaitu syahadat, shalat,
zakat, puasa dan haji termasuk ibadah, yaitu ibadah dalam artinya yang khusus
yang materi dan tata caranya telah ditentukan secara parmanen dan rinci dalam al-
Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. .
Selanjutnya muamalah dapat dirinci lagi, sehingga terdiri dari : Munakahat
(perkawinan), termasuk di dalamnya soal harta waris (faraidh) dan wasiat ; Tijarah
(hukum niaga) termasuk di dalamnya soal sewa-menyewa, utang-piutang, wakaf.
;Hudud dan jinayat keduanya merupakan hukum pidana islam Hudud ialah hukum
bagi tindak kejahatan zina, tuduhan zina, merampok, mencuri dan minum-
minuman keras. Sedangkan jinayat adalah hukum bagi tindakan kejahatan
pembunuhan, melukai orang, memotong anggota, dan menghilangkan manfaat
badan, dalam tinayat berlaku qishas yaitu “hukum balas” ; Khilafat
(pemerintahan/politik islam) ; Jihad (perang), termasuk juga soal ghanimah (harta
rampasan perang) dan tawanan). ; Akhlak/etika.

 Akhlak
Akhlak adalah berasal dari bahasa Arab jamat dari “khuluq” yang artinya
perangai atau tabiat. Sesuai dengan arti bahasa ini, maka akhlak adalah bagian
ajaran islam yang mengatur tingkahlaku perangai manusia. Ibnu Maskawaih
mendefenisikan akhlak dengan “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan fikiran”.
Akhlaq merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran
tentang perilaku atau sopan santun. Akhlaq maupun syari’ah pada dasarnya
membahas perilaku manusia, tetapi yang berbeda di antaranya adalah obyek
materia. Syari’ah melihat perbuatan manusia darin segi hukum yaitu : wajib, sunah,
23
mubah, makruh, dan haram. Sedangkan aklaq melihat perbuatan manusia dari segi
nilai / etika, yaitu perbuatan baik ataupun buruk.
Akhlaq merupakan sistematika Islam, sebagai sistem, akhlaq memiliki
spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk lain,
serta terhadap Allah SWT.
Dalam Islam selain akhlak dikenal juga istilah etika. Etika adalah suatu ilmu
yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh
manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa
yang harus diperbuat (Amin, 1975 : 3) Jadi, etika adalah perbuatan baik yang
timbul dari orang yang melakukannya dengan sengaja dan berdasarkan
kesadarannya sendiri serta dalam melakukan perbuatan itu dia tau bahwa itu
termasuk perbuatan baik atau buruk.
Etika harus dibiasakan sejak dini, seperti anak kecil ketika makan dan minum
dibiasakan bagaimana etika makan atau etika minum, pembiasaan etika makan dan
minum sejak kecil akan berdampak setelah dewasa. Sama halnya dengan etika
berpakaian, anak perempuan dibiasakan menggunakan berpakaian berciri khas
perempuan seperti jilbab sedangkan laki-laki memakai kopya dan sebagainya.
Islam sangat memperhatikan etika berpakai sebagaimana yang tercantum dalam
surat al-Ahsab di atas.
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana,
memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan
hawa nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti
pada keluarga dan negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani
mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida
dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya. Masyarakat dan bangsa
yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan
kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala.
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang
baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan
mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti
ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang
ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110

24
yang artinya “Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada
yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah”
Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati,
ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk),
dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan
berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di
sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni
kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti
mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu
Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti: "Telah timbul pelbagai
kerusakan dan bencana alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang
telahdilakukan oleb tangan manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah
hendak merusakan mereka sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang
mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat)".
G. KARAKTERISTIK DAN MACAM-MACAM AJARAN ISLAM
Istilah karakteristik ajaran islam terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran islam.
Kata karakteristik dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sesuatu yang mempunyai
karakter atau sifat yang khas. Islam dapat diartikan agama yang diajarkan nabi
Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci al qur'an dan diturunkan di dunia ini
melalui wahyu allah SWT. Berarti karakteristik jaran islam dapat diartikan sebagai ciri
yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan
kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang
didalamnya temasuk ekonomi, social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan,
lingkungan, dan disiplin ilmu. Karakteristik ajaran islam terdiri dari berbagai bidang
disiplin ilmu. Bidang-bidang tersebut adalah sebagai berikut.
A. Bidang Ilmu dan Kebudayaan
Kebudayaan adalah penjelmaan (manifestasi) akal dan rasa manusia. Ini
berarti manusilah yang menciptakan kebudayaan. Kebudayaan islam, berarti
menyaring kebudayaan yang tidak melenceng dari ajaran islam agar tetap berjalan
antara kebudayaan dengan ajaran agama maka harus pula dipelajari tentang pengertian
kebudayaan dan islam itu sendiri. Menurut bahasa, kata kebudayaan berasal dari
bahasa sangsekerta, yaitu budh yang berarti akal kemudian dari kata budh itu berubah

