Anda di halaman 1dari 25

1.

1 KONSEP DASAR PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (WP OP)


1.1.1 Konsep Dasar PPh Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP)
A. Pengertian WPOP
Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) adalah Orang Pribadi yang menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.
B. Objek Pajak Penghasilan Orang Pribadi
Undang-undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa penghasilan
merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Dalam konteks orang pribadi,
penghasilan dapat berasal kegiatan usaha, pekerjaan bebas ataupun penghasilan-
penghasilan lainnya.
Dalam hal orang pribadi menjalankan kegiatan usaha dan melaksanakan
pembukuan, penghasilan neto dihitung dengan mengurangkan peredaran usaha
dengan harga pokok penjualan dan biaya usaha. Penghasilan neto dari kegiatan usaha
selanjutnya akan dilakukan beberapa penyesuaian fiskal baik positif maupun negatif.
Penyesuaian ini adalah penyesuaian penghasilan neto komersial dalam rangka
menghitung penghasilan kena pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan
beserta peraturan pelaksanaannya, yang dapat bersifat menambah maupun
mengurangi penghasilan kena pajak.
Dalam hal wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
namun peredaran usahanya atau peredaran brutonya kurang dari Rp4,8 miliar setahun
maka Wajib Pajak dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
Selain itu Wajib Pajak yang memiliki pekerjaan bebas seperti dokter, pengacara,
notaris, akuntan, konsultan, penilai, aktuaris dan arsitek juga wajib melaporkan
penghasilan brutonya dan Pajak Penghasilannya.
C. Tarif Pajak Penghasilan
Tarif pajak penghasilan orang pribadi yang berlaku saat ini di Indonesia
adalah sebagai berikut:

Page 1
 Penghasilan kena pajak (PKP) sampai dengan Rp. 50 juta 5%
 Di atas Rp. 50 juta s.d. Rp. 250 juta 15%
 Diatas Rp. 250 juta s.d. Rp. 500 juta 25%
 Diatas Rp. 500 juta 30%
D. Kewajiban Wajib Pajak
Sesuai dengan sistem self assessment, Wajib Pajak mempunyai kewajiban
untuk mendaftarkan diri, melakukan sendiri penghitungan pembayaran dan pelaporan
pajak terutangnya.
Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk
mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Wajib Pajak Orang Pribadi yang
wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP adalah :
a. Orang Pribadi yang menjalakan usaha atau pekerjaan bebas;
b. Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, yang
memperoleh penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib
mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya;
c. Wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah, karena hidup terpisah
berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan
perjanjian pemisahan penghasilan dan harta;
d. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha
berbeda dengan tempat tinggal, selain wajib mendaftarkan diri ke KPP yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri
ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.
e. Untuk memperoleh NPWP, Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor
Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi kedudukan wajib pajak dengan
mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan administrasi. Selain
mendatangi Kantor Pelayanan Pajak, Wajib Pajak Orang Pribadi dapat pula
mendaftarkan diri secara online melalui e-registrationdi website Direktorat
Jenderal Pajak www.pajak.go.id. Selain mendapatkan NPWP, Wajib Pajak dapat
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan kepadanya akan diberikan
Nomor Pengkuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP).

Page 2
1.1.2 Dasar Hukum PPh WPOP
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008 Pasal 25 ayat (7)
b. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan
Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus
Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak
Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak
Masuk Bursa dan Wajib Pajak Lainnya yang berdasarkan Ketentuan Diharuskan
Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 208/PMK.03/2009
c. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan
Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu

1.1.3 Jenis-jenis PPh Wajib Pajak Orang Pribadi


Jenis Wajib Pajak Orang Pribadi Berdasarkan Penghasilan Yang Diterima
Berdasarkan penghasilan yang diterima oleh orang pribadi, maka wajib pajak orang
pribadi dapat dibagi menjadi :
a. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan dari
pekerjaan. Contoh : Pegawai swasta, Pegawai BUMN dan PNS.
b. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan dari Usaha.
Contoh : Pengusaha toko emas, Pengusaha Industri Mie Kering
c. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan dari
Pekerjaan bebas. Contoh : Dokter, Notaris, Akuntan, Konsultan
d. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan lain yang
tidak bersifat final (sehubungan dengan pemodalan). Contoh : Bunga pinjaman,
royalti, sewa (yang bukan usaha pokoknya)

Page 3
e. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan yang bersifat
final. Contoh : Bunga deposito, hadiah undian.
f. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan yang bukan
objek pajak. Contoh : bantuan, sumbangan
g. Wajib pajak orang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan dari luar
negeri. Contoh : bunga, royalti dari luar negeri (PPh Pasal 24)
Wajib pajak orang pribadi yang menerima penghasilan dari berbagai sumber.
Contoh : Pegawai swasta tetapi juga mempunyai usaha rumah makan, PNS tetapi
membuka praktek dokter.

