Anda di halaman 1dari 17

TORSIO KISTA OVARIUM

Disusun Oleh:
Kelompok 16

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI


JALAN TERUSAN JENDERAL SUDIRMAN PO BOX 148 CIMAHI
TELEPON 022-6610223
2015
Disusun oleh : Kelompok 16

1. Rahmad dwi wahyudi 4111131009


2. Sarrah istiqamah nadya 4111131030
3. Dewi Wulandari 4111131031
4. Nesha Adelina Mandala 4111131036
5. Novan Arya YHR 4111131046
6. Cindyana Ratnasari 4111131064
7. Faradilla Amarsya 4111131096
8. Hening Purwaningtias Ayu 4111131097
9. Putri Prihadian N 4111131110
10. Nissa Nurilmi F 4111131158
11. Amyra Anjani 4111131161
12.

Sasaran belajar:

Setelah mengikuti diskusi kelompok ini mahasiswa mampu:


1. Merumuskan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lab,
dengan menyusun resume kasus (case overview).
2. menjelaskan kerangan konsep dalam menganalisis kasus
3. menjelaskan ilmu kedokteran dasar terkait kasus
4. Menjelaskan patofisiologi kasus terkait gejala dan tanda kasus
5. merencanakan penatalaksanaan sesuai dengan konsep patofisiologi penyakit serta
kompetensi dokter umum
6. menganalisis komplikasi penyakit sesuai dengan konsep patofisiologi penyakit serta
kompetensi dokter umum
7. mengaplikasikan konsep dasar komunikasi efektif, etika profesi serta aspek kesehatan
masyarakat pada kasus

Skenario

Seorang perempuan berusia 28 tahun, datang ke puskesmas di tempat saudara bekerja dengan
keluhan sakit perut mendadak, sampai tidak dapat berdiri lagi. Kejadian tersebut dialami
sehabis mencuci pakaian. Pasien memiliki 1 orang anak berusia 6 tahun, tidak pernah
menggunakan kontrasepsi. Sebelum menikah, pernah berobat karena nyeri haid, oleh dokter
dikatakan ada massa kistik sebesar telur ayam kampung.

Pemeriksaan ditemukan.
KU : tampak kesakitan, nadi 100x/menit, tekanan darah 100/80mmHg, temperatur 3,5oC,
respirasi 20x/menit

Pemeriksaan ginekologi, pemeriksaan perut bagian bawah: teraba massa kistik, nyeri tekan
(+), terutama perut bawah bagian kiri. Pemeriksaan inspekulo: tidak ditemukan leokorrea
maupun tanda-tanda infeksi lainnya. Pemeriksaan bimanual, teraba benjolan kistik pada perut
bawah kiri dengan batas jelas, kira-kira sebsar bola tenis.

Pemeriksaan laboratarium darah, dalam batas normal.


1. Case overview

DATA KETERANGAN
● Perempuan, usia 28 tahun Usia produktif
● KU : sakit perut mendadak, sampai tidak dapat berdiri DD: kista ovarium terpuntir
lagi (torsio) ,salfingitis akut, KET,
endometriosis, apendisitis
● Kejadian tersebut dialami sehabis mencuci pakaian. Faktor presipitasi
● Pasien memiliki 1 orang anak berusia 6 tahun, tidak
pernah menggunakan kontrasepsi.
● Sebelum menikah, pernah berobat karena nyeri haid,
oleh dokter dikatakan ada massa kistik sebesar telur
ayam kampung. DD: kista ovarium
● Pemeriksaan ditemukan.
KU : tampak kesakitan, N 100x/menitTD
100/80mmHg, T 37,5oC, R 20x/menit Suhu febris(batas atas)
● Pemeriksaan ginekologi,
-pemeriksaan perut bagian bawah: teraba massa kistik,
nyeri tekan (+), terutama perut bawah bagian kiri.
-Pemeriksaan inspekulo: tidak ditemukan leokorrea
maupun tanda-tanda infeksi lainnya. Bukan karena infeksi genitalia

-Pemeriksaan bimanual, teraba benjolan kistik pada


Progresif
perut bawah kiri dengan batas jelas, kira-kira sebsar
bola tenis.
● Pemeriksaan laboratorium darah, dbn.

