Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

MIKROBIOLOGI DASAR

PEMBAGIAN MIKROORGANISME

DOSEN PENGAMPU :

IKA GUSRIANI ,S.TP.,M.P,

DISUSUN OLEH :

KIKI FATKHU ROZIQIN

J1A117085

THP R4

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2018
1.1 Ketahanan terhadap O2

Eschericia coli merupakan bakteri dari kelompok koliform. Bakteri dari jenis tersebut
selalu terdapat di dalam kotoran manusia, sedangkan bakteri patogen (penyebab penyakit) tidak
selalu ditemukan. Mikroorganisme dari kelompok koliform secara keseluruhan tidak umum
hidup atau terdapat di dalam air, sehingga keberadaannya dalam air dapat dianggap sebagai
petunjuk terjadinya pencemaran kotoran dalam arti luas, baik kotoran hewan maupun manusia.
Bakteri kelompok koliform meliputi semua bakteri berbentuk batang pendek, gram negatif, tidak
membentuk spora dan dapat memfermentasi laktosa dengan memproduksi gas dan asam pada
suhu 37 derajat celcius dalam waktu kurang dari 48 jam. Adapun bakteri Eschericia coli selain
memiliki karakteristik seperti bakteri koliform pada umumnya, juga dapat menghasilkan
senyawa indole di dalam air pepton yang mengandung asam amino triptofan, serta tidak dapat
menggunakan natrium sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. (Purwoko, 2007).
Bacillus adalah bakteri gram positif, membentuk endospora, dan berbentuk batang.
Terdapat lebih dari 70 spesies, yang dapat diamati morfologi dan diversitas fisiologinya. Hanya
dua jenis yakni B. Anthracis dan B. Cereus yang diketahui bersifat patogen. Habitat B. Subtilis
adalah pada tanah, namun juga ditemukan pada air tawar, daerah perairan di pesisir pantai, dan
samudra. Alasan banyak ditemukannya bakteri tersebut adalah karena pembentukan endospora,
yang mengijinkan pertahanan hidup, walaupun lingkungan yang ditempati sangatlah ekstrim.
Bacillus subtilis juga dapat ditemukan pada tumbuhan, hewan dan kotoran hewan. Bacillus
subtilis memproduksi enzim dan antibiotik dalam respons untuk pembatasan nutrisi. Enzim yang
dihasilkan yaitu protease, amilase, selulase dan lipase. Produksi enzim sangat maksimal saat sel
berada pada fase stasioner pada masa pertumbuhan. Produksi enzim tersebut diduga sebagai
strategi pertahanan hidup untuk mencari sumber energi makromolekuler saat nutrisi mulai
berkurang. Sebagian besar enzim digunakan secara luas dalam pembuatan makanan, masakan,
dan industri detergen biologis. Enzim yang memiliki manfaat bagi manusia seperti
“termostability”, mengaktifkan jangkauan pH, aktivitas pada detergen dan mengoksidasi
lingkungan, dapat diidentifikasi oleh Bacillus subtilis. Peranan B. Subtilis pada industri enzim
adalah dapat merefraktor analisis genetik dan itulah alasan B. Subtilis dipilih untuk dipelajari
mekanisme produksi enzimnya. Selain itu, kode genetik yang heterogen dengan materi yang
dapat diklon-kan ke dalam B. Subtilis yang dapat menghasilkan manipulasi untuk gandum
berkualitas tinggi (Stainer, 2010).
1.2 Ketahanan terhadap garam tinggi

Namun pada penelitian ini dipilih bakteri halofilik yang digunakan untuk pengolahan air
limbah sisa rebusan pemindangan ikan karena bakteri ini tahan terhadap garam tinggi sehingga
dapat mendegradasi bahan bahan organik yang ada pada limbah, dengan demikian diharapkan
BOD, COD (nilai permanganat) dapat turun beban cemarannya. Pendekatan secara bioteknologi
dengan menggunakan bakteri merupakan alternatif yang dapat dilakukan, sebab secara teknis
dan ekonomis sangat menguntungkan (Malik,2004)
Bakteri halofilik memiliki daya resistensi dan toleransi terhadap zat pencemar yang ada
disekitarnya. Mikroorganisme halofilik tergolong arkaea (biasa dinamakan halofilik arkaea atau
haloarkaea), termasuk famili Halobacteriacea. Perbedaan mikroba halotoleran dengan halofilik
adalah kemampuan hidup pada rentang konsentrasi garam 0 – 20% NaCl dan dapat hidup tanpa
garam. Sedangkan mikroba halofilik ekstrem hanya dapat hidup pada rentang konsentrasi garam
sempit (misal halofilik jenis sedang hanya dapat hidup pada rentang 5 –10% NaCl) dan tidak
dapat hidup tanpa garam. Pengelompokan mikroba halotoleran dibedakan berdasarkan
toleransinya terhadap konsentrasi garam yaitu halotoleran rendah (sekitar 1% w/v NaCl), sedang
(6 – 18% NaCl) dan tinggi/ekstrem (18 –30% (jenuh) NaCl) (Larsen, 1986).