25
menjadi kata budhi dan jamaknya budaya. Dalam bahasa arab kata kebudayaan itu
disebut ats-tsaqafah dalam bahasa inggris kebudayaan ini disebut culture.
Dalam bidang ilmu dan kebudayaan, islam mengajarkan kepada pemeluknya
untuk bersikap terbuka, sekalipun islam bukan timur dan barat. Ini tidak berarti islam
harus menutup diri dari keduanya dalam sejarah, islam mewarisi peradapan yunani-
romawi di barat dan peradapan Persia, India, cina di timur. Dari abad ke-7 sampai
abad ke-15, ketika perdapan besar di barat dan timur tenggelam, islam bertindak
sebagai pewaris utamanya untuk kemudian di ambil alih oleh peradapan barat jadi,
dalam ilmu dan kebudayaan, Islam menjadi mata rantai sangat penting dalam sejarah
peradapan dunia .
B. Bidang Sosial
Karakteristik islam di bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol,
Karena seluruh bidang ajaran islam dalam bidang sosial ditujukan untuk
menyejahterakan mnusia. Namun khusus dalam bidang sosial ini, islam menjunjung
tinggi sifat tolong menolong, saling mensehati, tentang hak dan kesabarn,
kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derjat), tenggang rasa, dan kebersamaan. Ukuran
tinggi derajat manusia dalam pandangan islam bukan di tentukan oleh nenek
moyangnya, kebangsaannya, warna kulit, bahasa, dan jenis kelamin yang berbau
rasialis. Tetapi ditentukan oleh ketakwaannya yang ditujukan oleh prestasi kerjanya
yang bermanfaat bagi manusia.
C. Bidang Ekonomi
Karakteristik ajarn islam selanjutnya dapt dipahami dari konsepsinya
dalambidang kehidupan yang harus dilakukan. Urusan dunia dikejar dalam rangka
mengejar kehidupan akherat, kehidupan akherat dapat dicapai dengan dunia.
Pandangan islam mengenai kehidupan dibidang ekonomi itu dicerminkan dalam ajaran
fiqih yang menjelaskan tentang bagaimana menjalankan sesuatu usaha ataupun ajaran
islam mengenai berzkat juga dalam konteks berekonomi.
D. Bidang Kesehatan
Kesehatan berasal dari kata sehat yang merupakn sehat jasmani dan rohani,
sehat lahir dan batin. Dalam kamus bahasa Indonesia kesehatan diartikan sebagai hal
yang harus dijaga olkeh setiap manusia agar tetap hidup sehat. Islam sangat
memperhatikan kesehatan dengan cara: pertama, mengajak dan menganjurkan untuk
menjaga kebersihan diri dn lingkungan. Kedua, mempertahankan kesehatn yang
dimiliki seseorang agar tetap sehat. Ajaran islam tentang kesehatn berpedoman pada

26
prinsip pencegahan lebih baik dari pada mengobati (al-wiqoyah khoir minal al-I"laf)
berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan sekian banyak petunjauk kitab suci
dan sunah nabi SAW yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan. Untuk
menuju upaya pencegahn tersebut, islam menekankan segi kebersihan lahir batin.
Kebersihan lahir batin dapat mengambil bentuk kebersihan tempat tinggal, lingkungan
sekitar badan, pakaian, makanan, dan minuman.

E. Bidang Pekerjaan
Karakteristik ajaran islam lebbih lanjut dapat dilihat dari jaranya mengenai
kerja. Islam memandng bahwa kerja sebagai ibadah kepada alloh SWT atas dasar
inilah maka kerja yang dikehendaki islam adalah kerja yang bermutu tearah pada
pengabdian terhadap alloh SWT, dan kerja bermanfaat bagi orng lain. Islam tidk
menekankan pada banyaknya pekerjaan, tetapi pada kwalitas manfaat kerja. Untuk
menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, islam memndang kerja yang dilakukan
harus kerja yang professional, yakni kerja yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan,
keahlian, pengalaman, kesungguhan, dan kwalitasnya.
F. Bidang Disiplin Ilmu
Karakteristik islam mengenai disiplin ilmu sangat dibutuhkan, sebab
menerapkan disipilin,seseorang, membuat orang tersebut tetap berpegang teguh pada
peraturan dan tidak akn tergoyahkan aqidahnya. Bagai ajaran yangberkenaan dengan
berbagai bidng kehidupqn, island tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yyanitu ilmu
keislaman. Harun nasution menyatakan bahwaislam mempunyai berbagai aspek disip-
lin ilnmu, yanitu aspek teologi, aspek ibadah, asprk moral, aspek mistisisme, aspek
sejarah, dan aspek kebudayaan.

H. KESEHATAN MENURUT AJARAN ISLAM


Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi
meliputi seluruh aspek kebutuhan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial, dan
spiritual. Dalam pengertian yang paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang
dinamis di mana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik,
sosial, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

