Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pailit dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai keadaan yang
merugi, bangkrut. Sedangkan dalam kamus hukum ekonomi menyebutkan
bahwa, liquidation, likuidasi: pembubaran perusahaan diikuiti dengan proses
penjualan harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan utang, serta
penyelesaian sisa harta atau utang antara pemegang saham. Berdasarkan pasal
1 angka 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), “Kepailitan adalah sita
umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya
dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana
diatur dalam undang-undang ini.
Yang dapat dinyatakan mengalami kepailitan adalah debitur yang sudah
dinyataka tidak mampu membayar utang-utangnya lagi. Pailit dapat dinyatakan
atas:
a. permohonan dibitur sendiri (pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan);
b. permohonan satu atau lebih krediturnya (pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan
Tahun);
c. pailit harus dengan putusan pengadilan (pasal 3 UU Kepailitan);
d. Pailit bisa atas permintaan kejaksaan untuk kepentingan umum (pasal 2
ayat (2) UU Kepailitan);
e. bila dibiturnya bank, permohonan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank
Indonesia (pasal 2 ayat (3) UU Kepailitan);
f. Bila debiturnya Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kriling dan
Penjamin, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pailit
hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
(Pasal 2 ayat (4) UU Kepailitan);
g. dalam hal debiturnya Perusahaan Asuransi, perusahaan Reasuransi, Dana
Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang
kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan
oleh Menteri Keuangan (Pasal 2 ayat (5) UU Kepailitan).
Sedangkan tujuan pernyataan pailit adalah untuk mendapatkan suatu
penyitaan umum atas kekayaan debitur (segala harta benda disita atau
dibekukan) untuk kepentingan semua orang yang menghutangkannya
(kreditur).
Sejak debitor dinyatakan pailit karena putusan pernyataan pailit maka
debitor pailit kehilangan haknya untuk mengurusi dan mengelola harta milik
yang termasuk boedel kepailitan. Urusan ini harus diserahkan kepada kurator,
kuratorlah yang melakukan pengurusan dan pemberesan harta kepailitan
tersebut. Oleh karena itu, dalam putusan pernyataan kepailitan ditetapkan pula
siapa yang menjadi kurator. Dulu yang menjadi kurator adalah Balai Harta
Peninggalan (BHP). Kini, yang menjadi kurator tidak hanya BHP, tetapi bisa
pula kurator lain selain BHP.1
Dalam menjalankan tugasnya kurator tidak diharuskan memperoleh
persetujuan dari atau menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada
debitor, meskipun di dalam keadaan di luar kepailitan persetujuan atau
pemberitahuan demikian dipersyaratkan. Kurator dapat melakukan pinjaman
dari pihak ketiga, hanya dalam rangka meningkatkan harta pailit. Bila dalam
melakukan pinjaman kepada pihak ketiga kurator perlu membebani harta pailit
dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek atau hak agunan atas
kebendaan lainnya maka pinjaman tersebut harus terlebih dahulu memperoleh
persetujuan dari hakim pengawas.
Tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui pengurusan dan pemberesan
harta pailit, untuk mengetahui kendala yang dihadapi kurator dalam
pengurusan dan pemberesan harta pailit.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah proses pengurusan harta pailit?
2. Bagaimanakah pemberesan harta pailit?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui proses pengurusan harta pailit


2. Untuk mengetahui pemberesan harta pailit

1
Rachmadi Usman, 2004, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
Hal. 76.
BAB II

PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT

A. Pengurusan Harta Pailit

Pengurusan adalah mengumumkan ikhwal kepailitan, melakukan


penyegelan harta pailit, pencatatan/pendaftaran harta pailit, melanjutkan usaha
debitur, membuka surat-surat telegram debitur pailit, mengalihkkan harta pailit.
melakukan penyimpanan harta pailit, mengadakan perdamaian guna menjamin
suatu perkara yang sedang berjalan atau mencegah timbulnya suatu perkara.

