Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM

Akhlak dan Tasawuf dalam Islam

Disusun oleh
Hanefi Azhar
Prima Chandra Utama
Putri Kemala Sari
Yogi Febrianto

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2017
Kata Pengantar

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah kelompok ini..

Makalah pendidikan agama ini memuat tentang integrasi keterkaitan iman,


islam dan ihsan dibuat sebagai tugas dari mata kuliah pendidikan agama. Makalah
ini bertujuan untuk melihat keterkaitan antara iman, islam dan ihsan dalam
pandangan secara bahasa dan istilah. Yang kemudian dengan selesai dibuatnya
makalah ini mahasiswa akan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan
sehari-hari sehingga tercapai keinginan untuk menjadi mahasiswa yang
mempunyai sifat sopan santun terhadap sesama manusia dan bertaqwa kepada
Allah SWT.

Kami sebagai penyusun menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik


Allah SWT. Oleh karena itu kami mengharapkan kepada pembaca untuk dapat
memberikan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya karya-karya kami
yang lebih baik selanjutnya. Terima kasih.

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna dibanding dengan
makhluk yang lainnya. namun dengan kesempurnaan itu manusia tidaklah semua
mempunyai sifat yang baik namun juga mempunyai sifat yang buruk dan sangat
beragam. oleh karena itu makalah ini dibuat untuk mengetahui berbagai macam
akhlak menurut islam.

B. Rumusan Masalah
Untuk mengetahui berbagai macam akhlak yang ada pada manusia dan
dengan penjelasan yang ada di Qur'an dengan tafsir Ibnu Katsir

C. Tujuan

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, tujuan pembahasan makalah


tentang akhlak ini ingin mengetahui berbagai macam akhlak yang ada pada
manusia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengetian Akhlak

Yang disebut akhlak adalah suatu bentuk yang tertanam kokoh didalam jiwa
manusia kemudian melahirkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara
terbebas, mencangkup baik itu perbuatan baik maupun perbuatan yang buruk1

Macam-macam Akhlak

1. Akhlak Terpuji ( Mahmudah )


Penerapan akhlak sesama manusia yang dan merupakan akhlak yang
terpuji adalah sebagai berikut:2[1]

a. Husnuzan
Berasal dari lafal Husnun (baik) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan
berarti prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan
yakni berprasangka buruk terhadap seseorang. Hukum kepada Allah dan rasul nya
wajib, wujud husnuzan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain:

 Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul-Nya
Adalah untuk kebaikan manusia.
 Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat
buruk.

Hukum husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan).


Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah
berbuat suatu kebaikan. Husnuzan berdampak positif berdampak positif baik bagi
pelakunya sendiri maupun orang lain.

1 . Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. 2014. Minhajul Muslim. Solo: Pustaka Arafah
2[1] (http://dwitaapriliani.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-al-quran-tentang-akhlak.html)
b. Tawaduk
Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang
merendahkan diri dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur.
Rasulullah Saw bersabda :
“Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan
mengangkat derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka
Allah akan merendahkannya” (HR. Ath-Thabrani).

c. Tasamu
Artinya sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai
sesama manusia. Allah berfirman:
”Untukmu agamamu, dan untukku agamaku" (Q.S. Alkafirun/109: 6)

Tafsir dari Ibnu Katsir : " sebagai suatu dalil yang menunjukkan bahwa
kufur itu semuanya sama saja, oleh karenanya orang Yahudi dapat mewaris dari
orang Nasrani; begitu pula sebaliknya, jika di antara keduanya terdapat hubungan
nasab atau penyebab yang menjadikan keduanya bisa saling mewaris. Karena
sesungguhnya semua agama selain Islam bagaikan sesuatu yang tunggal dalam hal
kebatilannya.