2.1 DASAR HUKUM DAN VARIABEL-VARIABEL PPh WP OP


2.1.1 Perbedaan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Usaha dan yang
Tidak Melakukan Usaha/Pekerjaan Bebas
1. Kewajiban Pajak Bagi Wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha
atau pekerjaan bebas
a) WPOP Karyawan yang hanya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja.
Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas (berstatus sebagai karyawan) dan hanya bekerja pada satu pemberi kerja tidak
memiliki kewajiban untuk membayar pajak sendiri setiap bulan atas penghasilan yang
diterima/ diperoleh seubungan dengan pekerjaan. WP Orang Pribadi ini juga tidak
memiliki kewajiban untuk membuat laporan (Surat Pemberitahuan Masa) ke Kantor
Pelayanan Pajak setiap bulan.
Perusahaan tempat wajib pajak bekerja (pemberi kerja) memiliki kewajiban untuk
memotong pajak atas penghasilan sehubungan pekerjaan yang dibayarkan/terutang
kepada karyawannya setiap bulan dan menyetorkannya ke Kas Negar serta
melaporkannya ke kantor pelayanan pajak setempat. Oleh karena itu gaji yang diterima
oleh wajib pajak orang pribadi yang berstatus sebagai karyawan adalah gaji bersih setelah
dipotong pajak penghasilan. Pajak yang terutang atas Penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan dikenal dengan istilah PPh Pasal 21.

Page 4
Kewajiban yang harus dilakukan oleh WPOP yang berstatus sebagai karyawan
adalah menyampaikan laporan tahunan (menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang
Pribadi) dengan formulir yang telah disediakan. (Form 1770-S). Apabila wajib pajak
orang pribadi ini tidak menerima/memperoleh penghasilan lain selain dari penghasilan
yang diperoleh dari satu pemberi kerja, maka pada saat menyampaikan SPT Tahunan
tidak akan terdapat PPh yang kurang dibayar. SPT Tahunan PPh Orang Pribadi ini paling
lambat harus dilaporkan paling lambat 3 bulan setelah berakhirnya tahun pajak (pada
tanggal 31 Maret tahun berikutnya). Jika Wajib Pajak terlambat menyampaikan SPT
1770-S tersebut maka akan dikenakan sanksi administrasi atas keterlambatan sebesar Rp
100.000,-. Besarnya sanksi keterlambatan penyampaian SPT PPh OP ini dalam RUU
Pajak th 2005 diusulkan menjadi sebesar Rp 250.000,-
Bagi wajib pajak yang tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi
isinya tidak benar, atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak
benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara diancam dengan
sanksi pidana dan denda. Bagi wajib pajak yang tidak menyampaikan SPT atau
menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar karena kealpaannya, diancam dengan sanksi
pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling tinggi 2 (dua) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Sementara bagi wajib pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan surat
pemberitahuan atau menyampaikan surat pemberitahuan dan atau keterangan yang isinya
tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugaian pada pendapatan
negara dipidana dengan pidana penjara paling lama enam (enam) tahun dan denda paling
tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

b) WPOP Karyawan yang memperoleh penghasilan lain yang bukan obyek PPh Final.
Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas (WPOP Karyawan) yang memperoleh penghasilan lain selain dari satu
pemberi kerja, baik karena bekerja pada lebih dari satu pemberi kerja maupun memiliki
penghasilan lain selain dari pekerjaan dan penghasilan lain tsb bukan merupakan obyek
PPh final, maka selain diwajibkan untuk melaporkan SPT Tahunan (SPT 1770-S) juga
memiliki kewajiban untuk membayar dan melaporkan PPh pasal 25 setiap bulan.

Page 5
Besarnya PPh Pasal 25 yang harus dibayar oleh wajib pajak dihitung berdasarkan
PPh yang terutang dalam SPT Tahunan tahun sebelumnya setelah dikurangi dengan
pemotongan yang dilakukan pihak lain yang dapat dikreditkan dan dibagi 12 (dua belas).
Jatuh tempo pembayaran PPh pasal 25 adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Jika
jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari libur, maka pembayaran dapat dilakukan pada
hari kerja berikutnya. Pembayaran Angsuran PPh pasal 25 ini, wajib dilaporkan ke kantor
pelayanan pajak tempat wajib pajak terdaftar paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.
Apabila jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur maka penyampaian SPT Masa PPh
pasal 25 harus dilakukan pada hari kerja sebelumnya.
Apabila wajib pajak terlambat melakukan pembayaran PPh pasal 25, maka akan
dikenakan sanksi bunga sebesar 2%/bulan, maksimum 24 bulan (48%). Sedangkan atas
keterlambatan penyampaian SPT Masa PPh 25 akan dikenakan sanksi sebesar Rp50.000/
SPT Masa. Seperti halnya dengan sanksi keterlambatan penyampaian SPT Tahunan,
dalam RUU Perpajakan th 2005 besarnya sanksi keterlambatan penyampaian SPT masa
diusulkan menjadi sebesar Rp 100.000,-/ SPT Masa.

c) WPOP Karyawan yang memperoleh penghasilan lain yang merupakan obyek PPh
Final.
Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas (WPOP Karyawan) yang memperoleh penghasilan lain selain dari satu
pemberi kerja, dan memiliki penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final, maka
selain diwajibkan untuk melaporkan SPT Tahunan (SPT 1770-S) juga memiliki
kewajiban untuk membayar dan melaporkan PPh final pasal 4 (2).
Jenis penghasilan lain yang merupakan obyek PPh final dan pembayaran PPh-nya
wajib dilakukan sendiri oleh penerima penghasilan (Wajib pajak) adalah sebagai berikut :
- Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan;
WPOP Karyawan yang menerima/memperoleh penghasilan daritransaksi
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan diwajibkan membayar PPh final pasal 4 (2).
Besarnya PPh yang terutang atas transaksi pegalihan hak atas tanah dan/atau bangunan