Sejak diucapkannya putusan pailit, debitur yang dinyatakan pailit sudah


kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus harta pailit. Penguasaan dan
pengurusan pailit diserahkan kepada kurator. Di dalam penguasaan dan
pengurusan harta pailit tersebut yang terlibat tidak hanya kurator,tetapi masih ada
pihak lainnya. Pihak-pihak yang terkait dengan pengurusan harta pailit tersebut
adalah:
1. Hakim pengawas

Kurator mempunyai tugas utama yaitu melakukan pengurusan dan


pemberesan harta pailit. Agar kurator menjalankan tugasnya tersebut sesuai
dengan aturan hak dan tidak sewenang-wenang, maka perlu ada bentuk
pengawasan terhadap tindak-tindakan kurator. Disinilah perlunya peranan hakim
pengawas untuk mengawasi setiap tindakan kurator. Dalam putusan pernyataan
pailit harus diangkat seorang hakim pengawas yang ditunjuk oleh hakim
Pengadilan Niaga.
Tugas hakim pengawas ialah mengawasi pengurusan dan pemberesan
harta pailit yang dilakukan oleh kurator, dan sebelum memutuskan sesuatu yang
ada sangkut pautnya dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit, Pengadilan
Niaga wajib mendengar nasihat terlebih dahulu dari hakim pengawas. Tugas-tugas
dan kewenangan hakim pengawas adalah sebagai berikut:2
a. Memimpin rapat verifikasi;

2
Rahayu Hartini,2008, Hukum Kepailitan, UMM Press, Malang, hlm. 127.
b. Mengawasi tindakan dari kurator dalam melaksanakan tugasnya;
memberikan nasihat dan peringatan kepada kurator atas pelaksanaan tugas
tersebut;
c. Menyetujui atau menolak daftar-daftar tagihan yang diajukan oleh para
kreditur;

d. Meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat diselesaikannya dalam rapat


verifikasi kepada hakim Pengadilan Niaga yang memutus perkara itu;
e. Mendengar saksi-saksi dan para ahli atas segala hal yang berkaitan dengan
kepailitan (misalnya: tentang keadaan budel, perilaku pailit dan
sebagainya);
f. Memberikan izin atau menolak permohonan si pailit untuk berpergian
(meninggalkan tempat) kediamannya.
Ketentuan mengenai hakim pengawas dalam kepailitan terletak pada UUK
dan PKPU pada bagian ketiga paragraf 1 Pasal 65-68.
2. Kurator

Kurator merupakan salah satu pihak yang cukup memegang peranan


dalam suatu proses perkara pailit. Dan karena peranannya yang besar dan
tugasnya yang berat, maka tidak sembarangan orang dapat menjadi pihak kurator.
Dalam Pasal 69 UUK dan PKPU disebutkan, tugas kurator adalah melakukan
pengurusan dan atau pemberesan harta pailit.
Karena itu pula maka persyaratan dan prosedur untuk dapat menjadi
kurator ini oleh UUK dan PKPU diatur secara relatif ketat. Sewaktu masih
berlakunya peraturan kepailitan zaman Belanda, hanya Balai Harta Peninggalan
(BHP) saja yang dapat menjadi kurator tersebut. Dalam Pasal 70 ayat (1) UUK
dan PKPU disebutkan, yang dapat bertindak menjadi kurator sekarang adalah
sebagai berikut :
a. Balai Harta Peninggalan (BHP).

b. Kurator lainnya

Untuk jenis kurator lainnya, dalam Pasal 70 ayat (2), (a), (b) UUK dan PKPU
disebutkan, yaitu kurator yang bukan Balai Harta Peninggalan adalah mereka yang
harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu :
a. Perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia, yang
mempunyai keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan
atau membereskan harta pailit.
b. Telah terdaftar pada kementerian yang lingkup tugas dan tanggung
jawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan.
Dalam penjelasan Pasal 70 ayat(2) huruf (a) UUK dan PKPU disebutkan,
yang dimaksud dengan keahlian khusus adalah mereka yang mengikuti dan lulus
pendidikan kurator dan pengurus. Dalam penjelasan Pasal 70 ayat(2) huruf (b)
UUK dan PKPU disebutkan, yang dimaksud dengan terdaftar adalah telah
memenuhi syarat-syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan anggota aktif
organisasi profesi kurator dan pengurus.
Terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan maka debitur
pailit tidak lagi berhak melakukan pengurusan atas harta kekayaannya. Oleh
karena itu, untuk melindungi kepentingan, baik debitur pailit sendiri maupun
pihak ketiga yang berhubungan hukum dengan debitur pailit sebelum pernyataan
pailit dijatuhkan, UUK dan PKPU telah menunjuk kurator sebagai satu-satunya
pihak yang akan menangani seluruh kegiatan pengurusan dan pemberesan harta
pailit, meskipun terhadap putusan kemudian diajukan kasasi atau peninjauan
kembali.