Saat ini para peneliti juga melihat potensi sangat besar dari bakteri halofilik moderat dan
halotoleran dalam aplikasinya sebagai pendegradasi polutan organik. Penelitian yang dilakukan
oleh Gauthier dkk. (1992) berhasil membuktikan kemampuan bakteri halofilik moderat
Marinobacter hydrocarbonoclasticus dalam mendegradasi beberapa senyawa hidrokarbon
alifatik dan aromatik.Perbedaan kemampuan hidup pada lingkungan kadar garam yang berbeda
antara hidrofilik ekstrem, moderat dan halotoleran menunjukkan adanya cara beradaptasi yang
berbeda pula. Bakteri holofilik moderat dan halotoleran memiliki kemampuan hidup untuk
menyeimbangkan tekanan osmotik agar terhindar dari pengaruh denaturasi oleh garam
lingkungan yaitu dengan cara mengakumulasi garam dan osmolit (molekul organik) di dalam
sitoplasmanya. Sedangkan arkaea dan bakteri hidrofilik ekstrem beradaptasi hanya melalui
akumulasi konsentrasi garam tinggi (terutama KCI) dalam sitoplasmanya (Oren, 2003).

Menurut Oren dan Valera, 2001 ada dua jenis mikroorganisme yang menyebabkan warna
merah tersebut Arkaea halofilik famili Halobacteriaceae dan Dunaliella salina, hal ini
dikarenakan mikroorganisme tersebut mengandung karotenoid. Pigmen utama pada
Halobacteriaceae adalah C-50 karotenoid, terutama K- bacterioruberin dan turunannya.
1.3 Ketahanan terhadap gula tinggi

Glukosa adalah monosakarida yang berperan sebagai sumber karbon pada media
pertumbuhan mikrobia, yang juga merupakan salah satu produk pertanian yang murah dan
mudah ditemukan serta memiliki kandungan gula yang stabil sebagai sumber karbon bagi
bakteria (Zahroh et al. 2011). Para ahli ekologi mikroba telah mengidentifikasi berbagai
jenis mikroba yang berupa konsorsium bakteri dan yeast. Pertumbuhan bakteri maupun
golongan jamur sangat dipengaruhi oleh adanya sumber karbon yang cukup, suhu yang
optimal, dan kondisi pH yang cocok serta kondisi lain yang mendukung (Frank, 1999 cit
Nainggolan, 2009). Sumber karbon yang berperan sebagai nutrisi diperlukan untuk
kelangsungan hidup bakteri. Jika nutrisi melimpah, viabilitas meningkat (Nainggolan,
2009).
2
Leepel et al. (2009) mengungkapkan bahwa semakin tinggi konsentrasi glukosa
yang ditambahkan pada media Saboroud maka semakin meningkat pula pertumbuhan
koloni Candida albicans baik pada isolat klinik maupun strain ATCC 10231. Penelitian
lain menyatakan bahwa glukosa tidak sebagai sumber nutrisi tetapi sebaliknya, justru
mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Mahae et al. (2011) meneliti bahwa kompleks
glukosa 5%-kitosan memiliki penghambatan bakteri terhadap Staphylococcus aureus
setelah inkubasi selama 24 jam. Childree (2011) menyatakan efektivitas pengobatan
tuberkulosis dan beberapa infeksi lain meningkat ketika pengobatan antibiotik dengan
menggunakan glukosa dan merupakan langkah yang mudah untuk pengobatan infeksi
bakterial yang kronis. Sebanyak 120 kasus pasien telah dilaporkan dengan luka yang
terinfeksi dan lesi superfisial lainnya yang diobati menggunakan gula (kandungan utama
glukosa), memiliki tingkat penyembuhan sebesar 99,2% (Chirife et al.,1983 cit Herszage
et al.,1980).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka perlu dilakukan uji aktivitas antibakteri
glukosa terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri. Glukosa murni akan diuji aktivitas
antibakteri terhadap golongan bakteri Gram positif dan Gram negatif yaitu S. aureus, B.
subtilis, P. aeruginosa dan E. coli. S. aureus merupakan golongan bakteri Gram positif
yang bisa menyebabkan infeksi piogenik (menghasilkan pus) yang sering terjadi pada
manusia. B. subtilis adalah bakteri non patogen yang merupakan Gram positif dapat
menyebabkan penyakit bakteremia, septikaemia dan endokardis (Samiullah & Bano,
2011) . Bakteri E. coli merupakan bakteri Gram negatif yang menyebabkan infeksi pada
traktus urinarius dan gangguan pencernaan seperti diare, sedangkan P. aeruginosa
merupakan bakteri Gram negatif dan termasuk golongan bakteri patogen (Rahmaningsih
et al., 2012) penyebab penyakit infeksi saluran kemih, meningitis, diare, nekrosis
entrokolitis dan pneumonia (Foca et al., 2000).

2.1 Menghasilkan asam asetat

Pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum meningkat, kondisi substrat (medium


fermentasi) sudah cocok bagi pertumbuhan sel-sel bakteri Acetobacter xylinum, karena
dihasilkannya metabolit oleh aktivitas sel-sel khamir yang mengubah sukrosa dengan bantuan
enzim invertase menjadi glukosa dan fruktosa. Senyawa ini merupakan prekusor bagi
pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum(Sutherland, 1972).

Pola pertumbuhan ketiga mikroorganisme tersebut secara umum menunjukkan adanya


hubungan atau simbiosis, terutama dalam hal penyediaan nutrisi dan kondisi substrat bagi
masing-masing mikroorganisme. Sel -sel khamir menghasilkan alkohol dan beberapa asam
organik sebagai substrat dan prekusor bagi aktivitas sel-sel bakteri. Terbentuknya lapisan “nata”
di permukaan cairan yang dihasilkan oleh aktivitas bakteri Acetobacter xylinum menciptakan
kondisi anaerob bagi pertumbuhan sel-sel khamir dalam memfermentasi glukosa menjadi
alkohol. Selanjutnya alkohol dijadikan substrat bagi aktivitas Acetobacter xylinum untuk
menghasikan asam asetat(Sutherland, 1972).

Mikroorganisme menghasilkan enzim yang sebanding dengan jumlah substrat (sukrosa),


sehingga laju pembentukan asam asetat tinggi. Penambahan kadar sukrosa 5% menyebabkan
nutrisi atau substrat yang tersedia dalam medium tidak mencukupi untuk aktivitas metabolisme
sel-sel mikroorganisme, sehingga laju pembentukan asam asetat lebih rendah dari kadar sukrosa
awal 10% dan 15% , sedangkan dengan penambahan kadar sukrosa 15% menyebabkan
konsentrasi substrat dalam medium berlebih, sehingga diawal produksi asam asetat meningkat
dan menyebabkan penghambatan balik terhadap proses enzimatis sehingga dengan jumlah enzim
yang dihasilkan produksi asam asetat terhambat(Fadiaz, 1987; Salle et al, 1954).

Adapun penelitian yang dilakukan ialah mengenai fermentasi sampah buah Nanas
menggunakan sistem kontinu dengan bantuan mikroorganisme berupa bakteri Acetobacter
xylinum untuk menghasilkan lembaran selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif
bahan baku kertas. Pada sistem kontinu ini terdapat proses penambahan substrat dan
pengambilan substrat. Proses penambahan dan pengambilan substrat dilakukan ketika
kondisi bakteri dalam reaktor telah mencapai keadaan steady state dimana produk yang
dihasilkan akan dikeluarkan melalui kran pada reaktor sehingga pada sistem ini diharapkan
dapat mempercepat proses pembentukan selulosa dengan menggunakan kecepatan aliran
substrat (Vc) dan waktu detensi (td) yang telah ditentukan dalam proses fermentasi sehingga
hasil produk yang dikeluarkan dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku kertas serta
dapat membantu mengurangi jumlah timbulan sampah organik dengan cara memanfaatkan
sampah buah Nanas tersebut. Adapun beberapa indikator yang dapat dijadikan sebagai
acuan telah tercapainya tujuan dari penelitian ini ialah dengan melihat ketebalan selulosa
dan karakteristik permukaan lapisan selulosa yang terbentuk, apabila karakteristik lapisan
selulosa yang dihasilkan semakin rapat maka diduga bahwa sampel tersebut memiliki
kandungan serat yang tinggi yang dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku kertas yang
diharapkan(Cappuccino, 1983).