Imam Ahmad ibnu Hambal dan ulama lainnya yang sependapat dengannya
mengatakan bahwa orang Nasrani tidak dapat mewaris dari orang Yahudi,
demikian pula sebaliknya. Karena ada hadis yang diriwayatkan dari Amr ibnu
Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw.
telah bersabda:

‫ث أ ا ْه ُل ِملَّت ا ْي ِن ا‬
»‫شتَّى‬ ُ ‫ار‬
‫« اَل يات ا او ا‬

Dua orang pemeluk agama yang berbeda tidak dapat saling mewaris di antara
keduanya.
Demikianlah akhir tafsir surat Al-Kafirun, segala puji bagi Allah Swt. atas
limpahan karunia-Nya.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa masing-masing pihak bebas


melaksanakan ajaran agama yang diyakini.

d. Ta’awun
Ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu
dengan sesama manusia. Allah berfirman, ”…dan tolong menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan…”(Q.S. Al Maidah/5:2)

Selain sifat-sifat di atas masih banyak lagi sifat-sifat terpuji lainya yang menjadi
patokan akhlak kita antar sesama.

2. Akhlak Tercela ( Mazmumah )


Beberapa akhlak tercela yang harus kita hindari dalam kaitanya akhlak
antar sesama diantaranya:

a. Hasad
Artinya iri hati, dengki. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu
melihat orang lain beruntung. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,
“Janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling mendengki, dan
janganlah kamu saling menjatuhkan. Dan hendaklah kamu menjadi hamba Allah
yang bersaudara dan tidak boleh seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih
dari tiga hari“. (HR. Anas).

b. Dendam
Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk
membalas kejahatan. Allah berfirman:
”Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan
siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhlah
itulah yang terbaik bagi orang yang sabar” (Q.S. An Nahl/16:126)
c. Gibah dan Fitnah
Membicarakan kejelekan orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan
nama baiknya. Apabila kejelekan yang dibicarakan tersebut memang dilakukan
orangnya dinamakan gibah. Sedangkan apabila kejelekan yang dibicarakan itu
tidak benar, berarti pembicaraan itu disebut fitnah. Allah berfirman,
”…dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Tentu kamu merasa jijik…”(Q.S. Al-Hujurat/49:12).

d. Namimah
Adu domba atau namimah, yakni menceritakan sikap atau perbuatan
seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud terjadi
perselisihan antara keduanya. Allah berfirman,
”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu
membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak
mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu
menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat 49:6)

3. Akhlak kepada Allah


Beberapa akhlak yang sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai mahluk
kepada kholiq-Nya, diantaranya:

 Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk


menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah
membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.
 Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan
kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah
melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
 Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan
inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan penerapan
akhlak dalam Kehidupan.
 Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan
menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
 Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa
dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu idak
layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain,
dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. 3[2]

Seorang muslim harus menjaga akhlaknya terhadap Allah swt, tidak


mengotorinya dengan perbuatan syirik kepada-Nya. Sahabat Ismail bin Umayah
pernah meminta nasihat kepada Rasulullah saw, lalu Rasulyllah memberinya
nasihat singkat dengan mengingatkan.

“Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah swt dengan


sesuatupun, meski kamu harus menerima resiko kematian dengan cara dibakar
hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah menjadi dua“. (HR. Ibnu Majah).

4. Akhlak kepada Diri Sendiri


Adapun Kewajiban kita terhadap diri sendiri dari segi akhlak, di
antaranya:
 Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari
pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar
diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa
musibah.
 Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak
bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan
perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan

3[2] ibid
Alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.

 Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya,
orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk Melahirkan ketenangan jiwa,
menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak
menyenangkan orang lain.

5. Akhlak kepada Sesama Manusia


Berakhlak baik terhadap sesama pada hakikatnya merupakan wujud dari rasa
kasih sayang dan hasil dari keimanan yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah
SAW.
“Mukmin yang paling sempurna imanya ialah yang paling baik akhlaknya. Dan
yang paling baik diantara kamu ialah mereka yang paling baik terhadap
isterinya“. (HR. Ahmad).

B. Ayat Al-qur’an Tentang Akhlak

1. Perilaku Terpuji
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal perilaku atau akhlak salah
satunya akhlak terpuji. Adapun ayat-ayat yang mejelaskan perilaku terpuji,
diantaranya:
a. QS. Al baqoroh 153

َ‫صا ِب ِرين‬ َ َّ ‫صال ِة ِإ َّن‬


َّ ‫َّللا َم َع ال‬ َّ ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ا ْست َ ِعينُوا ِبال‬
َّ ‫صب ِْر َوال‬
)153(
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqoroh:
153)".