Tugas kurator pengurus dapat dilihat pada job description dari kurator
pengurus, karena setidaknya ada 3 jenis penugasan yang dapat diberikan kepada
kurator pengurus dalam hal proses kepailitan, yaitu:
a. Sebagai kurator sementara

Kurator sementara ditunjuk dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan


debitur melakukan tindakan yang mungkin dapat merugikan hartanya,
selama jalannya proses beracara pada pengadilan sebelum debitur
dinyatakan pailit. Tugas utama kurator sementara adalah untuk:
1) Mengawasi pengelolaan usaha debitur; dan

2) Mengawasi pembayaran kepada kreditur, pengalihan atau pengagunan


kekayaan debitur yang dalam rangka kepailitan memerlukan kurator
(Pasal 7 UUK dan PKPU).Secara umum tugas kurator sementara tidak
banyak berbeda dengan pengurus, namun karena pertimbangan
keterbatasan kewenangan dan efektivitas yang ada pada kurator
sementara, maka sampai saat ini sedikit sekali terjadi penunjukan
kurator sementara.
b. Sebagai pengurus

Pengurus ditunjuk dalam hal adanya Penundaan Kewajiban Pembayaran


Utang (PKPU). Tugas pengurus hanya sebatas menyelenggarakan
pengadministrasian proses PKPU, seperti misalnya melakukan
pengumuman, mengundang rapat-rapat kreditur, ditambah dengan
pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan usaha yang dilakukan oleh
debitur dengan tujuan agar debitur tidak melakukan hal-hal yang mungkin
dapat merugikan hartanya.Perlu diketahui bahwa dalam PKPU debitur
masih memiliki kewenangan untuk mengurus hartanya sehingga
kewenangan pengurus sebatas hanya mengawasi belaka.
c. Sebagai kurator

Kurator ditunjuk pada saat debitur dinyatakan pailit, sebagai akibat dari
keadaan pailit, maka debitur kehilangan hak untuk mengurus harta
kekayaannya, dan oleh karena itu kewenangan pengelolaan harta pailit
jatuh ke tangan kurator. Dari berbagai jenis tugas bagi kurator dalam
melakukan pengurusan dan pemberesan, maka dapat disarikan bahwa
kurator memiliki beberapa tugas utama, yaitu:
1) Tugas administratif

Dalam kapasitas administratifnya, kurator bertugas


untukmengadministrasikan proses-proses yang terjadi dalam
kepailitan, misalnya melakukan pengumuman (Pasal 13 ayat (4) UUK
dan PKPU); mengundang rapat-rapat kreditur ; mengamankan harta
kekayaan debitur pailit; melakukan inventarisasi harta pailit (Pasal 91
UUK dan PKPU); serta membuat laporan rutin kepada hakim
pengawas (Pasal 70 ayat (1) UUK dan PKPU). Dalam menjalankan
kapasitas administratifnya kurator memiliki kewenangan antara lain:
a) Kewenangan untuk melakukan upaya paksa seperti paksa badan
(Pasal 84 ayat (1)UUK dan PKPU).
b) Melakukan penyegelan (bila perlu) (Pasal 90 ayat (1) UUK dan
PKPU).
2) Tugas mengurus/mengelola harta pailit