3
3.1 Menghasilkan asam laktat

Bakteri asam laktat yang dominan pada burongisda ialah Leuconostoc mesenteroides,
Pediococcus cereviciae, dan Lactobacillus plantarum (Olympia 1992). Mikroflora yang
mendominasi pada produk plaa-som adalah Pediococcus pentosaceus, Lactabacillus
alimentarius/farciminis, Weisella confusa, L. plantarum dan Lactococcus garviae (Paludan-
Muller et al. 2002) serta Lactobacillus spp., Pediococcus spp., Aerococcus spp., Cornobacterium
spp. dan Enterococcus spp (Kopersumb et al. 2006). Bakteri yang diisolasi dari bahan baku dan
selama fermentasi pada produk som-fak adalah Lactococcus lactis subsp.lactis, Leuconostoc
citreum, Lactobacillus paracasei subsp. Paracasei, W. confusa, L. plantarum, L. pentosus dan
Pediococcus pentosaceus (Paludan-Muller et al. 1999).

Bakteri probiotik atau bakteri baik adalah bakteri asam laktat yang hidup di dalam usus,
bersimbiosis dengan mikroflora usus yang mampu melawan bakteri patogen di dalam usus, oleh
karena itu pemberian probiotik dapat berpengaruh menguntungkan bagi kesehatan. Sebagian
besar jenis bakteri pada probiotik berasal dari Lactobacillus atau Bifidobacterium. Dua golongan
bakteri ini mampu memperpanjang massa simpan produk dan secara alami melindungi usus
manusia (Saxelin, 1997). Bakteri ini sering dimanfaatkan untuk industri makanan seperti
yoghurt, keju, acar, bir, anggur (minuman), cuka, kimchi, cokelat dan makanan fermentasi
lainnya (Khedid et al., 2006).

Probiotik dapat digolongkan menjadi dua yakni golongan bkteri dan golongan cendawan.
Menurut Mujiasih (2001), mikrorganisme yang sering digunakan sebagai probiotik dari kedua
kelompok ini adalah Aspergilus niger, A.oryzae, Bacillus coaulans, B.lentis, B.pumilus, B.brevis,
B.alvei, B.circulans, Bifidobacterium adolescentis, B.animalis, B.bifidum, B.infantis, B.longum,
B.thermopilus, Bacteroides amylophilus, B.ruminicola, Lactobacillus acidophilus, L.brevis,
Streptococcus oremoris, S.faecium, S.lactis, S.thermophilus, Leiconostoc mesenteroides,
Pediococcus acidolacticii, Propionibacterium shemani dan Saccharomycescerevisiae.

Tidak semua bakteri baik dapat dijadikan sebagai probiotik, salah satu bakteri yang
berperan sebagai probiotik adalah BAL. Pada mulanya, bakteri asam laktat terdiri dari 4 genus
yaitu Lactobacillus, Leuconostoc, Pediococcus dan Streptococcus. Namun demikian, beberapa
genus baru masuk kedalam kelompok BAL menurut revisi taksonomik terakhir. Genus
Streptococcus mencakup Enterococcus, Lactococcus, Streptococcus dan Vagococcus (Trisna,
2012).

Bakteri homofermentatif, yaitu glukosa difermentasi menghasilkan asam laktat sebagai


satu-satunya produk. Bakteri dalam kelompok ini akan mengubah heksosa menjadi asam laktat
dalam jalur Embden-Meyerhof (EM) dan tidak dapat memfermentasikan pentosa atau glukonat,
asam laktat menjadi satu-satunya produk. Contoh: Streptococcus, Pediococcus, dan beberapa
Lactobacillus .Bakteri heterofermentati, yaitu glukosa difermentasikan selain menhasilkan asam
laktat juga memproduksi senyawa-senyawa lainnya yaitu etanol, asam asetat dan CO2. Heksosa
difermentasikan menjadi asam laktat, karbon dioksida, dan etanol (atau asam asetat sebagai
akseptor elektron alternatif). Pentosa lalu diubah menjadi laktat dan asam asetat. Contoh:
Leuconostoc dan beberapa spesie Lactobacillus (Kusuma, 2009).

3.2 Menghasilkan asam propionat

Asam propionat berasal dari fermentasi gula (sumber karbon) menggunakan bakteri
Propionibacterium freudenreichii, melalui metode fermentasi fed-batch (Chen et al., 2012).
Propionibacterium adalah bakteri gram positif, bakteri anaerob fakultatif, yang sering digunakan
dalam pembuatan keju swiss dan produksi vitamin B12. Sumber karbon yang digunakan sebagai
sumber energi untuk bakteri propionat hidup lebih baik menggunakan gliserol dibandingkan
dengan glukosa, karena propionat yang dihasilkan lebih banyak. Namun, kombinasi fermentasi
antara glukosa dan gliserol labih menguntungkan dibandingkan hanya menggunakan gliserol saja
(Wang and Shang-Tian, 2013).

Asam propionat sebagai bahan pengawet merupakan hasil dari sintesis kimia. Ada dua
cara yang digunakan untuk meghasilkan asam propionat, yang pertama menggunakan etilen,
karbon monooksida dan air, dan menggunakan propionaldehid yang dioksidasi, keduanya
menggunakan proses distilasi (EFSA Asam propionat tergolong pengawet asam. Cara kerja
pengawet ini yaitu menurunkan pH makanan sehingga sampai pada pH dimana tidak ada
mikroba yang dapat hidup untuk mencemari atau merusak produk makanan. Penggunaan asam
propionat dalam produksi adonan pastry (salah satu produk bakery) dapat dikombinasikan
menggunankan film chitosan. Chitosan merupakan zat yang didapat dari proses deasetilasi zazt
kitin yang terdapat pada bagian eksoskeleton crustaceae, seperti udang dan kepiting. Sebuah
penelitian dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan menggunakan film aktif chitosan yang
dirancang untuk mengontrol pelepasan agen antimikroba. Dalam penelitian ini, kegunaan asam
propionat baik sebagai media untuk disolusi chitosan dan agen antimikroba diperiksa. Penelitian
ini fokus pada mempelajari potensi aplikasi film aktif chitosan yang dikembangkan untuk
mengawetkan produk adonan pastry, dan mengevaluasi efektivitas agen aktif dengan
memperpanjang masa simpan produk. Keuntungan dari sistem chiitosan aktif adalah kapasitas
dapat mengontrol pelepasan antimikroba dari permukaan adonan pastry dan kemampuannya
menjadi pembawa efektif asam propionat (Rivero et al., 2013), 2011).

DAFTAR PUSTAKA
Cappuccino, JG and Sherman, N. 1983. Microbiology a Laboratory Manual.Canada:
Addison Wesley Publishing Company.
Childree, L., 2011, Antibiotics Made More Effective By Glucose,
http://www.helium.com/items/2156162-sugar-in-antibiotics (diakses tanggal
30 Desember 2018).
Chirife, J., Herszage, L., Joseph, A, & Kohn, E. S., 1983, In Vitro Study of
Bacterial Growth Inhibition in Concentrated Sugar Solutions:
Microbiological Basis for the Use of Sugar in Treating Infected
Wounds, Journal Antimicrobial Agent and Chemotherapy, 766-773.
Fardiaz, S., 1987. Fisiologi Fermentasi, PAU IPB, Bogor, hal. 11-16, 94-99.
Foca, M. M. D., Jakob, K. R. N. B. S. N., Whitier, S., Latta, P. D., Factor, S.
M.D., M. P. H., Rubenstein, D. M. D., et al, 2000, Endemic
Pseudomonas aeruginosa Infection in A Neonatal Intensive Care Unit,
The New England Journal of Medicine, 343 (10).
Khedid. K dan Faid, M. 2006. Characterization of Lactic Acid Bacteria
Isolated from the One Humped Camel Milk Produced in Morocco.
Microbiology Reseach. Vol. 164: 81-91.
Leepel, L.A., Hidayat, R., Puspitawati, R. & Bahtian, B.M., 2009, Efek
Penambahan Glukosa Saburoud Dextrose Broth terhadap
Pertumbuhan Candida albicans (Uji In Vitro), Indonesia Journal of
Dentistry, 16, 58-63.