Setelah Allah Swt. menerangkan perintah untuk bersyukur kepada-Nya,


maka melalui ayat ini Dia menjelaskan perihal sabar dan hikmah yang terkandung
di dalam masalah menjadikan sabar dan salat sebagai penolong serta pembimbing.
Karena sesungguhnya seorang hamba itu adakalanya berada dalam kenikmatan,
lalu ia mensyukurinya; atau berada dalam cobaan, lalu ia bersabar
menanggungnya. Sebagaimana yang disebutkan oleh sebuah hadis yang
mengatakan:

‫ ِإ ْن أ ا ا‬:ُ‫اان اخ ْي ًرا لاه‬


ُ‫صا ابتْه‬ ‫َّللاُ لاهُ قا ا‬
‫ضا ًء إِ ََّل ك ا‬ َّ ‫ اَل يا ْق ِضي‬.‫ع اجبًا ِل ْل ُم ْؤ ِم ِن‬
‫" ا‬
."ُ‫صبا ار كاا ان اخ ْي ًرا لاه‬ ‫ض َّرا ُء فا ا‬ ‫اان اخ ْي ًرا لاهُ؛ او ِإ ْن أ ا ا‬
‫صاباتْهُ ا‬ ‫ ك ا‬،‫شك اار‬‫ فا ا‬،‫س َّرا ُء‬‫ا‬

Mengagumkan perihal orang mukmin itu. Tidak sekali-kali Allah


menetapkan suatu ketetapan baginya, melainkan hal itu baik belaka baginya. Jika
dia mendapat kesenangan, maka bersyukurlah dia yang hal ini adalah lebih baik
baginya; dan jika tertimpa kesengsaraan, maka bersabarlah dia yang hal ini
adalah lebih baik baginya.

.4[3]
Dengan begitu, sesungguhnya seorang hamba itu adakalanya berada dalam
kenikmatan, lalu ia mensyukurinya; atau berada dalam cobaan, lalu ia bersabar
menanggungnya. Allah SWT menjelaskan bahwa sarana yang paling baik untuk
menanggung segala macam cobaan ialah dengan sikap sabar dan banyak salat,
seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

)45( َ‫علَى ا ْلخَا ِشعِين‬


َ َّ‫يرة ٌ ِإل‬
َ ‫صال ِة َو ِإنَّ َها لَ َك ِب‬ َّ ‫َوا ْست َ ِعينُوا ِبال‬
َّ ‫صب ِْر َوال‬
Artinya:”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (Al
Baqoroh: 45)".

Sabar itu ada dua macam, yaitu sabar dalam meninggalkan hal-hal yang di
haramkan dan dosa-dosa, serta sabar dalam menjalankan ketaatan dan amal-amal
shaleh. Adapun jenis sabar lainnya, yaitu sabar dalam menanggung segala macam

4[3] Tafsir Ibnu Katsir. Versi Digital (E-Book)


musibah dan cobaan, jenis inipun hukumnya wajib; perihalnya sama dengan
istigfar (memohon ampun) dari segala macam cela.5[4]

Karena kesabaran membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan, maka


manusia tidak boleh berpangku tangan, atau terbawa kesedihan oleh petaka yang
dialaminya, ia harus berjuang dan berjuang. Memperjuangkan kebenaran, dan
menegakkan keadilan. Dengan sikap seperti itu diharapkan Ummat islam
memiliki mental yang kuat dan tidak cengeng dalam menghadapi lika-liku dan
kerasnya kehidupan di dunia, sehingga manusia itu akan bertambah lebih maju.
b. QS. Al imran 133-134

‫ض‬ُ ‫س َم َواتُ َواأل َ ْر‬ َّ ‫ض َها ال‬ُ ‫ع ْر‬ َ ‫عوا ِإلَى َم ْغ ِف َرةٍ ِم ْن َر ِب ُك ْم َو َجنَّ ٍة‬ ُ ‫ار‬ِ ‫س‬َ ‫َو‬
ِ ‫اء َو ْال َك‬
َ‫اظ ِمين‬ ِ ‫اء َوالض ََّّر‬ َّ ‫) الَّذِينَ يُ ْن ِفقُونَ ِفي ال‬133( َ‫َّت ِل ْل ُمتَّقِين‬
ِ ‫س َّر‬ ْ ‫أ ُ ِعد‬
)134( َ‫َّللاُ ي ُِحبُّ ا ْل ُم ْح ِس ِنين‬
َّ ‫اس َو‬ِ َّ‫ع ْن الن‬َ َ‫ظ َو ْال َعافِين‬َ ‫ْالغَ ْي‬
Artinya "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (Al Imran: 133-134).