Selama proses kepailitan belum sampai pada keadaan insolvensi (pailit),


maka kurator dapat melanjutkan pengelolaan usaha-usaha debitur pailit
sebagaimana layaknya organ perseroan (direksi) atas ijin rapat kreditur
(Pasal 95 ayat (1)UUK dan PKPU). Pengelolaan hanya dapat dilakukan
apabila debitur pailit masih memiliki suatu usaha yang masih berjalan.
Kewenangan yang diberikan dalam menjalankan pengelolaan ini termasuk
diantaranya :
a) Kewenangan untuk membuka seluruh korespondensi yang ditujukan
kepada debitur pailit (Pasal 14 junto Pasal 96 UUK dan PKPU).
b) Kewenangan untuk meminjam dana pihak ketiga dengan dijamin
dengan harta pailit yang belum dibebani demi kelangsungan usaha
(Pasal 67 ayat (4) UUK dan PKPU).
c) Kewenangan khusus untuk mengakhiri sewa, memutuskan hubungan
kerja, dan perjanjian lainnya.
3) Tugas melakukan penjualan dan pemberesan

Tugas yang paling utama bagi kurator adalah untuk melakukan


pemberesan. Maksudnya pemberesan di sini adalah suatu keadaan dimana
kurator melakukan pembayaran kepada para kreditur konkuren dari hasil
penjualan harta pailit.
3. Panitia kreditur

Pada prinsipnya, suatu panitia kreditur adalah pihak yang mewakili pihak
kreditur, sehingga panitia kreditur tentu akan memperjuangkan segala kepentingan
hukum dari pihak kreditur. Ada dua macam panitia kreditur yang diperkenalkan oleh
UUK dan PKPU, yaitu:
a. Panitia kreditur sementara

Dalam Pasal 79 UUK dan PKPU disebutkan, dalam putusan pailit atau dengan
penetapan kemudian, pengadilan dapat membentuk panitia kreditur
(sementara) yang terdiri dari satu sampai tiga orang yang dipilih dari kreditur
yang dikenal dengan maksud memberikan nasihat kepada kurator. Yang
dimaksud dengan kreditur yang sudah dikenal adalah kreditur yang sudah
mendaftarkan diri untuk diverifikasi.
b. Panitia kreditur tetap

Pasal 72 UUK dan PKPU menyatakan bahwa setelah pencocokan utang selesai
dilakukan, hakim pengawas wajib menawarkan pada para kreditur untuk
membentuk panitia kreditur tetap.

B. Pemberesan Harta Pailit

Pemberesan merupakan salah satu tugas yang dilakukan oleh kurator terhadap
pengurusan harta debitur pailit. Dalam Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UUK dan PKPU
dijelaskan bahwa yang dimaksud pemberesan adalah penguangan aktiva untuk
membayar atau melunasi utang. Pemberesan baru dapat dilakukan setelah debitur
berada dalam keadaan insolvensi, dimana insolvensi baru dapat terjadi bila:3
1. Jika dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian.

2. Apabila ada penawaran perdamaian oleh si pailit maupun oleh kurator, tetapi tidak
disetujui oleh para kreditur dalam rapat verifikasi (pencocokan piutang).
3. Apabila terdapat perdamaian dan disetujui oleh para kreditur dalam rapat
verifikasi tetapi tidak mendapat homogolasi (pengesahan) oleh hakim pemutusan
kepailitan.
Berikut ini diuraikan tentang hal-hal yang dilakukan dalam tahap pemberesan
harta pailit :
1. Mengusulkan agar perusahaan debitur pailit dilanjutkan

Jika dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian

3
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, Pasal 178 ayat (1).
atau jika rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima, kurator atau kreditur
yang hadir dalam rapat dapat mengusulkan supaya perusahaan debitur pailit
dilanjutkan. 4Usulan untuk melanjutkan perusahaan dalam rapat tersebut wajib
diterima, apabila usul tersebut disetujui oleh kreditur yang mewakili lebih dari ½ dari
semua piutang yang diakui dan diterima sementara, yang tidak dijamin dengan hak
gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan
lainnya. 5 Namun, kelanjutan perusahaan dapat dihentikan oleh hakim pengawas atas
permintaan kreditur atau kurator.6