Page 6
ini adalah sebesar 5% dari nilai yang tertinggi antara nilai pengalihan (nilai transaksi)
dengan nilai NJOP.
- Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan;
Penghasilan yang dierima/diperoleh oleh WPOP karyawan dari kegiatan
persewaan tanah dan atau bangunan juga merupakan obyek PPh final pasal 4 (2). Dalam
hal penyewa adalah bukan pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas penghasilan
dari transaksi persewaan tanah dan atau bangunan wajib dibayar sendiri oleh penerima
penghasilan. Besarnya PPh yang terutang atas transaksi ini adalah sebesar 10% dari
jumlah bruto nilai persewaan. Apabila penyewa adalah pemotong pajak (i.e. WP Badan),
maka pelunasan PPh final atas transaksi ini dilakukan melalui pemotongan oleh pihak
penyewa. Pemotong pajak (penyewa) wajib memberikan bukti pemotongan (Bukti
Potong PPh Final pasal 4 (2)) kepada wajib pajak (penerima penghasilan) . Batas waktu
pembayaran PPh Final PS 4 (2) atas transaksi ini adalah tanggal 15 bulan berikutnya.
Sedangkan batas waktu pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya.
- Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi ;
Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP Karyawan dari kegiatan Jasa
Konstruksi (sebagai usaha sampingan misalnya), Apabila pemakai jasa bukan merupakan
pemotong pajak, maka PPh-nya wajib dibayar sendiri oleh wajib pajak. Namun apabila
pemakai jasa merupakan pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas kegiatan ini
pelunasannya dilakukan melalui pemotongan oleh pemakai jasa. Pemotong pajak
(Pemakai jasa) wajib memberikan bukti potong. Besarnya PPh final pasal 4 (2) yang
terutang atas penghasilan dari kegiatan jasa konstruksi adalah sbb :
a) Jasa Perencanaan Konstruksi ==> 4% (empat persen) dari jumlah bruto;
b) Jasa Pelaksanaan Konstruksi ==> 2% (dua persen) dari jumlah bruto;
c) Jasa Pengawasan Konstruksi ==> 4% (empat persen) dari jumlah bruto.

2. Kewajiban Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan Kegiatan Usaha atau
Pekerjaan Bebas.
Bagi wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan Usaha atau pekerjaan
bebas, setelah terdaftar di kantor pelayanan pajak dan memperoleh NPWP maka akan

Page 7
memiliki kewajiban pajak yang harus dilaksanakan. Wajib Pajak Orang Pribadi yang
melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas selaku pemberi kerja selain diwajibkan untuk
membayar dan melaporkan pajak yang terutang atas penghasilan yang diterima atau
diperolehnya sendiri juga diwajibkan untuk menyetorkan dan melaporkan PPh yang terutang
atas penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada karyawannya.
Dalam hal WPOP yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas telah dikukuhkan
sebagai Pengusaha kena pajak juga memiliki kewajiban dibidang PPN. Bagi Wajib Pajak
Orang Pribadi tertentu yang telah ditunjuk oleh dirjen pajak sebagai pemotong PPh Pasal 23
dan PPh Final pasal 4 (2), juga memiliki kewajiban dibidang PPh 23 dan PPh Final Pasal 4
(2).
Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak Orang Pribadi yang melakukann
kegiatan usaha/pekerjaan bebas setelah memperoleh NPWP adalah sebagai berikut :
1. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa)
Setelah wajib pajak terdaftar di KPP dan memiliki NPWP, maka memiliki
kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa/ bulanan ke kantor
pelayanan pajak tempat wajib pajak terdaftar. Jenis SPT Masa yang harus disampaikan
oleh wajib pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas terdiri
dari :
a. SPT Masa PPh Pasal 25
PPh Pasal 25 merupakan angsuran PPh dalam tahun pajak berjalan yang harus
dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan. Besarnya angsuran PPh Pasal 25
adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu, setelah dikurangi dengan PPh yang
telah dipotong/dipungut oleh pihak lain dan PPh yang terutang/dibayar diluar negeri
yang dapat dikreditkan; dibagi 12 (dua belas)
Bagi wajib pajak yang baru pertama kali memperoleh penghasilan dari usaha
atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak berjalan (Wajib Pajak baru), besarnya
Angsuran PPh Pasal 25 dihitung berdasarkan Pajak Penghasilan yang dihitung
berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan,
dibagi 12 (dua belas).