DD : Torsiokista ovarium sinistra


Endometriosis eksterna
Adnexitis akut
● Kista ovarium terpuntir/ torsio kista ovarium. Timbul nyeri mendadak dengan
intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan
abdomen, colok vagina, atau colok rekta. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan USG
dapat menentukan diagnosis
● Endometriosis eksterna. Endometrium di luar rahim akan menimbulkan nyeri di
tempat endometriosis berada, dan darah menstruasi akan terkumpul pada daerah itu
karena tidak ada jalan keluar.
● Adnexitis akut. Nyeri terlokalisir pada salah satu kuadran bagian bawah abdomen.Nyeri
bersifat intermitten (ringan-berat).Demam (+) Leukorea (+).Pada pemeriksaan fisik terdapat
nyeri tekan.Muscular defence (–).

Pendahuluan

Kista Ovarium Terpuntir


Torsi atau puntiran kista ovarium terjadi bila kista terpuntir pada tangkai vaskularnya
dan mengganggu suplai darah. Kista dan ovarium (dan sering diikuti sebagian tuba)
mengalami nekrosis.

Kista ovarium terpuntir merupakan penyebab nyeri abdomen bagian bawah yang
jarang namun signifikan pada wanita. Presentasi klinisnya sering tidak spesifik dengan
temuan fisik tidak khas, biasanya menimbulkan keterlambatan diagnosis dan penanganan
bedah.

Insiden
Kista ovarium terpuntir dapat terjadi pada berbagai usia, namun umumnya terjadi pada
awal usia reproduksi. Hampir 17% kasus ditemukan pada wanita premenarche dan
postmenopause. Usia median adalah 28 tahun dengan persentasi pasien berusia <30 tahun
mencapai 70-75%.
Etiologi

Perubahan anatomis yang mempengarahui berat dan ukuran ovarium dapat mengubah
posisi tuba fallopi dan menimbulkan puntiran. Torsi/putaran tangkai dapat terjadi pada
tangkai kista ovarium dengan diameter 5 cm atau lebih. Kehamilan kadang-kadang
menyebabkan kista terpuntir, sekunder terhadap pembesaran ovarium yang terjadi selama
ovulasi dengan kelemahan jaringan penyokong ovarium. Pada kehamilan, uterus yang
membesar akan merubah letak kista, sedangkan pada sesudah persalinan dapat terjadi
perubahan mendadak dalam rongga abdomen.

Diagnosis

a. Anamnesis
Pasien datang dengan onset mendadak, berat, nyeri abdomen bagian bawah unilateral
yang memburuk secara intermiten dalam beberapa jam. Hampir 25% pasien mengalami nyeri
bilateral kuadran bawah yang dideskripsikan sebagai nyeri tajam atau lebih jarang berupa
kram.
Mual muntah terjadi pada hampir 70% pasien, menyerupai nyeri yang berasal dari
traktus gastrointestinal dan menyulitkan diagnosis.
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya mungkin membantu sehubungan dengan adanya
torsi yang membaik secara spontan. Demam mungkin merupakan temuan akhir bila ovarium
mengalami nekrosis. Onset selama latihan fisik atau gerakan aktif lainnya umum terjadi.

b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik, sebagaimana anamnesis biasanya tidak spesifik dan sangat
bervariasi. Massa adnexa kenyal, unilateral, dilaporkan pada 50-90%. Bagaimanapun, tidak
adanya temuan ini tidak menyingkirkan diagnosis.
Nyeri tekan umum ditemukan; tetapi cukup ringan pada 30% pasien. Oleh karena itu,
tidak adanya nyeri tekan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan kista ovarium terpuntir.
Nyeri lepas dan muscle rigidity dapat ditemukan dan sering sulit dibedakan dari abses pelvis
atau apendisitis.
Temuan massa ovarium mungkin mengarahkan, namun bisa menyesatkan asal sumber
nyeri. Karena massa yang terlibat biasanya non-neoplasma atau kista hemoragik, yang
memang menimbulkan nyeri pada lokasi dan dengan kualitas yang sama.