Ayat ini, menganjurkan peningkatan upaya, melukiskan upaya itu


bagaikan satu perlombaan, dan kompetisi yang memang merupakan salah satu
cara peningkatan kualitas. Karena itu bersegeralah kamu bagaikan ketergesaan
seorang yang ingin mendahului yang lain menuju ampunan dari Tuhanmu dengan
menyadari kesalahan dan berlombalah mencapai, yaitu surga yang sangat agung
yang lebarnya, yakni luasnya selebar seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk al-muttaqin, yakni orang-orang yang telah mantap ketakwaannya, yang taat
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

5[4] Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,, Terjemah Tafsir Ibnu Kasir Juz 2 (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000),
hlm. 49
Ayat ini juga menunjukkan tiga kelas manusia atau jenjang sikapnya.
Pertama, yang mampu menahan amarah. Kata (‫ )الكاظمين‬mengandung makna
penuh dan menutupnya dengan rapat. Diatas tingkat ini, adalah yang memaafkan.
Kata (‫ )العافين‬terambil dari kata (‫ )العفن‬al-‘afn yang bararti maaf atau juga bisa
diartikan menghapus. Seseorang yang memafkan orang lain, adalah menghapus
bekas luka hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya.
Selanjutnya, untuk mencapai tingkat ketiga Allah mengingatkan bahwa yang
disukainya adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, yakni bukan orang yang
sekedar menahan amarah, atau memaafkan tetapi justru yang berbuat baik kepada
yang pernah melakukan kesalahan.6[5]
2. Perilaku Tercela
Perilaku tercela adalah perilaku yang yang dipandang tidak baik dan tidak sesuai
dengan syara’(tidak sesuai dengan ajaran islam), ayat-ayat al qur’an yang
menerangkan perilaku tercela diantaranya:
a. QS. Al Anfal 27
)27( َ‫سو َل َوت َ ُخونُوا أ َ َمانَاتِ ُك ْم َوأ َ ْنت ُ ْم ت َ ْعلَ ُمون‬
ُ ‫الر‬ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ل ت َ ُخونُوا‬
َّ ‫َّللاَ َو‬
Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah
dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-
amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al Anfal: 27).
Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan
berkhianat. Bahwa diantara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia
mampu melaksanakan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang
munafik adalah khianat dan melalaikankan amanah-amanahnya.

Kata ( ‫ ) تخونوا‬takhunu terambil dari kata (‫ )الخون‬al- khaun yakni


“kekurangan”, antonimnya adalah (‫ )الوفاء‬al-wafa’ yang berarti “kesempurnaan”.

6[5] M. Quraisy Shihab. Tafsir Al-Misbah volume 3 (Jakarta:Lentera Hati. 2002), hlm. 220
Selanjutnya kata “khianat” di gunakan sebagai antonim dari “amanat”
karena jika seseorang mengkhianati pihak lain maka dia telah mengurangi
kewajiban yang ia harus tunaikan. Kata ( ‫ )أمنات‬amanat adalah bentuk jamak dari
kata ( ‫ )امنة‬amanah yang terambil dari kata ( ‫ )أمن‬amina yang berarti “merasa
aman”, dan “percaya”. Siapa yang dititipi amanat, maka itu berarti yang
menitipkannya percaya kepadanya dan merasa aman bahwa sesuatu yang
dititipkan itu akan diperlihara olehnya.7[6]

Tetapi perlukita tahu bahwa sikap munafik ini perlu kita hindari jauh-jauh
demi keberlangsungan hidup yang harmonis.
b. QS. Al isra’ 26-27
‫) ِإ َّن‬26( ً ‫س ِبي ِل َول ت ُ َبذ ِْر تَ ْبذِيرا‬َّ ‫ت ذَا ْالقُ ْر َبى َحقَّهُ َو ْال ِم ْسكِينَ َوابْنَ ال‬
ِ ‫َوآ‬
)27( ً ‫طا ُن ِل َر ِب ِه َكفُورا‬َ ‫ش ْي‬َّ ‫ين َو َكانَ ال‬
ِ ‫اط‬
ِ ‫ش َي‬َّ ‫ْال ُم َبذ ِِرينَ َكانُوا ِإ ْخ َوانَ ال‬
Artinya:"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,
kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-
pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat
ingkar kepada Tuhannya. (Al Isra:26-27)

Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslimin agar menunaikan hak


kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang-orang miskin dan orang-orang yang
dalam perjalanan. Hak yang harus ditunaikan itu ialah: Mempererat tali
persaudaraan dan hubungan kasih sayang, mengunjungi rumahnya dan bersikap
sopan santun, serta membantu meringankan penderitaan-penderitaan yang mereka
alami.

7[6] Ibid hlm. 432


Penyifatan dengan kufur/sangat ingkar merupakan peringatan keras
kepada para pemboros yang menjadi teman setan itu, bahwa persaudaraan dan
kebersamaan mereka dengan setan dapat mengantar mereka pada kekufuran.8[7]
Dan sikap boros itu sangat berbahaya bagi orang yang tidak bisa mengendalikan
nafsunya, karena nafsu itu berkorelasi dengan sifat boros yang jelas-jelas
merugikan manusia dari segi jasmani maupun rohani.

3. Balasan Terhadap Perilaku Terpuji dan Tercela


Orang bekerja mesti ada ganjarannya begitupun dengan perilaku terpuji
dan tercela. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan perbuatan manusia, oleh
karena itu Allah membalas perilaku-perilaku yang dilakukan manusia
sebagaimana yang di sebutkan dalam ayat-ayat berikut:9[8]

a. QS. Al an’am 160

َّ ‫عش ُْر أ ا ْمثاا ِل اها او ام ْن اجا اء ِبال‬


َّ‫س ِيئ ا ِة فاال يُجْ ازى إَِل‬ ‫سنا ِة فالاهُ ا‬
‫ام ْن اجا اء ِبا ْل اح ا‬
‫ِمثْلا اها او ُه ْم َل يُ ْظلا ُم ا‬
)160( ‫ون‬
Arinya:"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh
kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia
tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang
mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)". (Al An’am: 160)
Ayat ini menjelaskan bahwa pembalasan Allah SWT. sungguh adil, yakni
barang siapa diantara manusia yang datang membawa amal yang baik, yakni
berdasar iman yang benar dan ketulusan hati, maka baginya pahala sepuluh kali
lipatnya yakni sepuluh kali lipat amalnya sebagai karunia dari Allah SWT; dan
barang siapa yang membawa perbuatan yang buruk maka dia tidak diberi
pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, itu pun jikalau allah
menjatuhkan sanksi atasnya, tetapi tidak sedikit keburukan hamba yang

8[7] Ibid. hlm. 452

9[8] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 4 (Jakarta: Lentera Hati, 2000), hlm.352
dimaafkannya. Kalau allah menjatuhkan sanksi, maka itu sangat adil, dan dengan
demikian mereka yakni yang melakukan kejahatan itu sedikitpun tidak dianiaya
tetapi masing-masing akan memperoleh hukuman setimpal dengan dosanya.
Adapun yang berbuat kebajikan, maka bukan saja mereka tidak dianiaya,
bukan juga mereka diberi ganjaran yang adil, tetapi mereka mendapat anugerah
dari Allah SWT.

b. QS. An-Nisa : 79

َ ‫س ْلن‬
‫َاك‬ َ ‫ِك َوأ َ ْر‬
َ ‫سيِئ َ ٍة فَ ِم ْن نَ ْفس‬ َ َ ‫َّللا َو َما أ‬
َ ‫صابَ َك ِم ْن‬ ِ َّ ‫سنَ ٍة فَ ِم ْن‬ َ َ ‫َما أ‬
َ ‫صابَ َك ِم ْن َح‬
)79( ً ‫ش ِهيدا‬
َ َّ ِ‫سولً َو َكفَى ب‬
ِ‫اَّلل‬ ِ َّ‫ِللن‬
ُ ‫اس َر‬
Artinya:"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja
bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami
mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah
menjadi saksi”. (An-Nisa’: 79)
Ayat ini menegaskan sisi upaya manusia yang berkaitan dengan sebab dan
akibat. Hukum-hukum alam dan kemasyrakatan cukup banyak dan beraneka
ragam. Dampak baik dan dampak buruk untuk setiap gerak dan tindakan telah
ditetapkan Allah melalaui hukum-hukum tersebut, manusia diberi kemampuan
memilah dan memilih, dan masing-masing akan mendapatkan hasil pilihannya.
Allah sendiri melalui perintah dan larangan-Nya menghendaki, bahkan
menganjurkan kepada manusia agar meraih kebaikan dan nikmat-Nya, karena itu
ditegaskan-Nya bahwa, apa saja nikmat yang engkau peroleh, wahai Muhammad
dan semua manusia, adalah dari Allah, yakni Dia yang mewujudkan anugerah-
Nya, dan apa saja bencana yang menimpamu, engkau wahai Muhammad dan
siapa saja selain kamu, maka bencana itu dari kesalahan dirimu sendiri, karena
Kami mengutusmu tidak lain hanya menjadi Rasul untuk menyampaikan tuntutan-
tuntutan Allah kepada segenap manusia, kapan dan di mana pun mereka berada.
Kami mengutusmu hanya menjadi Rasul, bukan seorang yang dapat
menentukan baik dan buruk sesuatu sehingga bukan karena terjadinya bencana
atau keburukan pada masamu kemudian dijadikan bukti bahwa engkau bukan
Rasul. Kalaulah mereka menduga demikian, biarkan saja. Dan cukuplah Allah
menjadi saksi atas kebenaranmu.

Ayat diatas secara redaksional ditujukan kepada Rasulullah saw., tetapi


kandungannya terutama ditujukan kepada mereka yang menyatakan bahwa
keburukan bersumber dari Nabi atau karenakesialan yang menyertai beliau.
Setiap kebaikan yang diperoleh oleh orang mukmin, sesungguhnya berasal dari
karunia dan kemurahan Allah, di ayat ini ada dua hal yang perlu diketahui :
 Bahwa segala sesuatu yang berasal dari sisi Allah, dalam arti bahwa Dialah
yang menciptakan segala sesuatu dan menggariskan aturan-aturan.

 Manusia terjerumus kedalam keburukan tidak lain disebabkan dia lalai untuk
mengetahui sunnah-sunnah. Sesuatu dikatakan buruk, sebenarnya disebabkan oleh
tindakan manusia itu sendiri.