Page 8
Batas waktu pembayaran PPh pasal 25 adalah setiap tanggal 15 bulan
berikutnya. Apabila tanggal 15 jatuh pada hari libur, maka pembayaran Ph Pasal 25
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Sedangkan batas untuk menyampaikan
SPT Masa PPh Pasal 25 adalah 20 hari setelah berakhirnya masa pajak (tgl 20 bulan
berikutnya). Apabila tanggal 20 jatuh pada hari libur, maka pelaporan harus
dilakukan pada hari kerja sebelumnya. Hari libur meliputi hari libur nasional dan
hari- hari yang ditetapkan sebagai hari cuti bersama oleh pemerintah.
Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 25, juga merupakan SPT Masa PPh Pasal
25. SPT Masa PPh Pasal 25 ini, merupakan salah satu SPT Masa yang wajib
disampaikan oleh wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan
usaha/pekerjaan bebas, meskipun tidak terdapat pembayaran (SPT Nihil). Apabila
Wajib pajak tidak menyampaikan atau terlambat menyampaikan SPT Masa PPh Pasal
25, maka wajib pajak akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000 untuk
satu SPT Masa.
b. SPT Masa PPh Pasal 21/26
PPh pasal 21/26 merupakan PPh yang terutang atas penghasilan berupa gaji,
upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam
bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan
oleh wajib pajak orang pribadi. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 Undang-undang
PPh, PPh Pasal 21 wajib dipotong, disetor dan dilaporkan oleh pemotong pajak,
yaitu : pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan
dan penyelenggara kegiatan.
Wajib pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan
bebas selaku pemberi kerja yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan
dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi;
wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26. Batas waktu penyetoran PPh
Pasal 21/26 adalah tanggal 10 bulan berikutnya, namun apabila tanggal 10 jatuh
pada hari libur maka penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
Sedangkan batas waktu pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/26 adalah 20 hari
setelah berakhirnya masa pajak (tanggal 20 bulan berikutnya), apabila tanggal 20

Page 9
jatuh pada hari libur, maka penyampaian SPT Masa PPh pasal 21/26 harus
dilakukan pada hari kerja sebelumnya.
SPT Masa PPh Pasal 21/26 juga merupakan SPT Masa yang wajib
disampaikan oleh WajibPajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan
usaha/pekerjaan bebas meskipun tidak terdapat penyetoran PPh Pasal 21/26 (SPT
Nihil). Apabila Wajib pajak tidak menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 atau
terlambat menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26, maka akan dikenakan
sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000,- untuk satu SPT Masa. Ketentuan lebih
lanjut tentang Petunjuk pelaksanaan pemotongan, penyetoran dan pelaporan PPh
Pasal 21 dan pasal 26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan orang
pribadi diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak No KEP- 545/PJ./2000 tanggal 29
Desember 2000.
c. SPT Masa PPN
Bagi Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
(PKP) diwajibkan untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak
atas Penjualan Barang Mewah (PPn BM) serta menyampaikan SPT Masa PPN.
Jatuh tempo penyetoran PPN adalah setiap tanggal 15 bulan berikutnya,
sedangkan batas waktu penyampaian SPT Masa PPN adalah 20 hari setelah
berakhirnya masa pajak (tgl 20 bulan berikutnya). Seperti halnya pembayaran PPh
Masa, apabila jatuh tempo penyetoran PPN jatuh pada hari libur, maka
penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Sedangkan untuk
pelaporan, apabila batas waktu pelaporan jatuh pada hari libur maka penyampaian
SPT Masa PPN wajib dilakukan pada hari kerja sebelumnya.
SPT Masa PPN merupakan SPT Masa yang wajib disampaikan oleh Wajib
Pajak yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak, meskipun Nihil.
Apabila Wajib yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak tidak
menyampaikan atau terlambat menyampaikan SPT Masa PPN maka akan
dikenakan sanksi berupa denda sebesar Rp 50.000 untuk satu SPT Masa.

Page
10
Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT PPN) adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak PPN dan
PPn BM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran;
b. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh
Pengusaha Kena Pajak dan atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, yang
ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku; Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah
sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang
dipotong atau dipungut dan disetorkannya.
Ketentuan mengenai PPN diatur dalam Undang-undang no 8 tahun 1983
tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah sebagaimana terakhir telah diubah dengan UU No 18 tahun 2000
beserta peraturan pelaksanaannya.
d. SPT Masa PPh Pasal 23/26
Direktur Jenderal Pajak dapat menunjuk Wajib Pajak orang pribadi dalam
negeri sebagai pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23. Wajib Pajak Orang Pribadi
tertentu tersebut terdiri dari :
1. Akuntan, Arsitek, Dokter, Notaris, Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT)
kecuali PPAT tersebut adalah Camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan
pekerjaan bebas;
2. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan.

Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tertentu tersebut diatas yang telah
ditunjuk Dirjen Pajak, akan mendapatkan surat Penunjukan Sebagai Pemotong
PPh Pasal 23 dari Kantor Pelayanan Pajak tempat WP teraftar. WPOP tertentu
yang telah ditunjuk sebagai pemotong PPh 23, Wajib memotong PPh Pasal 23
atas pembayaran berupa sewa. Apabila terdapat pembayaran/pembebanan biaya
berupa sewa, maka WPOP tertentu yang telah ditunjuk sebagai pemotong PPh 23
oleh Dirjen pajak, diwajibkan untuk memotong, menyetor dan melaporkan PPh 23
yang terutang atas pembayaran sewa tersebut.