27
KESEHATAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Islam menaruh perhatian yang besar terhadap dunia kesehatan.Kesehatan merupakan
modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran islam
yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan halal
menunjukkan apresiasi Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan salah satu
penentu sehat tidaknya seseorang.
Firman Allah SWT :
‫اس أَي َها يَا‬ ِ ‫ط ِيبًا َح َل ًل ْاأل َ ْر‬
ُ َّ‫ض فِي مِ َّما ُكلُوا الن‬ َ ‫ت تَت َّ ِبعُوا َو َل‬ ُ ‫ان ُخ‬
ِ ‫ط َوا‬ ِ ‫ط‬َ ‫ش ْي‬
َّ ‫عدُو لَ ُك ْم ِإنَّهُ ۚ ال‬
َ ‫ُم ِبين‬
Artinya: “wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang
terdapat di bumi. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik
yang Kami rezekikan kepadamu.” (Q.S.Al-Baqarah: 168).
Anjuran Islam untuk bersih juga menunjukkan obsesi Islam untuk mewujudkan
kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan, dan kebersihan dipandang
sebagai bagian dari iman. Itu sebabnya ajaran Islam sangat melarang pola hidup yang
mengabaikan kebersihan, seperti buang kotoran dan sampah sembarangan, membuang
sampah dan limbah di sungai atau sumur yang airnya tidak mengalir dan sejenisnya, dan
Islam sangat menekankan Kesucian atau Al-thaharah, yaitu kebersihan atau kesucian
lahir dan batin. Dengan hidup bersih, maka kesehatan akan semakin terjaga, sebab selain
bersumber dari perut sendiri, penyakit sering kali berasal dari lingkungan yang kotor.
Jadi, walaupun seseorang sudah menjaga kesehatannya, resiko sakit masih besar
disebabkan faktor eksternal yang di luar kemampuannya menghindari.Termasuk disini
karena faktor alam berupa rusaknya ekosistem, populasi di darat, laut dan udara serta
pengaruh global yang semakin menurunkan derajat kesehatan penduduk dunia. Karena
itu, Islam memberi peringatan antisipatif: jagalah sehatmu sebelum sakitmu, dan jangan
abaikan kesehatan, karena kesehatan itu tergolong paling banyak diabai orang. Orang
baru sadar arti sehat setelah ia merasakan sakit.
Kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang harus kita syukuri, bagi seorang
mukmin, kesehatan merupakan rahmat dan nikmat yang tak terhingga nilainya.Setiap
ajarannya mengandung nilai-nilai yang universal dan transendental.Dalam Islam
kesehatan mendapatkan perhatian yang begitu penting.Karena dengan sehat manusia
dapat beraktivitas. Islam memiliki perbedaan yang nyata dengan agama-agama lain di
muka bumi ini. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan
manusia dengan sang Khalik-nya dan alam surga, namun Islam memiliki aturan dan
tuntunan yang bersifat komprehensif, harmonis, jelas dan logis.

28
“Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia”, demikian sabda Nabi
Muhammad SAW. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai
dengan fitrah manusia, maka islam menegaskan perlunya istiqamah memantapkan
dirinya dengan menenggakkan agama islam. Satu-satunya jalan dengan melaksanakan
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangannya.
Allah berfirman:
Artinya: “hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.Yunus: 57)
Imam al-syatibhi dalam kitabnya fi ushul Al-Ahkam, mengatakan bahwa tujuan
kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan
keturunan. Guna melaksanakan lima tujuan Islam tersebut, maka kesehatan memegang
peranan penting. Tanpa adanya kondisi sehat dalam badan, maka berbagai upaya untuk
memenuhi kewajiban pokok akan sulit dilaksanakan. Dengan demikian kita dapat
mengatakan bahwa kesehatan merupakan modal pokok dan utama dalam mencapai
tujuan agama. Oleh karena itu, Islam memberikan petunjuk yang jelas, utuh,
komprehensif, dan integrated tentang cara-cara memelihara kesehatan. Tujuan islam
mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat
yang sehat jasmani, rohani dan sosial sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang
pilihan.
Dalam Islam dikatakan sehat apabila memenuhi tiga unsur, yaitu kesehatan jasmani,
kesehatan rohani dan kesehatan sosial.Kesehatan jasmani merupakan bentuk dari
keseimbangan manusia dengan alam.Kesehatan rohani dimana ada keseimbangan dan
hubungan yang baik secara spiritual antara Khalik atau pencipta yang diwujudkan dari
aktivitas makhluk dalam memenuhi semua perintah Sang Khalik.Yang terakhir adalah
kesehatan sosial, dimana kesehatan yang bersifat psikologis. Dimana ada keharmonisan
antara sebuah individu dengan individu lain maupun denga sistem yang berlaku pada
sebuah tatanan masyarakat. Bila ketiga unsur ini terpenuhi maka akan tercipta sebuah
keadaan baik fisik, mental, maupun spiritual yang prodiktif dan sempurna untuk
menjalankan aktivitas kemakhlukan.
Islam dan seluruh ajarannya, memberikan sebuah pandangan yang tegas mengenai
kesehatan.Kesehatan bukan hanya sebuah anjuran tetapi juga merupakan
kewajiban.Semua ibadah-ibadah dalam Islam mengandung ajaran tentang pentingnya
menjaga kesehatan. Karena penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sebuah kondisi

29
akan dikatakan sehat bila lingkungan di sekitarnya bersih. Oleh karena itu, Nabi
mengatakan “kebersihan sebagian dari pada iman” Kemudian Nabi Muhammad
mengajarkan kepada kita mengenai kesehatan, tidak sedikit dari ucapannya mengandung
unsur medis yang mutakhir. Dari ajaran beliau mengenai perihal orang sakit ialah:
Perintah untuk berobat.
Kewajiban bagi setiap muslim yang sakit untuk berobat.
A. Setiap penyakit ada obatnya, seperti:
 Karantina penyakit, Nabi bersabda “jauhkanlah dirimu sejauh satu atau dua
tombak dari orang yang berpenyakit lempra.
 Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip dasar dalam penagulangan berbagai
penyakit infeksi yang membahayakan masyarakat. Sabda Nabi yang berbunyi
“janganlah engkau masuk ke dalam suatu daerah yang sedang terjangkit
wabah, dan bila dirimu berada di dalamnya janganlah pergi
meninggalkannya”
 Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan upaya proteksi diri (ikhtiar)
dari berbagai penyakit infeksi, misalnya dengan imunisasi.