c. QS. Muhammad : 15

ٌ ‫غي ِْر آ ِس ٍن َوأ َ ْن َه‬


‫ار ِم ْن‬ َ ٍ‫ار ِم ْن َماء‬ ٌ ‫َمثَ ُل ْال َجنَّ ِة الَّتِي ُو ِعدَ ْال ُمتَّقُونَ فِي َها أ َ ْن َه‬
‫س ٍل‬
َ ‫ع‬َ ‫ار ِم ْن‬ ٌ ‫ار ِبينَ َوأَ ْن َه‬
ِ ‫ش‬َّ ‫ار ِم ْن خ َْم ٍر لَذَّةٍ ِلل‬ ٌ ‫ط ْع ُمهُ َوأ َ ْن َه‬
َ ‫لَ َب ٍن لَ ْم َيتَغَي َّْر‬
ِ ‫صفًّى َولَ ُه ْم فِي َها ِم ْن ُك ِل الث َّ َم َرا‬
‫ت َو َم ْغ ِف َرة ٌ ِم ْن َر ِب ِه ْم َك َم ْن ُه َو خَا ِلد ٌ فِي‬ َ ‫ُم‬
)15( ‫ط َع أ َ ْم َعا َء ُه ْم‬ َّ َ‫سقُوا َما ًء َح ِميما ً فَق‬ ِ َّ‫الن‬
ُ ‫ار َو‬
Artinya:" Perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang
yang bertakwSa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah
rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-
sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari
madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-
buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam
jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong
ususnya. (Muhammad: 15)
Ayat di atas menguraikan sekelumit dari ganjaran yang di janjikan kepada
orang-orang bertakwa.Kata ( ‫ ) مثل‬matsal digunakan dalam arti perumpamaan
yang aneh atau menakjubkan. Perlu diingat bahwa matsal bukan berarti
persamaan antara dua hal, ia hanya perumpamaan. Memang ada perbedaan antara
( ‫ ) مثل‬matsal dan ( ‫ ) مثل‬mitsil. Yang kedua ( mitsil ) mengandung makna
persamaan bahkan keserupaan atau kemiripan, sedangkan matsal tekanannya lebih
banyak pada keadaan atau sifat yang menakjubkan yang dilukiskan oleh kalimat
matsal itu. Keadaan surge tidak dapat dipersamakan dengan sesuatu, karena
seperti sabda Nabi saw : “Di sana terdapat apa yang belum pernah dilihat mata,
atau didengar oleh telinga dan terlintas dalam benak manusia.”

Kata ( ‫ ) أنهار‬anhar adalah bentuk jamak dari kata ( ‫ ) نهر‬nahar yaitu aliran
air yang sangat besar yang biasanya bukan buatan manusia tetapi alami. Dalam
kehidupan dunia, kita tidak menemukan sungai yang mengalir darinya susu, madu
atau khamr. Anda dapat memahami kata anhar di sini dalam pengertian metafora
yakni di sama akan ditemukan dengan mudah dan banyak minuman-minuman itu
seperti halnya menemukan dalam kehidupan dunia ini aliran air. Seperti yang di
kemukakan di atas bahwa ini adalah matsal yang bukan berarti sama.10[9]

4. Hikmah hikmah melaksanakan perilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela


 Menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim atau ukhuah islamiyah, sehingga
persaudaraan selalu terpupuk dengan kuat
 Menumbuhkan sikap disiplin dan sikap mental yang kuat dalam kehidupan
bermasyarakat.
 Mendidik jiwa agar biasa dan dapat menguasai diri, sehingga mudah
menjalankan segala kebaikan dan meninggalkan segala larangan
 Sebuah pembuktian ketaatan dan ketakwaan seorang manusia kepada Allah,
sehingga ia semakin dekat dengan sang pencipta.

10[9] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 13 (Jakarta: Lentera hati, 2004), hlm. 132-133
 Terhindar dari penyakit-penyakit lahir dan batin yang berlebihan, karena
penyakit ini sangat berbahaya bagi diri manusia itu sendiri dan orang lain,
sehingga dapat merusak antara habluminallah, habluminannas, dan
habluminalalam
BAB III
PENUTUP

A. kesimpulan
1. Macam-macam akhlak merupakan sifat yang tertanam di diri seseorang.
Meliputi akhlak terpuji, tercela, akhlak kepada Allah, Rasulullah, sesama
manusia, dan lain-lain.
2. Ayat-ayat al-qur'an tentang akhlak mencangkup beberapa surat yang
menjaelaskan tentang berprilaku. Baik atau buruknya sudah tertera pada al-qur’an.
Yang mana semua jika itu dikerjakan ada manpaat dan kerugiannya.
DAFTAR PUSTAKA

Tafsir Ibnu Katsir. Versi Digital

Apriliani D. (2011) Ayat Ayat Al-Qur'an Tentang Akhlak.


(http://dwitaapriliani.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-al-quran-tentang-
akhlak.html)
Diakses tol 05 okt 2013
Shihab, Quraish. 2000. Tafsir Al-Misbah Volume 2. Jakarta: Lentera Hati

Shihab, Quraish. 2000. Tafsir Al-Misbah Volume 3. Jakarta: Lentera Hati

Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah Volume 4. Jakarta: Lentera Hati

https://www.academia.edu/17179945/Akhlak_Tasawuf oleh M. Alfatih SPd.i{di


akses pukul 17:50, hari rabu, 5 April 2017}