Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan curah hujan tinggi antara 2000 –
3000 mm/tahun (BMKG, 2014). Dengan beriklim tropis dan jumlah curah hujan tinggi
mengakibatkan setiap tahun pasti di Indnesia tidak terkecuali di jawa tengah mengalami musim
hujan. Hujan sebagai rangkaian dalam daur hidrologi tersebut pastilah memiliki proses fisis
dalam setiap tahapan agar terjadi hujan. Dalam beberapa artikel dikaji hanya pada daur hidrologi.
Belum ada kajian secara khusus mengenai pengaruh variabel-variabel fisis dalam proses
terjadinya hujan.
Hujan adalah sebuah peristiwa Presipitasi (jatuhnya cairan dari atmosfer yang berwujud
cair maupun beku ke permukaan bumi) berwujud cairan. Hujan memerlukan keberadaan lapisan
atmosfer tebal agar dapat memenuhi di atas titik leleh es di dekat dan dia atas permukaan Bumi.
Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi (perubahan wujud benda ke wujud yang lebih padat)
uap air di atmosfer menjadi butiran air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan.
Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang
hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Butir hujan memiliki ukuran
yang beragam mulai dari yang mirip penekuk (butiran besar), hingga butiran kecilnya. Hujan
merupakan anugrah Tuhan yang menjadi Pokok kehidupan manusia. Kekacauan Musim
dibeberapa taahun terakhir ini membuat manusia berusaha untuk menciptakan hujan buatan demi
tercukupinya air di daerah-daerah tertentu.

1.2 Masalah
Bagaimana proses terjadi hujan?

1.3 Tujuan
Mengetahui proses terjadi hujan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Presipitasi


Hujan adalah sebuah peristiwa turunnya butir-butir air yang berasal dari langit ke permukaan
bumi. Hujan juga merupakan siklus air di planet bumi. Definisi hujan yang lainnya adalah sebuah
peristiwa Presipitasi (jatuhnya cairan yang berasal dari atmosfer yang berwujud cair maupun beku ke
permukaan bumi) berwujud cairan. Hujan membutuhkan keberadaan lapisan atmosfer tebal supaya dapat
menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan Bumi. Di bumi, hujan adalah proses
kondensasi (perubahan wujud benda ke wujud yang lebih padat) uap air di atmosfer menjadi butiran-
butiran air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi
secara bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara
ataupun penambahan uap-uap air ke udara. Butiran hujan mempunyai ukuran yang berbeda-beda mulai
dari yang mirip penekuk (butiran besar), hingga butiran yang kecil.
Precipitation atau Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya cairan (dapat berbentuk cair atau beku)
dari atmosphere ke permukaan bumi. Presipitasi cair dapat berupa hujan dan embun dan presipitasi beku
dapat berupa salju dan hujan es. Dalam uraian selanjutnya yang dimaksud dengan presipitasi adalah
hanya yang berupa hujan. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena
keragamannya sangat tinggi baik menurut waktu maupun tempat, sehingga kajian tentang iklim lebih
banyak diarahkan pada hujan. Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi
sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut).
Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke
permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut
sebagai virga. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap,
berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya
kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang semula.
Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air
rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Air hujan
sering digambarkan sebagai berbentuk "lonjong", lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah
tepat. Air hujan kecil hampir bulat hujan yang besar menjadi semakin leper, Seperti Rotihamburger, air
hujan yang lebih. Air besar berbentuk payung terjun Air hujan yang besar jatuh lebih cepat
berbanding air hujan yang lebih kecil. Jumlah curah hujan dicatat dalam inci atau milimeter (1 inci
= 25,4 mm). Jumlah curah hujan 1 mm, menunjukkan tinggi air hujan yang menutupi permukaan bumi 1
mm, jika air tersebut tidak meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer (Tjasyono, 2004).
Menurut Arsyad (1989) Tinggi curah hujan diasumsikan sama disekitar tempat penakaran, luasan
yang tercakup oleh sebuah penakar curah hujan tergantung pada homogenitas daerahnya maupun kondisi
cuaca lainnya. apabilan curah hujan di suatu daerah 150 mm/bulan maka daerah tersebut telah memasuki
musim hujan, begitupun sebaliknya bila curah hujan <150 mm/bulan maka daerah tersebut telah
memasuki musim kemarau. Pola ekuatorial dicirikan oleh pola hujan dengan bentukbimodal (dua
puncak hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober yaitu pada saat matahari
berada dekat ekuator. Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodal (satu puncak hujan) tapi
bentuknya berlawanan dengan pola hujan pada tipe moonson (Effendi, 2001).

2.2 Konsep Dasar Terjadinya Hujan


Hujan adalah Peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari
bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air
susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang
menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda
lain yang mengandung air,Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi
sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan
terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke
permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut
sebagai virga. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap,
berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya
kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan
panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju
langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses
pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat
bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal, Akibat angin atau udara yang bergerak
pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau
dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin
akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena
semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun
jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.

Berikut merupakan 3 hal dasar yang menjadi latar belakang terjadinya hujan:
1. Udara hangat naik (seperti: keluar udara panas dari teko air panas menuju wajah), udara
dingin turun (seperti:udara dari lemari es terasa dingin di kaki). Pergerakan awan oleh angin:
Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
2. Udara naik meluas dan mendingin (mendingin secara adiabatis),udara menetes secara
termampatkan dan memanas (memanas secara adiabatis). Pembentukan awan yang lebih
besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling
bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.
3. Udara panas memiliki kapasitas untuk menahan air, udara dingin memiliki sedikit kapasitas
untuk menahan air. Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil
saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke
atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah
dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh
membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih.
Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut
mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air
dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar.

Gambar 1. Latar belakang terjadinya hujan

2.3 Siklus Hidrologi


Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti
dari atmosfer kebumi dankembali atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan
transpirasi. Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi
tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai
presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan
gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi
kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum
mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam
tiga cara yang berbeda:
 Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb.
kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada
keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya
akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
 Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah
dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi
kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah
hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

Gambar 2. Proses Hidrologi


Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan
danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin
besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai
bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air
permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut. Air permukaan, baik yang mengalir
maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan
terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di
daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah
Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah
wujud dan tempatnya. Hujan pemainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari
lautmenguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke
bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur
ulang itu semula.

2.4 Macam-macam hujan


2.4.1 Hujan siklonal
Hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.

Gambar 3. hujan siklonal


2.4.2 Hujan zenithal
Hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator, akibat pertemuan Angin Pasat
Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk
gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuatoryang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah
hujan.

Gambar 4. hujan zenithal


Convectional atau konveksi curah hujan hasil dari pemanasan permukaan bumi yang
menyebabkan udara meningkat pesat. Seperti udara naik, mendingin dan air mengembun
menjadi awan dan curah hujan. Jenis presipitasi adalah umum di provinsi-provinsi padang
rumput.
2.4.3 Hujan orografis
Hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horisontal.
Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi
kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.

Gambar 5. hujan orografis

Hasil pengendapan orografis ketika lembab udara hangat dari laut dipaksa untuk naik gun
ungbesar. Seperti udara naik mendingin, uap air di udara mengembun dan awan dan
hasilpengendapan di sisi angin bertiup dari gunung sementara sisi bawah angin menerima sangat
sedikit. Hal ini biasa terjadi di British Columbia.

2.4.4 Hujan frontal


Hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang
panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa
udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang
disebut hujan frontal.
Gambar 6. hujan frontal
Hujan frontal hasil ketika leadingedge (depan) dari massa udara yang hangat bertemu
dengan massa udara dingin. Seperti naik udara hangat dingin, uapair di udara mengembun,
awan dan hasilpresipitasi. Presipitasi Hal ini biasa terjadi di Atlantik Kanada.
2.4.5 Hujan muson
Hujan musiman, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab
terjadinya Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis
Balik Utara dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, hujan muson terjadi bulan Oktober sampai
April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus. Siklus muson inilah
yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau. Angin Musim (muson) Barat,
terjadi antara bulan Oktober – April. Bertiupnya angin ini disebabkan oleh adanya perbedaan
tekanan udara di belahan bumi utara dan selatan. Pada saat itu utara musim dingin sehingga
menyebabkan tekanan di utara lebih tinggi dari pada selatan, maka angin bertiup dari utara (Asia
dan Samudera Pasifik) menuju Australia melewati Indonesia.