B. Menyembuhkan orang sakit


Merupakan suatu keharusan dalam agama.Hal ini mengindikasikan betapa
pentingnya kesehatan. Kesehatan merupakan hal yang mutlak dalam menjalani
aktivitas kehidupan manusia, bila tubuh manusia dalam keadaan sehat mereka bisa
melakukan aktivitas ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aktivitas sosial
(hubungan manusia dengan manusia), serta aktivitas dunia (hubungan manusia
dengan alam). Oleh karena itu, dibutuhkanlah sebuah metode untuk menjaga
kesehatan manusia, maka Allah memberikan petunjuk melalui perantara Nabi dengan
segala aktivitas dan ucapan-ucapan Nabi yang telah dirancang sedemikian rupa untuk
bisa diikuti manusiawi secara utuh dan mempunyai sifat yang eternaliabel.
Beberapa bentuk kesehatan antara lain:
1. Kesehatan jasmani
Manusia adalah makhluk yang selalu ingin memenuhi seluruh kebutuhannya,
keinginan manusia yang tidak terbatas kadang membuat manusia menjadi rakus.
Makan berlebih, pola hidup yang tidak baik, penggundulan hutan untuk bahan

30
bangunan, eksploitasi laut yang tidak bertanggung jawab, semuanya itu akan
membuat keseimbangan alam terganggu.
Disadari maupun tidak, manusia merupakan bagian dari alam, badan
kesisteman yang berlaku. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kesehatan
jasmani berhubungan dengan alam.Nabi pernah bdersabda “sesungguhnya badanmu
mempunyai hak atas dirimu”
Kesehatan fisik merupakan keadaan yang sangat penting dalam mendukung
aktivitas lainnya.Hal ini di sebabkan karena dalam perintah Allah pada manusia
banyak yang berupa aktivitas fisik yang memerlukan kondisi yang prima, seperti
shalat, puasa, ibadah haji dan ibadah lainnya. Ajaran islam untuk menjaga kesehatan
fisik terlihat dalam beberapa perintah Allah, seperti shalat yang mampun
meregangkan otot. Karena setiap gerakan shalat seperti mempunyai kunci tubuh,
sehingga sendi-sendi bisa lentur dan menyehatkan.Wudhu yang menurut penelitian
bisa merangsang saraf-saraf pada daerah yang terusap air wudhu, puasa yang
menyehatkan, ibadah haji yang merupakan puncak dari ibadah yang membuat tubuh
kuat, karena rukun-rukunnya yang melatih kondisi stamina tubuh. Dengan demikian
tampaklah jelas ajaran Islam yang sangat mementing kesehatan jasmani dan fisik
yang dilakukan dengan cara menjaga kebersihan, olahraga, menjaga asupan
makanan. Dan semuanya terintegrasi dalam setiap aktivitas ibadah.Hal ini agar
menjadi kebiasaan yang tidak disadari untuk umat Islam dan merupakan bentuk
pendidikan dari Allah.
2. Kesehatan rohani
Firman Allah : Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati
menjadi tentram. (Q.S. Al-Ra’d: 28)
Menurut Prof Dr. Nasaruddin Umar M.A, Guru besar UIN Syarif hidayatullah
Jakarta mengatakan manusia ada tiga unsur, yaitu unsur jasad (jasadiyyah), unsur
nyawa, dan unsur ruh yang dalam Al-Qur’an di sebut Khalqan Akhar. Seseorang baru
disebut manusia jika memiliki ketiga unsur ini. Hubungan antara makhluk dengan
Tuhannya akan berjalan baik bila sang makhluk mentaati apa yang diperintahkan
Allah, ada kalanya manusia melanggar nilai-nilai keseimbangan antara Khalik-
makhluk. Namun selain itu, ada pula ciri-ciri jiwa yang sehat yang dalam Al-Qur’an
disebut Qalbun Salim, seperti hati yang selalu bertobat (at-taqwa), hati yang selalu

31
menjaga dari hal-hal keduniaan (al-zuhd), hati yang selalu ada manfaatnya (al-
shumi), hati yang selalu butuh pertolongan Allah (al-faqir).
3. Kesehatan sosial
Hidup bermasyarakat dalam arti yang seluas-luasnya adalah merupakan salah
satu naluri manusia. Menurut Aristoteles menyebutkan manusia adalah Zoon
Polition, yaitu manusia yang selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Oleh karena
itulah, dalam Islam dikenal istilah Ukhuwah (persaudaraan). Dalam konsep Islam,
manusia diikat dalam sebuah persaudaraan yang akan mendatangkan muamalah
(saling menguntungkan), hal ini memungkinkan rasa persaudaraan lebih tinggi.
Firman Allah : Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara
kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujarat:
13)
Ajaran islam tentang perlunya membangun kesehatan masyarakat yang sehat
terdapat pada hampir seluruh misi, semuanya dapat terlihat dalam ajaran Islam. Pada
zaman Rasulullah SAW, telah ada piagam Madinah. Dalam piagam itu ditegaskan
orang harus menjaga hubungan baik dengan masyarakat.

4. Kesehatan seksual
Kehidupan seksual merupakan pokok bahasan yang penting bagi orang muslim,
karena sangat berpengaruh bagi kesehatan dan perilaku manusia. Adapun poin-
poinnya, yaitu:
a. menjaga kebersihan dan kesucian organ-organ seksualitas, misalnya bersuci
setelah buang air besar dan buang air kecil.
b. larangan berhubungan seksual ketika istri sedang haid.
c. berhubungan badan melalui dubur.
d. membersihkan alat kelamin setelah berhubungan badan dan setelah datang bulan.

Beberapa tokoh muslim dalam ilmu kesehatan sebagai berikut:

a. Hunain Ibnu Ishaq

32
Beliau ialah spesialis mata.Hasil karyanya ialah buku-buku yang
membicarakan berbagai penyakit.Beliau banyak menerjemahkan buku-buku
kedokteran yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.
b. Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ar Razi
Beliau dilahirkan pada tahun 866 M dan meninggal pada tahun 909 M. Buku
karangannya tentang kedokteran dijadikan buku pegangan di Fakultas
Kedokteran. Bukunya diberi nama Al Hawi (menyeluruh). Ia yang menemukan
penyakit cacar, kemudian membaginya menjadi cacar air (variola) dan cacar
merah (rovgella), menemukan terapi tekanan darah tinggi atau hipertensi dan
masih banyak lagi penemuannya yang lain.
c. Ibnu Sina
Ibnu Sina, dilahirkan di Afsara (asia tengah) pada tahun 980 H/ 1593 M dan
meninggal di Isfahan pada tahun 1037 H/1650 M. Bukunya yang sangat
terkenaldi bidang kedokteran adalah Al Qanun Fi Al Thib, dijadikan buku
pedoman kedokteran, baik di Universitas-universitas Eropa maupun Negara
Islam.

I. PEMAHAMAN TENTANG ISLAM KOMPREHESIF


“Agama Islam merupakan agama yang sangat sempurna dan sangat lengkap.
Kesempurnaan agama Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zaman (sepanjang masa),
syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat)”
1) Islam sebagai syumuliyatuz zaman (sepanjang masa)
Islam sebagai syumuliyatuz zaman berati agama islam adalah agama yang
paling benar di sisi Allah baik pada dan harus dilaksanakan sepanjang masa untuk
seluruh umat manusia baik di masa lalu, masa sekarang dan sampai akhir zaman
nanti.
2) Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya)
Islam sebagai syumuliyatul minhaj berarti melingkupi beberapa aspek lengkap
yang terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah yang berfungsi
sebagai penyokong dan penguat Islam, akhlaq dan ibadah sebagai bangunan
Islam dan aqidah sebagai asas Islam. Aspek-aspek ini menggambarkan
kelengkapan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT.

33
Bukti-Bukti Kelengkapan ajaran islam:
A. Kelengkapan ajaran Islam dalam bidang aqidah
Aqidah Islam adalah aqidah yang lengkap dari sudut manapun.
a) Ia mampu menjelaskan persoalan-persoalan besar kehidupan ini. Aqidah
Islam mampu dengan jelas menerangkan tentang Tuhan, manusia,
alam raya, kenabian, dan bahkan perjalanan akhir manusia itu sendiri.
b) Ia tidak hanya ditetapkan berdasarkan instink/perasaan atau logika
semata, tetapi aqidah Islam diyakini berdasarkan wahyu yang
dibenarkan oleh perasaan dan logika. Iman yang baik adalah iman yang
muncul dari akal yang bersinar dan hati yang bercahaya.
c) Aqidah Islam adalah aqidah yang tidak bisa dibagi-bagi. Iman seorang
mukmin adalah iman 100 % tidak bisa 99 % iman 1% kufur.
B. Kelengkapan ajaran Islam dalam bidang ibadah
Ibadah dalam Islam menjangkau keseluruhan wujud manusia secara penuh.
Seorang muslim beribadah kepada Allah dengan lisan , fisik, hati, akal, dan
bahkan kekayaannya.
a. Lisannya mampu bedzikir, berdoa, tilawah, amar ma’ruf nahi munkar.
b. Fisiknya mengiringi dengan berdiri, ruku’ dan sujud, puasa dan berbuka,
berjihad dan berolah raga, membantu mereka yang membutuhkan.
c. Hatinya beribadah dengan rasa takut, berharap, cinta dan bertawakkal
kepada Allah. Ikut berbahagia atas kebahagiaan sesama, dan berbela
sungkawa atas musibah sesama.
d. Akalnya beribadah dengan berfikir dan merenungkan kebesaran dan ciptaan
Allah.
e. Hartanya diinfakkan untuk pembelanjaan yang dicintai dan diperintahkan
Allah.
C. Kelengkapan ajaran Islam dalam bidang akhlaq
Akhlaq Islam memberikan sentuhan kepada seluruh sendi kehidupan manusia
dengan optimal, ia menjangkau ruhiyyah, fisik, agama, duniawiyah, logika,
perasaan, keberadaannya sebagai wujud individu, atau wujudnya sebagai elemen
komunal. Akhlak Islam meliputi:
hal-hal yang berkaitan dengan pribadi, seperti :
a. kewajiban memenuhi kebutuhan fisik dengan makan dan minum.
b. seruan, agar manusia mempergunakan akalnya menatap langit dan bumi.
c. seruan agar manusia membersihkan jiwanya

34
3) Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat)
Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai satu
kesatuan.Pencipta alam ini hanya Allah saja karena tidak ada satupun makhluk
yang dapat menciptakan alam semesta seperti yang telah Allah ciptakan. Dan
karena alam berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan
ketentuan kepada-Nya. Sebagaimana Firman Allah SWT yang menyatakan
bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan pencipta alam semesta pada surat
Al-Baqarah ayat 163-164:

Artinya: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan
melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh tanda-tanda bagi
kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah 2: 163-164).
Agama islam adalah agama yang sangat sempurna dan sangat lengkap isi
ajarannya, kesempurnaan islam dapat dilihat dari :
1. Nama Islam Pemberian Langsung dari Allah SWT
Nama islam bukanlah hasil pemikiran dan gagasan dari nabi Muhammad
SAW atau pengikutnya, akan tetapi langsung dari Allah SWT.
2. Islam merupakan rahmat Allah untuk umat manusia.

35
Islam agama yang diridhai Allah SWT. Agama Islam juga merupakan agama
yang ajarannya lurus tidak menyesatkan dan tidak menyusahkan manusia, dan
Allah juga menolak agama pilihan manusia kecuali agama islam.
Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam surat Ali Imran ayat 85:

Artinya:
"barang siapa mencari agama selain agama islam maka sekali-kali tidaklah
akan diterima agama itu dari pada-Nya dan dia diakhirat termasuk orang-
orang yang rugi"
3. Islam Agama yang Sesuai dengan Fitrah Manusia
Islam merupakan agama yang sangat cocok dengan perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan manusia, merupakan referensi dan pedoman dan
islam agama yg dapat menuntun manusia mencari hakikat Tuhan yang
sebenarnya.
4. Islam Agama yang Mehimpun Semua Kebenaran
Semua kebenaran yang diajarkan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad itu
diyakini dan diamalkan dalam ajaran islam
5. Islam Agama yang Mampu Mengangkat Derajat Manusia
Islam tidak apriori terhadap kemajuan dan perubahan serta tidak selalu
menolak ajaran agama lain, apabila tidak bertentangan dengan syariat islam.
Islam Memotivasi manusia selalu bersikap kritis, selektif, sebagai saksi yang
adil berdasarkan ketaatan terhadap Allah.
6. Islam Agama Perdamaian dan Dapat Menyatukan Umat Manusia
Islam agama cinta damai, keadilan serta keindahan. Islam agama yang
mendorong umatnya melintasi (berani menegakkan nilai-nilai islam), yang
dihiasi dengan kesungguhan (jiddiyah), semangat (hamasah), disiplin
(hawabit), istiqomah bukan dengan kekerasan anarkis dan lain-lain.
7. Islam agama yang meluruskan kesalahan dan menjelaskan ajaran yang benar
Setiap persoalan dunia dan akhirat harus dikembalikan ketujuan syariat yang
tercantum dalam hukum wajib, haram, sunnah, makhruh, dan mubah.
8. Islam agama yang dapat menjajikan kebahagian didunia dan diakhirat

36
Orang yang suka berbuat baik dan menjalankan segala perintah Allah akan
diberikan pahala surga dan kebaikan dunia.

J. AYAT AL-QUR’AN DAN HADITS NABI MUHAMMAD SAW


TENTANG ISLAM
Sudah terang bahwa Al-Qur’an al-Karim dan hadis Rasulullah SAW merupakan
sumber ajaran Islam sekaligus pedoman hidup setiap muslim yang mesti diperpegangi.
Di dalam khazanah keislaman, al-Qur’an lazim disebut sebagai sumber utama (pertama)
dan hadis sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad
SAW yang membacanya merupakan suatu ibadah (Manna’ Khalil al-Qaththan, 1994:18).
Sedangkan hadis atau biasa juga disebut sunnah adalah segala perkataan, perbuatan dan
hal ihwal yang berhubungan dengan nabi Muhammad SAW (Muhammad ‘Ajjaj al-
Khathib, 1989:108). Dalam kapasitasnya sebagai pedoman hidup umat Islam, antara al-
Qur’an dan hadis tidak dapat dipisahkan karena al-Qur’an sebagai sumber utama
dijelaskan oleh hadis, sehingga hadis disebut sebagai bayan terhadap al-Qur’an surat al-
Nahl ayat 44.
Merujuk pada uraian di atas, maka sebagai pedoman hidup, al-Qur’an dan hadis mesti
dijadikan imam atau ikutan dalam kehidupan sehari-hari yang mana kedua-dua sumber
tersebut dipatuhi, diacu dan di laksanakan perintah-perintahnya serta dihentikan
larangan-larangannya.

Tata Cara Berimam (mengikut) kepala Al-Qur’an dan Hadis

a. Perintah berimam kepada al-Qur’an


1. Berimam kepada al-qur’an
Berimam kepada al-Qur’an artinya mengikuti ajaran yang terkandung di
dalamnya, menjadikannya panutan dan acuan serta referensi dalam berucap,
berbuat dan lainnya. Imâm tidak hanya ditujukan kepada orang, ia juga bisa
berarti sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkara bisa berarti Al-
Qur’an, Nabi Muhammad SAW dan sebagainya (Ahmad Mubarok, 2009:1).
Perintah berimam kepada al-Qur’an dan mengikutinya merupakan
konsekwensi logis dari rukun iman yang ke tiga yaitu iman kepada kitab. Di

37
samping konsekwensi dari iman, berimam kepada al-Qur’an juga
merupakan khitab (perintah) dari Allah SWT, karena al-Qur’an diturunkan
untuk menjadi petunjuk dan rahmat bagi umat Manusia (Q.S. al-Baqarah: 185).
Perintah berimam atau mengikuti al-Qur’an, antara lain dapat ditemukan
teksnya melalui firman Allah SWT yaitu dalam surat al-An’am ayat 155,
surat al-A’raf ayat 3 dan surat az-Zumar ayat 55.
Al-Qur’an adalah petunjuk Allah SWT yang bila dipelajari akan membantu
kita menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi penyelesaian
problem hidup. Apabila dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa
dan karsa kita mengarah kepada realitas keimanan, stabilitas dan ketentraman
hidup pribadi dan masyarakat (Muhammad Quraish Shihab, 1997:28)
b. Dalil Naqli Berimam kepada al-Qur’an
Dalil naqli artinya dalil-dalil yang bersumberkan dari al-Qur’an, hadis dan ijtihad.
Dalil-dalil ini lebih meyakinkan untuk dijadikan pegangan dan dasar untuk
menyatakan bahwa wajib berimam kepada kitab Allah (al-Qur’an). Dalil naqli untuk
menetapkan kewajiban berimam kepada al-Qur’an antara lain adalah :
1. Firman Allah SWT. dalam surat al-An’am ayat 155 :

Artinya : Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati,
maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Q.S. al-An’am :
155)

2. Firman Allah SWT. dalam surat al-A’raf ayat 3 :

Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu


dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat
sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Q.S. al-A’raf : 3)
3. Firman Allah SWT. dalam surat az-Zumar ayat 55 :

38
Artinya : Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak
menyadarinya, (Q.S. az-Zumar : 55)
4. Hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Muslim yang berbunyi :
Artinya : Telah menceritakan kepadaku Abu Umamah Al Bahili ia berkata;
Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah
Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa'at kepada para pembacanya
pada hari kiamat nanti. (H.R. Muslim).
5. Hadits Rasulullah SAW riwayat Abu Daud yang berbunyi
Artinya : Hadis dari Sahl bin Muadz Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah
SAW bersabda: "Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an dan melaksanakan apa
yang terkandung di dalamnya (mengamalkannya), maka kedua orang tuanya
pada hari kiamat nanti akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari
pada sinar matahari di dalam rumah-rumah didunia, jika matahari tersebut ada
diantara kalian, maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang
melaksanakan isi Al Qur'an?" (H. R. Abu Daud).

c. Berimam Kepada Hadis Rasulullah SAW


1. Perintah Berimam kepada Hadis Rasulullah SAW
Berimam kepada Hadis Rasulullah SAW artinya menjadikan hadis Rasul
sebagai pedoman dan acuan serta referensi dalam berucap, berbuat dan lainnya
atau mengikuti ajaran yang terkandung di dalamnya.
Perintah berimam kepada hadis Rasulullah SAW dan mengikutinya
merupakan konsekwensi logis dari beriman kepada Rasul. Sebenarnya ada lima
kewajiban yang harus dijalankan seorang muslim terhadap Rasulullah SAW,
yaitu; mengimani Rasulullah SAW, mentaati semua risalah dan
sunnahnya, mencintai dan menjadikannya sebagai figur, senantiasa bershalawat

39
kepadanya dan mencintai keluarga Rasulullah SAW (Heri Jauhari Mukhtar, 2008:
75).
Di dalam al-Qur’an Allah SWT menetapkan barometer seseorang cinta kepada
Allah SWT ditandai dengan seberapa cintanya ia kepada Rasul atau hadis-
hadisnya. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi :

Artinya : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,


niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran : 31)
2. Dalil-dalil Kehujjahan Hadis
Dalil-dalil kehujjahan hadis artinya dalil-dalil atau keterangan atau argumen yang
menegaskan bahwa hadis merupakan sumber ajaran Islam yang wajib
diperpegangi. Ada 4 dalil yang menunjukkan bahwa hadis merupakan salah satu
sumber syari’at atau ajaran Islam yang wajib diperpegangi adalah :

 Iman
Salah satu konsekwensi beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah
menerima segala sesuatu yang datang dari Rasul dalam urusan agama.
Allah Swt telah memilih para Rasul di antara para hamba agar
menyampaikan syari’at-Nya kepada umat. Rasulullah SAW merupakan
orang yang dipercaya menyampaikan syari’at Allah SWT dalam agama,
Rasul tidak menyampaikan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu.
Konsekwensi tersebut, mewajibkan bertumpu kepada sunnah dan
menggunakannya sebagai hujjah serta percaya penuh kepada pembawa
risalah dimaksud yaitu Rasulullah SAW. Hal ini sejalan firman Allah
yang terdapat di dalam surat an-Nisa’ ayat 65 yang berbunyi :

40
Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya. (Q.S. an-Nisa’ : 65)
 Al-Qur’an al-Karim
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan kewajiban
taat kepada Rasul SAW, antara lain :
a) Firman Allah SWT. dalam surat an-Nisa’ ayat 59 :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan


taatilah Rasul(Nya), dan Uli al-Amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul
(sunnah).(Q. S. al-Nisa’ : 59)

b) Firman Allah SWT. dalam surat an-Nisa’ ayat 80 :

Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah


mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan

41
itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi
mereka. (Q. S. al-Nisa’ : 80).