2. Mengusulkan dan melaksanakan penjualan harta pailit

Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 ayat (1) UUK dan PKPU


disebutkan, kurator harus memulai pemberesan dan menjual semua harta pailit, tanpa
perlu memperoleh persetujuan atau bantuan debitur:7
a. Usul untuk mengurus perusahaan debitur tidak diajukan dalam jangka waktu
sebagaimana diatur dalam undang-undang ini atau usul tersebut telah diajukan
tetapi ditolak.
b. Pengurusan terhadap perusahaan dihentikan, namun dalam hal perusahaan
dilanjutkan dapat dilakukan penjualan benda termasuk harta pailit, yang tidak
diperlukan dalam meneruskan perushaan. Debitur pailit dapat diberikan
sekedar perabot rumah dan perlengkapannya, alat-alat medis yang
dipergunakan untuk kesehatan, atau perabot kantor yang ditentukan oleh
hakim pengawas.

Terhadap semua harta kekayaan pailit tersebut harus dijual di muka umum sesuai
dengan tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.8

4
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 179 ayat (1).

5
Republik Indonesia Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 180
ayat (1).
6
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 183 ayat
(1).

7
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailiatn dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 184.
8
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailiatn dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 185 ayat
(1).
Dalam hal penjualan di muka umum tidak dapat tercapai, maka dapat dilakukan
penjualan di bawah tangan dengan izin dari hakim pengawas. 9Sedangkan terhadap
semua barang yang tidak segera atau sama sekali tidak dapat dibereskan, maka kurator
yang memutuskantindakan yang harus dilakukan terhadap barang tersebut dengan izin
dari hakim pengawas.10
3. Mengadakan rapat kreditur

Setelah harta pailit berada dalam keadaan insolvensi, maka hakim pengawas
dapat mengadakan suatu rapat kreditur pada hari, jam, dan tempat yang ditentukan
untuk mendengar mereka seperlunya mengenai cara pemberesan harta pailit dan jika
perlu mengadakan pencocokan piutang.11 Apabila hakim pengawas berpendapat
terdapat cukup uang tunai, kurator diperintahkan untuk melakukan pembagian kepada
kreditur yang piutangnya telah dicocokkan.12
4. Membuat daftar pembagian

Mengenai masalah daftar pembagian, maka kurator wajib menyusun suatu


daftar pembagian untuk dimintakan persetujuan kepada hakim pengawas.13
Kurator membuat daftar pembagian yang berisi jumlah uang yang diterima dan yang
dikeluarkan, termasuk didalamnya upah kurator, nama-nama kreditur dan jumlah
tagihannya yang telah disahkan, pembayaran-pembayaran yang akan dilakukan
terhadap tagihan-tagihan itu atau bagian yang wajib diterimakan kepada kreditur.

Daftar pembagian tersebut dapat dibuat sekali atau lebih dari sekali dengan
memperhatikan kebutuhan. Daftar pembagian yang telah disetujui oleh hakim
pengawas wajib disediakan di kepaniteraan pengadilan agar dapat dilihat oleh kreditur
selama tenggang waktu yang ditetapkan oleh hakim pengawas pada waktu daftar

9
Republik Indonesia, Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
Pasal 185 ayat (2).
10
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 185 ayat
(3).

11
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 187
ayat (1)
12
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 188
13
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 189 ayat
(1)
tersebut disetujui dan diumumkan oleh kurator dalam surat kabar harian sebagaimana
yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) UUK dan PKPU.14
Daftar pembagian tersebut dapat dilawan oleh kreditur dengan
mengajukan surat keberatan dengan disertai alasan kepada paniteraan pengadilan
dengan menerima tanda bukti penerimaan.15 Hakim pengawas akan menetapkan hari
memeriksa perlawanan di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum Dalam sidang
tersebut, hakim pengawas memberikan laporan tertulis, sedangkan kurator dan setiap
kreditur atau kuasanya dapat mendukung atau membantah daftar pembagian tersebut
dengan mengemukakan alasannya dan pengadilan paling lambat dalam jangka waktu
7 (tujuh) hari wajib memberikan putusan yang disertai dengan pertimbagan hukum
yang cukup.16 Terhadap putusan pengadilan tersebut dapat diajukan permohonan
kasasi.17
Setelah kurator selesai dalam melaksanakan pembayaran kepada masing-
masing kreditur berdasarkan daftar pembagian, maka berakhirlah
18
kepailitan. Kurator melakukan pengumuman mengenai berakhirnya kepailitan dalam
berita negara republik indonesia dan surat kabar harian.19
5. Membuat daftar perhitungan dan pertanggungjawaban pengurusan dan
pemberesan kepailitan kepada hakim pengawas.
Kurator wajib memberikan pertanggungjawaban mengenai pengurusan dan
pemberesan yang telah dilakukannya kepada hakim pengawas paling lama 30 (tiga
puluh) hari setelah berakhirnya kepailitan. Semua buku dan dokumen mengenai harta

