Anda di halaman 1dari 4

LABORATORIUM FARMAKOLOGI-BIOFARMASETIK

PRAKTIKUM METODE FARMAKOLOGI


UNIVERSITAS TADULAKO

PERCOBAAN I
“ STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PENANGANAN
TIKUS/MENCIT “

DISUSUN OLEH

KELOMPOK : 5 (V)
KELAS :A
ASISTEN : SAMUEL TOROKANO

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


Tikus putih atau mencit adalah tikus rumah yang memiliki habitat asli Asia, India,
dan Eropa Barat. Jenis tikus ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan
oleh manusia. Tikus adalah binatang yang hidup bersama, tinggal di dalam selama cuaca
dingin dan bergerak ke luar selama musim semi dan musim panas, bentuk-bentuk liar,
tinggal di luar sepanjang hidup mereka, dan dikurung binatang, terus untuk penelitian,
pengujian, mengajar, hewan peliharaan dan mewah. Meskipun tikus liar aktif di malam
hari, mencit peliharaan memiliki periode kegiatan selama siang dan malam. Tikus
memakan makanan manusia dan barang-barang rumah tangga. Di alam liar, tikus
memakan biji-bijian, akar berdaging, daun, batang, serangga, dan beberapa daging, jika
tersedia. Tikus liar dan membangun sarang di mana pun dan makanan penutup yang
cocok ada (Arifin dkk 2007).
Mencit diangkat dengan menggenggam pangkal ekor dengan satu jari atau ibu jari
berujung karet forsep. Ini adalah teknik yang berguna untuk memindahkan tikus dari satu
kandang yang lain. Untuk secara manual menahan tikus, tikus diangkat oleh pangkal
ekor, maka kulit longgar di leher / daerah pundak yag diangkat dengan memmposisikan
tikus diantara ibu jari dan jari telunjuk. Hal ini akan memudahkan mengangkat tikus,
yang memungkinkan tikus untuk mengenal kandang di bagian permukaan lainnya,
kemudian memegang daerah kulit leher. Dengan sedikit latihan, tikus dapat diangkat dan
ditahan dengan teknik satu tangan. Ketika tangan memegang, tikus harus terbalik
sehingga berat tikus terletak di telapak tangan. Di ujung caudal tikus dikendalikan
dengan menempatkan penangan ekor antara keempat dan kelima jari (Arifin dkk 2007).
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran atau
biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau sarana
percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan
genetis atau keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping
factor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis
yang mirip kejadiannya pada manusia. Perbedaan antara tikus dan manusia cukup besar.
Memang suatu percobaan farmakologi maupun toksikologi hanya dapat berarti bila
dilakukan pada manusia sendiri. Tetapi pengalaman telah membuktikan bahwa hasil
percobaan farmakologi pada hewan coba dapat diekstrapolasikan pada manusia bila
beberapa spesies hewan pengujian menunjukkan efek farmakologi yang sama (Katzung,
2001).
Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui.
Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan
ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan
dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi
hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah,
misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya (Rar, 2003).
II. Uraian Bahan

1. Aquadest (FI III, 96)

Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air suling / aquadest

RM/BM : H2 O / 18,02

Rumus struktur :H–O–H

Pemerian :Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai


rasa

Kelarutan :-

Khasiat :-

Kegunaan : Sebagai sampel

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Persaratan kadar :-
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta

Arifin, Helmi, dkk. 2007. Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Fetus pada Mencit
Diabetes. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi; 12(01): 32-40.

Katzung, Bertram G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta.

RAR. 2003. Housing and Husbandry Guidelines for Laboratory


Animals.http://www.ahc.umn.edu/rar/housing.html. [Diunduh pada tanggal 29 Maret
2017].