c. Pemeriksaan penunjang
− USG adalah modalitas pencitraan utama untuk pasien yang dicurigai mengalami kista
ovarium terpuntir. Pembesaran ovarium sekunder terhadap kerusakan drainase vena
dan limfatik adalah temuan paling umum pada kista ovarium terpuntir.
− Kombinasi Doppler flow imaging dengan penentuan morfologik ovarium dapat
meningkatkan akurasi diagnosis; membantu memperkirakan viabilitas struktur adneksa
dengan menggambarkan aliran darah pada pedikel yang terpuntir dan adanya aliran
vena sentral.
− Computed tomography dapat menggambarkan pembesaran ovarium dan massa
adneksa, tapi tidak dapat mengevaluasi da tidaknya aliran darah ke ovarium yang
terlibat. CT dapat berguna dalam menyingkirkan penyebab lain nyeri abdomen bawah
bila diagnosis tidak dapat ditentukan. CT dapat menyingkirkan adanya massa pelvis.
2. CONCEPT MAP

Anatomi penyokong ovarium


Histologi ovarium
Patologi anatomi kista ovarium

Faktor Risiko
-Gerakan mendadak
Etiologi
-Kista ovarium
-Perubahan anatomis
membesar
-Kehamilan
-Panjang tuba ovari
Patofisiologi berlebihan

Ketidakseimbangan
hormon
Tanda & gejala Komplikasi
-Nyeri perut akut bagian Kista Infertilitas
bawah -
-Subfebris Membesar
-Teraba massa pada
perut bagian bawah Tangkai kista
memanjang

Perubahan anatomis

Kista terpuntir

Diagnosis Banding
-Torsi kista ovarium
- endometriosis eksterna
Pemeriksaan -Adneksitis akut
Penunjang
-USG
- CT
- Kombinasi Diagnosis Kerja
Epidemiologi
Doppler flow Torsi Kista Ovarium umumnya pada awal
imaging Sinistra reproduksi, 17% wanita
Aspek Bioetika premenarche, usia
& Humaniora median 28 thn, pasien
Penatalaksanaan <30 th (70-75%)
-Perbaiki keadaan umum
-Rujuk bedah laparoskopi

Prognosis
-Quo ad vitam: Ad bonam
-Quo ad functionam: Dubia ad
malam
3. Ilmu Kedokteran Dasar yang Terkait

Anatomi Ovarium

Gambar 1. Anatomi Ovarium

Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri, dengan
penggantung mesovarium di bagian belakang ligamentum latum, kiri dan kanan.
Ovarium adalah kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira
4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm.

Hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya pembuluh-


pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium. Pinggir bawahnya bebas.
Permukaan belakangnya pinggir keatas dan belakang , sedangkan permukaan depannya
ke bawah dan depan. Ujung yang dekat dengan tuba terletak lebih tinggi dari pada ujung
yang dekat pada uterus, dan tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari
infundibulum.
Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan ligamentum
ovarii proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada
di ligamentum rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernakulum.

Hiitologi Ovarium

Secara histologi Permukaan ovarium dibatasi oleh epitel selapis gepeng atau
kuboid yang disebut epitel germinal. Di bawah epitel germinal terdapat tunica
albuginea, suatu jaringan pengikat padat yang tidak berbatas jelas. Di bawah tunica
albuginea, terlihat stroma yang mengandung sel-sel berbentuk fusiform (sel-sel
fibroblas) yang tersusun padat. Ini adalah bagian dari cortex. Di dalam cortex terdapat
berbagai bentuk struktur bulat yang berisi oosit atau sel telur. Struktur bulat tersebut
dinamakan follicula ovarii. Kemudian di tengah-tengahnya tampak medulla. Medulla
ovarii terdiri atas jaringan pengikat longgar yang banyak mengandung pembuluh darah.

Gambar 2. Histologi Ovarium

GAMBARAN HISTOPATOLOGIS
Kista ovarium yaitu suatu kantong abnormal yang berisi cairan atau setengah cair yang
tumbuh dalam indung telur. Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus oleh selaput semacam
jaringan. Bentuknya kistik dan ada pula yang berbentuk anggur. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah
dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
4. Patofisiologi

Peningkatan hormon LH berlebih menyebabkan hiperstimulasi pada folikel. Hal ini


akan berdampak pada ketidak seimbangan hormon (peningkatan esterogen dan peningkatan
HCG) yang menyebabkan proliferasi folikel yang abnormal. Folikel akhirnya menjadi gagal
untuk berovulasi, apa bila hal ini terus berlangsung, maka akan membuat folikel semakin
lama semakin membesar akhirnya membentik kista dimana pada anamnesis dan pemeriksaan
didapatkan adanya massa berupa sebuah benjolan.

Gambar 5. Kista ovarium

Kista semakin membesar dan membuat tangkai kista semakin memanjang. Perbesaran
kista dan pemanjangan tangkai kista merupakan sebuah keadaan patologis dimana akan
menyebabkan perubahan kedudukan ovarium secara anatomis.Perubahan kedudukan yang
tidak sebagaimana mestinya ini apabila di picu oleh beberapa hal antara lain kegiatan berat,
olahraga, mencuci pakaian akan menyebabkan perubahan pada tuba dan ligamentum
penyokong ovarium dam menyebabkan kista menjadi terpuntir.
Kista yang terpuntir menyebabkan beberapa hal, yang pertama ialah gangguan suplai darah
yang akan berlanjut pada metabolisme anaerob karena kurangnya pasokan O2 dari perfusi
yang terganggu tadi. Metabolisme anaerob ini menghasilkan asam laktat yang kemudian
menyebabkan rasa nyeri abdomen bagian bawah sebagaimana didapatkan pada anamnesis.
Patofisiologi

ketidakseimbangan
hormon

Proliferasi folikel abnormal

Folikel gagal melakukan ovulasi


(berlangsung lama)

Folikel semakin membesar ukurannya

Kista ovarium

Palpasi teraba
Pembesaran ukuran massa
(Diameter 7-15cm)
Perlekatan dalam daera
punggung
Torsio/terpelintir kista ovarium
Menekan kandun kemi

gangguan eliminasi urine


5. Penatalaksanaan8,9,10,11,12
- Lihat
Suplai umum  perbaiki tanda vital nadi, respirasi, suhu, dan tekanan darah.
darah terganggu
keadaan
Tuba tersumbat
(gangguan sirkulasi kista)
- Segera di rujuk ke dokter spesialis bedah atau kandungan untuk dilakukan pengangkatan
kista dengan bedah laparoskopi.
Metabolisme anaerob Ganggu jalannya fertilisasi
- Mekanisme rujukan:

infertilitas
Kepada Nyeri perut bawah
Yth. Ts. Dr. ..................
Spesialis .......................
Jln. ...............................
Bandung

Dh,
Mohon konsul dan pengobatan selanjutnya penderita Tn. ............, .... tahun,
Torsi kista ovarium; hasil pemeriksaan laboratorium
terlampir.
Penderita telah kami beri terapi sementara ................ dengan dosis
................
Atas kesediaan Ts, kami ucapkan terima kasih.

Wassalam,

(Dr..............)

6. Kompikasi
Pada keadaan lebih lanjut, kista yang terpuntir dapat ikut melilit tuba fallopii
sehingga terjadi gangguan pada proses ovulasi dan menyebabkan suatu keadaan infertilitas
pada pasien.
Torsi pada tangkai tumor akan menyebabkan gangguan sirkulasi karena vena mudah
tertekan, terjadi bendungan darah dalam tumor yang berakibat tumor makin besar dengan
perdarahan didalamnya. Jika torsi berlanjut akan terjadi nekrosis hemoragik dan jika
dibiarkan dapat terjadi robekan pada dinding kista dengan akibat perdarahan intra adominal
atau peradangan sekumder dengan manifestasi klinik dengan akut abdomen.

Gangguan suplai darah kronik menyebabkan kematian ovarium yang akan


berdampak pada infertilitas karena jika ovarium mati maka tidak ada yang akan
menghasilkan sel gamet (ovum).
a. Tuba terlilit gangguan fertilisasi infertilisasi
b. Nekrosis ovarium mati tidak hasilkan gamet infertilitas

7. Aspek Bioetika dan Humaniora


a. Medical Indication
Medical problem: Torsi Kista Ovarium Sinistra
● Beneficence: Kompetensi Kasus (3B) dokter umum mampu melakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, menyarankan pemeriksaan penunjang Gold Standar ‘USG’ dan
memberikan penatalaksanaan awal
● Non-maleficence: Kasus darurat (emergency)
Penatalaksanaan awal:
- Lihat keadaan umum/ tanda vital
- Rujuk ke dokter spesialis untuk di lakukan Laparotomi
b. Patience Preference
Autonomi: Inform consent pada pasien (karena kompeten)
c. Quality of life
Non-Maleficence: Tidak memperburuk keadaan pasien dengan segera merujuk pasien
d. Contextual Feature
Justice: Tidak membeda-bedakan pasien atas dasar SARA

Prognosis
Dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, prognosis torsi ovarium sangat
baik. Namun, kebanyakan pasien dengan torsi ovarium memiliki diagnosis yang tertunda,
sehingga sering sudah terjadi infark dan nekrosis ovarium. Tingkat penyelamatan ovarium
telah dilaporkan di bawah 10% pada orang dewasa, dan 27% pada pasien anak.6
Meskipun kehilangan satu ovarium saja tidak mungkin dapat mengakibatkan
kesuburan berkurang secara signifikan dan tidak ada laporan mengenai kasus kematian akibat
torsi ovarium. Diagnosis dini memungkinkan pengobatan laparoskopi konservatif dan
pengurangan komplikasi.6
Pada skenario, quo ad vitam adalah ad bonam karena kasus ini jika belum terjadi
komplikasi peritonitis tidak akan mengancam jiwa, sedangkan quo ad functionam adalah
dubia ad malam karena jika dilakukan operasi maka fungsi ovarium akan berkurang, tidak
seperti awal saat tidak ada kista.

DAFTAR PUSTAKA
1. Linda Heffner. At a glance sistem reproduksi. Ed. 2. Jakarta: Erlangga, 2008. 90.
2. Martini, Nath. Fundamentals of anatomy & physiology. Ed. 8. United States of
America, 2010. 1060-1.
3. Universal College of Learning. Female reproductive system. (Available on-line at
http://on-line.ucol.ac.nz/mt100/Female%20Repro.htm.) (Verified 22 Januari 2013.)
4. Junqueira. Histologi Dasar Teks & Atlas. Ed.10. Jakarta: EGC,2004.
5. Heller, Luz. 1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
6. Medscape reference. Ovarian Torsion, 2011 (Available on-line with updates at
http://emedicine.medscape.com/article/2026938-overview#a0156.) (verified 23 Jan.
2013)
7. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina
PustakaSarwono Prawirohardjo.
8. Moore, Keith L. Agur,Anne M.R. 2002. Anatomi Klinis Dasar .Laksman,H. editors.
Jakarta: Hipokrates.
9. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27146/4/Chapter%20II.pdf)
10. Saifuddin, Abdul.(2007). “Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal”. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
11. Wiknjosastro, Hanifa. (2002). “Ilmu Kebidanan”. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
12. Wiknjosastro, Hanifa. (2005). “Ilmu Bedah Kebidanan”. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardho
13. http://kistaovarium.org