Larsen, H. 1986. Halophilic and halotolerant Microorganism on overview


and historical Prespective. TEMS. Microbilogy Letters. Vol 39 Issue
1-2 page 3-7 july 1986
(http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1574-
6968.1986.tb01835.x/abstract).

Mujiasih. 2001. Performan ayam broiler yang diberi antibiotik zincbacitracin,


probiotic Bacillus sp. dan berbagai level Saccharomyces cerevisiae
dalam ransumnya (Skripsi). Fakultas peternakan-Institut Pertanian
Bogor.

Mahae, N., Chalat, C. & Muhamud, P., 2011, Antioxidant And Antimicrobial
Properties Of Chitosan-Sugar Complex, International Food Research
Journal, 18, 1543-1551.

Nainggolan, J., 2009, Kajian Pertumbuhan Bakteri Acetobacter sp. Dalam


Kombucha Rosela Merah (Hibiscus sabdariffa) pada Kadar Gula dan
Lama Fermentasi yang Berbeda, Tesis, Universitas Sumatra Utara,
Medan.

Olympia MSD. 1992. Fermented fish products in the Philippines. Dalam:


Application of Biotechnology to Traditional Fermented Foods.
Washington: National Academy Press.

Oren, A, Valera, F.R., 2005, the contribution of halophilic Bacteria to the red
coloration of saltern crystallizer ponds, FEMS Microbiology Ecology,
36, p.123-130.

Paludan-Muller C, Madsen M , Sophanodora P, Gram L, Møller PL. 2002.


Fermentation and microf lora of plaa-som, a Thai fermented fish
product prepared with different salt concentrations. International
Journal Food Microbiology 73: 61–70.

Purwoko,Tjahjadi.2007.FisiologiMikrobe.Jakarta:BumiAksara.285 halaman.

Rahmaningsih, S., Wilis, S., & Mulyana, A., 2012, Bakteri Patogen dari
Perairan Pantai dan Kawasan Tambak di Kecamatan Jenu Kabupaten
Tuban, Ekologia, 12 (1) , 1-5.

Rivero, S., Giannuzzi, L., Garcia, M. A. & Pinotti, A. 2013. Controlled


delivery of propionic acid from chitosan films for pastry dough
conservation. Journal of Food Engineering, 116, 524-531

Salle, A. J., 1954. Fundamental Principles of Bacteriology, John Wiley &


Sons, Ins. New York, pp. 308, 394-400.

Samiullah & Bano, A., 2011, In Vitro Inhibition Potential of Four Chenopod
Halophytes Against Microbial Growth, Pak. J. Bot., 43: 123-127.

Saxelin, M. 1997. Lactobacillus GG-a Human Probiotic Strain with Through


Clinical Documentation. Food Rev Int. Vol. 13: 293-313.

Stainer,R.Y,dkk.2010.Dunia Mikrobe 3.Jakarta:Bhratara Karya Aksara.290


halaman.
Sutherland, I. W., Bacterial Exopolysaccharides, Rose, A. H., Tempest, D. W.
(ed), 1972. Advanced in Microbial Physiology Vol. 8, Academic Press,
London, New York, p. 143-203.

Trisna dan Wahud N. 2012. Identifikasi Molekuler dan Pengaruh Pemberian


Probiotik Bakteri Asam Laktat (BAL) Asal Dadih dari Kabupaten
Sijunjung Terhadap Kadar Kolestrol Daging pada Itik Pitalah Sumber
Daya Genetic Sumatra Barat. Artikel. Universitas Andalas. Padang.

Wang, Z. & Shang-Tian., 2013. Propionic acid production in


glycerol/glucose co-fermentation by Propionibacterium freudenreichii
subsp. shermanii. Biore source Tec hnology, 137, 116–123.

Zahroh, F., Ni’matuzahroh, & Nurhariyati, T., 2011, Pengaruh Konsentrasi


Gula Cair dan Waktu Inkubasi terhadap Produksi Biosurfaktan
Bacillus subtilis 3KP, Laporan Penelitian, Fakultas Sains dan
Teknologi, Universitas Airlangga.