14
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 192

15
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 193 ayat
(1)
16
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 194
17
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 196 ayat
(1)

18
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 202 ayat
(1)
19
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 202 ayat
(2)
pailit wajib diserahkan kepada debitur dengan tanda bukti penerimaannya.20
Sesudah diadakan pembagian penutup, ada pembagian yang tadinya
dicadangkan jatuh kembali dalam harta pailit atau apabila ternyata masih terdapat
bagian harta pailit yang sewaktu diadakan pemberesan tidak diketahui, maka atas
perintah pengadilan, kurator membereskan dan membaginya berdasarkan daftar
pembagian dahulu.21 Selanjutnya, kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau
kelaliannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan yang
menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.22
Tugas dan kewenangan sebagaimana diuraikan di atas dilakukan dengan
menganut asas independen dan tidak memihak hanya pada kepentingan kreditur
sendiri atau semata-mata untuk kepentingan debitur. Apabila kurator dalam
menjalankan tugasnya tidak independen maka para pihak dapatmengajukan
penggantian kurator.

20
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 202 ayat
(3) dan (4)
21
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 203
22
Republik Indonesia. Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 72
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pemberesan harta pailit merupakan kegiatan penjualan atau menguangkan
harta kekayaan debitur pailit. Pernyataan putusan pailit yang diucapkan
Pengadilan Niaga untuk memenuhi kewajiban debitur pailit pada para kreditur
dengan pelaksanaan pemberesan dilakukan sita umum berdasarkan putusan
Pengadilan Niaga yang berada pada daerah hukum. Sita umum dengan melalui
lelang dan dapat pula dengan dibawah tangan dengan persetujuan Hakim
Pengawas. Pengangkatan Hakim Pengawas dilakukan oleh Majelis Hakim
Pengadilan Niaga yang memeriksa dan memutus perkara kepailitan. Permohonan
pernyataan pailit didaftarkan malalui Panitera Pengadilan. Pengadilan Niaga yang
memproses masalah perniagaan yang berada dalam lingkungan peradilan umum.
Pengurusan dan atau pemberesan oleh Kurator Balai Harta Peninggalan untuk
mendaftarkan semua harta (budel) pailit, mengumumkan ikhtisar putusan pailit
dalam Berita Negara Republik Indonesia dan surat kabar yang berskala nasional,
memanggil para kreditur untuk mendaftarkan tagihan, pencocokan (verifikasi)
piutang, perdamaian yang ditolak berdasarkan putusan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap. Dengan terpenuhinya persyaratan administratif dan
pendataan semua harta kekayaan debitur pailit dengan demikian, pemberesan
harta debitur pailit demi hukum dilaksanakan.

B. SARAN
1. Kurator Balai Harta Peninggalan benar-benar menjaga ketidak berpihakannya kepada
kreditur maupun debitur sehingga penilaian yang dilaksanakan oleh penaksir dapat
menilai harta pailit pada kepentingan kepailitan.
2. Azas-azas yang terkandung dalam Undang-undang Kepailitan, yaitu azas
keseimbangan, azas kelangsungan, azas keadilan dan integrasi dapat diwujudkan oleh
setiap unsur yang menjalankan dalam proses, prosedural, pengurusan dan pemberesan
kepailitan.
DAFTAR PUSTAKA

Hartini, Rahayu. Hukum Kepailitan. 2008. Malang: UMM Press

Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia. 2004. Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama

Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang