Anda di halaman 1dari 24

PENENTUAN STATUS MUTU AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE

STORET DAN INDEKS PENCEMARAN

A. Pendahuluan
Secara alamiah air tidak pernah dijumpai dalam keadaan betul-betul murni. Ketika
uap air mengembun diudara dan jatuh di permukaan bumi, air tersebut telah dipengaruhi oleh
partikel-partikel yang terkandung di udara. Kemudian air bergerak mengalir menuju ke
berbagai tempat yang lebih rendah letaknya dan melarutkan berbagai jenis batuan yang
dilalui atau zat organic lainnya. Dengan demikian kualitas air secara alamiah akan berbeda
pada setiap ruang dan waktu yang berlainan. Sumber air secara luas telah dimanfaatkan untuk
keperluan air rumah tangga, pertanian, industri, perikanan, pembangkit tenaga listrik dan lain-
lain. Pemanfaatan sumber air selain harus memenuhi kuantitas dan kualitasnya juga harus
memenuhi criteria kualitas air sesuai pemanfaatannya (Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah, 2002). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, klasifkasi mutu air ditetapkan
menjadi (empat) kelas yaitu: Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
baku air minum, dan peruntukan yang lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut; kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut; kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan
ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi persawahan, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; dan kelas empat, air yang
peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut (PP 82 2001).
.
B. Tujuan
1. Menghitung status mutu air dengan menggunakan metode STORET
2. Menghitung mutu air dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran
3. Menganalisis status mutu air dari hasil perhitungan metode storet dan Indeks
Pencemaran
C. Alat dan Bahan
1. Data Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode STORET
2. Data Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran

1
D. Dasar Teori

A. KUALITAS AIR

Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air untuk dipergunakan bagi pemenuhan

tertentu kehidupan manusia, seperti untuk air minum, mengairi tanaman, minuman ternak

dan sebagainya (Arsyad, 1989). Salah satu potensi sumber daya air yang strategis dan banyak

dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pembangunan adalah air sungai. Air sungai merupakan

sumberdaya alam yang potensial menerima beban pencemaran limbah kegiatan manusia

seperti: kegiatan industri, pertanian, peternakan dan rumah tangga. Akibat menurunnya

kualitas air, kuantitas air yang memenuhi kualitas menjadi berkurang. Mengingat sungai

merupakan sumberdaya air yang penting untuk menunjang pembangunan ekonomi dan

kesejahteraan manusia, maka fungsi sungai sebgai sumberdaya air harus dilestarikan agar

dapat menunjang pembangunan secara berkelanjutan.

Menurut Direktorat Pengendali Masalah Air (1975) dalam Wardhani (2002),

pencemaran air merupakan segala pengotoran atau penambahan organisme atau zat-zat lain

ke dalam air, sehingga mencapai tingkat yang mengganggu penggunaan dan pemanfaatan

serta kelestarian perairan tersebut. Masalah pencemaran air berhubungan erat dengan kualitas

air. Data kualitas air dibutuhkan dalam manajemen sungai sebagai dasar untuk penentuan

karakteristik fisik dan kimia sungai.

Sungai memiliki kualitas air yang selalu berubah dari waktu ke waktu (dinamis).

Perubahan ini dapat disebabkan oleh musim, jenis dan jumlah limbah yang masuk serta debit.

Menurut Alaerts dan Santika (1984) dalam Wardhani (2002), terdapat sumber pencemar yang

diakibatkan oleh perubahan sesuatu faktor dalam sungai. Misalnya pada musim hujan, air

hujan mengadakan pengotoran dan akan terjadi pengenceran (konsentrasi pencemar yang

mungkin ada dapat berkurang). Tetapi ada faktor lain yang berubah yaitu akibat kecepatan

aliran dalam sungai atau saluran bertambah. Endapan pada dasar sungai dapat tergerus dan
2
terbawa oleh aliran sungai sehingga kekeruhan naik secara drastis dan endapan sungai yang

sudah membusuk pada dasar sungai tersebut bercampur dengan air yang segar pada lapisan

atas. Dalam hal ini pencemaran akan terjadi tergantung dari mampu tidaknya efek

penggelontoran air mengimbangi efek bertambahnya kekeruhan dan endapan organis yang

tergerus tadi.

Menurut Mantiri (1994) dalam Wardhani (2002), masuknya limah ke dalam badan air

seperti sungai, danau ataupun laut akan menurunkan kualitas air serta mengubah kondisi

ekologi perairan. Pengaruh pencemaran air limbah terhadap kualitas air dapat dilihat dari

sifat fisik, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik antara lain adalah peningkatan kekeruhan,

padatan tersuspensi, air menjadi berbau dan berwarna. Sedangkan sifat kimia dan biologi

adalah meningkatnya kandungan nutrien dan logam-logam dan bakteri.

Beberapa akibat pencemaran sungai, terutama oleh industri dan pemukiman

menurut Klein (1972) dalam Wardhani (2002) adalah sebagai berikut :

1. Bahan organik yang dapat terfermentasi akan terurai. Karena proses penguraiannya

membutuhkan oksigen, maka jika bahan organik yang terdapat diperairan jumlahnya

berlebihan akan terjadi deoksigenasi yang dapat menyebabkan kematian ikan.

2. Padatan tersuspensi akan mengendap di dasar sungai sehingga menyebabkan

pendangkalan serta merusak berbagai organisme akuatik.