Gambar 7. hujan muson


2.4.6 Hujan asam
Hujan asam juga bisa diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6.
Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara
yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan
ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh
tumbuhan dan binatang. Manfaat hujan asam ini mampu mempercepat pelarutan mineral yang
ada di dalam tanah, dimana sangat di butuhkan oleh flora dan fauna. Sayangnya hujan asam ini
membawa dampak buruk pada manusia, yakni mempercepat proses korosi pada besi. Jika anda
melewati papan reklame yang terpasang di toko toko yan sudah keropos, itu merupakan salah
satu bukti hujan asam, Menjadi sangat berbahaya jika selalu terjadi hujan asam di tempat yang
banyak jembatannya. Sebab bisa mengeroposkan pegangan jembatan (yang biasanya terbuat dari
besi) tersebut.

Gambar 8. hujan Asam

2.4.7 Hujan Es
Hujan es, dalam ilmu meteorologi disebut juga hail, adalah presipitasi yang terdiri dari
bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin
di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya
berukuran besar. Hujan es itu terjadi karena awan pembawa hujannya sangat tebal dan berasal
dari tempat yang sangat tinggi. awan itu terdorong ke tempat yang tinggi sekali oleh udara yang
sangat kuat. suhu udaranya bisa mencapai -40 derajat C. Dingin sekali. sehingga uap air di
awanpun membeku. saat awannya tidak kuat menahan beban esnya, es itu akan turun jadi hujan
perjalanannya menuju bumi sangatlah panjang. itulah yang menyebabkan pecahan2 batu esnya
mencair sedikit demi sedikit.
Karena ukurannya, walaupun telah turun ke aras yang lebih rendah dengan suhu yang
relatif hangat tidak semuanya mencair. Hujan es tidak hanya terjadi di negara sub-tropis, tapi bisa
juga terjadi di daerah ekuator.

Gambar 9. Hujan es
Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah riming, dimana uap air lewat dingin
tertarik ke permukaan benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak maka
terjadilah es dengan ukuran yang besar.

Gambar 10. Butiran es


Hujan es disertai puting beliung berasal dari jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB)
dekat dengan permukaan bumi, dapat juga berasal dari multi sel awan , dan pertumbuhannya
secara vertical dengan luasan area horizontalnya sekitar 3 – 5 km dan kejadiannya singkat
berkisar antara 3 - 5 menit atau bisa juga 10 menit tapi jarang, jadi wajar kalau peristiwa ini
hanya bersifat local dan tidak merata, jenis awan berlapis lapis ini menjulang kearah vertical
sampai dengan ketinggian 30.000 feet lebih, Jenis awan berlapis-lapis ini biasa berbentuk bunga
kol dan disebut Awan Cumulo Nimbus (CB).

2.4.8 Hujan Salju


Salju adalah air yang jatuh dari awan yang telah membeku menjadi padat dan seperti
hujan. Salju terdiri atas partikel uap air yang kemudian mendingin di udara atas
(lihatatmosfer, biosfer, iklim, meteorologi, cuaca) jatuh ke bumi sebagai kepingan empuk, putih,
dan seperti kristal lembut kepingan salju, pakis seperti kristal es, kelompok dari kesemuanya).
Pada suhu tertentu (disebut titik beku, 0° Celsius, 32° Fahrenheit), salju biasa meleleh dan
hilang. Proses saat salju/es berubah secara langsung ke dalam uap air tanpa mencair terlebih dulu
disebut menyublim. Proses lawannya disebut pengendapan.

Gambar 11. Proses hujan salju


Saat salju membeku, sering kali menjadi pecahan kecil yang disebut "kepingan salju".
Salju merupakan prasyarat buat kegiatan olah raga musim dingin seperti ski dan kereta luncur).
Di dunia, salju biasa terjadi pada negeri beriklim subtropis dan sedang. Namun, ada juga daerah
tropis yang bersalju, yakni di Pegunungan Jayawijaya dan Barisan Sudirman di Papua,
Indonesia.

2.4.9 Hujan Buatan


Hujan yang di buat langsung oleh manusia dengan teknik menambahkan curah hujan. Caranya
dengan penyemaian awan atau di kenal dengan cloud seeding atau membuat awan menggumpal
dan di semai sehingga memberikan efek turun hujan. Hal ini kerap dilakukan di daerah yang
membutuhkan hujan alami, namun sayangnya hujan tersebut tidak kunjung turun.

Gambar 12. Metoda Penyemaian Awan


Cara menurunkan hujan ini melalui proses fisika, yakni dengan melibatkan proses tumbukan dan
penggabungan (collision dan coalescence) kemudian di olah dengan proses pembentukan es atau
ice nucleation. Lalu pemilihan awan yang memiliki kandungan air cukup banyak. Fungsinya agar
massa yang di tambahkan tadi cukup untuk menurunkan hujan tersebut ke permukaan bumi yang
memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Seperti pada fungsi danau bagi kehidupan
manusia yang di penuhi air dikarenakan turunnya hujan yang stabil sehingga tidak menyebabkan
kekeringan.

2.5 Berdasarkan ukuran butirannya, hujan dibedakan menjadi :


 Hujan gerimis / drizzle, diameter butirannya kurang dari 0,5 mm.
 Hujan salju, terdiri dari kristal-kristal es yang suhunya berada dibawah 0° Celsius.
 Hujan batu es, curahan batu es yang trun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya
dibawah 0° Celsius.
 Hujan deras / rain, curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0° Celsius
dengan diameter ±7 mm.
2.6 Jenis-jenis hujan berdasarkan besarnya curah hujan (definisi BMKG)
 hujan sedang, 20 - 50 mm per hari
 hujan lebat, 50-100 mm per hari
 hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan kajian mengenai proses terjadinya hujan dapat disimpulkan beberapa hal:
1. Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya cairan (dapat berbentuk cair atau beku) dari atmosphere
ke permukaan bumi. Presipitasi cair dapat berupa hujan dan embun sedangkan presipitasi
beku dapat berupa salju dan hujan es. Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke
bumi, berasal dari air bumi yang mengalami evaporasi.
2. Proses terjadinya hujan dipengaruhi oleh konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Kemudian
mengalami proses evaporasi akibat adanya bantuan dari panas sinar matahari. Air tersebut
kemudian menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit bersama
uap-uap air yang lain. uap-uap mengalami proses pemadatan atau biasa disebut juga
kondensasi sehingga terbentuklah awan. Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan
tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang
suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena terlalu
berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut
jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga proses presipitasi. Karena semakin
rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es/salju akan mencair, namun jika suhunya
sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.

DAFTAR PUSTAKA

Andrea Lang, 2014. Atmospheric and Oceanic Sciences. Tersedia [online] http://
www.aos.wisc.edu/~aalopez/aos101/wk10.html #vertical [8 Maret 2018]
BMKG, 2014. Prakiraan Hujan Bulanan. Tersedia [online] http://
www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/.../Prakiraan_Hujan_Bulanan.bmkg [8 Maret 2018]

Marthin Chaplin, 2014. Water phase diagram, including the crystal, density,
triple points and structural properties of the solid high density phases
of ice. Tersedia [online] http:// cft.fis.uc.pt/eef/FisicaI01/fluids/thermo20.htm [8 Maret
2018]

Maya Sari. 2015. proses terjadinya hujan. Tersedia [online] http://


ilmugeografi.com/ Diakses pada 15 April 2017