Page
11
Sesuai dengan ketentuan pasal 26 undang-undang PPh, atas penghasilan berupa :
a. Deviden;
b. bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan imbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian utang;
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya ; yang diterima atau diperoleh oleh
Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak
sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib
membayarkan. Apabila WPOP yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas
melakukan transaksi dengan wajib pajak luar negeri sehubungan dengan
penghasilan tersebut diatas maka memiliki kewajiban untuk memotong, menyetor
dan melaporkan PPh yang terutang atas penghasilan tersebut (PPh Pasal 26).
Batas waktu penyetoran PPh Pasal 23/26 oleh pemotong PPh adalah
tanggal 10 bulan berikutnya, sedangkan batas waktu penyampaian SPT Masa PPh
pasal 23/26 adalah anggal 20 bulan berikutnya. Apabila tanggal jatuh tempo
penyetoran PPh pasal 23/26 jatuh pada hari libur maka penyetoran dapat
dilakukan pada hari kerja berikutnya. Namun apabila tanggal jatuh tempo
pelaporan jatuh pada hari libur, maka laporan harus disampaikan pada hari kerja
sebelumnya. SPT Masa PPh Pasal 23/26 hanya wajib dilaporkan ke KPP apabila
terdapat pembayaran yang terutang PPh Pasal 23/26. Dengan demikian tidak
terdapat SPT Masa PPh pasal 23/26 Nihil.

e. SPT Masa PPh Final pasal 4 (2)


1) PPh final atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh wajib pajak sendiri
Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang memperoleh penghasilan yang merupakan obyek PPh final,
maka diwajibkan untuk membayar dan melaporkan PPh final pasal 4 (2) yang
tertuang atas penghasilan tersebut. Jenis penghasilan lain yang merupakan obyek

Page
12
PPh final dan pembayaran PPh-nya wajib dilakukan sendiri oleh penerima
penghasilan (Wajib pajak) adalah sebagai berikut :
- Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan;
WPOP yang menerima/memperoleh penghasilan dari transaksi
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan diwajibkan membayar PPh
final pasal 4 (2). Besarnya PPh yang terutang atas transaksi pegalihan hak
atas tanah dan/atau bangunan ini adalah sebesar 5% dari nilai yang
tertinggi antara nilai pengalihan (nilai transaksi) dengan nilai NJOP.
- Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan;
Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP dari kegiatan
persewaan tanah dan atau bangunan juga merupakan obyek PPh final pasal
4 (2). Dalam hal penyewa adalah bukan pemotong pajak, maka PPh yang
terutang atas penghasilan dari transaksi persewaan tanah dan atau
bangunan wajib dibayar sendiri oleh penerima penghasilan. Besarnya PPh
yang terutang atas transaksi ini adalah sebesar 10% dari jumlah bruto nilai
persewaan.
Apabila penyewa adalah pemotong pajak (i.e. WP Badan), maka
pelunasan PPh final atas transaksi ini dilakukan melalui pemotongan oleh
pihak penyewa. Pemotong pajak (penyewa) wajib memberikan bukti
pemotongan (Bukti Potong PPh Final pasal 4 (2) kepada wajib pajak
(penerima penghasilan) . Batas waktu pembayaran PPh Final PS 4 (2) atas
transaksi ini adalah tanggal 15 bulan berikutnya. Sedangkan batas waktu
pelaporan adalah tanggal 20 bulan berikutnya.
- Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi;
Apabila pemakai jasa bukan merupakan pemotong PPh, atas
Penghasilan yang diterima/diperoleh oleh WPOP dari kegiatan Jasa
Konstruksi, PPh yang terutang atas penghasilan tersebut wajib dibayar
sendiri oleh wajib pajak. Namun apabila pemakai jasa merupakan
pemotong pajak, maka PPh yang terutang atas kegiatan ini pelunasannya
dilakukan melalui pemotongan oleh pemakai jasa. Pemotong pajak
(Pemakai jasa) wajib memberikan bukti potong. Besarnya PPh final pasal

Page
13
4 (2) yang terutang atas penghasilan dari kegiatan jasa konstruksi adalah
sbb :
1. 4% (empat persen) dari a) Jasa Perencanaan Konstruksi jumlah
bruto;
2. 2% (dua persen) dari b) Jasa Pelaksanaan Konstruksi jumlah
bruto;
3. 4% (empat persen) dari c) Jasa Pengawasan Konstruksi jumlah
bruto.

2) PPh final atas penghasilan yang terutang/dibayarkan kepada pihak lain.


Dirjen Pajak dapat menunjuk Wajib pajak Orang Pribadi tertentu sebagai
pemotong PPh Final Pasal 4 (2) atas transaksi persewaan Tanah dan atau
bangunan. Wajib Pajak Orang Pribadi tertentu yang dapat ditunjuk sebagai
pemotong PPh atas transaksi persewaan tanah dan atau bangunan oleh DJP
adalah:
• Akuntan, arsitek, dokter, Notaris, Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) kecuali
PPAT tersebut adalah Camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan
pekerjaan bebas yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri,
• Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri.

WPOP tertentu yang telah mendapat surat penunjukan sebagai pemotong


Pajak atas penghasilan dari persewaan tanah dan atau bangunan dari KPP tempat
WP terdaftar memiliki kewajiban untuk memotong, menyetorkan dan melaporkan
PPh final atas penghasilan dari transaksi persewaan tanah dan atau bangunan yang
dibayarkan atau terutang kepada pihak lain. PPh yang terutang atas transaksi
persewaan tanah dan bangunan tersebut, wajib disetorkan paling lambat tanggal
10 bulan berikutnya dan wajib dilaporkan ke kantor pelayanan pajak tempat
Wajib pajak (pemotong) terdaftar paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.
SPT Masa PPh Final hanya wajib dilaporkan oleh wajib pajak apabila terdapat

Page
14
transaksi yang berhubungan dengan obyek PPh final, sehingga tidak ada SPT
Masa PPh Final Nihil.

2. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan)


a. SPT Tahunan PPh Badan (SPT 1770)
Setelah berakhirnya tahun pajak, Wajib pajak diwajibkan untuk menyampaikan
SPT Tahunan (SPT Tahunan PPh Orang Pribadi – SPT 1770). SPT Tahunan paling
lambat disampaikan 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun pajak/tahun buku. Apabila tahun
buku sama dengan tahun takwim maka SPT Tahunan wajib disampaikan paling lambat
tanggal 31 Maret tahun berikutnya.
Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT Tahunan) bagi Wajib Pajak adalah sebagai
sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak
yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
• Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau
melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau
Bagian Tahun Pajak;
• Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak;
• Harta dan kewajiban;
b. SPT Tahunan PPh 21 (SPT 1721)
Selain melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi (SPT 1770), Wajib Pajak
Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas selaku pemotong PPh
pasal 21 juga diwajibkan menyampaikan SPT Tahunan PPh pasal 21. Dalam waktu 2
(dua) bulan setelah tahun takwim berakhir, Pemotong Pajak berkewajiban menghitung
kembali jumlah PPh Pasal 21 yang terutang oleh pegawai tetap dan penerima pensiun
bulanan menurut tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 UU PPh.
Setiap Pemotong Pajak wajib mengisi, menandatangani, dan menyampaikan SPT
Tahunan PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pemotong Pajak terdaftar atau
Kantor Penyuluhan Pajak setempat. Surat Pemberitahuan Tahunan PPh Pasal 21 harus
disampaikan selambat -lambatnya tanggal 31 Maret tahun takwim berikutnya. Batas
waktu pelaporan ini berlaku juga bagi wajib pajak yang tahun bukunya berbeda dengan
tahun takwim.

Page
15
2.1.2 Pengertian Pembukuan dan Norma Perhitungan Penghasilan Neto
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi
untuk periode Tahun Pajak tersebut.
Pencatatan yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan secara teratur tentang
peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak
dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.
a. Yang Wajib Menyelenggarakan Pembukuan
1. Wajib Pajak (WP) Badan;
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas, kecuali Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam satu
tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (Empat milyar delapan ratus juta
rupiah).
b. Yang Wajib Menyelenggarakan Pencatatan
1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari
Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah), dapat
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan
penghasilan neto, dengan syarat memberitahukan ke Direktur Jenderal Pajak
dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan;
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.
c. Syarat-Syarat Penyelenggaraan Pembukuan/Pencatatan
1. Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan
keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.

Page
16
2. Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam
bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
3. Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel
kas.
4. Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah
dapat diselenggarakan oleh WP setelah mendapat izin Menteri Keuangan.
5. Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian
sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang.
d. Syarat-Syarat Penyelenggaraan Pencatatan
1. Pencatatan harus menggambarkan antara lain :
 Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto yang
diterima dan/atau diperoleh;
 Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan
pajaknya bersifat final.
2. Bagi WP yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha,
pencatatan harus menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis
usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.
3. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan, WP orang pribadi
harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.
e. Tujuan Penyelenggaraan Pembukuan/Pencatatan
Tujuannya adalah untuk mempermudah:
1. Pengisian SPT;
2. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak;
3. Penghitungan PPN dan PPnBM;
4. Penyelenggaraan pembukuan juga untuk mengetahui posisi keuangan dan hasil
kegiatan usaha/pekerjaan bebas.
f. Pembukuan Dalam Bahasa Asing Dan Mata Uang Selain Rupiah

Page
17
Wajib Pajak yang diperkenankan menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah yaitu bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat adalah :
1. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yaitu Wajib Pajak
yang beroperasi berdasarkan ketentuan Peraturan perundang-undangan
Penanaman Modal Asing;
2. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya, yaitu Wajib Pajak yang
beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah RI sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan peraturan Perundang-undangan Pertambangan
selain pertambangan minyak dan gas bumi;
3. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Kerja Sama yang beroperasi
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan
minyak dan gas bumi;
4. Bentuk Usaha Tetap, yaitu bentuk usaha sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Pajak Penghasilan atau menurut
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang terkait;
5. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun
seluruhnya di bursa efek luar negeri;
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan Reksadana dalam
denominasi mata uang Dollar Amerikat Serikat dan telah memperoleh
Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan
Pengawasa Pasar Modal-Lembaga Keuangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan pasar modal;
7. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar
negeri, yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan
atau dikuasai oleh perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang
mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (4) huruf a dan b Undang- Undang Pajak Penghasilan.
g. Tata Cara Pengajuan Penyelenggaraan Pembukuan Dalam Bahasa Asing Dan
Mata Uang Selain Rupiah

Page
18
Penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat oleh WP harus terlebih dahulu
mendapat izin tertulis dari Menteri Keuangan, kecuali WP dalam rangka Kontrak
Karya atau WP dalam rangka Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
Izin tertulis dapat diperoleh WP dengan mengajukan surat permohonan
kepada Kepala Kantor Wilayah, paling lambat 3 (tiga) bulan :
1. Sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satauan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai;
2. Sejak tanggal pendirian bagi WP baru untuk Bagian Tahun Pajak atau
Tahun Pajak pertama.

Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan


keputusan atas permohonan tersebut paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan
dari WP diterima secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan
Kepala Kantor Wilayah belum memberikan keputusan maka permohonan WP
tersebut dianggap diterima dan Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri
Keuangan menerbitkan keputusan pemberian izin untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uangan Dollar
Amerika Serikat.
WP dalam rangka Kontrak Karya atau WP Kontraktor Kontrak Kerja
Sama yang sejak pendiriannya maupun yang akan menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat, wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan
Pajak tempat WP terdaftar paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian
(bagi WP yang sudah menyelenggarakan sejak pendiriannya) atau 3 (tiga) bulan
sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris
dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai (bagi WP yang
belum menyelenggarakan sejak pendiriannya).
WP yang telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat namun merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin tersebut wajib

Page
19
menyampaikan pemberitahuan pembatalan secara tertulis ke KPP dalam hal
Tahun Pajak sebagaimana tercantum dalam surat izin belum dimulai dan
pemberitahuan tersebut harus sudah diterima oleh KPP sebelum Tahun Pajak
tersebut dimulai.
Apabila penyelenggaraan pembukuan tersebut sudah dimulai, maka wajib
mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis ke KPP paling lama 3 (tiga)
bulan setelah tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai. Bagi WP
Kontrak Karya atau WP Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang telah
memberitahukan ke KPP untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat,
namun WP tersebut akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Indonesia dan satuan mata Rupiah, wajib mengajukan permohonan kepada
Kepala Kantor Wilayah paling lama 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang
diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata uang
Rupiah tersebut dimulai.
Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan
keputusan atas permohonan pembatalan penyelenggaraan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dalam
jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari WP diterima
secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Kepala Kantor
Wilayah belum memberikan keputusan, maka permohonan dianggap diterima.
WP yang mengajukan permohonan tersebut tidak diperbolehkan lagi
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan
mata uang Dollar Amerika Serikat dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak izin
tersebut dicabut.
h. Tempat Penyimpanan Buku/Catatan/Dokumen
Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan
yang dikelola secara elektronik atau secara program on-line wajib disimpan
selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat

Page
20
tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan.
Perubahan Tahun Buku Dan Metode Pembukuan Perubahan terhadap metode
pembukuan dan atau tahun buku, harus mendapat persetujuan dari Direktur
Jenderal Pajak.

3.1 TATA CARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PPh WP OP

3.1.1 Pengertian Laporan Keuangan dan Koreksi Fiskal


Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun sesuai
peraturan perpajakan dan digunakan untuk keperluan penghitungan pajak.
Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh Wajib Pajak karena terdapat perbedaan
penghitungan, khususnya laba menurut akuntansi (komersial) dengan laba
menurut perpajakan (fiskal). Laporan keuangan komersial atau bisnis ditujukan
untuk menilai hasil usaha (Income statement) dan keadaan keuangan (Balance
Sheet) dari satu entitas, sedangkan laporan keuangan fiskal ditujukan untuk
menghitung penghasilan kena pajak dan beban pajak yang harus dibayar ke
Negara. Laporan keuangan komersil berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) atau standar lain,
sedangkan untuk kepentingan fiskal, laporan keuangan disusun berdasarkan
Undang-undang dan Peraturan Perpajakan lain. Perbedaan penggunaan standar
atau prinsip dasar dalam penyusunan Laporan Keuangan – terutama laporan rugi
laba- , mengakibatkan perbedaan perhitungan laba rugi suatu entitas (Wajib
Pajak) antara laba rugi komersil dan laba rugi fiskal, yang akan berakibat adanya
perbedaan perbedaan beban pajak komersial dan beban pajak seharusnya dibayar
ke Negara.
Pendekatan penyusunan laporan keuangan fiscal sebagai solusi antara
ketentuan akuntansi dan pajak yaitu :
1) Ketentuan pajak secara dominan mewarnai praktek akuntansi, Dalam
pendekatan ini laporan keuangan fiscal murni disusun atas dasar perpajakan.
Dengan demikian dalam melakukan pembukuan perusahaan menyusun laporan
harus menurut ketentuan perpajakan dan menurut praktek pembukuan.

Page
21
2) Ketentuan pajakuntuk tujuan penyusunan laporan keuangan merupakan standar
indepensi dari prinsip akuntansi, dalam pendekatan ini perusahaan bebas untuk
menyelenggarakan pembukuan berdasarkan prinsif dan metode akuntansi.
3) Ketentuan pajak merupakan sisipan terhadap standar akuntansi, pendekatan ini
laporan keuangan atas dasar standar akuntansi. Tetapi preferensi di berikan
kepada ketentuan pajak apabila tidak sesuai dan sejalan dengan standar
akuntansi.

3.1.2 Kredit Pajak dan Variabel-variabel dalam Perhitungan PPh Orang Pribadi
Pengertian kredit pajak adalah memperhitungkan pajak penghasilan yang telah
dibayar atau dipungut di muka dengan jumlah pajak yang terutang pada akhir tahun
pajak. Sebagaimana telah diketahui, bahwa wajib pajak dalam negeri dikenakan pajak
pada saat penghasilan diperoleh atau diterima dan bersifat tidak final (dapat sebagai
kredit pajak), terkait dengan PPh pasal 21, PPh pasal 22 dan PPh pasal 23.
Sedangkan segala bentuk penghasilan yang sudah dikenakan pajak yang bersifat
final, tidak boleh diperlakukan sebagai kredit pajak. Demikian pula untuk pajak
penghasilan yang dipungut atau dibayar di luar negeri oleh wajib pajak dalam negeri.
Pajak penghasilan yang telah dipungut di luar negeri dapat dikurangkan dengan pajak
penghasilan yang terhutang di Indonesia, bila telah ada perjanjian kerjasama timbal balik
(tax treaty) di bidang perpajakan antara Indonesia dengan Negara lain. Bila belum ada
perjanjian pajak, maka wajib pajak tidak dapat melakukan kredit pajak. Perhitungan
besarnya pajak yang dapat dikreditkan terhadap pajak terutang atas seluruh penghasilan
yang telah dipungut di luar negeri diatur dalam pasal 24.

DASAR HUKUM
1. UU No. 6/1983 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 18/2009 (UU KUP).
2. UU No. 7/1983 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 36/2008 (UU PPh).
3. Keputusan Menteri Keuangan No.164/KMK.03/2002 tentang Kredit Pajak Luar Negeri

Perlakuan Dalam Praktek Berdasarkan pasal 24 ayat 1 dan ayat 2 UU PPh


dinyatakan bahwa:

Page
22
a. Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang
diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang
terutang berdasarkan Undang-undang ini dalam tahun pajak yang sama.
b. Besarnya kredit pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sebesar pajak
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi
penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang ini.
Agar dapat melakukan kredit pajak dengan baik, ada baiknya kita perlu
memperhatikan dasar pengakuan penghasilan. Dari dua ayat tadi kita dapat peroleh
pengertian bahwa:
1. Penghasilan yang “diterima” mengindikasikan bahwa penghasilan diakui pada saat
dibayar (cash basis), sedangkan penghasilan “diperoleh” menunjukkan penghasilan
diakui pada saat terjadinya walaupun uang belum diterima (accrual basis). Pajak
penghasilan di luar negeri ini bisa jadi telah dibayar (cash basis) atau belum dibayar atau
terutang (accrual basis) oleh wajib pajak
2. Pajak yang telah dibayar atau terutang di luar negeri dapat digunakan sebagai
pengurang (kredit pajak) pajak yang terutang atas seluruh penghasilan pada tahun pajak
yang sama
3. Batas kredit ditentukan menurut undang-undang
4. Besarnya kredit pajak tidak boleh melebihi jumlah batas kredit pajak

Penggabungan Penghasilan
Wajib pajak menggabungkan (menjumlahkan) penghasilan yang diterima atau
diperoleh di luar negeri dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh didalam negeri,
guna menentukan jumlah pajak penghasilan yang terutang pada tahun pajak berdasarkan
tarif normal (pasal 17). Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri
dilakukan dengan ketentuan berikut :
a. Untuk penghasilan dari usaha dilakukan penggabungan dengan penghasilan dalam
tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut
b. Untuk penghasilan lainnya dilakukan penggabungan dengan penghasilan dalam tahun
pajak diterimanya penghasilan tersebut

Page
23
c. Untuk penghasilan berupa dividen, dilakukan penggabungan dengan penghasilan
dalam tahun pajak pada saat perolehan dividen tersebut ditetapkan sesuai dengan
Keputusan Menteri Keuangan.
Indonesia menganut kredit pajak dengan metode ordinary credit. Kredit pajak luar
negeri lebih lanjut diatur berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.
164/KMK.03/2002. Pajak penghasilan luar negeri yang dapat dikreditkan hanyalah pajak
yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak.
Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan ternyata kemudian
dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak yang terutang menurut UU ini harus
ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengurangan atau pengembalian itu
dilakukan.Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa Negara, maka
pengitungan kredit pajak dilakukan untuk masing-masing Negara. Kredit pajak dihitung
dengan perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap Penghasilan kena pajak
dikalikan dengan pajak yang terutang atas Penghasilan kena pajak, paling tinggi sama
dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena pajak dalam hal Penghasilan kena
pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.

JENIS-JENIS KREDIT PAJAK yaitu :


1. Kredit Pajak PPh Pasal 22.
2. Kredit Pajak PPh Pasal 23.
3. Kredit Pajak PPh Pasal 24.
4. Kredit Pajak PPh Pasal 25.
5. Pajak Dibayar Dimuka Lainnya

Page
24
Daftar Pustaka
http://naolivia.blogspot.com/2013/04/pajak-penghasilan-wajib-pajak-orang.html
http://pajakpasuruan.wordpress.com/2012/09/26/wajib-pajak-orang-pribadi-pengusaha-
tertentu/
http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-pembukuan-dan-pencatatan-bagi-wajib-pajak
http://nenengsalbiah.blogspot.com/2012/11/laporan-keuangan-fiskal.html
http://www.wibowopajak.com/2012/03/jenis-wajib-pajak-orang-pribadi.html
http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-pembukuan-dan-pencatatan-bagi-wajib-pajak
http://www.pembayarpajak.com/index.php/encyclopedia/52-kredit-pajak-pph

Page
25