3. Bahan-bahan korosif (asam dan basa) dan bahan-bahan beracun (sianida, fenol, Zn, Cu)

menyebabkan kematian ikan, bakteri serta organisme akuatik lain.

4. Beberapa jenis pencemaran industri mengakibatkan peningkatan turbiditas, perubahan

warna, timbulnya busa, perubahan suhu dan radioaktivitas.

5. Bahan-bahan yang menimbulkan rasa dan bau, kesadahan yang tinggi, bahan-bahan

beracun serta berbagai logam berat menyebabkan air sungai tidak dapat digunakan sebagai air

baku untuk air minum.

3
6. Ketidakseimbangan ekologi mengakibatkan melimpahnya beberapa spesies tertentu yang

semakin menurunkan kualitas perairan.

Sutrisno (1987), Air sangat dibutuhkan oleh semua makhluk di dunia, khususnya

sebagai air minum. Air juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan terhadap penggunanya,

hal ini disebabkan karena :

1. Adanya kemampuan air untuk melarutkan bahan-bahan padat, gas dan bahan cair lainnya,

sehingga semua air alam mengandung mineral dan zat-zat lain dalam larutan yang diperoleh

dari udara dan tanah. Kandungan bahan atau zat dalam air dengan konsentrasi tertentu dapat

menimbulkan efek gangguan kesehatan untuk pemakainya.

2. Air sebagai faktor utama dalam penularan berbagai penyakit. Dalam hubungannya

dengan kebutuhan manusia akan air minum, dan efek yang akan ditimbulkannya maka, perlu

ditetapkan standar kualitas air minum.

Menurut peraturan Menteri Kesehatan, tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas

air minum dikatakan bahwa standar persyaratan kualitas air minum perlu ditetapkan dengan

pertimbangan sebagai berikut :

1. Air minum yang memenuhi syarat kesehatan mempunyai peranan penting dalam rangka

pemeliharaan, perlindungan dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat.

2. Perlu mencegah adanya penyediaan dan pembagian air minum untuk umum yang tidak

memenuhi syarat-syarat kesehatan.

Pada saat ini, ada beberapa jenis standar kualitas air minum baik yang bersifat

nasional maupun internasional. Kualitas air yang bersifat nasional hanya berlaku untuk

negara yang menetapkan standar, sedangkan yang bersifat internasional berlaku pada negara

yang belum memiliki standar kualitas air tersendiri. Namun standar internasional ini dapat

digunakan di negara man saja dengan menyesuaikan kondisi dan situasi negara yang

bersangkutan (Sutrisno, 1987).

4
Tabel 1. Standar kualitas air yang dapat digunakan untuk air minum

No Parameter Satuan Maksimum Maksimum


dianjurkan diperbolehkan
1 TDS mg/l - 1000
2 DHL mg/l - -
3 DO mg/l - 8
4 Alkalinitas mg/l - -
5 Nitrat mg/l - 20
6 PH mg/l 6 9
7 BOD mg/l - 2
8 COD mg/l - 10
Sumber : PPRI No : 82 Tahun 2001

B. MUTU AIR

Mutu air adalah suatu kondisi kualitas air yang diukur atau diuji berdasarkan
parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Status mutu air dapat mengindikasikan keadaan air dalam kondisi
tercemar atau bebas dari pencemaran dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan
baku mtu yang ditetapkan.

Beberapa komponen dan standar baku pada air bersih meliputi berbagai aspek baik
fisik, kimia, maupun bakteriologis. Beberapa aspek yang dinilai sebagai acuan standar baku
air tersebut meliputi unsur-unsur antara lain :

1. Suhu. Kenaikan suhu menimbulkan beberapa akibat antara lain menurunnya jumlah
oksigen terlarut dalam air, meningkatkan kecepatan reaksi kimia serta terganggunya
kehidupan ikan dan hewan air lainnya. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui,
ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
2. pH. Nilai pH air yang normal antara 6 – 8, sedangkan pH air terpolusi misalnya air
buangan, berbeda-beda tergantung dari jenis buangannya.
3. Warna, bau dan rasa. Warna air yang tidak normal biasanya menunjukkan adanya
polusi. Warna air dibedakan atas dua macam yaitu warna sejati (true colour) yang
disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, dan warna semu (apparent colour), yang selain
disebabkan adanya bahan terlarut juga karena adanya bahan tersuspensi, termasuk di
antaranya yang bersifat koloid. Bau air tergantung dari sumber airnya. Timbulnya bau
pada air secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu indikator terjadinya tingkat

5
pencemaran air yang cukup tinggi. Air yang normal sebenarnya tidak mempunyai
rasa. Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut), hal itu berarti telah terjadi
pelarutan garam.
4. Kesadahan. Standar kesadahan total adalah 500 mg/l, jika melebihi akan dapat
menimbulkan beberapa resiko seperti : a) mengurangi efektivitas sabun, b)
terbentuknya lapisan kerak pada alat dapur, c) kemungkinan terjadi ledakan pada
boiler, d) sumbatan pada pipa air.
5. Besi (Fe). Dalam jumlah kecil zat besi dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan sel-
sel darah merah. Kandungan zat besi di dalam air yang melebihi batas akan
menimbulkan gangguan. Standar kualitas ditetapkan 0,1 – 1.0 mg/l.
6. Mangaan (Mn). Tubuh manusia membutuhkan mangaan rata-rata 10 mg/l sehari
yang dapat dipenuhi dari makanan. Mangaan bersifat toksik terhadap organ
pernafasan. Standar kualitas ditetapkan 0,05 – 0,5 mg/l dalam air.
7. Nitrit (NO2) dan Nitrat (NO3). Jumlah nitrat yang besar dalam tubuh cenderung
berubah menjadi nitrit dan dapat membentuk methaemoglobine sehingga dapat
menghambat perjalanan oksigen dalam tubuh, hal ini dapat menyebabkan penyakit
blue baby. Nitrit ádalah zat yang bersifat racun sehingga kehadiran bahan ini dalam
air minum tidak diperbolehkan.
8. Cadmium (Cd). Cadmium merupakan zat beracun yang bersifat akumulasi dalam
jaringan tubuh sehingga dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan lambung,
kerapuhan tulang, mengurangi hemoglobin darah dan pigmentasi gigi. Selain itu
cadmium juga bersifat karsinogenik.
9. Timbal (Pb). Timbal sangat berbahaya bagi kesehatan karena cenderung
terakumulasi dalam tubuh, serta meracuni jaringan syaraf.
10. Kekeruhan. Kekeruhan dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain karena
adanya bahan yang tidak terlarut seperti debu, tanah liat, bahan organik atau
inorganik, dan mikroorganisme air. Akibatnya air menjadi kotor dan tidak jernih
sehingga bakteri pathogen dapat berlindung di dalam atau di sekitar bahan penyebab
kekeruhan.
11. Bakteri coli. Organisme pathogen di perairan merupakan indikasi adanya pencemaran
air. Oleh karena itu organisme pathogen di perairan harus diketahui. Mengingat tidak
mungkin mengindikasikan berbagai macam organisme pathogen, maka pengukuran
pengukurannya menggunakan bakteri-coli sebagai indikator organisme. Standar Coli
pada air bersih ditetapkan sebesar 10 coli/100 ml air.
6
C. STANDAR BAKU MUTU AIR

Air Minum -> KepMenKes No. 907/MENKES/SK/VII/2002


No Parameter Satuan Persyaratan Teknik Pengujian
FISIKA
1. Bau - tidak berbau Organoleptik
2. Rasa - normal Organoleptik
3. Warna TCU maks.15 Spektrofotometri
4. Total Padatan Terlarut mg/l maks. 1000 Gravimetri
(TDS)
5. Kekeruhan NTU maks. 5 Spektrofotometri
6. Suhu oC
Suhu udara  3oC Termometer
KIMIA
7. Besi (Fe) mg/l maks 0.3 AAS
8. Kesadahan sebagai mg/l maks. 500 Titrimetri
CaCO3
9. Klorida (Cl) mg/l maks 250 Argentometri
10. Mangan (Mn) mg/l maks 0.1 AAS
11. pH - 6.5 - 8.5 pH meter
12. Seng (Zn) mg/l maks. 8 AAS
13. Sulfat (SO4) mg/l maks 250 Spektrofotometri
14. Tembaga (Cu) mg/l maks. 1 AAS
15. Klorin (Cl2) mg/l maks. 5 Titrimetri
16. Amonium (NH4) mg/l maks 0.15 Spektrofotometri
(Nesler)
KIMIA ANORGANIK
17. Arsen (As) mg/l maks. 0.01 AAS
18. Fluorida (F) mg/l maks 1.5 Spektrofotometri
19. Krom heksavalen (Cr6+) mg/l maks 0.05 AAS
20. Kadnium (Cd) mg/l maks. 0.003 AAS
21. Nitrat (NO3) mg/l maks 50 Spektrofotometri
(Brusin)
22. Nitrit (NO2) mg/l maks 3 Spektrofotometri (NED)
23. Sianida (CN) mg/l maks 0.07 Destilasi
24. Timbal (Pb) mg/l maks. 0.01 AAS
25. Raksa (Hg) mg/l maks 0.001 AAS
MIKROBIOLOGI
24. E. Coli APM/100ml negatif MPN

7
25. Total Bakteri Koliform APM/100ml negatif MPN

Air Sumur  Permenkes No. 416/Men. Kes/Per./IX/1990


No. Parameter Satuan Standar Teknik Pengujian
A. FISIKA
1. Bau - - Organoleptik
2. Jumlah Zat Padat Terlarut mg/l 1.500 Gravimetri
3. Kekeruhan NTU 25 Spektrofotometri
4. Rasa - - Organoleptik
5. Suhu oC
Suhu udara  1- Temometer
30C
6. Warna TCU 50 Spektrofotometri
B. KIMIA
a. Kimia Anorganik
1. Air Raksa (Hg) mg/l 0.001 AAS
2. Arsen (As) mg/l 0.05 AAS
3. Besi (Fe) mg/l 1.0 AAS
4. Fluorida (F) mg/l 1.5 Spektrofotometri
5. Kadmium (Cd) mg/l 0.005 AAS
6. Kesadahan sebagai CaCO3 mg/l 500 Titrimetri
7. Klorida (Cl-) mg/l 600 Argentometri
8. Kromium, valensi 6 (Cr6+) mg/l 0.05 AAS
9. Mangan (Mn) mg/l 0.5 AAS
10. Nitrat (NO3) mg/l 10 Spektrofotometri
(Brusin)
11. Nitrit (NO2) mg/l 1.0 Spektrofotometri
(Nesler)
12. pH - 6.5-9.0 pH meter
13. Selenium (Se) mg/l 0.01 -
14. Seng (Zn) mg/l 15 AAS
15. Sianida (CN) mg/l 0.1 Destilasi
16. Sulfat (SO4) mg/l 400 Spektrofotometri
17. Timbal (Pb) mg/l 0.05 AAS
b. Kimia Organik
1. Detergent mg/l 0.50 Spektrofotometri
2. Zat Organik mg/l 10.00 Gravimetri
3. Pestisida Gol. Organo Fosfat mg/l 0.00 -

8
4. Pestisida Gol. Organo Klorida mg/l 0.00 -
5. Pestisida Gol. Organo mg/l 0.00 -
Karbamat
C. MIKROBIOLOGIK
1. MPN (Golongan Coliform) Per 100 ml 50 MPN

D. Metode Storet

Metode Storet merupakan salah satu metoda untuk penentuan status mutu air yang
umum digunakan. Dengan metoda Storet ini dapat diketahui parameter-parameter yang telah
memenuhi atau melampaui baku mutu air. Secara prinsip metoda Storet adalah
membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan
peruntukan guna menentukan status mutu air. Apabila hasil pengukuran mutu air memenuhi
baku mutu airnya yaitu bila hasil pengukuran < baku mutu, maka diberi nilai 0, apabila hasil
pengukuran tidak memenuhi baku mutu air yaitu bila hasil pengukuran > baku mutu air,
maka diberi skor:

Tabel 11. Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu air

Parameter
Jumlah contoh Nilai
Fisika Kimia Biologi
Maksimum -1 -2 -3
< 10 Minimum -1 -2 -3
Rata - rata -3 -6 -9
Maksimum -2 -4 -6
≥ 10 Minimum -2 -4 -6
Rata - rata -6 -12 -18

Penggunaan metode STORET dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengumpulan data kulaitas dan debit air secara peridoik ( time series).
2. Bandingkan data hasil pengukuran kualitas air dengan nilai baku mutu sesuai dengan
kelas air.
3. Jika hasil pengukuran memnuhi nilai baku mutu air maka diberi skor 0.
4. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air, maka diberi skor : lihat
Tabel.1
5. Jumlah Negatif dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari
jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem nilai.
6. Jika dalam perhtiungan, tidak ditemukan nilai ambang batas suatu parameter yang
diukur, maka parameter tersebut tidak perlu dihitung.

9
E. Metode Indeks Pencemaran

Merupakan ukuran relatif tingkat pencemaran terhadap parameter kualitas air yang
diijinkan. Indeks pencemaran ini ditentukan untuk suatu peruntukan kemudian dapat
dikembangkan untuk beberapa peruntukan bagi seluruh bagian atau sebagian dari badan
sungai.
• Indeks pencemaran dapat di definisikan sebagai berikut:
Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam baku
mutu untuk peruntukan air (j) dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang
diperoleh dari hasil analisis sample air pada suatu lokasi pengambilan sample air dari suatu
alur sungai, maka Pij adalah indeks pencemaran bagi peruntukan (j).
– Setiap nilai Ci/Lij menunjukkan pencemaran relative yang diakibatkan oleh
parameter kualitas air.
– Nilai Ci/Lij = 1 adalah nilai kritik karena nilai ini dapat diharapkan untuk
dipenuhi bagi suatu baku mutu peruntukan air.
– Jika Ci/Lij >1 untuk suatu parameter maka konsentrasi parameter ini harus
dikurangi atau disisihkan apabila badan air digunakan untuk peruntukan (j),
jika parameter ini adalah parameter yang bermakna bagi peruntukan maka
pengolahan mutlak harus dilakukan bagi air ini.
– Pada model ini digunakan berbagai parameter kualitas air sehingga pada
penggunaanya diperlukan rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan nilai
Ci/Lij. (Cij / Lij ) M  (Ci / Lij ) 2 R
– Pij = m
• Nilai m adalah factor penyeimbang yang dievaluasi pada nilai kritik. Pada niali kritik
Pij, (Ci/Lij)R dan (ci/Lij)M bernilai 1 maka m adalah bernilai 1/V2
• Dengan demikian maka:
Pij =2
Evaluasi terhadap nilai Pij:
0 Pij1, memenuhi baku mutu
1 <Pij5, cemar ringan
5<Pij 10, cemar sedang
Pij>10, cemar berat
Jika nilai Ci/Lij lebih dari 1 maka:
(ci/Lij)baru = 1+ 5 log (Ci/Lij) hasil pengukuran

10
E. DATA DAN HASIL PERHITUNGAN

Tabel 1. Hasil Penentuan Status Mutu Air


Metode STORET
Lokasi SG 7
No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Pengukuran Skor Total
Max Min Rata-rata Max Min Rata-rata
1 pH 6,0 - 9,0 7 6,9 7,0 0 0 0 0
Residu
2 Tersuspensi mg/l 50 35 32 33,5 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 1000 363 362 363 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 800 551 548 549,5 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 6 5,1 3,9 4,5 -2 -2 -6 -10
6 BOD mg/l 2 11,7 7,8 9,75 -2 -2 -6 -10
7 COD mg/l 10 61 41 51 -2 -2 -6 -10
8 Nitrat mg/l NO3 10 0,74 0,593 0,66 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 0,06 0,08 0,076 0,078 -2 -2 -6 -10
10 Amoniak mg/l NH3-N 0,5 0,98 0,44 0,71 -2 0 -6 -8
11 Sulfida mg/l S 0,002 0,002 0,002 0,002 0 0 0 0
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 10 0,827 0,512 0,6695 0 0 0 0
13 Fenol g/l 1 tt tt tt
14 Detergent g/l MBAS 200 145,4 45,7 95,55 0 0 0 0
15 Minyak dan Lemak g/l 1000 600 16 308 0 0 0 0
16 Fluorida mg/l F 0,5 0,52 tt 0,26
17 Timbal mg/l Pb 0,03 tt tt tt
18 Krom (VI) mg/l Cr 0,05 0,016 0,013 0,0145 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml 100 2,4 x 105 9,3 x 104 1,67 x 105 -3 -3 -9 -15
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml 1000 1,1 x 106 2,4 x 105 6,7 x 105 -3 -3 -8 -15
Total Skor -78
Kelas D

Cttn : Pengukuran Sungai Gajah Wong pada bulan Agustus dan Oktober
11
Tabel 2. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode STORET
Lokasi SG 8
No Parameter Satuan Baku Mutu Hasil Pengukuran Skor Total
Max Min Rata-rata Max Min Rata-rata
1 pH 6,0 - 9,0 7,2 7,1 7,15 0 0 0 0
Residu
2 Tersuspensi mg/l 50 31 30 30,5 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 1000 337 322 329,5 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 509 486 497,5 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 6 6,8 5,7 6,25 0 -2 0 -2
6 BOD mg/l 2 3,5 2,5 3 -2 -2 -6 -10
7 COD mg/l 10 30 23 26,5 -2 -2 -6 -10
8 Nitrat mg/l NO3 10 0,875 0,453 0,664 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 0,06 0,049 0,024 0,0365 0 0 0 0
10 Amoniak mg/l NH3-N 0,5 0,26 0,26 0,26 0 0 0 0
11 Sulfida mg/l S 0,002 0,002 0,001 0,0015 0 0 0 0
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 10 0,552 0,37 0,461 0 0 0 0
13 Fenol g/l 1 tt Tt tt
14 Detergent g/l MBAS 200 99,8 Tt 49,9
15 Minyak dan Lemak g/l 1000 800 23 411,5 0 0 0 0
16 Fluorida mg/l F 0,5 0,382 Tt 0,191
17 Timbal mg/l Pb 0,03 tt Tt tt
18 Krom (VI) mg/l Cr 0,05 0,012 0,005 0,0085 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml 100 2,4 x 105 9,3 x 104 1,67 x 105 -3 -3 -9 -15
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml 1000 9,3 x 105 4,6 x 104 4,8 x 105 -3 -3 -9 -15
Total skor -52
Kelas D

Cttn : Pengukuran Sungai Gajah Wong pada bulan Agustus dan Oktober

12
Tabel 3. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode STORET
Lokasi SG 9
Baku
No Parameter Satuan Mutu Hasil Pengukuran Skor Total
Max Min Rata-rata Max Min Rata-rata
6,0 -
1 pH 9,0 7,3 7,1 7,2 0 0 0 0
Residu
2 Tersuspensi mg/l 50 23 23 23 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 1000 258 253 255,5 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 800 391 384 387,5 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 6 3,5 1,7 2,6 -2 -2 -6 -10
6 BOD mg/l 2 32 22 27 -2 -2 -6 -10
7 COD mg/l 10 59 51 55 -2 -2 -6 -10
8 Nitrat mg/l NO3 10 1,107 0,241 0,674 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 0,06 0,156 0,15 0,153 -2 -2 -6 -10
10 Amoniak mg/l NH3-N 0,5 2,6 2,44 2,52 -2 -2 -6 -10
11 Sulfida mg/l S 0,002 0,008 0,003 0,0055 -2 -2 -6 -10
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 10 1,024 0,68 0,852 0 0 0 -0
13 Fenol g/l 1 tt tt tt
14 Detergent g/l MBAS 200 854,2 135,1 494,65 -2 0 -6 -8
15 Minyak dan Lemak g/l 1000 34 1,5 17,75 0 0 0 0
16 Fluorida mg/l F 0,5 0,596 tt 0,298
17 Timbal mg/l Pb 0,03 tt tt tt
18 Krom (VI) mg/l Cr 0,05 0,043 0,033 0,038 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml 100 1,1 x 106 1,1 x 106 1,1 x 106 -3 -3 -9 -15
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml 1000 2,4 x 106 1,1 x 106 1,75 x 106 -3 -3 -9 -15
Total skor -98
Kelas D

Cttn : Pengukuran Sungai Gajah Wong pada bulan Agustus dan Oktober

13
Tabel 4. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode STORET
Lokasi SG10
Baku
No Parameter Satuan Mutu Hasil Pengukuran Skor Total
Max Min Rata-rata Max Min Rata-rata
1 pH 6,0 - 9,0 7,4 7,1 7,25 0 0 0 0
2 Residu Tersuspensi mg/l 50 25 24 24,5 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 1000 267 257 262 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 800 403 388 395,5 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 6 4,4 1,5 2,95 -2 -2 -6 -10
6 BOD mg/l 2 21 10 15,5 -2 -2 -6 -10
7 COD mg/l 10 51 41 46 -2 -2 -6 -10
8 Nitrat mg/l NO3 10 0,144 0,097 0,1205 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 0,06 0,116 0,007 0,0615 -2 0 -6 -8
10 Amoniak mg/l NH3-N 0,5 2,5 2,13 2,315 -2 -2 -6 -10
11 Sulfida mg/l S 0,002 0,013 0,004 0,0085 -2 -2 -6 -10
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 10 1,026 0,804 0,915 0 0 0 0
13 Fenol g/l 1 tt Tt tt
14 Detergent g/l MBAS 200 685,1 481,1 583,1 -2 -2 -6 -10
15 Minyak dan Lemak g/l 1000 21 1,3 11,15 0 0 0 0
16 Fluorida mg/l F 0,5 0,47 Tt 0,235
17 Timbal mg/l Pb 0,03 tt Tt tt
18 Krom (VI) mg/l Cr 0,05 0,036 0,016 0,026 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml 100 7,4 x 10 2,1 x 10 4,7 x 104 0 0 -9 -9
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml 1000 4,6 x 10 2,4 x 10 3,5 x 105 0 0 -9 -9
Total skor -86
Kelas D

Cttn : Pengukuran Sungai Gajah Wong pada bulan Agustus dan Oktober

14
Tabel 5. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode STORET
Lokasi SG11
Baku
No Parameter Satuan Mutu Hasil Pengukuran Skor Total
Max Min Rata-rata Max Min Rata-rata
1 pH 6,0 - 9,0 7,3 7,1 7,2 0 0 0 0
2 Residu Tersuspensi mg/l 50 25 21 23 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 1000 275 242 258,5 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 416 368 392 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 6 6,7 3,9 5,3 0 -2 -6 -8
6 BOD mg/l 2 22 17 19,5 -2 -2 -6 -10
7 COD mg/l 10 51 40 45,5 -2 -2 -6 -10
8 Nitrat mg/l NO3 10 0,337 0,15 0,2435 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 0,06 0,353 0,143 0,248 -2 -2 -6 -10
10 Amoniak mg/l NH3-N 0,5 3,62 1,44 2,53 -2 -2 -6 -10
11 Sulfida mg/l S 0,002 0,004 0,003 0,0035 -2 -2 -6 -10
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 10 1,097 0,703 0,9 0 0 0 0
13 Fenol g/l 1 tt tt tt
14 Detergent g/l MBAS 200 406,9 365,7 386,3 -2 -2 -6 -10
15 Minyak dan Lemak g/l 1000 1100 31 565,5 -2 0 0 -2
16 Fluorida mg/l F 0,5 0,689 tt 0,3445
17 Timbal mg/l Pb 0,03 tt tt tt
18 Krom (VI) mg/l Cr 0,05 0,036 0,011 0,0235 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml 100 4,6 x 105 9,3 x 104 2,765 x 105 -3 -3 -9 -15
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml 1000 1,1 x 105 4,6 x 104 7,8 x 104 -3 -3 -9 -15
Total skor -100
Kelas D

Cttn : Pengukuran Sungai Gajah Wong pada bulan Agustus dan Oktober

15
Tabel 6. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran
Lokasi Sungai GAjah Wong (SG 7)
Pengukuran Bulan Agustus dan Oktober 2005

Ci/lij
Parameter Lij Satuan Ci Ci/Lij
baru
pH 6,0 - 9,0 7 0,33 0,33
Residu Tersuspensi 50 mg/l 33,5 0,67 0,67
Residu Terlarut 1000 mg/l 362,5 0,36 0,36
DHL 800 mmhos/cm 549,5 0,69
Oksigen Terlarut 6 mg/l O2 4,5 0,75 0,75
BOD 2 mg/l 9,75 4,88 4,44
COD 10 mg/l 51 5,10 4,54
Nitrat 10 mg/l NO3 0,6665 0,07 0,07
Nitrit 0,06 mg/l NO2 0,078 1,30 1,57
Amoniak 0,5 mg/l NH3-N 0,71 1,42 1,76
Sulfida 0,002 mg/l S 0,002 1,00 1,00
Phosphat Toatal 10 mg/l PO4 0,6695 0,07 0,07
Fenol 1 mg/l tt
Detergent 200 mg/l MBAS 95,55 0,48 0,48
Minyak dan Lemak 1000 mg/l 308 0,31 0,31
Fluorida 0,5 mg/l F 0,26 0,52 0,52
Timbal 0,03 mg/l Pb tt
Krom (VI) 0,05 mg/l Cr 0,0145 0,29 0,29
Bakteri Koli Tinja 100 JPT/100 ml 1,67 x 105 1670,00 17,11
Bakteri Total Koli 1000 JPT/100 ml 6,7 x 105 670,00 15,13
jumlah 49,41
rata-rata 2,91
nilai maks 17,11
PIJ 6,29

16
Tabel 7. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran
Lokasi Sungai GAjah Wong (SG 8)
Pengukuran Bulan Agustus dan Oktober 2005

Ci/Lij Ci/lij
Parameter Lij Satuan Ci rata
rata baru
pH 6,0 - 9,0 7,15 0,33 0,33
Residu Tersuspensi 50 mg/l 30,5 0,61 0,61
Residu Terlarut 1000 mg/l 329,5 0,33 0,33
DHL mmhos/cm 497,5
Oksigen Terlarut 6 mg/l O2 6,25 1,04 1,09
BOD 2 mg/l 3 1,50 1,88
COD 10 mg/l 26,5 2,65 3,12
Nitrat 10 mg/l NO3 0,664 0,07 0,07
Nitrit 0,06 mg/l NO2 0,0365 0,61 0,61
Amoniak 0,5 mg/l NH3-N 0,26 0,52 0,52
Sulfida 0,002 mg/l S 0,0015 0,75 0,75
Phosphat Toatal 10 mg/l PO4 0,461 0,05 0,05
Fenol 1 mg/l tt
Detergent 200 mg/l MBAS 49,9 0,25 0,25
Minyak dan Lemak 1000 mg/l 411,5 0,41 0,41
Fluorida 0,5 mg/l F 0,191 0,38 0,38
Timbal 0,03 mg/l Pb tt
Krom (VI) 0,05 mg/l Cr 0,0085 0,17 0,17
Bakteri Koli Tinja 100 JPT/100 ml 1,67 x 105 1670,00 17,11
Bakteri Total Koli 1000 JPT/100 ml 4,8 x 105 480,00 14,41
jumlah 42,09
rata-rata 2,48
nilai maks 17,11
PIJ 5,13

17
Tabel 8. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran
Lokasi Sungai Gajah Wong (SG 9)
Pengukuran Bulan Agustus dan Oktober 2005

Ci/Lij Ci/lij
Parameter Lij Satuan Ci rata rata baru
pH 6,0 - 9,0 7,2 0,20 0,20
Residu Tersuspensi 50 mg/l 23 0,46 0,46
Residu Terlarut 1000 mg/l 255,5 0,26 0,26
DHL mmhos/cm 387,5
Oksigen Terlarut 6 mg/l O2 2,6 0,43 0,43
BOD 2 mg/l 27 13,50 6,65
COD 10 mg/l 55 5,50 4,70
Nitrat 10 mg/l NO3 0,674 0,07 0,07
Nitrit 0,06 mg/l NO2 0,153 2,55 3,03
Amoniak 0,5 mg/l NH3-N 2,52 5,04 4,51
Sulfida 0,002 mg/l S 0,0055 2,75 3,20
Phosphat Toatal 10 mg/l PO4 0,852 0,09 0,09
Fenol 1 mg/l tt
Detergent 200 mg/l MBAS 494,65 2,47 2,97
Minyak dan Lemak 1000 mg/l 17,75 0,02 0,02
Fluorida 0,5 mg/l F 0,298 0,60 0,60
Timbal 0,03 mg/l Pb tt
Krom (VI) 0,05 mg/l Cr 0,038 0,76 0,76
Bakteri Koli Tinja 100 JPT/100 ml 1,1 x 106 11000,00 21,21
Bakteri Total Koli 1000 JPT/100 ml 1,75 x 106 1750,00 17,22
jumlah 66,37
rata-rata 3,90
nilai maks 21,21
PIJ 9,92

18
Tabel 9. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran
Lokasi Sungai Gajah Wong (SG 10)
Pengukuran Bulan Agustus dan Oktober 2005

Ci Ci/lij
Parameter Lij Satuan Ci/Lij rata
rata baru
pH 6,0 - 9,0 7,25 0,17 0,17
Residu Tersuspensi 50 mg/l 24,5 0,49 0,49
Residu Terlarut 1000 mg/l 262 0,26 0,26
DHL mmhos/cm 395,5
Oksigen Terlarut 6 mg/l O2 2,95 0,49 0,49
BOD 2 mg/l 15,5 7,75 5,45
COD 10 mg/l 46 4,60 4,31
Nitrat 10 mg/l NO3 0,1205 0,01 0,01
Nitrit 0,06 mg/l NO2 0,0615 1,03 1,05
Amoniak 0,5 mg/l NH3-N 2,315 4,63 4,33
Sulfida 0,002 mg/l S 0,0085 4,25 4,14
Phosphat Toatal 10 mg/l PO4 0,915 0,09 0,09
Fenol 1 mg/l tt
Detergent 200 mg/l MBAS 583,1 2,92 3,32
Minyak dan Lemak 1000 mg/l 11,15 0,01 0,01
Fluorida 0,5 mg/l F 0,235 0,47 0,47
Timbal 0,03 mg/l Pb tt
Krom (VI) 0,05 mg/l Cr 0,026 0,52 0,52
Bakteri Koli Tinja 100 JPT/100 ml 4,7 x 104 470,00 14,36
Bakteri Total Koli 1000 JPT/100 ml 3,5 x 105 350,00 13,72
jumlah 53,20
Rata-rata 3,13
nilai maks 14,36
PIJ 6,79

19
Tabel 10. Hasil Penentuan Status Mutu Air Metode Indeks Pencemaran
Lokasi Sungai Gajah Wong (SG 11)
Pengukuran Bulan Agustus dan Oktober 2005

Ci/lij
Parameter Lij Satuan Ci rata Ci/Lij rata baru
pH 6,0 - 9,0 7,2 0,20 0,20
Residu Tersuspensi 50 mg/l 23 0,46 0,46
Residu Terlarut 1000 mg/l 258,5 0,26 0,26
DHL mmhos/cm 392
Oksigen Terlarut 6 mg/l O2 5,3 0,88 0,88
BOD 2 mg/l 19,5 9,75 5,95
COD 10 mg/l 45,5 4,55 4,29
Nitrat 10 mg/l NO3 0,2435 0,02 0,02
Nitrit 0,06 mg/l NO2 0,248 4,13 4,08
Amoniak 0,5 mg/l NH3-N 2,53 5,06 4,52
Sulfida 0,002 mg/l S 0,0035 1,75 2,22
Phosphat Toatal 10 mg/l PO4 0,9 0,09 0,09
Fenol 1 mg/l tt
Detergent 200 mg/l MBAS 386,3 1,93 2,43
Minyak dan Lemak 1000 mg/l 565,5 0,57 0,57
Fluorida 0,5 mg/l F 0,3445 0,69 0,69
Timbal 0,03 mg/l Pb tt
Krom (VI) 0,05 mg/l Cr 0,0235 0,47 0,47
Bakteri Koli Tinja 100 JPT/100 ml 2,765 x 105 2765,00 18,21
Bakteri Total Koli 1000 JPT/100 ml 7,8 x 104 78,00 10,46
jumlah 55,79
rata-rata 3,28
nilai maks 18,21
PIJ 7,52

20
F. PEMBAHASAN

Berikut ini adalah hasil analisis data dengan menggunakan metode Storet:

Tabel 12. hasil perhitungan rata-rata skor setiap segmen


Total Skor
No Parameter Satuan
SG 7 SG8 SG9 SG10 SG11
1 pH 0 0 0 0 0
2 Residu Tersuspensi mg/l 0 0 0 0 0
3 Residu Terlarut mg/l 0 0 0 0 0
4 DHL mhos/cm 0 0 0 0 0
5 Oksigen Terlarut mg/l O2 -10 -2 -10 -10 -8
6 BOD mg/l -10 -10 -10 -10 -10
7 COD mg/l -10 -10 -10 -10 -10
8 Nitrat mg/l NO3 0 0 0 0 0
9 Nitrit mg/l NO2 -10 0 -10 -8 -10
10 Amoniak mg/l NH3-N -8 0 -10 -10 -10
11 Sulfida mg/l S 0 0 -10 -10 -10
12 Phosphat Toatal mg/l PO4 0 0 0 0 0
13 Fenol g/l
14 Detergent g/l MBAS 0 -8 -10 -10
15 Minyak dan Lemak g/l 0 0 0 0 -2
16 Fluorida mg/l F
17 Timbal mg/l Pb
18 Krom (VI) mg/l Cr 0 0 0 0 0
19 Bakteri Koli Tinja JPT/100 ml -15 -15 -15 -9 -15
20 Bakteri Total Koli JPT/100 ml -15 -15 -15 -9 -15
jumlah -78 -52 -98 -86 -100
kelas D D D D D
rata-rata skor -82,8

Tabel 12. memperlihatkan hasil penentuan status mutu air berdasarkan sistem STORET
Setelah ditentukan nilai maksimum, minimum, dan rata-rata dari hasil analisis fsika-kimia-
biologi air terhadap sungai Gajah Wong , maka diperoleh nilai: -82,8 yang berarti kondisi di
sungai Gajah Wong termasuk kelas D atau buruk dengan skor  .

21
Berdasarkan cara yang ditentukan oleh metode indeks pencemaran hasil harga indeks
pencemaran di sungai Gajah Wong adalah:

Tabel 13. Hasil Perhitungan Rata-Rata Ci/Lij Baru


CI/LIJ BARU .
Parameter SG
SG 7 SG 8 SG9 10 SG 11
pH 0,33 0,33 0,2 0,17 0,2
Residu Tersuspensi 0,67 0,61 0,46 0,49 0,46
Residu Terlarut 0,36 0,33 0,26 0,26 0,26
DHL
Oksigen Terlarut 0,75 1,09 0,43 0,49 0,88
BOD 4,44 1,88 6,65 5,45 5,95
COD 4,54 3,12 4,7 4,31 4,29
Nitrat 0,07 0,07 0,07 0,01 0,02
Nitrit 1,57 0,61 3,03 1,05 4,08
Amoniak 1,76 0,52 4,51 4,33 4,52
Sulfida 1 0,75 3,2 4,14 2,22
Phosphat Toatal 0,07 0,05 0,09 0,09 0,09
Fenol
Detergent 0,48 0,25 2,97 3,32 2,43
Minyak dan Lemak 0,31 0,41 0,02 0,01 0,57
Fluorida 0,52 0,38 0,6 0,47 0,69
Timbal
Krom (VI) 0,29 0,17 0,76 0,52 0,47
Bakteri Koli Tinja 17,11 17,11 21,21 14,36 18,21
Bakteri Total Koli 15,13 14,41 17,22 13,72 10,46
jumlah 49,41 42,09 66,37 53,2 55,79
rata-rata 2,91 2,48 3,9 3,13 3,28
nilai maks 17,11 17,11 21,21 14,36 18,21
PIJ 6,29 5,13 9,92 6,79 7,52
rata-rata 7,13
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan metode pollution index (PI),
jumlah indeks pencemaran rata-rata (PIrata-rata) pada sungai Gajah Wong adalah = 7,13 yang
berarti kondisi sungai Gajah Wong termasuk pada klasifikasi “cemar sedang”.

22
F. KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil pengamatan dan analisis
terhadap data kualitas air sungai Gajah Wong, sebagai berikut
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan:

a. Metode STORET

Setelah ditentukan nilai maksimum, minimum, dan rata-rata dari hasil analisis fsika-
kimia-biologi air terhadap sungai Gajah Wong , maka diperoleh nilai: -82,8 yang berarti
kondisi di sungai Gajah Wong termasuk kelas D atau buruk dengan skor < -30.

b. Metode Indeks Pencemaran

Hasil penentuan status mutu air berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan
metode pollution index (PI), jumlah indeks pencemaran rata-rata (PIrata-rata) pada sungai
Gajah Wong adalah = 7,13 yang berarti kondisi sungai Gajah Wong termasuk pada
klasifikasi “cemar sedang

23
DAFTAR PUSTAKA

24