 Sunnah atau Hadits


Di dalam hadis atau sunnah banyak ditemukan penjelasan Rasul
SAW tentang kehujjahan hadis-hadisnya. Antara lain sebagai berikut :
a. Hadist riwayat Ibnu Majah yang berbunyi
Artinya : aku mendengar 'Irbadl bin Sariyah berkata; "Pada suatu hari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di tengah-tengah
kami, Beliau bersabda: hendaklah kalian berpegang teguh dengan
sunnahku dan sunnah para khulafah ar-rasyidin yang mendapat
petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham. (H. R. Ibnu
Majah)
b. Hadist riwayat Imam Malik yang berbunyi
Artinya : Telah menceritakan kepadaku dari Malik telah sampai
kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak
akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya;
Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. (H. R. Imam Malik)
c. Hadist riwayat Ibnu Majah yang berbunyi
Artinya : Telah menceritakan kepadaku dari Malik telah sampai
kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak
akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya;
Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. (H. R. Imam Malik).

Strategi Berimam (mengikut) kepala Al-Qur’an dan Hadis

1. Strategi Berimam Kepada al-Qur’an dan Hadis


a. Berimam kepada Al-Qur’an secara Totalitas

42
Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad
SAW. Al Qur’an merupakan sumber rujukan paling utama bagi umat Islam, dan
bagian dari rukun iman. Al Qur’an dinyatakan sebagai pedoman hidup
dan rahmatan lil ‘alamin, artinya, siapa saja yang mengaku dirinya sebagai
muslim, maka sudah sepantasnyalah dia mengamalkan apa-apa yang terdapat di
dalam Al Qur’an tersebut.
Menjadikan Al Qur’an sebagai imam, berarti mengakui seluruh kandungan
yang ada di dalamnya, baik berupa aqidah, ibadah, syiar, akhlaq, adab, syariat,
dan muamalah. Seorang muslim tidak boleh hanya mengambil sebagiannya saja,
misalnya dia hanya mengambil bagian aqidah, namun menolak bagian ibadah.
Atau dia mengambil bagian syariat, namun menolak aqidah. Atau dia mengambil
bagian ekonomi, namun menolak bagian politik, dan seterusnya.
Langkah memulainya dengan mengimani Al Qur’an dahulu secara kaffah,
menyeluruh, totalitas, tanpa tawar-menawar lalu baru dikuti dengan
menjadikannya imam juga secara totalitas (kaffah) (Hendratno, 2012: 1).
b. Berimam kepada Hadis Rasul yang shahih dan Hasan
Hadis shahih adalah hadis yang telah diakui dan disepakati kebenarannya oleh
para ahli hadis sebagai sesuatu yang datang dari Rasulullah SAW. Sedangkan
hadis hasan dipahami hampir setara dengan hadis shahih, namun yang
membedakannya adalah tingkat kedhabithan para periwayat yang meriwayatkan
hadis tersebut.
Dari statemen di atas dipahami bahwa hadis shahih dan hadis hasan adalah
termasuk kategori hadis yang dapat diterima dan dijadikan pedoman, ikutan serta
sumber hukum. Disebutkan juga bahwa hadis-hadis Rasul dalam kelompok ini
dinamakan hadis maqbul sedangkan di luar dua kelompok ini dinamakan
hadis mardud atau hadis yang ditolak dan tidak dikuti atau dijadikan imam,
(Ramli Abdul Wahid, 2003:17).
c. Berimam kepada Sebahagian Hadis Rasul yang Dha’if
Ulama hadits telah sepakat bahwa tidak boleh mengamalkan
hadis dhaif dalam bidang hukum/menentukan hukum. Tetapi mereka berbeda
pendapat tentang mempergunakannya dalam bidang-bidang lain.
Kupas tuntas tentang hukum berimam atau beramal dengan menggunakan
hadis dha’if memunculkan tiga kelompok ulama yang berkomentar tentang ini,
satu kelompok menyatakan boleh berimam dan beramal dengan

43
hadis dha’if secara mutlak dengan tiga syarat. Kelompok ini diwakili oleh Imam
Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya Abu Daud. Menurut Imam Ahmad;
hadis dha’ifdalam pandangan kami lebih baik dari pada pendapat seseorang
(ra’yu), (Fawwaz Ahmad Zamraliy, 1995:38).
Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa dalam khazanah keislaman ditemukan tiga
pola atau strategi seorang muslim berimam kepada al-Qur’an; ada yang berimam
secara totalitas kepada al-Qur’an dan hadis ada yang berimam kepada hadis shahih
dan hasan saja dan ada pula yang berimam kepada sebahagian hadis dha’if.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Ahmad Mubarok. 2009. “Arti Imam.” http://mubarok-institute.blogspot.com. Diakses tanggal


17-09-2017.

Al-Bukhariy. 1981. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-
Mughirah, Shahih al-Bukhâriy, Beirut : Dâr al-Fikr.

Anonim. 2016. Makalah islam agama komprehensif


http://restleethink.blogspot.co.id/2016/03/makalah-islam-agama-komprehensif.html
diakses tanggal 18 September 2017

Hendratno. 2012. “Mengamalkan al-Qur’an Mulai dari


Mana?.” http://www.dakwatuna.com diakses tanggal 15 September 2017

Ibnu Majah. Abi Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwiniy, t.th. Sunan Ibnu Majah, :
Dâr al-Fikr.

Jawas, Yazid Abdul Kadir. 1993, Kedudukan as-Sunnah dalam Syarat Islam, Jakarta :
Pustaka al-Kautsar.

Al-Khatib, Muhammad Ajjaj. 1989. Ushûl al-Hadîs; ‘Ulûmuhu wa Musthalahuhu, Beirut :


Dâr al-Fikr.

Muchtar, Heri Jauhari. Fikih Pendidikan. Surabaya : PT. Remaja Rosda Karya.

44
45